0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan181 halaman

Hasil Rontgen Thorax: Normal dan Patologi

Foto thorax menunjukkan paru-paru normal tanpa tanda-tanda infeksi paru atau penyakit jantung. Dokter membuat kesimpulan bahwa pasien tidak mengalami tuberkulosis paru aktif, kardiomegali, metastasis, struma intratorakal atau pembesaran kelenjar getah bening paratrakea dan perihiler.

Diunggah oleh

Faris Azhar
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan181 halaman

Hasil Rontgen Thorax: Normal dan Patologi

Foto thorax menunjukkan paru-paru normal tanpa tanda-tanda infeksi paru atau penyakit jantung. Dokter membuat kesimpulan bahwa pasien tidak mengalami tuberkulosis paru aktif, kardiomegali, metastasis, struma intratorakal atau pembesaran kelenjar getah bening paratrakea dan perihiler.

Diunggah oleh

Faris Azhar
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Tn/Ny

- Th
EMG
03-09-11
Foto THORAX
-






















Klinis :




Salam sejawat,

Robby Hermawan,dr.

FULL MASTER

EMG IPD
TORAKS PA DAN LATERAL NORMAL
Foto simetris dan inspirasi maksimal
Soft tissue dan skeletal normal.
Trakea masih di tengah.
Cor tidak membesar.
Tidak tampak kalsifikasi aorta/elongatio aorta.
Mediastinum dalam batas normal.
Lokasi bayangan hepar dan gastric bubble dalam batas normal.
Sinuses tajam/tumpul/berselubung dan diafragma
normal/elevasi/mendatar/tenting/scalloping/berselubung.
Pulmo:
- Hili normal/melebar/kabur.
- Corakan bronkovaskuler normal/meningkat/menurun.
- Tidak tampak infiltrat/nodul/massa.
- Tidak tampak perselubungan opak.
- Tidak tampak bayangan lusen.
- Tidak tampak sillhouette sign.

KESAN :
- Tidak tampak TB paru aktif.
- Tidak tampak kardiomegali.

Sinus anterior tajam/tumpul, sinus posterior tajam/tumpul.
Retrosternal space cerah/menyempit.
Retrocardiac space cerah/menyempit.

KESAN :
- Tidak tampak kardiomegali.
- Tidak tampak TB paru aktif.



NORMAL TIDAK ADA METASTASIS
Foto asimetris dan kurang inspirasi/ekspirasi.
Cor tidak membesar.
Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo:
- Hili normal.
- Corakan bronkovaskuler normal.
- Tidak tampak bayangan opak noduler.

KESAN :
- Tidak tampak metastasis intrapulmonal.
- Tidak tampak kardiomegali.

NORMAL TIDAK TAMPAK STRUMA INTRATORAKAL

Foto asimetris dan kurang inspirasi/ekspirasi.
Cor tidak membesar.
Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo:
- Hili normal.
- Corakan bronkovaskuler normal.
- Tidak tampak bayangan opak di paratrakea.
- Tidak tampak bercak lunak.

KESAN :
- Tidak tampak struma intratorakal.
- Tidak tampak kardiomegali.
- Tidak tampak TB paru aktif.








NORMAL TIDAK TAMPAK PEMBESARAN KGB

Foto asimetris dan kurang inspirasi/ekspirasi.
Cor tidak membesar.
Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo:
- Hili normal.
- Corakan bronkovaskuler normal.
- Tidak tampak bayangan opak lobulated di paratrakea dan perihiler.
- Tidak tampak bercak lunak.

KESAN :
- Tidak tampak pembesaran KGB paratrakea dan perihiler.
- Tidak tampak kardiomegali.
- Tidak tampak TB paru aktif.

ATYPICAL CHEST PAIN, DHF
Foto asimetris dan kurang inspirasi/ekspirasi.
Cor tidak membesar.
Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo:
- Hili normal.
- Corakan bronkovaskuler normal.
- Tidak tampak bercak lunak.

KESAN :
- Tidak tampak penebalan pleura atau efusi pleura.
- Tidak tampak TB paru aktif.
- Tidak tampak kardiomegali.

TOP LORDOTIK

Tidak tampak bercak lunak di apeks dan lapang atas kedua paru.
KESAN :
- Tidak tampak TB paru aktif di apeks dan lapang atas kedua paru.

NORMAL NEONATUS
Foto asimetris dan ekspirasi.
Cor tidak membesar.
Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo:
- Hili normal.
- Corakan bronkovaskuler normal.
- Tidak tampak perbercakan.

KESAN :
- Tidak tampak bronkopneumonia.
- Tidak tampak kardiomegali.

ATHEROSCLEROSIS AORTA + ELONGATIO
Cor tidak membesar, kalsifikasi aorta (+).
Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo:
- Hili normal.
- Corakan bronkovaskuler normal.
- Tidak tampak bercak lunak.

KESAN :
- Atherosklerosis aorta.
- Tidak tampak kardiomegali.
- Tidak tampak TB paru aktif.
Cor tidak membesar, elongatio aorta (+).
Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo:
- Hili normal.
- Corakan bronkovaskuler normal.
- Tidak tampak bercak lunak.

KESAN :
- Elongatio aorta. (Jarak clavicula ke arcus aorta <1cm)
- Tidak tampak kardiomegali.
- Tidak tampak TB paru aktif.
EFUSI PLEURA
Cor tidak membesar.
Sinus dan diafragma kanan/kiri berselubung. Sinus dan diafragma
kiri/kanan normal.
Pulmo:
- Hili normal.
- Corakan bronkovaskuler normal.
- Tampak perselubungan opak homogen di hemitorak bawah
kanan/kiri

KESAN :
- Efusi pleura kanan/kiri.
- Tidak tampak kardiomegali.
BRONKOPNEUMONIA
Cor tidak membesar.
Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo:
- Hili normal/kabur (jika perbercakan menutupi hilus).
- Corakan bronkovaskuler normal.
- Tampak perbercakan di apeks/lapang atas/tengah/bawah kanan/kiri.

KESAN :
- Bronkopneumonia bilateral/kanan/kiri/-
- Tidak tampak kardiomegali.

CVC + CTT + ETT KATETER
Pulmo
- Tampak ujung CVC/CTT/ETT/selang NGT/selang trakeostomi
setinggi ICS/costa/vertebra Th . . . di paravertebra/hemitoraks
kanan/kiri

KESAN :
- Ujung CVC/CTT/ETT/selang NGT/selang trakeostomi setinggi
ICS/costa/vertebra Th . . . kanan/kiri di paravertebra/hemitoraks
kanan/kiri

ETT (Endotracheal Tube)
diameter 1cm dengan penanda garis radio-opak dan tidak memiliki
lubang-lubang di sepanjang selang.
Posisi kepala netral (batas bawah mandibula berada pada ketinggian
C5-C6), ujung selang ETT berada 3-5cm di atas karina atau setengah
jarak antara kedua ujung medial klavikula dengan karina.
Diameter selang ETT secara ideal berukuran 1/2 atau 2/3 lebar trakea.
Balon pada ujung selang (jika terdapat) dapat memenuhi lumen trakea,
tetapi tidak boleh mendistensi trakea.
Karina terdapat setinggi korpus vertebra T5, T6, atau T7 pada 95%
populasi.
Fleksi leher dapat menyebabkan penurunan ujung selang sebesar 2cm.
Ekstensi leher dapat menyebabkan kenaikan ujung selang sebesar 2cm























Selang trakeostomi
Ujung selang berada pada setengah jarak antara stoma tempat selang
trakeostomi dimasukkan dengan karina.
Biasanya ini terletak di sekitar T3.
Ujung selang trakeostomi tidak dipengaruhi gerakan fleksi dan ekstensi
seperti halnya selang endotrakea.
Lebar selang trakeostomi harus sekitar dua per tiga lebar trakea.





























Selang CVC
CVC berukuran kecil (3mm) dan opak seluruhnya tanpa penanda di
bagian tepi.
Vena subklavia menyatu dengan v. brakiosefalika di belakang ujung
medial klavikula
CVC harus mencapai ujung medial dari klavikula sebelum turun.
Ujungnya harus terletak distal dari ujung anterior costa pertama.
Kateter harus turun di lateral dari tulang belakang dan ujungnya berada
di v. cava superior (intercosta I anterior, di sebelah kanan garis tengah)
Semua lekukan pada kateter harus berupa kurva halus dan tidak
berupa lekukan tajam.

























Selang PICC/long line
Ujung harus terletak di dalam v. cava superior, namun dapat juga
terdapat di dalam v. aksilaris.
Karena kateter berukuran sangat kecil, kateter dapat sulit dilihat.
































Selang torakostomi/CTT
Selang torakostomi merupakan selang berdiameter besar dengan garis
radio-opak sebagai penanda. Garis tersebut terputus pada lokasi
lubang di sepanjang selang.
Posisi ideal untuk mengevakuasi pneumotoraks adalah anterosuperior,
sedangkan posisi ideal untuk drainase efusi adalah posteroinferior.
Selang torakostomi biasanya berfungsi baik dimanapun posisinya
selama masih di rongga pleura.
Tidak boleh ada lubang di sisi selang yang terletak di luar dinding dada.



























Selang NGT
Selang nasogastrik merupakan selang berdiameter lebar (sekitar 1cm)
yang ditandai dengan garis radio-opak yang terputus pada lubang di
sisi (biasanya sekitar 10cm dari ujung).
Ujung dan semua lubang di sisi selang harus terpasang sekitar 10cm
ke dalam lambung dari perbatasan esofagogastrik untuk mencegah
aspirasi akibat pemberian makanan ke dalam esofagus.
Perbatasan esofagogastrik terletak pada perbatasan hemidiafragma kiri
dengan vertebra torakal kiri.




























MECONIUM ASPIRATION SYNDROME
Cor tidak membesar.
Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo:
- Hili kabur.
- Corakan bronkovaskuler sulit dinilai.
- Tampak perbercakan kasar (rope-like) yang asimetris di kedua
lapang paru.

KESAN :
- Menyokong suatu meconium aspiration syndrome.
- Tidak tampak kardiomegali.


Meconium jarang ditemukan pada cairan amnion sebelum kehamilan 34
minggu.






HYALINE MEMBRANE DISEASE
Cor tidak membesar.
Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo:
- Hili kabur.
- Corakan bronkovaskuler sulit dinilai.
- Tampak perbercakan retikulogranuler halus di kedua lapang paru

KESAN :
- Menyokong suatu HMD grade 1
- Tidak tampak kardiomegali.


Cor tidak membesar.
Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo:
- Hili kabur.
- Corakan bronkovaskuler sulit dinilai.
- Tampak perbercakan retikulogranuler halus di kedua lapang paru
dengan air bronchogram dan penurunan aerasi paru.

KESAN :
- Menyokong suatu HMD grade 2
- Tidak tampak kardiomegali.

Cor sulit dinilai, batas jantung kabur.
Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo:
- Hili kabur.
- Corakan bronkovaskuler sulit dinilai.
- Tampak perbercakan retikulogranuler halus yang sebagian
berkonfluen di kedua lapang paru dengan air bronchogram dan
penurunan aerasi paru.

KESAN :
- Menyokong suatu HMD grade 3
- Tidak tampak kardiomegali.
Cor sulit dinilai, batas jantung kabur.
Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo:
- Hili kabur.
- Corakan bronkovaskuler sulit dinilai.
- Tampak perbercakan retikulogranuler halus yang berkonfluen (white
lung) di kedua lapang paru dengan air bronchogram dan penurunan
aerasi paru.

KESAN :
- Menyokong suatu HMD grade 4.
- Tidak tampak kardiomegali.
TRANSIENT TACHYPNEA OF THE NEWBORN / TRANSIENT
RESPIRATORY DISTRESS OF THE NEWBORN
Cor tidak membesar.
Sinuses dan diafragma normal. Sinus kanan/kiri tumpul (jika ada efusi
minimal)
Pulmo:
- Hili kabur
- Corakan bronkovaskuler bertambah.
- Tampak gambaran retikuloradier dari hilus ke perifer di kedua lapang
paru yang disertai penebalan fissura minor.

KESAN :
- Menyokong suatu Transient Respiratory Disorder of the
Newborn.
- Tidak tampak kardiomegali.
POSISI JANTUNG
Dekstrocardia: Jantung di kanan (istilah umum)
Dekstroversi: Jantung di kanan, apeks di kanan
Dekstroposisi: Jantung di kanan, apeks di kiri
Situs inversus: Dekstrocardia dengan rotasi saluran pencernaan (hati di
kiri, lambung di kanan).
Situs ambigus: Hati di kiri, lambung di kanan, jantung normal (levocardia)
KARDIOMEGALI TANPA BENDUNGAN PARU
Cor membesar ke lateral kiri dengan apeks yang tertanam pada
diafragma, pinggang jantung normal/mendatar.
Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo:
- Hili normal.
- Corakan bronkovaskuler normal.
- Tidak tampak bercak lunak.
- Kranialisasi (-).

KESAN :
- Kardiomegali tanpa bendungan paru.
- Tidak tampak TB paru aktif.
KARDIOMEGALI DENGAN BENDUNGAN PARU
Cor membesar ke lateral kiri dengan apeks yang tertanam pada
diafragma, pinggang jantung normal/mendatar.
Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo:
- Hili normal.
- Corakan bronkovaskuler normal.
- Tidak tampak bercak lunak.
- Kranialisasi (+).

KESAN :
- Kardiomegali dengan bendungan paru.
- Tidak tampak TB paru aktif.








KARDIOMEGALI DENGAN EDEMA PARU INTERSTITIAL
Cor membesar ke lateral kiri dengan apeks yang tertanam pada
diafragma, pinggang jantung normal/mendatar.
Sinuses dan diafragma normal. Sinus kanan/kiri tumpul (jika ada efusi
minimal), sinus dan diafragma kanan/kiri berselubung (jika ada efusi).
Pulmo:
- Hili kabur.
- Corakan bronkovaskuler bertambah.
- Tidak tampak bercak lunak.
- Kranialisasi (+)
KESAN :
- Kardiomegali dengan edema paru interstitial dan efusi pleura
kanan/kiri.


KARDIOMEGALI DENGAN EDEMA PARU
Cor membesar ke lateral kiri dengan apeks yang tertanam pada
diafragma, pinggang jantung normal/mendatar.
Sinuses dan diafragma normal. Sinus kanan/kiri tumpul (jika ada efusi
minimal), sinus dan diafragma kanan/kiri berselubung (jika ada efusi).
Pulmo:
- Hili normal.
- Corakan bronkovaskuler bertambah/sulit dinilai.
- Tampak perbercakan di 2/3 medial kedua lapang paru dengan bat
wing appearance.
- Kranialisasi (+/sulit dinilai)
KESAN :
- Kardiomegali dengan edema paru dan efusi pleura kanan/kiri








EDEMA PARU NON KARDIOGENIK DAN NON OVERLOAD CAIRAN
Cor tidak membesar.
Sinuses dan diafragma normal. Sinus kanan/kiri tumpul (jika ada efusi
minimal), sinus dan diafragma kanan/kiri berselubung (jika ada efusi).
Pulmo:
- Hili kabur.
- Corakan bronkovaskuler normal/bertambah/sulit dinilai.
- Tampak perbercakan di kedua lapang paru. (tidak terlokalisir di 2/3
medial lapang paru)
- Kranialisasi (-), penebalan fissura minor (-).

KESAN :
- Edema paru non kardiogenik.
- Tidak tampak kardiomegali.

EDEMA PARU NON KARDIOGENIK AKIBAT OVERLOAD CAIRAN
Cor tidak membesar.
Sinuses dan diafragma normal. Sinus kanan/kiri tumpul (jika ada efusi
minimal), sinus dan diafragma kanan/kiri berselubung (jika ada efusi).
Pulmo:
- Hili kabur.
- Corakan bronkovaskuler normal/bertambah/sulit dinilai.
- Tampak perbercakan di kedua lapang paru. (tidak terlokalisir di 2/3
medial lapang paru) atau tidak tampak perbercakan (edema paru
interstitial).
- Kranialisasi (+), penebalan fissura minor (+).

KESAN :
- Edema paru non kardiogenik.
- Tidak tampak kardiomegali.

EMFISEMA PULMONUM
Cor tidak membesar, berbentuk tear drop.
Sinuses dan diafragma mendatar/normal.
Pulmo:
- Hili normal.
- Corakan bronkovaskuler normal/berkurang.
- Tidak tampak bercak lunak.
- Tampak bayangan hiperaerasi di kedua lapang paru.
- Sela iga melebar.

KESAN :
- Emfisema pulmonum.
- Tidak tampak kardiomegali.

Diafragma mendatar : jarak sinus costophrenicus dengan sinus
cardiophrenicus < 1,5cm,
Diafragma rendah: diafragma di bawah costa 7 anterior atau costa 10
posterior.
Foto lateral: retrosternal air space >2,5cm
1. Dahnert W. Radiology Review Manual 6
th
edition. p.492.
GAMBARAN BRONKITIS KRONIS
Cor tidak membesar.
Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo:
- Hili normal.
- Corakan bronkovaskuler bertambah, cuffing sign (+), tram line (+).
- Tidak tampak bercak lunak.

KESAN :
- Gambaran bronkitis.
- Tidak tampak kardiomegali.

GAMBARAN BRONKIEKTASIS
Cor tidak membesar.
Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo:
- Hili normal.
- Corakan bronkovaskuler bertambah, cuffing sign (+), tram line (+).
- Tampak rongga lusen multipel berdinding tebal yang menyerupai
honeycomb appearance dengan air fluid level di dalamnya di lapang
bawah kanan/kiri.

KESAN :
- Bronkiektasis terinfeksi (jika ada air fluid level) di . . .
- Tidak tampak kardiomegali.











PPOK (EMFISEMA PULMONUM + BRONKITIS KRONIS)
Cor tidak membesar, berbentuk tear drop.
Sinuses dan diafragma mendatar/normal.
Pulmo:
- Hili normal.
- Corakan bronkovaskuler bertambah, cuffing sign (+), tram line (+).
- Tidak tampak bercak lunak.
- Tampak bayangan hiperaerasi di kedua lapang paru.
- Sela iga melebar.

KESAN :
- Emfisema pulmonum dengan gambaran bronkitis kronis
menyokong suatu PPOK.
- Tidak tampak kardiomegali.
METASTASIS INTRAPULMONAL

Cor tidak membesar.
Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo:
- Hili normal.
- Corakan bronkovaskuler normal.
- Tampak bayangan opak noduler di apeks/lapang atas/tengah/bawah
kanan/kiri.

KESAN :
- Metastasis intrapulmonal
- Tidak tampak kardiomegali.

Tipe Metastasis :
Milliary pattern (<0,5cm): Tumor primer tiroid, paru, mammae, atau
sarkoma tulang.
Coin lesion / coarse nodular pattern (1-2cm): Tumor primer di orofaring,
gaster, tiroid, limfosarkoma, koriokarsinoma, traktus genital wanita
(ovarium, uterus).
Golf ball / cannon ball pattern (>2cm): Tumor primer berupa sarcoma,
karsinoma, seminoma, renal cell carcinoma.
Lymphangitic spread : Tumor primer pada mammae, pankreas, paru,
limfoma atau leukemia.
Pneumonic and peribronchial pattern : Tumor primer di esofagus, paru
atau mammae.
Efusi pleura : Tumor primer di mammae, gaster, atau tidak diketahui.
Kebanyakan tipe adenokarsinoma.
Ada 2 pendapat mengenai metastasis yang berupa efusi pleura.
Ada yang menyatakan merupakan metastasis intrapulmonal dan
ada yang menyatakan bukan metastasis intrapulmonal karena
pleura tidak terletak di dalam paru.

1. Soerodiwirio S. Radiologi Traktus Respiratorius.Bandung:Bagian/UPF Radiologi
Fakultas Kedokteran UNPAD,RSHS;1984.
2. Lange S, Walsh G. Radiology of chest diseases.3
rd
ed. Stuttgart: Thieme; 2007

ATELEKTASIS
Foto asimetris dan kurang inspirasi/ekspirasi.
Trakea tampak tertarik ke kanan/kiri.
Cor tidak membesar, tampak tertarik ke kanan/kiri.
Sinuses normal. Diafragma kanan/kiri tertarik ke superior.
Pulmo:
- Hilus kanan/kiri tertarik ke superior/inferior.
- Corakan bronkovaskuler kanan/kiri tampak bertambah.
- Tampak perselubungan opak homogen yang menarik fisura minor /
mayor / trakea / jantung / hilus / diafragma ke . . .
- Tampak hiperaerasi paru . . .
- Tidak tampak bercak lunak.
Sela iga tampak menyempit

KESAN :
- Atelektasis paru kanan/kiri dengan emfisema kompensata paru
kanan/kiri
- Tidak tampak kardiomegali.



Tanda langsung atelektasis:
- Perubahan letak fisura minor atau mayor.
- Penambahan opasitas (penurunan aerasi).
- Corakan bronkovaskular yang bertambah.
Tanda tidak langsung atelektasis:
- Elevasi diafragma.
- Pergeseran mediastinum.
- Pergeseran trakea.
- Pergeseran letak hilus.
- Hiperaerasi kompensasi dari paru yang normal.
- Penyempitan sela iga.


PNEUMOCYSTIS JIROVECII / PNEUMOCYSTIS CARINII PNEUMONIA

Cor tidak membesar.
Sinuses dan diafragma normal .
Pulmo:
- Hili kabur.
- Corakan bronkovaskuler bertambah.
- Tampak perbercakan di perihiler bilateral

KESAN :
- Sugestif suatu pneumocystis jirovecii pneumonia.
- Tidak tampak kardiomegali.


Nilai CD4 <200/mm3
Pneumatocele kecil, bleb
Pola retikuler (interstitial) bila berlanjut dapat menjadi pola airway.
Distribusi di perihiler
Jarang disertai efusi pleura (<5% kasus)




PNEUMOTORAKS
Cor tidak membesar.
Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo:
- Hili normal.
- Corakan bronkovaskuler normal.
- Tampak bayangan lusen avaskuler di hemitoraks lateral kanan/kiri.
- Sela iga pada hemitoraks kanan/kiri melebar.
- Tidak tampak bercak lunak.

KESAN :
- Pneumotoraks kanan/kiri.
- Tidak tampak kardiomegali.











TB PARU AKTIF
Cor tidak membesar.
Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo:
- Hili normal.
- Corakan bronkovaskuler normal.
- Tampak bercak lunak di apeks/lapang atas/tengah/bawah kanan/kiri.

KESAN :
- TB paru aktif.
- Tidak tampak kardiomegali.

Cor tidak membesar.
Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo:
- Hili normal.
- Corakan bronkovaskuler normal.
- Tampak bercak lunak yang disertai kavitas multipel di apeks/lapang
atas/tengah/bawah kanan/kiri

KESAN :
- TB paru aktif.
- Tidak tampak kardiomegali.
Cor tidak membesar.
Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo:
- Hili normal.
- Corakan bronkovaskuler normal.
- Tampak bercak lunak yang disertai noda keras dan garis keras di
apeks/lapang atas/tengah/bawah kanan/kiri
KESAN :
- TB paru lama aktif.
- Tidak tampak kardiomegali.

Trakea tertarik ke kanan/kiri.
Cor tidak membesar.
Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo:
- Hilus kanan/kiri tertarik ke superior, hilus kiri/kanan normal.
- Corakan bronkovaskuler normal.
- Tampak bercak lunak di apeks/lapang atas/tengah/bawah kanan/kiri
yang disertai kavitas multipel.
- Tampak perselubungan opak homogen di hemitoraks atas kanan/kiri
yang menarik trakea ke kanan/kiri dan hilus kanan/kiri ke superior.
KESAN :
- TB paru aktif dengan top schwarte kanan/kiri.
- Tidak tampak kardiomegali.

Cor tidak membesar.
Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo:
- Hili normal.
- Corakan bronkovaskuler normal.
- Tampak bercak lunak halus difus di kedua lapang paru.
KESAN :
- TB paru milier.
- Tidak tampak kardiomegali.


Derajat keparahan TB paru berdasarkan American Tuberculosis
Association:
Negatif: Tidak ditemukan kelainan pada foto toraks.
Minimal lesion: Bercak dapat mengenai satu atau kedua paru, tetapi luas
bercak tidak melebihi daerah yang dibatasi oleh garis tengah, apeks, dan
iga kedua depan atau di atas second chondrosternal junction dan vertebra
torakal keempat atau kelima.
Moderately advanced lesion: Bercak dapat mengenai satu atau kedua
paru tetapi tidak melebihi luas satu paru. Bila ditemukan kavitas,
diameternya tidak melebihi 4cm. Bila terdapat konsolidasi yang homogen,
luasnya tidak melebihi luas satu lobus paru atau sepertiga volume satu
paru.
Far advanced lesion: Luas bercak lebih dari luas bercak pada moderately
advanced lesion atau bila ada kavitas yang berdiameter lebih dari 4cm.

Lesi yang menandakan TB paru aktif:
Infiltrate or consolidation (bercak lunak atau perselubungan opak)
Any cavitary lesion (kavitas)
Nodule with poorly defined margin (such as tuberculoma)
(bayangan opak noduler berbatas tidak tegas)
Pleural effusion (efusi pleura)
Hilar/mediastinal adenopathy (pembesaran KGB perihiler)
Linear, interstitial markings (?)
Miliary (milier)











Lesi yang menandakan TB paru lama (inaktif):
Discrete fibrotic scar or linear opacity (garis keras)
Discrete nodules without calcification (noda keras)
Discrete fibrotic scar with volume loss or retraction (fibrosis)
Bronchiectasis (bronkiektasis)

1. US department of state. Chest X-Ray and classification worksheet. 2007





Jika ditemukan TB ekstrapulmonal maka kemungkinan adanya TB paru
secara radiologis:
Ginjal : 10-15% memiliki TB paru lama dan <5% memiliki TB paru
aktif.
Tulang: Foto toraks normal pada 50% pasien dengan TB paru aktif.
Traktus gastrointestinal: Jarang disertai adanya TB paru aktif.
Otak dan meningen: Foto toraks memperlihatkan adanya TB paru
aktif atau TB paru lama pada 60% pasien.

1. Gay SB,Woodcock RJ. Radiology recall. 2
nd
ed. Philadelphia: Lippincott
Williams & Wilkins;2008.

EMG BEDAH -- TRAUMA SERIES
Toraks
Cor tidak membesar.
Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo:
- Hili normal.
- Corakan bronkovaskuler normal.
- Tidak tampak perbercakan.
Skeletal: Tidak tampak fraktur os clavicula, costae dan scapulae.

KESAN :
- Tidak tampak traumatic wet lung atau contusio paru.
- Tidak tampak fraktur os clavicula, costae dan scapulae.
- Tidak tampak kardiomegali.

Contusio paru muncul 6 jam setelah trauma dan sembuh dalam 72
jam.
Jika menetap lebih dari 72 jam, kemungkinan merupakan suatu
laserasi paru.
Traumatic wet lung merupakan edema paru pada pasien-pasien
trauma.
1. Herring W. Learning Radiology. 1
st
ed. Philadelphia: Mosby.p.139-
40.
Torakolumbal
AP/Lateral
Curve dan alignment dalam batas normal.
Besar, bentuk, dan struktur trabekula vertebra torakolumbal dalam batas
normal.
Discus dan foramen intervertebralis tidak menyempit.
Pedikel dalam batas normal.
Tidak tampak garis fraktur dan osteofit.

KESAN : Foto torakolumbal dalam batas normal.
Metode Cobbs untuk menilai skoliosis

























<20
0
Tidak memerlukan pembedahan atau alat penopang.
Jika terdapat pada pasien yang berusia 10-15 tahun, maka perlu
diobservasi ada tidaknya penambahan sebesar 5
0
dalam
periode 3 bulan.
20
0
-40
0
Memelukan penopang
>40
0
Pembedahan




Scoliosis

Curve scoliosis vertebra . . . dengan apeks ke kanan/kiri pada vertebra .
. . yang pada lateral bending tidak terkoreksi
Alignment dalam batas normal.
Besar, bentuk, dan struktur trabekula vertebra torakolumbal dalam batas
normal.
Discus dan foramen intervertebralis sulit dinilai (posisi).
Pedikel dalam batas normal.
Tidak tampak garis fraktur dan osteofit.

KESAN : Scoliosis struktural/non-strukturalvertebra . . .


















































Thoracic Kyphosis









Lumbosakral
AP/Lateral
Curve dan alignment dalam batas normal.
Besar, bentuk, dan struktur trabekula vertebra lumbosakral dalam batas
normal.
Discus dan foramen intervertebralis tidak menyempit.
Pedikel dalam batas normal.
Tidak tampak garis fraktur dan osteofit.

KESAN : Foto lumbosakral dalam batas normal

Curve dan alignment dalam batas normal.
Tampak osteofit pada corpus vertebrae L3-5.
Discus dan foramen intervertebralis tidak menyempit.
Pedikel dalam batas normal.

KESAN :
- Osteofit pada corpus vertebrae L3-5.





Osteoartritis lumbal terdapat 2 jenis
1. Apophyseal articulation(facet arthrosis)AP,oblik (utama), lateral
Sering pada vertebra L4-5
Tanda: penyempitan celah sendi, permukaan sendi sklerosis,
osteofit, subluksasi(anterolistesis).
2. Intervertebral disc (spondylosis)AP,oblik, lateral (utama).
Sering pada vertebra L4-5
Tanda: penipisan discus intervertebralis, osteofit, sclerosis
endplate, vacuum phenomenon, dan subluksasi.
Osteofit ada dua: traction dan claw (bridging)













Traction osteophyte











Claw osteophyte (bridging)



Penyempitan discus intervertebralis
Osteofit
Sklerosis pada endplate































Vacuum phenomenon (Knuttsen): collection of nitrogen gas in nuclear
and annular fissures and present as an area of linear radiolucency in
the disc space.
Lebih jelas saat ekstensi.


Spondylolisthesis (anterolisthesis): anterior displacement of a
vertebral body in relation to the segment immediately below.
Retrolisthesis: posterior subluxation of a vertebra onto its inferior
adjacent neighbour.


Facet arthrosis































Normal (A) dan Facet arthrosis (B)


Macnabs line untuk menilai foramen intervertebralis pada foto
lumbosakral lateral posisi supine
Tarik garis yang paralel dengan endplate inferior suatu corpus vertebra.
Processus articularis superior vertebra di bawahnya tidak boleh melewati
garis ini.


























































Lumbar lordosis (Normal:50-60
0
)
Hiperlordosis (>60
0
) atau hipolordosis (<50
0
) berhubungan dengan low
back pain

































Lumbar Gravity Line
Hiperlordosis jika garis gravity berada di anterior sacrum > 1cm









Lumbosacral lordosis angle
(Normal:124-162
0
)





























Meyerdings Grading Method in Spondylolisthesis




























Interpediculate distance for evaluating spinal stenosis





























Eisensteins Method for Sagittal Canal Measurement
Normal >14-15mm
Spinal stenosis < 14-15mm













Fraktur sacrum




























Tentukan fraktur vertikal atau transversal.
Tentukan di atas atau di bawah segmen vertebra S4.
Fraktur zona III dan di atas segmen vertebra S4 lebih rentan terhadap
cedera neurologis.



Spondylolisthesis

Tampak malalignment pada vertebra . . . - . . . sejauh . . . mm (grade . . .)
Besar, bentuk, dan struktur trabekula vertebra lumbosakral dalam batas
normal. (tergantung ada tidaknya spondylolysis atau fraktur)
Discus dan foramen intervertebralis (tidak) menyempit.
Pedikel dalam batas normal.
Tidak tampak garis fraktur dan osteofit. (tergantung ada tidaknya
spondylolysis atau fraktur)

KESAN : Spondylolisthesis grade . . . (stabil/ tidak stabil) pada
vertebra . . . - . . . dengan/tanpa spondylolysis.














Metode Meyerding untuk menilai grade spondylolisthesis

























Metode deteksi spondylolisthesis menggunakan Ullmanns line

Stabilitas spondylolisthesis dinilai dengan
Progresivitas
Grade 3 (>50%)
Sacral doming and vertebral body wedging
Penilaian foto fleksi dan ekstensi
o Recumbent lateral with flexion-extension
Unstable jika > 8% translasi

Spondylolysis perlu dinilai pada kasus spondylolisthesis dengan
menggunakan foto oblique.








Penyebab spondylolisthesis menurut Wilse et al:
Type I (dysplastic): A congenital abnormality in the upper sacrum or
the neural arch of L5, allowing displacement to occur.
Type II (isthmic)
o A: A lytic or fatigue fracture of the pars
o B: Elongated but intact pars
o C: Acute fracture of the pars
Type III (degenerative, pseudospondylolisthesis): Secondary to
long-standing degenerative arthrosis of the zygapophyseal joints
and discovertebral articulation
Type IV (traumatic): Secondary to fracture in the area of the neural
arch other than the pars interarticularis.
Type V (pathologic): In conjunction with generalized or localized
bone disease (e.g., Pagets disease, metastatic bone disease,
osteopetrosis)
Type VI (iatrogenic). Occurs above or below a spinal fusion.




















Spondilitis TB

Curve . . . hiperkifosis, alignment dalam batas normal.
Tampak destruksi corpus vertebra . . . terutama pada aspek anterior yang
memberikan gambaran wedge shape.
Tidak tampak osteofit
Permukaan endplate corpus vertebra tidak sklerotik.
Discus intervertebralis . . . tampak menyempit.
Foramen intervertebralis tidak menyempit.
Pedikel dalam batas normal.
Tampak bayangan opak densitas soft tissue di paravertebra . . . kanan
dan kiri yang disertai kalsifikasi.

KESAN :
Spondilitis TB dengan gibbus dan paravertebral abses di . . .

Pada foto torak dapat ditemukan gambaran spider spine dan 50% kasus
disertai TB paru aktif.
Tall vertebra (rasio tinggi corpus > lebar corpus) dapat ditemukan pada
corpus vertebra di bawah lesi sebagai kompensasi gibbus, terutama pada
spondilitis TB yang mengenai anak-anak.
Destruksi corpus vertebra pada TB biasanya multiple dan berdekatan serta
mengenai aspek anteriornya sehingga memberikan gambaran wedge
shape. Lokasi yang sering terkena adalah daerah L1.
Permukaan endplate corpus vertebra pada spondilitis TB biasanya tidak
sklerotik, berbeda dengan penyakit degeneratif yang disertai permukaan
endplate yang sklerotik.
Pada spondilitis TB juga jarang disertai osteofit.
Discus intervertebralis biasanya menyempit pada penyakit infeksi dan
degeneratif. Pada fraktur kompresi akibat trauma, biasanya discus
intervertebralis tidak menyempit.
Pedikel biasanya dalam batas normal. Hal ini membedakan dengan lesi
akibat metastasis yang sering menyerang pedikel.
Keterlibatan soft tissue di daerah cervical dapat melebarkan
retropharyngeal, retrolaryngeal dan retrotracheal space.

Osteoporosis

Densitas tulang menurun disertai penipisan korteks.
Trabekulasi vertikal pada corpus vertebra . . . tampak lebih jelas.
Bentuk corpus vertebra . . . menyerupai baji (wedged vertebra) / plana
(pancake vertebra) / bikonkaf (fish vertebra/hourglass vertebra).
Curve vertebra . . . kifosis dan alignment dalam batas normal.
Besar, bentuk, dan struktur trabekula vertebra lumbosakral dalam batas
normal.
Discus dan foramen intervertebralis tidak menyempit.
Pedikel dalam batas normal.
Tidak tampak garis fraktur dan osteofit.

KESAN : Osteoporosis

Tanda-tanda osteoporosis pada vertebra:
- Densitas tulang menurun.
- Penipisan korteks.
- Perubahan pola trabekulasi.
o Pada vertebra tampak gambaran corduroy cloth
appearance atau pseudohemangiomatous appearance.
Pada osteoporosis, biasanya gambaran tersebut ditemukan
pada banyak vertebra tidak seperti pada hemangioma.
- Deformitas
o Baji (wedged vertebra): kompresi pada aspek anterior.
o Plana (pancake vertebra): kompresi pada aspek anterior
dan posterior, perlu dipertimbangkan penyebab lain seperti
metastasis atau multipel myeloma.
o Bikonkaf (fish vertebra/hourglass vertebra): terjadi jika
discus intervertebralis masih baik.
o Schmorls node: herniasi discus pada endplate corpus
vertebra.
- Curve vertebra dapat hiperkifosis jika terdapat deformitas wedged
vertebra yang multiple.


Schedel
Tabula eksterna, tabula interna dan diploe dalam batas normal.
Vascular dan convolutional marking dalam batas normal.
Sela tursica normal.
Sutura tidak melebar.
Tidak tampak kalsifikasi.
Tidak tampak garis-garis fraktur

KESAN : Foto schedel dalam batas normal.

Ukuran sella turcica
Anteroposterior 5-11mm
Vertical 4-12mm

Jika membesar:
pituitary neoplasm
empty sella syndrome
extrapituitary mass
variasi normal















Fraktur depresi dengan kedalaman >5mm dari tabula interna sering
disertai robekan duramater.

















































































































































Foto Caldwell

Sinus frontalis bilateral cerah.
Sinus ethmoid bilateral cerah.
Rima orbita tampak normal.
Os sphenoid dan petrosus tampak normal.
Septum nasi di tengah.
Tidak tampak garis fraktur.
Oblique orbital line tampak normal.

KESAN : Foto Caldwell dalam batas normal

























Foto Waters

Sinus frontalis bilateral cerah.
Sinus maksilaris bilateral cerah.
Dinding antrum tidak menebal.
Tidak tampak penebalan concha.
Septum nasi di tengah.
Tidak tampak garis fraktur (arcus zigomaticum, dinding orbita dan dinding
sinus)

KESAN : Foto Waters dalam batas normal.





























































Foto submentoverteks atau proyeksi aksial

Foramen ovale, spinosum, dan laceratum normal.
Foramen magnum normal, odontoid normal.
Sinus sphenoidalis cerah.
Tidak tampak bayangan massa yang terproyeksi pada fossa media.

KESAN : Foto submentoverteks dalam batas normal.








































































































































Foto Mastoid (Schuller & Stenvers)

Cellulae mastoidea tampak normal.
Angulus Citelli tampak normal.
Tegmen timpani tampak normal.
Canalis acusticus eksternus dan canalis acusticus internus tampak
normal.
Tidak tampak lesi lusen dan destruksi.

KESAN : Foto Schuller & Stenvers dalam batas normal.











Stenvers position













Schuller position


































Schuller position






























Schuller position







































Stenvers position































Stenvers position



















































































Foto Nasal
Tidak tampak fraktur os nasal.














Temporomandibular joint (TMJ)

Tutup mulut:
Caput mandibula berada pada fossa temporomandibula.
Sela sendi dan permukaan sendi tampak normal.

Buka mulut:
Caput mandibula terletak pada batas anterior fossa temporomandibula.

KESAN : Foto temporomandibular joint dalam batas normal.


























Cervical Lateral
Curve dan alignment dalam batas normal.
Besar, bentuk, dan struktur trabekula vertebra cervicalis dalam batas
normal.
Discus intervertebralis tidak menyempit.
Pedikel dalam batas normal.
Tidak tampak osteofit dan garis fraktur.
Atlantodental interspace dalam batas normal.
Interspinous distance dalam batas normal.
Retropharyngeal, retrolaryngeal, dan retrotracheal space dalam batas
normal.

KESAN : Foto cervical dalam batas normal.

Pada foto cervical lateral, foramen intervertebralis tidak tampak. Foramen
intervertebralis terlihat dengan foto cervical obliq.
RAO dan LPO untuk melihat foramen intervertebralis kanan.
LAO dan RPO untuk melihat foramen intervertebralis kiri.
Atlantodental interspace (ADI)<3mm pada dewasa, <5mm pada anak-anak.
ADI > 10mm dapat menyebabkan cord compression.
Interspinous distance tidak lebih dari 1,5 interspinous distance sebelahnya.















Anterior Atlanto-Occipital Dislocation Measurement (Powers Index)
Foto cervical lateral atau schedel lateral
Jarak BP / Jarak OA < 1 : Normal
1 : probably atlanto-occipital dislocation
























The McGregor line: The tip of odontoid <4,5mm
































Ranawat method: Jarak C1 dengan C2 <17mm pada pria, <15mm pada
wanita. Jika jarak ini berkurang maka kemungkinan terjadi cephalad
migration.













Cervical Open Mouth
Tidak tampak garis fraktur pada vertebra C1 (atlas) dan C2 (axis)
Alignment pada sisi lateral kanan dan kiri vertebra C1 dan C2 dalam
batas normal.

Alignment pada sisi lateral normal <2mm
Malalignment <2mm dapat diakibatkan oleh anak-anak<10 tahun(4tahun),
spina bifida atlas
Fraktur Jeffersons >3mm


























































Foto Sella
Diameter anteroposterior sella tursica dalam batas normal.
Tinggi sella tursica dalam batas normal.
Processus clinoideus anterior dan posterior tampak normal.
Tidak tampak kalsifikasi.
KESAN : Foto sella dalam batas normal.

Ukuran sella turcica
Anteroposterior 5-11mm
Vertical 4-12mm














Jika membesar:
pituitary neoplasm
empty sella syndrome
extrapituitary mass
variasi normal
STL
Kolom udara dalam laring dan faring dalam batas normal.
Retropharyngeal dan retrolaryngeal space tidak melebar.
Epiglotis dan valekula dalam batas normal.
Tidak tampak bayangan opak ataupun kalsifikasi pada soft tissue.

KESAN : Foto STL dalam batas normal.
Jaringan lunak
Retropharyngeal interspace (RPI) C2-3
Retrolaryngeal interspace (RLI) C4-5
Retrotracheal interspace (RTI) C5-7
Jaringan lunak di depan corpus vertebrae dan di belakang bayangan udara
dari faring, laring, dan trakea.

Lebar dalam mm
Level Fleksi Netral Ekstensi
C1 11 10 8
C2 6 5 6
C3 7 7 6
C4 7 7 8
C5 22 20 20
C6 20 20 19
C7 20 20 21

Jika terdapat pelebaran berarti
Hematoma pasca trauma
Abses retrofaring
Neoplasma tulang atau jaringan lunak



















































The Steeple sign





















Normal Laryngotracheobronchitis

The Steeple sign (+) : laryngotracheobronchitis (croup), epiglottitis, thermal
injury, angioneurotic edema, bacterial tracheitis.










Shoulder

AP (internal rotation/external rotation)
Besar, bentuk, dan struktur trabekula tulang-tulang pembentuk sendi
glenohumeral dalam batas normal.
Tidak tampak fraktur.
Sela dan permukaan sendi-sendi pembentuk sendi bahu dalam batas
normal.
Tidak tampak osteofit, lesi litik ataupun sklerotik.

KESAN :
Foto shoulder dekstra/sinistra dalam batas normal.
























True AP (Grashey)
Besar, bentuk, dan struktur trabekula tulang-tulang pembentuk sendi
glenohumeral dalam batas normal.
Tidak tampak fraktur.
Sela dan permukaan sendi-sendi pembentuk sendi bahu dalam batas
normal.
Tidak tampak osteofit, lesi litik ataupun sklerotik.

KESAN :
Foto shoulder dekstra/sinistra dalam batas normal.

True AP berguna untuk melihat sendi glenohumeral dengan lebih jelas
karena anterior dan posterior rim dari fossa glenoidalis terletak
sejajar.






















Sela sendi glenohumeral pada posisi AP dengan rotasi eksternal
Diukur pada bagian superior, medial dan inferior. Dijumlahkan dan dibagi 3
sehingga didapatkan rata-rata 4-5mm (normal)
Jika melebar:
Dislokasi humerus ke posterior
Akromegali
Jika menyempit:
Artritis degeneratif
CPPD disease
Artritis post traumatic


























Jarak acromiohumeral pada posisi AP
Merupakan jarak antara batas bawah akromion dan caput humeri yang
besarnya 7-11mm
Jika <7mm:
Rotator cuff tear
Tendinitis degeneratif akibat kerja otot deltoid yang tidak
dikompensasi sehingga menyebabkan subluksasi humerus ke
superior.
Jika >11mm:
Subluksasi post traumatic
Efusi sendi.
Stroke atau lesi pada pleksus brakialis (drooping shoulder)
























Sela sendi akromioklavikular pada posisi AP atau PA
Jarak diukur dari batas superior dan inferior kemudian dirata-ratakan
Normal pada pria (2,5-4,1mm) dan pada wanita (2,1-3,7mm)
Sela sendi yang melebar:
Dislokasi
Resorpsi tulang (osteolisis) akibat hiperparatiroid atau artritis
rematoid pasca trauma
Sela sendi yang menyempit:
Degeneratif joint disease



























Y view
Besar, bentuk, dan struktur trabekula tulang-tulang pembentuk sendi
glenohumeral dalam batas normal.
Tidak tampak fraktur pada body of scapula, processus coracoideus,
akromion, dan bagian proksimal humerus.
Posisi caput humeri terhadap fossa glenoid dalam batas normal.
Tidak tampak osteofit, lesi litik ataupun sklerotik.

KESAN :
Foto scapula Y view dekstra/sinistra dalam batas normal.









































Axillary view
Besar, bentuk, dan struktur trabekula tulang-tulang pembentuk sendi
glenohumeral dalam batas normal.
Sela dan permukaan sendi pembentuk sendi glenohumeral dalam batas
normal.
Posisi caput humeri terhadap fossa glenoid dalam batas normal.
Tidak tampak fraktur.
Tidak tampak osteofit.

KESAN :
Foto scapula axillary view dekstra/sinistra dalam batas normal.

























Bankart lesion : fraktur avulsi pada inferior glenoid rim.
Hill Sach lesion : fraktur impaksi pada permukaan posterosuperior
caput humerus akibat benturan dengan inferior glenoid rim pada
dislokasi bahu ke anterior yang rekuren




















Humerus

Besar, bentuk & struktur trabekula os humerus kanan/kiri dalam batas
normal.
Sela dan permukaan sendi dalam batas normal.
Tidak tampak garis fraktur
Tidak tampak lesi litik maupun sklerotik.

KESAN : Foto humerus dextra/sinistra dalam batas normal















Antebrachii

Besar, bentuk & struktur trabekula os radius dan ulna dalam batas
normal.
Sela dan permukaan sendi dalam batas normal.
Tidak tampak garis fraktur.
Tidak tampak lesi litik maupun sklerotik.

KESAN : Foto antebrachii dextra/sinistra dalam batas normal.
Elbow joint
AP fully extended
Besar, bentuk & struktur trabekula bagian distal os humerus dalam batas
normal.
Besar, bentuk & struktur trabekula bagian proksimal os radius dan ulna
dalam batas normal.
Sela dan permukaan sendi dalam batas normal.
Tidak tampak garis fraktur.
Tidak tampak lesi litik maupun sklerotik.

KESAN : Foto elbow joint dextra/sinistra dalam batas normal.

Humeral shaft line (A)
Ulnar shaft line (B)
Humeral articular line (C) dari troklea paling distal ke capitulum humeri
Carryng angle (CA)
Humeral angle (HA)
Ulnar angle (UA)


CA 154-178
0

HA 72-95
0

UA 72-99
0


Jika ada fraktur atau deformitas lainnya
sudut-sudut tersebut dapat abnormal









Elbow lateral
Besar, bentuk & struktur trabekula bagian distal os humerus dalam batas
normal.
Besar, bentuk & struktur trabekula bagian proksimal os radius dan ulna
dalam batas normal.
Sela dan permukaan sendi dalam batas normal.
Tidak tampak garis fraktur.
Tidak tampak lesi litik maupun sklerotik.

KESAN : Foto elbow joint dextra/sinistra dalam batas normal.

Radiocapitellar line
Garis yang melalui pertengahan os radius dan sejajar dengan sumbu
panjangnya.
Garis ini harus melalui pertengahan capitulum humeri pada keadaan normal
(tanpa sublukasi atau dislokasi)



















Elbow internal oblique
Untuk melihat:
Epicondilus medial dan troklea
Processus coronoid (in profile)














Elbow external oblique
Untuk melihat:
Epicondilus lateral dan capitulum
Caput radii
Collum radii
Tuberositas radii
















































Wrist joint

Besar, bentuk, dan struktur trabekula os radius dan ulna dalam batas
normal.
Sela dan permukaan sendi dalam batas normal.
Tidak tampak garis fraktur.
Tidak tampak lesi litik maupun sklerotik.
Fossa scaphoid dan lunatum serta sigmoid notch pada distal os radius
tampak normal.
Processus styloideus ulna tampak normal.
Radial height, radial inclination, dan volar tilt dalam batas normal.

KESAN : Foto wrist joint dextra/sinistra dalam batas normal.


















Radioulnar articular line (A) : garis yang ditarik dari ujung processus
stiloideus radius ke basis processus stiloideus ulna.

Radial shaft line (B) : garis yang melalui sumbu panjang os radius.
Radioulnar angle (I) : 72-95
0



















Radius articular line (A): garis yang ditarik dari ujung-ujung terdistal os
radius.
Radial shaft line (B)
Radius angle (II): 79-94
0


Sudut-sudut tersebut dapat berubah jika ada fraktur.




























































































































































Manus
AP/Oblique
Besar, bentuk, dan struktur trabekula os. carpal, metacarpal, dan
phalanges dalam batas normal.
Sela dan permukaan sendi dalam batas normal.
Tidak tampak garis fraktur.
Tidak tampak lesi litik maupun sklerotik.

KESAN : Foto manus dextra/sinistra dalam batas normal.


























































Pelvis
Pelvis AP
Besar, bentuk dan struktur trabekula tulang-tulang pembentuk pelvis
dalam batas normal
Sela sendi dan permukaan acetabulum dalam batas normal.
Skinners line, Shentons line, Iliofemoral line dan Kleins line : normal.
Tidak tampak garis fraktur.
Tidak tampak lesi litik maupun sklerotik.

KESAN : Foto pelvis dalam batas normal.






























































Jarak antar simfisis pubis yang dilihat pada proyeksi AP
Jarak diukur dari pertengahan batas superior dan inferior simfisis pubis kiri
dan kanan.
Normal berukuran 4,8-7,2mm (pria) dan 3,8-6mm (wanita)
Jika meningkat:
Diastasis post traumatic
Cleidocranial dysplasia
Bladder exostrophy
Hyperparathyroidism
Resorpsi inflamasi (spondilitis ankilosa, osteitis pubis dan gout)

Alignment simfisis pubis dinilai pada batas inferior.






































Shentons line
Jika terganggu maka ada kemungkinan:
Dislokasi panggul, fraktur colum femoris, slipped femoral capital epiphysis















Skinners line
Normal fovea capitis ada di atas atau sejajar dengan garis ini. Jika fovea
capitis terletak di bawahnya berarti ada displacement batang femur ke
superior terhadap caput.














Iliofemoral line
Jika terganggu maka ada kemungkinan:
Congenital displasia, slipped femoral capital epiphysis, dislokasi atau
fraktur.















Kleins line
Jika caput femoris tidak melewati garis ini, maka kemungkinan slipped
femoral capital epiphysis harus dipikirkan.























Teardrop distance : 6-11mm
Jika >11mm atau perbedaan >2mm dengan sisi kontralateral: efusi, artritis
septik dan peradangan lain.

































Hip joint space width
Superior joint space: Jarak antara titik paling tinggi pada permukaan sendi
femur dengan korteks asetabulum (3-6mm)
Axial joint space: Jarak antara caput femoris dengan asetabulum di lateral
dari acetabular notch (3-7mm)
Medial joint space: teardrop distance (4-13mm)







Inlet view
Sacroiliaca joint dalam batas normal.
Ramus superior dalam batas normal.
Eminentia ileopubica dalam batas normal.
































Outlet view
Simfisis pubis dalam batas normal.
Ramus inferior dan ramus superior dalam batas normal.
Foramen obturator dalam batas normal.
































Judeth view
Downside (iliac wing terbuka, foramen obturator tidak terlihat)
Rim asetabulum anterior dalam batas normal.
Kolumna ilioishium posterior dalam batas normal.
Iliac wing dalam batas normal.































Upside (iliac wing tertutup, foramen obturator terlihat)
Rim asetabulum posterior dalam batas normal.
Kolumna iliopubic anterior dalam batas normal.
Foramen obturator dalam batas normal
































Young-Burgess Classification
Descriptions Treatment
APC I Symphysis widening < 2.5 cm Non-operative. Protected weight
bearing
APC II Symphysis widening > 2.5 cm.
Anterior SI joint diastasis .
Posterior SI ligaments intact.
Anterior symphyseal plate or
external fixator
APC III Disruption of anterior and posterior
SI ligaments (SI dislocation).
APCIII associated with vascular
injury
Anterior symphyseal plate or
external fixator and posterior
stabilization with SI screws
LC Type I Oblique ramus fracture and
ipsilateral anterior sacral ala
compression fracture.
Non-operative. Protected weight
bearing
LC Type
II
Ramii fracture and ipsilateral
posterior ilium fracture dislocation
(Crescent fracture).
Open reduction and internal fixation
of ilium
LC Type
III
Ipsilateral lateral compression and
contralateral APC (windswept
pelvis).
Common mechanism is rollover
vehicle accident or pedestrian vs
auto.
Posterior stabilization with plate or
SI screws as needed. Percutaneous
or open based on injury pattern and
surgeon preference.
Vertical
shear
Posterior and superior directed
force.
Associated with the highest risk of
hypovolemic shock (63%);
mortality rate up to 25%
Posterior stabilization with plate or
SI screws as needed. Percutaneous
or open based on injury pattern and
surgeon preference.

















































































































FEMUR

Besar, bentuk & struktur trabekula os femur dalam batas normal.
Caput femoris dan asetabulum dalam batas normal.
Sela sendi dan permukaan sendi dalam batas normal.
Tidak tampak garis fraktur.
Tidak tampak lesi litik maupun sklerotik.

KESAN :
Foto femur dekstra/sinistra dalam batas normal.





























































































GENU
Besar, bentuk, dan struktur trabekula os pembentuk genu dalam batas
normal.
Sela sendi dan permukaan sendi dalam batas normal.
Eminentia intercondiloidea tidak meruncing.
Tidak tampak garis fraktur.
Tidak tampak lesi litik maupun sklerotik.

KESAN :
Foto genu dekstra/sinistra dalam batas normal.



























































































Femoral shaft line (A)
Tibial shaft line (B)
Femoral condyle line (C)
Tibial plateau line (D)
Femoral angle (FA)
Tibial angle (TA)

FA: 75-85
0

TA: 85-100
0

Sudut-sudut tersebut dapat berubah
jika terdapat fraktur atau deformitas
lainnya.










Osteoarthritis genu menurut Kellgren-Lawrence
I:Unlikely narrowing of the joint space, possible osteophyte.
II:Identified small osteophyte, possible narrowing of the joint space.
III:Multiple moderately osteophyte, definite joint space narrowing, some
sclerotic area, possible deformation of the bone.
IV:Multiple large osteophyte, severe joint space narrowing, marked
sklerosis, definite bone end deformity.




Tampak osteofit pada . . ..
Sela sendi tidak menyempit dan permukaan sendi tidak sklerotik.
Eminentia intercondiloidea tidak meruncing.

KESAN :
Osteoarthritis genu grade I


Tampak osteofit pada . . .
Sela sendi mulai menyempit dan permukaan sendi sklerotik.
Eminentia intercondiloidea meruncing.

KESAN :
Osteoarthritis genu grade II

Tampak osteofit pada . . .
Sela sendi menyempit dan permukaan sendi sklerotik.
Eminentia intercondiloidea meruncing.

KESAN :
Osteoarthritis genu grade III

Tampak deformitas pada . . .
Tampak osteofit pada . . .
Sela sendi menyempit dan permukaan sendi sklerotik.
Eminentia intercondiloidea meruncing.

KESAN :
Osteoarthritis genu grade IV






Tanda-tanda joint effusion pada genu:
Bulging fat planes
Obliteration of suprapatella pouch and Hoffa fat triangle/pad
(infrapatella)
Juxtraarticular osteopenia/osteoporosi


Phemister Triad: signs of joint involvement from tuberculosis
juxtarticular osteopaenia / osteoporosis
peripheral osseous erosions
gradual narrowing of joint space

























CRURIS
Besar, bentuk, dan struktur trabekula os tibia dan fibula dalam batas
normal.
Sela sendi dan permukaan sendi dalam batas normal.
Tidak tampak garis fraktur.
Tidak tampak lesi litik maupun sklerotik.

KESAN:
Foto cruris dekstra/sinistra dalam batas normal.












Schatzker I Schatzker II Schatzker IIIA Schatzker IIIB












Schatzker IV Schatzker V Schatzker VI











ANKLE JOINT
Besar, bentuk, dan struktur trabekula os pembentuk ankle joint dalam
batas normal.
Sela sendi dan permukaan sendi dalam batas normal.
Tidak tampak garis fraktur.
Tidak tampak lesi litik maupun sklerotik.
Tidak tampak osteofit.

KESAN :
Foto ankle joint dextra / sinistra dalam batas normal.















AP Mortise AP Oblique
Posisi AP: intermalleolar line membentuk sudut 15
0
dengan film dimana
malleolus lateral terletak lebih posterior dibandingkan dengan malleolus
medial.
Posisi AP mortise: intermalleolar line sejajar dengan film.
Posisi AP oblique: pedis rotasi internal 45
0















AP AP Mortise



Posisi AP Mortise untuk melihat
sendi tibiotalar bebas superimposisi.
basis metatarsal 5.
tibia dan fibula bebas superimposisi.
Posisi AP Oblique untuk melihat
distal fibula
posterior tibia
talar dome
basis metatarsal 5.



AP Oblique







































































Jika sudut Boehler < 20
0
maka harus dicurigai fraktur kompresi




































PEDIS

Besar, bentuk, dan struktur trabekula os tarsal, metatarsal, dan
phalanges dalam batas normal.
Sela sendi dan permukaan sendi dalam batas normal.
Tidak tampak garis fraktur.
Tidak tampak lesi litik maupun sklerotik.
Tidak tampak osteofit.

KESAN :
Foto pedis dekstra/sinistra dalam batas normal.

























































































Wagner Grading System for Diabetic Foot Infections
0-Intact skin
1-Superficial ulcer of skin or subcutaneous tissue
2-Ulcers extend into tendon, bone, or capsule
3-Deep ulcer with osteomyelitis, or abscess
4-Gangrene of toes or forefoot
5-Midfoot or hindfoot gangrene.
Osteomielitis dapat tidak terdeteksi oleh foto konvensional sampai 7-15 hari
dari onset penyakit, sehingga jika terdapat kecurigaan dari klinis, maka
perlu foto ulang 2- 4 minggu kemudian.

Talipes dan Genu
Talipes equinus: plantar fleksi
Talipes calcaneus: dorso fleksi
Talipes valgus: eversi (turning inside out)
Talipes varus: inverse (turning inward)
Genu valgum: X
Genu varum: O




































Metastasis ke Tulang
Tampak lesi litik multipel batas tidak tegas dengan ukuran yang relatif
bervariasi























































































Mieloma Multipel
Tampak lesi litik multipel batas tegas dengan ukuran yang relatif sama
pada os calvaria

































Hemophilic Arthropathy

Sendi yang terkena: knee, ankle, and elbow

Stage Major Radiographic Feature
I Soft Tissue Swelling (lihat fat planes dan densitas soft tissue)
II Osteoporosis
III Osseus lesions (expansile pseudotumor, enlarged epiphyses,
widened intercondylar notch, squared inferior patella)
IV Cartilage destruction (subchondral cyst, permukaan sendi
kasar dan sklerotik)
V Joint disorganization (Penyempitan celah sendi, osteofit,
sklerosis, fragmentasi, malalignment)

Osteosarcoma
Tampak lesi sklerotik/litik (permeatif)/sklerotik dan litik, sentral (central
osteosarcoma) pada metafisis bagian proksimal os humerus / proksimal
os femur / calcaneus.
Tampak reaksi periosteal berbentuk sunburst appearance / sunray
appearance / Codmans triangle.

Tampak bayangan opak lobulated batas tegas eksentrik (juxtacortical
osteosarcoma) pada permukaan posterior metafisis distal os femur /
proksimal os tibia / proksimal os humerus.
Tidak tampak reaksi periosteal.

Tipe osteosarcoma:
Central osteosarcoma
Parosteal osteosarcoma
Secondary osteosarcoma
Extraosseous osteosarcoma
Usia : 10-25thn. M:F = 2:1
Lokasi: 75% metafisis, dapat ditemukan juga pada epifisis dan diafisis
41,5 % femur (distal)
16% tibia fibula (proksimal)
15% humerus (proksimal)
Other: calvaria, sacrum, pelvis, mandible, maxilla, scapula, clavicle, ribs,
hand, calcaneus, and spine.
Metastasis: 95% ke paru (cannonball), 50% ke tulang, dan 12% ke ginjal.

Gambaran radiologi central osteosarcoma:
- Lesi litik permeatif
- Ivory medullary lesion in the metaphyses
- Periosteal reaction: sunburst, sunray, codmans triangle
- Cortical disruption with soft tissue mass formation
- Cumulus cloud appearance
Gambaran radiologi parosteal osteosarcoma:
- Massa opak juxtacortical dengan tepi lobulated
- Cleavage plane / string sign (pada 30% kasus)
Penting untuk menentukan central / parosteal (keterlibatan medulla) pada
osteosarcoma (secara imaging)
5 year survival rate parosteal osteosarcoma :70%
5 year survival rate central osteosarcoma: 20%

Chondrosarcoma

Tampak lesi litik berbentuk bulat atau oval, batas tidak tegas, sentral
(central chondrosarcoma) pada bagian pelvis / metafisis proksimal os
femur/humerus, costa, scapula, distal os femur / proximal os tibia yang
disertai kalsifikasi jaringan lunak berbentuk stippled/popcorn/fluffy/cotton
wool/rings/broken rings.
Tampak reaksi periosteal laminated/spiculated.


>40 tahun (40-60thn)
M:F = 2:1
Location:
Pelvis and proximal femur (50%)
Proximal humerus (10%)
Ribs (15%)
Scapula (6%)
Distal femur and proximal tibia (7%)
Craniofacial bones and sternum (5%)

Primer(de novo) atau sekunder (pre-existing cartilaginous lesion:
enchondroma, osteochondroma)
Central chondrosarcoma (intramedullary)
Peripheral chondrosarcoma (surface of the bone)


Gambaran radiologi
- Lesi lusen bulat atau oval dengan batas tidak tegas
- Pada metafisis atau diafisis. <2% pada epifisis
- Endosteal scalloping
- Popcorn matrix calcification pada 2/3 kasus. Purely
radiolucent 1/3 kasus.
- Reaksi periosteal laminated atau spiculated
- Intramedullary
- Massa soft tissue dengan amorphous calcification.

Neurotrophic Arthropathy / Charcots joints / Neuroarthropathy

Penyebab
Congenital
Congenital indifference to pain
Dysautonomia
Spina bifida vera (meningocele) (4)
Iatrogenic
Indomethacin
Phenylbutazone
Steroids
Acquired
Alcoholism
Amyloidosis
Charcot-Marie-Tooth disease
Diabetes mellitus (1) Hypertrophic
Leprosy, yaws
Multiple sclerosis
Neurosyphilis (2) Hypertrophic
Syringomyelia (3) : Atrophic
Trauma
Tumor
Gambaran radiologi
Hypertrophic
Distended joint
Density increase
Debris production
Dislocation
Disorganization
Destruction
Atrophic
Resorbed articular surface
Tapered bone ends
Charcots joints
Cluttons joints
Jigsaw vertebra
Licked candy stick
Surgical amputation
Tumbling building-block spine















Simple bone cyst
Tampak lesi litik ekspansil sentral pada metafisis/diafisis pada bagian
proksimal os humerus / proksimal os femur / calcaneus.
Tidak tampak reaksi periosteal.

Usia : 3-14thn. M:F = 2:1
Gambaran radiologi simple bone cyst / unicameral bone cyst / juvenile bone
cyst:
- Lesi litik geografik
- Ekspansil
- Sentral
- Elongated
- Endosteal scalloping
- Pseudoseptation (thin septa)
Jika ada fraktur:
- Fallen fragment sign
- Hinged fragment sign
- Reaksi periosteal
Aneurysmal bone cyst
Tampak lesi litik ekspansil eksentrik bersepta tipis pada metafisis/diafisis
pada bagian distal femur/ proksimal tibia/proksimal os humerus / vertebra
torakolumbal (arcus neuralis).
Tidak tampak reaksi periosteal.

Usia : 5-20thn. 60 % pada wanita.
Ada primer dan sekunder (disertai kelainan lain)
Gambaran radiologi aneurysmal bone cyst:
- Lesi litik geografik
- Eksentrik
- Ekspansil (blown out appearance / finger in the balloon)
- Bersepta tipis
- Penipisan korteks.
- Reaksi periosteal (buttress)
- Fluid-fluid level on MRI


Giant cell tumor
Tampak lesi litik ekspansil eksentrik bersepta pada metafisis/epifisis
(subartikular) bagian distal femur / proksimal tibia / distal radius /
proksimal humerus / sacrum / ilium.

Usia : 20-40thn. Benign M:F =2:3
Malignant M:F = 3:1
Gambaran radiologi giant cell tumor:
- Litik geografik
- Eksentrik
- Metafisis-epifisis
- Subartikular
- Ekspansil.
- Bersepta
- Penipisan korteks.
- Biasanya epiphyseal plate sudah menutup
- Lesi jinak atau ganas sulit dibedakan secara radiologi.



Osteomielitis

Tampak lesi litik multipel batas tidak tegas, tepi ireguler berukuran 2-5
mm (moth-eaten) di daerah metafisis/diametafisis/epimetafisis/epifisis/
diafisis os . . . bagian distal/proksimal yang disertai lesi sklerotik padat di
sekitarnya.(jika ada sekuestrum).
Tampak lesi sklerotik tipis berlapis pada periosteum di sekitar lesi (jika
ada reaksi periosteal tipe lamellar).
Tampak lesi sklerotik yang relatif berbentuk segitiga pada periosteum di
sekitar lesi. (jika ada reaksi periosteal tipe Codmans triangle).
Tampak lesi sklerotik padat pada periosteum di sekitar lesi (jika ada
reaksi periosteal tipe solid).
Tampak lesi sklerotik tebal yang tidak terlalu padat di sekitar lesi (jika ada
involukrum).
Tampak bayangan opak densitas soft tissue di sekitar metafisis/
diametafisis /epimetafisis/epifisis/diafisis os . . . bagian distal/proksimal
yang disertai bayangan lusen kecil ireguler multipel di jaringan lunak
sekitarnya (jika ada gas gangren).

KESAN
Osteomielitis dengan sekuestrum/involukrum dan reaksi periosteal
yang disertai pembengkakan jaringan lunak dan gas gangrene di
sekitarnya.


























Sekuestrum: Fragmen tulang yang nekrotik dengan gambaran sklerotik
padat yang terdapat di dalam suatu kavitas osteolitik purulenta.
Involukrum: Lesi tempat terjadinya pembentukan tulang baru di sekitar




































sekuestrum.
Kloaka: Saluran yang terbentuk pada korteks tulang akibat drainase sinus
tract.


























DESKRIPSI FRAKTUR







pada 1/3 proksimal/tengah/distal os. . . .

















Contoh:
Fraktur transversal pada 1/3 proksimal os femur dekstra dengan
displacement segmen distal ke anterior.
Fraktur kominutif pada 1/3 tengah os humerus sinistra.






Open
Closed
Fraktur
simpel
kominutif
transversal
obliq
spiral
dengan displacement segmen distal ke
anterior/posterior/lateral/medial/plantar/palmar/dorsal

dengan angulasi segmen distal ke
anterior/posterior/lateral/medial/plantar/palmar/dorsal
Berlawanan
dengan angulasi ke
posterior/anterior/medial/lateral/dorsal/dorsal/palmar/plantar
pada garis fraktur

dengan shortening/rotasi





DESKRIPSI DISLOKASI
















































Contoh:
Dislokasi caput humerus ke anterior pada sendi glenohumeral.

Dislokasi/luksasi: complete loss of contact between the usual articular
components of a joint

Subluksasi: partial loss of contact between the usual articular surface
components of a joint.

Diastasis: displacement or frank separation of a slightly movable joint
(syndesmosis) e.g. pubic symphisis, sutures of the skull, and the distal
tibiofibular syndesmosis.


Dislokasi/Luksasi
Subluksasi
Diastasis
bagian tulang/tulang yang lebih distal
ke
anterior/posterior/lateral/medial/plantar/palmar/dorsal
pada sendi . . .
Tiga fase penyembuhan fraktur:

1. Fase sirkulasi atau inflamasi (30 hari)
Fase seluler (10 hari)
Fase vaskuler (10 hari)
Fase kalus primer (10 hari)
Kalus primer terbentuk pertama kali pada hari ke-14
2. Fase reparasi atau metabolik
Buttressing callus
Sealing callus
Bridging callus
Uniting callus
3. Fase remodelling atau mekanik

Gambaran radiologi
5 hari pertama : resorpsi pada garis fraktur, sehingga gambaran fraktur menjadi lebih
jelas.
10-30 hari berikutnya : terdapat perselubungan di sekitar fraktur (pembentukan kalus)
Remodelling terjadi 4-6 minggu (pada anak-anak) dan 6-12 minggu (pada dewasa)

Acute/recent and healed/old fracture
Two modalities: MRI and Bone scan
Bone scan does not reliably distinguish recent and old fracture <18 months.
MRI can distinguish recent and old fracture > 6 weeks.
EMG BEDAH ACUTE ABDOMEN
BNO - BNO 3 POSISI
NORMAL
BNO
Preperitoneal fat jelas.
Psoas line jelas.
Kontur kedua ginjal jelas.
Distribusi udara colon dalam batas normal dengan fekal material di
dalamnya.
Distribusi udara usus halus dalam batas normal.
Tidak tampak konkremen opak.
Masih tampak bayangan udara di rongga pelvis.

KESAN :
- Tidak tampak urolitiasis opak.
- Tidak tampak tanda-tanda ileus.

BNO 2 POSISI / 3 POSISI
Preperitoneal fat jelas.
Psoas line jelas.
Kontur kedua ginjal jelas.
Distribusi udara colon dalam batas normal dengan fekal material di
dalamnya.
Distribusi udara usus halus dalam batas normal.
Tidak tampak konkremen opak.
Pada posisi tegak: air fluid level (-), free air subdiafragma (-)
Masih tampak bayangan udara di rongga pelvis.

KESAN :
- Tidak tampak urolitiasis opak.
- Tidak tampak tanda-tanda ileus.

Tulisan biru tidak perlu jika kelainan yang diperiksa tidak
berhubungan traktur genitourinaria.

Fat lines merupakan alat bantu dalam menilai foto BNO
Kontur ginjal, m.psoas, vesica urinaria, hati dan limpa merupakan organ2
yang dikelilingi oleh lemak sehingga dapat diidentifikasi.

Fat line ini dapat terdorong oleh pembesaran organ di sekitarnya atau dapat
juga menjadi tidak jelas akibat peradangan (cairan).

Hal yang perlu diperhatikan adalah fat line dapat tidak jelas pada beberapa
orang normal.

Fat line yang melingkupi limpa tidak jelas pada 42% orang normal.
Psoas line kanan tidak jelas pada 19% orang dewasa normal.
Pada anak-anak 52% psoas line tidak jelas dan pada 18% preperitoneal fat
tidak jelas.

Ukuran normal usus halus dan kolon bervariasi sehingga dalam
penilaiannya harus dilihat keadaan klinis. Sebagai patokan dapat diambil
ukuran berikut, namun pernah dilaporkan kolon yang berukuran 10-15cm
pada orang normal
Usus halus <2,5cm
Caecum<9cm
Colon<5,5cm

1. Sutton D. Textbook of radiology and imaging. 2
nd
edition.London:
Elsevier;2003.p.665


Penebalan dinding usus jika >3mm (Pada CT scan, Learning Radiology)








BNO Normal Neonatus
BNO datar
Tampak bayangan udara di dalam usus terdistribusi secara simetris
dengan pola mozaik.
Tidak tampak bayangan lusen pada dinding usus.
Tidak tampak bayangan lusen yang terproyeksi di daerah hepar.

KESAN :
- Tidak tampak tanda-tanda ileus.
- Tidak tampak pneumatosis intestinalis maupun portal venous gas.

Cross table
Tidak tampak free air di antara dinding perut dengan usus-usus.
Tidak tampak air fluid level.

Left lateral decubitus atau BNO tegak.
Tidak tampak free air subdiafragma.
Tidak tampak air fluid level.

Diameter usus normal pada neonates dan bayi < dari lebar corpus vertebra
L1.

Ileus Obstruktif Letak Tinggi pada Neonatus
Tampak gambaran single bubble / double bubble / triple bubble pada
abdomen atas.
Tidak tampak bayangan udara di usus-usus bagian distal.
Tidak tampak bayangan lusen pada dinding usus.
Tidak tampak bayangan lusen yang terproyeksi di daerah hepar.
Pada foto cross table/LLD/BNO tegak: free air (-).

KESAN :
- Ileus obstruktif letak tinggi, sugestif suatu hypertrophic pyloric
stenosis / atresia duodenum / stenosis duodenum / atresia
jejunum.
- Tidak tampak pneumatosis intestinalis maupun portal venous gas.
- Tidak tampak pneumoperitoneum.
Ileus Obstruktif Letak Rendah pada Neonatus
Tampak bayangan udara di dalam usus berlebih dengan pola yang
menyerupai gambaran a bag of sausages.
Tidak tampak bayangan lusen pada dinding usus.
Tidak tampak bayangan lusen yang terproyeksi di daerah hepar.
Pada foto cross table/LLD/BNO tegak: free air (-), air fluid level (+)
banyak.

KESAN :
- Ileus obstruktif letak rendah.
- Tidak tampak pneumatosis intestinalis maupun portal venous gas.
- Tidak tampak pneumoperitoneum.



Ileus Paralitik pada Neonatus
Tampak bayangan udara di dalam usus berlebih dengan pola yang
menyerupai gambaran a bag of popcorn.
Tidak tampak bayangan lusen pada dinding usus.
Tidak tampak bayangan lusen yang terproyeksi di daerah hepar.
Pada foto cross table/LLD/BNO tegak: free air (-), air fluid level (+)
sedikit.

KESAN :
- Ileus paralitik.
- Tidak tampak pneumatosis intestinalis maupun portal venous gas.
- Tidak tampak pneumoperitoneum.









NEFROLITIASIS / URETEROLITIASIS / VESICOLITIASIS /
URETROLITIASIS
BNO
Preperitoneal fat jelas.
Psoas line jelas.
Kontur kedua ginjal jelas.
Distribusi udara colon dalam batas normal dengan fekal material di
dalamnya.
Distribusi udara usus halus dalam batas normal / Tampak distribusi udara
usus halus berlebih di abdomen kanan atas/atas/kiri
atas/kanan/tengah/kiri/kanan bawah/bawah/kiri bawah.
Tampak konkremen opak setinggi vertebra L . . .kanan/kiri
Masih tampak bayangan udara di rongga pelvis.

KESAN :
- Nefro/uretero/vesico/uretrolitiasis opak kanan/kiri/-.
- Ileus lokal di abdomen kanan atas/atas/kiri
atas/kanan/tengah/kiri/kanan bawah/bawah/kiri bawah.

ILEUS PARALITIK

BNO 3 POSISI
Preperitoneal fat jelas.
Psoas line jelas.
Tampak distribusi udara dalam usus halus dan kolon berlebih yang
disertai penebalan dinding.
Pada posisi tegak : air fluid level intraluminal (+) memanjang, air fluid
level ekstraluminal (-), free air subdiafragma (-).
Masih tampak bayangan udara di rongga pelvis.

KESAN :
- Ileus paralitik.

Jika ileus paralitik disebabkan perforasi hollow viscus maka

BNO 3 POSISI
Preperitoneal fat tidak jelas.
Psoas line tidak jelas.
Tampak distribusi udara dalam usus halus dan kolon berlebih yang
disertai penebalan dinding.
Pada posisi tegak : air fluid level intraluminal (+) memanjang, air fluid
level ekstraluminal (+), free air subdiafragma (+).
Masih tampak bayangan udara di rongga pelvis.

KESAN :
- Pneumoperitonium yang disertai ascites.
- Ileus paralitik.
Pneumoperitoneum pasca operasi biasanya menghilang pada hari ke 7
ILEUS OBSTRUKSI LETAK TINGGI
BNO 3 POSISI
Preperitoneal fat jelas.
Psoas line jelas.
Tampak distribusi udara dalam usus halus berlebih(diameter usus halus
>2,5cm) yang disertai penebalan dinding (>3mm). Gambaran valvula
conniventes terlihat jelas, coil spring (+), hering bone (+).
Tidak tampak / sedikit distribusi udara dalam colon
Pada posisi tegak: air fluid level intraluminal (+) pendek-pendek yang
memberikan gambaran step ladder. Free air subdiafragma (-).
Tidak tampak distribusi udara di rongga pelvis

KESAN :
Ileus obstruktif letak tinggi.

Penyebab
- Adhesions due to previous surgery
- Neoplastic (limfoma maligna)
- Strangulated hernias
- Volvulus
- Gallstone ileus
- Intussusception

Tanda-tanda yang dapat ditemukan pada ileus obstruksi:
- coil spring appearance
- stack of coins appearance
- herring bone appearance
- string of beads appearance
- step ladder appearance
- candy cane appearance

ILEUS OBSTRUKTIF LETAK RENDAH
BNO 3 POSISI
Preperitoneal fat jelas.
Psoas line jelas.
Tampak distribusi udara dalam kolon berlebih (diameter kolon>5,5cm,
diameter caecum>9cm) yang disertai penebalan dinding (>3mm).
Distribusi udara usus halus dalam batas normal (jika katup ileosekal
kompeten) Tampak distribusi udara dalam usus halus berlebih. (jika
katup ileosekal inkompeten)
Pada posisi tegak: air fluid level intraluminal (+), free air subdiafragma (-).
Tidak tampak distribusi udara di rongga pelvis

KESAN :
Ileus obstruktif letak rendah.

































The distinction between small- and large- bowel dilatation

Small bowel Large bowel
Valvulae conniventes Present in jejunum Absent
Number of loops Many Few
Distribution of loops Central Peripheral
Haustra Absent Present
Diameter 3-5cm 5cm+
Radius of curvature Small Large
Solid faeces Absent Present
1. Sutton D. Textbook of radiology and imaging. 2
nd
edition.London: Elsevier;2003.p.669-78.





Penyebab
- Neoplastic (benign & malignant)
- Volvulus (caecal & sigmoid)

Gambaran radiologi tergantung kompetensi valvula ileosekal.
Type IA : The ileocaecal valve is competent. Distended large bowel,
particularly ascending colon & caecum. No distention of small- bowel.
Type IB : Caecal distension & small-bowel distension.
Type II : The ileocaecal valve is incompetent, No distension of caecum &
ascending colon but distension of small-bowel

Tipe IA dan IB memiliki risiko ruptur sekum terutama jika diameter > 9cm.
Tipe II seringkali sulit dibedakan dengan ileus paralitik. Lihat gambaran
klinis. Foto LLD dapat membedakan ileus obstruksi letak rendah tipe II
dengan ileus paralitik. Ileus paralitik akan memperlihatkan gambaran udara
di rektum.




ASCITES
BNO 3 POSISI
Preperitoneal fat tidak jelas.
Psoas line tidak jelas.
Tampak bayangan udara usus halus dan kolon dalam batas normal yang
terdistribusi ke abdomen tengah.
Pada posisi tegak : air fluid level intraluminal (-), air fluid level
ekstraluminal (-), free air subdiafragma (-).
Masih tampak bayangan udara di rongga pelvis.

KESAN :
- Ascites.























NECROTIZING ENTEROCOLITIS (NEC)
BNO
Tampak bayangan udara di dalam usus tidak terdistribusi secara merata
dengan hilangnya pola mozaik.
Tidak tampak bayangan lusen pada dinding usus.
Tidak tampak bayangan lusen yang terproyeksi di daerah hepar.

KESAN :
- Ileus paralitik tanpa disertai pneumatosis intestinalis maupun
portal venous gas Menyokong suatu NEC grade I (Klasifikasi
Bell).


BNO 3 posisi
Tampak bayangan udara di dalam usus tidak terdistribusi secara merata
dengan hilangnya pola mozaik.
Pada 3 posisi tampak distribusi udara dalam usus bersifat persisten.
Tidak tampak bayangan lusen pada dinding usus.
Tidak tampak bayangan lusen yang terproyeksi di daerah hepar.
Pada posisi tegak : air fluid level intraluminal(+/-), air fluid level
ekstraluminal (-), free air subdiafragma (-).

KESAN :
- Ileus paralitik tanpa disertai pneumatosis intestinalis, portal
venous gas maupun pneumoperitoneum Menyokong suatu NEC
grade I (Klasifikasi Bell).










BNO
Tampak bayangan udara di dalam usus tidak terdistribusi secara merata
dengan hilangnya pola mozaik.
Tampak bayangan lusen pada dinding usus di daerah . . .
Tidak tampak bayangan lusen yang terproyeksi di daerah hepar.

KESAN :
- Ileus paralitik dengan pneumatosis intestinalis.
- Tidak tampak portal venous gas.
Menyokong suatu NEC grade II (Klasifikasi Bell).


BNO 3 posisi
Tampak bayangan udara di dalam usus tidak terdistribusi secara merata
dengan hilangnya pola mozaik.
Tampak bayangan lusen pada dinding usus di daerah . . .
Tidak tampak bayangan lusen yang terproyeksi di daerah hepar.
Pada posisi tegak : air fluid level intraluminal(+/-), air fluid level
ekstraluminal (-), free air subdiafragma (-).

KESAN :
- Ileus paralitik dengan pneumatosis intestinalis.
- Tidak tampak portal venous gas maupun pneumoperitoneum.
Menyokong suatu NEC grade II (Klasifikasi Bell).












BNO
Tampak bayangan udara di dalam usus tidak terdistribusi secara merata
dengan hilangnya pola mozaik.
Tampak bayangan lusen pada dinding usus di daerah . . .
Tampak bayangan lusen yang terproyeksi di daerah hepar.

KESAN :
- Ileus paralitik dengan pneumatosis intestinalis dan portal venous
gas, menyokong suatu NEC grade III (Klasifikasi Bell).


BNO 3 posisi
Tampak bayangan udara di dalam usus tidak terdistribusi secara merata
dengan hilangnya pola mozaik.
Tampak bayangan lusen pada dinding usus di daerah . . .
Tampak bayangan lusen yang terproyeksi di daerah hepar.
Pada posisi tegak : air fluid level intraluminal(+/-), air fluid level
ekstraluminal (-), free air subdiafragma (+).

KESAN :
- Ileus paralitik dengan pneumatosis intestinalis, portal venous gas,
dan pneumoperitoneum, menyokong suatu NEC grade III
(Klasifikasi Bell).













Malformasi anorektal (MAR) Knee chest position
Jarak udara dalam rektum paling distal ke marker yang diletakkan pada
anal dimple adalah . . . cm

KESAN :
Menyokong suatu malformasi anorektal letak tinggi / rendah.

Jarak >1cm : letak tinggi
Jarak <1cm : letak rendah

Dapat juga digunakan garis pubokoksigeal atau garis M
Gold standard dengan CT atau MRI untuk melihat langsung posisi rektum
terhadap puborectal sling.























Achondroplasia / hypochondroplasia / pseudochondroplasia
Schedel AP, lateral
Tabula eksterna, tabula interna dan diploe dalam batas normal.
Vascular dan convolutional marking dalam batas normal.
Sela tursica normal.
Sutura tidak melebar.
Tidak tampak kalsifikasi.
Tidak tampak garis-garis fraktur
Rasio cranium dengan basis tengkorak meningkat.
Tampak foramen magnum yang menyempit.
KESAN : Peningkatan rasio cranium dengan basis tengkorak yang
disertai penyempitan foramen magnum.
Spine
Hiperlordosis lumbalis dengan posisi sakrum relatif horisontal.
Alignment dalam batas normal.
Corpus vertebra lumbalis memberikan gambaran bullet appearance.
Pedikel tampak pendek.
Jarak interpedikel menyempit dengan jarak interpedikel dari L1-L5 yang
semakin mengecil.
Toraks
Costae tampak pendek.
Pelvis
Tampak os ilium pendek dengan spina ischiadica yang kecil.
Pelvic inlet memberikan gambaran champagne glass.
Femur
Tampak bagian proksimal os femur memberikan gambaran ice-cream
scoop.
Tampak bagian distal os femur memberikan gambaran ball and socket.

KESAN : Bone survey memberikan gambaran sesuai dengan
achondroplasia dan hypochondroplasia namun peningkatan rasio
kranium dengan basis tengkorak, maka lebih menyokong suatu
akondroplasia.


Gambaran radiologi achondroplasia
- Penyempitan canalis spinalis
- Basis kranium yang kecil dengan penyempitan foramen magnum
- Basilar impression
- Brachycephaly (short AP)
- Prominent frontal bone
- Impression of prognathism
- Shortening of all long bone (proximal portions being most affected) :
rhizomelia
- Ulna is shorter than the radius
- Tibia is shorter than the fibula
- Trident hand
- Ice cream scoop at the proximal femur
- Short ribs
- Square scapulae with shallow glenoid
- Small pelvis, short ilia (tombstone appearance)
- Small sciatic notches
- Horizontal acetabula
- Champagne glass appearance
- Decrease interpedicular space from L1 to L5
- Short pedicle.
- Bullet-nosed appearance of corpus vertebra
- Hyperlordosis of lumbal vertebra
- Horizontal sacrum
- Angular kyphosis at the thoracolumbar junction

Tipe Skeletal dysplasia
Rhizomelia : Shortening of the proximal limb relative to the distal limb
Example : achondroplasia
Mesomelia : Shortening of the middle limb
Acromelia : Shortening of the distal limb relative to the proximal limb
Micromelia : Shortening of both the proximal and distal limb




Diagnosis achondroplasia memerlukan kelainan tulang tengkorak (Rasio
kalvaria/kranium yang lebih besar dibandingkan dengan basis tengkorak.
Basis kranium yang mengecil juga dapat ditandai oleh foramen magnum
mengecil)

Hypochondroplasia menyerupai achondroplasia namun tidak disertai
kelainan pada tulang tengkorak.

Pseudoachondroplasia ditandai dengan pedikel yang normal dan corpus
vertebra yang memiliki anterior tongue. Kelainan ini juga tidak disertai
dengan kelainan pada tulang tengkorak.


Komplikasi achondroplasia akibat adanya kelainan tulang tengkorak
(tidak ditemukan pada hypochondroplasia atau
pseudoachondroplasia) :
- Hidrosefalus akibat foramen magnum yang kecil
- Kompresi medulla spinalis (sudden death, apnea)


























































































Cephalometry
SNA:
0

SNB:
0

ANB:
0

MMPA:
0

Mx:
0

Mn:
0

KESAN:
Neutroocclusion/Distoocclusion/Mesioocclusion
Dista/ mesial inclination
SNA = 813
0

SNB = 793
0

ANB = 32
0

MMPA 274
0

Mx = 1096
0

Mn = 936
0


(A), Normal occlusion; (B), Class I malocclusion; (C), Class II malocclusion; (D), Class III
malocclusion. Note the position of the mesial cusp of the maxillary molar relative to the mandibular
molar in each type of occlusion.
inclination
mesial, distal, lingual, buccal, atau labial.

BONE AGE

Menurut metode Greulich-Pyle, tulang-tulang pembentuk wrist joint
sesuai dengan umur . . .
Sela sendi dan permukaan sendi tampak normal.
Tidak tampak garis fraktur.

KESAN :
Bone age sesuai dengan umur . . .




Panoramik

Jumlah dan posisi dentis dalam batas normal.
Tidak tampak kelainan pada korona dentis.
Tidak tampak kelainan pada dental root.
Lamina dura dalam batas normal.
Tidak tampak kelainan di daerah periapikal.
Jaringan periodontal dalam batas normal.
Alveolar bone dalam batas normal.
Sinus maksilaris dan cavum nasi dalam batas normal.

KESAN :
Foto panoramik saat ini dalam batas normal.

1. Lihat usia pasien bandingkan dengan kondisi normal.
2. Lihat secara global
3. Dental
Jumlah
Tahap perkembangan
Posisi (impaksi)
Kondisi korona dentis
o Karies
o Tambalan
Kondisi dental root
o Panjang
o Filling
o Resorpsi
o Rasion korona dan root
4. Keadaan apeks/apikal
Integritas lamina dura
Opasitas atau lusensi di sekitar apeks (periapikal)
5. Jaringan periodontal
Lebar
Tinggi
Deposit kalkulus
6. Tulang (Alveolar bone)
7. Sinus maksila
8. Cavum nasi
9. Processus styloideus

Jika ada kelainan, deskripsikan:
Opasitas
Lokasi
Besar
Bentuk
Batas
Efek pada jaringan sekitar








































































































































































DRUG TRAFFICKING
Hati-hati gunakan bahasa yang diplomatis!

Preperitoneal fat jelas.
Psoas line jelas.
Kontur kedua ginjal jelas.
Distribusi udara colon dalam batas normal dengan fekal material di
dalamnya.
Distribusi udara usus halus dalam batas normal.
Tampak konkremen opak multipel di abdomen . . .
Masih tampak bayangan udara di rongga pelvis.

KESAN :
- Konkremen opak multipel di abdomen . . . ec DD/ - corpus alienum
- fekalith
- Tidak tampak tanda-tanda ileus.





















Tanda-tanda paket obat terlarang :
Multipel (18-150 buah, rata2 70 buah) dan berbentuk uniform
Berbentuk sferis atau silindris
Densitas lebih tinggi dibandingkan feses, walaupun dapat dimodifikasi
dengan pembungkus yang longgar sehingga densitas menurun.
Gambaran udara di dalam konkremen opak yang merupakan udara yang
terperangkap di dalam pembungkus.
Gambaran double condom sign dapat ditemukan jika digunakan dua lapis
kondom.
Gambaran konstipasi yang merupakan usaha untuk menyamarkan paket
obat terlarang oleh tumpukan feses. Konstipasi diinduksi secara sengaja
oleh obat seperti loperamide.
Perhatikan juga adanya tanda-tanda ileus obstruktif yang dapat menjadi
komplikasi dari adanya benda asing.
Paket ditemukan di usus halus (20%), kolon (40%), dan rektum (50%).
Strategi menghindar:
o tersangka bergerak saat difoto agar foto buram.
o menggunakan celana dalam yang berornamen metal.
o penggunaan barang2 metal (ada kepercayaan yang salah bahwa
benda metal akan mengganggu pemeriksaan radiologi padahal hal
tersebut akan membantu radiolog dalam menemukan barang bukti)
o memasukan pasir dan udara dalam lapisan pembungkus agar
memberikan gambaran yang menyerupai feses

















































































































































Strategi memasukan pasir dan udara dalam paket obat terlarang agar menyerupai feses
































Sacroiliac joint space Normal 2-4mm

Fisura minor terlihat pada - Toraks PA (sebagian fisura pada 50-60%, seluruh fisura pada 7%)
- Toraks lateral (sebagian fisura pada 44%, seluruh fisura pada 6%)
Fisura mayor jarang terlihat pada Toraks PA, pada toraks lateral, fisura kanan (22%), fisura kiri
(14%), tidak dapat ditentukan kanan atau kiri (62%).

Anda mungkin juga menyukai