Anda di halaman 1dari 148

iii

ii
SALAM REDAKSI

Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahi Robbil Alamiin, puji syukur kehadirat Allah SWT,
kali ini Jurnah Ilmiah MADANIYAH STIT Pemalang dapat hadir
kembali di hadapan sidang Pembaca.
Setelah banyak melalui kendala, terutama bagaimana redaksi
bersusah payah berburu artikel untuk penerbitan kali ini. Akhirnya
dengan segala keterbatasannya, jurnal Ilmiah MADANIYAH edisi
Januari 2012 dapat terbit.
Penerbitan Jurnal Ilmiah MADANIYAH STIT periode ini
merupakan akumulasi dari berbagai perenungan akan suatu kebutuhan
terbitnya sebuah Jurnal yang mampu mewadahi berbagai pemikiran
bukan hanya sebatas pendidikan Islam melainkan juga aspek lain yang
punya pengaruh dalam kehidupan bermasyarakat menuju terbentuknya
suatu karakter manusia yang seutuhnya.
Kajian jurnal ilmiah MADANIYAH akan mengangkat masalah
dan isue strategis yang dibingkai dengan tema tentang bagaimana peran
pendidikan Islam, Seni dan Sosial Budaya melalui pemikiran dan sudut
pandang dari berbagai disiplin ilmu sehingga menghasilkan ketuntasan
jawaban setiap permasalahan yang muncul.
Kami sampaikan terimakasih kepada Editor dan Konsultan Redaksi
yang telah bersusah payah melakukan telaah atas berbagai tulisan yang
masuk, rasa terimakasih juga kami sampaikan kepada para penulis yang
merelakan waktunya dan menyumbangkan karyanya kepada kami.
Semoga Jurnal Ilmiah STIT Pemalang ke depan mampu mewadahi
dengan adanya wacana penulisan karya ilmiah bagi mahasiswa yang
hendak menyelesaikan studinya di penghujung tahun ini. Akhirnya kami
berharap kritik dan saran guna perbaikan penerbitan-penerbitan yang
akan datang.

Wassalamualaikum Wr.Wb.
Pemalang, Januari 2012

Redaksi


ii
1

Laporan Hasil Penelitian
EKSISTENSI ISLAM DAN ALIRAN KEPERCAYAAN
MASYARAKAT DIENG
Oleh : Bani Sudardi
1


ABSTRAK
Penelitian ini mencoba mendeskripsikan tentang kedudukan Islam dan
aliran kepercayaan masyarakat Dieng yang terletak di Dataran Tinggi Dieng
yang secara administratif masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan
Wonosobo, Jawa Tengah. Pengertian aliran kepercayaan dalam penelitian ini
cukup longgar yang mencakup semua aspek kepercayaan, ritual, dan tradisi-
tradisi sehingga beberapa kegiatan yang tidak secara eksplisit menyatakan
sebagai aliran kepercayaan kami rangkum sebagai aliran kepercayaan.
Dieng sebagai pusat kegiatan spiritual paling tidak sudah berlangsung
sejak abad ke7-8. Di dalam prasasti tembaga Jawa Tengah dari tahun 800
Saka, nama Dieng disebut sebagai Dihyang. Di dalam prasasti itu juga
disebutkan suatu tempat yang bernama Kailasa Jawa (tempat bermukim
Dewa Siwa). Kailasa Jawa ini tidak lain adalah sebutan Dieng di masa itu
yang berupa candi Siwa (Poerbatjaraka, 1956:97). Candi tersebut sebagai
mandala kegiatan spiritual Hindu.
Di dalam masyarakat yang 98% memeluk Islam, ternyata secara
substansial mereka tidaklah Islam dalam arti sepenuhnya. Tradisi dan riatul
mereka masih bercampur dengan aliran kepercayaan. Islam dan aliran
kepercayaan membentuk suatu harmoni dalam ajaran-ajaran dan olah ritual
mereka. Penelitian ini menemukan bahwa aliran kepercayaan di Dieng sangat
menjunjung ajaran Islam dengan meletakan penghayatan spiritual puncak
dalam tataran wali agung. Hal ini juga dimunculkan dengan adanya leluhur
bernama Embah Salingsing Walisolah. Aliran kepercayaan di Dieng juga
mengakui bahwa saat ini adalah zaman Islam dengan dianggapnya Dieng
sebagai masa terajhir masa dewa (napak tilas pungkasane zaman kadewan).
Artinya, Dieng merupakan garis terakhir berlangsungnya zaman para dewa di
Pulau Jawa.
Keyword: Aliran Kepercayaan, Islam, Ritual

1
. Bani Sudardi , Prof. Dr. adalah Guru Besar Universitas Sebelas Maret (UNS)
Surakarta pada Prodi Kajian Budaya

2

A. Latar Belakang
Dieng adalah adalah dataran tinggi di Jawa Tengah yang selama ini
dikenal sebagai tujuan wisata utama kedua di Jawa Tengah setelah
Borobudur. Di samping sebagai tempat tujuan wisata, Dieng ternyata juga
menjadi pusat kegiatan ritual berbagai kelompok aliran kepercayaan sehingga
bagi penghayat aliran kepercayaan, Dieng dapat disebut mecca of Java.
Sampai saat ini aliran kepercayaan di Dieng masih berkembang secara
dinamis. Bukti kontemporer menunjukkan bahwa Dieng juga dianggap
sebagai tempat suci baru bagi aliran kepercayaan Kaki Tunggul Sabdo Jati
yang memuja sesepuh Nusantara yang disebut Semar. Dieng dianggap
sebagai tempat tinggal leluhur mistis Semar. Dieng kemudian disebut
Pertapan Mandolo Sari. Peresmian tempat suci tersebut dilaksanakan pada 7
April 2000. Penelitian ini berusaha mengungkap eksistensi aliran
kepercayaan masyarakat Dieng dan Islam yang bisa hidup berdampingan
secara harmonis dan saling melengkapi serta berfungsi untuk menjaga
keseimbangan pada saat terjadi ketidakseimbangan sosial (social disorder).
Aliran kepercayaan muncul sebagai alternatif solusi keresahan di masyarakat.
Konsep harmoni tersebut ternyata mempunyai fungsi di dalam pengendalian
sosial masyarakat dalam menghadapi konflik-konflik internal dan eksternal.
Kemudian maksud aliran kepercayaan masyarakat Dieng dalam penelitian ini
ialah aliran kepercayaan yang menjadikan Dieng sebagai pusat kegiatan
ritualnya. Aliran ini terbagi dua, yaitu yang berada di Dieng, misalnya aliran
Kaki Tunggul Sabdojati Doyo Amongrogo dan yang berada luar wilayah
Dieng, khususnya wilayah Wonosobo, misalnya Padepokan Ki Tunggul Sela
di Selomerto, Wonosobo.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pemahaman masyarakat Dieng Jawa Tengah tentang ajaran
islam ?
2. Bagaimana pemahaman masyarakat Dieng Jawa Tengah tentang aliran
kepercayaan dan implementasi ajaran Islam?
C. Tujuan Penelitian
Adapun rumusan masalah adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui bagaimana pemahaman masyarakat Dieng Jawa
Tengah tentang ajaran islam ?
3

3
2. Untuk mengetahui bagaimana pemahaman masyarakat Dieng Jawa
Tengah tentang aliran kepercayaan dan implementasi ajaran Islam?
D. Kajian Teori
Pembicaraan mengenai aliran kepercayaan dapat dikategorikan
sebagai kajian dari agama-agama primitif atau sistem religi karena di dalam
aliran kepercayaan terkandung unsur-unsur asli kebudayaan setempat.
2

Sistem religi termasuk salah satu unsur kebudayaan universal yang berarti
hampir selalu ada pada semua kebudayaan suatu bangsa
3
.
Religi terdiri dari 4 unsur pokok, yaitu: (1) emosi keagamaan (2)
sistem kepercayaan (3) sistem upacara keagamaan (4) kesatuan sosial yang
mengkonsepsi dan mengaktifkan religi beserta sistem upacaranya
4
. Ernst
Cassirer berpandangan bahwa mitos dan religi adalah fakta kebudayaan yang
paling sulit dikaji. Religi sarat dengan berbagai antinomi teoretis dan
kontradiksi etis. Religi menjanjikan kepada kita hubungan erat dengan alam,
sesama, dengan daya-daya adiduniawi dan bahkan dengan yang ilahi sendiri
5
.
Pandangan ini dapat diterapkan pada sistem aliran kepercayaan di Dieng.
Observasi sementara meperlihatkan bahwa di dalam sistem aliran
kepercayaan Dieng terdapat fenomena yang kontradiktif, tetapi selalu dalam
harmoni. Fenomena tersebut tampak pada pelaksanaan ruwatan pencukuran
rambut gembel yang dilakukan di masjid atau mushola, rasulan
6
yang
dilaksanakan dengan ritual mistis dan sesajian, pencampuran antara konsep
islam (basmalah, syahadat) dengan konsep animisme dan dinamisme
(danyang, sing baureksa, dan sebagainya).

2
Di Indonesia agama dan aliran kepercayaan dibedakan. Agama di bawah pengawasan
Departemen Agama sedangkan aliran kepercayaan di bawah pengawasan Dinas Kebudayaan
dan Kejaksaan. Penganut aliran kepercayaan tetap diwajibkan memilih salah satu dari lima
agama yang diakui di Indonesia (Islam. Kristen, Katolik, Hindu, dan Budhha). Badan ini
disebut Pengawas Kepercayaan Masyarakat (PAKEM) (Romdon, 1996:116
3
Koentjaraningrat. 1983. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru hal. 339
4
Koentjaraningrat. 1981. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian Rakyat
hal. 228
5
Cassirer, Ernst. 1990. An Essay on Man (Manusia dan Kebudayaan: Sebuah esei
tentang Manusia. Terjemahan A. Nugroho. Jakarta: Gramedia. hal.110
6
Rasulan dari kata rasul yang dapat diartikan kegiatan menghormati nabi Muhammad.
Namun, di Dieng kegaiatan ini berati memasang sesaji untuk singbaureksa tempat-tempat
mistis, hal mana merupakan pelanggaran tuntunan Nabi Muhammad.

4

4
Pendekatan religi, pada awalnya menjadi polemik di antara dua kutub
pendekatan (psikologi dan sosiologi). Kedua pendekatan tersebut berhasil
dipadukan oleh Pritchard dalam bukunya berjudul Theories of Primitive
Religions (1984). Pendekatan sistem religi Pritchard berpijak pada tiga hal
pokok yaitu struktur manusia, jiwa, dan sistem sosial. Agama suatu
masyarakat selalu berkaitan dengan ketiga hal tersebut.
Menurut Pritchard, asal usul agama primitif lebih relevan dipandang
dari kacamata antropologi..Ajaran agama selalu muncul bagi struktur
manusia secara psikologis maupun sosiologis. Dengan dalil ini, maka
pendekatan sistem religi menemukan desain baru dengan cara pandang yang
lebih luas
7
.
Tentang pendekatan terhadap ritual dalam aliran kepercayaan dalam
masyarakat Dieng akan digunakan model yang dikembangkan oleh Mircea
Eliade. Menurut konsep Mircea Eliade, manusia memiliki konsep tentang
ruang yang chaos (tidak teratur) untuk menjadi ruang kosmos (teratur)
dengan suatu ritus. Tatanan religi tersebut meliputi ruang, waktu, ritus,
simbol, dan sejarah
8
. Yang dimaksud ruang bahwa dalam kepercayaan setiap
tempat tidaklah sama dengan yang lain. Ruang terbagi menjadi ruang kudus
dan ruang tidak kudus. Ruang kudus adalah ruang yang berhubungan dengan
ilahiah, tempat ilahi muncul dan berkomunikasi (peristiwa hierofani)
9
.
Waktu berhubungan juga dengan ritual. Dalam setiap religi, unsur
waktu memegang hal penting. Waktu dibagi menajdi waktu priofan dan
waktu kudus. waktu kudus ialah waktu para dewa yang merupakan origo
(asal-usul) segala sesuatu dari masa lalu (in illo tempore).Untuk dapat
memasuki waktu kudus, maka diperlukan ritus. Di dalam ritus, manusia
mengatasi manusiawinya memasuki alam kudus. Untuk memasuki waktu
kudus diperlukan sarana yang berupa simbol-simbol. Karena itu, salah satu
unsur ritus adalah simbol-simbol. Bagi kebudayaan tahap arkais, yang nyata
(simbol) itu ekuivalen dengan Yang Kudus (yang disimbolkan). Ritus-ritus

7
Pritchard, Evans. 1984. Theories of Primitive Religions (Teori-teori tentang Agama
Primitif). Terjemahan Ludjito. Yogyakarta:PLP2M. hal. 1984:1
8
Susanto, Budi. 1987. Mitos Menurut Pemikiran Mircea Eliade. Yogyakarta: Kanisius
hal. 42-64
9
Susanto, Budi. 1987. Mitos Menurut Pemikiran Mircea Eliade. Yogyakarta: Kanisius
hal. 50
5

5
sebernarnya juga berdasar pada konsep historis, bahwa kehidupan saat ini
adalah rentetan dari sejarah kudus
10
.

E. Hasil Penelitian
1. Pemahaman Masyarakat Dieng Tentang Ajaran Islam
Kondisi masyarakat 98% penduduk Dieng beragama Islam, namun
Dataran Tinggi Dieng ternyata juga menjadi salah satu kiblat bagi penghayat
aliran kepercayaan di nusantara. Ritual-ritual rutin para penghayat
kepercayaan dari berbagai tempat di nusantara seringkali dilakukan. Di antara
ritual-ritual tersebut, antara lain: (1) Muspe mabakti yang dilakukan oleh
penganut Hindu Darma, Bali, khususnya dari kasta brahmana
11
. (2) Olah
anuraga yang dilakukan oleh suatu tarikat dari Bangkalan, Madura untuk
menguji kadigjayaan pengikutnya (ujian puncak penghayatan ilmu) dengan
mandi di sumber air panas Kawah Candradimuka. (3) Ritual Malem Satu
Sura di Sumur Jalatunda yang dilakukan oleh penghayat aliran kepercayaan
yang menganggap air tersebut air tuah bagi kesuksesan hidup. (4) Napak
tilas Kyai Lurah Semar yang dilakukan oleh Aliran Kepercayaan Sapta
Darma karena Kyai Lurah Semar termasuk simbol religius aliran tersebut
12
.
(5) Dieng juga dianggap sebagai tempat suci aliran kepercayaan Kaki
Tunggul Sabdo Jati yang memuja sesepuh Nusantara yang disebut Semar.
Dieng dianggap sebagai tempat tinggal leluhur mistis Semar. Dieng
kemudian disebut Pertapan Mandolo Sari. Peresmian tempat tersebut
dilaksanakan pada 7 April 2000. Para penghayat aliran kepercayaan tersebut
menyusun konsep leluhur mistis yang mendiami Dieng
13
. Setiap tahunnnya
pengikut aliran kepercayaan tersebut dari berbagai penjuru nusantara
berkumpul untuk melakukan olah batin memahami sangkan paraning
dumadi.
Dewasa ini, di Dieng juga berkembang aliran kepercayaan. Data dari
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Wonosobo 2005 menyebutkan bahwa di
Wonosobo berkembang 58 aliran kepercayaan dan kesemua aliran tersebut

10
Susanto, Budi. 1987. Mitos Menurut Pemikiran Mircea Eliade. Yogyakarta:
Kanisius. hal. 63-65
11
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo .2005. Pesona Wisata dan
Budaya Wonosobo Leaflet. hal. 3
12
Mul yono, Sri . 1978. Apa Si apa Semar. Jakart a: Gramedi a. hal . 37
13
Sukatno, Otto. 2004. Dieng Poros Dunia. Yogyakata: IRCISOD. hal. 197-198
6

6
menganggap Dieng sebagai kiblat spiritual. Secara mistis, mereka mengaku
sebagai penerus leluhur mistis mereka yang bernama Ki Kala Dete yang
mendiami Dieng, khususnya sekitar Kawah Sikidang (Dinas Pariwisata dan
Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, 2005). Jadi, selain kaya akan objek
wisata, Dieng juga menyimpan local wisdom dalam aliran-aliran
kepercayaan.
Hal di atas berkaitan dengan sejarah lokal Kabupaten Wonosobo.
Menurut Sejarah Wonosobo (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, 2004:1),
kota Wonosoboo diperkirakan terbentuk pada tahun 1600-an dengan
datangnya tiga orang yang bernama Ki Kaladete, Ki Walik, dan Ki Karim.
Mereka datang bersama keluargannya lalu membabat alas. Karena alas wana,
Jawa) sudah dimasuki (disaba, Jawa), maka tempat itu dinamakan
Wonosobo.
Mereka berbagi kekuasaan. Ki Karim sebagai penguasa kota, Ki Walik
sebagai perancang perkembangan kota, sementara Ki Kaladete memilih
menyepi di Dieng (sekitar Kawah Sikidang) sebagai spiritualis. Ki Kaladete
melakukan tapa brata tidak memotong rambutnya sehingga menjadi gembel.
Karena itu, anak-anak Dieng yang berambut gembel dinyatakan sebagai
keturunan Ki Kaladete.
Dieng sebagai pusat kegiatan spiritual paling tidak sudah berlangsung
sejak abad ke7-8. Di dalam prasasti tembaga Jawa Tengah dari tahun 800
Saka, nama Dieng disebut sebagai Dihyang. Di dalam prasasti itu juga
disebutkan suatu tempat yang bernama Kailasa Jawa (tempat bermukim
Dewa Siwa). Kailasa Jawa ini tidak lain adalah sebutan Dieng di masa itu
yang berupa candi Siwa
14
. Candi tersebut sebagai mandala kegiatan spiritual
Hindu. Kemudian kearifan lokal tersebut ternyata justru dapat meredam
konflik internal di masyarakat. Ketika terjadi gejolak reformasi, maka Dieng
terkena imbasnya. Dengan dalih reformasi, terjadi suatu pengurasan habis-
habislan lahan pemerintah yang berupa hutan-hutan lindung dan peninggalan
purbakala. Penjarahan tersebut sampai pada titik yang sangat
mengkhawatirkan karena gunung-gunung di Dieng digunduli habis-habisan.

14
Poerbatjaraka. 1956. Criwijaya, de Cailendra en de Sanjayavamca dalam
Bijdragen van Het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde. 114. (Merupakan
polemik dengan Bosch), hal. 97.
7

7
Puncak peristiwa itu terjadi tahun 2001 ketika hanya tersisa satu petak (petak
27) di Dieng yang tidak dijarah
15
.
Gejolak tersebut menjadi reda berkat berbagai pendekatan. Salah satu
pendekatan yang yang efektif ialah melalui himbauan para sesepuh Dieng
melalui berbagai acara ritual ruwat. Tatanan spiritual tersebut juga
dikembangkan lokasi geografisnya, di antaranya melalui identifikasi spiritual
Dieng ke Gunung Lawu yang diceritakan bahwa ziarah ke Gunung Lawu
termasuk hal yang dapat menjernihkan jiwa melalui penghayatan spiritual
16
.
Uraian menarik bahwa di Dieng konsep aliran kepercayaan yang ada selalu
menekankan konsep harmoni dengan lingkungan seperti agama Islam,
pemerintah, dan masyarakat. Sebagai misal, agar tidak terjadi konflik dengan
dengan agama Islam, maka puncak penghayatan spiritual disebut tataran
santri agung
17
. Kondisi ini sesuai dengan sifat dialektik budaya Jawa yang
dapat momot hal-hal yang kontradiktif
18
. Karena itu, konsep harmoni aliran
kepercayaan Dieng tersebut perlu diungkap.
Di Dieng hal tersebut tampak dalam Aliran Hastha Brata yang
menggariskan 8 jalan jalan hidup yang harmonis, yaitu: (1) Urip kudu biso
hayom hangayomi. (2) Urip kudu Biso Hayem Hangayemi. (3) Urip Kudu
Biso Mong Kinemong. (4) Urip Kudu Biso hamot momot. (5) Urip Kudu Biso
Hamengku Winengku. (6) Urip Kudu Biso Hayu Memayu Hayu. (7) Urip
Kudu Biso Hasah Hasih Hasuh. (8) Urip Kudu Biso Hangkat Hamemangkat
19
.
Adanya konsep-konsep harmoni tersebut, maka penganut aliran
kepercayaan di Dieng tidak terjadi konflik internal, bahkan terjadi sinergis
yang positif. Penganut aliran kepercayaan tetap diterima di lingkungan agama
Islam (mayoritas penduduk Dieng), bahkan juga berperan dalam ritual-ritual
Islami khas Jawa, seperti kenduri, selamatan, sunatan, dan sebagainya.

15
Arif, Ahmad S. 2006. Penguatan Klaster Pariwisata Dieng. Dieng: Yayasan
Kembang Emas, hal. 3
16
Loekito, H.D. 2003. Tuntunan Lakune Wong Urip: Kaki Tunggul Sabdo Jati Doyo
Among Rogo. Wonosobo: Himpunan Penganut Kepercayaan (HPK)., hal. 34.
17
Loekito, H.D. 2003. Tuntunan Lakune Wong Urip: Kaki Tunggul Sabdo Jati Doyo
Among Rogo. Wonosobo: Himpunan Penganut Kepercayaan (HPK).
18
Pracoyo. 2002. Semar: Simbol Proses Dialektika Budaya Jawa dalam SENI: Jurnal
Pengetahuan dan Penciptaan Seni, ISI Yogya., hal. 107
19
Ajaran Hastha Brata. 2003. Paranporo HPK. Wonosobo (naskah ketikan tangan)
8

8
Di Indonesia, pengertian aliran kepercayaan ini bermacam-macam
seperti aliran kebatinan, penghayat kepercayaan kepada Tuhan Yang
Mahaesa, khusus di Jawa sering disebut kejawen. Perwujudan aliran
kepercayaan ini sangat variatif. Aliran kepercayaan dapat perseorangan dapat
pula merupakan kelompok yang terorganisir rapi. Aliran kepercayaand apat
bersifat lokal, tetapi dapat juga menyebar ke berbagai wilayah
20
.
Untuk mengklasifikasi aliran kepercayaan memang sulit, tetapi dapat
dideskripsikan berdasarkan sifat-sifat umum berdasarkan karakternya yang
menonjol. Adapun sifat-sifat umum aliran kepercayaan adalah sebagai
berikut: (1) Aliran kepercayaan pada umumnya bersifat panteistik dengan
menggambarkan persamaan hakikat antara ruh manusia dengan Tuhan. (2)
Aliran kepercayaan memiliki kecenderungan animistis. Mereka percaya
kepada ruh nenek moyang yang dapat memberikan pertolongan, meskipunm
ereka juga mengaku percayakepada Tuhan YME. (3) Aliran kepercayaan
menekankan aspek kekinian dan keduniaan disertai konsep ketuhahan dan
eskatologis yang tidak jelas
21
.
Pembicaraan mengenai aliran kepercayaan dapat dikategorikan sebagai
kajian dari agama-agama primitif atau sistem religi karena di dalam aliran
kepercayaan terkandung unsur-unsur asli kebudayaan setempat. Sistem religi
termasuk salah satu unsur kebudayaan universal yang berarti hampir selalu
ada pada semua kebudayaan suatu bangsa (Koentjaraningrat, 1983: 339).
Religi terdiri dari 4 unsur pokok, yaitu: (a) emosi keagamaan (b) sistem
kepercayaan (c)) sistem upacara keagamaan (d) kesatuan sosial yang
mengkonsepsi dan mengaktifkan religi beserta sistem upacaranya
22
.
Ernst Cassirer berpandangan bahwa mitos dan religi adalah fakta
kebudayaan yang paling sulit dikaji. Religi sarat dengan berbagai antinomi
teoretis dan kontradiksi etis. Religi menjanjikan kepada kita hubungan erat
dengan alam, sesama, dengan daya-daya adiduniawi dan bahkan dengan yang
ilahi sendiri
23
. Pandangan ini dapat diterapkan pada sistem aliran

20
Romdon. 1996. Ajaran Ontologi Aliran Kebatinan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.,
hal 117
21
Romdon. 1996. Ajaran Ontologi Aliran Kebatinan. Jakarta: Raja Grafindo Persada
hal. 18-20
22
Koentjaraningrat. 1981. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian Rakyat.
Hal . 228
23
Cassirer, Ernst. 1990. An Essay on Man (Manusia dan Kebudayaan: Sebuah esei
tentang Manusia. Terjemahan A. Nugroho. Jakarta: Gramedia. Hal. 110
9

9
kepercayaan di Dieng. Observasi sementara meperlihatkan bahwa di dalam
sistem aliran kepercayaan Dieng terdapat fenomena yang kontradiktif, tetapi
selalu dalam harmoni. Fenomena tersebut tampak pada pelaksanaan ruwatan
pencukuran rambut gembel yang dilakukan di masjid/ mushola, rasulan yang
dilaksanakan dengan ritual mistis dan sesajian, pencampuran antara konsep
islam (basmalah, syahadat) dengan konsep animisme dan dinamisme
(danyang, sing baureksa, dan sebagainya).
Pendekatan religi, pada awalnya menjadi polemik di antara dua kutub
pendekatan (psikologi dan sosiologi). Kedua pendekatan tersebut berhasil
dipadukan oleh Pritchard dalam bukunya berjudul Theories of Primitive
Religions (1984). Pendekatan sistem religi Pritchard berpijak pada tiga hal
pokok yaitu struktur manusia, jiwa, dan sistem sosial. Agama suatu
masyarakat selalu berkaitan dengan ketiga hal tersebut.
Menurut Pritchard, asal usul agama primitif lebih relevan dipandang
dari kacamata antropologi..Ajaran agama selalu muncul bagi struktur
manusia secara psikologis maupun sosiologis. Dengan dalil ini, maka
pendekatan sistem religi menemukan desain baru dengan cara pandang yang
lebih luas
24
.
Tentang pendekatan terhadap ritual dalam aliran kepercayaan dalam
masyarakat Dieng akan digunakan model yang dikembangkan oleh Mircea
Eliade. Menurut konsep Mircea Eliade, manusia memiliki konsep tentang
ruang yang chaos (tidak teratur) untuk menjadi ruang kosmos (teratur)
dengan suatu ritus. Tatanan religi tersebut meliputi ruang, waktu, ritus,
simbol, dan sejarah
25
. Makna ruang bahwa dalam kepercayaan setiap tempat
tidaklah sama dengan yang lain. Ruang terbagi menjadi ruang kudus dan
ruang tidak kudus. Ruang kudus adalah ruang yang berhubungan dengan
ilahiah, tempat ilahi muncul dan berkomunikasi (peristiwa hierofani)
26
.
berhubungan juga dengan ritual. Dalam setiap religi, unsur waktu
memegang hal penting. Waktu dibagi menajdi waktu priofan dan waktu
kudus. waktu kudus ialah waktu para dewa yang merupakan origo (asal-

24
Pritchard, Evans. 1984. Theories of Primitive Religions (Teori-teori tentang Agama
Primitif). Terjemahan Ludjito. Yogyakarta:PLP2M. hal. 1984:1
25
Susanto, Budi. 1987. Mitos Menurut Pemikiran Mircea Eliade. Yogyakarta: Kanisius
hal 42-64
26
Susanto, Budi. 1987. Mitos Menurut Pemikiran Mircea Eliade. Yogyakarta: Kanisius
hal 50
10

10
usul) segala sesuatu dari masa lalu (in illo tempore).Untuk dapat memasuki
waktu kudus, maka diperlukan ritus. Di dalam ritus, manusia mengatasi
manusiawinya memasuki alam kudus. Untuk memasuki waktu kudus
diperlukan sarana yang berupa simbol-simbol.Karena itu, salah satu unsur
ritus adalah simbol-simbol. Bagi kebudayaan tahap arkais, yang nyata
(simbol) itu ekuivalen dengan Yang Kudus (yang disimbolkan). Ritus-ritus
sebernarnya juga berdasar pada konsep historis, bahwa kehidupan saat ini
adalah rentetan dari sejarah kudus
27
.
Sejak awal, orang Barat telah tertarik pada kajian tentang sistem religi
Jawa. Kajian tentang sitem religi Jawa berdasarkan serat-serat suluk dirintis
oleh Zoetmulder dalam disertasinya berjudul Pantheisme en Monisme
(Zoetmulder, 1935). Karya ini bersumber pada teks-teks tertulis dan berusaha
mendudukan konsep ajaran kebatinan Jawa melalui kacamata tasauf. dengan
pendekatan etnografik telah dirintis oleh Clifford Geertz lewat penelitiannya
di Mojokutho, Kediri yang tertuang dalam bukunya berjudul The Religion of
Java. Kajian ini membahas kepercayaan Jawa secara khusus di wilayah
Kediri. Penelitian etnografis khusus tentang tradisi pesantren dilakukan oleh
Dhofier (1994) yang meneliti tentang pandangan hidup kyai, elemen
pesantren, hubungan intelektual dan kekerabatan kyai, serta kedudukan kyai
dalam tarekat.
Kajian tentang aliran kebatinan Jawa pernah dilakukan oleh Romdon
(1996) yang mengkhususkan pengkajian mengenai kedudukan Tuhan dan
manusia (ontologi). Kajian ini berlandaskan pada naskah-naskah klasik, yaitu
Serat Dewaruci, Suluk Gatoloco, Suluk Darmogandhul, Wirid Hidayat Jati,
dan Suluk Seh Siti Jenar.
Kajian tentang sistem religi masyarakat Dieng, khususnya yang
tergabung dalam aliran kepercayaan sepanjang pengetahuan kami belum
banyak dilakukan orang. Sukatno (2004) pernah menyinggung aliran
kepercayaan Dieng yang bernama Kaki Tunggul Sabdojati Doyo
Amongrogo. Ia membuat silsilah mistis aliran tersebut yang berasal dari
Semar, Jayabaya, Harihara, Herucokro yang menjadi figur of identification
kaum spiritualis Jawa. Mengenai konsep harmoni dalam aliran kepercayaan
tersebut belum diungkap. Sistem religi Jawa, khususnya yang berkaitan
dengan penyembelihan bekakak (korban manusia) pernah diteliti oleh Bani

27
Susanto, Budi. 1987. Mitos Menurut Pemikiran Mircea Eliade. Yogyakarta: Kanisius
hal 63-65
11

11
Sudardi (2006) yang membahasa tentang aspek ritual, simbolis, dan historis
ritual tersebut. Namun, konsep harmoni yang mendasari ritual juga belum
dibahas.
Dalam kaitan dengan pariwisata khusus, Diyah Bekti Ernawati dan
Bani Sudardi (2006) pernah membahas tentang kemugkinan pengemangan
pariwisata Dieng melalui pariwisata minat khusus pada objek-objek yang
dianggap sakral. Dibanding penelitian terdahulu, posisi penelitian ini ialah
berusaha mengungkapkan secara mendalam kekhasan sistem religi aliran
kepercayaan masyarakat Dieng dan menggali nilai-nilai harmoni yang ada di
dalammnya.

2. Eksistensi Islam dan Aliran Kepercayaan di Dieng
a. Ritual Ki Tunggul Sela
Salah satu bentuk eksistensi aliran kepercayaan adalah adanya
ritual-ritual-ritual yang di dalam ritual tersebut tampak adanya
sinkretisme. Aliran ini berada 35 kilometer dari Dieng, di Kecamatan
Selamerta. Unsur sinkretisme dapat dilihat dalam deskripsi tentang ritual
ruwatan di Kawah Candradimuka yang dipimpin Ki Tunggul Sela. Para
penganut ajaran Ki Tunggul Sela setiap tanggal 1 Sura mendatangangi
rumah Ki Tunggul Sela untuk melakukan ruwatan.
Meskipun Islam tidak mengenal ruwatan, ritual Ki Tunggul Seta
ini dikemas dalam suasana Islami. Di samping dimulai dengan pengajian
dan bacaan Alquran, penganut aliran ini juga berpakaian seperti pakaian
ihram pada waktu haji dengan kain putih. Namun Ki Tunggul Sela
sendiri berpakaian adat Jawa dengan aneka sesaji serta doa-doa Jawa
yang dikaitkan dengan doa-doa kepada nenek moyang serta diwarnai
adegan-adegan mistis dan puncaknya mandi air panas dari Kawah
Candradimuka tanpa terluka sedikit pun.



b. Ritual Ki Tunggul Sabdo Jati
Salah satu aliran kepercayaan yang menonjol yang bernama Aliran
Ki Tunggul Sabdojati Doyo Amongrogo juga sering melakukan ritual
ketika bulan Sura. Aliran ini berpusat di Dieng dengan tokoh Rusmanto
sebagai sesepuh aliran ini. Ajaran aliran ini adalah ajaran harmoni
12

dengan alam gaib, alam nyata, roh leluhur, serta menjaga hubungan baik
dengan siapa pun (agama lain, pemerintah, sesama).
Bulan Sura sebenarnya bulan Islam, karena itu aliran ini
sebenarnya juga mengakui eksistensi Islam. Di dalam doa-doa sesaji,
aliran ini juga menggunakan simbol-simbol Islam seperti bacaan
bismillah dan syahadat. Mereka jga menyebut Allah sebagai tempat
meminta, sekaligus serng juga nyenyuwun kepada nenek moyang untuk
melindungi dan mengabulkan permohonannya.
c. Ritual Rambut Gembel
Ritual yang paling umum dikenal di Dieng adalah ritual
pemotongan rambut gembel. Ritual ini adalah salah satu bentuk
aktualisasi tentang kepercayaan masyarakat Dieng terhadap kekuatan
gaib. Tradisi ritual ini mampu menembus batas-batas kepercayaan
karena hampir semua golongan masyarakat di Dieng melaksanakan ritual
ini.
Ritual ruwat rambut gembel adalah salah satu bentuk ruwatan yang
khas Dieng. Ruwatan sendiri sebenarnya suatu ritual khas Jawa, tetapi di
beberapa tempat terdapat perbedaan-perbedaan. Tujuan utama ruwatan
adalah membebaskan manusia dari kutukan buruk yang dideritanya.
Ruwatan rambut gembel di Dieng dilakukan pada anak-anal di
Dieng yang memiliki rambut gembel. Rambut ini muncul pada anak-
anak balita. Tidak semua anak berambut gembel. Rambut gembel
muncul pada anak tertentu yang didahului dengan panas yang tingi
selama berhari-hari. Setelah panas reda, maka muncul bintik merah yang
kemudian tumbuh rambut gembel. Anak-anak berambut gembel ini
dianggap sebagai anak istimewa di Dieng. Rambut gembel ini dianggap
sebagai titipan atau pertanda adanya titipan dari leluhur orang Dieng
yang bernama Ki Kala Dete. Cerita ini didasarkan pada cerita rakyat di
Dieng bahwa dahulu kala di sekitar Kawah Sikidang di Dieng terdapat
seorang pertapa sakti bernama Ki Kala Dete. Karena bertapa sangat
lama, maka Ki Kala Dete memiliki rambut gembel. Tokoh ini dianggap
sebagai leluhur orang Dieng. Ki Kala Dete muksa di sekitar Kawah
Sikidang. Sebagai pertanda eksistensinya kepada anak cucu, ia berpesan
akan menitipkan rambut gembel kepada anak cucu. Karena itu, anak-
anak Dieng yang berambut gembel dianggap memiliki titipan dari nenek
13

13
moyang. Titipan tersebut dapat dikembalikan ke pemiliknya dengan cara
diruwat.
Proses ritual ruwatan tersebut menjadi salah satu ritual masyarakat
Dieng. Tata cara peruwatan tersebut beragam, tetapi intinya
mengembalikan titipa kepada pemiliknya. Tradisi potong rambut gembel
dapat dilakukan sederhana, di mushola, dan dicukur sendiri oleh
keluarganya (biasanya yang dianggap tua). Namun, acara tersebut dapat
pula dilakukan dengan hajat yang besar dengen menelan biaya puluhan
juta rupiah dengan pentas wayang besar-besaran. Tradisi potong rambut
gembel tersebut dilakukan ketika anak sudah mulai dapat meminta
sesuatu (3-5 tahun). Sudah menjadi tradisi, orang tua akan menanyakan:
Gembelnya jaluq apa?. Artinya, rambut gembelnya meminta apa. Pada
umumnya, sesuai jiwa anak-anak, anak berambut gembel akan meminta
sesuatu seperti mainan, makanan, pentas ebleq, sepeda, dan lain-lain
sesuai hasratnya.Apabila hal itu sudah dikatakan, maka segera dipenuhi
dan dilakukan pemotongan rambut gembel. Apabila setelah pemotongan
rambut gembel tumbuh lagi, mereka percaya ada sesuatu yang salah
dalam menjalankan tradisi.

d. Konsep Ajaran dalam Aliran Kepercayaan Dieng
Dieng merupakan wilayah yang mayoritas penduduknya, hampir
98% beragama Islam. Namun, sebagaimana kondisi pada umumnya
masyarakat muslim di Jawa, tidak sepenuhnya masyarakat menjalankan
syariat Islam secara penuh. Rukun Islam yang yang lima (syahadat, salat,
puasa, zakat, dan haji), pada umumnya tidak dijalankan secara penuh.
Tradisi-tradisi yang bersifat keislaman berjalan dengan baik seperti
pengajian, zikir, mujahadah, perkawinan secara Islam, sunatan, dan lain-
lain. Tradisi Islam yang berjalan lebih condong ke tradisi-tradisi yang
berlaku di lingkungan masyarakat nahdiyin (bernisbat pada organisasi
Nahdatul Ulama/ NU) seperti tradisi membaca Surat Yasin, dzikir dan
tahlil untuk kematian, istighosah akbar, dan sebagainya. Dalam acara-
acara keagamaan yang besar tersebut, masyarakat Dieng condong
mengikuti ke arus besar di Wonosobo dan Banjarnegara. Beberapa
daerah muncul pula kelompok yang bernisbat pada organisasi
Muhammadiyah seperti di Pathak Banteng, tetapi dalam tradisi mereka
juga tidak sepenuhnya mengikuti paham Muhammadiyah yang puritan.
14

14
Mereka tetap bertradisi NU seperti masih yasinan, dikir tahlil, dan lain-
lain. Dewasa ini tampaknya di kalangan grass root Muhammadiyah
sendiri terjadi perubahan paradigma dengan tidak menonjolkan aspek
khilafiyah di dalam dakwah. Mereka menonjolkan aspek fastabikhul
khoirot, yakni berusaha berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya kepada
sesama umat dengan gerakan pendidikan, kesehatan, dakwah bilhal, dan
silaturahmi.
Pengikut aliran kepercayaan di Dieng pada umumnya masih
mengakui agama Islam sebagai agama mereka, tetapi mereka tidak
menjalankan syariat. Paham yang dianut mirip seperti paham dalam
Pangestu, yaitu sebagai penghayat kepercayaan sekaligus sebagai
pemeluk agama Islam. Pada acara-acara Islam tertentu seperti lebaran
Idul Fitri, Idul Adha, salat Jumat, akad nikah, sunatan, penguburan
mayat, mereka masih ikuti dengan tradisi Islam. Ritual-ritual yang
berhubungan dengan aliran kepercayaan seperti memasang sesaji, mohon
doa restu di tempat yang dianggap dihuni roh-roh leluhur, rasulan
(selamatan), pada umumnya juga didahului dengan doa-doa islami
seperti bismilah, hamdalah, dan tahlil (la ilaha illallah
muhammadarasulullah). Kadar unsur Islam tersebut berbeda-beda
antara aliran yang satu dengan yang lain. Aliran Ki Tunggul Seta
menjadikan unsur Islam sebagai ikon utama dengan adanya pengajian
mujahadah, dzikir tahlih, dan membaca Al-Quran sebelum melakukan
ritual ruwatan. Pakaian orang yang akan diruwat pun mengikuti mode
pakaian ihram (pakaian dalam ritual haji). Acara-acarayang digelar pun
mengikuti tradisi Islam debus dengan unjuk kekebalan diri. Di pihak
lain, aliran Ki Rusmanto dengan aliran Kaki Tunggul Doyo Among
Rogo condong kepada tradisi Jawa yang kenthal. Ki Rusmanto
melanjutkan kepercayaan Jawa yang terkait dengan cerita-cerita wayang.
Ia masih percaya bahwa tokoh-tokoh wayang adalah tokoh riil yang
pernah hidup di Dieng. Sebagai misal, ia pernah menyebut bahwa Kali
Tulis yang ada di Dieng dibangun oleh Bima. Secara rutin ia
mengunjungi petilasan-petilasan tokoh wayang dan nenek moyang lain
dalam rangka mencari kekuatan batin tersebut.
Oleh karena itu, penganut aliran kepercayaan di Dieng menganut
paham double religion. Antara kepercayaan Islam dan paham
kepercayaan mengalami suatu sinkretisme sehingga bentuk yang muncul
15

15
menjadi seolah-olah Islam atau diwarnai dengan ajaran-ajaran Islam.
Suatu ritual tradisi Jawa yang masih menjadi ciri khas aliran kepercayaan
Dieng adalah adanya ruwatan. Ki Rusmanto sebagai sesepuh aliran Kaki
Tunggul Sabdo Jati memiliki spesialisasi ruwatan pemotongan rambut
gembel sementara Ki Tunggul Sela memiliki spesialisasi ruwatan di
Kawah Candradimuka pada setiap bulan Sura.
Mengenai inti ajaran pada dasarnya tidak ada konsepsi tegas
tentang ajaran tidak cukup jelas. Sifat ajaran tersebut bersifat lokal, tetapi
tampak bahwa ajaran tersebut memang merupakan kompilasi dari
berbagai ajaran yang berkembang di daerah tersebut. Kompilasi tersebut
bersumber dari ajaran Hindu (khususnya dari dunia pewayangan), ajaran
Islam, dan local wisdom. Beberapa prinsip dasar ajaran aliran
kepercayan Dieng dapat diuraikan sebagai berikut.
Konsep Tuhan dalam aliran kepercayaan tidak jelas. Tuhan dalam
ajaran aliran kepercayaan ini sering mengadopsi dari konsep-konsep
yang telah ada dalam agama, khususnya Islam dan Hindu sehingga
Tuhan sering disebut Batara, Dewa, Gusti Allah, Pangeran, Gusti Kang
Maha Kuasa, dan lain-lain. Namun, mengenai kedudukan, peran, dzat,
bentuk, wujud Tuhan itu sendiri tidaklah diajarkan secara jelas. Terdapat
konsep-konsep yang masih berhubungan dengan Tuhan. Konsep tersebut
ialah konsep yang disebut Gusti Agung Heru Cokro. Dalam kepercayaan
di Dieng, Gusti Agung Heru Cokro merupakan rasa jati yang dianggap
sebagai utusan Tuhan yang mengantar kepada hidup yang baik dengan
konsep apa sing diucapake yaiku sing dilakoni. Apa yang diucapkan
itulah yang dijalankan yang menjadikan bersatunya cipta, rasa, dan
karsa.
Anasir lain yang diperhatikan ialah Suksma Sejati. Sukma sejati
adalah keadaan hidup yang sesungguhnya. Inilah anasir yang akan
membawa kepada kehidupan yang sejati yang digambarkan sebagai
sarining urip, yakni hidup sejati yang tentram dalam segala keadaan
kang nguasani marang dununing urip kang sejati, kang bakal amujudake
urip iki tata titi tentrem, kang ana panas ora angrasake panas, ana udan
ora angrasakake adhem.
Konsep Tuhan dalam aliran kepercayaan di Dieng tidak memiliki
konsep yang jelas. Konsep ini cenderung kepada common concept
(konsep umum) yang berlaku di masyarakat serta tidak memiliki makna
16

kritis sebagai konsep. Konsep Tuhan dalam aliran kepercayaan Dieng
cenderung menerima konsep yang sudah ada (khususnya dari ajaran
Hindu dan Islam). Yang berbaur dengan ajaran-ajaran lokal. Karena itu,
sebutan utama tentang Tuhan ini tidak pernah diperdebatkan, boleh
Tuhan, Allah, Dewa, Sang Maha Agung, Kang Maha Kuasa, Pangeran.
Padahal sebutan-sebutan tersebut sebenarnya berangkat dari konsep-
konsep yang berbeda.
Kedudukan Tuhan di sini juga sebagai sembahan saja, sementara
penentuan kejadian kadang-kadang tidak dihubungkan dengan Tuhan,
tetapi dengan konsep lain seperti danyang, bahureksa, leluhur, Kyai
Semar, Ki Kala Dete, sedulur papat kalima pancer, Embah Salingsing
Walisolah, Lengkung Suwiri, Nini Dewi Retno Ayu Loro Dumilah, dan
lain-lain yang sering dipercaya dapat mengantarkan hajat keperluan
sehingga berhasil.
Tujuan hidup aliran kepercayaan pada umumnya sama, yaitu
mencapai kehidupan yang baik berguna bagi lingkungannya yang
dinyatakan dengan slogan: ora butuh mungsuh, ora butuh rewang,
butuhe mung kabecikan, maknanya tidak membutuhkanmusuh dan
kawan, butuhnya hanyalah kebaikan. Tujuan tersebut kemudian dijabar
dengan perilaku yang disebut ambeg, yakni: (1) Ambeg mangeran dalam
pengertian selalu berusaha menyembah Tuhan agar bisa memasuki alam
awang uwung, alam kelanggengan. (2) Ambeg makarya berusaha untuk
bekerja menckupi kehidupan rumah tangga (sandang pangan) sampaik
epada keturunannya sehingga mendapatkan drajat dan pangkat. (3)
Ambeg Mardawa Laras yang berarti pemaaf, baik hati, hidup teratur
dan tentram, menepatijanji, lugu). (4) Ambeg Masesa dhiri yang
bermakna mampu mengendalikanh awa nafsu, panca indranya mampu
dikuasai, mengerti dan merasa pribadinya, lahir danbatin mawar dhiri,
mulat sarira hangrasa wani, mengikuti garis nasib. (5) Ambeg mardhika
yang bermakna tidak mau berbuat dhalim kepada orang lain dengan
kesadaran orang lain itu juga Aku, tidak mau dijajah dan menjajah
baik lahir maupun batin, tidak mau mencampuri urusan orang lan kecuali
bil diajak musyawarah, suka menolong tanpa pamrih, dan mandiri.
Dalam mencapai tujuan hidup tersebut, penganut aliran
kepercayaan Dieng memiliki aturan-aturan yang menurut ajaran Kaki
Tunggul Sabdo Jati Doyo Amongrogo dibagi menjadi 12 aturan
17

(Paugeran Rolas Perkara), yaitu: (1) Wong eling ngelmu gaib,
sakabehing dhawuh-dhawuh saka kaki lan para embah-embah kudu den
gatekake. Orang hendaknya ingat pada ilmu gaib sehingga perintah-
perintah nenek moyang selalu diperhatikan. (2) Wong Amrih rahayuning
sasaminiro, sinung hayating gusti. Agar selalu berusaha membuat
selamat sesamanya dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan. (3)
Ngawruhana ngelmu gaib, iku praboting urip kang utomo. Mengetahui
ilmu gaib karena ilmu gaib itu pelengkap hidup yang utama. (4) Aja
kurang ing pamirsanira, lan den agung pangapuranira. Janganlah
kurang dalam meneliti dan besarkanlah rasa maaf. (5) Agawea kabecikan
marang ing sasaminira kang tumitah, agawe sukaning manahira lan
sasamining jalma. Berbuat baik kepada sesama,membuat suka hati
sendiri dan sesama manusia. (6) Aja duwe rumangsa bener lan becik
dhewe, ala sarta luput lan den agung panalangsanira marang Gusti
Kang Maha Mulya. Jangan memiliki rasa bena dan baik sendiri,
merasalah buruk dan bersalah yang besar kepada Tuhan. (7) Angenakna
sarira, angayem-ayem nalariro, aja murka samubarang kang den seja,
den prayitna samubarang karya. Merasalah tubuh enak, pikiran
tenteram, jangan murka paa hal-hal yang dicita-citakan, dan berhati-hati
dalam semua pekerjaan. (8) Elinga marang kang akarya jagat, aja pegat
rino lan wengi . Ingat kepada Sang Maha Pencipta, jangan lupakan siang
malam. (9) Atapaa geni ara, den teguh lamun krungu ujar ala. Bertapa
api, yakni tetap berpendirian apabila mendengar kata-kata buruk. (10)
Atapaa banyu ara, tegese nurut saujaring liyan datan nyulayani. Bertapa
air, yaitu ikut kata-kata orang lain dan tidak membantah. (11) Atapa
nglukat, tegese mendhem atine, yaiku aja ngatonake bener lan becike
dhewe. Bertapa nglukat (pendam), yaitu memendam hatinya, tidak
memperlihatkan baik dan benarnya diri sendiri. (12) Aperang sabilillah,
tegese perang sabilillah iku sajroning badanira ana perang bratayudha,
perang ati ala kalawan ati becik. Sakmangsa sira bisa nyegah sabarang
cipta kang ala, ateges sira menang anggonira perang. Perang Sabilillah,
yaitu perang di dalam badan antara hati baik dan buruk
Aliran kepercayaan di Dieng, khususnya Aliran Kaki Tunggul
Sabdo Jati Doyo Among Raga tampaknya merupakan bagian dari Aliran
Aliran Paguyupan Kebudayaan Jawa (PKD). Aliran PKD memiliki
kecenderungan animistis dengan adanya kepercayaan terhadap roh nenek
18

18
moyang yang dipercaya dapat memberikan pertolongan atau
mendatangkan bahaya, walaupun masih tegas memiliki kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Mahaesa. Tuhan disebut dengan Pangreh (Yang
Memerintah)
28
. Ajaran Jawa lainnya seperti tapa geni, tapa banyu, tapa
nglukat diberi makna baru yang bersifat esoterik dalam kaitan dengan
tingkah laku kebatinan. Aliran ini tampak juga mengambil ajaran-ajaran
Islam seperti perang sabilillah, tetapi perang tersebut dimaknai berbeda,
bukan perang jasmani, tetapi perang rohani, yakni memerangi hawa
nafsu.

F. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, kesimpulan penelitian tersebut dapat
disimpulkan bahwa eksistesi Islam dan aliran kepercayaan di Dieng dapat
berada dalam posisi saling membangun harmoni. Islam dan aliran
kepercayaan tidak saling beroposisi, tetapi saling menyatu dan mengisi.
Meskipun Islam dalam posisi dominan karena hampir 98% masyarakat Dieng
memeluk Islam, namun aliran kebatinan yang bersifat anisme dan dinamisme
mengambil unsur-unsur Islam untuk menetapkan diri bahwa aliran kebatinan
dalam ranah keislaman.
Sinkretisme merupakan salah satu cara untuk tetap memposisikan
sesuatu yang anagonis tetap dalam situasi harmoni. Karena itu, dari segi
ajaran, aliran kepercayaan di Dieng condong kepada ajaran sinkretisme yang
memadukan antara agama dan kepercayaan lokal. Hal ini menjadikan aliran
tersebut dapat hidup secara harmonis dengan tata kehidupan masyarakat
Dieng pada umumnya.
Ajaran menekankan pada harmani dengan Tuhan, sesama, dan alam.
Harmoni diaktualisasikan dengan berbagai ritual yang menyatukan manusia
dengan alam serta leluhur. Di samping itu, aliran ini juga sangat menjunjung
ajaran Islam dengan meletakan penghayatan spiritual puncak dalam tataran
wali agung. Hal ini juga dimunculkan dengan adanya leluhur bernama
Embah Salingsing Walisolah..




28
Romdon. 1996. Ajaran Ontologi Aliran Kebatinan. Jakarta: Raja Grafindo Persada
hal. 119
19

DAFTAR PUSTAKA


Ajaran Hastha Brata. 2003. Paranporo HPK. Wonosobo (naskah ketikan
tangan)
Arif, Ahmad S. 2006. Penguatan Klaster Pariwisata Dieng. Dieng: Yayasan
Kembang Emas.
Bambang Sutejo. 2005. Laporan Tahunan Kegiatan Budaya Kabupaten
Wonosobo. Wonosobo: Dinas Pariwisata dan Kebuadayaan.
Cassirer, Ernst. 1990. An Essay on Man (Manusia dan Kebudayaan: Sebuah
esei tentang Manusia. Terjemahan A. Nugroho. Jakarta: Gramedia.
Danandjaja, James. 1986. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-
lain. Jakarta: Grafitipers
Dhofier, Zamakhsyari. 1994. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan
Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo .2005. Pesona
Wisata dan Budaya Wonosobo Leaflet.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo. 2004. Sejarah
Wonosobo.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo.2004. Profil
Pariwisata Kab. Wonosobo 2003. Film VCD.
Dinas Pariwisata Propinsi Jawa Tengah. 2005. Draft Final Mapping dan
Telaah Potensi Kawasan RIPP Jawa Tengah 2004-2009 (Kawasan
Wisata Dieng). Semarang: Diparda Jateng.
Ernawati, Diyah Bekti dan Bani Sudardi. 2006. Pemberdayaan Masyarakat
Dieng Melalui Sektor Wisata. Surakarta: Laporan penelitian LPPM.
Geertz, Clifford. 1960. The Religion of Java. Illionis: The Free Press of
Glencoe.
Koentjaraningrat. 1981. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian
Rakyat.
Koentjaraningrat. 1983. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru
Komunitas Masyarakat Peduli Bangsa Kabupaten Wonosobo, 2005. Strategi
Pengembangan Komunitas Budaya Kabupaten Wonosobo 2006-
2010. Wonosobo: Dinas Kebudayaan Wonosobo.
20

20
Loekito, H.D. 2003. Tuntunan Lakune Wong Urip: Kaki Tunggul Sabdo Jati
Doyo Among Rogo. Wonosobo: Himpunan Penganut Kepercayaan
(HPK).
Miles, Matthew B. dan Huberman, A. Michael. 1992. Qualitative Data
Analysis (Analisis Data Kualitatif) Terjemahan Tjetjep Rohendi
Rohidi. Jakarta: UI-Press
Mulyono, Sri. 1978. Apa Siapa Semar. Jakarta: Gramedia.
Nasution. 1992. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito.
Noviana, Dini, 2008.Kerohakhanian Sapta Darma: Studi tentang
Perkembangan Aliran Kepercayaan di Pare Kediri Tahun 1952-
1967. Tesis Unair, Surabaya
Pitana, I Gde dan Gayatri, Putu G. 2005. Sosiologi Pariwisata. Yogyakarta:
Penerbit Andi
Poerbatjaraka, R.M.Ng. 1952. Kapustakan Djawi. Jakarta: Djambatan
Poerbatjaraka. 1956. Criwijaya, de Cailendra en de Sanjayavamca dalam
Bijdragen van Het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en
Volkenkunde. 114. (Merupakan polemik dengan Bosch).
Popular. Pimpinan Aliran Madi Di Salena Tewas Ditembak Polisi. Minggu6
April 2008.
Pracoyo. 2002. Semar: Simbol Proses Dialektika Budaya Jawa dalam
SENI: Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni, ISI Yogya
Pritchard, Evans. 1984. Theories of Primitive Religions (Teori-teori tentang
Agama Primitif). Terjemahan Ludjito. Yogyakarta:PLP2M.
Romdon. 1996. Ajaran Ontologi Aliran Kebatinan. Jakarta: Raja Grafindo
Persada
Spradley, James P. 1997. Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Sudardi, B. 2004. Sastra Lisan di Dieng. Laporan Observasi Lapangan,
Maret 2004. (Tidak diterbitkan).
Sudardi, Bani 2004. Dieng: Persemayaman Para Dewa. Makalah dalam
Seminar Internasional Bahasa dan Sastra, 3-4 Desember, di
Yogyakarta.
Sudardi, Bani. 2005. Aspek Ritual, Simbolis, dan Historis dalam Tradisi
Penyembelihan Bekakak di Gamping Sleman Yogyakarta.
Surakarta: Laporan Penelitian Dana DIKS FSSR.
21

21
Sudardi, Bani. 2006. Potensi Tradisi Lisan Sebagai Sarana Meningkatkan
Pariwisata Dataran Tinggi Dieng Surakarta: Laporan Penelitian
Dana DIKS FSSR.
Sukatno, Otto. 2004. Dieng Poros Dunia. Yogyakata: IRCISOD
Susanto, Budi. 1987. Mitos Menurut Pemikiran Mircea Eliade. Yogyakarta:
Kanisius.
Sutopo, H.B. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif: Dasar teori dan
terapannya dalam penelitian. Surakarta: UNS Press.
Tarigan, R. Josep dan Suparmoko. 1995. Metode Pengumpulan Data.
Yogyakarta:BPFE.
Tarwotjo. 1994. Etnografi:Suatu Tantangan Penelitian Kualitatif. Jakarta:
Balai Pustaka.
Zoetmulder. 1935. Pantheisme en Monisme in de Javaansche Soeloek
Literature. Den Haag: KITLV.
Sanggar kepercayaan Sapta Dharma disegel dalam WAWASSA`Jumat, 09
November 2007

22

22
PERAN PENDIDIKAN SENI DALAM MEMBENTUK KARAKTER
BANGSA
Oleh Puji Dwi Darmoko
1


ABSTRAK
Pendidikan merupakan upaya terencana dalam mengembangkan
potensi peserta didik, sehingga mereka memiliki sistem berpikir, nilai,
moral, dan keyakinan yang diwariskan masyarakatnya dan
mengembangkan warisan tersebut ke arah yang sesuai untuk kehidupan
masa kini dan masa mendatang.
Problematika pendidikan di Indonesia yang kini timbul disebabkan
oleh globalisasi diantaranya dapat dilihat dalam bidang bahasa, kesenian
dan kehidupan sosial. Seni merupakan salah satu pemanfaatan budi dan
akal untuk menghasilkan karya yang dapat menyentuh jiwa spiritual
manusia. Karya seni merupakan suatu wujud ekspresi yang bernilai dan
dapat dirasakan secara visual maupun audio. Namun demikian pada
kenyataannya kemampuan bidang estetika dan budaya seakan
dikesampingkan pada kondisi sistem Pendidikan Nasional saat ini, karena
lebih mengutamakan pengembangan kemampuan dibidang ilmu
pengetahuan, teknologi, dan matematika. Hal ini kurang mendukung upaya
pembentukan kualitas kepribadian manusia Indonesia yang diharapkan.
Harus diakui bahwa peran pendidikan seni merupakan salah satu
kemampuan dibidang estetika yang dapat mewujudkan manusia seutuhnya.
Kehadiran seni memberi peran dan pengaruh cukup kuat dalam
kehidupan manusia, masyarakat dan bangsa. Seni yang didalamnya
mengandung butiran-butiran keindahan dan keselarasan harmoni banyak
mengutamakan pesan kebajikan dan mengajarkan kearifan-kearifan pada
hidup manusia. Sebagai refleksi ilmu pengetahuan, seni juga tak luput dari
pemahaman-pemahaman yang menyangkut ungkapan perasaan, alam
pikiran dan kesadaran manusia akan realitas sosial dan nilai-nilai
kehidupan. Ketika kehidupan manusia terus berkembang, maka yang
berkembang sesungguhnya adalah sistem sosial, sistem ekonomi, sistem
kepercayaan, ilmu, teknologi, serta seni. Fungsi seni adalah membantu
perkembangan kesadaran manusia dan membantu memajukan sistem social.
Transformasi nilai-nilai seni ke dalam masyarakat luas bisa menjadi
penyejuk bagi kepesatan kemajuan sains dan teknologi yang tidak jarang
mengabaikan kehalusan rasa seni. Pendidikan seni berperan sebagai filter

1
Puji Dwi Darmoko adalah Mahasiswa Pascasarjana Universitas Sebelas Maret
(UNS) Surakarta Program studi Kajian Budaya
23

23
bagi peradaban pembentuk karakter bangsa. Terlepas dari motivasi maupun
tujuan penciptaannya, kehadiran seni selama ini telah dianggap
memberikan kontribusi bagi pembentukan karakter manusia yang
berbudaya karena sifat dan keunikannya.

Kata Kunci: Pendidikan Seni, Estetika, Karakter


A. Pendahuluan
Dalam Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) merumuskan fungsi
dan tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan dalam
mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas
menyebutkan, Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab. Tujuan pendidikan nasional itu merupakan rumusan mengenai
kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan oleh setiap satuan
pendidikan. Oleh karena itu, rumusan tujuan pendidikan nasional menjadi
dasar dalam pengembangan pendidikan seni dan budaya
2
.
Pendidikan adalah suatu upaya sadar untuk mengembangkan potensi
peserta didik secara optimal. Usaha sadar itu tidak boleh dilepaskan dari
lingkungan peserta didik berada, terutama dari lingkungan budayanya,
karena peserta didik hidup tak terpishkan dalam lingkungannya dan
bertindak sesuai dengan kaidah-kaidah budayanya. Kebudayaan bersifat
dinamis, oleh sebab itu ia dapat mengalami perubahan atau pergeseran.
Pendidikan yang tidak dilandasi oleh prinsip itu akan menyebabkan peserta
didik tercerabut dari akar budayanya. Ketika hal ini terjadi, maka mereka
tidak akan mengenal budayanya dengan baik sehingga ia menjadi orang
asing dalam lingkungan budayanya. Selain menjadi orang asing, yang
lebih mengkhawatirkan adalah dia menjadi orang yang tidak menyukai
budayanya
3
.

2
Kementerian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat
Kurikulum. 2010. Bahan Pelatihan: Penguatan Metodologi Pebelajaran Berdasarkan
Nilai-nilai Budaya Untuk Membentuk Dasa Saing dan Karakter Bangsa, hal. 2
3
Ibid., hal 4,
24


24
Koentjoroningrat mengemukakan bahwa Kebudayaan Nasional
Indonesia adalah hasil karya putera Indonesia dari suku bangsa manapun
asalnya, yang penting khas dan bermutu sehingga sebagian besar orang
Indonesia bisa mengidentifikasikan diri dan merasa bangga dengan
karyanya. Kebudayaan Indonesia adalah satu kondisi majemuk karena ia
bermodalkan berbagai kebudayaan, yang berkembang menurut tuntutan
sejarahnya sendiri-sendiri. Pengalaman serta kemampuan daerah itu
memberikan jawaban terhadap masing-masing tantangan yang member
bentuk kesenian, yang merupakan bagian dari kebudayaan.
4

Berdasarkan konteks budaya, ragam kesenian terjadi disebabkan pada
adanya sejarah dari zaman ke zaman. Jenis-jenis kesenian tertentu
mempunyai kelompok pendukung yang memiliki fungsi berbeda. Adanya
perubahan fungsi dapat menimbulkan perubahan yang hasil-hasil seninya
disebabkan oleh dinamika masyarakat, kreativitas, dan pola tingkah laku
dalam konteks kemasyarakatan.
Dalam kecenderungan perkembangan seni dewasa ini, keindahan
positif tidak lagi menjadi tujuan yang paling penting dalam berkesenian.
Sebagian seniman beranggapan lebih penting menggoncang publik dengan
nilai estetis legatif (ugliness) daripada menyenangkan atau memuaskan
mereka. Fenomena semacam ini akan kita jumpai pada karya-karya seni
primitive atau karya seni lainnya yang tidak mementingkan keidahan
tampilan visual namun lebih mementingkan makna simboliknya.
Ugliness dalam karya seni termasuk nilai estetis yang negatif. Jadi
sesungguhnya dalam karya seni terdapat nilai estetis yang positif dan
negatif.

B. Pembahasan
Istilah kata "seni" berasal dari "sani" yang artinya "Jiwa Yang Luhur/
Ketulusan jiwa diartikan sebagai kata seni ". sedangkan dalam bahasa
Inggris dengan istilah "Art" (artivisial) yang artinya adalah barang atau
karya dari sebuah kegiatan.
The Liang Gie (1976) menjelaskan bahwa dalam semua jenis
kesenian terdapat unsur-unsur yang membangun karya seni sebagai berikut:
(1) Struktur seni merupakan tata hubungan sejumlah unsur-unsur seni yang
membentuk suatu kesatuan karya seni yang utuh. Contoh struktur seni
dalam bidang seni rupa adalah garis, warna, bentuk, bidang dan tekstur.
Bidang seni musik adalah irama dan melodi. Bidang seni tari adalah
wirama, wirasa dan wiraga. Bidang seni teater adalah gerak, suara dan

4
Koentjaraningrat.1985. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru., hal. 5
25


25
lakon. (2) Tema merupakan ide pokok yang dipersoalkan dalam karya seni.
Ide pokok suatu karya seni dapat dipahami atau dikenal melalui pemilihan
subject matter (pokok soal) dan judul karya. Pokok soal dapat berhubungan
dengan niat estetis atau nilai kehidupan, yakni berupa: objek alam, alam
kebendaan, suasana atau peristiwa yang metafora atau alegori. Namun tidak
semua karya memiliki tema melainkan kritik. (3) Medium adalah sarana
yang digunakan dalam mewujudkan gagasan menjadi suatu karya seni
melalui pemanfaatan material atau bahan dan alat serta penguasaan teknik
berkarya. Tanpa medium tak ada karya seni. (4) Gaya atau style dalam
karya seni merupakan ciri ekspresi personal yang khas dari siseniman
dalam menyajikan karyanya. Gaya adalah ciri bentuk luar yang melekat
pada wujud karya seni, sedangkan aliran berkaitan dengan isi karya seni
yang merefleksikan pandangan atau prinsip si seniman dalam menanggapai
sesuatu
5
.

1. Menumbuhkan Apresiasi dalam Pendidikan Seni
Sebagai medium estetis yang mencerahkan kehidupan manusia-
manusia lainnya yang dapat menikmatinya tanpa harus langsung terlibat
dalam proses menciptanya, kehadiran karya seni juga mampu menstimuli
lingkungan penikmatnya. Jadi tidak hanya berguna bagi si penciptanya
sebagai aesthetic catalyst tetapi juga bagi lingkungan penikmatnya yang
lain. Entitas karya-karya seni yang beragam bentuk dan keunikan nilai
keindahannya tadi telah secara nyata memberikan manfaat tidak saja
bersifat bathiniah tetapi juga dampak kehadiran secara fisiknya yang
memiliki nilai materi, fungsi dan nilai khusus komoditas ekonomisnya.
Oleh karena itu apresiasi menjadi aspek yang cukup penting dalam
pembelajaran pendidikan seni. Dalam bahasa sederhana, apresiasi berarti
menerima, menghargai melalui proses yang melibatakan rasa dan fikir.
Kegiatan apresiasi seni di masyarakat, begitu juga dalam penyelenggaraan
pendidikan seni di kelas, sampai saat ini masih terbatas sekali dalam arti
belum banyak dikembangkan. Sesungguhnya pada masa sekarang, anak-
anak memiliki lebih banyak peluang untuk meningkatkan apresiasi
dibandingkan dengan zaman dahulu.
Apresiasi Seni adalah menikmati, menghayati dan merasakan suatu
objek atau karya seni lebih tepat lagi dengan mencermati karya seni dengan
mengerti dan peka terhadap segi-segi estetiknya, sehingga mampu
menikmati dan memaknai karya-karya tersebut dengan semestinya. S.E.

5
Soedarso, Sp., 2006. Trilogi Seni: Penciptaan, Eksistensi, dan Kegunaan Seni.
Yogyakarta: BP.ISI Yogyakarta., hal 105
26


26
Effendi mengungkapkan bahwa apresiasi adalah mengenali karya sehingga
menumbuhkan pengertian, penghargaan, kepekaan untuk mencermati
kelebihan dan kekurangan terhadap karya.
Secara lebih luas, apresiasi dilakukan bukan hanya terhadap karya
seni tetapi juga terhadap keindahan di alam. Siswa diajak melihat
keindahan yang ada di mana-mana. Keindahan atau kemenarikan hasil
karya ditunjukkan guru (lebih tepat: disarankan), dengan catatan bukan
mutlak harus diterima siswa. Dengan banyaknya melihat unsur-unsur yang
indah/artistik, maka terciptalah pola gambaran mental pada dirinya tentang
apa-apa yang dianggap kebanyakan orang sebagai hal yang indah/seni.
Diskusi tentang aspek-aspek desain (harmoni, keseimbangan, ritme,
kesatuan, pusat perhatian, dsb) akan membentuk kesadaran anak terhadap
kualitas baik-buruk karya seni dan dengan demikian apresiasi seni akan
terbentuk
6
. Hal-hal yang dibicarakan dalam diskusi tersebut meliputi antara
lain : (1) Judul-judul atau objek yang digambarkan: apa yang tampak, apa
yang aneh, apa yang menarik. Pada tahap usia SD, yang disukai anak
umumnya penggambaran secara visual yang hidup, bukan karya-karya
abstrak atau yang memerlukan renungan mendalam. (2) Warna.
Dipertanyakan mana yang disukai, mana warna yang kurang kuat (kabur),
mana yang menurut mereka aneh atau ganjil. (3) Penempatan.
Dipertanyakan, bagaimana kesesuaian ukuran gambar dengan bidang
gambar, distimulasi perlunya keseimbangan, untuk meningkatkan kepekaan
komposisi. (4) Pemanfaatan media. Dipertanyakan kemungkinan-
kemungkinan teknik penggunaan media, sifat khas media serta cara-cara
orang lain yang berhasil menggunakannya.
Dalam rangka proses pembelajaran siswa, seorang pendidik memiliki
peranan sebagai pekritik karya-karya siswa sebagai motivasi, responsi,
evaluasi, reinforcement. Peranan pendidik tersebut sangat berfungsi untuk
membina kemandirian kreasi dan ekspresi diri anakdidik (Siswa). Tidak
menghakimi siswa dengan putusan nilai yang kuantitatif, namun lebih
mengarah kepada penguatan the students artistic personality.
Ada tiga pendekatan dalam melakukan apresiasi yakni : 1)
pendekatan aplikatif, 2) pendekatan kesejarahan, 3) Pendekatan
problematik. Pendekatan aplikatif, adalah pendekatan dengan cara
melakukan sendiri macam-macam kegiatan seni. Pendekatan kesejarahan
adalah, dengan cara menganalisis dari sisi periodisasi dan asal usulnya.

6
Lowenfeld, Victor, (1982), Creative and Mental Growth, New York: McMillan.
27


27
Sedangkan pendekatan problematik, dengan cara memahami permasalahan
di dalam seni
7
.
Pembelajaran apresiasi dalam seni tidak saja berfungsi bagi
pembelajaran seni tetapi dapat juga diimplementasikan untuk pembelajaran
lainnya. Implementasi apresiasi menumbuhkan sikap yang mendukung
anak dalam: (1) pembelajaran sosial, (2) membangun kemitraan dengan
komunitas, (3) menjadi peneliti yang aktif, (4) menjadi komunikator yang
efektif dan (5) partisipasi dalam kehidupan yang saling berketergantungan.
a) Pembelajaran Sosial
Kompetensi untuk menilai dan menghargai karya seni
menumbuhkan sikap untuk menghargai fenomena sosial lainnya.
Ketika para siswa mengambil bagian dalam apresiasi praktek seni yang
ada di masyarakat, mereka mengembangkan suatu pemahaman tentang
dinamika masyarakat dalam konteks budaya, sosial, ekonomi dan
historis tertentu dan berbagi makna sosial yang diproduksi dan dihargai
oleh kelompok masyarakat tersebut. Melalui kegiatan dan pengalaman
ini, para siswa mengembangkan keterampilan interaktif, kepercayaan
sosial, pemahaman dinamika kelompok dan kemampuan untuk
merundingkan dalam kelompok ketika mereka bekerja ke arah suatu
tujuan bersama. Hal ini akan mendidik mereka untuk memahami
perasaan mereka sendiri, tanggapan secara emosional dan orang lain
seperti halnya ketika mereka terlibat dalam, dan merefleksikan, sebuah
pengalaman seni. Kondisi ini membawa mereka ada dalam situasi yang
memungkinkan untuk berempati dengan yang lain, berbagi
kegembiraan, mengatur frustrasi dan menghadirkan perasaan ketika
menciptakan produk seni.
Tujuan dan fungsi kehadiran karya seni tentunya dalam tahapan
penciptaan karya (creative process) menjadi tumpuan utama yang
memberikan arah sasaran kemana sebuah karya seni nantinya akan
dibawa. Didukung oleh niat (rasa & karsa) maka tujuan dan fungsi
karya seni menjadi pengawal proses kreatif penciptaan karya seni
sampai jadi dan berfungsi optimal sesuai dengan tujuan utama
penciptaannya. Sedangkan ide dan konsep merupakan pemicu dan
pemikiran kerja bagaimana tujuan harus diciptakan. Sebagai unsur
pemicu, ide seorang seniman merupakan hasil dari banyak hal.
Diantaranya dapat berupa observasi secara mendalam tentang karya

7
Soedarso, Sp., 2006. Trilogi Seni: Penciptaan, Eksistensi, dan Kegunaan Seni.
Yogyakarta: BP.ISI Yogyakarta., hal. 145
28


28
dan fungsinya sehingga diperlukan suatu upaya eksploratif berbekal
pengetahuan, ketrampilan, dan rasa.
b) Membangun kemitraan dengan komunitas
Apresiasi seni dapat menciptakan kebersamaan di antara para
siswa dan anggota sekolah, masyarakat sekitar dan komunitas seni.
Kemitraan ini melibatkan siswa dalam pendekatan dengan banyak
orang, pengalaman dan konteks. Beberapa siswa dapat mengakses
manfaat pribadi melalui pengalaman seni yang ada di masyarakat ini
seperti halnya pengalaman belajar yang diciptakan di sekolah.
Mengembangkan kemitraan dengan pihak yang menawarkan
keikutsertaan dalam berbagai program seni memungkinkan untuk
menghubungkan pelajaran di dalam sekolah dengan realitas yang ada
dimasyarakat. Kemitraan juga menyediakan peluang untuk
menginformasikan masyarakat tentang pendidikan di dalam dan
melalui aktivitas seni. Asumsi sumber daya masyarakat dan sekolah
berbeda, aktivitas belajar dapat diperkaya dengan membangun
kemitraan dengan orang lain pihak yang terlibat dalam seni. Orang tua,
anggota masyarakat, pengurus seni (arts administrators), seniman lokal,
para guru dan para pekerja industri seni dapat memberi dukungan
dengan berbagi kegiatan, pengalaman, keahlian, keterampilan dan cara
kerja mereka menggunakan material serta praktek.
Kemitraan dengan komunitas dapat juga memperkaya aktivitas
pelajaran yang ditawarkan ke para siswa dengan menyediakan akses ke
peralatan, fasilitas, musium, dan kegiatan seni di masyarakat.
Pengertian yang mendalam terhadap praktek seni dapat disajikan
melalui pengalaman seniman dalam program sekolah, karya seni yang
asli dan ruang aktivitas seni di luar kelas, ruang publik dan
ruang virtual. Kegiatan ini berharga bagi para siswa dan anggota
masyarakat karena memiliki peluang untuk berinteraksi dan
berkolaborasi pada proyek seni dalam situasi belajar di kehidupan
nyata.
Penghargaan dan pemahaman tentang keaneka ragaman budaya
dan sifat alami saling berhubungan antara seni dan budaya mungkin
dapat dieksplorasi dengan jalan yang penuh makna. Hal ini dapat
ditingkatkan melalui representasi praktek seni dan seniman-seniman
tradisi yang lahir dari budaya asli yang ada di masyarakat ke dalam
lingkungan sekolah. Kemitraan dengan masyarakat pedalaman dan
penduduk asli, misalnya, menyediakan peluang belajar yang cukup
esensial bagi siswa. Masyarakat semacam ini sering mempunyai kultur
dengan suatu orientasi lisan dan pendekatan holistik kepada transmisi
29


29
pengetahuan budaya. Ekspresi dari identitas budaya, sejarah, hukum,
hubungan dengan alam dan sistem kekerabatan melalui suatu variasi
makna artistik menyediakan pengalaman belajar yang kaya bagi para
siswa. Untuk menciptakan dan memelihara kemitraan dengan
masyarakat pedalaman atau penduduk asli, peserta belajar harus
menghormati protokol dan prosedur yang berlaku dalam masyarakat
tersebut. Efektivitas dari proses pembelajaran melalui program
kemitraan ini, dapat dilakukan dengan mencari pembimbing (guidance)
dari kelompok pribumi, organisasi dan anggota masyarakat yang
relevan.
c) Menjadi peneliti yang aktif
Melalui kegiatan apresiasi pada dasarnya siswa melakukan
kegiatan penelitian. Sebagai peneliti yang aktif, para siswa membangun
makna melalui apresiasi apa yang mereka selidiki, uraikan dan
prediksi. Mereka mempelajari dan menemukan sendiri jalan yang
efektif untuk mengakui adanya berbagai perspektif dan untuk
menghadapi tantangan perbedaan pandangan, metoda dan kesimpulan.
Para siswa menggunakan berbagai teknik dan teknologi dan
menerapkannya dalam apresiasi untuk menyelidiki dan menganalisa
secara tekstual maupun kontekstual. Sikap ini akan membantu
kepekaan siswa terhadap aspek gagasan yang bersifat intuitif dan
berlangsung sesaat dari banyak proses dan produk seni sehingga
peluang terhadap penemuan dapat segera dikenali dan dikaji.
d) Menjadi komunikator yang efektif
Mempresentasikan tanggapan dalam pembelajaran apresiasi
dapat mendorong siswa menjadi komunikator yang efektif. Kompetensi
ini menuntut para siswa mengembangkan kemampuan untuk
berkomunikasi secara efektif dan dengan penuh percaya diri di dalam
berbagai konteks dan untuk komunikan yang berbeda. Mereka belajar
untuk menggunakan berbagai sistem simbol, bahasa, bentuk dan proses
seni ketika merumuskan, mengkomunikasikan serta membenarkan
pendapat dan gagasan. Para siswa memahami bahwa karya seni
berfungsi juga sebagai media komunikasi yang membawa nilai-nilai
didalamnya sebagai konstruksi kenyataan dan imajinasi, serta
mempunyai kapasitas untuk menimbulkan tanggapan.
e) Partisipan dalam kehidupan yang saling berketergantungan.
Dengan mengambil bagian, mengapresiasi dan mengkritisi
pengalaman, produk dan capaian seni, para siswa mulai untuk
mencerminkan, bereaksi dan mengevaluasi peran seni di dalam
masyarakat yang berbeda. Para siswa mengembangkan suatu
30


30
pemahaman yang meningkatkan kualitas diri mereka sebagai anggota
budaya dan masyarakat masa lampau, hari ini dan masa depan di mana
mereka dapat berkontribusi didalamnya.
Melalui negosiasi dan bekerja sama dalam pengambilan
keputusan, serta aktif secara efektif di dalam kelompok untuk
mencapai tujuan bersama, para siswa belajar mengidentifikasi dan
menerapkan keterampilan antar budaya dan antar pribadi yang berbeda.
Kemampuan ini dapat mengembangkan suatu kapasitas.
2. Pendidikan Seni membentuk Karakter dan Ruang Kesadaran
Kehadiran karya seni dianggap memiliki karakter secara umum
karena varian yang unik tentang kondisi bentuk serta intrinsic and extrinsic
properties yang teraplikasikan dalam proses penciptaannya. Sedangkan
secara khusus karakter karya seni tercermin bila itu menyangkut pada
aspek tujuan, fungsi, ide & konsep serta nilai filosofis yang terkandung
pada kehadiran karya seni. Khususnya yang menyangkut makna yang
tersirat atau significant idea pada karya tersebut
8
.
Lebih lanjut Soedjono mengemukakan bahwa sejak awal mula
kehadirannya apa yang kita kenal sekarang sebagai karya seni, hasil ciptaan
manusia tersebut sudah memiliki karakter hakikinya sebagai salah satu
solusi pemenuhan kebutuhan manusia. Terutama dalam mengekspresikan
kebesaran pemberian Tuhan bagi mereka yang dikaruniai bakat dan minat
dalam bidang kesenian. Suatu kemampuan yang harus disyukuri karena
tidak semua manusia mendapatkan kemampuan bakat dan minat
berkesenian tersebut. Hanya mereka yang terpilih dan diarahkan untuk
dapat berkreasi karya seni secara kreatif sajalah yang diharapkan mampu
dan bisa berbagi kehadiran bentuk dan nilai keindahan karya seninya
dengan sesama. Terlepas dari motivasi maupun tujuan penciptaannya,
kehadiran karya seni selama ini telah dianggap memberikan kontribusi bagi
pembentukan karakter manusia yang berbudaya karena sifat dan
keunikannya. Karya seni mampu menawarkan dirinya sebagai medium
untuk mencapai berbagai kebutuhan dan tujuan hidup manusia
9
.
Sebagaimana dikemukakan oleh banyak tokoh pemikir kebudayaan,
bahwa dunia kesenian merupakan bagian dari kebudayaan yang tak
terpisahkan dari peradaban manusia, masyarakat atau suatu bangsa. Bahkan
indikasi tinggi-rendahnya peradaban suatu masyarakat atau sebuah bangsa

8
Soedjono, Soeprapto. 2011. Kesenian Berkarakter dalam Wahana Multidisiplin.
Makalah Kuliah Umum Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2011/2012 Institut Seni
Indonesia Yogyakarta.., hal. 1
9
Ibid., hal. 2
31


31
dapat ditelusuri dari nilai-nilai yang terkandung didalamnya, termasuk dari
watak-watak karya keseniannya. Karena pada dasarnya karya seni
merupakan refleksi perasaan, pikiran, atau cerminan realitas sosial dari
nilai-nilai kehidupan yang ada dalam masyarakat tersebut.
Karya seni tidak akan mempunyai arti tanpa pertaliannya dengan
hidup, manusia dan masyarakat. Karena tujuan seni adalah hidup itu
sendiri. Oleh karena itu seni harus menciptakan kerinduan kepada hidup
yang sublim. Obyek yang ada pada karya seni harus membawakan pesan
tentang kehidupan abadi meneruskan tujuan Tuhan.
Seperti setiapkali memanjatkan doa tahlil selalu disebutkan bahwa
seniman tak bedanya ulama adalah orang-orang yang diridhoi dan
mendapat anugerah nikmat untuk mengamalkan, mewartakan ilmunya ke
jalan yang benar, demi kebaikan dan kebajikan umat manusia, bukan
kesesatan. Jadi di sini menunjukkan bahwa peran dan tanggungjawab
seniman tak bedanya dengan ulama, pewarta kabar bagi kebajikan umat
manusia. Seni menjadi sesuatu yang rahmatan lil alamin.
Dalam kesenian, seorang seniman yang ingin berkarya sudah
seyogjanya tidak hanya menuangkan kebebasannya dalam berekspresi
semata, tapi juga bagaimana mampu membangkitkan kesadaran akan nilai
humanisme (kemanusiaan) dengan cara memahami realitas sosialnya,
sekaligus bagaimana memberi makna pada kehidupan. Tahapan
pendewasaan dalam menyerap dan memahami karya seni yang berpijak
pada realitas sosial inilah yang akan membawa manusia pada transformasi
kesadaran, yang pada akhirnya berkembang sebagai sebuah gerak
dialektika. Bagi seorang perupa, misalnya, karya seni akan dilihat dari sisi
kaidah kesenirupaannya dengan segala aspek bentuk estetisnya. Telaah
teknis dan upaya apresiatifnya terhadap daya tampil lukisan akan
memperkaya vokabulari estetika kesenirupaan yang diperlukan bagi
pengembangan dan pemantapan karirnya sebagai seorang senirupawan.
Tidak tertutup kemungkinan bahwa tampilan karya seni tersebut dapat
memberikan masukan yang dapat menstimulir ide penciptaan karya seninya
sendiri.
Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang
yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang
diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir,
bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan
norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada
orang lain. Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkan karakter
masyarakat dan karakter bangsa. Oleh karena itu, pengembangan karakter
bangsa hanya dapat dilakukan melalui pengembangan karakter individu
32


32
seseorang. Akan tetapi, karena manusia hidup dalam ligkungan sosial dan
budaya tertentu, maka pengembangan karakter individu seseorang hanya
dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang bersangkutan
10
.
Nilai karakter sebuah karya seni dapat dilihat dari faktor tampil eksistensi
fisiknya baik itu yang bersifat karya seni yang diciptakan untuk meruang
(spatial arts) maupun yang mewaktu (timely arts). Ataupun karya seni
yang merupakan kombinasi keduanya yang dalam kehadirannya
memerlukan ruang dan waktu. Dalam hal ini karakter karya seninya
terindikasikan dari sisi bentuk (physical forms) yang terukur karena standar
ukuran yang digunakan (sizes, volumes) maupun kondisi dan durasi waktu
tampil yang diperlukan. Dengan demikian dapat juga diamati karakter
karya seni yang berbeda tidak saja karena ruang yang diperlukan untuk
mengada itu berbeda, tetapi juga karena waktu yang diperlukannya juga
berbeda durasinya. Maka secara kontekstual seni akan memberikan ruang
kesadaran baru tentang idealisme kehidupan, baik bagi penciptanya
maupun penikmat seni, baik bagi individual maupun kelompok, baik bagi
rakyat maupun penguasa. Semakin kuat seseorang memiliki dasar
pertimbangan, semakin kuat pula kecenderungan untuk tumbuh dan
berkembang menjadi warga negara yang baik. Pada titik kulminasinya,
norma dan nilai seni secara kolektif pada tingkat makro akan menjadi
norma dan nilai budaya bangsa.

C. Kesimpulan
Dari yang uraian di atas setidaknya menunjukkan bahwa kehadiran
seni memberi peran dan pengaruh cukup kuat dalam kehidupan manusia,
masyarakat dan bangsa. Seni yang didalamnya mengandung butiran-butiran
keindahan dan keselarasan harmoni haruslah mengutamakan pesan
kebajikan dan mengajarkan kearifan-kearifan pada hidup manusia. Di sini
sebagai refleksi ilmu pengetahuan seni juga tak luput dari pemahaman-
pemahaman yang menyangkut ungkapan perasaan, alam pikiran dan
kesadaran manusia akan realitas sosial dan nilai-nilai kehidupan.
Jadi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus pula
diimbangi dengan pendidikan seni secara dini sebagai pembentuk pribadi
anak didik yang berkarakter. Ilmu Pengetahuan tanpa seni akan mudah
tergelincir kedalam kehidupan duniawi semata yang mengabaikan nilai-
nilai estetika dan moral.

10
Kementerian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat
Kurikulum. 2010. Bahan Pelatihan: Penguatan Metodologi Pebelajaran Berdasarkan
Nilai-nilai Budaya Untuk Membentuk Dasa Saing dan Karakter Bangsa, hal. 3-4
33


33
Tetapi sebagai media pendidikan seni harus dijauhkan dari karya seni
yang melemahkan jiwa serta mudah menimbulkan hasrat nafsu buruk. Seni
adalah sarana yang berharga bagi prestasi kehidupan dan pembinaan
martabat manusia. Keberadaan seni justru harus ditempatkan sebagai nurani
terdalam bangsa. Di sini posisi seniman dan aktivis dunia seni memiliki
kekuatan sangatlah besar yang dapat mengangkat derajat bangsanya, dan
mengantarkan ke arah kebesaran demi kebesaran yang lebih tinggi. Untuk
itu, seorang seniman dan aktivis dunia seni seharusnya menjadi pelopor
suatu fajar kebangkitan, dan menjadi rahmat bagi kemanusiaan dan alam.


DAFTAR PUSTAKA

Ali, Usman. 2006. Kebebasan Dalam Perbincangan Filsafat, Pendidikan
dan Agama. Yogyakarta.Pilar Media.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Arini, Sri Hermawati Dwi,Dkk. 2008. Seni Budaya SMK. Diterbitkan oleh
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Departemen
Pendidikan Nasional.
Bangun, Sem.C. 1997. Aplikasi Estetika Dalam Seni Rupa. Jakarta: Fakulas
Pendidikan Bahasa dan Seni Institut Keguruan dan Ilmu
Pendidikan.
Bungin, Burhan. 2006. Analisis Data Penelitian Kualitatif: Pemahaman
Filosofis dan Metodelogis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi.
Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Cavallaro, Dani. 2004. Teori Kritis dan Teori Budaya. Yogyakarta.
Niagara.
CHUA, Y. P. 1988. Penilaian guru pendidikan seni terhadap kreativiti
catan pelajar. Thesis Master, Universiti Putra Malaysia, Serdang.
Dwi Kusumawardani. 2005. Metode Pengembangan Seni.
Jakarta:Universitas Terbuka.
Ganda, Prawira, N., (ed.), 2005, Seni Rupa dan Kerajinan, Buku Ajar
mahasiswa PGSD/PGTK, Guru SD/TK, Bandung, Jurusan
Pendidikan Seni Rupa Universitas Pendidikan Indonesia.
Jacob Sumarjo. 2000. Filsafat Seni. Bandung : IBT Bandung.
Kementerian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan
Pusat Kurikulum. 2010. Bahan Pelatihan: Penguatan Metodologi
Pebelajaran Berdasarkan Nilai-nilai Budaya Untuk Membentuk
Dasa Saing dan Karakter Bangsa.
34


34
Koentjaraningrat. 1974. Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan.
Jakarta: Gramedia.
Koentjaraningrat.1985. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.
Langer, Zussane. 1988. Problematika seni. Terjemahan FX Widaryanto.
Bandung; ISI Bandung.
Lowenfeld, Victor, (1982), Creative and Mental Growth, New York:
McMillan.
Masinambouw. EKM. 2010. Koentjaraningrat Dan Antropologi Di
Indonesia . Jakarta. Yayasan Obor.
Munandar, Utami. 1996. Mengembangkan bakat dan kreativitas anak
sekolah. Petunjuk bagi para guru dan orang tua. Jakarta : Gramedia
Widiasarana Indonesia Jakarta.
Ratna, Kutha. N. 2007. Estetika Sastra dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Ratna, Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra: dari
Strukturalisme hingga Potstrukturalisme, Perspektif Wacana
NAratif. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
________, 2005. Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan
Fakta. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rizali, Nanang. 2000. Perwujudan Tekstil Tradisional Indonesia; Kajian
Makna Simbolik Ragam Hias Bati yang Bernafaskan Islam pada
Etnik Melayu, Sunda, Jawa dan Madura. Abstrak Disertasi. ITB
Bandung.
Sachari, Agus. 2004. Seni rupa dan desain : membangun kreativitas
dankompetensi. Jakarta : Erlangga Penerbit.
Sahman, Humar.1993.Mengenali Dunia Seni Rupa, Tentang Seni, Karya
Seni, Aktivitas Kreatif, Apresiasi, Kritik dan Estetika, IKIP
Semarang Press, Semarang,
Soedjono, Soeprapto. 2011. Kesenian Berkarakter dalam Wahana
Multidisiplin. Makalah Kuliah Umum Mahasiswa Baru Tahun
Akademik 2011/2012 Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Soedarso, Sp., 2006. Trilogi Seni: Penciptaan, Eksistensi, dan Kegunaan
Seni. Yogyakarta: BP.ISI Yogyakarta.
Subiyantoro, Slamet. 2010. Antropologi Seni Rupa. Teori, Metode &
Contoh Telaah Kritis. Surakarta:UNS Press.
Tabrani, Primadi. 1995.belajar dari Sejarah dan Lingkungan. Sebuah
Renungan mengenai wawasan Kebangsaan dan dampak
Globalisasi. Bandung: ITB.
Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional. Pemerintah Republik Indonesia.
35

35
IMPLEMENTASI DESAIN TOTAL QUALITY MANAGEMENT
(TQM) PENDIDIKAN TINGGI
Oleh : Ahmad Hamid
1


ABSTRAK

Dalam rangka peningkatan pelayanan terhadap kepuasan pelanggan di
perguruan tinggi (mahasiswa). Total Quality Management (TQM) sebagai
suatu pendekatan dalam menjalankan usaha untuk mencoba
memaksimalkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus-menerus
atas produk jasa, manusia, proses dan lingkungannya. Karena itu, Total
Quality Management (TQM) memiliki beberapa karakteristik : (1) fokus
pada pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal, memiliki obsesi
yang tinggi terhadap kualitas, mengggunakan pendekatan ilmiah dalam
pengambilan keputusan dan pemecahan masalah, memiliki komitmen
jangka panjang, membutuhkan kerja sama tim (teamwork), memperbaiki
proses secara berkesinambungan, menyelenggarakan pendidikan dan
pelatihan, memberikan kebebasan yang terkendali, memiliki kesatuan
tujuan, (2) adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan.
Inti dari Total Quality Management (TQM), sebagai berikut: (1),
Fokus untuk memberikan kepuasan pelanggan, dengan jaminan kualitas
tidak hanya bermakna kesesuaian dengan spesifikasi-spesifikasi tertentu,
tetapi kualitas itu ditentukan oleh pelanggan (internal maupun eksternal).
Kepuasan pelanggan harus dipenuhi dalam segala aspek, termasuk harga,
keamanan, dan ketepatan waktu. (2), respek terhadap setiap orang, setiap
karyawan dipandang sebagai individu yang memiliki talenta dan kreatifitas
tersendiri yang unik, dengan begitu, setiap karyawan dipandang sebagai
sumber daya organisasi yang paling bernilai. Karena itu, setiap karyawan
dalam organisasi diperlakukan secara baik dan diberi kesempatan untuk
mengembangkan diri, berbartisipasi dalam tim pengambilan keputusan. (3),
Manajemen berdasarkan fakta. Organisasi berorientasi pada fakta. Artinya
bahwa setiap keputusan organisasi harus didasarkan pada data, bukan pada
perasaan (feeling)

Kata Kunci : TQM, Pendidikan Tinggi
A. Pendahuluan

1
Ahmad Hamid adalah Alumnus Pascasarjana Program Manajemen Pendidikan
Tinggi Universitas Negeri Jakarta (PPs UNJ) lulus tahun 2010 dan Ketua Yayasan
Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Keluarga Indonesia (LP2SDKI)
36

Pendidikan Tinggi di Era Perdagangan babas semakin perlu di fahami
oleh karena negara-negara yang tergabung dalam anggota World Trade
Organization (WTO), yaitu Organisasi Perdagangan Dunia yang telah
menandatangani, General Agreement on Trade Services (GATS) semua
anggota berkewajiban menghormati dan tunduk pada perjanjian
internasional. Indonesia sejak 1994 telah menjadi anggota WTO, dengan
diratifikasinya semua perjanjian-perjanjian perdagangan multilateral
menjadi UU No. 7 tahun 1994, perjanjian tersebut mengatur tata
perdaganagn barang, jasa dan trade related intellectual property rights
(TRIPS) atau hak atas kepemilikan intelektual yang terkait dalam
perdagangan dalam bidang jasa yang masuk sebagai obyek pengaturan
adalah semua jasa kecuali jasa non komersial atau tidak bersaing dengan
penyedia perdagangan jasa lainnya. liberalisasi perdagangan 12 sektor jasa,
yang mengharuskan dibukanya jasa pelayanan publik termasuk jasa, antara
lain layanan kesehatan, teknologi informasi dan komunikasi, jasa
akuntansi, serta jasa pendidikan khususnya pendidikan tinggi. Ruang
lingkup standar perdagangan jasa di bidang pendidikan tinggi menurut
kerangka WTO, adalah salah satunya penerapkan, ISO 9000- 2001),
sebagai dasar standar kualitas manajemen dalam sistem Total Quality
Management (TQM), yang paling diakui oleh dunia internasional, terbukti
memiliki pengaruh yang baik untuk lebih berkembang kearah lebih positif
terhadap implementasi faktor-faktor pendukung menejemen pendidikan
tinggi. Dalam kaitannya dengan hal itu menurut perjanjian World Trade
Organization (WTO), jasa pendidikan tinggi, telah mengidentifikasi empat
mode sebagai berikut: (1) Cross-border supply, institusi pendidikan tinggi
luar negeri menawarkan kuliah-kuliah melalui internet dan online degree
program. (2) Consumtion abroad, adalah bentuk penyediaan jasa
pendidikan tinggi yang paling dominan, mahasiswa belajar di perguruan
tinggi laur negeri, (3) Commercial presence, atau kehadiran perguruan
tinggi luar negeri dengan membentuk partnership, subsidiary, twinning
arrangement dengan perguruan tinggi lokal, (4) Presence of natural
persons, dosen atau pengajar asing mengajar pada lembaga pendidikan
tinggi lokal.

B. Pembahasan
1. Makna Total Quality Management (TQM)
Pengertian kulitas terpadu seperti di atas, memberikan kerangka yang
jelas bahwa hakekat Total Quality Management (TQM) atau manajemen
kualitas terpadu sebenarnya adalah filosofi dan budaya (kerja) organisasi
(phylosopy of management) yang berorentasi pada kualitas. Tujuan (goal)
37

yang akan dicapai dalam organisasi dengan budaya TQM adalah memenuhi
atau bahkan melebihi apa yang dibutuhkan (needs) dan yang diharapkan
atau diinginkan (desire) oleh pelanggan. TQM dapat diartikan sebagai
pengelolaan kualitas semua komponen (stakehorder) yang berkepentingan
dengan visi dan misi organisasi. Jadi, pada dasarnya TQM itu bukanlah
pembebanan ataupun pemeriksaan. Tetapi, TQM adalah lebih dari usaha
untuk melakukan sesuatu yang benar setiap waktu, daripada melakukan
pemeriksaan (cheking) pada waktu tertentu ketika terjadi kesalahan. TQM
bukan bekerja untuk agenda orang lain, walaupun agenda itu dikhususkan
untuk pelanggan (customer) dan klien. Demikian juga, TQM bukan
sesuatu yang diperuntukkan bagi menajer senior dan kemudian
melewatkan tujuan yang telah dirumuskan Total dalam TQM adalah
pelibatan semua komponen organisasi yang berlangsung secara terus-
menerus.
2
Sementara manajemen di dalam TQM berarti pengelolaan
setiap orang yang berada di dalam organisasi, apapun status, posisi atau
perannya. Mereka semua adalah manajer dari tanggung jawab yang
dimilikinya
.
Senada dengan pengertian ini, Lesley dan Malcolm menyatakan
bahwa dalam Total Quallity Management (TQM), maka semua fungsionaris
organisasi, tanpa kecuali dituntut memiliki tiga kemampuan, yaitu :
Pertama, mengerjakan hal-hal yang benar. Ini berarti bahwa hanya kegiatan
yang menunjang bisnis demi memuaskan kebutuhan pelanggan yang dapat
diterima. Kegiatan yang tidak perlu maka jangan dilanjutkan lagi. Kedua,
mengerjakan hal-hal dengan benar. Ini berarti bahwa semua kegiatan harus
dijalankan dengan benar, sehingga hasil kegiatan tersebut sesuai dengan
kebutuhan pelanggan. Ketiga, mengerjakan hal-hal dengan benar sejak
pertama kali setiap waktu.


Singapore Airlines, mendefinisikan bahwa Total Quality
Management (TQM), adalah pendekatan manajemen sebuah organisasi,
yang berpusat pada mutu, berdasarkan pada partisipasi semua anggotanya
dan bertujuan sukses jangka panjang melelui keputusan pelanggan, serta
keuntungan bagi anggota organisasi dan masyarakat.
3
Dalam Buku Total
Quality Management in Government (1993), Cohen, berpendapat TQM
sebagai berikut : (1).Total menunjukkan pengertian mutu untuk setiap aspek
kerja, mulai dari mengidentifikasi apakah pelanggan itu puas. (2)Quality
berarti memenuhi dan melempui harapan pelanggan.(3). Management
berarti mengembangkan dan memelihara kemampuan organisasi untuk

2
Sarah Cook Customer care Excellence, terjemahan Kemas Ahmad (Jakarta: PPM
2004), hlm. 27
3
Hang Zeph , Yun, The Quest Global Quality Singapure Airlines(Jarkata, Pustaka
1998), hlm. 2
38

terus-menerus meningkatkan mutu 8402 (Quality Vocabulary)
mendefenisikan Total Quality Management (TQM), sebagai semua
aktivitas dari fungsi menejemen secara keseluruhan yang menentukan
kebijaksanaan kualitas, tujuan-tujuan dan tanggung jawab, serta
mengimplementasikannya melalui alat-alat seperti (1). Perencanaan kualitas
(qulity Plenning), (2). Pengendalian kualitas (Quality Control),(3). Jaminan
kualitas (Quality Assurance), dan (4). peningkatan kualitas (Quality
Improvement).
Selanjutnya Total Qualiti Menagement (TQM) yang diterapkan pada
Departemen Pertahanan Amerika Serikat (The. U.S. Departement of
Defense), di jelaskan bahwa, sekumpulan petunjuk prinsip prinsip yang
menjadi landasan untuk perbaikan terus- menerus dari suatu organisasi
penerapan metode-metode kuantitatif dan sumber daya manusia untuk
meningkatkan kualitas material dan pelayanan yang dipasok pada suatu
organisasi. Goetsch dan Davis memberikan beberapa karakteristik
manajemen kualitas : 1) komitmen total pada peningkatan nilai secara
kontinyu terhadap customer, investor dan tenaga (staf), 2)lembaga
memahami dorongan pasar yang mengartikan kualitas bukan atas dasar
kepentingan organisasi tetapi kepentingan customer, dan 3) komitmen untuk
memimpin orang dengan perbaikan dan komunikasi terus-menerus.
4

Prinsipnya, Total Quality Management (TQM) adalah suatu
pendekatan dalam menjalankan usaha untuk mencoba memaksimalkan
daya saing organisasi melalui perbaikan terus-menerus atas produk jasa,
manusia, proses dan lingkungannya. Karena itu, Total Quality Management
(TQM) memiliki beberapa karakteristik : (1) fokus pada pelanggan, baik
pelanggan internal maupun eksternal, memiliki obsesi yang tinggi terhadap
kualitas, mengggunakan pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan
dan pemecahan masalah, memiliki komitmen jangka panjang,
membutuhkan kerja sama tim (teamwork), memperbaiki proses secara
berkesinambungan, menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan,
memberikan kebebasan yang terkendali, memiliki kesatuan tujuan, (2)
adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan.
5

Prinsip dan unsur pokok ini dalam Total Quality Management (TQM),
sebagai berikut: (1), Fokus untuk memberikan kepuasan pelanggan, dengan
jaminan kualitas tidak hanya bermakna kesesuaian dengan spesifikasi-
spesifikasi tertentu, tetapi kualitas itu ditentukan oleh pelanggan (internal

4
Soewarso Hardjosoedarmo, Total Quality management, (Yogyakarta: Andi 2004),
hlm. 17
5
TheTom Peter, Crazy Time Call For Crazy Organizations(Jakarta, Delapratasa
19996), hlm.209
39

39
maupun eksternal). Kepuasan pelanggan harus dipenuhi dalam segala aspek,
termasuk harga, keamanan, dan ketepatan waktu. (2), respek terhadap setiap
orang, setiap karyawan dipandang sebagai individu yang memiliki talenta
dan kreatifitas tersendiri yang unik, dengan begitu, setiap karyawan
dipandang sebagai sumber daya organisasi yang paling bernilai. Karena itu,
setiap karyawan dalam organisasi diperlakukan secara baik dan diberi
kesempatan untuk mengembangkan diri, berbartisipasi dalam tim
pengambilan keputusan. (3), Manajemen berdasarkan fakta. Organisasi
berorientasi pada fakta. Artinya bahwa setiap keputusan organisasi harus
didasarkan pada data, bukan pada perasaan (feeling)

2. Total Quality Management (TQM) Pendidikan Tinggi
Bersamaan dengan perkembangan masyarakat yang kian
kompetitif, organisasi pendidikan tinggi harus mampu memberikan hasil
pruduk yang berkualitas. Pruduk organisasi pendidikan tinggi utamanya
berbentuk jasa. Dalam konteks ini, jasa sebagai produk layanan dalam
organisasi pendidikan tinggi yang memenuhi kualitas dapat dilihat dari
beberapa aspek berikut :
a) komunikasi (communication, yaitu komunikasi antara penerima jasa
dengan pemberi jasa, kredibilitas (credibility), yaitu kepercayaan pihak
penerima jasa terhadap pemberi jasa, keamanan (security), yaitu
keamanan terhadap jasa yang ditawarkan, pengetahuan kustomer
(knowing the customer), yaitu pengertian dari pihak pemberi jasa pada
penerima jasa atau pemahaman pemberi jasa terhadap kebutuhan dan
harapan pemakai jasa.
b) standar (tangibles), yaitu bahwa dalam memberikan pelayanan kepada
kustomer harus dapat diukur atau dibuat standarnya, reliabilitas
(realiability), yaitu konsistensi kerja pemberi jasa dan kemampuan
pemberi jasa dalam memenuhi janji para penerima jasa, tanggapan
(responsivenerss), yaitu tanggapan pemberi jasa terhadap kebutuhan
dan harapan penerima jasa, kompetensi (competence), yaitu
kemampuan atau keterampilan pemberi jasa yang dibutuhkan setiap
orang dalam organisasi untuk memberikan jasanya kepada penerima
jasa.
c) akses (access), yaitu kemudahan pemberi jasa untuk dihubungi oleh
pihak penerima jasa, tata krama (courtesy), yaitu kesopanan, espek,
perhatian, dan kesamaan dalam hubungan personel.

Sementara itu, kualitas jasa juga memiliki beberapa sifat atau
karakteristik, antara lain; 1) subyektif, 2) umumnya berukuran afektif, 3)
40

40
mengutamakan kepemerhatian, 4) terdiri dari non-materi bisa berupa
reputasi, sikap, tata krama, dan lain-lain, 5) tidak dapat dihitung secara
kuantitatif, tetapi hanya bisa diyakini, dipercaya dan sebagainya.
Menejemen Pendidikan tinggi seyogianya memahami pula perkembangan
manajemen sistem industri modern, sehingga mampu mendesain,
menerapkan, mengendalikan, dan meningkatkan kinerja sistem pendidikan
tinggi untuk memenuhi kebutuhan manajemen sistem industri modern.
Hal ini dimaksudkan agar setiap lulusan dari perguruan tinggi mampu dan
cepat beradaptasi dengan kebutuhan sistem industri modern. Dengan
demikian sebelum membahas tentang sistem pendidikan tinggi, perlu
diketahui tentang konsep dasar sistem industri modern yang akan
dipergunakan sebagai landasan utama untuk membahas penerapan TQM
pada sistem pendidikan tinggi modern. Ada dasarnya proses industri harus
dipandang sebagai suatu peningkatan terus-menerus (continuous industrial
process improvement), yang dimulai dari sederet siklus sejak adanya ide-ide
untuk menghasilkan suatu produk, pengembangan produk, proses produksi,
sampai distribusi kepada konsumen. Seterusnya, berdasarkan informasi
sebagai umpan-balik yang dikumpulkan dari pengguna produk (pelanggan)
itu dapat dikembangkan ide-ide kreatif untuk menciptakan produk baru atau
memperbaiki produk lama beserta proses produksi yang ada saat ini.
Demikian pula pendidikan tinggi mampu mengembangkan kreativitas ilmu
pengetahuan yang dimiliki agar lulusannya dapat di serap oleh pemakai
lulusan perguruan tinggi. Institusi yang efektif memerlukan strategi yang
kuat dengan maksud untuk menghadapi suasana kompetitif dan orientasi
dimasa depan. Untuk menjadi efektif didalam masa sekarang, intitusi
memerlukan proses pengembangan strategi kualitas, antara lain : Yang di
maksuadkan oleh Sallis: bahwa Total Quality Management (TQM)
education, adalah suatu makna dan standar kualitas dalam pendidikan
tinggi, ia memberikan suatu filosofi perangkat alat untuk memperbaiki
kualitas. Ia dicapai dangan ide sentral yang diwujudkan dalam bentuk
pelaksanaan,
6
. Maksudnya bahwa bentuk pelaksanaan dalam prinsip dasar
TQM, adalah pelanggan mempunyai kepentingan harus diutamakan
dengan komitmen yang tinggi. Kepemimpinan pendidikan tinggi (Rektor)
dan komitmen terhadap kualitas harus datang dari atas Hukum besi dari
kualitas. Semua model kualitas menekankan bahwa tanpa dorongan dari
pimpinan pendidikan tinggi inisiatif kualitas tidak akan berlangsung lama.
Pendidikan tinggi tidak terkecuali belaku juga hukum besi harus
menunjukkan komitmen yang kuat dan terus-menerus dan memimpin jalan

6
Vincent Gaspersz, Organizational Excellence, (Jakarta, Gramedia 2007), hlm. 25
41

41
sambil mendorong , staf pimpinan, karyawan dan dosen untuk melakukan
usaha secara serius. Menyenangkan kustomer Ini dicapai dengan kerja
keras secara kontinyu untuk memenuhi kebutuhan dan harapan kustomer.
7

Berdasarkan pada Implementasi Total Quality Management (TQM)
dapat diartikan sebagai suatu pendekatan dalam menjalankan usaha di
bidang produksi maupun jasa pendidikan khususnya pendidikan tinggi yang
mencoba untuk memaksimalkan daya saing organisasi melalui perbaikan
terus-menerus yaitu : (1). Fokus pada pelanggan, (2), Obsesi terhadap
kualitas, (3), Pendekatan ilmiah, (4). Komitmen Jangka panjang, (5), Kerja
sama Tim (Team work) (6), Perbaikan sistem secara berkesenambungan (7),
Pendidikan dan Pelatihan (8), Kebabasan yang Terkendali, (9), Kesatuan
tujuan, (10). Adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan.
8
Pada
konsep manajemen sistem industri modern, maka setiap lulusan perguruan
tinggi yang akan bekerja dalam sistem industri harus memiliki kemampuan
solusi masalah-masalah industri yang berkaitan dengan bidang ilmu yang
dikuasainya berdasarkan informasi yang relevan agar menghasilkan
keputusan dan tindakan untuk meningkatkan kinerja, mengidentifikasi
delapan kategori yang dibutuhkan dari lulusan perguruan tinggi sehingga
dapat memenuhi permintaan bisnis dan industri, yaitu:
(1). berorientasi pada pelanggan, (2) memiliki pengetahuan praktis dan
aplikasi alat-alat total quality management (TQM), (3) mampu membuat
keputusan berdasarkan fakta, (4) memiliki pemahaman bahwa bekerja
adalah suatu proses, (5) berorientasi pada kelompok (teamwork), (6)
memiliki komitmen untuk peningkatan terus-menerus, (7) pembelajaran
aktif (active learning), dan (8) memiliki perspektif sistem.
Berdasarkan kenyataan itu Kondisi suatu negara dimasa akan datang,
sebenarnya dapat diukur dari bagaimana wajah pendidikan tingginya saat
ini. Karena tidak akan mungkin kita berharap kepada orang-orang yang
tidak berpendidikan tinggi mengelola sebuah perubahan kearah kemajuan
bangsa, tetapi tentunya berharap pada orang-orang yang telah ditempa
dalam sebuah labolatorium pendidikan (Perguruan Tinggi) dan memiliki
karakter pembaharu, berbudaya intelektual,.


Tabel 1


7
Sarah Cook Customer care Excellence, op. cit. hlm. 45
8
Dewan Produktivetas Nasional, KeberhasilanPerusahaan, Bank&Manajemen,
(Mendiknas, 2001, hlm. 287
42

42
Kesenjangan Lulusan Perguruan Tinggi dengan Kebutuhan Industri
Lulusan Perguruan Tinggi

Kebutuhan Industri

Hanya memahami teori
Memiliki keterampilan
individual
Motivasi belajar hanya
untuk lulus ujian
Hanya berorientasi pada
pencapaian grade atau
nilai tertentu (pembatasan
target)
Orientasi belajar hanya
pada mata kuliah
individual secara terpisah


Proses belajar bersifat
pasif, hanya menerima
informasi dari dosen


Kemampuan solusi masalah
berdasarkan konsep ilmiah

Memiliki keterampilan kelompok
(teamwork)

Mempelajari bagaimana belajar
yang efektif

Berorientasi pada peningkatan
terus-menerus dengan tidak
dibatasi pada target tertentu saja.
Setiap target yang tercapai akan
terus-menerus ditingkatkan

Membutuhkan pengetahuan
terintegrasi antardisiplin ilmu
untuk solusi masalah industri
yang kompleks

Bekerja adalah suatu proses
berinteraksi dengan orang lain
dan memproses informasi secara
aktif

Pemenggunaan teknologi
merupakan bagian intintegral dari
proses belajar untuk solusi
masalah industri
Sumber: Spanbauer, 1992

Meminjam konsep berpikir manajemen sistem industri modern, maka
manajemen perguruan tinggi memandang bahwa Proses Pendidikan Tinggi
adalah suatu peningkatan kiualitas secara terus-menerus (continuous
educational process improvement), untuk menghasilkan lulusan (output)
yang berkualitas, pengembangan kurikulum, proses pembelajaran, dan ikut
bertanggung jawab untuk memuaskan pengguna lulusan perguruan tinggi
itu.

3. Desain TQM Pendidikan Tinggi
43

43
Dalam menerapkan Total Quality Management Pendidikan Tinggi
dipersepsikan sebagai industri jasa atau industri pelayanan, bukan sebagai
proses produksi. Setiap industri jasa/pelayanan pasti memiliki pelanggan
(customers). Pelanggan Pendidikan Tinggi adalah : a. Pelanggan
eksternal : Primer : Kelompok Sasaran Utama: Mahasiswa. Sekunder
: Masyarakat, Pemerintah, Orangtua mahasiswa Tersiar : Fihak lain yang
memanfaatkan hasil pendidikan tinggi. b. Pelanggan Internal :
Para dosen, Unsur-unsur Pimpinan, Pegawai Administrasi Pegawai
teknis. Total Quality Management (TQM) didesain untuk perguruan tinggi,
maka stakeholders dari perguruan tinggi harus memiliki kesamaan persepsi
tentang manajemen kualitas. Dalam konsep manajemen kualitas modern,
kualitas suatu perguruan tinggi antara lain ditentukan oleh kelengkapan
fasilitas atau reputasi institusional.
Agar pemahaman dan adopsi paradigma baru pada tabel 2 dapat
berhasil, maka dibutuhkan suatu sistem pelatihan kepada pengelola
perguruan tinggi. Pelatihan Total Quality Management (TQM), yang
penting bagi pengelola perguruan tinggi ditunjukkan.

Tabel 3
Desain Sistem Pelatihan TQMPT bagi Pengelola Perguruan Tinggi
Jenis
Pelatihan
Waktu
Minim
um
Materi Pelatihan Peserta
1. Pelatihan
Manajemen
Puncak
36 jam Manajemen Proses,
Statistical Thinking,
Pelayanan Pelanggan,
Pembentukan
Kelompok, dan Solusi
Masalah
Rektor, Pembantu
Rektor, Dekan,
Pembantu Dekan,
dan Ketua Jurusan/
Departemen
2. Pelatihan
Dosen
36 jam Efektivitas dan Metode
Pengajaran, Statistical
Thinking, Pelayanan
Pelanggan,
Pembentukan
Kelompok, dan Solusi
Masalah
Dosen Tetap, Dosen
Tidak Tetap, dan
Asisten Dosen
44

44
3. Pelatihan
Staf
Pendukung
36 jam Pelayanan Pelanggan,
Pembentukan
Kelompok, Solusi
Masalah, Manajemen
Waktu, Keterampilan
Bertelepon, dan
Pengendalian Diri
Semua Staf
Pendukung

Setelah memperoleh pelatihan dan siap menerima paradigma baru
tentang manajemen perguruan tinggi yang berorientasi pada peningkatan
kualitas dan kepuasan pelanggan, maka sistem TQM secara lengkap dapat
didesain, diimplementasikan, dan ditingkatkan terus-menerus pada
perguruan tinggi.
Penerapan total quality management in education (TQME) pada
pendidikan tinggi harus dijalankan atas dasar pengertian dan tanggung
jawab bersama untuk mengutamakan efisiensi pendidikan tinggi dan
peningkatan kualitas dari proses pendidikan tinggi. Melalui penerapan TQM
dalam sistem pendidikan tinggi yang dijalankan secara terus-menerus dan
konsisten, maka perguruan tinggi akan mampu memenangkan persaingan
global yang amat sangat kompetitif dan memperoleh manfaat (ekonomis
maupun nonekonomis) yang dapat dipergunakan untuk pengembangan
perguruan tinggi dan peningkatan kesejahteraan personel yang terlibat di
perguruan tinggi itu. Upaya ini juga akan mengurangi kesenjangan persepsi
yang terjadi antara perguruan tinggi dan industri. Untuk itu, perlu
direnungkan secara mendalam, mengapa Setelah memperoleh pelatihan
dan siap menerima paradigma baru tentang manajemen pendidikan tinggi
yang berorientasi pada peningkatan kualitas dan kepuasan pelanggan, maka
sistem TQM Pendidikan tinggi secara lengkap dapat didesain,
diimplementasikan dan ditingkatkan terus-menerus pada perguruan tinggi.

4. Pelayanan Pelanggan (Customer Service)
Pelanggan adalah semua orang yang berada dalam sebuah organisasi
kelembagaan baik dalam dunia bisnis maupun di lingkungan pendidikan.
Sesuai dengan bahasan ini adalah berfokus pada dunia pendidikan
khususnya di perguruan tinggi. Pelanggan akan memberikan pengaruh pada
perfomasi untuk meningkatkan kualitas sehingga pada akhirnya adanya
kepuasan yang dimiliki oleh mereka (pelanggan). Pelanggan dapat
dibedakan menjadi pelanggan dalam (internal customer), dan pelanggan
luar (external customer), pelanggan dalam adalah pengelola institusi
45

45
pendidikan itu sendiri, misalnya , pimpinan, staf pimpinan, karyawan dan
penyelenggara institusi pendidikan. Sedangkan yang termasuk pelanggan
luar adalah mahasiswa, masyarakat, pemerintah dan dunia industri. Jadi
suatu institusi pendidikan tinggi disebut berkualitas apabila terjalin
hubungan yang baik antara pelanggan internal dengan pelanggan external
dengan baik dengan menggunakan konsep Total Quality Management.
(TQM).
Menurut Bean, Freeport dan Maine, yang dikutip oleh Nasution,
memberikan pengertian pelanggan adalah: pertama, orang yang tidak
tergantung pada kita, tetapi kita yang bergantung padanya. Kedua,
pelanggan adalah orang yang membawa kita kepada apa keinginannya.
Ketiga, tidak ada seorangpun yang pernah menang beradu argumentasi
dengan pelanggan. Dan keempat, pelanggan adalah orang yang teramat
penting yang harus dipuaskan.
9
Menurut Christopher, sistem manajemen
diorganisir untuk menyediakan hubungan pelayanan yang
berkesenambungan antara waktu pemesanan dan waktu barang atau jasa itu
diterima dan digunakan, dengan tujuan memuaskan kebutuhan pelanggan
dalam jangka panjang. Lebih lanjut dikatakan oleh Yun, Yong dan Loh,
bahwa dalam critical quality factor dari pelayanan pelanggan meliputi
pertama, apa yang perlu dilakukan untuk bersaing dalam menawarkan
pelayanan bermutu, critical quality factor dari komponen pelayanan
perioritas yang membawa keberhasilan usaha.
Pelayanan pelanggan merupakan salah satu penghubung aktivitas
dalam manajemen mutu tepadu. Pelayanan pelanggan adalah penghubung
pertama dalam rantai aktivitas untuk manajemen mutu terpadu yang akan
datang pada tingkat yang lebih tinggi. Kemudian menurut Drucker bahwa
hanya ada satu pengertian, yang sahih dari tujuan bisnis, yaitu
menciptakan pelanggan. lebih lanjut ia mengatakan bahwa kemampuan
sebuah organisasi untuk tetap berada dalam bisnis merupakan sebuah fungsi
daya saing dan kemampuan organisasi untuk mendapatkan pelanggang.
Pelanggan merupakan fondasi bisnis dan merekalah yang membuat bisnis
tetap ada. :
Dari gambar di atas dapat dipahami bahwa persepsi atas pelayanan
dan harapan yang diterima oleh pelanggan tergantung pada harapan-harapan
mereka. Jika perlakuan yang diterima pelanggan baik ketimbang yang
diharapkan maka hal tersebut dianggap merupakan yang bermutu tinggi.
Jika perlakuan yang diterima pelanggan kurang yang diharapkannya maka

9
Dodi Nandila, Soekartawi, Ronyrahman Noor, Komang G, Universitas, Riset dan
Daya Saing Bangsa,(Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2006), hlm. 6.
46

akan disebut sebagai pelanggan yang buruk. Untuk memberikan pelayanan
yang bermutu tinggi, sebuah organisasi harus memberikan sesuatu yang
melebihi apa yang diharapkan pelanggan. Berbagai studi menunjukkan
bahwa harapan pelanggan sering kali dapat dikondisikan oleh pemberi
layanan itu sendiri. Faktor penting dalam memberikan pelayanan yang baik
adalah selalu menjaga janji dan tidak memberikan jaminan untuk sesuatu
yang tidak dapat diberikan. Untuk memberikan pelayanan yang prima,
sebuah organisasi perlu sedikit janji, banyak bukti. Dari uraian di atas
dapat disimpulkan bahwa bahwa pelayanan pelanggan adalah penyediaan
tenaga kerja untuk meningkatkan sumber daya manusia, manfaat, harapan,
kualitas, kepuasan , mempunyai jangka waktu panjang yang diterima oleh
pelanggan sebagai akibat dari adanya pembelian yang dilakukan dan dari
proses yang menuju tercapainya tujuan.
Kualitas di rancang atau didesain melelui pencegahan (Prevention ) :
(1) mengintegrasikan rantai pemasok-pelanggan (customer-supplier chain).
(2) Meningkatkan kualitas melalui system. (3) Proses Informasi Pelanggan
(Customer Information Pro csses). (4) Proses Kerja (Work Processes). (5)
Proses orang( People processes) Kualitas merupakan tanggung jawab setiap
orang dan merupakan sikap hidup (way of life
)



Daftar Pustaka

Dewan Produktivetas Nasional, KeberhasilanPerusahaan,
Bank&Manajemen , Mendiknas, 2001
Dodi Nandila, Soekartawi, RonyrahmanNoor, Komang G, Universitas,
Riset dan Daya Saing Bangsa. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2006
Hang Zeph , Yun, The Quest Global Quality Singapure Airlines. Jarkata,
Pustaka 1998.
Marshal Sashkin dan Kisser, Putting. england. 2003
Sarah Cook Customer care Excellence, terjemahan Kemas Ahmad . Jakarta:
PPM 2004,
Soewarso Hardjosoedarmo, Total Quality management, Yogyakarta: 2004
TheTom Peter, Crazy Time Call For Crazy Organizations. Jakarta,
Delapratasa 19996.
Vincent Gaspersz, Organizational Excellence, Jakarta, Gramedia 2007.

47



KEDUDUKAN SENI DALAM ISLAM
Oleh : Nanang Rizali



ABSTRAK
Pada dasarnya Islam adalah agama yang mengatur hubungan
manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan alam. Landasan
hukum yang dipakai adalah Al-Quran dan As-Sunnah disamping
Ijtihad. Sepanjang yang menyangkut kebudayaan dan kesenian dapat
berubah-ubah, sehingga kendala yang dihadapi pada umumnya dapat
diatasi setelah timbul permasalahan. Meskipun pada akhirnya antara
agama Islam dengan kebudayaan atau kesenian terjadi saling
berhubungan dalam berbagai kegiatan manusia. Dari hubungan tersebut
telah melahirkan semacam kebudayaan atau kesenian yang dijiwai dan
diwarnai oleh ajaran Islam. Kesenian atau seni adalah manifestasi dari
kebudayaan yang merupakan hasil karya cipta manusia. Secara garis
besar seni dapat dibedakan menjadi seni tari, seni musik, seni drama,
seni rupa, dan lain-lain. Pada awalnya bentuk kesenian Islam tidak
begitu jelas, tetapi akibat perpaduan beberapa kebudayaan Timur Tengah
di bawah naungan Islam. Selain adanya sikap toleransi kaum muslimin
terhadap karya seni pra Islam telah lahir karya seni hasil penyempurnaan
seni sebelumnya dengan konsepsi Islami. Adapun seni yang murni lahir
dari ajaran Islam adalah seni bangunan (masjid) dan seni tulis indah
(kaligrafi). Pada dasarnya Islam merestui setiap karya yang sejalan
dengan ajarannya, namun melarangnya jika menyimpang. Karya-karya
tersebut merupakan perantara pengungkapan pandangan hidup yang khas
sesuai dengan prespektif akan norma dan nilai-nilai keislaman.

Kata kunci : Seni, Islam, Nilai keislaman, Estetika, dan Kreatifitas.

A. Pendahuluan
Seni, sering ditafsirkan dengan arti yang berbeda-beda sehingga
mempunyai pengertian yang beragam dan berbagai pendapat. Pengertian

1
Nanang Rizali, Prof. Dr MSD. Lahir di Garut 9 Juli 1950, Guru Besar Seni Rupa
pada FSSR UNS, lulusan S1 Studio Desain Tekstil FTSP ITB, S2 Program Magister
Seni Rupa dan Desain PPs bidang Desain FSRD ITB, S3 Program Doktor PPs Ilmu
Seni Rupa FSRD ITB. Di samping sebagai dosen luar biasa, pembimbing Tesis
Program Magister Desain PPs USAKTI Jakarta, aktif meneliti dan menulis tentang
masalah-masalah kesenirupaan.
48



pokok yang umum dipakai dalam mengartikan seni di antaranya adalah
keindahan, ungkapan perasaan, imajinasi, estetis dan lain sebagainya.
Menurut American Heritage yang yang dikutip oleh Sudjoko (1988)
dijelaskan bahwa yang mutlak harus ada dalam seni adalah kecakapan,
kepandaian, keterampilan, keahlian, ketangkasan dan kemahiran. Di
samping perilaku yang indah, yaitu berarti elok, bagus, benar, mahal
harganya, oleh karena itu seni sangat sulit untuk dimasukkan kedalam
suatu batasan sebagaimana ilmu dan Agama tidak mudah didefinisikan
pada pengertian yang sederhana.
Sebagai salah satu unsur kebudayaan, seni merupakan fitrah
manusia yang di anugerahkan Allah SWT untuk suatu kegiatan yang
melibatkan kemampuan kreatif dalam mengungkapkan keindahan,
kebenaran dan kebaikan. Seni sebagai proses kreatif adalah ungkapan
(expression) dari suasana hati, perasaan dan jiwa
2
Suatu ungkapan yang
mempunyai arti dalam seni adalah ungkapan artistik yang berasal dari
kualitas citra jiwa atau intisari terdalam dari perasaan. Sebagai
kegiatan kreatif, seni sangat terbuka bagi berbagai penafsiran atau
kesalahpahaman, sehingga hampir tidak ada batasan yang cukup dapat
untuk memagnainya.
Salah satu pendapat menyatakan bahwa seni adalah keindahan, Ia
merupakan ekspresi ruh dan budaya manusia yang mengandung dan
megungkapkan keindahan. Ia lahir dari sisi terdalam manusia didorong
oleh kecenderungan seniman kepada yang indah apapun jenis keindahan
itu
3
. Pada dasarnya setiap karya seni merupakan perpaduan berbagai
unsur dan dibentuk oleh karakteristik-karakteristik tertentu. Suatu bentuk
seni yang dilandasi oleh hikmah atau kearifan dan sebuah spiritual tidak
hanya berkaitan dengan penampakan lahir semata (wujud), tetapi juga
relitas batinnya (makna).
Dalam kenyataannya seni adalah suatu kesatuan integral yang
terdiri dari empat komponen esensialnya, yaitu ; (1) dasar tujuan seni
(estetis, logis, etis, manfaat, ibadah), (2) cita cipta seni (konsep, gagasan,
wawasan, pndangan), (3) kerja cipta seni (proses kreatif, teknis
penciptaan), (4) karya seni (visualisasi, wujud, benda). Keempat
komponen tersebut berkesusaian dengan kategori-kategori integralis
seperti nilai-nilai, informasi, energi, dan materi. Pada hakekatnya seni

2
Rader, Melvin ; 1986, Art Modern Book of Esthetic, (diterjemahkan oleh
Yustiono). Bandung : Perpustakaan FSRD-ITB
3
Shihab, Quraish ; 1996, Wawasan Al-Quran, Bandung : Mizan
49



adalah dialog intersubjektif dan kosubjektif yang mewujud dalam
komponen seni. Hal tersebut mengisyaratkan adanya hubungan vertikal
dan horizontal, sedangkan dalam perspektif Islam dikenal dengan istilah
hablumminallah dan hablumminannas.

B. Seni dan Islam
Agama Islam tidak memberikan atau maenggariskan teori dan
ajaran yang rinci tentang seni dengan bentuk-bentuknya, sehingga belum
memiliki batasan tentang seni Islam yang diterima semua fihak.
Meskipun demikian Seyyed H. Nasr telah memberikan ciri-cirinya, yaitu
bahwa :
Seni Islam merupakan hasil dari pengejawantahan Keesaan pada
bidang keaneragaman yang merefleksikan Keesaan Illahi,
kebergantungan keanekaragaman kepada Tuhan YangMaha Esa,
kesementaraan dunia dan kualitas-kualitas positif dari eksistensi
kosmos atau makhlik sebagaiman difirmankan oleh Allah SWT
dalam Al-Quran (Nasr, 1993:18).

Pendapat tersebut hampir sama dengan toeri dari Ernst Diez yang
menyatakan tentang seni Islam atau seni yang Islami adalah seni yang
mengungkapkan sikap pengabdian kepada Allah. Kemudian M. Abdul
Jabbar Beg melengkapi pernyataan-pernyataan di atas dengan
pendapatnya bahwa suatu seni menjadi Islami, jika hasil seni itu
mengungkapkan pandangan hidup kaum Muslimin, yaitu konsep tauhid,
sedangkan seniman yang membuat obyek seninya tidak mesti seorang
Muslim
4
.
Di samping beberapa pendapat yang mencoba menggambarkan
tentang seni Islam, berikut akan dikemukakan pandangan dari M.
Quraish Shihab sebagai berikut:
Kesenian kesenian Islam tidak harus berbicara tentang Islam, ia
tidak harus berupa nasihat langsung, atau anjuran berbuat
kebajikan, bukan juga penampilan abstrak tentang akidah. Seni
yang Islami adalah seni yang dapat menggambarkan wujud ini,
dengan bahasa yang indah serta sesuai dengan cetusan fitrah.
Seni Islam adalah ekspresi tentang keindahan wujud dari sisi
pandngan Islam tentang Islam, hidup dan manusia yang mengantar

4
Beg. M. Abdul Jabbar (ed) ; 1981 (diterjemahkan oleh Yustiono dan Edi
Sutriyono), Seni dalam Peradaban Islam, Bandung: Pustaka.
50



menuju pertemuan sempurna antara kebenaran dan keindahan
(Shihab, 1996: 398).

Menurutnya, obyek dan cara penampilan seni dapat bebas, artinya
boleh menggambarkan kenyataan yang hidup dalam masyarakat dan
memadukannya dengan apa saja. Lapangan seni Islami adalah semua
wujud, tetapi seni yang ditampilkan tidak bertentangan dengan fitrah
atau pandangan Islam tentang wujud itu sendiri. Pada saat seni telah
berfungsi sebagai sarana dakwah Islamiyah dan bertujuan untuk
memperhalus budi, mengingatkan tentang jati diri manusia serta
menggambarkan baik atau buruknya suatu pengalaman, maka seni
tersebut merupakan seni yang bernafaskan Islam (Islami).
Seni Islam adalah seni yang dapat mengungkapkan keindahan dan
konsep tauhid sebagai esensi aqidah, tata nilai dan norma Islam, yaitu
menyampaikan pesan Keesaan Tuhan. Seni Islam diilhami oleh
spiritualitas Islam secara langsung, sedangkan wujudnya dibentuk
karakteristui-karakteristik tertentu. Seuatu bentuk seni yang dilandasi
oleh hikmah
5
atau kearifan dari spiritualitas atau kearifan dari
spiritualitas Islam tidak hanya berkaitan dengan penampakan lahir
semata (wujud), akan tetapi juga realitas batinnya (makna)
6
.
Hasil perwujudan seni Islam dibentuk oleh karakteristik tertentu,
di antaranya adalah estetika dan kreatifitas. Menurut penilaian Islam
bahwa segala bentuk seni selain merupakan karya Ibadah (pengabdian
kepada Allah) juga mengandung dan mengungkapkan keindahan.
Mengenai bagaimana tentang estetika Islami, Ismail R. Al-Faruqi dalam
bukunya The Cultural Atlas of Islam berpendapat :

5
hikmah bisanya diartikan sebagai kebijaksanaan dalam kaitan ini hikmah
berhubungan dengan kata haqq(hak)berarti penilaian yang benar atau hukm(hukum)
yang sesuai dengan hakikat atau situasi yang sebenarnya. (Ensiklopedi Islam, hal 113)

6
Islam yang berlandaskan hukum Illahi sangat berperan dalam menciptakan
lingkungan dan pengembangan seni atau kesenian. Pengaruh Islam dalam seni adalah
memberi latarbelakang sosial dalam membentuk jiwa seniman dengan mengilhaminya
sikap-sikap dan kebijakan-kebijakan yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah.
51



This orientation and goal of islamic aesthetics could not be
achieved through depction of man and nature. It could be
realized only through the contemplation of artistic creations that
would lead the partisipient to an intuition of the truth itself that
Allah is so other than His creation as to be unrepresentable and
inexpressible (Al-Faruqi, 1986: 163).

Estetika Islam tidak dapat dicapai melalui penggambaran manusia
dan alam. Hal itu hanya bisa disadari melalui perenungan terhadap kreasi
artistik yang akan mengarahkan pemerhati kepada suatu intuisi
kebenaran yang hakiki, bahwa Allah juga seluruh ciptaanNya sebagai
yang tidak tergambarkan dan terkatakan. Estetika yang islami merujuk
pada penilaian dan norma abadi dalam Al-Quran dan As-sunnah, karena
seni Islam pada satu segi dibatasi oleh nilai-nilai azasi, etis dan norma-
norma Illahi yang umum serta pada segi lain dibatasi oleh kedudukan
manusia sendiri sebagai abdi Allah.
Berbagai tantangan terhadap kreatifitas estetis telah dialami sejak
sejak awal perkembangan kesenian Islam. Pada mulanya seniman
muslim mengenal bahan, teknik dan motif dari para pendahulunya
seperti seni Byzantium atau Sassanide. Kemudian mereka
mengembangkannya sesuai dengan inspirasi yang tumbuh dari nilai-nilai
dan norma Islam. Mereka telah menemukan model baru yang diambil
dari budaya lokalnya yang disesuaikan dengan ajaran Islam dan
kesadarannya sebagai pribadi-pribadi muslim. Model ini telah ditetapkan
sebagai dasar kesatuan estetika dalam dunia Islam tanpa mengabaikan
keberagaman budaya lokal. Dalam kaitan ini pengertian estetika
nampaknya lebih ditekankan pada penghayatan kreasi budaya lokal
(local genius) yang bertentangan dengan nilai tauhid. Bukan berarti akal
pikirannya sudah lepas sama sekali, tetapi peranan hati nurani dan rohani
sebagai pangkal akhlaq agama lebih diutamakan. Menurut pandangan
Al-Ghazali mengenai keindahan Islami
7
dibedakan atas: Keindahan
bentuk luar yang dapat dilihat oleh mata lahir, sedangkan keindahan
bentuk dalam yang hanya dapat diterima oleh mata batin
8
. Hal ini

7
Selain adanya lima indera yang dapat menerima nilai-nilai keindahan terdapat
indera keenam, yaitu jiwa atau roh , hati dan cahaya. Indera tersebut meneriama
keindahan dunia dalam yang bersifat rohani, moral, dan nilai keagamaan. Dengan
demikian keindahan bentuk luar dapat dilihat oleh mata telanjang dan dialami oleh
semua orang, sedangkan keindahan bentuk dalam hanya dapat ditangkap olehmata
hati dari batin manusia yang lebih kuat dan peka dari pada pandangan luarnya.
8
Beg. M. Abdul Jabbar (ed) ; 1981 (diterjemahkan oleh Yustiono dan Edi
Sutriyono), Seni dalam Peradaban Islam, Bandung: Pustaka., hal. 26.
52



menunjukkan bahwa Islam memberikan penilaian dan penghargaan yang
begitu tinggi terhadap pengalaman estetis.
Pada seni Islam menurut Al-Faruqi terdapat enam karakteristik
estetis dalam mengungkapkan tauhid, yaitu Abstraction; Modular
Structure; Succesive combinations; Reptition; Dynamism Intricacy
9
.
Meskipun nampaknya bersifat umum, namun ciri-ciri tersebut cukup
memberikan gambaran tentang karya seni Islam berupa abstraksi dari
fenomena alam melalui tekhnik stilasi obyeknya. Kedua, karyanya
tersusun dari sejumlah bagian atau modul-modul yang digabungkan,
sehingga menghasilkan suatu desain yang utuh. Oleh karena itu ciri
ketiganya adalah dalam pola-pola seni Islam menunjukkan adanya
gabungan yang berurutan dari berbagai modul untuk menghasilkan
beberapa pusat perhatian estetis. Keempat, adanya pengulangan dari
modul atau motif yang akan memberikan kesan irama yang ritmis dan
memperlihatkan rangkaian kesatuan dalam karyanya. Dengan demikian
cirinya yang kelima adalah dalam setiap desain seni Islam mempunyai
gerak dianamis dan tidak monoton akibat adanya teknik penggabungan
modul dan pengulangannya. Keenam, hadirnya detail yang rumit dalam
penggambaran susunannya, sehingga meningkatkan kualitas pola dan
menjadikannaya corak yang Islami.
Salah satu karakeristik yang lain dalam bentuk seni Islam adalah
kreatifitas yang berkaitain erat dengan estetika, dan sangat tergantung
pada kesadaran pribadi seniman. Estetis dan kreatifitas merupakan syarat
yang harus dipenuhi sebuah karya seni, sehingga bagi seorang seniman
Muslim selain telah menciptakan karya seni yang bermanfaat dan indah
sekaligus dia telah menjalankan ibadahnya. Sebagai satu kesatuan
integral seni terdiri dari empat komponen esensial, yaitu karya seni (
wujud, benda) kerja cipta seni (proses penciptaan), cita cipta seni
(pandangan, konsep, gagasan) dan dasar tujuan seni (ibadah, manfaat,
etis, logis, estetis). Keempat komponen tersebut berkesusaian dengan
kategori-kategori integralis seperti materi, energi, informasi dan nilai-
nilai Dengan demikian pada hakekatnya seni adalah dialog
intersubyektif (hablumminallah) dan kosubyektif (hablumminannas)
yang mencerminkan hubugan vertikal an horizontal
10
. Dalam bahasa
yang khas pada hubungan vertikal tersirat dimensi kalimat syahadat

9
Al-Faruqi, Ismail, R ; 1986 The Cultural Atlas of Islam, New York : Macmillan
publishing company., hal 165-168
10
Mahzar, Armahedi ; 1993, Islam Masa Depan, Bandug : Pustaka., hal 16.
53



yang pertama dan hubungan horizontal tersirat syahadat yang kedua
11
.
Kedua kalimat syahadat dalam bentuk aktifnya tasyahud, yaitu ibadah
kepada Allah SWT dan pelaksanaanya merupakan rahmatan lil alamien
sebagai esensi seni Islam.
Skema Seni dalam Pandangan Islam
Unsur-unsur Esensi Seni dalam mencapai
Nilai Islami
1
Dasar
Tujuan
Seni
Ibadah,
Manfaat,
Etis,
Estetis,
Logis
Nilai-
nilai
Tasyahud
2
Cita
Cipta
Seni
Pandangan,
Konsep,
Gagasan
Informasi Qiraah
3
Karja
Cipta
Seni
Proses
Penciptaan,
Tekhnis
Energi Tazkiyah
4
Karya
Seni
Benda,
Wujud,
Zahir
Materi Dzikir


C. Penutup
Seni sebagai bahasa universal diharapkan mampu dijadikan sarana
untuk mengajak berbuat baik (maruf), dan mencegah perbuatan tercela
(munkar) serta membangun kehidupan yang berkeadaban dan bermoral.
Di samping itu diharapkan dapat mengembangkan dan menumbuhkan
perasaan halus, keindahan dan kebenaran menuju keseimbangan
material-spiritual. Dengan demikian seni mampu berperan dalam
memenuhi kebutuhan manusia baik jasmani maupun rohani, serta dapat
memberi kepuasan secara fisik dan psikis. Secara khusus seni yang
bernafaskan Islam dasar pemikirannya adalah niat beribadah dan
keikhlasan pengabdian kepada Allah, dengan mengakomodasi nilai
tradisi budaya lokal. Setelah mamahami alam semesta dan qiraah

11
Dalam bahasa yang lebih membumi hubungan vertikal adalah hubungan aku-
Kau dan hubungan horizontal adalah hubungan aku-Kau. Kedua hubungan itu selalu
bersatu dalam setiap langkah kehidupan seorang muslim. Salah satu Kau akan menjadi
dia, sehingga intersubyektif muslim adalah kita. Aku-Kau-dia adalah dimensi vertikal,
sedangkan aku-Kau-Dia adalah dimensi horizontalnya.
54



Alqur-an, penciptaan karya seni dilandasi oleh kretifitas dan rasa estetis,
logis, etis, serta azas manfaat. Kemudian dirumuskan konsep dan
gagasan serta dipertimbangkan tekhnis pelaksanaanya hingga
terwujudnya sebuah karya. Demikian seni yang dihasilkan merupakan
ekspresi syukur dan dzikir sebagai rahmatan lilalamin.
Karya seni yang bernafaskan Islam mengandung makna simbolik
kesaksian La illaha ilallah, muhammadarusullullah, dengan muatan
kebenaran, kebaikan dan keindahan. Konsepsi tauhid, aqidah dan akhlaq
telah menjadi penyempurnaan dan pengarah nilai-nilai positif bagi
proses berkarya seni. Oleh karena itu diperlukan upaya terpadu yang
lebih terbuka dengan wawasan yang tidak terbatas pada kajian kasat
mata, namun juga pada sesuatu spiritualitas transenden. Dengan tujuan
untuk mencapai kreatifitas dan kesadaran akan Yang Maha Benar, Yang
Maha Baik, dan Yang Maha Indah. Wallahu alam bish-shawab.





Daftar Pustaka



Al-Faruqi, Ismail, R ; 1986 The Cultural Atlas of Islam, New York :
Macmillan publishing company.
Beg. M. Abdul Jabbar (ed) ; 1981 (diterjemahkan oleh Yustiono dan Edi
Sutriyono), Seni dalam Peradaban Islam, Bandung: Pustaka.
Gazalba, Sidi ; 1977, Pandangan Islam tentang Kesenian, Jakarta :
Bulan Bintang.
Mahzar, Armahedi ; 1993, Islam Masa Depan, Bandug : Pustaka
Nasr, Sayyed Hossein ; 1933 (diterjemahkan oleh Afif Muhammad),
Spiritualitas dan Seni Islam, Bandung : Mizan.
Rader, Melvin ; 1986, Art Modern Book of Esthetic, (diterjemahkan oleh
Yustiono). Bandung : Perpustakaan FSRD-ITB
Shihab, Quraish ; 1996, Wawasan Al-Quran, Bandung : Mizan
Sudjoko, 1988 ; Ulas Seni, Majalah Pespektif, Bandung : C.V. Rama.


55
55
STRATEGI PEMBELAJARAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH
Oleh : Imam Subqi
1



ABSTRAK

Artikel ini secara sederhana akan menguraikan tentang
pentingnya strategi pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar PAI.
Dalam menggunakan strategi pembelajaran, guru hendaknya mampu
mengelola semua komponen yang ada dalam kegiatan proses
pembelajaran hendaknya disusun secara sistematis untuk membantu
memudahkan siswa belajar. Komponen-komponen tersebut adalah guru,
siswa, materi, metode, alat atau media, dan waktu. Tugas untuk
menyusun rencana dan melaksanakan strategi pembelajaran memerlukan
suatu kemampuan dari guru. Untuk itu guru harus memiliki pengetahuan
tentang strategi pembelajaran akan memberikan landasan ilmiah tentang
bagaimana menyusun dan menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar
yang dapat memudahkan siswa belajar sehingga tercapainya tujuan
pembelajaran sesuai dengan harapan atau tujuan pendidikan nasional.
Peran Guru PAI sebagai guru mata pelajaran hendaknya mampu
menguasai pengetahuan yang luas mengenai pendidikan Agama dan
sejumlah besar keterampilan professional dalam pembelajaran.
Menghadapi tantangan tersebut di atas khususnya guru sekolah
menengah pertama harus memahami tujuan pendidikan dasar itu sendiri,
yaitu memotivasi anak agar ia senang dan ingin belajar untuk dapat
melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa
mengajar di sekolah menengah pertama khususnya dalam pendekatan
pembelajaran hendaknya mengutamakan prinsip siswa agar ia senang
belajar. Untuk mengajarkan pendidikan Agama Islam dikenal beberapa
strategi pembelajaran. Salah satu strategi pembelajaran yang memberi
tekanan kepada realitas adalah pembelajaran berbasis masalah. Strategi
ini telah menjadi bagian dari dinamika proses pembelajaran karena
beberapa faktor; adanya peningkatan tuntutan untuk menjembatani
kesenjangan antara teori dan praktik, akses informasi dan pesatnya
pengetahuan, penekanan kompetensi dunia nyata dalam belajar, dan
perkembangan bidang pembelajaran, psikologi dan pedagogi.
Karakteristik pembelajaran ini akan menekankan pada proses

1
Imam Subqi adalah alumni Program Pascasarjana IAIN Walisongo Semarang
Kosentrasi Pendidikan Islam Lulus Tahun 2008 dan Mahasiswa Pascasarjana Program
Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta sejak Tahun 2010- sekarang
56
56
penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. Reigeluth dan Merrill
dalam Miarso menjelaskan bahwa pembelajaran sebaiknya didasarkan
pada teori pembelajaran yang bersifat preskiptif artinya teori yang
memberikan resep untuk megatasi masalah belajar dalam hal ini harus
memperhatikan tiga variabel yaitu kondisi, metode dan hasil.

Kata Kunci: Strategi Pembelajaran, Hasil Belajar dan Pendidikan
Agama Islam


A. PENDAHULUAN
Pendidikan yang berkualitas akan mampu menciptakan sumber
daya manusia yang berkualitas pula, sehingga mampu bersaing pada era
globalisasi seperti yang terjadi saat ini. Sasaran pendidikan adalah
manusia untuk membantu peserta didik dalam menumbuhkembangkan
potensi-potensi kemanusiaannya.
2
Sebagaimana pendidikan Agama
Islam bertujuan mengembangkan fitrah keberagaman peserta didik agar
lebih mampu memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam.
Pendidikan Agama Islam di pendidikan dasar bertujuan untuk
menumbuhkembangkan aqidah/keimanan, melalui pemberian,
pemupukan dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengalaman
tentang Agama Islam, agar menjadi manusia muslim yang terus
berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaannya kepada Allah SWT,
serta mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak
mulia, yakni manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas,
produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi, menjaga
keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya
agama dalam komunitas sekolah.
3
Pendidikan Agama Islam sangat
penting peranannya dalam pembentukan sikap anak. Namun dalam
kenyataannya menunjukkan bahwa mata pelajaran pendidikan Agama
Islam kurang memberikan kontribusi kearah tersebut. Hal ini disebabkan
oleh beberapa kendala, antara lain: terkait alokasi waktu sebagaimana
tertuang dalam kurikulum pendidikan Agama Islam (PAI) dari
Departemen Pendidiakan Nasional hanya dua-tiga jam pelajaran dengan
muatan materi yang begitu padat. Kendala lain yaitu kurangnya
keikutsertaan guru mata pelajaran yang bukan pendidikan Agama Islam

2
Umar Tirta Raharja, Pengantar Pendidikan (Jakarta : Rineka Cipta 2005), hlm.
1
3
Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta : Bumi Aksara 2009),
hlm.17.
57
57
dalam memberi motivasi kepada peserta didik untuk mempraktekkan
nilai-nilai pendidikan Agama dalam kehidupan sehari-hari.
Selama ini banyak pemikiran dan kebijakan dalam rangka
peningkatan kualitas pendidikan Agama Islam yang diharapkan mampu
memberikan nuansa baru bagi pengembangan sistem pendidikan di
Indonesia. Namun, dalam beberapa hal agaknya pemikiran konseptual
tersebut terkesan idealis romantis dan kurang realistis sehingga para
pelaksana dilapangan sering mengalami hambatan untuk
merealisasikannya.
4
Rendahnya kualitas guru untuk menjalankan
profesinya dalam tiga dasawarsa terahir telah mendapatkan perhatian
dari masyarakat.
5
Bahwa faktor kemampuan atau kompetensi guru
sangat mempengaruhi rendahnya mutu pendidikan yang tengah dialami
oleh bangsa Indonesia. Oleh karena itu peningkatan kemampuan guru
khususnya dalam pelaksanaan proses pembelajaran menjadi fokus untuk
meningkatkan kualitas guru.
Dalam menggunakan strategi pembelajaran, guru hendaknya
mampu mengelola semua komponen yang ada dalam kegiatan proses
pembelajaran hendaknya disusun secara sistematis untuk membantu
memudahkan siswa belajar. Komponen-komponen tersebut adalah guru,
siswa, materi, metode, alat atau media, dan waktu. Tugas untuk
menyusun rencana dan melaksanakan strategi pembelajaran memerlukan
suatu kemampuan dari guru. Untuk itu guru harus memiliki pengetahuan
tentang strategi pembelajaran akan memberikan landasan ilmiah tentang
bagaimana menyusun dan menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar
yang dapat memudahkan siswa belajar sehingga tercapainya tujuan
pembelajaran sesuai dengan harapan atau tujuan pendidikan nasional.
Guru pendidikan Agama Islam sebagai guru mata pelajaran
dituntut untuk menguasai pengetahuan yang luas mengenai pendidikan
Agama dan sejumlah besar keterampilan professional dalam
pembelajaran. Menghadapi tantangan tersebut di atas khususnya guru
sekolah menengah pertama harus memahami tujuan pendidikan dasar itu
sendiri, yaitu memotivasi anak agar ia senang dan ingin belajar untuk
dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
6
Hal ini menunjukkan
bahwa mengajar di sekolah menengah pertama khususnya dalam
pendekatan pembelajaran hendaknya mengutamakan prinsip siswa agar
ia senang belajar.

4
Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah,
Madrasah dan Perguruan Tinggi (Jakarta: Raja Grafindo Persada 2010), hlm. 16-17.
5
Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional (Bandung: Remaja Rosda Karya
2010), hlm. 1-3.
6
Ibid, hlm. 6 - 9.
58
58

B. PEMBAHASAN
1. Pentingnya Strategi Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran peran aktif guru dan siswa untuk
pencapaian maksimal sangat berpengaruh terhadap hasil belajar. Guru
dan siswa merupakan variabel penting dalam pelaksanaan proses tersebut
yang berupaya untuk mengkomunikasikan permasalahan transfer of
knowlegde dan transfer of value. Guru dan siswa merupakan satu
kesatuan yang tak dapat dipisahkan untuk saling melengkapi. Guru
merupakan komponen manusiawi dalam proses pembelajaran yang
sangat berperan dalam mengantarkan anak (siswa) pada tujuan
pendidikan yang telah ditentukan. Guru mempunyai tanggung jawab atas
keberhasilan atau tidak dalam program pembelajaran sehingga tugas
guru adalah profesi. Oleh karena itu mengajar adalah sebuah pekerjaan
profesional, dengan menggunakan teknik atau metode pembelajaran serta
prosedur yang berpijak pada landasan intelektual yang harus dipelajari
secara sengaja, terencana dan kemudian dipergunakan demi
kemaslahatan umat manusia (siswa).
7
Strategi pembelajaran merupakan
salah satu komponen dalam sistem pembelajaran yang berperan penting
untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditetapkan. Hal ini
dimungkinkan mengingat strategi pembelajaran merupakan blue print
yang terdiri atas berbagai sub komponen yang menuntun jalannya
aktivitas pembelajaran.
Strategi pembelajaran adalah seperangkat rencana aksi untuk
mencapai tujuan pembelajaran dimana eksistensi sebuah strategi dalam
pembelajaran sebagai suatu pendekatan yang dilakukan oleh guru yang
mengoptimalkan berbagai komponen dalam sistem pembelajaran guna
mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Miarso menjelaskan
bahwa makna strategi pembelajaran adalah sebuah pendekatan
menyeluruh pembelajaran dalam suatu sistem pembelajaran, yang berupa
pedoman umum dan kerangka kegiatan untuk mencapai tujuan umum
pembelajaran, yang dijabarkan dari pandangan falsafah dan atau teori
belajar tertentu.
8
Selanjutnya. J.R David dalam Sanjaya memberikan
pengertian strategi pembelajaran sebagai a plan, method, or series of

7
Rasimin, Imam Subqi, Belajar Pe De; Kontekstualisasi Reward dan
Punishment dalam Pembelajaran (Yogyakarta: Mitra Cendekia 2009), hlm. 41
8
Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan (Jakarta: Kencana,
2009), hlm. 530.
59
59
activities designed to achieves a particular educational goal.
9
Jadi
dengan demikan strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu
perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk
mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Jika dicermati beberapa
pandangan di atas nampak jelas bahwa strategi pembelajaran merupakan
perencanaan kegiatan pembelajaran yang mengelaborasi berbagai
komponen utama sistem pembelajaran seperti ruang lingkup materi,
urutan penyajian materi, metode pembelajaran, media maupun alokasi
waktu.
Penataan berbagai komponen ini memungkinkan suatu proses
pembelajaran berjalan secara efektif dan efisien. Oleh sebab itu
kedudukan strategi pembelajaran menjadi sangat menentukan
keberhasilan proses pembelajaran. Setidaknya ada tiga jenis strategi yang
berkaitan dengan pembelajaran yakni, (1) strategi pengorganisasian
pembelajaran, (2) strategi penyampaian pembelajaran, (3) strategi
pengelolaan pembelajaran. Strategi pengorganisasian antara lain meliputi
bagaimana merancang bahan untuk keperluan belajar mandiri. Strategi
penyampaian pengajaran menekankan pada media apa yang dipakai
untuk menyampaikan pengajaran, kegiatan belajar apa yang dilakukan
siswa, dan dalam struktur belajar mengajar yang bagaimana. Strategi
pengelolaan menekankan pada penjadwalan penggunaan setiap
komponen strategi pengorganisasian dan strategi penyampaian
pengajaran, termasuk pula pembuatan catatan tentang kemajuan belajar
siswa. Dari kedua pandangan tersebut dapat ditelusuri lebih jauh bahwa
strategi pembelajaran meliputi urutan (sequence) penyajian materi
pelajaran, metode pembelajaran, penggunaan media pembelajaran dan
efisiensi pemanfaatan waktu.
Satu hal yang menjadi penekanan dalam penggunaan startegi
pembelajaran adalah setiap strategi pembelajaran yang digunakan
bertalian dengan tujuan belajar yang ingin dicapai. Hal ini berarti setiap
strategi pembelajaran yang akan digunakan selayaknya disesuaikan
dengan tujuan yang hendak dicapai.
Dalam setiap proses pembelajaran, kedudukan strategi
memainkan peran penting dalam upaya menciptakan kondisi
pembelajaran yang efektif dan efisien. Perwujudan efektivitas dan
efisiensi pembelajaran menunjukkan efektifitas dan efisiensi strategi
pembelajaran yang digunakan. Proses pembelajaran dikatakan efektif
dan efisien manakala kegiatan pembelajaran itu sendiri mampu
melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan-kegiatan nyata. Disinilah

9
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar proses Pendidikan
(Jakarta: Kencana Pernada Media Group, 2006).hlm 294.
60
60
peranan strategi pembelajaran sebagai suatu proses yang
mendayagunakan siswa sebagai subyek pembelajaran.
Dalam dunia pendidikan, strategi pembelajaran telah dikenal luas
khususnya bagi para pendidik. Berbagai ragam strategi pembelajaran
yang dikenal baik strategi pembelajaran konvensional maupun strategi
pembelajaran yang lahir dari hasil kajian penelitian dan pengembangan
pendidikan telah memberikan kontribusi yang berarti bagi peningkatan
kualitas pembelajaran. Oleh karena itu yang dimaksud dengan
pendekatan pembelajaran adalah sebagai tindakan oleh guru dalam
menciptakan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya
proses belajar mengajar dengan menggunakan beberapa variabel
pengajaran agar tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dapat
tercapai dan berhasil guna.

2. Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam di Sekolah
Secara sederhana belajar dapat dimengerti sebagai hasil asosiasi
pengalaman-pengalaman, bukan merupakan penghafalan kata-kata
bermakna. Lebih jauh, belajar pada umumnya selalu dihubungkan
dengan bidang ilmu pengetahuan khusus yang diminati, misalnya ilmu
sosial, Agama, komputer, fisika dan lain-lain. Melalui belajar diharapkan
siswa atau peserta didik dapat memperluas dan mengembangkan
inteligensi atau kecerdasannya. Oleh sebab itu, tugas pendidik adalah
bagaimana menciptakan suasana belajar yang dapat mengembangkan
semua kecerdasan yang ada pada setiap individu siswa.
Belajar merupakan perubahan dalam disposisi manusia atau
kapabilitas yang berlangsung selama satu masa waktu dan yang tidak
semata-mata disebabkan oleh proses pertumbuhan.
10
Sedangkan Wina
Sanjaya mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses mencoba
berbagai kemungkinan. Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta
akan tetapi belajar adalah proses berpikir (learning how to think), yakni
proses mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kanan maupun
otak kiri.
11
Ini berarti bahwa tujuan kegiatan belajar ialah perubahan
tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan, sikap,
bahkan meliputi segenap aspek pribadi. Kegiatan belajar mengajar
seperti mengorganisasi pengalaman belajar, menilai proses dan hasil
belajar, termasuk dalam cakupan tanggung jawab guru.

10
Robert M. Gagne, Kondisi belajar dan Teori pembelajaran, terjemahan
Munandir (Holt, Rinehart and Winston digandakan oleh PAU-PPAI Universitas
Terbuka,1990 ), hlm, 3.
11
Wina Sanjaya, op cit, hlm. 200-201.
61
61

Menurut Morgan dalam Syaiful Sagala, belajar adalah suatu
proses yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh bentuk prilaku
baru yang relatif menetap. Bentuk perilaku baru sering juga disebut hasil
belajar.
12
Masih dalam kaitan dengan belajar, Rober dalam Muhibbin
Syah membatasi belajar dengan dua macam definisi. Pertama, belajar
adalah The process of acquiring knowledge, yakni proses memperoleh
pengetahuan. Kedua, belajar adalah A relatively permanent change in
respons potentiality which occurs as a result of reinforced practise,
yaitu suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng
sebagai hasil latihan yang diperkuat.
13
Artinya belajar pada hakekatnya
adalah real-word learning, yaitu belajar dari kenyataan yang bisa
diamati, dipraktekkan, dirasakan, dan diujicoba. Belajar akan
mengutamakan pengalaman nyata buka pengalaman yang hanya
diangan-angankan saja, yang tidak bisa dibuktikan secara empiris.
Dalam hubungannnya dengan belajar, Bruner dalam Muhibbin
Syah membedakan proses belajar dalam tiga fase atau episode, yakni, 1).
Informasi. Informasi yang diperoleh dalam tiap mata pelajaran, ada
yang menambah pengetahuan yang telah kita miliki, ada yang
memperhalus dan memperdalamnya, ada pula informasi yang
bertentangan dengan apa yang telah kita ketahui sebelumnya. 2)
Transformasi.; informasi ini harus dianalisis, diubah atau
ditransformasikan ke dalam bentuk yang lebih abstrak atau konseptual
agar dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih luas dan 3). Evaluasi.
Kemudian kita kita nilai hingga manakah pengetahuan yang kita peroleh
dan transformasi itu dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala-gejala
lain.
14

Dalam hubungannnya dengan perubahan pada diri seseorang
akibat proses belajar, Gagne membagi perubahan ada lima kategori
pokok kapabilitas hasil belajar yaitu: (1) Keterampilan intelek, yaitu
seorang individu belajar berinteraksi pada lingkungan dengan
menggunakan lambang. (2) Informasi Verbal, merupakan orang bisa
belajar menyatakan atau mengatakan fakta atau serangkaian peristiwa
menggunakan wicara lisan atau menggunakan tulian, ketikan atau
bahkan menggambarnya. (3) Siasat Kognitif, yaitu seseorang telah
belajar menguasai keterampilan mengelola belajarnya sendiri,
mengingatnya dan berfikirnya, misalnya dia telah belajar menggunakan

12
Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran (Bandung : Alfabeta 2010),
hlm.13.
13
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada 2005) hlm.
66.
14
ibid, hlm. 110
62
62
cara tertentu dalam membaca bagian-bagian yang berlainan dari buku
yang dibacanya. (4) Keterampilan motoris, yaitu si belajar melakukan
gerakan dalam sejumlah tindak motorik yang terorganisasi, misalnya
melemparkan bola. (5) Sikap, yaitu seorang pelajar memperoleh atau
mencapai keadaan mental yang mempengaruhi pilihan atas tindakan
pribadi.
15

Berdasarkan teori-teori itu, penulis dapat mengambil suatu
kesimpulan bahwa belajar adalah suatu proses atau kegiatan yang
dilakukan oleh seseorang atau peserta didik yang dimulai dan berakhir
dari suatu pengalaman, dan diharapkan dari belajar tersebut seseorang
atau peserta didik mengalamai perubahan tingkah laku, baik yang
menyangkut pengetahuan, keterampilan, sikap, bahkan meliputi segenap
aspek pribadi.
Selanjutnya pendidikan agama Islam merupakan sebutan yang
diberikan pada salah satu subyek pelajaran yang harus dipelajari oleh
siswa muslim dalam menyelesaikan pendidikannya pada tingkat tertentu.
Ia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kurikulum suatu sekolah
sehingga menjadi alat untuk mencapai tujuan sekolah yang
bersangkutan. Karena itu, subyek ini diharapkan dapat memberikan
keseimbangan dalam kehidupan anak kelak, yakni manusia yang
memiliki kualifikasi tertentu tetapi tidak terlepas dari nilai-nilai ajaran
Islam.
Dalam sistem pendidikan nasional, pendidikan agama Islam
sebagai salah satu jenis pendidikan yang didesain dan diberikan kepada
siswa yang beragama Islam dalam rangka mengembangkan
keberagamaan Islam mereka. Ia merupakan subyek pelajaran pilihan
yang sejajar dengan pendidikan agama lain seperti pendidikan agama
Katholik, pendidikan agama Budha, pendidikan agama Hindu, dan lain-
lain.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia
serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara.
16
Dari definisi tersebut tergambar adanya proses pembelajaran
terhadap peserta didik agar mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Hal ini mengindikasikan betapa

15
Robert M. Gagne, op. cit. hlm. 63-64.
16
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, Sistem
Pendidikan Nasional, (Jakarta : Sinar Grafika 2003), hlm. 2
63
63
pentingnya pendidikan agama untuk mendukung siswa memiliki
kekuatan spiritual tersebut.
Pendidikan agama Islam adalah bagian yang tak terpisahkan dari
sistem pendidikan di Indonesia, sebagaimana yang tercantum dalam
Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional pasal 12 ayat 1 butir a. "Setiap peserta didik pada setiap satuan
pendidikan berhak mendapatkan pendidikan Agama sesuai dengan
Agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama".
17

Sedangkan pendidikan Agama diartikan sebagai suatu kegiatan yang
bertujuan untuk membentuk manusia agamis dengan menanamkan
aqidah keimanan, amaliah dan budi pekerti atau akhlak yang terpuji
untuk menjadi manusia yang taqwa kepada Allah SWT.
18

Menurut Arifin pendidikan Islam merupakan suatu sistem
kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan
oleh hamba Allah, sebagaimana Islam telah menjadi pedoman bagi
seluruh aspek kehidupan manusia, baik duniawi maupun ukhrawi.
19

Pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya; akal dan
hatinya; rohani dan jasmaninya; akhlak dan keterampilannya. Karena itu
pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk hidup baik dalam keadaan
damai, dan menyiapkan untuk menghadapi masyarakat dengan segala
kebaikan dan kejahatannya, manis dan pahitnya. Pendidikan Islam
sebagai suatu proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan,
memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan
dengan fungsi manusia untuk bermamal di dunia dan diakhirat.
Pendidikan Islam merupakan suatu proses pembentukan individu
berdasarkan ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan Allah Swt kepada
Nabi Muhammad SAW.
Tegasnya pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani
menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran
Islam. Pendidikan Islam merupakan salah satu aspek saja dari ajaran
Islam secara keseluruhan. Karenanya tujuan pendidikan Islam tidak
terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam; yaitu untuk
menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah yang selalu bertaqwa
kepadaNya, dan dapat menciptakan kehidupan yang berbahagia di dunia
dan akhirat. Dalam konteks sosial masyarakat, bangsa dan negara, maka
pribadi yang bertaqwa ini menjadi rahmatan lilalamiin, baik dalam

17
ibid, hlm. 8.
18
Muhaimin dan Abdul Ghofir, Strategi Belajar Mengajar; Penerapan dalam
Pembelajaran Agama Islam (Surabaya: Citra Media Karya Anak Bangsa 1996), hlm.2.
19
Arifin, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta : Bumi Aksara 2006), hlm. 8
64
64
skala kecil maupun skala besar. Tujuan hidup manusia dalam Islam
inilah yang disebut sebagai tujuan akhir pendidikan.
Tafsir dalam Muhaimin menjelaskan ada perbedaan antara
pendidikan Islam dan pendidikan agama Islam (PAI). Penddikan Agama
Islam (PAI) dibakukan sebagai kegiatan mendidikan agama Islam,
seharusnya dinamakan Agama Islam karena yang diajarkan adalah
agama Islam bukan pendidikan agama Islam. Nama kegiatannya atau
usaha-usaha dalam mendidikkan agama Islam disebut sebagai
pendidikan agama Islam.
20
Dilihat dari segi cakupannya pendidikan
agama Islam berbeda dengan pendidikan Islam. Pendidikan Islam
cakupannya lebih dari Pendidikan Agama Islam, yaitu mencakup
pendidikan yang berkaitan hubungan antara manusia dengan Tuhan dan
hubungan manusia dengan manusia, atau pendidikan yang mencakup
ajaran dunia dan akhirat yang didasarkan pada Al-Quran dan Sunnah
sebagai sumber acuannya. Atau dengan kata lain, Pendidikan Islam
adalah usaha sadar untuk mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan
anak dengan segala potensi yang dianugerahi Allah kepadanya agar
mampu mengemban amanah dan tanggung jawab sebagia khalifah Allah
di bumi dalam pengabdiannya kepada Allah SWT.
Pendidikan Agama Islam sebagai mata pelajaran wajib diikuti
seluruh siswa yang beragama Islam pada semua satuan jenis, dan jenjang
sekolah. Hal ini sesuai dengan UUD 1945 yang menjamin warga negara
untuk beribadah menurut agamanya masing-masing. Sebagaimana yang
tertuang dalam undang-undang sistem pendidikan nasional No 20 Tahun
2003 terutama pada pasal 37 ayat (1) bahwa pendidikan Agama
dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak
mulia.
21
Artinya pendidikan Agama Islam merupakan usaha sadar untuk
menyiapkan peserta didik meyakini, memahami, menghayati, dan
mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau
latihan untuk mewujudkan pribadi muslim yang beriman, bertakwa
kepada Allah SWT dan berakhlak mulia. Sementara itu, dalam
kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta
memiliki bekal untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

Pendidikan Agama Islam di sekolah harus berperan sebagai
pendukung tujuan umum pendidikan nasional yang tidak lain bahwa
tujuan umum pendidikan nasional eksplisit disebutkan bahwa rumusan
UUSPN No. 20 Tahun 2003 bab II Pasal 3 tentang Fungsi dan Tujuan

20
Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah
Madrasah dan Perguruan Tinggi (Jakarta : Raja Grafindo 2010), hlm. 6
21
ibid, hlm. VII
65
65
Pendidikan Nasional sebagai disebutkan dalam bab terdahulu. Adapun
penjabaran rumusan fungsi pendidikan nasional yang juga merupakan
tujuan Pendidikan Agama Islam,
Selanjutnya secara sederhana hasil belajar dapat dimengerti
sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi akibat proses belajar
mengajar. Hasil belajar diharapkan dapat membawa manfaat yang bai
bagi peserta didik dan masyarakat disekitarnya. Untuk mencapai harapan
itu banyak faktor yang menentukan proses dan hasil belajar seperti
kemampuan dasar, sikap dan penilaian siswa terhadap kualitas mengajar
guru. Faktor-faktor ini harus menunjang supaya proses dan hasil belajar
lebih memadai.
Pentingnya mengetahui hasil belajar agar guru memahami
tentang sejauh mana tujuan belajar yang telah dicapai siswa dengan
mengumpulkan keterangan-keterangan secara sistematis tentang
pengaruh usaha guru untuk dianalisis, dengan demikian guru akan
mengetahui kebaikan dan kekurangan usaha guru untuk memperkaya
pengalaman guru sebagai pengajar yang dapat digunakan pada proses
pembelajaran berikutnya.
22
Hasil belajar merupakan proses yang
menentukan nilai belajar siswa melalui kegiatan penilaian atau
pengukuran hasil belajar. Oleh karena itu guru hendaknya mampu
mengetahui tingkat keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah
mengikuti suatu kegiatan pembelajaran, dimana tingkat keberhasilan
tersebut kemudian ditandai dengan skala nilai berupa huruf atau kata
serta simbol.
23
Artinya hasil belajar tersebut adalah tingkat penguasaan
yang dicapai siswa dalam mengikuti program belajar mengajar sesuai
dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, atau dapat juga
dikatakan bahwa hasil belajar adalah seluruh kecakapan dan hasil yang
dicapai melalui proses belajar-mengajar di sekolah yang dinyatakan
dengan angka-angka atau nilai-nilai yang diukur dengan tes hasil belajar.
Belajar sebagai proses perubahan tingkah laku akan dapat
diketahui, oleh karenanya perubahan tingkah laku syarat berhubungan
dengan perubahan sistem syaraf dan perubahan energi yang sulit dilihat
dan diraba para ahli psikologi menamakan kotak hitam (black box),
namun perubahan tingkah laku tersebut akan dapat diketahui dengan
membandingkan kondisi sebelum dan sesudah proses pembelajaran
berlangsung.
24


22
Nasution, Teknologi Pendidikan ( Jakarta : Bumi Aksara 2008), hlm. 73
23
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta : Rineka Cipta
2009), hlm. 200-201
24
Wina Sanjaya, op cit, hlm. 57-58
66
66

Definisi yang diajukan oleh Nana Sudjana adalah bahwa hasil
belajar merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah
dia menerima pengalaman belajarnya.
25
Dalam hubungan hasil belajar,
menurut Bloom dalam Syaiful Sagala, hasil belajar dapat dikelompokan
ke dalam tiga ranah, yaitu ranah kognitif, efektif dan
psikomotor.
26
Ranah kognitif adalah meliputi pengenalan pengetahuan
dan pengembangan kemampuan intelek dan keahlian (skill). Ranah ini
merupakan ranah paling sentral bagi pengembangan tes dan
pengembangan kurikulum. Ranah afektif menyangkut tujuan yang
menggambarkan perubahan dalam minat, sikap, dan nilai-nilai serta
pengembangan penghargaan, serta penyesuaian yang cukup. Ranah
psikomotor adalah keahlian dalam gerakan (motor-skill area).
Pendapat lain mengemukakan bahwa terdapat lima kemampuan
yang didapat seseorang dalam belajar yaitu : keterampilan, intelektual,
strategi kognitif, informasi verbal, sikap, dan keterampilan motorik.
27
,
Keterampilan intelektual adalah suatu kemampuan yang membuat
seseorang menjadi kompeten terhadap suatu subjek, sehingga dapat
mengklasifikasi, mengidentifikasi, mendemonstrasikan, serta
menggeneralisasikan suatu gejala. Strategi kognitif adalah kemampuan
seseorang untuk dapat mengontrol aktivitas intelektualnya dalam
mengatasi masalah yang dihadapi. Informasi verbal adalah kemampuan
seseorang untuk dapat menggunakan bahasa lisan maupun tulisan dalam
mengungkapkan suatumasalah atau gagasan. Sikap adalah suatu
kecenderungan pada diri seseorang dalam menerima atau menolak objek
sikap, sedang keterampilan motorik adalah kemampuan seseorang untuk
mengkoordinasikan semua gerakan secara teratur dan lancar.
Menurut Gagne, bahwa belajar merupakan proses untuk
memperoleh motivasi dalam pengetahuan, kebiasaan, dan tingkah laku.
Belajar adalah pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari
instruksi. Dikemukakan juga bahwa hasil belajar dapat dihubungkan
dengan terjadinya suatu perubahan dalam kepandaian seseorang dalam
yang dalam proses perkembangannya cukup rumit dan terjadi antara
sebelum dan sesudah situasi belajar, dengan suatu latihan atau perlakuan
tertentu.
28
Perubahan tingkah laku yang parmanen dapat diperoleh dari
hasil pembiasaan, contoh-contoh, peniruan, dan latihan yang berulang-
ulang. Oleh sebab itu Gagne, mengemukakan bahwa hasil belajar dapat

25
Sudjana Nana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung : Rosda
Karya 2005). hlm. 22
26
Syaiful Sagala, op.,cit, hlm. 33.
27
Robert M Gagne, op cit, hlm. 63-64.
28
Robert M Gagne, op cit, hlm. 3
67
67
diklasifikasikan menjadi lima macam, yakni : (1). Keterampilan
intelektual, (2). Strategi kognitif, (3). Informasi verbal, (4).
Keterampilan motorik, dan (5). Sikap.
29
Selanjutnya Benyamin Bloom
dalam Syaiful Sagala mengklasifikasikan hasil belajar dalam tiga ranah,
yaitu : ranah kognitif (cognitive domain), ranah afektif (affective
domain), dan ranah psikomotor (psychomotor domain).
30

1. Tujuan Pendidikan Agama Islam di Sekolah
Makna tujuan pendidikan agama Islam akan memberikan arah,
Tujuan Pendidikan agama Islam dimaksudkan agar manusia mampu
mengolah dan menggunakan segala kekayaan yang ada di langit dan di
bumi untuk kesejahteraan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat
kelak. Dengan demikian, manusia melalui proses pendidikan Islam
diharapkan adalah seorang muslim yang beriman dan bertakwa kepada
Allah, berakhlak mulia, beramal kebaikan (amal shaleh), menguasai ilmu
(untuk dunia dan akhirat), menguasai keterampilan dan keahlian agar
memikul amanah dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya
sesuai dengan kemampuan masing-masing. Kedudukan agama Islam
sebagai mata pelajaran yang diajarkan di sekolah umum adalah segala
upaya penyampaian ilmu pengetahuan agama Islam tidak hanya untuk
dipahami dan dihayati, tetapi juga diamalkan dalam kehidupan sehari-
hari, misalnya kemampuan siswa dalam melaksanakan wudhu, sholat,
puasa, dan ibadah-ibadah lain yang sifatnya hubungan dengan Allah
(ibadah mahdhah), dan juga kemampuan siswa dalam beribadah yang
sifatnya hubungan antara sesama manusia, misalnya siswa bisa
melakukan zakat, sadaqah, jual beli, dan lain-lain yang termasuk ibadah
dalam arti luas (ibadah ghaira mahdhah).
Tujuan pendidikan agama Islam merupakan penggambaran nilai-
nilai islami yang ingin diwujudkan dalam pribadi anak didik pada akhir
dari proses pendidikan. Selanjutnya tujuan pendidikan oleh pendidik
muslim melalui proses yang berakhir pada hasil (produk) yang
berkepribadian Islam yang beriman, bertaqwa, dan berilmu pengetahuan
yang sanggup mengembangkan dirinya menjadi hamba Allah yang taat.
Menurut Armai Arief, bahwa tujuan pendidikan Islam untuk membentuk
kepribadian sebagai khalifah Allah SWT, atau sekurang-kurangnya
mempersiapkan ke jalan yang mengacu kepada tujuan akhir.
31
Kemudian
tujuan pendidikan Islam tersebut dibangun atas tiga komponen sifat
dasar manusia, yaitu tubuh, ruh dan akal yang masing-masing harus

29
Robert M Gagne, op cit, hlm. 62-64.
30
Syaiful Sagala, op cit. hlm. 33-34.
31
Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta:
Ciputat Pers 2002), hlm. 19
68
68
dijaga. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan pendidikan Islam dapat di
kualifikasikan kepada: (1) Tujuan Pendidikan Jasmani (ahdaf al-
jismiyah) Kekuatan fisik meruapakan bagian pokok dari tujuan
pendidikan. Maka pendidikan harus mempunyai tujuan kearah
keterampilanketerampilan fisik yang dianggap perlu bagi tumbuhnya
keperkasaan tubuh yang sehat. Pendidikan Islam dalam hal ini mengacu
pada pembicaraan fakta-fakta terhadap jasmani yang relevan bagi para
pelajar. (2) Tujuan Pendidikan Rohani (ahdaf al-ruhaniyyah) Orang
yang betul-betul menerima ajaran Islam tentu akan menerima seluruh
cita-cita ideal yang terdapat dalam Al-Qur.an, peningkatan jiwa dan
kesetiaannya yang hanya kepada Allah semata dan melaksanakan
moralitas Islami yang diteladani dari tingkah laku kehidupan Nabi
Muhammad SAW merupakan bagian pokok dalam tujuan pendidikan
Islam. Tujuan pendidikan Islam harus mampu membawa dan
mengembalikan ruh kepada kebenaran dan kesucian. (3) Tujuan
Pendidikan Akal (al-ahdaf al-.aqliyah) Tujuan ini mengarah kepada
perkembangan intelegensi yang mengarahkan setiap manusia sebagai
individu untuk dapat menemukan kebenaran yang sebenar-benarnya.
Pendidikan yang dapat membantu tercapainya tujuan akal, seharusnya
dengan bukti-bukti yang memadai dan relevan dengan apa yang mereka
pelajari. Di samping itu pendidikan Islam mengacu kepada tujuan
memberi daya dorong menuju peningkatan kecerdasan manusia.
Pendidikan yang lebih berorientasi kepada hafalan, tidak tepat menurut
teori pendidikan Islam. Karena pada dasarnya pendidikan Islam bukan
hanya memberi titik tekan pada hafalan, sementara proses intelektualitas
dan pemahaman dikesampingkan. (4) Tujuan Sosial (al-ahdaf al-
ijtima.iyah) Seorang khalifah mempunyai kepribadian utama dan
seimbang, sehingga khalifah tidak akan hidup dalam keterasingan dan
ketersendirian. Oleh karena itu, aspek social dari khalifah harus
dipelihara.
Fungsi pendidikan dalam mewujudkan tujuan sosial adalah
menitikberatkan pada perkembangan karakter-karakter manusia yang
unik, agar manusia mampu beradaptasi dangan standar-standar
masyarakat bersama-sama dengan cita-cita yang ada padanya.
Keharmonisan menjadi karakteristik utama yang ingin dicapai dalam
tujuan pendidikan Islam.
Pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan
agama Islam adalah untuk mewujudkan insan kamil yang berpredikat
iman, taqwa dan berakhlakul karimah, sanggup berdiri diatas haknya
sendiri, mengabdi kepada Allah dan dapat menselaraskan antara
kepentingan dunia dan kepentingan akhirat. Maka pendidikan agama
69
69
Islam pada anak tingkat SMP sangat penting karena pada usia ini diberi
pendidikan agama dengan tujuan membimbing, menuntun siswa dengan
berbagai pengetahuan agama sesuai dengan berbagai pengetahuan agama
sesuai dengan perkembangannya, baik tentang dasar-dasar atau hikmah
hukum Islam maupun tentang bacaan dan hafalan Al-Quran, praktek
ibadah baik di sekolah maupun di luar sekolah untuk meningkatkan
aqidah dan pengetahuan agama agar menjauhkan diri dari berbagai
kepercayaan yang salah yang dapat merusak kemurnian Agama.
2. Karakteristik Pendidikan Agama Islam di Sekolah
Karakteristik Pendidikan Agama Islam sebagai gambaran
sejauhmana nilai-nilai utama (karakter) yang terkandung dalam mata
pelajaran ini. Adapun 7 karakteristik mata pelajaran PAI di SMP adalah
sebagai berikut:
32
(1) PAI merupakan mata pelajaran yang
dikembangkan dari ajaran-ajaran pokok (dasar) yang terdapat dalam
agama Islam, sehingga PAI merupakan bagian yang tidak dapat
dipisahkan dari ajaran Islam. (2) Ditinjau dari segi muatan
pendidikannya, PAI merupakan mata pelajaran pokok yang menjadi
salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan mata pelajaran lain
yang bertujuan untuk mengembangkan kepribadian dan moral (karakter)
peserta didik. Oleh karena itu, semua mata pelajaran yang memiliki
tujuan tersebut harus seiring dan sejalan dengan tujuan yang ingin
dicapai oleh mata pelajaran PAI. (3) Diberikannya mata pelajaran PAI,
khususnya di SMP, bertujuan untuk terbentuknya peserta didik yang
beriman dan bertakwa kepada Allah SWT berbudi pekerti yang luhur
(berkarakter atau berakhlak mulia), dan memiliki pengetahuan yang
cukup tentang Islam, terutama sumber ajaran dan sendi-sendi Islam
lainnya. Pada saat bersamaan, mata pelajaran PAI dapat dijadikan bekal
untuk mempelajari berbagai bidang ilmu atau mata pelajaran lain,
sehingga akan semakin memperkuat pembentukan karakter dan
keilmuannya. (4) PAI adalah mata pelajaran yang tidak hanya
mengantarkan peserta didik dapat menguasai berbagai kajian keislaman,
tetapi PAI lebih menekankan bagaimana peserta didik mampu
menguasai kajian keislaman tersebut sekaligus dapat mengamalkannya
dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena
itu, PAI tidak hanya menekankan pada aspek kognitif saja, tetapi yang
lebih penting adalah pada aspek afektif (sikap) dan psikomotornya
(perilaku). Hasil dari PAI adalah sikap perilaku (karakter) peserta didik
sehari-hari yang sejalan dengan ajaran Islam. (5) Secara umum mata
pelajaran PAI didasarkan pada ketentuan-ketentuan yang ada pada dua

32
Kementerian Pendidikan Nasional, Panduan Guru PAI ; Pendidikan Karakter
Terintegrasi dalam Pembelajaran di SMP (Jakarta: 2010), hlm. 18-19
70
70
sumber pokok ajaran Islam, yaitu al-Quran dan Sunnah/hadis Nabi
Muhammad saw. (dalil naqli). Dengan melalui metode Ijtihad (dalil
aqli) para ulama mengembangkan prinsip-prinsip PAI tersebut dengan
lebih rinci dan mendetail dalam bentuk fiqih dan hasil-hasil ijtihad
lainnya. (6) Prinsip-prinsip dasar PAI tertuang dalam tiga kerangka dasar
ajaran Islam, yaitu aqidah, syariah, dan akhlak. Dari ketiga prinsip dasar
itulah berkembang berbagai kajian keislaman (ilmu-ilmu agama) seperti
Ilmu Kalam (Theologi Islam, Ushuluddin, Ilmu Tauhid) yang
merupakan pengembangan dari aqidah; Ilmu Fiqih yang merupakan
pengembangan dari syariah; dan Ilmu Akhlak (Etika Islam, Moralitas
Islam) yang merupakan pengembangan dari akhlak, termasuk kajian-
kajian yang terkait dengan ilmu dan teknologi serta seni dan budaya
yang dapat dituangkan dalam berbagai mata pelajaran di SMP.
Jika hal ini diimplementasikan di sekolah (SMP), yakni dengan
mendasari peserta didik aqidah (fondasi) yang kokoh lalu mendorong
untuk melaksanakan semua ketentuan Allah dan Rasul-Nya (syariah)
secara utuh, maka akan terbentuk peserta didik yang memiliki akhlak
(karakter) mulia yang utuh baik dalam hubungan vertikal (hablun
minallah) maupun horisontal (hablun minannas), serta memiliki ilmu
pengetahuan dan kreativitas yang memadai. (7) Tujuan akhir dari mata
pelajaran PAI di SMP adalah terbentuknya peserta didik yang memiliki
akhlak yang mulia (manusia berkarakter). Tujuan ini yang sebenarnya
merupakan misi utama diutusnya Nabi Muhammad saw. di dunia. Oleh
karena itu, pendidikan akhlak (pendidikan karakter) adalah jiwa
Pendidikan Agama Islam (PAI). Mencapai akhlak yang karimah
(karakter mulia) adalah tujuan sebenarnya dari pendidikan Islam. Peserta
didik membutuhkan kekuatan dalam hal jasmani, akal, dan ilmu, tetapi
ia juga membutuhkan pendidikan budi pekerti, perasaan, kemauan, cita
rasa, dan kepribadian. Sejalan dengan konsep ini maka semua mata
pelajaran atau bidang studi yang diajarkan kepada peserta didik haruslah
mengandung muatan pendidikan akhlak (pendidikan karakter) dan setiap
guru haruslah memerhatikan akhlak atau karakter peserta didiknya.

C. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa suatu
proses pembelajaran pada akhirnya akan menghasilkan kemampuan
seseorang yang mencakup: pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
Perubahan kemampuan itu merupakan indikator untuk mengetahui hasil
belajar. Teori belajar dan hasil belajar yang dikemukakan di atas,
menjadi acuan untuk menentukan jenis hasil belajar yang diasumsikan
paling memadai dalam penelitian ini. Hasil belajar yang diidentifikasi
71
71

dalam penelitian ini menitikberatkan pada hasil belajar menurut Bloom
yang dijabarkan menurut Kemp, meliputi : pengetahuan, pemahaman,
dan penerapan.
Adapun yang dimaksud dengan hasil belajar mata pelajaran
agama Islam adalah kemampuan yang dimiliki siswa sekolah dasar
meliputi : pengetahuan, pemahaman, dan penerapan, terhadap materi
pelajaran Agama Islam, mencakup penguasaan fakta, prinsip-prinsip,
konsep, generalisasi, sikap, norma, dan hukum, yang dinyatakan dalam
skor tertentu pada bidang Agama Islam, dan diukur dengan tes. Tes
adalah suatu alat atau prosedur yang sistematis dalam rangka
pengukuran dan penilaian dalam bidang pendidikan yang berbentuk
pemberian tugas atau serangkaian tugas untuk mengukur tingkat
perkembangan atau kemajuan yang telah dicapai peserta didik setelah
mereka menempuh proses pembelajaran dalam waktu tertentu. Hasil tes
dapat memberi informasi tentang apa dan seberapa jauh penyerapan
materi yang telah dikuasai siswa setelah mengikuti proses belajar
mengajar pelajaran Agama Islam. Hasil belajar Agama Islam tersebut
merupakan gambaran belajar yang sangat penting bagi siswa, guru,
orang tua, serta pihak-pihak yang terkait demi kemajuan proses
pembelajaran.




DAFTAR PUSTAKA

Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam,
(Jakarta: Ciputat Pers 2002)
Arifin, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta : Bumi Aksara 2006)
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta : Rineka
Cipta 2009)
Kementerian Pendidikan Nasional, Panduan Guru PAI ; Pendidikan
Karakter Terintegrasi dalam Pembelajaran di SMP (Jakarta:
2010)
Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta : Bumi Aksara
2009)
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada
2005)
Muhaimin dan Abdul Ghofir, Strategi Belajar Mengajar; Penerapan
dalam Pembelajaran Agama Islam (Surabaya: Citra Media Karya
Anak Bangsa 1996)
72
72
Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di
Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi (Jakarta: Raja Grafindo
Persada 2010)
Nasution, Teknologi Pendidikan ( Jakarta : Bumi Aksara 2008)
Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan (Jakarta:
Kencana, 2009)
Rasimin, Imam Subqi, Belajar Pe De; Kontekstualisasi Reward dan
Punishment dalam Pembelajaran (Yogyakarta: Mitra Cendekia
2009)
Robert M. Gagne, Kondisi belajar dan Teori pembelajaran, terjemahan
Munandir (Holt, Rinehart and Winston digandakan oleh PAU-
PPAI Universitas Terbuka,1990 )
Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran (Bandung : Alfabeta
2010)
Sudjana Nana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung :
Rosda Karya 2005)
Umar Tirta Raharja, Pengantar Pendidikan (Jakarta : Rineka Cipta
2005)
Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional (Bandung: Remaja Rosda
Karya 2010)
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, Sistem
Pendidikan Nasional, (Jakarta : Sinar Grafika 2003)
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar proses
Pendidikan (Jakarta: Kencana Pernada Media Group, 2006)
73

73

EVALUASI PEMBELAJARAN DALAM
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Oleh : Khaerudin
1


Abstrak
Evaluasi pembelajaran merupakan suatu usaha untuk memperbaiki
mutu proses belajar mengajar. Informasi-informasi yang diperoleh dari
pelaksanaan evaluasi pembelajaran pada gilirannya digunakan untuk
memperbaiki kualitas proses belajar mengajar. Seringkali dalam proses
belajar mengajar, aspek evaluasi pembelajaran ini diabaikan. Dimana guru
terlalu memperhatikan saat yang bersangkutan memberi pelajaran saja.
Namun, pada saat guru membuat soal ujian atau tes (formatif), soal tes
disusun seadanya atau seingatnya saja tanpa harus memenuhi penyusunan
soal yang baik dan benar serta pengolahan evaluasi pembelajaran yaitu
pada pelaksanaan evaluasi formatif. Kedudukan Pendidikan Agama Islam
di sekolah umum hanya merupakan salah satu program atau mata pelajaran
atau bidang studi yang kedudukannya sama dengan bidang studi atau mata
pelajaran lainnya. Sehingga pelaksanaan evaluasi pembelajarannya pun
sama dengan mata pelajaran lainnya.
Melakukan evaluasi tentang hasil Pendidikan Agama Islam kepada
murid-murid dapat berlangsung secara terulis atau lisan, pada periode
waktu-waktu tertentu dan yang bersifat rutin sehari-hari pula. Mengenai
pelajaran Pendidikan Agama Islam ini adalah lebih baik para guru
mengevaluasinya secara harian karena hal demikian lebih obyektif, efektif
dan membawa kepada naturalistik pengalaman dan penghayatannya kepada
kepribadian anak, disamping evaluasi secara periodik yang memang wajar
dilakukan pada waktu-waktu yang tepat Sekurang-kurangnya ada 3 faktor
tentang agama yang harus dievaluasi pada diri seorang anak: 1)
Pengetahuan para siswa tentang agama Islam, 2) Pelaksanaan praktik
ibadah dan amaliyahnya, 3) Penghayatan jiwa agama atau akhlak yang baik
sehari-hari atau kepribadian mereka. Kemampuan dan keahlian para guru
pada saat melaksanakan evaluasi pembelajaran dengan sudah
memperhatikan dan memahami prosedur dan teknik-teknik evaluasi
pendidikan dan juga dapat menafsirkan hasil dari evaluasi yang telah
dilaksanakan yang kemudian ditindaklanjuti untuk memperoleh
pembelajaran yang lebih optimal. Pada dasarnya evaluasi pembelajaran
bertujuan untuk mengetahui informasi - informasi yang dibutuhkan untuk

1
Khaerudin adalah Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta Prodi
Penelitian dan Evaluasi Pendidikan sejak Tahun 2010.
74

74

memperbaiki proses pembelajaran. Akan tetapi proses pelaksanaannya
tetap mengacu kepada langakah-langkah evaluasi pendidikan, pelaksanaan
evaluasi pembelajaran tersebut dimulai dari merumuskan perencanaan
evaluasi, menyusun soal tes, mengolah dan menganalisis hasil tes yang
kemudian dilanjutkan dengan menginterpretasi serta menindaklanjuti hasil
evaluasi.

Kata Kunci: Evaluasi Pembelajaran dan Pendidikan Agama Islam

A. Pendahuluan
Guru agama, disamping melaksanakan tugas keagamaan, ia juga
melaksanakan tugas pendidikan dan pembinaan bagi peserta didik, ia
membantu pembentukan kepribadian, pembinaan akhlak disamping
menumbuhkan dan mengembangkan keimanan dan ketaqwaan para
siswa. Dengan tugas yang cukup berat tersebut, guru Pendidikan
Agama Islam dituntut untuk memiliki keterampilan profesional dalam
menjalankan tugas pembelajaran.
Kemampuan guru dalam melakukan evaluasi merupakan
kompetensi guru yang sangat penting. Evaluasi dipandang sebagai
masukan yang diperoleh dari proses pembelajaran yang dapat
dipergunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan berbagai
komponen yang terdapat dalam suatu proses belajar mengajar.
2

Sedemikian pentingnya evaluasi ini sehingga kelas yang baik tidak
cukup hanya didukung oleh perencanaan pembelajaran, kemampuan
guru mengembangkan proses pembelajaran serta penguasaannya
terhadap bahan ajar, dan juga tidak cukup dengan kemampuan guru
dalam menguasai kelas, tanpa diimbangi dengan kemampuan
melakukan evaluasi terhadap perencanaan kompetensi siswa yang
sangat menentukan dalam konteks perencanaan berikutnya, atau
kebijakan perlakuan terhadap siswa terkait dengan konsep belajar
tuntas.
3
Atau dengan kata lain tidak ada satupun usaha untuk
memperbaiki mutu proses belajar mengajar yang dapat dilakukan
dengan baik tanpa disertai langkah evaluasi.
Dalam arti luas evaluasi adalah suatu proses merencanakan,
memperoleh dan menyediakan informasi, dan yang sangat diperlukan

2
Prasetya Irawan, Evaluasi Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: PAU-PAI, Universitas
Terbuka, 2001), Cet Ke 1, hlm.1
3
Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2004), hlm.3
75

73

untuk membuat alternatif-alternatif keputusan.
4
Dalam hal memperoleh
dan menyediakan informasi, evaluasi menempati posisi yang sangat
strategis dalam proses pembelajaran, hal ini dikarenakan seorang guru
akan mendapatkan informasiinformasi sejauh mana tujuan pengajaran
yang telah dicapai siswa.
Evaluasi pembelajaran merupakan suatu usaha untuk memperbaiki
mutu proses belajar mengajar. Informasi-informasi yang diperoleh dari
pelaksanaan evaluasi pembelajaran pada gilirannya digunakan untuk
memperbaiki kualitas proses belajar mengajar.
Seringkali dalam proses belajar mengajar, aspek evaluasi
pembelajaran ini diabaikan. Dimana guru terlalu memperhatikan saat
yang bersangkutan memberi pelajaran saja. Namun, pada saat guru
membuat soal ujian atau tes (formatif), soal tes disusun seadanya atau
seingatnya saja tanpa harus memenuhi penyusunan soal yang baik dan
benar serta pengolahan evaluasi pembelajaran yaitu pada pelaksanaan
evaluasi formatif.

B. Evaluasi Pembelajaran
1. Pengertian, Tujuan, Fungsi Evaluasi
Dalam pendidikan terjadi proses belajar mengajar yang sistematis,
yang terdiri dari banyak komponen. Masing-masing komponen
pengajaran tidak bersifat terpisah atau berjalan sendiri-sendiri, tetapi
harus berjalan secara teratur, saling bergantung dan berkesinambungan.
Proses belajar mengajar pada dasarnya adalah interaksi yang terjadi
antara guru dan siswa untuk mencapai tujuan pendidikan. Guru sebagai
pengarah dan pembimbing, sedang siswa sebagai orang yang
mengalami dan terlibat aktif untuk memperoleh perubahan yang terjadi
pada diri siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar, maka guru
bertugas melakukan suatu kegiatan yaitu penilaian atau evaluasi atas
ketercapaian siswa dalam belajar. Selain memiliki kemampuan untuk
menyusun bahan pelajaran dan keterampilan menyajikan bahan untuk
mengkondisikan keaktifan belajar siswa, guru diharuskan memiliki
kemampuan mengevaluasi ketercapaian belajar siswa, karena evaluasi
merupakan salah satu komponen penting dari kegiatan belajar
mengajar.
Evaluasi berasal dari bahasa Inggris yaitu evaluation. Menurut
Mehrens dan Lehmann yang dikutip oleh Ngalim Purwanto, evaluasi
dalam arti luas adalah suatu proses merencanakan, memperoleh dan

4
Subari, Supervisi Pendidikan, (Jogjakarta: Bumi Aksara, 1994), hlm. 174
76

76

menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat
alternatif alternatif keputusan.
5
Dalam hubungan dengan kegiatan
pengajaran, evaluasi mengandung beberapa pengertian, diantaranya
adalah: 1) Menurut Norman Gronlund, yang dikutip oleh Ngalim
Purwanto dalam buku Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran,
evaluasi adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan
keputusan sampai sejauh mana tujuan dicapai oleh siswa. 2)
Wrightstone dan kawan-kawan, evaluasi pendidikan adalah penaksiran
terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa kearah tujuan-tujuan atau
nilainilai yang telah ditetapkan di dalam kurikulum.
6

Selanjutnya, Roestiyah dalam bukunya Masalah-masalah ilmu
keguruan yang kemudian dikutip oleh Slameto, mendeskripsikan
pengertian evaluasi sebagai berikut:
7
1) Evaluasi adalah proses
memahami atau memberi arti, mendapatkan dan mengkomunikasikan
suatu informasi bagi petunjuk pihak-pihak pengambil keputusan: 2)
Evaluasi ialah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya,
sedalamdalamnya, yang bersangkutan dengan kapabilitas siswa, guna
mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong
dan mengembangkan kemampuan belajar: 3) Dalam rangka
pengembangan sistem instruksional, evaluasi merupakan suatu
kegiatan untuk menilai seberapa jauh program telah berjalan seperti
yang telah direncanakan: 4) Evaluasi adalah suatu alat untuk
menentukan apakah tujuan pendidikan dan apakah proses dalam
pengembangan ilmu telah berada di jalan yang diharapkan.
Seorang pendidik harus mengetahui sejauh mana keberhasilan
pengajarannya tercapai dengan baik dan untuk memperbaiki serta
mengarahkan pelaksanaan proses belajar mengajar, dan untuk
memperoleh keputusan tersebut maka diperlukanlah sebuah proses
evaluasi dalam pembelajaran atau yang disebut juga dengan evaluasi
pembelajaran. Evaluasi pembelajaran adalah evaluasi terhadap proses
belajar mengajar. Secara sistemik, evaluasi pembelajaran diarahkan
pada komponen-komponen sistem pembelajaran yang mencakup
komponen raw input, yakni perilaku awal (entry behavior) siswa,
komponen input instrumental yakni kemampuan profesional guru atau
tenaga kependidikan, komponen kurikulum (program studi, metode,
media), komponen administratif (alat, waktu, dana); komponen proses

5
Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2004, hlm.3
6
Ibid.,
7
Slameto, Evaluasi Pendidkan, (Jakarta: Bumi Aksara,2001), hlm. 6
77

77

ialah prosedur pelaksanaan pembelajaran; komponen output ialah hasil
pembelajaran yang menandai ketercapaian tujuan pembelajaran.
8

Dilihat dari fungsinya yaitu dapat memperbaiki program
pengajaran, maka evaluasi pembelajaran dikategorikan ke dalam
penilaian formatif atau evaluasi formatif, yaitu evaluasi yang
dilaksanakan pada akhir program belajar mengajar untuk melihat
tingkat keberhasilan proses belajar mengajar itu sendiri.
9
Menurut
Anas Sudijono, evaluasi formatif ialah evaluasi yang dilaksankan
ditengah-tengah atau pada saat berlangsungnya proses pembelajaran,
yaitu dilaksanakan pada setiap kali satuan program pelajaran atau
subpokok bahasan dapat diselesaikan, dengan tujuan untuk mengetahui
sejauh mana peserta didik .telah terbentuk. sesuai dengan tujuan
pengajaran yang telah ditentukan.
10

Secara umum, dalam bidang penidikan, evaluasi bertujuan untuk
11
;
1) Memperoleh data pembuktian yang akan menjadi petunjuk sampai
dimana tingkat kemampuan dan tingkat keberhasilan peserta didik
dalam pencapaian tujuan-tujuan kurikuler setelah menempuh proses
pembelajaran dalam jangka waktu yang telah ditentukan; 2) Mengukur
dan menilai sampai di manakah efektifitas mengajar dan metode-
metode mengajar yang telah diterapkan atau dilaksanakan oleh
pendidik, serta kegiatan belajar yang dilaksanakan oleh peserta.
Adapun yang menjadi tujuan khusus dari kegiatan evluasi dalam
bidang pendidikan adalah: 1) Untuk merangsang kegiatan peserta didik
dalam menempuh program pendidikan; 2) Untuk mencari dan
menemukan faktor-faktor penyebab keberhasilan peserta didik dalam
mengikuti program pendidikan, sehingga dapat dicari dan ditemukan
jalan keluar atau cara-cara perbaikannya.
12

Evaluasi dalam pembelajaran dilakukan untuk kepentingan
pengambilan keputusan, misalnya tentang akan digunakan atau
tidaknya suatu pendekatan, metode, atau teknik. Tujuan utama
dilakukan evaluasi proses pembelajaran adalah sebagai berikut: 1)
Menyiapkan informasi untuk keperluan pengambilan keputusan dalam

8
Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995, hlm.
171
9
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar,(Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 1991), hlm. 5
10
Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. RajaGrafindo
Persada,2006), hlm. 23
11
Ibid., hlm.16
12
Ibid., hlm. 17
78

78

proses pembelajaran; 2) Mengidentifikasi bagian yang belum dapat
terlaksana sesuai dengan tujuan; 3) Mencari alternatif tindak lanjut,
diteruskan, diubah atau dihentikan.
13

Dalam keadaan pengambilan keputusan proses pembelajaran,
evaluasi sangat penting karena telah memberikan informasi mengenai
keterlaksanaan proses belajar mengajar, sehingga dapat berfungsi
sebagai pembantu dan pengontrol pelaksanaan proses belajar mengajar.
Di samping itu, fungsi evaluasi proses adalah memberikan informasi
tentang hasil yang dicapai, maupun kelemahan-kelemahan dan
kebutuhan tehadap perbaikan program lebih lanjut yang selanjutnya
informasi ini sebagai umpan balik (feedback) bagi guru dalam
mengarahkan kembali penyimpangan-penyimpangan dalam
pelaksanaan rencana dari rencana semula menuju tujuan yang akan
dicapai.
14

Dengan demikian, betapa penting fungsi evaluasi itu dalam proses
belajar mengajar. Dalam keseluruhan proses pendidikan, secara garis
besar evaluasi berfungsi untuk:
15
(1) Mengetahui kemajuan kemampuan
belajar murid. Dalam evaluasi formatif, hasil dari evaluasi selanjutnya
digunakan untuk memperbaiki cara belajar siswa. (2) Mengetahui
status akademis seseorang siswa dalam kelasnya. (3) Mengetahui
penguasaan, kekuatan dalam kelemahan seseorang siswa atas suatu
unit pelajaran. (4) Menegtahui efisiensi metode mengajar yang
digunakan guru. (5) Menunjang pelaksanaan B.K di sekolah.
(6)Memberi laporan kepada siswa dan orang tua (7) Hasil evaluasi
dapat digunakan untuk keperluan promosi siswa. (8) Hasil evaluasi
dapat digunakan untuk keperluan pengurusan (streaming) (9) Hasil
evaluasi dapat digunakan untuk keperluan perencanaan pendidikan,
serta (10) Memberi informasi kepada masyarakat yang memerlukan,
dan Merupakan feedback bagi siswa, guru dan program pengajaran.
(11) Sebagai alat motivasi belajar mengajar (12) Untuk keperluan
pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah yang bersangkutan.
16

Bagi guru fungsi evaluasi perlu diperhatikan dengan sungguh-
sungguh agar evaluasi yang diberikan benar-benar mengenai sasaran.
Hal ini didasarkan karena hampir setiap saat guru melaksanakan

13
Ahmad Sofyan, dkk, Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi,(Jakarta:
UIN Jakarta Press,2006), hlm. 31-32
14
Ibid., hlm. 32
15
Slameto, op., cit., hlm. 15-16
16
M. Ngalim Purwanto, op., cit., hlm. 7
79

79

kegiatan evaluasi untuk menilai keberhasilan belajar siswa serta
program pengajaran.

2. Prinsip-Prinsip Evaluasi
Prinsip diperlukan sebagai pemandu dalam kegiatan evaluasi. Oleh
karena itu evaluasi dapat dikatakan terlaksana dengan baik apabila
dalam pelaksanaannya senantiasa berpegang pada prinsip-prinsip
berikut ini
17
: (a) Prinsip Kontinuitas (terus menerus/
berkesinambungan) Artinya bahwa evaluasi itu tidak hanya merupakan
kegiatan ujian semester atau kenaikan saja, tetapi harus dilaksanakan
secara terus menerus untuk mendapatkan kepastian terhadap sesuatu
yang diukur dalam kegiatan belajar mengajar dan mendorong siswa
untuk belajar mempersiapkan dirinya bagi kegiatan pendidikan
selanjutnya. (b) Prinsip Comprehensive (keseluruhan) Seluruh segi
kepribadian murid, semua aspek tingkah laku, keterampilan, kerajinan
adalah bagian-bagian yang ikut ditest, karena itu maka item-item test
harus disusun sedemikian rupa sesuai dengan aspek tersebut (kognitif,
afektif, psikomotorik) (c) Prinsip Objektivitas. Objektif di sini
menyangkut bentuk dan penilaian hasil yaitu bahwa pada penilaian
hasil tidak boleh memasukkan faktor-faktor subyektif, faktor perasaan,
faktor hubungan antara pendidik dengan anak didik. (d) Evaluasi harus
menggunakan alat pengukur yang baik evaluasi yang baik tentunya
menggunakan alat pengukur yang baik pula, alat pengukur yang valid.
(e) Evaluasi harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh
kesungguhan itu akan kelihatan dari niat guru, minat yang diberikan
dalam penyelenggaraan test, bahwa pelaksanaan evaluasi semata-mata
untuk kemajuan si anak didik, dan juga kesungguhan itu diharapkan
dari semua pihak yang terlibat dalam kegiatan belajar mengajar itu,
bukan sebaliknya.

3. Teknik Evaluasi
Istilah teknik dapat diartikan sebagai alat. Jadi teknik evaluasi
berarti alat yang digunakan dalam rangka melakukan kegiatan evaluasi.
Berbagai macam teknik penilaian dapat dilakukan secara
komplementer (saling melengkapi) sesuai dengan kompetensi yang
dinilai, teknik penilaian yang dimaksud antara lain melaui tes,
observasi, penugasan, inventori, jurnal, penilaian diri dan penilaian

17
Tayar Yusuf dan Jurnalis Etek, Keragaman Teknik Evaluasi dan Metode
Penerapan Jiwa Agama, (Jakarta: IND-HILL-CO,1987), hlm. 48-51

80

antar teman yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan tingkat
perkembangan peserta didik.
18

Dalam konteks evaluasi hasil proses pembelajaran di sekolah
dikenal adanya 2 macam teknik, yaitu teknik tes, maka evaluasi
dilakukan dengan jalan menguji peserta didik, sedangkan teknik non
test, maka evaluasi dilakukan dengan tanpa menguji peserta didik.
a. Teknik tes
Tes adalah alat atau prosedur yang dipergunakan dalam rangka
pengukuran dan penilaian dibidang pendidikan yang berbentuk
pemberian tugas atau serangkaian tugas baik berupa pertanyaan-
pertanyaan atau perintah-perintah oleh testee sehingga dapat
dihasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku dengan nilai-nilai
yang dicapai oleh testee lainnya atau dibandingkan dengan nilai
standar tertentu.
19

Ditinjau dari segi fungsi yang dimiliki oleh tes sebagai alat
pengukur perkembangan belajar peserta didik, tes dibedakan
menjadi tiga golongan: (1) Tes diagnostik adalah tes yang
digunakan untuk mengetahui kelemahankelemahan siswa sehingga
berdasarkan kelemahan-kelemahan siswa tersebut dapat dilakukan
pemberian perlakuan yang tepat.
20
(2) Tes formatif, adalah tes yang
bertujuan untuk mengetahui sudah sejauhmanakah peserta didik
telah terbentuk sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah
ditentukan setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam
jangka waktu tertentu. Di sekolah.sekolah tes formatif ini dikenal
dengan istilah .ulangan harian.(3) Tes sumatif adalah tes hasil
belajar yang dilaksanakan setelah sekumpulan satuan program
pengajaran selesai diberikan, di sekolah tes ini dikenal dengan
.ulangan umum., dimana hasilnya digunakan untuk mengisi nilai
raport atau mengisi Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) atau
Ijazah.
21
(4) Apabila ditinjau dari segi cara mengajukan pertanyaan
dan cara memberikan jawabannya, tes dapat dibedakan menjadi dua
golongan, yaitu, tes tertulis dan tes lisan.
22

b. Teknik non tes

18
www. dikmenum.go.id, Perangkat Penilaian KTSP SMA/ Rancangan Penilaian
Hasil Belajar, (di unduh 20 Pebruari 2012) hlm. 3
19
Anas Sudijono, op., cit., hlm. 67
20
Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Bumi
Aksara, 2002), hlm. 34
21
Anas Sudijono, op., cit., hlm. 71-72
22
ibid., p. 75

81

Melalui teknik non tes, maka penilaian atau evaluasi hasil
belajar peserta didik dilakukan dengan tanpa menguji peserta didik,
melainkan dilakukan dengan:
23
(1) Skala bertingkat (Rating scale)
(2) Skala menggambarkan suatu nilai yang berbentuk angka
terhadap sesuatu hasil pertimbangan. (3) Quesioner (Angket) Yaitu
sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan
diukur (responden) (4) Daftar cocok (Check list) Yaitu deretan
pernyataan dimana responden yang dievaluasi tinggal
membubuhkan tanda cocok () ditempat yang sudah disediakan. (5)
Wawancara (Interview) (6)Suatu metode atau cara yang digunakan
untuk mendapatkan jawaban dari responden dengan jalan tanya
jawab sepihak. (7) Pengamatan (observation) (8) Suatu tehnik yang
dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliti serta
pencatatan secara sistematis. (10) Riwayat hidup; Gambaran tentang
keadaan seseorang selama dalam masa kehidupannya.

4. Langkah-langkah Evaluasi
Evaluasi merupakan bagian integral dari pendidikan atau
pengajaran sehinggaperencanaan atau penyusunan, pelaksanaan dan
pendayagunaannyapun tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan
program pendidikan atau pengajaran.
24

Hasil dari evaluasi yang diperoleh selanjutnya dapat digunakan
untuk memperbaiki cara belajar siswa (fungsi formatif). Agar evaluasi
dapat dilaksanakan tepat pada waktu yang diharapkan dan hasilnya
tepat guna dan tepat arah, perlu mengikuti langkah-langkah berikut
ini:
25


a. Menyusun rencana evaluasi hasil belajar
Perencanaan evaluasi hasil belajar itu umumnya mencakup:
(1) Merumuskan tujuan dilaksanakannya evaluasi. Hal ini
disebabkan evaluasi tanpa tujuan maka akan berjalan tanpa arah dan
mengakibatkan evaluasi menjadi kehilangan arti dan fungsinya. (2)
Menetapkan aspek-aspek yang akan dievaluasi, misalnya aspek
kognitif, afektif atau psikomotorik (3) Memilih dan menentukan
teknik yang akan dipergunakan didalam pelaksanaan evaluasi
misalnya apakah menggunakan teknik tes atau non tes (4)
Menyusun alat-alat pengukur yang dipergunakan dalam pengukuran

23
Suharsimi Arikunto, op., cit.,hlm. 27-31
24
Slameto, op., cit., p. 45
25
Anas Sudijono, op., cit., hlm. 93-97
81

82

82

dan penilaian hasil belajar peserta didik, seperti butirbutir soal tes
(5) Menentukan tolok ukur, norma atau kriteria yang akan dijadikan
pegangan atau patokan dalam memberikan interpretasi terhadap
data hasil evaluasi. (6) Menentukan frekuensi dari kegiatan evaluasi
hasil belajar itu sendiri.
b. Menghimpun data
Dalam evaluasi pembelajaran, wujud nyata dari kegiatan
menghimpun data adalah melaksanakan pengukuran, misalnya
dengan menyelenggarakan tes pembelajaran
c. Melakukan verifikasi data
Verifikasi data dimaksudkan untuk memisahkan data yang
baik (yang dapat memperjelas gambaran yang akan diperoleh
mengenai diri individu atau sekelompok individu yang sedang
dievaluasi dari data yang kurang baik (yang akan mengaburkan
gambaran yang akan diperoleh apabila data itu ikut serta diolah)
d. Mengolah dan menganalisis data
Mengolah dan menganalisis hasil evaluasi dilakukan dengan
memberikan makna terhadap data yang telah berhasil dihimpun
dalam kegiatan evaluasi.
e. Memberikan interpretasi dan menarik kesimpulan
Interpretasi terhadap data hasil evaluasi belajar pada
hakikatnya adalah merupakan verbalisasi dari makna yang
terkandung dalam data yang telah mengalami pengolahan dan
penganalisaan
f. Tindak lanjut hasil evaluasi
Bertitik tolak dari data hasil evaluasi yang telah disusun,
diatur, diolah, dianalisis dan disimpulkan sehingga dapat diketahui
apa makna yang terkandung didalamya, maka pada akhirnya
evaluasi akan dapat mengambil keputusan atau merumuskan
kebijakan-kebijakan yang akan dipandang perlu sebagai tindak
lanjut dari kegiatan evaluasi tersebut.
Adapun langkah-langkah evaluasi (penilaian) berdasarkan
penilaian KTSP adalah sebagai berikut :
26
(1) Perencanaan
Penilaian; Perencanaan penilaian mencakup penyusunan kisi-kisi
yang memuat indikator dan strategi penilaian. Strategi penilaian
meliputi pemilihan metode dan teknik penilaian, serta pemilihan
bentuk instrumen penilaian.(2) Secara teknis kegiatan pada tahap

26
www. dikmenum.go.id, Perangkat Penilaian KTSP SMA/ Rancangan Penilaian
Hasil Belajar, hlm. 18
83

83

perencanaan penilaian oleh pendidik sebagai berikut: Menjelang
awal tahun pelajaran, guru mata pelajaran sejenis pada satuan
pendidikan (MGMP sekolah) melakukan : Pada awal semester
pendidik menginformasikan KKM dan silabus mata pelajaran yang
di dalamnya memuat rancangan dan kriteria penilaian kepada
peserta didik. Pendidik mengembangkan indikator penilaian, kisi-
kisi, instrumen penilaian (berupa tes, pengamatan, penugasan, dan
sebagainya) dan pedoman penskoran. (3) Pelaksanaan penilaian ;
Pelaksanaan penilaian adalah penyajian penilaian kepada peserta
didik. Penilaian dilaksanakan dalam suasana kondusif, tenang dan
nyaman dengan menerapkan prinsip valid, objektif, adil, terpadu,
terbuka, menyeluruh, menggunakan acuan criteria, dan akuntabel.
Kegiatan yang dilakukan oleh pendidik pada tahap ini meliputi:
Melaksanakan penilaian menggunakan instrumen yang telah
dikembangkan; Memeriksa hasil pekerjaan peserta didik mengacu
pada pedoman penskoran, untuk mengetahui kemajuan hasil belajar
dan kesulitan belajar peserta didik; (4) Hasil pekerjaan peserta didik
untuk setiap penilaian dikembalikan kepada masing-masing peserta
didik disertai balikan/komentar yang mendidik misalnya, mengenai
kekuatan dan kelemahannya. Ini merupakan informasi yang dapat
dimanfaatkan oleh peserta didik untuk (a) mengetahui kemajuan
hasil belajarnya, (b) mengetahui kompetensi yang belum dan yang
sudah dicapainya, (c) memotivasi diri untuk belajar lebih baik, dan
(d) memperbaiki strategi belajarnya. (5) Analisis hasil penilaian;
Kegiatan yang dilakukan oleh pendidik pada tahap analisis adalah
menganalisis hasil penilaian menggunakan acuan kriteria yaitu
membandingkan hasil penilaian masing-masing peserta didik
dengan standar yang telah ditetapkan. Untuk penilaian yang
dilakukan oleh pendidik hasil penilaian masing-masing peserta
didik dibandingkan dengan KKM. Analisis ini bermanfaat untuk
mengetahui kemajuan hasil belajar dan kesulitan belajar peserta
didik, serta untuk memperbaiki pembelajaran. (6) Tindak lanjut
hasil analisis; Analisis hasil penilaian telah dilakukan perlu ditindak
lanjuti. Kegiatan yang dilakukan oleh pendidik sebagai tindak lanjut
hasil analisis meliputi: Pelaksanaan program remedial untuk peserta
didik yang belum tuntas (belum mencapai KKM) untuk hasil
ulangan harian dan memberikan kegiatan pengayaan bagi peserta
didik yang telah tuntas; Pengadministrasian semua hasil penilaian
yang telah dilaksanakan. (7) Pelaporan hasil penilaian ; Pelaporan
hasil penilaian disajikan dalam bentuk profil hasil belajar peserta
84

84

didik. Pada tahap pelaporan hasil penilaian, pendidik melakukan
kegiatan sebagai berikut: (a) Menghitung/menetapkan nilai mata
pelajaran dari berbagai macam penilaian (hasil ulangan harian,
tugas-tugas, ulangan tengah semester, dan ulangan akhir semester
atau ulangan kenaikan kelas);(b) Melaporkan hasil penilaian mata
pelajaran dari setiap peserta didik pada setiap akhir semester kepada
pimpinan satuan pendidikan melalui wali kelas atau wakil bidang
akademik dalam bentuk nilai prestasi belajar (meliputi aspek
pengetahuan, praktik, dan sikap) disertai deskripsi singkat sebagai
cerminan kompetensi yang utuh; (c) Memberi masukan hasil
penilaian akhlak kepada guru Pendidikan Agama dan hasil penilaian
kepribadian kepada guru Pendidikan Kewarganegaraan sebagai
informasi untuk menentukan nilai akhir semester akhlak dan
kepribadian peserta didik; (c) Pendidik yang menilai ujian praktik
melaporkan hasil penilaiannya kepada pimpinan satuan pendidikan
melalui wakil pimpinan bidang akademik (kurikulum).
Dalam KTSP, Penilaian menggunakan acuan kriteria,
maksudnya hasil yang dicapai peserta didik dibandingkan dengan
kriteria atau standar yang ditetapkan. Apabila peserta didik telah
mencapai standar kompetensi yang telah ditetapkan, ia dinyatakan
lulus pada mata pelajaran tertentu. Apabila peserta didik belum
mencapai standar, ia harus mengikuti program remedial atau
perbaikan sehingga ia mencapai kompetensi minimal yang
ditetapkan.
Baik tidaknya suatu evaluasi dapat ditentukan berdasarkan
keadaan tes itu seluruhnya atatu berdasarkan kebaikan setiap soal
dalam tes itu, tetapi dalam pada itu ada beberapa syarat yang harus
diperhatikan pada penyusunan setiap soal dan juga pada penyusunan
seluruh tes.(1) Validitas n: Suatu tes dikatakan valid atau sah, kalau
tes itu betul-betul mengukur apa yang hendak diukurnya, harus
dapat mengukur tingkat hasil belajar yang tercapai dalam
pelaksanaan suatu tujuan yang dikehendaki.
27
(2) Reliabilitas; Suatu
tes dikatakan reliabel apabila skor-skor atau nilai-nilai yang
diperoleh peserta ujian untuk pekerjaan ujiannya adalah stabil,
kapan saja, dimana saja, dan oleh siap saja ujian itu dilaksanakn,
diperiksa dan dinilai.(3) Obyektifitas; Suatu tes dapat dikatakan
sebagai tes belajar yang obyektif apabila tes tersebut disusun dan

27
H.C Witherington, W.H. Bruto,dkk, Tehnik-Tehnik Belajar dan Mengajar,
(Bandung: Jemmars, 1986), Ed-3, hlm-156-157
85

83

dilaksanakan .menurut apa adanya., yang mengandung pengertian
bahwa pekerjaan mengoreksi, pemberian skor dan penentuan
nilainya terhindar dari unsur-unsur subyektivitas yang melekat pada
diri penyusunan tes. (4) Praktis; Tes belajar tersebut dilaksanakan
dengan mudah, sederhana, lengkap.
28

Pada pelaksanaan evaluasi khususnya evaluasi formatif
(penilaian formatif), penilaian lebih diarahkan kepada pertanyaan,
sampai dimanakah guru telah berhasil menyampaikan bahan
pelajaran kepada siswanya. Hal ini akan digunakan oleh guru untuk
memperbaiki proses belajar mengajar. Evaluasi formatif ditujukan
untuk memperoleh umpan balik dari upaya pengajaran yang telah
dilakukan oleh guru, meskipun dalam evaluasi formatif ini
keberhasilan guru yang dinilai, yang langsung dikenai penilaiannya
tetap siswa. Jadi dengan kata lain dengan melihat hasil yang
diperoleh siswa dapat diketahui keberhasilan atau ketidakberhasilan
guru mengajar.

C. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Menurut Zakiyah Daradjat, Pendidikan agama Islam adalah suatu
usaha untuk mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami
ajaran Islam secara menyeluruh. Pendidikan Agama Islam merupakan
usaha sadar yang dilakukan pendidik dalam rangka mempersiapkan
peserta didik untuk meyakini, memahami dan mengamalkan ajaran
Islam melalui kegiatan bimbingan pengajaran atau pelatihan yang telah
ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
29

Untuk penilaian kelompok mata pelajaran Agama dan Akhlak
mulia, kompetensi yang dikembangkan terfokus pada aspek kognitif
dan pengetahuan dan aspek afektif atau perilaku. Penilaian hasil belajar
untuk kelompok mata pelajaran Agama dilakukan melalui
30
: (1)
Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai
perkembangan afeksi dan kepribadian peserta didik. (2) Ujian, ulangan
dan atau penugasan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik.
Di sekolah.sekolah umum, alokasi waktu untuk mengajarkan
Pendidikan Agama Islam disediakan waktu 2 jam pelajaran

28
Anas Sudijono, loc., cit., hlm. 93-97
29
Abdul Madjid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi
Konsep dan Implementasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 130-132
30
www. dikmenum.go.id, Perangkat Penilaian KTSP SMA/ Rancangan Penilaian
Hasil Belajar, hlm. 7
86

86

perminggu
31
, dimana secara keseluruhan mata pelajaran Pendidikan
Agama Islam melingkupi Al Qur.an dan Al Hadits, keimanan, akhlak,
fiqh atau ibadah, dan sejarah sekaligus menggambarkan bahwa ruang
lingkup Pendidikan Agama Islam mencakup perwujudan keserasian,
keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT,
diri sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya maupun lingkungan.
Kedudukan Pendidikan Agama Islam di sekolah umum hanya
merupakan salah satu program atau mata pelajaran atau bidang studi
yang kedudukannya sama dengan bidang studi atau mata pelajaran
lainnya.
32
Sehingga pelaksanaan evaluasi pembelajarannya pun sama
dengan mata pelajaran lainnya.

D. Kesimpulan.
Melakukan evaluasi tentang hasil Pendidikan Agama Islam
kepada murid-murid dapat berlangsung secara terulis atau lisan, pada
periode waktu-waktu tertentu dan yang bersifat rutin sehari-hari pula.
Mengenai pelajaran Pendidikan Agama Islam ini adalah lebih baik para
guru mengevaluasinya secara harian karena hal demikian lebih
obyektif, efektif dan membawa kepada naturalistik pengalaman dan
penghayatannya kepada kepribadian anak, disamping evaluasi secara
periodik yang memang wajar dilakukan pada waktu-waktu yang tepat.
Sekurang-kurangnya ada 3 faktor tentang agama yang harus dievaluasi
pada diri seorang anak: 1) Pengetahuan para siswa tentang agama
Islam, 2) Pelaksanaan praktik ibadah dan amaliyahnya, 3) Penghayatan
jiwa agama atau akhlak yang baik sehari-hari atau kepribadian
mereka.
33

Kemampuan dan keahlian para guru pada saat melaksanakan
evaluasi pembelajaran dengan sudah memperhatikan dan memahami
prosedur dan teknik-teknik evaluasi pendidikan dan juga dapat
menafsirkan hasil dari evaluasi yang telah dilaksanakan yang
kemudian ditindaklanjuti untuk memperoleh pembelajaran yang lebih
optimal.




31
H. M Alisuf Sabri ,Pengantar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005),
hlm. 118
32
Ibid., hlm. 119
33
Tayar Yusuf dan Jurnalis Etek, Keragaman Teknik Evaluasi dan Metode
Penerapan Jiwa Agama, (Jakarta: IND-HILL-CO,1987), hlm. 24
87

87

DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi
Aksara, 2002.
H.C Witherington, W.H. Bruto,dkk, Tehnik-Tehnik Belajar dan Mengajar.
Bandung: Jemmars, 1986.
Hamalik, Oemar. Kurikulum dan Pembelajar. Jakarta: Bumi Aksara, 1995.
Irawan, Prasetya. Evaluasi Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PAU-PAI,
Universitas Terbuka, 2001.
Madjid, Abdul dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis
Kompetensi Konsep dan Implementasi. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2004.
Purwanto, Ngalim. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004.
Sabri, H. M Alisuf. Pengantar Ilmu Pendidikan. Jakarta: UIN Jakarta Press,
2005.
Slameto. Evaluasi Pendidkan. Jakarta: Bumi Aksara,2001.
Sofyan, Ahmad, dkk, Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi.
Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006.
Subari. Supervisi Pendidikan. Jogjakarta: Bumi Aksara, 1994.
Sudijono, Anas. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. RajaGrafindo
Persada, 2006.
Sudjana, Nana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 1991.
www. dikmenum.go.id, Perangkat Penilaian KTSP SMA/ Rancangan
Penilaian Hasil Belajar.
Yusuf, Tayar dan Jurnalis Etek, Keragaman Teknik Evaluasi dan Metode
Penerapan Jiwa Agama. Jakarta: IND-HILL-CO,1987.

88

88
PERANAN PENDIDIKAN DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
Oleh : AidaYunirahmawati,
1


ABSTRAK

Dalam hubungan dengan lingkungan dan kehidupan masyarakat,
pendidikan mengemban tiga sifat penting. Ketiga sifat tersebut, dirinci
antara lain oleh Nana Syaodih Sukmadinata, sebagai berikut: pertama,
pendidikan mengandung dan memberikan pertimbangan nilai, yang
diarahkan pada pengembangan pribadi anak, agar sesuai dengan nilai-
nilai yang ada dan diharapkan masyarakat. Kedua, pendidikan diarahkan
pada kehidupan dalam masyarakat, menyiapkan anak untuk kehidupan
dalam masyarakat. Ketiga, pelaksanaan pendidikan dipengaruhi dan
didukung oleh lingkungan masyarakat tempat pendidikan berlangsung
2
.
Dari sudut pandang Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional,
ketiga sifat penting pendidikan itu harus diwujudkan dalam bentuk
kualifikasi keluaran pendidikan sebagaimana yang dirangkum dalam
istilah manusia Indonesia seutuhnya, yaitu berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggungjawab (Pasal 3 UU No.20 tahun 2003).
Dari perspektif pendidikan umum, manusia yang dicita-citakan
sejalan dengan hal tersebut di atas, Sikun Pribadi (1971: 41) menyatakan
bahwa: Pendidikan umum berawal dari pandangan adanya dalil
kesatuan dunia, keteraturan dalam kehidupan, dan realitas kompleks
yang multi dimensionalitas. Hal demikian kita pahami pada kepribadian
manusia secara umum, yakni sebagai satu kesatuan yang utuh, sebagai
suatu sistem yang di dalamnya terjadi proses-proses kontradiktif, seperti:
organisasi dan disorganisasi, integrasi dan disintegrasi. Melalui
pendidikan umum, keanekaragaman potensi dasar manusia yang
mungkin berkembang kurang terarah akan dapat diintegrasikan ke dalam
satu tujuan umum pendidikan dengan penyatuan elemen budaya,
meluruskan pengembangan kepribadian secara proporsional.

Kata kunci : Pendidikan dan Manusia

1
AidaYunirahmawati adalah Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri
Semarang Program Bimbingan Konseling (UNNES) sejak tahun 2011 sekarang
2
Nana Syaodih Sukmadinata. 2009. Landasan Psikologi Proses Pendidikan.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya., hal. 30
89

89
A. Pendahuluan
Mengikuti perkembangan peristiwa kehidupan dari media massa
yang terjadi sekarang ini menunjukkan betapa bangsa ini tengah
mengalami kemunduran dari berbagai aspek kehidupan. Tindak
kejahatan semakin meningkat baik kuantitas maupun kualitasnya. Kasus
pemerkosaan di angkutan umum yang belum lama ini terjadi semakin
membuka mata kita betapa rusaknya moral manusia bangsa ini. Kasus
korupsi yang dilakukan beberapa pejabat pemerintahan pusat dan daerah
semakin banyak terungkap, walaupun penanganannya tidak sampai
tuntas bahkan nyaris tak terdengar manakala proses penyelidikan yang
dilakukan memakan cukup waktu. Tawuran antarwarga bahkan
antarpelajar layaknya pekerjaan rumah yang tak ada habisnya. Hal ini
menjadi ironis manakala pelajar yang notabene adalah generasi terdidik
yang seharusnya dapat menyelesaikan permasalahannya dengan cerdas
akan tetapi terlibat didalamnya. Budaya malu semakin menipis.
Disintegrasi bangsa semakin menguat. Terorisme dan kerusuhan SARA
belum terentaskan. Jelas bagi kita bahwa Budaya Adiluhung yang dulu
kita elu-elukan semakin hilang.
Karakter bangsa kita semakin terkikis oleh pengaruh budaya bangsa
dalam dunia yang semakin mengglobal. Budaya gotong royong tepo
seliro terkikis oleh individualitas. Hal inilah yang menandai adanya
kemunduran budaya bangsa Indonesia. Adanya berbagai macam
kekacauan yang terjadi di negeri ini merupakan indikasi yang harus kita
akui sebagai sebuah proses pendidikan yang gagal. Berkaca dari hal ini
membuat kita berpikir pasti ada yang salah dalam proses pendidikan kita
apabila hasilnya tidak bisa membuat bangsa ini semakin maju secara
utuh dan menyeluruh.
Pendidikan adalah tanggung jawab kita bersama. Orang tua, sekolah
dan masyarakat mempunyai tanggung jawab yang berbeda namun saling
melengkapi dalam mendidik anak-anak bangsa. Untuk itu, semua pihak
harus bisa bekerjasama agar produk pendidikan sesuai dengan yang
diharapkan. Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, perlu dipahami
dan direnungkan kembali hakikat manusia, hakikat pendidikan dan
tujuan pendidikan yang sebenarnya. Pemahaman hakikat manusia dalam
rangka upaya pendidikan, tidak bisa dilepaskan dari masalah-masalah
yang berkaitan dengan masalah ontologis, epistemologis dan aksiologis
yang akan menentukan kebijakan, konsep dan tujuan pendidikan.
Pendidikan merupakan sesuatu yang tidak asing bagi kita, terlebih
lagi karena kita bergerak di bidang pendidikan. Pendidikan diperlukan
oleh semua orang bahkan dapat dikatakan bahwa pendidikan dialami
90

90
oleh manusia dari semua golongan. Tetapi seringkali orang melupakan
makna dan hakikat pendidikan itu sendiri. Layaknya hal yang sudah
menjadi rutinitas, cenderung terlupakan makna dasar dan hakikatnya.
Karena itu benarlah kalau dikatakan bahwa setiap orang yang
terlihat dalam dunia pendidikan sepatutnyalah selalu merenungkan dan
merenungkan kembali makna dan hakikat pendidikan, merefleksikannya
di tengah-tengah tindakan/aksi sebagai buah refleksinya serta
memperkokoh landasan pendidikannya agar pendidikan akan dapat
dilaksanakan secara mantap, jelas arah tujuannya, relevan isi
kurikulumnya, serta efektif dan efisien metode atau cara-cara
pelaksanaannya.
Mengingat hakikat pendidikan adalah humanisasi, yaitu upaya
memanusiakan manusia, maka para pendidik perlu memahami hakikat
manusia sebagai salah satu landasannya. Konsep hakikat manusia yang
dianut pendidik akan berimplikasi terhadap konsep dan praktek
pendidikannya.
Hakikat manusia perlu dibahas lebih dahulu karena pendidikan yang
kita dambakan adalah untuk manusia itu sendiri. Mengingat proses
kependidikan yang kita dambakan adalah suatu proses pengembangan
terhadap kemampuan dasar manusia, maka dengan sendirinya proses
tersebut akan berjalan sesuai dengan hukum-hukum perkembangan yaitu
hukum kesatuan organis, yang didalam hukum itu menyatakan bahwa
perkembangan manusia berjalan secara menyeluruh dalam seluruh
organ-organnya, baik itu organ tubuhnya maupun organ rohaniahnya.

B. Pembahasan
1. Hakikat Manusia
Proses pendidikan erat kaitannya dengan manusia. Subyek
pendidikan adalah manusia. Oleh karena itu, pendidik harus memahami
hakikat manusia agar proses pendidikan yang dilakukan menjadi terarah
sesuai dengan tujuanya.
Pendidikan yang dilakukan bermaksud membantu peserta didik
untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi kemanusiaanya. Potensi
kemanusiaan merupakan benih kemungkinan untuk menjadi manusia.
Tugas mendidik hanya mungkin dilakukan dengan benar dan tepat
tujuan jika pendidik memiliki gambaran yang jelas tentang siapa
manusia itu sebenarnya. Manusia memiliki ciri khas yang secara
prinsipil berbeda dari makhluk Tuhan lainnya. Manusia adalah makhluk
ciptaan Tuhan yang paling sempurna, karena memiliki kemampuan
intelegesi dan daya nalar sehingga manusia mampu berfikir, berbuat dan
91

91
bertindak untuk membuat perubahan dengan maksud pengembangan
sebagai manusia yang utuh. Kemampuan seperti itulah yang tidak
dimiliki oleh makhluk Tuhan lainnya. Ciri khas manusia yang
membedakannya terbentuk dari kumpulan terpadu dari apa yang disebut
sifat hakikat manusia. Disebut sifat hakikat manusia karena secara hakiki
sifat tersebut hanya dimiliki oleh manusia dan tidak terdapat pada
hewan.
Pemahaman pendidik terhadap sifat hakikat akan membentuk peta
tentang karakteristik manusia. Peta ini akan menjadi landasan serta
memberikan acuan baginya dalam bersikap, menyusun strategi, metode
dan teknik serta memilih pendekatan dan orientasi dalam merancang dan
melaksanakan komunikasi transaksional di dalam interaksi edukatif.
Dengan kata lain, bahwa dengan menggunakan peta tersebut sebagai
acuan seorang pendidik tidak mudah terkecoh ke dalam bentuk-bentuk
transaksional yang patologis dan berakibat merugikan subjek didik.
Alasan kedua mengapa gambaran yang benar dan jelas tentang
manusia itu perlu dimiliki oleh pendidik adalah karena adanya
perkembangan sains dan teknologi yang sangat pesat dewasa ini, lebih-
lebih pada masa mendatang. Memang banyak manfaat yang dapat diraih
bagi kehidupan manusia darinya. Namun, di sisi lain tidak dapat
dielakkan akan adanya dampak negatif yang terkadang tanpa disadari
sangat merugikan bahkan mungkin mengancam keutuhan eksistensi
manusia.
Dalam kaitannya dengan perkembangan individu, manusia dapat
tumbuh dan berkembang melalui suatu proses alami menuju kedewasaan
baik itu bersifat jasmani maupun bersifat rohani. Oleh karena itulah
manusia pasti memerlukan pendidikan demi mendapatkan perkembang
an yang optimal sebagai manusia.
1) Manusia sebagai Makhluk Tuhan yang Maha Esa
Dalam perjalanan hidupnya manusia mempertanyakan tentang
asal-usul alam semesta dan asal-usul keberadaan dirinya sendiri.
Dua aliran filsafat yang memberikan jawaban atas pertanyaan
tersebut yaitu evolusionisme dan kreasionisme. Menurut
evolusionisme manusia adalah hasil puncak dari mata rantai evolusi
yang terjadi di alam semesta. Manusia sebagaimana halnya alam
semesta ada dengan sendirinya berkembang dari alam itu sendiri
tanpa pencipta. Sebaliknya filsafat kreasionisme menyatakan bahwa
92

92
asal-usul manusia sebagaimana halnya alam semesta adalah ciptaan
suatu creative cause atau personality yaitu Tuhan YME
3
.
Kita dapat mengakui kebenaran tentang adanya proses evolusi
di alam semesta termasuk pada diri manusia, tetapi tentunya kita
menolak pandangan yang menyatakan adanya manusia di alam
semesta semata-mata sebagai hasil evolusi dari alam itu sendiri,
tanpa Pencipta. Penolakan ini terutama di dasarkan atas keimanan
kita kepada Tuhan YME sebagai Maha Pencipta. Adapun secara
filosofis, penolakan tersebut antara lain didasarkan kepada empat
argument berikut,
4
: (1) Argumen ontologis: semua manusia
memiliki ide tentang Tuhan. (2) Argumen kosmologis: segala
sesuatu yang ada mesti mempunyai suatu sebab. (3) Argumen
teleologis: segala sesuatu memiliki tujuan. (4) Argumen moral:
manusia itu bermoral, ia dapat membedakan perbuatan yang baik
dan yang jahat.
2) Manusia sebagai Kesatuan Badani-Rohani (Dualisme)
Menurut Julien de La Mettrie, salah seorang penganut aliran
Materialisme bahwa esensi manusia semata-mata bersifat badani,
esensi manusia adalah tubuh/fisiknya. Sebab itu, segala hal yang
bersifat kejiwaan, spiritual atau rohaniah dipandang hanya sebagai
resonansi dari berfungsinya badan atau organ tubuh. Tubuhlah yang
mempengaruhi jiwa. Contoh: Jika ada organ tubuh luka muncullah
rasa sakit. Pandangan hubungan antara badan dan jiwa seperti itu
dikenal sebagai Epiphenomenalisme (J.D. Butler, 1968).
Sebaliknya, menurut Plato, salah seorang penganut aliran
Idealisme bahwa esensi manusia bersifat kejiwaan / spiritual /
rohaniah. Memang Plato tidak mengingkari adanya aspek badan,
namun menurut dia jiwa mempunyai kedudukan lebih tinggi
daripada badan. Jiwa berperan sebagai pemimpin badan jiwalah
yang mempengaruhi badan, karena itu badan mempunyai
ketergantungan kepada jiwa. Contoh: Pada saat berpuasa, jiwa
mengendalikan badan untuk tidak minum dan tidak makan,
sekalipun kerongkongan sudah kering dan perut keroncongan.
Pandangan tentang hubungan badan dan jiwa seperti itu dikenal
sebagai Spiritualisme (J.D.Butler, 1968).

3
Tatang Syaripudin. 2007. Landasan Pendidikan. Bandung: Percikan Ilmu.
4
Jallaluddin dan Abdullah Idi. 2010. Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat dan
Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruz Media.
93

93
Rene Descartes mengemukakan pandangan lain yang secara
tegas bersifat dualistik. Menurut Descartes esensi manusia terdiri
atas dua substansi, yaitu badan dan jiwa. Karena manusia terdiri
atas dua substansi yang berbeda (badan dan jiwa), maka antara
keduanya tidak terdapat hubungan saling mempengaruhi (S.E. Frost
Jr., 1957). Namun demikian setiap peristiwa kejiwaan selalu parallel
dengan peristiwa badaniah, atau sebaliknya. Contoh: apabila jiwa
seseorang sedih, maka secara paralel badannya pun tampak murung
atau menangis. Pandangan hubungan antara badan dan jiwa seperti
itu dikenal sebagai Paralelisme (J.D. Butler, 1968).
Semua pandangan di atas dibantah oleh E.F. Schumacher
5
,
manusia adalah kesatuan dari yang bersifat badani dan rohani yang
secara prinsipal berbeda dari pada benda, tumbuhan, hewan maupun
Tuhan. Sejalan dengan peryataan tersebut, Abdurahman Sholih
Abdullah dalam Umar Tirtarahardja (2005) menegaskan meski
manusia merupakan perpaduan dua unsur yang berbeda, ruh dan
badan, namun ia merupakan pribadi yang integral
6
menandaskan
bahwa manusia merupakan mahluk monodualisme antara jiwa dan
raga tidak dapat dipisahkan. Sebagai kesatuan badani-rohani
manusia hidup dalam ruang dan waktu, memiliki kesadaran
(consciousnesss), memiliki penyadaran diri (selfawareness),
mempunyai berbagai kebutuhan, instink, nafsu, serta mempunyai
tujuan. Manusia memiliki potensi untuk beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan YME dan potensi untuk berbuat baik. Namun di
samping itu karena hawa nafsunya ia memiliki potensi untuk
berbuat jahat. Selain itu manusia memiliki potensi untuk mampu
berpikir (cipta), potensi berperasaan (rasa) dan potensi berkehendak
(karsa) serta memiliki potensi untuk berkarya.
Adapun eksistensi manusia memiliki dimensi kemanusiaan
seperti individualitas/personalitas, sosialitas, moralitas,
keberbudayaan dan keberagamaan. Implikasi dari semua itu,
manusia memiliki historisitas, berinteraksi/berkomunikasi dan
memiliki dinamika.
Umar Tirtaraharja (2005); Tatang Syaripudin (2007); Prayitno
(2009) menyebutkan ada empat dimensi kemanusiaan, yakni
dimensi keindividualan (individualitas), dimensi kesosialan

5
Tatang Syaripudin. 2007. Landasan Pendidikan. Bandung: Percikan Ilmu
6
Jallaluddin dan Abdullah Idi. 2010. Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat dan
Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruz Media
94

94
(sosialitas), dimensi kesusilaan (moralitas) dan dimensi
keberagamaan (religiusitas). Berikut penjelasan dari ke-4 dimensi
tersebut:
a) KeIndividualan (Individualitas)
Kata kunci yang terkandung di dalam dimensi
keindividualan adalah potensi dan perbedaan. Manusia bukan
hanya sebagai anggota di dalam lingkungannya tetapi juga
bersifat individual. Sebagai individu manusia memiliki kesatuan
yang memiliki perbedaan dengan yang lain sehingga setiap
manusia hakikatnya bersifat unik. Perbedaan ini berkenaan
dengan postur tubuhnya, kemampuan berpikirnya, minat, dsb.
Bahkan manusia kembar siam-pun tidak memiliki kesamaan di
dalam keseluruhannya. Setiap manusia juga memiliki
subyektivitas, oleh karena itu manusia hakikatnya adalah pribadi,
manusia adalah subyek bukan obyek. Sebagai pribadi/subyek
setiap manusia bebas menggambil tindakan atas pilihan serta
tanggung jawabnya sendiri untuk menandaskan keberadaannya di
dalam lingkungan. Pengembangan dimensi keindividualan
memungkinkan manusia memperkembangkan segenap potensi
yang ada pada dirinya secara optimal mengarah kepada aspek-
aspek kehidupan yang positif.
b) Kesosialan (Sosialitas)
Kata kunci kandungan dimensi kesosialan adalah
komunikasi dan kebersamaan. Sekalipun setiap manusia adalah
individual/personal tetapi ia tidak bisa hidup sendirian, tidak
mungkin hidup sendirian dan tidak mungkin hidup untuk dirinya
sendiri melainkan ia juga hidup dalam keterpautan dengan
sesamanya. Dalam hidup bermasyarakat setiap individu
menempati kedudukan tertentu, mempunyai dunia dan tujuan
hidupnya masing-masing, sekaligus mempunyai dunia bersama
dan tujuan bersama dengan sesamanya. Melalui hidup dengan
sesamanya manusia akan dapat menentukan eksistensinya.
c) Kesusilaan (Moralitas)
Kata kunci kandungan dimensi kesusilaan adalah nilai dan
moral. Eksistensi manusia memiliki dimensi moralitas karena ia
memiliki kata hati yang dapat membedakan antara baik dan jahat.
Sebagai subyek yang memiliki kebebasan manusia selalu
diharapkan pada suatu alternatif tindakan atau perbuatan yang
harus dipilihnya. Adapun kebebasan untuk bertindak/berbuat itu
selalu berhubungan dengan norma-norma moral dan nilai-nilai
95

95
moral yang juga harus dipilihnya. Karena manusia memiliki
kebebasan memilih untuk bertindak/berbuat maka selalu ada
penilaian moral/tuntutan pertanggungjawaban atas setiap
perbuatannya. Drijakara
7
mengartikan manusia susila sebagai
manusia yang memiliki nilai-nilai, menghayati dan melaksanakan
nilai-nilai tersebut dalam perbuatan. Nilai-nilai merupakan
sesuatu yang dijunjung tinggi oleh manusia karena mengandung
makna kebaikan, keluhuran, kemuliaan.
d) Keberagamaan (Religiusitas)
Kata kunci kandungan dimensi keberagamaan adalah iman
dan takwa. Keberagaman merupakan salah satu karakteristik
esensial eksistensi manusia yang terungkap dalam bentuk
pengakuan atau keyakinan akan kebenaran suatu agama yang
diwujudkan dalam sikap dan perilakunya. Hal ini terjadi pada
manusia manapun, baik dalam rentang waktu maupun dalam
rentang geografis dimana manusia berada. Dalam dimensi ini
manusia menghubungkan diri dalam kaitannya dengan Tuhan
YME. Manusia tidak terpukau dan terpaku pada kehidupan di
dunia saja, melainkan mengaitkan secara serasi, selaras dan
seimbang kehidupan dunianya itu dengan kehidupan di akhirat.
3) Manusia sebagai Makhluk yang Perlu Dididik dan Perlu
Mendidik Diri
Berbagai kemampuan yang seharusnya dimiliki manusia tidak
dibawa sejak kelahirannya, melainkan harus diperoleh setelah
kelahirannya dalam perkembangan menuju kedewasaan. Di satu
pihak, berbagai kemampuan tersebut diperoleh manusia melalui
upaya bantuan dari pihak lain. Mungkin dalam bentuk pengasuhan,
pengajaran, latihan, bimbingan dan berbagai bentuk kegiatan
lainnya yang dapat dirangkum dengan istilah pendidikan. Di lain
pihak manusia yang bersangkutan juga harus belajar atau harus
mendidik diri. Sebab dalam bereksistensi yang harus menjadikan
diri itu hakikatnya adalah manusia itu sendiri. Sebaik dan sekuat
apapun upaya yang diberiakan pihak lain (pendidik) kepada
seseorang (peserta didik) untuk membantunya menjadi manusia,
tetapi apabila seseorang tersebut (peserta didik) tidak mau mendidik
diri amak upaya bantuan tersebut tidak akan memberikan kontribusi
bagi kemungkinan seseorang tadi untuk menjadi manusia.

7
Umar Tirtarahardja & La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT
Rineka Cipta.
96

96
Lebih dari itu, jika sejak kelahirannya perkembangan dan
pengembangan kehidupan manusia diserahkan kepada dirinya
masing-masing tanpa dididik oleh orang lain dan tanpa upaya
mendidik diri dari pihak manusia yang bersangkutan,
kemungkinannya dia hanya akan hidup berdasarkan dorongan
instingnya saja. Manusia belum selesai menjadi manusia, ia
dibebani keharusan untuk menjadi manusia, tetapi ia tidak dengan
sendirinya menjadi manusia, untuk menjadi manusia ia perlu dididik
dan mendidik diri. Manusia dapat menjadi manusia hanya melalui
pendidikan. Pernyataan tersebut sejalan dengan hasil individu M. J.
Langeveld
8
yang memberikan identitas kepada manusia dengan
sebutan animal educandum atau hewan yang perlu dididik dan
mendidik diri.
Hakikat manusia seperti itulah yang harus dijadikan sebagai
landasan untuk menentukan kebijakan dunia pendidikan di Negara
Indonesia, yaitu manusia yang berkepribadian utuh untuk
menyelaraskan, menyeimbangkan dan menyerasikan aspek manusia
sebagai makhluk individu, social, religious, bagian dari alam, bagian
dari bangsa-bangsa lain dan kebutuhan untuk mengejar kemajuan
lahir maupun kebahagiaan batin.

2. Hakikat Pendidikan
Pendidikan seperti sifat sasarannya yaitu manusia
mengandung banyak aspek dan sifatnya sangat kompleks. Karena
sifatnya yang kompleks itu, maka tidak ada sebuah batasan-pun
yang cukup memadahi untuk menjelaskan arti pendidikan secara
lengkap. Batasan tentang pendidikan yang dibuat oleh para ahli
beraneka ragam dan kandungannya berbeda yang satu dari yang
lain. Perbedaan tersebut mungkin karena orientasinya, konsep dasar
yang digunakannya, aspek yang menjadi tekanan atau karena
falsafah yang melandasinya.
Pendidikan merupakan transfer of knowledge, transfer of
value dan transfer of culture and transfer of religius yang semoga
diarahkan pada upaya untuk memanusiakan manusia. Hakikat
proses pendidikan ini sebagai upaya untuk mengubah perilaku
individu atau kelompok agar memiliki nilai-nilai yang disepakati
berdasarkan agama, filsafat, ideologi, politik, ekonomi, sosial,
budaya dan pertahanan keamanan.

8
Tatang Syaripudin. 2007. Landasan Pendidikan. Bandung: Percikan Ilmu
97

97
Makna pendidikan secara sederhana dapat diartikan sebagai
usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-
nilai di dalam masyarakat dan kebudayaannya. Dengan demikian,
bagaimanapun sederhananya peradaban suatu masyarakat, di
dalamnya terjadi atau berlangsung suatu proses pendidikan. Karena
itulah sering dinyatakan pendidikan telah ada sepanjang peradaban
umat manusia.
Pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha manusia
melestarikan hidupnya. Pendidikan menurut pengertian Yunani
pedagogik yaitu ilmu menuntun anak, orang Romawi memandang
pendidikan sebagai educare, yaitu mengeluarkan dan menuntun,
tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa dilahirkan di
dunia. Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai Erzichung yang
setara dengan educare, yakni membangkitkan kekuatan terpendam
atau mengaktifkan kekuatan/potensi anak.
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari
kata dasar didik (mendidik), yaitu memelihara dan memberi
latihan (ajaran pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan
pikiran.Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian proses
pengubahan dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam
usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan
latihan, proses perluasan, dan cara mendidik.
Jalaluddin & Abdullah Idi (2010) mendefinisikan pendidikan
adalah bimbingan secara sadar dari pendidik terhadap
perkembangan jasmani dan ruhani anak didik menuju terbentuknya
manusia yang memiliki kepribadian yang utama atau ideal. Yang
dimaksud kepribadian yang utama atau ideal adalah kepribadian
yang memiliki kesadaran moral dan sikap mental secara teguh dan
sungguh-sungguh memegang dan melaksanakan ajaran atau prinsip-
prinsip nilai yang menjadi pandangan hidup secara individu aupun
masyarakat. Langeveld (Made Pidarta, 2009) mengatakan bahwa
mendidik adalah memberi pertolongan secara sadar dan sengaja
kepada seorang anak yang belum dewasa dalam pertumbuhannya
menuju ke arah kedewasaan dalam arti dapat berdiri sendiri dan
bertanggung jawab susila atas segala tindakannya menurut
pilihannya sendiri.
98

98
Definisi yang lain adalah dari Ki Hajar Dewantara
9
yang
mengartikan pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat
yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai
anggota masyarakat mendapat keselamatan dan kebahagiaan yang
setinggi-tingginya. Sementara itu Undang-Undang RI Nomor 20
Tahun 2003 mendefinisikan pendidikan sebagai usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran sehingga peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta
ketrampilan yang diperlukan masyarakat, bangsa dan negara.
Dalam konteks ajaran Islam hakikat pendidikan adalah
mengembalikan nilai-nilai ilahiyah pada manusia (fitrah) dengan
bimbingan Alquran dan asSunnah (Hadits) sehingga menjadi
manusia berakhlakul karimah (insan kamil).
Dengan demikian hakikat pendidikan adalah sangat ditentukan oleh
nilai-nilai, motivasi dan tujuan dari pendidikan itu sendiri.

3. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan sejatinya tidaklah hanya mengisi ruang
imajinasi dan intelektual anak, mengasah kepekaan sosialnya,
ataupun memperkenalkan mereka pada kecerdasan emosi tetapi
lebih kepada mempersiapkan anak untuk mengenal Tuhan melalui
kecerdasan spiritual dan mengenal sesama serta lingkungannya
untuk pencapaian yang lebih optimal.
Memanusiakan manusia muda, itulah yang merupakan gambaran
dasar dari setiap perbuatan mendidik. Arti dan perbuatan mendidik
ialah bahwa dengan tindakannya itu pendidikan (hendak)
memanusiakan manusia muda. Pengangkatan manusia ke taraf
insani, itulah yang menjelma dalam semua perbuatan mendidik,
yang jumlah dan macamnya tak terhitung. Dengan istilah yang
sangat singkat, kita bisa berkata bahwa inti sari dari pendidikan
ialah pemanusiaan manusia muda. Pendek kata, itulah inti sari
mendidik. Ilmu pendidikan, tidak hanya dalam arti praktis, tetapi
juga teorisasi dan universalisasi
10
. RM. Hutchins
11
pernah

9
Nana Syaodih Sukmadinata. 2009. Landasan Psikologi Proses Pendidikan.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
10
Driyarkara. 2006. Karya Lengkap Driyarkara. A. Sudiarja dkk. (ed). Jakarta:
PT. Gramedia Pustaka Utama
99

99

menyatakan pula bahwa sistem pendidikan bertujuan to improve
man as a man, agar menjadi sebenar-benar manusia. Humanisasi
penting karena sebagian kita masih pada tingkat peradaban yang
rendah, yang dapat dilihat dalam sikap perikemusiaan. Teknologi,
penjejalan demografis serta perubahan-perubahan alam yang besar
dan tiba-tiba dapat menimbulkan dehumanisasi, sehingga usaha
rehumanisasi tak dapat diabaikan. Kita harus berusaha pula agar
manusia makin sempurna, lebih baik daripada manusia kemarin
12
.
Menurut Ki Hajar Dewantoro
13
: Pendidikan nasional adalah
pendidikan yang beralaskan garis hidup dari bangsanya (cultureel
nasional) dan ditujukan untuk keperluan peri-kehidupan (maatschap
pelijk) yang dapat mengangkat derajat negara dan rakyatnya, agar
dapat bekerja bersama-sama dengan lain-lain bangsa untuk
kemulian segenap manusia di seluruh dunia. Dari pendapat tersebut
sebenarnya pendidikan sudah memiliki tujuan yang luas untuk
kemuliaan segenap manusia di seluruh dunia dengan
mengedepankan nilai-nilai peri-kemanusiaan, namun definisi
tersebut masih perlu dijabarkan secara lebih rinci sehingga mudah
dimengerti dan dipahami untuk dilaksanakan.
Tatang Syaripudin (2007) menjelaskan bahwa pendidikan
diupayakan dengan berawal dari manusia apa adanya (aktualitas)
dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang ada
padanya (potensialitas) dan diarahkan menuju terwujudnya manusia
yang seharusnya/dicita-citakan. Mengacu pada konsep hakikat
manusia, maka sosok manusia yang dicita-citakan atau yang
menjadi tujuan pendidikan itu tiada lain adalah manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat,
cerdas, berperasaan, berkemauan dan mampu berkarya, mampu
memenuhi berbagai kebutuhannya secara wajar, mampu
mengendalikan hawa nafsunya, berkepribadian, bermasyarakat dan
berbudaya.
Tujuan pendidikan di Indonesia tertulis dalam Undang-
Undang Republik Indonesia (UURI) Nomor 20 Tahun 2003 tentang

11
Dwi Siswoyo. 2008. Pendidikan Nasional Indonesia: Sebuah Tinjauan
Filosofis. Yogyakarta: FIP UNY. Makalah [tidak diterbitkan].
12
T. Jacob. 2007. Beberapa Prinsip Tentang Pendidikan. Yogyakarta: Kerjasama
UGM dan LPMP DIY
13
Umar Tirtarahardja & La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT
Rineka Cipta.
100

100
Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, yaitu mengembangkan potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab, beserta peraturan-peraturan yang bertalian
dengan pendidikan. Dalam Peraturan Pemerintah Repubik Indonesia
Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal
26 Ayat 1, 2, 3 dan 4, membahas beberapa tujuan pendidikan sesuai
dengan jenjang pendidikannya. (1) Tujuan Pendidikan Dasar (SD
dan SMP; PP No 19 Tahun 2005 pasal 26 ayat 1, Pendidikan dasar
bertujuan untuk meletakkan dasar Kecerdasan, Pengetahuan,
Kepribadian, Keterampilan untuk hidup mandiri, Mengikuti
pendidikan lebih lanjut. (2) Tujuan Pendidikan Menengah (SMA) ;
PP No. 19 Tahun 2005 pasal 26 ayat 2, Pendidikan menengah
umum bertujuan untuk meningkatkan Kecerdasan, Pengetahuan,
Kepribadian, Akhlak Mulia, Keterampilan untuk hidup mandiri,
Mengikuti pendidikan lebih lanjut. (3) Tujuan Pendidikan Kejuruan
(SMK) ; PP No 19. Tahun 2005 pasal 26 ayat 3, Pendidikan
menengah kejuruan bertujuan untuk meningkatkan Kecerdasan,
Pengetahuan, Kepribadian, Akhlak Mulia,Keterampilan untuk hidup
mandiri, Mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan
kejuruannya. (4) Tujuan Pendidikan Tinggi ; PP No 19 Tahun 2005
pasal 26 ayat 3, Pendidikan tinggi bertujuan untuk mempersiapkan
peserta didik menjadi anggota masyarakat yang Berakhlak mulia,
Memiliki pengetahuan, Terampil, Mandiri, Mampu menemukan,
mengembangkan dan menerapkan ilmu, teknologi dan seni yang
bermanfaat bagi kemanusiaan.
Pada dasarnya pendidikan di semua institusi dan tingkat
pendidikan mempunyai muara tujuan yang sama yaitu
mengantarkan anak manusia menjadi manusia paripurna yang
mandiri dan dapat bertanggung jawab atas diri sendiri dan
lingkungannya
Dari tujuan-tujuan pendidikan yang didasarkan pada jenjang
pendidikan kiranya dapat dipahami bahwa tujuan-tujuan tersebut
sudah mencakup ketiga ranah perkembangan manusia yaitu
perkembangan afektif, kognitif dan psikomotor. Ketiga ranah itu
harus dikembangkan secara seimbang, optimal dan integratif.
Berimbang maksudnya ketiga ranah tersebut dikembangkan dengan
intensitas yang sama, proporsional dan tidak berat sebelah. Optimal
maksudnya dikembangkan secara maksimal sesuai dengan
101

101
potensinya. Integratif artinya pengembangan keta ranah tersebut
dilakukan secara terpadu.
C. Kesimpulan
Manusia dan pendidikan adalah dua hal yang tidak bisa
dipisahkan. Manusia dimana-pun berada dipastikan akan butuh
dengan pendidikan, hal ini disebabkan karena fungsi utama
pendidikan adalah memanusiakan manusia, yaitu mengembangkan
seluruh potensi manusia yang ada ke arah lebih baik. Pendidikan
tidak akan berjalan kalau tidak ada manusia, baik orang yang
menjalankan pendidikan itu sendiri maupun manusia yang akan
dididik.
Pembahasan tentang pendidikan tidak mungkin terbebas dari
objek yang menjadi sasarannya yaitu manusia. Maka secara filosofis
kajian ini harus mengikutsertakan objek utamanya yaitu manusia
dalam pendidikan dan tujuan pendidikan. Orang yang (akan)
berkecimpung dalam wilayah pendidikan perlu mengkaji tentang
hakekat manusia, hakekat pendidikan dan tujuan pendidikan. Karena
bahasan tersebut mengantar pengkajinya untuk memiliki hikmah
mengenai manusia, pendidikan dan tujuan pendidikan yang
melahirkan tenaga kependidikan dan menentukan bagaimana
memperlakukan manusia lain dan kemana manusia tersebut akan
dibawa. Implikasinya, pendidikan harus berfungsi untuk
mewujudkan (mengembangkan) berbagai potensi yang ada pada
manusia dalam konteks dimensi individualitas, sosialitas,
keberbudayaan serta keberagamaan secara menyeluruh dan
terintegrasi. Oleh karena itu, pendidikan akan dapat berfungsi dalam
tataran ideal yakni usaha untuk memanusiakan manusia.



DAFTAR PUSTAKA


Driyarkara. 2006. Karya Lengkap Driyarkara. A. Sudiarja dkk. (ed).
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Dwi Siswoyo. 2008. Pendidikan Nasional Indonesia: Sebuah Tinjauan
Filosofis. Yogyakarta: FIP UNY. Makalah [tidak diterbitkan].
Farida Hanum. 2008. Implementasi Pendidikan Multikultural dalam
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Yogyakarta. FIP
UNY. Makalah [tidak diterbitkan].
102
102
Jallaluddin dan Abdullah Idi. 2010. Filsafat Pendidikan: Manusia,
Filsafat dan Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruz Media.
Made Pidarta. 2009. Landasan Kependidikan: Stimulus Ilmu Pendidikan
Bercorak Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Nana Syaodih Sukmadinata. 2009. Landasan Psikologi Proses
Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Noeng Muhadjir. 2003. Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial.
Yogyakarta: Rake Sarasin.
Prayitno. 2009. Dasar Teori dan Praksis Pendidikan. Jakarta: Grasindo,
PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Tatang Syaripudin. 2007. Landasan Pendidikan. Bandung: Percikan
Ilmu.
Umar Tirtarahardja & La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT
Rineka Cipta.
T. Jacob. 2007. Beberapa Prinsip Tentang Pendidikan. Yogyakarta:
Kerjasama UGM dan LPMP DIY.
103
103
Laporan Hasil Penelitian
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MEDIA KOMPUTER DAN MEDIA AUDIO
CASSETTE RECORDER DALAM PEMBELAJARAN MENYIMAK CERITA
BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V DI SDN 02 PEMALANG.
Oleh : Rini Afiyati
1


ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui: (1) keefektifan media
audio cassette recorder, (2) media komputer, dan (3) media
konvensional dalam pembelajaran menyimak cerita bahasa Indonesia.
Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan desain randomized
pretest-posttest control group design. Dalam proses eksperimen
dilakukan pengamatan pada tiga kelompok pembelajaran yaitu
kelompok eksperimen satu yang diberi treatment/perlakuan dengan
media komputer, kelompok eksperimen dua dengan media audio
cassette recorder dan kelompok kontrol dengan media konvensional.
Populasi penelitian adalah semua peserta didik kelas V SD Negeri 02
Kebondalem Kabupaten Pemalang. Instrumen penelitian adalah tes
menyimak cerita dengan Alpha 0,826. Teknik analisis data
menggunakan Anava yang dilanjutkan dengan uji Scheffe.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Ada perbedaan
keefektifan media komputer melalui laboratorium bahasa dan media
konvensioanl dalam pembelajaran menyimak cerita bahasa Indonesia, [
(p) = 0,005, = 0,05 ]; (2) tidak ada perbedaan keefektifan media audio
cassette recorder dan media konvensional dalam pembelajaran
menyimak cerita bahasa Indonesia, (sig.(p) = 0,028, = 0,05); (3) Ada
perbedaan keefektifan media komputer melalui laboratorium bahasa dan
media audio cassette recorder dalam pembelajaran menyimak cerita
bahasa Indonesia siswa, [ (p) = 0,028, = 0,05 ]; dan (4) Ada
perbedaan keefektifan penggunaan media komputer melalui
laboratorium bahasa, media audio cassette recorder, media konvensional
dalam pembelajaran menyimak cerita bahasa Indonesia, (F
cos
= 20.809 >
F
tabel
= 3,15, = 0,05). Hal ini menunjukan bahwa media komputer
melalui laboratorium bahasa lebih baik daripada media audio cassette
recorder, dan media konvensional dalam pembelajaran menyimak cerita
bahasa Indonesia siswa kelas V SD Negeri 02 Kebondalem Kabupaten
Pemalang.


1
Rini Afiyati, M.Pd adalah Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Pemalang
104
104
Keyword : Media audio cassette recorder, pembelajaran bahasa
Indonesia
A. Latar Belakang Masalah
Pada Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan Bab 1 ayat 2 disebutkan Standar Kompetensi
lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap,
pengetahuan dan keterampilan. Praktisi pendidikan terutama para
pendidik dituntut untuk kerja keras untuk mewujudkan apa yang
disebutkan dalam Bab I Ketentuan Umum pasal 1 ayat 2 tersebut. Proses
pembelajaran di kelas menjadi salah satu tumpuan diperolehnya lulusan
(out put) yang tidak hanya mahir dalam penguasaan pengetahuan, namun
juga diharapkan mampu memiliki sikap dan keterampilan yang
memadai. Untuk mencapai lulusan yang berkualitas dalam hal sikap,
pengetahuan, dan keterampilan, disusun kurikulum untuk setiap jenjang
pendidikan terdiri dari beberapa mata pembelajaran yang diharapkan
dapat menunjang kompetensi lulusan.
Bahasa Indonesia merupakan salah satu dari sekian banyak mata
pembelajaran yang diajarkan di sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah.
Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia secara umum adalah
mengembangkan keterampilan siswa dalam menggunakan bahasa, baik
untuk kemampuan menyimak, berbicara, membaca maupun menulis.
Tujuan tersebut mengisyaratkan agar guru mengarahkan kegiatan belajar
mengajar di kelas dalam bentuk kegiatan berbahasa.
Salah satu kegiatan berbahasa adalah bercerita. Bercerita adalah
salah satu bagian dari aktivitas menyimak dan berbicara. Bercerita dapat
menjadi contoh dalam kehidupan siswa, di samping itu bercerita juga
dapat merangsang imajinasi mereka dalam meningkatkan kemampuan
berbahasa.
Kenyataan di berbagai sekolah dasar kondisi pembelajaran
menyimak cerita masih terkesan monoton, sehingga kualitas ke-
terampilan berbahasa siswa masih kurang. Hal ini terlihat dari keaktifan
siswa di kelas, tidak semua siswa dapat aktif selama kegiatan
pembelajaran bercerita. Apabila anak sudah mengetahui isi dan jalan
ceritanya, ditambah guru dalam bercerita kurang menarik akan
mengakibatkan suasana kelas terkesan hanya diikuti oleh sebagian kecil
siswa dan didominasi oleh siswa tertentu. Selain itu tugas-tugas dan
materi bercerita yang diberikan masih terpaku cerita yang ada dalam
buku. Hal ini berdampak pada produksi bahasa mereka. Kemampuan
dalam menuangkan ide atau gagasan melalui tulisan masih kurang, hal
ini bisa dilihat dari pendeknya tulisan siswa kalau siswa disuruh
menceritakan kembali isi cerita.
105
105

Untuk mencapai tujuan pembelajaran menyimak cerita siswa
supaya lebih efektif perlu adanya media pembelajaran yang baik. Di
kalangan pendidik tradisional kata media selama ini sering terkesan
sesuatu yang mahal, rumit dan berteknologi tinggi. Akibatnya terjadi
keengganan berhubungan dengan media meskipun bahkan sebenarnya di
sekolah sudah terdapat sarana pembelajaran bahasa yang memadai akan
tetapi tidak dimanfaatkan dengan baik dan maksimal.
Menurut Hujair AH. Sanaky (2009: 3) media pembelajaran adalah
sebuah alat yang berfungsi dan digunakan untuk menyampaikan proses
pembelajaran. Yusuf Miarso seperti yang dikutip oleh Mukminan
(2002:24) mengatakan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu
yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian
dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar
pada diri siswa. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa
penggunaan media akan mampu memotivasi siswa untuk terlibat secara
aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri.
Perubahan paradigma dalam proses pembelajaran dari teacher
centered ke student centered, dari passive learning ke active learning,
penggunaan media juga merupakan alat bantu bagi guru sehingga siswa
lebih mudah dalam memahami isi atau pesan yang terkandung dalam
suatu mata pembelajaran, apalagi bagi anak usia sekolah dasar yang
dalam perkembangannya masih berada dalam tahap operasional
kongkrit. Keberadaan media pembelajaran akan sangat membantu
belajar anak-anak di usia tersebut.
Memperhatikan pembelajaran bahasa Indonesia tersebut sebaiknya
penyelenggara pembelajaran bahasa Indonesia mampu mempersiapkan,
membina, dan membentuk kemampuan peserta didik agar menguasai
pengetahuan, sikap, nilai dan kecakapan dasar yang diperlukan bagi
kehidupan di masyarakat serta pengembangan diri siswa sebagai pribadi.
Hal ini berimplikasi pada bagaimana seorang pendidik mendesain
pembelajaran bahasa Indonesia di kelas. Pemilihan media dan metode
yang sesuai dengan kurikulum dan potensi siswa adalah bagian lain yang
harus diperhatikan oleh pendidik.
Penggunaan media komputer dalam pembelajaran sangat
memungkinkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir yang
diharapkan. Kelebihan yang dimiliki oleh media komputer melalui
laboratorium, adalah dapat mempersiapkan sumber daya manusia
melalui pendidikan yang berkualitas. Melalui media komputer yaitu
laboratorium bahasa diharapkan ada peningkatan dalam proses
pembelajaran bahasa Indonesia, terutama dalam hal peningkatan
pembelajaran menyimak cerita dan peningkatan prestasi siswa. Atas
106
106
dasar tersebut peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang
Efektifitas Media Komputer dan Audio Cassette Recorder dalam
menyimak cerita Siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri 02 kebondalem
Kabupaten Pemalang.

B. Pembatasan Masalah
Penelitian ini dibatasi pada penggunaan media komputer dan
media audio cassette recorder dalam pembelajaran menyimak cerita
siswa kelas V SDN 02 Kebondalem Kabupaten Pemalang. Untuk
memperoleh hasil yang optimal pada penelitian ini masalah dibatasi
pada (1) efektifitas pembelajaran menyimak cerita dengan
menggunakan media komputer dan audio cassette recorder, (2)
penggunaan media audio cassette recorder dan media komputer melalui
sarana laboratorium bahasa.

C. Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini rumusan masalah adalah sebagai berikut: (1)
Adakah perbedaan keefektifan media komputer melalui laboratorium
bahasa dan media konvensional dalam pembelajaran menyimak cerita
bahasa Indonesia siswa kelas V SDN 02 Kebondalem Kabupaten
Pemalang. (2) Adakah perbedaan keefektifan penggunaan media audio
cassette recorder dan media konvensional dalam pembelajaran
menyimak cerita pada mata pembelajaran bahasa Indonesia siswa kelas
V SDN 02 Kebondalem Kabupaten Pemalang . (3) Adakah perbedaan
keefektifan penggunaan media komputer melalui laboratorium bahasa
dan media audio cassette recorder dalam permbelajaran menyimak
cerita bahasa Indonesia siswa kelas V SDN 02 Kebondalem Kabupaten
Pemalang. (4) Adakah perbedaan keefektifan penggunaan media
komputer, media audio cassette recorder, dan media konvensional
dalam pembelajaran menyimak cerita bahasa Indonesia siswa kelas V
SDN 02 Kebondalem Kabupaten Pemalang.

D. Metodologi Penelitian
Jenis penelitian ini berupa penelitian kuantitatif dengan
menggunakan metode eksperimen quasi (quasi experiment research).
Tujuan penelitian eksperimen quasi adalah untuk memperoleh informasi
yang merupakan perkiraan bagi informasi yang dapat diperoleh dengan
eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan
untuk mengontrolnya dan/atau memanipulasikan semua variabel yang
relevan. Melalui eksperimen dapat diungkapkan perbedaan penggunaan
media pembelajaran media komputer, audio cassette recorder, dan
107
107

pembelajaran konvensional terhadap kemampuan menyimak cerita
akibat adanya perlakuan.
Dalam penelitian ini ada tiga kelompok pembelajaran yang akan
dibandingkan sebagai subjek penelitian yaitu kelompok pembelajaran
yang menggunakan media komputer dengan kelompok pembelajaran
yang menggunakan media audio cassette recorder dan kelompok yang
menggunakan metode konvensional pembelajaran menyimak cerita
pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Dua kelompok dari kelompok
tersebut dijadikan sebagai kelompok eksperimen (mendapatkan
perlakuan) dan yang satunya dijadikan sebagai kelompok kontrol dan
dijadikan sebagai pembanding (tidak diberikan perlakuan khusus).
Ketiga kelompok tersebut diberi materi pembelajaran yang sama. Agar
penelitian ini berjalan dengan efektif maka ketiga kelompok, baik dua
kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol terlebih dahulu
diupayakan supaya sama dan sepadan berdasarkan rata-rata skor yang
diperoleh ketiga kelompok tersebut. Oleh karena itu sebelum melakukan
penelitian perlu diperhatikan dahulu rata-rata hasil hasil pembelajaran
menyimak pada mata pelajaran bahasa Indonesia ketiga kelompok.
Penelitian ini dilaksanakan pada kelas V Sekolah Dasar Negeri
02 Kebondalem Kecamatan Pemalang Kabupaten Pemalang Jawa
Tengah. Sekolah Dasar Negeri 02 Kebondalem kabupaten Pemalang
adalah salah satu dari dua Sekolah Dasar yang mempunyai laboratorium
bahasa.

E. Kajian Teori
1. Pengertian Belajar dan Pembelajaran
Belajar merupakan satu kegiatan menghafal sejumlah fakta-fakta.
Sejalan dengan pendapat tersebut maka seseorang yang telah belajar
akan ditandai dengan banyaknya fakta-fakta yang dihafalkan. Guru yang
berpendapat demikian akan merasa puas jika siswa-siswanya telah
sanggup menghafal sejumlah fakta di luar kepala. Pendapat lain
mengatakan bahwa belajar sama saja dengan latihan, sehingga hasil-hasil
belajar akan tampak dalam keterampilan-keterampilan tertentu sebagai
hasil latihan. Untuk banyak memperoleh kemajuan seseorang harus
dilatih dalam berbagai aspek tingkah laku sehingga diperoleh suatu pola
tingkah laku yang otomatis.
Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni (2008:13), belajar (to learn)
memiliki arti : (1) to gain knowledge, comprehension, or mastery of
trought experience or study; (2) to fix in the mind or memory; memorize;
(3) to acquire trough experience; (4) to become in forme of the find out.
Menurut definisi tersebut, belajar memiliki pengertian memperoleh
108
108

pengetahuan atau menguasai pengetahuan melalui pengalaman,
mengingat, menguasai pengalaman, dan mendapatkan informasi atau
menemukan.
Secara garis besar faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat
dibedakan menjadi tiga yaitu : (1) Faktor internal (faktor dari dalam diri
siswa), yakni keadaan atau kondisi jasmani dan rohani siswa. (2) Faktor
eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar
siswa baik lingkungan keluarga maupun lingkungan sekitarnya. (3)
Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya
belajar yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk
melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pembelajaran.
Pembelajaran sebagai sebuah peningkatan pengetahuan kuantitatif,
mendapatkan informasi, proses mengingat, menyimpan informasi yang
biasa direproduksi, proses mendapatkan fakta-fakta, keterampilan,
metode-metode yang bisa dikuasai dan digunakan sesuai dengan
kebutuhan, proses memahami atau mengabsraksikan makna, proses
penafsiran dan pemahaman akan realitas dalam sebuah cara yang
berbeda. (Mark K. Smith, dkk 2009: 31-32). Pendapat ini sejalan
dengan yang dikemukan oleh Hamzah Uno, dkk. (2004: 141-142) yang
melukiskan pembelajaran sebagai upaya untuk membelajarkan siswa.
Dalam pengertian ini secara implisit dalam pembelajaran terdapat
kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk
mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan.
Proses pembelajaran pada hakekatnya untuk mengembangkan
aktivitas dan kreatifitas peserta didik, melalui berbagai interaksi dan
pengalaman belajar. Tidak dipungkiri lagi bahwa proses belajar
mengajar sering kali tidak berjalan sesuai tujuan yang telah dirumuskan.
Hal ini menjadikan permasalahan tersendiri bagi pembelajaran siswa
dengan kata lain proses belajar mengajar seringkali tidak dilaksanakan
akan menghambat aktivitas dan kreatifitas siswa. Proses pembelajaran
yang masih menekankan pada perkembangan aspek kognitif, di mana
kemampuan mental yang dipelajari sebagian besar berpusat pada
pemahaman pada bahan pengetahuan dan ingatan

2. Hakekat Pembelajaran Bahasa Indonesia
Pembelajaran dilukiskan sebagai upaya orang yang tujuannya
untuk membantu orang belajar, artinya pembelajaran bukannya hal
mengajar sebab titik beratnya adalah pada semua kejadian yang bisa
berpengaruh secara langsung pada belajar setiap orang. Di samping
dengan cara mengajar, pembelajaran bisa disampaikan dengan bantuan
media cetak, gambar, komputer, dan media lain
109
109

Menurut Nana Sudjana (1991:2) menyatakan bahwa pem-
belajaran adalah proses membantu dan memfasilitasi belajar,
memberikan bimbingan seseorang untuk belajar, mengatur kondisi
belajar. Pemahaman pengajar tentang bagaimana siswa belajar akan
menentukan filosofi pendidikan pengajar, pendekatan, metode dan
tehnik kelas. Belajar dan mengajar merupakan dua hal yang tidak dapat
dipisahkan dalam pembelajaran
Pembelajaran bahasa dimaksudkan untuk meningkatkan
kemampuan pemahaman dan penggunaan bahasa. Di samping itu, juga
untuk mempertajam kepekaan perasaan siswa dan meningkatkan
kemampuan berpikir dan bernalar serta kemampuan untuk memperluas
wawasan. Siswa tidak hanya diharapkan mampu memahami informasi
yang disampaikan secara lugas atau langsung, melainkan juga informasi
yang disampaikan secara terselubung atau secara tidak langsung (St. Y.
Slamet 2007: 80).

3. Hakekat Media Pembelajaran
Media pembelajaran merupakan aspek penting dalam proses
pembelajaran di samping metode atau pendekatan yang digunakan oleh
pendidik. Bahkan dapat dikatakan bahwa media akan menunjang pilihan
metode atau pendekatan yang telah didesain oleh guru dalam skenario
pembelajarannya.
Kata media berasal dari kata latin medius yang artinya tengah,
perantara atau pengantar. Secara umum, media adalah semua bentuk
perantara untuk menyebarkan atau menyampaikan sesuatu pesan
(message) dan gagasan kepada penerima. National Education
Association (NEA) mendifinisikan media sebagai suatu benda yang
dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta
instrumen yang dipergunakan untuk kegiatan tersebut (Mukminan,
2002:97). Heinich (1996: 8) menyatakan :
A medium (plural media) is channel of communication. Derived
from the Latin word meaning between, the refers to anything
that carries information between a source and receiver. Examples
include film,television, diagrams, printed materials, computers,
and inctructors. These are considered instructional media hen they
carry message with in instructional purpose. The purpose of media
is to facilitate communication.

Pernyataan tersebut mengandung makna bahwa media merupakan
segala sesuatu yang membantu atau memfasilitasi sampainya sebuah
pesan dari pengirim atau penyampai pesan kepada penerima pesan.
Termasuk dalam media ini adalah film, televisi, diagram, dan lain-lain.
110
110

Pada konteks pembelajaran, media media pembelajaran adalah sebuah
alat yang berfungsi dan digunakan untuk menyampaikan pesan
pembelajaran. Pembelajaran adalah proses komunikasi antara
pembelajar, pengajar, dan bahan ajar. Bentuk komunikasi tidak akan
berjalan tanpa adanya bantuan sarana untuk menyampaikan pesan.
Bentuk-bentuk stimulus dapat dipergunakan sebagai media, diantaranya
adalah hubungan atau interaksi manusia, realitas, gambar bergerak atau
tidak, tulisan dan suara yang direkam. (Hujair AH Sanaky, 2009:3).
Dewasa ini media tidak lagi dipandang sebagai alat bantu yang
digunakan jika perlu atau sekedar selingan semata, melainkan dipandang
sebagai komponen dari sistem instruksional. Oleh karenanya
penggunaan media harus dipilih dan direncanakan sesuai dengan tujuan
pembelajaran yang hendak dicapai. Menurut Yudhi Munadi (2008: 37-
48) fungsi media pembelajaran antara lain: (1) fungsi media
pembelajaran sebagai sumber belajar, (2) fungsi semantik, (3) fungsi
manipulatif, (4) fungsi psikologis yang terdiri dari fungsi atensi
(attention), fungsi afektif, fungsi kognitif, fungsi imaginatif, fungsi
motivasi, dan (5) fungsi sosio-kultural. Dalam proses pembelajaran
banyak sekali media yang dapat digunakan oleh guru, beberapa di
antaranya dapat dibeli atau tersedia di pasaran dan ada juga yang
dirancang sendiri oleh guru. Media-media tersebut baik yang dirancang
guru atau yang tersedia di pasaran bisa berupa hasil cetak biasa atau
berupa sofware yang berbasis komputer. Dengan keanekaragaman
media ini terdapat berbagai cara yang dapat digunakan untuk
mengklasifisikan media atas kategori-kategori tertentu. Misalnya saja
media itu dapat diklasifikasikan menjadi: (1) Media cetak dan non cetak.
(2) Media elektronik dan non elektronik. (3) Media proyeksi dan non
proyeksi. (4) Media audio, visual dan audio-visual. (5) Media yang
sengaja dirancang (by design) dan media yang dimanfaatkan (by
utilization) (Mukminan, 2002: 83).
Media cassette tape recorder merupakan bentuk media
pembelajaran yang murah dan terjangkau. Sekali kita membeli tape dan
peralatan seperti tape recorder dan cassette, hampir tidak lagi diperlukan
biaya tambahan karena tape bisa dihapus setelah digunakan dan dapat
disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa. Audio dapat
menampilkan pesan yang memotivasi. Audio tape recorder juga dapat
dibawa ke mana-mana, dan karena dapat menggunakan baterai, maka ia
dapat digunakan di manapun yang tidak terjangkau oleh listrik. Cassette
tape recorder dapat pula dimanfaatkan untuk pembelajaran dan tugas di
rumah
111
111

Menurut Azhar Arsyad (2007: 68) media audio tape recorder di
samping menarik dan memotivasi siswa untuk mempelajari materi yang
lebih banyak juga dapat digunakan untuk: (1) mengembangkan
keterampilan mendengar dan mengevaluasi apa yang telah didengar, (2)
mengatur dan mempersiapkan diskusi atau debat dengan
mengungkapkan pendapat-pendapat para ahli yang berada jauh dari
lokasi, (3) menjadikan model yang akan ditiru oleh siswa, (4)
menyiapkan variasi yang menarik dan perubahan-perubahan tingkat
kecepatan belajar mengenai suatu pokok bahasan atau suatu masalah
Penggunaan media audio dalam pembelajaran dibatasi hanya oleh
imajinasi guru dan siswa. Media audio dapat digunakan dalam semua
fase pembelajaran mulai dari pengantar atau pembukaan ketika
memperkenalkan topik bahasan sampai kepada evaluasi hasil belajar
siswa. Penggunaan media audio sangat mendukung sistem pembelajaran
tuntas (mastery learning). Siswa yang belajarnya lamban dapat memutar
kembali dan mengulangi bagian-bagian yang belum dikuasai. Selain itu
siswa juga dapat belajar dengan cepat bisa maju terus sesuai dengan
tingkat kecepatan belajarnya.
Bahan-bahan pembelajaran yang telah direkam telah banyak
tersedia untuk berbagai bidang ilmu. Misalnya, rekaman suara berbagai
jenis alat musik dapat digunakan untuk bercerita kepada anak-anak,
bermain, melakonkan cerita, nyanyian, dan lain-lain. Meskipun tidak ada
prosedur baku tentang penggunaan bahan-bahan audio, sebaiknya materi
audio itu disajikan dengan mengikuti langkah-langkah yang biasa diikuti
ketika menggunakan materi pembelajaran dalam bentuk lain. Menurut
Azhar Arsyad (2007: 70-72) langkah-langkah tersebut adalah sebagai
berikut:
Mempersiapkan diri. Guru merencanakan dan menyiapkan diri
sebelum penyajian materi. Salah satu cara mempersiapkan diri
sebelumnya adalah dengan memeriksa dan mencobakan materi itu,
membuat catatan tentang hal-hal penting yang tercakup dalam materi
audio itu, dan menentukan apa yang akan digunakan untuk
membangkitkan minat, perhatian, dan motivasi siswa, bagian mana yang
akan menjadi bahan utama diskusi dan yang mana dijadikan penilaian
pemahaman siswa.
Membangkitkan kesiapan siswa. Siswa dituntun agar memiliki
kesiapan untuk mendengar, misalnya dengan cara memberikan komentar
awal dan petanyaan-pertanyaan. Variasi lain dalam mempersiapkan
murid untuk mendengar adalah (1) mengidentifkasi materi-judul peserta,
atau keadaan yang terjadi pada saat produksi. (2) memberikan informasi
latar belakang yang menarik tentang program itu, (3) membahas secara
112
112

singkat bersama siswa mengenai topik dan memunculkan beberapa
pertanyaan kunci di mana jawabannya diharapkan dapat diperoleh dari
materi audio itu, (4) membuat di papan tulis daftar kata-kata kunci atau
frase kunci yang terkandung dalam bahan audio itu, (5) menjelaskan
mengapa siswa harus mendengarkan materi audio itu, bagaimana materi
itu berkaitan dengan pengetahuan dan tugas siswa saat ini, apa yang
dilakukan siswa selama dan setelah mendengarkan materi audio itu, dan
bagaimana siswa diharapkan dapat memperoleh keuntungan dari materi
itu.
Mendengarkan materi audio. Tuntun siswa untuk menjalani
pengalaman mendengar dengan waktu yang tepat atau dengan sedikit
penundaan antara pengantar dan mulainya proses mendengar. Dorong
siswa untuk mendengarkan dengan tenang, pusatkan perhatian kepada
materi audio, mendengarkan dengan pikiran terbuka dan dengan
kemauan, dan dengan sadar menghubungkan apa yang didengar dengan
pertanyaan-pertanyaan yang dibahas sebelum program ini dimulai.
Diskusi (membahas) materi program audio. Sebaiknya setelah
selesai mendengar program itu, diskusi dimulai secara informal dengan
mengajukan pertanyaan yang bersifat umum, seperti Bagian mana
(gagasan mana) yang paling berkesan/menonjol dari program itu?.
Setelah itu, barulah pindah ke pertanyaan-pertanyaan yang
dipersiapakan, seperti Pertanyaan mana yang terjawab seluruhnya atau
sebagian?, Apakah siswa setuju dengan pandangan yang disajikan
dalam program itu?, Dari sisi mana pandangan itu sama atau
berbeda?, dan lain-lain. Diskusi ini selayaknya diakhiri dengan
meminta satu atau dua orang siswa memberikan rangkuman (inti sari dan
gagasan-gagasan utama) program audio itu.

F. Hasil Penelitian
Hasil penelitian adalah sebagai berikut.: (1) ada perbedaan
keefektifan media komputer melalui laboratorium bahasa dan media
konvensioanl dalam pembelajaran menyimak cerita bahasa Indonesia
siswa kelas V SD Negeri 02 Kebondalem Kabupaten Pemalang, (2)
tidak ada perbedaan keefektifan media audio cassette recorder dan
media konvensional dalam pembelajaran menyimak cerita bahasa
Indonesia siswa kelas V SD Negeri 02 Kebondalem Kabupaten
Pemalang, (3) ada perbedaan keefektifan media komputer melalui
laboratorium bahasa dan media audio cassette recorder dalam
pembelajaran menyimak cerita bahasa Indonesia siswa kelas V SD
Negeri 02 Kebondalem Kabupaten Pemalang, (4) ada perbedaan
keefektifan penggunaan media komputer melalui laboratorium bahasa,
113
113

media audio cassette recorder, media konvensional dalam pembelajaran
menyimak cerita bahasa Indonesia siswa kelas V SD Negeri 02
Kebondalem Kabupaten Pemalang.
1. Media komputer lebih efektif dibandingkan media konvensional
dalam pembelajaran menyimak cerita dalam mata pembelajaran
bahasa Indonesia kelas V Sekolah Dasar Negeri 02 Kebondalem
Kabupaten Pemalang
Berdasarkan analisis data, terbukti bahwa terdapat perbedaan
keefektifan media komputer melalui laboratorium bahasa dan media
konvensioanl dalam pembelajaran menyimak cerita bahasa Indonesia
siswa kelas V SD Negeri 02 Kebondalem Kabupaten Pemalang.
Secara keseluruhan hasil perhitungan dengan uji scheffe tentang
perbedaan keefektifan media komputer melalui laboratorium bahasa
dan media konvensional dalam pembelajaran menyimak cerita bahasa
Indonesia siswa kelas V SD Negeri 02 Kebondalem Kabupaten
Pemalang diperoleh probabilitas sebesar 0,002 lebih kecil dari taraf
signifikan yang ditetapkan yaitu 0,05, maka Ho ditolak dan Hi
diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa Media komputer lebih
efektif dibandingkan media konvensional dalam pembelajaran
menyimak cerita dalam mata pembelajaran bahasa Indonesia kelas V
Sekolah Dasar Negeri 02 Kebondalem Kabupaten Pemalang.
Batas bawah interval konfidensi bernilai positif sebesar 1,2282
dan batas atas bernilai positif sebesar 6,5318 sehingga dapat
disimpulkan bahwa media komputer melalui laboratorium bahasa
lebih efektif dibanding media konvensional. Perbedaan keefektifan
antara media komputer dan media konvensional disebabkan
penggunaan media komputer terutama dalam pembelajaran bercerita,
antara lain: (1) Komputer memungkinkan pembelajaran dapat belajar
sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya dalam memahami
pengetahuan dan informasi yang ditayangkan.(2) Penggunaan
komputer dalam proses belajar membuat pembelajar dapat melakukan
kontrol terhadap aktivitas belajarnya.(3) Kemampuan komputer untuk
menayangkan kembali informasi yang diperlukan oleh pemakainya,
dengan istilah lain komputer dapat membantu pembelajar yang
memiliki kecepatan belajar lambat. (4) Komputer dapat menciptakan
iklim belajar yang efektif bagi pembelajar yang lambat (slow leaner),
tetapi juga dapat membantu dan memacu efektivitas belajar bagi
pembelajar yang lebih cepat (fast leaner).(5) Komputer dapat
diprogram agar mampu memberikan umpan balik terhadap hasil
belajar dan memberikan pengukuhan (reinforcement) terhadap
114
114

prestasi belajar pembelajar dan kemampuan komputer untuk
merekam hasil belajar.
2. Media audio cassette recorder lebih efektif dibandingkan media
konvensional dalam pembelajaran menyimak cerita mata
pembelajaran bahasa Indonesia siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri
02 Kebondalem Kabupaten Pemalang.
Dari analisis data terbukti bahwa tidak terdapat perbedaan
keefektifan media audio cassette recorder dan media konvensional
dalam pembelajaran menyimak cerita bahasa Indonesia siswa kelas V
SD Negeri 02 Kebondalem Kabupaten Pemalang. Secara
keseluruhan hasil perhitungan dengan uji schefte tentang perbedaan
keefektifan media audio cassette recorder dan media konvensional
dalam pembelajaran menyimak cerita bahasa Indonesia siswa kelas V
SD Negeri 02 Kebondalem Kabupaten Pemalang diperoleh
probabilitas sebesar 0,021 lebih besar dari taraf signifikansi yang
ditetapkan yaitu 0,05, maka Ho diterima sedangkan Hi ditolak,
sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan
keefektifan media audio cassette recorder dan media konvensional
dalam pembelajaran menyimak cerita bahasa Indonesia siswa kelas V
SD Negeri 02 Kebondalem Kabupaten Pemalang.
Batas bawah interval konfidensi bernilai negative sebesar -
5,6718 dan batas atas bernilai positif sebesar 3,682, sehingga dapat
disimpulkan bahwa media audio cassette recorder tidak lebih efektif
dibanding media konvensional. Hal tersebut disebabkan dalam
proses pembalajaran bercerita seorang guru yang menguasai materi
cerita dari awal sampai akhir cerita yang disampaikan secara runtut
dan gamblang, penuh improvisasi, humor, dan contoh-contoh nyata di
sekitar kehidupan peserta didik, guru akan tampak sangat pandai di
dalam menyampaikan cerita kepada anak didiknya sehingga siswa
begitu antusias di dalam mendengarkan cerita.
3. Media komputer lebih efektif dibandingkan media audio cassette
recorder dalam pembelajaran menyimak cerita mata pembelajaran
bahasa Indonesia siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri 02
Kebondalem Kabupaten Pemalang.
Berdasarkan analisis data terbukti bahwa terdapat perbedaan
keefektifan media komputer melalui laboratorium bahasa dan media
audio cassette recorder dalam pembelajaran menyimak cerita bahasa
Indonesia siswa kelas V SD Negeri 02 Kebondalem Kabupaten
Pemalang. Secara keseluruhan hasil perhitungan dengan uji scheffe
tentang perbedaan keefektifan media komputer melalui laboratorium
bahasa dan media audio cassette recorder dalam pembelajaran
115
115

menyimak cerita bahasa Indonesia siswa kelas V SD Negeri 02
Kebondalem Kabupaten Pemalang diperoleh probabilitas sebesar
0,000 lebih kecil dari taraf signifikansi yang ditetapkan yaitu 0,05,
maka Ho ditolak dan Hi diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa
Media komputer lebih efektif dibandingkan media audio cassette
recorder dalam pembelajaran menyimak cerita mata pembelajaran
bahasa Indonesia siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri 02
Kebondalem Kabupaten Pemalang. Batas bawah interval konfidensi
bernilai positif sebesar 4,2482 dan batas atas bernilai positif sebesar
9,5518, sehingga dapat disimpulkan bahwa media komputer melalui
laboratorium bahasa lebih efektif dibandingkan media audio cassette
recorder.
Pembelajaran bercerita dengan menggunakan media audio
cassette recorder hanya dapat diperdengarkan tidak dapat
menampilkan gambar secara visual, sehingga anak tidak dapat
melihat secara langsung kejadian-kejadian yang ada di dalam cerita.
Anak didik masih dituntut untuk lebih menggali potensi dirinya
dalam memahami isi cerita yang didengarkan melalui audio cassette
recorder, anak akan cenderung meraba-raba bahan cerita yang
didengar apalagi apabila belum pernah mengalami atau mengetahui
kejadian sebenarnya, anak akan kesulitan menyerap informasi yang
asing ditelinganya.
Pembelajaran cerita dengan menggunakan media komputer
melalui laboratorium bahasa di samping dapat didengar juga dapat
dilihat secara visual sehingga siswa lebih memahami jalannya cerita.
Dalam pembelajaran bercerita dengan media komputer terjadi
interaksi langsung antara siswa dengan materi pembelajaran. Selain
itu, proses pembelajaran dapat berlangsung secara individual dan
disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa sehingga
potensi siswa dapat lebih tergali. Media komputer juga mampu
menampilkan unsur audio visual yang bermanfaat untuk
meningkatkan minat belajar siswa, atau yang dikenal dengan program
multi media. Media komputer pun dapat memberi umpan balik bagi
respon siswa dengan segera setelah diberi materi. Sehingga lebih
membantu guru untuk memudahkan tercapainya pemahaman materi
ajar oleh siswa, serta dapat memperkaya wawasan siswa.
4. Media komputer lebih efektif dibandingkan media audio cassette
recorder dan media konvensional dalam pembelajaran menyimak
cerita mata pembelajaran bahasa Indonesia siswa kelas V Sekolah
Dasar Negeri 02 Kebondalem Kabupaten Pemalang.
116
116

Berdasarkan analisis data terbukti bahwa terdapat perbedaan
keefektifan penggunaan media komputer melalui laboratorium
bahasa, media audio cassette recorder, media konvensional dalam
pembelajaran menyimak cerita bahasa Indonesia siswa kelas V SD
Negeri 02 Kebondalem Kabupaten Pemalang. Criteria pengujian
adalah tolak Ho jika peluang kesalahan < 0,05 dan diterima Ho jika
peluang kesalahan > 0,05.
Secara keseluruhan hasil perhitungan Analisis Variansi tentang
perbedaan keefektifan media komputer melalui laboratorium bahasa,
media audio cassette recorder, dan media konvensional dalam
pembelajaran menyimak cerita bahasa Indonesia siswa kelas V SD
Negeri 02 Kebondalem Kabupaten Pemalang menghasilkan F hitung
sebesar 20.809 dengan peluang kesalahan 0,000. Bila F hitung
dikonfirmasikan dengan F tabel dengan taraf signifikan 0,05 (5%) di
mana dk nya 2 untuk pembilang dan 147 untuk penyebut, diperoleh
angka 3,15 yang berarti lebih kecil dari F hitung dan peluang
kesalahan lebih kecil dari taraf signifikansi yang ditetapkan yaitu
0,05, maka Ho ditolak dan Hi diterima, sehingga dapat disimpulkan
bahwa Media komputer lebih efektif dibandingkan media audio
cassette recorder dan media konvensional dalam pembelajaran
menyimak cerita mata pembelajaran bahasa Indonesia siswa kelas V
Sekolah Dasar Negeri 02 Kebondalem Kabupaten Pemalang.
Setiap materi ajar memiliki tingkat kesukaran yang bervariasi.
Pada satu sisi ada materi ajar yang tidak memerlukan alat bantu,
tetapi di lain pihak ada materi ajar yang sangat memerlukan alat bantu
berupa media pembelajaran. Media pembelajaran yang dimaksud
yaitu media komputer. Materi ajar dengan tingkat kesukaran yang
tinggi tentu sukar dipahami oleh siswa. Tanpa bantuan media, maka
materi ajar menjadi sukar dicerna dan dipahami oleh setiap siswa. Hal
ini akan semakin terasa apabila materi ajar tersebut abstrak dan
rumit/kompleks. Sebagai alat bantu, media komputer mempunyai
keunggulan fungsi melicinkan jalan menuju tercapainya tujuan
pembelajaran. Hal ini dilandasi keyakinan bahwa kegiatan
pembelajaran dengan bantuan media mempertinggi kualitas kegiatan
belajar siswa dalam tenggang waktu yang cukup lama. Itu berarti,
kegiatan belajar siswa dengan bantuan media komputer akan
menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih baik daripada media
lainya.
Proses pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan
media komputer mengutamakan konstruksi pengetahuan dan
informasi dari siswa, selain itu keaktifan dan kerjasama siswa
117
117

dinomorsatukan. Dengan demikian proses pembelajaran bahasa
Indonesia dengan menggunakan media komputer ini lebih berpusat
kepada siswa, sedangkan peran guru membantu, mengarahkan,
memfasilitasi dan memberi bimbingan belajar dalam membentuk
pengetahuan secara mandiri serta melakukan evaluasi dengan baik.
Materi pembelajaran dapat dirancang, baik dari sisi pengorganisasian
materi maupun cara penyajiannya yang melibatkan siswa, sehingga
siswa menjadi lebih aktif di dalam kelas. Media computer dapat
mempersingkat penyajian materi pembelajaran yang kompleks.
Dengan demikian, informasi dapat disampaikan secara menyeluruh
dan sistematis kepada siswa. Sehingga kualitas belajar siswa dapat
ditingkatkan.
Penyajian pembelajaran dengan menggunakan media komputer
yang mengintegrasikan visualisasi dengan teks atau suara akan
mampu mengkomunikasikan materi pembelajaran secara
terorganisasi. Dengan menggunakan media komputer yang lebih
bervariasi disbanding media lainnya, maka siswa akan mampu belajar
dengan lebih optimal. Hal ini dapat dilihat dari pengunaan media
komputer khususnya dalam pembelajaran menyimak cerita siswa
kelas V SD Kebondalem 02 Kabupaten Pemalang. Secara signifikan
terbukti bahwa pemberian materi melalui pembelajaran menyimak
cerita dengan media komputer menunjukkan adanya peningkatan
prestasi hasil belajar.

G. Kesimpulan
Berdasarkan data yang diperoleh, hasil pengujian hipotesis, dan
pembahasan hasil penelitian ditemukan beberapa hal sebagai berikut: (1)
Media komputer melalui laboratorium bahasa lebih efektif dari media
konvensioanl dalam pembelajaran menyimak cerita bahasa Indonesia
siswa kelas V SD Negeri 02 Kebondalem Kabupaten Pemalang. (2)
Media audio cassette recorder tidak lebih efektif dibandingkan media
konvensional dalam pembelajaran menyimak cerita mata pembelajaran
bahasa Indonesia siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri 02 Kebondalem
Kabupaten Pemalang. (3) Media komputer lebih efektif dibandingkan
media audio cassette recorder dalam pembelajaran menyimak cerita
mata pembelajaran bahasa Indonesia siswa kelas V Sekolah Dasar
Negeri 02 Kebondalem Kabupaten Pemalang. (4) Media komputer lebih
efektif dibandingkan media audio cassette recorder dan media
konvensional dalam pembelajaran menyimak cerita mata pembelajaran
bahasa Indonesia siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri 02 Kebondalem
Kabupaten Pemalang.
118
118
Daftar Pustaka

Abdul Aziz Abdul Majid (2005). Perencanaan pembelajaran. Bandung:
Penerbit PT. Remaja Rosdakarya.
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono (2004). Psikologi belajar. Jakarta: PT.
Rineka Karya.
Alexander Sutherland Neil. (1993). Assesing and correcting classroom reading
problems,Glenview,EL; Scott Foresman.
Arief S. Sadiman dkk. (2008). Media pendidikan, pengertian,pengembangan
dan pemanfaatanya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Asep Jihad dkk. (2008). Evaluasi pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo.
Asnawir dan Basyiruddin Usman (2002). Media pembelajaran. Jakarta: Delia
Citra Utama.
Azhar Arsyad.(1996). Media pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo
____________(1997). Media pembelajaran. Jakarta; Rajawali Pres.
Azwar, Saefuddin, (2007). Realibilitas dan validitas; Edisi ketiga. Yogyakrta;
Pustaka Pelajar.
Baharuddin & Esa N. Wahyuni. (2008). Teori belajar dan pembelajaran.
Yogyakarta: Penerbit Ar-Ruzz Media.
Bower & Hilgard. (1981).Theoris of Learning; London Pretince Hall, Inc
Englewood Chiff
BNSP. (2006). Peraturan Pemerintah No.19/2005. tentang Standar Nasional
Pendidikan. Jakarta. BNSP.2006. Standar Isi. Jakarta.
Burhan Nurgiantoro. (2001). Penilaian dalam pengajaran bahasa dan sastra.
Yogyakarta: BPFE. Yogyakarta.
Campbell, Donald T., & Stanley, Julian C. (1966). Experimental and quasi-
experimental designs for research. Rand Menally & Company
Chicago.
Cronbach. (1984). Essentials of psychological testing. New york; Harper
Publishers
Depdikbud (2003). Kurikulum KBK, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Departeman Agama RI, (tanpa tahun), Al Quran tajwid dan terjemahannya,
Bandung, PT. Syamil Cipta Media.
Desmita (2008). Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya
Djemari Mardapi. (2004). Penyusunan tes hasil belajar. Yogyakarta; Program
Pasca Sarjana UNY.
Hamzah B. Uno, Herminanto Sofyan & Sutarji Atmowidjoyo. (2004).
Landasan pembelajaran teori dan praktek. Gorontalo. Nurul Jannah
Gorontalo.
Hartono. (2008).SPSS 16.0 Analisis data statistika dan penelitian. Yogyakarta.
Pustaka Pelajar.
Hesti Kusumaningrum. (2007). Pengembangan multimedia komputer untuk
pembelajaran bahasa Inggris di SD. Tesis Magister. Yogyakarta.
Tidak Dterbitkan. Universitas Negeri Yogyakarta.
119
119
Heinich. 1996. Introductional Media and Tehnologies for Learning. New
Jersey Asimon & Schuster Company
Hujair AH.Sanaky (2009). Media Pembelajaran. Yogyakarta, Satria Insania
Press.
Imelda ( 2005). Pengembangan media pembelajaran berbasis komputer pada
pembelajaran kosa kata bahasa Inggris di SDN 023 Maskom
Bengkulu. Tesis Magister, tidak diterbitkan, Yogyakarta. Universitas
Negeri Yogyakarta.
Iskandarwassid dan Dadang Sunendar. (2008). Strategi pembelajaran bahasa,
Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.
Kathlen Mckinney (2008). Aditional Tips., diambil kamis tanggal 08 Agustus
2009 di www.cat.ilstu.adu/aditional tips / new Active.phd.
Mark. K. Smith dkk. (2009). Teori pembelajaran & pengajaran. (Terjemahan
Abdul Qodir Shaleh. Yogyakarta. Mirza Media Pustaka.
Melvin L. Siberman. (2006). Active Learning, (Terjemahan Raisul Muttaqien).
Bandung. Nusamedia.
Muhibin Syah. (2003). Psikologi belajar. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.
___________ (2008). Psikologi belajar. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.
Mukminan. (2002). Desain pembelajaran. Yogyakarta. Universitas Terbuka.
Murssell, James L, 1954, Successful teaching its psychological principles, New
york: MC Graw-Hill.
Nana Sujdana. (1989). Teknologi pengajaran. Bandung. PT. Sinar Baru.
___________. (1991). Teori-teori belajar dan pembelajaran. Jakarta. Lembaga
Penerbitan F.E Universitas Terbuka.
___________. (2008), Penelitian hasil proses belajar mengajara, Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya.
Nana Sujdana & Ahmad Rifai.(1989). Media Pengajaran. Bandung. Sinar
Baru.
Ngalim Purwanto, (1997). Metodologi Pengajaran Bahasa Indonesia Di
Sekolah Dasar. Jakarta, PT. Rosda Jayapra.
Panan. (2002). Belajar dan pembelajaran. Jakarta. Universitas Terbuka.
Rahayu Setyaningsih (2006). Pengembangan Multi Media Pembelajaran IPA
berbasis komputer Kelas V SD. Tesis Magister, tidak diterbitkan,
Universitas Yogyakarta. Yogyakarta.
Robbins,Stephen P, (1993). Organizations bahavior: concepts controvories
and aplication , Sixth edition san diego: prentice hall inc.
Santrok. John. W. (2007). Psikologi pendidikan. (terjemahan ). Jakarta.
Kencana.
Smaldino, S. E, Lowther, D.L, & Russel, J. D. Introductional tehnology and
media for learning. Person Merril Prentice Hall. Upper Saddle River,
New Jersey Colombus. Ohio.
Soenardi Djiwandono. (2008). Tes bahasa pegangan bagi pengajar bahasa.
Jakarta. PT. Indeks.
Sri Hastuti, PH. (1997). Strategi belajar mengajar Bahasa Indonesia. Jakarta.
Depdikbud Dikdasmen.
120
120
Stricklan, S.Dorothy. at.all. (2007). Language arts: Learning and Teaching.
Thomson Walsworth. Printed in the United State of America.
St. Y. Slamet. (2007). Dasar-dasar pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia
di sekolah dasar. Surakarta. LPP dan UNS.
Suharsimi Arikunto, (1991), Prosedur penelitian suatu pendekatan praktik,
Jakarta; Rineka Karya.
___________, (1997), Dasar-dasar evaluasi pendidikan, Jakarta, Bumi Aksara.
Sukmadinata. (2008). Metode penelitian pendidikan. Bandung. P.T. Remaja
Rosdakarya.
Sumadi Suryabrata. (2008). Psikologi pendidikan. Jakarta. PT. Raja Grafindo
Persada.
Suray. (2007). Ancaman pembelajaran konvensonal. Diakses pada tanggal 15
juni 2009 dari http://suray. Wordpress.com.
Tadzkiroatun.Musfiroh. (2008). Memilih, menyusun dan menyajikan cerita
untuk anak usia dini. Yogyakarta. Tiara Wacana.
Uzer Usman. (2004). Menjadi guru profesional. Bandung. Penerbit PT Remaja
Rosdakarya.
Winkel, W.S. (2007). Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia.
Yudhi Munadi. (2008). Media pembelajaran. Sebuah pendekatan baru.
Ciputat. Gaung Persada Press.



121
SUMBANGAN ISLAM TERHADAP KEBUDAYAAN INDONESIA
(Telaah Kritis Atas Keberagaman dan Keunikan Budaya Jawa)
Oleh : Mustofa Kamal
1



ABSTRAK
Artiel ini mencoba menguraikan pandangan budaya jawa dan Islam
sebagai keseluruhan kompleks yang meliputi ilmu pengetahuan,
kepercayaan, seni, hukum, moral, adat-istiadat dan berbagai kemampuan
serta kebiasaan yang diterima manusia sebagai anggota masyarakat.
Salah satu kesuksesan Islamisasi di Jawa adalah Islam tidak saja harus
menjinakkan sasarannya, tetapi juga menjinakkan diri. Benturan dengan
kebudayaan-kebudayaan setempat memaksa Islam untuk mendapatkan
simbol-simbol yang selaras dengan kemampuan penangkapan kultural
dari masyarakat yang ingin dimasukkan ke dalam pangkuan dunia Islam.
Ajaran Islam datang dan menyebar ke tanah Jawa kepada golongan
bangsawan dan rakyat umum secara damai. Bila situasi politik suatu
kerajaan mengalami kekacauan dan kelemahan disebabkan perebutan
kekuasaan di kalangan keluarga istana, maka Islam dijadikan alat politik
bagi golongan bangsawan atau pihak-pihak yang menghendaki
kekuasaan. Mereka berhubungan dengan pedagang-pedagang muslim
yang posisi ekonominya kuat karena menguasai pelayaran dan
perdagangan. Bila kerajaan Islam sudah berdiri, maka penguasanya
melancarkan perang terhadap kerajan non-Islam. Hal ini bukan karena
persoalan agama, tetapi karena didorong politis untuk menguasai
kerajaan di sekitarnya

Kata Kunci : Islam dan Budaya Jawa

A. Pendahuluan
Meskipun Islam datang ke kepulauan Nusantara termasuk relatif
lebih lambat daripada kawasan-kawasan lain, tetapi dengan tanpa
goncangan yang berarti agama tersebut diterima dengan baik oleh
penduduknya. Terbukti 87,2 % dari penduduknya beragama Islam
( sensus penduduk tahun 1990 ). Dengan demikian, negeri ini dihuni
komunitas muslim terbesar bila dibandingkan negara-negara Islam
lainnya, yang lebih dahulu menerima Islam dan berlokasi lebih dekat
dengan sumber Islam, yaitu Mekah dan Madinah.


1
Mustofa Kamal, S.S, M.Ag Adalah Dosen Sekolah TinggI Ilmu Tarbiyah (STIT)
Pemalang
122

Para mubaligh dari zaman awal proses Islamisasi tidaklah
memaksakan ajaran dan kaidah serta hukum dalam totalitas. Dalam
proses seperti ini, Islam tidak saja harus menjinakkan sasarannya, tetapi
juga menjinakkan diri. Benturan dengan kebudayaan-kebudayaan
setempat memaksa Islam untuk mendapatkan simbol-simbol yang selaras
dengan kemampuan penangkapan kultural dari masyarakat yang ingin
dimasukkan ke dalam pangkuan dunia Islam, dan dalam keadaan tertentu
membiarkan penafsiran yang mungkin agak terpisah dari wahyu yang
utuh dan abadi. Dengan begini terjadilah keragaman dalam manifestasi
Islam, meskipun semula bertolak dari suatu konsep keutuhan dan
keabadian ajaran.
2

Ada dua hal yang perlu dicatat sehubungan dengan adanya
Islamisasi di Jawa. Pertama, agama Hindu, Budha, dan kepercayaan lama
telah berkembang lebih dahulu jika dibandingkan agama Islam. Agama
Hindu dan Budha dipeluk oleh elit kerajaan, sedangkan kepercayaan asli
yang bertumpu pada animisme di peluk oleh kalangan awam. Walaupun
ketiganya berbeda, tetapi semuanya bertumpu pada suatu titik. Semuanya
kental dengan nuansa mistik dan berusaha mencari sangkan paraning
dumadi dan mendambakan manunggaling kawula gusti . Kedua,
meskipun masih diperdebatkan kapan Islam masuk ke Jawa, tetapi
Islamisasi besar-besaran baru terjadi pada abad ke-15 dan ke-16 dengan
ditandai jatuhnya Majapahit, kerajaan Hindu Jawa pada tahun 1478 M,
dan berdirinya Demak, kerajaan Islam Jawa pertama. Dengan demikian,
Islamisasi besar-besaran di Jawa terjadi justru pada saat dunia Islam
mengalami kemunduran dalam banyak hal.
3

Islam datang dan menyebar kepada golongan bangsawan dan
rakyat umum secara damai. Bila situasi politik suatu kerajaan mengalami
kekacauan dan kelemahan disebabkan perebutan kekuasaan di kalangan
keluarga istana, maka Islam dijadikan alat politik bagi golongan
bangsawan atau pihak-pihak yang menghendaki kekuasaan. Mereka
berhubungan dengan pedagang-pedagang muslim yang posisi
ekonominya kuat karena menguasai pelayaran dan perdagangan. Bila
kerajaan Islam sudah berdiri, maka penguasanya melancarkan perang
terhadap kerajan non-Islam. Hal ini bukan karena persoalan agama, tetapi
karena didorong politis untuk menguasai kerajaan disekitarnya.
Menurut Uka Tjandrasasmita, saluran-saluran Islamisasi yang
berkembang ada enam yaitu lewat saluran perdagangan, saluran

2
Abdullah Taufik, Sejarah dan Masyarakat, (Jakarta : Pustaka Firdaus, 1987), hal.3
3
Jamil.Abdul dkk, Islam dan Kebudayaan Jawa, Yogyakarta : Gama Media, 2000
hal. VI
123

perkawinan, saluran tasawuf, saluran pendidikan, saluran kesenian dan
saluran politik.
4

B. Pengertian Kebudayaan
Kebudayaan adalah semua produk aktifitas intelektual manusia
untuk memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan dunia.
5
Taylor
menegaskan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan kompleks yang
meliputi ilmu pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat-
istiadat dan berbagai kemampuan serta kebiasaan yang diterima manusia
sebagai anggota masyarakat.
6

Paling tidak kebudayaan dapat dilihat dari dua tahap yaitu
kebudayaan sebagai proses dan kebudayaan sebagai suatu produk. Dalam
tahap produk kebudayaan dapat berwujud sebagai (1) gagasan, konsep
atau pikiran, (2) aktifitas dan (3) benda-benda. Kebudayaan dapat pula
merupakan penjelmaan dari nilai-nilai, yaitu nilai teori ( ilmu ), ekonomi,
agama, seni, kuasa ( politik ) dan solidaritas ( sosial ).
Kebudayaan dalam tahap proses tidak lain adalah proses eksistensi.
Kebudayaan adalah proses hominisasi atau penjadian manusia. Dengan
kebudayaan manusia menghayati, menyadari, menyelami dan mengalami
diri sendiri. Cara kita berada yang kita sebut eksistensi itu jangan
dipandang sebagai sesuatu yang statis. Eksistensi selalu kita laksanakan
dengan perbuatan, tetapi tidak ada perbuatan yang terakhir karena sambil
kita berbuat ini, kita sudah meluncur ke perbuatan yang lain. Oleh karena
kehidupan masyarakat adalah berubah terus-menerus, maka kebudayaan
sebagai proses eksistensi diri juga akan mengalami perubahan sejalan
dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.
Jatuh bangun suatu masyarakat adalah jatuh bangunnya suatu
kebudayaan.
7

C. Sinkretisme dalam Masyarakat Jawa
Salah satu sifat masyarakat Jawa adalah bahwa mereka religius
dan bertuhan. Sebelum agama-agama besar datang ke Indonesia,
khususnya Jawa, mereka sudah mempunyai kepercayaan adanya Tuhan
yang melindungi dan mengayomi mereka. Dan, keberagamaan ini
semakin berkualitas dengan masuknya agama-agama besar seperti Hindu,

4
Basuki dkk, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta : Departemen Agama RI, 1999 hal.
45a
5
Shiddiqi. Nourouzzaman, Jeram-jeram Peradaban Muslim , (Yogyakarta : Pustaka
Pelajar, 1996), hal. 258.
6
A.L. Kroeber dan Clyde Kluckhohn, Cultural ; A Critical Review of Concepts an
Definitions, (Masschusset : The Museum, 1952), hal. .43
7
Asyarie. Musa, Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam Al-Quran, (Yogyakarta :
LESFI, 1992), hal. 98

124

Budha, Islam, Katolik, dan Protestan ke Jawa. Namun, dengan
pengamatan selintas dapat diketahui bahwa dalam keberagamaan rata-
rata masyarakat Jawa adalah nominalis, dalam arti mereka tidak
bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ajaran agamanya.
8
Dalam hal
ini bisa saja mereka mengaku sebagai orang muslim, yang untuk itu
mereka bersedia dikhitan, membaca syahadat ketika akan melaksanakan
aqad nikah, melakukan sholat Idul Fithri dan sebagainya. Namun, untuk
benar-benar serius dan sugguh-sungguh dalam menjalankan syariat
Islam, seperti sholat lima waktu dengan berjamaah, puasa sebulan penuh
dalam bulan Ramadhan dan amalan-amalan agama lainnya yang relatif
sulit dilakukan dan membutuhkan keseriusan, mereka enggan
mengerjakannya.
Karena kurangnya keseriusan dalam memahami dan
mengamalkan agamanya, berakibat pada beberapa hal, yang antara lain
mudahnya mereka untuk tergiur dalam mengadopsi kepercayaan ritual
dan tradisi agama lain, termasuk tradisi asli pra Hindu- Budha yang
dianggap sesuai dengan alur pemikiran mereka. Oleh karena itu,
meskipun mengaku sebagai seorang muslim, mereka juga meletakkan
kembang setaman dan sesaji lainnya di tempat-tempat khusus pada hari-
hari tertentu, mengadakan ruwatan untuk anak-anaknya yang perlu
diruwat, melakukan laku khusus pada malam satu suro, dan
mengeramatkan keris serta benda-benda pusaka lainnya. Selain itu ketika
anaknya akan menghadapi ujian, ia melakukan tirakat berupa puasa
mutih ziarah dan nyepi di makam leluhurnya yang dulu dikenal
mempunyai kekuatan linuwih serta laku-laku tirakat lainnya. Hal ini
mereka lakukan dalam rangka mencari kedamaian dan ketenangan dalam
menghadapi ketegangan akibat munculnya seribu satu problematika
kehidupan yang menumpuk. Dengan demikian, secara sadar atau tidak,
mereka telah melakukan sinkretisme antara ajaran Islam dengan ajaran-
ajaran dari luar Islam.
9

D. Pengaruh Islam terhadap Upacara-upacara Kerajaan dan Karya
Sastra Jawa
Upacara-upacara Kraton Yogyakarta telah diusahakan
mencerminkan budaya Islam. Kalau kita memahami bahwa budaya
adalah sistem simbol, maka banyak simbol-simbol Islam tersebar dalam
seluruh kehidupan kraton. Upacara besar bagi Kraton Yogyakarta adalah

8
Lihat, Hardjowiraga. Marbangun, Manusia Jawa, (Jakarta : Intidayu Press, 1984),
hal.17 dan lihat juga Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, (Jakarta : Balai Pustaka, 1984),
hal. 310
9
Jamil.Abdul dkk, Islam dan Kebudayaan Jawa, (Yogyakarta : Gama Media, 2000),
hal.85-87
125

Garebeg. Ada tiga macam upacara yaitu Garebeg Pasa untuk merayakan
Idul Fithri, Garebeg Besar untuk merayakan Idul Qurban. Sedangkan
Garebeg Mulud untuk merayakan Maulud Nabi. Khusus yang terakhir,
upacara itu disebut Sekaten, yang konon berasal dari sahadatain atau dua
kalimah syahadat. Upacara ini juga merupakan bagian budaya, artinya
simbol budaya yang diperagakan dalam bentuk upacara. Dalam upacara
ini semua berkumpul, ada ulama ada orang awam, ada pembesar dan
melibatkan orang banyak. Dalam upacara inilah dakwah Islamiyah
dikerjakan, sebab mereka yang belum mengenal Islam pun akan tertarik
dengan adanya keramaian itu.
10

Dalam mendekati dan menilai hasil-hasil sastra Islam Kejawen
seperti Serat Ambiya Tapel Adam, Tajussalatin, Babad Demak,
Mingsiling Kitab, naskah Kadis Ngabdul Kadir Jaelani, kitab-kitab sastra
kejawen pada umumnya, bahwa kitab-kitab sastra itu diilhami oleh
unsur-unsur atau pokok-pokok ajaran Islam atau Al-Quran. Namun
unsur-unsur Islam tadi dipahami dengan kacamata alam pikiran kejawen .
Dan pokok-pokok ajaran Islam tadi lalu mengilhami kreasi-kreasi sastra
baru dan dikembangkan menurut alur alam pikiran kejawen. Yakni ajaran
Islam dipahami dan dikembangkan dengan kacamata tradisi kejawen.
Walaupun Islamnya tidak sekental Islam di pesantren, namun sastra dan
budaya Islam kejawen amat berjasa sebagai pengantar bagi para pecinta
budaya dan sastra Jawa untuk mengenal ajaran Islam yang cukup halus.
Maka orang-orang Jawa Islam Kejawen adalah jembatan atau perantara
bagi orang-orang Jawa Kejawen untuk merambat ke Islam yang lebih
kental ke-Islamannya setelah nanti mereka sempat mengaji atau
mempelajari terjemahan kitab-kitab agama.
11


E. Peninggalan Arkeologi Islam
Sebagian besar peninggalan-peninggalan arkeologi Islam yang
jumlahnya ribuan, termasuk tinggalan arkeologi Islam Nusantara,
merupakan monumen-monumen yang masih berada dalam konteks
sistem perilaku para pendukungnya seperti Masjid dan produk seni
kaligrafi.




10
Sambutan Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam buku Islam dan Khazanah
Budaya Kraton Yogyakarta, (Yogyakarta : YKII, 1998)
11
Ibrahim Alfian.Teuku dkk, Islam dan Khazanah Budaya Kraton Yogyakarta,
(Yogyakarta : YKII, 1998), hal.5

126

126
a. Masjid
Masjid, yang kerap disebut rumah Tuhan , adalah tempat
umat Islam berhubungan dengan Tuhan, yang sekaligus berfungsi
sebagai tempat menyerahkan atau berserah diri kepada Tuhan. Dalam
konsep Islam, setiap jengkal tanah adalah Masjid, dalam arti bahwa
dimana pun setiap muslim dapat beribadah sholat, baik secara
individual maupun kolektif, berjamaah. Bentuk arsitektur masjid
umumnya didasarkan prototype Masjid Quba dan Nabawi di Madinah;
sebuah ruangan berdenah bujur sangkar di mana bagian barat biasanya
terdapat satu atau dua buah ceruk, yang biasa digunakan sebagai
tempat untuk imam ketika memimpin shalat, disamping tempat
khutbah. Namun demikian, masjid pada saat yang sama juga
merupakan produk rancang-bangun, dimana struktur dan konstruksi
serta tata letaknya diadaptasikan dengan lingkungan alam dan budaya
masyarakat setempat. Oleh karena itulah di Nusantara tampak masjid-
masjid dengan rancang-bangun bersifat lokal tradisional, seperti
berdiri diatas batu tebal dan berdenah bujur sangkar, berundak-undak,
memiliki pagar keliling, berasitektur rumah joglo, dan bahkan banyak
diantaranya yang beratap tumpang dua tingkat ( Masjid Agung
Cirebon ), lima tingkat ( Masjid Agung Banten ).
Bentuk tiang utama pada dasarnya merupakan penyangga atap
utama dengan empat tiang pokok, yang kemudian dapat pula ditambah
dengan tiang-tiang penyangga lain, termasuk jika dilakukan perluasan
masjid.Dalam Islam, masjid dianggap lebih baik jika dibuat
sesederhana mungkin, terutama dibagian dalam, supaya setiap orang
dapat beribadat dengan khusuk. Tentang hal ini boleh jadi memang
terdapat perbedaan, khususnya masjid-masjid awal di Nusantara.
Masjid Giri, Gresik, dan Sendang Duwur di Lamongan, misalnya,
kaya akan ragam hias floralistik, dan bahkan hadir sejumlah anasir
seni hias yang bercorak Hindu Budhis, seperti makara, ragam hias
ikal-mursal, gerbang bersayap dan sebagainya.
12

b. Kaligrafi Islam
Al-Quran adalah kitab suci yang mewujudkan keunikan dan
keluhuran sastra ilahiyyah yang dikandungnya. Al- Quran arenanya
ikut membangun dan mempengaruhi kesadaran estetis setiap muslim.
Pengaruh seni Islam ini melimpah ke dalam seni rupa ( representative
art ), seperti seni dekoratif dan seni kaligrafi, sebagaimana tampak
pada halaman-halaman dan rak-rak buku, sajadah, mimbar masjid,

12
Muarif Ambari.Hasan, Menemukan Peradaban, (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu,
1998), hal.39

127

dinding, lampu serta perabotan lain. Salah satu ciri khusus yang sangat
unik dalam Al-Quran ialah bahwa kitab tersebut dianggap sebagai
identifikasi literal dari eksistensi Alloh Yang Maha Besar. Sehingga,
bahkan sampai sekarang perdebatan terus berlangsung mengenai
apakah Muhammad Rasulullah pernah melarang membuat lukisan
secara besar-besaran yang tidak berada dengan konteks akidah
Keislaman.
Seni kaligrafi pada dasarnya merupakan produk goresan pena
atau tatahan pahat dari seorang seniman, dimana huruf atau aksara
Arab menjadi obyek artistik dan estetik dalam mengekspresikan
gagasan, inspirasi serta kepekaan ekspresi seni yang dimilikinya.
Kaligrafi Islam Indonesia, sebagai elemen eprigrafi , telah menjadi
alat para seniman Nusantara untuk memperlihatkan keindahan huruf
Perso- Arabic, yang dimanifestasikan di berbagai media. Pada
umumnya kaligrafi Islam berisi kutipan dari ayat-ayat suci Al-Quran
seperti basmalah, shalawat Nabi dan sebagainya- yang di wujudkan
dalam berbagai media arsitektur dan dekoratif. Salah satu gaya atau
bentuk paling arkais ialah kaligrafi kufi ( kufique ) yang pusat
perkembangannya di Kufa, Irak pada abad ke-7 M.
Sementara bila dilihat dari wujud seni kaligrafinya, terdapat
setidaknya dua ciri menonjol berikut : bukti-bukti epigrafi yang
menyerap pengaruh unsur-unsur kebudayaan asing, seperti pada nisan
makam Fatimah binti Maemun ( 1082 M ), makam Maulana Malik
Ibrahim, Gresik ( 1419 M), dan lain-lain ; dan bukti epigrafis dan
bentuk nisan sebagai wujud kreatifitas lokal, seperti terlihat pada nisan
makam Zainuddin, Troloyo ( 874 M ).
13


F. Kesimpulan
Kebudayaan adalah keseluruhan kompleks yang meliputi ilmu
pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat-istiadat dan
berbagai kemampuan serta kebiasaan yang diterima manusia sebagai
anggota masyarakat. Salah satu kesuksesan Islamisasi di Jawa adalah
Islam tidak saja harus menjinakkan sasarannya, tetapi juga menjinakkan
diri. Benturan dengan kebudayaan-kebudayaan setempat memaksa Islam
untuk mendapatkan simbol-simbol yang selaras dengan kemampuan
penangkapan kultural dari masyarakat yang ingin dimasukkan ke dalam
pangkuan dunia Islam.
Kebudayaan Jawa telah dipengaruhi oleh Islam dalam berbagai
bidang diantaranya upacara-upacara kraton, karya sastra Jawa,
peninggalan-peninggalan arkeologi Nusantara dan sebagainya. Akan

13
Ibid, hal. 44-45
128
tetapi kebudayaan Jawa telah lebih dulu bercampur dengan kepercayan
animisme, Hindu dan Budha, sehingga terjadilah sinkretisme antara
agama Islam dan kepercayaan-kepercayaan tersebut.



DAFTAR PUSTAKA


A.L, Kroeber dan Clyde Kluckhohn, Cultural ; A Critical Review of
Concepts an Definitions, Masschusset : The Museum, 1952.
Asyarie, Musa, Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam Al-Quran,
Yogyakarta : LESFI, 1992.
Basuki dkk, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta : Departemen Agama RI,
1999.
Hardjowiraga, Marbangun, Manusia Jawa, Jakarta : Intidayu Press, 1984.
Ibrahim Alfian, Teuku dkk, Islam dan Khazanah Budaya Kraton
Yogyakarta, Yogyakarta : YKII, 1998.
Jamil, Abdul dkk, Islam dan Kebudayaan Jawa, Yogyakarta : Gama Media,
2000.
Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, Jakarta : Balai Pustaka, 1984.
Muarif Ambari, Hasan, Menemukan Peradaban, Jakarta: PT. Logos Wacana
Ilmu, 1998.
Shiddiqi, Nourouzzaman, Jeram-jeram Peradaban Muslim , Yogyakarta :
Pustaka Pelajar, 1996.
Taufik, Abdullah, Sejarah dan Masyarakat, Jakarta : Pustaka Firdaus,
1987.
129

126

KOMIK SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN
Cleh : !ubaedah
1


ABSTRAK
Metode merupakan cara yang digunakan atau ditempuh oleh guru
untuk menciptakan situasi pembelajaran yang benar-benar
menyenangkan dan mendukung bagi kelancaran proses pembelajaran
dan tercapainyainya hasil belajar atau prestasi belajar anak didik yang
berkualitas / bermutu. Kondisi tersebut sebagai bentuk upaya guru untuk
mencapai tujuan pembelajaran. Adapun tujuan pembelajaran dimaksud
antara lain, situasi pembelajaran yang menyenangkan sehingga dapat
mendukung tercapainya belajar siwa. Ada beberapa metode yang dapat
membantu tujuan pembelajaran yang antara lain: metode ceramah,
metode tanya jawab, metode kerja kelompok, metode pemberian tugas,
metode eksperimen, metode demonstrasi dll. Selain metode, alat peraga
pembelajaran juga merupakan komponen-komponen pembelajaran yang
harus diperhatikan dalam proses belajar mengajar. Pentingnya alat
peraga mempunyai arti untuk perantara yang dipakai dalam pengantar
pesan dari pengirim ke penerima pesan. Alat peraga adalah segala alat
fisik yang dapat menjanjikan peran serta perangsang peserta didik untuk
belajar, buku, film, kaset, film, bingkai adalah contoh-contohnya.
Demikian alat peraga tersebut dapat diartikan sebagai perantara atau
pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Dalam hal imi
sebagai pengantar pengirim pesan adalah guru, sedangkan pihak yang
menerima adalah siswa. Perantara atau pengantar tersebut berupa alat
fisik misalnya: papan tulis, gambar, lukisan, poster dan lain sebagainya,
yang penting alat fisik tersebut dapat membantu terlaksananya proses
pembelajaran sesuai yang diharapkan.
Media komik sebagai bagaian inovasi proses pembelajaran telah
banyak menjadi alat untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut.
Komik adalah rangkaian gambar-gambar atau foto-foto dan kata-kata
untuk menceritakan atau mengambarkan cerita atau suatu kejadian.
Komik dikategorikan sebagai sastra anak. Genre sastra anak dalam
berbagai hal berbeda dengan sastra dewasa, dan salah satunya adalah
masih dominannya unsur gambar dalam sastra anak. Hal itu terutama
terlihat pada buku-buku bacaan sastra anak di usia awal seperti buku

1
Jubaedah, M.Pd adalah Alumnus Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta
Program Pendidikan Dasar Lulus Tahun 2010 kini aktif menjadi Guru MTs Krapyak
Yogyakarta
130

127

alphabet, buku berhitung, buku konsep, dan buku cerita-bergambar.
Gambar-gambar tersebut juga dominan dalam komik, tetapi gambar-
gambar dan tulisan pada komik berbeda karakteristiknya dengan buku-
buku tersebut.

Kata Kunci : Media, Pembelajaran dan Komik

A. Pendahuluan
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional pada Pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik
agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Selanjutnya dalam PP No.19 Tahun 2005 Standar Nasional Pendidikan
(pasal 19 ayat 1) disebutkan bahwa proses pembelajaran pada satuan
pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta
memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan
kemandirian sesuai bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis
peserta didik.
Peserta didik pada tingkat sekolah dasar sangat gemar bacaan
yang bergambar seperti halnya komik. Komik merupakan salah satu
bacaan yang paling diminati bukan saja oleh pembaca anak-anak, tetapi
juga orang dewasa. Bacaan komik memotivasi anak dalam membaca
bahkan dapat memberikan inspirasi imajinasi anak sesuai dengan masa
perkembangan anak, perkembangan sekolah dasar adalah masa
perkembangan konkrit.
Bacaan komik hadir dengan keunikannya sendiri, tampil dengan
deretan gambar panel-panel dengan sedikit tulisan tangan yang
ditempatkan dalam balon-balon. Gambar-gambar komik itu sendiri pada
umumnya sudah berbicara, dan dibuat menjadi deretan gambar yang
menampilkan alur cerita. Komik dikategorikan sebagai sastra anak.
Genre sastra anak dalam berbagai hal berbeda dengan sastra dewasa, dan
salah satunya adalah masih dominannya unsur gambar dalam sastra
131

128

anak. Sastra anak terdiri atas berbagai genre dan dapat berwujud lisan
dan tertulis
2
.
Menurut Asri Budiningsih (2005) menyatakan peranan guru
dalam interaksi pendidikan adalah pengendalian yang meliputi: (1)
menumbuhkan kemandirian dengan menyediakan kesempatan untuk
mengambil keputusan dan bertindak; (2) menumbuhkan kemempuan
mengambil keputusan dan bertindak, dengan meningkatkan pengetahuan
dan keterampilan; (3) menyediakan sistem dukungan yang memberikan
kemudahan belajar agar siswa mempunyai peluang optimal untuk
berlatih.
Keberhasilan pembelajaran sastra pada mata pelajaran bahasa
Indonesia dibentuk oleh banyak faktor, tetapi faktor guru adalah salah
satu yang paling menentukan. Tugas guru di sekolah adalah
mengembangkan potensi peserta didik dengan memberikan stimulus
berupa bahan-bahan yang dirancang dan diperoleh dari lingkungan anak
melalui proses pembelajaran. Pembelajaran sendiri merupakan kegiatan
membimbing kegiatan belajar peserta didik sehingga mampu belajar.
Hal ini senada dengan pernyataan William Burton (Uzer Usman, 2004:
21) teaching is the guidance of learning activities, teaching is the
purpose of aiding the pupil learn. Guru merupakan unsur manusiawi
yang sangat dekat hubungannya dengan peserta didik dalam upaya
pendidikan sehari-hari dan merupakan unsur manusiawi yang sangat
menentukan keberhasilan pendidikan. Menurut Rice, guru profesional
adalah guru yang mampu mengelola dirinya dalam melaksanakan tugas-
tugasnya sehari-hari
3
.
Proses belajar mengajar ditinjau dari ruang lingkupnya terdiri
atas beberapa komponen. Komponen tersebut meliputi tujuan atau
kompetensi, materi, metode dan evaluasi (Rusman, 2007). Komponen-
komponen tersebut harus saling terkait untuk mencapai keberhasilan
sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Keberhasilan dalam mencapai
kompetensi juga tidak lepas dari berbagai hal yang berkaitan dengan
lingkungan, waktu yang dipergunakan untuk belajar sastra, metode dan
media yang dipergunakan, dan lain sebagainya.
Kenyataan yang cukup memprihatinkan mengenai pembelajaran
sastra di sekolah, bukan karena porsinya yang hanya seperenam dari
seluruh materi bidang studi Bahasa Indonesia atau alokasi waktu yang

2
Burhan Nurgiyantoro. (2001). Penilaian dalam pengajaran bahasa dan sastra.
Yogyakarta: BPFE Yogyakarta. Hlm. 407
3
Ibrahim Bafadal, (2006). Manajemen peningkatan mutu sekolah dasar dari
sentralisasi menuju desentralisasi. Jakarta: PT. Bumi Aksara, hal. 5
132

129

sangat minimal itu, melainkan strategi pembelajara yang dilakukan guru
masih kurang optimal. Metode menghafal misalnya, berupa menghafal
nama-nama para sastrawan, menghafal peristiwa atau kejadian yang
berhubungan dengan kegiatan sastra atau peristiwa sastra, ataupun
menghafal contoh-contoh soal terdahulu dengan jawaban yang tersedia,
yang semata-mata hanya untuk memperoleh nilai bagus pada ujian akhir
ataupun pada kuis-kuis yang diadakan, sungguh-sungguh telah
mengingkari dan sekaligus mengkhianati hakikat sastra, juga pada
perkembangan bahasa anak, kebanyakan anak dapat mengaplikasikan
aturan tata bahasa yang benar.
Essensi pembelajaran sastra bahasa Indonesia adalah
menggembangkan daya kretifitas dan imajinasi anak dalam
perkembangan bahasa. Penggunaan media komik merupakan metode
pendobrak semangat anak dalam membaca sehingga meningkatkan segi
kebahasaan anak. Juga anak dapat mengambil intisari yang terkandung
dalam pembelajaran yang disampaikan. Apresiasi sastra bahasa
indonesia mudah diterima anak dengan menggunakan Media komik.

B. Media Pembelajaran
1. Pengertian Media Pembelajaran
Media pembelajaran dapat didefinisikan menjadi beberapa
pengertian yaitu teknologi pembawa pesan (informasi) yang dapat
dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran, sarana fisik
menyampaikan isi/materi pembelajaran, segala sesuatu yang dapat
digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima,
sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat
siswa, terjadilah proses belajar.
Media jamak dari kata medium yang artinya komunikasi
(Smoldino, Sharon E, 2008: 6). Kata media berasal dari bahasa
Latin medium yang secara harfiah berarti tengah perantara
atau pengantar. Dalam bahasa Arab, media adalah wasail, yaitu
perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima
pesan (Azhar Arsyad, 2009: 3). Menurut Smoldino (2008: 6)
bahwa media memiliki 6 kategori dasar yaitu: teks, audio, visual,
video, patung, dan orang. Secara khusus, pengertian media dalam
pembelajaran cenderung diartikan sebagai alat grafis, photografis,
atau elektronis untuk menangkap, memproses dan menyusun
kembali informasi visual atau verbal.
Heinich dalam Azhar Arsyad mengemukakan istilah
medium sebagai perantara yang mengantarkan informasi antara
133

130

sumber dan penerima
4
. Apabila membawa pesan-pesan atau
informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-
maksud pengajaran maka media itu disebut media pembelajaran.
Sedangkan pengertian media menurut Heinich, adalah a channel
of communication. Dijelaskan lebih lanjut oleh Heinich, dkk
kalau dalam bahasa Latin media adalah between yang sama
halnya dengan anything that carries information between a
source and receiver, yaitu bahwa media merupakan pembawa
informasi dari sumber ke penerima. Pembawa informasi ini dapat
berupa manusia dan benda yang mampu memperjelas informasi
sehingga tidak terjadi kesalahan informasi dan diharapkan
informasi yang diterima receiver (penerima) sesuai dengan sumber
(source)
5

Menurut Gerlach dalam Wina Sanjaya menyatakan bahwa
secara umum media itu meliputi orang, bahan, peralatan atau
kegiatan yang menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa
memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap. media
pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk
menyalurkan pesan dari pengirim kepada penerima sehingga dapat
merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian
siswa sedemikian rupa, sehingga proses belajar mengajar dapat
terjadi
6
.
Menurut Thiagarajan, Sivasailam (1974: 67) Media
memainkan peran yang sangat penting bagi guru-guru dalam
menangani anak-anak. Media pembelajaran tidak bisa dipisahkan
dari kegiatan belajar mengajar dikarenakan keefektifan
pembelajaran dan tercapainya tujuan dari pembelajaran salah
satunya terkait dengan media pembelajaran. Oleh karena itu, guru
dituntut mampu menguasai dan menggunakannya dalam
pembelajaran dengan menyesuaikan tujuan dan isi pembelajaran
agar mutu dan kualitas pembelajaran tercapai. Namun, peranan
media pembelajaran tidak akan terlihat apabila penggunaannya
tidak sejalan dengan isi dan tujuan pembelajaran yang telah
dirumuskan. Secanggih apapun media tersebut, tidak dapat

4
Azhar Arsyad. (2009). Media pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
hal. 4
5
Heinich, R. (et al). (1996). Instructional media and technologies for learning
(5th ed.). Englewood cliffs, New Jersey: A Simon & Schuster Company, hal. 54
6
Wina Sanjaya. (2007). Strategi pembelajaran berorientasi standar proses
pendidikan. Jakarta: Kencana, hal. 204
134

131

dikatakan menunjang pembelajaran apabila keberadaannya
menyimpang dari isi dan tujuan pembelajarannya.

2. Landasan Teoretis Penggunaan Media
Media diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat
digunakan untuk menyalurkan pesan (massage), merangsang
pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan sehingga dapat
mendorong proses belajar. Bentuk-bentuk media digunakan untuk
meningkatkan pengalaman belajar agar lebih konkrit.
Pembelajaran dengan menggunakan media tidak hanya sekedar
kata-kata (symbol verbal). Dengan demikian, dapat diharapkan
hasil pengalaman belajar lebih berarti bagi siswa
7
. Menurut
Smaldino, Sharon E. dkk. (2008: 6) Mengatakan bahwa tujuan
media adalah sebagai fasilitas komunikasi dan belajar. Ada tiga
tingkatan utama modus belajar, yaitu pengalaman langsung
(enactive), pengalaman gambar/piktorial (iconic), dan pengalaman
abstrak (symbolic). Pengalaman langsung adalah mengerjakan,
misalnya arti kata simpul dipahami dengan langsung membuat
simpul. Pada tingkatan kedua yang diberi label iconic, kata
simpul dipelajari dari gambar. Pada tingkatan simbol (tingkatan
ketiga), siswa membaca atau mendengar kata simpul dan
mencoba mencocokkannya dengan simpul pada image mental
atau mencocokkannya dengan pengalamannya membuat simpul.
Ketiga tingkatan ini berinteraksi dalam upaya memperoleh
pengalaman (pengetahuan, keterampilan, sikap) yang baru.
Tingkat pengalaman pemerolehan hasil belajar seperti itu
digambarkan sebagai suatu proses komunikasi. Materi yang ingin
disampaikan dan dapat dikuasai siswa disebut pesan. Guru sebagai
sumber pesan menuangkannya ke dalam simbol-simbol tertentu
(encoding), dan siswa sebagai penerima menafsirkan simbol-
simbol tersebut sehingga dipahami sebagai pesan (decoding). Cara
pengolahan pesan oleh guru dan siswa dapat digambarkan sebagai
berikut:

Pesan diproduksi dengan
Pesan dicerna dan
diinterpretasikan
Berbicara, menyanyi, Mendengarkan

7
Sumiati dan Asra. (2008). Metode pembelajaran (cet.ke2). Bandung: CV.
Wahana Prima., hal. 160.
135

132

memainkan alat musik, dsb.
Memvisualisasikan melalui
film, foto, gambar, dsb.
Mengamati
Menulis dan mengarang. Membaca.
Gambar 1 Pesan Dalam Komunikasi
8
.

Stimulus visual membuahkan hasil belajar yang lebih baik
untuk tugas-tugas mengingat, mengenali, dan menghubungkan
fakta-fakta dan konsep. Di lain pihak, stimulus verbal memberi
hasil belajar yang lebih baik apabila pembelajaran itu melibatkan
ingatan yang berurutan (sekuensial). Ini salah satu bukti dukungan
atas konsep dual codirig hypothesis (hipotesis kodirig ganda).
Konsep itu menyatakan bahwa ada dua sistem ingatan manusia,
satu untuk mengolah simbol-simbol verbal kemudian
menyimpannya dalam bentuk proposisi image, dan yang lainnya
untuk mengolah image nonverbal yang kemudian disimpan dalam
bentuk proposisi verbal. Hal ini belajar menggunakan indra
pandang dan dengan melibatkan indra lainya akan memberikan
keuntungan yang lebih optimal dalam proses pembelajaran
9
.
Belajar dengan menggunakan indra ganda, yaitu pandang
dan dengar berdasarkan konsep di atas akan memberikan
keuntungan besar bagi siswa. Siswa akan belajar lebih banyak
daripada jika materi pelajaran disajikan hanya dengan stimulus
pandang atau hanya dengan stimulus dengar. Kurang lebih 90%
hasil belajar seseorang diperoleh melalui indra pandang, dan hanya
sekitar 5% diperoleh melalui indra dengar, dan 5% lagi indra
lainnya
10
. Sedangkan menurut Dale (1969) memperkirakan
pemerolehan hasil belajar melalui indra pandang berkisar 75%;
indra dengar 13%, dan indra lainnya 12%.
Salah satu gambaran paling banyak dijadikan acuan sebagai
landasan teori penggunaan media dalam proses pembelajaran
adalah Dale's Cone of Experience (Kerucut Pengalaman Dale).
Kerucut ini merupakan elaborasi yang rinci dari konsep tiga
tingkatan pengalaman yang dikemukakan oleh Bruner
sebagaimana diuraikan di atas. Hasil belajar seseorang diperoleh
dimulai dari pengalaman langsung (kongkret) sampai kepada

8
Azhar Arsyad. Op.cit , hal. 8
9
Azhar Arsyad. Op.cit , hal. 9
10
Azhar Arsyad. Op.cit. hal. 10
136

133

lambang verbal (abstrak). Semakin ke atas di puncak kerucut
semakin abstrak media penyampaian pesan itu. Untuk lebih
jelasnya Dale's Cone of Experience seperti di bawah ini.




















Gambar 2. Kerucut Pengalaman Edgar Dale

3. Fungsi dan Manfaat Media Pembelajaran
Salah satu fungsi utama media pembelajaran sebagaimana
dikatakan oleh Azhar Arsyad adalah sebagai alat bantu mengajar
yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar
yang ditata dan diciptakan oleh guru
11
. Selanjutnya Levie & Lentz
dalam Azhar Arsyad mengemukakan empat fungsi media
pembelajaran, khususnya media visual, yaitu: (1) fungsi atensi;
(2) fungsi afektif; (3) fungsi kognitif; dan (4) fungsi
kompensatoris
12
.
Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik
dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada
isi pelajaran. Seringkali pada awal pelajaran siswa tidak tertarik

11
Azhar Arsyad. Op.cit, hal. 15
12
Azhar Arsyad. Op.cit hal. 16-17
Abstrak
Konkrit
kreL

Lambang
kaLa
Lambang
vlsual
Cambar ulam,
8ekaman 8adlo
Cambar Pldup ameran
1elevlsl
karyawlsaLa
uramaLlsasl
8enda 1lruan/engamaLan
engalaman Langsung
137

134

dengan materi pelajaran, atau mata pelajaran itu salah satu
pelajaran yang tidak disenangi. Media gambar dapat
menenangkan dan mengarahkan perhatian siswa kepada pelajaran
yang akan diterima.
Fungsi afektik media visual dapat terlihat dari tingkat
kenikmatan siswa ketika belajar atau membaca teks yang
bergambar. Gambar atau lambang visual dapat menggugah emosi
dan sikap siswa.
Fungsi kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan
penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau
gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan
mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.
Menurut Piaget (1967) dalam Santrock menyatakan bahwa
perkembangan kognisi pada anak usia sekolah dasar berada dalam
tahapan dua masa transisi, yaitu masa transisi dari tahap pra
operasional ke masa operasional konkrit dan masa transisi dari
tahap operasional konkrit ke tahap operasional formal. Skema
perkembangan kognitif pada tahap ini berkaitan dengan
keterampilan berfikir dan pemecahan masalah, seperti
mengklasifikasi, memahami keadaan sesuatu yang tetap atau tidak
berubah, mengurutkan. Juga pada tahap anak sekolah dasar ini,
perkembangan kognisinya memperlihatkan ke arah kemampuan
atau kecakapan berfikir secara simbolik, yaitu berpikir yang lebih
logis, abstrak dan imajinatif. Namun demikian, karena dalam
keadaan transisi perkembangan antara tahap operasional formal ke
tahap operasional konkrit, anak usia sekolah dasar ini masih
memerlukan bantuan objek nyata untuk berpikir tersebut
13
.
Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari
media visual yang berfungsi untuk mengakomodasikan siswa yang
lemah dan lamban menerima dan memahami isi pelajaran yang
disajikan dengan teks atau secara verbal.
Manfaat media pembelajaran dikemukakan oleh Nana
Sudjana & Rivai sebagai alasan mengapa media pembelajaran
dapat mempertinggi proses belajar siswa. Manfaatnya antara lain:
(1) pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga
dapat menumbuhkan motivasi belajar; (2) bahan pembelajaran

13
Santrock, W., J., (2008). Educational psychology (3
rd
). New York: McGraw-
Hill, hal. 228

138

133

akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh
para siswa, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan
pembelajaran lebih baik; (3) metode pembelajaran akan lebih
bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui
penuturan kata-kata oleh guru sehingga siswa tidak bosan dan
guru tidak kehabisan tenaga apalagi bila guru mengajar untuk
setiap jam pelajaran; dan (4) bisa lebih banyak melakukan
kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru
tetapi juga aktivitas lain, seperti mengamati, melakukan,
mendemonstrasikan, dan lain-lain
14
.
Kemp dan Dauton mengemukakan bahwa manfaat media
pembelajaran, yaitu: (1) penyampaian pelajaran menjadi lebih
baku; (2) pembelajaran bisa lebih menarik; (3) pembelajaran
menjadi lebih interaktif; (4) lama waktu pembelajaran yang
diperlukan dapat dipersingkat; (5) kualitas hasil belajar dapat
ditingkatkan; (6) pembelajaran dapat diberikan kapan dan dimana
diperlukan terutama jika pembelajaran dirancang untuk
penggunaan secara individu; (7) sikap positif siswa dalam
pembelajaran dapat ditingkatkan; dan (8) Beban guru berubah ke
arah yang positif, artinya guru tidak menempatkan diri sebagai
satu-satunya sumber belajar
15
. Media pembelajaran
mempermudah siswa untuk mengomentari cerita, yang bertujuan
agar siswa dapat mengembangakan wawasan berpikir dalam
memahami isi sebuah cerita dan membantu siswa menulis cerita
singkat, bertujuan agar siswa dapat membuat sebuah cerita
dengan cepat berdasarkan gagasan yang ada dalam pikiran
16
.
Dari uraian dan pendapat beberapa ahli di atas, dapat
disimpulkan beberapa manfaat praktis dari penggunaan media
pembelajaran di dalam proses pembelajaran, antara lain: (1)
media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan
informasi seiungga dapat memperlancar dan meningkatkan
proses dan hasii belajar siswa; (2) media pembelajaran dapat
meniagkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat
menumbuhkan motivasi belajar interaksi yang lebih langsung

14
Nana Sudjana & Ahmad Rivai. (2002). Media pengajaran. Jakarta: Sinar Baru
Algensindo, hal. 2
15
Wina Sanjaya. Op.cit. , hal. 210-211
16
Suyatno. (2004). Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra Berdasarkan
Kurikulum Berbasis Kompetensi. Surabaya: SIC, hal. 140-141

139

136

antara siswa dan lingkungannya, dan kemungkinan siswa untuk
belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya;
dan (3) media pembelajaran dapat memberikan kesamaan
pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa
dilingkungannya, serta memungkinkan terjadi interaksi langsung
dengan guru.

4. Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran
Media dipilih untuk kepentingan pembelajaran sebaiknya
memperhatikan kriteria, seperti yang dikemukakan oleh Wina
Sanjaya, yaitu: (1) pemilihan media harus sesuai dengan tujuan
yang ingin dicapai. Apakah tujuan tersebut bersifat kognitif,
afektif, atau psikomotorik. Sertaip media memiliki karakteristik
tertentu yang harus dijadikan sebahai bahan pertimbangan dalam
pemakaiannya; (2) media harus berdasarkan konsep yang jelas;
(3) kemudahan memperoleh media, artinya media yang
diperlukan mudah diperoleh. Media grafis umumnya mudah
dibuat guru tanpa biaya mahal, sederhana, dan praktis
penggunaannya; (4) media harus sesuai dengan gaya belajar
siswa serta gaya kemampuan; dan (5) sesuai dengan karakteristik
siswa, memilih media untuk pendidikan dan pembelajaran harus
sesuai dengan tarap berpikir siswa sehingga makna yang
terkandung di dalamnya dapat dipahami para siswa
17
.
Pemilihan media pembelajaran yang beraneka ragam itu
dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya dalam pembelajaran.
Berdasarkan kriteria yang telah disebutkan, terdapat beberapa
faktor yang harus dipertimbangkan dalam memilih media
pembelajaran adalah: (1) jenis kemampuan yang akan dicapai
sesuai dengan tujuan; (2) kegunaan dari bebagai jenis media
pembelajarn itu sendiri; (3) kemampuan guru menggunakan suatu
jenis media pembelajaran; (4) fleksibilitas (lentur), tahan lama
dan kenyamanan media pembelajaran; (5) keefektifan suatu
media pembelajaran dibandingkan dengan jenis media
pembelajaran yang lain untuk digunakan dalam pembelajaran
suatu materi pembelajaran tertentu.

5. Media Grafis Komik Sebagai Media Pembelajaran

17
Wina Sanjaya. Op. cit. , hal. 224
140

137

Ada beberapa jenis media pembelajaran yang biasa
digunakan dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia. Jenis-
jenis media pembelajaran menurut Suwarna (2005: 133-134),

yaitu: (1) media grafis (dua dimensi), seperti gambar, foto,
grafik, bagan atau diagram, poster, kartun, komik, dan lain-lain;
(2) media tiga dimensi, yaitu dalam bentuk model, seperti model
padat (solid model), model penampang, model susun, model
kerja, diorama, dan lain-lain; (3) media proyeksi seperti slide,
filmstrip, film, OHP, dan lain-lain; dan (4) penggunaan
lingkungan sebagai media pembelajaran.
Abram, Stephen (2008: 25) mengatakan bahwa komik
merupakan storyboarding, salah satu kemampuan yang baik
untuk pembelajaran. Komik merupakan pengaturan grafisyang
mengunakan gambar-gamabr atau ilustrasi. Dalam penelitian ini
adalah media grafis yang menjadi pusat perhatian peneliti,
sedangkan komik merupakan bagian dari grafis. Komik sangat
erat hubungannya dengan kartun. Oleh karena itu, akan
dijelaskan secara berurutan tentang media grafis, kartun dan
komik.
a. Grafis
Grafis tidak seperti gambar-gambar, grafis menyajikan
dunia secara dekat. Grafis itu gambar-gambar dan kata-kata,
namun dibedakan berdasarkan simbol-simbol yang
mengambarkan fenomena, grafis terdiri dari beberapa bentuk
yaitu: peta, diagram, grafik, table, poster dan kartun (Hackbarth,
Steven., 1996: 105). Media grafis termasuk media visual yang
berfungsi menyalurkan pesan dari sumber pesan ke penerima
pesan. Saluran yang digunakan mengutamakan indera
penglihatan (visual). Agar proses penyampaian pesan dapat
berhasil dan efisien, pesan yang disampaikan dituangkan ke
dalam simbol komunikasi yang digunakan adalah simbol visual.
Simbol-simbol pesan yang dituangkan perlu dipahami terlebih
dahulu (Hujair AH. Sanaky, 2009: 69).
b. Kartun
Kartun menurut Arief S. Sadiman, sebagai salah satu
bentuk komunikasi grafis adalah suatu gambar interpretatif yang
menggunakan simbol-simbol untuk menyampaikan sesuatu pesan
secara cepat dan ringkas atau sesuatu sikap terhadap orang,
141

138

situasi, dan kejadian-kejadian tertentu
18
. Ciri khas kartun
memakai karikatur, perlambang dan humor pilihan. Kekuatan
kartun terletak kekompakannya, penyerderhanaan isinya, dan
perhatian yang sungguh-sungguh yang dapat dibangkitkan secara
tajam melalui gambar-gambar yang mengandung humor.
c. Komik
Tilley, Carol L. (2008: 24) mengatakan bahwa comics are
the arrangement of pictures or images and words to narrate a
story or dramatize an idea Komik adalah rangkaian gambar-
gambar atau foto-foto dan kata-kata untuk menceritakan atau
mengambarkan cerita atau suatu kejadian. Komik dikategorikan
sebagai sastra anak. Genre sastra anak dalam berbagai hal berbeda
dengan sastra dewasa, dan salah satunya adalah masih dominannya
unsur gambar dalam sastra anak. Hal itu terutama terlihat pada
buku-buku bacaan sastra anak di usia awal seperti buku
alphabet, buku berhitung, buku konsep, dan buku cerita-
bergambar. Gambar-gambar tersebut juga dominan dalam komik,
tetapi gambar-gambar dan tulisan pada komik berbeda
karakteristiknya dengan buku-buku tersebut. Mengingat buku-
buku yang penuh gambar tersebut pada umumnya bertujuan
anak untuk merangsang membaca, mengembangkan daya
imajinasi, dan mengembangkan rasa keindahan, sedangkan hal
yang kurang lebih sama juga terjadi pada komik, maka komik pun
dapat dikategorikan sebagai salah satu genre sastra anak
19
(Burhan
Nurgiyantoro, 2005: 408).
Penyajian komik mengandung unsur visual dan cerita yang
kuat. Ekspresi yang divisualisasikan membuat pembaca terlibat
secara emosional sehingga membuat pembaca untuk terus
membacanya hingga selesai
20
. Selanjutnya dikatakan bahwa
komik, cerita-ceritanya ringkas dan menarik perhatian dilengkapi
dengan aksi, bahkan dalam lembaran surat kabar dan buku-buku,
komik dibuat lebih hidup, serta diolah dengan pemakaian warna-
warna utama secara bebas.

18
Arief S. Sadiman dkk. 2008. Media pendidikan, pengertian, pengembangan
dan pemanfaatannya. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada., hal.. 45.
19
Nurgiyantoro, Burhan. (2005). Sastra anak. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press., hal. 408.
20
Rudi Susilana dan Cepi Riyana..2008. Media pembelajaran hakikat,
pengembangan, pemanfaatan, dan penilaian (cet.ke-2). Bandung: CV. Wacana Prima.,
hal. 187.
142

139


6. Penggunaan Komik dalam Pembelajaran
Media pembelajaran dikatakan baik dan berperan apabila
memenuhi syarat keefektifan (penggunaannya mudah, waktu
singkat, mencakup isi dan tempat yang diperlukan tidak terlalu
luas), efesien (optimal dalam penggunaan waktu dan tempat), serta
komunikatif (menimbulkan interaksi aktif siswa dalam belajar
berbahasa baik lisan maupun tulisan). Mengefektifkan penggunaan
media pembelajaran bukanlah hal yang mudah, guru harus mampu
membantu pemahaman konsep peserta didik. Sebagaimana yang
dikatakan oleh Russel : effective use of media for learning is not
easy. It requires considerable effort with the involved assistance of
teachers helping to tune procedures and one's conceptual
understanding
21
.
Media pendidikan merupakan suatu bagian integral yang
tidak dapat dipisahkan dari pendidikan di sekolah, oleh karena itu
setiap guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang
cukup tentang media pendidikan. Pengetahuan dan pemahaman
tersebut meliputi: (1) media sebagai alat komunikasi guna lebih
mengefektifkan proses pembelajaran; (2) fungsi media dalam
rangka mencapai kompetensi pembelajaran; (3) seluk beluk proses
belajar; (4) hubungan antara metode pembelajaran dan media
pendidikan; (5) nilai atau manfaat media pendidikan dalam
pembelajaran; (6) pemilihan dan penggunaan media pendidikan;
(7) berbagai jenis alat dan teknik media pendidikan; (8) media
pendidikan dalam setiap mata pelajaran; dan (9) usaha inovasi
dalam media pendidikan
22
.
Luasnya popularitas komik telah mendorong banyak guru
bereksperimen dengan media ini untuk maksud pembelajaran.
Banyak percobaan telah dibuat dalam seni bahasa pada tingkat
SMP dan SMA. Suatu analisis terhadap bahasa komik oleh
Thorndike menunjukkan ada segi yang menarik
23
. Dapat
diketahui bahwa anak yang membaca sebuah buku komik setiap
bulan, hampir dua kali banyaknya kata-kata yang dapat dibaca
sama dengan yang terdapat pada buku-buku bacaan yang

21
Russel. (1999). A consideration of multimedia instruction. Diambil
tanggal24Juli2008darihttp://www.education.gsu.edu?spehar/FOCUS?EdPsy/misc/Cons
ider1.htm.
22
Azhar Arsyad, op.cit. 2.
23
Sudjana dan Rivai. Op.cit. hal. 65-68
143

140

dibacanya setiap tahun terus-menerus. Dapat disimpulkan bahwa
baik jumlah maupun perwatakan dari segi perbendaharaan kata
melengkapi secara praktis dalam membaca untuk para pembaca
muda.
Peranan pokok dari buku komik dalam pembelajaran
adalah kemampuannya dalam menciptakan minat para siswa.
Pengunaan komik dalam pembelajaran sebaiknya dipadu dengan
metode pembelajaran sehingga komik akan dapat menjadi alat
pembelajaran yang efektif. Diharapkan guru bisa membimbing
selera anak-anak, sehingga anak-anak membaca tanpa harus
dibujuk. Melalui bimbingan guru, komik dapat berfungsi sebagai
jembatan untuk menumbuhkan minat baca sesuai dengan taraf
berpikirnya.
Dapat disimpulkan bahwa media grafis komik adalah
media berbasis visual yang mengkombinasikan fakta dan gagasan
secara jelas dan kuat melalui suatu kombinasi atau perpaduan
ungkapan kata-kata dan gambar-gambar yang moderat (gambar
yang berada dalam rentangan abstrak, dan realistis) penuh dengan
humor, dan lucu, dilengkapi dengan aksi, dibuat lebih hidup serta
diolah dengan pemakaian wama-warna utama secara bebas.


7. Model Perencanaan Penggunaan Media
Kegiatan utama dalam perencanaan penggunaan media
pembelajaran sebagaimana dikemukakan Heinich adalah: Analyze
Learner Characteristic, State Objective, Select or modify media,
Utilize, Require learner response, and Evaluate (ASSURE),
yaitu: (A) menganalisis karakteristik umum kelompok sasaran
yaitu siswa sekolah, anggota organisasi pemuda, perusahaan,
usia, jenis kelamin, latar belakang budaya dan sosial ekonomi,
serta menganalisis karakteristik khusus yang meliputi antara lain
pengetahuan, keterampilan dan sikap awal; (S) menyatakan atau
merumuskan tujuan pembelajaran, yaitu perilaku atau
kemampuan baru (pengetahuan, keterampilan, atau sikap) yang
diharapkan siswa miliki dan kuasai setelah proses pembelajaran
selesai; (S) memilih, memodifikasi, atau merancang dan
mengembangkan materi dan media yang tepat
24
. Apabila materi
dan media pembelajaran yang telah tersedia akan dapat

24
Azhar Arsyad. Op. cit., hal. 67-69
144

141

mencapai tujuan, materi dan media itu sebaiknya digunakan
untuk menghemat waktu, tenaga dan biaya. Selain itu perlu juga
diperhatikan apakah materi dan media itu mampu
membangkitkan minat siswa, memiliki ketepatan informasi,
memiliki kualitas yang baik, memberikan kesempatan bagi
siswa untuk berpartisipasi; (U) menggunakan materi dan media.
Setelah memilih materi dan media yang tepat, diperlukan
persiapan bagaimana dan berapa banyak waktu diperlukannya;
(R) meminta tanggapan dari siswa. Guru sebaiknya mendorong
siswa untuk memberikan respon dan umpan balik mengenai
keefektifan proses pembelajaran. Respon siswa dapat
bermacam-macam seperti mengulangi fakta-fakta,
mengemukakan ikhtisar atau rangkuman pelajaran informasi,
atau menganalisis alternatif pemecahan masalah. Dengan
demikian, siswa akan menampakkan partisipasi yang lebih
besar; (E) mengevaluasi proses belajar. Tujuan utama evaluasi
disini adalah untuk mengetahui tingkat pencapaian siswa
mengenai tujuan pembelajaran, keefektifan media dan lain-lain.






DAFTAR PUSTAKA


Ahmad Rohani. (2008). Media instruksional edukatif. Jakarta: Penerbit
Rineka Cipta.
Allyn, Bacon. (1996). Multimedia in the classroom. Massachusetts: A
Simon and Schuster Company.
Amir, H. Suleiman. (1985). Media audiovisual untuk pengajaran,
penerangan, dan penyuluhan. Jakarta: Penerbit PT Gramedia.
Anas Sudijono. (2007). Pengantar evaluasi pendidikan. Jakarta:
RajaGrafindo persada.
Arief S. Sadiman dkk. (2008). Media pendidikan, pengertian,
pengembangan dan pemanfaatannya. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.
145

142

____________ (1994). Pengembangan program media instruksional.
Jakarta.: Pustekkom Depdiknas.
.

Azhar Arsyad. (2008). Media pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
Budiningsih, Asri. (2005). Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka
Cipta
Depdiknas. (2003). Pedoman umum pengembangan sistem penilaian
hasil belajar berbasis kompetensi siswa sekolah menengah
pertama (SMP). Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Dasar
dan Menengah: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.
____________ (2007). Panduan pengembangan silabus KTSP untuk
mata pelajaran SD/MI.
Harmer, Jeremy. (2001). The practice of English language teaching.
Harlow: Pearon limited edition.
Mahmud Yunus. (2009). Pengendalian mutu pendidikan dasar pada era
otonomi daerah. Diambil tanggal 16 Juli 2009 dari
http://sman1banjar.sch.id/html/index.php?id=artikel&kode=42
Nana Sudjana & Ahmad Rivai. (2002). Media pengajaran. Jakarta: Sinar
Baru Algensindo.
Nana S. Sukmadinata. (2008). Metode penelitian pendidikan. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.
Nurgiyantoro, Burhan. (2001). Penilaian dalam pengajaran bahasa dan
sastra. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.
___________________. (2005). Sastra anak. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Oemar Hamalik. (1989). Media pendidikan. Bandung: Aditya Bakti.
Prayitno. I. An. (1990). Identifikasi penggunaan kamus dalam
pengembangan penguasaan kosakata bahasa Inggris mahasiswa
jurusan pendidikan bahasa Inggris FPBS IKIP Yogyakarta.
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni. Institut Keguruan dan
Ilmu Pendidikan.
Richards, J.C., & Willy, A.R. (2003). Methodology in language
teaching: an anthology of current practice. Cambridge:
University Press.
Rudi Susilana dan Cepi Riyana. (2008). Media pembelajaran hakikat,
pengembangan, pemanfaatan, dan penilaian (cet.ke-2). Bandung:
CV. Wacana Prima.
146

143

Russel. (1999). A consideration of multimedia instruction. Diambil
tanggal24Juli2008darihttp://www.education.gsu.edu?spehar/FOC
US?EdPsy/misc/Consider1.htm.

Sumiati dan Asra. (2008). Metode pembelajaran (cet.ke2). Bandung:
CV. Wahana Prima.
Sugiyono. (2008). Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R & D.
Bandung: Penerbit ALFABETA.
Suyanto. (2003). Perbedaan pengaruh metode pembelajaran discovery
dan demonstrasi terhadap hasil belajar IPA ditinjau dari
motivasi belajar siswa, Tesis Magister, tidak diterbitkan,
Universitas Sebelas Maret, Surakarta
Tarigan, H. G. (1986). Pengajaran kosakata. Bandung: Penerbit
Angkasa.
____________ (1993). Strategi pengajaran dan pembelajaran bahasa.
Bandung: Penerbit Angkasa.
Tompkins, Gail E.,& Kenneth, H. (1991). Language arts: contents and
teaching strategies. Merrill: Prentice Hall.
Wina Sanjaya. (2007). Strategi pembelajaran berorientasi standar proses
pendidikan. Jakarta: Kencana