Anda di halaman 1dari 20

1

KEHAMILAN POSTTERM (SEROTINUS)



A. Definisi Kehamilan Postterm
Menurut definisi yang dirumuskan oleh American College of Obstetricians
and Gynecologists (2004), kehamilan postterm adalah kehamilan yang
berlangsung lebih dari 42 minggu (294 hari) yang terhitung sejak hari pertama
siklus haid terakhir (HPHT).
(Cunningham, et al., 2010)

B. Patogenesis Kehamilan Postterm
Penyebab pasti dari kehamilan postterm sampai saat ini masih belum
diketahui dengan pasti. Teori-teori yang pernah diajukan untuk menerangkan
penyebab terjadinya kehamilan postterm antara lain:
1. Teori progesteron. Berdasarkan teori ini, diduga bahwa terjadinya
kehamilan postterm adalah karena masih berlangsungnya pengaruh
progesteron melewati waktu yang semestinya.
(Mochtar, et al., 2004)

2. Teori oksitosin. Rendahnya pelepasan oksitosin dari neurohipofisis wanita
hamil pada usia kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu fakor penyebab
terjadinya kehamilan postterm.
(Mochtar, et al., 2004)

3. Teori kortisol/ACTH janin. Kortisol janin akan mempengaruhi plasenta
sehingga produksi progesteron berkurang dan memperbesar sekresi
estrogen. Proses ini selanjutnya berpengaruh terhadap meningkatnya
produksi prostaglandin. Pada kasus-kasus kehamilan dengan cacat bawaan
janin seperti anensefalus atau hipoplasia adrenal, tidak adanya kelenjar
hipofisis janin akan menyebabkan kortisol janin tidak diproduksi dengan
baik sehingga kehamilan berlangsung lewat bulan.
(Mochtar, et al., 2004)

4. Treori syaraf uterus. Berdasarkan teori ini, diduga kehamilan postterm
terjadi pada keadaan tidak terdapatnya tekanan pada ganglion servikalis,
seperti pada kelainan letak, tali pusat pendek, dan masih tingginya bagian
terbawah janin.
(Mochtar, et al., 2004)

5. Teori heriditer. Pengaruh herediter terhadap insidensi kehamilan postterm
telah dibuktikan pada beberapa penelitian sebelumnya. Kitska et al (2007)
menyatakan dalam hasil penelitiannya bahwa seorang ibu yang pernah
mengami kehamilan postterm akan memiliki risiko lebih tinggi untuk
mengalami kehamilan postterm pada kehamilan berikutnya. Hasil
penelitian ini memunculkan kemungkinan bahwa kehamilan postterm juga
dipengaruhi oleh faktor genetik.
(Kistka, et al., 2007)

Adanya pengaruh genetik terhadap kehamilan postterm tersebut telah
dibuktikan pada penelitian Biggar et al (2010).
(Biggar, et al., 2010)

C. Diagnosis Kehamilan Postterm
Meskipun diagnosis kehamilan postterm berhasil ditegakkan pada 4-19%
dari seluruh kehamilan, sebagian diantaranya kenyataanya tidak terbukti oleh
karena kekeliruan dalam menentukan usia kehamilan.
(Cunningham, et al., 2010)
Oleh
sebab itu, pada penegakkan diagnosis kehamilan postterm, informasi yang
tepat mengenai lamanya kehamilan menjadi sangat penting. Hal ini disebabkan
karena semakin lama janin berada di dalam uterus maka semakin besar pula
risiko bagi janin dan neonatus untuk mengalami morbiditas maupun mortalitas.
Namun sebaliknya, pemberian intervensi/terminasi secara terburu-buru juga
bisa memberikan dampak yang merugikan bagi ibu maupun janin.
1. Riwayat haid
Pada dasarnya, diagnosis kehamilan postterm tidaklah sulit untuk
ditegakkan apabila keakuratan HPHT ibu bisa dipercaya. Diagnosis
kehamilan postterm berdasarkan HPHT dapat ditegakkan sesuai dengan
definisi yang dirumuskan oleh American College of Obstetricians and
Gynecologists (2004), yaitu kehamilan yang berlangsung lebih dari 42
minggu (294 hari) yang terhitung sejak hari pertama siklus haid terakhir
(HPHT).
(Cunningham, et al., 2010)

Permasalahan sering timbul apabila ternyata HPHT ibu tidak akurat
atau tidak bisa dipercaya. Menurut Mochtar et al (2004), jika berdasarkan
riwayat haid, diagnosis kehamilan postterm memiliki tingkat keakuratan
hanya 30 persen. Riwayat haid dapat dipercaya jika telah memenuhi
beberapa kriteria, yaitu: (a) ibu harus yakin betul dengan HPHT-nya; (b)
siklus 28 hari dan teratur, (c) tidak minum pil anti hamil setidaknya 3
bulan terakhir.
(Mochtar, et al., 2004)

2. Riwayat pemeriksaan antenatal
Pernoll, et al (2007) menyatakan bahwa kehamilan dapat dinyatakan
sebagai kehamilan postterm bila didapat 3 atau lebih dari 4 kriteria hasil
pemeriksaan sebagai berikut:
(Pernoll, et al., 2007)

a. Telah lewat 36 minggu sejak test kehamilan positif
b. Telah lewat 24 minggu sejak dirasakan gerak janin pertama kali
c. Telah lewat 32 minggu sejak DJJ pertama terdengar dengan Doppler
d. Telah lewat 22 minggu sejak terdengarnya DJJ pertama kali dengan
stetoskop Laennec
Semakin awal pemeriksaan USG dilakukan, maka usia kehamilan
yang didapatkan akan semakin akurat sehingga kesalahan dalam
mendiagnosa kehamilan postterm akan semakin rendah. Tingkat kesalahan
estimasi tanggal perkiraan persalinan jika berdasarkan pemeriksaan USG
trimester I (crown-rump length) adalah 0,67 minggu.
(Cohn, et al., 2010)
Pada
usia kehamilan antara 16-26 minggu, ukuran diameter biparietal
(biparietal diameter/BPD) dan panjang femur (femur length/FL)
memberikan ketepatan 7 hari dari taksiran persalinan.
(Mochtar, et al., 2004)

Pemeriksaan usia kehamilan berdasarkan USG pada trimester III
menurut hasil penelitian Cohn, et al (2010) memiliki tingkat keakuratan
yang lebih rendah dibanding metode HPHT maupun USG trimester I dan
II. Ukuran-ukuran biometri janin pada trimester III memiliki tingkat
variabilitas yang tinggi sehingga tingkat kesalahan estimasi usia kehamilan
pada trimester ini juga menjadi tinggi. Tingkat kesalahan estimasi tanggal
perkiraan persalinan jika berdasarkan pemeriksaan USG trimester III
bahkan bisa mencapai 3,6 minggu. Keakuratan penghitungan usia
kehamilan pada trimester III saat ini sebenarnya dapat ditingkatkan dengan
melakukan pemeriksaan MRI terhadap profil air ketuban.
(Cohn, et al., 2010)

3. Pemeriksaan cairan amnion
a. Sitologi cairan amnion. Pengecatan nile blue sulphate dapat melihat
sel lemak dalam cairan amnion. Apabila jumlah sel yang mengandung
lemak melebihi 10%, maka kehamilan diperkirakan sudah berusia 36
minggu dan apabila jumlahnya mencapai 50% atau lebih, maka usia
kehamilan 39 minggu atau lebih.
(Mochtar, et al., 2004)

b. Amniskopi. Melalui amnioskop yang dimasukkan ke kanalis yang
sudah membuka dapat dinilai keadaan air ketuban didalamnya.
(Mochtar,
et al., 2004)

c.
Aktivitas tromboplastin cairan amnion (ATCA). Hasil penelitian
terdahulu berhasil membuktikan bahwa cairan amnion mempercepat
waktu pembekuan darah. Aktivitas ini meningkat dengan
bertambahnya usia kehamilan. Pada usia kehamilan 41-42 minggu,
ACTA berkisar antara 45-65 detik sedangkan pada usia kehamilan
>42 minggu, didapatkan ACTA <45 detik. Bila didapatkan ACTA
antara 42-46 detik, ini menunjukkan bahwa kehaminan sudah
postterm.
(Mochtar, et al., 2004)
d. Perbandingan kadar lesitin-spingomielin (L/S). Perbandingan kadar
L/S pada usia kehamilan sekitar 22-28 minggu adalah sama (1:1).
Pada usia kehamilan 32 minggu, perbandingannya menjadi 1,2:1 dan
pada kehamilan genap bulan menjadi 2:1. Pemeriksaan ini tidak dapat
dipakai untuk menentukan kehamilan postterm tetapi hanya
digunakan untuk menentukan apakan janin cukup usia/matang untuk
dilahirkan.
(Mochtar, et al., 2004)


D. Komplikasi Kehamilan Postterm
Pada kehamilan postterm terjadi berbagai perubahan baik pada cairan
amnion, plasenta, maupun janin. Pengetahuan mengenai perubahan-perubahan
tersebut dapat dijadikan dasar untuk mengelola kasus persalinan postterm.
1. Disfungsi plasenta
Disfungsi plasenta merupakan faktor penyebab terjadinya komplikasi
pada kehamilan postterm dan meningkatnya risiko pada janin. Fungsi
plasenta mencapai puncaknya pada kehamilan 38 minggu dan kemudian
mulai menurun terutama setelah 42 minggu. Rendahnya fungsi plasenta ini
berkaitan dengan peningkatan kejadian gawat janin dengan risiko 3 kali
lebih tinggi. Pemasokan makanan dan oksigen akan menurun akibat proses
penuaan plasenta disamping adanya spasme arteri spiralis. Janin akan
mengalami hambatan pertumbuhan dan penurunan berat hingga disebut
sebagai dismatur.
(Cunningham, et al., 2010)

2. Oligohidramnion
Pada kehamilan postterm terjadi perubahan kualitas dan kuantitas
cairan amnion. Jumlah cairan amnion mencapai puncak pada usia
kehamilan 38 minggu, yaitu sekitar 1000 ml dan menurun menjadi sekitar
800 ml pada usia kehamilan 40 minggu. Penurunan jumlah cairan amnion
berlangsung terus menjadi sekitar 480 ml, 250 ml, hingga 160 ml pada usia
kehamilan 42, 43, dan 44 minggu.
(Cunningham, et al., 2010)

Penurunan jumlah cairan amnion pada kehamilan postterm
berhubungan dengan penurunan produksi urin janin. Dilaporkan bahwa
berdasarkan pemeriksaan Doppler velosimetri, pada kehamilan postterm
terjadi peningkatan hambatan aliran darah (resistance index/RI) arteri
renalis janin sehingga dapat menyebabkan penurunan jumlah urin janin
dan pada akhirnya menimbulkan oligohidramnion.
(Oz, et al., 2002)
Oleh sebab
itu, evaluasi volume cairan amnion pada kasus kehamilan postterm
menjadi sangat penting artinya. Dilaporkan bahwa kematian perinatal
meningkat dengan adanya oligohidramnion yang menyebabkan kompresi
tali pusat. Pada persalinan postterm, keadaan ini dapat menyebabkan
keadaan gawat janin saat intra partum.
(Mochtar, et al., 2004)

Selain perubahan volume, terjadi pula perubahan komposisi cairan
amnion sehingga menjadi lebih kental dan keruh. Hal ini terjadi karena
lepasnya vernik kaseosa dan komposisi fosfolipid. Pelepasan sejumlah
badan lamellar dari paru-paru janin akan mengakibatkan perbandingan
Lesitin terhadap Sfingomielin menjadi 4:1 atau lebih besar. Selain itu,
adanya pengeluaran mekonium akan mengakibatkan cairan amnion
menjadi hijau atau kuning dan meningkatkan risiko terjadinya aspirasi
mekonium.
(Cunningham, et al., 2010)

Estimasi jumlah cairan amnion dapat diukur dengan pemeriksan USG.
Salah satu metode yang cukup populer adalah pengukuran diameter
vertikal dari kantung amnion terbesar pada setiap kuadran dari 4 kuadran
uterus. Hasil penjumlahan keempat kuadran tersebut dikenal dengan
sebutan indeks cairan anmion (Amnionic Fluid Index/AFI). Bila nilai AFI
telah turun hingga 5 cm atau kurang, maka merupakan indikasi adanya
oligohidramnion.
(Cunningham, et al., 2010)

3. Perubahan pada janin
Selain risiko pertambahan berat badan yang berlebihan, janin pada
kehamilan postterm juga mengalami berbagai perubahan fisik khas disertai
dengan gangguan pertumbuhan dan dehidrasi yang disebut dengan
sindrom postmaturitas. Perubahan-perubahan tersebut antara lain;
penurunan jumlah lemak subkutaneus, kulit menjadi keriput, dan
hilangnya vernik kaseosa. Keadaan ini menyebabkan kulit janin
berhubungan langsung dengan cairan amnion. Perubahan lainnya yaitu;
rambut panjang, kuku panjang, serta warna kulit kehijauan atau
kekuningan karena terpapar mekonium. Namun demikian, Tidak seluruh
neonatus kehamilan postterm menunjukkan tanda postmaturitas tergantung
fungsi plasenta. Umumnya didapat sekitar 12-20 % neonatus dengan tanda
postmaturitas pada kehamilan postterm. Tanda postterm dibagi dalam 3
stadium:
(Mochtar, et al., 2004)

a. Stadium 1 : Kulit kehilangan verniks kaseosa dan maserasi berupa
kulit kering, rapuh, dan mudah mengelupas.
b. Stadium 2 : Gejala di atas disertai pewarnaan mekonium pada
kulit.
c. Stadium 3 : Pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit, dan tali
pusat.
E. Penatalaksanaan Kehamilan Postterm
Sampai saat ini pengelolaanya masih belum memuaskan dan masih banyak
perbedaan pendapat. Masalah yang sering dihadapi pada pengelolaan
kehamilan postterm antara lain karena pada beberapa penderita, usia kehamilan
tidak selalu dapat ditentukan dengan tepat sehingga janin bisa saja belum matur
sebagaimana yang diperkirakan. Selain itu, saat usia kehamilan mencapai 42
minggu, pada 70% penderita didapatkan serviks belum matang/unfavourable
dengan skor Bishop rendah sehingga tingkat keberhasilan induksi menjadi
rendah. Oleh karena itu, setelah diagnosis kehamilan postterm ditegakkan,
permasalahan yang harus dipecahkan selanjutnya adalah apakah dilakukan
pengelolaan secara aktif dengan induksi ataukah sebaliknya dilakukan
pengelolaan secara ekspektatif dengan pemantauan terhadap kesejahteraan
janin, baik secara biofisik maupun biokimia sampai persalinan berlangsung
dengan spontan atau timbul indikasi untuk mengakhiri kehamilan.
(Mochtar, et al.,
2004)
1. Pemantanauan kesejahteraan janin
Manning dkk (1980) telah mengajukan pemakaian kombinasi dari 5
variabel biofisik untuk menilai kesejahteraan janin dan menyatakan bahwa
kombinasi ini memberikan hasil yang lebih akurat dibandingkan
pemakaian salah satu variabel saja. Secara umum, tes ini membutuhkan
waktu sekitar 30-60 menit. Variabel yang digunakan dalam penilaian profil
biofisik adalah; (a) tes tanpa beban (non-stress test/NST), (b) gerak nafas
janin, (c) gerakan janin, (d) tonus janin, dan (e) volume cairan amnion.
Setiap variabel diberikan skor 2 bila normal dan skor 0 bila abnormal.
Oleh sebab itu, seorang janin sehat akan memiliki skor 10 pada
pemeriksaan profil biofisiknya.
(Cunningham, et al., 2010)

2. Induksi persalinan
Kehamilan postterm merupakan keadaan klinis yang sering menjadi
indikasi untuk pelaksanaan induksi persalinan. Induksi persalinan menjadi
salah satu prosedur medis yang paling sering dilakukan di Amerika Serikat
dengan proporsi yang meningkat dari 9% pada tahun 1989 menjadi 19% di
tahun 1998.
(Heimstad, 2007)

Induksi persalinan adalah suatu tindakan terhadap ibu hamil yang
belum inpartu, baik secara tindakan atau medisinal, untuk merangsang
timbulnya kontraksi uterus sehingga diharapkan terjadi persalinan atau
penipisan dan dilatasi serviks yang progresif disertai penurunan bagian
presentasi janin. Tindakan induksi persalinan ini adalah untuk keselamatan
ibu dan anak, tetapi walaupun dilakukan dengan terencana dan hati-hati,
kemungkinan untuk menimbulkan risiko terhadap ibu dan janin tetap ada.

(Heimstad, 2007)

Kemungkinan keberhasilan induksi persalinan ditentukan oleh
beberapa keadaan sebelum dilakukan induksi, salah satunya dari
kematangan serviks (favorable). Penilainan kematangan serviks ini dapat
dilakukan dengan menggunakan skor Bishop. Skor ini dinilai berdasarkan
lima faktor yang didapatkan dari pemeriksaan dalam dan akan digunakan
untuk memperkirakan keberhasilan induksi persalainan. Lima faktor yang
diperiksa adalah (1) dilatasi serviks, (2) penipisan serviks/effacement, (3)
konsistensi serviks, (4) posisi serviks, dan (5) station dari bagian terbawah
janin.
Tabel 1. Pelviks skor menurut Bishop. (Cunningham, et al., 2010)

Skor Bishop >8 memberikan kemungkinan keberhasilan induksi
persalinan yang tinggi. Sementara itu, skor Bishop 4 biasanya
menunjukkan keadaan serviks yang belum matang (unfavorable) sehingga
membutuhkan pematangan serviks yang bisa dilakukan secara
farmakologis (prostaglandin, nitrit oksida) ataupun teknik (kateter
transervikal, dilator higroskopis, stripping).
(Cunningham, et al., 2010)

Oksitosin adalah zat yang paling sering digunakan untuk induksi
persalinan dalam bidang obstetri.
(Heimstad, 2007)
Oksitosin mempunyai efek
yang poten terhadap otot polos uterus dan kelenjar mammae. Kepekaan
terhadap oksitosin meningkat pada saat persalinan. Induksi persalinan
dengan oksitosin yang diberikan melalui infus secara titrasi ternyata efektif
dan banyak dipakai. Titrasi ini biasanya dilakukan dengan cara
memberikan 10-20 unit oksitosin (10.000-20.000 mU) yang dilarutkan
dalam 1000 cc larutan Ringer laktat. Rejimen ini akan menghasilkan kadar
oksitosin 10-20 mU/mL.
(Cunningham, et al., 2010)
Terdapat berbagai macam
metode induksi dengan menggunakan drip oksitosin, baik yang
menggunakan dosis rendah maupun dosis tinggi.
Tabel 2. Rejimen drip induksi dengan oksitosin. (Cunningham, et al., 2010)

3. Penatalaksanaan Kehamilan Postterm dengan Oligohidramnion
Penatalaksanaan kasus oligohidramnion pada kehamilan postterm
tergantung pada situasi klinik pasien yang bersangkutan. Pada tahap awal,
harus dilakukan evaluasi terhadap anomali janin dan gangguan
pertumbuhan. Pada kehamilan postterm yang diperberat dengan
komplikasi oligohidramnion harus dilakukan pengawasan ketat karena
tingginya risiko morbiditas janin. (Heimstad, 2007)
Hasil dari kehamilan dengan oligohidramnion intrapartum menurut
beberapa penelitian memiliki hasil yang berbeda-beda. Chauhan dkk
(1999) yang dikutip dari (Cunningham, et al., 2010), melakukan penelitian
terhadap lebih dari 10.500 ibu hamil yang memiliki nilai AFI intrapartum
<5 cm dibandingkan dengan kontrol yang memiliki nilai AFI >5 cm.
Menurut hasil penelitian didapatkan bahwa risiko seksio sesarea atas
indikasi gawat janin pada kelompok oligohidramnion lebih tinggi 2 kali
lipat. Selain itu, risiko janin dengan skor APGAR 5 menit dibawah 7 pada
kelompok ini lebih tinggi 5 kali lipat. Hasil penelitian Divon dkk (1995)
yang dikutip dari Cunningham et al, (2010) juga menyatakan bahwa hanya
ibu paturien postterm yang memiliki nilai AFI 5 cm yang mengalami
deselerasi denyut jantung janin dan aspirasi mekonium.
(Cunningham, et al., 2010)

Sebaliknya, Zhang dkk (2004) yang dikutip dari Cunningham et al.,
(2010) melaporkan bahwa kondisi oligohidramnion dengan nilai AFI 5
cm tidak berhubungan dengan kondisi perinatal yang buruk. Begitu juga
dengan Magann dkk (1999) yang tidak menemukan peningkatan risiko
komplikasi intrapartum pada kondisi oligohidramnion.
(Cunningham, et al., 2010)

Perlu kita sadari bahwa persalinan adalah saat paling berbahaya bagi
janin postterm sehingga setiap persalinan postterm harus dilakukan
pengawasan ketat dan sebaiknya dilaksanakan di Rumah Sakit dengan
pelayanan operatif dan neonatal yang memadai.
Menurut Mochtar, et al (2004) pengelolaan persalinan pada kehamilan
postterm mencakup:
a. Pemantauan yang baik terhadap kontraksi uterus dan kesejahteraan
janin. Pemakaian alat monitor janin secara kontinu sangat bermanfaat.
b. Hindari penggunaan obat penenang atau analgetika selama persalinan.
c. Persiapan oksigen dan tindakan seksio sesarea bila sewaktu-waktu
terjadi kegawatan janin
d. Cegah terjadinya aspirasi mekonium dengan segera mengusap wajah
neonatus dan penghisapan pada tenggorokan saat kepala lahir
dilanjutkan resusitasi sesuai prosedur pada janin dengan cairan
ketuban bercampur mekonium.
e. Pengawasan ketat terhadap neonatus dengan tanda-tanda postmaturitas

Gambar 1. Skema penatalaksanaan kehamilan postterm. (Cunningham, et
al., 2010)
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
2014


A. IDENTITAS
1. Nama penderita : Ny. D
2. Umur : 24 tahun
3. Jenis kelamin : Perempuan
4. Agama : Islam
5. Pendidikan : SMA
6. Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
7. Status : Menikah
8. Alamat : Sriwulan, RT/RW 05/02 Sayung, Demak
9. Tanggal Masuk : 3-4-2014
10. Masuk Jam : 10.30
11. Ruang : VK
12. Kelas : Jampersal

B. ANAMNESA
Anamnesa dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 3-4-2014.
1. Keluhan Utama :
Pasien hamil 42 minggu usia 24 tahun datang dengan keluhan perut terasa
kenceng-kenceng, lalu dirasa hilang timbul belum keluar air ketuban dan lendir darah
2. Riwayat Kehamilan Sekarang
Pasien G
2
P
1
A
0
hamil 42 minggu usia 24 tahun datang dengan keluhan perut
terasa kenceng-kenceng, lalu dirasa hilang timbul belum keluar air ketuban dan lendir
darah (-)
3. Riwayat Kehamilan
HPHT : 15/06/2013
HPL : 22/03/2014
1 bulan setelah terlambat haid pasien melakukan tes kehamilan di bidan dengan test
pack kehamilan dan hasilnya positif.
4. Riwayat ANC
ANC dilakukan rutin di bidan setelah pasien dinyatakan hamil.
5. Riwayat Obstetri
G
2
P
1
A
0

G
1
: laki-laki, 2300 gram, bidan, meninggal
G
2
: Hamil Sekarang, 42 minggu

6. Riwayat Menstruasi
- Menarche : 12 tahun
- Siklus haid : 28 hari
- Lama haid : 7 hari
- Dismenore : (-)
- HPHT : 15/06/2013

7. Riwayat KB: suntik 1 bulan
8. Riwayat Perkawinan : pernah menikah 1 (satu) kali dengan lama pernikahan 8 tahun
9. Riwayat Penyakit Dahulu
- Riwayat Hipertensi : disangkal
- Riwayat Penyakit Jantung : disangkal
- Riwayat Penyakit Paru : disangkal
- Riwayat DM : disangkal

10. Riwayat Penyakit Keluarga
- Riwayat Hipertensi : disangkal
- Riwayat Penyakit Jantung : disangkal
- Riwayat Penyakit Paru : disangkal
- Riwayat DM : disangkal
11. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien adalah seorang ibu rumah tangga, suami pasien bekerja swasta.
Kesan ekonomi cukup, biaya pengobatan menggunakan PBI.

C. PEMERIKSAAN FISIK
a. Status Present
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Vital Sign :
TD : 110/70 mmHg
Nadi : 80 x/menit TB : 149 cm
RR : 24 x/menit BB : 68 Kg
Suhu : 36,5
0
C
b. Status Internus
- Mata : Conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
- Mulut : Bibir sianosis (-), bibir kering (-), lidah kotor (-)
- Tenggorokan : Faring hiperemesis (-), pembesaran tonsil (-)
- Leher : Simetris, pembesaran kelenjar limfe (-)
- Kulit : Turgor baik, ptekiae (-)
- Mamae : Simetris, benjolan abnormal (-), hiperpigmentasi areola (-),
puting menonjol (+), besar cukup
- Paru :
Inspeksi : Hemithorax dextra dan sinistra simetris
Palpasi : Stem fremitus dextra dan sinistra sama, nyeri tekan (-)
Perkusi : Sonor seluruh lapang paru
Auskultasi : Suara dasar vesikuler, suara tambahan (-)
- Jantung :
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis tidak teraba
Perkusi : Redup
Auskultasi : Suara jantung I dan II murni, reguler, suara tambahan
(-)
- Abdomen :
Inspeksi : Cembung, striae gravidarum (+), bundle ring (-)
Palpasi : teraba bagian-bagian janin
Perkusi : tidak dilakukan
Auskultasi : denyut jantung janin (+)
- Extremitas :
Superior Inferior
Oedem -/- -/-
Varises -/- -/-
Reflek fisiologis +/+ +/+
Reflek patologis -/- -/-
c. Status Obstetri
- Abdomen
Inspeksi : Perut datar, striae gravidarum (-)
Palpasi :
- - Leopold I : - TFU 1 jari di bawah processus xiphoideus
- - didapatkan massa bulat, lunak.
- - Leopold II : - pengembangan uterus ke lateral sesuai sumbu ibu
- -Teraba tahanan memanjang sebelah kanan dan bagian-bagian kecil pada
sebelah kiri.
- - Leopold III :- Teraba massa bulat, besar, keras
- - Bagian bawah janin masih bisa digoyang.
- - Leopold IV :- Pendindingan telapak tangan pada bagian bawah janin
didapatkan bentuk konvergen.
- Auskultasi : DJJ 12-12-12.
- TFU : 31
- His : jarang.

- Genitalia
Externa : Darah segar (-)
Interna : Vagina licin (+), pembukaan 1 jari, portio tebal lembut, KK
(+)
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Laboratorium Darah ()
a. Pemeriksaan Hematologi tanggal 3 Maret 2014
Hb : 9,4 g/Dl
Hematokrit : 31,2 %
Leukosit : 20,5* /ul
Trombosit : 313.000/Ul
b. Pemeriksaan Hematologi tanggal 4 Maret 2014
Hb : 9,5 g/Dl
Hematokrit : 31,7 %
Leukosit : 33,7* /ul
Trombosit : 333.000/Ul
Golongan darah : 0, Rhesus (+)
BT : 2 menit : 30 detik
CT : 5 menit : 30 detik
c. Pemeriksaan serologis : HbsAg (-)

E. RESUME
Pasien G
2
P
1
A
0
hamil 42 minggu usia 24 tahun datang dengan keluhan perut terasa
kenceng-kenceng, lalu dirasa hilang timbul belum keluar air ketuban dan lendir darah (-)
Riwayat Kehamilan
HPHT : 15/03/2014
Tanggal kedatangan ke RS : 3/04/2014
Umur Kehamilan : 42 minggu
Status Present :
Keadaan Umum : baik
TD : 110/70 mmHg
Status Obstetri :
Inspeksi : Cembung, striae gravidarum (+)
Palpasi :
Palpasi :
- Leopold I : Bokong
- Leopold II : Punggung Kanan
- Leopold III : Kepala, belum masuk PAP
- Leopold IV :- Pendindingan telapak tangan pada bagian bawah janin
didapatkan bentuk konvergen.
- Auskultasi : DJJ 12-12-12.
- TFU : 31
- His : jarang.
Genitalia :
Externa : Darah segar (-)
Interna : Vagina licin (+), pembukaan 1 jari, portio tebal lembut, KK
(+)
Pemeriksaan Penunjang:
- Tanggal 3 april 2014 Hb 9,4
- Tanggal 4 April 2014 Hb 9,5

F. DIAGNOSA AWAL
Pasien G
2
P
1
A
0
hamil 42 minggu belum impartu dengan serotinus + oligohidramion


G. SIKAP
1. Pasien rawat inap
2. Pengawasan: KU, Vital Sign, Hb, PPV
3. Induksi Oksitosin
Oksitosin drip 5 U oksitosin dalam 500cc RL di mulai 8 tpm dinaikkan 4 tetes
tiap 15 menit sampai maksimal 40tpm, dengan memperhatikan evaluas ibu dan
janin. Bilabotol I habis sementara pasien belum inpartu, teruskan dengan botol II
berisi 5 U dengan tetesan tetap atau 10 U dengan 20tpm dan dinaikkan tiap15
menit sampai maksimal 40 tpm.Bil abotol II gagal, maka penderita diistirahatkan
selama 24 jam, kemudian diulangi lagi.

4. Tindakan SCTP

H. PROGNOSA
Kehamilan : ad bonam
Persalinan : ad bonam

I. EDUKASI
1. Memberi tahu kondisi ibu dan janin pada keluarga
2. Memberitahu ibu untuk menjaga higiene diri dan bayi.

J. FOLLOW UP
Tanggal/Jam
a
Subjectif &
Objectif
Assesment Planing
3 April 2014 S: kenceng- Kenceng
jarang
O:
Tensi :100/70
mmHg
Nadi : 80 x/menit
RR : 24 x/menit
Suhu : 36,5
0
C
DJJ : 12-12-12
G2p1A0 Hamil 42
minggu, janin tunggal
intra uteri letak kepala
belum impartu dengan
serotinus +
oligohidramion
- Induksi RL + 5 UI
oksitosin 8 tetes
dinaikan 4 tetes
setia[ 15 menit
sampai maximal
40 tetes
- Observasi


4 April 2014 S: kenceng- Kenceng
jarang
O:
Tensi :100/70
mmHg
Nadi : 80 x/menit
RR : 24 x/menit
Suhu : 36,5
0
C
G2p1A0 Hamil 42
minggu, janin tunggal
intra uteri letak kepala
belum impartu dengan
serotinus +
oligohidramion
- Pro SC jam 14.00
- Premedikasi
cefotaxin 1 gr
- Usaha daah 1 Kolf
WB
Post SC
- Cefotaxime 2x1
- Pospargin 2x1
- Kaltopren 2x1
- Cairan : NaCl +
oksitosin
5 April 2014 S: nyeri post operasi
(+),
O:
Tensi :120/70
mmHg
Nadi : 80 x/menit
RR : 20 x/menit
Suhu : 36,3
0
C
Post SCTP dengan
serotinus +
oligohidramion +
Gagal induksi
- Cefotaxime 2x1
- Pospargin 2x1
- Kaltopren 2x1


K. DIAGNOSA AKHIR
Tindakan Post SCTP dengan serotinus + oligohidramion + Gagal induksi