Anda di halaman 1dari 1

Di antara keunggulan teknik analisis menggunakan instrumen adalah kemampuannya mendeteksi

dan menentukan kadar analit yang sangat kecil dibandingkan dengan metode analisis klasik.
Walaupun demikian untuk menganalisis analit yang berkadar sangat rendah dimana sinyal
instrumen yang diberikan analit sangat lemah atau hampir sama dengan derau atau latar
belakang, diperlukan suatu kriteria yang menggambarkan kehandalan metode. Pada analisis
sampel yang mengandung analit sangat rendah, kesulitan dalam mengambil keputusan akan
dialami karena adanya keraguan antara sinyal analit atau derau. Ketidakpastian dan keraguan
inilah yang memicu penggunaan kriteria kinerja metode analisis yang disebut batas deteksi (limit
of detection, LOD) dan batas kuantisasi (limit of quantitation, LOQ).
Batas deteksi dan batas kuantisasi metode perlu ditentukan kalau metode tersebut digunakan
untuk menganalisis sampel yang mengandung analit berkadar rendah, seperti pada analisis obat
dalam cairan tubuh, analisis metabolit sekunder dalam kultur jaringan, analisis pada uji disolusi
obat, analisis dalam penetapan uji batas dan lain-lain [1,12,13,15,20,24]. Batas deteksi sangat
penting dalam analisis sesepora (trace analysis) untuk menentukan jumlah kontaminan yang ada
di bawah atau di atas batas yang diperbolehkan. Batas deteksi merupakan kriteria untuk
pemilihan metode tersebut. Biasanya suatu metode akan dipilih jika batas deteksinya
sepersepuluh dari batas konsentrasi yang diperbolehkan. Misalnya jika batas kadar timbal dalam
air ledeng 0,05 mg dm
-3
(50 bpt) maka metode analisis yang dipilih adalah metode yang mampu
mengukur kadar timbal dibawah batas tersebut hingga 0,005 mg dm
-3
atau memberikan batas
deteksinya 5 bpt [12].
Penaksiran dan perhitungan batas deteksi dan batas kuantisasi masih mengundang perdebatan
karena perbedaan interpretasi definisi dan cara penentuannya. Secara umum batas deteksi
didefinisikan sebagai konsentrasi analit terkecil yang memberi sinyal instrumen yang berbeda
secara "nyata" dari sinyal blangko dan sinyal latar belakang. Sedangkan batas kuantisasi
didefinisikan sebagai konsentrasi analit terkecil yang dapat dikuantisasi secara cermat dan
seksama. WHO dan USP mendefinisikan batas deteksi sebagai kadar analit terkecil dalam
sampel yang dapat dideteksi tapi tidak perlu ditetapkan sebagai kadar yang tepat sedangkan batas
kuantisasi sebagai kadar analit terkecil yang dapat diukur secara kuantitatif dengan kecermatan
dan keseksamaan yang dapat diterima [20,24]. Interpretasi inilah yang memicu perdebatan dalam
penentuan dan penaksiran batas deteksi serta batas kuantisasi [2-11,14-18,19-23].
Tulisan ini akan memaparkan beberapa pendekatan untuk menaksir dan menghitung batas
deteksi dan batas kuantisasi metode analisis dan cara-cara perhitungannya yang biasa dilakukan,
baik melalui pengolahan statistika maupun yang non statistika.