Anda di halaman 1dari 46

1

MAKALAH
Mengidentifikasi Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin
sesuai dengan Kala Persalinan
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah Askeb II
Dosen Pembimbing
Siti Fajriah, SST

Disusun oleh :
Kelompok II Semester III/B
Meyrahni Melta

032401D13429

Murwati Dewi

032401D13431

Nurhalifah

032401D13437

Rizky Dana Maudina

032401D13455

Salamah

032401D134

Yunita Dwi Mujiastuti

032401D13465

Yunita Tri Lestari

032401D13466

YAYASAN MITRA HUSADA TENGGARONG


AKADEMI KEBIDANAN KUTAI HUSADA
TENGGARONG
2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat-Nya dan
hidayah-Nya makalah Askeb II tentang Mengidentifikasi Kebutuhan Dasar Ibu
Bersalin sesuai dengan Kala Persalinan ini dapat diselesaikan dengan baik.
Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang
telah membawa kedamaian dan rahmat untuk semesta alam.
Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Askeb II. Selanjutnya
penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Siti
Fajriah, SST selaku dosen pembimbing mata kuliah Askeb II .
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan-kekurangan dalam
pembuatan makalah ini. Oleh karena itu, apabila masih ada kekurangankekurangan dalam makalah ini, kami mohon maaf, karena kami hanya manusia
biasa yang tak luput dari salah. Dan kami menerima saran, masukan dan juga
kritik yang bersifat membangun sehingga untuk kedepannya dapat lebih baik dari
sebelumnya. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
Tenggarong, Oktober 2014
Penyusun,

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI..
BAB I. PENDAHULUAN..
A. Latar Belakang......
B. Rumusan Masalah.
C. Tujuan.......
BAB II. PEMBAHASAN...
A. Asuhan Persalinan Normal
B. Lima Benang Merah dalam Asuhan

i
ii
1
1
1
2
3
3

Persalinan.......
Menolong Persalinan sesuai nAPN (Asuhan Persalinan Normal)

C.

......
D. Manuver Tangan dan Langkah-Langkah dalam
Melahirkan Janin.
BAB III. PENUTUP...
A. Kesimpulan
B. Saran......
DAFTAR PUSTAKA

21
50
55
55
55

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Persalinan merupakan hal yang paling ditunggu-tunggu oleh para ibu
hamil, sebuah waktu yang menyenangkan, namun disisi lain merupakan hal
yang paling mendebarkan. Persalinan adalah proses pengeluaran hasil
konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar.
Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran

bayi yang cukup bulan disusul dengan pengeluaran placenta dan selaput janin
dari tubuh ibu.
Pada pengeluaran bayi ini terjadi pada kala II yang juga disebut kala
pengeluaran bayi. Kala ini dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap
(10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Tanda pasti pada kala II
ditentukan melalui periksa dalam (informasi obyektif) yang hasilnya adalah
pembukaan serviks telah lengkap, atau terlihatnya bagian kepala bayi melalui
introitus vagina. Dalam menolong persalinan tentu harus bersih dan aman
serta mencegah terjadinya komplikasi. Persalinan bersih dan aman serta
pencegahan komplikasi selama dan pasca persalinan terbukti mampu
mengurangi kesakitan atau kematian ibu dan bayi baru lahir.
Oleh karena itu makalah ini disusun untuk membahas mengenai
menolong persalinan normal.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana menolong persalinan sesuai dengan Asuhan Persalinan
Normal?
2. Bagaimana manuver tangan dengan langkah-langkah dalam melahirkan?
3. Bagaimana membantu kelahiran bahu?

C. Tujuan
1.

Tujuan Umum : Untuk menyelesaikan salah satu tugas Asuhan


Kebidanan II tentang Mengidentifikasi Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin

2.

sesuai dengan Kala Persalinan.


Tujuan Khusus :
a. Untuk mengetahui persalinan sesuai dengan asuhan persalinan
b.

normal.
Untuk mengetahui manuver tangan dengan langkah-langkah dalam

c.

melahirkan.
Untuk mengetahui cara membantu kelahiran bahu.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Asuhan Persalinan Normal
Fokus asuhan persalinan normal adalah persalinan bersih dan aman serta
mencegah terjadinya komplikasi. Hal ini merupakan pergeseran paradigm
dari menunggu terjadinya dan kemudian menangani komplikasi, menjadi
pencegahan komplikasi. Persalinan bersih dan aman serta pencegahan
komplikasi selama dan pasca persalinan terbukti mampu mengurangi
kesakitan atau kematian ibu dan bayi baru lahir.
Tujuan asuhan persalinan normal adalah menjaga kelangsungan hidup
dan memberikan derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui
upaya yang terintegrasi dan lengkap tetapi dengan intervensi yang seminimal
mungkin agar prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada

tingkat yang diinginkan (optimal). Dengan pendekatan berarti bahwa


Keterampilan yang diajarkan dalam pelatihan Asuhan Persalinan Normal
harus diterapkan sesuai dengan standar asuhan bagi semua ibu bersalin
disetiap tahapan persalinan oleh setiap penolong persalinan dimanapun hal
tersebut terjadi. Persalinan dan kelahiran bayi dapat terjadi di rumah sakit.
Penolong persalinan mungkin saja seorang bidan, perawat, dokter umum atau
spesialis obstreti. Jenis asuhan yang akan diberikan, dapat memenuhi
kebutuhan spesifik ibu dan bayi baru lahir.

B. Lima Benang Merah dalam Asuhan Persalinan dan Kelahiran


Bayi
Ada lima dasar atau lima Benang Merah yang penting dan saling terkait
dalam asuhan persalinan yang bersih dan aman. Berbagai aspek tersebut
melekat pada setiap persalinan, baik normal maupun patologis. Lima benang
merah ini akan selalu berlaku dalam penatalaksanaan persalinan, mulai dari
kala satu hingga kala empat, termasuk penatalaksanaannya bayi baru lahir.
Lima benang merah tersebut yaitu :
1.

Membuat Keputusan Klinik


Membuat keputusan merupakan proses yang menentukan untuk
menyelesaikan masalah dan menentukan asuhan yang diperlukan oleh
pasien. Keputusan ini harus akurat, komprehensif dan aman, baik bagi
pasien dan keluarganya maupun petugas yang memberikan pertolongan.
Membuat keputusan klinik tersebut dihasilkan melalui serangkaian
proses dan metode yang sistematik menggunakan informasi dan hasil dari
oleh kognitif dan intuitif serta dipadukan dengan kajian teoritis dan
intervensi berdasarkan bukti (evidence-based), keterampialan dan
pengalaman yang dikembangkan melalui berbagai tahapan yang logis
dan diperlukan dalam upaya untuk menyelesaikan masalah dan terfokus
pada pasien (Varney, 1997)
Semua upaya diatas akan bermuara pada bagaimana kinerja dan

perilaku yang diharapkan dari seorang pemberi asuhan dalam


menjalankan tugas dan pengalaman ilmunyakepada pasien atau klien.
Pengetahuan dan keterampilan saja ternyata tidak dapat menjamin asuhan
atau pertolongfan yang diberikan dapat memberikan hasil maksimal atau
memenuhi standar kualitas pelayanan dan harapan pasien apabila tidak
disertai dengan perilaku yang terpuji.
Tujuh Langkah dalam Membuat Keputusan Klinik :
a.

Pengumpulan data utama dan relevan untuk membuat keputusan

b.

Menginterpretasikan data dan mengidentifikasi masalah

c.

Membuat diagnosis atau menentukan masalah yang terjadi/dihadapi

d.

Menilai adanya kebutuhan dan kesiapan intervensi untuk mengatasi


masalah

e.

Menyusun rencana pemberian asuhan atau intervensi untuk solusi


masalah

f.

Memantau dan mengevaluasi efektivitas asuhan atau intervensi.

Keputusan Klinik terdiri dari :


a.

Pengumpulan Data
Semua pihak yang terlibat mempunyai peranan penting dalam
setiap langkah untuk membuat keputusan klinik. Data utama
(misalnya , riwayat persalinan), data subjektif yang diperoleh dari
anamnesis (misalnya, keluhan pasien), dan data obyektif dari
pemeriksaan fisik (misalnya tekanan darah) diperoleh melalui
serangkaian upaya sistematik dan terfokus. Validitas dan akurasi data
akan sangat membantu pemberi pelayanan untuk melakukan analisis
yang pada akhirnya, akan menghasilkan keputusan klinik yang tepat.
Data subyektif adalah informasi yang diceritakan ibu tentang apa
yang dirasakannya, apa yang sedang telah dialaminya. Data
subyektif juga meliputi informasi tambahan yang diceritakan oleh
anggota keluarga tentang status ibu, terutama jika ibu merasa sangat

nyeri atau sangat sakit. Data obyektif adalah informasi yang


dikumpulkan berdasarkan pemeriksaan /pengamatan terhadap ibu
atau bayi baru lahir.
Pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara :
1) Anamnesis dan observasi langsung : Berbicara dengan ibu,
mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai kondisi dan
mencatat riwayat kesehatan ibu. Termasuk juga mengamati
perilaku ibu dan apakah ibu terlihat sehat atau sakit, merasa
nyaman atau nyeri.
2) Pemeriksaan fisik : Inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi
3) Pemeriksaan penunjang : pemeriksaan laboratorium, USG,
Rontgen, dsb
4) Catatan medik
b.

Interpretaasi Data untuk mendukung diagnosis atau identifikasi


masalah
Setelah data dikumpulkan, penolong persalinan melakukan analisis
untuk mendukung alur algoritma diagnosis. Peralihan dari analisis
data menuju pada pembuatan diagnosis bukanlah suatu proses yang
linier (berada pada suatu garis lurus) melainkan suatu proses sirkuler
(melingkar) yang berlangsung terus-menerus. Suatu diagnosis kerja
diuji dan dipertegas atau dikaji ulang berdasarkan pengamatan dan
pengumpulan data secara terus-menerus. Untuk membuat diagnosis
dan identifikasi masalah, diperlukan :
1) Data lengkap dan akurat
2) Kemampuan untuk menginterpretasi/analisis data
3) Pengetahuan esensial, intuisi dan pengalamn yang relevan
dengan masalah yang ada.
Diagnosis dibuat sesuai dengan istilah atau nomenklatur spesifik
kebidanan yang mengacu pada data utama, analisis data subyektif
dan obyektif yang diperoleh. Diagnosis menunjukkan variasi kondis
yang berkisar antara normal dan patologik yang memerlukan upaya

korektif untuk menyelesaikannya. Masalah dapat memiliki dimensi


yang luas dan mungkin berada diluar konteks sehingga keterkaitan
atau batasannya menjadi tidak jelas untuk diagnosis yang akan
dibuat sehingga sulit untuk segera diselesaikan. Masalah obstetrik
merupakan bagian dari diagnosis sehingga selain upaya korektif
dalam penatalaksanaan, juga diperlukan upaya penyerta untuk
mengatasi masalah.
Contoh :
Diagnosis : G2P1A0, hamil 37 minggu, ketuban pecah dini 2 jam
Masalah

: Kehamilan yang tidak diinginkan atau takut untuk


menghadapi persalinan.

c.

Menetapkan diagnosis kerja atau merumuskan masalah


Bagian ini dianalogikan dengan proses membuat diagnosis kerja
setelah mengembangkan berbagai kemungkinan diagnosis lain
(diagnosis banding). Rumusan masalah mungkin saja terkait
langsung maupun tidak langsung terhadap diagnosis tetapi dapat
pula merupakan masalah utama yang saling terkait dengan bebrapa
masalah penyerta atau faktor lain yang berkontribusi

dalam

terjadinya masalah utama.


Dalam

pekerjaan

sehari-hari,

penolong

persalinan

telah

mengetahui bahwa seorang pasien adalah primigravida dalam


persalinan fase aktif persalinan (diagnosis). Selain dalam proses
trsebut, sang ibu juga mengalami anemia (masalah) dimana hal ini
belum jelas apakah akibat dari defisiensi zat besi (nutrisi) yang ini
merupakan data tambahan untuk membuat

diagnosis baru atau

akibat budaya setempat (faktor sosial yang kontributornya adalah


rendahnya pendidikan) yang melarang ibu hamil mengkonsumsi
makanan bergizi. Dengan kata lain, walaupun sudah ditegakkan
diagnosis kerja tetapi bukan berarti bahwa tidak ada masalah lain
yang dapat menyertai atau mengganggu upaya pertolongan yang
akan diberikan oleh seorang penolong persalinan.

10

Contoh :
Ibu hamil dengan hidramnion, bayi makrosomia,kehamilan ganda
yang jelas secara diagnosi tetapi masih dibarengi dengan masalah
lanjutan walaupun kasus utamanya diselesaikan. Bayi besar yang
mungkin dapat dengan selamat dilahirkan oleh seorang penolong
persalinan harus tetap diwaspadai sebagai faktor yang potensial
untuk menimbulkan masalah, misalnya: bayi tadi mengalami
hipoglikemia karena makrosomia diakibatkan oleh ibu dengan
diabetes mellitus atau terjadi pendarahan pascapersalinan karena
makrosomia merupakan faktor predisposisi untuk atonia uteri.
d.

Menilai Adanya Kebutuhan dan Kesiapan Intervensi untuk


Menghadapi Masalah.
Petugas kesehatan di lini depan atau bidan di desa, tidak hanya
diharapkan terampil membuat diagnosis bagi pasien atau klien yang
dilayaninya tetapi juga harus mampu mendeteksi setiap situasi yang
dapat mengancam keselamatan jiwa ibu dan bayinya. Untuk
mengenali situasi tersebut, para bidan harus pandai membaca situasi
klinik dan budaya masyarakat setempat sehingga mereka tanggap
dalam mengenali kebutuhan terhadap tindakan segera sebagai
langkah penyelamatan ibu dan bayinya apabila situasi gawatdarurat
memang terjaadi.
Upaya ini dikenal sebagai kesiapan menghadapi persalinan dan
tanggap

terhadap

komplikasi

yang

mungkin

terjadi

(birt

preparedness and complication readiness). Dalam uraian-uraian


berikutnya, petugas pelaksana persalinan akan terbiasa dengan istilah
rencana rujukan yang harus selalu disiapkan dan didiskusikan
diantara ibu, suami dan penolong persalinan.
Contoh:
Untuk menghadapi ibu hamil dengan preeklamsia beratdan tekanan
darah yang cenderung selalu meningkat maka seseorang bidan harus
berkonsultasi dengan tenaga ahli dirumah sakit atau spesialis

11

obstetric terdekat untuk menyiapakan tindakan yang dapat dilakukan


bila sang ibu mulai menunjukan gejala dan tanda gawat darurat.Pada
keadaan tertentu,mungkin saja seseorang bidan bidan harus
menangani kasus distosia bahu tanpa bantuan siapapun. Apabila ia
tidak pernah dilihat untuk mengatasi hal ituatau ia tidak mengetahui
tanda-tanda distosia bahu maka ia tidak pernah tahu bahwa perlu
disiapakan

sesuatu(pengetahuan,keterampilan,dan

rujukan)untuk

mengatsi hal tersebu.hal yang paling buruk dan mungkin saja terjadi
adalah sang bayi tidak dapat dilahirkan dan kemudian meninggalkan
dunia karena bidan tersebut berupaya melahirkan bayi tetapi ia tidak
pernah tau bagaimana cara mengatasi hal tersebut.
e.

Menyusun Rencana Asuhan atau Interval


Rencana asuhan atau intervensi bagi ibu bersalin dikembangkan
memalui kajian data yang telah diperoleh,identifikasi kebutuhan atau
kesiapan asuhan dan intervasi dan mengukur sumber daya atau
kemampuan yang dimiliki.Hal ini diakukan untuk membuat ibu
bersalin dapat ditangani secara baik dan melindunginya dari berbagai
masalah atau penyulit pontensial dapat menggangu kualitas
pelayanan,kenyamanan ibu ataupun mengancam keselamatan ibu
dan bayi.
Rencana asuhan harus dijelaskan dengan baik kepada ibu dan
keluaraga agar mereka mengerti manfaat yang diharapakan dan
bagaimana uapaya penolongan untuk menghindarkan ibu dan
bayinya dari berbagai gangguan yang mungkin dapat mengancam
keselamatan jiwa atau kulaitas hidup mereka.
Contoh :
Rencana asuhan kala 1 :
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Denyut jantung janin setiap 1/2 jam


Frukensi dana lamanya kontraksi uterus setiap jam
Nadi setiap jam
Penurunan serviks setiap 4 jam
Penurunan bagain tebawah janin setiap 4 jam
Tejana darah dan temperatur tubuh setiap 4 jam

12

7) Produksi uri,aseton dan protein setiap 2 samapai 4


Rencana asuhan pada khasus tali pusat menumbung
1) Pemeberian oksigem nasal 6L/menit
2) Mengatur posisi ibu untuk mencegah kompressi tali pusat oleh

f.

bagian tubuh bayi


3) Menghubungi rumah sakit rujukan untuk tindakan lanjutkan
4) Stabilisasi kondisi ibu dan bayi yang dikandung
5) Pemantauan DJJ
Melaksanakan Asuhan
Setelah membuat rencana asuhan, laksanakan rencana tersebut
secara tepat waktu dan aman. Hal ini akan menghindarkan terjadinya
penyulit dan memastikan bahwa ibu dan/atau bayinya yang baru
lahir akan menerima asuhan atau perawatan yang mereka butuhkan.
Jelaskan pada ibu dan keluarga tentang beberapa intervensi yang
dapat dijadikan pilihan untuk kondisi yang sesuai dengan apa yang
sedang dihadapi sehingga mereka dapat membuat pilihan yang baik
dan benar. Pada beberapa keadaan, penolong sering dihadapkan pada
pilihan yang sulit karena ibu dan keluarga meminta penolong yang
menentukan intervensi yang terbaik bagi mereka. Penjelasan bahwa
hal tersebut tidak sesuai dengan hak klien, memerlukan pengertian
dan kerjasama yang baik dari ibbu dan keluarganya. Jelaskan bahwa
kewajiban petugas adalah memberikan konseling, penjelasan
obyektif dan mudah dimengerti agar klien dan keluarga memahami
situasi yang dihadapi dan mampu membuat keputusan untuk

g.

memperoleh hasil yang terbaik bagi ibu, bayi dan keluarga.


Beberapa factor yang dapat mempengaruhi pilihan adalah:
1) Bukti-bukti ilmiah
2) Rasa percaya ibu terhadap penolong persalinan
3) Pengalaman saudara atau kerabat untuk kasus yang serupa
4) Biaya yang diperlukan
5) Akses ke tempat rujukan
6) Luaran dari system dan sumberdaya yang ada
Memantau dan Mengevaluasi Efektifitas Asuhan atau Intervensi
Solusi
Penatalaksanaan yang telah dikerjakan kemudian dievaluasi
untuk menilai efektivitasnya. Tentukan apakah perlu dikaji ulang
atau diteruskan untuk menilai efektivitasnya. Tentukan apakah perlu

13

dikaji ulang atau diteruskan sesuai dengan rencana kebutuhan saat


itu. Proses pengumpulan data, membuat diagnosis, memilih
intervensi, menilai kemampuan diri, melaksanakan asuhan atau
intervensi dan evaluasi adalah proses sirkuler (melingkur). Lanjutkan
evaluasi asuhan yang diberikan kepada ibu dan bayi baru lahir. Jika
pada saat evaluasi ditemukan status ibu atau bayi baru lahir telah
berubah, sesuaikan asuhan yang diberikan untuk memenuhi
perubahan kebutuhan tersebut.
Asuhan atau intervensi dianggap membawa manfaat dan teruji
efektivitasnya apabila masalah yang dihadapi dapat diselesaikan atau
membawa dampak yang menguntungkan terhadap diagnosis yang
telah diberikan. Apapun jenisnya, asuhan dan intervensi yang
diberikan harus efisien, efektif, dan dapat diaplikasikan pada kasus
serupa dimasa datang. Bila asuhan atau intervensi tidak membawa
hasil atau dampak seperti yang diharapkan maka sebaiknya
dilakukan kajian ulang dan penyusunan kembali rencana asuhan
hingga pada akhirnya dapat member dampak seperti yang
2.

diharapkan.
Asuhan Sayang Ibu dan Sayang Bayi
Asuhan sayang ibu adalah

asuhan

yang

menghargai

budaya,kepercayaan dan keinginan sang ibu, cara yang paling mudah


membayangakan mengenai asuhan yang sayang ibu adalah dengan
menanyakan pada diri kita sendiri,seperti ini kah asuhan yang ingin
saya dapatkah?atau Apakah asuahan yang seperti ini yang saya
inginkan untuk keluarga saya yang sedang hamil?
Beberapa prinsif dasar asuhan sayang ibu adalah dengan mengikut
seratakan suami dan keluarga selam proses persalinan dan kelahiran
bayi.banyak hasil penelitian menunjukaan bahwa jika para ibu
diperhatikan dan diberi dukungan selama persalinan dan kelahiran bayi
serta mengetahuai dengan baik mengenai proses persalina dan asuhan
yang akan mereka terima ,mereka akan mendapatkan rasa aman dan hasil
yang lebih baik (Enkin,et al,2000). Disebutkan pula bahwa hal tersebut

14

diatas dapat mengurangi terjadinya persalina dengan vakum,cunam,dan


seksio sesar,dan persalinan berlangsung lebih cepat(Enkin,et al 2000)
a. Asuhan Sayang Ibu dalam Proses Persalinan
1) Panggil ibu sesuai dengan namanya, hargai dan jaga
martabatnya
2) Jelaskan semua asuhan dan perawatan kepada ibu sebelum
memulai asuhan tersebut
3) Jelaskan proses persalinan kepada ibu dan keluarganya
4) Anjurkan ibu untuk bertanya dan membicarakan rasa takut dan
khawatir
5) Dengarkan dan tanggapi pertanyaan dan kekhawatiran ibu
6) Berikan dukungan, besarkan dan tenteramkan hatinya serta
anggota-anggota keluarganya
7) Anjurkan ibu untuk ditemani suami dan/atau anggota keluarga
lain selama persalinan keluarganya
8) Anjurkan suami dan anggota-anggota keluarganya tentang
bagaimana mereka memperhatikan dan mendukung ibu selama
persalinan dan kelahiran bayinya
9) Laksanakan praktik-praktik pencegahan infeksi yang baik secara
konsisten
10) Hargai privasi ibu
11) Anjurkan ibu untuk mencoba berbagai posisi selama persalinan
dan kelahiran bayi
12) Anjurkan ibu untuk minum dan makan makanan ringan
sepanjang ia menginginkannya
13) Hargai dan perbolehkan praktik-praktik tradisional yang tidak
merugikan kesehatan ibu
14) Hindari tindakan berlebihan dan merugikan seperti episiotomi,
pencukuran dan klisma
15) Anjurkan ibu untuk memeluk bayinya sesegera mungkin untuk
melakukan kontak kulit ibu-bayi, Inisiasi Menyusui Dini dan
membangun hubungan psikologis.
16) Membantu memulai pemberian ASI dalam satu jam pertama
setelah bayi lahir
17) Siapkan rencana rujukan (bila perlu)

15

18) Mempersiapkan persalinan dan kelahiran bayi dengan baik dan


mencukupi semua bahan yang diperlukan. Siapkan untuk
melakukan resusitasi bayi baru lahirpada tiap kelahiran
b.

Asuhan Sayang Ibu dan Bayi pada Masa Pascapersalinan


1) Anjurkan ibu untuk selalu berdekatan dengan bayinya (rawat
gabung)
2) Bantu ibu untuk menyusukan bayinya, anjurkan memberikan
ASI sesuai dengan yang diinginkan bayinya dan ajarkan tentang
ASI esklusif.
3) Ajarkan ibu dan keluarganya tentang nutrisi dan istirahat yang
cukup setelah melahirkan
4) Anjurkan suami dan keluarganya untuk memeluk bayi dan
mensyukuri kelahiran bayi
5) Anjurkan ibu dan keluarganya tentang gejala dan tanda bahaya
yang mungkin terjadi dan anjurkan mereka untuk mencari

3.

pertolongan jika timbul masalah atau kekhawatira


Pencegahan Infeksi
a. Tujuan Pencegahan Infeksi dalam Pelayanan Asuhan Kesehatan
Tindakan pencegahan infeksi (PI) tidak terpisah dari komponenkomponen lain dalam asuhan selama persalinan dan kelahiran bayi.
Tindakan ini harus diterapkan dalam setiap aspek asuhan untuk
melindungi ibu, bayi baru lahir, keluarga, penolong persalinan dan
tenaga kesehatan lainnya dengan mengurangi infeksi karena bakteri,
virus, dan jamur. Dilakukan pula upaya untuk menurunkan resiko
penularan penyakit-penyakit berbahaya yang hingga kini belum
ditemukan

pengobatannya,

seperti

misalnya

Hepatitis

dan

HIV/AIDS.
Tujuan tindakan-tindakan PI dalam pelayanan asuhan kesehatan:
1) Meminimalkan infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme
2) Menurunkan resiko penularan penyakit yang mengancam jiwa
seperti Hepatitis dan HIV/AIDS

b.

Definisi tindakan-tindakan dalam pencegahan infeksi

16

1) Asepsis atau teknikaseptik adalah istilah umum yang biasa


digunakan dalam pelayanan kesehatan. Istilah ini dipakai untuk
menggambarkan semua usaha yang dilakukan dalam mencegah
masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh dan berpotensi untuk
menimbulkan infeksi. Teknik aseptic membuat prosedur lebih
aman bagi ibu, bayi baru lahir dan penolong persalinan dengan
cara

menurunkan

(eradikasi)

jumlah

mikroorganisme

atau

menghilangkan

pada

kulit,

seluruh

jaringan

dan

instrument/peralatan hingga tingkat yang aman.


2) Antispsis mengacu pada pencegahan infeksi dengan cara
membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme
pada kulit atau jaringan tubuh lainnya.
3) Dekontaminasi adalah tindakan yang

dilakukan

untuk

memastikan bahwa petugas kesehatan dapat menangani secara


aman berbagai benda yang terkontaminasi darah dan cairan
tubuh. Peralatan medis, sarung tangan dan permukaan (misalnya
debu, kotoran) dari kulit atau instrument/peralatan.
4) Disinfeksi
adalah
tindakan
yang
dilakukan
menghilangkan

hampir

semua

mikroorganisme

untuk

penyebab

penyakit yang mencemari benda-benda mati atau instrument.


5) Disinfeksi tingkat tinggi (DTT) adalah tindakan yang dilakukan
untuk menghilangkan semua mikroorganisme kecuali endospora
bakteri dengan cara merebus ata kimiawi.
6) Sterilisasi adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan
semua mikroorganisme (bakteri, jamur, parasit, virus) termasuk
endospora bakteri pada benda-benda mati atai instrument.

c.

Prinsip pencegahan infeksi


PI yang efektif didasarkan pada prinsip-prinsip berikut :
1) Setiap orang (ibu, bayi baru lahir, penolong persalinan) harus
dianggap dapat menularkan penyakit karena infeksi dapat
bersifat asimptomatik (tanpa gejala)

17

2) Setiap orang harus dianggap beresiko terkena infeksi


3) Permukaan benda disekitar kita, peralatan dan benda-benda
lainnya yang akan dan telah bersentuhan dengan permukaan
kulit yang tak utuh, lecet selaput mukosa atau darah harus
dianggap terkontaminasi hingga setelah digunakan, harus
diproses secara benar
4) Jika tidak diketahui apakah permukaan, peratan atau benda
lainnya telah diproses dengan benar

maka semua itu harus

diaanggap masih terkontaminasi


5) Resiko infeksi tidak bisa dihilangkan secara total, tapi dapat
dikurangi hingga sekecil mungkin dengan menerapkan tindakand.

tindakan PI secara benar dan konsisten


Tindakan-tindakan pencegahan infeksi
Ada beberapa praktek PI yang dapat mencegah mikroorganisme
berpindah dari satu individu ke individu lainnya (ibu, bayi baru lahir
dan para penolong persalinan)

sehingga dapat memutus rantai

penyebaran infeksi.
Tindakan-tindakan PI termasuk hal-hal berikut :
1) Cuci tangan
2) Memakai sarung tangan dan perlengkapan pelindung lainnya
3) Menggunakan teknik asepsis atau aseptic
4) Memproses alat bekas pakai
5) Menangani peralatan tajam dengan aman
6) Menjaga kebersihan dan sanitasi lingkungan (termasuk
pengelolaan sampah secara benar
4.

Pencatatan (Rekam Medik) Asuhan Persalinan


Catat semua asuhan yang telah diberikan pada ibu/bayinya. Jika
asuhan tidak dicatat, dapat dianggap bahwa hal tersebut tidak dilakukan.
Pencatatan adalah bagian penting dari proses membuat keputusan klinik
karena memungkinkan penolong persalinan untuk terus menerus
memperhatikan asuhan yang diberikan selama proses persalinan dan
kelahiran bayi. Mengkaji ulag catatan memungkinkan untuk menganalisa
data yang telah dikumpulkan dan dapat lebih efektif dalam meumuskan
suatu diagnosis dan membuat rencana asuhan atau perawatan bagi ibu

18

dan bayinya. Partograf adalah bagian terpenting dari proses pencatatan


selama persalinan.
Pencatatan rutin adalah penting karena :
a. Dapat digunakan sebagai alat bantu untuk membuat keputusan klinik
dan mngevaluasi apakah asuhan atau perawatan sesuai dan efektif,
mengidentifikasi kesenjangan pada asuhan yang diberikan dan untuk
membuat perubahan dan peningkatan rencana asuhan atau perawatan
b. Dapat digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan proses membuat
klinik. Dari aspek metode keperawatan, informasi tentang intervensi
atau asuhan yang bermanfaat dapat dibagikan atau diteruskan kepada
tenaga kesehatan lainnya.
c. Merupakan catatan permanen tentang asuhn, perawatan dan obat
yang diberikan.
d. Dapat dibagikan diantara para pnolong persalinan. Hal ini menjadi
penting jika ternyata rujukan memang diperlukan karena hal ini
berarti lebih dari satu penlong persalinan akan memberikan perhatian
dan asuhan pada ibu dan bayi baru lahir.
e. Dapat mempermudah kelngsungan asuhan dari satu kunjungan ke
kunjungan berikutnya, dari satu penolong persalinan ke penolong
persalinan lainnya, atau dari seorang penolong persalinan ke fasilitas
kesehatan lainnya. Melalui pencatatan rutin, penolong persalinan
akan mendapat informasi yang relefan dari setiap ibu atau bayi baru
lahir yang diasuhnya.
f. Dapat digunakan sebagai penelitian atau studi kasus
g. Diperlukan untuk memberi masukan data statistik nasional dan
daerah, termasuk catatan kematian dan kesakitan ibu/bayi baru lahir.
Aspek-aspek penting dalam pencatatan :
a. Tanggal dan waktu asuhan tersebut diberikan
b. Identifikasi penolong persalinan
c. Paraf atau tanda tangan (dari penolong persalinan) pada semua
d.

catatan
Mencakup informasi yang berkaitan secara tepat, dicatat dengan

e.

jelas dan dapat dibaca


Suatu sistem untuk memelihara catatan pasien sehingga selalu siap

f.

tersedia
Kerahasiaan dokumen-dokumen medis.

19

Ibu harus diberikan salinan catatannya (catatan klinik antenatal,


dokumen-dokumen rujukan, dll) beserta paduan yang jelas:
a. Maksud dari dokumen-dokumen tersebut
b. Kapan harus dibawa
c. Kepada siapa harus diberikan
d. Bagaimana menyimpan dan mengamankannya, baik dirumah atau
selama perjalanan ke tempat rujukan
INGAT!!
1. Catat semua data, hasil pemeriksaan, diagnosis, obat-obat,
asuhan/perawatan dll
2. Jika tidak dicatat, dapat dianggap bahwa asuhan tersebut tidak

5.

dilakukan
3. Pastikan setiap partograf bagi setiap pasien telah diisi dengan
Rujukan
lengkap dan benar
Rujukan dalam kondisi optimal dan tepat waktu ke fasilitas rujukan
atau fasilitas yang memiliki sarana yang lengkap, diharapkan mampu
menyelamatkan jiwa para ibu dan bayi baru ahir. Meskipun sebagian
besar ibu akan mengalami persalinan normal namun sekitar 10-15%
diantaranya akan mengalami masalah selama proses persalinandan
kelahiran bayi sehingga perlu dirujuk kefasilitas kesehatan rujukan.
Sangat sulit untuk menduga kapan penyulit akan terjadi sehingga
kesiapan untuk merujuk ibu dan atau bayinya ke fasilitas kesehatan
rujukan secara optimal dan tepat waktu (jika penyulit terjadi) menjadi
syarat bagi keberhasilan upaya penyelamatan. Setiap penolong persalinan
harus mengetehui lokasi fasilitas rujukan yang mampu untuk
menatalaksana kasus gawatdarurat obstertri dan bayi baru lahir seperti :
a. Pembedahan, termasuk bedah sesar
b. Transfusi darah
c. Persalinan menggunakan ekstraksi vakum atau cunam
d. Pemberian antibiotik intravena
e. Resusitasi bayi baru lahir dan asuhan lanjutan bagi bayi baru lahir
Informasi tentang pelayanan yang tersedia ditempat rujukan,
ketersediaan pelayanan purna waktu, biaya pelayanan dan waktu serta
jarak tempuh ketempat rujukan adalah wsajib untuk diketahui oleh setiap
penolong. Jika penyulit terjadi, rujukan akan mellui jalur yang singkat

20

dan jelas. Jika ibu bersalin atau bayi baru lahir dirujuk ke tempat yang
tidak sesuai maka mereka akan kehilangan waktu yang sangat berharga
untuk menangani penyulit atau komplikasi yang dapat mengancam
keselamatan jiw mereka.
Pada saat ibu melakukan kunjungan antenatal, jelaskan bahwa
penolong akan selalu berupaya dan meminta kerjasama yang baik dari
suami atau keluarga ibu untuk mendapatkan layanan terbaik dan
bermanfaat bagi kesehatan ibu dan bayinya, termasuk kemungkinan
perlunya rujukan. Pada waktu terjadi penyulit, seringkali tidak cukup
waktu untuk membuat rencana rujukan dan ketidak-siapan ini dapat
membahayakan keselamatan jiwa ibu dan bayinya. Anjurkan ibu untuk
membahas dan membuat rencana rujukan bersama suami dan
keluarganya. Tawarkan agar penolong mempunyai kesempatan untuk
berbicara dengan suami dan keluarganya untuk menjelaskan tentang
perlunya rencanarjukan aabila diperlukan.
Melakukan persiapan-persiapan dan informasi berikut dalam rencana
rujukan:
a. Siapa yang akan menemani ibu atau bayi baru lahir
b. Tempat-tempat rujukan mana yang yang disukai ibu dan keluarga
c. Sarana transpotasi yang akan digunakan dan siapa yang
mengendarainya. Ingat transportasi harus tersedia baik siang maupun
d.
e.

malam
Orang yang ditunjuk untuk donor darah, jika tranfusi diperlukan
Uang yang disisihkan untuk asuhan medik, transportasi, obat-obat

f.

dan bahan-bahan
Siapa yang akan tinggal menemani anak-anak yang lain pada saat
ibu tidak dirumah.
Kaji ulang rencana rujukan pada ibu dan keluarganya. Jika timbul

masalah pada saat persalinan dan rencana rujukan belum dibicarakan,


maka seringkali sulit untuk melakukan semua persiapan-persiapan secara
cepat. Rujukan tepat waktu merupakan unggulan asuhan sayang ibu
dalam mendukung keselamatan ibu an bayi baru lahir.
Singkatan BAKSOKU dapat digunakan untuk mengingat halhal penting dalam mempersiapkan rujukan ibu dan bayi.

21

B (bidan)

pastikan bahwa ibu dan atau bayi baru lahir


didampingi oleh penolong

persalinan

yang kompeten untuk menatalaksana gawat darurat


obstetri

dan bayi baru lahir untuk

dibawa ke fasilitas rujukan


A (alat)

bawa perlengkapan dan bahan-bahan untuk asuhan


persalinan, massa

nifas dan bayi baru

lahir (tabung suntik, selang IV, alat resusitasi dll)


Mungkin diperlukan jika ibu melahirkan dalam
perjalanan menuju fasilitas rujukan.
K (keluarga) :

beritahu ibu dan keluarga kondisi terakhir ibu dan


atau bayinya dan alasan mengapa perlu dirujuk. Suam
dan keluarga yang lain harus menemani ibu dan atau
bayi baru lahir ke fasilitas rujukan

S (surat)

berikan surat ketempat rujukan, untuk memberikan


identifikasi ibu dan atau bayi baru lahir, cantumkan
alasan rujukan dan hasil pemeriksaan, asuhan atau
obat-obatan yang diterima ibu dan tau bayi baru lahir.
Sertakan juga partograf yang dipakai untuk membuat
keputusan klinik

O (obat)

bawa obat-obat esensial pada saat rujukan, mungkin


diperlukan selama perjalanan

K (kendaraan) :

siapkan kendaraan yang paling memungkinkan intuk


merujuk ibu dalam kondisi cukup nyaman. Dan
pastikan kendaraan cuku baik untuk mencapai tujuan
pada waktu yang tepat

U (uang)

ingatkan pada keluarg agar membawa uang dalam


jumlah yang cukup untuk membeli obat-obatan yang
diperlukan dan bahan-bahan kesehatan lain yang
diperlukan selama rujukan

22

C. Menolong Persalinan sesuai APN (Asuhan Persalinan Normal)


N0
I.
1.

Kegiatan

Kasus

MENGENALI GEJALA DAN ANDA KALA DUA


Mendengar, melihat dan memeriksa gejala dan tanda Kala
dua
Ibu merasa ada dorongan kuat dan meneran
Ibu merasakan regangan yang semakin meningkat pada

rectum dan vagina


Parineum tampak menonjol
Vulva dan sfingter ani membuka
II. MENYIAPKAN PERTOLONGAN PERSALINAN
2.
Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan
esensial

untuk

menolong

persalinan

dan

menatalaksanakan komplikasi ibu dan bayi baru lahir.


Untuk asfiksia

tempat datar dank eras, 2 kain dan 1

handuk bersih dan kering, lampu sorot 60 watt dengan


jarak 60 cm dari tubuh bayi
Menggelar kain di atas perut ibu, tempat resusitasi dan
ganjal bahu bayi
Menyiapkan oksitosin 10 unit dan alat suntik steril
sekali pakai di dalam partus set

Gambar Menyiapkan oksitosin

23

3.

Pakai celemek plastic

4.

Lepaskan dan simpan semua perhiasan yang di pakai,


cuci tanagan dengan sabun dan air bersih mengalir
kemudian keringkan tangan dengan tissue atau handuk
pribadi yang bersih dan kering

24

5.

Pakai sarung tangan DTT untuk melakukan periksa dalam

25

6.

Masukkan oksitosin ke dalam tabung suntik (gunakan


tangan yang memakai sarung tangan DTT dan steril,
pastikan tidak terjadi kontaminasi pada alat suntik)

III. MEMASTIKAN PEMBUKAAN LENGKAP DAN KEADAAN


7.

JANIN BAIK
Memastikan vulva dan perineum, menyekanya dengan
hati-hati dari depan ke belakang dengan menggunakan
kapas atau kassa yang di basahi air DTT
Jika

introitus

vagina,

perineum

atau

anus

terkmontaminasi trinja, bersihkan dengan seksama dari


arah depan ke belakang

26

Buang kapas atau kassa pembersih (terkontaminasi)


dalam wadah yang tersedia

Ganti

sarung

tangan

jika

terkontaminasi

(dekontaminasi, lepaskan dan rendam dalam larutan


klorin 0,5%
8.

langkah#9)

Lakukan periksa dalam untuk memastikan pembukaan


lengkap
Bila selaput ketuban dalam pecah dan pembukaan sudah
lengkap maka nlakukan amniotomi

27

9.

Dekontaminasi sarung tanagan dengan cara mencelupkan


tangan yang masik memakai sarung tangan ke dalam
larutan klorin 0.5% kemudian lepaskan dan rendam
dalam keadaan terbalik dalam larutan klorin 0,5% selama
10 menit. Cuci kedua tangan setelah sarung tangan din
lepaskan.

10.

Periksa denyut jantung janin (DJJ) setelah kontraksi /saat


relaksasi uterus untuk memastikan bahbwa DJJ dalam
batas normal (120-160x/menit)

Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal


Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam,
DJJ dan semua hasil-hasil penilaian serta asuhan
lainnya pada partograf

IV. MENYIAPKAN IBU DAN KELUARGA UNTUK MEMBANTU

28

11.

PROSES BIMBINGAN MENERAN


Beritahukan bahwa pembukaan sudah lengkap dan
keadaan janin baik dan bantu ibu dalam menemukan
posisi yang nyaman dan sesuai dengan keinginannya.

Tunggu hingga timbul rasa ingin meneran, lanjutkan


pemantauan kondisi dan kenyamanan ibu dan janin
(ikuti

pedoman

penatalaksaan

fase

aktif)

dan

dokumentasikansemua temuan yang ada

Jelaskan pada anggota keluarga tentang bagaimana


peran mereka untuk mendukung dan memberi semangat
12.

pada ibu untuk meneran secara benar


Minta keluarga membantu menyiapkan posisi meneran.
(Bila ada rasa ingin meneran dan terjadi kontraksi yang

29

kuat, bantu ibu ke posisi setengah duduk atau posisi lain


yang di inginkan ibu dan pastikan ibu merasa nyaman)

13.

Laksanakan bimbingan meneran pada saat ibu merasa ada


dorongan kuat untuk meneran:

Bimbing ibu agar dapat meneran secara benar dan


efektif
Dukung dan beri semangat pada saat meneran dan
perbaiki cara meneran apabila caranya tidak sesuai
Bantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai
pilihannya (kecuali posisi berbaring terlentang dalam
waktu yang lama)

30

Anjurkan ibu untuk beristirahat di antara kontraksi


Anjurkan keluarga memberi dukungan dan semangat
untuk ibu
Berikan cukup asupan cairan per-oral(minum)

Menilai DJJ setiap kontraksi uterus selesai

31

Segera rujuk jika bayi belum atau tidak akan segera


lahir setelah 120menit (2jam) meneran (primigravida)
14.

atau 60 menit (1 jam) meneran (multigravida)


Anjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil
posisi yang nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan
untuk meneran dalam 60 menit

V. PERSIAPAN PERTOLONGAN KELAHIRAN BAYI


15. Letakkan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di
perut ibu, jika kepala bayi telah membuka vulva dengan
diameter 5-6 cm

32

16.

Letakkan kain bersih yang di lipat 1/3 bagian di bawah

17.

bokong ibu
Buka tutup

partus

set

dan

perhatikan

kembali

kelengkapan alat dan bahan

18. Pakai sarung tangan DTT pada kedua tangan


VI. PERSIAPAN PERTOLONGAN KELHIRAN BAYI
Lahirnya Kepala
19. Setelah tampak kepala bayi dnegan diameter 5-6 cm
membuka vulva maka lindungi perineum dengan satu
tangan yang di lapisi dengan kain bersih dan kering.
Tangan yang lain menahan kepala bayi untuk menahan
posisi defleksi dan membantu lahirnya kepala. Anjurkan

33

ibu untuk meneran perlahan sambil bernapas cepat dan


dangkal

20.

Periksa kemungkinan adanya lilitan tali pusat dan ambil


tindakan yang sesuai jika hal itu bterjadi, dan segera
lanjutkan proses kelahiran bayi
Jika tali pusat melilit leher secara longgar, lepaskan
lewat bagian atas kepala bayi

Jika tali pusat melilit leher secara kuat, klem tali pusat
21.

di dua tempat dan potong di antara dua klem tersebut


Tunggu kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara
spontan.

34

Lahirnya Bahu
22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang
secara bipariental. Anjurkan ibu untuk meneran saat
kontraksi. Dengan lembut gerakkan kepala ke ara bawah
dan distal hingga bahu depan muncul di bawah arkus
pubis dan kemudian gerakkkan arah atas dan distal utnuk
melahirkan bahu belakang.
Lahirnya Badan Dan Tungkai
23. Setelah kedua bahu lahir, geser tangan bawah kea rah
perineum ibu untuk menyanggah kepala, lengan dan siku
sebelah bawah. Gunankan tangan atas untuk menelusuri
24.

dan memegang lengan dan siku sebelah atas.


Setelah tubuh dan lengan lahir, penelusuran tangan atas
berlanjut ke panggung, bokong, tungkai dan kaki. Pegang
kedua mata kaki (masukkan telunjuk diantara kaki dan
pegang masing-masing mata kaki dengan ibu jari dan jari-

jari lainnya)
VII. PENANGANAN BAYI BARU LAHIR
25. Lakukan penilaian (selintas):
Apakah bayi menangis kuat dan/atau bernapas tanpa
kesulitan?
Apakah bayi bergerak dengan aktif?
Jika bayi tidak menangis, tidak bernapas atau megapmegap segera lakukan tindakan resusitasi (

langkah

35

25 ini berlanjut ke langkah-langkah prosedur resusitasi


bayi baru lahir dengan asfeksia)
26.

Kerinkan dan posisikan tubuh bayi di atas perut ibu


Keringkan bayi mulai dari muka, kepala, dan bagian
tubuh lainnya (tanpa membersihkan verniks) kecuali

27.

bagian tangan.
Ganti handuk basah dengan handuk yang kering
Pastikan bayi dalam kondisi mantap di atas perut ibu.
Periksa kembali perut ibu untuk memastikan tak ada bayi

28.

lain dalam uterus (hamil tunggal)


Beritahukan pada ibu bahwa

29.

menyuntikkan oksitosin ( agar uterus berkontraksi baik)


Dalam 1 menit setelah bayi lahir, suntikkan oksitosin 10

penolong

akan

unit (intramuskular)di 1/3paha atas bagian distal lateral


30.

(lakukan aspirasi sebelum menyuntikkan oksitosin


Dengan menggunakan klem, jepit tali pusat (2 menit
setelah bayi lahir) pada sekitar 3cm dari pusat
( umbilicus) bayi. Dari sisi luar klem penjepit, dorong isi
tali pusat kearah distal (ibu) dan lakukan penjepitan

31.

kedua pada 2cm distal dari klem pertama


Pemotongan dan pengikatan tali pusat
1. Dengan satu tangan, angkat tali pusat yang telah
dijepit kemudian lakukan pengguntingan tali pusat
( lindungi perut bayi) di antara 2 klem tersebut
2. Ikat tali pusat dengan benang DTT/steril pada satu sisi
kemudian

lingkarkan

kembali

benang

ke

sisi

berlawanan dan lakukan ikatan kedua menggunakan


dengan simpul kunci
3. Lepaskan klem dan masukkan dalam wadah yang
32.

telah disediakan
Tempatkan bayi untuk melakukan kontak kulit dengan ibu
ke kulit bayi. Letakkan bayi dengan posisi tengkurap
diatas dada ibu,. Luruskan bahu bayi sehingga bayi

36

menempel dengan baik di dinding dada-perut ibu.


Usahakan kepala bayi berada di antara payudara ibu
33.

dengan posisi lebih rendah dari putting payudaa ibu.


Selimutkan ibu dan bayi dengan kain hangat dan pasang

topi dikepala bayi


VIII. PENATALAKSANAAN AKTIF KALA III
34. Pindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10 cm
35.

dari vulva
Letakkan satu tangan di atas kain pada perut ibu, di tepi
atas

36.

simfisis,

untuk

mendeteksi.

Tangan

lain

menegangkan tali pusat


Setelah uterus berkontraksi, tegangkan tali pusat kearah
bawah sambil tangan yang lain mendorong uterus kearah
belakang atas (dorso kranial) secara hati-hati (untuk
mencegah inversion uteri). Jika plasenta tidak lahir
setelah 30-40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan
tunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan ulangi
prosedur diatas.
- Jika uterus tidaminta ibu, suami atau anggota keluarga

untuk melakukan stimulasi putting susu.


Mengeluarkan Plasenta
37. Lakukan penegangan dan dorongan dorso-kranial hingga
plasenta terlepas, minta ibu meneran sambil penolong
menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai kemudian ke
arah atas, mengikuti poros jalan lahir (tetap lakukan
tekanan (dorso-kranial)
Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem
hingga berjaraksekitar 5-10 cm dari vulva dan lahirkan
plasenta
Jika plasenta 15 menit menegangkan tali pusat :
1. Beri dosis ulang oksitoksin 10 unit IM
2. Lakukan kateterisasi (aseptic) jika kandung kemih
penuh
3. Minta keluarga untuk menyiapkan rujukan
4. Ulangi penegangan tali pusat 15 menit berikutnya

37

5. Segera rujuk jika plasenta tidak lahir dalam 30

38.

menit setelah bayi lahir


6. Bila terjadi perdarahan, lakukan plasenta manual
Saat plasenta muncul di introitus vagina, lahirkan
plasenta dengan kedua tangan. Pegang dan putar plasenta
hingga selaput ketuban terpilin kemudian lahirkan dan
tempatkan plasenta pada wadah yang telah disediakan
Jika selaput ketuban robek, pakai sarung tangan DTT
atau steril untuk melakukan eksplorasi sisa selaput
kemudian gunakan jari-jari tangan atau klem DDT atau
steril

untuk

mengeluarkan

bagian

selaput

yang

tertinggal
Rangasangan Taktil (Massase) Uterus
39. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakukan
massase uterus, letakan telapak tangan di fundus dan
lakukan massase dengan gerakan melingkar dengan
lembut hingga uterus berkontraksi (fundus terba keras)
Lakukan tindakan yang diperlukan jika uterus tidak
berkontraksi setelah 15 detik melakukan rangsangan
taktil/massase

IX. MENILAI PERDARAHAN


40. Periksa kedua sisi plasenta baik bagian ibu maupun bayi
dan pastikan selaput ketuban lengkap dan utuh.
Masukkan plasenta kedalam kantung plastik atau tempat
41.

khusus
Evaluasi kemungkinan laserasi pada dan perineum.
Lakukan

penjahitan

bila

laserasi

menyebabkan

perdarahan
Bila ada robekan yang menimbulkan perdarahan aktif,
segera lakukan penjahitan
X. MELAKUKAN ASUHAN PASCA PERSALINAN

38

42.

Pastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi

43.

perdarahan pervaginam
Beri cukup waktu untuk melakukan kontak kulit ibu-bayi
(di dada ibu paling sedikit 1 jam)
Sebagian besar akan berhasil melakukan inisiasi
meyusui dini dalam waktu 30-60 menit. Menyusui
pertama biasanya berlangsung sekitar 10-15 menit. Bayi
cukup menyusu dari satu payudara
Biarkan bayi berada di dada ibu selama 1 jam walaupun

44.

bayi sudah berhasil menyusu.


Lakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes mata
antibiotik profilaksis, dan vitamin K1 1mg intramuskular
di paha kiri anterolateral setelah satu jam kontak kulit

45.

ibu-bayi
Berika suntika imunisasi Hepatitis B (setelah satu jam
pemberian vitamin K1) dipaha kanan anterolateral
Letakkan bayi dalam jangkauan ibu agar sewaktu-waktu
bisa di susukan
Letakkan kembali bayi pada dada ibu bila bayi belum
berhasil menyusu di dalam satu jam pertama dan

biarkan sampai bayi berhasil menyusu


EVALUASI
46. Lanjutkan pemantauan kontraksi dan

mencegah

perdarahan pervaginam
2-3 kali dalam 15 menit pertama pasca persalina
Setelah 15 menit pada 1 jam pertama pascapersalinan
Setiap 20-30 menit pada jam kedua pascapersalinan
Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik, melakukan
47.

asuhan yang sesuai untuk menatalaksana atonia uteri


Ajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan

48.
49.

menilai kontraksi
Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah
Memeriksa nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap
15 menit selama 1 jam pertama pascapersalinan dan
setiap 30 menit selama jam kedua pascapersalinan

39

Memeriksa temperature tubuh ibu sekali

setiap jam

selam 2 jam pertama pascapersalinan


Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang
50.

tidak normal
Periksa kembali kondisi bayi untuk memastikan bahwa
bayi bernafas dengan baik (40-60kali/menit) serta suhu

tubuh normal (36,5-37,5)


KEBERSIHAN DAN KEAMANAN
51. Tempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan
klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan
bilas peralatnan setelah di dekontaminasi

52.

Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat yang

53.

sesuai
Bersihkan badan ibu menggunakan air DTT. Bersihkan
sisa airan ketuban, lender dan darah. Bantu ibu memakai

54.

pakaian yang bersih dan kering


Pastikan ibu merasa nyaman. Batu ibu memberikan ASI.
Anjurkan keluarga untuk memberi ibu minuman dan

55.

makanan yang diinginkannya


Dekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klorin

56.

0,5%
Celupkan sarung tangan kotor kedalam larutarn klorin
0,5% balikkan bagian dalam ke luar dan rendam dengan

40

larutan klorin 0,5% selam 10 menit

57.

Cuci kedua tangan dengan sabun dan air bersih mengalir


kemudian keringkan dengan tissue atau handuk pribadi
yang kering dan bersih

DOKUMENTASI
58. Lengkapi partograf (halaman depan dan belakang),
periksa tanda vital dan asuhan kala IV

41

D. Manuver Tangan Dan Langkah-Langkah Dalam Melahirkan


Janin
Tujuan manuver tangan adalah untuk :
1.

Mengusahakan proses kelahiran janin yang aman mengurangi resiko


trauma persalinan seperti kejadian sepal hematum.

2.

Mengupayakan seminimal mungkin ibu mengalammengalami trauma


persalinan

3.

Memberi rasa aman dan kepercayaan penolong dalam menolong ibu dan
janin.
Manuver tangan dan langkah-langkah melahirkan janin, sebagai berikut :

1.

Melahirkan Kepala
Saat kepala bayi membuka vulva (5-6 cm), letakan kain yang bersih
dan kering yang dilipat 1/3 nya dibawah bokong ibu dan siapkan kain
atau handuk bersih di atas perut ibu (untuk mengeringkan bayi segera
setelah lahir). Lindungi perineum dengan satu tangan (dibawah kain
kering dan bersih), ibu jari pada salah sisi perineum dan 4 jari tangan
pada sisi yang lain dan tangan yang lain pada belakang kepala bayi.
Tahan belakang kepala bayi agar posisi kepala tetap fleksi pada saat
keluar secara bertahap melewati introitus dan perineum.

42

Gambar 1.2 Melindungi Perineum


Sumber : Depkes, 2008
Alasan : Melindungi Perineum dan mengendalikan keluarnya kepala
bayi secara bertahap dan hati-hati dapat mengurangi regangan
berlebihan (robekan) pada vagina dan perineum.
Jangan melakukan pengisapan lendir secara rutin pada mulut dan
hidung bayi sebagian besar bayi sehat dapat menghilangkan lendir
tersebut secara alamiah dengan mekanisme bersin dan menangis saat
lahir. Pada pengisapan lendir terlalu dalam, ujung kanul pengisap dapat
menyentuh daerah orofaring yang kaya dengan persyarfan parasimfatis
sehingga dapat menimbulkan reaksi vaso-vagal. Reaksi ini menyebabkan
perlambatan denyut jantung (bradikardi) dan / henti nafas (apneu)
sehingga dapat membahayakan keselamatan jiwa bayi. Dengan alasan itu
maka pengisapan lendir secara rutin menjadi tidak dianjurkan
Selalu isap mulut bayi lebih dulu sebelum menghisap hidungnya.
Menghisap hidung lebih dulu dapat menyebabkan bayi menarik nafas dan
terjadi aspirasi mekonium atau cairan yang ada di mulutnya. Jangan
masukkan kateter atau bola karet penghisap terlalu dalam pad mulutatau
hidung bayi. Hisap lendir pada bayi dengan lembut, hindari pengisapan
yang dalam dan agresif.
2.

Melahirkan Bahu Janin :


a.

Setelah menyeka mulut dan hidung bayi dan memeriksa tali pusat,

43

tunggu kontraksi berikut sehingga terjadi putaran paksi luar secara


spontan
b.

Letakan tangan pada sisi kiri dan kanan kepala bayi, minta ibu
meneran sambil menekan kepala ke arah bawah dan lateral tubuh
bayi hingga bahu depan melewati simfisis.

c.

Setelah bahu lahir, gerakan kepala ke atas dan lateral tubuh bayi
sehingga bahu bawah dan seluruh dada dapat dilahirkan.

Gambar 1.4 Melahirkan bahu bayi


Sumber : Varney, 1997
Catatan : Sulit untuk memperkirakan kapan distosia bahu dapat terjadi.
Sebaikya selalu diantisifasi kemungkinan terjadinya distosia bahu pada
setiap kelahiran bayi, terutama pada bayi-bayi besar dan penurunan
kepala lebih lambat dari biasanya.
Tanda -tanda dan gejala distosia bahu adalah sebagai berikut :
a.

Kepala seperti tertahan dalam vagina

b.

Kepala lahir tetapi tidak terjadi putaran paksi luar

c.

Kepala sempat keluar tetapi tertarik kembali ke dalam vagina (turtle


sign)

Melahirkan seluruh tubuh bayi :


a.

Saat bahu posterior lahir, geser tangan bawah ke arah perineum dan
sanggah bahu dan lengan atas bayi pada tangan tersebut.

44

b.

Gunakan tangan yang sama untuk menopang lahirnya siku dan


tangan posterior saat melewati perineum.

c.

Tangan dibawah menopang samping lateral tubuh bayi saat lahir

d.

Secara simultan, tangan atas menelusuri dan memegang bahu, siku


dan lengan bagian anterior.

e.

Lanjutkan penelusuran dan memegang tubuh bayi ke bagian


punggung bokong dan kaki

f.

Dari arah belakang sisipan jari telunjuk tangan atas diantara kedua
kaki, Bayi yang kemudian dipegang dengan ibu jari dan ketiga jari
lainnya.

g.

Letakan bayi diatas kain atau handuk yang telah disiapkan pada
perut bawah ibu dan posisikan kepala bayi sedikit lebih rendah dari
tubuhnya.

h.

Segera keringkan sambil melakukan rangsangan taktil pada tubuh


bayi dengan kain atau selimut diatas perut ibu. Pastikan bahwa
kepala bayi tertutup dengan baik

45

Gambar 1.5 Melahirkan Tubuh Bayi


Sumber : Varney, 1997

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Persalinan

adalah

serangkaian

kejadian

yang

berakhir

dengan

pengeluaran bayi yang cukup bulan disusul dengan pengeluaran placenta dan
selaput janin dari tubuh ibu.
Dalam menolong persalinan tentu harus bersih dan aman serta mencegah
terjadinya komplikasi. Persalinan bersih dan aman serta pencegahan
komplikasi selama dan pasca persalinan terbukti mampu mengurangi
kesakitan atau kematian ibu dan bayi baru lahir.
Fokus asuhan persalinan normal adalah persalinan bersih dan aman serta
mencegah terjadinya komplikasi. Tujuan asuhan persalinan normal adalah
menjaga kelangsungan hidup dan memberikan derajat kesehatan yang tinggi
bagi ibu dan bayinya, melalui upaya yang terintegrasi dan lengkap tetapi
dengan intervensi yang seminimal mungkin agar prinsip keamanan dan
kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang diinginkan (optimal).

B. Saran
Diharapkan dengan Asuhan Persalinan Normal ini dapat menurunkan
Kematian Ibu dan Kematian Bayi

46

Daftar Pustaka
JNPK-KR.2008.Buku Panduan Peserta Pelatihan Klinik Asuhan Persalinan
Normal.Jakarta:Bakti Husada.
JNPK-KR.2008.Buku

Acuan

Pelatihan

Klinik

Asuhan

Persalinan

Normal.2008.Jakarta:Bakti Husada.
Kusnawati, Ina, dkk.2014.Askeb II Persalinan.Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Nurasiah, Ai, dkk.2012.Asuhan Persalinan Normal Bagi Bidan.Bandung:Refika
Aditama.