Anda di halaman 1dari 49

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer

DAFTAR ISI

1. SISTIM TENAGA LISTRIK .................................................................................. 3


1.1. Pembangkit ........................................................................................................ 4
1.2. Transmisi ........................................................................................................... 4
1.3. Gardu Induk ...................................................................................................... 5
1.4. Panel Control ..................................................................................................... 5
1.5. Gardu Hubung ................................................................................................... 6
1.6. Gardu Distribusi ................................................................................................ 6
2.

SISTEM SCADA .................................................................................................... 6


2.1. Telekomunikasi Suara........................................................................................ 7
2.2. Komunikasi Data ............................................................................................... 8
2.3. Modem .............................................................................................................. 8
2.4. Pusat Pengatur ................................................................................................... 9
2.5. Telemetering.................................................................................................... 10
2.6. Telesignalling .................................................................................................. 10
2.7. Telecontrol ...................................................................................................... 11
2.8. Master Station.................................................................................................. 11
2.9. Man Machine Interface .................................................................................... 12
2.10. Remote Terminal Unit (RTU) ........................................................................ 12

3.

SISTEM SCADA PLN P3B .................................................................................. 13


3.1. Jaringan Tenaga Listrik Jawa Bali.................................................................... 13
3.2. Hirarki Control Center ..................................................................................... 14
3.3. Tugas JCC ....................................................................................................... 14
3.4. Tugas RCC ...................................................................................................... 15
3.5. Tugas GSC ...................................................................................................... 15
3.6. Tugas DCC ...................................................................................................... 15
3.7. Batas Wewenang ............................................................................................. 15
3.8. Batas Wewenang JCC - RCC ........................................................................... 16
-1-

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


3.9. Batas RCC GSC dan DCC ............................................................................ 16
3.10. Batas JCC RCC GSC dan Pusat Listrik .................................................... 16
3.11. Perlengkapan Teknik (Perangkat Keras)......................................................... 16
4.

PENGENALAN REMOTE TERMINAL UNIT ................................................. 27


4.1. RTU type 3200 ................................................................................................ 27
4.2. Konfigurasi Card-card RTU EPC 3200 ............................................................ 28
4.3. Jenis-jenis card EPC 3200................................................................................ 29
4.4. Sistem RTU type S 900.................................................................................... 46
4.5. Jenis -jenis card RTU type S 900 .................................................................... 47

5.

SISTEM TELEKOMUNIKASI PLC .................................................................. 55

6.

DIGITAL FAULT RECORDER ........................................................................ 61


6.1. Pengoperasian Dasar ........................................................................................ 64
6.2. Pengoperasian Rutin ........................................................................................ 68
6.3. Pemeliharaan Rutin.......................................................................................... 69
6.4. TWS (Travelling Wave System) ...................................................................... 78

7.

MINI MASTER DI UPT ..........................................................................................82

8. FASILITAS OPERASI . 89

-2-

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer

1. SISTEM TENAGA LISTRIK.

Umum
Tenaga listrik merupakan kebutuhan yang sangat vital dan dalam kehidupan
manusia sehari-hari baik untuk kepentingan pribadi maupun dalam kehidupan
bermasyarakat.
Dilain itu tenaga listrik juga sangat dibutuhkan untuk Indistri-industri besar maupun
industri kecil, perkantoran, pertokoan dan lain sebagainya.
Untuk itu tanpa dibantu dengan tenaga listrik manusia akan lebih susah untuk
melakukan sesuatu.
Banyak sekali keuntungan-keuntungan menggunakan tenaga listrik a.l :
1. Dengan adanya tenaga listrik memudahkan Industri-industri dapat berkembang
dengan cepat.
2. Dengan adanya tenaga listrik pekerjaan-pekerjaan rumah tangga dapat dengan
mudah diselesaikan.
3. Dengan adanya tenaga listrik seluruh kebutuhan Telekomunikasi dapat terjamin.
4. Tenaga listrik dapat menerangi rumah-rumah tangga, jalan raya, perkantoran dan
pertokoan.
5. Dan masih banyak lagi keuntungan-keuntungan yang lain.
Dengan demikian energi listrik merupakan faktor yang penting dalam mencerdaskan
masyarakat dan secara langsung mempengaruhi keadaan perekonomian.
Karena tenaga listrik merupakan kebutuhan yang vital, maka tenaga listrik harus selalu
tersedia dalam jumlah yang cukup pada waktu yang tepat, dengan keandalan yang
tinggi dan mempunyai mutu yang baik. Untuk memenuhi persyaratan-persyaratan
ketersediaan tenaga listrik tersebut diperlukan pengaturan yang baik dalam persediaan
dan dalam penyaluran sistem tenaga listrik secara merata.
Dengan

bertambahnya

pemakaian

beban

tenaga

listrik,

maka

memerlukan

pengembangan system tenaga listrik, baik disisi pembangkit, penyaluran dan


pendistribusian. Untuk memenuhi keandalan sistem dan mutu yang baik sangat
dibutuhkan suatu sistem yang terintegrasi.

-3-

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer

1.1. Pembangkit.

Dalam system kelistrikan Pembangkitan merupakan komponen hulu mata rantai


produksi tenaga listrik . Fungsi sistem pembangkitan adalah mengubah (
mengkonversi ) energi primer seperti tenaga air, tenaga bahan bakar dan panas
bumi dan lainnya menjadi energi listrik yang akan di salurkan melalui sistem
transmisi dan didistribusikan kekonsumen melalui sistem distribusi.
Pusat Pembangkit Listrik yang dimiliki PT PLN antara lain adalah:
-

PLTD ( Pusat Listrik Tenaga Diesel ).

PLTG ( Pusat Listrik Tenaga Gas )

PLTU ( Pusat Listrik Tenaga Uap )

PLTP ( Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi ).

PLTA ( Pusat Listrik Tenaga Air ).

PLTM ( Pusat Listrik Tenaga Mikro Hidro ).

PLTN ( Pusat Listrik Tenaga Nuklir ). Pusat Listrik ini masih dalam penyelidikan.

Untuk Pusat listrik tenaga Nuklir ( PLTN ) sementara masih dalam evaluasi dalam segi
resiko dan bahayanya terhadap masyarakat di sekelilingnya , mengingat pengalamanpengalaman negara maju yang pernah mengoperasikannya.
Pemilihan jenis Pusat pembangkit listrik didasarkan pada hasil studi kelayakan yang
dibuat oleh PLN ( beberapa diantaranya dibuat bersama-sama konsultan ).
1.2 Transmisi.

Tenaga listrik yang dibangkitkan oleh generator dari suatu unit pembangkit
sebelum disalurkan melalui jaringan transmisi diatur terlebih dahulu tegangannya
menjadi tegangan tinggi antara lain tegangan 70 kV, 150 kV atau 500 kV sesuai
dengan kebutuhan.
Perubahan tegangan dilakukan melalui transformator tenaga, transformator ditempatkan
di Gardu Induk ( GI ) selain juga berfungsi mengubah tegangan listrik juga untuk
mendistribusikan tenaga listrik ke Gardu Induk lainnya. Bilamana tegangan akan
disalurkan ke gardu distribusi tegangan diturunkan mrnjadi tegangan menengah yaitu 20
kV.

-4-

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


1.3. Gardu Induk.
Tegangan listrik yang dibangkitkan oleh suatu Pusat Listrik setelah dinaikkan
tegangannya kemudian disalurkan melalui jaringan transmisi, dan disampaikan
kekonsumen melalui Gardu Induk.
Sebenarnya suatu Gardu Induk adalah merupakan suatu pusat beban pada suatu
daerah tertentu, dari Gardu Induk inilah disambung beban konsumen yang disambung
melalui jaringan Distribusi, dan besarnya beban ini akan berubah-ubah sepanjang
waktu, sehingga perubahan ini harus diimbangi dengan tenaga listrik yang dibangkitkan
oleh pusat listrik yang tersambung pada sistem jaringan tegangan tinggi.
Kadangkala suatu Pusat Listrik tidak mampu mengimbangi beban pada suatu Gardu
Induk sehingga perlu disalurkan tenaga listrik dari Pusat Listrik yang lainnya, dan juga
harus tersambung dengan sistem jaringan transmisi ke Gardu Induk tersebut, inilah letak
pentingnya suatu sistem interkoneksi dari beberapa Pusat Listrik dengan suatu jaringan
transmisi beserta Gardu Induknya.
Apabila pengaturan pembebanan Pusat Listrik ini terlambat atau tidak dilaksanakan
kemungkinannya adalah adanya penurunan frekuensi pada sistem bila daya yang
dibangkitkan kurang dari daya yang dibutuhkan beban sistem atau kemungkinan bisa
terjadi pengurangan beban ( pemadaman beban ) dan begitu pula sebaliknya akan
terjadi frekuensi yang lebih tinggi, apabila daya yang dibangkitkan lebih besar dari
beban sistem.
Peralatan gardu Induk terdiri dari peralatan yang berada didalam maupun diluar ,
peralatan yang berada diluar yaitu serandang hubung ( yang biasanya disebut
Switchyard ) tegangan tinggi sedangkan untuk yang didalam adalah panel control dan
peralatan tegangan menengah.

1.4. Panel control.


Panel control yaitu untuk tempat untuk melakukan supervisi dan control bagi peralatanperalatan tenaga listrik yang terpasang untuk suatu Gardu Induk, maka pada panel
ditempatkan alat-alat ukur dan indikator serta peralatan remote control.
Melalui panel control diketahui parameter operasi tenaga listrik sehingga informasi
tentang keadaan real time dapat diketahui dan selanjutnya informasi ini disampaikan ke
control center, baik melalui sarana komunikasi suara maupun komunikasi data, hal ini
tergantung dari teknologi sistem informasinya.

-5-

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


1.5. Gardu Hubung.
Tegangan yang telah diturunkan menjadi tegangan menengah ditampung menjadi satu
pada suatu tempat yang disebut Gardu Hubung ( GH ). Tegangan menengah tersebut
dibagi-bagi melalui switching menuju Gardu Distribusi. Jadi fungsi Gardu Hubung hanya
menyalurkan/membagi tegangan menengah menuju ke Gardu Distribusi.
1.6. Gardu Distribusi.
Gadu distribusi berfungsi mengubah/menurunkan tegangan menengah yang datang dari
Gardu Hubung menjadi tegangan rendah 220v yang kemudian disalurkan ke konsumen
( rumah-rumah, pertokoan, perkantoran ) dan lain sebagainya.
Tegangan menengah pada Gardu Distribusi ada juga yang langsung dari Gardu Induk (
GI ) tanpa melalui Garud Hubung ( GH ). Gardu-Gardu Distribusi ini paling banyak
terpasang

dilokasi

tersebar dipelosok-pelosok

perkotaan

dan

pedesaan

yang

membutuhkan aliran tenaga listrik.


Untuk pemakaian sendiri kebutuhan tenaga listrik di Gardu Induk ( GI ) atau pembangkit
biasanya mempunyai transformator distribusi tersendiri.
Tegangan rendah 220 v disalurkan melalui transmisi-transmisi tegangan rendah yang
sering kita lihat dipinggir-pingir jalan raya untuk disalurkan ke konsumen.

2. SISTEM SCADA.
Umum.
Sistem yang terintegrasi adalah suatu jaringan tenaga listrik yang terpadu meliputi
pembangkit-pembangkit tenaga listrik, jaringan transmisi dan distribusi yang saling
terhubung.
Sistem yang terintegrasi ini lebih dikenal dengan sistem interkoneksi. Keuntungan
adanya interkoneksi adalah diperolehnya suatu skala produksi yang ekonomis, karena
pusat pembangkit listrikyang kerkapasitas besar dan beroperasi pada sistem
terinterkoneksi dapat mensuplai daerah lainnya yang membutuhkan tenaga listrik yang
besar, tetapi hanya mempunyai pembangkit listrik yang berkapasitas kecil. Dengan
semakin banyaknya pusat pembangkit tenaga listrik yang dioperasikan, maka diperlukan
pengaturan beban sistem tenaga listrik. Dalam pengaturan sistem tenaga listrik perlu
adanya sarana-sarana

-6-

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


Peralatan SCADA ( Supervisory Control And Data Acquisition ) sebagai berikut:
1. Sistem Telekomunikasi.
2. Alat-alat pengolah data untuk mengambil, menyimpan dan mengolah data sistem
tenaga listrik.
3. Perangkat lunak untuk mengolah data, agar data dapat ditampilkan dalam
pengaturan sistem tenaga listrik.

Dengan adanya sarana-sarana peralatan SCADA tersebut pusat pengatur beban bisa
mendapatkan keuntungan-keuntungan antara lain :
1. Kecepatan dan kemudahan memperoleh informasi yang diperlukan.
2. Kwalitas data yang ditampilkan dapat dipantau secara real time ( data baru ).
3. Cara-cara penyajian data dan informasi bagi pengatur sistem yang sempurna.
4. Operator pusat pengatur beban dapat dengan mudah untuk pengaturan sistem.
Beroperasinya peralatan sistem SCADA sangat tergantung pada:
1. Keandalan saluran data ( komunikasi ) karena dengan terganggunya saluran data
akan berakibat terganggunya operasi pengaturan sistem
2. Kwalitas Power supply ( catu daya ) untuk menunjang beroperasinya peralatan.
Permasalahan mengenai energi listrik merupakan permasalahan yang sangat kompleks.
Permasalahannya tidak hanya bagaimana energi listrik ini dibangkitkan, disalurkan
tetapi juga mengenai perhitungan ekonomis dari suatu pembangkit yang lebih dikenal
dengan manajemen energi.
2.1 Telekomunikasi Suara
Untuk pembicaraan antara operator pusat pengatur beban dengan operator pusat
pembangkit PLN mempunyai jalur komunikasi khusus yang disebut PLC ( Power Line
Carrier ).
Komunikasi ini merupakan

sistem komunikasi yang

memanfaatkan

propogasi

perambatan gelombang frekuensi radio melalui kunductor transmisi Saluran Udara


Tegangan Tinggi ( SUTT ) sebagai media transmisi komunikasi. Jadi SUTT selain
menangani fungsi utamanya , yaitu menyalurkan tenaga listrik dengan frekuensi 50 Hz,
juga menyalurkan energi listrik dengan frekuensi tinggi ( HF ).
Batas jalur pembawa sistem komunikasi PLC pada umumnya berkisar antara 30 kHz
sampai dengan 500 kHz, batas terendah dari daerah frekuensi pembawa PLC dibatasi

-7-

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


oleh nilai reaktansi kapasitip ( Xc ) dan kapasitor penghubung ( Coupling Capasitor / CC
), sedangkan batas tertinggi alokasi frekuensi pembawa PLC dibatasi oleh nilai redaman
dari pada konduktor saluran transmisi SUTT.
Selain komunikasi PLC yang digunakan untuk pembicaraan antar operator juga tersedia
media lain yaitu:
1

Dengan menggunakan media kabel.

Dengan menggunakan media Radio Link.

Dengan menggunakan media Serat optic.

Dengan menggunakan media satelit ( sewa dengan PT Telkom ).

2.2. Komunikasi Data


Komunikasi data merupakan gabungan 2 macam teknik, yaitu teknik telekomunikasi
dan teknik pengolah data. Kombinasi kedua teknik ini disebut sebagai komunikasi data
atau disebut juga pengolah jarak jauh ( teleprocessing ). Komunikasi data merupakan
proses pengiriman informasi ( data ) yang telah dirubah dalam suatu kode tertentu dan
disalurkan melalui media listrik atau elektro optik dari suatu tempat ke tempat lainnya.
Informasi yang dikirimkan kesuatu tempat dapat berbentuk sinyal analog atau sinyal
digital . Sinyal analog adalah sinyal yang sifatnya seperti gelombang, sehingga pada
sinyal analog tidak ada perubahan yang tiba-tiba antara bagian-bagian sinyal tersebut.
Sedangkan sinyal digital adalah sinyal yang bentuknya seperti pulsa. Pada sinyal digital
terjadi perubahan yang tiba-tiba antara bagian dari sinyal itu sendiri.
Sinyal digital terdapat pada peralatan pengolah data, sedangkan sinyal analog ada pada
peralatan telekomunikasi sebagai sarana pembawa informasi yang bersifat digital.
Untuk melakukan komunikasi data diperlukan beberapa komponen utama yaitu :
-

Rangkaian Pemancar ( transmitter )

Rangkaian Penerima ( receiver )

Media penghubung.

Diantara dua peralatan SCADA yang berhadapan selalu menggunakan komponenkomponen tersebut diatas, komponen tersebut biasa kita sebut Modem .
2.3. Modem.
Modem ini berfungsi untuk merubah sinyal analog menjadi sinyal digital atau sebaliknya
merubah sinyal digital menjadi sinyal analog. Rangkaian Pemancar ( transmitter ) dari
suatu modem berfungsi sebagai pengubah sinyal digital menjadi analog, sedangkan

-8-

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


rangkaian Penerima ( receiver ) berfugsi sebaliknya yaitu merubah sinyal analog
menjadi sinyal digital.
Modem ini dipergunakan ( dipasang ) apabila media komunikasinya berupa komunikasi
analog, dan apabila media komunikasinya sudah berupa digital peralatan bantu modem
ini tidak diperlukan lagi karena diantara peralatan SCADA sudah berbentuk sinyal digital
sehingga sudah dapat komunikasi.
2.4 Pusat Pengatur.
Pertambahan kebutuhan tenaga listrik yang terus meningkat menyebabkan

pula

meningkatnya jumlah pembangkit yang beroperasi dan penambahan sistem saluran


tenaga listrik yang semakin kompleks.
Untuk mendapatkan penyediaan tenaga listrik yang baik dan andal dibuat sistem yang
saling terhubung ( interkoneksi ) antara seluruh pembangkit dengan saluran tenaga
listrik.
Pengaturan tenaga listrik pada sistem yang terinterkoneksi dilaksanakan oleh pusat
pengatur sistem tenaga listrik. Kecepatan dan keakuratan data informasi sangatlah
dibutuhkan pada pengaturan sistem tenaga listrik, sehingga pusat pengatur tenaga listrik
dalam melaksanakan tugas pengaturan didukung oleh peralatan yang berbasis
komputer untuk membantu operator ( dispatcher ) dalam melaksanakan tugasnya.
Sistem pengaturan yang berbasis komputer disebut Supervisory Control And Data
Acquisition (SCADA).
SCADA terdiri dari perlengkapan perangkat keras ( hardware ) dan perangkat lunak (
software ).
SCADA berfungsi mulai dari pengambilan data pada peralatan pembangkit atau Gardu
Induk, pengolahan informasi yang diterima, sampai reaksi yang ditimbulkan dari hasil
pengolahan informasi.
Jadi secara umum fungsi SCADA adalah :
-

Penyampaian data.

Proses kegiatan dan monitoring.

Fungsi kontrol.

Perhitungan dan pelaporan.

Dengan adanya peralatan SCADA penyampaian dan pemerosesan data dari sistem
tenaga listrik akan lebih cepat diketahui oleh operator ( dispatcher ).

-9-

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


Informasi pengukuran dan status indikasi dari sistem tenaga listrik dikumpulkan dengan
menggunakan peralatan yang ditempatkan di Gardu Induk ( GI ) dan di pusat
pembangkit.
Kontrol penyaluran sistem peralatan memungkinkan penyampaian data secara remote.
Data dapat dilakukan secara manual atau dengan perhitungan. Data yang baru dapat
juga dihitung dan disimpan dalam database melalui pengumpulan nilai secara
automatis. Penyampaian data dan pemerosesan data dilakukan secara real - time .
Parameter sistem tenaga listrik dalam real time operation seperti Frekuensi, Tegangan,
Daya aktip dan reaktip, serta tap changer position ( posisi tap trafo ), dapat dibaca di
control center atau pusat pengatur beban adalah melalui sarana teleinformasi yang
disebut telemetering.
2.5 Telemetering.
Pengaturan tenaga listrik sangat diperlukan dalam penyediaan tenaga listrik untuk
mendapatkan

fungsi keamanan, kualitas dan ekonomis dalam bidang ketenaga

listrikan.
Kualitas tenaga listrik adalah tegangan dan frekuensi yang stabil dan tersedia terus
menerus, keamanan tenaga listrik berhubungan dengan jaringan dan kestabilan
pembangkitan tenaga listrik sedangkan segi ekonomis ketenaga listrikan berhubungan
dengan investasi dan biaya produksi tenaga listrik. Untuk mendapatkan fungsi-fungsi
pengaturan

ketenaga listrikan

tersebut, maka diperlukan pengendalian ketenaga

listrikan dalam kegiatan:


-

Kontrol Produksi

Pengaturan sistem transmisi

Administrasi pemeliharaan

Supervisi sistem tenaga listrik.

Macam telemetering yang dipantau oleh pusat pengatur beban diantaranya adalah :
-

Pengukuran Tegangan ( kV )

Pengukuran Megawatt ( MW )

Pengukuran Megavar ( Mvar )

Pengukuran Arus ( A ) dan

Pengukuran Frekuensi ( Hz )

2.6. Telesignaling.

- 10 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


Status dari peralatan tenaga listrik, sinyal alarm dan sinyal lainnya yang ditampilkan
disebut dengan status indikasi. Status indikasi terhubung ke modul digital input. Status
indikasi terdiri dari indikasi tunggal ( single indication ) dan indikasi ganda ( double
indication ). Indikasi ganda ter pasang pada peralatan yang mempunyai dua keadaan
atau dua posisi, dimana satu keadaan menunjukkan kontak terbuka ( open ) dan kontak
lain tertutup ( close ), seperti pada PMT ( pemutus ) dan PMS ( pemisah ).
Indikasi tunggal dipergunakan untuk menyampaikan data alarm dari peralatan tenaga
listrik. Status indikasi dikirim ke pusat pengatur beban atau control center bila terjadi
perubahan status dari peralatan.
2.7. Telecontrol.
Fungsi kontrol sistem tenaga listrik terbagi 2 bagian, yaitu:
-

Fungsi kontrol secara digital

Fungsi kontrol secara analog

Fungsi kontrol secara digital merupakan perintah langsung ke peralatan tenaga listrik
seperti perintah buka/tutup PMT atau PMS, perintah start/stop unit pembangkit dan juga
perintah merubah posisi tap changer dari transformer ( naik/turun ).
Fungsi kontrol secara analog merupakan perintah untuk pengaturan peralatan
pembangkit tenaga listrik guna menaikan/menurunkan daya pembangkit.
2.8. Master station.
Master station berfungsi untuk mengolah data yang diterima dari sistem tenaga listrik
yang ada agar dapat dimonitor oleh operator melalui peralatan bantu yang disebut Man
Machine Interface. Master station terdiri dari 2 bagian yaitu:
-

Komputer utama ( Main Computer )

Front-end komputer

Front-end komputer merupakan komputer yang menangani pembacaan data dan


memindahkan kumpulan data ke komputer utama serta menangani output dari komputer
utama.
Komputer utama melakukan perhitungan serta analisa sistem dengan menggunakan
data base.
Komputer utama biasanya menggunakan konsep dual komputer, satu komputer sebagai
master dan yang satunya sebagai slave. Konsep ini menyediakan fasilitas deteksi
kesalahan dan penormalan.

- 11 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


Data-data dari Gardu Induk atau pusat listrik dikirimkan ke pusat pengatur beban atau
control center melalui saluran komunikasi. Data ini diterima oleh Front-end komputer
dan selanjutnya didistribusikan ke fungsi pengolahan, baik ke master komputer maupun
langsung ke Mimic Board dan peralatan monitor yang ada diruang pengendalian sistem.
2.9. Man Machine Interface.
Man Machine Interface adalah suatu peralatan diruang control yang berfungsi sebagai
perantara antara operator ( dispatcher ) dengan sistem komputer. Dengan adanya Man
Machine Interface memudahkan operator memonitor sistem jaringan tenaga listrik yang
ada.
Peralatan Man Machine Interface diantaranya adalah: VDU Monitor, Key board, Printer,
Logger, Recorder, Hard Copy dll.
2.10. Remote Terminal Unit ( RTU ).
Remote Terminal Unit ( RTU ) berfungsi untuk mengumpulkan data status dan
pengukuran peralatan tenaga listrik, kemudian mengirimkan data dan pengukuran
tersebut ke Master Station ( pusat control ) setelah diminta oleh Master.
Dismping itu rtu berfungsi melaksanakan perintah dari master station ( remote control ).
RTU terpasang pada setiap Gardu Induk ( GI ) atau pusat pembangkit yang masuk
dalam sistem jaringan tenaga listrik.
Remote Terminal Unit ( RTU ) terdiri dari komponen-komponen antara lain:
-

Central Processing Unit ( CPU )

Memory

Modul Input / Output ( I / O )

Modul Power supply

Modul I / O merupakan interface dengan peralan proses yang berada di Gardu Induk
maupun pusat pembangkit. Jadi fungsi utama dari modul I / O adalah melayani masukan
dan pengeluaran untuk nilai analog dan sinyal digital dari kontak, Transducer dan
sumber sinyal lainnya dari peralatan tenaga listrik.
Telemetering ( TM ) yang datang dari transducer disambung langsung ke modul Analog
input.
Telesinyal ( TS ) yang datang dari peralatan GI disambung langsung ke modul digital
input.

- 12 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


Telekontrol ( TC ) yang dkeluarkan dari modul analog output disambung ke peralatan
pembangkit yang dapat diatur system pembebanannya.
Telecontrol ( TC ) yang dikeluarkan dari modul digital output disambung ke PMT, PMS,
Start/stop Unit Pembangkit yang bisa dikontrol.
RTU banyak terdapat dipasaran dengan berbagai macam merk dan type masing
masing mempunyai kelebihan dan kekurangan baik dari segi teknis maupun ekonomis.
Remote Terminal Unit ( RTU ) untuk SCADA PLN P3B diantaranya :
Untuk Jawa barat DKI dan Jawa timur kebanyakan dipasang RTU EPC 3200, S 900 (
buatan Perancis ). Sedangkan untuk Jawa tengah dipasang RTU Indactic ( buatan
Swedia )
3. SISTEM SCADA PLN P3B
3.1. Jaringan tenaga listrik Jawa-Bali
Sistem jaringan tenaga listrik Jawa-Bali terdiri dari 3 tegangan tinggi yaitu : 70 kV, 150
kV dan 500 kV. Tulang punggung sistem tenaga listrik Jawa-Bali adalah jaringan
tegangan extra tinggi 500 kV

serta pembangkit

berskala besar yang tersambung

langsung dengan jaringan 500 kV.


Pembangkit berskala besar yang tersambung langsung dengan jaringan 500 kV pada
saat ini diantaranya adalah :
-

PLTU Suralaya

PLTA Saguling

PLTA Cirata

PLTGU Gresik dan

PLTU Paiton.

Pusat-pusat beban dipasok melalui Transformator inter bus ( IBT ) 500kV/150 kV yang
terpasang di Gardu Induk Tegangan Extra Tinggi ( GITET ).
Saluran tegangan tinggi 150 kV & 70 kV serta pembangkit-pembangkit yang terhubung
dengan jaringan ini merupakan penyedia tenaga listrik untuk setiap control center.
Pendistribusian tenaga listrik ke konsumen disalurkan melalui transformator 150/20 kV
atau 70/20 kV dan jaringan tegangan menegah.
Konfigurasi tegangan sistem tenaga listrik Jawa-Bali ini menuntut disusunnya hirarki
control center yang sejalan dan dapat mendukung pola pengoperasiannya.

- 13 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


Untuk menunjang pengopesasian sistem tenaga listrik Jawa-Bali telah dipasang
peralatan SCADA yang telah beroperasi sejak th 1982. Dengan adanya peralatan
SCADA operator dapat mengawasi dan mengontrol serta dapat memperoleh data yang
akurat dari Gardu-gardu Induk maupun pusat pembangkit, dengan demikian operator
dapat melaksanakan pengoperasian sistem tenaga listrik dengan andal.
3.2. Hirarki Control Center
Pada saat ini terdapat 3 hirarki Control Center yaitu :
- JCC ( Java Control Center )
- RCC ( Regional Control Center )
- GSC ( Group Switching Center )

Sistem tenaga listrik Jawa-Bali terbagi menjadi 4 Area Control Center masing-masing
adalah :
- Regional Control Centre Cawang ( RCC Cawang )
Yang meliputi daerah Jawa-barat bagian barat,Banten serta DKI Jakarta.
- Regional Control Centre Cigereleng ( RCC Cigereleng )
Yang meliputi daerah Jawa-barat bagian timur.
- Regional Control Centre Ungaran ( RCC Ungaran )
Yang meliputi daerah Jawa-tengah. Dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
- Regional Control Centre Waru ( RCC Waru )
Yang meliputi daerah Jawa-timur ditambah GSC Bali.
Dari keempat Regional tersebut masing-masing dimonitor oleh JCC ( Java Control
Center )
Yang terletak di Gandul. Disamping memantau seluruh Regional Control Centre ( RCC
), JCC Juga mengontrol langsung jaringan tegangan Extra tinggi 500 kV.
Dengan adanya hirarki-hirarki tersebut, maka dapat diambil kesimpulan tugas dari
masing-masing Control Center antara lain:
3.3. Tugas JCC
-

Mengatur alokasi Energi diantara pusat-pusat pembangkit

Melakukan operasi pengaturan jaringan pada saluran tegangan extra tinggi 500 kV
baik pengaturan daya maupun tegangan.

- 14 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


-

Menjaga sekuriti sistem secara keseluruhan.

Mempertahanhan kualitas frekuensi sistem

Monitor dan mengatur transfer daya antar control center.

3.4. Tugas RCC


-

Melakukan operasi pengaturan jaringan pada saluran tegangan tinggi 150 kV dan
70 kV, baik dalam rangka pengaturan daya maupun tegangan.

Menjaga sekuriti pasokan daya ke Gardu-gardu Induk diwilayah kerjanya masingmasing.

3.5. Tugas GSC.


-

Membantu tugas ACC dalam melakukan pengaturan jaringan pada jaringan 150 kV
dan 70 kV diwilayahnya.

Mengambil alih tugas operator Gardu Induk yang berada dibawah kendali GSC,
sehingga dengan demikian Gardu-gardu secara bertahab dapat menjadi Gardu
Induk Tanpa Operator ( GITO ) . Untuk GI tanpa operator ini GSC mendapat tugas
tambahan memantau beberapa teleinformasi yang sifatnya tidak langsung
dibutuhkan untuk operasi real-time, tapi ini diperlukan oleh regu pemeliharaan (
sebagai contoh kondisi power supply panel, power supply untuk telekomunikasi dan
seluruh alarm peralatan yang terpasang di gardu tersebut.

3.6. Tugas DCC


Disamping hirarki yang tercantum diatas ada suatu Control Center diluar P3B yang
disebut DCC ( Distribution Control Center ) adapun tugas DCC adalah:
-

Melakukan operasi pengaturan jaringan pada saluran tegangan menengah 20 kV ke


bawah ( tegangan rendah 220 v ).

Menjaga sikuriti pasokan daya ke Gardu Hubung yang langsung disalurkan ke


konsumen-konsumen diwilayah kerjanya masing-masing.

3.7. Batas wewenang.


Dalam melaksanakan tugas baik JCC,

RCC maupun GSC bekerja sama dan

berbatasan wilayah hanya dengan DCC dan pusat listrik.


Batas wewenang dan tanggung jawab yang jelas antara control center perlu ditetapkan
agar tidak terjadi kesenjangan wewenang dan informasi data.

- 15 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer

3.8. Batas wewenang JCC RCC


Batas wewenang operasional antara JCC dan RCC adalah pada trafo inter bus 500
kV/150 kV.
Pengoperasian dan keamanan Transformer dan kualitas tegangan disisi150 kV menjadi
tanggung jawab JCC. Dalam fisiknya wewenang JCC adalah sampai pemutus tenaga (
PMT ) disisi 150 kV setelah itu menjadi wewenang RCC.
3.9. Batas RCC-GCS dan DCC
Batas wewenang operasional antara RCC dengan DCC adalah pada Transformator 150
kV/20 kV atau 70 kV/20 kV. Keamanan operasi transformator dan kualitas tegangan
disisi tegangan menengah menjadi tugac DCC. Dalam fisiknya wewenang RCC adalah
sampai pemutus tenaga ( PMT ) disisi 150 kV atau 70 kV.
3.10. Batas JCC-RCC GSC dan Pusat listrik.
Batas wewenang operasional antara JCC- RCC dan pusat listrik adalah setelah
pemutus tenaga ( PMT ) pada bay Generator.
Jadi JCC-RCC hanya berwenang mengatur masuk / keluarnya suatu pembangkit dari /
ke jaringan sampai ke pembebanan. Untuk pelaksanaan pemasukan / pengeluaran
pembangkit dilakukan oleh pengelola pusat listrik, dalam hal ini PLN Sektor.
Oleh karena itu semua PMT pada bay Generator tidak dilengkapi peralatan remot
control dari control center. Bila pada bay Generator tidak ada PMT maka pada PMT
pengapit dari bay generator tersebut pengoperasiannya menjadi wewenang pusat listrik.
Untuk menjaga mutu dan pelayanan listrik , maka pusat pengatur baik JCC, RCC/GSC
dan DCC harus mempunyai hubungan kerja yang erat dan kontinyu.
3.11. Perlengkapan Teknik ( Perangkat Keras )
Untuk menunjang beroperasinya sistem SCADA maka di masing-masing Control Center
dipasang komputer lengkap dengan peralatan Man Machine Interface.
Untuk peralatan di remote station dipasang Remote Terminal Unit yang mempunyai
kapasitas yang berbeda sesuai besar / kecilnya Gardu Induk atau pusat pembangkit.

4. LOAD FREQUENCY CONTROL ( LFC )

- 16 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer

Umum
Untuk pengaturan sistem tenaga listrik yang andal khususnya jaringan listrik
yang mempunyai pembangkit interkoneksi sebaiknya dipasang peralatan Load
Frequency Control ( LFC ) di Unit-unit pembangkit yang mempunyai kapasitas
minimal 100 MW . LFC juga dipasang pada Unit dengan sistem blok yang artinya
satu komando LFC untuk mengatur beberapa unit pembangkit.
Di Indonesia LFC sudah mulai dirancang sejak adanya proyek West Java Load
Dispatching Center yang biasa disebut LDC yang telah dilaksanakan pada th
1980 . Pada saat Scada proyek LDC berjalan , JCC Gandul baru mulai
pembangunan gedung. Sehingga pada saat itu sudah ada 2 control center yang
berfungsi yaitu :
Regional Control Centre Cawang dan Regional Control Centre Cigereleng.
Setelah Java Control Center ( JCC ) beroperasi , kemudian pada akhir
Desember 1987 baru ada sistem LFC yang beroperasi yaitu LFC Hydro Power
Plant ( PLTA Saguling ) yang terdiri dari 4 Unit pembangkit berkapasitas masingmasing 180 MW. Pada saat itu hanya PLTA Saguling yang sangat dibutuhkan
untuk menunjang keandalan sistem tenaga listrik Jawa-Bali, karena ditinjau dari
segi bahan bakar adalah yang termurah disamping itu telah dipasang peralatan
LFC yang dapat mengatur Frekwensi secara otomatis melalui peralatan SCADA.
Tidak lama kemudian menyusul beroperasinya LFC PLTA Cirata yang terdiri dari
4 Unit pembangkit yang masing-masing mempunyai kapasitas 125 MW.
Dengan adanya pengembangan Gardu-Gardu Induk dan Unit-Unit pembangkit
tenaga listrik Jawa Bali sampai saat sekarang sudah ada 10 Unit Pembangkit
yang sudah menggunakan fasilitas LFC yaitu :
-PLTA Saguling

( 4 X 175 MW )

-PLTA Cirata

( 8 X 125 MW )

-PLTGU Gresik Blok 2

( 1 X 550 MW )

-PLTGU Gresik Blok 3

( 1 X 550 MW )

-PLTU Paiton

( 2 X 400 MW )

-PLTGU Grati

( 1 X 500 MW )

-PLTGU Muarakarang

( 1 X 500 MW )

- 17 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


-PLTU Muarakarang

( 2 X 200 MW )

-PLTGU Priok blk 1, 2

( 2 X 600 MW )

-PLTU Gresik 150

( 2 X 200 MW )

-PLTGU Muara Tawar


-PLTU Suralaya

( 1 X 400 MW )
( 3 X 600 MW )

Disamping lokasi-lokasi tersebut diatas ada beberapa pengembangan peralatan


SCADA LFC yang sedang dalam proses pemasangan dan pengetesan
diantaranya adalah :
-PLTU Tambaklorok 150

( 1 X 200 MW )

-PLTGU Gresik Blok 1

( 1 X 500 MW )

-PLTGU Tambak LOROK Blok 2

( 2 X 500 MW )

-PLTA Cirata Unit 5 s/d 8

( 4 X 125 MW )

LFC hanya dapat beroperasi pada saat jaringan sistem tenaga listrik dalam kondisi
normal.
Pada saat sistem tenaga listrik mengalami gangguan atau lepas interkoneksi (Separated
Network) di salah satu Gardu Induk atau Pembangkit maka LFC secara otomatis akan
OFF. Untuk mengetahui terjadinya Separated Network, di Master komputer terdapat
suatu program Network Topologi yang berfungsi untuk memonitor jaringan tenaga listrik.
Jaringan sistem tenaga listrik akan lebih baik mutu frekwensinya apabila lebih banyak
unit

pembangkit

yang

ikut

berpartisipasi

menggunakan

LFC.

Disamping

itu

pembangkitan akan bekerja lebih stabil atau bekerja lebih ringan apabila banyak Unit
yang beroperasi dengan LFC.
Antara Unit satu dengan unit yang lain saling berpacu untuk memperbaiki mutu
frekwensi biasanya PLTA adalah unit yang paling cepat dalam menerima respon dari
Master Station dan Unit2 yang bekerja lebih lambat bisa membantu untuk perbaikan
Frekwensi.
Pembagian fungsi LFC

Ditinjau dari sistem tenaga listrik LFC dapat dibagi menjadi 3 fungsi yaitu :
-

Fungsi pengaturan Frekwensi sistem.

Fungsi pengaturan Beban ( Power )

Fungsi pengaturan Power dan Frekwensi.

- 18 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer

4.1. Fungsi pengaturan Frekwensi.


Dalam fungsi ini LFC akan bekerja mengatur Frekwensi sistem tenaga listrik dengan
menaikan atau menurunkan beban pembangkit dengan berdasarkan perbedaan
Frekwensi antara Frekwensi sistem dengan frekwensi standard yang ditetapkan oleh
operator di master station.
Bila Frekwensi sistem lebih rendah dari frekwensi standard, maka LFC bekerja
memberi perintah untuk menaikkan output beban pembangkit. Sebaliknya bila
frekwensi sistem lebih tinggi dari frekwensi standard, maka LFC bekerja menaikkan
output beban pembangkit.
4.2. Fungsi pengaturan beban ( power )
Fungsi ini LFC akan mengatur pembebanan dengan menaikkan atau menurunkan
beban pembangkit berdasarkan perbedaan antara total pengukuran power
pembangkit dengan perubahan jadwal beban konsumen.
4.3. Fungsi pengaturan power dan frekwensi
Fungsi ini merupakan fungsi gabungan antara fungsi pengaturan Beban dan fungsi
pengaturan frekwensi untuk itu LFC bekerja menaikkan atau menurunkan beban pembangkit
berdasarkan beban dan frekwensi saat itu.

Diantara ketiga fungsi tersebut diatas yang dipergunakan di sistem tenaga


listrik Jawa-Bali adalah fungsi pengaturan Frekwensi. Apabila program LFC di
Master Station tidak diaktifkan, maka tidak ada pula perintah yang dikirim ke
unit pembangkit, karena perintah harus terpusat dari satu Master dan disebar
keseluruh Unit Pembangkit yang menggunakan fasilitas LFC.
4.4. System komunikasi SCADA LFC.
LFC adalah salah satu bagian dari input/output pada peralatan RTU yang terpasang
di Unit pembangkit ( TM, TS, RCA dan RCD )
Dari Master Station ( Pusat Kontrol ) mengirim signal N ( level ) yang besarnya antara
1 s/d +1 ke semua unit yang berpartisipasi menggunakan LFC. Besarnya level N
tersebut dihasilkan dari perhitungan komputer di Master Station yang berdasarkan
frekwensi sistem dan jumlah total bandwide beban dari masing-masing unit
pembangkit yang telah ditentukan oleh operator (Dispatcher).

- 19 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


Dalam pengoperasian LFC ada beberapa parameter yang dibutuhkan baik dari
Master Station maupun dari Unit pembangkit a.l :
-

Signal dan besaran 2 yang dikirim oleh komputer Master.

Signal dan besaran2 yang dikirim dari Unit Pembangkit.

Signal alarm dari RTU ke Pempangkit atau sebaliknya.

4.5. Signal dan besaran2 yang dikirim oleh komputer master


- Referensi beban real untuk beban pembangkit.

( Po ) dalam MW

- Variasi (Bandwide) beban generator unit pembangkit. ( Pr ) dalam MW


- Level N yang mempunyai nilai 1 s/d +1.
- Remote Control untuk LFC Request ( LFC ON dan LFC OFF ).
4.6. Signal dan besaran2 yang dikirim oleh unit pembangkit.
- Referensi beban real dari pembangkit.

( Po ) dalam MW

- Variasi (Bandwide) beban generator unit pembangkit. ( Pr ) dalam MW


- Indikasi LFC ON dan LFC OFF.
- Indikasi kesiapan peralatan LFC ( LFA )
- Indikasi balik LFC Request yang dilakukan Remote dari JCC.
4.7. Signal alarm dari RTU ke pembangkit.
Untuk sistem proteksi/pengamanan beroperasinya LFC, Unit pembangkit perlu juga
memonitor indikasi kesiapan RTU untuk itu RTU disiapkan suatu alarm yang disebut
RTU Faulty (RTU mati) . Bila RTU Fault muncul, maka unit pembangkit (Load
Coordinator) secara otomatis akan mati (LFC Off) dan untuk pengaturan beban
diambil aleh oleh operator unit secara manual.
4.8. Prinsip kerja LFC
LFC bekerja full automatic yang diatur oleh komputer di Master Station kemudian
setelah sampai di unit pembangkit diatur oleh suatu peralatan yang disebut Load
Coordinator yang langsung berhubungan dengan peralatan control unit pembangkit.
Antara komputer di Master Station dan Load Coordinator saling mengontrol bila
terjadi alarm di salah satu sisi maka menyebabkan LFC Off dan bila ini terjadi, maka
unit pembangkit menerima data terakhir yang dikirim dari Master/RTU.
Prinsip kerjanya sangat simpel, yaitu ketika LFC beroperasi maka beban unit
pembangkit akan berubah sebagai berikut :

- 20 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer

-Output Unit Pembangkit = P = Po + N.Pr dimana


-P

= Output unit pembangkit.

-Po = Power yang diset oleh operator unit.(sesuai permintaan dari Master).
-Pr = 50% dari bandwide yang diset operator unit (sesuai permintaan Master).
-N

= Level dari Master Station yang mempunyai nilai -1 s/d +1.

Bila terjadi gangguan LFC ( LFC Off ) maka tidak ada pengaturan yang otomatis dari
Master Station dan pengaturan diambil alih oleh operator Unit Pembangkit secara
manual.
Pada kondisi LFC normal untuk pembebanan Unit operator harus menyesuaikan
perintah dari Master yaitu Po = Po dan Pr = Pr .
Apabila terjadi ketidak samaan antara permintaan dari Master dengan pengesetan di
unit pembangkit ( Po tidak sama Po atau Pr tidak sama Pr ) maka kemungkinan LFC
akan blok.

Contoh :

MW
P
Po + Pr

Po

Bandwide
Perubahan
beban Unit

Po - Pr
P

Unit
Pembangkit
- 21 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer

Kita ambil contoh misal Unit Pembangkit mempunyai kapasitas Max 150 MW.
Ditentukan Po = 100 MW
Pr = 25 MW dan
N perhitungan dari komputer menghasilkan + 1 maka berdasarkan rumus
diatas
P = Po + Pr.N
Jadi

P = 100 + 25.1 = 125 MW

generator Unit pada kondisi seperti ini harus membangkit 125 MW dan

besarnya unit untuk membangkit tergantung berasnya level N yang dikirim oleh
komputer Master .
Dengan demikian untuk contoh ini unit pembangkit bisa membangkitkan beban
antara 75 s/d 125 MW.
4.9. Frekwensi Meter
Pemantauan Frekwensi sangat diperlukan oleh Master kontrol dan frekwensi ini pula
yang dibutuhkan untuk program LFC di komputer Master, oleh karena itu di Master
Station harus dipasang minimal satu buah alat untuk memonitor Frekwensi sistem
dan lebil andal lagi apabila dipasang dua buah Frekwensi meter yang bekerja secara
Master dan Slave yang berfungsi bila terjadi gangguan Master Frekwensi meter maka
secara otomatis Frekwensi meter Slave mengambil alih menjadi master sehingga
LFC tidak terganggu.
Bila kejadian kedua alat tersebut terganggu, dari frekwensi meter mengirim alarm ke
komputer dan LFC langsung blok sehingga level N yang dikirim ke Unit Pembangkit
yang saat itu menggunakan LFC akan blok dengan harga terakhir secara kontinyu
selama belum ada pemberitahuan dari operator di Master Station bahwa LFC
terganggu.
Untuk memperkecil terjadinya gangguan monitoring Frekwensi dapat diambil langkah
sbb :
-

Pengambilan input untuk Frekwensi meter usahakan dari dua sumber.


Pasang alat yang dapat bekerja secara otomatis untuk memindahkan sumber

input
apabiala salah satu sumber tegangan/Frekwensi terganggu.
-

Pasang dua buah Frekwensi meter di Master Station agar dapat bekerja

bergantian.

- 22 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


-

Masing-masing komputer harus saling berhubungan dengan Frekwensi meter.

Contoh :

BB 500
kV

BB 150
kV

PT

PT

Gardu Induk
220 V

220 V

Kontrol
Trans
d

Frek.
meter

Frek.
meter

XXX

Iindikator

Komputer
1

DIF

Recorder

Komputer
2

RTU

4. 10. Sistem Pengiriman Level N.


Untuk program LFC pengiriman level N dari komputer adalah setiap 10 detik sekali
dengan pulsa pengiriman selama 1 detik , oleh karena itu LFC berfungsi pada saat
sistem dalam kondisi normal. Pada saat sistem keadaan terganggu LFC tidak
berfungsi.
Ada beberapa faktor yang mengakibatkan LFC terganggu a.l :

4.11. Di Master Station :


- Gangguan frekwensi meter .

- 23 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


LFC Blok ketika peralatan monitor frekwensi ( Frekwensi meter ) mengalami
gangguan
atau alat tersebut memberikan data tidak benar/invalid .
- Gangguan sistem Deviasi .
LFC Blok ketika terjadi perubahan atau deviasi beban yang terlalu besar
terhadap Band

Wide yang telah ditentukan ( jumlah Pr yang saat itu ).

- Jaringan sistem terpisah ( separated network ).


LFC Blok ketika terjadi gangguan sistem jaringan listrik ( interkoneksi terpisah ).
- Frekwensi Deviasi .
LFC Blok ketika terjadi deviasi ( perubahan ) Frekwensi terlalu besar sehingga
melewati batas frekwensi yang telah ditentukan oleh operator kontrol senter.
- Power regulator ( Band Wide Power )
LFC Blok ketika komputer master tidak menerima total Band Wide dari masingmasing unit pembangkit ( Pr = 0 ).
- Manual Blok
LFC dapat di blok secara manual oleh operator di kontrol senter kemudian level
N dapat

diberikan secara manual .

4.12. Di Power Station .


- Gangguan Komunikasi Data.
- Gangguan RTU.
Ketika RTU mati maka alarm dari RTU dikirim ke Unit pembangkit sehingga LFC
Blok.
- Gangguan Load Kordinator.
LFC bisa terganggu disebabkan oleh peralatan kontrol ( Load Kordinator ) di
Power Plant Pembangkit.
- Ketidak samaan pengesetan antara Po dengan Po atau Pr dengan Pr.

4.13. LFC Level Band Wide


Dalam Program LFC Level N telah dibatasi besarnya yaitu 1 s/d +1 bila
perhitungan dari komputer melewati harga tersebut maka LFC level akan berhenti
di 1 atau +1.

- 24 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


Apabila ini terjadi operator harus mengambil langkah-langkah untuk menaikkan
atau menurunkan unit pembangkit secara manual dengan merubah Po dan Pr yang
sudah ditentukan sebelumnya agar supaya harga N level mendekati 0 atau =0.

4.14. LFC Level Manual.

Disamping pemberian Level N secara otomatis dari komputer, operator di kontrol


senter dapat juga memberikan Level N secara manual ke Unit-unit pembangkit
berdasarkan perhitungan sesuai dengan rencana pembebanan operasional.
Dengan dirubahnya Level N oleh operator maka N tersebut langsung dikirimkam ke
unit-unit

pembangkit

yang

mempergunakan

LFC

untuk

menaikkan

atau

menurunkan beban pembangkit. Dengan cara ini operator di kontrol senter harus
betul-betul memperhatikan perubahan Frekwensi pada saat itu sehingga cara ini
jarang sekali dilakukan.

4.15. Frekwensi referensi

Operator di kontrol senter dapat memberikan batasan referensi Frekwensi secara


manual misal 49,5 Hz < = Fo < = 50,5 Hz sehingga komputer akan menghitung dan
menentukan Level N berdasarkan perbedaan antara Frekwensi sistem dengan
referensi frekwensi tersebut (

F = F Fo ).

Disamping itu juga berdasarkan dari jumlah Pr dari seluruh unit pembangkit yang
menggunakan LFC saat itu.
Dengan ketentuan tersebut diatas komputer secara Real Time menghitung berapa
besarnya level N yang harus diberikan.

4.16. Pengukuran Frekwensi

LFC harus menggunakan Frekwensi yang terpasang di kontrol senter walaupun


disetiap GI ada fasilitasnya dan dapat dimonitor karena untuk menghindarkan
kesalahan perhitungan .
Frekwensi-frekwensi yang datang dari gardu induk ini berfungsi sabagai referensi
apabila terjadi gangguan terpisahnya sistem interkoneksi ( separated network ).

- 25 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer

4.17. Band Wide Regulation ( Pr )

Besarnya 50% Band Wide untuk masing-masing Generator ditentukan oleh


operator dari Unit Pembangkit yang sebelumnya telah dikoordinasikan dengan
operator kontrol senter.
Jumlah Pr dari unit-unit Pembangkit inilah yang dipergunakan komputer untuk
menentukan besarnya level N dan diperhitungkan juga dengan Frekwensi pada
saat itu.

4.18. Base Point Generator.


Base Point suatu Generator ( Po ) adalah input TM yang diatur oleh operator di unit
Pembangkit sehingga operator kontrol senter dapat mengetahuinya bahwa
permintaan Base Point dari Master Station sudah disesuaikan oleh Unit
Pembangkit.

- 26 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


5. SISTEM TELEKOMUNIKASI POWER LINE CARRIER
Sistem Telekomunikasi PLC (Power Line Carrier) adalah sistem telekomunikasi
yang menggunakan saluran tegangan tinggi untuk menyampaikan informasi
dengan melalui media frekuensi tinggi antara dua GI atau lebih, sistem PLC
pertama kali digunakan pada tahun 1930 an, sistem ini sangat dibutuhkan untuk
menyalurkan informasi berupa :
-

Suara

Data

Teleproteksi.

Informasi Suara ini umumnya kita kenal dengan saluran telepon. Melalui Sistem
PLC dapat disalurkan informasi antar PABX di suatu Gardu Induk (GI) ke GI
yang lain, atau dari satu pesawat telepon ke pesawat telepon yang lain.

Gambar 1. Komunikasi antar GI / KIT

Informasi data pada sistem ini adalah informasi yang membawa data-data dari
dan ke RTU berupa telesinyaling (misalnya status pmt terbuka atau tertutup),
telemetering (mw, mvar, kV, A), dan fungsi remote control (Membuka / menutup
PMT).
Sistem informasi yang lain adalah teleproteksi, sebenarnya teleproteksi ini dapat
dikategorikan pada informasi data, tetapi dikarenakan fungsinya khusus dan juga

- 27 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


memerlukan

perhatian

yang

khusus

(keamanannya,

selektifitasnya,

kecepatannya), maka dipisahkan fungsinya dari informasi data.

Perangkat PLC mempunyai prinsip kerja seperti perangkat radio yang


mempunyai sistem pemancar dan penerima dimana informasi dimodulasikan ke
frekuensi tertentu (40 kHz 500 kHz) yang kemudian disalurkan melalui saluran
udara tegangan tinggi yang berfungsi sebagai antena.
Dengan metode modulasinya komunikasi PLC dapat digunakan secara full
duplex (ini dapat kita rasakan sewaktu kita menggunakan pesawat telepon yang
langsung melalui PLC, pembicaraan dua arah dapat dilakukan tanpa dirasakan
adanya delay waktu)

Pemilihan frekuensi ini dengan pertimbangan apabila di bawah 40 kHz maka


redaman sinyal di line trap akan tinggi, dan juga keterbatasan bandwidth dari
peralatan

coupling

(Coupling

capacitor,

cvt,

LMU),

sedangkan

apabila

frekuensinya lebih dari 500 kHz maka muncul redaman akibat radiasi (skin effect
radiation), menginterferensi siaran radio, dan juga redaman pada konduktor
cukup tinggi. Di beberapa negara untuk sistem ini dibatasi antara 40khz 500
kHz dikarenakan frekuensi diatasnya ataupun di bawahnya digunakan untuk
frekuensi Radar Beacon
(radar navigasi laut dan udara).
Pada sistem Telekomunikasi PLC peralatan yang kita perlu ketahui adalah
sebagai berikut :
1. Line Trap
2. Coupling capasitor (CC atau CVT)
3. Line Matching Unit
4. Kabel koaksial
5. Peralatan SSB PLC

Koneksi ke Suara, melalui PABX / Pesawat Telepon

Koneksi ke Data, melalui RTU

Koneksi ke Teleproteksi,

- 28 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


6. Catu Daya

Gambar 2. Sistem Power Line Carrier

1. Line Trap
Line Trap adalah peralatan berupa induktor yang cukup besar yang gunanya
untuk memblok frekuensi tinggi (40 kHz 500 kHz) agar tidak diteruskan ke arah
trafo, PMT, PMS dan peralatan lainnya yang ada di switch yard dan Gardu Induk.
Peralatan ini tetap menyalurkan frekuensi rendah 50 Hz, yang merupakan
frekuensi sistem tenaga listrik.
2. Coupling Capacitor

- 29 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


Peralatan ini berfungsi sebagai penerus sinyal yang membawa berfrekuensi
tinggi ke konduktor transmisi tegangan tinggi. Suatu kapasitor mempunyai sifat
menahan frekuensi rendah (50 Hz) dan meneruskan frekuensi yang tinggi
(frekuensi kerja PLC 40 kHz 500 kHz).

Gambar 2. Line Trap dan Coupling Capacitor


3. Line Matching Unit
Fungsi LMU ini adalh menyesuaikan karakteristik impedansi saluran udara
tegangan tinggi (300 ohm) dengan impedansi yang ada di kabel koaksiaal (75
ohm) yang menuju PLC, pada peralatan ini berisi komponen-komponen berupa
induktor dan kapasitor yang membentuk filter pasif band pass.
Fungsi lain dari peralatan ini adalah sebagai penjaga / pelindung peralatan PLC
dari tegangan sisa yang mungkin tembus dari coupling kapasitor / CVT.
4. Kabel Koaksial
Berfungsi menyalurkan frekuensi kerja PLC, bila kita ukur di kabel ini akan
terdeteksi frekuensi kerja PLC antara 40 kHz 500 kHz. Impedansi kabel
koaksial ini adalah 75 ohm. Kabel yang digunakan untuk outdoor apabila cukup
jauh biasanya menggunakan pelindung, untuk menghindari kerusakan fisik dan
juga bocornya frekuensi.
5. Peralatan SSB PLC
Peralatan ini merupakan pemancar dan penerima dengan menggunakan sistem
modulasi amplitudo, single side band. Di peralatan ini informasi (suara, data,
teleproteksi) yang aslinya dari frekuensi audio dimodulasikan kefrekuensi tengah

- 30 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


(intermediate) dan kemudian dimodulasikan akhir ke frekuensi tinggi / frekuensi
pembawa.
Teleproteksi
Merupakan peralatan bantu untuk mendapatkan percepatan waktu secara
selektif ke peralatan distance relay. Prinsip dasar dari kerja peralatan ini adalah
perpanjangan kontak dengan kecepatan tinggi antar gardu induk yang akan
dibuka PMT nya, dengan melalui media komunikasi PLC.
PAX
Merupakan peralatan switching suara, atau switching saluran telepon agar
pembicaraan melalui pesawat telepon dapat diarahkan ke pesawat telepon lain
yang kita inginkan.
RTU
Peralatan ini berfungsi sebagai pengumpul informasi, dan perintah yang
kemudian disalurkan ke kontrol center. Peralatan ini berisi transducer-transducer
yang berfungsi mengukur mis. Mw. Mvar, kv, a. Juga berisi relay-relay untuk
status buka tutup PMt dan juga relay-relay yang berfungsi untuk melakukan
remote control penggerak motor-motor PMT.
6. Catu daya
Catu daya yang digunakan dalam sistem ini adalah 48 volt DC, yang
dibangkitkan dari rectifier yang di dukung dengan suplai cadangan batere.
Umumnya satu peralatan telekomunikasi PLC, menggunakan daya kurang lebih
200 Watt. Dengan sistem pentanahan Positive Grounding.
SISTEM TELEKOMUNIKASI FIBER OPTIK
Seiring masuknya proyek JWOTS di PLN yang diimplementasikan disekitar
tahun 1990 an, maka dimulailah era penggunaan telekomunikasi melaluli fiber
optik di PLN. Pada awalnya penggunaan Telekomunikasi FO ini digunakan untuk
voice dan data RTU, yang kemudian meningkat ke Video conference, dan juga
digunakan untuk fasilitas teleproteksi. Teleproteksi yang menggunakan fasilitas
FO adalah :

- 31 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


SUBSTATION 500 kV

Merk

Type

CLGON CIBNG

ABB

FOX U NSD70

CLGON SLAYA

NOKIA

TPS 64

CIBNG SGLNG

ABB

FOX U NSD70

CRATA CBATU

NOKIA

TPS 64

CBATU MTWAR

NOKIA

TPS 64

GRSIK KRIAN

ABB

FOX 20

KRIAN GRATI

NOKIA

TPS 64

GRATI PITON

NOKIA

TPS 64

CWANG BKASI

NOKIA

TPS 64

PEDAN KDIRI

NOKIA

VFEM / SAINCo

KDIRI - PITON

ECI

DIP 5000

Tabel 1. GITET yang menggunakan Teleproteksi FO

Prinsip kerja dari peralatan fiber opttik adalah, menyalurkan informasi yang
dimodulasikan dalam bentuk sinar yang disalurkan ke dalam serat optik.

7. MINI MASTER DI UPT


Mini Master yang dipasang di UPT

merupakan suatu sistem pengolah

data yang berbasis PC windows . Sistem ini berfungsi memonitor semua status,
telemetering dan kejadian (event) dari semua Gardu Induk yang menjadi
wewenang

suatu

UPT.

Data

kejadian

ini

digunakan

untuk

kebutuhan

maintenance, analisa dan laporan.

Mini Master yang dipasang di UPT

menerima data dari RTU Concentrator yang

kesehariannya mengirimkan data ke Regional Control Centre (RCC). Data yang


diperoleh dari RTU Concentrator dapat sama atau berbeda dengan data yang

- 32 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


diterima oleh RCC. Sistem dirancang untuk tidak mengganggu komunikasi data

existing dari RTU Concentrator ke RCC. Secara garis besar Mini Master yang
dipasang di UPT

digambarkan sebagai berikut :

RTU Satelite

RTU Satelite

RTU Satelite

RTU Satelite

RTU Concentatror
RCC
Modem

Sound alarm
LAN

Server /
Komputer
Logger/Print
erPPrinter

Client

Mini Master yang dipasang di UPT


1. FUNGSI

- 33 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer

Mini Master yang dipasang di UPT

berfungsi untuk menampilkan dan

mengolah data :

a. Status peralatan
Menampilkan dan menyimpan data kondisi status dari peralatan yang
dimonitor antara lain :
-

Status
Status
Status
Status

Open/Close PMT
Open/Close PMS
Open/Close PMS Tanah
Local/Remote

Display

GI

Pulogadung

b. Alarm
Alarm yang timbul pada peralatan gardu induk dan menjadi wewenang Tragi
dapat ditampilkan berupa daftar alarm ataupun grafis, misalnya:
-

DC source
Busbar Protection
Line Protection
Trafo Alarm
Communication Failure

- 34 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer

Tampilan daftar alarm


c. Logging
Alarm dan perubahan status dapat ditampilkan dalam logger serta dapat
dihitung pula rentang waktunya.

d. Telemetering
Data telemetering dari setiap gardu induk dapat ditampilkan berupa besaran
nilai ataupun grafis, seperti :
-

Daya Active ( MW )
Daya Reactive ( MVAR )
Tegangan ( KV )
Arus ( Amp )
Tap Changer Trafo

e. Record Data
Semua data pengukuran maupun event dapat disimpan dalam suatu file
tertentu dan memudahkan untuk membuat laporan bagi suatu UPT. Data
tersebut dapat dimunculkan dalam format yang lain misalnya dalam bentuk
file Excel atau database SQL dan dapat secara otomatis dikirim dengan email.

f. Tampilan
Data-data disajikan dalam bentuk grafis berbasis windows yang interaktif.

- 35 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer

Tampilan berbasis windows

g. Pengembangan
Sistem minimum awal dapat dikembangkan menjadi sistem yang lebih besar
dengan mudah dan bersifat open system.

2. HASIL PENGUJIAN
Pengujian yang

telah dilakukan pada UPT Jaktim di GI Pulogadung pada

tanggal 2 Februari 2000 yang mencakup GI Pulogadung, GI Tosan Prima, GI


Penggilingan, dan GI Pangeran Karang dengan hasil memuaskan, dalam arti
kebutuhan informasi pemeliharaan dapat terpenuhi dari informasi yang
ditampilkan oleh Mini Master yang dipasang di GI Pulogadung ,

- 36 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer

Konfigurasi Aplikasi di TRAGI Pulogadung


3. MANFAAT LAIN YANG MASIH DALAM PENGEMBANGAN
Selain fungsi monitoring dan record data di atas, masih terdapat fungsi lain
yang saat ini sedang dikaji dan dikembangkan, agar tugas-tugas rutin UPT
yang saat ini dapat digantikan dengan peralatan, karena semua data operasi
yang terjadi di gardu Induk sudah terrecord di mesin komputer, antara lain:

a. Alarm
Alarm yang terjadi di setiap Gardu Induk dapat ditampilkan sesuai yang
muncul pada panel gardu induk, dimana alarm pada masing-masing kejadian
dapat dimonitor dan dianalisa sesuai dengan kebutuhan UPT.

b. Telemetering

- 37 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


Telemetering yang saat ini hanya mengukur besaran yang diperlukan untuk
operasi tenaga listrik dapat ditambahkan pengukuran yang digunakan untuk
transaksi energi, misalnya MWh, dengan menambahkan meter digital pada
sisi yang diukur.

c. Statistik
Data statistik dari masing-masing jenis peralatan tercatat dalam database
yang termodifikasi secara otomatis dari hasil monitoring kejadian. Hal ini
diperlukan

untuk

analisa

(preventive

maintenance)

sehingga

regu

pemeliharaan dapat memperkirakan waktu pemeliharaan yang optimum.


Selain fungsi maintenance, database dapat dipergunakan untuk menganalisa
kejadian sehingga hasil yang didapat mempunyai akurasi yang tinggi. Datadata statistik antara lain:
-

Jumlah
Jumlah
Jumlah
Jumlah

ON/OFF tiap PMT


gangguan per alat dan GI
gangguan per alat dan per UPTi
gangguan per hari/bulan/Tahun, dll

d. Report
Data-data yang tersimpan dalam file database, dapat dibuat suatu format
laporan yang disesuaikan dengan format laporan UPT, ataupun laporan untuk
Region. Misalnya :
-

Laporan gangguan per UPT per hari/minggu/bulan


Laporan beban trafo harian, mingguan
Laporan open/close masing-masing PMT ( prefentive maintenance ), dll

c. Networking dan Local Area Network


Struktur jaringan

Mini Master yang dipasang di UPT

yang berupa LAN

dapat dihubungkan ke suatu WAN yang memungkinkan dilakukannya


monitoring oleh Region. Data-data yang diperoleh dari Mini Master yang

dipasang di UPT

dapat juga ditampilkan di intranet/internet.

- 38 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer

Kemungkinan Pengembangan Mendatang

8.FASILITAS OPERASI GARDU INDUK

SEMUA PERALATAN UNTUK KEPERLUAN OPERASI :

SISTEM PENGAMAN
SISTEM PENGATURAN PENGAWASAN
SISTEM KOMUNIKASI
SISTEM PENDINGIN
SISTEM PENTANAHAN
SISTEM POWER SUPPLY
SISTEM PENGGERAK PMT DAN PMS

1.2 SISTEM PENGATURAN PENGAWASAN :

- 39 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


PENGAWASAN ( SUPERVISORY )

TUJUAN PENGAWASAN :
Untuk mendapatkan gambaran keadaan operasi sistem tenaga listrik dan kondisi
peralatan agar supaya fluktuasi abnormal sistem dan peralatan dapat diketahui.

INSTRUMEN YANG DIGUNAKAN :


Instrumen penunjuk, meter pencatat, instrumen penunjuk dan pencatat.

INFORMASI YANG DIBERIKAN :


Tegangan, arus, daya, terbuka atau tertutupnya pemutus beban dan pemisah,
keadaan operasi dan gangguan pada pengatur tegangan dan peralatan lainnya
dalam gardu.

1.3 PENCATATAN ( RECORDING )

TUJUAN PENCATATAN :
Untuk mencatat keadaan operasi dari sistem dan peralatan yang berguna untuk
perancangan instalasi, perancangan pemeliharaan dan operasi sistem.

ALAT PENCATAT :
Alat pencatat yang sering dijumpai di gardu induk yaitu : Buku harian dan
printer.

TEKNOLOGI RECORDING :
Pencatatan dapat dilakukan secara manual oleh operator gardu induk atau
terintegrasi dengan sistem komputer sehingga dapat dilakukan pencataan
otomatis.

1.4 PENGATURAN ( CONTROLING )


- 40 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


TUJUAN PENGATURAN :
Untuk bekerjanya objek-objek yang diatur oleh operator gardu induk dalam
operasi normal sesuai pertimbangan dan jadwal yang telah ditentukan terlebih
dahulu.
OBJEK YANG DIATUR :
Pemutus beban dan pemisah, pengatur tegangan transformator dan pengubah
tap pada transformator.

TEKNOLOGI PENGATURAN :

PERKEMBANGAN SISTEM PENGAWASAN DAN PENGATURAN

PENGAWASAN DAN PENGATURAN SERTA PENGOLAHAN DATA :


Dilakukan secara manual oleh operator gardu induk.

PENGAWASAN DAN PENGATURAN SERTA PENGOLAHAN BERBASIS KOMPUTER


Dilakukan secara otomatis dengan bantuan komputer.

SUPERVISORY CONTROL AND DATA ACQUISITION ( SCADA )


Dilakukan secara otomatis dengan bantuan komputer dan terintegrasi dengan
pusat

pengatur.

Sehingga

data-data

operasional

seperti

Telemetering,

Telesignalling dan Remote Control di gardu induk dapat termonitor secara real
time pada pusat pengatur.

- 41 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer

Gambar Sistem MINI MASTER UPT

SISTEM TELEMETERING ( TM )

PARAMETER YANG DIUKUR :


Tegangan, arus, daya aktif dan daya reaktif

TEKNOLOGI TELEMETERING :
Data untuk telemetering diperoleh dari CT/PT pengukuran, outputnya akan
digunakan sebagai input bagi transducer. Output transduser akan diterima oleh
komputer dan dengan

media komunikasi PLC/FO, data telemetering ini akan

dikirimkan ke pusat pengatur.

PERANGKAT TM DI GARDU INDUK :


CT dan PT pengukuran, Transducer, Meter , Panel interface ( MDF ).

SISTEM REMOTE CONTROL ( RC )

- 42 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


PERALATAN YANG DILENGKAPI RC :
Pemutus beban, pemisah dan pengubah tap transformator.

TEKNOLOGI RC :
Peralatan di switchgear yang dapat di remote dari pusat pengatur akan
terhubung ke relai-relai pada panel kontrol melalui panel interface. Dari panel
interface ini relay akan dihubungkan dengan sistem komputer, sehingga dapat
dilakukan remote control dari pusat pengatur.

PERANGKAT RC DI GARDU INDUK :


Peralatan yang motorized, relai dan relai bantu.

SISTEM TELESIGNALLING ( TS )

PERALATAN YANG DILENGKAPI TS :


Semua status dan indikasi yang terdapat di panel kontrol.

TEKNOLOGI TS :
Limit switch seluruh peralatan gardu induk akan terhubung ke peralatan
komputer mealui panel interface. Beberapa indikasi alarm dari panel kontrol juga
terhubung ke peralatan komputer di gardu induk melalui panel interface.
Sehingga melalui media komunikasi PLC dan FO semua indikasi telesignalling
akan terkirim ke pusat pengatur.

PERANGKAT TS DI GARDU INDUK :


Limit Switch, Relai dan relai bantu

REMOTE TERMINAL UNIT ( RTU )

PENGERTIAN RTU :
- 43 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


Perangkat

elektronik

yang

terpasang

di

gardu

induk

yang

berfungsi

mengumpulkan status indikasi, pengukuran data operasi gardu induk dan remote
control dari pusat pengatur secara real-time.

PERANGKAT RTU :
Perangkat utama yang terdapat pada RTU yaitu :
Power Supply
CPU (Central Processing Unit)
Modul Memory
Modul Komunikasi
Modul I/O (Digital Input, Digital Output, Analog Input, Analog Output, Tap
Changer)
Modul Analog to Digital

TYPE RTU :
EPC3200(Cegelec-Alstom), S900 (Alstom), INDACTIC 233 (ABB), ScadaPack
(Controlmicrosystem), IDS850 (IDS BERCA) dan lain-lain
RTU YANG TERPASANG DI GARDU INDUK :

RTU yang terpasang pada gardu induk P3B Jawa Bali yaitu :
P3B Jawa Bali : EPC3200 dan S900
Region Jakarta dan Banten

: EPC3200, S900 dan ScadaPack32

Region Jawa Barat

: EPC3200, S900 dan D20Haris

Region Jawa Tengah dan DIY

: Indactic 233

Region Jawa Timur dan Bali

: EPC3200

- 44 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer

Gambar RTU Tipe S900


1.5 GANGGUAN TM DAN PERBAIKANNYA

Gangguan telemetering disebabkan oleh beberapa hal, yaitu :


a. Transducer rusak
b. Wiring input dan output transducer salah
c. Range measurement dan ouput transducer tidak sesuai dengan database
master.
d. Ratio CT/PT yang terpasang tidak sesuai dengan database master
e. Ada kerusakan modul I/O untuk analog input atau modul ADC

- 45 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer

Langkah-langkah perbaikannya :
a. Perlu diadakan pengecekan transducer (kalibrasi transducer) apabila sudah
rusak total perlu diadakan penggantian.
b. Adakan pemeriksaan wiring input baik CT dan PT sesuaikan dengan gambar
spesifikasi untuk masing-masing transducer.
c. Laporkan name plate transducer kepada petugas database master agar
diadakan pengecekan apakah sudah sesuai dengan database master.
d. Laporkan ratio CT/PT yang terpasang untuk pengukuran kepada petugas
database master agar diadakan pengecekan apakah sudah sesuai dengan
database master.
e. Lakukan penggantian modul I/O analog input atau modul ADC.

Gambar Transducer

- 46 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


GANGGUAN RC DAN PERBAIKANNYA

Gangguan gagal remote yang sering terjadi disebabkan beberapa faktor antara
lain :
a. Terjadi kerusakan pada modul I/O digital output
b. Terjadi kerusakan pada wiring antara RTU dan panel kontrol
c. Terjadi kesalahan setting waktu secara software, biasanya pada saat remote
close.

Langkah-langkah perbaikannya:
a. Lakukan pemeriksaan modul I/O digital output
b. Lakukan pemeriksaan wiring dengan bantuan gambar.
c. Petugas database master akan melakukan perubahan software.

GANGGUAN TS DAN PERBAIKANNYA


Gangguan telesignalling atau indikasi (invalid) sering terjadi dan penyebabnya
adalah :
a. Terjadi kerusakan pada modul I/O digital input
b. Wiring indikasi terputus
c. Limit switch tidak terhubung

Langkah-langkah perbaikannya:
a. Lakukan pemeriksaan modul I/O digital input
b. Lakukan pemeriksaan wiring dengan bantuan gambar.
c. Lakukan pemeriksaan limit switch dan bersihkan limit switch .

- 47 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer

Gambar Main Distribution Frame (MDF)

GANGGUAN RTU PERBAIKANNYA


Apabila RTU off tidak operasi ada beberapa kemungkinan yang menjadi
penyebabnya yaitu :
a. Input utama 48 VDC off
b. Modul Power Supply off/rusak
c. Program dan data yang ada di CPU hilang
d. Modul CPU rusak
e. Modul I/O ada yang short/rusak

Langkah-langkah perbaikannya :
a. Apabila sumber utama off, lakukan pemeriksaan rectifier 48 VDC dalam
kondisi normal atau tidak, apabila normal usahakan supply ke RTU on-kan
kembali.

- 48 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006

Pengenal dan Penggunaan Fasilitas Operasi Gardu Berbasis Komputer


b. Apabila modul Power Supply yang off/rusak lakukan pemeriksaaan terlebih
dahulu di fuse-nya, lakukan penggantian apabila putus dan Power Supply bisa di
on-kan kembali dan bila fuse tidak putus kemungkinan modul Power Supply
mengalami kerusakan maka lakukan penggantian Modul Power Supply.
c. RTU off dan Modul Power Supply masih on, langkah pertama yang harus
dilakukan reset RTU dengan cara mematikan dan mengon-kan kembali switch
Power Supply, akan tetapi yang sering terjadi apabila RTU off adalah CPU
kehilangan program dan data akibat kejutan pada sistem Power Supply, yang
harus dilakukan meloading ulang program dan data RTU, bila setelah diloading
berulang kali RTU masih juga off, maka harus dilakukan penggantian modul CPU.

- 49 -

Doc.U.Bogor/RJKB/2006