Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Singosari adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa
Timur, Indonesia. Kecamatan ini berada di sebelah utara Kota Malang, dan dilintasi
jalur utama Surabaya-Malang. Terletak pada ketinggian 400-700 meter dpl, Singosari
beriklim sejuk. Daerah yang lebih tinggi berada di sebelah barat di kaki Gunung
Arjuno dimana sebagian besar wilayahnya diperuntukkan bagi perkebunan (kopi),
kehutanan (mahoni) dan peternakan (ayam) sehingga populasi penduduknya jarang.
Nama Singosari berasal dari Singhasari, sebuah kerajaan besar pada abad ke
10 yang ibukotanya berada di wilayah kecamatan ini dengan rajanya yang terkenal
bernama Kertanegara. Keturunan dari Kertanegara adalah Wijaya yang menjadi
pendiri Kerajaan Majapahit.
Pesatnya perkembangan Kota Malang serta letak Kecamatan Singosari yang
berbatasan langsung dengannya menjadikan seolah-olah Kecamatan Singosari
menyatu dengan Kota Malang terutama di sepanjang poros jalan raya MalangSurabaya. Karena lokasinya yang strategis, beberapa industri besar dan menengah
membangun pabriknya di Singosari, antara lain :
* PT. Bentoel
* PT. Sido Bangun
* PT. Beiersdorf Indonesia
* PT. Morodadi Prima
* PT. Phillip Morris
* PT. Indomarine, dan lain-lain.
Selain semua yang telah disebutkan di atas, Singosari juga memiliki beberapa
tempat yang berpotensi sebagi tempat wisata budaya. Yakni Candi Singosari,
Pemandian Kendedes, Candi Sumberawan, dan Pemandian Watugede. Selanjutnya
akan dibahas lebih lanjut tentang tempat tempat wisata yang telah disebutkan di
atas.
1.2 Pokok Masalah

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka pokok permasalahan


dalam makalah ini dapat di rumuskan sebagai berikut :
1. Dimanakah tempat tempat yang berpotensi sebagai tempat wisata budaya di
Kecamatan Singosari?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui dimanakah tempat tempat yang berpotensi sebagai tempat
wisata budaya di Kecamtan Singosari.
2. Untuk memenuhi syarat kelulusan nilai pada mata kuliah Pengetahuan Dasar
Kepariwisataan dan Perhotelan.
1.4 Manfaat Penelitian
Selain itu manfaat yang didapat oleh penulis dalam penelitian adalah :
1.4.1

Manfaat Khusus
Secara khusus penyusunan makalah ini diharapkan dapat membuat
penulis lulus dalam penilaian pada mata kuliah Pengetahuan Dasar
Pariwisata dan Perhotelan. Selain itu juga untuk menambah wawasan
penulis, serta melatih penulis agar terbiasa menyusun makalah dengan
format yang benar. Agar saat penyusunan makalah tugas akhir penulis
sudah tidak kebingungan bagaimana format yang benar.

1.4.2

Manfaat Umum
Semoga hasil makalah ini dapat memberi masukan untuk
pemerintah Kecamatan Siangosari bagaimana mengembangkan tempat
tempat wisata budaya di daerah tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Candi Singosari
2.1.1 Sejarah
Sejarah Kerajaan Singasari berawal dari daerah Tumapel, yang dikuasai oleh
seorang akuwu (bupati). Letaknya di daerah pegunungan yang subur di wilayah
Malang, dengan pelabuhannya bernama Pasuruan.
Kerajaan Singhasari atau sering pula ditulis Singasari, adalah sebuah kerajaan
di Jawa Timur yang didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222. Lokasi kerajaan ini
sekarang diperkirakan berada di daerah Singosari, Malang. Berdasarkan prasasti
Kudadu, nama resmi Kerajaan Singhasari yang sesungguhnya ialah Kerajaan
Tumapel. Menurut Nagarakretagama, ketika pertama kali didirikan tahun 1222, ibu
kota Kerajaan Tumapel bernama Kutaraja.
Menurut Pararaton, Tumapel semula hanya sebuah daerah bawahan Kerajaan
Kadiri. Yang menjabat sebagai akuwu (setara camat) Tumapel saat itu adalah Tunggul
Ametung. Ia mati dibunuh secara licik oleh pengawalnya sendiri yang bernama Ken
Arok, yang kemudian menjadi akuwu baru.
Pada tahun 1222 terjadi perseteruan antara Kertajaya raja Kadiri melawan
kaum brahmana. Para brahmana lalu menggabungkan diri dengan Ken Arok yang
mengangkat dirinya menjadi raja pertama Tumapel bergelar Sri Rajasa Sang
Amurwabhumi. Perang melawan Kadiri meletus di desa Ganter yang dimenangkan
oleh
pihak
Tumapel.
Nagarakretagama juga menyebut tahun yang sama untuk pendirian Kerajaan Tumapel,
namun tidak menyebutkan adanya nama Ken Arok. Dalam naskah itu, pendiri
kerajaan Tumapel bernama Ranggah Rajasa Sang Girinathaputra yang berhasil
mengalahkan Kertajaya raja Kadiri.
Kisah suksesi raja-raja Tumapel versi Pararaton diwarnai pertumpahan darah
yang dilatari balas dendam. Ken Arok mati dibunuh Anusapati (anak tirinya).
Anusapati mati dibunuh Tohjaya (anak Ken Arok dari selir). Tohjaya mati akibat
pemberontakan Ranggawuni (anak Anusapati). Hanya Ranggawuni yang digantikan
Kertanagara (putranya) secara damai.
Sementara itu versi Nagarakretagama tidak menyebutkan adanya pembunuhan
antara raja pengganti terhadap raja sebelumnya. Hal ini dapat dimaklumi karena
Nagarakretagama adalah kitab pujian untuk Hayam Wuruk raja Majapahit. Peristiwa
berdarah yang menimpa leluhur Hayam Wuruk tersebut dianggap sebagai aib.

Kertanagara adalah raja terakhir dan raja terbesar dalam sejarah Singhasari
(1268 - 1292). Ia adalah raja pertama yang mengalihkan wawasannya ke luar Jawa.
Pada tahun 1275 ia mengirim pasukan Ekspedisi Pamalayu untuk menjadikan pulau
Sumatra sebagai benteng pertahanan dalam menghadapi ekspansi bangsaMongol. Saat
itu penguasa pulau Sumatra adalah Kerajaan Dharmasraya (kelanjutan dari Kerajaan
Malayu). Kerajaan ini akhirnya tunduk dengan ditemukannya bukti arca Amoghapasa
yang dikirim Kertanagara sebagai tanda persahabatan kedua negara.
Pada tahun 1284, Kertanagara juga mengadakan ekspedisi menaklukkan Bali.
Pada tahun 1289 Kaisar Kubilai Khan mengirim utusan ke Singhasari meminta agar
Jawa mengakui kedaulatan Mongol. Namun permintaan itu ditolak tegas oleh
Kertanagara. Nagarakretagama menyebutkan daerah-daerah bawahan Singhasari di
luar Jawa pada masa Kertanagara antara lain, Melayu, Bali, Pahang, Gurun, dan
Bakulapura.
Kerajaan Singhasari yang sibuk mengirimkan angkatan perangnya ke luar
Jawa akhirnya mengalami keropos di bagian dalam. Pada tahun 1292 terjadi
pemberontakan Jayakatwang bupati Gelang-Gelang, yang merupakan sepupu,
sekaligus ipar, sekaligus besan dari Kertanagara sendiri. Dalam serangan itu
Kertanagara mati terbunuh. Setelah runtuhnya Singhasari, Jayakatwang menjadi raja
dan membangun ibu kota baru di Kadiri. Riwayat Kerajaan Tumapel-Singhasari pun
berakhir.
Pada tahun 1293 datang pasukan Mongol dipimpin Ike Mese untuk
menaklukkan Jawa. Mereka dimanfaatkan Raden Wijaya untuk mengalahkan
Jayakatwang di Kadiri. Setelah Kadiri runtuh, Raden Wijaya dengan siasat cerdik
ganti mengusir tentara Mongol keluar dari tanah Jawa. Raden Wijaya kemudian
mendirikan Kerajaan Majapahit sebagai kelanjutan Singhasari, dan menyatakan
dirinya sebagai anggota Wangsa Rajasa, yaitu dinasti yang didirikan oleh Ken Arok.
(wikipedia)
Itulah sejarah berdiri sampai berakhirnya Kerajaan Singasari. Dan kini hanya
meniggalkan peniggalan berupa candi, prasasti, dan beberapa arca.
2.1.2

Lokasi dan Kondisi Tempat

Terletak didesa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.


Ditemukan pada sekitar awal abad 18 (tahun 1800-1850) dengan pemberian
nama/sebutan Candi Menara oleh orang Belanda. Mungkin pemberian nama ini
disebabkan bentuknya yang menyerupai menara. Sempat juga diberi nama Candi
Cella oleh seorang ahli purbakala bangsa Eropa dengan berpedoman adanya empat
buah celah pada dinding-dinidng dibagian tubuhnya. Juga menurut laporan dari W.
Van Schmid yang mengunjungi candi ini pada tahun 1856, penduduk setempat
menamakan Candi Cungkup. Akhirnya nama yang hingga sekarang dipakai adalah

Candi Singosari karena letaknya di Singosari, adapula sebagian orang menyebutnya


dengan Candi Renggo karena letaknya didesa Candirenggo.
Candi Singosari terbuat dari batu andesit dengan bangunan yang menghadap
ke barat. Di halaman depan terdapat kumpulan patung, sementara di bawah terdapat
dua patung besar wali yang dikenal sebagai Dwarapala. Candi Singosari terdiri dari 4
bagian utama:
1.
2.
3.
4.

Bagian bawah berupa persegi empat yang dinamakan batur candi atau teras.
Kaki candi yang tinggi sekaligus sebagai ruangan tempat arca.
Tubuh candi yang langsing dengan empat relung di masing-masing sisinya.
Atap atau puncak yang menjulang makin mengecil di puncaknya.

Dalam agama Hindu, kaki candi (bhurloka) merupakan gambaran dari kaki
gunung atau alam manusia, badan candi (bwahloka) sebagai lereng gunung atau alam
langit, dan atap candi (swahloka) sebagai puncak gunung atau alam khayangansurgawi. Puncaknya ini berbentuk limas dengan atap pejal berbentuk kubus, begitu
pula keempat puncak lain yang mengelilinginya sudah runtuh.
Candi Singosari merupakan tiruan Gunung Meru yang berpuncak di Kaliasa
dan dikelilingi empat puncak yaitu Gunung Mandara, Gunung Gandhamana, Gunung
Vipula, dan Gunung Supasrsya. Anehnya di Jawa antara Gunung Meru dan Gunung
Mandara tidaklah dibedakan, Gunung Meru itu gunung Mandara dan Gunung
Mandara ya Gunung Meru.
Candi Singosari juga merupakan simbolisasi konsep Samodramanthana yaitu
pengadukan lautan susu dengan menggunakan Gunung Mandara sebagai antan hingga
keluarlah air suci atau amerta. Selain itu Candi Singosari juga merupakan simbolisasi
dari Lingga dan Yoni dimana terlihat dari terasnya yang memilki cerat pada sisi yoni
dan candinya sebagai lingga.
Didalam kompleks tersebut didapatkan tujuh buah bangunan candi yang sudah
runtuh dan banyak arca berserakan disana-sini. Salah satu dari tujuh candi yang dapat
diselematkan dari kemusnahan adalah candi yang sekarang kita sebut Candi
Singosari. Adapun arca-arcanya banyak yang dibawa ke Belanda. Bentuk bangunan
Candi Singosari sendiri bisa dibilang istimewa, karena candi itu seolah-olah
mempunyai dua tingkatan. Seharusnya bilik-bilik candi berada pada bagian badan
candi, pada Candi Singosari justru terdapat pada kaki candi. Bilik-bilik tersebut pada
awalnya juga terdapat arca didalamnya yakni disebelah utara berisi arca
Durgamahisasuramardhini, sebelah timur berisi arca Ganesha dan dibagian selatan
terdapat arca Resi Guru yang biasa terkenal dengan sebutan Resi Agastya. Namun
saat ini hanya tinggal arca Resi Agastya saja, sedangkan arca lainnya telah dibawa ke
Leidan - Belanda. Alasan mengapa arca resi Agastya tidak dibawa serta ke Belanda
adalah mungkin dikarenakan kondisinya yang sudah rusak cukup parah, sehingga
tidak layak dibawa sebagai hadiah kepada penguasa negeri belanda pada saat itu. Hal

lain yang menarik untuk diamati pada Candi Singosari ini adalah hiasan candi.
Umumnya bangunan candi dihias dengan hiasan yang rata pada seluruh badan atau
bagian candi. Pada Candi Singosari kita tidak mendapatkan hal yang demikian.
Hiasan Candi Singosari tidak seluruhnya diselesaikan. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa Candi Singosari dahulu belum selesai dikerjakan tapi kemudian
ditinggalkan.
2.1.3 Potensi
Letak candi yang tidak jauh dari jalan utama memudahkan wisatawan yang
ingin berkunjung ke tempat ini. Untuk sampai ke lokasi candi dapat ditempunh
menggunakan kendaraan mobil maupun sepeda motor. Jika menggunakan anggutan
umum bisa menaiki mobil angkutan KS bagi yang berasal dari wilayah Karangploso
dan sekitarnya. Sadangkan dari arah kota Malang maupun Surabaya, bisa berhenti di
pertigaan Garuda. Di pertigaan itu sudah menunggu banyak ojek yang siap mengantar
ke lokasi Candi. Selain ojek juga ada delman yang siap mengantar ke lokasi.
Adapun yang bisa dilakukan di kawasan ini adalah menikmati indahnya
arsitektur candi serta berfoto foto. Untuk masuk ke lokasi candi tidak dikenakan
biaya yang mahal.
2.1.3

Gambar Candi Singosari

Candi Singosari

Pintu masuk Candi Relung tempat arca

Atap Candi

Arca Resi Agastya

Patung Arca Dwarapala

Arca Shiwa

Arca
Durgamahisasuramardini.

2.2 Pemandian Kendedes


2.2.1 Sejarah
Tidak ada sejarah khusus tentang berdirinya pemandian ini. Konon,
pemandian ini adalah tempat bertemunya Ken Dedes dan Ken Arok. Tapi ada juga
yang mengatakan bahwa pemandian ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan
kisah Ken Dedes dan Ken Arok. Tapi cerita ini tidak ada hubungannya dengan
pemandian kendedes sekarang ini.
2.2.2

Lokasi dan Kondisi Tempat

Pemandian Kendedes adalah, salah satu rekreasi keluarga yang berada di


singosari di Kota Malang, dengan luas area 1,5 hektar, tempatnya cukup luas dan
dilengkapi berbagai fasilitas dan sarana, yang terletak dilereng gunung, tidaklah

heran kalau pemandian ini pemandangannya sangat indah, asri dan sejuk ,
pemandian ini juga sangat cocok, bagi keluarga yang ingin bersantai sambil
menikmati pemandangan alam, Pemandian Kendedes tepatnya berlokasi, di jalan
Kendedes, Kel. Candrenggo Kec. Singosari, Kab. Malang.
Pemandian ini mempunyai 3 kolam, yaitu kolam untuk anak-anak, kolam
untuk orang dewasa, serta kolam berukuran kecil yang dilengkapi dengan seluncuran.
Pemandian Kendedes yang berlokasi di daerah sejuk.
2.2.3

Potensi

Lokasi pemandian ini tidak jauh dari lokasi candi Singosari. Untuk sampai ke
lokasi ini, dari candi menuju ke utara. Sampai di pertigaan pertama belok kanan
menuju ke timur. Lalu pada pertigaan selanjunnya belok kiri ke arah utara lagi.
Setelah itu, akan sampai di lokasi yang berada di sebelah kanan jalan. Untuk
mempermudah bagi wisatawan, disarankan menggunakan jasa ojek atau delman saja.
Agar tidak bingung.
Pengunjung dapat menikmat pemandian Kendedes dengan tarip untuk Dewasa
dan anak-anak sebesar Rp. 6000,- (Enam ribu rupiah) dan dilengkapi beberapa
fasilitas yaitu, kereta mini, ayunan anak-anak, sewa ban dan baju renang, panggung
hiburan dan lain-lain, tersedia juga kamar mandi ganti baik pria maunpun wanita,
toilet, mushollah. Tempat parkir kendaraan roda dua dan roda empat. Terdapat pula
beberapa warung yang menyediakan makanan kecil. Bagi pengunjung yang ingin
naik kuda dari jalan raya ke lokasi atau sebaliknya dari lokasi ke jalan raya hanya
dikenakan tarip Rp. 3000,- (Tiga ribu rupiah) per orang.
2.2.4

Gambar Pemandian Kendedes

Pintu masuk

Kolam Pemandian

Kolam Pemandian

Kolam Pemandian

Kolam Pemandian
2.3 Candi Sumberawan
2.3.1 Sejarah
Candi Sumberawan pertama kali ditemukan pada tahun 1904. Pada tahun 1935
diadakan kunjungan oleh peneliti dari Dinas Purbakala. Pada zaman Hindia Belanda
pada tahun 1937 diadakan pemugaran pada bagian kaki candi, sedangkan sisanya
direkonstruksi secara darurat. Candi Sumberawan merupakan satu-satunya stupa yang
ditemukan di Jawa Timur.
Para ahli purbakala memperkirakan Candi Sumberawan ini memiliki nama asli
Kasurangganan, sebuah nama yang terkenal dalam kitab Negarakertagama. Tempat
tersebut telah dikunjungi Hayam Wuruk pada tahun 1359. Dari bentuk stupa,

diperkirakan Candi Sumberawan dibangun pada abad 14 hingga 15 masehi, pada


masa periode Majapahit.
Oleh karena bentuk candi adalah stupa, maka latar belakang agamanya adalah
Buddha. Para ahli menduga Candi Sumberawan ini digunakan sebagai tempat
pemujaan.. Tak jauh dari candi terdapat sebuah kolam untuk mengambil air suci.
Bahkan ada sebuah bilik sakral yang letaknya berada di pinggir telaga.
2.3.1 Lokasi dan Kondisi Tempat
Candi ini dibuat dari batu andesit dengan ukuran panjang 6,25 m, lebar 6,25
m, dan tinggi 5,23 m, dibangun pada ketinggian 650 m di atas permukaan laut, di kaki
bukit Gunung Arjuna. Pemandangan di sekitar candi ini sangat indah karena terletak
di dekat sebuah telaga yang sangat bening airnya. Keadaan inilah yang memberi nama
Candi Rawan.
Batur candi berdenah bujur sangkar, tidak memiliki tangga naik dan polos
tidak berelief. Candi ini terdiri dari kaki dan badan yang berbentuk stupa. Pada batur
candi yang tinggi terdapat selasar, kaki candi memiliki penampil pada keempat
sisinya. Di atas kaki candi berdiri stupa yang terdiri atas lapik bujur sangkar, dan lapik
berbentuk segi delapan dengan bantalan Padma, sedang bagian atas berbentuk genta
(stupa) yang puncaknya telah hilang. Karena ada beberapa kesulitan dalam
perencanaan kembali bagian teratas dari tubuh candi, maka terpaksa bagian tersebut
tidak dipasang kembali. Diduga dulu pada puncaknya tidak dipasang atau dihias
dengan payung atau chattra, karena sisa-sisanya tidak ditemukan sama sekali. Candi
Sumberawan tidak memiliki tangga naik ruangan di dalamnya yang biasanya
digunakan untuk menyimpan benda suci. Jadi, hanya bentuk luarnya saja yang berupa
stupa, tetapi fungsinya tidak seperti lazimnya stupa yang sesungguhnya. Diperkirakan
candi ini dahulu memang didirikannya untuk pemujaan.
2.3.2

Potensi

Candi Sumberawan terletak di Desa Toyomarto, Kec. Singosari, Kab. Malang,


Jawa Timur. Jika menggunakan angkutan umum, dari pasar Singosari naik MPU ke
Toyomarto turun di Stupa Sumberawan. Jalan menuju candi ini sudah beraspal. Bagi
Anda yang mengunakan sepeda motor bisa langsung sampai di lokasi candi. Namun
bila menggunakan mobil, harus memarkirnya di tepi jalan besar dan melanjutkan
perjalanan dengan berjalan kaki kira-kira sejauh 700 meter, sebab lebar jalan masuk
ke lokasi candi hanya sekitar 1 meter. Jalan tanah semi makadam, diapit oleh sawah
dan sungai kecil dari sumber air di dekat candi. Setelah melewati jalan sempit ini, dari
kejauhan akan melihat rerimbunan pohon pinus yang cukup lebat dan teduh, disitulah
Stupa Sumberawan berdiri. Dari uraian di atas, sangat jelas bahwa rute menuju lokasi
cukup sulit. Tapi setelah sampai, semua pengorbanan akan terbayar dengan keadaan
yang sejuk di daerah candi Sumberawan dan pemandangan yang indah.

10

Salah satu kegiatan keagaman yang ada yakni. Prosesi pembagian air berkah
yang merupakan penutup dari serangkaian prosesi upacara peringatan Waisak yang
dilakukan oleh umat Budha. Peringatan Waisak di lokasi Candi Sumberawan ini
disebut sebagai berbeda dengan peringatan Waisak dia lokasi-lokasi lainnya di
Indonesia. Candi Sumberawan berlokasi di Singosari Malang yang masuknya juga
masih jauh, sekitar 7 km dari pusat kecamatan Singosari. Ada beberapa situs yang
tersebar di kawasan purbakala kecamatan Singosari ini, namun situs Sumberawanlah
yang terjauh dari beberapa candi yang tersebar disini.
Tempat ini sangat sejuk dan asri, sangat cocok untuk tempat piknik bersama
keluarga. Tapi harus tetap menaati peraturan yang berlaku di candi.
2.3.3

Gambar Candi Sumberawan

Papan masuk

Danau di dekat candi

Candi Sumberawan

Sisa Stupa

11

Kolam air suci

Bilik Sakral

Tempat pemujaan
2.4 Pemandian Watugede
2.4.1 Sejarah
Tidak ada sejarah rinci tentang pemandian ini, seperti hanya pemandian
Kendedes. Petirtaan Watugede adalah tempat pemandian raja dan putri-putri Raja
pada zaman kerajaan Singosari (1222-1292). Konon putri Ken Dedes juga pernah
mandi di petirtaan ini. Petirtaan ini ditemukan pada tahun 1925 oleh seorang
arkeologi Belanda. Letak petirtaan Watugede di Desa Watugede atau 200 meter
sebelah timur stasiun kereta api Singosari. Tempat petirtaan ini sangatlah indah dan
teduh.
2.4.2

Lokasi dan Kondisi Tempat

Tempat yang disebut dengan Petirtaan Watugede ini terletak di Desa


Watugede, Kecamatan Singasari, Kabupaten Malang. Lokasi petirtaan ini cukup dekat
dengan jalan antar kota Malang-Surabaya, dan bisa dicapai baik dengan mobil
maupun sepeda motor. Tempatnya sangat teduh, rindang, asri, dan sejuk. Sangat
nyaman dijadikan tempat untuk melepaskan penat dari terik matahari di siang hari.

12

Terletak di lereng pegunungan dimana tempat ini banyak mata air atau sumber aimya,
sehingga udaranya masih asri dan sejuk.
Keunikan dari petirtaan ini adalah, keluarnya air jernih dari mulut area, dan
mengalir tidak ada hentinya terus-menerus sampai sekarang. Petirtaan Watugede
adalah sebuah pemandian kuno berbentuk empat persegi panjang dengan batu-batu
bata kuno berukuran besar-besar yang dapat dikatakan masih utuh dan berfungsi
sebagai dinding kolam. Sisa keindahan dari susunan batu bata ini masih dapat dilihat
meski banyak juga yang sudah berantakan. Di tepi petirtaan ini terdapat patungpatung kecil yang terus-menerus memancarkan air dari sumber dengan debit air yang
cukup besar. Air kolam di pemandian kuno ini dari jauh tampak berwarna kehijauhijauan. Di pojok kolam terdapat sebuah sumur dan tempat untuk meletakkan sesaji.
Kolam ini juga memiliki sebuah tangga dari batu untuk masuk ke dalam kolam.
Sebagian tangga batu tersebut masih utuh, namun ada beberapa bagian yang sudah
diganti dengan tangga dari semen.
Pemandian ini terdiri dari satu kolam kira-kira panjangnya 7 meter dengan
lebar sekitar 3 meter dengan sebuah paneuran yang berberbentuk area yang tidak
sempurna lagi. Kalau melihat gaya bangunannya mengingatkan bangunan semacam
ini di beberapa tempat di Bali. Yang menarik dari tangga batu ini adalah, bahwa salah
satu dari batu tersebut permukaannya berlubang-lubang dengan jarak beraturan. Batu
ini disebut Watu Dakon (batu dengan lubang-lubang dengan jarak tertentu seperti
dalam permainan tradisional yang disebut dakon). Menurut juru kunci, Watu Dakon
tersebut berfungsi sebagai penunjuk waktu untuk putri-putri Raja yang sedang mandi
di tempat tersebut. Tak jauh dari Watu Dakon ini, tepatnya di dekat sumur, juga
terdapat Batu Gores berjumlah tiga buah. Fungsi dari Batu Gores adalah untuk
mengasah pedang yang akan digunakan untuk melaksanakan hukuman pancung bagi
lelaki mana saja yang nekad menyusup ke dalam pemandian ini sebab hanya putri
Raja beserta dayang-dayang wanitanya saja boleh memasuki area pemandian ini.
Disekeliling pemandian itu ditubuhi pohon-pohon dan dipagari kawat berduri
kalau diperhatikan lebih teliti tampaknya banyak bangunan terkubur atau mungkin
rubuh adalah bangunan dari kompleks pemandian ini. Termakan usia adalah faktor
utama yang diperkirakan sebagai faktor perusak, tempat ini juga lembab. Juru kunci
Petirtaan Watugede mengatakan, bahwa pengunjung yang datang ke tempat ini berasal
dari wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Bandung, Jakarta, dan Jogjakarta. Menurut
keterangan juru kunci, setiap bulannya mereka yang datang ke tempat ini rata-rata
sekitar 1000 orang. Bagi pengunjung yang ingin ketempat ini, tidak dikenakan biaya,
cukup mengisi buku tamu saja. Kondisi petirtaan saat ini masih terpelihara dengan
baik.
2.4.3

Potensi

Rute menuju Pemandian ini sangat mudah. Arahkan kendaraan ke arah Stasiun
Singosari. Kemudian susuri rel kereta menuju timur, kira kira 200 meter dari jalan

13

raya di sisi kanan jalan. Ada sebuah taman yang mirip hutan yang ditumbuhi pohon
lebat. Disitulah lokasinya. Jika menggunakan kendaraan umum dari arah manapun,
rutenya juga tidak sulit. Cukup berhenti di Stasiun Singosari, kemudian berjalan
menuju timur kira kira 15 menit untuk menuju ke lokasi.
Kegiatan yang biasa dilakukan di sini salah satunya adalah pemujaan. Tempat
ini masih sangat terawat. Jadi masih cukup terasa kesan mistiknya. Tapi tidak perlu
khawatir selama tidak melanggar peraturan yang disebutkan juru kunci, maka tidak
akan terjadi hal hal yang tidak di inginkan. Tempat ini sangat indah dan sejuk sangat
cocok untuk bersantai dan berpiknik bersama keluarga.
2.4.4

Gambar Pemandian Watugede

Pintu masuk

Pemandian Watugede

Pemandian Watugede

Watu Dakon

14

Tempat meletakkan sesaji

Watu Gores

15

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Tempat tempat di Kecamatan Singosari yang berpotensi Menjadi Tempat
Wisata Budaya
Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa di wilayah Malang
khususnya Kecamatan Singosari terdapat beberapa tempat yang berpotensi menjadi
tempat wisata budaya. Hanya saja karena kurang dikenal oleh masyarakat tempat
tempat ini jadi jarang dikunjungi. Memang tidak semua tempat tersebut tidak dikenal
masyarakat (Candi Singosari dan Pemandian Kendedes), tepi sebagian besar masih
ada tempat yang belum di ketahui masyarakat umum. Tempat tempat tersebut yakni
Candi Singosari, Pemnandian Kendedes, Candi Sumberawan, dan Pemandian
Watugede.
BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN
4.1 Simpulan
Dari semua uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, di wilayah Kecamatan
Singosari sebenarnya juga bisa menjadi salah satu tempat wisata. Tidak hanya sebagai
tepat wisata saja, tapi juga bisa mendapatkan ilmu sejarah dengan berkunjung ke
tempat tempat ini. Karena tempat tempat ini masih terjaga keasriannya.
Tapi ada beberapa faktor yang menyebabkan tempat ini jarang di kunjungi
masyarakat yakni,
1. Kurangnya promosi dari pihak Kecamatan yang menyebabkan tempat
tempat ini jadi kurang diketahui oleh masyarakat umum.
2. Rute yang sulit unuk menuju ke lokasi.
3. Belum ada Something to Buy
4.2 Saran Saran
Jika dari 3 faktor di atas, Pemerintah Kecamatan dapat mengatasinya. Seperti,
untuk faktor ke-1: Pemerintah harus mempromosikan tempat tempat ini di kalangan
masyarakat. Untuk faktor ke-2: Pemerintah harus memperbaiki rute menuju lokasi
serta mempermudah menuju lokasi dengan menyediakan transportasi umum untuk
menuju lokasi. Dan untuk faktor ke-3: Pemerintah menghimbau masyarakat di sekitar
lokasi untuk menjual beberapa barang seperti souvenir atau cinderamata agar
wisatawan yang datang bisa membeli sesuatu saat berkunjung ke tempat tempat

16

tersebut. Selain membuat tempat wisata menjadi ramai dikunjungi, juga dapat
membantu perekonomian masyarakat.

17