Anda di halaman 1dari 38

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Semua jenis tanah bersifat lolos air (permeable) dimana air bebas mengalir
melalui ruang-ruang kosong (pori) yang ada di antara butiran-butiran tanah.
Permeabilitas tanah menunjukkan kemampuan tanah dalam meloloskan air. Tanah
dengan permeabilitas tinggi menaikkan laju infiltrasi dan dengan demikian,
menurunkan air larian. Pada teorinya semakin kecil ukuran partikel, semakin kecil
pula ukuran pori dan makin rendah koefisien permeabilitasnya.
Konduktivitas hidrolik tanah adalah ukuran kemampuan tanah untuk
melewatkan air dalam keadaan jenuh. Konduktivitas hidrolik merupakan
parameter permeabilitas tanah, hal tersebut dipengaruhi oleh gravitasi, tekstur
tanah dan struktur tanah. Semakin bagus nilai konduktivitas hidroliknya maka
semakin baik juga tanah tersebut dalam melewatkan air dalam keadaan jenuh.
Dengan begitu, praktikan dapat mengklasifikasikan jenis tanah tersebut dalam
karakteristik kelas drainase. Konduktivitas hidrolik umumnya diukur tiap
kedalaman 10 cm hingga kedalaman dengan nilai konduktivitas hidrolik yang
sangat kecil, yang menunjukkan bahwa lapisan impermeabel telah tercapai yang
biasanya pada kedalaman 60 cm. Akan tetapi pada praktikum kali ini,
konduktivitas hidrolik diukur pada kedalaman 30, 40, 50 dan 60 cm untuk
membandingkan bahwa apakah semakin dalam lubang maka semakin kecil pula
nilai konduktivitas hidroliknya. Pengukuran konduktivitas hidrolik menggunakan
sebuah alat ukur constant head permeameter.

1.2 Tujuan Praktikum


Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
1. Mahasiswa dapat mengukur konduktivitas hidrolik di lapangan pada tanah
di atas batas muka air tanah.
2. Mahasiswa mampu mengklasifikasikan karakteristik kelas drainase pada
suatu jenis tanah dengan menggunakan Constant Head Permeameter.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pengertian Konduktivitas Hidrolik


Konduktivitas hidrolik tidak selamanya tetap. Artinya dalam berbagai

proses (kimia, fisika dan biologi) konduktivitas hidrolik dapat berubah karena
faktor masuk dan mengalirnya air dalam tanah. Perubahan yang terjadi pada
komposisi ion kompleks dapat dipertukarkan. Misalnya ketika air memasuki tanah
mempunyai komposisi atau konsentrasi zat terlarut yang berbeda dengan larutan
awal dan dapat merubah konduktivitas hidrolik. Secara umum konduktivitas akan
berkurang bila konsentrasi zat terlarut elektrolit berkurang. Hal ini disebabkan
oleh penomena pengembangan dan dispersi yang juga dipengaruhui oleh jeni-jenis
kation (pada pelepasan dan perpindahan partikel-partikel lempung). Selama aliran
yang lama, bisa menghasilkan penyumbatan pori. Interaksi zat terlarut dan matrik
tanah dan pengaruhnya terhadap konduktivitas hidroulik khususnya penting pada
tanah-tanah masam dan berkadar natrium tinggi. (Anonim, 2010)
Konduktivitas hidrolik, K, (sering juga disebut sebagai permeabilitas atau
koefisien permeabilitas) merupakan tingkat di mana air tanah mengalir melalui
satuan luas akuifer atau akuitar di bawah gradien unit hidrolik. Konduktivitas
hidrolik memiliki dimens kecepatan (LT-1) dengan tipikal unit seperti ft/hari,
gal/(hari.ft2), m/detik, cm/detik, atau m/hari. Jika nilai konduktivitas hidrolik dan
gradient hidrolik telah diketahui, besar kecepatan airtanah, v, dapat dihitung
menggunakan hukum darcy. (Dawson and Istok, 1991) Parameter hidrogeologi
dasar, seperti konduktivitas hidrolik atau porositas, dapat diukur dengan
menggunakan beberapa contoh kecil yang dikumpulkan selama kegiatan
pengeboran di daerah tertentu. Perlu dicatat bahwa jika sampel yang digunakan
tidak terganggu, hasil pengukuran akan dapat mewakili nilai konduktivitas
hidrolik dititik tersebut. Konduktivitas hidrolik di zona jenuh dapat diukur dengan
dua jenis peralatan laboratorium: constant head permeameter dan falling head
permeameter.

Constant

head

permeameter

digunakan

untuk

mengukur

konduktivitas hidrolik untuk sedimen nonkohesif, seperti untuk tanah pasir


misalnya. Dalam hal ini, hukum Darcy diterapkan pada sampel tanah dengan

panjang L dan luas penampang A yang mengalirkan aliran konstan Q dihasilkan


oleh perbedaan constant head.
Sedangkan permeabilitas digunakan sebagai persamaan untuk Ks
(keterhantaran hidrolik jenuh). Hukum Darcy menunjukkan bahwa kecepatan
aliran (flux) adalah sama dengan Ks hanya jika gradient hidrolik sama dengan 1.
Sehingga menyebabkan nilai kecepatan aliran tidak sama. (Anonim, 2007)
Parameter atau ukuran yang dapat menggambarkan kemampuan tanah
dalam melewatkan air disebut sebagai konduktivitas hidrolik (hydraulic
conductivity) (Klute dan Dirksen1986 diacu dalam Kurnia et al.2006). Tingkat
kemampuan tanah untuk melewatkan air sangat dipengaruhi oleh kadar air tanah.
Oleh karena itu, konduktivitas hidrolik tanah dibedakan menjadi 2, yakni
konduktivitas hidrolik dalam keadaan tidak jenuh dan dalam keadaan jenuh.
Menurut Kurnia et al.(2006) diacu dalam Deptan (2006) ada beberapa metode
laboratorium yang bisa digunakan untuk menetapkan konduktivitas hidrolik tanah
dalam keadaan jenuh, diantaranya: (1) metode tinggi air konstan/ constan head
method (Klute dan Dirksen 1986); (2) metode tinggi air konstan di dalam tangki/
constan head soil core/tank method (Reynold and Elrick 2002); (3) metode tinggi
air terjun di dalam tangki/ falling head soil core/tank method (Reynold and Elrick
2002); dan (4) metode aliran air dalam kondisi kesetimbanga n/s teady flow soil
column method (Boolthink dan Bouma 2002). Pemilihan suatu metode sangat
ditentukan oleh berbagai faktor seperti: (1) ketersediaan alat; (2) sifat alami tanah;
(3) ketersediaan contoh tanah; dan (4) kemampuan dan pengetahuan dari pelaku
percobaan

2.2

Permeabilitas
Permeabilitas tanah adalah suatu kesatuan yang melipui infiltrasi tanah dan

bermanfaat sebagai permudahan dalam pengolahan tanah. Permeabilitas


merupakan sifat bahan berpori, dia dapat mengalir/merembes dalam tanah, (dalam
tanah dapat terjadi erkolasi air). Tinggi rendahnya permeabilitas ditentukan
ukuran pori.

Permeabilitas tanah memiliki lapisan atas dan bawah. Lapisan atas


berkisar antara lambat sampai agak cepat (0,20 9,46 cm jam-1), sedangkan di
lapisan bawah tergolong agak lambat sampai sedang (1,10 -3,62 cm jam-1).
(Anonim, 2010). Satuan permeabilitas dalam satuan internasional (SI) adalah m2 .
Satuan lain yang biasa digunakan adalah darcy (D) atau yang lebih umum
milidarcy (mD). Satu darcy setara dengan 10-12 m. Satuan lain yang biasa
digunakan adalah cm . (1 m = 104 cm).
Jamulya dan Suratman Woro Suprodjo (1983), mengemukakan bahwa
permeabilitas adalah cepat lambatnya air merembes ke dalam tanah baik melalui
pori makro maupun pori mikro baik ke arah horizontal maupun vertikal.
Tanah adalah kumpulan partikel padat dengan rongga yang saling berhubungan.
Rongga ini memungkinkan air dapat mengalir di dalam partikel melalui rongga
dari satu titik yang lebih tinggi ke titik yang lebih rendah. Sifat tanah yang
memungkinkan air melewatinya pada berbagai laju alir tertentu disebut
permeabilitas tanah. Sifat ini berasal dari sifat alami granular tanah, meskipun
dapat dipengaruhi oleh faktor lain (seperti air terikat di tanah liat). Jadi, tanah
yang berbeda akan memiliki permeabilitas yang berbeda.
Koefisien permeabilitas terutama tergantung pada ukuran rata-rata pori
yang dipengaruhi oleh distribusi ukuran partikel, bentuk partikel dan struktur
tanah. Secara garis besar, makin kecil ukuran partikel, makin kecil pula ukuran
pori dan makin rendah koefisien permeabilitasnya. Berarti suatu lapisan tanah
berbutir kasar yang mengandung butiran-butiran halus memiliki harga k yang
lebih rendah dan pada tanah ini koefisien permeabilitas merupakan fungsi angka
pori. Kalau tanahnya berlapis-lapis permeabilitas untuk aliran sejajar lebih besar
dari pada permeabilitas untuk aliran tegak lurus. Lapisan permeabilitas lempung
yang bercelah lebih besar dari pada lempung yang tidak bercelah (unfissured).
Hukum Darcy menjelaskan tentang kemampuan air mengalir pada rongga-rongga
(pori) dalam tanah dan sifat-sifat yang memengaruhinya. Ada dua asumsi utama
yang digunakan dalam penetapan hukum Darcy ini. Asumsi pertama menyatakan
bahwa aliran fluida/cairan dalam tanah bersifat laminar. Sedangkan asumsi kedua
menyatakan bahwa tanah berada dalam keadaan jenuh.

Pengujian permeabilitas tanah dilakukan di laboratorium menggunakan metode


Constant Head Permeameter dan Variable/Falling Head Permeameter.

Constant Head Permeameter


Uji ini digunakan untuk tanah yang memiliki butiran kasar dan memiliki
koefisien permeabilitas yang tinggi.
Rumus :
Q = k.A.i.t
k = (Q.L) / (h.A.t)
Dengan :
Q = Debit (cm3)
k = Koefisien Permeabilitas (cm/detik)
A = Luas Penampang (cm2)
i = Koefisien Hidrolik = h/L
t = Waktu (detik)

Penentuan Konduktivitas Hidrolik di Lapangan


Oleh Talisma (1960) dan Boersma (1965) dalam penentuan konduktivitas

hidrolik dilakukan dengan mudah di bawah muka air tanah, seperti dengan metode
lubang bor (Luthin, 1957) atau dengan metode piezometer (Johnsn, 1952). Cara
lain dengan metode tabung ganda (Bouwer, 1961, 1962), metode pemompaan
dalam sumur dangkal dan dengan metode permeameter lapangan (Winger, 1960).

Hubungan Antara Permeabilitas dan Konduktivitas Hidrolik


Istilah permeabilitas telah didefinisikan oleh beberapa pakar dalam kalimat

yang berbeda-beda namun mengandung makna yang sama. Ada tiga pengertian
untuk permeabilitas seperti berikut:
1. Pada ilmu tanah, permeabilitas didefinisikan secara kualitatif sebagai
pengurangan gas-gas, cairan-cairan atau penetrasi akar tanaman atau lewat
melalui suatu massa tanah atau lapisan tanah (SSSA, 2001).
2. Permeabilitas intrinsik menurut Richards (1952) adalah sifat-sifat kuantitatif
dari bahan berpori dan dikendalikan semata-mata oleh geometri pori. Tidak
seperti konduktivitas hidrolik jenuh, permeabilitas intrinsik tidak bergantung
dari kekentalan cairan dan kerapatan. Permeabilitas intrinsik dirumuskan

sebagai konduktivitas hidrolik dikali dengan kekentalan cairan dibagi dengan


kerapatan cairan dan konstanta grafitasi.
3. Pada beberapa masalah, permeabilitas digunakan sebagai persamaan untuk Ks
(konduktivitas hidrolik jenuh), meskipun beberapa jumlah lain biasa
menggunakan istilah permeabilitas. Sebagai contoh dalam studi permeabilitas
oleh Uhland dan ONeal (1951), kecepatan aliran air (pada kondisi gradient
hidrolik > 1) diukur sebagai permeabilitas tanah. Hukum Darcy menunjukkan
bahwa kecepatan aliran (flux) adalah sama dengan Ks hanya jika gradien
hidrolik sama dengan 1.

Tabel 1. Perbandingan konduktivitas hidrolik jenuh dan permeabilitas intrinsik


Konduktivitas hidrolik jenuh (Ks)

Permeabilitas (k)

Bergantung suhu

Tidak Bergantung suhu

Bergantung kekentalan cairan

Berhubungan

konstan

dengan

kekentalan cairan, berkurangnya cairan,


merubah struktur tanah
Terjadi perubahan dengan berubahnya Terjadi perubahan dengan berubahnya
struktur
Ukuran-ukuran

struktur
bergantung

pada Ukuran-ukuran adalah panjang (cm2);

kecepatan dan gradient; waktu adalah dimana suatu unit area; waktu bukan
komponen

2.3

merupakan komponen

Prinsip persamaan Ernst


Persamaan Ernst dapat digunakan pada tanah dengan 2 lapisan di mana

batas kedua lapisan tersebut dapat berada di atas atau di bawah level drainase.
Khususnya dapat dipakai pada kondisi dimana lapisan atas mempunyai
konduktivitas hidrolik lebih kecil dari pada lapisan bawahnya. Seperti juga
Hooghoudt, Ernst mendapatkan sejumlah hidrolik head yang diperlukan untuk
bermacam-macam komponen aliran dimana secara skhematis aliran pada pipa
drainase dibuat. Analogi dengan hukum Ohm, maka aliran air tanah dapat ditulis :
q = h/w atau h = qw

Drainase dibagi menjadi aliran vertikal, horizontal dan radial, maka head hidrolik
total adalah :
h = hv + hh + hr = qwv + qL wh + qL wr
di mana subscript v = vertikal, h = horizontal, r = radial. Aliran horizontal dan
radial adalah sama dengan qL, yakni discharge drainase per unit panjang pipa
drainase, sedangkan aliran vertikal sama dengan q, yakni laju debit drainase per
unit luas permukaan tanah. Dengan menulis berbagai tahanan maka persamaan
Ernst dapat ditulis:

di mana, h : total hidrolik head atau tinggi water table di atas level drainase pada
titik tengah (m); q : laju debit drainase per luas permukaan (m/hari); L : spasing
drainase (m); Kv : konduktivitas hidrolik untuk aliran vertikal (m/hari) ; Kr :
konduktivitas hidrolik untuk aliran radial (m/hari); Dv : ketebalan lapisan dimana
aliran vertical dipertimbangkan (m); Dr : ketebalan lapisan di mana aliran radial
dipertimbangkan (m); (KD)h : transmisivitas lapisan-lapisan tanah dimana
terjadi aliran horizontal (m2/hari); a : faktor geometri untuk aliran radial,
tergantung pada kondisi aliran; u : perimeter basah (m).
Nilai-nilai Dv, (KD)h, Dr, a dan u ditentukan berdasarkan profil tanah
dan posisi relatif serta ukuran pipa drainase. Data berikut ini merupakan
karakteristik dari kondisi spesifik drainase yakni : D1 : rata-rata ketebalan lapisan
atas di bawah muka air tanah (water table) dengan permeabilitas K1; D2 : rata-rata
ketebalan lapisan bawah dengan permeabilitas K2; Do : ketebalan lapisan tanah di
bawah level drainase; h : ketinggian water table di atas level drainase pada titik
tengah; y : kedalaman air dalam saluran drainase ,untuk pipa drainase y = 0.
Aliran vertikal terjadi pada lapisan antara maksimum water table pada titik
tengah antar saluran dengan dasar saluran. Biasanya ketebalan lapisan untuk aliran
vertical adalah Dv = y + h untuk saluran, dan Dv = h untuk pipa.
Aliran horizontal terjadi pada seluruh ketebalan aquifer, jadi (KD)h =
K1 D1 + K2 D2. Apabila kedalaman sampai lapisan kedap bertambah besar, maka
nilai K2 D2 juga bertambah besar sehingga membuat S(KD)h cenderung tak
terhingga dan akibatnya tahanan aliran horizontal menjadi nol. Untuk mencegah
hal tersebut total kedalaman lapisan di bawah level drainase Do atau Do + D2
7

dibatasi sampai (1/4)L apabila lapisan kedap lebih dalam dari (1/4)L di bawah
level drainase. Aliran radial hanya diperhitungkan pada lapisan di bawah level
drainase, jadi Dr = Do, dengan batasan yang sama seperti aliran horizontal yaitu
Do < (1/4)L Berdasarkan nilai-nilai tersebut di atas, maka beberapa kasus berikut
ini dapat dipertimbangkan :

Tanah Homogen (homogeneous soil)


Pada suatu tanah homogen (D2 = 0, Gambar 2.6b), nilai a diambil sama

dengan 1, Dv = y + h, S(KD)h = K1 D1, Kr = K1 dan Dr = Do, dengan demikian


persamaan /2.19/ menjadi :

Pada tanah homogen tahanan vertikal cukup kecil sehingga dapat


diabaikan. Lebih lanjut dalam kebanyakan kasus yang ditemui di lapang h << Do,
D1 biasanya dianggap sama dengan Do, aliran horizontal melalui lapisan di atas
level drainase umumnya diabaikan. Jika kedalaman dari dasar saluran sampai
lapisan kedap Do lebih besar dari (1/4)L, aliran tidak akan terjadi di bawah
kedalaman tersebut. Karena spasing drainase tidak diketahui sebelumnya, maka
kondisi tersebut di atas harus diuji sesudahnya didapat nilai L.

2.4

Pergerakan Air dalam Tanah


Pergerakan air dalam tanah bisa diartikan sebagai aliran air yang bergerak

dari potensial tinggi ke potensial rendah (Jury dan Horton1946). Ditambahkan


oleh Jury dan Horton (1946) bahwa perbedaan potensial terjadi karena pergerakan
air merupakan sistem yang nonequlibirium dan tergantung kepada tahanan
hidrolik suatu medium (tanah) atau biasa disebut dengan sifat-sifat hidrolik tanah.
Menurut Ross dan Parlange (1994) diacu dalam Hendrayanto (1999) sifat-sifat
hidrolik tanah penting diketahui untuk mempelajari hubungan aliran air. Bahkan
hal tersebut dijadikan dasar pengetahuan untuk kelompok studi yang melibatkan
pembelajaran tentang keseimbangan air, irigasi, pergerakan polutan, dan lebih
umum proses pengangkutan yang terjadi di permukaan tanah.

Jury dan Horton (1946) menyebutkan bahwa terdapat beberapa metode


dalam menjelaskan pergerakan air dalam tanah, salah satunya adalah pergerakan
air dalam tanah tak jenuh yang bisa dipelajari dengan memanfaatkan Persamaan
Richard.
Menurut Lubis (2007) untuk mengetahui kuantitas pergerakan air,
pengukuran perlu ditekankan kepada konduktivitas hidrolik tak jenuh (K) yang
merupakan perbandingan antara debit terhadap gradien hidrolik atau sudut
pengaliran dan kurva gradien. Kemudian dijelaskan oleh Klute dan Dirksen
(1986) diacu dalam Hendrayanto (1999) bahwa konduktivitas hidrolik merupakan
kemampuan tanah untuk mengalirkan air dan fungsi tahanan air adalah tanda dari
kemampuan menyimpan air. Hal yang terkait dengan konduktivitas hidrolik tanah
juga disebutkan oleh Kosugi (1997). Kosugi (1997) menambahkan bahwa selain
konduktivitas hidrolik tanah juga terdapat karakteristik kelembaban tanah yang
dapat menjelaskan pergerakan air dalam tanah, yang ditunjukkan dengan
hubungan antara kadar air volumetrik () dan tekanan kapiler tanah (), dan itu
dimaksudkan sebagai kurva retensi airtanah. Klute (1986) diacu dalam
Hendrayanto (1999) menyebutkan bahwa apabila dibuat fungsi dari kurva retensi
airtanah maka bisa dijadikan ciri utama dari sifat-sifat hidrolik tanah tak jenuh.

2.5

Pengukuran Permeabilitas Tanah


Metode lapangan selain metode lubang bor juga telah dikembangkan.

Kirkham, pada tahun 1945, mengusulkan metode berdasarkan aliran air ke dalam
rongga di bawah ujung pipa dari piezometer. Childs, pada tahun 1952,
mengusulkan penggunaan dua sumur. Air, baik dipompa dari satu sumur ke sumur
lainnya, merupakan dasar untuk penentuan daya konduksi hidrolik tanah.
Persamaan yang digunakan dalam berbagai metode yang dikembangkan dalam
beberapa bagian bab ini bersama dengan penjelasan singkat tentang beberapa
bidang teknik. Perlu dicatat, bahwa kehadiran atau ketidakhadiran yang kedap
adalah lapisan penting dalam pilihan sesuai rumus. Selain itu terdapat rumus dan
teknik khusus yang dapat digunakan untuk tanah bertingkat.

III. METODE PRAKTIKUM

3. 3.1 Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum :
1. Bor tangan
2. Meteran/penggaris
3. Stopwatch
4. Ember
5. Constant head permeameter

3.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum :
1. Air Ledeng

3.3 Prosedur
1. Mahasiswa menyiapkan alat yang diperlukan seperti bor tangan,
penggaris, meteran, ember dan stopwatch.
2. Membuat 2 luabang pada lapisan tanah yang akan dicari ilai k-nya
(Misalnya: Pilihan kedalaman 30,50 atau 70).
3. Mengukur dan mencatat dimensi lubang yang dibuat.
4. Mengisi lubang dengan air, sehingga tanah menjadi keadaan jenuh.
5. Setelah mendapatkan keadaan jenuh, mengukur penurunan air yang
terjadi. Misalnya pada lubang 50 cm, mengamati dan mencatat penurunan
water table dengan menempatkan mulut constant head permeameter (yang
telah diisi air) tepat pada permukaan air.
6. Menghitung waktu yang dibutuhkan tanah untuk meloloskan air, ditandai
dengan bunyi blup pada constant head permeameter.
7. Mengulangi pengukuran 3 kali atau setelah didapatkan data yang cukup.
8. Mahasiswa menghitung soal berikut :
Tentukan volume air (ml) yang dialirkan kedalaman tanah dengan
menghitung volume silinder dari luas alas dan tinggi h dan jari-jari pipa

10

constant head permeameter 25 mm. Tentukan rata-rata debit setelah


mengetahui waktu yang dibutuhkan tanah untuk meloloskan air.
9. Menghitung nilai K (cm/detik) dan k(m/hari) dengan Ms.Excel dengan
formula:
(

11

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel 1. Pengukuran Konduktivitas Hidrolik
D

Ulangan

Vol

Debit

(cm)

ke-

(cm)

(menit)

(ml)

(ml/d)

(cm/d)

(m/hr)

1,8

2,30

35,343

0,2356

1,5

1,28

29,452

0,3346 1,354 x 10-3 1,17

1,5

0,34

29,452

0,86625

1,34

39,269

0,4177

3,54 x 10-4 0,306

1,5

1,28

29,452

0,3346

2,84 x 10-4 0,2455

1,5

1,17

29,452

0,3825 3,247 x 10-4 0,2805

0,12

58,905

4,9087

1,47 x 10-3 1,2739

0,20

19,635

0,9817

2,94 x 10-4 0,2547

1,5

0,21

29,452

1,4025

4,21 x 10-4 0,3639

30

50

70

9,53 x 10-4 0,8236


3,5 x 10-3 3,0283

(Sumber: Hasil Perhitungan di Laboratorium, 2014)

Perhitungan :

Volume =

Kedalaman 30 cm
-

V1 =
=

. 2,52 . 1,8

= 35,343 ml
-

V2 =
=

. 2,52 . 1,5

= 29,452 ml
-

V1 =
=

. 2,52 . 1,5

= 29,452 ml

12

Kedalaman 50 cm
-

V1 =
=

. 2,52 . 2

= 39,269 ml
-

V2 =
=

. 2,52 . 1,5

= 29,452 ml
-

V1 =
=

. 2,52 . 1,5

= 29,452 ml
Kedalaman 70 cm
-

V1 =
=

. 2,52 . 3

= 58,905 ml
-

V2 =
=

. 2,52 . 1

= 19,635 ml
-

V1 =
=

. 2,52 . 1,5

= 29,452 ml

Debit =

Kedalaman 30 cm
-

Q1 =
=

Q2 =
=

= 0,2356 ml/detik

= 0,3346 ml/detik

Q1 =
=

= 0,86625 ml/detik

13

Kedalaman 50 cm
-

Q1 =
=

= 0,4177 ml/detik

Q2 =
=

= 0,3346 ml/detik

Q1 =
=

= 0,3825 ml/detik

Kedalaman 70 cm
-

Q1 =
=

= 4,9087 ml/detik

Q2 =
=

= 0,9817 ml/detik

Q1 =
=

= 1,4025 ml/detik

Konduktivitas Hidrolik =

( )

Kedalaman 30 cm
(

( )

k1 =
=

= 9,53 x 10-4 cm/d


= 0,8236 m/hr

14

( )

k2 =
(

= 1,354 x 10-3 cm/d


= 1,17 m/hr
(

( )

k3 =

= 3,5 x 10-3 cm/d


= 3,0283 m/hr
Kedalaman 50 cm
(

( )

k1 =
(

= 3,54 x 10-4 cm/d


= 0,306 m/hr
(

( )

k2 =
(

= 2,84 x 10-4 cm/d


= 0,2455 m/hr
(

( )

k3 =
(

= 3,247 x 10-4 cm/d


= 0,2805 m/hr

15

Kedalaman 70 cm
(

( )

k1 =
(

= 1,47 x 10-3 cm/d


= 1,2739 m/hr
(

( )

k2 =
(

= 2,94 x 10-4 cm/d


= 0,2547 m/hr
(

( )

k3 =
=

= 4,21 x 10-4 cm/d


= 0,3639 m/hr

16

Senia Mulyana
240110110001
4.2

Pembahasan
Pengukuran

permeabilitas

tanah

sangat

penting

untuk

beberapa

kepentingan di bidang pertanian, contohnya gerak air ke akar tanaman, proses


masuknya air ke dalam tanah, aliran air drainase, evaporasi air pada permukaan
tanah, semuanya dapat dipengaruhi oleh permeabilitas tanah. Pada praktikum kali
ini yang berkaitan dengan penanan Konduktivitas Hidroliknya. Praktikum kali ini
membahas tentang kondutifitas hidrolik yang dilakukan untuk menghitung
besaran permeabilitas terhadap tanah yang jenuh dengan menggunakan constant
head pada kedalaman yang berbeda dan dengan perlakuan yang sama setiap
lubangnya.
Praktikum kali ini praktikan membuat lubang pada lapisan tanah yang
akan dicari nilai konduktivitas hidroliknya (k), pada kedalaman yang berbedabeda yaitu pada kedalaman 30, 50, dan 70 cm. Dan pada masing-masing
kedalaman dilakukan 3 kali pengulangan pengukuran. Praktikum kali ini berbeda
dengan praktikum sebelumnya, karena pengukuran konduktivitas hidrolik diukur
menggunakan sebuah alat ukur constant head.
Pembuatan lubang dilakukan dengan menggunakan bor. Tanah yang telah
dibuat diisi dengan air, sehingga tanah sekitar mendekati keadaan jenuh. Lubang
tersebut diisi dengan air hingga mencapai ketinggian kurang lebih 10 cm.
Perhitungan konduktivitas hidrolik diukur dengan constant head permeameter
yang telah diisi air dengan cara menempatkan alat tersebut di mulut tepat pada
permukaan air. Waktu yang dibutuhkan dihitung ketika tanah meloloskan air,
lolosnya air ditandai dengan bunyi blup pada constant head permeameter
tersebut.
Pada hasil kedalaman lubang 30 cm pada ulangan pertama di dapat selisih
tinggi (h) adalah 1,8 cm dalam waktu 150 detik dengan besar volume terhitung
pada constand head sebesar 35,343 ml maka didapat nilai debit pada ulangan
pertama sebesar 0,2356 m/s dan nilai k sebesar 0,8236 m/hr. Pada ulangan kedua
didapat selisih tinggi 1,5 cm dengan waktu 88 detik dan besar volume terhitung
pada constand head sebesar 29,452 ml maka didapat nilai debit pada ulangan
kedua sebesar 0,3346 m/s dan nilai k sebesar 1,17 m/hr. Pada ulangan ketiga
didapat selisih tinggi sebesar 1,5 cm dalam waktu 34 detik dengan besar volume

17

terhitung pada constant head sebesar 29,452 ml maka didapat nilai debit pada
ulangan ketiga sebesar 0,86625 m/s dan nilai k sebesar 3,0283 m/hr.
Dan pada kedalaman 50 ulangan pertama di dapat selisih tinggi (h) adalah
2 cm dalam waktu 94 detik dengan besar volume terhitung pada constand head
sebesar 39,269 ml maka didapat nilai debit pada ulangan pertama sebesar 0,4177
m/s dan nilai k sebesar 0,306 m/hr. Pada ulangan kedua didapat selisih tinggi 1,5
cm dengan waktu 88 detik dan besar volume terhitung pada constand head sebesar
29,452 ml maka didapat nilai debit pada ulangan kedua sebesar 0,3346 m/s dan
nilai k sebesar 0,2455 m/hr. Pada ulangan ketiga didapat selisih tinggi sebesar 1,5
cm dalam waktu 77 detik dengan besar volume terhitung pada constant head
sebesar 29,452 ml maka didapat nilai debit pada ulangan ketiga sebesar 0,3825
m/s dan nilai k sebesar 0,2805 m/hr.
Dan untuk lubang yang terakhir yaitu kedalaman 70 cm ulangan pertama
di dapat selisih tinggi (h) adalah 3 cm dalam waktu 12 detik dengan besar volume
terhitung pada constand head sebesar 58,905 ml maka didapat nilai debit pada
ulangan pertama sebesar 4,9087 m/s dan nilai k sebesar 1,2739 m/hr. Pada
ulangan kedua didapat selisih tinggi 1 cm dengan waktu 20 detik dan besar
volume terhitung pada constand head sebesar 19,635 ml maka didapat nilai debit
pada ulangan kedua sebesar 0,9817 m/s dan nilai k sebesar 0,2547 m/hr. Pada
ulangan ketiga didapat selisih tinggi sebesar 1,5 cm dalam waktu 21 detik dengan
besar volume terhitung pada constant head sebesar 29,452 ml maka didapat nilai
debit pada ulangan ketiga sebesar 1,4025 m/s dan nilai k sebesar 0,3639 m/hr.
Pada hasil yang di dapatkan terlihat perbedaan yang cukup jelas bahwa
kedalaman lubang akan mempengaruhi lamanya waktu yang akan mencapai bunyi
blup tersebut. Semakin dalam kedalaman lubang maka akan semakin cepat.
Namun secara teori bahwa seharusnya semakin dalam lubang dalam kondisi yang
jenuh selisih waktu antar ulangan semakin lama karena semakin dalam tanah
dalam kondisi jenuh semakin padat partikel tanahnya. Hal tersebut mempengaruhi
nilai debit dan konduktivitas hidrolik. Semakin dalam kedalaman lubang semakin
kecil pula nilai konduktivitas hidrolik (K). Berarti dalam praktikum kali ini hasil
dilapangan belum sesuai dengan hasil dari literature karena pada praktikum kali
ini waktu yang di dapatkan semakin cepat jika kedalaman lubang semakin dalam.

18

Mungkin hal ini dikarenakan bisa saja oleh tekstur tanah yang cukup remah
sehingga cepat dalam meloloskan air meskipun sudah dalam kondisi jenuh. Atau
mungkin bisa saja dikarenakan oleh kesalahan praktikan yang memang keadaan
tanah dalam lubang tersebut belum dalam kondisi jenuh namun sudah dilakukan
pengukuran sehingga kecepatan dalam meloloskan airnya masih dibilang cepat.
Dan untuk nilai k sudah hasil yang di dapatkan pada lapangan sudah mendekati
dengan nilai secara literature hal ini dibuktikan dengan nilai pada setiap
kedalaman berbeda dan semakin dalam kedalaman lubang maka nilai k akan
semakin menurun.
Pergerakan air dalam tanah jenuh akan mempengaruhi limpasan dan
infiltrasi pada suatu daerah, sedangkan proses pergerakan air dalam tanah
dipengaruhi oleh sifat-sifat fisik tanah. Pergerakan air ditanah dipengarui oleh
permeabilitas tanah. Tanah dengan permeabilitas tinggi dapat menaikkan laju
infiltrasi sehingga menurunkan laju air larian.

19

Ghani Faliq F.
240110110032
4.2

Pembahasan
Praktikum kali ini masih sama seperti praktikum sebelumnya yaitu

penentuan konduktivitas hidrolik tanah. Namun metode yang digunakan kali ini
adalah dengan metode constant head. Adapun alat yang digunakan untuk
praktikum kali ini adalah bor tangan, meteran, stopwatch, ember, dan tentu saja
constant head permeameter.
Pada praktikum pengukuran konduktivitas hidrolik tanah ini diawali
dengan menyiapkan lubang yang akan digunakan untuk pengukuran. Pada
kesempatan kali ini tanah dibor menggunakan bor tangan dengan kedalaman yang
beragam mulai dari 30 cm, 50 cm hingga 70 cm. Masing-masing kedalaman tanah
ini dibuat didalam satu buah lubang. Setelah kedalaman lubang didalam tanah
mencapai kedalaman tersebut, setiap lubang diisi air hingga tanah tersebut jenuh.
Indikator kejenuhan tanah dapat dilihat dari rembesan airnya. Jika air yang
dimasukan kedalam tanah sudah tidak meresap lagi kedalam tanah (membutuhkan
waktu yang lama untuk permukaan air turun) berarti tanah sudah dapat dikatakan
telah mencapi titik jenuh.
Hal yang menarik didalam praktikum kali ini adalah semakin dalam
lubang, permeabilitas tanah menjadi semakin cepat dan semakin sulit untuk
mencapai titik jenuh. Hal ini mungkin diakibatkan oleh semakin besarnya luasan
permukaan tanah yang kontak dengan air langsung sehingga air langsung mengisi
pori-pori tanah sehingga permeabilitasnya menjadi tinggi.
Pada saat kondisi tanah sudah jenuh barulah pengukuran konduktivitas
tanah bisa dilakukan. Pengukuran ini dimulai dengan mengisi constant head
permeameter dengan air hingga terisi penuh. Setelah itu tutup bagian tempat
pengisi air dengan menggunakan tangan agar pada saat constant head permeater
dibalik untuk melakukan pengukuran air tidak tumpah. Lalu ikat bagian belakang
constant head permeameter menggunakan tali pada kaki tiga. Hal ini bertujuan
agar constant head permeameter berada pada posisi yang statis pada saat
pengukuran dilakukan.
Setelah kaki tiga dan constant head permeameter siap, lalu masukan
constant head permeameter kedalam lubang yang telah berisi air. Usahakan
bagian tempat pengisi air pada constant head permeameter tepat pada permukaan

20

air. Pada saat constant head telah ada pada permukaan air hitung waktu hingga
terdengar bunyi blup. Bunyi blup ini merupakan tanda bahwa air didalam
lubang sudah turun dan diisi kembali oleh air yang berada didalam constant head
permeameter hingga lubang pada constant head permeameter. Lalu catat
penurunan air yang terjadi pada constant head permeameter. Hal ini bisa dilihat
dari skala yang tertera pada constant head permeameter. Dan ulang prosedur ini
pada masing-masing lubang sebanyak tiga kali percobaan.
Dari hasil praktikum yang dilakukan didapatkan hasil yang beragam pada
masing-masing kedalaman lubang. Pada kedalaman 70 cm memang waktu yang
dibutuhkan hingga terdengan bunyi blup sangat sebentar, tetapi perlu dilihat
juga bahwa volume air yang keluar dari constant head permeameter relative
sedikit. Hal ini juga terjadi karena kesalahan yang dilakukan oleh praktikan dalam
penempatan constant head permeameter pada permukaan air.
Namun dari Sembilan buah data yang didapat dari tiga kali pengukuran
pada tiga buah lubang dengan kedalaman yang berbeda ada beberapa percobaan
yang menghasilkan perubahan volume yang sama walau tentu dengan waktu yang
berbeda. Data yang dimaksud adalah ;
D (cm)

H (cm)

t (menit)

Vol (ml)

Debit

K (m/hr)

ml/d)
30

1,5

1,28

29,452

0,3346

1,17

50

1,5

1,28

29,452

0,3346

0.2455

50

1,5

1,17

29,452

0,3825

0,2805

70

1,5

0,21

29,452

1,4025

0,3693

Dari data diatas bisa dilihat bahwa dengan perubahan volume yang sama
pada constant head permeameter jika dihubungkan dengan kedalaman lubang
terlihat bahwa semakin dalam lubang maka waktu yang dibutuhkan semakin
sebentar. Dan dapat dilihat juga bahwa nilai konduktivitas hidrolik tidak hanya
dipengaruhi oleh oleh waktu yang dibutuhkan constant head permeameter
mencapai bunyi blup saja, tetapi dipengaruhi juga oleh debit, jari-jari lubang
dan kedalaman tanah.

21

Dhanti Hanifa M.
240110110055
4.2

Pembahasan
Pada praktikum kali ini membahas berkenaan penentuan konduktivitas

hidrolik dengan contant head. Sama dengan praktikum sebelumnya yang


membahas berkenaan nilai konduktivitas hidrolik tanah, namun kali ini alat bantu
yang digunakan adalah contant head permeamter. Contant head permeamter
disini merupakan alat yang digunakan sebagai alat uji dalam menentukan volume
air dan debit air sehingga dapat ditemukan nilai dari konduktivitas hidrolik tanah.
Konduktivitas hidrolik sendiri merupakan aliran air melalui material
tembus air (porous) berbanding secara proporsional terhadap gradien hidrolik.
Secara umum dikenal sebagai permeabilitas tanah dan diwakili oleh simbol K.
Konduktivitas hidrolik digunakan untuk menghitung nilai debit air atau untuk
menghitung kecepatan aliran air di dalam tanah. Besarnya nilai konduktivitas
hidrolik ini ditunjukkan oleh sifat zat cair yang dapat mengalir melewati material
berpori. Kehantaran hidrolik ini bukanlah sifat khas tanah itu sendiri, sebab
ketergantungannya terhadap jenis tanah dan fluida didalamnya dalam waktu yang
bersamaan. Sehingga konduktivitas hidrolik ini mampu mengklasifikasikan kelas
drainase pada suatu tanah. Dimana sifat hidrolik yang mempengaruhinya adalah
pergerakan air dalam kondisi jenuh, tidak jenuh, dank arena adanya penguapan
air. Oleh karena ketiga jenis pergerakan tersebut air akan bergerak dari zona yang
mempunyai potensial tinggi ke zona yang memiliki potensial air yang rendah.
Percobaan dimulai dengan membuat lubang dengan tiga kedalaman yang
berbeda, yaitu 30 cm, 50 cm dan 70 cm. Pertama-tama setiap lubang dijenuhkan
dengan menggenangkan air kedalamnya. Kemudian setelah jenuh dan ketinggian
air konstan, barulah percobaan dilakukan sesuai prosedur yang telah disediakan.
Percobaan dilakukan sebanyak tiga kali pada masing-masing lubang. Hal ini
dilakukan untuk mengetahui keakuratan dari proses percobaan, sehingga dapat
dilihat nilai yang diperoleh apakah memiliki selisih yang besar atau tidak. Data
hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel 1. bagian hasil.
Dari data hasil pengukuran praktikum, nilai k pada kedalaman 30 cm, 50
cm dan 70 cm memiliki perbedaan pada tiap percobaan yang dilakukan.
Bervariasinya nilai dari hasil pengukuran ini bias jadi disebabkan oleh kondisi
tanah ataupun kelalaian praktikan. Nilai k tertinggi hasil pengukuran pada

22

kedalaman lubang 30 cm adalah 3,0283 m/hr. Pada kedalaman lubang 50 cm


adalah 0,306 m/hr, dan untuk kedalaman lubang 70 cm sebesar 1,2739 m/hr.
Sedangkan untuk nilai k terkecil yang diperoleh pada masing-masing lubang
berururat 30 cm. 50 cm, 70 cm, adalah 0,8236 m/hr, 0,2455 m/hr, 0,2547 m/hr.
Terlihat bahwa terjadi penurunan nilai konduktivitas hidrolik dari kedalaman 30
cm ke 50 cm, akan tetapi justru terjadi kenaikan nilai konduktivitas hidrolik pada
kedalaman 70 cm. Hal ini menunjukkan penyimpangan dari teori yang ada bahwa
nilai konduktivita hidrolik dengan pengukuran constant head seharusnya semakin
dalam lubang yang diujicobakan maka semakin kecil nilai konduktivitas
hidroliknya. Berbeda dengan teori pada pengukuran konduktivitas hidrolik dengan
metode auger hole, dimana semakin dalam lubang yang diujicobakan maka
semakin tinggi pula nilai konduktivitas hidroliknya. Sebenarnya hal ini lebih
kepada factor kondisi tanah, dimana pengukuran nilai konduktivitas hidrolik pada
praktikum sebelumnya dilakukan pada lahan yang dekat dengan sumber air
(kolam air), berbeda dengan pengukuran pada praktikum kali ini yang dilakukan
pada lahan terbuka dan jauh dari sumber air. Sehingga perlu dilakukan
penjenuhan kondisi lubang.
Meskipun demikian, praktikum kali ini tetap dapat dikatakan berhasil
karena nilai konduktivitas hidrolik yang hendak dicari dapat diperoleh dari
masing-masing komponen yang diukur selama proses percobaan. Nilai waktu dan
selisih ketinggian merupakan nilai yang diperoleh dari alat constant head sampai
mengeluarkan suara blup ketika proses percobaan. Berdasarkan nilai tersebut
kemudian diperolehlah nilai volume dan debit air untuk kemudian dimasukan
dalam persamaan konduktivitas hidroliknya. Nilai konduktivitas hidrolik ini
kemudian dimasukkan dalam klasifikasi kelas drainase, untuk klasifikasi kelas
drainage percobaan ini termasuk dalam kategori baik (well drainage), karena
secara keseluruhan berada pada skor diatas 100 cm/day. (Mc. Donald et al, 1984).

23

Rifki Adipratama
240110110077
4.2

Pembahasan
Pada praktikum kali ini mengenai konduktivitas hidrolik, dimana

konduktivitas hidrolik ini merupakan parameter atau ukuran yang dapat


menggambarkan kemampuan tanah dalam melewatkan air (Klute dan Dirksen
1986 diacu dalam Kurnia et al. 2006). Pada konduktivitas tanah ini dibedakan
menjadi 2, yakni konduktivitas hidrolik dalam keadaan tidak jenuh dan dalam
keadaan jenuh. Pada percobaan kali ini dilakukan pada lahan tanah depan gedung
FTIP yaitu membuat 3 lubang biopori dengan menggunakan alat bor tangan dan
menggunakan alat Constant head permeameter, masing-masing ketiga lubang
tersebut mempunyai kedalaman yang berbeda yaitu lubang dengan kedalaman 30
cm, lebang dengan kedalaman 50 cm, dan lubang kedalaman 70 cm dengan tiga
kali pengukuran dari masing-masing lubang tersebut.
Ketiga lubang itu pun mempunyai tingkat kejenuhan yang berbeda-beda
yaitu pada kedalaman 30 cm dengan volume air 35,343 ml membutuhkan waktu
2,30 menit untuk menurunkan muka air ditandai dengan bunyi blup pada
pengukuran kedua dan ketiga terjadi percepatan waktu yaitu 1,28 dan 0,34 menit.
Dengan h 1,8 cm dan 1,5 cm. sementara debit aliran air secara berurutan 0.2356
ml/det, 0.3346 ml/det dan 0.86625 ml/det. Sehingga didapat nilai (konduktivitas
hidrolik) k-nya secara berurutan 9,53 x 10-4 cm/det, 1,354 x 10-3 cm/det dan 3,5 x
10-3 cm/det.
Pada kedalaman 50 cm dengan volume air 39,269 ml membutuhkan waktu
1,34 menit untuk menurunkan muka air ditandai dengan bunyi blup sama halnya
dengan lubang sebelumnya pada pengukuran kedua dan ketiga terjadi percepatan
waktu yaitu 1,28 dan 1,17 menit. Dengan h 2 cm dan 1,5 cm. sementara debit
aliran air secara berurutan 0.4177 ml/det, 0.3346 ml/det dan 0,3825 ml/det.
Sehingga didapat nilai (konduktivitas hidrolik) k-nya secara berurutan 3,54 x 10-4
cm/det, 2,84 x 10-4 cm/det dan 3,247 x 10-4cm/det.
Pada kedalaman 70 cm dengan volume air 58,905 ml membutuhkan waktu
0,12 berbeda halnya dengan lubang sebelumnya pada pengukuran kedua dan
ketiga terjadi perlambatan waktu yaitu 0,20 dan 0,21 menit. Dengan h 3 cm dan
1,5 cm. sementara debit aliran air secara berurutan 4,9087 ml/det, 0,9817 ml/det

24

dan 1,4025 ml/det. Sehingga didapat nilai (konduktivitas hidrolik) k-nya secara
berurutan 1,47 x 10-3 cm/det, 2,94 x 10-4 cm/det dan 4,21 x 10-4cm/det.
Seperti pada hasil yang telah disebutkan dari hasil tersebut dibandingkan
dengan literature yang didapat bahwa konduktivitas hidrolik merupakan parameter
permeabilitas tanah, hal tersebut dipengaruhi oleh gravitasi, tekstur tanah dan
struktur tanah. Dari ketiga hasil tersebut dari masing-masing lubang, pada lubang
pertama dengan kedalaman 30 cm merupakan tanah yang mempunyai nilai
permeabilitas lebih rendah dibandingkan dengan lubang lainnya dapat dilihat dari
hasil diatas penurunan dari tiap menit hanya 1,8 cm ini disebabkan karna tanah
lubang tersebut terletak jauh dari pepohonan bahwa dasarnya pepohonan memiliki
akar yang dapat penyerapan airnya lebih tinggi serta tekstur tanahnya pun
memiliki porositas yang lebih rapat sehingga daya tahan airnya rendah, pada
lubang kedua dengan kedalaman 50 cm ini dapat dilihat hasilnya bahwa lubang
tersebut memiliki nilai permeabilitas yang sedang dibandingkan lubang lainnya
dapat dilihat dari hasilnya penurunan dari tiap menit hanya 3 cm sehingga daya
tahan airnya sedang, beda halnya pada lubang ketiga pada kedalaman 70 cm ini
dapat dilihat hasilnya bahwa lubang tersebut memiliki permeabilitas yang cukup
tinggi, bahwa dasarnya pada lubang tersebut tanahnya memiliki porositas yang
renggang sehingga cepat terjadinya perkolasi dapat dilihat dari hasilnya bahwa
penurunan air dari tiap menit rata-rata 10 cm sehingga daya tahan airnya lebih
tinggi.

25

Mumtaz Riz Qiyadah


240110110106
4.2

Pembahasan
Pada praktikum teknik drainase kali ini yaitu mengukur konduktivitas

hidrolik dengan menggunakan constant head, percobaan dilakukan disamping


gedung FTIP. Pertama kali yang harus dilakukan yaitu membuat lubang pada
tanah sedalam 30, 50 dan 70 cm dengan menggunakan bor dengan diameter 24
cm. Setelah melubangi lubang, kemudian mengisi lubang tersebut dengan air
sampai keadaan tanah jenuh. Selanjutnya melakukan pengukuran dengan
menggunakan constant head, sebelumnya constant head diisi air terlebih dahulu
hingga penuh agar mempermudah dalam pengukuran untuk mendapatkan nilai
konduktivitas hidrolik.
Setelah melakukan percobaan masing-masing 3 kali pengulangan pada
setiap lubang dengan kedalaman 30 cm, 50 cm, dan 70 cm didapatkan hasil
berupa volume, debit, dan konduktivitas hidrolik. Untuk nilai volume pada
masing-masing lubang berbeda-beda, pada kedalaman 30 cm didapatkan volume
rata-rata dari 3 kali pengulangan yaitu sebesar 31,415 ml, dan pada kedalaman 50
cm didapatkan volume rata-rata dari 3 kali pengulangan yaitu sebesar 32,724 ml,
dan pada kedalaman 70 cm didapatkan volume rata-rata dari 3 kali pengukuran
yaitu sebesar 35,997 ml.
Berikutnya yaitu nilai debit, debit didapatkan dari volume per satuan
waktu. Waktu tersebut merupakan waktu yang dibutuhkan hingga constant head
berbunyi blub, hal ini menandakan bahwa permukaan air pada lubang sudah
turun akibat adanya konduktivitas hidrolik. Dari hasil pengukuran didapatkan
debit yang berbeda, pada kedalaman 30 cm didapatkan debit rata-rata dari 3 kali
pengulangan yaitu sebesar 0,4788 ml/detik, pada kedalaman 50 cm didapatkan
debit rata-rata dari 3 kali pengulangan yaitu sebesar 0,3782 ml/ detik, dan pada
kedalaman 70 cm didapatkan nilai debit rata-rata dari 3 kali pengukuran sebesar
2,4309 ml/detik.
Selanjutnya yaitu nilai konduktivitas hidrolik. Konduktivitas hidrolik
merupakan kemampuan tanah untuk meloloskan air. Pada lubang dengan
kedalaman 30 cm didapatkan konduktivitas hidrolik rata-rata sebesar 1,935 10-3
cm/ detik, pada kedalaman 50 cm didapatkan konduktivitas hidrolik rata-rata

26

sebesar 3,209 10-4 cm/ detik, dan pada kedalaman 70 cm didapatkan


konduktivitas hidrolik rata-rata sebesar 0,7283 10-3 cm/ detik.
Dari data yang didapat saat melakukan percobaan terdapat perbedaan nilai
konduktivita hidrolik yang terjadi fluktuasi pada pengulangan atau percobaan 1,2,
dan 3. Kenaikan dan penurunan nilai konduktivitas hidrolik ini bisa disebabkan
oleh terjadinya pemantapan pori tanah saat dilakukan pengisian air ulangan, dan
kemudian saat dilakukan pengukuran selanjutnya, karena tanah telah jenuh, nilai
K menurun. Dan faktor lain yaitu human error yang disebabkan kesalahan saat
menempatkan permukaan lubang pipa dengan permukaan air tanah. Permukaan
lubang pipa yang tidak menyentuh air akan membuat air yang berada dalam pipa
berkurang sehingga hal ini bisa mengurangi keakuratan praktikan pada saat
melakukan percobaan.

27

Billy Abadinur
240110110109
4.2

Pembahasan
Pada praktikum kali ini membahas tentang penentuan konduktivitas hidrolik

dengan constant head. Lahan yang dipakai pada praktikum kali ini adalah lahan di
depan FTIP Unpad. konduktivitas hidrolik ini merupakan salah satu parameter
yang diketahui saat praktikan akan menganalisis mengenai aliran air dalam tanah
dan juga merupakan kondisi yang harus diperhatikan dan diketahui karena data
keadaan konduktivitas tanah dapat digunakan untuk berbagai kepentingan seperti
penentuan kesesuaian lahan dengan tanaman. Konduktivitas hidrolik ini muncul
akibat adanya Hukum Darcy yang menjelaskan tentang kemampuan air mengalir
pada rongga-rongga (pori) dalam tanah dan sifat-sifat yang memengaruhinya. Ada
dua asumsi utama yang digunakan dalam penetapan hukum Darcy ini. Asumsi
pertama menyatakan bahwa aliran fluida/cairan dalam tanah bersifat laminar.
Sedangkan asumsi kedua menyatakan bahwa tanah berada dalam keadaan jenuh.
Kami menggunakan 3 lubang dengan masing-masing kedalaman berbeda
yaitu dengan kedalaman lubang (30 cm, 50 cm, dan 70 cm). Dalam pengukuran
ini dilakukan sama dengan lubang lain yaitu 3 kali pengukuran. Sebelum
pengukuran dilakukan terlebih dahulu menambahkan air pada lubang pengukuran
lalu biarkan lubang tersebut tergenang oleh air sekitar 20-30 menit sehingga kadar
air pada lubang mencapai titik jenuh sehingga air di pastikan tidak bisa di serap
lagi oleh tanah. Setelah dipastikan jenuh pasang alat constant head permeameter
dengan cara di gantungkan pada kaki tiga, pengukuran dilakukan dengan
mendengarkan pergerakan air yang berada di dalam constant head sehingga terjadi
penurunan pada permukaan air pada lubang pengukuran.
Pengukuran dilakukan dengan membuat kedalaman yang berbeda-beda,
dengan melakukan pengukuran pada kedalaman 30 cm, 50 cm, dan 70 cm. Dari
hasil pengukuran yang dilakukan, diperoleh data konduktivitas hidrolik setiap
lubang dengan kedalaman 30, 50 dan 70 cm sebanyak tiga kali pengulangan yang
masing-masing data diukur beda tingginya, waktunya dalam detik dan dihitung
masing-masing nilai k (konduktivitas hidrolik) yang satuannya adalah (cm/detik
atau m/hari), nilai krata-rata untuk kedalaman 30, 50 dan 70 cm masing-masing
adalah 9,53 x 10-4 cm/detik, 3,54 x 10-4 cm/detik, dan 1,47 x 10-3 cm/detik. Dari

28

data tersebut terjadi penurunan nilai konduktivitas hidrolik dari kedalaman 30 cm


hingga 70 cm.
Menurut (Amaru,2007) dijelaskan bahwa semakin dalam kedalaman
tanahnya maka semakin kecil nilai konduktivitas hidroliknya. Konduktivitas
hidrolik merupakan parameter permeabilitas tanah, hal tersebut dipengaruhi oleh
gravitasi, tekstur tanah dan struktur tanah. Tanah didepan gedung FTIP yang
praktikan gunakan untuk melakukan praktikum termasuk jenis konduktivitas
hidrolik tinggi karena nilai k masing-masing lubang diatas 10-4 cm/detik. Jadi
tanah tersebut termasuk ke dalam kelas drainase agak baik (moderately well
drained) yang mana daya menahan air (pori air tersedia) rendah. Tanah demikian
cocok untuk berbagai tanaman.

29

Senia Mulyana
240110110001
V. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:


1. Lolosnya air ditandai dengan bunyi blup pada constant head permeameter
tersebut.
2. Kedalaman lubang akan mempengaruhi lamanya waktu yang dibutuhkan
untuk mencapai bunyi blup.
3. Menurut literature semakin dalam lubang dalam kondisi yang jenuh selisih
waktu antar ulangan semakin lama karena semakin dalam tanah dalam kondisi
jenuh semakin padat partikel tanahnya. Hal tersebut mempengaruhi nilai debit
dan konduktivitas hidrolik. Semakin dalam kedalaman lubang semakin kecil
pula nilai konduktivitas hidrolik (K).
4. Semakin dalam kedalaman lubang maka akan semakin cepat. Hasil tersebut
belum selaras dengan nilai literature.
5. Tidak sesuainya nilai yang didapatkan dengan nilai secara literature mungkin
dikarenakan kesalahan pengukuran yang kurang teliti oleh praktikan ketika
praktikum berlangsung.
6. Nilai k pada setiap kedalaman berbeda dan semakin dalam kedalaman lubang
maka nilai k akan semakin menurun.

30

Ghani Faliq F.
240110110032
V. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:


1. Indikator kejenuhan tanah dapat dilihat dari rembesan airnya.
2. semakin dalam lubang, permeabilitas tanah menjadi semakin cepat dan
semakin sulit untuk mencapai titik jenuh.
3. Pada saat kondisi tanah sudah jenuh barulah pengukuran konduktivitas tanah
bisa dilakukan
4. Penggunaan kaki tiga ditujukan untuk menjaga constant head permeameter
tetap statis pada saat pengukuran.
5. Bunyi blup ini merupakan tanda bahwa air didalam lubang sudah turun dan
diisi kembali oleh air yang berada didalam constant head permeameter .
6. semakin dalam lubang maka waktu yang dibutuhkan semakin sebentar
7. nilai konduktivitas hidrolik tidak hanya dipengaruhi oleh oleh waktu yang
dibutuhkan constant head permeameter mencapai bunyi blup saja.

31

Dhanti Hanifa M.
240110110055
V. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:


1. Konduktivitas hidrolik adalah aliran air yang melalui material tembus air
berbanding secara proporsional dengan gradien hidrolik, atau secara umum
dapat disebut sebagai permabilitas tanah.
2. Sifat hidrolik mempengaruhi adanya pergerakan air dari zona berpotensial air
tinggi menuju zona berpotensial air rendah.
3. Ketiga lubang percobaan dengan kedalaman yang berbeda memiliki nilai
konduktivitas yang berbeda pula. Ketinggian lubang terendah memiliki nilai
konduktivitas terbesar dibandingkan dengan lubang lainnya.
4. Nilai volume dan debit yang dibutuhkan untuk mencari nilai konduktivitas
hidrolik diperoleh dari batasan suara blup yang dihasilkan alat ukur contant
head permeameter.
5. Nilai K akan terus menurun seiring dengan kedalaman lubang semakin besar.
Meskipun pada hasil praktikum terdapat fluktuasi nilai konduktivitas
hidroliknya.
6. Nilai K terbesar terjadi pada lubang dengan kedalaman 30 cm pada
pengulangan ketiga, yaitu 3,0283 m/hour, dan nilai K terkecil terjadi pada
lubang dengan kedalaman 50 cm pada pengulangan kedua, yaitu sebesar
0,2455 m/hour.
7. Secara keseluruhan, karakteristik kelas drainase untuk ketiga lubang adalah
well drainage.

32

Rifki Adipratama
240110110077
V. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:


1. Konduktivitas hidrolik merupakan parameter permeabilitas tanah, hal tersebut
dipengaruhi oleh gravitasi, tekstur tanah dan struktur tanah.
2. Nilai konduktivitas hidrolik dipengaruhi oleh nilai permeabilitas dan tekstur
tanah.
3. Lubang pertama dengan kedalaman 30

tanah

tersebut

mempunyai

konduktivitas hidrolik agak rendah dan daya menahan air rendah, tanah basah
dekat permukaan.
4. Lubang kedua dengan kedalaman 50 cm mempunyai konduktivitas hidrolik
sedang dan daya menahan air sedang, lembab, tapi tidak cukup basah dekat
permukaan, sehingga tanah tersebut demikian cocok untuk berbagai tanaman.
5. Lubang ketiga dengan kedalaman 70 cm konduktivitas hidrolik tinggi dan
daya menahan air rendah. Tanah tersebut demikian hanya cocok untuk
sebagian tanaman kalau tanpa irigasi.
6. Pertanian yang dapat ditanam pada tanah dengan kelas drainase agak cepat
adalah pertanian irigasi.

33

Mumtaz Riz Qiyadah


240110110106
V. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:


1. Konduktivitas hidrolik merupakan kemampuan tanah untuk meloloskan air
2. Pada saat tanah jenuh maka nilai K menurun.
3. Pada kedalaman 30 cm didapatkan debit rata-rata dari 3 kali pengulangan
yaitu sebesar 0,4788 ml/detik, pada kedalaman 50 cm didapatkan debit ratarata dari 3 kali pengulangan yaitu sebesar 0,3782 ml/ detik, dan pada
kedalaman 70 cm didapatkan nilai debit rata-rata dari 3 kali pengukuran
sebesar 2,4309 ml/detik.
4. Pada lubang dengan kedalaman 30 cm didapatkan konduktivitas hidrolik ratarata sebesar 1,935 10-3 cm/ detik, pada kedalaman 50 cm didapatkan
konduktivitas hidrolik rata-rata sebesar 3,209 10-4 cm/ detik, dan pada
kedalaman 70 cm didapatkan konduktivitas hidrolik rata-rata sebesar 0,7283
10-3 cm/ detik.
5. Permukaan lubang pipa yang tidak menyentuh air akan membuat air yang
berada dalam pipa berkurang sehingga hal ini bisa mengurangi keakuratan
praktikan pada saat melakukan percobaan.

34

Billy Abadinur
240110110109
V. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:


1. Lahan tersebut masuk ke dalam kelas drainase baik (well drained), karena
tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang dan daya menahan air sedang,
lembab, tapi tidak cukup basah dekat permukaan.
2. Semakin dalam lubang pengukuran maka akan semakin lama waktu yang
dibutuhkan untuk air dapat masuk kedalam pori tanah.
3. keadaan tanah yang memiliki tingkat jenuh air yang tinggi membutuhkan
waktu yang relatif lama dalam membuang kelebihan air.
4. Pengukuran dengan menggunakan alat Constant Head Permeameter
dibutuhkan ketelitian dan kepekaan dalam mendengarkan suara pergerakan air
pada alat.
5. Ukuran diameter lubang pengukuran sangat mempengaruhi besarnya nilai dari
konduktivitas hidrolik (kemampuan meloloskan air).
6. Semakin kecil ukuran partikel tanah atau pori-pori tanah maka semakin rendah
pula koefisien permeabilitasnnya.

35

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad.

2013.
Konduktivitas
Hidraulik.
Available
at:
http://makalahdottugas.blogspot.com/2013/02/konduktivitashidrolik.html (diakses pada tanggal 19 Mei 2014 pukul 18:40 WIB)

Vidi Andrean. 2013. Simpanan Air Dalam Tanah. Available at: http://vidiandrean.blogspot.com/2012/05/simpanan-air-dalam-tanah.html
(diakses pada tanggal 19 Mei 2014 pukul 18:55 WIB)
Runiasmaranto. 2013. Rembesan Air Dalam Tanah. Available at:
http://runiasmaranto.lecture.ub.ac.id/files/2012/05/REMBESAN-AIRDALAM-TANAH.pdf (diakses pada tanggal 19 Mei 2014 pukul
18:47 WIB)
Anneahira.

Ilmu

2013.
Permeabilitas
Tanah.
Available
http://www.anneahira.com/permeabilitas-tanah.htm (diakses
tanggal 19 Mei 2014 pukul 19:50 WIB)

at:
pada

Tanah. 2013. Permeabilitas Tanah. Available at: http://llmutanah.blogspot.com/2012/06/permeabilitas-tanah.html (diakses pada


tanggal 19 Mei 2014 pukul 19:45 WIB)

36

LAMPIRAN

Gambar 1. Alat Ukur Constant Head Permeameter


(Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2014)

Gambar 2. Percobaan Menggunakan Constant Head Permeameter


(Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2014)

Gambar 3. Proses Pembuatan Lubang Dengan Bor


(Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2014)

37

Gambar 4. Proses Pemberian Air Ke Dalam Lubang Alat


(Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2014)

Gambar 5. Penampang Atas Kondisi Lubang Yang Dijenuhkan


(Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2014)

38