Anda di halaman 1dari 28

1

BAB I
LAPORAN KASUS

I.

IDENTIFIKASI
Nama

: An. RS

Umur

: 7 tahun

Jenis kelamin : laki-laki

II.

Agama

: Islam

Bangsa

: Indonesia

Alamat

: Campang Tiga

MRS

: 30 Juni 2014

ANAMNESIS (Alloanamnesis dan Autoanamnesis, 30 Juni 2014)


Keluhan Utama:
Pasien mengeluh mata kiri kabur setelah terkena ketapel.
Riwayat Perjalanan Penyakit:
Pasien mengeluh mata kiri kabur sejak 3 hari sebelum masuk
rumah sakit. Awalnya pasien terkena ketapel temannya tepat di mata
kirinya. Pasien merasa kepalanya sakit jadi ibunya memijat kepalanya.
2 hari sebelum masuk rumah sakit pasien dibawa berobat ke
bidan diberi obat syrup dan obat tetes mata. Pasien tidak sembuh tetapi
bertambah parah. Pasien lalu datang ke RSUD Kayuagung.
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat kencing manis (-), riwayat trauma pada mata (-), riwayat
memakai kacamata disangkal.
Riwayat Penyakit Dalam Keluarga
Keluarga pasien tidak ada yang memiliki penyakit yang sama.

III.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan umum

: tampak sakit sedang

Kesadaran

: compos mentis

Nadi

: 84x/menit

Pernafasan

: 24x/menit

Suhu

: 36,5oC

Status Oftalmologikus
OD

OS

OD

OS

Visus

6/6

TIO

T=P=N+0

T=P=N+1

GBM

Orthoforia

KBM
Segmen Anterior
Alis mata

Tenang

Tenang

Palpebra superior

Tenang

Edema

et inferior
Konjungtiva

Tenang

Hiperemis

Kornea

Jernih

Edema

BMD

Sedang, jernih

Darah di seluruh BMD

Iris

Gambaran baik

Sulit dinilai

Pupil

Bulat, Sentral, RC (+)

Sulit dinilai

Lensa

3mm
Jernih

Sulit dinilai

Segmen posterior

IV.

Tidak dilakukan

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Darah Rutin (30/6/2014)

V.

Hb

: 13,6 mg/dl

Leukosit

: 5.800 mm3

Trombosit

: 334.000

Waktu perdarahan

: 410

Waktu pembekuan

: 520

DIAGNOSIS KERJA
Hifema grade IV OS

VI.

VII.

VIII.

PENATALAKSANAAN
-

Informed consent

MRS

Bed rest total dengan 2 bantal

Timol 0,25% 2x1 gtt OS

Tobroson 4x1 gtt OS

Asam Tranexamat 3x250 mg

Paracetamol 4x250 mg

Pro parasentesis OS

PROGNOSIS
Quo ad vitam

: bonam

Quo ad functionam

: dubia ad bonam

FOLLOW UP
1 Juli 2014
Status Oftalmologikus
OD

OS

OD

OS

Visus

6/6

1/300

TIO

T=P=N+0

T=P=N+0

GBM
KBM

Orthoforia

Segmen Anterior
- Alis mata
- Bulu Mata

Tenang

Tenang

Tenang

Tenang

- Palpebra

Tenang

Tenang

- Konjungtiva

Tenang

Tenang

- Kornea

Jernih

Edema

- BMD

Sedang, jernih

Darah diseluruh BMD

- Iris

Gambaran baik

Sulit dinilai

Bulat, Sentral, RC (+)

Sulit dinilai

- Pupil

3mm
- Lensa
Segmen Posterior
A/
Th/

Jernih
-

Sulit dinilai

Tidak dilakukan
Post Parasentesis OS a/i Hifema grade IV OS
Bed rest total dengan 2 bantal
Cefadroxil syrup 2x2 cth
Paracetamol 3x1
Asam tranexamat 3x250mg
Tobroson 4x1 gtt OS
Timol 0,25% 2x1 gtt OS

2 Juli 2014
Status Oftalmologikus
OD

OS

OD

OS

Visus

6/6

1/300

TIO

T=P=N+0

T=P=N+0

GBM

Orthoforia

KBM

Segmen Anterior
- Alis mata
- Bulu Mata

Tenang

Tenang

Tenang

Tenang

- Palpebra

Tenang

Tenang

- Konjungtiva

Tenang

Tenang

- Kornea

Jernih

Edema

- BMD

Sedang, jernih

Darah diseluruh BMD

- Iris

Gambaran baik

Sulit dinilai

Bulat, Sentral, RC (+)

Sulit dinilai

- Pupil

3mm
- Lensa
Segmen Posterior
A/
Th/

Jernih
-

Sulit dinilai

Tidak dilakukan
Post Parasentesis OS a/i Hifema grade IV OS
Bed rest total dengan 2 bantal
Cefadroxil syrup 2x2 cth
Paracetamol 3x1
Asam tranexamat 3x250mg
Tobroson 4x1 gtt OS
Timol 0,25% 2x1 gtt OS

3 Juli 2014
Status Oftalmologikus
OD

OS

OD

OS

Visus

6/6

1/300

TIO

T=P=N+0

T=P=N+0

GBM

Orthoforia

KBM

Segmen Anterior
- Alis mata
- Bulu Mata

Tenang
Tenang

Tenang
Tenang

- Palpebra

Tenang

Tenang

- Konjungtiva

Tenang

Tenang

- Kornea

Jernih

Edema

- BMD

Sedang, jernih

Darah 3/4 BMD

- Iris

Gambaran baik

Sulit dinilai

Bulat, Sentral, RC (+)

Sulit dinilai

- Pupil

3mm
- Lensa
Segmen Posterior
A/
Th/

Jernih
-

Sulit dinilai

Tidak dilakukan
Post Parasentesis OS a/i Hifema grade IV OS
Bed rest total dengan 2 bantal
Cefadroxil syrup 2x2 cth
Paracetamol 3x1
Asam tranexamat 3x250mg
Tobroson 4x1 gtt OS
Timol 0,25% 2x1 gtt OS

4 Juli 2014
Status Oftalmologikus
OD

OS

OD

OS

Visus

6/6

1/300

TIO

T=P=N+0

T=P=N+0

GBM
KBM

Orthoforia

Segmen Anterior
- Alis mata
- Bulu Mata

Tenang

Tenang

Tenang

Tenang

- Palpebra

Tenang

Tenang

- Konjungtiva

Tenang

Tenang

- Kornea

Jernih

Edema

- BMD

Sedang, jernih

Darah 3/4 BMD

- Iris

Gambaran baik

Sulit dinilai

Bulat, Sentral, RC (+)

Sulit dinilai

- Pupil

3mm
- Lensa
Segmen Posterior
A/
Th/

Jernih
-

Sulit dinilai

Tidak dilakukan
Post Parasentesis OS a/i Hifema grade IV OS
Bed rest total dengan 2 bantal
Cefadroxil syrup 2x2 cth
Paracetamol 3x1
Asam tranexamat 3x250mg
Tobroson 4x1 gtt OS
Timol 0,25% 2x1 gtt OS

5 Juli 2014
Status Oftalmologikus
OD

OS

10

OD

OS

Visus

6/6

1/300

TIO

T=P=N+0

T=P=N+0

GBM

Orthoforia

KBM

Segmen Anterior
- Alis mata
- Bulu Mata

Tenang

Tenang

Tenang

Tenang

- Palpebra

Tenang

Tenang

- Konjungtiva

Tenang

Tenang

- Kornea

Jernih

Edema

- BMD

Sedang, jernih

Darah 1/2 BMD

- Iris

Gambaran baik

Sulit dinilai

Bulat, Sentral, RC (+)

Sulit dinilai

- Pupil

3mm
- Lensa
Segmen Posterior
A/
Th/

Jernih
-

Sulit dinilai

Tidak dilakukan
Post Parasentesis OS a/i Hifema grade IV OS
Bed rest total dengan 2 bantal
Cefadroxil syrup 2x2 cth
Paracetamol 3x1
Tobroson 4x1 gtt OS
Timol 0,25% 2x1 gtt OS

6 Juli 2014
Status Oftalmologikus
OD

OS

11

OD

OS

Visus

6/6

1/300

TIO

T=P=N+0

T=P=N+0

GBM

Orthoforia

KBM

Segmen Anterior
- Alis mata
- Bulu Mata

Tenang

Tenang

Tenang

Tenang

- Palpebra

Tenang

Tenang

- Konjungtiva

Tenang

Tenang

- Kornea

Jernih

Edema

- BMD

Sedang, jernih

Darah 1/4 BMD

- Iris

Gambaran baik

Sulit dinilai

Bulat, Sentral, RC (+)

Sulit dinilai

- Pupil

3mm
- Lensa
Segmen Posterior
A/
Th/

Jernih

Sulit dinilai
Tidak dilakukan
Post Parasentesis OS a/i Hifema grade IV OS
Bed rest total dengan 2 bantal
Cefadroxil syrup 2x2 cth
Paracetamol 3x1
Tobroson 4x1 gtt OS
Timol 0,25% 2x1 gtt OS

7 Juli 2014
Status Oftalmologikus
OD

OS

12

OD

OS

Visus

6/6

1/60

TIO

T=P=N+0

T=P=N+0

GBM

Orthoforia

KBM

Segmen Anterior
- Alis mata
- Bulu Mata

Tenang
Tenang

Tenang
Tenang

- Palpebra

Tenang

Tenang

- Konjungtiva

Tenang

Tenang

- Kornea

Jernih

Edema

- BMD

Sedang, jernih

Darah (-)

- Iris

Gambaran baik

Sulit dinilai

Bulat, Sentral, RC (+)

Bulat, Sentral, RC (+)

3mm

3mm

- Pupil
- Lensa
Segmen Posterior
A/
Th/

Jernih

Keruh
Tidak dilakukan
Post Parasentesis OS a/i Hifema grade IV OS
- Siloksan 4x1 gtt OS
- Tobroson 4x1 gtt OS

13

14

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I.

PENDAHULUAN
Struktur wajah dan mata sangat sesuai untuk melindungi mata dari cedera.

Bola mata terdapat di dalam sebuah rongga yang dikelilingi oleh tulang yang kuat.
Kelopak mata bisa segera menutup untuk membentuk penghalang bagi benda
asing dan mata bisa mengatasi benturan yang ringan tanpa mengalami kerusakan.
Meskipun demikian, mata dan struktur di sekitarnya bisa mengalami kerusakan
akibat cedera, kadang sangat berat sampai terjadi kebutaan atau mata harus
diangkat. Trauma pada mata harus diperiksa untuk menentukan pengobatan dan
menilai fungsi penglihatan.
Trauma mata sering merupakan penyebab kebutaan unilateral pada dewasa
muda. Kelompok usia ini mengalami sebagian besar cedera mata yang parah.
Dewasa muda, terutama pada pria yang merupakan kelompok yang kemungkinan
besar mengalami cedera tembus mata. Kecelakaan di rumah, kekerasan, ledakan
aki, cedera akibat olahraga, dan kecelakaan lalu lintas merupakan keadaankeadaan yang paling sering menyebabkan trauma mata.
Salah satu di antara sekian banyak penyebab kebutaan, yang sering
dijumpai adalah trauma tumpul pada mata.Walaupun trauma yang mengenai mata
tidak selalu merupakan penyebab utama dari kebutaan, namun merupakan faktor
yang cukup sering mengakibatkan hilangnya penglihatan unilateral. Maka dari itu,
masalah trauma pada mata masihmenjadi satu masalah yang perlu mendapat
perhatian dan menganggapnya sebagai salah satu kasus penyakit mata emergensi.
Suatu benturan tumpul bisa mendorong mata ke belakang sehingga
kemungkinan merusak struktur pada permukaan (kelopak mata, konjungtiva,
sklera, kornea dan lensa) dan struktur mata bagian belakang (retina dan
persarafan). Perdarahan di dalam Camera Oculi Anterior (COA) yang disebut
dengan hifema merupakan masalah yang serius dan harus segera ditangani oleh
dokter spesialis mata.

15

Hifema dapat terjadi akibat trauma tembus ataupun trauma tumpul, dapat
juga perdarahan spontan.Biasanya darah ini berasal dari pembuluh darah iris
ataupun badan siliar yang pecah.Kadang-kadang pembuluh darah baru yang
terbentuk pada kornea pasca bedah katarak dapat pecah sehingga timbul hifema.
II.

DEFINISI
Hifema merupakan keadaan dimana terdapat darah di dalam COA, yaitu

daerah di antara kornea dan iris, yang dapat terjadi akibat trauma tumpul yang
merobek pembuluh darah iris atau badan siliar (gambar 1).Hifema dapat terjadi
akibat trauma tumpul yang merobek pembuluh darah iris atau badan siliar dan
darah bercampur dengan aquous humor yang jernih. Bila pasien duduk hifema
akan terlihat mengumpul di bagian bawah COA dan hifema dapat memenuhi
seluruh ruang COA. Darah dalam cairan aquous humor dapat membentuk lapisan
yang terlihat. Jenis trauma yang menimbulkan hifema tidak perlu harus
menyebabkan perforasi bola mata.

Gambar 1
Ilustrasi hifema
III. EPIDEMIOLOGI
Penelitian menemukan 33% dari seluruh trauma mata yang serius
menimbulkan hifema, 80 % hifema terjadi pada pria, Perkiraan rata-rata kejadian
di Amerika Utara adalah 17-20/100.000 populasi/tahun. Sering pada pasien yang
berumur kurang dari 20 tahun dan pertengahan 30 tahun. Perbandingan antara pria
dan wanita adalah 3:1.

16

Penelitian yang dilakukan di RSUD Arifin Achmad pekanbaru,


menunjukkan pada tahun 2002-2006 terdapat 50 kasus hifema. Kasus terbanyak
pada usia 1-12 tahun. Penyebab tersering akibat benda tumpul.
Olah raga penyebab dari 60% pada populasi anak muda.Penggunaan
pelindung mata (lensa polycarbonate dengan bingkai keras) dapat secara
signifikan menurunkan angka kejadian hifema.57% pasien trauma mata dengan
hifema berlanjut pada kerusakan segmen posterior dari mata tersebut. Dalam hal
ini maka perlu tindakan evaluasi dalam menilai seberapa besar akibat trauma pada
segmen posterior mata.
IV. ETIOLOGI
Hifema biasanya disebabkan trauma pada mata, yang menimbulkan
perdarahan atau perforasi.Hifema juga dapat terbentuk pada kornea pasca bedah
katarak.Perdarahan spontan dapat terjadi pada mata dengan rubeosis iridis, tumor
pada iris, retinoblastoma, dan kelainan darah.Hifema spontan pada anak sebaiknya
dipikirkan kemungkinan leukemia dan retinoblastoma.
Pendarahan yang timbul dapat berasal dari kumpulan arteri utama dan
cabang dari badan ciliar, arteri koroid, vena badan siliar, pembuluh darah iris pada
sisi pupil.
V. PATOFISIOLOGI
Kontusio atau benturan yang mengakibatkan penekanan bola mata
anteroposterior, pengembangan bagian tengah skleral, limbus menegang dan
perubahan letak lensa/ iris posterior dapat mengakibatkan peningkatan tekanan
intra okuli secara tiba-tiba yang mana dapat mengakibatkan kerusakan jaringan
lunak pada sudut bola mata.
Inflamasi yang parah pada iris, sel darah yang abnormal dan kanker
mungkin juga bisa menyebabkanperdarahan pada COA.Trauma tumpul dapat
merobek pembuluh darah iris atau badan siliar. Gaya-gaya kontusif akan merobek
pembuluh darah iris dan merusak sudut COA. Tetapi dapat juga terjadi secara
spontan atau pada patologi vaskuler okuler. Darah ini dapat bergerak dalam ruang
COA, mengotori permukaan dalam kornea.

17

Perdarahan dapat terjadi segera sesudah trauma yang disebut perdarahan


primer.Perdarahan primer dapat sedikit dapat pulabanyak.Perdarahan sekunder
biasanya timbul pada hari ke 5 setelah trauma.Perdarahannya biasanya lebih hebat
daripada yang primer.Oleh karena itu seseorang dengan hifema harus dirawat
sedikitnya 5 hari. Dikatakan perdarahan sekunder ini terjadi karena resorpsi dari
bekuan darah terjadi terlalu cepat sehingga pembuluh darah tak mendapat waktu
yang cukup untuk regenerasi kembali.
Penyembuhan darah pada hifema dikeluarkan dari COA dalam bentuk sel
darah merah melalui sudut COA menuju kanal sclhem sedangkan sisanya akan
diabsorbsi melalui permukaan iris. Penyerapan pada iris dipercepat dengan adanya
enzim fibrinolitik di daerah ini.Sebagian hifema dikeluarkan setelah terurai dalam
bentuk hemosiderin.Bila terdapat penumpukan dari hemosiderin ini, dapat masuk
ke dalam lapisan kornea, menyebabkan kornea menjadi bewarna kuning dan
disebut hemosiderosis atau imbibisi kornea, yang hanya dapat ditolong dengan
keratoplasti. Imbibisio kornea dapat dipercepat terjadinya oleh hifema yang penuh
disertai glaukoma.
VI. KLASIFIKASI
Klasifikasi dari hifema diantaranya adalah :
Edward Layden:
Hifema tingkat I : bila perdarahan < 1/3 COA, hifema tingkat II: bila
perdarahan antara 1/3 COA dan hifema tingkat III : bila perdarahan >
COA.

Rakusin membaginya menurut :


Hifema tingkat I apabila perdarahan mengisi bagian COA, hifema tingkat

II apabila perdarahan mengisi bagian COA, hifema tingkat III apabila


perdarahan mengisi bagian COA dan hifema tingkat IV apabila perdarahan
mengisi penuh COA.
Menurut Sheppard berdasarkan tampilan klinisnya:

18

Grade I: darah mengisi kurang dari sepertiga COA dengan prevalensi


kejadiannya sebanyak 58%.
Grade II: darah mengisi sepertiga hingga setengah COA dengan
prevalensi kejadiannya sebanyak 20%.
Grade III : Darah mengisi lebih dari setengah dan hampir total COA
dengan prevalensi kejadiannya sebanyak14%.
Grade IV: Darah memenuhi seluruh COA dengan prevalensi kejadiannya
sebanyak 8%.

Gambar 2
A. Hifema grade I
B. Hifema grade II
C. Hifema grade III
D. Hifema grade IV

19

Berdasarkan penyebabnya hifema dibagi menjadi:

Hifema traumatika adalah perdarahan pada COA yang disebabkan


pecahnya

pembuluh darah iris dan badan silier akibat trauma pada

segmen anterior bola mata.


Hifema akibat tindakan medis (misalnya kesalahan prosedur operasi mata).
Hifema akibat inflamasi yang parah pada iris dan badan silier, sehingga

pembuluh darah pecah.


Hifema akibat kelainan sel darah atau pembuluh darah (contohnya juvenile

xanthogranuloma).
Hifema akibat neoplasma (contohnya retinoblastoma).

Berdasarkan waktu terjadinya, hifema dibagi atas:


-Hifema primer, timbul segera setelah trauma hingga hari ke 2.
-Hifema sekunder, timbul pada hari ke 2-5 setelah terjadi trauma
VII.

MANIFESTASI KLINIK
Adanya riwayat trauma, terutama mengenai matanya dapat memastikan

adanya hifema. Pada gambaran klinik ditemukan adanya perdarahan pada COA
(dapat diperiksa dengan flashlight), kadang-kadang ditemukan gangguan visus.
Ditemukan adanya tanda-tanda iritasi dari conjunctiva dan pericorneal, penderita
mengeluh nyeri pada mata, fotofobia (tidak tahan terhadap sinar), sering disertai
blefarospasme, kemungkinan disertai gangguan umum yaitu letargi, disorientasi
atau somnolen.
Pasien akan mengeluh nyeri pada mata disertai dengan mata yang berair.
Penglihatan pasien akan sangat menurun. Terdapat penumpukan darah yang
terlihat dengan mata telanjang bila jumlahnya cukup banyak. Bila pasien duduk,
hifema akan terlihat terkumpul di bagian bawah COA, dan hifema dapat
memenuhi seluruh ruang COA. Selain itu, dapat terjadi peningkatan tekanan intra
ocular, sebuah keadaan yang harus diperhatikan untuk menghindari terjadinya
glaucoma.Otot sfingter pupil mengalami kelumpuhan, pupil tetap dilatasi
(midriasis), dapat terjadi pewarnaan darah (blood staining) pada kornea, anisokor
pupil.
VIII. DIAGNOSIS

20

Penderita hifema perlu untuk dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan


pemeriksaan penunjang.Anamnesis meliputi adanya riwayat trauma, kapan
terjadinya trauma. Perlu ditanyakan adanya penyakit lain yang menyertai seperti
kelainan pembekuan darah seperti sel sabit, penyakit hati dan pemakaian aspirin
atau obat tertentu.
Pemeriksaan menggunakan slit lamp digunakan untuk menilai jumlah
akumulasi darah, memastikan tidak ada darah yang mengeras (clot), dan
penyerapan darah tetap lancar. Pemeriksaan Laboratorium seluruh orang kulit
hitam dan keturunan hispanik dengan hifema harus diketahui keadaan sel darah
sabitnya.Pemeriksaan radiologi tidak terlalu diperlukan, tetapi dapat menilai
adanya tulang orbita yang patah atau retak.
Tajam penglihatan dengan menggunakan snellen card mungkin terganggu
akibat kerusakan kornea, aquos humor, iris dan retina.Lapang pengelihatan
mengalami penurunan mungkin disebabkan oleh patologi vaskuler okuler, atau
glukoma.Pengukuran tonografi dilakukan untuk melihat tekanan intra okuler
(TIO).Pemerikasaan oftalmoskopi untuk melihat struktur internal okuler, edema
retina, bentuk pupil dan kornea.Pemeriksaan darah lengkap, laju sedimentasi dan
LED menunjukkan anemia dan keadaan sistemik/infeksi.Tes toleransi glukosa
untuk menentukan adanya diabetes.
IX.

PENATALAKSANAAN
Biasanya hifema akan hilang sempurna. Bila perjalanan penyakit tidak

berjalan demikian maka sebaiknya penderita dirujuk. Walaupun perawatan


penderita hifema traumatik ini masih banyak diperdebatkan, namun pada dasarnya
adalah :
1. Menghentikan perdarahan.
2. Menghindarkan timbulnya perdarahan sekunder.
3. Mengeliminasi darah dari bilik depan bola mata dengan mempercepat
absorbsi.
4. Mengontrol glaukoma sekunder dan menghindari komplikasi yang lain.
5. Berusaha mengobati kelainan yang menyertainya.

21

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka cara pengobatan penderita dengan


traumatik hifema pada prinsipnya dibagi dalam 2 golongan besar yaitu perawatan
dengan cara konservatif/tanpa operasi, dan perawatan yang disertai dengan
tindakan operasi.
PERAWATAN KONSERVATIF/TANPA OPERASI
1. Tirah baring (bed rest total)
Penderita ditidurkan dalam keadaan terlentang dengan posisi kepala
diangkat (diberi alas bantal) dengan elevasi kepala 30 - 45 o (posisi semi fowler).
Hal ini akan mengurangi tekanan darah pada pembuluh darah iris serta
memudahkan kita mengevaluasi jumlah perdarahannya. Ada banyak pendapat dari
banyak ahli mengenai tirah baring sempurna ini sebagai tindakan pertama yang
harus dikerjakan bila menemui kasus traumatik hifema. Bahkan beberapa
penelitian menunjukkan bahwa dengan tirah baring kesempurnaan absorbsi dari
hifema dipercepat dan sangat mengurangi timbulnya komplikasi perdarahan
sekunder. Istirahat total ini harus dipertahankan minimal 5 hari mengingat
kemungkinan perdarahan sekunder. Hal ini sering sukar dilakukan, terlebih-lebih
pada anak-anak, sehingga kalau perlu harus diikat tangan dan kakinya ke tempat
tidur dan pengawasan dilakukan dengan sabar.
2. Pemakaian obat-obatan
Pemberian obat-obatan pada penderita dengan traumatik hifema tidaklah
mutlak, tapi cukup berguna untuk menghentikan perdarahan, mempercepat
absorbsinya dan menekan komplikasi yang timbul. Untuk maksud di atas
digunakan obat-obatan seperti :

Koagulansia
Golongan obat koagulansia ini dapat diberikan secara oral maupun

parenteral, berguna untuk menekan/menghentikan perdarahan, Misalnya :


Anaroxil, Adona AC, Coagulen, Transamin, vit K dan vit C. Pada hifema yang
baru dan terisi darah segar diberi obat anti fibrinolitik (Dipasaran obat ini

22

dikenal sebagai transamine/ transamic acid) sehingga bekuan darah tidak


terlalu cepat diserap dan pembuluh darah diberi kesempatan untuk
memperbaiki diri dahulu sampai sembuh. Dengan demikian diharapkan
terjadinya perdarahan sekunder dapat dihindarkan. Pemberiannya 4 kali 250
mg dan hanya kira-kira 5 hari jangan melewati satu minggu oleh karena dapat
timbulkan gangguan transportasi cairan COA dan terjadinya glaukoma juga
imbibisio kornea. Selama pemberiannya jangan lupa pengukuran tekanan intra
okular.

Midriatika Miotika
Masih banyak perdebatan mengenai penggunaan obat-obat golongan

midriatika atau miotika, karena masing-masing obat mempunyai keuntungan


dan kerugian sendiri-sendiri. Miotika memang akan mempercepat absorbsi,
tapi meningkatkan kongesti dan midriatika akan mengistirahatkan perdarahan.
pemberian midriatika dianjurkan bila didapatkan komplikasi iridiocyclitis.
Akhirnya beberapa penelitian membuktikan bahwa pemberian midriatika dan
miotika bersama-samadengan interval 30 menit sebanyak dua kali sehari akan
mengurangi perdarahan sekunder dibanding pemakaian salah satu obat saja.

Ocular Hypotensive Drug


Semua para ahli menganjurkan pemberian acetazolamide (Diamox)

secara oral sebanyak 3x sehari bilamana ditemukan adanya kenaikan tekanan


intraokuler. Bahkan Gombos dan Yasuna menganjurkan juga pemakaian
intravena urea, manitol dan gliserin untuk menurunkan tekanan intraokuler,
walaupun ditegaskan bahwa cara ini tidak rutin. Pada hifema yang penuh
dengan kenaikan tekanan intra okular, berilah diamox, glyserin, nilai selama
24 jam. Bila tekanan intra okular tetap tinggi atau turun, tetapi tetap diatas
normal, lakukan parasentesa yaitu pengeluaran drah melalui sayatan di kornea
Bila tekanan intra okular turun sampai normal, diamox terus diberikan dan
dievaluasi setiap hari. Bila tetap normal tekanan intra okularnya dan darahnya
masih ada sampai hari ke 5-9 lakukan juga parasentesa.

Kortikosteroid dan Antibiotika

23

Pemberian hidrokortison 0,5% secara topikal akan mengurangi


komplikasi iritis dan perdarahan sekunder dibanding dengan antibiotika.
PERAWATAN OPERASI
Perawatan cara ini akan dikerjakan bilamana ditemukan glaukoma
sekunder, tanda imbibisi kornea atau hemosiderosis cornea. dan tidak ada
pengurangan dari tingginya hifema dengan perawatan non-operasi selama 3 - 5
hari. Untuk mencegah atrofi papil saraf optik dilakukan pembedahan bila tekanan
bola mata maksimal > 50 mmHg selama 5 hari atau tekanan bola mata maksimal
> 35 mmHg selama 7 hari.Untuk mencegah imbibisi kornea dilakukan
pembedahan bila tekanan bola mata rata-rata > 25 mmHg selama 6 hari atau bila
ditemukan tanda-tanda imbibisi kornea.
Tindakan operatif dilakukan untuk mencegah terjadinya sinekia anterior
perifer bila hifema total bertahan selama 5 hari atau hifema difus bertahan selama
9 hari. Intervensi bedah biasanya diindikasikan pada atau setelah 4 hari. Dari
keseluruhan indikasinya adalah sebagai berikut :
1. Empat hari setelah onset hifema total
2. Microscopic corneal bloodstaining (setiap waktu)
3. Total dengan dengan Tekanan Intra Okular 50 mmHg atau lebih selama 4
hari (untuk mencegah atrofi optic)
4. Hifema total atau hifema yang mengisi lebih dari COA selama 6 hari
dengan tekanan 25 mmHg (untuk mencegah corneal bloodstaining)
5. Hifema mengisi lebih dari COA yang menetap lebih dari 8-9 hari (untuk
mencegah peripheral anterior synechiae)
6. Pada pasien dengan sickle cell disease dengan hifema berapapun ukurannya
dengan tekanan Intra ocular lebih dari 35 mmHg lebih dari 24 jam. Jika
Tekanan Inta Ocular menetap tinggi 50 mmHg atau lebih selama 4 hari,
pembedahan tidak boleh ditunda. Suatu studi mencatat atrofi optic pada 50
persen pasien dengan total hifema ketika pembedahan terlambat. Corneal
bloodstaining terjadi pada 43% pasien.Pasien dengan sickle cell

24

hemoglobinopathi diperlukan operasi jika tekanan intra ocular tidak


terkontrol dalam 24 jam.
Tindakan operasi yang dikerjakan adalah :
1. Parasintesis
Mengeluarkan cairan/darah dari bilik depan bola mata melalui lubang yang
kecil di limbus. Parasentese dilakukan bila TIO tidak turun dengan diamox atau
jika darah masih tetap terdapat dalam COA pada hari 5-9.
2. Melakukan irigasi bilik depan bola mata dengan larutan fisiologis.
3. Dengan cara seperti melakukan ekstraksi katarak dengan membuka corneoscleralnya sebesar 120.
X.

PROGNOSIS
Prognosis dari hifema traumatik sangat tergantung pada tingginya derajat

hifema, ada/tidaknya komplikasi dari perdarahan/traumanya, cara perawatan dan


keadaan dari penderitanya sendiri. Hifema yang penuh mempunyai prognosa yang
lebih buruk daripada hifema sebagian dengan kemungkinan timbulnya glaukoma
dan hemosiderosis.
XI.

KOMPLIKASI
Komplikasi yang paling sering ditemukan pada traumatik hifema adalah

perdarahan sekunder, glaukoma sekunder dan hemosiderosis di samping


komplikasi dari traumanya sendiri berupa dislokasi dari lensa, ablatio retina,
katarak dan iridodialysis: Besarnya komplikasi juga sangat tergantung pada
tingginya hifema.
1. Perdarahan sekunder
Komplikasi ini sering terjadi pada hari ke 3 sampai ke 6, sedangkan
insidensinya sangat bervariasi, antara 10 - 40%.Perdarahan sekunder ini timbul
karena iritasi pada iris akibat traumanya, atau merupakan lanjutan dari perdarahan
primernya.Perdarahan sekunder biasanya lebih hebat daripada yang primer.
2. Glaukoma sekunder

25

Timbulnya glaukoma sekunder pada hifema traumatik disebabkan oleh


tersumbatnya trabecular meshwork oleh butirbutir/gumpalan darah. Insidensinya
20% , sedang di RS: Dr: Soetomo sebesar17,5%. Adanya darah dalam COA dapat
menghambat aliran cairan bilik mata oleh karena unsur-unsur darah menutupi
sudut COA dan trabekula sehingga terjadinya glaukoma.Glaukoma sekunder
dapat pula terjadi akibat kontusi badan siliar berakibat suatu reses sudut bilik mata
sehingga terjadi gangguan pengaliran cairan mata.
3. Hemosiderosis kornea
Pada penyembuhan darah pada hifema dikeluarkan dari COA dalam
bentuk sel darah merah melalui sudut COA menuju kanal Schlemm sedangkan
sisanya akan diabsorbsi melalui permukaan iris. Penyerapan pada iris dipercepat
dengan adanya enzim fibrinolitik di daerah ini. Sebagian hifema dikeluarkan
setelah terurai dalam bentuk hemosiderin. Bila terdapat penumpukan dari
hemosiderin ini, dapat masuk ke dalam lapisan kornea, menyebabkan kornea
menjadi bewarna kuning dan disebut hemosiderosis atau imbibisio kornea, yang
hanya dapat ditolong dengan keratoplasti. Imbibisio kornea dapat dipercepat
terjadinya oleh hifema yang penuh disertai glaukoma. Hemosiderosis ini akan
timbul bila ada perdarahan/perdarahan sekunder disertai kenaikan tekanan
intraokuler. Gangguan visus karena hemosiderosis tidak selalu permanen, tetapi
kadang-kadang dapat kembali jernih dalam waktu yang lama (2 tahun).
Insidensinya 10%. 3 Zat besi di dalam bola mata dapat menimbulkan siderosis
bulbi yang bila didiamkan akan dapat menimbulkan ftisis bulbi dan kebutaan.
4. Sinekia Posterior
Sinekia posterior bisa timbul pada pasien traumatik hifema.Komplikasi ini
akibat dari iritis atau iridocyclitis. Komplikasi ini jarang pada pasien yang
mendapat terapi medika mentosa dan lebih sering terjadi pada pada pasien dengan
evakuasi bedah pada hifema. Peripheral anterior synechiae anterior synechiae
terjadi pada pasien dengan hifema pada COA dalam waktu yang lama, biasanya 9
hari atau lebih. Patogenesis dari sinekia anterior perifer berhubungan dengan iritis
yang lama akibat trauma atau dari darah pada COA. Bekuan darah pada sudut

26

COA kemudian bisa menyebabkan trabecular meshwork fibrosis yang


menyebabkan sudut bilik mata tertutup.
5. Atrofi optik
Atrofi optik disebabkan oleh peningkatan tekanan intra okular.
6. Uveitis
Penyulit yang harus diperhatikan adalah glaukoma, imbibisio kornea,
uveitis.Selain dari iris,darah pada hifema juga datang dari badan siliar yang
mungkin juga masuk ke dalam badan kaca (corpus vitreum) sehingga pada
funduskopi gambaran fundus tak tampak dan ketajaman penglihatan menurunnya
lebih banyak.Hifema dapat sedikit, dapat pula banyak.Bila sedikit ketajaman
penglihatan

mungkin

masih

baik

dan

tekanan

intraokular

masih

normal.Perdarahan yang mengisi setengah COA dapat menyebabkan gangguan


visus dan kenaikan tekanan intra okular sehingga mata terasa sakit oleh karena
glaukoma.Jika hifemanya mengisi seluruh COA, rasa sakit bertambah karena
tekanan intra okular lebih meninggi dan penglihatan lebih menurun lagi.

27

BAB III
ANALISIS KASUS

Seorang anak RS, laki-laki usia 7 tahun datang dengan keluhan utama mata
kiri kabur setelah terkena ketapel. Dari anamnesis riwayat perjalanan penyakit,
diketahui bahwa mata kiri kabur sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit.
Awalnya pasien terkena ketapel temannya tepat di mata kirinya. Pasien merasa
kepalanya sakit jadi ibunya memijat kepalanya.
2 hari sebelum masuk rumah sakit pasien dibawa berobat ke bidan diberi
obat syrup dan obat tetes mata. Pasien tidak sembuh tetapi bertambah parah.
Pasien lalu datang ke RSUD Kayuagung.
Dari riwayat perjalanan penyakit terlihat bahwa pasien mengalami trauma
tumpul. Hal ini mengindikasikan perlunya tindakan operasi segera untuk
menghindari kemungkinan komplikasi.
Dari riwayat penyakit dahulu, tidak ditemukan adanya riwayat kencing
manis, riwayat trauma pada mata dan riwayat memakai kacamata. Dari riwayat
penyakit dalam keluarga, diketahui bahwa tidak ada yang memiliki penyakit yang
sama.
Hasil pemeriksaan fisik status generalis pasien masih dalam batas normal
sedangkan dari status oftalmologikus didapatkan bahwa VOD 6/6, VOS 0, TIO
OS T = N+1, Palpebra superior dan inferior OS edema, Konjungtiva OS
hiperemis, Kornea OS edema, BMD OS darah di seluruh BMD, Iris Pupil dan
Lensa OS sulit dinilai. Seluruh pemeriksaan mengarahkan pada diagnosis hifema.
Penatalaksanaan untuk kasus ini adalah dengan Bed Rest total dengan 2
bantal, Timol 0,25% 2x1 gtt OS, Tobroson 4x1 gtt OS, Asam Tranexamat 3x250
mg, Paracetamol 4x250 mg serta rencana parasentesis OS.

28

DAFTAR PUSTAKA
1. Supartoto A, Utomo PT. Trauma Mata dan Rekonstruksi. Dalam : Ilmu
Kesehatan Mata. Jogjakarta : Fakultas Kedokteran Gadjah Mada; 2007.
Hlm 317-44.
2. Vaughan, dkk. Trauma. Dalam : Oftalmologi Umum. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran ECG; 2010. Hlm 380-9.
3. Vaughan, dkk. Anatomi dan Embriologi Mata. Dalam : Oftalmologi
Umum. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran ECG; 2010.
4. Morrison JC, Freedo TF, Toris CB. Anatomy and Physiology of Aqueous
Humor Formation. In : Glaucoma Science and Practice. New York :
Thieme; 2003.
5. Ilyas S. Trauma Mata. Dalam : Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2007. Hlm 263-5.