Anda di halaman 1dari 12

5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Botani dan Morfologi Tanaman Nanas


Tanaman nanas mempunyai nama botani Ananas comosus L. Klasifikasi
dari tanaman nanas adalah sebagai berikut :

Gambar 2.1. Penampilan Buah Nanas (Ananas comosus L.)


Kingdom

Plantae

Superdivisio :

Spermatophyta (tumbuhan berbiji)

Divisio

Magnoliophyta (berbunga)

Kelas

Liliopsida (monokotil)

Ordo

Bromeliales

Famili

Bromeliaceae (nanas-nanasan)

Genus

Ananas

Spesies

Ananas comosus (L.) Merr.


(Soedarya, 2009)

Nanas (Ananas comosus L.) yang kerap dikonsumsi sebagai buah segar
dapat tumbuh dan berbuah di dataran tinggi hingga 1.000 meter dpl. Tanaman
buah yang tidak menyukai air yang menggenang ini, kini ditanam luas di
Indonesia. Sentra produksinya terdapat di beberapa daerah seperti Sumatera
Utara, Riau, Sumatera Selatan, Jawa Barat, dan Jawa Timur (Anonim a, 2012).
Buah nanas muda mempunyai mata berwarna kelabu atau hijau muda,
kelopak kecil-kecil yang menutupi separuh dari mata dan berwarna kelabu
keputih-putihan sehingga buah tampak kelabu. Apabila buah telah tumbuh
maksimal (tua atau mature) dan sejalan dengan proses pematangan maka
warnanya berubah (Maradju, 1976).
Nanas memiliki berbagai varietas yaitu Cayenne, Queen, Spanyol,
Abacaxi. Nanas yang dibudidayakan di Sumatera Selatan adalah varietas Queen,
dengan beberapa ciri antara lain mempunyai daun sangat keras, berukuran lebih
pendek dari ukuran daun jenis lainnya yaitu berkisar antara 35 cm hingga 60 cm
dan berduri tajam, buah lonjong dan berbentuk kerucut dengan rasa yang manis
serta mempunyai warna kuning kemerahan.
Tanaman nanas berbentuk semak dan hidupnya bersifat tahunan. Susunan
tubuh tanaman nanas terdiri dari bagian utama meliputi : akar, batang, daun,
bunga, dan tunas-tunas.
Sistem perakaran tanaman nanas sebagian tumbuh di dalam tanah dan
sebagian lagi menyebar di permukaan tanah. Akar-akar melekat pada pangkal
batang dan termasuk berakar serabut (monocotyledonae). Biji nanas berkeping
tunggal.
Bentuk batang tanaman nanas mirip gada, berukuran cukup panjang antara
20-25 cm atau lebih, tebal dengan diameter 2,0-3,5 cm, beruas-ruas (buku-buku)
pendek. Batang berfungsi sebagai tempat melekat akar, daun, bunga, tunas, dam
buah, sehingga secara visual batang tersebut tidak nampak karena di sekelilingnya
tertutup oleh daun. Tangkai bunga atau buah merupakan perpanjangan batang.
Daun tumbuh memanjang sekitar 130-150 cm, lebar antara 3-5 cm atau
lebih, pinggir daun ada yang berduri dan ada tanpa duri, permukaan daun sebelah
atas halus mengkilap berwarna hijau tua atau merah tua bergaris atau cokelat
kemerah-merahan. Sedangkan permukaan daun bagian bawah berwarna keputih-

putihan atau keperak-perakan. jumlah daun tiap batang (tanaman) bervariasi


antara 70-80 helai yang letaknya seperti spiral, yakni mengelilingi batang mulai
dari bawah ke atas arah kanan dan kiri.
Bunga atau buah nanas muncul pada ujung tanaman. Bunga nanas tersusun
dalam tangkai yang berukuran relatif panjang antara 7-15 cm atau lebih. Tiap
tangkai terdiri dari 100-200 kuntum bunga yang melekat saling berhimpitan
(berdempetan). Sifat pembungaan nanas termasuk menyerbuk silang. Tanpa
melalui penyerbukan silang, buah nanas tidak menghasilkan biji (partenocarpi).
Biji nanas ukurannya kecil, panjang 3-5 mm, lebar 1-2 mm, berwarna
coklat, kasar, dan liat. Biji dapat dipergunakan sebagai alat perbanyakan tanaman
secara genetik, namun terbatas untuk skala penelitian.
Nanas mempunyai nilai ekonomi penting, selain dapat dikonsumsi sebagai
buah segar juga dapat diolah menjadi berbagai macam makanan dan minuman,
seperti selai, buah dalam sirup, buah kalengan, dan sebagainya (Soedarya, 2009).
Buah nanas mengandung enzim bromelin, yaitu suatu enzim protease
yang dapat menghidrolisa protein, protease, atau peptide, sehingga dapat
digunakan untuk melunakkan daging. Nanas juga bermanfaat bagi kesehatan
tubuh dan berkhasiat sebagai obat penyembuh berbagai penyakit. Kandungan
serat dan Kalium dalam buah nanas dapat digunakan sebagai obat sembelit dan
gangguan pada saluran air kencing.
Kulit buah nanas dapat diolah menjadi sirop atau diekstraksi cairannya
untuk pakan ternak. Batang nanas dapat diambil tepungnya. Kadar tepung batang
nanas yang tua berkisar antara 10% - 15% dari berat segar. Serat pada bagian
tanaman nanas, terutama serat daun, dapat dimanfaatkan sebagai bahan kertas dan
tekstil (Anonim b, 2012)
Buah nanas yang baik dan siap disantap segar adalah yang sudah tua tetapi
tidak terlalu matang, keras (tidak lunak apabila ditekan dengan jari), bersih,
kering, matanya telah tumbuh penuh (menumpul dan melebar), serta aromanya
mulai harum. Buah harus bebas dari penyakit, pecah-pecah, memar dan luka
akibat gesekan, serangan hama, atau rusak terbakar sinar matahari. Bagian puncak
buah telah menunjukkan warna kuning kehijauan, diameter 9 cm, bentuk buah
normal, mahkotanya sebaiknya satu, utuh, rapi dan berukuran normal.

Adapun kandungan gizi buah nanas dapat dijelaskan dalam bentuk tabel
berikut :
Tabel 2.1. Kandungan Gizi Buah Nanas (Ananas comosus L.)
N0

Kandungan gizi

Jumlah

1.

Kalori

52,00 kal

2.

Protein

0,40 g

3.

Lemak

0,20 g

4.

Karbohidrat

16,00 g

5.

Fosfor

11,00 mg

6.

Zat Besi

0,30 mg

7.

Vitamin A

130,00 SI

8.

Vitamin B1

0,08 mg

9.

Vitamin C

24,00 mg

10.

Air

85,30 g

11.

Bagian dapat

53,00 %

dimakan

(Anonim d, 2012)

2.2. Jenis atau Varietas Nanas


Berdasarkan habitus tanaman, terutama bentuk daun dan buah dikenal
beberapa jenis golongan nanas, yaitu :
-

Cayenne (daun halus, tidak berduri, buah besar). Nanas cayenne bukan asli
nanas Indonesia, melainkan hasil introduksi dari cayenne di Eropa.
Dibanding dengan nanas bogor atau nanas palembang, rasa nanas cayenne
agak asam dengan kandungan air yang lebih banyak, dan memiliki serat
buah yang lebih kasar. Itulah sebabnya, nanas ini lebih cocok jika
dipasarkan dalam bentuk kalengan. Di Indonesia jenis nanas Cayenne
biasanya disebut dengan nama daerah, misalnya nanas semarang, Barabi
(Lombok) dan Subang.

Queen (daun pendek berduri tajam, buah lonjong mirip kerucut). Jenis ini
banyak ditanam di Australia dan Afrika Selatan. Nanas ini lebih cocok jika
dikonsumsi sebagai buah segar. Contoh varietas dan kultivar nanas
golongan Queen diantaranya adalah nanas Bogor, Blitar dan Palembang.
Nanas asal Sipahutar ini digolongkan pada jenis ini.

Spanyol/Spanish (daun panjang kecil, berduri halus sampai kasar, buah


bulat dengan mata datar). Nanas jenis ini banyak ditanam di Amerika
Tengah dan Amerika Selatan. Secara tradisional, serat daunnya digunakan
untuk membuat kain di Filipina. Buahnya digunakan untuk buah meja.
Contoh varietasnya antara lain Nanas Singapore Spanish dan Red Spanish.

Abacaxi (daun panjang berduri kasar, buah silindris atau seperti piramida).
Nanas jenis ini dipelihara di Brazil, dan dijual untuk pasaran local di
Indonesia. Buahnya sangat cocok digunakan untuk buah meja. Contoh
varietas golongan Abacaxi diantaranya Pernambuco, Sugarloat dan
Eleuthera.

Srikaya. Kadar airnya sangat tinggi hingga mencapai sekitar 80-90%,


mudah mengalami perubahan fisik-kimia maupun fisiologis. Oleh karena
itu, pengolahan pascapanen menjadi penting pada buah jenis ini.

Blitar. Ukuran buahnya kecil dengan beratnya sekitar 1 kg. Nanas Blitar
diunggulkan karena rasa buahnya enak dan aroma yang harum. Seratnya
halus dan kadar airnya sedikit. Cocok dijadikan sebagai buah meja.

Bogor. Berukuran kecil, yaitu sekitar 0,5-1 kg. Bila sudah tua, kulit
buahnya akan berwarna kuning dengan mata berlekuk ke dalam.

Subang. Nanas ini diunggulkan karena buahnya yang berukuran besar


dengan berat rata-rata 3 kg/ buah bahkan ada yang mencapai 5 kg/buah.
Sangat cocok digunakan untuk bahan olahan yang dikemas dalam kaleng.

Palembang. Berat buahnya sekitar 1kg/ buah. Rasanya manis, berwarna


kuning keemasan, dan hamper tidak memiliki serat. Kandungan air dari
jenis ini tidak banyak, teksturnya halus dank eras. Nanas ini cocok
dijadikan buah meja.

Kerang. Daun permukaan atasnya berwarna hijau dan permukaan


bawahnya ungu. Bunga berwarna putih yang terletak di sekitar pangkal

10

pelepah daun. Nanas ini banyak ditanam sebagai latar depan rumah,
tanaman pembatas jalan dan tanaman hias di ruangan.
Varietas/kultivar nanas yang banyak ditanam di Indonesia adalah golongan
Cayenne dan Queen. Golongan Spanish dikembangkan di kepulauan India Barat,
Puerte Rico, Mexico dan Malaysia. Golongan Abacaxi banyak ditanam di
Brazilia. Dewasa ini ragam varietas/kultivar nanas yang dikategorikan unggul
adalah Nanas Bogor, Subang, dan Palembang (Soedarya, 2009). Jenis nanas asal
Sipahutar merupakan gabungan antara cayenne dengan queen.

2.3. Kultur Jaringan


Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara
vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara
mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan
bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan
zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian
tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap.
Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbanyakan tanaman dengan
menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang
dilakukan di tempat steril (Anonim c, 2012).
Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak
tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara
generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa
keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat
diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat
yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang
singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih
cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional (Yuliarti, 2010).

2.3.1 Media dan Lingkungan Kultur jaringan


Dalam

kultur

jaringan,

media

merupakan

tempat

tumbuh

dan

berkembangnya eksplan. Media yang digunakan digolongkan pada media cair dan
media padat. Media cair adalah nutrisi yang dilarutkan di air. Media cair dapat

11

bersifat tenang atau dalam kondisi selalu bergerak, tergantung kebutuhan.


Sedangkan media padat pada umumnya berupa padatan gel, seperti agar, dimana
nutrisi dicampurkan pada agar. Perbedaan komposisi media dapat mengakibatkan
perbedaan pertumbuhan dan perkembangan eksplan yang ditumbuhkan secara in
vitro.

Media Murashige dan Skoog (MS) merupakan media yang sering

digunakan karena cukup memenuhi unsur hara makro, mikro dan vitamin untuk
pertumbuhan tanaman (Anonim c, 2012).
Dengan kultur jaringan kita dapat mengontrol kondisi eksplan agar yang
dikulturkan dapat tumbuh sesuai arah yang diinginkan. Pertumbuhan organ,
jaringan, baik pada kultur maupun pada tanaman biasa, ditentukan oleh kondisi
fisiologis jaringan. Respons tanaman terhadap perubahan kondisi pertumbuhan
harus dimediasi oleh perubahan fisiologis jaringan. Dalam praktiknya hal ini
berarti bahwa kondisi yang tepat diperlukan untuk memungkinkan respon
pertumbuhan tertentu pada kultur bergantung pada status fisiologis bahan
tanaman.
Pada suhu ekstrim, dimana terjadi perubahan suhu lingkungan yang secara
tiba-tiba meningkat, dapat mengakibatkan dormansi, yaitu tidak terjadinya
pertumbuhan bagian tanaman atau hanya tumbuh sedikit sekali. Oleh karena itu,
dengan kultur jaringan dapat dirangsang pertumbuhan dan perkembangan yang
cepat sehingga peristiwa dormansi dapat dicegah. Caranya adalah pemberian Zat
Pengatur Tumbuh (ZPT) atau hormone tumbuhan (Yuliarti, 2010).
Lingkungan tumbuh yang mempengaruhi regenerasi tanaman meliputi
temperatur, panjang penyinaran, intensitas penyinaran, kualitas sinar, dan ukuran
wadah kultur.

2.3.2. Keberhasilan Kultur Jaringan


Keberhasilan kultur jaringan dipengaruhi hal-hal sebagai berikut :
1. Bentuk regenerasi dalam kultur : pucuk aksilar, pucuk adventif, embrio
somatic, pembentukan plb, dan lain-lain.
2. Eksplan, adalah bagian tanaman yang dipergunakan sebagai bahan
awal untuk perbanyakan tanaman. Faktor eksplan yang penting adalah

12

varietas, umur eksplan, letak pada cabang, dan kesterilan eksplan yang
akan digunakan.
3. Media tumbuh, yang mana di dalam media tumbuh tersebut
terkandung komposisi garam anorganik dan zat pengatur tumbuh. And
skoog (MS).
4. Zat pengatur tumbuh (ZPT), yang mana factor yang perlu diperhatikan
dalam penggunaan zpt adalah konsentrasi, urutan penggunaan, dan
periode masa induksi dalam kultur tertentu. Penggolongan zat pengatur
tumbuh diantaranya auksin, sitokinin, giberelin, dan sebagainya.
5. Lingkungan tumbuh yang mempengaruhi regenerasi tanaman, meliputi
temperatur, panjang penyinaran, intensitas penyinaran, kualitas sinar,
dan ukuran wadah kultur.

2.3.3. Sterilisasi Eksplan


Problem terbesar yang dihadapi pada tissue culturist adalah kontaminasi
mikroba pada kultur, baik oleh bakteri maupun jamur. Dua cara dapat digunakan
untuk mengurangi kontaminasi kultur, yaitu dengan metode fisik atau kimiawi.
Metode fisik ditujukan untuk mengatasi kontaminasi mikroba dengan mengurangi
ukuran populasi mikroba. Sedangkan metode kimia dapat dilakukan dengan zat
kimia, misalnya mercuric chloride (HgCl2), sodium hipoklorit (NaOCl), klorin
(kloroks), dan lain-lain.
Larutan klorin dapat membunuh mikroorganisme eksternal namun tidak
dapat mematikan mikroorganisme internal dalam jaringan tanaman. Beberapa
laboratorium menggunakan antibiotic untuk membunuh kontaminan endogenus.
Tidak ada antibiotik yang efektif untuk membunuh semua mikroorganisme
penyebab kontaminasi. Jadi penggunaan antibiotic sebaiknya dihindari.

2.3.4. Teknik Sterilisasi Eksplan Tanaman


Dalam kultur jaringan, inisiasi kultur yang bebas dari kontaminan
merupakan langkah yang sangat penting, karena tanaman yang dari lapang
mengandung debu, kotoran-kotoran dan berbagai kontaminan hidup pada
permukaannya. Kontaminan hidup dapat berupa cendawan, bakteri, serangga dan

13

telurnya, tungau serta spora-spora. Bila sumber kontaminan ini tidak dihilangkan,
maka pada media yang me-ngandung gula, vitamin dan mineral akan
ditumbuhi oleh jamur dan bakteri. Apabila eksplan terkontaminasi, maka akan
mati oleh persenyawaan beracun yang di produksi dan dikeluarkan oleh bakteri
atau jamur.

Pada beberapa tanaman, ditemukan juga kontaminan yang berasal dari


dalam jaringan tanaman, terutama bakteri. Kontaminan internal ini sangat
sulit diatasi, karena sterilisasi permukaan tidak menyelesaikan masalah. Pada
bahan tanaman yang mengandung kontaminan internal, harus diberi perlakuan
antibiotik atau bakterisida yang sistemik.
Tiap bahan tanaman mempunyai tingkat kontaminasi permukaan yang ber-bedabeda, tergantung dari :
1.

Jenis tanamannya

2.

Bagian tanaman yang dipergunakan

3.

Morfologi permukaan (contoh: Berbulu atau tidak)

4.

Lingkungan tumbuhnya (green house atau lapangan)

5.

Musim waktu mengambil (musim hujan atau kemarau)

6.

Umur tanaman (seedling atau tanaman dewasa)

7.

Kondisi tanamannya (sehat atau sakit)

Keadaan ini menyukarkan penentuan suatu prosedur sterilisasi standart


yang berlaku untuk semua tanaman. Juga sukar untuk menentukan prosedur
standart yang dapat digunakan untuk suatu jenis tanaman yang berasal dari tempat
yang berbeda. Prosedur sterilisasi setiap tanaman harus ditentukan melalui
percobaan pendahuluan.
Dalam sterilisasi bahan tanaman, hal yang penting yang harus
mendapat perhatian adalah; bahwa sel tanaman dan kontaminan adalah
sama-sama benda hidup. Kontaminan harus dihilangkan tanpa mematikan
sel tanaman.

14

Tabel 2.3.4.

Beberapa jenis bahan disenfektan yang dapat digunakan untuk


sterilisasi bahan tanaman

No

Bahan

Konsentrasi

Lama
perendaman

Kalsium hipoklorit

1 10 %

5 30
menit

Natrium hipoklorit

12%

7 15
menit

Hidrogen peroksida

3 10 %

5 15
menit

Perak nitrat

1%

5 30
menit

Merkuri klorit (HgCl2)

0.1 0.2 %

10 20
menit

Bethadine

2.5 10 %

5 10
menit

Fungisida

2 g/l

20 30
menit

Antibiotik

50 100
mg/l

- 1 jam

Alkohol

70 %

1 10
menit

10

Bayclin/sunclin

5 30 %

5 25
menit

Bahan-bahan sterilisasi ini pada umumnya bersifat toxic/racun terhadap jaringan


tanaman.

Pembilasan

yang berkali-kali

sesudah

perendaman eksplan

di

dalam larutan bahan sterilisasi, sangat diperlukan untuk menghilangkan sisa-sisa


bahan aktif yang masih menempel dipermukaan bahan tanaman.
Dalam sterilisasi, kadang-kadang digunakan dua atau lebih bahan
sterilisasi. Misalnya; perendaman dalam alkohol dulu, kemudian dalam bayclin,
setelah itu bilas dengan air steril. Dapat juga perendaman di mulai dengan larutan

15

fungisida atau antibiotik, kemudian baru HgCl2 dan dibilas dengan air steril.
Prosedur mana yang efektif, harus ditentukan melalui percobaan pendahuluan.
Sterilisasi

bahan tanaman

dimulai

dengan

pencucian

dan

pembuangan bagian-bagian yang kotor dan mati di bawah pancuran air bersih.
Pencucian dapat dilakukan dengan penyikatan menggunakan detergent halus.
Kadang-kadang bahan yang sudah bersih dibiarkan dibawah pancuran air selama
30 menit. Hal ini dilakukan untuk memecah koloni kontaminan yang masih
menempel dipermukaan agar koloni tersebut lebih peka terhadap bahan-bahan
sterilisasi. Juga untuk mengurangi dan menghilangkan senyawa fenol, terutama
pada tanaman yang kandungan fenoliknya tinggi.
Bahan yang sudah bersih dikecilkan sampai ukuran tertentu. Ukuran
ini harus lebih besar dari ukuran eksplan yang direncanakan. Bahan kemudian
direndam dalam larutan fungisida/antibiotik. Setelah waktu perendaman tercapai,
bahan dicuci bersih dan ditiriskan, kemudian bawa masuk ke dalam laminar. Di
dalam laminar eksplan direndam dalam alkohol 70 % selama 1 2 menit, dan
dibilas dengan air steril sekali. Kemudian rendam eksplan dalam larutan bayclin
20 % + tween-20 2tetes selama 10 menit. Tween-20 ini berfungsi sebagai perekat.
Setelah waktu pe-rendaman tercapai, eksplan dibilas dengan air steril 3 5 kali
selama 5 menit untuk tiap-tiap pembilasan dan letakkan di dalam petridish yang
dialasi tissue steril. Bila semua prosedur sudah dilakukan, berarti bahan tanaman
sudah siap di tanam pada media kultur.
Prosedur sterilisasi dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan, seperti :
1.

Fungisida alkohol bayclin bayclin aquades steril

2.

Alkohol bayclin bayclin aquades steril

3.

HgCl2 alkohol aquades steril

4.

Fungisida bayclin bayclin bayclin aquades steril

Berbagi teknik sterilisasi eksplan nanas telah dipublikasikan dalam bentuk jurnaljurnal ilmiah sehingga dapat diakses dan dijadikan bahan acuan dalam melakukan
sterilisasi eksplan lapang nanas. Diantaranya penelitian yang dilakukan oleh
Purnamaningsih, dkk (2009), melakukan sterilisasi eksplan nanas simadu dengan
tahapan :

16

1. Memilih mahkota buah (crown) yang segar dan baru dipetik dari pohon.
2. Mengisolasi mata tunas
3. Melakukan perendaman eksplan pada zat - zat antara lain alkohol, HgCl2
0,2% dan kloroks 15 dan 30 %.
Dengan menggunakan teknik sterilisasi ini peneliti dapat menghasilkan planlet
dengan kontaminasi sedikit sehingga hasil akhir pengamatan dapat optimal.
Penelitian lain yang melakukan sterilisasi nanas adalah dilakukan oleh
Silvina, Fetmi dan Murniati (2007). Tahapan teknik sterilisasinya adalah sebagai
berikut :
Eksplan (jaringan mahkota nanas) dikupas sisiknya, dicuci pada air mengalir, lalu
direndam ke dalam alkohol 40% selama 5 menit. Kemudian dibawa ke laminar air
flow cabinet untuk dilakukan sterilisasi. Sterilisasi I jaringan direndam dalam
larutan kloroks 10 % selama 5 menit, kemudian larutan kloroks 5 % selama 3
menit. Setelah itu jaringan mahkota nanas dipotong-potong sebesar 1 cm, lalu
direndam dalam larutan kloroks 1% selama 1 menit. Sebelum ditanam, jaringan
tersebut dibilas dengan aquades steril sebanyak 3 kali. Selanjutnya jaringan
tanaman ditanam dalam botol kultur.
Dengan metode ini, eksplan dapat berkembang namun sebagian eksplan
mengalami kontaminasi sehingga dilakukan pengulangan terus menerus sehingga
di dapat hasil yang baik.