Anda di halaman 1dari 7

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian
Psikoneuroimunologi (PNI) adalah suatu cabang ilmu kedokteran yang
mengkaji interaksi antara faktor stress psikologis yang mempengaruhi respon imun,
pengaruh stres psikologis terhadap perubahan respons imun serta manifestasi berbagai
penyakit yang diperantarai oleh sistem imun.
Psikoneuroimunologi (PNI) adalah cabang ilmu kedokteran yang mengkaji
interaksi antara faktor psikologis, sistem saraf dan sistem imun melalui modulasi
sitem endokrin. Cabang ilmu ini relatif baru, karena baru berkembang sejak dua
dekade yang lalu dan telah banyak memberikan kontribusi kepada ilmu kedokteran
umumnya. Stresor psikologis yang diterima di otak melalui sistem limbik kemudian
diteruskan ke hipothalamus ditanggapi sebagai stress perception dan kemudian
diterima sistem endokrin sebagai stress responses. Saat ini PNI telah berkembang
dengan pesat dan banyak peneliti dapat menjelaskan peran stres psikologis dalam
patobiologi beberapa penyakit. Respon stres berfungsi untuk menjaga keseimbangan
tubuh yang dikenal sebagai homeostatis. Komunikasi antara sistem saraf pusat (SSP)
dengan jaringan limfoid primer dan sekunder dimediasi secara anatomis melalui serat
saraf yang menginervasi jaringan limfoid seperti kelenjar limfe regional maupun
kelenjar thymus dan juga melalui mediator neurotransmiter dan neuropeptid. Telah
dibuktikan bahwa organ limfoid primer seperti sumsum tulang, timus dan kelenjar
limfe di persarafi oleh serat saraf simpatik. Demikian pula, sel limfoid mempunyai
reseptor terhadap berbagai hormon dan neurotransmiter yang dilepaskan oleh sel saraf
dan kelenjar endokrin. Demikian komunikasi ke dua sistem tersebut dapat terjadi
timbal balik.
Oligter 1988 memberikan batasan tentang PNI (Psikoneuroimunologi) adalah
kajian terhadap interaksi kesadaran, fungsi otak dan syaraf perifer serta ketahanan
tubuh terutama imunologi. Pengertian Psikoneuroimunologi tidak terpisah-pisah tapi
merupakan suatu kesatuan.
Psikoneuroimunologi mempelajari tentang 3 pokok bahasan yang saling berkaitan
yaitu antara pikiran, syaraf dengan ketahanan tubuh.

1. Psikologi (pikiran)
Psikologi Menurut Beberapa Ahli Psikologi berasal dari kata dalam bahasa
Yunani Psychology yang merupakan gabungan dan kata psyche dan logos. Psyche
berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Secara harafiah psikologi diartikan sebagal
ilmu jiwa. Istilah psyche atau jiwa masih sulit didefinisikan karena jiwa itu
merupakan objek yang bersifat abstrak, sulit dilihat wujudnya.
Psikologi adalah sebuah bidang ilmu pengetahuan dan ilmu terapan yang
mempelajari mengenai perilaku dan fungsi mental manusia secara ilmiah. Para
praktisi dalam bidang psikologi disebut para psikolog. Para psikolog berusaha
mempelajari peran fungsi mental dalam perilaku individu maupun kelompok,
selain juga mempelajari tentang proses fisiologis dan neurobiologis yang
mendasari perilaku.
2. Neurologi (syaraf)
Neurologi adalah spesialisasi medis yang berkaitan dengan studi tentang struktur,
fungsi, dan penyakit dan gangguan pada sistem saraf. Sistem saraf termasuk
sistem saraf pusat (SSP) yang terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang, dan
juga sistem saraf perifer (PNS) yang mencakup saraf individual di semua bagian
tubuh. Dokter spesialis neurologi juga disebut ahli saraf.
3. Imunologi (ketahanan tubuh)
Suatu ilmu yg berparadigma berdasar atas perubahan biologis dari sistem imun
ketika ia merespon benda asing. Keutuhan tubuh dipertahankan oleh sistem
kekebalan tubuh yang terdiri atas sistem imun nonspesifik dan spesifik.
Menurut Holden (2005), mengenalkan istilah psikonuroimunologi yaitu kajian
yang melibatkan berbagai segi keilmuan, neurologi, psikiatri dan imunologi.
Sedangkan menurut Martin ( 2006 ), mengemukakan ide dasar konsep
psikoneroimunologi yaitu :
1. Status emosi menentukan fungsi sistem kekebalan.
2. Stres dapat meningkatkan kerentanan tubuh terhadap infeksi.

B. PROSES KERJA PSIKONEUROIMUNOLOGI


Polliter, 1988 Psiko Neuro Imunologi adalah kajian terhadap interaksi antara
kesadaran, fg otak dan syaraf perifer serta ketahanan tubuh ( imunologi ).
Perasaan stress atau kondisi stress atau respon stress akan terjadi bila seseorang itu
sadar atas tanggung jawabnya. Awarnes itu product dari otak yg disebut persepsi.
Rangsangan atau sinyal stressor akan dirambatkan lewat fg otak atau syaraf perifer
sehingga sampai kesist imun. Ketika sampai ke sistem imun maka akan terjadi

perubahan ketahanan tubuh menjadi menurun, maka akan terjadi peningkatan


kerentangan infeksi dan metastase kanker. Persepsi seseorang akan menetukan
Neurotransmiter : Hipotalamus , Pituitari, Adrenal, Aksis.
Hipothalamus akan menghasilkan Corticotropin Releasing Factor dan akan memicu
Pituitari menghasilkan ACTH,
Cortisol

memicu Cortek adrenal sehingga menghasilkan

yang berpengaruh pada sistem Imun. CORTISOL meningkat,

akan

menurunkan respon imun.


C. STRES DAN STRESOR
Dalam ilmu psikologi stres diartikan sebagai suatu kondisi kebutuhan tidak terpenuhi
secara adekuat, sehingga menimbulkan adanya ketidakseimbangan. Taylor (1995)
mendeskripsikan stres sebagai pengalaman emosional negatif disertai perubahan
reaksi biokimiawi, fisiologis, kognitif dan perilaku yang bertujuan untuk mengubah
atau menyesuaikan diri terhadap situasi yang menyebabkan stres.
Faktor-faktor yang dapat menimbulkan stres disebut stresor. Stresor dibedakan atas 3
golongan yaitu :
1. Stresor fisik biologik : dingin, panas, infeksi, rasa nyeri, pukulan dan lain-lain.
2. Stresor psikologis : takut, khawatir, cemas, marah, kekecewaan, kesepian, jatuh cinta
dan lain-lain.
3. Stresor sosial budaya : menganggur, perceraian, perselisihan dan lain-lain. Stres dapat
mengenai semua orang dan semua usia
Psikoneuroimunologi berawal dari fakta bahwa stress dapat mempermudah terjadinya
infeksi dan metastase kanker karena kerentanan infeksi dapat meningkat bila terjadi
penurunan ketahanan tubuh. Dan terjadinya metastasis karena terjadinya penurunan
daya tahan tubuh.
Pada tahun 1975 mulai dikenal suatu kajian yang mencoba menghubungkan antara
kesadaran

dengan

fungsi

otak

atau

syaraf

perifer

dan

fungsi

imun

(psikoneuroimunologi). Stress merupakan produk dari fungsi otak yang disebut


persepsi. Sesuatu dianggap stressor atau tidak tergantung dari persepsi masingmasing. Berbagai penelitian dilakukan untuk mengetahui penurunan ketahanan tubuh
dapat menyebabkan kerentanan infeksi dan metastasis.

Menurut ilmu jiwa hidup perlu stress, agar menjadi lebih dewasa atau lebih mampu
menghadapi terjadinya perubahan. (bisa beradaptasi). Perlindungan terhadap
seseorang (over protection) menjadikan seseorang cengeng (labil). Kemampuan
menghadapi stressor disebut koping mekanisme. Semakin berhasil menghadapi stress
,kopingnya semakin tinggi.
Seley tahun 1946 mengkatagorikan stress menjadi 3 tahap :
1. Alarm Stage (waspada/labil) : merupakan reaksi awal tubuh dalam menghadapi
berbagai stresor. Tubuh tidak dapat mempertahankan tahap ini dalam waktu yang
lama.
2. Adaptation Stage (eustress) : tubuh mulai beradaptasi dengan adanya stres dan
berusaha mengatasi dan membatasi stresor. Ketidakmampuan beradaptasi akan
berakibat orang menjadi lebih rentan terhadap penyakit.
3. Exhaustion Stage (kelelahan/distress) : tahap dimana adaptasi tidak besa
dipertahankan, disebabkan karena stresor yang berulang atau berkepanjangan
sehingga stres berdanpak pada seluruh tubuh.
D. PENGARUH STRES TERHADAP SISTEM IMUN
Stimulus stres pertama kali diterima oleh sistim limbik di otak yang berperan
sebagai regulasi stres, perubahan neurokimiawi yang terjadi selanjutkan akan
mengaktivasi beberapa organ lain dalan sistem saraf pusat untuk selanjutnya akan
membangkitkan respon stres secara fisiologis, selular maupun molekular. Stresor
dapat memacu respons imun tubuh terhadap berbagai stimulus yang dapat
mengganggu kemampuan kompensatorik tubuh dalam upaya mempertahankan
homeostatis. Stresor telah diketahui dapat merangsang sistem tubuh untuk
memproduksi hormon stres utama yaitu glukokortikoid, epinefrin, norepinefrin,
serotonin, dopamin, beta endorfin dan sebagainya. Respon stress tersebut akan
membangkitkan suatu rentetan reaksi melalui beberapa sumbu (axis), dalam upaya
menjaga homeostasis, ada 5 sumbu utama respons stres adalah; 1. Sumbu
hypothalamus-pituitary-adrenal (HPA axis), 2. Sumbu Simpato-adrenal-medulari
(SAM), 3, Sumbu CRH-Sel Mast, 4. Melalui Neuropeptid, Sumbu HipotalamusPituitary-Tiroid, Sumbu HPA- Sistem reproduksi.

BAB III
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Dalam pembahasan tentang psikoneuroimunologi (PIN) dalam memahami peran
stresor psikologi akut dan kronis pada sistem kekebalan dan perkembangan penyakit
arteri koroner (CAD), dapat disimpulkan sebagai berikut.
1.

PNI mengilustrasikan bagaimana stres psikologi merubah fungsi endotel dan


merangsang kemotaksis.

2. Stres psikologi akut merangsang leukositosis, meningkatkan sitotoksisitas sel NK


dan mengurangi respons proliferasi mitogen, sedangkan stres psikologi kronik
dapat menimbulkan efek buruk bagi kesehatan yang menghasilkan perubahan
dalam fungsi kardiovaskuler dan perkembangan CAD.
3. Stres psikologi akut dan kronis akan meningkatkan faktor hemostasis dan protein
fase akut yang dapat merangsang pembentukan thrombus dan miokard infark.

DAFTAR PUSTAKA
Nursalam, Dian Ninuk. 2007. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiv. Jakarta: Salemba
medika
Nursalam. 2006. Efek Strategi Koping dalam Asuhan Keperawatan pada respons
psikologis dan biologis pasien dengan HIV-AIDS. Jurnal Ners.
Notosoedirdjo M. Psychobiological Basis of Psychoneuroimmunology, Folia Medika
Indonesiana 1999
Abbas AK, Lichtman AH, Pober JS. Cellular and Molecular Immunology, Massachusetts:
W.B. Saunders Co. 1999.
Maier, S.F., Watkins, L.R., & Fleshner. M. 1994. Psychoneuroimmuno1ogy: The interface
between behavior, brain, and immunity. AmeriCQn Psychofogist.
Antoni MH. Stress management effects on psychological, endocrinological, and immune
functioning

in

men

with

HIV

infection:

empirical

support

for

psychoneuroimmunological model. Stress 2003.


Walls A. Resilience and psychoneuroimmunology: The role of adaptive coping in immune
system responses to stress. Dissertation Abstracts International 2008: Section B: The
Sciences and Engineering 69;1350.