Anda di halaman 1dari 67
Kemenakertrans RI PEDOMAN PENYUSUNAN PROGRAM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI (PBK) PROGRAM PELATIHAN TNA SKKNI → →
Kemenakertrans RI PEDOMAN PENYUSUNAN PROGRAM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI (PBK) PROGRAM PELATIHAN TNA SKKNI → →
Kemenakertrans RI PEDOMAN PENYUSUNAN PROGRAM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI (PBK) PROGRAM PELATIHAN TNA SKKNI → →

Kemenakertrans RI

PEDOMAN PENYUSUNAN PROGRAM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI (PBK)

PENYUSUNAN PROGRAM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI (PBK) PROGRAM PELATIHAN TNA SKKNI → → → PROGRAM MODUL
PENYUSUNAN PROGRAM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI (PBK) PROGRAM PELATIHAN TNA SKKNI → → → PROGRAM MODUL
PROGRAM PELATIHAN TNA SKKNI → → → PROGRAM MODUL
PROGRAM PELATIHAN
TNA
SKKNI
→ →
PROGRAM
MODUL
PROGRAM PELATIHAN TNA SKKNI → → → PROGRAM MODUL KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI RI DIREKTORAT

KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI RI

DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS

Jalan Jend. Gatot Subroto Kav 51 Lt. 6A Jakarta Selatan 12950

KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI RI DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS Jalan Jend. Gatot

KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI RI

DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS

Jalan Jend. Gatot Subroto Kav 51 Lt. 6A Telp (021) 52961311, Fax.52960456 Jakarta Selatan 12950

DAN PRODUKTIVITAS Jalan Jend. Gatot Subroto Kav 51 Lt. 6A Telp (021) 52961311, Fax.52960456 Jakarta Selatan

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

NOMOR KEP. 185/LATTAS/XII/2013

TENTANG

PEDOMAN PENYUSUNAN PROGRAM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS,

Menimbang : a. bahwa dengan diberlakukannya Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 8 Tahun 2012 tentang Tata Cara Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia, maka Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Nomor KEP.138/Lattas/XI/2009 tentang Pedoman Penyusunan Program Pelatihan Berbasis Kompetensi sudah tidak sesuai sehingga perlu disempurnakan;

b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Keputusan Direktur Jenderal tentang Pedoman Penyusunan Program Pelatihan Berbasis Kompetensi;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4279);

2. Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2006 tentang Sistem Pelatihan Kerja Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4637);

3. Peraturan

tentang

Kerangka Kualifikasi Nasionan Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 24);

Presiden

Nomor

8

Tahun

2012

4. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.12/MEN/VIII/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 2 Tahun 2013 (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor

378);

5. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 5 Tahun 2012 tentang Sistem Standarisasi Kompetensi Kerja Nasional (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 338);

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PROGRAM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI.

KESATU : Pedoman Penyusunan Program Pelatihan Berbasis Kompetensi sebagaimana tercantum dalam Lampiran I dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Keputusan Direktur Jenderal ini Keputusan Direktur Jenderal ini.

KEDUA : Program Pelatihan sebagaimana dimaksud dalam Diktum KESATU sebagaimana tercantum dalam Lampiran II dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Keputusan Direktur Jenderal ini .

KETIGA : Pedoman Penyusunan Program Pelatihan Berbasis Kompetensi sebagaimana dimaksud dalam Diktum KESATU merupakan acuan bagi pihak terkait dalam penyusunan Program pelatihan berbasis kompetensi.

KEEMPAT : Dengan ditetapkannya Keputusan Direktur Jenderal ini, maka Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Nomor KEP.138/Lattas/XI/2009 tentang Pedoman Penyusunan Program Pelatihan Berbasis Kompetensi dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

KELIMA

:

Keputusan Direktur Jenderal ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 24 Desember 2013

DIREKTUR JENDERAL,

Ir. ABDUL WAHAB BANGKONA, M.Sc. NIP 19580717 198703 1 002

pada tanggal 24 Desember 2013 DIREKTUR JENDERAL, Ir. ABDUL WAHAB BANGKONA, M.Sc. NIP 19580717 198703 1

LAMPIRAN I KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

NOMOR KEP. 185/LATTAS/XII/2013

TENTANG

PEDOMAN

PENYUSUNAN

PROGRAM

PELATIHAN

BERBASIS KOMPETENSI

BAB I

A. Latar Belakang

PENDAHULUAN

Program pelatihan merupakan bagian integral dari sistem pelatihan. Di

dalam penyelenggaraan pelatihan berbasis kompetensi (Competency Based

Training) program pelatihan yang dicirikan dengan karakteristik berfokus

kepada peserta pelatihan lebih menekankan pada kegiatan yang harus

dikerjakan dan kinerja yang dinilai berdasarkan kriteria unjuk kerja peserta

pelatihan.

Orientasi program pelatihan berbasis kompetensi yang dicirikan dengan

karakteristik berfokus kepada peserta pelatihan diarahkan pada luaran

pelatihan dan durasi waktu pelaksanaan pelatihannya bergantung pada

kecepatan dan keaktifan masing–masing peserta pelatihan dalam

menyelesaikan unit kompetensi yang dipilih melalui fasilitasi instruktur.

Pola penyusunan program pelatihan berbasis kompetensi dapat dilakukan

melalui beberapa pendekatan antara lain analisis standar

kompetensi,analisis kualifikasi, analisis jabatan dan analisis kompetensi

yang dikehendaki. Melalui skill audit dan analisis kebutuhan pelatihan, maka

dapat disusun program pelatihan.

Dalam penyusunan program pelatihan berbasis kompetensi dibutuhkan

personil yang memiliki kemampuan dan pengetahuan di bidang analisis

jabatan, analisis kebutuhan pelatihan dan pemaketan unit – unit kompetensi

yang terkait dengan pengembangan kurikulum dan silabus pelatihan.

Dengan tersedianya program pelatihan di suatu lembaga pelatihan yang

berorientasi pada pelatihan berbasis kompetensi diharapkan dapat memacu

dan mendorong proses penyiapan dan penyediaan tenaga kerja kompeten

melalui pelatihan, sehingga siap untuk berkompetisi dalam memasuki pasar

kerja.

B. Tujuan dan Sasaran

Tujuan dan sasaran pedoman penyusunan program PBK sebagai berikut:

1. Tujuan

Tujuan disusunnya penerbitan pedoman penyusunan program pelatihan berbasis kompetensi ialah untuk menyediakan acuan bagi pihak yang terkait dalam mengembangkan proses pelatihan berbasis kompetensi sesuai dengan ketentuan dan kriteria yang dipersyaratkan.

2. Sasaran

Sasaran penerbitan pedoman penyusunan program pelatihan berbasis kompetensi ialah tersedianya pedoman penyusunan program pelatihan berbasis kompetensi di lembaga diklat profesi setiap sektor atau bidang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan pasar kerja yang mengacu kepada standar kompetensi.

C. Ruang Lingkup Ruang lingkup Pedoman Penyusunan Program Pelatihan Berbasis Kompetensi terdiri atas : Pengorganisasi Penyusunan, Penetapan kebutuhan pelatihan, Tahapan penyusunan dan Tata cara penulisan penyusunan program Pelatihan Berbasis Kompetensi.

D. Pengertian

1. Kompentensi kerja adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan/keahlian dan sikap kerja yang sesuai dengan standar kompentensi yang ditetapkan.

2. Profil pekerjaan atau profesi jabatan adalah suatu bidang pekerjaan yang menuntut sikap, pengetahuan dan keterampilan/keahlian kerja tersebut yang diperoleh dari proses pendidikan, pelatihan dan pengalaman kerja atau penguasaan sekumpulan unit-unit kompetensi tertentu yang dituntut oleh suatu pekerjaan/jabatan.

3. Pelatihan kerja adalah keseluruhan kegiatan untuk memberi, memperoleh, meningkatkan serta mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap dan etos kerja pada tingkat keterampilan dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi kompentensi/ jabatan/pekerjaan serta spesifik pekerjaan.

4. Lembaga pelatihan kerja yang selanjutnya disebut LPK adalah suatu lembaga pemerintah/swasta/badan hukum atau perorangan untuk tempat diselenggarakannya proses pelatihan kerja bagi peserta pelatihan.

5. Analisis jabatan adalah suatu kegiatan untuk mengumpulkan informasi/data yang selengkap-lengkapnya tentang suatu pekerjaan/jabatan, meliputi : nama, kode, spesifikasi, klasifikasi, perincian pekerjaan dan persyaratan jabatan yang harus dipenuhi oleh pemangku jabatan tersebut.

6. Analisis kebutuhan pelatihan adalah kegiatan yang sistematis untuk memperoleh gambaran yang lengkap tentang pelatihan yang harus diberikan terhadap peserta pelatihan berdasarkan selisih antara kompetensi yang telah dimiliki calon peserta pelatihan dengan kompetensi yang harus dimiliki setelah selesai mengikuti pelatihan.

7. Kebutuhan pelatihan adalah kesenjangan antara kompetensi yang dipersyaratkan oleh suatu jabatan dengan kompetensi yang dimiliki calon peserta pelatihan.

8. Program pelatihan berbasis kompetensi adalah suatu rumusan tertulis yang memuat secara sistematis tentang pemaketan unit-unit kompetensi sesuai dengan area kompetensi jabatan pada area pekerjaan sebagai acuan dalam penyelenggaraan PBK.

9. Unit kompetensi adalah Bagian dari SKKNI dan merupakan bentuk pernyataan terhadap tugas atau pekerjaan yang akan dilakukan. Judul unit kompetensi harus menggunakan kalimat aktif yang diawali dengan kata kerja aktif atau performatif yang terukur.

10. Indikator unjuk kerja adalah indikasi pencapaian kriteria unjuk kerja yang mengandung aspek pengetahuan dan atau keterampilan maupun sikap kerja, dirumuskan dengan kata kerja operasional yang dapat diukur dan dapat dibuat instrument materi pelatihan maupun materi penilaiannya.

11. Kurikulum adalah sejumlah unit kompetensi yang dipaketkan terdiri atas beberapa Unit kompetensi, Non Unit Kompetensi dan On The Job Training (OJT) yang harus dipelajari oleh peserta pelatihan dalam suatu proses pelatihan. (tidak perlu umum,inti & khusus)

12. Silabus adalah uraian pokok tentang elemen kompetensi, kriteria unjuk kerja, materi pelatihan tentang pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja serta jam pelatihan yang harus disampaikan oleh pelatih kepada peserta dalam proses pelatihan.

13. Peserta pelatihan adalah angkatan kerja yang telah memenuhi persyaratan teknis dan administrasi untuk mengikuti pelatihan tertentu dengan program pelatihan berbasis kompetensi.

14.

Instruktur adalah seseorang yang berfungsi sebagai fasilitator, pelatih, pembimbing teknis, supervisor yang bertugas untuk menyampaikan materi pelatihan kepada peserta pelatihan di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) atau di tempat kerja selama proses pelatihan.

15. Pelatihan berbasis kompetensi yang selanjutnya disebut PBK adalah proses pelatihan yang dilaksanakan untuk mencapai suatu kompetensi tertentu dimana materi, metode dan fasilitas pelatihan serta lingkungan pelatihan yang ada terfokus kepada pencapaian unjuk kerja.

16. Metode pelatihan adalah cara penyajian materi pelatihan oleh instruktur kepada peserta pelatihan.

17. Sertifikat pelatihan kerja adalah pengakuan formal peserta pelatihan yang dinyatakan berhasil (kompeten) melalui evaluasi pencapaian kompetensi yang diselenggarakan oleh Lembaga Pelatihan Kerja.

18. Sertifikat kompetensi adalah pengakuan formal peserta uji kompetensi yang dinyatakan kompeten melalui uji kompetensi yang diselenggarakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang telah mendapatkan lisensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) atau panitia teknis yang dibentuk oleh BNSP apabila LSP belum ada.

19. Unit kompetensi yang ditempuh adalah penetapan jumlah unit kompetensi yang disesuaikan dengan kualifikasi atau klaster.

20. Materi pelatihan adalah materi substansif yang berupa modul, diktat/buku-buku referensi, unit-unit kompetensi yang dipilih dan lain- lain yang akan diberikan kepada peserta pelatihan disusun berdasarkan silabus pelatihan yang telah ditetapkan dalam proses penetapan kurikulum pelatihan. Materi pelatihan yang diberikan disusun dari masing-masing unit kompetensi dan disiapkan dalam bentuk modul pelatihan berbasis kompetensi dan bentuk-bentuk lain yang mendukung materi pelatihan (simulator, benda kerja).

21. Peralatan, mesin dan alat bantu pelatihan adalah peralatan, mesin dan alat bantu pelatihan yang dipergunakan selama proses pelatihan disusun berdasarkan kurikulum dan silabus pelatihan yang telah ditetapkan, agar penyampaian materi/modul PBK dapat berjalan dengan efektif dan efisien.

22. Bahan pelatihan adalah kebutuhan bahan yang digunakan habis dalam proses pelatihan dengan spesifikasi tertentu sehingga mencapai kompetensi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

23. Tenaga Pelatihan adalah tenaga perencana, penganalisis kebutuhan pelatihan, pengembang kurikulum, pengadministrasian, pemelihara sarana, pengelola pelatihan, penyelia, dan pengelola lembaga pelatihan

24. On the Job Training (OJT) adalah kegiatan peserta pelatihan melakukan praktek / unjuk kerja secara nyata di perusahaan/tempat kerja dengan bimbingan instruktur/pekerja yang ditugasi untuk membimbing guna mendapatkan pengalaman kerja sesuai materi pelatihan yang ditempuh pada saat berlatih di tempat pelatihan.

25. Recognition of Curren Competence (RCC) adalah kemampuan kinerja/kompetensi terkini dari seseorang, untuk memenuhi persyaratan bagi suatu unit (unit-unit) kompetensi atau kualifikasi yang utuh.

26. Perkiraan waktu pelatihan adalah waktu yang ditempuh oleh peserta dalam mencapai tujuan kompetensi yang ditetapkan dalam kriteria unjuk kerja dengan asumsi bahwa kemajuan pencapaian kompetensi setiap peserta pelatihan berbeda, sehingga merupakan rentang waktu pencapaian kompetensi.

BAB II TAHAPAN PENYUSUNAN PROGRAM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

A. Pengorganisasi Penyusunan Program Pelatihan Berbasis Kompetensi

Program pelatihan berbasis kompetensi dapat disusun dengan melibatkan

perwakilan pemangku kepentingan antara lain instruktur,

industri/pengguna tenaga kerja, pakar dan praktisi yang kompeten di

bidangnya.

Pengorganisasian penyusunan program secara administratif dapat diatur

sebagai berikut:

1. Pembentukan Tim Penyusun Pelatihan Berbasis Kompetensi

a. Tim Penyusun program pelatihan berbasis kompetensi terdiri atas

unsur-unsur:

1)

Lembaga Pelatihan Kerja Pemerintah;

2)

Lembaga Pelatihan Kerja Swasta;

3)

Asosiasi Perusahaan/Industri;

4)

Pakar dan/atau Praktisi di bidangnya;

5)

Asosiasi Profesi;

6)

Instansi/dinas teknis terkait.

b. Keanggotaan Tim Penyusun program pelatihan berbasis kompetensi

terdiri atas:

1)

Nara sumber;

2)

Ketua;

3)

Sekretaris;

4)

Anggota

2. Tugas Tim Penyusun

Tim penyusun program Pelatihan Berbasis Kompetensi bertugas:

a. Nara sumber memberikan arahan, data dan informasi yang berkaitan

dengan materi/substansi program yang akan disusun mengacu

kepada standar kompetensi;

b. Ketua mengkoordinasikan pelaksanaan penyusunan program dan

bertanggungjawab kepada pimpinan lembaga;

c.

Sekretaris membantu proses pengurusan administrasi dan kelengkapan kegiatan penyusunan program serta bertanggung jawab kepada ketua;

d. Anggota menyusun, membahas dan memfinalisasi draft program.

3. Pengesahan Program Pelatihan Berbasis Kompetensi

Pengesahan program Pelatihan Berbasis Kompetensi dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

a. Verifikasi Verifikasi dilakukan untuk memastikan bahwa program Pelatihan Berbasis Kompetensi yang disusun telah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.

b. Validasi Materi Program Pelatihan Berbasis Kompetensi Validasi dilakukan melalui konsultasi dengan pemangku kepentingan lainnya untuk mengetahui pencapaian atau kesesuaian pelatihan dengan standar kompetensi (unit kompetensi) untuk perbaikan/penyempurnaan.

4. Revisi Program Pelatihan Berbasis Kompetensi

Revisi program Pelatihan Berbasis Kompetensi dilakukan karena :

a. Adanya perubahan/revisi standar kompetensi

b. Kebutuhan pengguna

Prosesnya sebagaimana pada tahapan penyusunan program.

B. Penetapan Kebutuhan Pelatihan

Penetapan kebutuhan pelatihan dilakukan melalui analisis kebutuhan pelatihan yang merupakan kegiatan menganalisis guna menentukan program pelatihan yang disusun untuk mencapai suatu standar kompetensi. Pola penyusunan program pelatihan berbasis kompetensi didasarkan atas:

1. Identifikasi Kebutuhan Pelatihan

kebutuhan

kebutuhan berdasarkan:

Identifikasi

pelatihan

dilakukan

dengan

penelusuran

a. Kualifikasi Nasional, Dengan Mengacu Pada Jenjang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia;

Penetapan kebutuhan pelatihan mengacu pada jenjang kualifikasi yang tertera dari tugas dan tanggung jawab. Di dalam kualifikas pada KKNI dimulai dari jenjang 1 sebagai jenjang terendah sampai dengan jenjang 9 sebagai jenjang tertinggi.

b. Jabatan atau Okupasi Nasional, Dengan Mengacu Pada Tugas Dan Fungsi Jabatan Atau Okupasi;

Analisis jabatan/pekerjaan digunakan sebagai dasar penyusunan program pelatihan berbasis kompetensi. Analisis jabatan merupakan proses menguraikan jabatan sehingga menghasilkan deskripsi jabatan. Analisis ini bersumber dari Klasifikasi Jabatan Indonesia (KJI) atau sumber-umber jabatan lainnya yang berlaku pada lembaga.

c. Klaster dan/atau Unit

kompetensi,

Dengan

mengacu

Pada

Kebutuhan

Kebutuhan Khusus Kompetensi Industri atau Organisasi.

Tertentu

Sesuai

Penyusunan program pelatihan berbasis kompetensi yang mengacu pada klaster dilakukan melalui analisis kompetensi kerja yang dibutuhkan industri atau organisasi. Analisis kompetensi kerja dilakukan dengan cara menghimpun data hasil dari:

1)

Analisis kinerja,

kompetensi yang dipersyaratkan tersebut terukur berdasarkan

pada tingkat yang diinginkan.

merupakan pernyataan sejauh mana elemen

2) Analisis persyaratan kinerja, merupakan pernyataan-pernyataan kondisi atau konteks dimana kriteria unjuk kerja tersebut diaplikasikan.

3)

Analisis

acuan

penilaian,

merupakan

pernyataan-pernyataan

kondisi

atau

konteks

sebagai

acuan

dalam

melaksanakan

penilaian.

2. Profil Kompetensi yang Dibutuhkan

Profil kompetensi didapatkan dari hasil analisis yang dilakukan melalui penelusuran kebutuhan berdasarkan pada tiga kelompok di atas yaitu Kualifikasi Nasional, dengan mengacu pada jenjang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia, Jabatan atau okupasi nasional, dengan mengacu pada tugas dan fungsi jabatan atau okupasi dan klaster dan/atau unit kompetensi, dengan mengacu pada kebutuhan khusus kompetensi tertentu sesuai kebutuhan industri atau organisasi.

Penentuan unit kompetensi adalah unit kompetensi yang harus ditempuh peserta pelatihan untuk memenuhi kebutuhan jabatan yang merupakan kesenjangan kemampuan/kompetensi kerja calon/ pemangku jabatan yang diperoleh dari mengidentifikasi standar kompetensi kerja.

Dalam penentuan unit kompetensi tersebut dapat diuraikan dari kebutuhan pengguna (user) yang berasal dari pasar kerja, dengan melihat atau identifikasi pekerjaan apa saja yang harus dilakukan.

Acuan standar kompetensi bisa diambil dari :

a. Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) adalah standar kompetensi yang berlaku secara nasional dalam suatu Negara melalui suatu badan independent, seperti Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

b. Standar Kompetensi Kerja Internasional (SKKI) adalah suatu standar yang berlaku secara Internasional yang sudah disepakati secara Internasional seperti standar yang dikeluarkan oleh IMO dalam standar di maritim dan Aviasi dalam penerbangan

c. Standar Kompetensi Kerja Khusus (SKKK) adalah standar kompetensi pada bidang tertentu yang dirumuskan dan ditetapkan oleh suatu organisasi/lembaga nasional/internasional, seperti bidang Pengelasan, perminyakan, penerbangan, dan lain-lain.

3. Analisis Kompetensi Terkini Calon Peserta/Recognition of Curren Competence (RCC)

Analisis kompetensi terkini calon peserta adalah pengidentifikasian kompetensi peserta yang dimiliki sebelum mengikuti pelatihan.

Identifikasi data untuk menentukan kebutuhan pelatihan calon peserta pelatihan antara lain:

a. Tingkat pendidikan formal

b. Kualifikasi kompetensi calon peserta pelatihan (yang belum bekerja atau yang sudah bekerja);

c. Penetapan populasi calon peserta pelatihan merupakan kelompok orang yang direncanakan memerlukan pelatihan, misalnya tingkat pendidikan, umur dan jenis kelamin. Populasi calon peserta pelatihan bisa berasal dari pencari kerja atau pekerja yang ingin meningkatkan kualifikasi kompetensinya dan atau pekerja yang akan alih profesi.

4. Identifikasi Kebutuhan Pelatihan (Skills Audit)

Identifikasi kebutuhan pelatihan (Skills Audit) adalah menyandingkan kompetensi terkini (RCC) pada calon peserta dengan profil kompetensi yang dibutuhkan, dengan penyandingan maka akan didapat kesenjangan

(gap/kekurangan) antara RCC calon peserta dengan kebutuhan profil kompetensi yang dibutuhkan.

5. Kebutuhan Pelatihan

Kebutuhan pelatihan berbasis kompetensi dilakukan dengan cara mengidentifikasi kesenjangan (gap/kekurangan) antara pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) dan sikap kerja (atittude) terkait yang dipersyaratkan suatu kualifikasi jabatan/pekerjaan dengan yang dimiliki oleh calon peserta pelatihan melalui proses analisis kebutuhan pelatihan. Kesenjangan kemampuan kompetensi (pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja) untuk melaksanakan unit kompetensi, elemen kompetensi atau tugas-tugas dari jabatan/pekerjaan tersebut ditetapkan menjadi kebutuhan pelatihan berbasis kompetensi bagi calon peserta pelatihan di Lembaga Pelatihan Kerja.

6. Penetapan Program Pelatihan

Penetapan program pelatihan adalah hasil dari kebutuhan pelatihan yang akan dijadilan sebagai acuan dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan yang berisikan informasi-informasi yang akan dilakukan dari mulai persiapan, pelaksanaan dan pasca pelatihan.

Penetapan kebutuhan sebagaimana tertulis di atas dapat digambarkan dalam alur pikir sebagaimana di bawah ini:

PENYUSUNAN PROGRAM Identifikasi Kebutuhan /Skill 1 Analisis calon peserta pelatihan 3 Analisis Standar Kompetensi
PENYUSUNAN
PROGRAM
Identifikasi Kebutuhan
/Skill
1
Analisis calon peserta
pelatihan
3
Analisis Standar
Kompetensi (KKNI/SKKNI)
Internasional, khusus
Kualifikasi berjenjang non
jenjang
Analisis Jabatan atau
okupasi nasional
Analisis klaster dan/atau
unit kompetensi
berdasarkan kebutuhan
pengguna
4
Skills Audit
Profil kompetensi
2
5 6
5
6
pengguna 4 Skills Audit Profil kompetensi 2 5 6 Kebutuhan pelatihan Penetapan program pelatihan

Kebutuhan

pelatihan

Audit Profil kompetensi 2 5 6 Kebutuhan pelatihan Penetapan program pelatihan Gambar1. Skema Kerangka

Penetapan

program

pelatihan

Gambar1. Skema Kerangka penyusunan program pelatihan

C. Tahapan Penyusunan Program Pelatihan

Penyusunan Program PBK dibuat beberapa tahapan sebagai berikut :

1. Persiapan penyusunan draft Program PelatihanBerbasis Kompetensi

2. Penyusunan draft Program PelatihanBerbasis Kompetensi

3. Pembahasan draft Program PelatihanBerbasis Kompetensi

4. Penyempunaan draft Program PelatihanBerbasis Kompetensi

5.

Validasi program Program PelatihanBerbasis Kompetensi

6. Standarisasi program Program PelatihanBerbasis Kompetensi

7. Revisi Program PelatihanBerbasis Kompetensi.

D. Tata Cara Penulisan Penyusunan Program PBK

Sistematika penulisan program Pelatihan Berbasis Kompetensi dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Jenis huruf Tahoma, ukuran huruf 12 untuk uraian materi, kecuali ukuran dalam tabel dan gambar disesuaikan dengan ketentuan paling kecil ukuran 8, ukuran tulisan di cover 20 kecuali ukuran tulisan intansi/lembaga baris pertama 12, baris kedua 13, dan baris ketiga 12.

2. Ukuran kertas A4

3. Page set up: atas 2 cm, bawah 1,5 cm, kiri 3 cm, dan kanan 2 cm

4. Cover Program Pelatihan

Cover Program Pelatihan terdiri dari :

a. Logo pemilik program pelatihan

b. Tulisan ” PROGRAM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI”

c. Nama Pelatihan

d. Kode Program Pelatihan

e. Gambar identitas program pelatihan disesuaikan dengan program yang disusun.

f. Nama dan alamat pemilik program pelatihan

g. Tahun penerbitan

5. Kata Pengantar

Kata pengantar berisi tentang arti penting dan manfaat penyusunan program pelatihan. Kata pengantar ditanda tangani oleh pimpinan lembaga pemilik program pelatihan serta dilengkapi tempat, bulan dan tahun penerbitan. Kata pengantar dibuat oleh tim kecil dari lembaga

penyusun.

6. Nama Pelatihan

Nama Pelatihan ditetapkan sesuai dengan acuan yang digunakan dalam penyusunan program yaitu :

a. Kualifikasi;

b. Jabatan;

c.

Klaster permintaan dari pengguna/industri (Taylor Made)

7. Penulisan Kode Program Pelatihan

Pengisian kode program bukan merupakan suatu keharusan, tergantung dari nama pelatihan.

Apabila kode program pelatihan akan diisi, mengacu pada format kodefikasi dengan menggunakan kode pada Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) yang terkini dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik dan penulisannya sebagai berikut :

Badan Pusat Statistik dan penulisannya sebagai berikut : (1) Kategori, diisi dengan huruf dari kategori lapangan

(1)

Kategori, diisi dengan huruf dari kategori lapangan usaha (KBLI)

(2)

Golongan Pokok, diisi dengan 2 digit angka sesuai dengan nama golongan pokok lapangan usaha.

(3)

Golongan, diisi dengan 1 digit angka sesuai nama golongan lapangan usaha

(4)

Sub golongan, diisi dengan 1 digit angka sesuai dengan nama sub golongan lapangan usaha

(5)

Kelompok, diisi dengan 1 digit angka sesuai dengan nama kelompok lapangan usaha

(6)

Sub kelompok, diisi satu angka sesuai dengan nama sub kelompok lapangan usaha, jika tidak ada subkelompok diisi dengan huruf 0

(7) Bagian, diisi satu angka sesuai dengan nama, bagian lapangan usaha dan/atau negara tujuan Tenaga Kerja Indonesia (TKI), jika tidak ada nama bagian lapangan usaha diisi dengan huruf 0

(8) Versi Program Pelatihan, diisi dengan nomor urut versi program pelatihan menggunakan 2 digit angka, mulai dari 01, 02, 03 dan seterusnya dalam tahun bersangkutan serta tahun berikutnya kembali mulai dari 01, 02, 03 dan seterusnya

(9) Tahun Pembuatan Standar Pelatihan Berbasis Kompetensi, diisi dengan tahun kalender menggunakan 2 digit angka, misal tahun 2013, ditulis 13, dan seterusnya.

8. Jenjang Program Pelatihan

Jenjang Program Pelatihan adalah suatu jenjang berdasarkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), baik program pelatihan kerja

berjenjang maupun non jenjang (spesifik dan unit) yang mengacu pada Standar Kompetensi Kerja, diisi dengan jenjang kualifikasi I sampai dengan jenjang kualifikasi 9, sesuai klaster yang telah disepakati oleh stakeholder atau sesuai kebutuhan pasar kerja dan dunia usaha/industri barang dan jasa.

Contoh penulisan jenjang program pelatihan

a. Penulisan jenjang program pelatihan yang mengacu kepada KKNI Jenjang program pelatihan : jenjang 1, jenjang 2, jenjang 3, dan sampai jenjang 9

b. Penulisan jenjang program pelatihan yang tidak mengacu pada KKNI diisi Non-Jenjang.

9. Tujuan Pelatihan

Tujuan pelatihan adalah abstraksi yang menggambarkan kemampuan, kondisi, standar yang harus dicapai peserta pelatihan sampai dengan akhir proses pelatihan kerja, dengan demikian unsur-unsur yang terkandung dalam tujuan pelatihan meliputi:

a. subyek belajar (peserta)

b. pernyataan ingin dicapai (kompeten/Belum kompeten)

c. kata kerja aktif seperti: menyusun, mengelola, menggunakan, dan seterusnya

d. obyek yang dipelajari

e. Menguraikan cakupan pelatihan yang menggambarkan kesenjangan kemampuan (lack of skill)

f. Merupakan

pelatihan

kalimat

yang

menggambarkan

keseluruhan

tujuan

g. Menggambarkan uraian ringkas jabatan/pekerjaan.

10. Unit Kompetensi yang Ditempuh

Merupakan unit kompetensi yang disusun berdasarkan hasil penentuan unit kompetensi pada tahapan pelatihan yang akan dilakukan oleh peserta pelatihan.

Penulisan unit kompetensi yang ditempuh dengan format sebagai berikut:

a. Nomor Urut disesuaikan dengan sistematika penomeran

b. Kode Unit Kompetensi

c. Judul Unit Kompetensi

11. Perkiraan Waktu Pelatihan

Pada dasarnya pelatihan berbasis kompetensi tidak dibatasi waktu, karena lebih berorientasi pada capaian kompetensi. Namun, pada proses penyelenggaraan pelatihan terstruktur dibutuhkan rentang waktu untuk pencapaian kompetensi oleh sekolompok orang dalam proses pembelajaran. Ukuran waktu ditentukan dalam jam latihan @ 45 menit setiap 1 (satu) jam pelatihan. Jumlah jam tersebut sangat terkait dengan variasi yang ditetapkan pada tujuan pelatihan atau uraian silabus pada setiap mata latihan (unit kompetensi).

Perkiraan waktu pelatihan ditentukan oleh :

a. Kompleksitas pengetahuan dan keterampilan yang harus dicapai.

b. Kedalaman pengetahuan dan keterampilan yang harus dicapai

c. Latar belakang pengetahuan dan keterampilan yang dipersyaratkan, yaitu Unit prasyarat yang dipersyaratkan dalam unit kompetensi

d. Pengetahuan yang disampaikan merupakan teori pengantar praktik (must know). Alokasi jam untuk pengetahuan dan praktik dibuat secara proporsional. Waktu praktik setidak-tidaknya memenuhi kebutuhan aplikasi (mencoba), praktik masih dengan bimbingan dan praktik mandiri.

e. Perkiraan waktu pelatihan merupakan akumulasi jam pelatihan yang tercantum dalam silabus untuk satu Unit Kompetensi (UK) yang dihitung dari setiap Kriteria Unjuk Kerja (KUK) dalam satu Elemen Kopetensi (EK).

12. Persyaratan Peserta Pelatihan

Persyaratan Peserta Pelatihan merupakan batasan-batasan tertentu yang harus dipenuhi oleh calon peserta pelatihan.

Persyaratan tersebut meliputi :

a. Pendidikan

b. Pelatihan

c. Pengalaman kerja

d. Jenis kelamin

e. Umur

f. Kesehatan

g. Persyaratan Khusus (bila diperlukan)

13.

Persyaratan Instruktur

Instruktur/tenaga pelatih merupakan personil yang sangat penting pada proses pelaksanaan pelatihan, karena keberhasilan suatu program pelatihan salah satunya adalah ditentukan kompetensi instruktur dalam memfasilitasi dan membimbing peserta pelatihan dalam mencapai kompetensinya. Dengan demikian, perlunya persyaratan bagi instruktur pada setiap pelaksanaan program pelatihan yang harus dipenuhi.

Persyaratan tersebut meliputi :

a. Pendidikan Formal

b. Kompetensi Metodologi Pelatihan dibuktikan dengan minimal Sertifikat Pelatihan Metodologi Pelatihan yang diterbitkan oleh instansi berwenang.

c. Kompetensi Teknis yang dimiliki sesuai dengan program pelatihan dibuktikan dengan minimal Sertifikat Pelatihan atau Sertifikat Kompetensi teknis yang relevan sesuai unit kompetensi yang akan dilatihkan dan diterbitkan oleh instansi berwenang.

d. Pengalaman kerja (jika diperlukan)

e. Kesehatan (pada hal tertentu)

f. Persyaratan Khusus (bila diperlukan)

14. Kurikulum Pelatihan

Kurikulum berisi unit-unit kompetensi dan non-unit kompetensi yang ditempuh oleh setiap peserta pelatihan sesuai dengan nama pelatihan untuk memenuhi kesenjangan kemampuan.

Format Kurikulum Pelatihan, terdiri atas :

a. Format baris, berisi :

1)

Kelompok Unit Kompetensi (I)

2)

Pelaksanaan pelatihan di tempat kerja (On The Job Training =

3)

OJT) (II) Kelompok No-Unit Kompetensi (III)

b. Format kolom, terdiri atas :

1)

Nomor urut (diisi angka romawi)

2) Materi Pelatihan (diisi dengan kelompok unit kompetensi dan non-

unit kompetensi) 3) Kode unit kompetensi (diisi kode unit sesuai dengan Standar Kompetensi)

4)

Perkiraan waktu diisi perkiraan waktu dalam jam pelatihan (jp), pengetahuan, keterampilan (termasuk di dalamnya sikap kerja) dan jumlah jam pelatihan.

15. Silabus

Silabus merupakan penjabaran setiap unit kompetensi yang diuraikan secara rinci, sistematis dan terpadu ke dalam program pelatihan sesuai dengan persyaratan suatu jabatan/pekerjaan, yang mengarah kepada tercapainya tujuan pelatihan dan jenjang pelatihan yang ditetapkan. Format Silabus, terdiri atas :

a. Nomor urut

b. Unit kompetensi

c. Kode unit kompetensi

d. Perkiraan waktu pelatihan pada unit kompetensi

e. Elemen kompetensi

f. Kriteria unjuk kerja

g. Indikator unjuk kerja

h. Materi pelatihan yang terdiri atas pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja

i. Perkiraan waktu pelatihan setiap elemen kompetensi Keterangan:

Unit Kompetensi, Kode Unit Kompetensi, Elemen Kompetensi (EK) dan Kriteria Unjuk Kerja (KUK) diisi sesuai dengan Standar Kompetensi Kerja.

Indikator Unjuk Kerja (IUK) diisi dengan indikasi pencapaian kriteria unjuk kerja yang mengandung aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja. Penulisan IUK menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur dan dibuat materi pelatihannya. IUK dirumuskan dari setiap KUK dengan memedomani kata kerja pasifnya dijadikan kata kerja aktif. Rumusan aspek pengetahuan diawali dengan kata ’dapat’, aspek keterampilan diawali dengan kata ’mampu’, dan aspek sikap kerja diawali dengan kata ’harus’.

Perkiraan waktu pelatihan diisi dengan perkiraan waktu pelatihan yang diperlukan untuk 1 (satu) unit kompetensi

Materi pelatihan meliputi pengetahuan (knowlegde), keterampilan (skill), dan sikap kerja (attitude) yang diperlukan pada setiap KUK/Elemen Kompetensi

Jam Pelatihan diisi dengan perkiraan waktu pelatihan dibuat tiap elemen kompetensi sesuai dengan kebutuhan KUK.

16. Pelatihan di Tempat Kerja (On the Job Training/OJT)

Pelatihan di tempat kerja merupakan pelaksanaan unjuk kerja peserta pelatihan untuk memperoleh pengalaman kerja sesuai dengan unit kompetensi yang telah ditempuh di lembaga pelatihan. Format OJT terdiri atas:

a. Unit Kompetensi

b. Kode Unit Kompetensi

c. Tabel yang berisi kolom elemen kompetensi dan kolom indikator pelaksanaan di tempat kerja. Kolom ’indikator pelaksanaan di tempat kerja” diisi dengan kegiatan yang mudah diamati oleh instruktur pembimbing atau supervisor di tempat kerja yang dirumuskan berpedoman pada KUK yang ada dalam EK

17. Daftar Peralatan dan Bahan Pelatihan

Peralatan dan bahan pelatihan diperlukan untuk proses pelaksanaan pelatihan, penyusunannya dibuat pada setiap unit kompetensi. Format daftar peralatan dan bahan terdiri atas:

a. Nomor Urut

b. Judul Unit Kompetensi

c. Kode unit Kompetensi

d. Daftar Peralatan

e. Daftar Bahan

f. Keterangan

Daftar peralatan diisi dengan rincian kebutuhan jenis peralatan yang digunakan dalam proses pelatihan pada unit kompetensi, sedangkan daftar bahan diisi rincian kebutuhan bahan-bahan yang digunakan habis dalam proses pelatihan dengan spesifikasi tertentu sehingga mencapai kompetensi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Dengan demikian, kebutuhan alat dan bahan mencakup kebutuhan untuk penyampaian pengetahuan dan keterampilan (teori dan praktik) selama proses pelatihan berlangsung.

BAB III

PENUTUP

Pedoman ini merupakan acuan bagi para perencana dan atau penyelenggara pelatihan berbasis kompetensi untuk menyusun program pelatihan berbasis kompetensi di setiap LPK. Pedoman ini bersifat fleksibel untuk menyusun program pelatihan berbasis kompetensi yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja dan dunia usaha/industri (DU/DI) sehingga kebutuhan tenaga kerja yang kompeten di bidangnya terpenuhi.

LAMPIRAN-LAMPIRAN

A. Format Program PBK

B. Contoh Program PBK

logo
logo

PROGRAM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

KODE PROGRAM PELATIHAN :

PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI KODE PROGRAM PELATIHAN : GAMBAR SESUAI DENGAN PROGRAM YANG RELEVAN KEMENTERIAN TENAGA

GAMBAR SESUAI DENGAN PROGRAM YANG RELEVAN

KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI RI DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS

Jl. Jend. Gatot Subroto Kav.51 Lt.6 A Telepon/Fax 021.5262643 Jakarta Selatan

201

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

i

KATA PENGANTAR

ii

PROGRAM PELATIHAN BERBASI KOMPETENSI

1

1. Nama pelatihan

2. Kode program

3. Kualifikasi/jenjang pelatihan

4. Tujuan pelatihan

5. Unit kompetensi yang ditempuh

6. Unit kompetensi prasyarat

7. Perkiraan waktu

8. Persyaratan peserta pelatihan

9. Persyaratan instruktur

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI

1. KELOMPOK UNIT KOMPETENSI

2. ON THE JOB TRAINING (OJT)

3.

KELOMPOK NON-UNIT KOMPETENSI

4.

SILABUS PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

KATA PENGANTAR

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah tentang Sistem Pelatihan Kerja

Nasional, bahwa setiap penyusunan program pelatihan kerja berbasis kompetensi

mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), Standar

Internasioan dan/atau Standar Khusus.

Untuk mengimplementasi pelatihan berbasis kompetensi diperlukan adanya

program pelatihan kerja ini dijadikan acuan dalam pelaksanakan pelatihan kerja

yang diselenggarakan oleh Lembaga Pelatihan Kerja (LPK)

Program pelatihan kerja dapat disusun secara berjenjang atau tidak

berjenjang, Program pelatihan kerja yang berjenjang mengacu kepada Perpres

Nomor 8 tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI),

sedangkan program pelatihan kerja yang tidak berjenjang disusun berdasarkan unit

kompetensi atau kelompok unit kompetensi.

Untuk memenuhi berbagai kebutuhan pelatihan di dunia usaha maupun

dunia industri pada masyarakat pengguna, maka disusun program pelatihan

berbasis kompetensi dengan nama pelatihan “Operator Mesin Perkakas” yang

mengacu pada standar kompetensi kerja.

Demikianlah program pelatihan berbasis kompetensi ini disusun, semoga

dapat digunakan dan bermanfaat dalam menunjang proses pelaksanaan pelatihan

di lembaga pelatihan kerja. Dalam rangka meningkatkan produktivitas sumber daya

manusia dan memiliki daya saing di dalam maupun di luar negeri.

Jakarta, Nopember 2013

Direktur Standardisasi Kompetensi dan Program Pelatihan

Kundjung Masehat, S.H., M.M. NIP 19581129 198603 1 002

PROGRAM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

1. Nama Pelatihan

2. Kode Program

3. Kualifikasi/Jenjang Pelatihan

4. Tujuan Pelatihan

:

:

:

:

5. Unit Kompetensi yang ditempuh:

Operator Mesin Perkakas

X 00 0 0 0 0 0 00 00 Non Jenjang
X
00
0
0
0
0
0
00
00
Non Jenjang

Setelah mengikuti pelatihan ini peserta kompeten:

Mengoperasikan mesin perkakas dan CNC untuk membuat komponen presisi tinggi pada lingkungan industri manufaktur sesuai dengan prosedur yang berlaku.

5.1. LOG.OO01.002.01

:

Menerapkan Prinsi-Prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Lingkungan Kerja

5.2. LOG.OO07.016.01

:

Mengeset Mesin NC/CNC

5.3. LOG.OO07.018.01

:

Memprogram mesin NC/CNC

5.4. LOG.OO07.027.01

:

Mengoperasikan Mesin NC/CNC

6. Persyaratan Peserta Pelatihan :

 

8.1 Pendidikan

:

8.2 Pelatihan

:

8.3 Pengalaman Kerja

:

8.4 Umur

:

8.5 Jenis Kelamin

:

8.6 Kesehatan

:

8.7 Test Kemampuan

:

7. Persyaratan Instruktur

:

9.1 Pendidikan

:

9.2 Pesyaratan Kompetensi

:

1) Teknis

:

2) Metodologi

:

9.3 Pengalama Kerja

:

9.4 Kesehatan Kerja

:

9.5 Persyaratan Khusus

:

KURIKULUM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

NO

UNIT KOMPETENSI

KODE UNIT

PERKIRAAN WAKTU PELATIHAN (JP)

Penge

Ketram

Jumlah

     

tahuan

pilan

1.

KELOMPOK UNIT KOMPETENSI

1.1 Menerapkan Prinsi-Prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Lingkungan Kerja

LOG.OO01.002.01

7

13

20

1.2 Mengeset dan mengedit program mesin NC/CNC

LOG.OO07.016.01

20

30

50

1.3 Memprogram Mesin NC/CNC dasar

LOG.OO07.018.01

20

30

50

1.4 Mengoperasikan Mesin NC/CNC

LOG.OO07.027.01

20

30

50

Jumlah I

     

182

2.

ON THE JOB TRAINING (OJT)

2.1 Mengeset Mesin NC/CNC

LOG.OO07.016.01

 

40

40

2.2 Memprogram Mesin NC/CNC

LOG.OO07.018.01

 

40

40

2.3 Mengoperasikan Mesin NC/CNC

LOG.OO07.028.01

 

80

80

Jumlah II

     

160

3.

KELOMPOK NON-UNIT KOMPETENSI

3.1 Fisik Mental Disiplin (FMD)

 

8

32

40

3.2 Kewirausahaan

 

6

12

18

3.4dst

       

Jumlah III

     

58

Jumlah I s/d III

     

400

SILABUS PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

1. KELOMPOK UNIT KOMPETENSI

1.1 Unit Kompetensi

:

Kode Unit

:

Perkiraan Waktu

:

ELEMEN

KRITERIA

INDIKATOR

 

MATERI PELATIHAN

JAM PELATIHAN

KOMPETENSI

UNJUK KERJA

UNJUK KERJA

Pengetahuan

Keterampilan

Sikap

Penge-

Kete-

tahuan

rampilan

1.

1.1

   

1.2

1.3

   

1.4

1.5

1.6

   

1.7

2.

2.1

   

3.

3.1

   

3.2

3.2

   

1.2 Unit Kompetensi

:

Kode Unit

:

Perkiraan Waktu Pelatihan :

ELEMEN

 

INDIKATOR UNJUK KERJA

MATERI PELATIHAN

 

PERKIRAAN WAKTU PELATIHAN

KOMPETENSI

KRITERIA UNJUK KERJA

Pengetahuan

Keterampilan

Sikap Kerja

Penge-

Keteram-

 

tahuan

pilan

1.

1.1

   

2.

2.1

   

2.2

.

   

2.3

3.

3.1.

   

4.

4.1.

   

4.2.

4.3.

1.3 Unit Kompetensi

:

Kode Unit

:

Perkiraan Waktu Pelatihan :

ELEMEN

 

INDIKATOR UNJUK KERJA

MATERI PELATIHAN

 

PERKIRAAN WAKTU PELATIHAN

KOMPETENSI

KRITERIA UNJUK KERJA

Pengetahuan

Keterampilan

Sikap Kerja

Penge-

Keteram-

 

tahuan

pilan

1.

1.1

   

2.

2.1

   

2.2

2.3

3.

3.1.

   

4.

4.1.

   

4.2.

1.4 Unit Kompetensi

:

Kode Unit

:

Perkiraan Waktu Pelatihan :

ELEMEN

 

INDIKATOR UNJUK KERJA

MATERI PELATIHAN

 

PERKIRAAN WAKTU PELATIHAN

KOMPETENSI

KRITERIA UNJUK KERJA

Pengetahuan

Keterampilan

Sikap Kerja

Penge-

Keteram-

 

tahuan

pilan

1.

1.1

   

2.

2.1.

   

2.2.

3.

 

   
 

3.2.

   
 

3.3.

3.4.

2. PELATIHAN DI TEMPAT KERJA (OJT)

2.1 Unit Kompetensi Kode Unit

:

:

ELEMEN KOMPETENSI

INDIKATOR PELAKSANAAN PELATIHAN DITEMPAT KERJA

1.

2.2 Unit Kompetensi Kode Unit

:

:

ELEMEN KOMPETENSI

INDIKATOR PELAKSANAAN PELATIHAN DITEMPAT KERJA

1.

2.3 Unit Kompetensi Kode Unit

: Memprogram Mesin NC/CNC dasar : LOG.OO07.018.01

ELEMEN KOMPETENSI

INDIKATOR PELAKSANAAN PELATIHAN DITEMPAT KERJA

1.

2.4 Unit Kompetensi Kode Unit

:

:

ELEMEN KOMPETENSI

INDIKATOR PELAKSANAAN PELATIHAN DITEMPAT KERJA

1.

3. KELOMPOK NON UNIT KOMPETENSI

3.1

Fisik Mental dan Disiplin

 

MATERI PELATIHAN

PERKIRAAN WAKTU PELATIHAN (JP)

 

Pengetahuan

Ketrampilan

-

   

-

   

3.2

Kewirausahaan

 

MATERI PELATIHAN

PERKIRAAN WAKTU PELATIHAN (JP)

 

Pengetahuan

Ketrampilan

-

   

-

   

DAFTAR PERALATAN DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN

1. Nama Pelatihan

:

2. Kode Program Pelatihan

:

     

DAFTAR

   

NO

UNIT KOMPETENSI

KODE UNIT

PERALATAN

DAFTAR BAHAN

KET

I.

UNIT KOMPETENSI

       

1

   

 

2

   

 

3

   

 

4

   

 

RANCANGAN PELATIHAN DI TEMPAT KERJA

Nama Pelatihan

:

Nama Peserta Pelatihan

:

Nama Lembaga/Perusahaan :

:

Kegiatan di Tempat Kerja

NO

HARI/

AREA

UNIT/ ELEMEN

KEGIATAN

JAM

HASIL

PEMBIMBING

TANGGAL

KERJA

KOMPETENSI

1.

             

2.

             

3.

             

……………………., …. ………………… Pimpinan ……………

…………………………………

EVALUASI PROGRAM PELATIHAN

Judul/Nama Pelatihan : ………………………………

   

Penilaian

(Assessment)

 

Nilai

 

NO.

UNSUR YANG DINILAI

A

B

C

D

(91-100)

(71-90)

(61-70)

(<50)

1.

MASUKAN :

(0-100)

       

1.1 Peserta Pelatihan

1.2 Pelatih

1.3 Assessor Pelatihan

1.4 Tenaga Pendukung

1.5 Fasilitas Peralatan

1.6 Bahan Pelatihan

1.7 Modul PBK/Job Sheet/ Diktat

1.8 Biaya/Dana Pelatihan

2.

PROSES :

(0-100)

       

2.1 Kurikulum dan Silabus

2.2 Unit Kompetensi yang ditempuh

2.3 Metode Pelatihan

2.4 Jadwal Pelatihan

2.5 Pelatihan di Tempat Kerja

3.

KELUARAN :

(0-100)

       

3.1 Penguasaan Pengetahuan

3.2 Penguasaan Keterampilan

3.3 Sikap Kerja

3.4 Kedisiplinan

3.5 Motivasi Kerja

3.6 Jumlah Lulusan

……………………………, tgl …………………………….

Penanggung Jawab Program (menerima hasil evaluasi)

…………………………………

Evaluator Program Pelatihan

…………………………………

PROGRAM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI OPERATOR MESIN CNC BUBUT KODE PROGRAM PELATIHAN : KEMENTERIAN TENAGA KERJA

PROGRAM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI OPERATOR MESIN CNC BUBUT

KODE PROGRAM PELATIHAN :

KOMPETENSI OPERATOR MESIN CNC BUBUT KODE PROGRAM PELATIHAN : KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI RI DIREKTORAT
KOMPETENSI OPERATOR MESIN CNC BUBUT KODE PROGRAM PELATIHAN : KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI RI DIREKTORAT

KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI RI DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS

Jl. Jend. Gatot Subroto Kav.51 Lt.6 A Telepon/Fax 021.5262643 Jakarta Selatan

2013

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

i

KATA PENGANTAR

ii

PROGRAM PELATIHAN BERBASI KOMPETENSI

1

1. Nama pelatihan

2. Kode program

3. Kualifikasi/jenjang pelatihan

4. Tujuan pelatihan

5. Unit kompetensi yang ditempuh

6. Unit kompetensi prasyarat

7. Perkiraan waktu

8. Persyaratan peserta pelatihan

9. Persyaratan instruktur

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI

1. KELOMPOK UNIT KOMPETENSI

2. ON THE JOB TRAINING (OJT)

3.

KELOMPOK NON-UNIT KOMPETENSI

4.

SILABUS PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

KATA PENGANTAR

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah tentang Sistem Pelatihan Kerja

Nasional, bahwa setiap penyusunan program pelatihan kerja berbasis kompetensi

mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), Standar

Internasional dan/atau Standar Khusus.

Untuk mengimplementasi pelatihan berbasis kompetensi diperlukan adanya

program pelatihan kerja ini dijadikan acuan dalam pelaksanakan pelatihan kerja

yang diselenggarakan oleh Lembaga Pelatihan Kerja (LPK).

Program pelatihan kerja dapat disusun secara berjenjang atau tidak

berjenjang, Program pelatihan kerja yang berjenjang mengacu kepada Perpres

Nomor 8 tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI),

sedangkan program pelatihan kerja yang tidak berjenjang disusun berdasarkan unit

kompetensi atau kelompok unit kompetensi.

Untuk memenuhi berbagai kebutuhan pelatihan di dunia usaha maupun

dunia industri pada masyarakat pengguna, maka disusun program pelatihan

berbasis kompetensi dengan nama pelatihan “Operator Mesin Perkakas” yang

mengacu pada standar kompetensi kerja.

Demikianlah program pelatihan berbasis kompetensi ini disusun, semoga

dapat digunakan dan bermanfaat dalam menunjang proses pelaksanaan pelatihan

di lembaga pelatihan kerja. Dalam rangka meningkatkan produktivitas sumber daya

manusia dan memiliki daya saing di dalam maupun di luar negeri.

Jakarta, Nopember 2013

Direktur Standardisasi Kompetensi dan Program Pelatihan

Kunjung Masehat, S.H., M.M. NIP 19581129 198603 1 002

PROGRAM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

1. Nama Pelatihan

2. Kode Program

3. Kualifikasi/Jenjang Pelatihan

4. Tujuan Pelatihan

:

:

:

:

Operator Mesin CNC Bubut

X 00 0 0 0 0 0 00 00 Non Jenjang
X
00
0
0
0
0
0
00
00
Non Jenjang

Setelah mengikuti pelatihan ini peserta kompeten:

Mengoperasikan mesin CNC bubut untuk membuat komponen presisi tinggi pada lingkungan industri manufaktur sesuai dengan prosedur yang berlaku.

5. Unit Kompetensi yang ditempuh:

5.1. LOG.OO01.002.01

: Menerapkan Prinsi-Prinsip Keselamatan dan Kesehatan

5.2. LOG.OO07.016.01

5.3. LOG.OO07.018.01

5.4. LOG.OO07.027.01

Kerja di Lingkungan Kerja

: Mengeset dan mengedit program mesin/process NC/CNC

: Memprogram mesin NC/CNC

: Mengoperasikan Mesin NC/CNC

6. Perkiraan Waktu Pelatihan: 360 jam pelatihan @ 45 menit

7. Persyaratan Peserta Pelatihan

8.1 Pendidikan

8.2 Pelatihan

8.3 Pengalaman Kerja

8.4

8.5 Jenis Kelamin

8.6 Kesehatan

8.7 Test Kemampuan

Umur

8. Persyaratan Instruktur

: minimal SLTA Sederajat

:

: 2 tahun dibidangnya

:

: Laki-laki/perempuan

:

: Bidang Manufaktur

-

21 tahun

Sehat jasmani dan rohani

:

9.1 Memiliki kemampuan metodologi

9.2 Memiliki kemampuan teknis yang relevan dengan unit kompetensi yang berkaitan dalam program pelatihan ini.

KURIKULUM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

NO

 

UNIT KOMPETENSI

KODE UNIT

PERKIRAAN WAKTU PELATIHAN (JP)

Penge

Ketram

Jumlah

     

tahuan

pilan

1.

KELOMPOK UNIT KOMPETENSI

 

1.1 Menerapkan Prinsip-Prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Lingkungan Kerja

LOG.OO01.002.01

7

13

20

1.2 Mengeset dan mengedit program mesin/process NC/CNC

LOG.OO07.016.01

20

30

50

1.3 Memprogram Mesin NC/CNC (dasar)

LOG.OO07.017.01

20

30

50

1.4 Mengoperasikan Mesin NC/CNC (dasar)

LOG.OO07.027.01

20

30

50

 

Jumlah I

     

180

2.

PELATIHAN DI TEMPAT KERJA (OJT)

 
     

1

1

2.1 Pelatihan di Tempat Kerja

Bulan

Bulan

2.2 Bimbingan OJT

   

140

140

 

Jumlah II

     

140

3.

KELOMPOK NON-UNIT KOMPETENSI

 

3.1

Fisik Mental Disiplin (FMD)

 

4

20

24

3.2

Kewirausahaan

 

6

10

16

3.4

dst

       
 

Jumlah III

     

40

 

Jumlah I s/d III

     

360

SILABUS PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

1. KELOMPOK UNIT KOMPETENSI

1.1 Unit Kompetensi Kode Unit Perkiraan Waktu

: Menerapkan Prinsip-Prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Lingkungan Kerja : LOG.OO01.002.01 : 20 Jam @ 45 menit

ELEMEN

KRITERIA

INDIKATOR

 

MATERI PELATIHAN

 

JAM PELATIHAN

KOMPETENSI

UNJUK KERJA

UNJUK KERJA

Pengetahuan

Keterampilan

Sikap

 

Penge-

Kete-

tahuan

rampilan

1. Mengikuti

1.1 Kerja

dilaksanakan

Dapat menjelaskan cara melaksanakan kerja dengan aman sehubungan kebijakan dan prosedur perusahaan serta persyaratan perundang-undangan.

Cara

Melaksanakan

Taat,

teliti

1

2

praktek-praktek

dengan

aman

melaksanakan

kerja

dengan

dan aman

kerja yang

sehubungan

kerja

dengan

aman

aman

dengan

kebijakan

aman

sehubungan

dan

prosedur

sehubungan

kebijakan

dan

perusahaan

serta

kebijakan

dan

prosedur

persyaratan

Mampu melaksanakan kerja dengan aman sehubungan kebijakan dan prosedur perusahaan serta persyarat- an perundang-undangan

prosedur

perusahaan

perundang-

perusahaan

serta

undangan.

serta

persyaratan

persyaratan

perundang-

perundang-

undangan

undangan

Harus taat, teliti dan aman

1.2 Kegiatan

rumah

Dapat menjelaskan cara melakukan Kegiatan rumah tangga perusahaan sesuai dengan prosedur perusahaan

Cara

Melakukan

Taat

azas

   

tangga perusahaan

melakukan

Kegiatan rumah

sesuai

dilakukan

sesuai

Kegiatan rumah

tangga

dengan

dengan

prosedur

tangga

perusahaan

prosedur

perusahaan.

perusahaan

sesuai

dengan

perusahaan

Mampu melakukan Kegiatan rumah tangga perusahaan sesuai dengan prosedur perusahaan

Harus taat azas sesuai dengan prosedur perusahaan

sesuai dengan

prosedur

prosedur

perusahaan

perusahaan

ELEMEN

KRITERIA

INDIKATOR

 

MATERI PELATIHAN

 

JAM PELATIHAN

KOMPETENSI

UNJUK KERJA

UNJUK KERJA

Pengetahuan

Keterampilan

Sikap

Penge-

Kete-

tahuan

rampilan

 

1.3 Tanggung

jawab

Dapat menjelaskan pengertian cara mendemonstrasikan tanggung jawab dan tugas- tugas karyawan dalam kegiatan sehari-hari

pengertian cara mendemonstras

mendemonstras

Taat,

   

dan

tugas-tugas

ikan tanggung

berdedikasi

karyawan

ikan

tanggung

jawab dan

dan tepat

dimengerti

dan

jawab

dan

tugas-tugas

didemostrasikan

tugas-tugas

karyawan

dalam

kegiatan

karyawan

dalam kegiatan

sehari-hari

Mampu mendemonstrasikan tanggung jawab dan tugas- tugas karyawan dalam kegiatan sehari-hari

Harus taat, berdedikasi dan tepat

dalam kegiatan

sehari-hari

sehari-hari

1.4 Perlengkapan

Dapat menjelaskan cara memakai dan menyimpan perlengkapan pelindung diri sesuai dengan prosedur perusahaan

cara

memakai

memakai

dan

Tepat,

teliti,

   

pelindung

diri

dan

menyimpan

bersih

dan

dipakai

dan

menyimpan

perlengkapan

aman

disimpan

sesuai

perlengkapan

pelindung

diri

dengan

prosedur

pelindung

diri

sesuai

dengan

perusahaan.

Mampu memakai dan menyimpan perlengkapan pelindung diri sesuai dengan prosedur perusahaan

Harus tepat, teliti, bersih dan aman.

sesuai

dengan

prosedur

prosedur

perusahaan

perusahaan

1.5 Semua

Dapat menjelaskan cara menggunakan semua perlengkapan dan alat-alat keselamatan sesuai dengan persyaratan perundang- undangan dan prosedur perusahaan

Cara

Menggunakan

Taas

azas

   

perlengkapan

dan

menggunakan

semua

dalam

alat-alat

semua

perlengkapan

menggunaka

keselamatan

perlengkapan

dan

alat-alat

n

alat

digunakan

sesuai

dan

alat-alat

keselamatan

keselamatan

dengan

keselamatan

sesuai

dengan

kerja

sesuai

persyaratan

sesuai

dengan

persyaratan

dengan

perundang-

Mampu menggunakan semua perlengkapan dan alat-alat keselamatan sesuai

persyaratan

perundang-

prosedur

undangan

dan

perundang-

undangan

dan

yang berlaku

prosedur

undangan dan

prosedur

ELEMEN

KRITERIA

INDIKATOR

MATERI PELATIHAN

 

JAM PELATIHAN

KOMPETENSI

UNJUK KERJA

UNJUK KERJA

Pengetahuan

Keterampilan

Sikap

Penge-

Kete-

tahuan

rampilan

 

perusahaan

dengan persyaratan perundang-undangan dan prosedur perusahaan

Harus taas azas dalam menggunakan alat keselamatan kerja

prosedur

perusahaan

   

perusahaan

1.6 Tanda-tanda/simbol dikenali dan diikuti sesuai instruksi

Dapat menjelaskan cara mengenali dan mengikuti tanda-tanda/simbol sesuai dengan instruksi

Cara mengenali dan mengikuti

Mengikuti

Taat

sesuai

   

tanda-

dengan

tanda-

tanda/simbol

tanda-tanda

 

tanda/simbol

sesuai

dengan

Mampu mengikuti tanda- tanda/simbol sesuai dengan instruksi

Harus taat sesuai dengan tanda-tanda

sesuai dengan

instruksi

instruksi

1.7 Semua

pedoman

Dapat menjelaskan cara melaksanakan semua pedoman penanganan sesuai dengan persyaratan, prosedur perusahaan dan pedoman Komisi Kesehatan dan Keselamatan Kerja Nasional yang sah

Cara

Melaksanakan

Taat

sesuai

   

penanganan

melaksanakan

semua

dengan

dilaksanakan sesuai dengan persyaratan, prosedur

semua

pedoman

persyaratan,

pedoman

penanganan

prosedur

penanganan

sesuai dengan

perusahaan

sesuai dengan

persyaratan,

dan pedoman

perusahaan

dan

persyaratan,

prosedur

Komisi

pedoman

Komisi

prosedur

perusahaan

Kesehatan

Kesehatan

dan

Mampu melaksanakan semua pedoman penanganan sesuai dengan persyaratan, prosedur perusahaan dan pedoman Komisi Kesehatan dan Keselamatan Kerja Nasional yang sah

perusahaan

dan pedoman

dan

Keselamatan

Kerja

dan pedoman

Komisi

Keselamatan

Nasional yang sah.

Komisi

Kesehatan dan

Kerja

Kesehatan dan

Keselamatan

Nasional yang

Keselamatan

Kerja Nasional

sah

Kerja Nasional

yang sah

yang sah

ELEMEN

 

KRITERIA

 

INDIKATOR

MATERI PELATIHAN

 

JAM PELATIHAN

KOMPETENSI

UNJUK KERJA

UNJUK KERJA

Pengetahuan

Keterampilan

Sikap

 

Penge-

Kete-

 

tahuan

rampilan

   

Harus taat sesuai dengan persyaratan, prosedur perusahaan dan pedoman Komisi Kesehatan dan Keselamatan Kerja Nasional yang sah

   

1.8

Perlengkapan darurat dikenali dan didemon- strasikan dengan tepat.

Dapat menjelaskan cara mengenali dan mendemonstrasikan perlengkapan darurat dengan tepat.

Penjelasan

Mendemonstras

Teliti

taat

   

tentang

ikan

azas.

perlengkapan

perlengkapan

darurat.

darurat dengan

 

tepat

Mampu mendemonstrasikan perlengkapan darurat dengan tepat

Harus teliti taat azas

2. Melaporkan bahaya-bahaya di tempat kerja

2.1

Bahaya-bahaya di

Dapat menjelaskan cara mengenali dan melaporkan bahaya-bahaya di tempat kerja selama waktu kerja kepada orang yang tepat sesuai dengan prosedur pengoperasian standar

Cara mengenali dan melaporkan bahaya-bahaya di tempat kerja selama waktu kerja kepada orang yang tepat sesuai dengan prosedur pengoperasian standar

Melaporkan bahaya-bahaya di tempat kerja selama waktu kerja kepada orang yang tepat sesuai dengan prosedur

Taat

azas

2

5

tempat

kerja

sesuai

selama waktu kerja

dengan

 

dikenali

dan

prosedur

dilaporkan kepada

pengoperasia

orang

yang

tepat

n standar

sesuai

dengan

prosedur

Mampu melaporkan bahaya- bahaya di tempat kerja selama waktu kerja kepada orang yang tepat sesuai dengan prosedur pengoperasian standar

Harus taat azas sesuai dengan prosedur pengoperasian standar

pengoperasian

standar.

 
 

ELEMEN

KRITERIA

INDIKATOR

MATERI PELATIHAN

 

JAM PELATIHAN

KOMPETENSI

UNJUK KERJA

UNJUK KERJA

Pengetahuan

Keterampilan

Sikap

 

Penge-

Kete-

tahuan

rampilan

3. Mengikuti

3.1 Cara-cara menghubungi personil yang tepat dan layanan darurat

Dapat menjelaskan cara menghubungi personil yang tepat

Cara

Menghubungi

Sopan,

hati-

4

6

prosedur-

menghubungi

personil yang

hati teliti dan

prosedur

personil yang

tepat dan

taat

azas

darurat

Dapat menjelaskan cara memberikan layanan darurat jika terjadi kecelakaan

tepat

memberikan

sesuai

jika

terjadi

Cara

pelayanan

dengan

kecelakaan

memberikan

darurat saat

prosedur-

didemonstrasikan

Mampu menghubungi personil yang tepat dan memberikan pelayanan darurat saat terjadi kecelakaan

Harus sopan, hati-hati teliti dan taat azas sesuai dengan prosedur-prosedur darurat

layanan darurat

jika terjadi

terjadi

kecelakaan

prosedur

darurat

kecelakaan

3.2 Bila

diperlukan

Dapat menjelaskan pengertian dan cara melaksanakan prosedur kondisi darurat dan evakuasi (pengungsian)

Pengertian dan cara melaksanakan prosedur kondisi darurat dan evakuasi (pengungsian)

Melaksanakan

Taat sesuai prosedur

prosedur

kondisi

prosedur