Anda di halaman 1dari 47

MAKALAH FITOKIMIA

FLAVONOID

Disusun oleh :
Kelompok 6
Eka Rusmalina

(0512111310

Alin Anindia

( 051211133047 )

Firmansyah R.

( 051211133048 )

Rossa Patria N.

( 051211133089 )

Nurul Maghfiroh

( 051211133091 )

Nur Faseha binti Ali

( 051211133098 )

Adilah Binti Said

( 051211133099 )

Sree Shalini G.

( 051211133100 )

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA


SURABAYA
2015
1

Kata Pengantar

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini baik.
Adapun makalah Flavonoid ini telah kami usahakan semaksimal mungkin
dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar
pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan bayak terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini.
Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadar sepenuhnya bahwa ada
kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena itu
dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi
pembaca yang ingin member saran dan kritik kepada kami sehingga kami dapat
memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhirnya kami mengharapkan semoga dari makalah Flavonoid ini dapat
diambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan inpirasi terhadap
pembaca.
Surabaya, Maret 2015
Penyusun

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagian besar senyawa organik bahan alam adalah senyawa-senyawa
aromatic. Senyawa-senyawa ini tersebar luas sebagai zat warna alam yang
menyebabkan warna pada bunga, kayu pohon tropis, bermacam-macam kapang dan
lumut termasuk zat alizarin.
Senyawa aromatik ini mengandung cincin karboaromatik yaitu cincin aromatic
yang hanya terdiri dari atom karbon seperti benzene, naftalen dan antrasen. Cincin
karboaromatik ini biasanya tersubstitusi oleh satu atau lebih gugus hidroksil atau
gugus lainnya yang ekivalen ditinjau dari biogenetiknya. Oleh karena itu senyawa
bahan alam aromatic ini sering disebut sebagai senyawa-senyawa fenol walaupun
sebagian diantaranya bersifat netral karena tidak mengandung gugus fenol dalam
keadaan bebas. Dalam makalah ini akan diuraikan tentang sejarah flavonoid, macammacam flavonoid dari yang sederhana sampai ke senyawa kompleks flavonoid, gugus
fungsi yang terdapat pada flavonoid, sintesis dan isolasi flavonoid, sifat-sifat
flavonoid, serta tumbuhan-tumbuhan yang mengandung flavonoid.

BAB I

A. PENGERTIAN SENYAWA FLAVONOIDA


Flavonoid adalah suatu deretan senyawa yang mengandung 15 inti
karbon dalam inti dasarnya. Inti tersebut terdiri atas 2 gugus C6 atau cincin
benzen tersubstitusi yang disambungkan oleh rantai alifatik 3 karbon propana
sehingga membentuk suatu susunan ( C6-C3-C6 ).

2'
8

A
6

(C6)

1'

4'

C
32

4
5

3'

5'

6'

43

(C3)

(C6)

struktur umum flavonoid


Struktur kimia dari flavonoid berdasarkan rangka C15 dengan cincin
CHROMANE yang berhubungan dengan cincin aromatik kedua (B) pada
posisi 2, 3,

atau 4. Jika siklis, untuk memulai penomoran fokus pada cincin

C, dimulai dari atom O (no.1) dan diteruskan searah jarum jam (yang
berikatan dengan cincin B). Dimana cincin B adalah cincin yang tidak
berimpit dengan dua cincin lainnya (A & C).
B. KLASIFIKASI FLAVONOID
Macam-macam senyawa Flavanoid
1) Senyawa Flavonoid: Katekin dan proantosianidin
Katekin dan proantosianidin adalah dua golongan senyawa
yang mempunyai banyak kesamaan. Semuanya senyawa berwarna dan
terdapat pada seluruh dunia tumbuhan berkayu. Saat ini telah dikenal
tiga jenis katekin, yang berbeda pada jumlah gugus hidroksil pada
cincin B. Senyawa ini mempunyai dua atom karbon kiral dan karena
itu mungkin terdapat 4 isomer.

2)

Senyawa Flavanoid: Flavanon dan Flavanonol


Senyawa Flavanon dan Flavanonol terdapat hanya sedikit sekali jika
dibandingkan dengan flavonoid lain. Senyawa flavanoid jenis ini hampir
tidak berwarna atau hanya kuning sedikit. Karena konsentrasinya rendah
dan tidak berwarna maka sebagian besar diabaikan. Flavanon (atau
dihidroflavanon) sering dijumpai dalam bentuk aglikon (60) tetapi
beberapa glikosidanya telah banyak dikenal seperti, hesperidin dan
naringin dari kulit buah jeruk. Flavanonol merupakan flavonoid yang
kurang dikenal, dan kita tidak mengetahui apakah senyawa ini terdapat
sebagai glikosida.

3)

Senyawa Flavanoid: Flavon, flavanol, isoflavon


Flavon atau flavonol merupakan senyawa yang paling banyak di
temukan pada pigmen kuning pada tumbuhan. Meski tidak semua
tumbuhan berpugmen kuning mengandung flavon, seperti warna kuning
tumbuhan jagung disebabkan oleh karatenoid. Isoflavon tidak begitu
menonjol, tetapi senyawa ini penting sebagai fitoaleksin. Senyawa yang
lebih langka lagi ialah homoisoflavon. Senyawa ini biasanya mudah larut
dalam air panas dan alkohol meskipun beberapa flvonoid yang sangat
termitalasi tidak larut dalam air.

a. Flavonol
Flavonol lazim sebagai konstituen tanaman yang tinggi, dan terdapat
dalam berbagai bentuk terhidroksilasi. Flavonol alami yang paling
sederhana adalah galangin, 3,5,7 tri-hidroksiflavon; sedangkan yang
paling rumit, hibissetin adalah 3,5,7,8,3,4,5 heptahidroksiflavon. Bentuk
khusus hidroksilasi (C6(A)-C3-C6(B), dalam mana C6 (A) adalah turunan
5

phloroglusional, dan cincin B adalah 4-atau 3,4-dihidroksi, diperoleh dalam


2

flavonol

yang

paling

lazim

yaitu

kaempferol

dan

quirsetin.

Hidroksiflavonol, seperti halnya hidroksi flavon, biasanya terdapat dalam


tanaman sebagai glikosida. Flavonol kebanyakan terdapat sebagai 3glikosida. Meskipun flavon, flavonol, dan flavanon pada umumnya
terdistribusi melalui tanaman tinggi tetapi tidak terdapat hubungan
khemotakson yang jelas. Genus Melicope mengandung melisimpleksin dan
ternatin, dan genus citrus mengandung nobiletin, tangeretin dan 3,4,5,6,7pentametoksiflavon.
b. Flavon
Flavon mudah dipecah oleh alkali menghasilkan diasil metan atau
tergantung pada kondisi reaksi, asam benzoate yang diturunkan dari cincin
A. flavon stabil terhadap asam kuat dan eternya mudah didealkilasi dengan
penambahan HI atau HBr, atau dengan aluminium klorida dalam pelarut
inert. Namun demikian, selama demetilasi tata ulang sering teramati; oleh
pengaruh asam kuat dapat menyebabkan pembukaan cincin pada cara yang
lain. Sebagai contoh demetilasi 5,8-dimetoksiflavon dengan HBr dalam
4)

asam asetat menghasilkan 5,6 dihidroksiflavon


Senyawa flavanoid: Auron (Cincin A COCO CH2 Cincin B)
a.

Auron
Auron atau system cincin benzalkumaranon dinomori sebagai berikut :

Auron berupa pigmen kuning emas terdapat dalam bunga tertentu dan
bryofita. Dikenal hanya lima aglikon, tetapi pola hidroksilasi senyawa ini
umumnya serupa dengan pola pada flavonoid lain begitu pula bentuk yang
dijumpai ialah bentuk glikosida dan eter metil. Dalam larutan basa senyawa
ini menjadi merah ros. Beberapa auron, struktur dan tumbuhan sumber
terdapat dalam contoh dibawah ini.
6

Aurone, yang salah satu contohnya adalah aerusidin, memberikan


warna kuning cerah yang berfloresensi pada beberapa perhiasan bunga,
misalnya pada snapdragon(Scrophulariaceae, Antirrhinum majus). Aurone
seperti halnya antosianin pada bunga berguna sebagai petunjuk pada tawon
besar untuk melakukan penyerbukan. Oleh karena itu, biosintesisnya
menjadi salah satu topik penting terutama interaksi antara tanaman dengan
tawon besar. Studi genetik sebelumnya pada Antirrhinum mengidentifikasi
proses terjadinya warna kuning pada bunga.
Aurone seperti halnya antosianin pada bunga, dapat menghasilkan
nectar untuk menghasilkan madu pada tawon besar. Biosintesanya
merupakan isu penting yang berkembang dan berhubungan dengan
interaksi antara tanaman dan penghasil madu. Studi genetik yang telah ada
mengenai Antirrhinum mengidentifikasi beberapa warna kuning pada
bunga. Untuk menunjukkan biosintesa aurone, terlebih dahulu harus
diidentifikasi tentang homolog oksidasi polifenol (PPO) dari A. majus yang
mengkode sintesa auresidin(AmAS1). Pasangan DNA yang mengkode
sintesis auresidin diekspresikan pada makhkota dari varietas yang
mengandung aurone. AmAS1 mengkatalisis biosintesa auresidin dari
2?,4?,6?,4-tetrahydroxychalcone

(THC)

and

2?,4?,6?,3,4-

pentahydroxychalcone (PHC) dan juga mengubah substrat PHC, THC 4?O-glucoside, and PHC 4?-O-glucoside menjadi brakcteatin, aureusidin 6-Oglucoside, and bracteatin 6-O-glucoside in vitro. Aktivitas puncak AmAS1
ialah pada pH rendah dari THC yang mendekati 5.4 dan diakumulasikan di
vakuola. Dari penemuan ini, ditunjukkan secara eksperimental bahwa
AmAS1 dibawa dari reticulum endoplasma.(RE) ke vakuola lewat badan
golgi. Penemuan ini mendemonstrasikan bahwa biosintesa aurone terjadi di
vakuola tapi bukan di sitoplasma

5) Senyawa flavanoid: Antosianin


Antosianin merupakan pewarna yang paling penting dan paling
tersebar luas dalam tumbuhan. Secara kimia antosianin merupakan turunan
suatu struktur aromatik tunggal, yaitu sianidin, dan semuanya terbentuk dari
pigmen sianidin ini dengan penambahan atau pengurangan gugus hidroksil
atau dengan metilasi. Antosianin tidak mantap dalam larutan netral atau basa.
Karena itu antosianin harus diekstraksi dari tumbuhan dengan pelarut yang
mengandung asam asetat atau asam hidroklorida (misalnya metanol yang
mengandung HCl pekat 1%) dan larutannya harus disimpan di tempat gelap
serta sebaiknya didinginkan. Antosianidin ialah aglikon antosianin yang
terbentuk bila antosianin dihidrolisis dengan asam. Antosianidin terdapat enam
jenis secara umum, yaitu : sianidin, pelargonidin, peonidin, petunidin,
malvidin dan delfinidin.
Antosianidin adalah senyawa flavonoid secara struktur termasuk
kelompok flavon. Glikosida antosianidin dikenal sebagai antosianin. Nama ini
berasal dari bahasa Yunani antho-, bunga dan kyanos-, biru. Senyawa ini
tergolong pigmen dan pembentuk warna pada tanaman yang ditentukan oleh
pH dari lingkungannya. Senyawa paling umum adalah antosianidin, sianidin
yang terjadi dalam sekitar 80 persen dari pigmen daun tumbuhan, 69 persen
dari buah-buahan dan 50 persen dari bunga.
Kebanyakan warna bunga merah dan biru disebabkan antosianin.
Bagian bukan gula dari glukosida itu disebut suatu antosianidin dan
merupakan suatu tipe garam flavilium. Warna tertentu yang diberikan oleh
suatu antosianin, sebagian bergantung pada pH bunga. Warna biru bunga
cornflower dan warna merah bunga mawar disebabkan oleh antosianin yang
sama, yakni sianin. Dalam sekuntum mawar merah, sianin berada dalam
bentuk fenol. Dalam cornflower biru, sianin berada dalam bentuk anionnya,
dengan hilangnya sebuah proton dari salah satu gugus fenolnya. Dalam hal ini,
sianin serupa dengan indikator asam-basa. Istilah garam flavilium berasal dari
nama untuk flavon, yang merupakan senyawa tidak berwarna. Adisi gugus
hidroksil menghasilkan flavonol, yang berwarna kuning.
Dalam pengidentifikasian antosianin atau flavonoid yang kepolarannya
rendah, daun segar atau daun bunga jangan dikeringkan tetapi harus digerus
dengan MeOH. Ekstraksi hampir segera terjadi seperti terbukti dari warna
8

larutan. Flavonoid yang kepolarannya rendah dan yang kadang-kadang


terdapat pada bagian luar tumbuhan, paling baik diisolasi hanya dengan
merendam bahan tumbuhan segar dalam heksana atau eter selama beberapa
menit.
Stabilitas Antosianin secara umum mempunyai stabilitas yang rendah.
Pada pemanasan yang tinggi, kestabilan dan ketahanan zat warna antosianin
akan berubah dan mengakibatkan kerusakan. Selain mempengaruhi warna
antosianin, pH juga mempengaruhi stabilitasnya, dimana dalam suasana asam
akan berwarna merah dan suasana basa berwarna biru. Antosianin lebih stabil
dalam suasana asam daripada dalam suasana alkalis ataupun netral. Zat warna
ini juga tidak stabil dengan adanya oksigen dan asam askorbat. Asam askorbat
kadang melindungi antosianin tetapi ketika antosianin menyerap oksigen,
asam askorbat akan menghalangi terjadinya oksidasi. Pada kasus lain, jika
enzim menyerang asam askorbat yang akan menghasilkan hydrogen peroksida
yang mengoksidasi sehingga antosianin mengalami perubahan warna.
Warna pigmen antosianin merah, biru, violet, dan biasanya dijumpai
pada bunga, buah-buahan dan sayur-sayuran. Dalam tanaman terdapat dalam
bentuk glikosida yaitu membentuk ester dengan monosakarida (glukosa,
galaktosa, ramnosa dan kadang-kadang pentosa). Sewaktu pemanasan dalam
asam mineral pekat, antosianin pecah menjadi antosianidin dan gula. Pada pH
rendah (asam) pigmen ini berwarna merah dan pada pH tinggi berubah
menjadi violet dan kemudian menjadi biru. Pada umumnya, zat-zat warna
distabilkan dengan penambahan larutan buffer yang sesuai. Jika zat warna
tersebut memiliki pH sekitar 4 maka perlu ditambahkan larutan buffer asetat,
demikian pula zat warna yang memiliki pH yang berbeda maka harus
dilakukan penyesuaian larutan buffer.
Warna merah bunga mawar dan biru pada bunga jagung terdiri dari
pigmen yang sama yaitu sianin. Perbedaannya adalah bila pada bunga mawar
pigmennya berupa garam asam sedangkan pada bunga jagung berupa garam
netral. Konsentrasi pigmen juga sangat berperan dalam menentukan warna.
Pada konsentrasi yang encer antosianin berwarna biru, sebaliknya pada
konsentrasi pekat berwarna merah dan konsentrasi biasa berwarna ungu.
Adanya tanin akan banyak mengubah warna antosianin. Dalam pengolahan
sayur-sayuran adanya antosianin dan keasaman larutan banyak menentukan
9

warna produk tersebut. Misalnya pada pemasakan bit atau kubis merah. Bila
air pemasaknya mempunyai pH 8 atau lebih (dengan penambahan soda) maka
warna menjadi kelabu violet tetapi bila ditambahkan cuka warna akan mejadi
merah terang kembali. Tetapi jarang makanan mempunyai pH yang sangat
tinggi. Dengan ion logam, antosianin membentuk senyawa kompleks yang
berwarna abu-abu violet. Karena itu pada pengalengan bahan yang
mengandung antosianin, kalengnya perlu mendapat lapisan khusus (lacquer).
6) Senyawa flavanoid: Khalkon
Polihidroksi khalkon terdapat dalam sejumlah tanaman, namun
terdistribusinya di alam tidak lazim. Alasan pokok bahwa khalkon cepat
mengalami isomerasi menjadi flavanon dalam satuan keseimbangan. Bila
khalkon 2,6-dihidroksilasi, isomer flavanon mngikat 5 gugus hidroksil, dan
stabilisasi mempengaruhi ikatan hydrogen 4-karbonil-5-hidroksil maka
menyebabkan keseimbangan khalkon-flavon condong ke arah flavanon.
Hingga khalkon yang terdapat di alam memiliki gugus 2,4-hidroksil atau
gugus 2-hidroksil-6-glikosilasi.
Senyawa kalkon merupakan salah satu senyawa flavonoid, yaitu
senyawa yang kerangka karbonnya terdiri atas gugus C 6-C3-C6. Strukturnya
dapat dibedakan dari senyawa flavonoid lain dari cincin C 3 yang terbuka
(Gambar 1). Kalkon adalah aglikon flavonoid yang pertama kali terbentuk
dalam biosintesis semua varian flavonoid melalui jalur prazat dari alur
siklamat dan alur asetat malonat (Markham, 1998). Kalkon umumnya
terdapat

dalam

tanaman

yang

termasuk

keluarga

Heliantheaetribe,

Coreopsidinae, dan Compositae (Sastrohamidjojo, 1996).

Senyawa Kalkon

10

Pada struktur senyawa kalkon, subtituen pada 2 cincin aromatis yang


mengapit enon akan memberikan pengaruh terhadap elektrofilisitas struktur
enon melalui peningkatan ataupun penurunan kerapatan elektron pada cincin
aromatis. Adanya gugus pemberi elektron akan menurunkan elektrofilisitas
dari cincin enon. Demikian pula sebaliknya, adanya gugus penarik elektron
pada cincin c aromatis akan meningkatkan aktivitasnya sebagai agen pengalkil
nukleofil biologis dalam biosintesis IL-1 sebagai antiinflamasi (Batt dkk,
1993).
Senyawa kalkon memiliki aktivitas inhibisi angiogenesis melalui
adisi nukleofilik pada gugus enon (Robinson dkk, 2003). Menurut Batt dkk
(1993), jembatan enon pada senyawa 2-kalkon tersubtitusi memegang
peranan penting dalam mekanisme aksi inhibitor biosintesis IL-1 karena dapat
berperan sebagai agen elektrofilik pengalkilasi. Para agen pengalkilasi
memberikan efek sitotoksik melalui transfer alkyl group untuk berbagai
konstituen seluler. Alkilasi DNA dalam inti atom mungkin mewakili interaksi
utama yang menyebabkan kematian sel (Katzung, 2006).
Senyawa pengalkilasi dapat membentuk senyawa kationik antara
yang tidak stabil, diikuti pemecahan cincin membentuk ion karbonium reaktif.
Ion ini bereaksi, melalui reaksi alkilasi, membentuk ikatan kovalen dengan
gugus-gugus donor elektron, seperti gugus-gugus karboksilat, amin, fosfat,
dan tiol, yang terdapat pada struktur asam amino, asam nukleat dan protein,
yang sangat dibutuhkan untuk proses biosintesis sel. Reaksi ini membentuk
hubungan melintang (cross-lingking) antara dua rangkaian DNA dan
mencegah mitosis. Akibatnya proses pembentukan sel terganggu dan terjadi
hambatan pertumbuhan sel kanker (Siswandono dan Soekardjo, 2000).
C. PENOMORAN, PENAMAAN DAN SIFAT FISIKOKIMIA
GOLONGAN FLAVONOID
1. Cathecin / proanthocyanidin
Ada 3 macam katekin, perbedaannya terletak pada jumlah gugus hidroksil
(-OH) pada cincin B. Katekin memiliki

2 atom asimetris sehingga

memiliki probabilitas 4 macam isomer.


a. Satu gugus OH pada cincin B disebut afzelekin

11

b. Dua gugus OH pada cincin B disebut katekin

c.

Tiga gugusOH pada cincin B disebut gallokatekin

Sifat fisika kimia Katekin :


Polaritas
: Polar
Kelarutan
: Larut Dalam Air
Pengaruh Asam : Menjadi Antosianidin
PengaruhBasa : Dapat teroksidasi
2. Flavanol
Golongan Flavanol ini memiliki gugus hidroksil pada atom C nomor 3, dan tidak
memiliki ikatan rangkap di antara atom C nomor 2 dan C nomor 3.

Sifat fisika kimia Flavanol


Polaritas
: Semi Polar
Kelarutan
: Larut dalam pelarut organik
12

Pengaruh asam : Terhidrolisis menjadi antosianidin


Pengaruh basa : Menjadi Kalkon
3. Flavanon
Pada golongan Flavanon tidak ada gugus hidroksil gugus hidroksil (-OH) dan
terdapat gugus keton di atom C nomor 4.

Sifat fisika kimia Flavanon :


Polaritas
: Semi Polar
Kelarutan
:Larut dalam pelarut organik
Pengaruh asam :
Pengaruh basa : Menjadi Kalkon

13

Contoh struktur :
Hesperitin

Butin

Naringenin

Kuraninon

Pinostrobin

Pinocembrin

4.

Flavanonol
Golongan ini seperti Flavonol, tetapi tidak ada ikatan rangkap di atom C nomor 2
dan C nomor 3.

Sifat fisika kimia Flavanonol :


Polaritas
: Semi Polar
Kelarutan
:Larut dalam pelarut organik
Pengaruh asam :
Pengaruh basa : Menjadi Kalkon

14

Contoh struktur :
Taxifolin

Fustin

Xeractinol

5.

Flavon
Tidak ada gugus hidroksil pada atom C nomor 3 pada golongan flavon
ini.Tetapi, terdapat ikatan rangkap di atom C nomor 2 dan C nomor 3 serta ada
gugus keton di atom C nomor 4.

Sifat fisika kimia Flavon :


Polaritas
: Semi Polar
Kelarutan
: Larut dalam air panas
Pengaruh asam :Bentuk glikosida terhidrolisis menjadi aglikon dan gula
Pengaruh basa : Dapat teroksidasi menjadi flavan
Contoh struktur :
Chrysin
Apigenin

Luteolin

Tricetin
Eupatorin

Sinensetin

15

6.

Vitexin

Scutellarin

Salvigenin

Kwanon C

Flavonol
Golongan Flavonol ini memiliki gugus hidroksil
(-OH) di atom C nomor 3 dan gugus keton di
atom C nomor 4, sertaada ikatan rangkap di atom C nomor 2 dan C nomor 3.

Sifat fisika kimia flavonol :


Polaritas
: Semi Polar
Kelarutan
: Larut dalam air panas
Pengaruh asam :Bentuk glikosida terhidrolisis menjadi aglikon dan gula
Pengaruh basa :Contoh struktur :
Galangin
Kaempferol

16

Quercetin

7.

Myricetin

Isoflavon
Golongan Isoflavon mirip seperti golongan Flavon, tetapi ikatan pada cincin B
terletak pada atom C nomor 3.

Sifat fisika kimia


Polaritas
Kelarutan
Pengaruh asam
Pengaruh basa

Isoflavon :
: Semipolar
:::-

Contoh struktur :
Genistein

Daidzein

Formononetin

Soporhicoside

Glabridin

Isosophoranone

17

Biochanin A

8.

Antosianin:

Sifat fisika kimia Antosianin :


Polaritas
: Polar
Kelarutan
: Larut dalam air
Pengaruh asam : Menjadi ion Flavilium (Kation)
Pengaruh basa : Dapat teroksidasi menjadi warna dan rasa yang khas
Contoh struktur :
Aurantinidin

Cyanidin

Delphinidin

Europinidin

Luteolinidin

Pelargonidin

18

Malvidin

Peonidin

Petunidin

Rosinidin
9.

Auron
Pada golongan
Auron ini propan

salah satu atom C-nya tidak membentuk heterosiklik

Sifat fisika kimia Auron :


Polaritas
: Polar
Kelarutan
: Ada yang larut dan ada yang tidak larut dalam air
Pengaruh asam : Pengaruh basa : Dalam larutan basa berwarna merah rosa
Contoh struktur :
Sulphuretin
Aureusidin

Leptosin

19

10.Kalkon
Satu-satunya golongan yang propannya tidak membentuk heterosiklik

Sifat fisika kimia kalkon


Polaritas
:
Kelarutan
:
Pengaruh asam : Terhidrolisis menjadi flavan
Pengaruh basa :
Contoh struktur :
Xanthohumol

20

BAB II
A. BIOAKTIVITAS GOLONGAN-GOLONGAN FLAVANOID dan
SUMBER FLAVONOID DALAM TANAMAN
1. FLAVANON
Antimalaria

Macaranga triloba (malaysianone)


Antioksidan

grape fruit (hesperitin & naringenin)


Neuroproktektif

Propolis (pinocembrin)

21

2. FLAVONOLOL
Antikanker

Paepalanthus argenteus (xeractinol


flavanonol)
Antioksidan

Larix sibirica (taxifolin flavanonol)


3. FLAVON
Antikanker

bunga jemawut, Pennisetum glaucum (vitexin)


Antiinflamasi,
antialergi
22

SELEDRI Apium graveolens (apigenin)


Pemutih
(menghambat
tyrosinase)

4. FLAVONOL

Antikanker
(kuercetin,
myrisetin)

Antioksidan

Antiinflamasi

Malus domestica kuercetin

Kopi (myricetin)

23

Alpinia galanga (galangin)

Aloe vera (kaempferol)

5. ISOFLAVON
Isoflavon sebagai antioksidan untuk menolak efek buruk dari
radikal bebas dalam jaringan tubuh. Isoflavone juga ditemukan memiliki
efek antiangiogenic (memblok pembentuk sel darah baru) dan mampu
menekan pertumbuhan sel yang terkait dengan sel kanker, dengan cara
menginhibitor aktivitas dari senyawa yang meregulasi cell division dan
cell survival (faktor pertumbuhan).
Daidzein and genistein adalah isoflavon yang ditemukan dalam
kacang kedelai. Genistein diketahui merupakan exhibitor aktivitas
antikarsinogen dan inhibitor aktivitas tyrosine kinase.
merupakan

metabolite

dari

Daidzein

Equol

dinyatakan

memiliki

yang
efek

kemopreventive terhadap kanker kulit dari hasil penelitian in vivo pada


tikus.( Nam

Joo Kang et al., 2007).


24

Mencegah

kanker

payudarah,
antioksidan,
antihelmetik

kopi dan kedelai (genistein daidzein )


Kanker payudara

kacang-arab,Cicer arientinum (biochanin A)

Mencegah

keropos

tulang

25

Sophora

tomentosa,

kayu

penawar

(isosophoranone)

6. ANTHOCYANIN
Anthocyanin adalah salah satu golongan flavonoid yang paling banyak
ditemukan pada sayuran dan makanan. Study Epidemiologi menunjuk
mengkonsumsi

Anthocyanin dapat menurunkan resiko dari penyakit

Cardiovacular, diabetes, arthritis

and

cancer. Wang

et

al

dalam

penelitiannya menyatakan anthosyanin yang ada dalam black raspberry


sangat efektif untuk mencegah kanker oesophageal. Cyanindins banyak
ditemukan pada bery-beryan seperti raspberries dan blackberries memiliki
potensi sebagai kemopreventive aktivitas kanker (Seeram, 2008). Study in
vivo menunjukan. Pengkonsumsian anthocyanin yang terdapat pada
raspberry juga dinyatakan dapat meningkatkan fungsi otak, degenerasi
penglihatan akibat usia, dan pengaruh terhadap terhadap penyakit
cardiovaskular (Stone et al., 2007).
Antikanker
Antiinflamasi
Antidiabet
Antivirus

Vitis vinifera(Antocyanin, cyanidin


)

26

Prunus cerasus(Antocyanin,

cyanidin)
7. AURON
Antikanker

bunga snapdragon (aureusidin)

8. CHALCON
1) Chalchon
Chalchone memiliki a diverse array, komponen pada dua cincin
aromatik 1.3-diphenyl-2-propen-1-one. Tergantung pola subtitusi pada
dua cincin aromatik tersebut chalcone memiliki aktivitas biologi yang
sangat luas, yang salah satunya adalah anti-malaria terdapat pada
Plasmodium falciparum (soon sung lim., et al) grup C-2 methoxy dalam
struktur chalcon yang terdapat pada tanaman Desmos Lour memiliki efek
aktivitas yang poten sebagai anti-HIV. (jiu-Hong Wu., et al)
a) Isoliquiritigenin

27

Penelitian yang dilakukan oleh Tatiane et al, bahwa Isoliquiritigenin


brazilian red propolis memiliki aktivitas antimikroba terhadap
Staphylococcus aureus, Streptococcus mutans, dan Actinomyces
naeslundii.
b) Phroridzin
Ditemukan dalam kulit apel dilaporkan memiliki aktivitas anti-tumor
(vermerris dan Nicholson 2006)
Antiinflamasi

Caesalpinia pulcherrima ((chalcon))

B.

Struktur activity relationship (pengaruh gugus terhadap aktivitas biologi)


1) Antioksidan
OH ganda, terutama keterikatan antara gugus C=O pada C-4 dan gugus
OH pada C-3 dan C-5
Dua gugus OH pada C-3 dan C-4 pada cincin B dan memiliki dua gugus
yang sama pada C-6 dan C-7 pada cincin A
Struktur antioksidan flavonoid adalah adanya katekol B-ring kelompok dan
adanya ikatan rangkap C2-C3 dalam konjugasi dengan kelompok okso di
C4; yang pertama berfungsi untuk menyumbangkan hidrogen /elektron
untuk menstabilkan spesies radikal dan yang kedua berfungsi untuk
mengikat ion logam transisi seperti besi dan tembaga. Karena luteolin dan
beberapa glikosida yang memenuhi dua persyaratan struktural ini, tidak
mengherankan bahwa banyak tanaman luteolin yang mengandung
28

antioksidan memiliki sifat tersebut. Aktivitas antioksidan luteolin dan


glikosida yang telah dikaitkan dengan oksigen reaktif dan nitrogen, untuk
chelate logam transisi yang dapat menyebabkan kerusakan oksidatif melalui
Fenton reaksi , untuk menghambat prooksidan enzim dan untuk
menginduksi enzim antioksidan. Aktivitas antioksidan luteolin tidak hanya
diamati in vitro tetapi juga in vivo
2) Antikanker/ antitumor
Dalam kasus kanker payudara senyawa flavonoid seperti golongan flavon
akan menghambat proliferasi sel MDA-MB-468 dan MCF-10A. Yaitu
dengan adanya reaksi hidroksilasi aromatik flavonoid yang dikatalisasi oleh
enzym CYP1.
Gugus OH pada C-5 dan C-4, Gugus OH pada C-4 (paling poten)
Gugus OH pada C-5 dan C-7, C-5 dan C-4, C-6 dan C-3, C-5 dan C-7
serta C-4
aktivitas antikanker disebabkan adanya gugus ,-unsaturated carbonyl
dalam struktur flavon. Senyawa dengan struktur ,-unsaturated carbonyl
mempunyai efek antikanker dan sitotoksik melalui alkilasi Michael.
Efek antitumor disebabkan adanya ikatan langsung dengan DNA dan
sintesis protein atau penghambatan protein kinase atau mening-katkan
respon imun.
Flavonoid akan menghambat aktivitas protein kinase yang menjadi
penyebab dari kanker. Efektifitas penghambat kinase harus flavonoid yang
mempunyai hubungan dengan protein kinase yang menyebabkan penyakit.

29

3) Antiinflamasi

Gugus flavon yang mempunyai aktivitas sebagai antiinflamasi adalah


adanya gugus keton dan ikatan rangkap terkonjugasi (Gugus C=O pada C-4
dan gugus OH pada C-5).

Flavonoid diketahui memiliki sifat anti-inflamasi dianntaranya Luteolin.


Luteolin selain memiliki efek antioksidan juga memiliki efek antiinflamasi ,
glikosida dan tanaman yang mengandung luteolin telah dilaporkan memberi
efek anti-inflamasi secara in vitro dan in vivo . Beberapa mekanisme dalam
aktivitas anti-inflamasi flavonoid ini yaitu Aktivasi faktor-kappa B nuklir
(NF-kappa B) dapat meningkatkan ekspresi pro-inflamasi sitokin, kemokin
dan enzim (misalnya TNF, IL-1, IL-6, IL8, COX-2,iNOS), dan beberapa
percobaan telah menunjukkan bahwa luteolin dapat menghambat aktivitas
NF-kappa B dalam rentang konsentrasi yang kecil. misalnya Xagorari dan
lain-lain. Luteloin Diidentifikasi merupakan flavonoid yang paling ampuh
dalam menghambat TNF-alpha yang keluar dari makrofag, dan diketahui
juga Luteolin memblok lipopolysaccharide (LPS), dengan menstimulasi
aktivasi dari NF-Kappa. Protein aktivator 1 (Ap-1) adalah transkrip sebuah
regulator yang berpartisipasi dalam respon inflamasi. Protein aktivator
dapat dihambat oleh Luteolin. Dan baru-baru ini ditemukan bahwa luteloin
dapat menurunkan LPS dan menginduksi produksi IL-6.

30

31

Contoh Golongan flavonoid yang terkandung dalam berbagai macam


tanaman

32

BAB III
A. BIOSINTETIK FLAVONOID
biosintesa flavonoid pertama kali disarankan oleh Birch. Menururut Birch,
tahap pertama dari biosintesa flavonoid suatu unit C6-C3 berkombinasi dengan 3
unit C2 menghasilkan unit C6-C3-(C2+C2+C2). kerangka C15 yang dihasilkan
dari kombinasi unit mengandung gugus-gugus fungsi oksigen pada posisi-posisi
yang diperlukan.
Dimana cincin A dari struktur flavonoid berasal dari jalur poliketida, yakni
kondensasi dari tiga unit asetat atau malonat, sedangkan cincin B dan tiga atom
karbon dari rantai propan berasal dari jalur fenilpropanoid (jalur sikimat).
Jalur Poliketida :

33

Jalur Fenil propanoid (Jalur Sikimat)

Kombinasi antara dua jalur biosintesa, yaitu jalur sikimat dan jalur asetatmalonat menghasilkan kerangka dasar karbon dari flavonoid. Selanjutnya, akibat
dari perubahan yang disebabkan oleh enzim, ketiga atom karbon dari rantai propan
dapat menghasilkan berbagai gugus fungsi, seperti ikatan rangkap, gugus hidroksil,
gugus karbonil, dan sebagainya.
Menurut

biosintesa

ini,

pembentukan

flavonoid

dimulai

dengan

memperpanjang unit fenilpropanoid (C6-C3) yang berasal dari turunan sinamat


seperti asam p-kumarat. Kadang-kadang asam kafeat, asam furalat, atau asam
sinapat. Percobaan-percobaanjugamenunjukkanbahwacalkondan isomer flavon
yang sebanding juga berperan sebagai senyawa antara dalam biosintesis berbagai
jenis flavonoid lainnya. Adapun hubungan biogenetic antara berbagai jenis
flavonoid,

34

35

36

Kalkon sintase adalah enzim yang diteliti secara luas dalam penentu laju
biosintesis flavonoid. Enzim ini terkait dengan reticulum endoplasma dan bekerja
sama dengan reduktase membuat kalkon. Kalkon merupakan zat-antara langsung
auron.

Proses

saling

ubah

kalkon-flavanon

dikatalisis

oleh

enzim

chalconeisomerase (CHI). Karena saling ubah atau irreversible kalkon dan


flavanon mudah sekali, sukar untuk mengetahui apakah senyawa-antara (prazat)
antara kalkon dan golongan flavonoid lain selalu flavanon. Isomerasi dari flavanon
menghasilkan isoflavonoid dengan enzim isoflavon sintase (IFS) denganzat-antara
2-Hydroksi isoflavanon yang dikatalis menjadi isoflavonoid dengan 2-hidroksi
isoflavanon dehidratase (IFD). Flavanon merupakan point penting dalam
metabolism flavonoid karena menghasilkan flavon dan dihidroflavonol atau sering
disebut

flavanonol.

Percobaan

secara

enzimatik

menunjukkan

bahwa

dihidroflavonol (flavanonol) bertindak sebagai zat-antara beberapa golongan


flavonoid. Dehidrogenasi secara enzimatik flavanon menjadi flavon oleh enzim
flavonsintase (FNS) dan flavanonol menjadi flavonol oleh enzim flavonol sintase
(FLS)

telah dibuktikan. Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa

flavononolzat-antara untuk antosianidin melalui leukoantosianidin dan juga


katekin.
B. ISOLASI FLAVONOID SECARA UMUM
1) Metode ekstraksi
Polaritas adalah suatu pertimbangan dalam proses ekstraksi flavonoid.
Banyak senyawa dari golongan flavonoid mudah larut dalam air terutama
bentuk glikosidanya, Bahkan untuk senyawa yang sedikit larut dalam air,
kepolarannya memadai untuk diekstraksi dengan methanol, etanol, aseton, dan
methanol 80%. Pengekstraksian kembali dengan pelarut organik yang agak
polar tetapi tidak saling campur dapat memisahkan senyawa yang lebih polar,
misalnya karbohidrat. Untuk menarik golongan flavanol, contohnya katekin dan
proantosianidin digunakan etil asetat. Untuk benzopenon dan stilen digunakan
benzene. Untuk menarik antosianin digunakan amil alcohol. Butil alcohol
sekunder merupakan alcohol yang paling polar dan tidak saling campur dengan
air bisa dipakai untuk memisahkan seluruh senyawa di atas.
Sebagai senyawa fenolik, flavonoid dalam suasana basa maupun netral
mudah teroksidasi. Untuk menghindari hal tersebut, proses ekstraksi dilakukan
37

pada suasana sedikit asam (misal penamabahan HCl 0,1), perlu diperhatikan
kontak yang lama denagn asam akan menyebabkan hidrolisis pada glikosida.
Secara klasik, flavonoid bias dapat dipakai adalah asam pikrat, barium
hidroksida, dan kalium asetat.
Flavonoid yang lebih non polar diekstraksi dengan kloroform,
diklorometana, dietil eter, atau etil asetat. Flavonoid glikosida dan yang lebih
polar, aglikon diekstraksi dengan alcohol atau campuran alcohol-air. Kelarutan
glikosiada meningkat dalam air sehingga campuran alcohol-air bias digunakan
untuk mengekstraksi.
Ekstraksi flavonoid dapat dilakukan dengan :
a. Penarikan kandunagn flavonoid dilakukan oleh bahan pelarut secara
langsung, misalnya :
Flavanol (katekin, proantosianidin, dan terkondensasi) sering diekstraksi
secara langsung dengan air.Antosianin diekstraksi dengan methanol/ asm
dingin. Komposisi yang didapat dari ekstraksi berbeda menurut pelarutnya,
air, methanol, etanol, aseton, atau eti asetat. Sebagai contoh, methanol
merupakan pelarut yang terbaik untuk katekin dan aseton 70% untuk
prosianidin.
b. Ekstraksi dengan Soxhlet, pertama dengan heksan untuk menarik lemak,
kemudian dengan etil asetat atau etanol untuk memperoleh gugus fenol.
Metode ini tidak cocok digunakan untuk senyawa yang tidak tahan terhadap
panas. Tapi metode ini akan menarik komponen sesuai dengan tingkat
polaritasnya. Pada mulanya, dengan diklorometana, sebagai contoh akan
mengekstraksi flavonoid aglikon dan lebih sedikit senyawa polar. Kemudian
alcohol digunakan untuk mengekstraksi flavonoid glikosid dan senyawa
polar. Kalkone glikosida sukar larut dalam methanol, etanol, dan campuran
air-alkohol.
c. Ekstraksi biasanya dilakukan dengan magnetic stirrer atau pengocokan.
d. PLE (Presure Liquid Ekstraction), ekstraksi dipercepat dengan penggunaan
tekanan tinggi dan temperature tinggi. Dengan metode ini, ditingkatkan
difusi bahan pelarut dan pada waktu yang sama, ada kemungkinan untuk
melakukan ekstraksi di bawah atmosfer inert dan terlindung dari cahaya.
2) Metode Pemisahan

38

Metode pemisahan mutakhir yang dilakukan adalah pemisahan dengan


kromatografi kolom. Pada dasarnya, cara ini meliputi penempatan campuran
flavonoid (berupa larutan) di atas kolom yang berisi serbuk penyerap, seperti
selulosa, silica, atau poliamuda. Dilanjutkan dengan elusi beruntun setiap
komponen memiliki eluen yang cocok.
Beberapa fase diam yang digunakan untuk memisahkan jenis flavonoid adalah
sebagai berikut :
a. Selulosa : untuk memisahkan glikosida yang lain atau memisahkan glikosida
dari aglikon yang kurang polar.
b. Silika : Bahan ini paling berguna untuk memisahkan aglikon yang kurang
polar, misalnya: flavonol.
c. Poliamida : Bahan ini cocok untuk memisahkan semua flavonoid, meskipun
juga ideal untuk memisahkan glikosida.
d. Gel Sephadex ( deret G ) : bahan ini dirancang untuk memisahkan campuran
terutama berdasarkan pada ukuran molekul (biladigunakan pelarut air). Pada
cara ini, sephadex berguna untuk memisahkan poliglikosida yang berbeda
berat molekulnya.
e. Gel sephadex (LH20) : khusus untuk digunakan memakai pelarut organic dan
dapat digunakan 2 cara. LH20 sangat cocok untuk pemurnian akhir aglikon
flavonoid dan glikosida yang telah diisolasi dari kertas, selulose, silica, dan
poliamida.
3)

Pemilihan Eluen
Dalam menentukan eluen yang cocok untuk memisahkan harus ditentukan
dengan percobaan. Yang paling sederhana adalah cara Kromatografi Lpais Tipis.
Kepolaran nisbi eluen yang biasa ditunjukkan dengan deret eluotropik brikut
ini :
a. Selulose dan Silica
Untuk fase diam selulose dan silica digunakan eluen (menurut kepolaran
yang menurun) yaitu air, asam format, isopropyl alcohol, aseton, n-PrOH,
tetrahidrofuran, t-butanol, 2-butanol, metil etil keton, N-amil alcohol, etil
asetat, eter,kloroform, benzene.
b. Poliamida
Untuk poliamida digunakan eluen (menurut keefektifan yang menurun
sebagai pengeluasi) yaitu : larutan urea dalam air, dimetilformamida,
formamida, larutan NaOH, aseton, methanol, air, dikloroetana, atau
kloroform.

4)

Karakterisasi dan identifikasi


39

1) Reaksi Warna
Jika tidak ada pigmen yang mengganggu, jaringan tumbuhan dapat diuji
mengenai adanya flavon dan flavonol dengan diuapi uap ammonia. Warna
kuning menunjukkan adanya senyawa ini. Jika ekstrak pigmen dalam air
dibasakan, berbagai perubahan warna dapat terlihat, meskipun perubahan
pada pigmen yang satu dapat menutupi perubahan pada pigmen lain.
Reaksi dengan besi (III) klorida telah digunakan secara luas untuk
mengidentifikasi senyawa fenol, tetapi tidak dapat untuk membedakan
macam-macam golongan.
Reduksi dengan magnesium dan asam klorida pekat menghasilkan warna
merah pada flavonol dan flavanonol. Pendidihan bagian tumbuhan dengan
HCl 2 M digunakan untuk mendeteksi flavanol (misal: katekin dan
leukoantosianidin). Adapun warna atau perubahan warna dari flavonoid yang
disebabkan oleh pereaksi pereaksi tersebut di atas dijabarkan dalam table di
bawah ini :
Pereaksi
Senyawa
Flavon
Flavonol
Favanonol
Antosianin
Katekin

Uap Amonia

FeCl3

Mg + HCl pekat

kuning
kuning
coklat jingga
lembayung biru
-

merah (<flavonol)
merah
merah
-

Didihkan
dengan HCl 2M
coklat kuning

40

2) KLT
Untuk KLT telah dipakai berbagai lapisan, misalnya selulose, campuran
selulose-PVP, magnesium silikat, dan silica gel yang mengandung timabal
asetat.
Beberapa kombinasi fase diam dan fase gerak yang dianjurkan untuk jenis
flavonoid tertentu dijelasakan sebagai berikut :
a. Glikosida Flavonoid
Selulose : TBA, BAA, HOAc 5-40%
H2O
Poliamida
Silika

H2O:MeOH:MEK:asetil aseton = 13:3:3:1


EtOAc:Pir:H2O:MeOH = 80:20:10:5

b. Aglikon flavanoid polar missal flavon, flavonol


Selulose

TBA,

HOAc

50%,

KAA,

benzene:HOAc:H2O=125:72:50
Poliamida
Silika

MeOH:HOAc:H2O = 18:1:1
benzene:Pir:HCOOH = 36:9:5 terutama biflavonil

c. Aglikon flavonoid non polar missal dihidroflavonoid, flavon termetilasi.


Selulose : HOAc 30%
Silica

CHCl3:MeOH = 15:1 sampai 3:1

Geissmen memberikan garis besar tata kerja rutin untuk memeriksa kromatogram
kertas flavonoid. Tata kerja ini berlaku untuk lapisan tipis :
a.

Perhatikan bercak yang terlihat (antosianin, kalkon, auron).

b.

Periksa di bawah sinar UV dengan panjang gelombang 365 nm, beberapa


senyawa

berfuorosensi (flavonol, kalkon) yang lain menyerap sinar dan

tampak sebagai

bercak gelap dengan latar belakang berfluorosensi

(glikosida flavonol, antosianin,

flavon).
41

c.

Uapi dengan uap ammonia, sambil diperiksa di bawah sinar UV, glikosida
flavon dan flavonol berfluoresensi kuning. Katekin terlihat biru pucat.

d.

Periksa lagi di bawah sinar cahaya biasa sambil diuapi uap amonia. Flavon
terlihat

kuning, antosianinkelabu biru, kalkon dan auron merah jingga.

Adapun beberapa pereaksi semprot yang bias digunakan : garam diazonium


bereaksi dengan senyawa fenol menghasilkan zat warna azo yang berwarna. Garam
diazonium yang paling sering dipakai dibuat dari benzidina, p-nitroanilina, atau asam
sulfanilat, p-nitrobenzenadiazonium fluoborat terutama sangat menguntungkan karena
senyawa ini stabil sehingga dapat dilarutkan begitu saja dalam asam encer sebelum
dipakai.
Senyawa bukan fenol dapat bereaksi juga (misalnya histamin), tetapi tidak
banyak senyawa semacam ini yang dijumpai bersama-sama dengan flavonoid.
Flavanonol dapat dideteksi dengan 4% Rodamin B dalam 0,1N HCl akan terjadi
warna merah. Flavon dan flavonol tidak memberikan reaksi yang sama. Vanilin HCl
untuk identifikasi derivate floroglusinol atau resorsinol akan terjadi warna pink.
3) Spektra dengan Spektrofotometer UV-Vis
Spectrum flavonoid biasanya ditentukan dalam pelarut methanol atau etanol
meski perlu diigat bahwa spektrum yang dihasilkan dalam etanol kurang
memuaskan.
Untuk antosianin diperlukan HCl 0,4M dalam methanol, spectrum khas terdiri
atas dua puncak pada rentang 240-285 nm (pita II) dan 300-350 nm (pita I).
kedudukan yang tepat dan kekuatan nisbi puncak tersebut memberikan informasi
yang berharga mengenai sifat flavonoid dan pola oksigennya. Spektrum khas jenis
flavonoid utama dengan pola oksigenasi yang setara.
Petunjuk mengenai rentang puncak utama yang diperkirakan untuk
setiap jenis flavonoid disajikan pada table di bawah ini.
Rentang Spektra UV-Vis Senyawa Flavonoid dalam Metanol
Pita II (nm)
250-280
250-280
250-280
245-275

Pita I (nm)
310-350
330-360
350-385
310-330 bahu,

Jenis Flavonoid
Flavon
Flavonol (3-OH tersubstitusi)
Flavonol (3-OH bebas)
Isoflavon
42

275-295
230-270 (kekuatan
rendah)
230-270 (kekuatan
rendah)
270-280

Isoflavon (5-deoksil-6,7kira-kira 320 puncak dioksigenasi)


300-330 bahu
Flavonon dan Dihidroflavonol
340-390

Khalkon

380-430
465-560

Auron
Antosianidin dan Antosianin

4) Pereaksi Geser
Berbagai metode telah dikembangkan untuk menetapkan letak gugus hidroksil
pada flavonoid dengan menggunakan pereaksi yang menyebabkan terjadinya
pergeseran spektrum karena perbedaan pola hidroksilasi. Pereaksi yang umum
ditambahkan adalah Natrium Metoksida (NaOMe), Natrium Asetat (NaOAc),
Natrium Asetat + Borat (NaOAc + H3BO3) dan Aluminium Klorida (AlCl3 +
HCl).
Penafsiran perubahan spectrum yang disebabkan oleh berbagai pereaksi geser
tersebut dijelaskan sebagai berikut :
a.

Spektrum NaOMe merupakan spektrum flavonoid yang gugus hidroksil


fenolnya sampai batas tertentu terionisasi. Karena itu spektrum ini biasanya
merupakan petunjuk sidik jari pola hidroksilasi dan juga bermanfaat untuk
mendeteksi gugus hidroksi yang lebih asam dan tidak tersubstitusi. Degradasi
atau pengurangan kekuatan spektrum setelah waktu tertentu merupakan
petunjuk baik akan adanya gugus yang peka terhadap basa. Pereaksi ini
digunakan untuk mengetahui gugus OH pada C3 dan C4.

b.

Spektrum NaOAc

menyebabkan pengionan yang berarti pada gugus

hidroksil flavonoid yang paling asam. Jadi, natrium asetat digunakan terutama
untuk mendeteksi adanya gugus 7-hidrosil bebas (atau yang setara). Pereaksi
ini digunakan untuk meramalkan gugus OH pada C5, C6, C7; C5, C7, C8; C3,
C3, C4.
c.

Spektrum NaOAC / H3BO3 menjembatani kedua gugus hidroksil pada gugus


O-dihidroksi dan digunakan untuk mendeteksinya.

d.

Spektrum AlCl3 dan AlCl3/HCl karena membentuk kompleks tahan asam


antara gugus hidroksil dan keton yang bertetangga dan membentuk kompleks
43

tak tahan asam dengan gugus orto-dihidroksil, pereaksi ini dapat digunakan
untuk mendeteksi kedua gugus tersebut. Pereaksi geser AlCl3 digunakan untuk
membantu mengetahui letak gugus OH di C3 atau C5 pada ring A, C3 dan
C4 atau C4 dan C5 pada ring B. Mekanisme: Al akan bergabung dengan
gugus OH dan O pada karbonil sehingga penambahannya harus pada
flavonoid yang mempunyai gugus karbonil pada no.4 di cincin C.

44

Daftar Pustaka
1.

Nam Joo Kang, Kiwon Lee, Evgeny A. Rogozin, Yong-Yeon Cho, YongSeok Heo_, Ann M. Bode,Hyong Joo Lee, And Zigang Dong., Agustus
2007, Equol, A Metabolite Of The Soybean Isoflavone Daidzein,
Inhibits Neoplastic Cell Transformation By Targeting The
MEK/ERK/P90rsk/Activator Protein-1 Pathway The Journal Of
Biological Chemistry Vol. 282, No. 45,

2.

Rachel M. de Ferrars., may 2014, The Metabolic Fate and Bioactivity of


Anthocyanins in Humans, Norwich Medical School University of East
Anglia

3. Pushpa S. Murthy, M.R. Manjunatha, G. Sulochannama and M. Madhava

Naidu.,2012 Extraction, Characterization and Bioactivity

of Coffee Anthocyanins, European Journal of Biological Sciences


4.

Ramun Bobinait, Jonas Vikelis.,2013 Anthocyanins: occurrence,


bioactivity andbioavailability, with special reference to the anthocyanins
of raspberries (a review) Institute of Horticulture, Lithuanian Research
Centre for Agriculture and Forestry,

5.

Tatiane Luiza C. Oldonia, Ingridy S.R. Cabrala, Marisa A.B. Regitano


dArcea, Pedro L. Rosalenb,Masaharu Ikegakic, Andrea M. Nascimentoa,
Severino M. Alencar.,2011 Isolation and analysis of bioactive isoflavonoids
and chalcone from a new type of Brazilian propolis Elsevier

6.

Florentina Maria Titin Supriyanti 1), Zackiyah 2) Wisda Seviana Putri,


STUDI INHIBISI EKSTRAK METANOL KULIT BATANG Artocarpus Sp
DALAM MENCEGAH HIPERPIGMENTASI KULIT Jurusan Pendidikan
Kimia, FPMIPA, UPI

7.

Mirna Lumbessya*, Jemmy Abidjulua, Jessy J. E. Paendong, 2013 Uji Total


Flavonoid Pada Beberapa Tanaman Obat Tradisonal Di Desa Waitina
Kecamatan Mangoli Timur Kabupaten Kepulauan Sula Provinsi Maluku
Utara http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jmuo

8.

Toru

Nakayamaa,

Takuya

Satoa,

Yuko

Fukuib,

Keiko

Yonekura-

Sakakibarab;1, Hideyuki Hayashic, Yoshikazu Tanakab, Takaaki Kusumib,


Tokuzo Nishinoa, 2001. Specicity analysis and mechanism of aurone

45

synthesis catalyzedby aureusidin synthase, a polyphenol oxidase homolog


responsible for flower coloration, FEBS Letters
9.

Guilian Tiana, Ubin Zhanga, Tianyou Zhanga, Fuquan Yangb, Yoichiro Ito,
2004 Separation of flavonoids from the seeds of Vernonia anthelmintica
Willd by high-speed counter-current chromatography Elsevier

10. Francisco

J. Rodrguez-Pulido, Jos Miguel Hernndez-Hierro, Julio Nogales-

Bueno, Beln Gordillo, M. Lourdes Gonzlez-Miret, Francisco J. Heredia,


2014

novelmethodforevaluating

flavanolsingrapeseedsbynearinfrared

hyperspectralimaging Elsevier
11.

Assessment report on Glycyrrhiza glabra L. and/or Glycyrrhiza inflata Bat.


and/or Glycyrrhiza uralensis Fisch., radix 2013, Europian Medicine Agency

12. Jiu-Hong

Wu,a Xi-Hong Wang,b Yang-Hua Yic and Kuo-Hsiung Lee, 2003

Anti-AIDS Agents 54. A Potent Anti-HIV Chalcone and Flavonoids from


Genus Desmos Pergamon
13. Chithan

Kanadaswami1,Lung-Ta Lee,Ping-Ping H Lee, Jiuan-Jiuan Hwang,

Ferng-Chun Ke, Ying-Tung Huang And Ming-Ting Lee.2005. The Antitumor


Activities of Flavonoids.
14. Ueda

H., Yamazaki M., Biosci. Biotech. Biochem., 65, 1673

1675 (2001).
15. Imaoka

K., Inouye S., Takahashi T., Kojima Y., Allergy, 42, 74

80 (1993).
16. Ishihara

T., Okamoto I., Masaki N., Kohno K., Tanimoto T.,

Ikegami H., Kurimoto M., Allergy, 48, 443450 (1999).


17. Shin

T. Y., Kim S. H., Kim S. H., Kim Y. K., Park H. J., Chae B. S.,

Jung H. J., Kim H. M., Immunopharmacol. Immunotoxicol., 22,


489500 (2000).
18. 18.

Makino T., Ono T., Muso E., Honda G., Sasayama S.,

Nephron., 83, 4046 (1999).


19. Ruff

M. R., Gifford G. E., J. Immunol., 125, 16711677 (1980).

20. Young

J. M., Spires D. A., Bedord C. J., Wagner B., Ballaron S. J.,

De Young L. M., J. Invest. Dermatol., 82, 367371 (1984).


21. Young

J. M., Wagner B. M., Spires D. A., J. Invest. Dermatol.,

80,4852 (1983).
46

22.

Dietrich F. M., Hess R., Int. Arch. Allergy Appl. Immunol., 38,
246259 (1970).

23. Ishikura
24. Kim

N., Agr. Biol. Chem., 45, 18551860 (1981).

H. K., Cheon B. S., Kim Y. H., Kim S. Y., Kim H. P.,

Biochem.Pharmacol., 58, 759765 (1999).


25. Nagao

A., Seki M., Kobayashi H., Biosci. Biotech. Biochem.,

63,17871390 (1999).
26. Bauman

J, Bruchhausen FV, Wurm G. Flavonoids and related compounds as

inhibitors of arachidonic acid peroxidation. Prostaglandins. 1980;20:627639.


27. Murakami

M, Kudo I. Recent advances in molecular biology and physiology

of the prostaglandin E2-biosynthetic pathway. Prog Lipid Res. 2004;43:335.


28. Lee

T-P, Matteliano ML, Middletone E. Effect of quercetin on human

polymorphonuclear leukocyte lysosomal enzyme release and phospholipid


metabolism. Life Sci. 1982;31:27652774.
29. Lanni

C, Becker EL. Inhibition of neutrophil phospholipase A2 by p

bromophenylacyl bromide, nordihydroguaiaretic acid, 5,8,11,14eicosatetrayenoic acid and quercetin. Int Archs Allergy Appl Immun.
1985;76:214217.
30. Lindahl

M, Tagesson C. Selective inhibition of group II phospholipase A2 by

quercetin. Inflammation. 1993;17:573582.


31. Welton AF, Tobias

LD, Fiedler-Nagy C, Anderson W, Hope W, Meyer K, et al.

Effect of flavonoids on arachidonic acid metabolism. In: Cody V, Middleton


E, Harborne JB, editors. Plant flavonoids in biology and medicine. New York:
Alan R.Liss; 1986. p. 231242.

47