Anda di halaman 1dari 28

PENGOLAHAN AIR BERSIH UNTUK INDUSTRI

Makalah ini disusun untuk memenuhi mata kuliah Utilitas

Disusun oleh :

KELOMPOK 3
1. Gika Putri Ariani
(21030113140144)

8. Hana Nikma Ulya


(21030113120050)

2. Devita Amelia
(21030113120005)

9. Hikmah Olivia
(21030113120091)

3. Adnan Poerbowaluyojati
(21030113130161)

10. Lyan Dea Sagita


(21030113120056)

4. Abdullah Ardhi F
(21030113120075)

11. Aditya Gunadi


(21030113120058)

5. Katerina Nila Oktavia


(21030113120055)

12. Tita Della Arimbi


(21030113120059)

6. Henrikus Ivan Aditya H


(21030113120057)

13. Ricky Kurniawan


(21030113130147)

7. Wahyu Zuli Pratiwi


(21030113120052)

14. Roynaldy Daud


(21030113130166)

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena limpahan berkat dan
rahmat-Nya sehingga dapat tersusunlah makalah ini dengan baik dan sesuai
dengan harapan.
Ucapan terimakasih kepada Bapak Hantoro Satriadi, MT selaku dosen
mata kuliah Utilitas sebagai dosen pembimbing dalam pembuatan makalah ini,
juga teman-teman, dan segala pihak yang terkait.
Makalah ini berisi materi tentang Pengolahan Air Bersih untuk Industri
yang membahas siklus air, penyediaan, sumber dan cara pengolahan air yang
sesuai baku mutu air.
Makalah ini adalah makalah yang dibuat dengan sebaik-baiknya, namun
masih banyak hal yang harus diperbaiki. Oleh karena itu, kritik dan saran yang
membangun sangat diharapkan untuk evaluasi hasil kerja.

Semarang, 26 Maret 2015

Kelompok 3

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Utilitas atau utility adalah suatu bagian dalam suatu industri pengolahan
yang berfungsi men-supply / melayani segala sesuatu kebutuhan pendukung selain
bahan baku dan additif yang dipakai untuk proses itu sendiri agar proses
pengolahan dapat berlangsung sehingga dapat dihasilkan produk dari bahan baku
yang diolah.
Sebuah pabrik mempunyai dua sistem proses utama, yaitu sistem pereaksian
dan sistem proses pemisahan & pemurnian. Kedua sistem tersebut membutuhkan
kondisi operasi pada suhu dan tekanan tertentu. Dalam pabrik, panas biasanya
disimpan dalam fluida yang dijaga pada suhu dan tekanan tertentu. Fluida yang
paling umum digunakan adalah air panas dan uap air karena alasan murah dan
memiliki kapasitas panas tinggi.
Diperkirakan bahwa 15% air di seluruh dunia dipergunakan untuk industri.
Banyak pengguna industri yang menggunakan air, termasuk pembangkit listrik
yang menggunakan air untuk pendingin atau sumber energi, pemurnian bahan
tambang dan minyak bumi yang menggunakan air untuk proses kimia, hingga
industri manufaktur yang menggunakan air sebagai pelarut. Dalam makalah ini
akan dibahas mengenai penggunaan air dalam industri.
I.2. Rumusan Masalah
1. Apa saja sumber-sumber penyediaan air pada Industri?
2. Bagaimana Persyaratan Kualitas Air yang umum digunakan untuk proses
Industri ?
3. Bagaimana Pengolahan Air Bersih pada Industri ?

BAB II
I.1. Sumber-Sumber Penyediaan Air
Dilihat dari betapa pentingnya air dalam kehidupan, maka ketersediaan air
dalam kehidupan perlu untuk diperhatikan. Air sendiri menurut UU No.7 Tahun
2004 adalah semua air yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan,
air tanah, air hujan, dan air laut yang berada di darat.
Namun, sumber-sumber penyediaan air yang dapat dimanfaatkan di
antaranya adalah:
1. Air laut
Air laut yang ada di bumi ini mendominasi jumlah air yang ada di bumi.
Sekitar 97% jumlah air yang ada di bumi adalah air laut. Sementara, air laut ini
memiliki kandungan garam yang cukup tinggi. Garam-garam ini terdiri dari
banyak jenis, termasuk juga ke dalamnya adalah NaCl.
2. Air tawar
Air tawar merupakan sumber air selain air laut. Air tawar ini dapat
digolongkan menjadi tiga macam, yaitu:
a.

Air hujan

Air hujan berasal dari air yang telah menguap dan mengumpul
menjadi awan yang kemudian pada keadaan jenuh menjadi titik-titik air
kemudia jatuh ke bumi berupa air. Air hujan ini memiliki peran penting,
terutama bagi daerah-daerah yang memiliki sedikit atau bahkan tidak
memiliki sumber air permukaan maupun air tanah.
b.

Air permukaan

Air permukaan adalah semua air yang terdapat pada permukaan tanah
(UU No.7 Tahun 2004). Sumber air permukaan bisa berupa sungai, danau,
mata air, waduk, empang, maupun air yang berasal dari saluran irigasi.
Biasanya, air permukaan ini juga mengandung impuritas yang bermcammacam. Kandungan impuritas dalam air permukaan ini bergantung pada

lingkungan di mana air permukaan tersebut berada. Namun, air permukaan


ini selama ini telah menjadi sumberair utama bagi produksi air minum di
kota-kota besar.
c.

Air tanah

Air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan
yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah (UU No.7
Tahun 2004). Air tanah biasanya berbentuk mata air atau sumur. Air tanah
dalam bentuk sumur bisa berupa sumur dangkal (5-20 meter) atau sumur
dalam yang kedalamannya rata-rata 250 meter.
Air tanah ini bisa digolongkan menjadi tiga macam menurut Totok
Sutrisno, yaitu:
-

Air tanah dangkal


Air tanah dangkal terjadi karena proses peresapan air dari permukaan

tanah.
-

Air tanah dalam


Air tanah dalam terdapat setelah lapis rapat air yang pertama. Maka

dari itu, pengambilan air tanah dalam ini lebih sulit dibandingkan dengan air
tanah dangkal.
-

Mata air
Mata air merupakan sumber air tanah yang keluar dengan sendirinya

ke permukaan tanah. Mata air yang memang berasal dari dalam tanah ini,
kualitasnya akan sama dengan air dalam sebab air tersebut tidak terpengaruh
oleh musim.
Penggunaan air tanah ini memiliki kelebihan sebagai berikut:
-

Umumnya bebas dari patogen


Mudah didapatkan di daerah pedesaan
Dapat dipakai tanpa pengolahan lebih lanjut
Paling praktis dan ekonomis untuk didapatkan

Namun, penggunaan air tanah juga memiliki kelemahan yang perlu


dipertimbangkan. Kelemahan tersebut adalah pada air tanah biasanya
mengandung banyak mineral seperti Fe, Mn, Ca, dan sebagainya serta
dalam pemanfaatannya membutuhkan pemompaan.
I.2. Penggunaan Air di Industri
Air bagi suatu industry adalah bahan penunjang baik untuk kegiatan langsng
atau tak langsung. Penggunaan air di industry, antara lain:
-

Sistem pembangkit uap (boiler)

Sistem pendingin

Sistem pemroses (air proses)

Sistem pemadam kebakaran

Sistem air minum

Persyaratan kualitas air yang dapat digunakan dalam industry berbeda-beda


tergantung tujuan penggunaan air tersebut. Air yang berasal dari alam pada
umumnya belum memenuhi persyaratan yang diperlukan sehingga harus
menjalani proses pengolahan lebih dahulu.
I.3. Zat Pengotor (Impurities) dalam Air
Air menyerap zat-zat dalam perjalanan daur hidrologinya, sehingga
menyebabkan air tersebut menjadi tidak murni lagi. Zat-zat itu disebut sebagai zat
pengotor atau impurities. Berbagai jenis impurities dan karakteristiknya disajikan
pad Tabel 3.1. Zat pengotor dalam air pada dasarnya dapat dikelompokkan dalam tiga
golongan, yaitu :
a. Padatan tersuspensi
b. Padatan terlarut
c. Gas terlarut
a. Padatan Tersuspensi dalam Air

Padatan tersuspensi merupakan istilah yang diterapkan pada zat heterogen


yang terkandung dalam kebanyakan jenis air. Padatan tersuspensi terutama terdiri
atas lumpur, humus, limbah dan bahan buangan industri. Padatan tersuspensi
menyebabkan air menjadi keruh dan bila digunakan sebagai air umpan ketel akan
menyebabkan terbentuknya deposit, kerak dan atau busa. Padatan tersuspensi
dalam air pendingin akan menimbulkan endapan dan timbulnya korosi di bawah
endapan tersebut. Kekeruhan yang berlebihan dalam air minum sangat tidak
diinginkan karena dapat menimbulkan rasa yang kurang baik.
b. Padatan Terlarut

Air adalah pelarut yang baik, sehingga dapat melarutkan zat-zat dari batubatuan dan tanah yang terkontak dengannya. Bahan-bahan mineral yang dapat
terkandung dalam air karena kontaknya dengan batu-batuan tersebut, antara lain :
CaCO3, MgCO3, CaSO4, MgSO4, NaCl, Na2SO4, SiO2 dan sebagainya. Air
yang akan dipakai untuk pembangkit uap atau sistem pendingin mempunyai dua
parameter penting yang merupakan akibat dari padatan terlarut, yaitu kesadahan
(hardness) dan alkalinitas (alkalinity). Padatan terlarut lainnya, seperti garam
terlarut, asam dan zat organik tidak dibahas disini.
(Setiadi, 2007)
I.4. Persyaratan Kualitas Air yang digunakan Pada Industri Kimia
Air dalam industri kimia memiliki peranan yang sangat penting, terutama
pada ketel dalam proses boiling, dan juga pada kondensator dalam proses
pendinginan. Air yang digunakan pada ketel dan juga kondensator harus
memenuhi beberapa syarat agar tidak menghambat kerja dari unit proses masingmasing.
a. Persyaratan Air pada Ketel
Penggunaan air umpan ketel yang tidak memenuhi persyaratan akan
menimbulkan beberapa masalah, antara lain :

i.

Pembentukan kerak

ii.

Terjadinya korosi

iii.

Pembentukan busa

Agar masalah-masalah di atas dapat diminimalisasi, air yang digunakan


dalam boiler harus memenuhi berbagai syarat yang di tunjukkan pada Tabel 2.1.
berikut.
Tabel 2.1. Persyaratan Air Ketel Pada Berbagai Tekanan Kerja

b. Persyaratan Air pada Pendingin


Air pendingin adalah air yang dilewatkan melalui alat penukar panas (heat
exchanger) dengan maksud untuk menyerap dan memindahkan panasnya.
Masalah yang sering timbul dalam sistem air pendingin adalah :
i.

Terjadinya korosi

ii.

Pembentukan kerak dan deposit

iii.

Terjadinya fouling akibat aktivitas mikroba

Penggunaan air yang memenuhi persyaratan dapat mencegah timbulnya


masalah-masalah dalam sistem air pendingin. Persyaratan bagi air yang
dipergunakan sebagai air pendingin tidak seketat persyaratan untuk umpan ketel.
Contoh persyaratan untuk air pendingin untuk sistem resirkulasi terbuka
ditunjukkan pada Tabel 2.2

Tabel 2.2 Contoh persyaratan untuk air pendingin resirkulasi terbuka.

I.4.1. Persyaratan Kualitas Air


Parameter Kualitas Air yang digunakan untuk kebutuhan manusia
haruslah air yang tidak tercemar atau memenuhi persyaratan fisika, kimia,
dan biologis.
1. Persyaratan Fisika Air
Air yang berkualitas harus memenuhi persyaratan fisika sebagai
berikut:

Jernih atau tidak keruh

Tidak berbau

Tidak berwarna

Temperaturnya normal

Rasanya tawar

Tidak mengandung zat padatan

2. Persyaratan Kimia

Kandungan zat atau mineral yang bermanfaat dan tidak mengandung


zat beracun.

pH (derajat keasaman)

Nitrat dan nitrit

Kesadahan

Chlorida

Besi

Zink atau Zn

Aluminium

COD

Zat organik

Sulfat

(Chemical

Oxygen

(Biochemical

Oxygen

Demand)

BOD

Demand)
(Sumber: Sutrisno, C Totok, 2000. Teknologi Penyediaan Air Bersih. )

3. Persyratan mikrobiologis
Persyaratan mikrobiologis yangn harus dipenuhi oleh air adalah
sebagai berikut:
1. Tidak mengandung bakteri patogen, missalnya: bakteri golongan coli;
Salmonella typhi, Vibrio cholera dan lain-lain. Kuman-kuman ini
mudah tersebar melalui air.
2. Tidak mengandung bakteri non patogen seperti: Actinomycetes,
Phytoplankton colifprm, Cladocera dan lain-lain.
(Sujudi,1995)
I.4.2. Standar Baku Mutu Air Menurut Who
Standar Air Minum, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO), menyiapkan beberapa pedoman untuk minum
kualitas air yang merupakan titik acuan internasional untuk menetapkan
standar dan keselamatan air minum. Standar air minum WHO, Pedoman
Kualitas Air Minum, didirikan di Jenewa, 1993, sebagai titik acuan
internasional untuk menetapkan standar dan mutu air minum.

Elemen /

Simbol /

Biasanya

Mutu

zat

rumus

ditemukan di air

berdasarkan

tawar / air

pedoman oleh

permukaan / air

WHO

tanah
Aluminium

Al

Amonia

NH 4

0,2 mg / l
<0,2 mg / l (sampai

Tidak ada

0,3 mg / l pada

pedoman

perairan anaerob)
Antimon

Sb

Arsenikum

Sebagai

<4 ug / l

0,005 mg / l
0,01 mg / l

Asbes

Tidak ada
pedoman

Barium

Ba

Berillium

Jadilah

0,3 mg / l
<1 ug / l

Tidak ada
pedoman

Boron

<1 mg / l

0,3 mg / l

Kadmium

CD

<1 ug / l

0.003 mg / l

Khlorida

Cl

Khrom

Cr +3, Cr +6

250 mg / l
<2 ug / l

Warna

0,05 mg / l
Tidak disebutkan

Tembaga

Cu

2 mg / l

Sianida

CN -

0,07 mg / l

Terlarutoksigen

O2

Tidak ada
pedoman

Fluor

<1,5 mg / l (hingga

1,5 mg / l

10)
Kekerasan

mg /

Tidak ada

Hidrogen

l CaCO 3

pedoman

H2S

Tidak ada

sulfide

pedoman

Besi

Fe

0,5 - 50 mg / l

Tidak ada
pedoman

Memimpin

Pb

0,01 mg / l

Manggan

Mn

0,5 mg / l

Air raksa

Hg

<0,5 ug / l

0.001 mg / l

Molibdenum

Mb

<0,01 mg / l

0,07 mg / l

Nikel

Ni

<0,02 mg / l

0,02 mg / l

Nitrat dan nitrit

NO 3, NO 2

50 nitrogen mg / l
Total

Kekeruhan

Tidak disebutkan

pH

Tidak ada
pedoman

Selenium

Se

<<0,01 mg / l

0,01 mg / l

Perak

Ag

5-50 ug / l

Tidak ada
pedoman

Sodium

Na

<20 mg / l

200 mg / l

Sulfat

SO 4

500 mg / l

Anorganik

Sn

Tidak ada

timah

pedoman

TDS

Tidak ada
pedoman

Uranium

1,4 mg / l

Seng

Zn

3 mg / l
Senyawa organik

Grup

Zat

Rumus

Mutu

berdasar
kan
pedoman
oleh
WHO
Diklorinasi

Karbon tetraklorida

C Cl 4

2 ug / l

alkana

Diklorometana

CH 2 Cl 2

20 ug / l

1,1-Dichloroethane

C 2 H 4 Cl 2

Tidak ada
pedoman

1,2-Dichloroethane

CH 2 Cl

30 ug / l

CH 2 Cl
1,1,1-Trichloroethane

CH 3 Cl 3 C

2000 ug / l

Diklorinasi

1,1-Dichloroethene

C 2 H 2 Cl 2

30 ug / l

ethenes

1,2-Dichloroethene

C 2 H 2 Cl 2

50 ug / l

Trichloroethene

C 2 H 3 Cl

70 ug / l

Tetrachloroethene

C 2 Cl 4

40 ug / l

Hidrokarb

Benzena

C6H6

10 mg / l

on

Toluena

C7H8

700 ug / l

Xilena

C 8 H 10

500 ug / l

Etilbenzena

C 8 H 10

300 mg / l

Styrene

C8H8

20 ug / l

Hidrokarbon Aromatik

C2H3N1O5

0,7 ug / l

polynuclear (PAH)

P 13

Diklorinasi

Monochlorobenzene (MCB)

C 6 H 5 Cl

300 mg / l

benzenes

Dichlorobenz

1,2-

C 6 H 4 Cl 2

1000 ug / l

enes (DCBs)

Dichloroben

aromatic

zene (1,2DCB)

1,3-

C 6 H 4 Cl 2

Tidak ada

Dichloroben

pedoman

zene (1,3DCB)
1,4-

C 6 H 4 Cl 2

300 mg / l

Trichlorobenzenes (TCBS)

C 6 H 3 Cl 3

20 ug / l

Miscellane

Di (2-ethylhexyl) adipat

C 22 H 42 O 4

80 ug / l

ous

(DEHA)

konstituen

Di (2-ethylhexyl) phthalate

C 24 H 38 O 4

8 ug / l

organic

(DEHP)
Akrilamida

C 3 H 5 NO

0,5 ug / l

Epiklorohidrin (ech)

C 3 H 5 Cl O

0,4 ug / l

Hexachlorobutadiene (HCBD)

C 4 Cl 6

0,6 ug / l

Ethylenediaminetetraacetic

C 10 H 12 N 2

200 mg / l

acid (EDTA)

O8

Nitrilotriacetic asam (NTA)

Dichloroben
zene (1,4DCB)

200 mg / l

(CH 2 COOH)
3

Organotins

Dialkyltins

R 2 Sn X 2

Tidak ada
pedoman

Tributil

C 24 H 54 O 2 S

oksida

(TBTO)

Pestisida
Zat

Rumus

Mutu

2 ug / l

berdasarkan
pedoman oleh
WHO
Alachlor

C 14 H 20 NO 2 Cl

20 ug / l

Aldicarb

C 7 H 14 N 2 O 4 S

10 mg / l

Aldrin dan dieldrin

C 12 H 8 Cl 6 /

0,03 ug / l

C 12 H 8 Cl 6 O
Atrazin

C 8 H 14 N 5 Cl

2 ug / l

Bentazone

C 10 H 12 N 2 O 3 S

30 ug / l

Carbofuran

C 12 H 15 NO 3

5 ug / l

Chlordane

C 10 H 6 Cl 8

0,2 ug / l

Chlorotoluron

C 10 H 13 N 2 O Cl

30 ug / l

DDT

C 14 H 9 Cl 5

2 ug / l

1,2-Dibromo-3-chloropropane

C 3 H 5 Br 2 Cl

1 ug / l

2,4-Dichlorophenoxyacetic

C 8 H 6 Cl 2 O 3

30 ug / l

C 3 H 6 Cl 2

Tidak ada

asam (2,4-D)
1,2-Dichloropropane

pedoman
1,3-Dichloropropane

C 3 H 6 Cl 2

20 ug / l

1,3-Dichloropropene

CH 3 Cl CHClCH 2

Tidak ada
pedoman

Ethylene dibromide (EDB)

CH CH 2 Br 2 Br

Tidak ada
pedoman

Heptachlor dan heptachlor

C 10 H 5 Cl 7

0,03 ug / l

Hexachlorobenzene (HCB)

C 10 H 5 Cl 7 O

1 ug / l

Isoproturon

C 12 H 18 N 2 O

9 ug / l

Lindane

C 6 H 6 Cl 6

2 ug / l

epoksida

MCPA

C 9 H 9 Cl O 3

2 ug / l

Methoxychlor

(C 6 H 4 och 3)

20 ug / l

CHCCl 3

Metolachlor

C 15 H 22 NO 2 Cl

10 mg / l

Molinate

C 9 H 17 NOS

6 ug / l

Pendimethalin

C 13 H 19 O 4 U 3

20 ug / l

Pentachlorophenol (PCP)

C 6 H 5 Cl O

9 ug / l

Permetrin

C 21 H 20 Cl 2 O 3

20 ug / l

Propanil

C 9 H 9 Cl 2 TIDAK

20 ug / l

Pyridate

C 19 H 23 CLN 2 O 2 S

100 ug / l

Simazine

C 7 H 12 N 5 Cl

2 ug / l

Trifluralin

C 13 H 16 F 3 U 3 O 4

20 ug / l

Chlorophenoxy

2,4-DB

C 10 H 10 Cl 2 O 3

90 ug / l

herbisida

Dichlorprop

C 9 H 8 Cl 2 0 3

100 ug / l

Fenoprop

C 9 H 7 Cl 3 O 3

9 ug / l

MCPB

C 11 H 13 O 3 Cl

Tidak ada

(termasuk 2,4D dan MCPA)

pedoman
Mecoprop

C 10 H 11 Clo 3

10 mg / l

2,4,5-T

C 8 H 5 Cl 3 O 3

9 ug / l

Desinfektan dan disinfektan dengan produk


Grup

Zat

Rumus

Mutu
berdasar
kan
pedoman
oleh
WHO

Desinfek

Chloramines

NH n Cl (3-n),

3 mg / l

tan
mana
n = 0,
1 atau 2
Klorin

Cl 2

5 mg / l

Klorin dioksida

Clo 2

Tidak ada
pedoman

Yodium

Aku 2

Tidak ada
pedoman

Desinfek

Bromat

Br O 3 -

25 ug / l

tan

Klorat

Cl O 3 -

Tidak ada

dengan
produk

pedoman
Klorit

Cl O 2 -

200 mg / l

Chlorophe

2-chlorophenol (2-

C 6 H 5 Cl

Tidak ada

nols

CP)

pedoman

2,4-Dichlorophenol

C 6 H 4 Cl 2

Tidak ada

(2,4-DCP)

pedoman

2,4,6-

C 6 H 3 Cl 3

200 mg / l

Trichlorophenol

(2,4,6-TCP)
Formaldehida

HCHO

900 ug / l

MX (3-Chloro-4-dichloromethyl-5-

C 5 H 3 Cl 3

Tidak ada

hidroksi-2 (5H)-furanone)

O3

pedoman

Trihalometh

Bromoform

CH 3 Br

100 ug / l

anes

Dibromochloromet

CH 2 Cl Br

100 ug / l

CH Br Cl 2

60 ug / l

CH 3 Cl

200 mg / l

hane
Bromodichloromet
hane
Khloroform

Diklorinasi

Monochloroacetic

C 2 H 3 Cl 2

Tidak ada

asam asetat

asam

pedoman

Dikloroasetat asam

C 2 H 2 Cl 2

50 ug / l

O2
Asam

C 2 H 3 Cl 2

trikloroasetat

100 ug / l

Kloral hidrat

C CH 3 Cl

(trichloroacetaldehyde)

(OH) 2

Chloroacetones

C3H5O

Tidak ada

Cl

pedoman
90 ug / l

Terhalogena

Dichloroacetonitril

C 2 H 2 Cl

si

acetonitriles

Dibromoacetonitril

C 2 H 2 Br

Bromochloroaceto

CH 2 Cl CN

nitrile
Trichloroacetonitri

10 mg / l

100 ug / l

Tidak ada
pedoman

C 2 Cl 3 N

1 ug / l

Sianogen klorida

Cl CN

70 ug / l

Chloropicrin

C Cl 3 NO 2

Tidak ada

le

pedoman
(Sumber: http://www.lenntech.com/applications/drinking/standards.com)

I.5. Pengolahan Air Pada Industri Kimia


A. Air Minum

Secara umum kualitas air sumur atau air tanah mempunyai karakteristik
tertentu yang berbeda dengan kualitas air permukaan/sungai. Air tanah pada
umumnya jernih,namun sering mengandung mineral-mineral atau garam-garam
yang cukup tinggi, sebagai akibat dari pengaruh batuan dibawah tanah yang
dilalui oleh air tanah. Pada air tanah dangkal, kualitas dan kuantitasnya
dipengaruhi oleh kondisi lingkungan di permukaanya, dalam hal kuantitas sangat
dipengaruhi oleh curah hujan setempat, sementara kualitasnya dipengaruhi oleh
kondisi sanitasi disekitarnya.
Untuk mengolah air sumur menjadi air yang siap minum, proses
pengolahannya adalah seperti ditunjukkan pada Gambar 1. Air dari sumur
dipompa dengan menggunakan pompa jet, sambil diinjeksi dengan larutan klorine
atau kaporit dialirkan ke tangki reaktor. Dari tangki reaktor air dialirkan ke
saringan pasir cepat untuk menyaring oksida besi atau oksida mangan yang
terbentuk di dalam tangki reaktor. Setelah disaring dengan saringan pasir, air
dialirkan ke filter mangan zeolit. Filter mangan zeolit berfungsi untuk
menghilangkan zat besi atau mangan yang belum sempat teroksidasi oleh khlorine
atau kaporit.

Gambar 2.1. Diagram proses pengolahan air sumur siap minum.


(Sumber:)
Dari filter mangan zeolit air selanjutnya dialirkan ke filter karbon aktif
untuk menghilangkan polutan mikro misalnya zat organik, deterjen, bau, senyawa

phenol, logam berat dan lain-lain. Setelah melalui filter karbon aktif air dialirkan
ke filter cartrige ukuran 0,5 mikron untuk menghilangkan sisa partikel padatan
yang ada di dalam air, sehingga air menjadi benar-benar jernih.
Selanjutnya air dialirkan ke sterilisator ultra violet agar seluruh bakteri atau
mikroorganisme yang ada di dalam air dapat dibunuh secara sempurna. Air yang
keluaar dari sterilsator ultra violet merupakan air hasil olahan yang dapat langsung
diminum.
1. Pembubuhan Kaporit/Khlorine
Fungsi pembubuhan kaporit adalah untuk mengoksidasi zat besi atau
mangan yang ada di dalam air, serta untuk membunuh kuman atau bakteri coli.
Reaksi oksidasi besi atau mangan oleh khlorine atau kaporit adalah sebagai
berikut :
2 Fe2+ + Cl2 + 6 H2O ==> 2 Fe(OH)3 + 2 Cl- + 6 H+
Mn2+ + Cl2 + 2 H2O ==> MnO2 + 2 Cl- + 4 H+
Khlorine, Cl2 dan ion hipokhlorit, (OCl)- adalah merupakan bahan
oksidator yang kuat sehingga meskipun pada kondisi Ph rendah dan oksigen
terlarut sedikit, dapat mengoksidasi dengan cepat. Berdasarkan reaksi tersebut di
atas, maka untuk mengoksidasi setiap 1 mg/l zat besi dibutuhkan 0,64 mg/l
khlorine dan setiap 1 mg/l mangan dibutuhkan 1,29 mg/l khlorine. Tetapi pada
prakteknya, pemakaian khlorine ini lebih besar dari kebutuhan teoritis karena
adanya reaksi-reaksi samping yang mengikutinya.
2.

Saringan Pasir Dan Saringan Mangan Zeolit


Dari tangki reaktor air dialirkan ke saringan pasir cepat untuk menyaring

oksida besi atau oksida mangan yang terbentuk di dalam tangki reaktor. Setelah
disaring dengan saringan pasir, air dialirkan ke filter mangan zeolit. Filter mangan
zeolit berfungsi untuk menghilangkan zat besi atau mangan yang belum sempat
teroksidasi oleh khlorine atau kaporit. Mangan Zeolit berfungsi sebagai katalis
dan pada waktu yang bersamaan besi dan mangan yang ada dalam air teroksidasi

menjadi bentuk ferri-oksida dan mangandioksida yang tak larut dalam air.
Reaksinya adalah sebagai berikut :
K2Z.MnO.Mn2O7 + 4 Fe(HCO3)2 ==> K2Z + 3 MnO2 + 2 Fe2O3 + 8 CO2 + 4 H2O
K2Z.MnO.Mn2O7 + 2 Mn(HCO3)2 ==> K2Z + 5 MnO2 + 4 CO2 + 2 H2O
Reaksi penghilangan besi dan mangan dengan mangan zeoite tidak sama
dengan proses pertukaran ion, tetapi merupakan reaksi dari Fe2+ dan
Mn2+ dengan oksida mangan tinggi (higher mangan oxide). Filtrat yang terjadi
mengandung ferri-oksida dan mangan-dioksida yang tak larut dalam air dan dapat
dipisahkan dengan pengendapan dan penyaringan. Selama proses berlangsung
kemampunan reaksinya makin lama makin berkurang dan akhirnya menjadi
jenuh. Untuk regenerasinya dapat dilakukan dengan menambahkan larutan
Kaliumpermanganat ke dalam mangan zeolite yang telah jenuh tersebut sehingga
akan terbentuk lagi mangan zeolite (K2Z.MnO.Mn2O7).
3.

Saringan Karbon Aktif


Dari filter mangan zeolit air selanjutnya dialirkan ke filter karbon aktif.

Filter karbon aktif ini berfungsi untuk menghilangkan polutan mikro misalnya zat
organik, deterjen, bau, senyawa phenol serta untuk menyerap logam berat dan
lain-lain. Pada saringan arang aktif ini terjadi proses adsorpsi, yaitu proses
penyerapan zat-zat yang akan dihilangkan oleh permukaan arang aktif. Apabila
seluruh permukaan arang aktif sudah jenuh, atau sudah tidak mampu lagi
menyerap maka proses penyerapan akan berhenti, dan pada saat ini arang aktif
harus diganti dengan arang aktif yang baru.
4.

Sterilisator Ultra Violet


Selanjutnya air dialirkan ke sterilisator ultra violet agar seluruh bakteri atau

mikroorganisme yang ada di dalam air dapat dibunuh secara sempurna. Air yang
keluar dari sterilsator ultra violet merupakan air hasil olahan yang dapat langsung
diminum.
(Sumber : http://www.kelair.bppt.go.id/Sitpa/Artikel/Akua/akua.html)
B. Air Proses

Boiler adalah tungku dalam berbagai bentuk dan ukuran yang digunakan
untuk menghasilkan uap lewat penguapan air untuk dipakai pada pembangkit
tenaga listrik lewat turbin, proses kimia, dan pemanasan dalam produksi.
Sistem kerjanya yaitu air diubah menjadi uap. Panas disalurkan ke air dalam
boiler, dan uap yang dihasilkan terus menerus. Feed water boiler dikirim ke
boiler untuk menggantikan uap yang hilang. Saat uap air meninggalkan boiler,
partikel padat yang semula terlarut dalam feed water akan tertinggal didalam
boiler. Partikel padat yang tertinggal menjadi makin terkonsentrasi, dan pada
saatnya mencapai suatu level dimana konsentrasi lebih lanjut akan menyebabkan
kerak atau endapan pada logam boiler.
Feed water harus memenuhi prasyarat tertentu seperti yang diuraikan dalam
tabel di bawah ini :
Parameter

Satuan

Pengendalian Batas

pH

Unit

10.5 11.5

Conductivity

mhos/cm

5000, max

TDS

ppm

3500, max

P Alkalinity

ppm

M Alkalinity

ppm

800, max

O Alkalinity

ppm

2.5 x SiO2, min

T. Hardness

ppm

Silica

ppm

150, max

Besi

ppm

2, max

Phosphat residual

ppm

20 50

Sulfite residual

ppm

20 50

pH condensate

Unit

8.0 9.0
Sumber : NALCOH

Ketidaksesuaian kriteria air umpan boiler menurut baku mutu diatas akan
mempengaruhi berbagai hal, misalnya :

1.

Korosi
Peristiwa korosi adalah peristiwa elektrokimia, dimana logam berubah

menjadi bentuk asalnya akibat dari oksidasi yang disebabkan berikatannya


oksigen dengan logam, atau kerugian logam disebabkan oleh akibat beberapa
kimia
Penyebab korosi Boiller:

Oksigen Terlarut
Alkalinity ( Korosi pH tinggi pada Boiler tekanan tinggi )
Karbon dioksida ( korosi asam karbonat pada jalur kondensat )
Korosi khelate ( EDTA sebagai pengolahan pencegah kerak )
Akibat dari peristiwa korosi adalah penipisan dinding pada permukaan
boiler sehingga dapat menyebabkan pipa pecah atau bocor.

2.

Kerak
Pengerakan pada sistem boiler :

Pengendapan hardness feedwater dan mineral lainnya


Kejenuhan berlebih dari partikel padat terlarut ( TDS ) mengakibatkan

tegangan permukaan tinggi dan gelembung sulit pecah


Kerak boiler yang lazim : CaCO3, Ca3 (PO4)2, Mg(OH)2, MgSiO3, SiO2,
Fe2(CO3)3, FePO4

3.

Endapan
Pembekuan material non mineral pada boiler, umumnya berasal dari:

Oksida besi sebagai produk korosi


Materi organic ( kotoran bio, minyak dan getah ), Boiler bersifat alkalinity

jika terkena gliserida maka akan terjadi reaksi penyabunan.


Partikel padat tersuspensi dari feedwater ( tanah endapan dan pasir)
Dari peristiwa peristiwa ini mengakibatkan terbentuknya deposit

pada pipa superheater, menyebabkan peristiwa overheating dan pecahnya pipa,


terbentuknya deposit pada sirip turbin, menyebabkan turunnya effisiensi.
C. Air Pendingin dan Sirkulasi sebagai Cooling Tower Dan Chiller

Colling tower atau menara pendingin adalah suatu sistem pendinginan


dengan prinsip air yang disirkulasikan. Air dipakai sebagai medium pendingin,
misalnya pendingin condenser, AC, diesel generator ataupun mesin mesin
lainnya.
Jika air mendinginkan suatu unit mesin maka hal ini akan berakibat air
pendingin tersebut akan naik temperaturnya, misalnya air dengan temperature
awal ( T1 ) setelah digunakan untuk mendinginkan mesin maka temperaturnya
berubah menjadi ( T2 ). Disini fungsi cooling tower adalah untuk mendinginkan
kembali T2 menjadi T1 dengan blower / fan dengan bantuan angin. Demikian
proses tersebut berulang secara terus menerus.
Sedangkan pada chiller temperature yang dibutuhkan relative lebih rendah
dibandingkan penggunaan Colling tower. Beda antara cooling dan chiller adalah
pada sistem yang digunakan. Maksudnya, bila cooling adalah sistem terbuka
sedangkan pada chiller adalah sistem tertutup sehingga proses penguapan lebih
rendah dibandingkan dengan sistem terbuka. Sistem air cooling dapat
dikategorikan dua tipe dasar, sebagai berikut :
1.

Sistem air cooling satu aliran


Sistem air cooling satu arah adalah satu diantara aliran air yang hanya

melewati satu kali penukar panas. Dan lalu dibuang kepembuangan atau tempat
lain dalam proses. Sistem tipe ini mempergunakan banyak volume air. Tidak ada
penguapan dan mineral yang terkandung didalam air masuk dan keluar penukar
panas. Sistem air cooling satu arah biasa digunakan pada terminal tenaga besar
dalam situasi tertutup dari air laut atau air sungai dimana persediaan air cukup
tinggi.
2.

Sistem air cooling sirkulasi


Pada sistem sirkulasi terbuka ini, air secara berkesinambungan bersikulasi

melewati peralatan yang akan didinginkan dan menyambung secara seri. Transfer
panas dari peralatan ke air, dan menyebabkan terjadinya penguapan ke udara.
Penguapan menambah konsentrasi dan padatan mineral dalam air dan ini adalah

efek kombinasi dari penguapan dan endapan, yang merupakan konstribusi dari
banyak masalah dalam pengolahan dengan sistem sirkulasi terbuka.
I.6. Pengolahan Air
I.6.1. Pengolahan Eksternal
Pengolahan eksternal dilakukan di luar titik penggunaan air yang bertujuan
untuk mengurangi atau menghilangkan impurities. Jenis-jenis proses pengolahan
eksternal ini antara lain :
-

Sedimentasi

Filtrasi

Pelunakan (softening)

Deionisasi
(Demineralization)

Deaerasi

I.6.2. Pengolahan Internal


Pengolahan internal adalah pengolahan yang dilakukan pada titik
penggunaan air dan bertujuan untuk menyesuaikan (conditioning) air kepada
kriteria kondisi sistem dimana air tersebut akan digunakan. Usaha untuk mencapai
tujuan pengolahan internal dilakukan dengan penambahan berbagai bahan kimia
ke dalam air yang diolah. Bahan-bahan kimia tersebut, akan bereaksi dengan
impurities sehingga tidak menimbulkangangguan dalam penggunaan air tersebut.
Oksigen, sebagai contoh, dapat diikat dengan menggunakan sodium sulfit atau
hydrazine. Sifat lumpur yang dapat melekat pada logam peralatan proses
dihilangkan dengan penambahan bahan-bahan organik yang termasuk dalam
golongan tanin, lignin atau alginat.

BAB III
PENUTUP
III.1. Kesimpulan
Utilitas atau utility adalah suatu bagian dalam suatu industri pengolahan
yang berfungsi mensupply / melayani segala sesuatu kebutuhan pendukung selain
bahan baku dan additif yang dipakai untuk proses itu sendiri agar proses
pengolahan dapat berlangsung sehingga dapat dihasilkan produk dari bahan baku
yang diolah.
Air merupakan salah satu pendukung utama dalam industri. Diperkirakan
bahwa 15% air di seluruh dunia dipergunakan untuk industri. Banyak pengguna
industri yang menggunakan air, termasuk pembangkit listrik yang menggunakan
air untuk pendingin atau sumber energi, pemurnian bahan tambang dan minyak
bumi yang menggunakan air untuk proses kimia, hingga industri manufaktur yang
menggunakan air sebagai pelarut.
Pemanfaatan air pada industri secara umum, antara lain untuk pencucian,
bahan baku, pendinginan, steam, power plant, dan lain lain. Untuk memperoleh
air, ada beberapa sumber air yang dapat kita gunakan secara langsung antara lain
air dari PDAM, air hujan, mata air, air tanah, air permukaan dan lain lain.Unit
Operasi yang digunakan pada pemanfaatan air dalam industri antara lain yaitu
Chilled Water, Cooling Water dan Boiler.
Adapun kelebihan penggunaan air pada industri, yakni Sebagai air baku
pada industri air minum, Cadangan relatif tetap sepanjang tahun, Mutu relatif
tetap dan lain lain.
Selain kelebihan penggunaan air dalam industri juga mempunyai
kekurangan, yakni Air baku yang mengandung garam akan mengganggu sistem
kerja boiler seperti menghambat perpindahan kalor di dalam boiler, menyebabkan
korosi, pembentukan kerak, kontaminasi uap, deposit dan keretakan oleh basa.
III.2. Saran
Dunia industri harus bijaksana dalam memanfaatkan air untuk kelangsungan
operasionalnya supaya pemanfaatan air oleh dunia industri tidak sampai
menyebabkan terjadinya kerusakan alam dan mengakibatkan kerugian untuk

masyarakat sekitarnya. Perlu regulasi dan sanksi yang tegas dari pihak-pihak
terkait untuk mengatur ini semua.

DAFTAR PUSTAKA
UU No.7 Tahun 2004 Tentang sumber Air
Suripin, 2001. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Penerbit Andi Offset
Sutrisno, C Totok, 2000. Teknologi Penyediaan Air Bersih
http://www.lenntech.com/applications/drinking/standards.com
http://www.kelair.bppt.go.id/Sitpa/Artikel/Akua/akua.html
http://bestananda.blogspot.com/2014/01/pemanfaatan-air-untuk-industri.html.
Diakses 18 Maret 2015
http://chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-industri/utilitas-pabrik/utilitas-pabrik/.
Diakses 18 Maret 2015
http://candradit.blogspot.com/2013/09/pemanfaatan-air-di-dunia-industri.html.
Diakses 18 Maret 2015
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-NonDegree-24889-2409030018-Chapter1.pdf.
Diakses 18 Maret 2015
http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2011/07/02/pengolahan-air-industri377324.html. Diakses 18 Maret 2015
http://www.scribd.com/doc/149331710/1-Pengolahan-Air. Diakses 18 Maret 2015
http://scribd.com/doc/29738382/2/Penggunaan-Air-di-Industri. Diakses 18 Maret
2015
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/13855/1/09E00361.pdf.

Diakses

18 Maret 2015
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20329/4/Chapter%20I.pdf.
Diakses 18 Maret 2015
( http://id.wikipedia.org/wiki/Siklus_air)
(http://mpgsiklusairevaporasi.blogspot.com))
Permenkes Nobler 416/MENKES/PER/IX/ 1990