Anda di halaman 1dari 6

PENURUNAN BERAT BADAN

1. Aktivitas saraf di hipotalamus yang mengatur asupan makanan.


Pada orang normal, berat badan biasanya stabil dalam jangka waktu yang lama karena
asupan makanan sesuai dengan energi yang dibutuhkan oleh tubuh sehari-hari.
Penyesuaian ini dilakukan oleh aktivitas saraf di hipotalamus yang mengirimkan
sinyal-sinyal untuk makan atau untuk berhenti makan. Gangguan pada sistem ini
sering menyebabkan kenaikan atau penurunan berat badan yang tidak diinginkan /
disengaja, yang tidak jarang membawa seorang pasien untuk berkonsultasi dengan
dokter.
2.

Pendekatan kepada pasien dengan penurunan berat badan.

Berbeda dengan kenaikan berat badan, penurunan berat badan lebih sering memiliki
dasar etiologi yang patologis. Penurunan berat badan lazim terjadi pada keadaan sakit
dan tidak banyak memiliki arti diagnostik bila ditemukan sendirian. Pada banyak
kasus, terdapat pasien-pasien yang kehilangan berat badan tanpa penyebab yang jelas.
Namun, penurunan berat badan yang bermakna tanpa disengaja biasanya merupakan
tanda dari penyakit yang serius. Bahkan bila tidak ditemukan apa-apa pada evaluasi
awal, sebaiknya penurunan berat badan ini tidak langsung dianggap idiopatik. Pasien
harus dimonitor secara teratur dengan pemeriksaan ulang yang seksama, karena
berbagai penyakit yang tersembunyi yang dapat menyebabkan penurunan berat badan
mungkin tidak muncul secara klinis dalam waktu yang lama.
3.

Proses pencernaan dan penyerapan makanan yang normal.

Pencernaan makanan dimulai secara mekanis oleh proses mengunyah makanan dan
peristalsis intestinal, yang diikuti oleh proses kimiawi terhadap tiap-tiap unsur
makanan.

Dalam

proses

pencernaan

lemak,

garam-garam

empedu

akan

mengemulsikan lemak dan enzim lipase pankreas menguraikan lemak menjadi


gliserol serta asam-asam lemak. Protein direduksi oleh enzim-enzim pankreas dan
intestinal menjadi polipeptida serta asam-asam amino. Karbohidrat akan dipecah
menjadi monosakarida, dengan glukosa merupakan monosakarida yang paling
penting. Kemudian terjadi penyerapan unsur makanan melalui mikrovili pada usus
halus dan sesudah itu berbagai produk pencernaan ini masuk ke dalam pembuluh
limfe dan darah. Air, garam-garam mineral, dan vitamin juga diserap. Malabsorpsi

dapat terjadi karena kurang sempurnanya proses pencernaan sebagai akibat defisiensi
enzim atau garam-garam empedu, atau karena kerusakan pada mekanisme penyerapan
mukosa intestinal.
4.

Mekanisme penurunan berat badan.

Terdapat tiga mekanisme umum yang dapat menyebabkan penurunan berat badan,
walaupun lebih dari satu mekanisme mungkin berperan pada pasien yang sama.
Ketiga mekanisme tersebut adalah :

Penurunan asupan makanan

Peningkatan penggunaan energi

Peningkatan kehilangan energi melalui feses atau urin

- Asupan yang berkurang.


Asupan yang berkurang sampai saat ini merupakan mekanisme yang paling umum
dijumpai. Biasanya hal ini terjadi akibat hilangnya selera makan, namun dapat pula
disebabkan obstruksi esofagus dan gaster akibat striktur, kompresi massa, atau
keganasan yang berinfiltrasi.
- Penggunaan energi yang meningkat.

Gangguan endokrin. Penyebab tersering dari meningkatnya metabolisme

(peningkatan penggunaan energi) adalah hipertiroidisme dan feokromositoma.

Keganasan. Keganasan menyebabkan penurunan berat badan selain karena

mengganggu asupan makanan (dengan menurunkan nafsu makan), juga karena


meningkatkan proses-proses metabolisme bahkan bila tidak disertai komplikasi
anatomi, endokrin, ataupun metabolik.

Demam. Pada keadaan demam terjadi kenaikan tingkat metabolisme basal

sebesar 7 persen tiap kenaikan satu derajat celcius. Selain itu, anoreksia, dehidarasi,
dan peningkatan katabolisme protein yang umumnya menyertai setiap penyakit
dengan demam (misalnya infeksi, keganasan, stroke, dan gangguan metabolik) ikut
berperan.
- Kehilangan energi melalui feses atau urin.
Hilangnya energi yang dikonsumsi umumnya diakibatkan salah satu dari diabetes
melitus (DM, melalui glukosuria) atau malabsorpsi intestinal (melalui steatore).

Pankreatitis kronis merupakan penyebab utama dari steatore, namun malabsorpsi


dapat pula terjadi pada limfoma intestinal, celiac sprue, tumor sel islet (seperti
somatostatinoma

atau

gastrinoma),

jejas

radiasi,

obstruksi

traktus

biliaris,inflammatory bowel disease, dan beberapa penyakit lain.


PENDEKATAN DIAGNOSIS
Pada kebanyakan kasus, diagnosis penyebab penurunan berat badan tidaklah sulit.
Anamnesis yang cermat, pemeriksaan fisik yang teliti, dan skrining melalui berbagai
tes laboratorium biasanya dapat mengungkapkan penyebab dari penurunan berat
badan ini
Bila penurunan berat badan merupakan keluhan utama, atau kaheksia jelas ditemukan
pada pemeriksaan fisik, diagnosis sering dapat diketahui pada evaluasi pertama kali.
1.

Pendekatan menurut usia.

Pada usia muda, diagnosis yang paling mungkin adalah DM, hipertiroid, anoreksia
nervosa, atau infeksi (terutama HIV). Pada pasien usia lanjut, keganasan merupakan
penyebab yang paling mungkin dari penurunan berat badan yang bermakna, dengan
gangguan psikiatri seperti penyakit Alzheimer dan depresi jauh di tempat kedua.
2.

Penurunan berat badan disertai asupan makanan yang meningkat.

Jika penurunan berat badan disertai dengan meningkatnya asupan makanan, maka
diagnosis biasanya mengarah pada penyakit-penyakit yang berkaitan dengan
metabolisme seperti DM, hipertiroid, atau penyakit pada system pencernaan terutama
pada penyerapannya seperti sindroma malabsorpsi. Terkadang leukemia dan limfoma
dapat menyebabkan penurunan berat badan tanpa adanya anoreksia, bahkan dengan
nafsu makan yang bertambah.
3.

Penurunan berat badan disertai asupan makanan yang menurun

(anoreksia).

Keganasan.

Penyebab tersembunyi yang paling sering adalah kanker. Keganasan, khususnya di


daerah gastrointestinal, pankreas, dan hepar sering menyebabkan kehilangan berat
badan sejak awal penyakit. Sedangkan untuk keganasan lain menurunkan berat badan
secara perlahan seiring dengan anoreksia yang ditimbulkannya.

Infeksi.

Penyakit infeksi juga kadang asimtomatik, dan harus dipikirkan menjadi penyebab
dari penurunan berat badan. Infeksi HIV, tuberkulosis, jamur, endokarditis bakterialis,
atau hepatitis sering hadir tanpa gejala yang khas. Selain itu, di negara-negara
berkembang, penyakit akibat investasi parasit juga harus dipertimbangkan.

Gangguan ginjal, endokrin, dan metabolisme.

Uremia dan hiperkalsemia juga dapat asimtomatik, namun mudah dikenali melalui
pemeriksaan laboratorium. Peningkatan kalsium plasma tidak hanya dapat
menyebabkan anoreksia, namun terkadang juga memicu diabetes insipidus nefrogenik
yang memperberat penurunan berat badan melalui kehilangan volume cairan.
Penurunan berat badan mungkin

merupakan

gejala yang menonjol

pada

feokromositoma. Insufisiensi adrenal yang dini juga dapat menyebabkan penurunan


berat badan tanpa adanya mual, muntah, hipotensi, ataupun gangguan elektrolit.

Gangguan psikogenik.

Ansietas dan depresi merupakan salah satu penyebab penurunan berat badan yang
paling umum. Kepentingan dari masalah psikologis dan emosional sebagai penyebab
dari kehilangan berat badan tidak boleh dianggap remeh. Depresi, kecemasan,
histeria, dan psikosis yang berat dapat menyebabkan penurunan yang bermakna pada
asupan makanan yang sering tidak disadari. Faktor psikologis yang dilatarbelakangi
oleh body image juga jangan dipandang remeh terutama dialami oleh wanita muda.
Diagnosis yang tepat membutuhkan anamnesis yang menyeluruh dari riwayat psikiatri
dan kehidupan sosial.

Kondisi-kondisi lain.

Anemia pernisiosa dapat menyebabkan anoreksia sebelum perubahan hematologis


terjadi. Penyebab lain dari penurunan berat badan melalui anoreksia antara lain
penyakit paru obstruktif kronis, gagal jantung kongestif, penyakit hati yang kronis,
dan berbagai kelainan neurologis (seperti parkinsonism).

4.

Anoreksia dan penurunan berat badan sebagai gejala awal penyakit.

Anoreksia dan penurunan berat badan dapat merupakan manifestasi yang dini atau
jelas pada berbagai kelainan berikut ini :

Penyakit infeksi (misalnya tuberkulosis)

Gangguan metabolisme (hipotiroid, hipertiroid, penyakit Addison)

Diskrasia darah (anemia pernisiosa dan anemia jenis lain, limfoma dan leukemia)

Berbagai penyakit ginjal

Penyakit hati (hepatitis akut, hepatitis kronis dan sirosis)

Kondisi malabsorpsi

Keganasan (karsinoma gaster, pankreas, kolon, hepar, dan keganasan lain)

HIV dan AIDS

Anamnesis
-

sejak kapan merasa berat badan turun ?

sebelumnya berapa BB nya ?

nafsu makan bagaimana?

Berapa kali makan sehari ? banyak atau tidak?

Sebelumnya, apa ada menderita penyakit2 kronis.. seperti TB, kanker, dll?

Apa ada riwayat terkena infkesi?

Apa ada keluarga yang mengelug keluhan yang sama?

Merasa lemas atau tidak?

Dan tanyakan yang berhubungan dengan, seperti DM?

Bagaimana pola hidupnya ? merokok? Minum alkohol?

Pemeriksaan Fisik
-

lihat postur tubuh, Timbang berat Badan, periksa turgor.

Pemeriksaan Penunjang
1.

Petunjuk untuk pemeriksaan penunjang.

Tidaklah mungkin (dan tidak pula ekonomis) untuk menyelidiki semua penyebab
yang dapat menyebabkan penurunan berat badan. Petunjuk untuk pemeriksaan
penunjang harus dicari dari anamnesis dan pemeriksaan fisik yang cermat.
2.

Tes-tes skrining tahap satu.

Pada Harrisons edisi ke-14, diusulkan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium


dua tahap pada pasien dengan penurunan berat badan bermakna yang tidak disengaja
(tabel 2). Tes-tes tahap pertama biasanya dilakukan untuk semua pasien. Dari
pemeriksaan di tahap satu, dapat dideteksi DM, hiperkalsemia, penyakit ginjal,
penyakit hati, penyakit gastrointestinal, infeksi, kelainan darah, maupun gangguan
elektrolit yang mengarah pada insufisiensi adrenal. TSH sebaiknya diukur untuk
menyingkirkan hipertiroidisme.
3.

Tes-tes skrining tahap dua.

Tes tahap kedua biasanya dilakukan bila penyebab penurunan berat badan masih
belum jelas, dan pada kebanyakan kasus dimulai dengan CT scan abdomen.
Kelemahan

badan,

pigmentasi,

hiponatremia/hiperkalemia

dan

hipoglikemia,

mengindikasikan

dilakukannya

dengan
tes

atau

tanpa

ACTH

untuk

menyingkirkan insufisiensi adrenal. Pada kehilangan berat badan disertai demam,


diperlukan pemeriksaan kultur darah (kadang disertai biopsi dan kultur dari sumsum
tulang). Anemia defisiensi besi merupakan indikasi dilakukannya kolonoskopi dan
kadang endoskopi. Bahkan bila tidak ditemukan anemia atau makrositosis, kadar
vitamin B12 sebaiknya diperiksa pada penurunan berat badan yang tidak jelas.
Kehilangan berat badan yang disertai dengan diare, mungkin membutuhkan
pemeriksaan kandungan lemak feses 72 jam atau hormon-hormon seperti gastrin,
somatostatin, atau glukagon.