Anda di halaman 1dari 55

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

BAB 2
GAMBARAN UMUM WILAYAH
2.1 Geografis, Administratif dan Kondisi fisik
2.1.1 Kondisi Geografis
1. Letak Geografis
Kabupaten Merauke adalah salah satu kabupaten yang berada pada wilayah
Provinsi Papua dimana secara geografis terletak antara 137o 141o Bujur Timur dan 5o
9o Lintang Selatan. Dengan luas mencapai hingga 46.791,63 km2 atau 14,67
persen dari keseluruhan wilayah Provinsi Papua menjadikan Kabupaten Merauke sebagai
kabupaten terluas tidak hanya di Provinsi Papua namun juga di antara kabupaten
lainnya di Indonesia. Secara administratif Kabupaten Merauke memiliki 20 distrik, dimana
2
Distrik Waan merupaka distrik yang terluas yaitu mencapai 5.416,84 km sedangkan
Distrik Semangga adalah distrik yang terkecil dengan luas hanya mencapai 326,95 km2
atau hanya 0,01 persen dari total luas wilayah Kabupaten Merauke. Sementara luas
perairan di Kabupaten Merauke mencapai 5.089,71 km2.
Kabupaten Merauke dibatasi oleh daratan dan lautan. Secara geografis, Kabupaten
Merauke disebelah utara berbatasan langsung dengan Kabupaten Mappi dan Kabupaten
Boven Digoel, sebelah timur berbatasan dengan Papua New Guinea, di sebelah selatan
dan barat berbatasan dengan Laut Arafuru. Jika ditinjau menurut kelas ketinggiannya,
Kabupaten Merauke merupakan wilayah dataran rendah yang memiliki kelas ketinggian
antara 0-60 mdpl.
. 2. Topografis
Kabupaten Merauke merupakan daerah datar di mana sebagian besar wilayah
berada pada ketinggian antara 3 - 4 meter di atas permukaan laut (dpl) dan hanya tiga
wilayah yaitu Distrik Muting, Elikobel, dan Ulilin yang berada pada ketinggian antara 40 - 60
meter dari permukaan air laut. Seperti halnya dengan daerah Indonesia yang beriklim tropis,
suhu udara rata-rata di Kabupaten Merauke berkisar antara 23 32C dengan jumlah
curah hujan tertinggi terjadi pada tahun 2013 yaitu 2.962,3 mm sedangkan jumlah hari
hujan tertinggi yaitu 210 dicapai pada tahun 2013.
2.1.2

Administratif.
Kabupaten Merauke terletak pada koordinat 137 0 1410 Bujur Timur (BT) dan 50
90 Lintang Selatan (LS) dengan batas wilayah sebagai berikut:
Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Mappi dan Kabupaten Bouven Digoel;
Sebelah Timur dengan Negara Papua New Guinea;
Sebelah Barat dengan Laut Arafura;
Sebelah Selatan dengan Laut Arafura.
Luas Kabupaten Merauke adalah 46.791,63 km 2 (Merauke dalam angka, 2013),
yang terdiri dari 20 distrik dengan distrik terjauh adalah distrik Muting yaitu 247 km dari
ibukota kabupaten. Distrik Waan merupakan distrik terluas yaitu mencapai 5.416,84 km 2
atau sekitar 11,58% dari total luas areal diikuti oleh Distrik Ulilin seluas 5.092,57 km 2 atau
10,88%.
Tabel 2.1 Luas Wilayah dan Persentase Luas Wilayah Menurut Distrik di

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

11

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

Kabupaten Merauke, 2013


No
Distrik
Luas (Km2)
1
Kimaam
4.630,30
2.868,06
2
Waan
5.416,84
3
Tabonji
1.999,08
4
Ilyawab
1.560,50
5
Okaba
2.781,18
6
Tubang
3.554,62
7
Ngguti
2.384,05
8
Kaptel
977,05
9
Kurik
1.465,60
10
Malind
490,60
11
Animha
1.445,63
12
Merauke
905,86
13
Semangga
326,95
14
Tanah Miring
1.516,67
15
Jagebob
1.364,96
16
Sota
2.843,21
17
Naukenjerai
3.501,67
18
Muting
1.666,23
19
Elikobel
5.092,57
20
Ulilin
Sumber: RTRW Kabupaten Merauke Tahun 2013

Jumlah Kampung
11
8
9
4
8
6
5
4
9
7
5
2
10
14
14
5
5
12
12
11

Jumlah kelurahan
8
-

Berikut luas wilayah dan batas-batas wilayah Kabupaten Merauke jika dilihat dari bentuk
gambaran peta seperti pada Peta 2.1 berikut ini :

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

12

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

Peta 2.1 Peta Administrasi Kabupaten Merauke dan Cakupan Wilayah Kajian

Sumber: RTRW Kabupaten Merauke

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

13

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

2.1.3

Kondisi Fisik
1. Kondisi Hidrologi
a. Iklim dan Curah Hujan
Kabupaten Merauke memiliki iklim yang sangat tegas antara musim
penghujan dan musim kemarau. Menurut Oldeman (1975), wilayah Kabupaten
Merauke berada pada zona Agroclimate Zone C yang memiliki masa basah antara 5-6
bulan. Dataran Merauke mempunyai karakteristik iklim yang agak khusus yang mana
curah hujan yang terjadi dipengaruhi oleh Angin Muson, baik Muson Barat - Barat Laut
(Angin Muson Basah) dan Muson Timur Timur Tenggara (Angin Muson Kering) dan
juga dipengaruhi oleh kondisi Topografi dan elevasi daerah setempat.
Curah hujan pertahun di Kabupaten Merauke rata-rata mencapai 1.558,7
mm. Dari data yang ada memperlihatkan bahwa perbedaan jumlah curah hujan
pertahun antara daerah Merauke Selatan dan bagian utara. Secara umum terjadi
peningkatan curah hujan pertahun dari daerah Merauke Selatan (1000 - 1500)
dibagian Muting, kemudian curah hujan dengan jumlah 1500-2000 mm/tahun terdapat
di Kecamatan Okaba dan sebagian Muting, selebihnya semakin menuju ke Utara curah
hujannya semakin tinggi. Perbedaan tersebut juga berlaku pada jumlah bulan basah
yaitu semakin kebagian utara masa basah sangat panjang sedangkan pada bagian
selatan terdapat masa basah yang relatif pendek. Kondisi iklim yang demikian
berpeluang untuk dua kali tanam. Musim hujan yang terjadi merupakan kendala
terhadap kondisi jalan-jalan tanah yang setiap tahun mengalami kerusakan.
Sementara disisi lain musim kemarau yang panjang justru mengakibatkan
kekurangan air bersih dan air irigasi bagi masyarakat dan petani. Berdasarkan data
iklim yamg dikeluarkan oleh Kantor Meteorologi dan Geofisika Merauke menunjukkan
bahwa kecepatan angin hampir sama sepanjang tahun; di daerah pantai bertiup cukup
kencang sekitar 4-5 m/det dan dipedalaman berkisar 2 m/det. Penyinaran matahari
rata-rata di Merauke adalah 5,5 jam/hari pada bulan Juli dan yang terbesar 8,43
jam/hari pada bulan September, dengan rata-rata harian selama setahun sebesar 6,62
jam. Tingkat kelembapan udara cukup tinggi karena dipengaruhi oleh iklim Tropis
Basah, kelembapan rata-rata berkisar antara 78-81%.
b. Perwilayahan DAS
Secara umum, Kabupaten Merauke memiliki 3 (tiga) perwilayahan Daerah
Aliran Sungai (DAS), yaitu DAS Bikuma, DAS Bulaka, dan DAS Dolak. DAS BIKUMA
sendiri terdiri dari 3 (tiga) DAS, yaitu DAS Bian, Kumbe, dan Maro. Selain itu, ada
sebagian wilayah Kabupaten Merauke yang termasuk dalam perwilayahan DAS Digul.
Apabila perwilayahan DAS tersebut disesuaikan dengan perwilayahan administrasi
distrik di Kabupaten Merauke, maka perwilayahan DAS tersebut dapat dibagi menjadi
6 (enam) kelompok, yaitu:
1.

Distrik Ulilin, Muting, Animha, Kurik, Kaptel, Distrik Malind dan Distrik Okaba
tergabung dalam DAS Bian (DAS BIKUMA) dengan luas 999.918, 9 Ha.
2. Distrik Elikobel, Muting, Tanah Miring, Jagebob, Semangga, Merauke, Kurik,
Animha dan Distrik Malind tergabung dalam DAS Kumbe (DAS BIKUMA) dengan
luas 465.140,1 Ha.
3. Distrik Elikobel, Muting, Tanah Miring, Jagebob, Semangga, Merauke, Kurik,
Animha dan Distrik Sota tergabung dalam DAS Maro (DAS BIKUMA) dengan luas
829.112,5 Ha.
Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

14

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

4.

Distrik Ulilin, Kaptel, Ngguti, Ilwayab, Tubang dan Distrik Okaba tergabung dalam
DAS Buraka 876.627,5 Ha
5. Distrik Ilwayab, Tabonji, Kimaam dan Distrik Waan tergabung dalam DAS Dolak
dengan luas 1.246.950,8 Ha.
6. Distrik Kaptel, Ngguti, Ilwayab, Tabonji dan Distrik Kimaam tergabung dalam DAS
Digul dengan luas 233.594,1 Ha
Dalam aspek pengelolaan wilayah DAS, umumnya satuan perwilayahan DAS
tersebut dibagi lagi ke dalam tiga bagian wilayah, yaitu wilayah hulu (upstream),
sebagai bagian wilayah yang menyimpan air, wilayah tengah (median), sebagai
bagian wilayah yang mengalirkan sekaligus menyimpan air, dan ketiga wilayah hilir
(downstream), sebagai muara dari aliran sungai. Ketiga bagian ini saling terkait dan
harus saling mendukung kapasitas sungai yang mengalirkan air tersebut tetap terjaga
dan dapat meneruskan air tanpa harus memberikan limpasan air pada daerah kiri
kanan sungainya, bahkan pada saat curah hujan tinggi.
Untuk perwilayahan DAS Bikuma, Wilayah Upstream, meliputi Distrik Ulilin,
Elikobel, dan Muting; Wilayah Median, meliputi Kurik, Tanah Miring, Jagebob, dan
Sota; serta Wilayah Downstream, meliputi bagian selatan-timur Distrik Okaba, Kurik,
Semangga dan Merauke.
Untuk perwilayahan DAS Bulaka, wilayah Upstream, meliputi: Wilayah Distrik
Ngguti, Bagian barat laut distrik Kaptel , wilayah Median, meliputi Wilayah bagian utara
Distrik Okaba dan wilayah downstream, meliputi Distrik Tubang.
Untuk perwilayahan DAS Dolak, wilayah Upstreamnya meliputi: wilayah
Pulau Dolak sendiri sebagai catchment area-nya dan wilayah downstreamnya berupa
sungai-sungai kecil yang tidak terhitung jumlahnya. Wilayah DAS ini dihitung sebagai
satu DAS pulau berdasarkan Kepmen No. 11 tahun 2005 tentang Perwilayahan
Sungai. Dalam peraturan tersebut dijelaskan bahwa Daerah Aliran Sungai dapat
ditentukan oleh Sungai menurut sungainya dan juga dapat dinamai berdasarkan Pulau.
Hal tersebut terjadi pula dalam kasusu Merauke, dimana Pulau Dolak memiliki banyak
sungai dan anak sungai sehingga DAS-nya dinamai sesuai dengan nama Pulaunya.
Tabel 2.2 Nama - nama Sungai Kabupaten Merauke
No.

Nama DAS

1
2
3

Bian
Kumbe
Maro

Panjang Sungai
(Km)
210
260
300

Debit (M/dtk)
Max
Min
1,25
0,09
0,09
-

Sumber : Merauke Dalam Angka 2013

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

15

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

Peta 2.2 Peta Daerah Aliran Sungai Kabupaten Merauke

Sumber : Bappeda Kabupaten


Merauke

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

16

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

2. Kondisi Klimatologi

Di tahun 2012 suhu udara rata- rata di Kabupaten Merauke adalah sebesar
26,5oC dengan suhu terendah sebesar 22,6oC yang terjadi pada bulan agustus dan
suhu tertinggi terjadi pada bulan desember sebesar 33,7oC. Kelembaban relatif di
Kabupaten Merauke adalah sebesar 79,40 persen. Kondisi paling lembab terjadi pada
bulan mei sebesar 85,40 persen.
Pada tahun 2012 rata-rata tekanan udara sebesar 1.009,10 mb. Rata-rata
kecepatan angin di tahun 2012 ini adalah sebesar 12 knot. Secara total selama tahun
2012 jumlah hari
hujan di Kabupaten Merauke adalah 155 hari. Curah hujan
tertinggi terjadi pada bulan maret dengan besar 525,90 mm. Sebaliknya curah hujan
terendah terjadi pada bulan agustus dengan hanya sebesar 3,30 mm.
2.2 Demografis
2.2.1 Jumlah dan Distribusi Penduduk
Pada tahun 2013 jumlah penduduk di Kabupaten Merauke berjumlah 70,002 jiwa
yang menempati wilayah seluas 1.445,63 km 2, dengan komposisi penduduk laki-laki 35,974
jiwa (51,39 %) dan perempuan 34,028 jiwa (48,61%). Sex ratio penduduk Kabupaten Merauke
sebesar 105,72. Angka ini menunjukkan bahwa dari setiap 100 perempuan terdapat sekitar
100 orang laki-laki.
Berikut ini diagram yang memperlihatkan kepadatan tiap Distrik yang ada di
Kabupaten Merauke Dari diagram diatas kita dapat melihat tidak meratanya konsentrasi dan
persebaran penduduk di Kabupaten Merauke. Berdasarkan konsentrasi penduduk per distrik
didapatkan bahwa kepadatan penduduk tertinggi di wilayah Kabupaten Merauke berada di
wilayah Distrik Merauke yaitu 38,5 jiwa/km2, sedangkan konsentrasi yang terendah adalah di
Distrik Kaptel dan Distrik Ngguti yaitu masing-masingnya 0,6 jiwa/km2. Sedangkan kepadatan
rata-rata penduduk Kabupaten Merauke adalah 3,8 jiwa per km2.
Terkonsentrasinya jumlah penduduk di Distrik Merauke disebabkan oleh tersedianya
fasilitas pelayanan umum di distrik tersebut, dimana distrik-distrik lain di wilayah kabupaten ini
banyak yang belum terbangun. Bahkan sebagian besar distrik-distrik baru belum terbangun
sama sekali baik dari segi fasilitas pelayanan maupun dari segi infrastruktur. Faktor lainnya
adalah tingginya bangkitan kegiatan di distrik tersebut dibandingkan distrik lainnya. Bangkitan
kegiatan yang dimaksud tidak hanya lapangan pekerjaan, akan tetapi juga faktor pendidikan
lanjut. Hampir seluruh anak sekolah tingkat lanjut dari distrik-distrik lain di seluruh Merauke
meneruskan pendidikannya ke Perguruan Tinggi yang ada di kabupaten Merauke. Faktor
ketiga adalah banyaknya jumlah pendatang dari daerah luar Kabupaten Merauke yang
mencoba mencari penghidupan dan langsung menetap di Kota Merauke. Pendatang baru ini
adalah orang-orang non-transmigran, karena program penempatan transmigrasi ke Kabupaten
Merauke sendiri telah dihentikan sejak tahun 2000.
Distrik-distrik lain yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi adalah Distrik
Semangga, Distrik Malind dan Distrik Kurik. Ketiga distrik tersebut sebelumnya adalah
merupakan kawasan transmigrasi. akan tetapi telah berkembang menjadi pusat-pusat
permukiman baru bagi masyarakat pendatang lainnya. Faktor kedekatan ketiga Distrik ini
dengan Kota Merauke serta didukung dengan akses jaringan jalan yang baik ke ibukota
kabupaten merupakan salah satu fakta menarik bagi penduduk yang ingin mencari pekerjaan
di Kota Merauke. Khusus unuk Distrik Semangga dan Kurik, di Distrik ini juga terdapat desaPokja Sanitasi Kabupaten Merauke

17

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

desa yang dihuni oleh penduduk perintis, yaitu penduduk pendatang non transmigran yang
telah berpuluh tahun tinggal di Merauke.
Tabel 2.3 Kepadatan Penduduk Kabupaten Merauke Tahun 2013
Nama Distrik

Laki-Laki

Perempuan

Jumlah

Luas (km2)

Kepadatan
(rata2)

Kimaam

3.207

Waan

2.512

Tabonji

6.102

4.630,30

1,32

2.239

4.751

5.416,84

1,66

2.710

2.669

5.379

2.868,06

0,99

Ilwayab

2.889

2.490

5.379

1.999,08

2,69

Okaba

2.737

2.436

5.173

1.560,50

3,31

Tubang

1.227

1.134

2.361

2.781,18

0,85

Ngguti

1.024

954

1.978

3.554,62

0,56

Kaptel

983

847

2.384,05

0,77

Kurik

7.584

6.746

977,05

14,67

Animha

1.080

968

1.830
14.33
0
2.048

1.465,60

1,40

Malind

4.996

4.533

490,60

19,42

Merauke

49.905

45.505

1.445,63

66,00

Naukenjerai

1.036

956

905,86

2,20

Semangga

7.424

6.528

326,95

42,67

Tanah Miring

9.845

8.412

9.529
95.41
0
1.992
13.95
2
18.25

1.516,67

12,04

Jagebob

3.955

3.604

7
7.559

1.364,96

5,54

Sota

1.667

1.415

3.082

2.843,21

1,08

Muting

2.864

2.618

5.482

3.501,67

1,57

Elikobel

2.242

1.839

4.081

1.666,23

2,45

2.334
112.221

2.066
100.854

4.400
213.075

5.092,57
46.791,63

0,86
4,55

Ulilin
Total

2.895

Sumber: Kabupaten Merauke Dalam Angka, tahun 2013


1. Laju Pertumbuhan Penduduk dan Proyeksi Penduduk
Angka Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) dihitung dengan melihat data
jumlah penduduk dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data yang
dikumpulkan, Laju Pertumbuhan penduduk Kabupaten Merauke berturut-turut dari
tahun 2010-2012 adalah 5,57 % dan 4,34 %. Melihat kecenderungan tersebut, laju
pertumbuhan penduduk Kabupaten Merauke tergolong kecil jika dibandingkan dengan
Laju pertumbuhan Penduduk Provinsi Papua dengan nilai 2,49% per tahun. Angka
tersebut merupakan akumulasi dari faktor angka kelahiran, angka kematian dan
migrasi penduduk.
Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

18

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

Tabel 2.4 Jumlah dan kepadatan penduduk saat ini dan proyeksinya untuk 5 tahun
Jumlah Penduduk
Jumlah KK
No
Nama Kecamatan
Tahun
Tahun
.
2013
2014
2015 2016 2017 2013 2014 2015 2016
1
Kimaam
6404,3 6721,6 7054, 7404, 7771, 160 168 176 185
124 0,42
130 3,68
137 1,07
144
2
Waan
4986,4 5233,4 5492, 5764, 6050, 1,08
141
148
155
163
3
Tabonji
5645,5 5925,2 6218, 6527, 6850, 6,60 8,37 3,20 1,24
141 1,31
148 4,71
155 1,75
163
4
Ilwayab
5645,5 5925,2 6218, 6527, 6850, 1,38
135
142
149
156
5
Okaba
5429,3 5698,3 5980, 6277, 6588, 1,38 1,31 4,71 1,75
7,33 650,
4,58 682,
5,17 716,
9,26
6
Tubang
2477,9 2600,7 2729, 2864, 3006, 619,
497 544,
193 571,
41 600,
223
7
Ngguti
2076,0 2178,8 2286, 2400, 2519, 519,
002 503,
719 528,
71 555,
038
8
Kaptel
1920,6 2015,8 2115, 2220, 2330, 480,
169 394
961 414
932 434
141
9
Kurik
15040, 15785, 1656 1738 1824 376
537,
563,
591,
621,
0,01
6,32
1,86
7,09
10
Animha
2149,4 2255,9 2367, 2485, 2608,
369 262
996 275
942 289
273
11
Malind
10001, 10496, 11016 1156 1213 250
250
262
275
289
0,29
4,18
4,20
0,68
12
Merauke
10013 105099 11030 1157 1215
34,4 548,
74,8 575,
76,7 604,
43,2
13
Naukenjerai
2090,7 2194,2 2303, 2417, 2536, 522,
366
384
403
285
14
Semangga
14643, 15368, 1613 1692 1776 676 574 756 423
479 2,22
502 2,60
527 2,42
553
15
Tanah Miring
19161, 20111, 21107 2215 2325 0,83
198 7,77
208 218
229
6,9 8,37
16
Jagebob
7933,5 8326,6 8739, 9172, 9626, 0,40
3,38 848,
1,66 890,
4,81 934,
3,06
17
Sota
3234,7 3394,9 3563, 3739, 3925, 808,
678 150
748 158
803 166
943
18
Muting
5753,6 6038,7 6337, 6651, 6981, 143
107 9,68
112 4,48
117 2,99
123
19
Elikobel
4283,2 4495,4 4718, 4951, 5197, 8,40
115 3,86
121 9,54
127 7,99
133
20
Ulilin
4618,0 4846,8 5087, 5339, 5603, 0,80
559
586
615
646
4,50
1,71
1,75
4,76
Jumlah
22363 234713 2463 2585 2713
08,2 78,4
86 37,5
Sumber : Kabupaten Merauke Dalam Angka, 2013

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

19

2017

Tingkat Pertumbuhan
Tahun
2013 2014 2015 2016 2017

194
151
2,79
171
2,65
171
2,60
164
2,60
751,
7,01
629,
712
582,
77
456
648
652,
2,49
303
057
303
3,91
634,
77,3
444
227
581
2,14
240
2,79
981,
6,68
174
269
129
5,39
140
9,33
678
0,90
40,3

0,02
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
417

0,02
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
417

0,02
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
417

0,02
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
0,02
417
417

0,650,650,650,650,650,650,650,650,650,650,650,650,650,650,650,650,650,650,650,650,65

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

2.3
2.3.1

Keuangan dan Perekonomian Daerah


Keuangan Daerah
Keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka
penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang, termasuk segala
bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah. Pengelolaan
keuangan daerah pada dasarnya dimaksudkan untuk menghasilkan gambaran tentang
kapasitas atau kemampuan keuangan daerah dalam mendanai penyelenggaraan
pembangunan daerah, sehingga analisis pengelolaan keuangan daerah menjelaskan tentang
aspek kebijakan keuangan daerah, yang berkaitan dengan pendapatan, belanja dan
pembiayaan daerah serta capaian kinerja, guna mewujudkan visi dan misi Daerah.
Selama lima tahun terakhir (2009 - 2013) kebijakan pengelolaan keuangan daerah
meliputi kebijakan penerimaan keuangan daerah dan pengeluaran keuangan daerah seperti
Tabel berikut :

Tabel 2.5 Ringkasan Realisasi APBD Kabupaten Merauke 5 tahun terakhir


No
(a)
A
1
2
3

Anggaran
(b)
Pendapatan
Pendapatan Asli Daerah
(PAD)
Dana Perimbangan
(Transfer)
Lain-lain Pendapatan
yang Sah
Jumlah Pendapatan

2009
(c)

2010
(d)

2011
(e)

2012
(f)

2013
(g)

103.693.690.095

98.845.617.498

98.890.012.489

105.089.936.849

130.938.483.167

863.671.381.958

929.280.177.869

1.023.895.085.379

1.332.999.189.235

1.403.795.340.050

111.379.274.557

112.808.205.934

90.473.964.934

130.060.494.857

139.654.410.743

1.078.744.346.610

1.140.934.001.301

1.213.259.062.802

1.568.149.620.941

1.674.388.233.960

Belanja

Belanja Tidak Langsung

349.315.870.329,04

422.850.702.843,58

521.228.412.376,33

681.847.572.426,72

597.995.894.168,00

Belanja Langsung

810.778.349.584,71

736.033.304.929,42

664.443.669.685,67

995.624.116.053,28

1.179..595.924.518,00

Jumlah Belanja

1.160.094.219.913,75
-81.349.873.303,75

1.158.884.007.773,00
-17.950.006.472,00

1.185.672.082.062,00
27.586.980.740,00

1.677.471.688.480,00
-109.322.067.539,00

1.777.591.818.686,00
-103.203.584.726,00

Surplus/Defisit Anggaran

Sumber : realisasi APBD Kabupaten Merauke Tahun 2009-2013


Pendapatan daerah dilakukan terhadap obyek pendapatan daerah yaitu Pendapatan
Asli Daerah (PAD), dana perimbangan dan lain-lain pendapatan yang sah. Kapasitas keuangan
Daerah akan menentukan kemampuan pemerintah Daerah dalam menjalankan fungsi
pelayanan masyarakat.
Data keuangan tersebut diatas diperoleh dari laporan realisasi anggaran dan belanja
Kabupaten Merauke selama 5 (lima) tahun terakhir dari Dinas Pendapatan, Pengelolaan
Keuangan dan Aset Kabupaten Merauke.

Tabel 2.6 Ringkasan anggaran sanitasi dan belanja modal sanitasi per penduduk 5 tahun
terakhir
No

Subsektor/SKPD

2009

2010

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

2011

2012

2013

20

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

(a)
A
1

(b)
Air Limbah
Dinas PU

B
1
2

Persampahan
Dinas PU
BLH

C
1

Drainase
Dinas PU
Aspek PHBS (pelatihan,
sosialisasi,
komunikasi,
pendampingan)
Dinas Kesehatan
Air Bersih
Dinas PU
BLH
Total
Belanja
Modal
Sanitasi (A s/d E)
Total
Belanja
Modal
Sanitasi dari APBD murni
(bukan pendamping)
Total Belanja APBD
Proporsi Belanja Modal
Sanitasi terhadap Belanja
Total (9:10x100%)
Jumlah penduduk
Belanja Modal Sanitasi per
penduduk (F:I)

D
1
E
1
2
F
G
H
I
I
J

(c)

(d)

(e)

(f)

(g)

0
0

0
0

0
0

0
0

0
0

6.820.353.000

9.405.900.000

0
250.000.000

1.916.781.000
200.000.000

1.688.825.000
225.040.000

3.379.462.450
365.690.000

250.000.000

0
250.000.000

Sumber: Realisasi APBD Kab. Merauke 5 tahun terakhir

Tabel 2.7 Perhitungan Pendanaan Sanitasi Oleh APBD Kabupaten Merauke tahun 2009 2013
No

Uraian

Belanja
1 Sanitasi ( 1.1 +
1.2 + 1.3 + 1.4 )
1. Air Limbah
1
Domestik
1. Sampah rumah
2
tangga
1. Drainase
3
lingkungan
1.
4
PHBS

Belanja Sanitasi (Rp.)


2009

2010

2011

2012

128.758.000

170.500.000

453.180.725

1.433.150.000

1.771.384.000

2.360.408.000

2013

Rata-rata
Pertumbuha
n

1,9 %

2.505.380.000

1,21%

Dana Alokasi
2 Khusus ( 2.1 +
2.2 + 2.3 )
2.
1
DAK Sanitasi
2. DAK
Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

21

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

2
2.
3

Lingkungan
Hidup
DAK
Perumahan dan
Permukiman

Pinjaman/Hiba
h untuk
3 Sanitasi
Bantuan
Keuangan
4
Provinsi untuk
Sanitasi
Belanja APBD murni
untuk Sanitasi (1-23)
Total Belanja
Langsung
% APBD murni
terhadap Belanja
Langsung
Sumber : APBD Kabupaten Merauke 2009 2013 diolah
Tabel 2.8 Belanja Sanitasi per Kapita Kabupaten Merauke
Sementara untuk Realisasi dan potensi retribusi sanitasi per kapita di Kabupaten Merauke belum
terlaksana ( data belum ada )

Tabel 2.9 Realisasi dan Potensi retribusi Sanitasi per Kapita


No

SKPD

Retribusi Air
Limbah
Realisasi
1.a
retribusi
Potensi
1.b
retribusi
1

Retribusi
Sampah
Realisasi
2.a
retribusi
2.b Potensi
2

2009

Retribusi Sanitasi Tahun (Rp)


2010
2011
2012

2013

Pertumbuhan
(%)

311.160.000

344.880.000

344.880.000

426.000.000

1,11

367.635.000

389.265.000

410.895.000

432.525.000

454.155.000

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

22

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

retribusi
Retribusi
Drainase
Realisasi
3.a
retribusi
Potensi
3.b
retribusi
3

Total Realisasi
Retribusi
Sanitasi
(1a+2a+3a)

Total Potensi
Retribusi
Sanitasi
(1b+2b+3b)

Proporsi Total
Realisasi

Potensi
Retribusi
Sanitasi (4/5)
Sumber : APBD Kabupaten Merauke 2009 2013 diolah
Tabel 2.10 Peta perekonomian daerah tahun 2009-2013

Data mengenai peta perekonomian daerah untuk tahun 2009-2013 masih belum tersedia.
2.3.2

Perekonomian Daerah
Potensi perekonomian di Kabupaten Merauke yang paling menonjol adalah sektor
pertanian dan perkebunan karena didukung oleh letak geografis wilayahnya. Selain sektor
pertanian, sektor yang mendukung perekonomian Kabupaten Merauke adalah sektor industri,
perdagangan dan jasa-jasa. Namun dengan Adanya Bandara Mopah-Merauke sebagai satu
sektor Pengangkutan dan Komunikasi maka menjadi nilai tambah yang jauh lebih tinggi
dibanding sektor pertanian dan perkebunan serta sektor lainnya. Berikut data perekonomian
umum daerah 5 tahun terakhir seperti pada tabel berikut ini :

1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)


Peningkatan nilai tambah terbesar dalam perekonomian Kabupaten Merauke
dicapai oleh sektor Pengangkutan dan Komunikasi. Pada tahun 2011 nilai tambah sektor
Pengangkutan dan Komunikasi mencapai Rp 177.337,80 Juta rupiah, maka pada tahun 2012
meningkat menjadi sebesar Rp201.456,53 Juta Rupiah atau meningkat sekitar Rp. 24.118,83
Juta rupiah. Peningkatan yang cukup tajam yang terjadi sektor Pengangkutan dan Komunikasi
tersebut dipicu dengan adanya peningkatan lalulintas udara dari dan ke Bandara MopahPokja Sanitasi Kabupaten Merauke

23

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

Merauke terutama yang terjadi sejak tahun 2012 berkaitan dengan banyaknya kunjungan dari
luar Papua dan bertambahnya jumlah maskapai yang masuk ke bandara Mopah-Merauke.
Sementara itu, sektor Pertanian selama tahun 2012 hanya menghasilkan nilai
tambah bruto sebesar Rp 725.462,43 juta rupiah atau hanya mengalami peningkatan sekitar
Rp 20.017,04 juta rupiah dibandingkan dengan nilai tambah bruto sektor Pertanian selama
tahun 2011 yang hanya sebesar Rp. 705,445,39 juta rupiah.
2.4 Tata Ruang Wilayah
2.4.1 Rencana Struktur Ruang
Secara garis besar rencana sistem perkotaan wilayah Kabupaten Merauke
dirumuskan sebagai berikut dimana Distrik Merauke merupakan kawasan perkotaan utama
dan sekaligus menjadi Ibukota kabupaten. Sebagaimana diketahui bahwa Distrik Merauke
merupakan kawasan perkotaan lama yang berada pada lintasan yang strategis dan
berintensitas lalu lintas (pergerakan barang dan orang) tinggi, bahkan tertinggi di Kabupaten
Merauke. Berdasarkan hal tersebut , maka rencana struktur ruang Kabupaten Merauke secara
keseluruhan dapat dilihat pada Peta 2.2 di bawah ini.

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

24

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

Peta 2.3 Rencana Struktur Ruang Kabupaten Merauke

Sumber : Bappeda Kabupaten Merauke

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

25

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

2.4.2

Rencana Pola Ruang didalam RTRW


Rencana Pola Ruang adalah rencana distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah
yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budi
daya. Rencana pola ruang menggambarkan letak dan luasan dari kegiatan-kegiatan budidaya
dan lindung. Aspek-aspek yang dipertimbangkan adalah fungsi lingkungan, estetika
lingkungan, kuantitas dan kualitas ruang, pola dan struktur tata ruang, lokasi pemanfaatan
sumber alam, dan sumber daya manusia untuk kegiatan pembangunan, integritas dan
keamanan wilayah. Pola ruang didapatkan dengan melakukan delineasi (batas-batas) kawasan
kegiatan sosial, ekonomi, budaya dan kawasan-kawasan lainnya, sehingga didapatkan
kategori kawasan budidaya dan kawasan lindung. Secara umum, pembagian kategori kawasan
ini dilakukan agar terwujud keseimbangan antara fungsi ekonomi dan lingkungan.
pola ruang sendiri dibagi menjadi 2 (dua) macam pengelompokkan, yaitu Kawasan
Non Budidaya dan Kawasan Budidaya. Kawasan Non-Budidaya atau yang lebih dikenal
sebagai kawasan lindung merupakan wilayah kendala dan wilayah limitasi dalam pemanfaatan
ruang. Kawasan Lindung ini kemudian digolongkan lagi menjadi beberapa kelompok.
Sebenarnya menurut Keputusan Menteri Kimpraswil No. 327/KPTS/M/2002 pengelompokkan
kawasan lindung sendiri terbagi menjadi 6 macam pengelompokkan, akan tetapi
pengelompokkan yang dibuat disini dibuat menjadi 5 macam, yaitu Kawasan yang memberikan
perlindungan dibawahnya, kawasan pelestarian alam, kawasan perlindungan setempat,
kawasan rawan bencana alam dan kawasan perlindungan lainnya.
Sementara itu untuk kawasan budidaya dikelompokkan menjadi 2 (dua) macam, yaitu
kelompok kawasan budidaya kehutanan dan kelompok kawasan budidaya non kehutanan.
Pembagian kemudian dilakukan lagi untuk kawasan budidaya non kehutanan, yakni kawasan
bududaya pertanian yang terdiri dari kawasan agropolitan, kawasan pertanian lahan basah,
kawasan pertanian lahan kering, kawasan peternakan dan kawasan perkebunan. Kawasan
budidaya non kehutanan yang kedua adalah kawasan budidaya non pertanian, yang terdiri dari
Kawasan pertambangan/penggalian, kawasan pariwisata, kawasan industri, kawasan
permukiman, kawasan pariwisata dan kawasan pemerintahan & perkantoran swasta.
Penataan Bangunan dan Lingkungan sangat diperlukan sebagai upaya pengendalian
pemanfaatan ruang untuk mewujudkan lingkungan binaan khususnya fisik bangunan dan
lingkungannya agar peningkatan kualitas lingkungan permukiman dilaksanakan secara
menyeluruh, terpadu dan bertahap, maka harus mengacu kepada Rencana Tata Bangunan
dan Lingkungan yang dijabarkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
1.

Rencana Pola Ruang Kabupaten Merauke


Dengan memperhatikan ketentuan penyusunan pola ruang, kebijakan pola ruang nasional
dan provinsi, kebijakan pembangunan daerah, kondisi objektif wilayah, dan kebutuhan
ruang untuk masa mendatang, maka dapat dirumuskan rencana pola ruang untuk
Kabupaten Merauke sebagaimana dipaparkan di bawah ini :
a) Kawasan Lindung
Kawasan lindung merupakan kawasan yang memiliki fungsi utama untuk melindungi
kelestarian sumber daya alam dari kegiatan budidaya sehingga membentuk fungsi
lindung dari ekosistem suatu wilayah. Penetapan kawasan lindung bertujuan untuk
memberikan perlindungan kepada kawasan-kawasan sekitar dalam memasok air,
mencegah longsor, meminimalisasi dampak gempa bumi, dan menjaga fungsi hidrologi
ekosistem danau dan sekitarnya. Masing-masing kelompok kawasan tersebut

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

26

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

dikembangkan berdasarkan permasalahan kondisi eksisting dan potensi-potensi yang


ada baik potensi eksisting kawasan maupun kawasan baru yang berpotensi
dikembangkan menjadi kawasan non budidaya. Pertimbangan penambangan kawasan
baru sebagai kawasan non budidaya didasarkan atas kondisi topografi, kelerengan,
kawasan rawan bencana yang ada di Kabupaten Merauke.
Kawasan-kawasan yang berfungsi lindung pada Kabupaten Merauke yaitu:
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)

Hutan lindung dan kawasan konservasi serta resapan air yang memberikan
perlindungan di bawahnya
Kawasan perlindungan setempat yang terdiri atas sempadan sungai , sempadan
pantai, dan pulau-pulau kecil
Kawasan suaka alam dan pelestarian alam. Di Kabupaten Merauke terdapat 4
macam kawasan suaka alam dan pelestarian alam, yaitu Cagar Alam Rawa Biru,
Taman Nasional Wasur, Suaka Margasatwa, dan Pelestarian Budaya.
Kawasan rawan bencana alam. Bencana alam yang potensial terjadi di
Kabupaten Merauke adalah bencana erosi/abrasi pantai serta gelombang pasang
dan banjir
Kawasan lindung lainnya seperti kawasan perlindungan plasma nutfah dan
kawasan pantai berhutan bakau

Rencana kawasan lindung direncanakan mencapai 52,50 % dari luas kabupaten, yang
terdiri dari :
(a)
(b)
(c)
(d)
(e)
b.

Kawasan yang Memberi Perlindungan Dibawahnya (17,56 %)


Kawasan Perlindungan Setempat (3,56 % )
Kawasan Pelestarian Alam (25,86%)
Kawasan Rawan Bencana
Kawasan Perlindungan Lainnya (5,73 %)

Kawasan Yang memberi Perlindungan di Bawahnya


1) Kawasan Hutan Lindung
Termasuk kepada rencana pengembangan kawasan hutan lindung Kabupaten Merauke
Tahun 2030 adalah kawasan hutan lindung yang telah ada. Selain itu perlunya
menetapkan kawasan hutan dengan luas minimal 30% dari keseluruhan luas hutan pada
daerah DAS sebagai catchment area.
Kriteria penetapan kawasan hutan lindung adalah:
Kawasan hutan dengan faktor-faktor lereng lapangan, jenis tanah, curah hujan yang
melebihi nilai skor 175 menurut surat Keputusan Menteri Pertanian
No.837/KPTS/UM/11/1980
Kawasan hutan mempunyai lereng lapangan 40% atau lebih (Inmendagri 8/1985)
Kawasan hutan yang mempunyai ketinggian di atas permukaan laut 2.000 meter atau
lebih.

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

27

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

Berdasarkan data hasil pengolahan tim penyusun RTRW Kabupaten Merauke, terdapat
seluas 202 ribu Ha hutan lindung di Kabupaten Merauke dengan letak dan lokasi
pesebaran sebagai berikut.
Langkah-langkah yang perlu ditempuh untuk melindungi kawasan lindung adalah
sebagai berikut:
1) Pemantapan kawasan hutan lindung berdasarkan kriteria di atas, melalui
pengukuhan dan penataan batas di lapangan untuk memudahkan pengendalian
2) Pengendalian kegiatan budidaya yang telah ada (penggunaan lahan yang telah
berlangsung lama), agar tidak mengganggu kawasan hutan lindung
3) Pengembalian kawasan hutan yang telah mengalami kerusakan melalui program
rehabilitasi, reboisasi dan konservasi
4) Pencegahan berkembangnya kegiatan budidaya di areal hutan lindung. kecuali
kegiatan yang tidak mengganggu fungsi lindung, seperti pos penjaga hutan, kegiatan
penelitian
5) Pemantauan terhadap kegiatan yang diperbolehkan berlokasi di hutan lindung,
diantaranya balai penelitian, eksplorasi mineral dan air tanah dan pencegahan
bencana alam, sehingga tidak mengganggu fungsi hutan lindung
6) Pelibatan masyarakat secara aktif untuk menjaga dan melestarikan kawasan
berfungsi lindung.
Didasari atas hasil analisa Hutan Lindung di Kabupaten Merauke, maka rencana
pengembangan kawasan lindung secara umum adalah sebagai berikut :
(1) Hutan Lindung dan Hutan Kota perlu dipertahankan keberadaannya dan
keutuhannya untuk daya dukung serta menjaga keseimbangan ekosistem selain
berfungsi sebagai catchment area (daerah tangkapan air) yang diharapkan sebagai
sumber air baku untuk kebutuhan masyarakat dan PDAM
(2) Kerusakan Hutan Lindung sebagian besar disebabkan oleh faktor manusia karena
adanya pertambahan penduduk yang diiringi dengan meningkatnya kebutuhan akan
lahan usaha dan permukiman serta adanya penebangan liar, untuk itu segala
penebangan liar atau perambah hutan segera dihentikan dan ditindak agar tidak
terulang lagi pelanggaran lingkungan oleh masyarakat maupun instansi /
perusahaan
(3) Dengan perencanaan dan pengelolaan yang ketat terhadap keseimbangan
lingkungan fungsi kawasan hutan (lindung, kota dan magrove) ditingkatkan, selain
berfungsi sebagai kawasan hijau penyangga lingkungan juga dapat dimanfaatkan
sebagai kawasan wisata dan daya tarik Kabupaten Merauke, dengan konsep
Natural Conservation And Tourism
(4) Pembuatan Buffer Zone kawasan lindung
(5) Pemanfaatan kawasan hutan untuk dapat diakses oleh umum/ masyarakat sehingga
dapat menjadi bagian dari sistem kota, dengan pengelolaan dan pengawasan yang
ketat sehingga tidak terjadi perambahan
(6) Reboisasi dan rehabilitasi lahan kritis dengan metode kerjasama antara pemkot
dengan masyarakat (pemberdayaan) dengan memanfaatkan lahan tidur
(7) Peningkatan pengawasan dengan melibatkan masyarakat sebagai alat kontrol
(8) Pengawasan dan pengendalian kuantitas sumberdaya air
(9) Pengelolaan sumberdaya hutan secara ADATIF
(10) Penempatan pos jaga pada tempat yang strategis
(11) Penambahan lokasi persemaian bibit
Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

28

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

2) Kawasan Konservasi dan Resapan Air


Kawasan resapan air adalah kawasan yang mempunyai kemampuan tinggi untuk
meresap air hujan (akuifer) yang berguna sebagai sumber air. Tujuan perlindungan
kawasan resapan air pada kawasan hutan/rawa sungai dan city ponds adalah untuk
memberikan ruang yang cukup bagi peresapan air hujan pada daerah resapan air tanah
untuk keperluan penyediaan kebutuhan air tanah dan penanggulangan banjir, baik untuk
kawasan bawahannya, maupun kawasan yang bersangkutan.
Kriteria penetapan kawasan konservasi dan resapan air adalah curah hujan yang tinggi,
struktur tanah yang mudah meresapkan air dan bentuk geomorfologi yang mampu
meresapkan air hujan secara besar-besaran. Kawasan konservasi dan resapan air di
Kabupaten Merauke tersebar di Distrik Elikobel, Jagebob, Anim Ha, Sota, Tubang, Ulilin,
Muting, Kaptel, Ngguti, Okaba, dan Tanah Miring yang terdapat di 5 (lima) lokasi hutan
yaitu di Hutan Resapan Air (RA) Sungai Bian, Hutan Resapan Air (RA) Sungai Kumbe,
Hutan Resapan Air (RA) Sungai Maro, Hutan Resapan Air (RA) Sungai Kimaam, dan
Hutan Resapan Air (RA) Sungai Buraka.
Pengaturan terkait kawasan konservasi dan resapan air adalah sebagai berikut:
Hutan lindung yang telah ada berdasarkan peraturan / perundangan yang berlaku
tetap dipertahankan.
Penggunaan lahan yang telah ada (permukiman, sawah, tegalan, tanaman
tahunan/perkebunan, dan lain-lain) di dalam kawasan ini secara bertahap dialihkan
ke arah usaha konservatif dan/atau dibatasi secara ketat, sehingga fungsi lindung
yang diemban dapat dilaksanakan.
Penggunaan lahan yang akan mengurangi fungsi konservasi secara bertahap
dialihkan fungsinya sebagai lindung sesuai kemampuan dana yang ada.
Penggunaan lahan baru tidak diperkenankan bila tidak menjamin fungsi lindung
terhadap hidro-orologis, kecuali jenis penggunaan yang sifatnya tidak bisa dialihkan
(menara TVRI, jaringan listrik, telepon, air minum dan lain-lain), hal tersebut tetap
memperhatikan azas konservasi.
c. Kawasan Perlindungan Setempat
1) Sempadan Sungai
Sempadan sungai adalah kawasan sepanjang kiri kanan sungai, yang mempunyai
manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. Tujuan perlindungan
sempadan sungai adalah untuk melindungi sungai dari kegiatan manusia yang dapat
mengganggu dan merusak kualitas air sungai, mengamankan aliran sungai dan
mencegah terjadinya erosi sedimen pinggiran sungai. Sempadan sungai yang dilindungi
ini ditanami berbagai tanaman keras sehingga fungsi perlindungan kawasan dapat
tercapai, sekaligus sebagai jalur hijau. Adapun tanaman keras yang dapat
dikembangkan di sempadan sungai antara lain tanaman buah-buahan seperti rambutan,
mangga, nangka, durian, dan tanaman perkebunan seperti kopi.
Kriteria penetapan sempadan sungai dilakukan berdasarkan Keppres No.32 Tahun 1990
tentang Kawasan Lindung, Peraturan Menteri PU No. 63/PRT/1993 tentang sempadan
sungai, dan kesepakatan bersama forum DAS BIKUMA tentang wilayah sempadan
sungai. Sesuai dengan kondisi dan karakteristik sungai-sungai yang ada di Kabupaten
Merauke yang memiliki batas pasang surut yang sangat besar dan juga wilayah DAS
Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

29

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

yang cukup datar, maka didalam RTRW ini ditetapkan garis sempadan untuk sungaisungai besar sebesar + > 500 meter dan untuk sungai-sungai kecil sebesar 100 meter.
Hal tersebut merupakan suatu bentuk kesepakatan yang telah dicapai dalam Forum
DAS BIKUMA untuk karakteristik wilayah yang khas di Kabupaten Merauke. Dengan
dasar pertimbangan Peraturan Menteri PU No. 63/PRT/1993 dan kesepakatan bersama
forum DAS BIKUMA maka disusunlah suatu konsep sempadan sungai yang terdiri dari 2
(dua) zona, Zona Inti Sempadan dan Zona Pendukung Sempadan. Zona inti sempadan
adalah 100 m dari tepi sungai dan zona pendukungnya adalah 400 m dari garis Zona Inti
Sempadan. Dikarenakan tujuan sempadan sungai ini adalah untuk mencegah kerusakan
sungai maka kegiatan manusia harus dijauhkan dari sempadan sungai tersebut.
Pencegahan terhadap munculnya aktifitas manusia di sempadan sungai dapat dilakukan
dengan beberapa metode, salah satunya antara lain dengan memisahkan permukiman
dari bantaran sungai dengan pagar, ruang terbuka hijau, dan jalan sebagai pemisah.
Kawasan sempadan sungai terdapat pada sebagian besar wilayah Kabupaten Merauke.
Kabupaten Merauke yang tersebar di Distrik Elikobel, Jagebob, Anim Ha, Malind,
Semangga, Tabonji, Waan, Sota, Merauke, Tubang, Ulilin, Muting, Kaptel, Ngguti,
Okaba, Kimaam, Kurik, Ilwayab, dan Tanah Miring.yang salah satunya terdapat di 3 buah
sungai besar, yaitu Sungai Bian, Sungai Kumben, dan Sungai Maro, serta puluhan
sungai yang Dari perhitungan analisis GIS, luasan buffer sempadan sungai yang ada di
Kabupaten Merauke adalah sebesar 149.003,842 Ha.
2) Sempadan Pantai
Sempadan pantai adalah kawasan sepanjang garis pantai yang mempunyai manfaat
penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi laut. Tujuan perlindungan sempadan
pantai adalah untuk melindungi laut dari kegiatan manusia yang dapat mengganggu dan
merusak kualitas air laut dan kekayaan hayati di dalamnya, serta mencegah terjadinya
abrasi pantai. Untuk melindungi sempadan pantai dari aktifitas manusia maka sempadan
pantai harus ditanami dengan pohon bakau/mangrove sehingga fungsi perlindungan
dapat tercapai.
Sebagaimana kriteria penetapan sempadan sungai, maka kriteria penetapan sempadan
pantai juga didasarkan kepada Keppres No.32 Tahun 1990 tentang Kawasan Lindung.
Berdasarkan Keputusan Presiden tersebut maka harus disediakan buffer selebar 100
meter di sepanjang garis pantai, terutama pada garis pantai yang menerima arus
gelombang laut lebih besar. Selain ditanami dengan mangrove, pemisahan sempadan
pantai dengan aktifitas manusia juga dapat dilakukan dengan membangun jalan sebagai
pemisah antara pantai dan permukiman. luas kawasan lindung sempadan pantai yang
harus disediakan di Kabupaten Merauke adalah 17.299,141 Ha. Kawasan sempadan
pantai ditetapkan 500 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat, terdapat di Distrik
Malind, Semangga, Tabonji, Waan, Merauke, Tubang, Naukenjerai, Okaba, Kimaam, dan
Ilwayab.
3) Pulau Pulau Kecil
Pulau-pulau kecil yang terdapat di wilayah kepulauan sebelah barat Kabupaten Merauke
bukan sepenuhnya daratan pulau biasa. Pulau-pulau kecili ini lebih tepat disebut sebagai
Pulau Gosong atau Atol. Atol-atol ini terbentuk sebagai hasil dari sedimentasi berpuluh
tahun dari aliran sungai dan arus Laut Arafura di wilayah barat, dimana saat ini atol-atol
tersebut ditumbuhi oleh Mangrove. Sedikitnya saat ini terdapat 12 buah Atol yang ada di
perairan Kimaam tersebut.. Karena vegetasi dari atol-atol ini adalah Hutan Mangrove,
maka atol-atol ini dikategorikan sebagai Kawasan Perlindungan Setempat.
Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

30

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

d. Kawasan Suaka Alam dan Pelestarian Alam


Kawasan Suaka Alam, didefinisikan sebagai perlindungan kawasan suaka alam guna
melindungi keanekaragaman biota, tipe ekosistem, gejala dan keunikan alam bagi
kepentingan plasma nutfah, ilmu pengetahuan dan pembangunan pada umumnya.
Kawasan suaka alam yang ada di Kabupaten Merauke berupa kawasan cagar alam,
taman nasional, suaka margasatwa, dan cagar budaya, dengan kriteria penetapannya,
diantaranya adalah :
(1) Kawasan yang ditunjuk memiliki keadaan yang menarik dan indah baik secara
alamiah maupun buatan manusia
(2) Memenuhi kebutuhan manusia akan rekreasi dan olahraga serta terletak dekat
pusat-pusat permukiman penduduk
(3) Mengandung satwa buru yang dapat dikembangbiakkan, sehingga memungkinkan
perburuan secara teratur dengan mengutamakan segi rekreasi, olahraga, dan
kelestarian satwa
Kawasan pelestarian alam yaitu kawasan yang memiliki kerentanan fisik ekosistem,
seperti kawasan pantai berhutan bakau di Distik Waan, Tubang, Tabonji, Semangga,
Okaba, Ngguti, Naukenjerai, Merauke, Malind, Kurik, Kimaam, dan Ilwayab.
1)

Cagar Alam
Cagar Alam yang terdapat di Kabupaten Merauke adalah Cagar Alam Kumbe dan Cagar
alam Rawa Biru. Cagar Alam Kumbe/Bupul terdapat di Distrik Elikobel dan Distrik Muting,
dengan luas
81.184,53 Ha dan Cagar Alam Pulau Pombo di Distrik Waan.
Khusus untuk Cagar Alam
Kumbe/Bupul, diperkirakan Cagar Alam ini melindungi lebih dari 230 jenis burung
(termasuk burung migran dari Asia dan Australia), 4 Jenis Burung Dewata, 20 Jenis
Burung Kakatua/Kasturi dan 60 jenis Mamalia. Sedangkan luas wilayah Cagar Alam
Rawa Biru adalah 11.786,62 Ha dengan cakupan wilayah.di Distrik Sota, Distrik Jagebob
dan Distrik Tanah Miring. Cagar Alam Rawa Biru menjadi satu kesatuan dengan wilayah
Taman Nasional Wasur.

2)

Taman Nasional Wasur


Taman Nasional Wasur terletak 15 km dari Kota Merauke dengan luas wilayah
458.534,975 Ha serta cakupan wilayah Distrik Elikobel, Distrik Sota, Distrik Merauke,
Distrik Naukenjerai dan Distrik Jagebob. Kondisi tanahnya datar dan didominasi padang
rumput, hutan Bakau, Rawa dan hutan bambu. Di taman ini terdapat beberapa jenis
hewan dan tumbuhan. Ada 74 jenis hewan mamalia dan 410 jenis burung termasuk
burung-burung Migran dari Asia dan Australia.

3)

Suaka Margasatwa
Suaka Margasatwa yang terdapat di Kabupaten Merauke seluas 658.212.86 Ha terdiri
dari 3 (tiga) buah yaitu Suaka Margawatwa Kumbe, Suaka Margasatwa Pulau Kimaam
dan Suaka Margasatwa Pulau Komolom. Suaka Margasatwa Kumbe mencakup wilayah
distrik Muting dan distrik Ulilin, Kawasan Suaka Margasatwa Danau Bian di Distrik
Muting, Pulau Dolok di Distrik Tabonji, Distrik Kimaam dan Distrik Waan. Khusus Suaka
Margasatwa Pulau Kimaam, selain merupakan tempat perlindungan bagi berbagai jenis
burung, juga merupakan tempat perlindungan bagi Penyu Laut. Selain hewan, habitat
yang juga dilindungi di Pulau Kimaam adalah Hutan Mangrove, dimana menurut data
NASA pada tahun 2002, Hutan Mangrove di Pulau ini adalah salah satu Hutan Mangrove

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

31

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

terbesar yang ada di Dunia, yakni seluas 268.006,52 Ha (hasil perhitungan tahun 2010
(Hasil Analisis).
e.

Kawasan Pelestarian Budaya


Dengan bantuan data yang didapatkan dari WWF Region Sahul Merauke, dapat
diidentifikasi tempat-tempat yang memiliki nilai-nilai adat dan budaya masyarakat
Marind, yang terdiri dari:
a.

Jalur perjalanan leluhur yang meliputi jalur arwah dan tempat persinggahan
lelulur
b.
Area Konservasi Adat,
c.
Tempat Sakral,
d.
Sumber Mata Air, dan
e.
Dusun Sagu.
Selain yang disebutkan diatas, di Kabupaten Merauke juga terdapat situs-situs budaya
yang tersebar di Distrik Anim Ha, Elikobel, Ilwayab, Jagebob, Kaptel, Kimaam, Kurik,
Malind, Muting, Ngguti, Okaba, Semangga, Sota, Tabonji, Tanah Miring, Tubang, Ulilin,
dan Waan.
Untuk menjaga eksistensi dan keberlangsungan tempat-tempat yang mengandung nilai
budaya tersebut, maka perlu diakomodir dalam rencana pola ruang sebagai kawasan
pelestarian budaya. Kawasan pelestarian budaya adalah kawasan yang berfungsi untuk
melindungi aset-aset alamiah maupun buatan yang memiliki nilai sejarah dan budaya
yang tinggi.
Khusus untuk dusun sagu, wilayah ini dapat juga digunakan sebagai lahan agroforestry
bagi penduduk setempat. Hal ini bisa dijelaskan karena sebagian besar mata
pencaharian penduduk asli Kabupaten Merauke adalah Meramu, sehingga tempattempat penting seperti Dusun Sagu harus dipertahankan agar penduduk asli tidak
kehilangan mata pencaharian mereka.
f.
Kawasan Rawan Bencana Alam
1) Kawasan Rawan Erosi
Jenis tanah di pesisir sungai di Kabupaten Merauke memiliki tingkat kelulusan air tinggi
sehingga peka terhadap erosi. Sedangkan di pesisir pantai erosi/abrasi terjadi karena
kuatnya arus ombak laut dan tidak ada penghalang/penahan tanah atau zona buffer
pantai yang biasanya berupa hutan bakau/mangrove. Kawasan erosi atau runtuhan
terdapat Distrik Okaba, Tubang dan Naukenjerai. Wilayah di Kabupaten Merauke yang
mengalami abrasi pantai paling mengkhawatirkan saat ini adalah di Distrik Naukenjerai,
dan di Distrik Semangga.
Menyikapi hal tersebut maka pada pesisir pantai dibangun penahan gelombang untuk
mengantisipasi dalam jangka pendek. Sebagai tindakan antisipasi jangka panjang maka
pesisir pantai dapat dibangun tanggul-tanggul penahan ombak atau bangunan-bangunan
sejenis untuk meredam arus ombak laut. Selain itu untuk memecahkan arus ombak laut
pada kawasan daratan pantai jarak yang menjorok ke laut, perlu tindakan penanaman
pohon bakua (mangrove) pada jarak tertentu dari bibir pantai.
2) Kawasan Rawan Gelombang Pasang dan Banjir
Kabupaten Merauke mempunyai tingkat kerawanan banjir yang cukup tinggi karena
kondisi fisiografis Kabupaten Merauke yang beberapa bagiannya terdiri dari Rawa Besar
dan juga Savanna. Mengingat bentang alam yang sangat landai dari Kabupaten ini,
Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

32

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

apabila dilanda hujan terus menerus wilayah Kabupaten Merauke akan tergenang oleh
air dari rawa-rawa besar tersebut.
Mengantisipasi datangnya banjir, maka tindakan pencegahan banjir perlu dilakukan
dengan membangun infrastruktur-infrastruktur yang diperlukan. Selain menyediakan
infrastruktur pencegah banjir, untuk daerah genangan yang diperkirakan akan menjadi
daerah genangan banjir perlu
diminimalkan aktifitasnya untuk mencegah kerugian yang terlampau besar. Demikian
halnya dengan kawasan rawan gelombang pasang, aktifitas atau permukiman pada
kawasan tersebut seyogyanya dipindahkan menjauhi batas pasang laut untuk
menghindari kerugian.
Kawasan rawan banjir di Kabupaten Merauke terdapat di Distrik Okaba, Kurik, Malind,
Merauke, Semangga, Tanah Miring dan Tubang;
g. Kawasan Lindung Lainnya
1)
Kawasan Perlindungan Plasma Nutfah
Sumber daya perikanan merupakan salah satu sektor yang kuat dalam menunjang
perekonomian Kabupaten Merauke, oleh karena itu perlu dilakukan tindakan
perlindungan terhadap produksi perikanan Kabupaten Merauke dimulai dari
perlindungan terhadap sumber makanan ikan-ikan tersebut. Sebagai tindakan
perlindungan terhadap plasma nutfah maka kawasan hutan mangrove di Kabupaten
Merauke, khususnya di bagian utara Ilwayab, harus dilestarikan sebagai perlindungan
sumber daya perikanan di Muara Digoel. Dikarenakan kawasan pantai di bagian utara
Distrik Ilwayab tidak termasuk wilayah administrasi Kabupaten Merauke, maka tindakan
pelestarian hutan kawasan bakau sebagai kawasan perlindungan plasma nutfah harus
dilakukan dengan bekerja sama dengan pemerintah Kabupaten Boven Digoel dan
Pemerintah Kabupaten Mappi.
2)

Kawasan Pantai Berhutan Bakau


Pada tahun 2007, hutan mangrove di Kabupaten Merauke terdiri dari hutan mangrove
primer seluas 258.187,1 Ha dan hutan mangrove sekunder seluas 16.366,7 Ha. Luas
penggunaan lahan oleh hutan mangrove priimer ini telah berkurang sejak tahun 2002
dari 305.456 Ha, sedangkan luas hutan mangrove sekunder bertambah dari 7379,5 Ha
pada tahun 2002. Oleh karena itu, maka perlu direncanakan penanaman kembali
tanaman bakau pada kawasan-kawasan hutan mangrove sekunder, dan kawasan
sempadan pantai yang memiliki fungsi untuk perlindungan pantai. Sedangkan kwasan
hutan mangrove primer harus dipelihara dan tetap ditingkatkan kualitasnya untuk
melindungi sempadan pantai dari aktifitas manusia yang merusak.
Dalam pengelolaan ekosistem mangrove di Kabupaten Merauke dapat dilaksanakan
dengan memperhatikan prinsip dasar sumber daya mangrove seperti :
(1) Melindungi proses ekologi dan penyangga kehidupan. Peranan hutan mangrove
dalam kelangsungan proses ekologi dan sistem penyangga kehidupan biota laut,
sebagai penyaring dan pengurai bahan organik yang datang dari daratan, sebagai
tempat penahan angin dan gelombang.
(2) Pengawetan keanekaragaman sumber plasma nutfah. Hutan mangrove yang
posisinya sebagai penghubung daratan dan lautan adalah merupakan tempat hidup
hewan dan tumbuhan yang merupakan sumber plasma nutfah.

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

33

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

(3) Pemanfaatan secara lestari jenis maupun ekosistemnya, yaitu dengan


mengendalikan cara pemanfaatan sehingga mencapai manfaat yang optimal dan
berkesinambungan.
Didasari hal tersebut dan hasil analisa Hutan Mangrove yang terdapat di Kabupaten
Mareuke, maka rencana pengembangan kawasan Mangrove adalah sebagai berikut :
(1) Melarang penebangan hutan bakau termasuk melarang pemanfaatan kayu bakau
untuk dijadikan bahan baku kegiatan apapun dengan kriteria kawasan perlindungan
hutan bakau ditetapkan dengan jarak minimal 130 kali nilai rata-rata perbedaan air
pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis air surut terendah ke arah
darat.
(2) Rehabilitasi kawasan hutan mangrove yang rusak dan telah ditunjuk sebagai
kawasan hutan konservasi, terutama pada kawasan pantai yang rawan bencana
erosi, seperti di Distrik Okaba dan Naukenjerai
(3) Menetapkan kawasan hutan mangrove sebagai areal yang dilindungi dalam
Peraturan Daerah tersendiri
(4) Melarang pengembangan kegiatan budidaya di kawasan hutan bakau kecuali untuk
kegiatan ekowisata
(5) Mengidentifikasi potensi wisata hutan mangrove
h. Kawasan Budidaya
1) Rencana Pengembangan Kawasan Budidaya Hutan
a)
Hutan Produksi Konversi
Kawasan hutan produksi konversi adalah hutan yang diperuntukkan untuk budidaya
yang lahannya dapat dialihkan fungsinya menjadi kawasan yang lebih produktif guna
memenuhi kebutuhan pengembangan non kehutanan, seperti kawasan transmigrasi,
pertanian, perkebunan, industri, permukiman, lingkungan, dan lain-lain. Berdasarkan
hasil analisis kawasan hutan dan kebutuhan pengembangan lahan budidaya, maka
melalui perhitungan dengan GIS (2010), luas hutan konversi direncanakan seluas
50.699,522 hektar dengan cakupan wilayah yang berada pada Distrik Kaptel, Anim Ha,
Ilwayab, Kurik, Malind, Okaba, Semangga, Tanah Miring dan Ngguti.
Arahan pengembangan Hutan Produksi Konversi adalah sebagai berikut:
b)

Kawasan-kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi sebagai kawasan


pertanian maupun perkebunan untuk mendukung program ketahanan pangan
nasional dan ketahanan energi nasional.
c)
Kriteria Penetapan hutan produksi konversi adalah:
- kawasan hutan yang sudah tidak berhutan dan memiliki potensi lahan untuk
tanaman padi atau tanaman tahunan di kawasan hilir pada masing-masing
DAS di Kabupaten Merauke
- berdekatan dengan permukiman penduduk, khususnya permukiman
transmigrasi
- bukan sebagai kawasan lindung dan kawasan konservasi, khususnya pada
kawasan hutan lindung dan resapan air
b) Hutan Produksi
Penetapan Fungsi Hutan di Kabupaten Merauke pada awal penyusunan RTRW
Kabupaten Merauke tahun 2007 merupakan Hutan Produksi Terbatas (HPT).
Berdasarkan peninjauan kembali aspek atas tanah, iklim dan curah hujan scoring
menunjukan angka kurang dari 125. Dengan demikian sesuai ketentuan yang berlaku
Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

34

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

merupakan Hutan Produksi (HP) dan dengan demikian sesuai Keputusan Mneteri
Kehutanan dan Perkebunan Nomor : 891/Menhutbun-II1999.
Kawasan hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok
memproduksi hasil hutan dan berdasarkan hasil perkalian kelerengan, intesintas hujan
dan jenis tanah nilai kurang dari 125. Kawasan hutan produksi digunakan untuk
kegiatan budidaya hasil-hasil hutan dengan tetap memperhatikan fungsinya untuk
menghasilkan hasil-hasil hutan bagi kepentingan negara, masyarakat, industri, ekspor
dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Berdasarkan Rencana Pola Ruang
Kabupaten Merauke, Hutan Produksi tersebut memiliki luasan 536.193,36 Ha yang
tersebar di Distrik Animha, Muting, Ulilin, Kaptel, Ilwayab, Jagebob, Kimaam, Kurik,
Ngguti, Okaba, Tabonji, Tanah Miring dan Tubang.
Arahan pengembangan Hutan produksi antara lain :
a)

b)

Pengelolaan terhadap kawasan hutan


produksi terbatas dilakukan untuk memanfaatkan ruang beserta sumber daya
hutan, dengan cara tebang pilih dan atau dengan multisystem silvikultur untuk
menghasilkan hasil hutan kayu, bukan kayu, pemanfaatan kawasan dan jasa
lingkungan bagi kepentingan negara, masyarakat, industri dan ekspor dengan
tetap memelihara kelestarian lingkungan dan keanekaragaman.
Kriteria Penetapan
o kawasan butan dengan faktor kelas lereng, jenis tanah dan intensitas hujan,
setelah masing-masing dikalikan dengan angka penimbang mempunyai
jumlah nilai skor kurang dari 125 di luar hutan suaka alam dan pelestarian
alam
o kawasan yang secara ruang apabila digunakan untuk budidaya hutan alam
dapat memberikan manfaat:
- mendorong perkembangan sektor atau kegiatan ekonomi di sekitarnya;
- meningkatkan fungsi lindung;
- meningkatkan upaya pelestarian sumber daya hutan;
- meningkatkan pendapatan masyarakat terutama di daerah setempat;
- meningkatkan pendapatan daerah dan nasional;
- meningkatkan kesempatan kerja terutama untuk masyarakat daerah
setempat;
- meningkatkan ekspor;
- mendorong perkembangan usaha dan peran serta masyarakat terutama di
daerah setempat.
a)
Menentukan jenis-jenis pohon yang sesuai dengan keadaan tapak di
lapangan.
b)
Mempersiapkan sumber benih dan cara memperolehnya, serta
mempersiapkan persemaian sesuai kebutuhan.
c)
Mempersiapkan lapangan tanaman, baik secara manual maupun mekanis,
atau kombinasi keduanya.
d)
Pada awal musim penghujan, dapat menanam jenis-jenis terpilih dengan
tumpang sari atau banjar harian.
e)
Mengadakan pemeliharaan tanaman muda setiap enam bulan sekali,
terutama membantu membebaskannya dari persaingan dengan gulma.

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

35

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

f)

2.
3.

Melindungi kompleks tanaman dan sebagainya dari bahaya kebakaran,


misalnya dari serasah di musim kemarau, disamping menanam jenis pohon
sekat bakar sebelumnya.
g)
Melaksanakan pemeliharaan lanjutan berupa pembebasan dari tumbuhan
pesaing, penjarangan dan atau pemangkasan sesuai dengan tujuan.
h)
Dalam kaitannya dengan azas kelestarian hasil (sustained yield priciples),
sesuai dengan perencanaannya, mengusahakan terbentuknya hutan
normal, baik dalam cadangan tegakan (standing stock) maupun
penyebarannya. Pada saat akhir daur atau umur rotasinya tercapai,
melakukan penebangan habis sekaligus pada petak-petak masa tebangan.
i)
Mengusahakan tindakan-tindakan pencegahan terhadap bahaya erosi dan
aliran permukaan, sebagai akibat pembukaan areal hutan.
j)
Selanjutnya menanami kembali areal bekas tebang habis tersebut dengan
jenis-jenis pohon yang sesuai untuk dipanen pada rotasi berikutnya.
Pengembangan Hutan Tanaman Industri diusahakan melalui tebang habis
permudaan buatan atau multisistem silvikultur.
Penyertaan dan pembinaan terhadap masyarakat untuk turut bersama-sama
dalam mengembangkan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Hutan Tanaman
Rakyat (HTR)

c)
Hutan Rakyat
Hutan rakyat merupakan salah satu dari bentuk kepemilikan sumberdaya hutan. Menurut
Undang-Undang Kehutanan Nomor 41 tahun 1999 disebutkan bahwa hutan rakyat
adalah hutan yang dibebani hak milik. Hutan rakyat ini berada dalam kawasan sekitar
masyarakat dan keberadaannya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.
Kedekatan hutan rakyat dengan masyarakat ini dapat dilihat dari pola pengelolaan hutan
rakyat.
Dari sisi pola pengelolaan, pengelolaan hutan rakyat dapat dibedakan menjadi pola
monokultur dan pola campuran (agroforest). Terdapat suatu hubungan antara kebutuhan
hidup masyarakat dengan pola tanam yang ada dalam suatu sistem pengelolaan hutan
rakyat. Hubungan tersebut dapat dilihat dari jenis tanaman yang ditanam dan pola
penanaman. Bentuk tradisional hutan rakyat adalah untuk dikelola dengan pola
campuran (agroforest). Dengan pola ini maka hutan memberikan manfaat, diantaranya
dalam mendukung penyediaan bahan baku kayu untuk industri kehutanan. Dari pola
pengelolaan hutan rakyat (dalam konteks hak milik personal maupun komunal) diketahui
bahwa hutan rakyat memiliki peranan yang penting, dari aspek ekologi sampai
pembangunan wilayah. Sementara itu bila dilihat dari pola pengelolaan antara pola
monokultur dan pola campuran (agroforest) maka terlihat kecenderungan bahwa pola
campuran mampu memberikan kontribusi yang besar terhadap pendapatan masyarakat
dan memiliki peranan yang tinggi terhadap kondisi ekologis. Disamping hasil kayu yang
begitu besar yang dapat dihasilkan oleh hutan rakyat, hasil lain yang memiliki potensi
yang besar dari hutan rakyat adalah Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Untuk kasus
Kabupaten Merauke, hutan rakyat dipakai untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat
yaitu bahan makanan pokok Sagu. Sagu digolongkan sebagai HHBK, akan tetapi
pengelolaannya saat ini belum terorganisir mengngat letaknya terpencar-pencar di
seluruh kawasan hutan yang ada di Kabupaten Merauke. Arahan yang diberikan untuk
hutan rakyat adalah tetap mempertahankan hutan rakyat yang ada (terutama Dusun
Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

36

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

Sagu sebagai Kawasan Pelestarian Budaya) serta mendorong masyarakat Kabupaten


Merauke untuk terlibat dalam pengelolaan Hutan Tanaman Industri yang dikembangkan
dengan sistem tumpang sari (agroforest) seperti yang disebutkan dalam sub-bab
sebelumnya.
2)
Rencana Pengembangan Kawasan Agropolitan
Pengembangan Kawasan Agropolitan sebagai penjabaran visi dan misi dari Pemerintah
Kabupaten Merauke dan sebagai salah satu bagian dari Kawasan Pengembangan
Ekonomi (KPE) perbatasan Papua-PNG, merupakan salah satu kawasan budidaya yang
diharapkan menjadi salah satu ujung tombak perekonomian Kabupaten Merauke.
Kebijakan pengembangan Kawasan Agropolitan berfungsi untuk mengoptimalkan
potensi lokal yang ada dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Dengan
adanya kebijakan tersebut, maka perlu pengembangan sektor infrastruktur produksi
agropolitan, terutama di wilayah Distrik Kurik dan Tanah Miring.
Dalam sebuah Kawasan Agropolitan, pengembangan ruang tidak hanya sebatas
pengembangan produksi pertanian sebagai basis ekonomi kawasan tersebut, akan
tetapi juga Industri pengolahan dan juga pemasarannya. Untuk itu rencana
pengembangan kawasan agropolitan harus merupakan sebuah rencana terpadu.
Konsep Agropolitan merupakan sistem manajemen dan tatanan terhadap suatu kawasan
yang menjadi pusat pertumbuhan bagi kegiatan ekonomi berbasis pertanian
(agribisnis/agroindustri). Pengembangan usaha agribisnis merupakan upaya
meningkatkan kuantitas, kualitas manajemen, dan kemampuan untuk melakukan usaha
secara mandiri, dan memanfaatkan peluang pasar dari pelaku agribisnis. Pelaku utama
agribisnis adalah petani dan dunia usaha meliputi usaha rumah-tangga, usaha
kelompok, koperasi, usaha menengah, maupun usaha besar. Pelaku agribisnis tersebut
merancang, merekayasa dan melakukan kegiatan agribisnis itu sendiri mulai dari
identifikasi pasar yang kemudian diterjemahkan kedalam proses produksi. Pemerintah
memberikan fasilitas dan mendorong berkembangnya usaha-usaha agribisnis tersebut.
Selain industri pengolahan hasil pertanian (IPHP) terdapat pula aktivitas lain yang terkait
mengingat agroindustri merupakan kegiatan yang saling hubung (interrelasi) produksi,
pengolahan, pengangkutan, penyimpanan, pendanaan, pemasaran, dan distribusi hasil
pertanian (gambar 2.1)

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

37

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

Gambar tersebut memperlihatkan pembangunan dalam kerangka sistem agribisnis


merupakan suatu rangkaian dan keterkaitan dari : (1) Sub agribisnis hulu (upstream
agribusiness) yaitu seluruh kegiatan ekonomi yang menghasilkan sarana produksi bagi
pertanian primer (usaha tani).; (2) Sub agribisnis usahatani (onfarm agribusiness) atau
pertanian primer, yaitu kegiatan yang menggunakan sarana produksi dan sub agribisnis
hulu untuk menghasilkan komoditas pertanian primer. Sub ini di Indonesia disebut
pertanian; (3) Sub agribisnis hilir (down-stream agribusiness) yaitu kegiatan ekonomi
yang mengolah komoditas pertanian primer menjadi produk olahan baik bentuk produk
antara (intermediate product) maupun bentuk produk akhir (finished product); dan (4)
Sub Jasa penunjang yaitu kegiatan yang menyediakan jasa bagi ketiga sub agribisnis di
atas.
Kawasan Agropolitan Merauke diharapkan dapat tumbuh dan berkembang sebagai salah
satu kawasan strategis, tidak hanya dalam lingkup Kabupaten Merauke, tetapi juga
dalam lingkup Provinsi Papua dan Nasional karena Kabupaten Merauke diharapkan
berfungsi sebagai salah satu Pusat Ketahanan Pangan Nasional sehingga perhatian dan
dukungan kebijakan dari Pemerintah dan Pemerintah Provinsi Papua sangat dibutuhkan
untuk perwujudan rencana pola ruang Kawasan Agropolitan ini. Kawasan Agropolitan ini
direncanakan berada pada Klaster Sentra Produksi Pertanian (KSPP).
Salah satu program Pemerintah Kabupaten Merauke di bidang Pertanian adalah
Program Merauke Integrated Food Estate and Energy (MIFEE), yang salah satu
kebijakannya adalah menciptakan kawasan agropolitan di Kabupaten Merauke. Konsep
pengembangan masyarakat agropolitan melalui program MIFEE ini adalah dengan
menggunakan pendekatan invensi dan inovasi. Pertimbangan yang mendasari
pengembangan peta jalan (road map) masyarakat agropolitan dan menjadi lumbung
pangan mendukung ketahanan pangan nasional. Pentingnya tinjauan MIFEE ini untuk
menyesuaikan rencana pengembangan usaha yang direncanakan di program ini dengan
rencana pengembangan usaha yang lebih detail yang akan dijelaskan pada sub bab
berikutnya. Program ini juga menjadi arahan untuk kebijakan dan pengembangan
infrastruktur dalam mendukung sektor pertanian terutama lahan basah dan hortikultura
sehingga masyarakat pertanian mampu bersaing di pasar lokal maupun global.
Berikut adalah ilustrasi pengembangan Roadmap menuju masyarakat agropolitan dan
lintasan dan peta jalan menuju masyarakat agropolitan.
Pada ilustrasi di atas menjelaskan bahwa diversifikasi usaha dapat meningkatkan taraf
hidup petani dan pendapatan daerah. Kondisi eksisting pada tahun pertama sampai
keempat diusahakan dengan menggunakan inovasi teknologi, kekuatan pasar, dan
kemampuan produsen dengan metodologi diversifikasi usaha. Sehingga, tercipta
sasaran yang ingin dicapai yaitu pendapatan tinggi, kontribusi pertanian yang dominan,
dan terbentuk agropolitan.
Dalam roadmap menuju agropolitan dibutuhkan campur tangan pemerintah dan
stakeholders yang terkait dalam menjalankan program yang berkelanjutan ini agar
sesuai dengan tatanan yang direncanakan. Untuk mengantarkan masyarakat petani
menuju diversifikasi usaha dalam konteks vertikal, horizontal, dan regional tersebut
dibutuhkan bimbingan dan penyuluhan serta bantuan infrastruktur dalam memperlancar
hasil produksi yang lebih baik.
Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

38

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

3)
Rencana Pengembangan Kawasan Budidaya Pertanian
Program pengembangan kawasan sentra produksi pangan merupakan pembangunan
ekonomi berbasis pertanian yang dilaksanakan dengan jalan mensinergikan berbagai
potensi yang ada, yang utuh dan menyeluruh, yang berdaya saing, berbasis kerakyatan,
berkelanjutan dan terdesentralisasi, yang digerakkan oleh masyarakat dan difasilitasi
oleh pemerintah. Kawasan pertanian sebagai kawasan sentra produksi pangan ini harus
dikembangkan sebagai satu kesatuan pengembangan wilayah berdasarkan keterkaitan
ekonomi antara desa-kota (urban-rural linkages) dan bersifat interpendensi/ timbal balik
yang dinamis.
a)
Kawasan Pertanian Lahan Basah
Kawasan pengembangan Pertanian lahan basah di Kabupaten Merauke diarahkan pada
kawasan-kawaasan yang memiliki kesesuaian lahan untuk pertanian lahan basah,
berada di daerah dataran rendah, seperti pantai dan/atau daerah hilir Daerah Aliran
Sungai , serta memiliki potensi untuk dapat dilalui jaringan irigasi alam dan buatan.
Kemudian setelah kriteria teknis tersebut dipenuhi, aspek berikutnya yang
dipertimbangkan adalah ketersediaan lahannya. Lahan-lahan yang diutamakan adalah
lahan-lahan yang sudah tidak berhutan atau bukan merupakan kawasan hutan. Setelah
itu, baru dipertimbangkan kawasan hutan yang memiliki fungsi sebagai hutan produksi
konversi (HPK) yang memang jenis tanah dan kesesuaian lahannya memadai untuk
dikembangkan sebagai kawasan pertanian lahan basah. Khusus untuk lahan-lahan
potensial yang berada di kawasan lindung, tidak dijadikan salah satu kawasan
pengembangan..
Kawasan pengembangan pertanian lahan basah diarahkan pada kampung-kampung
yang berlokasi di sekitar daerah Distrik Kurik, Distrik Anim Ha, Distrik Malind, Distrik
Semangga, Distrik Tanah Miring, Distrik Okaba, Distrik Ngguti, Distrik Tubang, Distrik
Elikobel, Distrik Kimaam, Distrik Ilwayab dan Distrik Tabonji dengan alokasi lahan untuk
20 tahun mendatang seluas 760.230,16 Ha.
Pengembangan budidaya usahatani merupakan usaha budidaya integral, dan bersifat
universal, dimana memandang kawasan sebagai titik sentral pembangunan komoditas
dalam upaya meningkatkan produksi dan produktivitas sumberdaya lahan. Dalam
pelaksanaan untuk pengembangan budidaya usahatani, perlu untuk memperhatikan
faktor usaha tani sebagaimana dinyatakan dalam Fadholi (1996), antara lain adalah:
1.
2.
3.
4.

Tanah atau sumberdaya lahan


Tenaga kerja
Modal usaha
Pengelolaan usaha tani

Tanah sebagai sumber unsur utama usahatani, sebagai tempat tumbuhnya vegetasi,
tentu saja harus memiliki suatu ukuran yang nyata sehingga akan dicapai suatau ukuran
tingkat optimalisasi pertumbuhan tanaman untuk menghasilkan suatu produk. Untuk
menilai keberhasilan tumbuh, suatu bentang lahan harus dilihat dari unsur internal tanah
maupun unsur pendukung agroklimatik. Ukuran internal tanah antara lain:
a.
kesuburan tanah
b.
luas pertanian utama ( komoditas unggulan)
c.
luas pertanian tanaman penyangga
Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

39

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

Kesuburan tanah yang mencukupi dan luas tanah yang memadai dapat diprediksikan
produksi dari bentangan lahan yang diolah, untuk menilai kesuburan tidak bisa
dilepaskan dari kesesuian tanaman atas sumberdaya lahan yang tersedia.
Faktor sumber daya manusia berdasarkan kemampuan dan keahlian adalah
merupakan program yang dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan tenaga kerja dalam
sektor pertanian. Dalam konteks pengembangan budidaya pertanian, maka tenaga kerja
yang dimaksud adalah masyarakat transmigrasi ataupun masyarakat lokal yang sudah
dibina dan dilatih untuk menggarap lahan yang tersedia.
Faktor Modal kerja bagi petani merupakan penghambat utama, maka diperlukan
adanya campur tangan dari pemerintah sebagai fasilitatator membuka akses pasar baik
untuk komoditas penyangga, maupun komoditas unggulan.
Faktor pengelolaan usaha tani, tentunya perlu dimiliki oleh petani dari mulai perencaan
usahatani sampai pasca panen, dengan demikian daya saing usaha taninya akan
kompetitif. Unsur teknologi menjadi signifikan untuk dimengerti oleh petani, utamanya
untuk jenis usahatani skala besar, sebagai contohnya adalah budidaya padi sawah.
Sementara itu, disamping pengembangan kemitraan, upaya membina usahatani di
tingkat rakyat perlu dilakukan.
Adapun arahan pengembangan usaha masyarakat pertanian lahan basah di Kabupaten
Merauke adalah sebagai berikut :
(1)

Dapat dilakukan melalui sistem transmigrasi


lokal, sistem re-disain kampung permukiman, penyuluhan dan pembinaan,
terutama untuk kampung-kampung yang basis kegiatan usaha masyarakatnya
adalah petani.
(2)
Pengembangan
ekstensifikasi pertanian
dilakukan melalui pencetakan sawah pada lahan-lahan yang terdapat di wilayah
Distrik Kurik, Distrik Anim Ha, Distrik Semangga, Distrik Tanah Miring, Distrik
Okaba, Distrik Kaptel, Distrik Ngguti, Distrik Tubang, Distrik Elikobel, Distrik
Kimaam, Distrik Waan, Distrik Ilwayab dan Distrik Tabonji.
(3)
Pengelolaan pertanian lahan basah di
Kabupaten Merauke juga harus mempertimbangkan faktor-faktor di bawah ini,
yaitu :
a. Faktor-faktor sosio-ekonomis :
Memberikan kemudahan pemasaran, baik dalam bentuk pemasaran lokal
dan eksternal, pedagang dan koperasi, dan aksesibilitas.
Memberikan kemudahan jasa-jasa pendukung, baik dalam bentuk
kredit/sarana produksi dan penyuluhan.
Pemerintah dapat memberikan kebijakan insentif dan beberapa peraturan yang
mendorong berkembangnya kegiatan usaha tani lahan basah.

b.

Memberikan hak/kepemilikan, meliputi hak atas tanah/panen/pohon, dan


pembagian hasil.
Secara budaya/tata nilai, meliputi kebutuhan keterjaminan pangan,
prasangka dan tata nilai.
Usaha-usaha produksi :
Tanaman semusim yang dapat dikembangkan, antara lain : padi-padian.
Pengaturan jadwal tanam.

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

40

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

c.

Rumah tangga petani :


Pembinaan dan pengembangan keterampilan-keterampilan yang dimiliki
rumah tangga petani.
Pengembangan pendidikan melalui penyediaan fasilitas pendidikan.
Ukuran lahan tidak melebihi 5 ha karena rata-rata 1 KK berjumlah 5
orang.
Sumber-sumber penghasilan lain, seperti dari kegiatan ternak dan
kebun.
d.
Tindakan-tindakan konservasi :
Teknik-teknik pembuatan irigasi semi teknis dan teknis untuk
meningkatkan masa panen menjadi minimal dua kali setahun.
Teknik-teknik dengan bangunan fisik, melalui pembuatan kolam ikan,
tanggul penghambat, penahan tanah.
(4)
Rencana Pengembangan Kawasan Pertanian
Lahan Basah di Kabupaten Merauke antara lain adalah:
Peningkatan hasil produksi pertanian pada kawasan pertanian yang
telah ada
Penambahan lahan pertanian baru pada kawasan-kawasan budidaya
pertanian lahan basah
Peningkatan teknologi budidaya pertanian dan pasca panen
Pemerintah dapat memberikan kebijakan insentif dan beberapa
peraturan yang mendorong berkembangnya kegiatan usaha tani lahan
basah.
Memberikan hak/kepemilikan, meliputi hak atas tanah/panen/pohon, dan
pembagian hasil.
Secara budaya/tata nilai, meliputi kebutuhan keterjaminan pangan,
prasangka dan tata nilai.
a. Usaha-usaha produksi :
Tanaman semusim yang dapat dikembangkan, antara lain : padi-padian.
Pengaturan jadwal tanam.
b.
Rumah tangga petani :
Pembinaan dan pengembangan keterampilan-keterampilan yang dimiliki
rumah tangga petani.
Pengembangan pendidikan melalui penyediaan fasilitas pendidikan.
Ukuran lahan tidak melebihi 5 ha karena rata-rata 1 KK berjumlah 5
orang.
Sumber-sumber penghasilan lain, seperti dari kegiatan ternak dan
kebun.
c.
Tindakan-tindakan konservasi :
Teknik-teknik pembuatan irigasi semi teknis dan teknis untuk
meningkatkan masa panen menjadi minimal dua kali setahun.
Teknik-teknik dengan bangunan fisik, melalui pembuatan kolam ikan,
tanggul penghambat, penahan tanah.
(5)
Rencana Pengembangan Kawasan Pertanian
Lahan Basah di Kabupaten Merauke antara lain adalah:
Peningkatan hasil produksi pertanian pada kawasan pertanian yang
telah ada
Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

41

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

Penambahan lahan pertanian baru pada kawasan-kawasan budidaya


pertanian lahan basah
Peningkatan teknologi budidaya pertanian dan pasca panen

b)

Pertanian Lahan
Kering/Perkebunan Buah-buahan
Dalam merencanakan peruntukan lahan untuk kawasan budidaya pertanian lahan
kering, maka prinsip pengembangan yang digunakan juga relatif sama dengan
perencanaan untuk kawasan pertanian lahan basah, yaitu dengan
mempertimbangkan kesesuaian lahan untuk komoditi pertanian lahan kering,
kondisi topografi dan pengairan, status lahan, dan bukan merupakan bagian dari
kawasan lindung. Kawasan Pengembangan Pertanian Lahan Kering memiliki juga
memiliki kemungkinan pengembangan menjadi Kawasan Perkebunan, khususnya
untuk kebun buah-buahan. Hal ini disebabkan karena kawasan perkebunan memilki
kesesuaian lahan yang hampir sama dengan pertanian lahan kering. Walaupun
lahan yang dialokasikan untuk pertanian lahan kering dapat dikonversi menjadi
kawasan perkebunan, akan tetapi prioritas penggunaaan lahan tetap merupakan
alokasi lahan untuk Pertanian Lahan Kering.
Rencana pengembangan kawasan budidaya pertanian lahan kering dialokasikan
seluas 352.374,42 Ha yang tersebar di Distrik Jagebob, Anim Ha, Malind, Tabonji,
Sota, Tubang, Ulilin, Muting, Kaptel, Ngguti, Okaba, Kimaam, Kurik, Ilwayab, dan
Tanah Miring dengan komoditi seperti jagung, ubi kayu, mangga, palawija, dan
tanaman hortikultura lainnya. Adapun arahan pengembangan usaha masyarakat
pertanian lahan kering di Kabupaten Merauke adalah sebagai berikut :

(1) Pengembangan ekstensifikasi pertanian dilakukan pada lahan-lahan yang


terdapat di zona wilayah dataran tinggi dan dataran rendah dan dapat
diintegrasikan dengan pengembangan tanaman perkebunan.
(2) Intensifikasi lahan Pertanian melalui penyuluhan dan pembinaan, terutama untuk
kampung-kampung yang basis kegiatan usaha masyarakatnya adalah petani..
(3) Faktor-faktor pengelolaan usaha masyarakat lahan kering di Kabupaten Merauke
yang harus dipertimbangkan, yaitu :
a. Faktor-faktor sosio-ekonomis :
Memberikan kemudahan pemasaran, baik dalam bentuk pemasaran lokal
dan eksternal, pedagang dan koperasi, dan aksesibilitas.
Memberikan kemudahan jasa-jasa pendukung, baik dalam bentuk
kredit/sarana produksi, dan penyuluhan.
Pemerintah dapat memberikan kebijakan insentif dan beberapa peraturan
yang mendorong berkembangnya kegiatan usaha tani.
Memberikan hak/kepemilikan, meliputi hak atas tanah/panen/pohon, dan
pembagian hasil.
Secara budaya/tata nilai, meliputi kebutuhan keterjaminan pangan,
prasangka dan tata nilai.
b. Usaha-usaha produksi :
Vegetasi tetap yang dapat dikembangkan, antara lain : pohon penghasil
pakan, pohon buah-buahan, tanaman-tanaman yang mempunyai nilai
ekonomis.
Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

42

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

Tanaman semusim/tahunan yang dapat dikembangkan antara lain : padipadian, umbi-umbian, sayur-sayur/jamur, tanaman palawija.
c. Rumah tangga petani :
Pembinaan dan pengembangan keterampilan-keterampilan yang dimiliki
rumah tangga petani.
Pengembangan pendidikan melalui penyediaan fasilitas pendidikan.
Ukuran lahan tidak melebihi 5 ha karena rata-rata 1 KK berjumlah 5 orang.
Sumber-sumber penghasilan lain, seperti dari kegiatan ternak dan kebun.
d. Tindakan-tindakan konservasi :
Teknik-teknik dengan bangunan fisik, pada wilayah yang mempunyai
kemiringan lereng tinggi dapat dilakukan dengan pengolahan/penanaman
dengan garis kontur, teras bangku, teras guludan.
Teknik-teknik vegetatif melalui cara mulsa, tebas-bakar/tanpa
pembakaran, pembuatan kompos, pergiliran tanaman.

c)

Kawasan Perkebunan/Tanaman
Tahunan
Pengembangan tanaman perkebunan akan diarahkan pada areal kawasan budidaya
pertanian di Kabupaten Merauke. Jenis komoditas perkebunan yang dapat
dikembangkan, antara lain : Karet, kelapa sawit, tebu, kopi, dan kelapa. Alokasi lahan
untuk pengembangan perkebunan Kabupaten Merauke adalah sebesar 184.770,68
Ha yang terutama terdapat di Distrik Jagebob, Anim Ha, Elikobel, Ulilin, Muting,
Kaptel, Ngguti, dan Kurik.

Pengembangan perkebunan diarahkan pada lahan-lahan yang sesuai, dan arahan


pengembangannya adalah sebagai berikut :
(1)Pengembangan ekstensifikasi perkebunan dilakukan pada lahan-lahan yang
terdapat di Distrik Jagebob ke arah utara sampai ke perbatasan dengan Distrik
Elikobel dan dapat juga diintegrasikan dengan pengembangan tanaman pangan,
melalui sistem tumpangsari.
(2)Untuk pengembangan kawasan perkebunan berskala besar di Kabupaten Merauke,
ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi antara lain :
a.
Penyusunan studi kelayakan.
b.
Penyusunan rencana teknik permukiman PIR (Perkebunan Inti Rakyat).
c.
Penyusunan AMDAL pada setiap kawasan.
Pola pengembangan usaha perkebunan dalam skala besar dapat diusahakan antara
lain dengan:
a. Pola koperasi usaha perkebunan, yaitu masyarakat membentuk koperasi
perkebunan dengan kegiatan membangun kebun dan fasilitas pengolahannya
serta mengembangkan sarana dan prasarana pokok lainnya, atau pola
pengembangan yang usahanya 100% dimiliki oleh koperasi usaha perkebunan,
b. Pola Patungan koperasi dan investor, merupakan pengembangan dari pola PIR
yang berlaku saat ini, yaitu menghilangkan pembatas kelembagaan antara
plasma dan inti, atau pola pengembangan yang sahamnya 65 % dimiliki
koperasi dan 35 % dimiliki investor atau perusahaan,
c. Pola Patungan investor dan koperasi, polanya hampir sama dengan pola nomor
2 tetapi kontribusi terbatas pada income contribution, yang disetarakan dengan
nilai uang, misalnya lahan usaha koperasi atau sebagai saham, pola
Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

43

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

pengembangan yang sahamnya 80 % dimiliki investor atau perusahaan dan


minimal 20 % dimiliki koperasi, yang nantinya akan ditingkatkan secara
bertahap,
d. Pola BOT (Built, Operation and Transfer), yaitu pola terbuka bagi investor,
BUMN-BUMN termasuk PMA. Dengan pola ini, investor membangun kebun,
pabrik dan sarana serta prasarana pendukungnya, termasuk membangun
koperasi usaha perkebunan yang akan menerima dan melanjutkan usaha
dimaksud.
(3)Pengembangan Kawasan Industri Agrobisnis/ Kawasan Industri Masyarakat
Perkebunan (KIMBUN) sebagai kawasan pengolahan hasil perkebunan di Distrik
Ngguti
(4)Sementara dalam pengembangan usaha masyarakat di bidang perkebunan, ada
beberapa faktor yang harus dipertimbangkan meliputi :
a.Faktor-faktor sosio ekonomis :
Memberikan kemudahan pemasaran dalam bentuk pemasaran lokal dan
eksternal, pedagang dan koperasi, dan tingkat pencapaian daerah.
Memberikan kemudahan jasa-jasa pendukung dalam bentuk kredit/sarana
produksi dan penyuluhan.
Pemerintah dapat memberikan kebijakan insentif dan beberapa peraturan
yang mendorong berkembangnya kegiatan usaha perkebunan.
Memberikan hak/kepemilikan meliputi hak atas tanah/panen/pohon, dan
pembagian hasil.
b.Usaha-usaha produksi :
Tanaman perkebunan yang dapat dikembangkan, antara lain : karet, kelapa
sawit, kakao, kelapa, dan kopi
c. Rumah tangga petani :
Pembinaan dan pengembangan keterampilan-keterampilan yang dimiliki
rumah tangga petani.
Ukuran lahan tidak melebihi 5 ha karena rata-rata 1 KK berjumlah 5 orang.
Sumber-sumber penghasilan lain, seperti dari kegiatan ternak dan kebun.
d.Tindakan-tindakan konservasi :
Teknik-teknik bangunan fisik pada wilayah yang mempunyai kemiringan lereng
tinggi dapat dilakukan dengan pengolahan/penanaman dengan garis kontur,
teras bangku dan teras guludan.
Teknik-teknik vegetatif melalui cara mulsa, tebas-bakar/tanpa pembakaran,
pembuatan kompos, pergiliran tanaman.
e.Pengaturan fisik :
Tidak diperkenankan adanya bangunan, kecuali bangunan penunjang unit
perkebunan seperti pabrik, gudang, pembibitan, dan perumahan
karyawan.
Luas bangunan maksimum 2% dari luas perkebunan.
Perkebunan dengan luas < 25 hektar, maka kepadatan maksimum 5
rumah/hektar
d)
Kawasan Peternakan
Rencana pengembangan peternakan di Kabupaten Merauke dapat diarahkan pada
pengembangan ternak besar dan ternak unggas. Untuk pengembangan ternak besar
diarahkan diwilayah tengah Kabupaten Merauke pada sekitar areal budidaya
Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

44

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

pertanian terutama Distrik Kurik, Distrik Naukenjerai, Distrik Semangga, Distrik


Tubang, Distrik Malind, Distrik Tabonji dan Distrik Kimaam sedangkan ternak unggas
diarahkan pada unit-unit perumahan yang berada pada areal-areal perkebunan,
kampung-kampung penduduk setempat di Kabupaten Merauke.
Lokasi peternakan di luar kawasan yang lebih cocok antara lain di daerah Kumbe
atau diarahkan ke daerah transmigrasi. Sedangkan untuk ternak sapi milik
masyarakat setempat perlu dibatasi jumlah dan areal penggembalaannya di zona
pemukiman. Kemudian peternakan dengan sistem ranch diarahkan di kawasan
peternakan yang dialokasikan di Distrik Tabonji, Distrik Tubang dan Distrik Malind.
Total luas kawasan peternakan yang dialokasikan adalah sebesar 32.833,244 Ha.
Adapun arahan pengembangan peternakan antara lain adalah:
1.
2.
3.

4.

Pengembangan kegaitan peternakan dilakukan dengan penyediaan lahan untuk


peternakan yang berbentuk penggembalaan dan peternakan yang berbentuk
pengandangan (ranch)
Pengembangan peternakan besar dapat dilakukan melalui swasta, masyarakat,
atau kerjasama masyarakat dengan swasta, terutama untuk kampung-kampung
yang basis kegiatan usaha masyarakatnya adalah petani.
Pengembangan peternakan ini dapat juga diintegrasikan dengan pengembangan
pertanian yang menyediakan kebutuhan pakan ternak serta dengan
pengembangan budidaya perikanan air tawar, khususnya untuk jenis ternak
unggas.
Keseluruhan pengelolaan peternakan di Kabupaten Merauke sama dengan yang
harus dilakukan pada pengelolaan lahan kering, yaitu :
a.
Faktor-faktor sosio ekonomis :
Memberikan kemudahan pemasaran dalam bentuk pemasaran lokal dan
eksternal, pedagang dan koperasi, serta tingkat pencapaian daerah.
Memberikan kemudahan jasa-jasa pendukung dalam bentuk kredit/sarana
produksi, dan penyuluhan.
b.
Usaha-usaha produksi :
Pengembangan usaha peternakan rakyat yang mengikuti pengembangan
kawasan pertanian tanaman pangan.
Penyediaan sarana produksi peternakan meliputi : bibit, pakan tambahan
dan obat-obatan.
Meningkatan keterkaitan dengan agroindustri.
c.
Rumah tangga petani :
Pembinaan dan pengembangan keterampilan-keterampilan beternak
secara mandiri
Sumber-sumber penghasilan lain, seperti dari kegiatan pertanian atau
perikanan.
d.
Pengaturan fisik :
Diarahkan pada lahan-lahan berumput yang lokasinya relatif jauh dari
jalan-jalan besar untuk ternak-ternak besar dengan sistem kandang
yang memadai.
Diperkenankan adanya bangunan yang menunjang fungsi
kawasan/kegiatan utama untuk kepentingan peternakan.
Khusus untuk kawasan peternakan yang telah ada di Kawasan Taman Nasional
Wasur, sesuai rekomendasi hasil lokakarya Rencana Pengelolaan Taman Nasional

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

45

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

Wasur tahun 1992, ternak sapi yang ada di dalam kawasan Taman Nasional
Wasur akan dikeluarkan secara bertahap dengan prioritas peternakan di daerah
Tomerau dan Kondo.

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

46

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

e)

Kawasan Perikanan
Rencana Pengembangan Kawasan Perikanan dapat dibagi ke dalam dua kelompok,
yaitu perikanan darat dan perikanan laut. Pengembangan kegiatan perikanan darat
dapat dikembangkan dengan sistem budidaya, seperti keramba di sungai, kolam
ikan, maupun pada rawa-rawa yang potensial menjadi habitat ikan. Sedangkan untuk
kegiatan penangkapan pada perairan darat, seperti sungai ataupun rawa besar
diarahkan pada pemakaian alat-alat tradisional yang tidak membahayakan
lingkungan. Alokasi lahan untuk pengembangan perikanan darat Kabupaten Merauke
adalah sebesar 3.697,59 Ha yang terletak di Distrik Merauke dan Semangga.
Untuk kawasan perikanan laut, kegiatan budidayanya dapat diarahkan pada
pengembangan budidaya tambak atau penangkaran di wilayah pesisir Merauke
dengan tanpa menghilangkan tanaman bakau. Apabila terpaksa, maka perlu
dipersiapkan lahan pengganti untuk tanaman bakau tersebut. Sedangkan untuk
kegiatan penangkapan ikan, diarahkan pada kawasan-kawasan potensial perikanan
di perairan laut Arafura dan Selat Mariana.
Pengelolaan kawasan perikanan dilakukan untuk memanfaatkan potensi wilayah
yang sesuai untuk kegiatan perikanan dalam menghasilkan produksi perikanan
dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan untuk mewujudkan
pembangunan yang berkelanjutan. Secara umum rencana pengembangan kawasan
perikanan dan kawasan pusat niaga nelayan di Distrik Merauke dan Ilwayab
Kabupaten Merauke adalah sebagai berikut:

(1)

Perikanan Tangkap
Penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan dengan tingkat
selektifitas yang sesuai, baik terhadap jenis maupun ukuran ikan tangkapan,
baik di perairan darat maupun perairan laut
Penyediaan kapal-kapal penangkap ikan di perairan laut yang memadai
khususnya untuk skala penangkan besar
Pembuatan Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) dan fasilitas pendukungnnya
pada kawasan pelabuhan di Wanam, yang diproyeksikan menjadi Pusat
koleksi dan Distribusi hasil perikanan, baik perikanan darat maupun
perikanan laut
Pengembangan kawasan pelabuhan terpadu dapat dilengkapi dengan
pengembangan Pasar Ikan umum, baik untuk perikanan darat maupun laut
Pembangunan Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) dan fasilitas
pendukungnya pada kawasan pelabuhan yang berlokasi di Kelurahan
Karang Indah Distrik Merauke.

(2) Perikanan Budidaya

Penggunaan sistem budidaya yang sesuai, seperti sistem keramba apung di


sungai atau rawa-rawa besar yang dinilai cocok untuk perikanan air tawar

Pembinaan dan penyuluhan kepada masyarakat mengenai kegiatan


budidaya keramba dan kolam ikan air tawar

Pemeliharaan kualitas dan kelestarian ekosistem sungai melalui


penanganan terpadu pada daerah sempadan sungai dan daerah tangkapan
air

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

47

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

Pembuatan belt kawasan perikanan yang gabung dengan peternakan pada


kawasan perikanan darat
Pengembangan tambak di kawasan pesisir tanpa merusak tanaman
mangrove yang sudah ada disertai dengan pembangunan tempat
persemaian benih ikan
Pelestarian mangrove sebagai plasma nutfah untuk kegiatan perikanan
budidaya, khususnya tambak
Mengembangkan sistem penangkaran penyu dan kekayaan laut lainnya
tanpa menghancurkan habitat aslinya

4) Rencana Pengembangan Budidaya Usaha Pertanian Terpadu


Rencana pengembangan budidaya usaha pertanian terpadu ini merupakan rencana
pengintegrasian dari masing-masing kawasan pertanian, seperti pertanian lahan basah,
pertanian lahan kering, perkebunan, peternakan, dan perikanan untuk mencapai hasil
produksi yang paling optimal. Karena seiiring dengan perkembangan teknologi pertanian
dan kecenderungan pasar komoditi pertanian, maka pencapatain skala produksi tertentu
merupakan syarat utama untuk dapat bersaing di pasar domestik maupun internasional.
Oleh karena itu, dengan potensi lahan yang begitu luas, maka perlu disusun rencana
pengembangan budidaya pertanian secara umum, yang terdiri dari 3 (tiga) faktor, yaitu
rencana pengembangan teknologi budidaya pertanian, renana pengembangan
agroindustri (pasca panen), dan rencana pengembangan kelembagaan usaha tani.
5)

Rencana Pengembangan Teknologi Budidaya Pertanian


Teknologi budidaya usaha tani, dikelompokkan menjadi dua, yaitu teknologi pra panen
dan teknologi pasca Panen, dimana untuk teknologi pra panen meliputi: penyiapan
lahan, pengolahan lahan, pembibitan, penanaman, dan pemeliharaan, sedangkan untuk
teknologi pasca panen meliputi: panen, sortasi, pengeringan, pengepakan, dan
penyimpanan sampai distribusi pasar. Untuk pengembangan teknologi tentunya perlu
dikaitkan dengan kesiapan lahan, dan sumberdaya manusianya, dengan demikian
penerapan teknologi sebagai alat pendukung usaha pertanian bebar-benar optimal.
Identifikasi usaha tani yang dikembangkan atas dasar kesiapan lahan pekarangan
maupun lahan usaha serta komoditas yang diharapkan layak pasar, maka dukungan
teknologi yang sesuai dan dirasakan sangat mendukung.
Pengembangan teknologi budidaya di kawasan perencanaan diharapkan akan mampu
memberikan kontribusi bagi peningkatan produktivitas komoditi yang dimaksud. Selain
hal tersebut untuk lebih meningkatkan pendapatan perlu diperhatikan pula
pengembangan pasca panen, karena pengelolaan pasca panen yang baik akan
meningkatkan kualitas maupun kuantitas produk sehingga akan berpengaruh pula
terhadap pendapatan petani maupun peternak nantinya.
Sebagai contoh adalah adopsi teknologi yang cukup tinggi di Indonesia dapat dilihat
antara lain dari adopsi varietas unggul padi. Pada MK 1996 terlihat bahwa 84,2 % dari
2.900 ha sawah yang diidentifikasi ditanami varietas unggul, sedangkan pada MH
1996/1997 80,2% dari 3.677 ha luas sawah ditanami varietas unggul. Karena
karakteristik varietas unggul yang berdaya hasil tinggi dan resisten terhadap
hama/penyakit utama, maka dominasi varietas unggul dengan sendirinya akan
memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan produksi padi.

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

48

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

Dalam pengembangan tanaman padi sawah di Kabupaten Merauke maka perlu


dipilah-pilah metode yang tepat digunakan dalam masa pasca panen. Sesuai dengan
konsep awal pengembangan sektor pertanian pada bab sebelumnya. Sehingga perlu
diperhatikan perubahan-perubahan suhu, tanah, atau cuaca dalam bentuk program
penelitian dalam jangka waktu tertentu. Penelitian ini akan melibatkan peneliti,
lembaga usaha tani, dan tentunya petaninya sendiri. Contoh: Program Rintisan dan
Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian (PRIMA TANI) merupakan
suatu konsep baru diseminasi teknologi yang diharapkan dapat mempercepat
penyampaian informasi dan bahan dasar inovasi baru yang dihasilkan Badan Litbang
Pertanian.
Dalam kontek Kabupaten Merauke, program MIRE telah menyampaikan informasi,
penerapan, dan teknologi dalam mempercepat proses budidaya pertanian melalui
program inovasi teknologi yang dikembangkan, yaitu PTT (Pengelolaan Tanaman dan
Sumberdaya Terpadu).
Contoh lainnya adalah Komoditi tanaman jagung. Dalam pelaksanaan inovasi
teknologi yang dikembang oleh program MIRE, terdiri dari: (1) penggunaan varietas
jagung berdaya hasil tinggi baik hibrida maupun bersari bebas atau komposit, (2) benih
bermutu; (3) pemupukan berimbang spesifik lokasi terutama pupuk N, P, K; melalui
penggunaan Bagan Warna Daun (BWD) untuk menentukan waktu dan jumlah pupuk N
(urea) yang tepat, uji tanah dan petak omisi untuk menentukan status hara tanah (4)
penggunaan pupuk kompos atau bahan organik lain, sesuai dengan ketersediaan di
pasar atau kemampuan petani dalam menyediakan bahan organik serta in-situ, (5)
populasi tanaman optimal per hektar, yaitu jarak tanam 70 cm x 20 cm dengan jumlah
benih 1 (satu) biji per lubang atau jarak tanam 80 cm x 35 cm denga jumlah benih 2
(dua) biji per lubang, (6) penghendalian gulma menggunakan cara mekanis
(kored/cangkul) dan atau kimiawi (herbisida) yang ramah lingkungan, (7) pengelolaan
hasil pra dan pasca panen seperti pengeringan tongkol di lapangan sebelum panen
dan jagung segera dijemur dan dipipil setelah kadar air 18%.

6)

Saprodi (Sarana produksi)


Jumlah pedagang sarana produksi dan kios yang terdapat setiap desa Kabupaten
Merauke cukup minim. Kios sarana produksi yang akan dikembangkan di masingmasing KSP menyediakan sarana produksi untuk petani meliputi benih, pupuk, dan
obat-obatan tanaman. Jenis benih dan pupuk yang banyak dijual adalah benih padi
sawah, benih jagung dan pupuk Urea, SP36, ZA dan NPK. Jenis saprodi yang relatif
kurang diperdagangkan oleh kios-kios saprodi di desa-desa adalah obat-obatan
pertanian. Sementara keberadaan KUD yang berada masing-masing desa pertanian
berfungsi sebagai penyalur saprodi kepada anggota relatif tidak aktif lagi.
Kios sarana produksi tersebut akan menjual semua jenis bahan produksi yang
dibutuhkan petani setiap hari, sangat tergantung musim dimana saprodi dibutuhkan
petani atau disesuaikan musim tanam. Kios saprodi relatif akan menjual saprodi setiap
hari dengan daya jangkau sasarannya lebih luas. Daya dukung lembaga penyedia
sarana produksi pada program pertanian ditentukan oleh waktu atau musim dan jenis
komoditas yang diusahakan petani.

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

49

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

Sistem pembayaran untuk pembelian saprodi oleh pedagang ke distributor akan


berkembang secara alami dan pada umumnya adalah bervariasi yaitu ada yang
membayar kontan dan yang bayar sebagian (sistem panjar). Sistem pembayaran
untuk penjualan saprodi juga bervariasi; ada yang dibayar kontan, dipanjar yang baru
akan dibayar lunas setelah panen. Sistem pembayaran ini akan lebih mempermudah
dalam memperkuat modal produksi pertanian untuk mengejar jumlah dan kualitas
produksi yang lebih baik.
7)

Sistem Integrasi Tanaman Ternak Bebas Limbah (SITT-BL)


SITT-BL merupakan konsep pengembangan inovasi yang dikembangkan dalam
program MIRE. Sistem integrasi tanaman ternak bebas limbah dalam sistem usaha
agribisnis di suatu wilayah merupakan rancang bangun pengelolaan sumber daya
pertanian yang terintegrasi dan tuntas (Adnyana, 2005; Adnyana 2007). SITT-BL pada
dasarnya tidak terlepas dari kaidah-kaidah ilmu sistem usaha tani yang berkembang
lebih lanjut. Ilmu usaha tani itu sendiri merupakan suatu proses produksi biologis yang
memanfaatkan sumber daya alam, sumber daya manusia, modal, dan manajemen
yang jumlahnya terbatas (Prawira, Sugandi, dan Kusnadi, 1986). Berikut adalah
protipe sistem integrasi tanaman ternak bebas limbah.

8)

Rencana Pengembangan Agroindustri/Pasca Panen


Mengacu pada konsep agribisnis dalam pengembangan komoditas unggulan, maka
peningkatan produksi pertanian primer, diharapkan dapat mendorong tumbuhnya
industri-industri turunannya, baik turunan yang bersifat agribisnis/agroindustri maupun
yang non-agribisnis/non-agroindustri. Dengan demikian rencana pengembangan
agribisnis dan agroindustri perlu disusun, agar arah kegiatan investasi, kebijakan dan
pembangunan infrastruktur pendukung lebih terfokus serta memberikan prioritas bagi
pengembangan produksi komoditas unggulan, industri-industri turunan, distribusi,
pasar dan jasa penunjang lainnya.
Dalam pengembangan agroindustri/pasca panen dibutuhkan ketrampilan khusus yaitu
nilai manajerial. Manajemen usaha tani di tingkat petani pada umumnya dikelola
secara individu dan sederhana oleh petani yaitu tanam-panen-jual. Konsolidasi
manajemen usaha yang dimaksud di sini adalah, adanya reorientasi secara
menyeluruh, yaitu: (1) dari usaha individu ke usaha berkelompok dalam bentuk
korporasi atau badan usaha milik petani (BUMP), (2) dari usaha monokultur ke
diversifikasi usaha secara horizontal (penganeka-ragaman komoditas di tingkat onfarm), (3) dari tanam-panen-jual ke tanam-panen-olah-jual untuk menciptakan nilai
tambah, (4) perluasan usaha seperti on-farm, off-farm, bila perlu non-farm guna
menjaga kelangsungan hidup korporasi, (5) pengembangan warehouse system untuk
menyiasati pasar dengan cara tunda jual namun petani tetap menerima harga yang
menarik dari korporasi dan (6) penataan manajemen usaha yang lebih profesional
yang dikelola oleh seorang manajer yang memiliki pengetahuan dan kapasitas yang
memadai dan mendapat kepercayaan dari anggota.

9)

Rencana Pengembangan Kelembagaan Usaha Tani Penyedia Input


Dalam kaitan dengan peningkatan berusaha tani, maka pemenuhan terhadap hak atas
penyedia input tersebut secara langsung atau tidak langsung dipengaruhi salah
satunya oleh kebijakan pengembangan Koperasi, usaha mikro, kecil dan menengah,

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

50

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

disamping juga sektor riil dan perdagangan. Pengembangan Koperasi, Usaha Mikro,
Kecil dan Menengah (KUMKM) memiliki potensi yang besar dan strategis dalam
rangka usaha lanjutan sektor produksi pertanian, mengingat pertumbuhan dan aktifnya
sektor riil yang dijalankan oleh KUMKM mampu memberikan nilai tambah bagi
masyarakat, yaitu tersedianya lapangan kerja dan meningkatnya pendapatan petani.
Berkaitan dengan upaya peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat, maka beberapa
kegiatan pokok yang dilakukan Kementerian Koperasi dan UKM dalam rangka
program memberdayakan KUMKM antara lain:
a.
b.
c.
d.
e.

Program penciptaan iklim usaha yang kondusif bagi Koperasi dan UKM.
Program pengembangan sistem pendukung usaha KUKM
Program pengembangan kewirausahaan dan keunggulan kompetitif KUKM
Pemberdayaan usaha skala mikro
Peningkatan kualitas kelembagaan koperasi
10)
Rencana Pengembangan Permukiman dan Perumahan
Rencana pengembangan permukiman dan perumahan bertujuan untuk:
a) Mendistribusikan perkembangan fisik, kependudukan dan keramaian ke
Kabupaten Merauke bagian utara dan barat
b) Menyediakan lahan untuk memenuhi kebutuhan akan permukiman di seluruh
wilayah Kabupaten Merauke dan proyeksinya di masa mendatang
c) Menciptakan generator Kabupaten Merauke yang baru untuk menghidupkan
Kabupaten Merauke bagian utara dan barat.
Pengelolaan kawasan permukiman dilakukan untuk menyediakan tempat bermukim
yang sehat dan aman dari bencana alam serta dapat memberikan lingkungan yang
sesuai untuk pengembangan masyarakat dengan tetap memperhatikan kelestarian nilainilai budaya adat istiadat, mutu dan keindahan lingkungan alam untuk mewujudkan
pembangunan yang berkelanjutan.
a)
Permukiman Perkotaan
Dalam rencana permukiman perkotaan ini, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan
antara lain:
(a) Perumahan harus dilayani oleh satu sistem permukiman yang didasarkan pada
karakteristik fisik, sosial, budaya dan ekonomi yang layak, sehingga dapat
menunjang dan menyatukan kehidupan penduduk didalamnya
(b) Permukiman perkotaan harus bersifat mandiri, dalam artian penyediaan fasilitas
sosial dan fasilitas umum harus disediakan di kawasan permukiman tersebut.
(c) Untuk perkembangan sebuah permukiman menjadi suatu pusat kegiatan maupun
menjadi suatu kota, permukiman tersebut harus melalui suatu tahapan. Contohnya
permukiman menjadi desa, desa menjadi kota kecil, kota kecil menjadi kota
menengah, kota menengah menjadi kota besar dan seterusnya.
Pengembangan kawasan permukiman perkotaan diarahkan untuk menopang kegiatankegiatan produksi yang berlangsung. Dimana kedekatan jarak antara permukiman dan
kegiatan produksi merupakan kebutuhan yang perlu difasilitasi. Untuk itu dapat
dikembangkan sistem permukiman yang tersebar pada pusat-pusat pertumbuhan di
sekitar satuan-satuan perkebunan. Penyediaan lahan permukiman yang disediakan
berdasarkan struktur pusat pertumbuhan yang luasannya diarahkan sesuai dengan
satuan wilayah perkebunan yang dilayani.
Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

51

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

Ketersediaan areal pemukiman dan mendayagunakan prasarana dan sarana investasi


yang ada di daerah sekitarnya sehingga dapat mendorong kegiatan lain yang ada di
sekitarnya. Persyaratan lain dari pengembangan permukiman perkotaan ini adalah
pengembangan permukiman tidak mengganggu fungsi lindung dan tidak mengganggu
upaya kelestarian sumber daya alam. Perhitungan luas areal kawasan permukiman yang
disediakan adalah dengan asumsi setiap kepala keluarga membutuhkan luas lahan
permukiman sebesar 500 m2. Pengembangan dilakukan dengan penyediaan sarana dan
prasarana: pendidikan, kesehatan, kerohanian, air bersih, listrik dan komunikasi pada
wilayah perkotaan dan Kampung sesuai dengan kebutuhan rencana.
Sesuai dengan arahan rencana struktur ruang, maka kawasan perkotaan yang
direncanakan di Kabupaten Merauke terdiri dari:
1. Kawasan perkotaan yang berfungsi wilayah Kota yang otonom, meliputi Distrik
Merauke, Semanga, dan Tanah Miring.
2. Kawasan perkotaan yang berfungsi sebagai ibukota kabupaten dengan alternatif
lokasi di daerah Wanam
3. Kawasan perkotaan yang berfungsi sebagai ibukota Provinsi Papua Selatan
dengan alternatif lokasi di Wapeko atau di daerah Kebun Coklat
4. Kawasan perkotaan yang berfungsi sebagai ibukota distrik untuk setiap distrik di
Kabupaten Merauke
5. Kawasan perkotaan yang berfungsi sebagai pusat pertumbuhan baru, yaitu Kota
Terpadu Mandiri (KTM) Salor
b)
Permukiman Perdesaan
Permukiman Perdesaan di Kabupaten Merauke terdiri dari permukiman transmigrasi
dan permukiman (Kampung) penduduk lokal. Umumnya permukiman ini dihuni oleh
para pemukim yang bermata pencaharian sebagai petani dan sudah lama menetap di
kampung tersebut, walaupun bukan berasal dari suku bangsa asli Merauke. Permukiman
ini walaupun umumnya sederhana namun sudah cukup layak untuk dihuni.
Pengembangan permukiman kampung direncanakan dengan menggunakan PRA
(Participacy Rural Appraisal) yang merupakan suatu program pembangunan yang
berangkat dari pendekatan dari bawah (bottom up approach). Adapun langkah-langkah
yang perlu diambil dalam pendekatan PRA ini, yaitu : pemilihan obyek pembinaan,
proses pelaksanaan kegiatan, penyaluran bantuan dan pemantauan atau evaluasi.
Pengembangan permukiman perkampungan melalui PRA ini harus disesuaikan dengan
karakteristik kegiatan sosial ekonomi masyarakat kampung yang sangat terkait dengan
obyek pembinaan. Oleh karena itu, pengembangan permukiman perdesaan ini
diharapkan mampu tumbuh dengan tetap mempertahankan produktifitas lahan usaha
pertanian atau peternakan atau perikanan di pekarangannya sehingga dapat menopang
kebutuhan hidupnya.
c)
Permukiman Adat
Permukiman Adat merupakan tempat hunian masyarakat asli Merauke yang tersebar
hampir di seluruh distrik, sehingga perlu dilestarikan keberadaannya. Walaupun
kebanyakan penduduk asli Merauke saat ini sudah ada yang mengembangkan
permukimannya dan meninggalkan pola-pola permukiman adat tradisional, akan tetapi
Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

52

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

untuk permukiman yang ada tetap diberi perhatian misalnya memberikan batasanbatasan khsusus, seperti enclavement.
Khusus untuk bagian dari permukiman masyarakat seperti dusun sagu, bagian dari
permukiman adat ini dapat dibudidayakan sebagai Agroforestry. Akan tetapi
pemanfaatannya terbatas pada penduduk lokal saja yang memiliki dusun sagu tersebut.
Hal ini sebagai upaya mempertahankan ketahanan pangan dari penduduk setempat,
selain sebagai kawasan pelestarian budaya.
Permukiman ini memiliki tatanan kehidupan sendiri yang tidak harus digantikan dengan
model permukiman modern seperti saat ini. Namun kemajuan teknologi yang pesat mau
tidak mau harus diperkenalkan sebagai alat bantu bagi mereka untuk memahami
perlunya perubahan hidup ke arah yang lebih sejahtera, terutama dari hal mata
pencaharian untuk hidup yang lebih baik.
Oleh karena itu, pengembangan permukiman adat perlu dilakukan melalui kebijakan
yang komprehensif, tidak hanya sebatas bantuan pembangunan perumahan, tetapi juga
pada upaya peningkatan nilai ekonomi dari kegiatan usaha masyarakat tersebut melalui
kegiatan pendidikan, pelatihan, serta penyuluhan secara intensif.
i. Kawasan Industri
Sektor basis Kabupaten Merauke selama ini adalah sektor pertanian, sub sektor yang
sangat kuat menunjang perekonomian Kabupaten Merauke adalah pertanian lahan
basah dan pertanian lahan basah, perikanan, dan peternakan dikarenakan sumber daya
alam yang banyak tersedia di Kabupaten Merauke adalah sumber daya pertanian,
perikanan, dan peternakan. Dengan demikian, maka pengembangan kawasan industri
yang tepat untuk di Kabupaten Merauke adalah industri yang inputnya dari pertanian,
yaitu industri pengolahan hasil pertanian, perikanan, dan peternakan tersebut. Selain itu,
industri
yang baik untuk dikembangkan di Kabupaten Merauke adalah industri
penunjang sektor pertanian, perikanan, dan peternakan yang dapat membantu
meningkatkan efektifitas dan efisiensi pertanian, perikanan, dan peternakan tersebut.
Rencana pengembangan kawasan industri-industri tersebut adalah sebagai berikut;
a) Kawasan Industri pengolahan hasil pertanian di Distrik Kurik, Muting dan Tanah
Miring
b) Kawasan industri pengolahan hasil perikanan di Distrik Ilwayab
c) Kawasan industri pengolahan hasil peternakan di Distrik Ngguti dan Kurik
d) Kawasan Industri penunjang pertanian, perikanan, dan peternakan di Distrik
Merauke
e) Kawasan Industri penunjang kehutanan
Pengembangan perindustrian memiliki persyaratan dan tujuan sebagai berikut:
a) Pengembangan Kawasan Industri Baru yang lebih terpadu terintegrasi dengan
sistem pelayanan wilayah dan menjadi salah satu magnet pertumbuhan suatu
kawasan baru.
b) Pengembangan pelabuhan dan dermaga industri terpadu yang dapat menjadi sentra
pelabuhan untuk kawasan industri sekitarnya
c) Pengembangan kawasan Industri baru akan dibarengi dengan pembangunan
jaringan jalan / infrastruktur wilayah yang dapat menghubungi ke kawasan industri
baru tersebut
Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

53

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

d) Kawasan industri baru diwajibkan untuk dilengkapi dengan fasilitas pengolahan


limbah
e) Pengelolaan kawasan budidaya peruntukan industri dilakukan untuk meningkatkan
nilai tambah ruang guna memenuhi kebutuhan ruang untuk pengembangan kegiatan
industri, dengan tetap mempertahankan kelestarian lingkungan dalam mewujudkan
pembangunan yang berkelanjutan.
f) Kriteria Penetapan
Kawasan yang secara teknis dapat digunakan untuk kegiatan industri, serta
tidak mengganggu kelestarian lingkungan
Kawasan yang memiliki kelayakan fisik lokasi sebagai berikut:
lahan relatif datar (lereng <5 %),
luas minimal 5 Ha,
dukungan prasarana jalan regional/lokal dengan ROW 8 m,
dukungari prasarana air bersih,
dukungan prasarana energi listrik,
dukungan prasarana telekomunikasi,
dukungan prasarana pembuangan/pengolahan limbah industri.
tidak menimbulkan gangguan terhadap permukiman penduduk kawasan
disekitarnya yang apabila dikembangkan kegiatan industri dapat
memberikan manfaat secara, antara lain:
o meningkatkan produksi hasil industri dan meningkatkan dan daya guna
investasi yang ada di daerah sekitarnya;
o meningkatkan kegiatan sektor dan ekonomi di daerah sekitarnya;
o tidak mengganggu kelestarian sumber daya alami; meningkatkan
pendapatan masyarakat;
o meningkatkan kontribusi pada pendapatan daerah dan nasional;
o meningkatkan kesempatan kerja dan peluang berusaha;
o meningkatkan ekspor;
o meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
g) Kawasan industri dikembangkan di setiap pusat-pusat permukiman khususnya untuk
menunjang produksi perkebunan di tiap-tiap satuan perkebunan,dengan prioritas
lokasi pada Distrik Merauke, Ngguti, Ilwayab dan Muting.
h) Bentuk kegiatan industri berupa industri pengolahan pertanian (agroindustri) seperti
pabrik kelapa sawit yang mengolah kelapa sawit menjadi CPO (CrudePalmOil),
pengolahan karet (crumb rubber), Kakao, Kopi, pengemasan buah-buahan dan
sayuran, pengolahan dan pengalengan daging dan ikan, pengolahan hasil hutan,dll
i) Dalam kapasitasnya, setiap pabrik kelapa sawit mampu mengolah 5.000 ha lahan
kelapa sawit menjadi CPO sebesar 30 ton tbs/jam dan 10.000 ha lahan kelapa sawit
sebesar 60 ton tbs/jam. Masing-masing pabrik kelapa sawit tersebut membutuhkan
lahan seluas 10 ha.
j.

Kawasan Wisata
Pengelolaan kawasan pariwisata dilakukan untuk memanfaatkan potensi keindahan
alam dan budaya guna mendorong perkembangan pariwisata dengan memperhatikan
kelestarian nilai-nilai budaya adat istiadat, mutu dan keindahan lingkungan alam untuk
mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Rencana Pengembangan Pariwisata
mengikuti Konsep pengembangan 3 A (Access, Acommodation, Attraction). Konsep 3A
mengungkapkan pentingnya mengembangakan Objek Wisata dengan mendukung

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

54

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

faktor-faktor wisatawan yang datang ke Objek Wisata seperti Aksesibilitas ke Objek


wisata, Akomodasi untuk para wisatawan dan penjagaan nilai-nilai Atraksi dari sebuah
Objek Wisata.
Kriteria Penetapan
o kawasan yang secara teknis dapat digunakan untuk kegiatan pariwisata, serta tidak
mengganggu kelestarian lingkungan
o kawasan yang apabila digunakan untuk kegiatan pariwisata secara ruang dapat
memberikan manfaat:
- meningkatkan devisa dari sektor pariwisata dan meningkatkan investasi di
daerah;
- mendorong kegiatan lain yang ada di sekitarnya;
- tidak mengganggu fungsi lindung;
- tidak mengganggu upaya kelestarian sumber daya alam;
- meningkatkan pendapatan masyarakat;
- meningkatkan kontribusi pada pendapatan daerah dan nasional;
- meningkatkan kesempatan kerja;
- melestarikan budaya lokal;
- meningkatkan perkembangan masyarakat;
Berdasarkan pemaparan mengenai konsep 3A diatas, maka rencana pengembangan
kawasan wisata di Kabupaten Merauke dilakukan melalui :
o Pengembangan paket wisata alam di kawasan Taman Nasional Wasur (Atraksi)
o Pengembangan kawasan resort wisata pantai Lampu Satu Merauke (Atraksi)
o Pengembangan jaringan jalan ke objek wisata baru seperti Pantai Nasai, Pantai
Kaiburse, Pantai Buti, Pantai Wambi (Okaba), dan Patung Kristus Raja (Aksesibilitas)
o Pengembangan angkutan persewaan khusus ke tempat-tempat wisata (Akomodasi)
o Pengembangan wisata belanja lintas batas pada ugu Sabang Merauke di Sota
(Atraksi)
o meningkatkan ekspor;
o meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
j) Kawasan industri dikembangkan di setiap pusat-pusat permukiman khususnya untuk
menunjang produksi perkebunan di tiap-tiap satuan perkebunan,dengan prioritas
lokasi pada Distrik Merauke, Ngguti, Ilwayab dan Muting.
k) Bentuk kegiatan industri berupa industri pengolahan pertanian (agroindustri) seperti
pabrik kelapa sawit yang mengolah kelapa sawit menjadi CPO (CrudePalmOil),
pengolahan karet (crumb rubber), Kakao, Kopi, pengemasan buah-buahan dan
sayuran, pengolahan dan pengalengan daging dan ikan, pengolahan hasil hutan,dll
l) Dalam kapasitasnya, setiap pabrik kelapa sawit mampu mengolah 5.000 ha lahan
kelapa sawit menjadi CPO sebesar 30 ton tbs/jam dan 10.000 ha lahan kelapa sawit
sebesar 60 ton tbs/jam. Masing-masing pabrik kelapa sawit tersebut membutuhkan
lahan seluas 10 ha.

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

55

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

Peta. 2.4 Rencana Pola Ruang Kabupaten Merauke

Sumebe : Bappeda Kabupaten Merauke

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

56

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

2.5 Sosial dan Budaya


2.5.1 Fasilitas Pendidikan
Berikut ini jumlah sarana pendidikan di Kabupaten Merauke dalam tabel 2.11 :
Tabel 2.11 Fasilitas pendidikan yang tersedia di Kabupaten Merauke
Jumlah Sarana Pendidikan
Nama Kecamatan

Umum
SD
Merauke
34
Naukenjerai
5
Sota
5
Semangga
11
Tanah Miring
16
Kurik
11
Anim-Ha
5
Malind
7
Jagebob
14
Muting
12
Ulilin
11
Elikobel
12
Okaba
11
Tubang
5
Ngguti
7
Kaptel
4
Tabonji
6
Ilwayab
5
waan
8
kimaam
8
Jumlah
197
Sumber : Merauke Dalam Angka 2013
2.5.2

SLTP
13
1
3
3
4
2
1
3
3
2
1
2
2
1
1
1
1
1
1
2
48

SMA
11
0
0
1
1
1
0
0
1
1
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
17

SMK
6
1
1
0
1
0
0
1
1
0
0
1
1
0
0
0
0
0
0
0
13

Agama
MI
MTs
4
3
0
0
0
0
0
0
0
0
1
1
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
6
4

MA
4
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
5

Jumlah penduduk Miskin


Untuk Jumlah Rumah Tangga Miskin yang ada di Kabupaten Merauke untuk setiap distriknya
belum ada data yang tersedia.
Tabel 2.12 Jumlah Penduduk Miskin per Kecamatan
Nama Kecamatan
Merauke
Naukenjerai
Sota
Semangga
Tanah Miring
Kurik
Anim-Ha
Malind
Jagebob
Muting

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

Jumlah penduduk Miskin

57

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

Ulilin
Elikobel
Okaba
Tubang
Ngguti
Kaptel
Tabonji
Ilwayab
waan
kimaam
Jumlah
2.5.3

Jumlah Rumah dan Status Kepemilikan


Dari jumlah kecamatan yang ada di Kabupaten Merauke penduduk terbanyak terdapat di
Kecamatan Merauke dan Kecamatan tanah Miring karena kepadatan penduduk tersebut
maka berkontribusi besar terhadap jumlah rumah penduduk yang ada di Kecamatan Merauke
dengan jumlah 26.924 buah rumah serta di Kecamatan Tanah miring sebanyak .285 buah
rumah. Hal ini disebabkan sifat perkotaan yang cukup mencolok di daerah ini serta
kelengkapan fasilitas maupun prasarana yang ada serta lokasi yang berdekatan dengan Kota
Merauke membuatnya mampu menarik penduduk untuk tinggal disana. Berikut jumlah rumah
per kecamatan dalam tabel 2.13 Jumlah rumah per kecamatan.
Tabel 2.13 Jumlah Rumah per Kecamatan
Nama Kecamatan
Jumlah Rumah
Merauke
26.924
Naukenjerai
536
Sota
935
Semangga
4.340
Tanah Miring
5.285
Kurik
4.259
Anim-Ha
513
Malind
2.803
Jagebob
2.548
Muting
1.351
Ulilin
1.256
Elikobel
1.150
Okaba
1.182
Tubang
673
Ngguti
436
Kaptel
375
Tabonji
1.370
Ilwayab
1.304
waan
1.085
kimaam
1.586
Jumlah
59.911

2.6 Kelembagaan Pemerintah Dareah


Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

58

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

Peraturan pemerintah yang menjadi dasar pedoman pembentukan perangkat daerah Kabupaten
Merauke adalah;
1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, terakhir dengan
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008
Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438).
2. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4741).
3. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 57 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penataan
Organisasi Perangkat Daerah.
Struktur organisasi dan tata kerja (SOTK) Pemerintah Kabupaten Merauke berdasarkan Peraturan
Daerah Kabupaten Merauke, sebagai berikut;
Bagan Struktur Organisasi Pemerintahan Kabupaten Merauke dapat dilihat pada gambar di
bawah ini:

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

59

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

Gambar 2.1 Struktur Organisasi Pemerintah Kabupaten Merauke


BUPATI/WAKIL
BUPATI

Gambar 2.2. SKPD Yang Memiliki Keterkaitan Tupoksi Langsung atau Tidak Langsung dengan Pembangunan Sanitasi di Kabupaten Merauke
Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

60

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

BUPATI

BAPPEDA

DINAS PU

DINAS TATA
KOTA
&
PEMAKAMAN

DINAS
KESEHATAN

- Bidang Pengembangan
Wilayah, fisik sarana
prasarana
- Bidang Ekonomi &
pembangunan dunia
usaha
- Bidang Sosial Budaya
- Bidang
Penelitianpengembang
an &statistik

- Bidang
Cipta
Karya

- Bidang
kebersihan
&
persampah
an
- Bidang
perencanaa
n tata ruang
- Bidang
Penataan
lahan
&
bangunan

- Bidang
P2PL

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

BADAN
PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT
KAMPUNG
- Bidang
Pemberdayaan
partisipasi
masyarakat

61

DINAS
KOMUNIKASI
&
INFORMATIKA
- Bidang
media
&
pers

BADAN LINGKUNGAN
HIDUP
- Bidang pengendalian
pencemaran
dan
kerusakan lingkungan
- Bidang
pengamananpelestari
an dan partisipasi

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

2.6.1

Susunan Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Merauke


1. Ketua di jabat oleh Sekretaris daerah yang secara formal
melaksanakan fungsi dan memiliki kewenangan koordinatif terhadap
SKPD pengelola sanitasi dan selaku Ketua Tim Anggaran Pemerintah
Daerah.
2. Sekretaris, dijabat oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan
yang secara formal melaksanakan fungsi membantu sekretaris daerah
atau tugas dan fungsi lainnya yang ditetapkan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
3. Ketua Bidang, dijabat oleh kepala SKPD, dan wakil ketua bidang
dijabat oleh pejabat setingkat kepala bidang (kabid) pada SKPD
terkait yang kesehariannya melaksankan tugas dan fungsi kepala
bidang.
4. Anggota pada setiap bidang berasal dari pejabat/staf dari SKPD yang
bertanggung jawab melaksanakan tugas dan fungsi setiap bidang dan
melibatkan pejabat/staf dari SKPD lainnya yang dalam melaksankan
tugas dan fungsinya memiliki hubungan keterkaitan dengan bidang
dimaksud.

2.6.2

Tugas Kelompok Kerja Kabupaten Merauke


1. Ketua Pokja ( Sekretaris Daerah)
a.
Mengendalikan dan bertanggung jawab
dalam pelaksanaan peran, fungsi dan tugas pokja sanitasi kabupaten
merauke.
b.
Mengendalikan pengelolaan kerja pokja
sanitasi kabupaten Merauke agar tetap sesuai dengan misi kabupaten
Merauke.
c.
Memberikan arahan kebijakan terkait
pelaksanaan fungsi pokja sanitasi kabupaten Merauke.
d.
Memastikan optimalisasi dukungan
seluruh sumberdaya bagi pokja sanitasi kabupaten Merauke
2. Sekretaris
a. Mengoordinasikan perencanaan dan pelaksanaan teknis program kerja pokja
sanitasi kabupaten Merauke.
b. Merumuskan Kebijakan penguatan kelembagaan pokja sanitasi kabupaten
merauke.
c. Memberikan Masukan Strategis terkait aspek kelembagaan dalam penyusunan
SSK dan penyempurnaan terkait aspek kelembagaan dalam BPS dan SSK dari
hasil review pokja sanitasi propinsi.
d. Menghimpun laporan bidang-bidang kerja pokja sanitasi kabupaten Merauke.
e. Menghimpun Laporan bidang-bidang kerja pokja sanitasi kabupaten Merauke
f. Fasilitasi Pelaksanaan monitoring dan evaluasi PPSP oleh Pokja Sanitasi
Kabupaten Merauke Serta konsultasi ke Propinsi dan Pusat.
g. Menyiapkan Pembentukan kelompok Kerja (Pokja) sanitasi Kabupaten Merauke
h. Menyiapkan Bahan Masukan Kepada Pokja Sanitasi Propinsi dalam penyusunan
roadmap sanitasi propinsi
i. Fasilitasi tim pokja sanitasi kabupaten Merauke pertemuan tahunan kabupaten
/Kota peserta program PPSP dan penguatan kapasitas kelembagaan PPSP.

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

62

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

j.

Fasilitasi tim pokja saitasi kabupaten kota dalam melaksanakan penyusunan BPS
dan SSK.
k. Melaksanakan tugas lain terkait dengan pelaksanaan program PPSP yang
ditugaskan oleh ketua Pokja sanitasi Kabupaten Merauke.
l. Bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas terhadap ketua pokja sanitasi
Kabupaten Merauke.
3. Bidang Perencanaan
a.
Mengkoordinasikan
pelaksanaan
penyusunan BPS,SSK dan MPS
b.
Memstikan Bahwa BPS dan SSK
menjadi bahan masukan dalam penyusunan rencana pembangunan jangka
menengah program PPSP yang di rumuskan kedalam dokumen RPJMD.
c.
Memastikan
kesesuaian
prioritas
program dan kegiatan PPSP yang dituangkan dalam SSK telah selaras
dengan RPJMD.
d.
Menyusun program dan kegiatan
prioritas PPSP bersama-sama dengan bidang lain untuk bahan masukan
penyusunan RKPD sebagai bahan penyusunan RKA-SKPD dalam rangka
penganggaran kedalam APBD.
e.
Menyiapkan draft MPS yang berisikan
program, kegiatan prioritas sanitasi yang bersekala komunal, kawasan dan
kota untuk disampaikan kepada pokja sanitasi provinsi.
f.
Membuat laporan kerja terkait bidang
tugas secara berkala kepada ketua pokja sanitasi kabupaten/kota.
g.
Melaksanakan tugas lain terkait dengan
bidang perencanaan yang ditugaskan oleh ketua pokja
sanitasi
kabupaten/kota.
h.
Bertanggung jawab atas pelaksanaan
tugas kepada ketua pokja sanitasi kabupaten/kota.
4. Bidang Pendanaan
a. Mempersiapkan bahan masukan dalam rangka penyusunan BPS,SSK, dan MPS.
b. Memberikan masukan terhadap kebijakan dan peraturan daerah dalam upaya
optimalisasi pengelolaan sanitasi terutama terkait pendanaan sanitasi di
kabupaten/kota.
c. Memberikan masukan strategis terkait aspek pendanaan dalam penyusunan SSK
dan penyempurnaan terkait aspek pendanaan dalam BPS dan SSK dari hasil
review pokja sanitasi provinsi.
d. Menyiapkan bahan masukan bidang pendanaan kepada pokja sanitasi dalam
pelaksanaan/implementasi program PPSP.
e. Meneliti RKA-SKPD kabupaten/kota untuk memastikan pendanaan pada setiap
tahapan program PPSP dialokasikan kepada APBD.
f. Membuat laporan kerja terkait bidang pendanaan secara berkala kepada ketua
pokja sanitasi kabupaten/kota.
g. Melaksanakan tugas lain terkait dengan bidang pendanaan yang ditugaskan oleh
ketua pokja sanitasi kabupaten/kota.
h. Bertanggung jkawab atas pelaksanaan tugas kepada ketua pokja sanitasi
kabupaten/kota.
5. Bidang Teknis
Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

63

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

a. Menyampaikan bahan masukan aspek teknis dalam rangka penyusunan BPS,SSk


dan MPS.
b. Memberikan masukan strategis terkait aspek teknis penyusunan SSk dan
penyempurnaan BPS dan SSK dari hasil review pokja sanitasi propinsi.
c. Menyiapkan bahan masukan bidang teknis kepada pokja sanitasi dalam
pelaksanaan pembangunan fisik dan non fisik program PPSP agar sesuai dengan
rencana yang ditetapkan.
d. Membuat laporan kerja terkait bidang tugas secara berkala kepada ketua pokja
sanitasi kabupaten/kota.
e. Melaksanakan tugas lain terkait dengan bidang teknis yang ditugaskan oleh ketua
pokja sanitasi kabupaten/kota.
f.
Bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas kepada ketua pokja sanitasi
kabupaten/kota.
6. Bidang Kesehatan, Komunikasi dan Pemberdayaan Masyarakat
a. Mempersiapkan bahan masukan dalam rangka penyusunan BPS,SSK dan draft
MPS
b. Menyiapkan bahan sosialisasi, advokasi dalam rangka pelaksanaan program PPSP.
c. Menyiapkan bahan untuk peningkatan kesadaran masyarakat agar terlibat secara
aktif untuk menjadi pelaku individu dan masyarakat yang menjaga dan
mengembangkan sanitasi sehat di kabupaten/kota.
d. Menyiapkan bahan masukan untuk penyusunan BPS, serta memberikan input
strategis aspek PMJK dan komunikasi terhadap penyusunan SSK.
e. Membuat bahan laporan kerja terkait bidang tugas secara berkala kepada ketua
pokja sanitasi kabupaten/kota
f. Melaksanakan tugas lain terkait dengan bidang komunikasi, kesehatan dan
pemberdayaan masyarakat yang ditugaskan oleh ketua pokja sanitasi
kabupaten/kota.
g. Bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas kepada ketua pokja sanitasi
kabupaten/kota.
7. Bidang Pemantauan dan Evaluasi
a. Menyiapkan bahan masukan dalam rangka penyusunan BPS,SSK dan draft MPS.
b. Menyiapkan bahan untuk kegiatan pemantauan dan evaluasi terhadap kemajuan
pelaksanaan program PPSP pada setiap SKPD terkait.
c. Menyusun rekomendasi tindak lanjut hasil temuan pelaksanaan program PPSP di
kabupaten/kota untuk dilakukan perbaikan oleh SKPD terkait.
d. Membuat laporan kerja bidang secara berkala kepada ketua pokja sanitasi
kabupaten/kota.
e. Melaksanakan tugas lain terkait dengan bidang tugas yang ditugaskan oleh ketua
pokja sanitasi kabupaten/kota.
f. Bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas kepada ketua pokja sanitasi
kabupaten/kota.

8. Sekretariat Pokja Sanitasi


a. Menyiapkan pelaksanaan rapat-rapat internal pokja sanitasi, lokakarya dan
pelatihan-pelatihan.
Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

64

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Merauke

b. Melakukan pengolahan dan menganalisa data kemajuan pelaksanaan PPSP


kabupaten/kotamelalui web ppsp.nawasis.info.
c. Menghimpunbahan laporan kerja terkait bidang tugas pokok pokja sanitasi dan
laporan sekretariat pokja sanitasi serta menyusun laporan program PPSP untuk
dilaporkan secara berkala kepada ketua pokja sanitasi kabupaten/kota.
d. Menyiapkan laporan kerja perkembangan pelaksanaan program PPSP kepada
Bupati/Walikota.
2.7 Komunikasi dan Media
Untuk saat ini data terkait dengan kegiatan komunikasi dalam hal promosi hiegene dan sanitasi dapat
dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2.14 kegiatan Komunukasi terkait Promosi Higiene dan Sanitasi
No

Kegiatan

Tidak ada

Tahun

Dinas
Pelaksana

Tujuan
Kegiatan

Khalayak
Sasaran

Pesan
Kunci

Pembelajaran

Untuk Media Komunikasi yang terkait dalam kegiatan sanitasi juga masih belum tersedia untuk saat ini.
Tabel : 2.15 Media Komunikasi dan Kerjasama terkait Sanitasi
No
1.

Jenis
Media
a)
Tidak ada

Khalayak
b)

Pendanaan
c)

Pokja Sanitasi Kabupaten Merauke

Isu
yang Pesan Kunci Efektivitas
Diangkat
e)
f)
d)

65