Anda di halaman 1dari 11

BAB 2 GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

2.1 GAMBARAN UMUM WILAYAH PROVINSI PAPUA


2.1.1 Letak Geografis

Secara geografis, Papua berada di antara garis meridian 2025 Lintang Utara 9030 Lintang Selatan dan antara garis bujur 1300 45 - 1410 48 Bujur Timur yang membentang dari Barat ke Timur dengan silang 110 atau 1.200 Km. Dengan demikian daerah Papua berada di daerah yang beriklim tropis dengan cuaca yang panas dan lembab di daerah pantai, serta cuaca dingin dan bersalju pada bagian yang tertinggi di daerah Pegunungan Jayawijaya. 2.1.2 Administratif

Provinsi Papua yang terdiri atas 28 kabupaten dan 1 kota. Masing-masing wilayah administrasi tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.1

Tabel 2.1 Nama Kabupaten/Kota dan Ibukota masing-masing, di Provinsi Papua No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kabupaten/Kota Kota Jayapura Kabupaten Merauke Kabupaten Jayawijaya Kabupaten Jayapura Kabupaten Nabire Kabupaten Kep. Yapen Kabupaten Biak Numfor Kabupaten Paniai Kabupaten Puncak Jaya Kabupaten Mimika Kabupaten Bouven Digul Kabupaten Mappi Kabupaten Asmat Kabupaten Yahukimo Kabupaten Pegunungan Bintang Nama Ibukota Jayapura Merauke Wamena Sentani Nabire Serui Biak Enarotali Mulia Timika Tanah Merah Keppi Agats Dekai Oksibil

No 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29

Kabupaten/Kota Kabupaten Tolikara Kabupaten Sarmi Kabupaten Keerom Kabupaten Waropen Kabupaten Supiori Kabupaten Mamberamo Raya Kabupaten Mamberamo Tengah Kabupaten Yalimo Kabupaten Lanny Jaya Kabupaten Nduga Kabupaten Puncak Kabupaten Dogiyai Kabupaten Intan Jaya Kabupaten Deiyai

Nama Ibukota Karubaga Sarmi Waris Botawa Sorendeweri Burmeso Kobakma Elelim Tiom Kenyam Ilaga Kigamani Sugapa Waghete

Sumber : RTRWP PAPUA Tahun 2010-2030

Adapun batas batas administratif wilayah Papua adalah sebagai berikut: Sebelah Timur berbatasan dengan Papua New Guinea . Sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Papua Barat dan Kepulauan Maluku. Sebelah Utara berbatasan dengan Samudera Pasifik. Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia, Laut Arafuru, Teluk Carpentaria dan Benua Australia.

Secara keseluruhan, wilayah Papua terdiri dari 319 Kecamatan yang terdistribusi ke masingmasing kabupaten di Provinsi Papua sebanyak 214 kecamatan dan di Provinsi Irian Jaya Barat sejumlah 105 kecamatan.

Gambar 2-1 Peta Administrasi Papua

2.1.3

Kependudukan

Penduduk asli yang mendiami wilayah Papua sebagian besar termasuk ras suku Melanesia, karena ciri-ciri seperti warna kulit, rambut, warna rambut yang sama dengan penduduk asli di bagian utara, tengah dan selatan yang memiliki ciri-ciri tersebut. Di bagian barat (Sorong dan Fak Fak) penduduk di daerah pantai mempunyai ciri yang sama dengan penduduk di Kepulauan Maluku, sedangkan penduduk asli di pedalaman mempunyai persamaan dengan penduduk asli di bagian tengah dan selatan. Selain penduduk asli, di Papua terdapat juga penduduk yang berasal dari daerah-daerah lainnya seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Maluku; yang berada di Papua sebagai Pegawai Negeri, ABRI, Pengusaha, Pedagang, Transmigrasi dan sebagainya, bahkan juga ada yang dari luar Indonesia, misalnya Amerika, Perancis, Jerman dan lain-lain yang berada di Papua sebagai Missionaris dan Turis. Kepadatan penduduk yang terbesar setiap tahunnya adalah di Kabupaten Jayawijaya Kota Jayapura, sedangkan yang terendah berada di Kabupaten Waropen, Pada tahun 2007, kepadatan penduduk di Provinsi papua adalah 6,46 jiwa per Km2 . Di Kota Jayapura sendiri pada Tahun 2007 kepadatan penduduknya mencapai 239,71 jiwa per Km2, sedangkan di Kabupaten Waropen kepadatan penduduknya pada tahun yang sama hanya 0,94 jiwa per Km2, artinya tidak mencapai 1 orang per Km2. Hal ini menunjukan bahwa di Kabupaten tersebut masih terdapat banyak wilayah yang tidak ada penduduknya. 2.1.4 Perekonomian

Kondisi ekonomi makro Provinsi Papua pada tahun 2006 menunjukkan adanya pertumbuhan positif sebesar 6,47% (angka sementara) sedangkan pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua pada Tahun 2007 akan meningkat sebesar 7% dengan asumsi meningkatnya dana perimbangan dan dana otsus. Pertumbuhan sebesar 7% pada Tahun 2007 didorong oleh percepatan pertumbuhan di semua sektor ekonomi, hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan sektor ekonomi di Provinsi Papua berlangsung secara terus-menerus dan semakin membaik bila diukur dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan pada tahun 2000. Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi tersebut didukung oleh kondisi ekonomi makro Indonesia yang ditandai dengan tingkat inflasi nasional sebesar 6,40%. Nilai tukar rupiah yang relatif stabil dan tingkat suku bunga SBI yang rendah sebesar 7,33% serta suku bunga kredit yang cenderung menurun yang merupakan stimulus hasil perkembangan ekonomi Papua. Kondisi perekonomian tahun 2007 secara umum relatif dipengaruhi oleh berbagai kebijakan yang diambil dan diletakkan pada periode tahun-tahun sebelumnya. Sektor Pertambangan dan Penggalian masih tetap berperan penting dalam pembentukan PDRB tahun 2005, disusul Sektor

Pertanian sebesar, dan Sektor Jasa. Bila Sektor Pertambangan dan Galian dieleminasi, Sektor Pertanian akan tetap berperan penting. 2.1.5 Transportasi

Prasarana dan sarana di Papua diakui masih relatif terbatas. Hal ini disebabkan terutama karena beratnya medan yang bergunung-gunung, rawa dan terpencarnya pemukiman penduduk sehingga menyulitkan pembangunannya. Namun demikian pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan asesibilitas melalui pembangunan jalan darat. Bagaimanapun beratnya, jalan darat harus cepat dibangun karena dengan adanya jalan darat yang dapat melayani angkutan secara massal dengan biaya murah akan dapat mempercepat pembangunan daerah Papua secara keseluruhan. Berdasarkan hal tersebut Pemerintah Propinsi Papua sejak beberapa tahun telah menempatkan penembusan isolasi sebagai salah satu prioritas pembangunannya. Jalan Sampai dengan akhir Tahun 2007 di Papua terdapat 23.153 meter jembatan dan 31.315,86 km terdiri dari : Jalan Nasional 1.794,25 Km Jalan Provinsi 17.389,13 Km Jalan Kabupaten 12.131,78 Km Transportasi Sungai Terdapat dua rute angkutan sungai utama di Papua yaitu Sungai Mamberamo di daerah utara sekitar Jayapura/Waropen dan Sungai Digul di daerah selatan di sekitar Merauke. Sedangkan Ferry banyak dipergunakan untuk penyeberangan antar pulau seperti antara Biak, Nabire, Serui, Merauke dan beberapa daerah lainnya yang diusahakan oleh Direktoral LLASDP Kementerian Perhubungan. Transportasi Laut Untuk angkutan laut, diperkirakan sekitar 75 % penumpang dan pengiriman barang di Papua dilakukan melalui angkutan laut. Jalur pelayaran untuk penumpang antar beberapa kota besar di Papua dan jalur antar Provinsi dilayani oleh PT. PELNI yang mengoperasikan kapal-kapal penumpang mewah seperti KM.Sinabung, KM. Labobar, KM. Dorolonda dan KM. Nggapulu. Transportasi Udara Di Papua terdapat 255 lapangan terbang besar dan kecil. Hampir semua lapangan terbang yang berada di Ibu kota Kabupaten dapat didarati pesawat kelas DHC 6, khusus untuk Biak dan Timika karena merupakan lapangan terbang Internasional maka dapat didarati Jumbo Jet seperti Boeing 747 dan Air Bus.

2.2 GAMBARAN UMUM KABUPATEN MERAUKE


2.2.1 Letak Geografis

Kabupaten Merauke adalah salah satu kabupaten di provinsi Papua, Indonesia. Ibukota kabupaten ini terletak di Merauke. Kabupaten Merauke merupakan salah satu dari 29 Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Papua terletak dibagian selatan yang memiliki wilayah terluas diantara kabupaten/kota di Provinsi Papua. Secara geografis letak Kabupaten Merauke berada antara 1370 - 1410 BT dan 50 009 00 LS. Kabupaten Merauke terletak paling timur wilayah nusantara dengan batas-batas sebagai berikut :Batas wilayah administrasi Kabupaten Raja Ampat adalah: 2.2.2 Utara : Timur : Barat : Selatan : Luas Wilayah Kabupaten Boven Digoel dan Kabupaten Mappi Negara Papua New Guinea Laut Arafura Laut Arafura

Kabupaten Merauke merupakan kabupaten terluas dan paling timur di Indonesia yang beribukota di Merauke dengan luas wilayah sebesar 45.071 km2 yang sebagian besar merupakan daerah dataran. Kabupaten Merauke membawahi 24 distrik, 8 kelurahan dan 160 kampung dimana luas wilayah Kabupaten Merauke berdasarkan distrik disajikan pada tabel berikut ini: Tabel 2 2 2.2.3 Topografi Luas Kabupaten Merauke

Keadaan Topografi Kabupaten Merauke umumnya datar dan berawa disepanjang pantai dengan kemiringan 0-3% dan kearah utara yakni mulai dari Distrik Tanah Miring, Jagebob, Elikobel, Muting dan Ulilin keadaan Topografinya bergelombang dengan kemiringan 0 8%. Kondisi Geografis Kabupaten Merauke yang relatif masih alami, merupakan tantangan serta peluang pengembangan bagi Kabupaten Merauke yang masis menyimpan banyak potensi ekonomi untuk menunjang pembangunan. Untuk jelasnya dapat dilihat pada tabel sebagai berikut ini :

Kemudian berdasarkan peta dasar Kabupaten Merauke terlihat sebagian besar daerah merupakan areal dataran yang berada pada ketinggian antara 060 m diatas permukaan laut. Wilayah yang benar-benar datar tersebut berada sebagian besar pada daerah selatan dan tengah.

2.2.4

Klimatologi

Sebagaiman daerah Tropis lainnya, Kabupaten Merauke hanya mengenal dua musim yaitu musim Kemaru dan musim Hujan. Temperatur udara rata-rata mencapai 27.2 derjat, kelembatan udara 85 persen.Musim kemaru pada umumnya terjadi di sepanjang bulan Pebruari sampai dengan bulan Juni. Sedangkan bulan Januari mengalami curah hujan rata-rata pertahun mencapai 238.6 milimeter. Kecepatan angin maksimun terjadi pada musim hujan dengan ratarata kecepatan perhari 4 knot. 2.2.5 Kependudukan

Jumlah penduduk Kabupaten Merauke tahun 2007 berjumlah 189.077 jiwa dengan kepadatan penduduk sebesar 4,2 jiwa/Km2. Jumlah penduduk terbanyak terdapat di Distrik Merauke mencapai 71.996 jiwa (38,08 %). Jumlah penduduk terkecil terdapat di Distrik Sota mencapai 2.912 jiwa (1,54 %). Distribusi dan kepadatan penduduk per distrik dapat dilihat pada Tabel... Tabel 2 3 2.2.6 Potensi Wilayah Jumlah Penduduk Kabupaten Merauke Tahun

Sektor Tanaman Pangan Tanaman pangan yang terdapat di Kabupaten Merauke antara lain padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau dan kedelai. Produksi padi di Kabupaten Merauke pada tahun 2007 mencapai 89.269 ton. Sentra produksi padi terdapat di Distrik Kurik, Tanah Miring dan Semangga dengan jumlah produksi masing-masing 37.283 ton (41,76 %), 26.087 ton (29,22 %) dan 17.469 ton (19,57 %), sisanya berasal dari distrik lain di wilayah Kabupaten Merauke. Produksi tanaman pangan lainnya yang menonjol di Kabupaten Merauke antara lain ubi kayu dengan produksi mencapai 1.740 ton, ubi jalar dengan produksi tercatat 1.228 ton dan kacang tanah dengan produksi sebesar 559 ton. Sektor Tanaman Sayur Komoditi pada sektor tanaman sayur yang terdapat di Kabupaten Merauke antara lain bawang merah, kol/kubis, sawi, cabe, tomat, terung, kangkung, kacang panjang, bayam dan ketimun. Sayuran yang memiliki produksi yang paling besar adalah kacang panjang dengan produksi sebesar 747 ton. Sedangkan sayuran yang memiliki produksi yang paling kecil adalah kol/kubis yang hanya memiliki nilai produksi sebesar 85 ton. Produksi tanaman sayur dapat dilihat pada Tabel 3.17. Sektor Buah-buahan Komoditi buah-buahan yang terdapat di Kabupaten Merauke adalah pisang, salak, nanas, pepaya, jambu biji, jambu air, jambu bol, jeruk valensia, jeruk keprok, jeruk siam, jeruk besar, rambutan, durian dan mangga. Buah-buahan yang memiliki produksi relatif besar adalah pisang tercatat

5.194 ton dan mangga mencapai 1.024 ton. sedangkan durian dan salak memiliki produksi yang paling kecil yaitu 12,5 ton dan 16 ton. Produksi buah-buahan dapat dilihat pada Tabel 3.16.

Sektor Tanaman Perkebunan Kelapa, karet, jambu mete, kapuk randu dan kemiri merupakan tanaman perkebunan yang terdapat di Kabupaten Merauke. Kelapa merupakan tanaman perkebunan yang memiliki nilai produksi paling besar yaitu mencapai 2.757.199 kg. Sedangkan tanaman yang memiliki nilai produksi yang paling kecil adalah kemiri dengan nilai produksi sebesar 40.344 kg. Produksi tanaman perkebunan dapat dilihat pada Tabel 3.18 Sektor Peternakan Pada sektor peternakan yang termasuk hewan ternak di Kabupaten Merauke adalah kerbau, sapi, kuda, kambing, babi dan unggas. Pada tahun 2007 produksi daging sapi mencapai 590.317 kg, daging babi tercatat 67.725 kg, daging kerbau sebesar 39.608 kg, dan daging kambing 6.146 kg. Produksi daging ayam buras sebesar 141.554 kg, daging ayam ras pedaging 12.916 kg, dan daging itik 2.153 kg. Produksi telur ayam kampung pada tahun 2007 mencapai 161.009 kg, telur itik tercatat 74.623 kg, dan telur ayam ras sebesar 49.572 kg. Dari hasil pengamatan ternyata masih sangat besar kebutuhan konsumsi baik telur, maupun konsumsi daging ayam yang masih dipenuhi dari daerah lain. Data produksi daging ternak dapat dilihat pada Tabel 3.19. Sedangkan data produksi daging dan telur unggas terdapat pada Tabel 3.20 2.2.7 Perekonomian

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu indikator ekonomi makro yang dapat digunakan untuk melihat tingkat perkembangan dan struktur perekonomian di suatu daerah, dimana PDRB disajikan atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan 2000. PDRB Kabupaten Merauke dapat dilihat pada tabel Berdasarkan Tabel , dapat dilihat bahwa PDRB Kabupaten Merauke atas dasar harga berlaku mengalami peningkatan setiap tahunnya, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan mengalami penurunan pada tahun 2007 sebesar 1,48 persen dari tahun 2006. 2.2.8 Transportasi

2.2.8.1 Jaringan Transportasi Jalan Panjang jalan di Kabupaten Merauke pada tahun 2007 mencapai 1.535.497 m. Jalan Kabupaten tercatat 1.031.090 m, dan jalan Propinsi mencapai 233.407 m. Dilihat menurut jenis permukaan, maka jalan beraspal mencapai 737.863 m (48,05 %). Jalan tanah sepanjang 797.634 m (51,95

%). Apabila dirinci menurut kondisinya, maka jalan dengan kondisi baik mencapai 281.268 m (18,32 %). Jalan dengan kondisi sedang tercatat 470.937 m (30,67 %). Jalan dengan kondisi rusak sepanjang 616.426 m (40,15 %). Jalan dengan kondisi rusak berat tercatat 166.866 m (10,87 %). Tabel 2.30 Panjang Jalan Menurut Jenis Jalan di Kabupaten Merauke Tabel 2.31 Jarak Tempuh dari Ibukota Kabupaten ke Ibukota Distrik di Kabupaten Merauke Perkembangan jumlah kendaraan bermotor beberapa tahun terakhir nampak sangat pesat. Pada tahun 2007 jumlah kendaraan bermotor tumbuh sebesar 17,75 %, dari jumlah 30.900 unit pada tahun 2006 menjadi 36.386 unit pada tahun 2007. Jumlah kecelakaan lalu lintas pada tahun 2007 tercatat 12 kasus. Merupakan jumlah yang relatif kecil dalam beberapa tahun terakhir. Dari 12 kasus kecelakaan yang dilaporkan mengakibatkan 26 orang menjadi korban dan 15 orang diantaranya dilaporkan meninggal dunia, 6 orang luka berat dan 5 orang lainnya dilaporkan luka ringan, dengan kerugian diperkirakan Rp 29,5 juta. Tabel 2.32 Banyaknya Kendaraan Bermotor Menurut Jenis Kendaraan dan Status Kepemilikan 2.2.8.2 Jaringan Transportasi Sungai Sungai merupakan prasarana transportasi yang digunakan di Wilayah Sungai Digul Bagian Hilir terutama di daerah pedalaman yang sulit untuk dijangkau dengan menggunakan transportasi darat. Sungai yang merupakan prasarana transportasi utama adalah Sungai Digul. Di Kabupaten Merauke Sungai Digul mempunyai panjang 800 km dengan lebar 215 1.200 m dan kecepatan arus sebesar 0,27 km/jam. Di Kabupaten Boven Digul, sungai ini memiliki panjang 683 km dengan lebar 215 2.309 m dan kecepatan arus sebesar 4 7 km/jam. Sedangkan di Kabupaten Mappi, Sungai Digul diperkirakan memiliki panjang 180 km, lebar mencapai 300 - 900 meter, dengan kedalaman bervariasi antara 6-28 m. Selain Sungai Digul, masih ada sungai lain yang dapat digunakan sebagai sarana transportasi. Sungai-sungai tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.36. Gambar 2.6 Peta Prasarana Transportasi Sungai Tabel 2.36 Nama, Panjang, Lebar, dan Kecepatan Arus Sungai menurut Nama Sungai di Kabupaten Merauke 2.2.8.3 Jaringan Transportasi Udara Jumlah pesawat yang datang pada tahun 2007 mencapai 2.640 kali. Jumlah penumpang yang datang tercatat 68.684 orang dengan jumlah penumpang yang berangkat mencapai 72.830 orang. Jumlah barang dibongkar 372.078 ton dan jumlah barang dimuat tercatat 495.968 ton.

Apabila diamati menurut bulan, maka frekwensi puncak penerbangan terjadi antara bulan Juli sampai Desember. Seiring dengan itu jumlah penumpang berangkat maupun penumpang yang datang sebagian besar berada pada bulan-bulan tersebut. Dari jumlah pesawat yang berangkat pada tahun 2007 dengan tujuan bandara Jayapura mencapai 420 kali, ke bandara Kepi tercatat 438 kali dan ke bandara Ewer mencapai 207 kali. Tabel 2.38 Bandara yang terdapat di Kabupaten Merauke Tabel 2.39 Banyaknya Pesawat, Penumpang dan Barang yang Datang dan Berangkat Melalui Bandar Udara Mopah Merauke

2.3 KAJIAN KEBIJAKAN TERKAIT PENYEBERANGAN DI MERAUKE


2.3.1

PENGEMBANGAN

PELABUHAN

Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi ( RTRW Provinsi )

Sistem pelayanan perkotaan di Provinsi Papua didasarkan pada dua aspek; yaitu potensi dan permasalahan yang berkembang di lapangan mencerminkan kondisi riil orientasi pasar kawasan, serta arahan kebijakan yang tertuang dalam RTRWN. Berdasarkan kajian terhadap kedua aspek tersebut, ditentukan tiga bentuk kota pusat pelayanan perkotaan, yaitu: 1. 2. Pelayanan Kegiatan Nasional (PKN), dengan kriteria: Pusat yang mempunyai potensi sebagai pintu gerbang ke kawasan internasional dan mempunyai potensi untuk mendorong daerah sekitarnya. Pusat jasa-jasa pelayanan keuangan/bank yang melayani nasional/beberapa Propinsi. Pusat pengolahan/pengumpul barang secara nasional/beberapa Provinsi. Simpul transportasi secara nasional/beberapa Provinsi. Pusat jasa pemerintahan untuk nasional/beberapa Provinsi Pusat jasa-jasa publik yang lain untuk nasional/beberapa Provinsi. Pelayanan Kegiatan Wilayah (PKW), dengan kriteria: Pusat jasa-jasa pelayanan keuangan/bank yang melayani beberapa kabupaten. Pusat pengolahan/pengumpul barang yang melayani beberapa kabupaten. Simpul transportasi untuk beberapa kabupaten. Pusat jasa pemerintahan untuk beberapa kabupaten. Pusat jasa-jasa yang lain untuk beberapa kabupaten.

3. -

Pelayanan Kegiatan Lokal (PKL), dengan kriteria: Pusat jasa-jasa keuangan/bank yang melayani satu kabupaten atau beberapa distrik. Pusat pengolahan/pengumpul barang untuk beberapa distrik. Simpul transportasi untuk beberapa distrik. Pusat jasa pemerintahan untuk beberapa distrik. Bersifat khusus karena mendorong perkembangan sektor strategis atau kegiatan khusus lainnya.

Berdasarkan kajian kondisi lapangan serta terhadap kriteria-kriteria tersebut, dapat di susun rencana sistem pelayanan perkotaan di Provinsi Papua adalah sebagai berikut: PKN PKW : : Kota Jayapura, Kota Sorong, Manokwari, Merauke, Biak dan Timika Kota Nabire, Bintuni, Tanah Merah, Fak-Fak, Sentani, Waisai, dan Wamena

PKL : Kota Serui, Kaimana, Botawa, Teminabuan, Wasior, Ayamaru, Sondiweri, Enarotali, Waghete, Sumohai, Mulia, Oksibil, Karubaga, Muting, Mindiptana, Agats, Keppi, Bade, Sentani, Waris, Arso, Senggi, Sarmi, Demta 2.3.2 Review Studi Cetak Biru Transportasi Penyeberangan

Pelabuhan penyeberangan merupakan perwujudan/implementasi simpul layanan penyeberangan. Pelabuhan penyeberangan sebagai titik ujung/pangkal dari jaringan jalan raya dan kereta api di dalam pulau/gugus kepulauan. Kapasitas layanan pelabuhan penyeberangan harus sesuai dengan kebutuhan angkutan/transportasi darat yang ada dalam jaringan layanan transportasi di pulau/gugus kepulauan Cetak Biru Pengembangan Transportasi Penyeberangan 2010-2030 merupakan salah satu acuan dan merupakan pedoman yang harus diikuti dalam proses perencanaan dan pengembangan transportasi penyeberangan baik bagi unit kerja di lingkungan Kementerian Perhubungan maupun Mitra Kerja yang terkait dengan Pengembangan Transportasi Penyeberangan.