Anda di halaman 1dari 38

PERCOBAAN I

PENGENALAN CARA PEMBERIAN OBAT PADA HEWAN UJI

I.

TUJUAN
Mahasiswa mengenal dan mampu mempraktikkan berbagai cara pemberian obat pada hewan uji.

II.

DASAR TEORI
Cara pemberian obat sangat penting artinya karena setiap jenis obat berbeda penyerapannya oleh
tubuh dan sangat bergantung pada lokasi pemberian. Sedangkan faktor yang mempengaruhi pemberian
obat ini juga sangat penting bergantung pada kondisi individu, jenis kelamin dan spesies hewan
laboratorium. Hewan percobaan yang dipakai sebagai Animal Model merupakan suatu modal dasar
dan modal hidup yang mutlak dalam bebagai kegiatan penelitian(riset).
Secara definitip hewan percobaan adalah yang digunakan sebagai alat penilaian atau merupakan
modal hidup dalam suatu kegiatan penelitian atau pemeriksaan laboratorium secara invivo. Hewan
sebagai model atau sarana percobaan haruslah memenuhi persyaratan- persyaratan tertentu, antara lain
persyaratan genetis/ keturunan dan lingkungan yangmemadai dalam pengelolaannya, di samping faktor
ekonomis, mudah tidaknya diperoleh,serta mampu memberikan reaksi biologis yang mirip kejadiannya
pada manusia. (Michael Neal, 2005).
Cara memegang hewan serta cara penentuan jenis kelaminnya perlu pula diketahui. Cara
memegang hewan dari masing-masing jenis hewan adalah berbeda-beda dan ditentukan oleh sifat
hewan, keadaan fisik (besar atau kecil) serta tujuannya. Kesalahan dalam caranya akan dapat
menyebabkan kecelakaan atau hips ataupun rasa sakit bagi hewan (ini akan menyulitkan dalam
melakukan penyuntikan atau pengambilan darah, misalnya) dan juga bagi orang yang memegangnya
(Katzug, B.G, 1989).
Rute pemberian obat ( Routes of Administration ) merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
efek obat, karena karakteristik lingkungan fisiologis anatomi dan biokimia yang berbeda pada daerah
kontak obat dan tubuh karakteristik ini berbeda karena jumlah suplai darah yang berbeda; enzim-enzim
dan getah-getah fisiologis yang terdapat di lingkungan tersebut berbeda. Hal-hal ini menyebabkan
bahwa jumlah obat yang dapat mencapai lokasi kerjanya dalam waktu tertentu akan berbeda, tergantung
dari rute pemberian obat (Katzug, B.G, 1989).
Cara Pemberian Obat
1) Sublingual
Absorpsi obat langsung melalui rongga mulut kadang-kadang diperlukan bilamana respons
yang cepat sangat diperlukan, terutama bila obat tersebut tidak stabil pada keadaan pH lambung atau
dimetabolisme oleh hepar dengan cepat (Siswandono, 2000)
2) Per oral

Sebagian besar obat diberikan melalui mulut dan ditelan. Beberapa obat ( misalnya: alcohol
dan aspirin ) dapat diserap dengan cepat dari lambung, tetapi kebanyakan obat diabsorpsi sebagian besar
melalui usus halus. Absorpsi obat melalui usus halus, pengukuran yang dilakukan terhadap absorpsi obat
baik secara in vivo maupun secara in vitro, menunjukan bahwa mekanisme dasar absorpsi obat melalui
usus halus ini adalah secara transfer pasif. Di mana kecepatan obat ditentukan oleh derajat ionisasi obat
dan lipid solubilitas dari molekul obat tersebut. Keuntungan pemberian obat dengan cara oral yaitu
mudah, ekonomis, tidak perlu steril. Sedangkan kerugiannya rasanya yang tidak enak dapat mengurangi
kepatuhan (mual), kemungkinan dapat mengiritasi lambung dan usus, menginduksi mual, dan pasien
harus dalam keadaaan sadar. Selain itu obat dapat mengalami metabolisme lintas pertama dan absorpsi
dapat terganggu dengan adanya makanan ( Anonim, 2007).
3) Rectal
Dapat dipakai baik untuk mendapatkan efek local maupun untuk efek sistemik. Obat obat
yang diabsorpsi melalui rectum masuk ke sirkulasi sistemik tanpa melalui hepar. Hal ini dapat
mengguntungkan bagi obat-obat yang dengan cepat menjadi inaktif bila melewati hepar (missal :
progesterone, tetosteron . alas an lain memberikan obat secara rectal adalah untuk menghindari efek
iritasi obat pada lambung ( misalnya : obat antiradang ). Cara ini dapat juga digunakan untuk pasien
yang muntah-muntah atau pasien yang tidak bias menelan pil atau tablet. Absorpsi obat melalui rectum
ini sering bersifat irregular dan tidak sempurna, serta banyak juga obat yang mengiritasi mukosa rectum
(Siswandono, 2000)
4) Perkutan
Kebanyakan obat sangat sedikit yang dapat diabsorpsi melalui kulit yang utuh, karena
kelarutan dalam lemak obat-obat tersebut terlalu rendah. Dalam praktek klinik pemberian obat pada
kulit dilakukan terutama bila diperlukan efek local pada kulit. Namun absorpsi yang cukup bias juga
terjadi dan menyebabkan efek sistemik (Ernst Mutschler, 1986)
5) Intravena
Pemberian obat secara intravena adalah cara yang paling cepat dan paling pasti. Suatu suntikan
tunggal intravena akan memberikan kadar obat yang sangat tinggi yang pertama-tama akan mencapai
paru-paru dan kemudian ke sirkulasi sistemik. Kadar puncak yang mencapai jaringan tergantung pada
kecepatan suntikan yang harus diberikan secara perlahan-lahan sekali. Obat-obat yang berupa larutan
dalam minyak dapat menggumpalkan darah atau dapat menyebabkan hemolisa darah, karena itu tidak
boleh diberikan secara intravena.
Keuntungan rute ini adalah jenis-jenis cairan yang disuntikkan lebih banyak dan bahkan bahan
tambahan banyak digunakan IV daripada melalui SC, cairan volume besar dapat disuntikkan relatif lebih
cepat, efek sistemik dapat segera dicapai, level darah dari obat yang terus-menerus disiapkan, dan
kebangkitan secara langsung untuk membuka vena untuk pemberian obat rutin dan menggunakan dalam
situasi darurat disiapkan. Sedangkan kerugiannya adalah meliputi : gangguan kardiovaskuler dan
pulmonar dari peningkatan volume cairan dalam sistem sirkulasi mengikuti pemberian cepat volume
cairan dalam jumlah besar, perkembangan potensial trombophlebitis, kemungkinan infeksi lokal atau

sistemik dari kontaminasi larutan atau teknik injeksi septik, dan pembatasan cairan berair (Ernst
Mutschler, 1986).
6) Subkutan
Suntikan subkutan hanya bias dilakukan untuk obat-obat yang tidak menyebabkan iritasi
terhadap jaringan karena akan menyebabkan rasa sakit hebat, bnekrosis dan pengelupasan kulit.
Absorpsi melalui subkutan ini dapat pula bervariasi sesuai dengan yang diinginkan. Keuntungannya:
obat dapat diberikan dalam kondisi sadar atau tidak sadar, sedangkan kerugiannya dalam pemberian
obat perlu prosedur steril, sakit, dapat terjadi iritasi lokal ditempat injeksi (Anonim 2007)
7) Intramuskuler ( IM )
Obat-obat yang larut dalam air akan diabsorbsi dengan cepat setelah penyuntikan IM.
Disuntikkan ke dalam jaringan otot, umumnya di otot pantat atau paha Umumnya kecepatan absorpsi
setelah penyuntikan pada muskulus deloid atau vastus lateralis adalah lebih cepat dari pada bila
disuntikkan pada gluteus maximus. Pemberian suntikan intra-anterial. Kadang-kadang obat disuntikan
ke dalam sebuah arteri untuk mendapatkan efek yang terlokalisir pada jaringan atau alat tubuh tertentu.
Tetapi nilai terapi cara ini masih belum pasti. Kadang-kadang obat tertentu juga disuntikan intra arteri
untuk keperluan diagnosis. Sutikan intraarteri harus dilakukan oleh orang yang benar-benar ahli.
Pemberian suntikan intratekal.
Dengan cara ini obat langsung disuntikkan ke dalam ruang subaraknoid spinal. Suntikan
intratekal dilakukan karena banyak obat yang tidak dapat mencapi otak, karena adanya sawar darah
otak. Keuntungan pemberian obat dengan cara ini, absorpsi berlangsung dengan cepat, dapat diberikan
pada pasien sadar atau tidak sadar, sedangkan kerugiannya dalam pemberiannya perlu prosedur steril,
sakit, dapat terjadi iritasi ditempat injeksi ( Munaf,1994 )
8) Intra-peritonial
Rongga peritoneum mempunyai permukaan absorpsi yang sangat luas sehingga obat dapat
masuk ke sirkulasi sistemik secara cepat. Cara ini banyak digunakan di laboratorium tetapi jarang
digunakan di klinik karena adanya bahaya infeksi dan perlengketan peritoneu. Keuntungannya adalah
obat yang disuntikkan dalam rongga peritonium akan diabsorpsi cepat, sehingga reaksi obat akan cepat
terlihat (Munaf,1994 )

III.

CARA KERJA

NaCl 0,9 %

Per oral

Sub kutan

Intra
peritoneal

Jarum sonde
5ml

Intra
muskular

Spuit injeksi
1ml
Mencit

IV.
HASIL
Per oral

Parameter

Mencit

Letak rute pemberian

Melalui

mulut

dengan

jarum

sonde
Kondisi

sebelum

Sehat, tidak stres, lebih aktif

pemberian
Kondisi setelah pemberian

Tetap aktif, tidak lemas

Berhasil / tidak dilakukan

Berhasil

Parameter

Mencit

Letak rute pemberian

Melalui bawah kulit pada bagian

Subcutan

tengkuk hewan uji


Kondisi

sebelum

Sehat, tidak stres, lebih aktif

pemberian
Kondisi setelah pemberian

Tetap aktif, tidak lemas

Berhasil / tidak dilakukan

Berhasil

Intra muscular

Parameter

Mencit

Letak rute pemberian

Melalui otot dibagian pangkal


paha

Kondisi

sebelum

Sehat, tidak stres, lebih aktif

pemberian
Kondisi setelah pemberian

Tetap aktif, tidak lemas

Berhasil /tidak dilakukan

Berhasil

Intra peritoneal

Parameter

Mencit

Letak rute pemberian

Diinjeksikan melalui rongga perut


(tidak sampai masuk ke usus)

Kondisi

sebelum

Sehat, tidak stres, lebih aktif

pemberian

V.

Kondisi setelah pemberian

Tetap aktif, tidak lemas

Berhasil / tidak dilakukan

Berhasil

PEMBAHASAN
Dalam praktikum ini bertujuan untuk mengenal dan mampu mempraktekkan berbagai cara pemberian
obat ke hewan uji. Dalam hal ini adalah mencit. Pemberian obat dapat dilakukan melalui oral, sub kutan,
intramuscular, intraperitonial, intravena, maupun rektal. Masing-masing cara pemberian memiliki
keuntungan dan manfaat tertentu. Perbedaan dalam cara pemberian obat akan berpengaruh pada
kecepatan absorbsi dan berpengaruh pada efektivitas obat.
Pada praktikum ini dilakukan pemberian obat ke hewan uji dengan melalui oral, subkutan,
intramuscular, dan intra peritonial. Oral diberikan melalui mulut, subkutan disuntikkan di jaringan
bawah kulit bagian tengkuk, intramuscular disuntikkan di otot bagian paha, dan intraperitoial
disuntikkan di bagian perut. Alat yang digunakan adalah spuit injeksi 1 ml, jarum sonde 5ml dan sarung
tangan. Obat yang diberikan adalah larutan fisiologis NaCl 0,9%. Cairan ini merupakan cairan bersifat
fisiologis, non toksik dan tidak mahal. NaCl dalam setiap liternya mempunyai komposisi Natrium
Klorida 9.0 gram dengan osmolalitas 308 mOsm/l setara dengan ion-ion Na+ 154 mEq/l dan Cl- 154
mEq/l (InETNA, 2004).
Pembuatannya dengan menimbang 9,0 gram NaCl lalu dilarutkan dalam 1L akuades steril. Konsentrasi
Natrium klorida yang sering digunakan adalah 0.9%. ini adalah konsentrasi normal atau disebut normal
saline. NaCl 0,9% adalah larutan yang fisiologis yang ada diseluruh tubuh. Sehingga larutan ini
isotonis , aman untuk tubuh, dan tidak iritan (Lilley & Aucker, 1999).

Pemberian Obat Per Oral


Obat yang cara penggunaannya masuk melalui mulut. Keuntungannya relatif aman, praktis, ekonomis.
Kerugiannya timbul efek lambat; tidak bermanfaat untuk pasien yang sering muntah, diare, tidak sadar,
tidak kooperatif; untuk obat iritatif dan rasa tidak enak penggunaannya terbatas; obat yang inaktif/terurai
oleh cairan lambung/ usus tidak bermanfaat (penisilin G, insulin); obat absorpsi tidak teratur. Untuk
tujuan terapi serta efek sistematik yang dikehendaki, penggunaan oral adalah yang paling
menyenangkan dan murah, serta umumnya paling aman. Hanya beberapa obat yang mengalami
perusakan oleh cairan lambung atau usus. Pada keadaan pasien muntah-muntah, koma, atau dikehendaki
onset yang cepat, penggunaan obat melalui oral tidak dapat dipakai (Howard, 1989).
Pemberian obat dilakukan dengan menggunakan jarum suntik yang ujungnya tumpul. Memegang
mencit dengan menjepit bagian tekuk menggunakan ibu jari dan jari telunjuk, dan ekornya dijepit
diantara jari manis dan kelingking. Sebelum measukkan sonde oral, posisi kepala dan keadaan mulut
harus diperhatikan. Ketika hewan dipegang dengan posisi terbalik pastikan posisi kepala menengadah
atau posisi dagu sejajar dengan tubuh dan mulut terbuka sedikit. Dari hasil pengamatan reaksi mencit
setelah dilakukan pemberian obat secara oral dengan menggunakan jarum sonde dan dimasukkan 0,15
ml larutan garam fisiologis berhasil, karena tidak ada pendarahan maupun keluarnya cairan dari hidung
mencit.
Pemberian Secara Sub Kutan
Sub kutan adalah penyuntikan yang dilakukan di bawah jaringan kulit dimana biasanya
diberikan atau di sutikan di daerah tengkuk.pemberian melalui sub kutan biasanya di gunakan untuk
obat obat yang tidak menyebabkan iritasi jaringan. Efek yang di timbulkan dari pemberian obat secara
sub kutan adalah efek sistemik. Rute sub kutan ini mempunyai beberapa keuntungan dan kerugian, yaitu
:

Keuntungan : Diperlukan latihan sederhana, Absorbsi cepat obat larut dalam air, Mencegah kerusakan

sekitar saluran cerna


Kerugian : Rasa sakit dan kerusakan kulit, Tidak dapat dipakai jika volume obat besar, Bioavibilitas
berfariasi, sesuai lokasi
Langkah pemberian obat secara sub kutan adalah pertama tama mencit di pegang dengan
menjepit di bagian tengkuk dan ekor di jepit di antara jari kelingking dan jari manis. Kemudian mencit
di posisikan tengkurap atau tetap menghadap kebawah dan suntikan dari depan. Suntikan di gunakan
spuit injeksi 5 ml dengan jarum yang runcing. Larutan yang di berikan berupa garam fisiologis sebanyak
0,05 ml, karena mencit yg digunakan kecil. Dalam penyuntikan harus dilakukan secara cepat untuk
menghindari terjadinya pendarahan pada mencit.

Hasil dari pemberian obat secara sub kutan adalah mencit masih hidup dan tidak terjadi
pendarahan pada bekas suntikan. Selain itu larutan yang di suntikan tidak keluar dari tubuh mencit. Hal
ini menunjukkan bahwa percobaan pemberian obat secara sub kutan berhasil dilakukan.
Pemberian Secara Intramuskular
Pemberian obat secara Intramuskuler memungkinkan absorbsi obat yang lebih cepat daripada
rute sub kutan karena pembuluh darah lebih banyak terdapat di otot. Bahaya yang kemungkinan terjadi
misalnya kerusakan jaringan berkurang ketika obat memasuki otot yang dalam. Adapun teknik injeksi
intramuskuler yaitu dilakukan dengan memasukkan jarum tegak lurus dengan kulit (90) untuk
memastikan jarumnya mengenai otot yang dimaksud. Bila hal ini tidak dilakukan maka berpengaruh
pada penilaian derajat nyeri yang dirasakan. Pada hewan uji mencit disuntikkan ke dalam otot
paha posterior.
Hasil percobaan cara pemberian obat secara intramuskular dengan larutan garam fisiologis NaCl
0.9% pada mencit yaitu sebanyak 0,03 ml dinyatakan berhasil karena tidak keluar darah pada lokasi
penyuntikan. Keuntungan injeksi im yaitu tidak diperlukan keahlian khusus, dapat dipakai untuk
pemberian obat larut dalam minyak dan absorbsi cepat obat larut dalam air. Sedangkan kerugian injeksi
im yaitu rasa sakit, cara ini tidak dapat dipakai pada gangguan bekuan darah, bioavibilitas bervariasi dan
obat dapat menggumpal pada lokasi penyuntikan.

Pemberian Secara Intraperitonial


Dalam praktikum ini rute pemberian obat pada mencit salah satunya dengan intraperitonial.
Intraperitonial merupakan cara penyuntikan yang diberikan ke dalam rongga perut contohnya dialisis
rongga perut. Cara melakukan adalah dengan menggunakan spuit injeksi. Cara melakukannya yaitu
dengan cara memegang mencit dengan menjepit bagian tengkuk menggunakan ibu jari dan jari telunjuk,
dan ekornya dijepit diantara jari manis dan kelingking. Kemudian posisi hewan terbalik, kepala lebih
rendah dari abdomen. Posisi jarum suntik sepuluh derajat dari abdomen berlawanan arah kepala (arah
jarum menuju ke perut). Lokasi suntikan pada bagian tengah abdomen, pada daerah yang sedikit menepi
dari garis tengah agar jarum suntik tidak terkena kandung kemih dan tidak terlalu tinggi agar tidak
terkena penyuntikan pada hati.
Dan hasilnya dalam penyuntikan ini berhasil. Mencit tidak luka dan setelah dilakukan penyuntikan
kondisi mencit tidak mengalami kesakitan dan masih bisa bergerak dengan bebas. Volume maksimal
yang boleh diberikan ke mencit yaitu 1,0 ml. Disini hanya diberikan 0,05 ml karena mencit yang
digunakan terlalu kecil.
Intraperitonial memberikan efek lebih cepat dibandingkan dengan pemberian oral. Dimana pada
bagian ini, terdapat banyak pembuluh darah sehingga obat lebih mudah diserap ke dalam sistem

peredaran darah. Kelebihan menggunakan pemberian intraperitonial adalah obat yang akan disuntikkan
dalam rongga peritonium akan diabsorbsi dengan cepat sehingga reaksi obat akan cepat terlihat.
Sedangkan kekurangannya untuk resiko kesalahan penyuntikkan menyebabkan kesalahan organ.
Sehingga pemberian intraperitonial tidak boleh diberikan pada manusia karena bahaya injeksi dan
adhesi terlalu besar.
Dari percobaan yang telah dilakukan di atas diperoleh hasil yaitu antara rute pemberian obat
secara per - oral, sub kutan, intra muskular, dan peritonial semua berhasil disuntikkan pada hewan uji
yaitu mencit. Dalam hal pemberian rute obat ini tergantung dari tujuan terapi dan kondisi pasiennya.
Seperti perlu diperhatikan:
a. Tujuan terapi menghendaki efek lokal atau efek sistemik
b. Apakah kerja awal obat yang dikehendaki itu cepat atau masa kerjanya lama
c. Stabilitas obat di dalam lambung atau usus
d. Keamanan relatif dalam penggunaan melalui bermacam-macam rute
e. Rute yang tepat dan menyenangkan bagi pasien
f. Harga obat yang relatif ekonomis dalam penyediaan obat melalui bermacam-macam rute
g. Kemampuan pasien menelan obat melalui oral

Namun dilihat secara efektifitas atau cepatnya obat bereaksi sampai ke tempat tujuan rute
pemberian obat lebih bagus diberikan secara intra peritoneal . Hal ini dikarenakan bahwa pemberian
obat secara intraperitoneal diberikan melalui pemberian injeksi pada bagian abdomen. Dimana pada
bagian ini, terdapat banyak pembuluh darah sehingga obat lebih mudah diserap ke dalam sistem
peredaran darah.
Sedangkan jika dibandingkan pemberian obat secara oral, obat harus melalui tahap absorpsi
yakni di lambung dan di usus. Jika dibandingkan secara intamuskular obat secara tidak langsung masuk
ke dalam aliran darah sebagai gantinya masuk terlebih dahulu ke dalam jaringan otot di mana ia dapat di
absorbsikan oleh aliran darah yang berlebih-lebihan melalui kapiler yang melayani otot. Rute ini kurang
cepat dibandingkan intra peritoneal. Sedangkan jika dibandingkan dengan rute secara subkutan yaitu
memasukkan obat ke dalam jaringan penghubung, di bawah permukaan kulit dimana absorpsi lebih
lambat.
Jadi secara keseluruhan dapat disimpulkan rute pemberian obat yang paling baik jika dilihat dari
efektifitas obatnya diberikan secara intraperitoneal dimana obat langsung disuntikkan ke dalam rongga
perut. Penyerapan cepat terjadi karena penyerapan langsung ke pembuluh darah usus yang memiliki luas
permukaan besar.
VI.

KESIMPULAN

1. Pada praktikum ini sebelum kita melakukan penyuntikan pada mencit, mencit harus dalam keadaan
tenang (tidak stress), karena pada saat stress mencit akan menjadi liar dan sulit untuk disuntik sehingga
akan berpengaruh pada hasil penyuntikan.
2. Praktikum kali ini rute pemberian obat dilakukan dengan :
a.
Per oral : melalui dengan bantuan jarum sonde melalui mulut
b.
Subkutan : injeksi dimasukkan sampai kebawah kulit pada tengkuk
c.
Intramuskular : injeksi melalui otot pangkal paha
d.
Intraperitoneal : injeksi melalui kedalam ronnga perut
3. Dibandingkan dengan rute pemberian obat yang lain rute pemberian obat yang paling baik diberikan
secara intraperitoneal yaitu obat diinjeksikan melalui abdomen (ronga perut) dimana penyerapan di
rongga perut ini cepat terjadi karena pada rongga abdomen mengandung banyak pembuluh darah
sehingga obat langsung masuk ke dalam pembuluh darah.

PERTANYAAN
1. Jelaskan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi absorbsi obat !
Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi obat adalah
a. Ukuran partikel obat
Kecepatan disolusi obat berbanding langsung dengan luas permukaan yang kontak dengan
cairan/pelarut. Bertambah kecil partikel, bertambah luas permukaan total, bertambah mudah larut.
b. Pengaruh daya larut obat
Pengaruh daya larut obat/bahan aktif tergantung pada
- Sifat kimia : modifikasi kimiawi obat
- Sifat fisika : modifikasi fisik obat
- Prosedur dan teknik pembuatan obat
- Formulasi bentuk sediaan/galenik dan penambahan eksipien
c. Beberapa faktor lain fisika-kimia obat seperti
- Temperatur
- pKa dan derajat ionisasi obat
d. Rute pemberian
e. Letak posisi kurva
f. Bentuk sediaan
g. Dosis

2. Perbedaan rute pemberian mempengaruhi onset dan durasi ? Jelaskan!


Cara pemberian dapat mempengaruhi kecepatan absorbsi obat yang berpengaruh juga terhadap onset
dan durasi. Pada literature dijelaskan bahwa onset paling cepat adalah intraperitonial, intramuscular,
subkutan, peroral. Hal ini terjadi karena :
a.

Intraperitonial mengandung banyak pembuluh darah sehingga obat langsung masuk

ke dalam

pembuluh darah.
b.

Intramuscular mengandung lapisan lemak yang cukup kecil sehingga obat akan terhalang oleh lemak
sebelum terabasorbsi.

c.

Subkutan mengandung lemak yang cukup banyak.

d.

Peroral disini obat akan mengalami rute yang panjang untuk mencapai reseptor karena melalui saluran
cerna yang memiliki banyak faktor penghambat seperti protein plasma.
Dan durasi paling cepat adalah peroral, intraperitonial, intramuscular, subkutan. Hal ini terjadi
karena :

a. Peroral, karena melalui saluran cerna yang memiliki rute cukup panjang dan banyak factor penghambat
maka konsentrasi obat yang terabsorbsi semakin sedikit dan efek obat lebih cepat.
b. Intraperitonial, disini obat langsung masuk ke pembuluh darah sehingga efek yang dihasilkan lebih cepat
dibandingkan intramuscular dan subkutan karena obat di metabolisme serempak sehingga durasinya
agak cepat.
c. Intramuscular, terdapat lapisan lemak yang cukup banyak sehingga obat akan konstan dan lebih tahan
lama.
d. Subkutan, terdapat lapisan lemak yang paling banyak sehingga durasi lebih lama dibanding intramuscular.
Onset adalah lama waktu untuk mencapai kadar obat dalam darah mencapai MEC (MEC adalah kadar
obat terkecil dalam darah yang sudah bisa menimbulkan efek). Durasi adalah lamanya waktu kadar obat
dalam darah dapat menimbulkan efek ( kadar berada pada MEC ataupun diatasnya).
Jadi rute pemberian disini berpengaruh terhadap waktu dan lamanya efek obat tersebut muncul. Untuk
penggunaan peroral memiliki onset dan durasi yang lebih lama dibandingakan yang dengan cara injeksi.
Karena rute per oral membutuhkan waktu untuk absorpsi dalam saluran pencernaan. Untuk injeksi
sendiri yang memiliki onset dan durasi yang paling cepat adalah secara Intra Vena (IV), kerena langsung
ke pembuluh darah. Baru kemudian injeksi Intra peritonial (IP), kemudian Subcutan (SC), dan terakhir
Intra muscular (IM) yang memiliki onset dan durasi lama.

3. Bandingkan keuntungan masing-masing cara pemberian obat !

Keuntungan masing-masing cara pemberian obat adalah :


a.

Cara Pemberian Obat Intravena


Keuntungannya cepat mencapai konsentrasi dosis, tepat, mudah mentitrasi dosis. Kerugiannya
konsentrasi awal tinggi, toksik invasiv, risiko infeksi, memerlukan keahlian.

b.

Cara Pemberian Obat Intravena Memerlukan persiapan karena : Daya larut obat yang jelek
(solubility), memerlukan zat pelarut, sehingga kecepatan pemberian berhubungan dengan toksisiti (rateralated-toxicity).

c.

Cara Pemberian Obat Intravmuskular


Keuntungan Tidak diperlukan keahlian khusus Dapat dipakai untuk pemberian obat larut dalam
minyak Absorbsi cepat obat larut dalam air. Kerugian Rasa sakit Tidak dapat dipakai pada gangguan
bekuan darah (clotting time). Bioavibilitas berfariasi. Obat dapat menggumpal pada lokasi penyuntikan.

d.

Cara Pemberian Obat Subkutan


Keuntungan Diperlukan latihan sederhana Absorbsi cepat obat larut dalam air Mencegah kerusakan
sekitar saluran cerna. Kerugian Rasa sakit dan kerusakan kulit Tidak dapat dipakai jika volume obat
besar Bioavibilitas berfariasi, sesuai lokasi.

e.

Cara Pemberian Obat Oral


Keuntungan Tidak diperlukan latihan khusus Nyaman (penyimpanan,muda dibawa) Non-invasiv,
lebih aman Ekonomis. Kerugian drug delivery tidak pasti,tidak komplit. Sangat tergantung
kepatuahn pasien (compliance) Tingginya Interaksi : obat + obat, obat-makanan Banyak obat rusak
dalam saluran cerna. Exposes drugs to first pass effect.

f.

Cara Pemberian Obat Sublingual/Buccal


Keuntungan Onset cepat Mencegah first pass effect Tidak diperlukan kemampuan menelan.
Kerugian Absorbsi tidak adekuat Kepatuhan pasien kurang (compliance) Mencegah pasien menelan.

g.

Cara Pemberian Obat Rektal


Keuntungan Dpat dipakai jika pasien tidak bisa per-oral Dapat mencegah first pass metabolism
pilihan terbaik pada anak-anak. Kerugian Absorbsi tidak adekuat Banyak pasien tidak nyaman / risih
per-rektal.

h.

Cara Pemberian Obat Paru-paru . (pulmonary).


Keuntungan Dosis dapat diatur (titrasi) Onset cepat Untuk Efek lokal : Mamfaat maksimal, efek
samping minimal. Kerugian Koordinasi harus baik Pasien Penyakit paru, daya hisap tidak adekuat
Variability in Delivery Efek : Lokal Efek : Sistemik.

MATERI III
UJI ANTIINFLAMASI

I.

TUJUAN
Mengenal dan mampu mempraktekan pengujian daya antiinflamasi obat pada hewan uji dengan radang
buatan.

II.

DASAR TEORI
Inflamasi merupakan respons protektif setempat yang ditimbulkan oleh cedera atau kerusakan
jaringan, yang berfungsi menghancurkan, mengurangi, atau mengurung (sekuestrasi) baik agen
pencedera maupun jaringan yang cedera itu. Inflamasi adalah suatu respon jaringan terhadap rangsangan
fisik atau kimiawi yang merusak. Rangsangan ini menyebabkan lepasnya mediator inflamasi seperti
histamin, serotonin, bradikinin, prostaglandin dan lainnya yang menimbulkan reaksi radang berupa
panas, nyeri, merah, bengkak dan disertai gangguan fungsi (Dorland, 2002).
Secara garis besar, peradangan ditandai dengan vasodilatasi pembuluh darah lokal yang
mengakibatkan terjadinya aliran darah setempat yang berlebihan, kenaikan permeabilitas kapiler disertai
dengan kebocoran cairan dalam jumlah besar ke dalam ruang interstisial, pembekuan cairan dalam
ruang interstisial yang disebabkan oleh fibrinogen dan protein lainnya yang bocor dari kapiler dalam
jumlah berlebihan, migrasi sejumlah besar granulosit dan monosit ke dalam jaringan, dan
pembengkakan sel jaringan. Beberapa produk jaringan yang menimbulkan reaksi ini adalah histamin,
bradikinin, serotonin, prostaglandin, beberapa macam produk reaksi sistem komplemen, produk reaksi
sistem pembekuan darah, dan berbagai substansi hormonal yang disebut limfokin yang dilepaskan oleh
sel T yang tersensitisasi (Guyton, 1997).
Tanda-tanda radang mencakup rubor (kemerahan), kalor (panas), dolor (rasa sakit), dan tumor
(pembengkakan). Tanda pokok yang kelima ditambahkan pada abad terakhir yaitu functio laes.
Berdasarkan asal katanya, functio laesa adalah fungsi yang hilang. Functio laesa merupakan reaksi
peradangan yang telah dikenal. Akan tetapi belum diketahui secara mendalam mekanisme terganggunya
fungsi jaringan yang meradang. Perubahan pH lokal atau konsentrasi lokal ion-ion tertentu dapat
merangsang ujung-ujung saraf. Pengeluaran zat seperti histamin atau zat bioaktif lainnya dapat
merangsang saraf. Rasa sakit disebabkan pula oleh tekanan yang meninggi akibat pembengkakan
jaringan yang meradang (Abrams, 1995).
Mekanisme peradangan diantaranya ada radang akut. Radang akut adalah respon yang cepat
dan segera terhadap cedera yang didesain untuk mengirimkan leukosit ke daerah cedera. Leukosit
membersihkan berbagai mikroba yang menginvasi dan memulai proses pembongkaran jaringan
nekrotik. Terdapat 2 komponen utama dalam proses radang akut, yaitu perubahan penampang dan
struktural dari pembuluh darah serta emigrasi dari leukosit. Perubahan penampang pembuluh darah akan
mengakibatkan meningkatnya aliran darah dan terjadinya perubahan struktural pada pembuluh darah
mikro akan memungkinkan protein plasma dan leukosit meninggalkan sirkulasi darah. Leukosit yang
berasal dari mikrosirkulasi akan melakukan emigrasi dan selanjutnya berakumulasi di lokasi cedera.
Sehingga terjadi dilatasi arteriol lokal yang mungkin didahului oleh vasokonstriksi singkat. Sfingter
prakapiler membuka dengan akibat aliran darah dalam kapiler yang telah berfungsi meningkat dan juga

dibukanya anyaman kapiler yang sebelumnya inaktif. Akibatnya anyaman venular pasca kapiler melebar
dan diisi darah yang mengalir deras. Dengan demikian, mikrovaskular pada lokasi jejas melebar dan
berisi darah terbendung. Perubahan pembuluh darah dilihat dari segi waktu, sedikit banyak tergantung
dari parahnya jejas. Dilatasi arteriol timbul dalam beberapa menit. Perlambatan dan bendungan tampak
setelah 10-30 menit. Peningkatan permeabilitas vaskuler disertai keluarnya protein plasma dan sel-sel
darah putih ke dalam jaringan disebut eksudasi dan merupakan gambaran utama reaksi radang akut.
(Mitchell, 2003).
Radang memiliki mekanisme kontrol yaitu inaktivasi mediator kimia lokal yang cepat oleh
sistem enzim atau antagonis. Cukup banyak substansi yang dikeluarkan secara endogen telah dikenal
sebagai mediator dari respon peradangan. Identifikasinya saat ini sulit dilakukan. Walaupun daftar
mediator yang diusulkan panjang dan kompleks, tetapi mediator yang lebih dikenal dapat digolongkan
menjadi golongan amina vasoaktif (histamin dan serotonin), protease plasma (sistem kinin, komplemen,
dan koagulasi fibrinolitik), metabolit asam arakidonat (leukotrien dan prostaglandin), produk leukosit
(enzim lisosom dan limfokin), dan berbagai macam mediator lainnya (misal, radikal bebas yang berasal
dari oksigen dan faktor yang mengaktifkan trombosit) (Abrams, 1995; Robbins, 1995).
Pengobatan antiinflamasi mempunyai dua tujuan utama yaitu, meringankan rasa nyeri yang
seringkali merupakan gejala awal yang terlihat dan keluhan utama yang terus menerus dari pasien dan
kedua memperlambat atau membatasi perusakan jaringan. Berdasarkan mekanisme kerjanya, obat-obat
antiinflamasi terbagi ke dalam golongan steroid dan golongan non-steroid. Salah satu contoh obat
antiinflamasi ini adalah ketoprofen (Katzung, 2002).
Ketoprofen merupakan golongan obat AINS , dengan derivat asam propionat yang memiliki
efektivitas seperti ibuprofen dengan sifat anti-inflamasi sedang. Memiliki aktivitas anti inflamasi, anti
piretik dan analgesik secara sentral dan perifer. Mekanisme kerjanya yaitu melalui penghambatan
biosintesis prostaglandin menghambat enzim siklooksigenase sehingga konversi asam arkidonat menjadi
prostaglandin terganggu. Efek terapi dan efek samping AINS berhubungan dengan mekanisme kerja
sediaan ini pada enzim cyclooxygenase-1 (COX-1) dan cyclooxygenase-2 (COX-2) yang dibutuhkan
dalam biosintesis prostaglandin. Prostaglandin sendiri merupakan sediaan pro-inflamasi, tetapi juga
merupakan sediaan gastroprotektor. Oleh karena AINS dengan selektivitas menghambat COX-2, maka
sediaan ini diduga bebas dari efek samping yang menakutkan pada saluran cerna. Pada kenyataannya,
tidak satupun AINS dengan selektivitas penghambat COX-2 bebas dari efek samping pada saluran cerna
dan berbagai efek samping lainnya diluar saluran cerna, misalnya pada sistem kardiovaskuler (Hoan
Tjay, 2007).
Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk. Didalam formalin
mengandung sekitar 37 persen formaldehid dalam air, biasanya ditambah methanol hingga 15 persen
sebagai pengawet. Berat Molekul Formalin adalah 30,03 dengan Rumus Molekul HCOH. Karena
kecilnya molekul ini memudahkan absorpsi dan distribusinya ke dalam sel tubuh. Gugus karbonil yang

dimilikinya sangat aktif, dapat bereaksi dengan gugus NH2dari protein yang ada pada tubuh
membentuk senyawa yang mengendap (Harmita, 2006).
Plethysmograph adalah alat untuk pengukuran perubahan volume organ atau bagian tubuh
lainnya, terutama yang dihasilkan dari perubahan aliran darah.
Dalam penelitian digunakan tikus sebagai hewan percobaan karena tikus mempunyai banyak
keunggulan diantaranya Banyak gen-nya tikus relatif mirip dengan manusia, dalam binatang menyusui
(mamalia), kemampuan berkembangbiak tikus sangat tinggi, relatif cocok untuk digunakan dalam
eksperimen massal, tipe bentuk badan tikus kecil, mudah dipelihara dan obat yang digunakan di
badannya dapat relatif cepat termanifestasi. Tikus yang sering digunakan dalam percobaan adalah tikus
putih (Rattus norvegicus).

III.

CARA KERJA

pdt e ia l suda u kap nu a k tr k ai k v k o ik l ey u ta m o n p e g r ou s fde e eb n me sl u e y m c a a n r gy a a t i e. d m r i j a. s dup ina s dt ie ak t , e s la a l ha h s a t u


pkti ei a e r mkn i j ai dy u d nui d ia n di sn at ie n k t a e p n lm a d,h u a3 d p 0 i t ea e mn l a y ed pu ni an id kt i n ak, y amd a n a k n d a i n 1 s su j a e n m l t a i km s e a t e 1 l 5 a h m e n i t
pdsmk u e n t gy i kua n t fpi ko l ar m nt i s a m l i n o g r a p h
Nfbu o a r mC l a l i n
0a1s %, 1 0m , 1l
mnp l
gek
bro
oln
bat
okr t
IV.

nuo
HASIL PERCOBAAN
yal
an

No.

Tikus

Perlakuan

Volume

% daya

udem
1.

Kontrol

NaCl 1% 0,1

inflamasi

0,32 ml

0,39 ml

0,32 ml

17,95 %

0,29 ml

25,64 %

0,29 ml

25,64 %

ml
Formalin 0,1
ml
Ketoprofen
2.

Perlakuan

i.m.
Formalin 0,1
ml

V.

PEMBAHASAN
Pada percobaan ketiga praktikum farmakologi II ini praktikum melakukan percobaan mengenai
daya antiinflamasi. Percobaain ini bertujuan agar mahasiswa mengenal dan mampu mempraktikkan
pengujian daya antiinflamasi obat pada hewan uji dengan radang buatan. Inflamasi adalah respon dari
suatu organisme terhadap patogen dan alterasi mekanis dalam jaringan, berupa rangkaian reaksi yang
terjadi

pada

tempat

terinfeksi. Radang atau

jaringan
inflamasi

kekebalan terhadap infeksi dan iritasi.

yang

mengalami cedera,
adalah
Inflamasi

satu

seperti

karena

dari

respon

distimulasi

oleh

terbakar,

atau

utama sistem
faktor

kimia

(histamin, bradikinin,serotonin, leukotrien, dan prostaglandin) yang dilepaskan oleh sel yang berperan
sebagai mediator radang di dalam sistem kekebalan untuk melindungi jaringan sekitar dari penyebaran
infeksi. Respon peradangan dapat dikenali dari rasa sakit, kulit lebam, demam, dll. yang disebabkan
karena terjadi perubahan pada pembuluh darah di area infeksi.
Percobaan ini menggunakan hewan uji berupa tikus sebanyak 2 ekor, tikus 1 sebagai tikus
control dan tikus 2 sebagai tikus perlakuan. Maksud dari tikus perlakuan sendiri yaitu tikus diterapi
dengan secara intramuscular obat antiinflamasi. Obat antiinflamasi Non Steroid bekerja dengan
menghambat enzim siklooksidase (COX). Enzim COX berperan dalam perubahan asam arakidonat
menjadi prostaglandin H2, yang selanjutnya oleh berbagai enzim akan diubah menjadi beragam tipe
prostaglandin. Obat anti-inflamasi nonstreoid (OAINS) merupakan kelompok obat yang paling banyak
dikonsumsi di seluruh dunia untuk mendapatkan efek analgetika, antipiretika, dan anti-inflamasi.
OAINS merupakan pengobatan dasar untuk mengatasi peradangan-peradangan di dalam dan sekitar
sendi seperti lumbago, artralgia, osteoartritis, artritis reumatoid, dan gout arthritis.

Pada praktikum ini menggunakan alat dan bahan antara lain, alat terdiri dari plethysmograph,
spuit injeksi 1 ml, neraca, dan spidol untuk bahan yang digunakan formalin dan ketoprofen 30mg/ ml
injeksi, hewan uji yang digunakan yakni tikus.
Plethysmograph merupakan suatu teknik untuk mendeteksi/mengukur perubahan volume di
dalam suatu organ. Plethysmograph merupakan suatu instrumen yang digunakan untuk mengukur
perubahan volume di dalam suatu organ atau seluruh tubuh. Biasanya merupakan hasil dari fluktuasi
darah atau udara yang terkandung didalamnya. Prinsip Plethysmograph mengikuti hukum Boyle, yaitu
bila massa gas ditekan pada suhu konstan maka tekanan (P) dan volume (V) adalah tetap. spuit injeksi 1
ml berguna untuk menyuntikan formalin ataupun ketoprofen pada hewan uji. Spidol berguna menandai
lutut hewan uji sedangkan neraca berfungsi untuk menimbang hewan uji.
Untuk bahan yakni formalin berfungsi sebagai agen inflamasi atau iritan dan ketoprofen 30mg/
ml merupakan suatu antiinflamasi non steroid dengan efek antiinflamasi, analgesik dan antipiretik
dengan mekanisme menghambat enzim siklogsigenase/ COX, enzim COX berperan daam perubahan
asam arakidonat menjadi prostaglandin H2, yang selanjutnya oleh berbagai enzim diubah menjadi
berbagai tipe prostaglandin. Pada pemberian oral kadar puncak dicapai selama 0,52 jam. Waktu paruh
eliminasi pada orang dewasa 3 jam, dan 5 jam pada orang tua. Indikasinya untuk mengobati gejalagejala artritis rematoid, ankilosing spondilitis, gout akut dan osteoartritis serta kontrol nyeri dan
inflamasi akibat operasi ortopedik.
Dalam percobaan dilakukan, mula-mula menghitung dosis obat ketoprofen yang akan
diberikan kepada tikus. Cara perhitungannya yaitu dosis obat dibagi dengan volume pemberian obat
setelah dikonversi dosis obat untuk manusia kedalam dosis obat untuk tikus. Dosis dari ketoprofen
sendiri yaitu 60mg/ml, sehingga setelah dikonversikan ketikus (0,018) didapatkan dosis ketoprofen
untuk tikus 1,08mg/ml. Untuk volume pemberian obat diperoleh dengan cara menghitung berat badan
dari masing-masing tikus tersebut dimana tikus pertama memiliki bobot 123gram, dan tikus kedua
memiliki bobot 118 gram. Perhitungannya yaitu berat badan tikus dibagi berat badan konversi dikalikan
dosis konversi diperoleh hasil 0,6ml. Dalam pemberian volume harus diperhatikan karena akan
menentukan

besar dosis obat yang akan diberikan agar tidak melebihi dosis maksimal. Dalam

persediaan yang ada tersedia sediaan ketoprofen ampul 100mg/2ml dimana ingin dibuat dalam 1mg/ml
dalam 10ml larutan NaCl. Sehingga harus dilakukan pengenceran dengan menggunakan rumus
V1xC2=V2xC2. Jadi ketoprofen yang diambil adalah 0,2 ml yang kemudiaan diencerkan kedalam NaCl
sebanyak 10ml (didapatkan 1mg/ml ketoprofen). Disini berat badan tikus yang diberi perlakuanya itu
sebesar 118 gram, sehingga volume ketoprofen yang akan diinjeksikan harus disesuaikan dengan berat
badan tikus tersebut. Cara untuk menghitung volume ketoprofenya itu berat badan tikus perlakuan
dibagi berat badan tikus 200gram dikali 1mg/ml sehingga diperoleh hasil 0,6ml.

Percobaan ini dimulai dengan menimbang kedua tikus, penimbangan dilakukan untuk
menentukan dosis obat yang akan diberikan. Setelah ditimbang, kedua tikus ditandai menggunakan
spidol pada bagian kaki (diatas lutut). Selanjutnya kaki kanan pada tikus 1 (control) disuntikkan
formalin 0,1 mL kemudian mengukur volume udem dengan mencelupkan telapak kaki (sampai tanda)
dalam air raksa pada pletismograph. Selanjutnya kaki kiri tikus 1 juga disuntikkan 0,1 mL NaCl 1 %
lalu diukur volume udemnya dengan mencelupkan telapak kaki (sampai batas) kedalam air raksa pada
alat pletismograph. Untuk tikus 2 diinjeksi secara intramuscular dengan ketoprofen. Setelah 15 menit
pemberian obat salah satu telapak kaki tikus diinjeksi dengan formalin. Kemudian diukur volume udem
pada alat pletismograph. Pengukuran volume udem ini juga dilakukan pada menit ke-30 dan 60 setelah
pemberian obat. Setelah mengetahui volume udem pada telapak kaki tikus yang diberi obat dan volume
udem pada telapak kaki tikus kontrol, % daya inflamasi dapat dihitung.
Pemberian suntikan intramuskuler ( IM ). Obat- obat yang larut dalam air akan diabsorbsi
dengan cepat setelah penyuntikan IM. Umumnya kecepatan absorpsi setelah penyuntikan pada
muskulus deloid atau vastus lateralis adalah lebih cepat dari pada bila disuntikkan pada gluteus
maximus. Keuntungan pemberian secara intamuskuler yaitu absorbsi cepat dapat diberikan pada pasien
sadar atau tidak sadar. Sedangkan kerugiannya yaitu perlu proses sterilisasi, sakit, dan dapat terjadi
infeksi ditempat injeksi.
Obat yang digunakan untuk uji anti inflamasi disini adalah ketoprofen. Ketoprofen merupakan
salah satu obat golongan NSAIDs. Mekanisme kerja dari ketoprofen yang merupakan suatu anti
inflamasi non steroid dengan efek anti inflamasi, analgesic dan antipiretik ini, sebagai anti inflamasi
bekerja dengan menghambat sintesa prostaglandin. Pada pemberian oral kadar puncak dicapai selama
0,52 jam. Waktu paruh eliminasi pada orang dewasa 3 jam, dan 5 jam pada orang tua.
Indikasi

dari

ketoprofen

yaitu

untuk

mengobati

gejala-gejala

arthritis

rematoid,

ankilosingspondilitis, gout akut dan osteoarthritis serta control nyeri dan inflamasi akibat operasi
ortopedik.
Dosis pada sediaan oral, dosis awal yang dianjurkan adalah 75mg 3 kali sehari atau 50 mg 4
kali sehari. Dosis maksimumnya 300 mg sehari. Sebaiknya digunakan bersama dengan makanan atau
susu.
Kontraindikasi pada hipersensitif terhadap ketoprofen, aspirin dan AINS lain. Gangguan fungsi
ginjal dan hati yang berat Ulkus peptikum dan pada penderita asma. Peringatan penggunaan ketoprofen,
hati-hati bila diberikan pada penderita hiperasiditas lambung, tidak dianjurkan penggunaan pada wanita
hamil dan menyusui. Hati-hati pada penderita gangguan fungsi ginjal. Efek sampingnya yaitu ulkus
gastrointestinal, penurunan jumlah sel darah merah (akibat pendarahan GI), dan jarang kerusakan ginjal,
protein kerugian, dan gangguan perdarahan.

Interaksi obat, ketoprofen tidak boleh digunakan dalam dengan NSAID atau kortikosteroid
lainnya, karena hal ini meningkatkan risiko ulserasi GI. Ini juga harus digunakan dengan hati-hati
dengan antikoagulan lain. Hal ini umumnya digunakan dengan meprazol, sucralfate, dan simetidin untuk
membantu melindungi saluran GI.
Dari mekanisme dan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa ketoprofen merupakan obat
anti inflamasi. Inflamasi merupakan gabungan proses yang kompleks ditandai dengan bengkak,
kemerahan, nyeri dan panas. Pembengkakan jaringan akibat kelebihan cairan interstisium dikenal
sebagai edema. Reaksi radang dapat diamati dari gejala-gejala klinis. Di sekitar jaringan terkena radang
terjadi peningkatan panas (kalor), timbul warna kemerah-merahan (rubor) dan pembengkakan (tumor).
Kemungkinan disusul perubahan struktur jaringan yang dapat menimbulkan kehilangan fungsi.
Dampak Edema
Edema biasanya akan lebih tampak pada jaringan lunak yang renggang misalnya pada jaringan
subcutis dan pada paru-paru. Biasanya akan , seperti pada daerah sekitar mata dan alat kelamin luar.
Kulit diatasanya biasanya menjadi renggang. Bila diatas daerah tersebut ditekan, Maka cairan akan
terdorong dan pindah dari tempat tersebut dan meninggalkan cekungan pada tempat tekanan tersebut
disebut dengan (pitting edema).
Dari hasil praktikum yang dilakukan terhadap dua tikus sebagai hewan uji dengan pemberian
antiinflamasi ketoprofen menunjukkan hasil bahwa perlakuan yang diberikan pada tikus pertama
sebagai kontrol adalah dengan menyuntikkan formalin dan NaCl sedangkan pada tikus uji diinjeksikan
ketoprofen secara intramuskular kemudian diinjeksikan formalin. Kemudian setelah diinjeksikan
formalin maka segera dilakukan pengukuran volume udem, selanjutnya pengukuran volume diulang
setelah 30 menit dan 60 menit kemudian. Pengamatan atau pengukuran kembali volume udem setiap 30
menit selama 1 jam ini bertujuan untuk mengukur besarnya inflamasi yang terjadi pada kaki tikus akibat
pemberian formalin.
Dari hasil pengamatan secara umum diperoleh bahwa setelah 30 menit penyuntikan, tinggi air
raksa menurun dari pada pengukuran pertama setelah disuntik. Selanjutnya 30 menit berikutnya tinggi
air raksa mengalami penurunan secara bertahap. Namun dari kelompok pertama mengalami peningkatan
volume raksa dari pengukuran setelah awal penyuntikkan menuju 30 menit setelah penyuntikkan.
Peningkatan tinggi air raksa ini menunjukkan bahwa mulainya pembentukan inflamasi pada kaki tikus
setelah penyuntikkan formalin sedangkan penurunan tinggi air raksa menunjukkan bahwa efek injeksi
formalin sudah mulai berkurang sehingga inflamasi yang terbentuk mulai mereda, dalam hal ini ukuran
telapak kaki tikus mulai mengecil.
Sementara tikus kontrol berguna untuk membandingkan antara volume udem pada kaki kiri
yang diberi NaCl dengan kaki kanan yang diberi formalin sebagai inflamator. Inflamasi yang terbentuk

diamati dan terbukti bahwa volume inflamasi tikus kontrol lebih besar daripada volume inflamasi pada
tikus uji. Formalin yang diinjeksikan secara sub kutan menimbulkan efek inflamasi dengan membentuk
udem. Pembentukan udem ini terjadi karena adanya kerusakan jaringan. Dari hasil kelompok pertama
pada menit ke 0 atau menit awal volume udem kaki tikus yang diberikan ketoprofen sebesar 0,25ml
sedangkan volume udem pada kaki tikus yang diberikan kontrol sebesar 0,31ml kemudian setelah
dihitung persen daya antiinflamasi maka dari kelompok pertama menit awal memiliki persen daya
antiinflamasi sebesar 19,35%, untuk 30 menit beikutnya sebesar 4% dan 30 menit berikutnya atau
setelah menit ke 60 sebesar 17,95%.
Sementara data dari kelompok dua menunjukkan persen daya antiinflamasi mulai dari menit
awal hingga menit ke 60 masing-masing sebesar 7,69% ; 20,69% dan 53,125%, sehingga selalu
mengalami peningkatan persentase. Sedangkan dari kelompok tiga persen daya antiinflamasi sebesar
17,95% ; 25,6% dan 25,6% dari menit awal, 30 menit, dan 60 menit secara berturut-turut. Dari data
tersebut awalnya mengalami peningkatan dan selanjutnya konstan. Dari data-data tersebut maka dapat
disimpulkan bahwa semakin lama waktu pengujian maka volume raksa mengalami penurunan sehingga
semakin kecil volume udem pada kaki tikus berarti obat antiinflamasi mulai menunjukkan efek dan daya
inflamasinya mulai berkurang. Namun pada kelompok satu seperti yang sudah dibahas diatas bahwa
dari menit awal menuju menit 30 terjadi penurunan persen daya antiinflamasi yang mungkin hal ini
disebabkan karena mulainya pembentukan efek inflamasi atau mungkin disebabkan pada saat
pencelupan kaki tikus kedalam raksa ada volume raksa yang hilang karena tikus yang bergerak-gerak
sehingga menyebabkan kekeliruan dalam pembacaan tinggi air raksa. Sementara pada kelompok tiga
dari menit 30 menuju menit 60 terjadi persentase daya antiinflamasi yang konstan, hal ini mungkin
karena obat antiinflamsi sudah berhenti efek antiinflamasinya.
Aktivitas antiinflamasi obat ditunjukkan oleh kemampuan obat mengurangi udem yang
diinduksikan pada telapak kaki hewan percobaan. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dengan
pemberian obat antiinflamasi ketoprofen yang diinjeksikan secara intramuskular menunjukkan bahwa
peradangan yang terjadi pada kelompok kontrol lebih besar daripada kelompok uji. Hal ini disebabkan
karena kelompok kontrol tidak diberikan antiinflamasi. Sedangkan pada kelompok tikus uji pemberian
ketoprofen memberikan efek antiinflamasi yang semakin lama semakin meningkat. Selain itu, adanya
aktivitas antiinflamasi pada ketoprofen juga menunjukkan cara pemberian obat secara intramuskular
telah dilakukan dengan baik sehingga mampu memberikan efek antiinflamasi pada hewan yang
dilakukan uji.
Sehingga kesimpulannya pemberiaan inflamator pada hewan uji menyebabkan inflamasi atau
peradangan yang ditandai dengan pembentukan udem. Pemberian antiinflamasi menyebabkan
peradangan berkurang dan semakin lama waktu pengujian maka semakin besar pula persen daya
antiinflamasi dari suatu obat antiinflamasi tersebut.

VI.

1.

KESIMPULAN
Aktivitas antiinflamasi obat ditunjukkan oleh kemampuan obat mengurangi udem yang diinduksikan
pada telapak kaki hewan percobaan (tikus).

2.

Obat yang digunakan untuk uji anti inflamasi disini adalah ketoprofen. Untuk kontrol digunakan larutan
NaCl 0,9%, dan sebagai inflamator digunakan formalin. Penyuntikan dilakukan secara i.m, karena
absorbsi lebih cepat.

3.

Ketoprofen merupakan suatu antiinflamasi non steroid dengan efek antiinflamasi, analgesik dan
antipiretik dengan mekanisme menghambat enzim siklogsigenase/ COX.

4.

Dari hasil percobaan didapatkan persen daya inflamasi Ketoprofen pada tikus I dari menit 0,30 dan 60
berturut turut yaitu 19,35%, 4% dan 17,95%. Pada tikus II yaitu 7,69% ; 20,69% dan 53,125%. Serta
pada tikus III yaitu 17,95% ; 25,6% dan 25,6%. Daya inflamasi ketoprofen yang paling besar terdapat
pada tikus II yaitu sebesar 53,125%.

5. Pemberiaan inflamator pada hewan uji menyebabkan inflamasi atau peradangan yang ditandai dengan
pembentukan udem. Pemberian antiinflamasi menyebabkan peradangan berkurang dan semakin lama
waktu pengujian maka semakin besar pula persen daya antiinflamasi dari suatu obat antiinflamasi
tersebut.

LAMPIRAN
Menjawab pertanyaan :
1. Bagaimana pengaruh pemberian ketoprofen pada udem telapak kaki tikus? Bagaimana mekanismenya?
Jawab: tikus memiliki anatomi dan fisiologi yang mirip dengan manusia sehingga mekanisme kerja
secara farmakokinetik dan farmakodinamik obat dianggap sama. Mekanisme kerja ketoprofen yaitu
menimbulkan efek antiradang dengan beberapa kemungkinan, antara lain adalah menghambat
biosintesis dan pengeluaran prostaglandin dengan cara menghambat enzim sikloogenase yang memacu
timbulnya mediator-mediator radang sehingga mediator radang terhambat sehingga menurunkan gejala
keradangan
2. Mengapa pengukuran volume udem diulangi setelah 1 jam?
Jawab: Pengukuran volume udem diulangi setelah 1 jam karena pada waktu ini diharapkan obat yang
diberikan telah mencapai sistemik dan telah diedarkan ke seluruh tubuh termasuk pembuluh darah pada
kaki kanan belakang tikus.

PERHITUNGAN
Dosi Ketoprofen (60mg/ml)
Konversi dosis manusia (70kg) = tikus (200gram)= 0,018
Dosis untuk tikus = 60mg/ml x 0,018= 1,08 mg/ml

Sediaan ampul ketoprofen 100mg/2ml, dibuat 1mg/ml dalam 10 ml


Pengenceran
V 1 . C1

V1. 50mg/ml =
V1 =

V2. C2
10 ml. 1mg/ml
0,2 ml

Jadi pengambilan ketoprofen sebesar 0,2 ml lalu ditambahkan larutan NaCl sampai volume 10ml
(didapatkan 1 mg/ml ketoprofen)

Perhitungan dosis untuk tikus kelompok 3


Bobot Tikus a = 123 gram (perlakuan kontrol)
Volume pemberian = 0,1 ml
Bobot Tikus b = 118 gram (perlakuan ketoprofen)
Volume pemberian untuk tikus b =

118 gram
mg
x1
=0,6 ml
200 gram
ml

%daya antiinflamasi = 100 (p/k x 100 )

% daya antiinflamasi
Awal

= 100 (0,32/0,22 x 100 %)

= 17,9 %
30 mnt = 100 (0,29/0,22 x 100 %)
= 25,6 %
60 mnt = 100 ( 0,29/0,22 x 100 %)
= 25,6 %

LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM FARMAKOLOGI II
MATERI IV
UJI EFEK SEDATIF

I.

TUJUAN
Dapat mengenal dan mempraktekkan uji kemampuan sedasi/penekanan terhadap system saraf pusat
suatu obat kepada hewan uji.

II.

DASAR TEORI
Hipnotik dan sedatif merupakan golongan obat pendepresi susunan saraf pusat (SSP). Efeknya
bergantung dosis, mulai dari ringan yaitu menyebabkan tenang atau kantuk, menidurkan, hingga berat
yaitu kehilangan kesadaran, keadaan anestesi, koma dan mati. Obat-obatan hipnotik sedative adalah
istilah untuk obat-obatan yamg mampu mendepresi sistem saraf pusat. Sedatif adalah substansi yang
memiliki aktifitas moderate yang memberikan efek menenangkan, sementara hipnotik adalah substansi
yang dapat memberikan efek mengantuk dan yang dapat memberikan onset serta mempertahankan tidur
(Tjay, 2002).
Penggolongan suatu obat ke dalam jenis sedative-hipnotik menunjukkan bahwa kegunaan
terapeutik utamanya adalah menyebabkan sedasi (dengan disertai hilangnya rasa cemas) atau
menyebabkan kantuk. Sedative-hipnotik seringkali diresepkan untuk gangguan tidur karena termasuk ke
dalam obat-obatan penekan Sistem Saraf Pusat yang dapat menimbulkan depresi (penurunan aktivitas
fungsional) dalam berbagai tingkat dalam Sistem Saraf Pusat (Goodman and Gilman, 2006).
Sedatif adalah obat tidur yang dalam dosis lebih rendah dari terapi yang diberikan pada siang
hari untuk tujuan menenangkan. Sedatif termasuk ke dalam kelompok psikoleptika yang mencakup
obat0obat yang menekan atau menghambat sisem saraf pusat. Sedatif berfungsi menurunkan aktivitas,
mengurangi ketegangan, dan menenangkan penggunanya. Keadaan sedasi juga merupakan efek samping
dari banyak obat yang khasiat utamanya tidak menekan Sistem Saraf Pusat, misalnya antikolinergika
(Lllmann, 2000).
Sedatif-hipnotik berkhasiat menekan Sistem Saraf Pusat bila digunakan dalam dosis yang
meningkat, suatu sedatif, misalnya fenobarbital akan menimbulkan efek berturut-turut peredaan, tidur,
dan pembiusan total (anestesi), sedangkan pada dosis yang lebih besar lagi dapat menyebabkan koma
depresi pernafasan dan kematian. Bila diberikan berulang kali untuk jangka waktu lama, senyawa ini
lazimnya menimbulkan ketergantungan dan ketagihan (Neal, 2002).
Hipnotika atau obat tidur adalah zat-zat yang dalam dosis terapeutik diperuntukkan untuk
mempermudah atau menyebabkan tidur. Hipnotika menimbulkan rasa kantuk, mempercepat tidur, dan
sepanjang malam mempertahankan keadaan tidur yang menyerupai tidur alamiah. Secara ideal obat
tidur tidak memiliki aktivitas sisa pada keesokan harinya (Tjay, 2002).
Efek hipnotik meliputi depresi sistem saraf pusat yang lebih kuat daripada sedasi, hal ini dapat
dicapai dengan semua obat sedative dengan peningkatan dosis. Depresi sistemsaraf pusat yang
bergantung pada tingkat dosis merupakan karakteristik dari sedative-hipnotik. Dengan peningkatan
dosis yang diperlukan untuk hipnotik dapat mengarah kepada keadaan anestesi umum. Masih pada dosis
yang tinggi, obat sedative-hipnotik dapat mendepresi pusat-pusat pernafasan dan vasomotor di medulla,
yang dapat mengakibatkan koma dan kematian (Katzung, 2002).

Bentuk yang paling ringan dari penekanan sistem saraf pusat adalah sedasi, dimana penekanan
sistem saraf pusat tertentu dalam dosis yang lebih rendah dapat menghilangkan respon fisik dan mental
tetapi tidak mempengaruhi kesadaran. Sedatif terutama digunakan pada siang hari, dengan
meningkatkan dosis dapat menimbulkan efek hipnotik. Jika diberikan dalam dosis yang sangat tinggi,
obat-obat sedatif-hipnotik mungkin dapat mencapai anestesi, sebagai contoh adalah barbiturat dengan
masa kerja yang sangat singkat yang digunakan untuk menimbulkan anestesi adalah natrium thiopental
(Pentothal) (Katzung, 2002).
Secara klinis obat-obatan sedatif-hipnotik digunakan sebagai obat-obatan yang berhubungan
dengan sistem saraf pusat seperti tatalaksana nyeri akut dan kronik, tindakan anesthesia,
penatalaksanaan kejang serta insomnia. Obat-obatan sedatiif hipnotik diklasifikasikan menjadi 3
kelompok, yakni:
1.
2.
3.

Benzodiazepin: alprazopam, klordiazepoksid, klorazepat, diazepam, flurazepam, lorazepam, midazolam


Barbiturat: amobarbital, pentobarbital, fenobarbital, sekobarbital, tiopental
Golongan obat nonbarbiturat-nonbenzodiazepin: meprobamat, ketamin, propofol, dekstrometorphan,
buspiron, kloralhidrat (Ganiswarna, 1995).

Fenobarbital / Luminal
a. Mekanisme kerja
Mekanisme kerja menghambat
kejang kemungkinan melibatkan2 potensiasi
Mencit
Timbangan
kelompokpenghambatan sinaps
melalui suatu kerja pada reseptor GABAA, rekaman intrasel neuron korteks atau spinalis kordata mencit
menunjukkan bahwa fenobarbital meningkatkan respons terhadap GABA yang diberikan secara
iontoforetik. Efek ini telah teramati pada konsentrasi fenobarbital yang sesuai secara terapeutik. Analisis
saluran tunggal pada out patch bagian luar yang diisolasi dari neuron spinalis kordata mencit
menunjukkan bahwa fenobarbital meningkatkan arus yang diperantarai reseptor GABA dengan
Mencit2
meningkatkan durasi ledakan arus yang
diperantarai reseptor GABA tanpa
merubah frekuensi ledakan.
Mencit1

Pada kadar yang melebihi konsentrasi terapeutik, fenobarbital juga membatasi perangsangan berulang
terus menerus; ini mendasari beberapa efek kejang fenobarbital pada konsentrasi yang lebih tinggi yang
tercapai selama terapi status epilepMENCIT.
b. Indikasi
Sebagai hipnotik dan sedatif, dipakai dalam keadaan insomnia, histeria, ansietas, neurosis dan
Luminal/fenobarbital
Garamstrihnin,
fisiologis
0,9 %
migren. Antikonvulsi pada keadaan
epilepsi, kejang-kejang, keracunan
tetanus.
c. Dosis
1 2 dd 30 125 mg, maksimal 400 mg (dalam 2 kali), pada anak anak 2 12 bulan 4 mg/kg BB

sehari, pada status epilepticus dewasa 200 300 mg.


d. Onset
Mencapai efek pada 6 jam setelah mengkonsumsi.
e. Durasi
Ada tidaknya reflek balik badan
Daya kerja fenobarbital sangat panjang, yaitu
3 4 hari (Anonim, 2009)
A. CARA KERJA
Ditimbang

dibagi

Onset dan durasi waktu tidur luminal

Diberi secara per oral

Diamati

Dihitung

III.

HASIL PERCOBAAN

Kelompok

Mencit

Kontrol

Onset
-

II

2
1

mati
-

Perlakuan
Durasi
-

Onset
Tidak tidur

Durasi
Tidak

mati
-

22 menit 22

tidur
1 jam 15

detik

menit
(belumti

Mencit

Mencit

dur)
-

III

1
2

kurang

kurang

daya

daya

tahan
40 menit

tahan
5 menit

23 menit
-

17 menit
-

NB:
Mencit 1 : sebagai perlakuan
Mencit 2 : sebagai control
IV.

PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dilakukan uji efek sedatif pada hewan uji yaitu mencit. Tujuan dari
praktikum kali ini adalah untuk mengenal dan mempraktekkan uji kemampuan sedasi/penekanan
terhadap sistem saraf pusat suatu obat kepada hewan uji. Dengan cara mengamati perubahan yang
terjadi pada mencit setelah diberi obat sedatif kepada mencit.
Sedatif adalah obat tidur yang dalam dosis lebih rendah dari terapi yang diberikan pada siang
hari untuk tujuan menenangkan. Sedatif termasuk ke dalam kelompok psikoleptika yang mencakup obat
- obat yang menekan atau menghambat sisem saraf pusat. Sedatif berfungsi menurunkan aktivitas,
mengurangi ketegangan, dan menenangkan penggunanya. Keadaan sedasi juga merupakan efek samping
dari banyak obat yang khasiat utamanya tidak menekan Sistem Saraf Pusat, misalnya antikolinergika.
Sedatif-hipnotik berkhasiat menekan Sistem Saraf Pusat bila digunakan dalam dosis yang
meningkat, suatu sedatif, misalnya fenobarbital akan menimbulkan efek berturut-turut peredaan, tidur,
dan pembiusan total (anestesi), sedangkan pada dosis yang lebih besar lagi dapat menyebabkan koma
depresi pernafasan dan kematian. Bila diberikan berulang kali untuk jangka waktu lama, senyawa ini
lazimnya menimbulkan ketergantungan dan ketagihan.
Bentuk yang paling ringan dari penekanan sistem saraf pusat adalah sedasi, dimana penekanan
sistem saraf pusat tertentu dalam dosis yang lebih rendah dapat menghilangkan respon fisik dan mental
tetapi tidak mempengaruhi kesadaran. Sedatif terutama digunakan pada siang hari, dengan
meningkatkan dosis dapat menimbulkan efek hipnotik. Jika diberikan dalam dosis yang sangat tinggi,
obat-obat sedatif-hipnotik mungkin dapat mencapai anestesi, sebagai contoh adalah barbiturat dengan
masa kerja yang sangat singkat yang digunakan untuk menimbulkan anestesi adalah natrium thiopental
(Pentothal).
Dalam praktikum kali ini digunakan mencit sebagai hewan uji dan untuk memberikan efek
sedatifnya diberikan obat luminal/fenobarbital pada dosis manusia. Serta digunakan mencit kontrol yang
hanya diberikan garam fisiologis 0,9 %. Tujuannya yaitu sebagai perbandingan efek sedatif yang
ditimbulkan pada mencit ditandai dengan hilangnya kemampuan mencit untuk membalikkan badan dari
keadaan terlentang dalam hal ini mencit sampai tertidur. Luminal inilah yang nantinya akan memberikan
efek sedatif pada mencit. Efek sedatif dapat terjadi karena ada penekanan dalam sistem saraf pusat pada
mencit sehingga akan menyebabkan mencit tertidur. Efek sedatif mempengaruhi kemampuan motorik

mencit, dari pengaruh tersebut kita dapat mengetahui seberapa besar efek sedatif yang terjadi pada
mencit.
Luminal dapat memberikan efek sedatif karena luminal/fenobarbital merupakan antikonvulsan
turunan barbiturat yang efektif dalam mengatasi epilepsi pada dosis subhipnotis. Mekanisme kerja
menghambat kejang kemungkinan melibatkan potensiasi penghambatan sinaps melalui suatu kerja pada
reseptor GABA, rekaman intrasel neuron korteks atau spinalis kordata mencit menunjukkan bahwa
fenobarbital meningkatkan respons terhadap GABA yang diberikan secara iontoforetik. Efek ini telah
teramati pada konsentrasi fenobarbital yang sesuai secara terapeutik. Analisis saluran tunggal pada out
patch bagian luar yang diisolasi dari neuron spinalis kordata mencit menunjukkan bahwa fenobarbital
meningkatkan arus yang diperantarai reseptor GABA dengan meningkatkan durasi ledakan arus yang
diperantarai reseptor GABA tanpa merubah frekuensi ledakan. Pada kadar yang melebihi konsentrasi
terapeutik, fenobarbital juga membatasi perangsangan berulang terus menerus; ini mendasari beberapa
efek kejang fenobarbital pada konsentrasi yang lebih tinggi yang tercapai selama terapi status
epileptikus.
Pengujian efek sedatif pada percobaan ini dilakukan pada hewan uji yaitu mencit. Langkah
awal pengujian efek sedatif yaitu menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam pengujian. Seperti
spuit injeksi 1 mL yang digunakan untuk memasukkan cairan atau obat kedalam tubuh hewan uji, dalam
hal ini cairan atau obat dimasukkan secara per oral (dimasukkan melalui mulut). Neraca atau timbangan
yang digunakan untuk menimbang hewan uji. Untuk bahan yang digunakan yaitu Phenobarbital /
luminal yang digunakan sebagai obat yang diberikan untuk menimbulkan efek sedatif - hipnotik pada
hewan uji, selain itu juga digunakan larutan garam fisiologis, dalam hal ini digunakan larutan NaCl 0,9
% yang berfungsi sebagai control / pembanding.
Pemberian per oral merupakan cara penggunaan obat masuk melalui mulut. Keuntungannya
relatif aman, praktis, ekonomis,dan merupakan cara pemberian obat yang paling umum dilakukan. Pada
pemberian secara oral, sebelum oba masuk ke peredaran darah dan didistribusikan ke seluruh tubuh,
terlebih dahulu harus mengalami absorbsi pada saluran cerna.
Kerugian pemberian per oral adalah banyak faktor dapat mempengaruhi bioavaibilitas obat.
Karena ada obat-obat yang tidak semua yang diabsorpsi dari tempat pemberian akan mencapai sirkulasi
sistemik. Sebagian akan dimetabolisme oleh enzim di dinding usus dan atau di hati pada lintasan
pertamanya melalui organ-organ tersebut (metabolisme atau eliminasi lintas pertama). Eliminasi lintas
pertama obat dapat dihindari atau dikurangi dengan cara pemberian parenteral, sublingual, rektal, atau
memberikannya bersama makanan.
Selain itu, kerugian pemberian melalui oral yang lain adalah ada obat yang dapat mengiritasi
saluran cerna, dan perlu kerja sama dengan penderita, dan tidak bisa dilakukan saat pasien koma. timbul
efek lambat; tidak bermanfaat untuk pasien yang sering muntah, diare, tidak kooperatif; untuk obat
iritatif dan rasa tidak enak penggunaannya terbatas; obat yang inaktif/terurai oleh cairan lambung/ usus
tidak bermanfaat (penisilin G, insulin); obat absorpsi tidak teratur. Untuk tujuan terapi serta efek

sistematik yang dikehendaki, penggunaan oral adalah yang paling menyenangkan dan murah, serta
umumnya paling aman. Hanya beberapa obat yang mengalami perusakan oleh cairan lambung atau usus.
Pada keadaan pasien muntah-muntah, koma, atau dikehendaki onset yang cepat, penggunaan obat
melalui oral tidak dapat dipakai (Howard, 1989).
Mekanisme obat yang diberikan per oral yaitu sebagian besar obat diberikan melalui mulut dan
ditelan. Beberapa obat (misal, alkohol dan aspirin) dapat diserap secara cepat dari lambung, tetapi
kebanyakan obat diabsorpsi sebagian besar pada usus halus. Pengukuran-pengukuran yang dilakukan
terhadap absorpsi obat, baik secara in vivo maupun secara in vitro, menunjukkan bahwa mekanisme
dasar absorpsi obat melalui usus halus adalah difusi pasif, kecepatan transfer obat ini ditentukan oleh
derajat ionisasi dan kelarutan obat dalam lipid.
Cara menghandel mencit untuk pemberian obat peroral

Pertama ekor dipegang sampai pangkal ekor. Kemudian telapak tangan menggenggam melalui bagian
belakang tubuh dengan jari telunjuk dan jempol secara perlahan diletakkan disamping kiri dan kanan
leher. Tangan yang lainnya membantu dengan menyangga dibawahnya, atau tangan lainnya dapat

digunakan untuk menyuntik.


Pemberian obat dilakukan dengan menggunakan jarum suntik yang ujungnya tumpul.
Sebelum memasukkan sande oral, posisi kepala dan keadaan mulut harus diperhatikan. Ketika hewan
dipegang dengan posisi terbalik pastikan posisi kepala menengadah atau posisi dagu sejajar dengan
tubuh dan mulut terbuka sedikit (Katzung, 2001.)
Langkah selanjutnya adalah menimbang hewan uji yaitu mencit. Penimbangan ini dimaksudkan
untuk mengetahui dosis obat Phenobarbital / luminal yang diberikan kepada mencit. Mencit yang
digunakan dalam pengujian ini sebanyak 2 ekor mencit, mencit 1 sebagai mencit kontrol yang diberi
larutan NaCl 0,9% sebanyak 1 mL secara per oral. Dan mencit 2 sebagai mencit perlakuan yang diberi
obat Phenobarbital / luminal sebanyak 0,83 mL secara per oral. Banyaknya Phenobarbital / luminal yang
diberikan ini diperoleh dari perhitungan konversi dosis phenobarbital ke mencit yang telah dilakukan.
Masing-masing mencit yang telah diberikan perlakuan yang berbeda, kemudian diamati. Lalu dihitung
onset dan durasi kerja obat. Pada pengujian efek sedatif kali ini menggunakan parameter reflek balik
badan. Onset kerja obat yaitu waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan kadar efektif, dalam hal ini
ditandai dengan lamanya waktu mencit untuk tidur (terlentang). Dan durasi kerja obat yaitu lama
kerjanya obat, dalam hal ini ditandai dengan lamanya waktu mencit untuk tidur (terlentang) hingga
membalikkan badan (bangun kembali). Sedative adalah obat yang menimbulkan depresi ringan susunan
syaraf pusat tanpa menyebabkan tidur. Ketika mencapai efek sedasi hewan uji menjadi lebih tenang
karena aktivitas motorik dan reaksi spontan menurun. Efek sedasi dapat mempengaruhi kemampuan
koordinasi motorik hewan uji tergantung dari besar atau kecilnya efek sedasi. Oleh karena itu efek
sedasi dapat diamati dengan menggunakan beberapa parameter antara lain parameter daya cengkeram
pada rotarod, reflex kornea, diameter pupil mata, serta reflex balik badan. Untuk parameter daya
cengkeram pada rotarod menunjukkan bahwa efek sedasi sudah mulai bekerja ketika daya cengkeram

hewan uji sudah mulai menurun atau melemah dibandingkan sebelum pemberian obat. Sedangkan pada
parameter diameter pupil mata, maka pupil mata akan mengalami pengecilan ketika efek sedasi sudah
mulai bekerja.
Sebelum diberikan luminal maka dihitung terlebih dahulu dosis luminal yang diberikan pada
mencit dengan disesuaikan dari berat badan mencit. Untuk konversi dosis maka akan dijelaskan sebagai
berikut yaitu 30 mg luminal adalah dosis lazim untuk manusia dengan bobot 70 kg sedangkan pada
mencit 30 mg luminal tersebut merupakan dosis lazim untuk mencit dengan berat 20 gram. Konversi
berat badan mencit 20 gram dari manusia 70 kg adalah 0,0026. Sehingga dosis maksimal yang diberikan
pada mencit dengan bobot 30 gram (bobot maksimal mencit) adalah 0,117 mg
Digunakan dua mencit dalam percobaan kali ini. Mencit pertama memiliki berat 21,5 gram dan
mencit kedua memiliki berat 25 gram. Mencit pertama digunakan sebagai kontrol dengan pemberian
garam fisiologis 0,9% sebanyak 1 ml secara per oral dan mencit kedua adalah mencit perlakuan yang
digunakan sebagai uji dengan pemberian luminal sebanyak 0,83 ml secara per oral.
Setelah kedua mencit diberikan garam fisiologis dan luminal maka ditunggu berapa lama waktu
yang diperlukan hingga kedua zat tersebut memberikan efek pada mencit. Efek sedasi terjadi ditandai
dengan reflex balik badan mencit. Reflex balik badan adalah suatu parameter sedative pada hewan uji
yang ditandai dengan hilangnya kemampuan hewan uji untuk membalikkan badan dari keadaan
telentang. Dicatat hilangnya reflex balik badan dan akan diketahui onset serta durasi zat kontrol yaitu
garam fisiologis 0,9% maupun zat sedative yaitu luminal atau fenobarbital.
Dari hasil pengamatan dari kelompok 1,2 dan 3 didapatkan hasil bahwa mencit yang diberi
perlakuan hanya kelompok 2 dan 3 saja yang dapat diketahuin onset yaitu 22 menit dan 23 menit. Akan
tetapi kelompok yang dapat diketahui durasi obat itu bekerja hanya pada kelompok 3 yaitu 17 menit.
Hal ini disebabkan karena keadaan ruang praktikum yang kurang kondusif untuk pengamatan efek
sedative pada hewan uji. Seharusnya pengaruh pemberian Luminal terhadap mencit itu sendiri adalah
memberikan efek tenang (sedative) dan menjadikan mencit

tertidur, karena efek sedative dapat

mempengaruhi kemampuan koordinasi motoric hewan uji. Obat tersebut memiliki mekanisme menekan
susunan saraf pusat. Efek utama golongan barbiturate ini ialah depresi SSP. Semua tingkat depresi dapat
dicapai, mulai dari sedasi, hypnosis, koma sampai dengan kematian.Terjadinya aksi/onset untuk
pemberian oral barbiturat bervariasi dari 20 sampai 60 menit. Durasi kerja, yang berkaitan dengan
tingkat di mana fenobarbital didistribusikan ke seluruh tubuh bervariasi. Long-acting fenobarbital
memiliki durasi tindakan dari 3 sampai 6 jam. Faktor yang mempengaruhi onset dan durasi yaitu :
a. Cara pemberian obat
b. Sirkulasi darah ke tempat pemberian
c. Daya larut obat
d. Derajat ionisasi obat
e. Luas permukaan absorbsi obat

f.

Ukuran partikel molekul obat

g. Formulasi obat

Dari praktikum uji efek sedative pada hewan uji mencit dapat diambil kesimpulan bahwa
perlakuan atau tempat dilakukannya uji belum kondusif sehingga ditemukan banyak hal-hal yang
mengganggu hasil pengamatan diantara suasana ruangan yang mengganggu mencit tidur dan perlakuan
sebelum pemberian obat yang kurang baik sehingga hewan uji tersebut stress dan sulit tidur.
V.

KESIMPULAN
1. Pengujian efek sedative menggunakan parameter reflek balik badan. Onset kerja obat ditandai dengan
lamanya waktu mencit untuk tidur (terlentang). Sedangkan durasi kerja obat ditandai dengan lamanya
waktu mencit untuk tidur (terlentang) hingga membalikkan badan (bangun kembali).

2.

Obat yang digunakan untuk uji anti sedative adalah luminal. Untuk kontrol digunakan larutan NaCl
0,9%. Pemberian dilakukan secara oral.

3. Luminal bekerja dengan meningkatkan penghambatan efektifitas GABA dalam menghasilkan


rangsangan dengan meningkatkan permeabilitas membran terhadap ion klorida.

4.

Dari hasil percobaan didapatkan waktu onset sedative Luminal pada mencit perlakuan kelompok 2 yaitu
22 menit 22 detik. Pada mencit kelompok 3 yaitu 23 menit. Sedangkan pada kelompok 1 mencit tidak
tertidur. Onset sedative luminal yang paling besar terdapat pada tikus 3 yaitu sebesar 23 menit.

5.

Data percobaan untuk durasi sedative luminal pada mencit perlakuan kelompok 2 yaitu 1 jam 15 menit
(belum tidur). Pada mencit kelompok 3 yaitu 17 menit. Sedangkan pada kelompok 1 mencit tidak
tertidur. Durasi sedative luminal yang paling besar terdapat pada tikus 2 yaitu selama 1 jam 15 menit
namun mencit belum tertidur.

6. Efek sedative mempengaruhi kemampuan koordinasi motorik hewan uji, besar kecilnya pengaruh
terhadap koordinasi hewan uji menggambarkan besar kecilnya efek sedative.
LAMPIRAN
Konversi Dosis Luminal Ke Mencit
Dosis Luminal = 30 mg
Konversi = 0,0026 untuk mencit dengan bobot 20 gram
Luminal 30 mg 30 mg x 0,0026 = 0,078 mg/20 gram
Bobot maksimal mencit = 30

gram

30mg/20mg x 0,078 mg
= 0,117 mg

Volume sediaan Luminal = 0,117 mg/ml


= 11,7 mg/100ml
= 0,0117 gram/100ml

= 0,02 gram/100ml

MENCIT KELOMPOK l
Berat mencit perlakuan = 20 gram
Berat mencit kontrol = 21,3 gram
gram
x 0,117 mg
Dosis luminal untuk mencit perlakuan = 20gram/30gram x 0,117 mg= 0,078 mg 30 gram
Volume yang diinjeksi secara per oral =
0,078 mg
=0,67 ml
0,117 mg/ml
MENCIT KELOMPOK ll
Berat mencit perlakuan = 28 gram
Berat mencit kontrol = 22 gram
Dosis luminal untuk mencit perlakuan =
Volume yang diinjeksi secara per oral =

28 gram
x 0,117 mg
= 0,1092 mg
30 gram
0,1092 mg
=0,93 ml
0,117 mg/ml

MENCIT KELOMPOK lll


Berat mencit perlakuan = 25 gram
Berat mencit kontrol = 21,5 gram
Dosis luminal untuk mencit perlakuan =
Volume yang diinjeksi secara per oral =

25 gram
x 0,117 mg
= 0,0975 mg
30 gram
0,0975 mg
=0,83 ml
0,117 mg/ml
MATERI V

PENGAMBILAN SAMPEL PADA HEWAN UJ

TUJUAN
Mahasiswa mampu mempraktekkan cara pengambilan sampel darah pada hewan uij
I.

DASAR TEORI
Hewan coba atau sering disebut hewan laboratorium adalah hewan yang khusus diternakkan
untuk keperluan penelitian biologik. Hewan labboratorium tersebut digunakan sebagai model untuk
peneltian pengaruh bahan kimia atau obat pada manusia. Beberapa jenis hewn dari yang ukurannya
terkecil dan sederhana ke ukuran yang besar dan lebih komplek digunakan untuk keperluan penelitian
ini, yaitu: Mencit, tikus, kelinci, dan kera ( Priharjo.1995).
Pengambilan Darah Pada Tikus

Pada umumnya pengambilan darah terlalu banyak pada hewan kecil dapat menyebabkan shok
hipovolemik, stress dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Tetapi bila dilakukan pengambilan
sedikit darah tetapi sering, juga dapat menyebabkan anemia. Pada umumnya pengambilan darah
dilakukan sekitar 10% dari total volume darah dalam tubuh dan dalam selang waktu 2-4 minggu. Atau
sekitar 1% dengan interval 24 jam. Total darah yang diambil sekitar 7,5% dari bobot badan.
Diperkirakan pemberian darah tambahan (exsanguination) sekitar setengah dari total volume darah.
Contohnya: Bobot 300g, total volume darah 22,5 ml, maksimum pengambilan darah 2,25 ml, maka
pemberian exsanguination 11,25 ml. (Anonim I., 2008).
Pengambilan darah harus menggunakan alat seaseptik mungkin. Untuk meningkatkan vasodilatasi, perlu
diberi kehangatan pada hewan tersebut, misalnya taruh dalam ruangan dengan suhu 40 oC selama 10-15 menit,
dengan mememasang lampu pemanas dalam ruangan tersebut. Pengambilan darah dapat dilakukan pada lokasi
tertentu dari tubuh, yaitu:
-

vena lateral dari ekor

bagian ventral arteri ekor

sinus orbitalis mata

vena saphena (kaki)

anterior vena cava

langsung dari jantung. (Utama , H.1995).


Antikoagulan
Antikoagulan adalah zat yang mencegah penggumpalan darah dengan cara mengikat kalsium atau dengan
menghambat pembentukan trombin yang diperlukan untuk mengkonversi fibrinogen menjadi fibrin dalam proses
pembekuan . Jika tes membutuhkan darah atau plasma, spesimen harus dikumpulkan dalam sebuah tabung yang
berisi antikoagulan. Spesimen-antikoagulan harus dicampur segera setelah pengambilan spesimen untuk
mencegah pembentukan microclot. Pencampuran yang lembut sangat penting untuk mencegah hemolisis. Ada
berbagai jenis antikoagulan, masing-masing digunakan dalam jenis pemeriksaan tertentu. :

1. EDTA ( ethylenediaminetetraacetic acid, [CH2N(CH2CO2H)2]2 )


Umumnya tersedia dalam bentuk garam sodium (natrium) atau potassium (kalium), mencegah koagulasi
dengan cara mengikat atau mengkhelasi kalsium. EDTA memiliki keunggulan disbanding dengan antikoagulan
yang lain, yaitu tidak mempengaruhi sel-sel darah, sehingga ideal untuk pengujian hematologi, seperti
pemeriksaan hemoglobin, hematokrit, KED, hitung lekosit, hitung trombosit, retikulosit, apusan darah,
dsb.K2EDTA biasanya digunakan dengan konsentrasi 1 - 1,5 mg/ml darah. Penggunaannya harus tepat. Bila
jumlah EDTA kurang, darah dapat mengalami koagulasi. Sebaliknya, bila EDTA kelebihan, eritrosit mengalami
krenasi, trombosit membesar dan mengalami disintegrasi. Setelah darah dimasukkan ke dalam tabung, segera
lakukan pencampuran/ homogenisasi dengan cara membolak-balikkan tabung dengan lembut sebanyak 6kali
untuk menghindari penggumpalan trombosit dan pembentukan bekuan darah.
2. Heparin

Antikoagulan ini merupakan asam mukopolisacharida yang bekerja dengan cara menghentikan pembentukan
trombin dari prothrombin sehingga menghentikan pembentukan fibrin dari fibrinogen. Ada tiga macam heparin:
ammonium heparin, lithium heparin dan sodium heparin. Dari ketiga macam heparin tersebut, lithium heparin
paling banyak digunakan sebagai antikoagulan karena tidak mengganggu analisa beberapa macam ion dalam
darah. Heparin banyak digunakan pada analisa kimia darah, enzim, kultur sel, OFT (osmotic fragility test).
Konsentrasi dalam penggunaan adalah : 15IU/mL +/- 2.5IU/mL atau 0.1 0.2 mg/ml darah. Heparin tidak
dianjurkan untuk pemeriksaan apusan darah karena menyebabkan latar belakang biru. Setelah dimasukkan dalam
tabung, spesimen harus segera dihomogenisasi 6 kali dan dicentrifuge 1300-2000 rpm selama 10 menit kemudian
plasma siap dianalisa. Darah heparin harus dianalisa dalam waktu maksimal 2 jam setelah sampling.
3. Oksalat

Natrium Oksalat (Na2C2O4). Natrium oksalat bekerja dengan cara mengikat


bagian oksalat + 9 bagian darah. Biasanya digunakan

untuk

kalsium.

Penggunaannya

pembuatan adsorb plasma dalam pemeriksaan

hemostasis.

Kalium Oksalat NaF. Kombinasi ini digunakan pada pemeriksaan glukosa.


sebagai antikoagulan dan NaF berfungsi sebagai
Phosphoenol pyruvate dan

antiglikolisis

dengan

\Kalium
cara

oksalat

menghambat

berfungsi

kerja

enzim

urease sehingga kadar glukosa darah stabil.(Anonim II, 2009).

Plasma Darah dan Serum


Plasma darah adalah komponen darah berbentuk cairan berwarna kuning yang menjadi medium
sel-sel darah, dimana sel darah ditutup, yang berbentuk butiran-butiran darah. Di dalamnya terkandung
benang-benang fibrin/fibrinogen yang berguna untuk menutup luka yang terbuka. Plasma darah
merupakan komponen terbesar dalam darah, dimana besar volume nya 55% dari volume darah yang
terdiri dari 90% berupa air dan 10% berupa larutan protein, glukosa, faktor koagulasi, ion mineral,
hormon dan karbon dioksida. Karena dinding kapiler permiabel bagi air dan elektrolit maka plasma
darah selalu ada dalam pertukaran zat dengan cairan interstisial. Dalam waktu 1 menit sekitar 70%
cairan plasma bertukaran dengan cairan interstisial.
Serum darah adalah plasma tanpa fibrinogen, sel dan faktor koagulasi lainnya. Fibrinogen
menempati 4% alokasi protein dalam plasma dan merupakan faktor penting dalam proses pembekuan
darah. Protein plasma juga mempunyai peran yang penting dalam pengaturan distribusi air antara
plasma dan ruang interstisial, karena sebagai protein ia tidak dapat melewati dinding kapiler. Dengan
demikian, tekanan osmotik koloidnya akan menahan air dalam sirkulasi darah. Peran yang terbesar
dilakukan albumin (80%). Albumin juga mempunyai arti yang besar untuk ikatan protein
obat. (Anonim III,2012).

II.

HASIL PERCOBAAN

1. Setelah disentrifugasi didapatkan dua lapisan yaitu (berdasarkan praktikum) :

a. Lapisan atas disebut plasma berwarna merah bening.


b. Lapisan bawah disebut sel darah merah berwarna merah pekat.
2. Gambar hasil sentrifugasi :

Keterangan gambar :

a. Plasma darah
b. Sel darah merah
c. Tabung sentrifugasi
3. Perbedaan plasma dengan serum :
a. Plasma merupakan darah yang cair dikarenakan dalam plasma terdapat heparindan dalam plasma
masih terdapat fibrinogen.
b. Serum merupakan darah yang menggumpal dikarenakan dalam serum tidak terdapat heparin dan dalam
serum tidak terdapat fibrinogen.
4. Kandungan plasma dan sel darah merah :
a. Kandungan plasma antara lain gas oksigen, nitrogen, karbondioksida, protein seperti
albumin dan globulin, enzim, antibodi, hormon, urea, asam urat, sari makanan
glukosa, gliserin, asam lemak, asam amino, kolesterol, dan
b. Kandungan sel darah merah adalah hemoglobin (Hb).
5.

fibrinogen,

dan mineral seperti

sebagainya.

Plasma dengan sel darah merah dapat terpisah karena dilakukan pemisahan dengan alat sentrifugasi
yang bekerja dengan prinsip pemberian gaya sentrifugal yaitu dengan memutar darah dengan kecepatan
3000 rpm selama 15 menit (berdasarkan praktikum) sehingga terjadi pemisahan berdasarkan perbedaan
bobot jenis. Bobot jenis zat yang lebih kecil akan berada di atas, dalam hal ini plasma memiliki bobot
jenis lebih rendah daripada sel darah merah sehingga lapisan plasma berada di atas.

6. Perbedaan plasma dan sel darah merah berdasarkan fungsinya :


a. Fungsi plasma darah adalah mengangkut sari makanan ke sel-sel serta membawa
dari sel ke tempat pembuangan serta menghasilkan zat kekebalan tubuh
antibodi.
b. Fungsi sel darah merah adalah mengangkut oksigen dari paru-paru untuk
tubuh.
III.

PEMBAHASAN

sisa

pembakaran

terhadap penyakit atau zat


diedarkan ke seluruh

Pada percobaan kali ini praktikan melakukan pengambilan sampel darah pada hewan uji. Tujuan dari
percobaan ini yaitu mahasiswa mampu mempraktikkan cara pengambilan sampel darah pada hewan uji.
Pengambilan sampel darah pada hewan ini dilakukan melalui vena ekor. Langkah awal yang dilakukan saat
melakukan percobaan yaitu menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan, seperti pisau scalpel. Pisau scalpel
memiliki dua ujung yang berbeda, yang satu berujung tajam sebagai bagian pemotong dan yang lainnya berujung
tumpul berlubang sebagai tempat menempelnya pegangan scalpel, dalam hal ini pisau scapel digunakan untuk
mencukur bulu halus pada ekor tikus. Alat lain yang digunakan adalah holder tikus, alat ini digunakan untuk
mempermudah dalam proses pengambilan darah pada vena ekor tikus. Selain itu juga digunakan alat sentrifugasi.
Sentrifugasi merupakan suatu metode yang digunakan dalam pencapaian sedimentasi dimana partikel-partikel
yang ada di dalam suatu bahan yang dipisahkan dari fluida oleh gaya sentrifugasi yang dikenakan pada partikel.
Dengan adanya teknik ini, proses pengendapan suatu bahan akan lebih cepat dan optimum dibandingkan dengan
teknik biasa. Sedangkan bahan yang digunakan adalah heparin. Heparin bertindak sebagai antikoagulan,
mencegah pembentukan gumpalan dan perpanjangan gumpalan yang ada dalam darah.
Langkah selanjutnya adalah yaitu memasukkan tikus kedalam holder sehingga ekor terjulur keluar.
Kemudian bulu halus pada ekor tikus dicukur menggunakan pisau scalpel, pencukuran bulu halus ini bertujuan
agar darah yang diambil mudah mengalir dan tidak meresap pada bulu. Ekor yang telah bersih dari bulu kemudian
disayat dibagian vena lateralis, darah yang mengalir ditampung pada eppendorf yang sebelumnya telah diberi
heparin yang berfungsi untuk menghindari pembekuan sampel darah. Saat darah diambil, sesekali ekor diurut
agar darah dapat mengalir. Setelah sampel darah yang diambil dirasa cukup, sampel darah tersebut kemudian
disetrifugasi selama 15 menit. Dalam hal ini sentrifugasi dilakukan untuk memisahkan sel darah merah dan
plasma darah. Sel darah merah akan berada dilapisan bawah berupa gumpalan berwarna merah pekat, sedangkan
plasma darah berada di bagian atas berupa cairan berwarna bening kekuningan.
Heparin dalam percobaan ini berguna sebagai antikoagulan. Antikoagulan digunakan untuk mencegah
pembekuan darah dengan jalan menghambat pembentukan atau menghambat fungsi dari beberapa faktor
pembekuan darah. Atas dasar ini antikoagulan diperlukan untuk mencegah terbentuk dan meluasnya thrombus
dan emboli, maupun mencegah bekunya darah in vitro pada pemeriksaan laboratorium dan tranfusi.
Antikoagulan dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu:
1.

Heparin

2.

Antikoagulan oral, terdiri dari 4-hidroksikumarin misalnya dikumarol,

warfarin,,

derivate-

derivat indan-1,3-dion misalnya anisindion


3.

Antikoagulan yang bekerja dengan mengikat ion kalsium, salah satu factor

pembekuan

darah(Gunawan et al. 2008).


Heparin adalah secara alami antikoagulan yang diproduksi oleh mastosit dan basofil. Heparin bertindak sebagai
antikoagulan, mencegah pembentukan gumpalan dan perpanjangan gumpalan yang ada dalam darah. Sementara
heparin tidak rusak gumpalan yang sudah dibentuk (tidak seperti jaringan plasminogen penggerak), hal ini

memungkinkan tubuh alami bekuan Lisis mekanisme untuk bekerja biasanya untuk memecah gumpalan yang
telah terbentuk.
Heparin digunakan untuk anticoagulation untuk kondisi berikut:

Sindrom koroner akut, misalnya, NSTEMI

Fibrilasi atrium

Deep vein thrombosis dan pulmonary embolism

Bypass kardiopulmoner untuk operasi jantung.

ECMO sirkuit untuk lima operasi oksigenasi life support


Farmakologi heparin
Bereaksi dengan thromboplastin dan membentuk persenyawaan komplek anti thromboplastin yang
menghalangi terbentuknya thrombin dari prothrombin.
Onset kerja antikoagulasi : melalui rute i.v , sub kutan : ~20-30 menit.
Absorpsi
Distribusi
Metabolisme

: oral, rektal, diabsorpsi baik malalui semua rute pemberian.


: tidak melalui plasenta, tidak didistribusikan ke dalam air susu.
: melalui hati, mungkin mengalami metabolisme sebagian pada sistem

retikuloendoethelial.
T eliminasi

: rata-rata 1.5 jam, rentang 1-2 jam, dipengaruhi oleh obesitas, fungsi ginjal,

fungsi hati, adanya tumor, embolism pulmonari, dan


Ekskresi

infeksi.

: melalui urin (jumlah kecil dalam bentuk obat tidak berubah).

Stabilitas Penyimpanan :Heparin harus disimpan dalam suhu kamar dan dihindari dari penyimpanan beku dan
suhu >40C. (Ronald Reagen ,2008 ).
Dalam pemisahan plasma dan sel darah merah dilakukan menggunakan sentrifugasi. Sentrifugasi adalah
proses pemisahan dengan menggunakan gaya sentrifugal sebagai driving force. Pemisahan dapat dilakukan
terhadap fasa padat cair tersuspensi maupun campuran berfasa cair-cair. Pada pemisahan dua fasa cair dapat
dilakukan apabila kedua cairan mempunyai perbedaan rapat massa. Semakin besar perbedaan rapat massa dari
kedua cairan semakin mudah dipisahkan dengan cara sentrifugasi. Semakin mudah dipisahkan yang dimaksud
adalah semakin kecil energi yang diperlukan untuk proses pemisahannya.
Prinsip sentrifugasi didasarkan atas fenomena bahwa partikel yang tersuspensi di dalam suatu wadah
(tabung atau bentuk lain) akan mengendap ke dasar wadah karena pengaruh gravitasi. Laju pengendapan tersebut
dapat ditingkatkan dengan cara meningkatkan pengaruh gravitasional terhadap partikel. Hal ini dapat dilakukan
dengan menempatkan tabung berisi suspensi partikel ke dalam rotor suatu mesin sentrifugasi kemudian diputar
dengan kecepatan tinggi. Percepatan yang terjadi pada sentrifugasi adalah percepatan angular. Biasanya nilai
yang diberikan untuk gaya yang berlaku pada partikel yang disentrifugasi berupa nilai relatif, yaitu dibandingkan
dengan gaya tarik gravitasi bumi yang juga berlaku pada partikel tersebut. Gaya tersebut disebut gaya sentrifugal

relative (relative centrifugal force,RCF). Kecepatan proses pengendapan (sedimentasi) suatu partikel atau
molekul yang disentrifugasi dipengaruhi oleh dua macam faktor, yaitu : berat molekul (BM) dan bentuk partikel.
Semakin tinggi BM-nya maka kecepatannya juga semakin tinggi.
Substansi hasil sentrifugasi terbagi menjadi dua, yaitu supernatan dan pelet. Supernatan adalah substansi
hasil sentrifugasi yang memiliki bobot jenis yang lebih rendah. Posisi dari substansi ini berada pada lapisan atas
dan warnanya lebih jernih, pada percobaan kali ini supernatan yang didapat adalah plasma. Sementara pelet
adalah substansi hasil sentrifugasi yang memiliki bobot jenis yang lebih tinggi. Posisisnya berada pada bagian
bawah (berupa endapan) dan warnanya lebih keruh, pada percobaan kali ini pellet yang didapat adalah eritrosit.
Setelah disentrifugasi didapatkan dua lapisan yaitu (berdasarkan praktikum) : Lapisan atas disebut plasma
berwarna merah bening dan lapisan bawah disebut sel darah merah berwarna merah pekat.

Perbedaan plasma dengan serum :


a. Plasma merupakan darah yang cair dikarenakan dalam plasma terdapat heparin dan dalam plasma masih
terdapat fibrinogen.
b. Serum merupakan darah yang menggumpal dikarenakan dalam serum tidak terdapat heparin dan dalam
serum tidak terdapat fibrinogen.
Kandungan plasma dan sel darah merah :
a. Kandungan plasma antara lain gas oksigen, nitrogen, karbondioksida, protein seperti fibrinogen,
albumin dan globulin, enzim, antibodi, hormon, urea, asam urat, sari makanan dan mineral seperti
glukosa, gliserin, asam lemak, asam amino, kolesterol, dan sebagainya.
b. Kandungan sel darah merah adalah hemoglobin (Hb). .
Senyawa atau zat-zat kimia yang larut dalam cairan darah antara lain sebagai berikut.
1) Sari makanan dan mineral yang terlarut dalam darah, misalnya monosakarida,
lemak, gliserin, kolesterol, asam amino, dan garam-garam mineral.
2) Enzim, hormon, dan antibodi, sebagai zat-zat hasil produksi sel-sel.
3) Protein yang terlarut dalam darah, molekul-molekul ini berukuran cukup besar
tidak dapat menembus dinding kapiler. Contoh:
a) Albumin, berguna untuk menjaga

keseimbangan

tekanan

b) Globulin, berperan dalam pembentukan g-globulin, merupakan komponen

asam

sehingga

osmotik

darah.

pembentuk

zat antibodi.
c) Fibrinogen, berperan penting dalam pembekuan darah.
4) Urea dan asam urat, sebagai zat-zat sisa dari hasil metabolisme.
5) O2, CO2, dan N2 sebagai gas-gas utama yang terlarut dalam plasma.
Bagian plasma darah yang mempunyai fungsi penting adalah serum. Serum merupakan plasma darah
yang dikeluarkan atau dipisahkan fibrinogennya dengan cara memutar darah dalam sentrifuge. Serum tampak
sangat jernih dan mengandung zat antibodi. Antibodi ini berfungsi untuk membinasakan protein asing yang
masuk ke dalam tubuh. Protein asing yang masuk ke dalam tubuh disebut antigen. Berdasarkan cara kerjanya,
antibodi dalam plasma darah dapat dibedakan sebagai berikut.
1) Aglutinin : menggumpalkan antigen.
2) Presipitin : mengendapkan antigen.

3) Antitoksin : menetralkan racun.


4) Lisin : menguraikan antigen.
Di dalam darah, serum (bahasa Inggris: blood serum) adalah komponen yang bukan berupa sel darah,
juga bukan faktor koagulasi; serum adalah plasma darah tanpa fibrinogen, (bahasa Latin: serum) berarti bagian
tetap cair dari susu yang membeku pada proses pembuatan keju. Serum terdiri dari semua protein (yang tidak
digunakan untuk pembekuan darah) termasuk cairan elektrolit, antibodi, antigen, hormon, dan semua substansi
exogenous.
Bahan-bahan yang biasa diukur dalam serum umumnya digolongkan ke dalam kategori-kategori berikut:
1.

Bahan yang dalam keadaan normal memiliki fungsi dalam sirkulasi

2.

Bahan hasil metabolit

3.

Bahan yang dikeluarkan dari sel akibat kerusakan dan kelainan premeabilitas atau

kelainan

properasi sel.
4.

Obat dan zat toksik.


Serum diperoleh setelah sampel darah dibekukan dan bekuannya dipisahkan dengan pemusingan. Pemakaian

serum sebagai pengganti plasma juga mencegah pencemaran spesimen oleh antikoagulan yang mungkin
mempengaruhi satu atau lebih tes (Anonim. 2010).
Salah satu Bagian korpuskuli (elemen seluler) adalah Eritrosit (sel darah merah) Merupakan bagian utama dari
sel darah. Jumlah pada pria dewasa adalah lima juta/l darah sedangkan pada wanita empat juta/l darah.
Berbentuk bikonkaf, warna merah disebabkan oleh adanya Hemoglobin. Dihasilkan oleh limpa, hati dan sum-sum
tulang pada tulang pipih. Berusia sekitar 120 hari, sel yang telah tua dihancurkan di hati dan dirombak menjadi
pigmen bilirubin (Pigmen empedu). Fungsi primernya adalah mengangkut O 2 dari paru-paru ke jaringan dan CO2
dari jaringan ke paru-paru.

Plasma dengan sel darah merah dapat terpisah karena dilakukan pemisahan dengan alat
sentrifugasi yang bekerja dengan prinsip pemberian gaya sentrifugal yaitu dengan memutar darah
dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 menit (berdasarkan praktikum) sehingga terjadi pemisahan
berdasarkan perbedaan bobot jenis. Bobot jenis zat yang lebih kecil akan berada di atas, dalam hal ini
plasma memiliki bobot jenis lebih rendah daripada sel darah merah sehingga lapisan plasma berada di
atas.
Perbedaan plasma dan sel darah merah berdasarkan fungsinya :
a. Fungsi plasma darah adalah mengangkut sari makanan ke sel-sel serta membawa sisa pembakaran dari
sel ke tempat pembuangan serta menghasilkan zat kekebalan tubuh terhadap penyakit atau zat antibodi.
b. Fungsi sel darah merah adalah mengangkut oksigen dari paru-paru untuk diedarkan ke seluruh tubuh
Faktor keberhasilan pemisahan tergantung pada metode yang digunakan teknik pemisahan serum dengan
sentrifugasi sudah tepat, yaitu pengambilan darah vena, bagian darah tersebut dibiarkan membeku ( 15 menit)
kemudian dipusingkan pada sentrifuge dengan kecepatan 2000-3000 rotasi permenit selama 15 menit. Akan tetapi

lamanya waktu dan rotasi yang dilakukan saat praktikum tidak sesuai keterangan tersebut, sehingga pemisahan
yang dilakukan kurang optimal.
Dari praktikum ini didapatkan sampel darah tikus sebanyak 1ml yang ditampung pada tabung effendrof
dan diberi antikoagulan heparin untuk mencegah penggumpalan darah. Sampel disentrifugasi menghasilkan 2
lapisan, dengan lapian atas yang berwarna bening kekuningan merupakan plasma, dan lapisan bawah yang
berwarna merah merupakan sel darah merah. Proses pemisahan ini diakibatkan adanya gaya sentrifugasi . Dapat
disimpulkan bahwa pengambilan sampel pada hewan tikus pada bagian vena ekor dinyatakan berhasil.. Dalam
sampel darah hewan mengandung plasma dan serum. Plasma merupakan darah yang cair dikarenakan dalam
plasma terdapat heparin dan dalam plasma masih terdapat fibrinogen. Serum merupakan darah yang menggumpal
dikarenakan dalam serum tidak terdapat heparin dan dalam serum tidak terdapat fibrinogen. Sampel hayati selain
menggunakan darah bisa juga digunakan urine.
IV.

JAWABAN PERTANYAAN

1. Jelaskan fungsi penambahan heparin pada sampel darah !


Jawab : Heparin bertindak sebagai antikoagulan, mencegah pembentukan gumpalan dan perpanjangan
gumpalan yang ada dalam darah.
2. Bagaimana mekanisme kerja heparin ?
Jawab : Mekanisme kerja heparin sebagai antikoagulan adalah menghambat pembentukan trombin
dengan cara mengikat Anti Trombin III (AT III) sehingga membentuk kompleks Heparin-AT III.
Kompleks Heparin-AT III juga akan menghambat Faktor XA dan beberapa faktor pembekuan darah
lainnya. Bila kompleks AT-III protease sudah terbentuk heparin dilepaskan untuk selanjutnya
membentuk ikatan baru dengan membentuk antitrombin sehingga pembentukan fibrin dari fibrinogen
juga dihentikan. Heparin dikatakan juga dapat mengikat protein plasma, sel endotel dan makrofag.

V.

KESIMPULAN

1. Pada pengambilan sampel darah pada hewan uji yaitu pada tikus dilakukan di vena ekor.
2. Sebelum dilakukan pengambilan sampel darah tikus dimasukkan ke dalam holder dan

bulu

pada ekor tikus dicukur terlebih dahulu untuk memudahkan pengambilan darah.
3. Dari percobaan di atas diperoleh sampel darah sebanyak 1ml.
4. Sampel darah di tampung pada tabung sentrifus yang telah berisi heparin, dimana

ini

berfungsi sebagai antikoagulan untuk mencegah penggumpalan darah

pada sampel

diambil.
5. Hasil dari sampel darah yang di sentrifus terbentuk 2 lapisan dimana lapisan atas
kekuningan yaitu berupa plasma, dan lapisan bawah berwarna merah
darah merah

heparin

darah yang

berwarna bening

pekat yaitu berupa sel