Anda di halaman 1dari 57

4.

Dua Kebangkitan
Kebangkitan tubuh manusia dari kubur jelas diajarkan dalam Firman Tuhan.
Ayub, leluruh tertua, berkata: Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan
bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingkupun aku
akan melihat Allah (Job 19:25-26). Jelas bahwa Ayub percaya akan kebangkitan tubuh
dan hidup sesudah kematian.
Abraham, bapa dari rasnya, hidup selama 175 tahu, dan Ia mati pada waktu
telah putih rambutnya, tua dan suntuk umur (Genesis 25:7-8), tapi ia menantinantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah
(Hebrews 11:10). Dia tidak pernah melihat kota itu dalam perjalanannya dibumi,
karena bumi baginya adalah kota yang asing. Leluhur dalam Tuhan bersama dengan
yang lainnya merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi.
Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan
sebuah kota bagi mereka (Hebrews 11:16). Tapi Abraham percaya bahwa kota
surgawi akan dihuni oleh tubuh daging, Allah berkuasa membangkitkan orang-orang
sekalipun dari antara orang mati. . . (Hebrews 11:19).
Daud yakin akan ada hidup setelah kematian. Dia berkata: Sebab itu hatiku
bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram
(Psalm 16:9), dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu.
(Psalm 17:15). Perkataan anak Tuhan ini menyangkal pengajaran sesat bahwa
kebangkitan menunjuk hanya pada roh manusia, dan bukan terhadap tubuh. Baik jiwa
dan roh manusia tidak mati, tapi tubuhnya yang mati dan dikubur. Maka dari itu
tubuhlah yang dibangkitkan dari kematian, bukan jiwa dan roh.
Saat Tuhan Yesus kita ada dibumi, Dia mengajar bahwa semua manusia yang
mati akan dibangkitkan disuatu saat dimasa depan. Janganlah kamu heran akan hal
itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan
mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan
bangkit. . . (John 5:28, 29). Kita meneguhkan dan mengakui kepercayaan kita dalam
kebangkitan tubuh dari kematian dan kubur. Tanpa harapan ini iman Kristen sia-sia,
1

harapan terbesar kita hanyalah gelembung kosong, Alkitab jadi bukan tulisan yang
bisa dipercaya, manusia yang menulisnya pasti korban penipuan, dan Yesus Kristus
menjadi penipu terbesar didunia. Tapi Alkitab menyatakan tentang kebangkitan ini
begitu jelas sehingga kita tidak meragukannya.
Konsep yang Salah
Banyak orang, diantaranya orang Kristen, diajarkan bahwa hanya ada satu
kebangkitan umum bagi semua yang mati diakhir dunia. Ini kesalahan yang serius
yang merampas sukacita dan kemenangan banyak orang percaya dalam hidup ini.
Tidak ditemukan dalam Alkitab bahwa tubuh semua manusia akan dibangkitkan pada
saat yang sama. Benar bahwa semua yang mati akan dibangkitkan dan dihakimi, tapi
baik tempat, waktu, atau penghakimannya tidak sama. Alkitab jelas membedakan
antara kebangkitan pertama dan kedua.
. . . semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan
mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal,
tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum(John 5:28-29).
Saat manusia dibangkitkan, tidak semua dibangkitkan diwaktu yang sama atau
dalam kondisi yang sama. Ada 2 kebangkita untuk 2 kelompok manusia. Satu akan
dibangkitkan untuk kekekalan dan keabadian, sementara yang lain akan dibangkitkan
untuk dihukum dan dibuang dari hadapan Tuhan. Ada kebangkitan hidup dan
kebangkitan penghukuman
Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk
membalasnya

kepadamu.

Sebab

engkau

akan

mendapat

balasnya

pada

hari kebangkitan orang-orang benar(Luke 14:14).


Ada kebangkitan orang benar, dan semua akan maju maka harus ada
kebangkitan orang tidak benar. Karena kematian orang yang ada dalam Kristus akan
dibangkitkan

pertama,

akibatnya

kematian

orang

yang

diluar

Kristus

akan

dibangkitkan setelah itu. Lukas tidak menyebutkan tentang kebangkitan orang yang
tidak selamat. Jelas orang yang tidak selamat akan dibangkitkan, tapi tidak lama
2

setelah orang benar dibangkitkan. Saat Paulus bersaksi dihadapan Felix, dia berkata,
akan ada kebangkitan semua orang mati, baik orang-orang yang benar maupun
orang-orang yang tidak benar. (Acts 24:15). Rasul Yohanes menjelaskan perbedaan
keduanya. Dia bicara tentang yang ditebus yang hidup kembali dan memerintah
sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun. Tetapi orangorang mati yang lain tidak bangkit sebelum berakhir masa yang seribu tahun itu. Inilah
kebangkitan pertama (Revelation 20:4-5).
Setiap orang percaya melewati kematian kedalam hidup (John 5:24). Hidupnya
tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah (Colossians 3:3), dan kebesaran
kuasa Tuhan dalam kebangkitan kita sama hebat kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di
dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati (Ephesians 1:1920). Dan melalui kuasa yang sama setiap orang yang tidak selamat akan dibangkitkan
dari kubur untuk berdiri dihadapan pengadilan Tahta Putih.
Kebangkitan Pertama
Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru
dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka
yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit (1 Thessalonians 4:16).
Bahasanya tidak bisa lebih jelas lagi daripada ini --Mereka yang mati dalam
Kristus akan lebih dahulu bangkt. Kita akan melihat lebih dulu saat kebangkitan
pertama adalah kedatangan Tuhan Yesus Kristus dalam awan untuk mengangkat
semua umatNya. Disini kita harus membedakan antara kedatangan Kristus pada
umatNya sebelum millennium dan kedatanganNya kembali untuk membangkitkan
yang lainnya (yang tidak selamat) selama seribu tahun. Jangan salah mengerti bahwa
setidaknya ada jarak seribu tahun antara kebangkitan pertama dan kedua. Rasul
Yohanes, melalui inspirasi ilahi meneguhkan hal ini,
Lalu aku melihat takhta-takhta dan orang-orang yang duduk di atasnya; kepada
mereka diserahkan kuasa untuk menghakimi. Aku juga melihat jiwa-jiwa mereka, yang
telah dipenggal kepalanya karena kesaksian tentang Yesus dan karena firman Allah;
yang tidak menyembah binatang itu dan patungnya dan yang tidak juga menerima
3

tandanya pada dahi dan tangan mereka; dan mereka hidup kembali dan memerintah
sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun. Tetapi orangorang mati yang lain tidak bangkit sebelum berakhir masa yang seribu tahun itu. Inilah
kebangkitan pertama. (Revelation 20:4-5).
Saat konsumasi pada kebangkitan pertama ada 3 kelompok orang percaya yang
akan diangkat pada saat yang berbeda. Untuk menjelaskan, ada 3 tahap kebangkitan
orang percaya:
(1) Saat Tuhan kita disalib dikayu salin, kita membaca: Dan lihatlah, tabir Bait
Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukitbukit batu terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah
meninggal bangkit. (Matthew 27:51-52).
(2) Ada tahap kedua kebangkitan pertama yang sudah kita sebutkan (1
Thessalonians 4:16), saat semua orang percaya dibangkitkan pada saat Kristus muncul
pertama kali. Untuk ini kita menambahkan perkataan Paulus di I Korintus: dalam
sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan
orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita
semua akan diubah (1 Corinthians 15:52).
(3) Ketiga dan tahap akhir kebangkitan pertama muncul sekitar 7 tahun setelah
kebangkitan

umat

saat

Kristus

datang

mengangkat

mereka..

Mereka

yang

dibangkitkan sekitar 7 tahun masa pergolakan adalah orang percaya yang percaya
sebanyak 144,000. Karena mereka tidak menerima tanda binatang ditangan dan
dahinya, mereka mati martir. Ini dibangkitkan diakhir pergolakan sebelum Kristus
datang kebumi untuk memerintah selama seribu tahun.
Kristus Sebagai Buah yang Sulung
Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang
mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti
maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati
datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam
persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali
4

dalam persekutuan dengan Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus
sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu
kedatangan-Nya (1 Corinthians 15:20-23).
Kata buah pertama sangat penting. Dalam upacara Israel ada pesta nasional
setiap tahun. Urutan ketiganya adalah Pesta Buah Pertama, peristiwa tahunan yang
dilakukan dengan khidmat diawal masa penuaian.
TUHAN berfirman kepada Musa: Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan
kepada mereka: Apabila kamu sampai ke negeri yang akan Kuberikan kepadamu, dan
kamu menuai hasilnya, maka kamu harus membawa seberkas hasil pertama dari
penuaianmu kepada imam. (Leviticus 23:9-10).
Dr. Martin DeHaun bahwa panen terdiri dari 3 bagian. Salah satu panen, buah
pertama dari musim, disajikan dalam 3 peristiwa. Pertama, ikatan buah pertama,
panen

yang

lebih

besar

akan

menyusul.

Ini

menggambarkan

dengan

indah

kebangkitan Kristus, memenuhi karya penebusan dan menjamin semua orang percaya
dalamNya akan kebangkitan yang lebih besar saat Dia kembali. Kristus telah
dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah
meninggal(1Corinthians15:20). Seperti buah pertama menjadi tanda panen yang
sebentar lagi datang yang dipersembahkan kepada Yehova, demikian juga kebangkita
Tuhan merupakan janji bahwa semua yang mati dalam Dia akan dibangkitkan
kehadapan Bapa. Kepada orang percaya, Paulus, berkata: Seperti dalam Adam semua
mati, dalam Kristus semua hidup.
Setelah buah pertama, diikuti oleh bagian panen yang lebih besar. Kita
membaca: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya
pada waktu kedatangan-Nya (1 Corinthians 15:23). Tuhan kita yang bangkit sekarang
diSorga. Demikian juga Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ
juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah
tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut
kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya. (Philippians
3:20, 21). Tubuh fisik kita ada sakit, kelemahan, dan kematian, tapi kata Juruselamat
5

yang menang: dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai
selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.
(Revelation 1:18). Dia akan datang kembali seperti yang dikatakanNya. Kristus adalah
buat pertama; setelah itu mereka yang dalam Kristus saat kedatanganNya.
Tapi panen belum berakhir. Itu selesai sampai yang tercecer dipungut. Selalu ada
yang tercecer sehingga perlu dikumpulkan. Ini disebut pemungutan. Kita mengingat
bagaimana Ruth sampai di ladang dan memungut jelai di belakang penyabitpenyabit (Ruth 2:3). Hal yang tercecer adalah mereka orang percaya dimasa
pergolakan yang belum mendengar dan percaya Injil sebelum Gereja diangkat. Jadi
kita melihat Kristus sebagai buah pertama, kemudian kita panen atau kebangkitan
yang percaya saat pengangkatan, dan akhirnya pengumpulan yang tercecer atau
orang yang diselamatkan pada masa 7 tahun pergolakan. Kemudian diikuit masa
millennium dimana semua orang percaya disegala zaman akan memerintah dengan
Kristus selama seribu tahun. Betapa indah masa depan orang yang meletakan
kepercayaannya pada Anak Allah! Tapi apakah anda sudah siap untuk kedatangan
Tuhan dan kebangktian pertama?
Kebangkitan Kedua
Saat masa seribu tahun lewat, setan akan dibebaskan selama satu masa dan
membawa pemberontakan yang ditingalkannya sebelum millennium saat dia dibuang
kelubang tak berdasar. Kemudian Tuhan akan berurusan dengan setan terakhir kali,
dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang,
yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai
selama-lamanya (Revelation 20:10). Kita gentar melihat siksaan kekal ini, kesakitan
yang tiada henti.
Tapi kebinasaan iblis bukan lembar terhitam dalam Alkitab. Ada peristiwa untuk
mereka yang mati dalam penolakan terhadap Kristus. Suatu Tahta Putih diadakan. Kita
akan melihat sidang terbesar yang pernah diadakan. Hakimnya adalah Tuhan Yesus
sendiri karena Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan
penghakiman itu seluruhnya kepada Anak (John 5:22). Disini semua yang menolak
Kristus akan dihakimi. Ini merupakan saat tergelap dari ras manusia yang menolak
kasih Tuhan dan AnakNya. Ini adalah kebangkitan orang yang tidak percaya. Ada yang
6

tetap mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu (Ephesians 2:1).


Walau mereka secara rohani mati dan tidak beroleh hidup kekal, mereka berdiri
dihadapn Tuhan secara fisik hidup dalam tubuh kebangkitan mereka. Setiap bagian
tubuh dunia akan dibangkitkan untuk menerima putusan final, penyingkiran dari
hadapan Tuhan dan hukuman kekal dalam lautan api.
Kebangkitan terakhir muncul, Yohanes berkata: Dan aku melihat orang-orang
mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu . . . Lalu maut dan kerajaan maut itu
dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api Dan
setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia
dilemparkan ke dalam lautan api itu (Revelation 20:12, 14). Siapa yang dihakimi
disini? Jawabannya tidak satupun orang percaya dalam Kristus yang akan muncul
dihadapan Tahta Putih. Hanya yang tidak selamat yang ada disini, muncul dalam tubuh
fisik yang akan dibuang keneraka.. Semua ada disana atas pilihan sendiri. Demi Aku
yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian
orang fasik (Ezekiel 33:11). Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa,
melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. (2 Peter 3:9). Anda memiliki
kesempatan menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi, tapi anda berbalik
dariNya, dengan begitu anda memilih hukuman kekal dalam lautan api. Sebab Allah
mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk
menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan
dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia
tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah (John 3:17-18).
Banyak

orang yang tidak

percaya

melawan kesadaran mereka

dengan

mengemukakan ketidakpercayaan mereka terhadap kebangkitan tubuh. Mereka


melihat hal itu sebagai hal yang luar biasa bahwa Tuhan akan membangkitkan tubuh
fisik yang sudah jadi debu selama lebih dari ratusan tahun. Jelas Tuhan tahu dimana
debunya, dank arena Dia menciptakan tubuh Adam dari debu, masuk akal untuk
percaya bahwa Dia bisa membuatnya kembali. Dunia adalah milikNya, dan dalam
segala kepenuhanNya. Dia yang menetapkan jalur bintang dan menamakan mereka;
angina dan ombak taat; debu yang tak terhitung ada dibawah kontrolNya; Dia tahu
setiap lembar rambut dikepala kita. Akal manusia dan kesadaran terdalam manusia
7

mengatakan dengan jelas betapa bodoh orang yang menolak adanya kehidupan
setelah kematian.
Kebangkitan Yesus Kristus merupakan konfirmasi kebangkitan tubuh dan
penghakiman yang akan datang. Saat Paulu berkotbah dibukit Atena, dia berkata
bahwa Tuhan memerintahkan semua manusia untuk bertobat, Karena Ia telah
menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh
seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang
suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati (Acts
17:31). Benar bahwa manusia mati, tapi baik Hakim dan hari penghakimannya sudah
ditetapkan, dia harus dibangkitkan setelah kematian juka tujuan Tuhan ingin dipenuhi.
Jelas mereka tidak mati sebelum persidangan. Mereka akan dihidupkan dan sadar saat
itu. Jadi agar manusia bisa yakin akan penghakiman yang akan datang, kebangkitan
Kristus sebagai criteria hukum kebangkitan. Kristus yang hidup merupakan saksi
meyakinkan akan kenyataan bahwa akan ada hari penghakiman. Kita tidak tidak
mengira-ngira hari penghakiman, tapi kita berdiri bersama Paulus dalam meneguhkan
kepastian yang Tuhan berikan bagi dunia saat Dia membangkitkan Yesus Kristus dari
kematian. Kita membaca Pengakuan Iman Rasuli bagaimana Kristus .disalibkan,
mati dan dikubur; pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati, naik
kesorga duduk disebelah kanan Allah Bapa yang Maha Kuasa; dan dari sana akan
datang untuk menghakimi yang hidup dan yang mati. . .
Penghakiman terakhir dalam Alkitab adalah bagi yang tidak selamat dihadapan
Tahta Putih, tubuh yang dibangkitkan akan menerima putusan akhir dan dibuang
kelautan api. Ini bukan penghakiman untuk melihat apakah orang berdosa terhilang,
karena mereka sudah terhilang barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah
hukuman (John 3:18). Orang Kristen akan hadir tapi hanya sebagai saksi. Hukuman
adalah bagi mereka yang tubuhnya dibangkitkan dari kubur dan rohnya dibawa dari
neraka.
Semua yang tidak selamat besar dan kecil, berdiri dihadapan Allah (Revelation
20:12). Dalam sidang manusia sering tertuduh tidak muncul. Kadang saksi, juri, atau
hakim bisa disogok, dan yang bersalah bisa lolos dari persidangan dan terhindar dari
8

hukuman. Kadang saksi palsu mengubah bukti dan yang bersalah dibebaskan. Tapi
pada saat itu, kitab akan dibuka, termasuk Kitab Kehidupan, Dan orang-orang mati
dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam
kitab-kitab itu (Revelation 20:12). Walau ada banyak yang hidup dan mati tanpa
diketahui dunia, pikiran dan perbuatan mereka ditulis ilahi dimana ingatan tidak bisa
hilnag. Suatu tangan yang akurat menulis biografi semuanya, dan seluruh kejahatan
akan dihitung disaat itu. Jika anda menolak Kristus disini, itu berarti hukuman disana.
Jika anda meremehkan undangan kesurga disini, disana anda akan dibuang keneraka.
Secara Literal, Tubuh Fisik
Tuhan berkata pada nabi Yesaya: semua orang akan bertekuk lutut di hadapanKu, dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa (Isaiah 45:23). Paulus mengutip
Yesaya, berkata: Karena ada tertulis: Demi Aku hidup, demikianlah firman Tuhan,
semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku dan semua orang akan memuliakan
Allah (Romans 14:11). Kemudian dia menambahkan: Itulah sebabnya Allah sangat
meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya
dalam nama Yesus bertekuk lutut . . . dan segala lidah mengaku: Yesus Kristus adalah
Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Philippians 2:9-11). Hanya sebagian ras manusia
yang setuju dengan kesaksian Allah Bapa tentang AnakNya. Tapi saat penghakiman
akhir, setiap orang yang tidak percaya disegala zaman akan berlutut dengan lutut dulu
menolak dibengkokan, dan mengaku dengan lidah yang dulu menolak mengakui
Kristus. Ya, secara literal lutut dan lidah setiap orang yang menolak Kristus akan
berlutut dan mengakui Kristus yang dulu mereka rendahkan dan cemooh saat dibumi.
Sekali lagi kita mengulangi bahwa Tuhan tidak senang akan kematian orang
berdosa. Dia ingin menyelamatkan daripada mereka mati dalam ketidakpercayaan,
tapi siapapun yang tidak ditemukan dalam Kitab Kehidupan akan dibuang kelautan
api. Mereka akan mengambil bagiannya dalam lautan api. Inilah kematian kedua
(Revelation 20:15; 21:8). Jika anda mati dalam dosa, penghakiman pasti dan jelas.
Anda tidak bisa lolos! Tidak, anda tidak mungkin lolos. Jika, sementara membaca
pesan ini, anda menyadari kebutuhan anda akan Kristus sebagai Juruselamat pribadi,
akui bahwa anda seorang berdosa dan percayalah bahwa Kristus pasti menyelamatkan
9

anda. Berbahagia dan kuduslah ia, yang mendapat bagian dalam kebangkitan
pertama itu (Revelation 20:6).

5. Kebangkitan Tubuh
Dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali? (1 Corinthians 15:35)
KematianTubuh yang Tidur
Tidak ada gambaran kematian yang begitu menghibur dan meneguhkan bagi
orang percaya seperti diungkapkan dengan kata tertidur. Ini suatu kata yang hanya
menunjuk pada tubuh dan tidak pernah terhadap jiwa. Tuhan kita berkata pada para
muridNya: Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk
membangunkan dia dari tidurnya. Maka kata murid-murid itu kepada-Nya: Tuhan,
jikalau ia tertidur, ia akan sembuh. Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati,
sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa (John
11:11-13). Tentang Para martir dan kematian Stefanus, kita membaca: Dia tertidur
(Acts 7:60). Saat Rasul Paulus masih hidup, dia berkata tentang 500 saudara yang
melihat Kristus hidup setelah kebangkitannya, sebagian diantaranya tertidur (1
Corinthians

15:6).

Pesan

penghiburannya

kepada

jemaat

diTesalonika

adalah,

Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui


tentang mereka yang meninggal (1 Thessalonians 4:13). Petrus berbicara tentang
orang kudus di PL: bapa leluhur tertidur (2 Peter 3:4).
Orang kudus dimasa PL dihadapkan dengan kebenaran yang sama. Lebih dari 40
kali dalam PL dikatakan bahwa orang yang mati ditidurkan bersama leluhurnya.
TUHAN berfirman kepada Musa: Ketahuilah, engkau akan mendapat perhentian
bersama-sama dengan nenek moyangmu (Deuteronomy 31:16; 2 Samuel 7:12). Ayub
berkata: sekarang aku terbaring dalam debu, lalu Engkau akan mencari aku, tetapi
10

aku tidak akan ada lagi (Job 7:21). Dalam ayat ini kita melihat gambaran kematian
yang tinggi yang meyakinkan orang percaya bahwa kesementaraan tubuh, akan
diikuti oleh kebangkitan mulia saat trompet terakhir dibunyikan.1
KematianKeterpisahan Sementara Rohani dari Fisik
Keadaan aktivitas menggantung sementara dari tubuh tidak berarti jiwa juga
tertidur. Tubuh merupakan tempat roh menjadi bagian dari manusia. Disaat kematian
manusia, roh orang percaya pergi, menutup kesadaran akan tubuh sampai hari
kebangkitan. Setelah kematian tubuh, kita meninggalkan daging, pergi dan diam
bersama-sama dengan Kristus (Philippians 1:23), menantikan pengangkatan sebagai
anak, yaitu pembebasan tubuh kita (Romans 8:23).
Ini merupakan ilustrasi sederhana. Baru-baru ini saya memperhatikan toko
tukang daging dikota kami tidak lagi buka. Satu hari saat saya melewati tempat itu
saya melihat tanda dijendela: Tutup untuk perubahan. Pemilik menutup usahanya
untuk merenovasi toko. Setelah sekitar 2 bulan toko dibuka dengan banyak
perubahan. Ini suatu gambaran kematian orang percaya. Dia keluar dari tubuh sampai
direnovasi, kemudian roh manusia akan kembali ketubuh barunya.2
Dibangkitkan Menjadi Seperti Yesus
Kematian tidak perlu ditakutkan oleh orang Kristen. Kita akan hidup dalam tubuh
sebenarnya seperti sekaran, karena kata Paulus: kita menantikan Tuhan Yesus Kristus
sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa
dengan tubuh-Nya yang mulia. . . (Philippians 3:20, 21). Kedatangan Tuhan dari sorga
akan memicu perubahan tubuh ini. Tubuh merupakan milik Tuhan seperti juga jiwa. Itu
sangat diperhatikanNya. Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk
Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh (1 Corinthians 6:13). Tujuan Injil adalah membawa
hidup kekal dan keabadian kepada semua yang mau percaya. Karena tubuh orang
benar akan seperti tubuh kemuliaanNya, kita mungkin berpikir seperti apa tubuh
kita saat kebangkitan. Yohanes berkata: akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus
menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia
dalam keadaan-Nya yang sebenarnya (1 John 3:2). Saat Tuhan kita naik kesorga, Dia
berumur 33 tahun, manusia yang masih muda. Kepikunan tidak bisa menguasai Tuhan
kita saat Dia mati diatas salib untuk dosa kita. Dalam Mazmurnya, Daud meninggikan
11

Kristus, kita membaca: dari kandungan fajar tampil bagimu keremajaanmu seperti
embun (Psalm 110:3). Suatu pikiran yang indah! Kita akan dibungkus dengan
kemudaan selamanya. Kita akan seperti Dia, seperti tubuh kemuliaanNya.
Kristus akan mengubah tubuh hina ini (Philippians 3:21). Kata merubah
artinyamengubah bentuk. Disini dikaitkan dengan metamorfosis dimana perubahan
bentuk dan struktur tubuh mahluk hidup terjadi. Saat Tuhan kita membawa Peter,
James, dan John kegunung, kita membaca bahwa Dia berubah bentuk dihadapan
mereka (Matthew 17:2). Kristus muncul selama beberapa waktu dalam tubuh
kemuliaanNya. Dia berubah bentuk (atau metamorphosed) dihadapan mereka. Itu
adalah tubuh setelah kebangkitan saat Dia muncul dihadapan para murid dibelakang
pintu tertutup (John 20:19). Perubahan yang akan dialami orang percaya saat
kebangkitan akan berhubungan dengan tubuh mereka, yang didalamnya ada dosa,
karena setiap orang Kristen harus mengakui, Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku,
yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. (Romans 7:18).
Kata berubah juga bisa menunjuk pada bagian rohani manusia, seperti kata Kenneth
Wuest: Kata berubah dari Yunaninya menyatakan sesuatu yang diluar, yang
perubahannya dari tampak luar.3
Secara biologis, perubahan ulat menjadi kupu-kupu disebut metamorfosis. Ulat
yang jelek, diubah dalam kubur yang digulung sendiri. Sementara kepompong
kelihatannya mati dan tanpa bentuk yang kuat. Tapi setelah matahari musim semi
menyinari kepompong itu, keluarlah kupu-kupu yang indah. Walau kupu-kupu berbeda
penampilan dari ulat, kita mengenali serangga bersayap indah ini dulu adalah ulat.
Kebangkitan tubuh mirip dengan itu. Sekarang kita memiliki tubuh yang hina. Yakobus
berkata bahwa itu tubuh yang hina sebab ia akan lenyap seperti bunga rumput.
(James 1:10). Tubuh Adam, dalam keadaan aslinya, dipenuhi kemuliaan, tapi saat dosa
masuk kemuliaan diganti dengan kehinaan. Dalam tubuh hina sekarang kita tidak
layak masuk kedalam kemuliaan Tuhan, tapi kita berharap saat Tuhan kembali, Dia
akan mengubah tubuh hina menjadi seperti tubuh kemuliaanNya. Itu merupakan
tubuh yang biasa kita kenali, tapi akan diubah menjadi mulia.
Menjawab yang Skeptis

12

Sebagian orang yang skeptis mengatakan bahwa tidak mungkin tubuh yang
sama yang sudah lebih dari ratusan tahun, menjadi debu akan dibangkitkan lagi.
Mereka menambahkan bahwa elemen yang membentuk tubuh mungkin sudah
menjadi bagian dari tubuh lain, Sebagai contoh, tubuh yang mati akan hancur. Diatas
kuburan tubuh itu, sebuah pohon mungkin tumbuh. Jika buah pohon itu dimakan
manusia lain, elemen yang sudah terurai dalam kubur akan menjadi bagian dari tubuh
manusia lain. Mereka menyimpulkan bahwa tidak mungkin membangkitkan tubuh
yang sama.
Tuhan menjawab hal ini. Kita membaca: Tetapi mungkin ada orang yang
bertanya: Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka
akan datang kembali? (1 Corinthians 15:35) Untuk menjawab hal ini Paulus
menggunakan gambaran seorang petani menabur benih. Saat petani menjatuhkan
benih ketanah, dia tahu bahwa saat benih mati, itu bukan akhir dari usahanya. Dia
tahu bahwa dari satu benih akan muncul kehidupan yang lebih besar, menghasilkan
lebih banyak dari yang dia tabur. Benih yang sebenarnya tertanam dia tidak
melihatnya. Tapi ada identitas jelas. Ini sama dengan kebangkitan tubuh. Apa yang
engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu.
Dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji
yang tidak berkulit, umpamanya biji gandum atau biji lain. Tetapi Allah memberikan
kepadanya suatu tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya: Ia memberikan kepada tiaptiap biji tubuhnya sendiri. (1 Corinthians 15:36-38).
Tuhan tidak harus menggunakan setiap bagian tubuh saat membangkitkannya
dari kubur. Pemikiran seperti itu tidak diajarkan Alkitab. Sebenarnya, memang benar
bahwa bagian tubuh kita menjalani perubahan secara periodic. Kita menerima tubuh
baru setiap 7 tahun. Kita mungkin tidak sadar akan perubahan itu. Tubuh kita tidak
sama dengan tubuh kita 7 tahun lalu. Tetap ada identitas yang dipertahankan, tapi
tidak ada satu selpun yang sama dengan 7 tahun lalu. Dalam kebangkitan tubuh orang
percaya akan membawa identitas mereka sendiri. Dr. Wilbur M. Smith pernah berkata:
Kenyataan bahwa setelah kematian tubuh kita tersebar, tidak menyulitkan Tuhan,
dalam membuat tubuh itu kembali diubah dalam kemuliaan. Melalui kelahiran baru
13

kita dilahirkan kembali kedalam Kerajaan Allah, suatu Kerajaan yang tidak bisa hancur.
Karena dosa tidak bisa masuk, tidak ada bahaya kehancuran. Kebangkitan menjadi
peristiwa dimana tubuh kita menjadi tidak bisa hancur dan mewarisi Kerajaan Allah.4
Dari Bisa Bisa Rusak Menjadi Tidak Bisa Rusak -- Dari Kefanaan Menjadi
Abadi
Ditaburkan

dalam

kebinasaan,

dibangkitkan

dalam

ketidakbinasaan

(1

Corinthians 15:42).
Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa (1
Corinthians 15:53).
Kematian nyata dihadapan semua yang hidup. Saat kita memulai hidup kita
memulai kematian. Laporan kelahiran bayi menjamin ada satu lagi kubur yang akan
digali. Pengkhotbah yang berhikmat menulis: pada waktu penjaga-penjaga rumah
gemetar, dan orang-orang kuat membungkuk, dan perempuan-perempuan penggiling
berhenti karena berkurang jumlahnya, dan yang melihat dari jendela semuanya
menjadi kabur. . . karena manusia pergi ke rumahnya yang kekal dan peratap-peratap
berkeliaran di jalan. . . dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh
kembali kepada Allah yang mengaruniakannya (Ecclesiastes 12:3, 5, 7). Ini gambaran
tubuh yang bisa rusak. Tujuannya adalah kematian, hancur. Tapi jika kita memiliki
tubuh dalam Surga, kita harus memiliki tubuh yang tidak bisa rusak. Inilah jenis tubuh
yang Kristus akan berikan pada kita saat Dia datang. Itu akan dikubur dalam
kehancuran tapi dibangkitkan dalam keabadian. Kita memiliki gambaran tubuh ini saat
peristiwa perubahan bentuk digunung. Musa dan Elijah muncul bersama Kristus. Musa
telah mati 1500 tahun lalu. Tapi disana dia dikenali dalam tubuh kemuliaannya. Elijah
diangkat kesurga tanpa mengalami kematian sekitar 900 tahun lalu, dan dia juga
disana dengan tubuh kemuliaan. Kebangkitan kita akan memberikan kita tubuh yang
tidak bisa hancur dimana penyakit dan kesakitan tidak bisa masuk. Tidak ada rasa
sakit, kelemahan, atau demam yang bisa menjamah tubuh kebangkitan kita. Dan Ia
akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi;
tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala
sesuatu yang lama itu telah berlalu (Revelation 21:4).
Dari Hina Menjadi Mulia
14

Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan (1 Corinthians


15:43).
Tubuh yang dikubur didapat dari kehinaan. Rata-rata orang Kristen mengabaikan
tubuh, gagal menyadari bahwa itu adalah tempat Roh Kudus berdiam. Menjaganya
dengan baik. Tubuh beberapa orang Kristen telah hancur dan terpengaruh dosa
sebelum dia mengenal kebenaran. Meminum minuman yang meracuni, menghisap
rokok, dan hal lain yang tidak menghargai tubuh. Sebagian tidak cukup istirahat,
sementara yang lain malas. Sebagian orang merawatnya secara berlebihan dan
sebagian lain tidak sama sekali. Bagi penulis sebagian besar orang tidak merawat
tubuh dengan baik. Tapi tubuh kebangkitan kita merupakan tubuh kemuliaan. Kita
akan seperti Yesus, dalam kemuliaanNya. Harapan yang indah!
Dari Lemah Menjadi Kuat
Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan (1 Corinthians
15:43).
Kita percaya bahwa Paulus mengalami sakit dalam tubuhnya, tersiksa akan duri
dalam daging Tubuh yang lemah membatasi, dan banyak dari kita bersaksi bahwa
pekerjaan Tuhan sering terhalang karena keterbatasan tubuh. Tugas yang ingin kita
lakukan menjadi melelahkan karena kelemahan tubuh. Tapi disurga kita tidak
mengenal kelemahan fisik. Kelemahan dunia tidak dikenal disorga. Betapa suatu
perubahan mulia! Dibangkitkan dalam kuasa! Dibumi kita merasa roh kuat tapi daging
lemah. Sebagian umat pilihan Allah tidak bisa kegereja karena tubuhnya sakit, tapi
disorga semua akan memiliki tubuh yang kuat. Tubuh yang baru dari Tuhan tidak bisa
rusak dan kuat.
Dari Alami Menjadi Rohani
Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh
rohaniah (1 Corinthians 15:44).
Harus jelas bahwa istilah tubuh rohani tidak menunjukan bahwa tubuh
kebangkitan merupakan tubuh tanpa zat. Kata alami Yunaninya digunakan saat
mereka bicara tentang jiwa manusia. Kita sudah menyatakan bahwa manusia terdiri
15

dari 3 bagian: tubuh, jiwa, dan roh. Secara fisik kita memiliki 5 indra. Dengan jiwa, ada
emosi, kesadaran diri, mengerti kepribadian. Melalui roh, dia dimampukan mengetahui
Tuhan dan memuji serta melayani Dia setelah roh manusia dibangunkan Roh Kudus.
Tubuh kita dibumi merupakan tubuh alami yang kita gunakan untuk melakukan
aktivitas dibumi. Secara alami mudah menyesuaikan diri dengan pekerjaan dan
bermain. Kehidupan rohani tidak lepas dari manusia, tapi mendapat tempat kecil dari
waktu dan tenaganya dibanding kehidupan jiwa.
Saat tubuh kebangkitan disebut tubuh rohani itu tidak berarti itu terdiri dari
zat yang tidak bisa diraba. Robert S. Candlish berkata: kata alami dan rohani, yang
diberikan pada tubuh, tidak menunjuk banyak kepada substansi pembentuk tubuh,
tapi pada penggunaan dan tujuannya. Dibumi kita disibukan melalui tubuh alami,
sementara disorga dalam tubuh kebangkitan kerja kita berkenaan dengan Tuhan dan
kekudusannya. Kehidupan rohani akan terus dipakai.
Bisa kita katakan bahwa tubuh memiliki 2 tuan, alami dan rohani. Paulus
berkata: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku
(Romans 7:21). Paulus benar-benar merupakan anak Tuhan melalui kuasa transformasi
Roh Kudus, tapi manusia alami masih ada dan bermusuhan dengan rohani. Dan setiap
kita mengetahui halangan manusia alami. Kita dihalangi oleh prilaku alami. Tapi
disorga kita dalam tubuh kebangkitan, kehidupan rohani yang mengontrol.
Disorga semuanya tidak bisa hancur, abadi, mulia, berkuasa, dan rohani.
Dihadapan tahta Tuhan kita akan melayaniNya selamanya dalam baitNya. Harapan
yang mulia! O hari kebangkitan

1 T. L. Cuyler
2 The use of this illustration was suggested by Dr. H.A. Ironside in Death and
Afterwards.
3 Philippians in the Greek New Testament.
4 R. C. H. Lenski

16

Almarhum Pendeta Skotlandia, Alexander Whyte, mengamati bahwa kita semua


cenderung menggantung beban berat pada kabel tipis (sumber yang tidak diketahui).
Dia berarti bahwa kita menggantung kebahagiaan kita pada hal-hal yang rapuh yang
mudah dan cepat dapat diambil dari kita: kesehatan, teman, anak, pekerjaan, rumah,
atau harta. Ini semua berkat baik dari Tuhan. Tapi mereka tidak memadai sebagai
dasar untuk sukacita abadi, karena mereka semua begitu pasti dan sementara.

Sementara kerugian besar secara emosional menyakitkan, itu penting bahwa


kita belajar bagaimana bekerja melalui kerugian tersebut secara alkitabiah, karena
kita semua akan menghadapi mereka. Peter (1 Pet 5: 8-9). Menunjukkan bahwa justru
pada saat penderitaan yang iblis berusaha untuk menghancurkan iman kita. Saya
telah melihat banyak orang percaya yang telah dihapuskan secara rohani karena
mereka tidak tahu bagaimana menghadapi penderitaan Alkitabiah.

Misalnya, beberapa memiliki gagasan keliru bahwa karena mereka percaya


kepada Yesus, Dia akan melindungi mereka dari penderitaan besar. Ketika tragedi
memukul, mereka merasa bahwa Allah telah meninggalkan mereka. Lainnya diajarkan
untuk mengklaim penyembuhan dengan iman. Ketika itu tidak berhasil, mereka
diberitahu bahwa mereka tidak memiliki cukup iman. Orang lain telah berada di bawah
kesan bahwa itu adalah rohani untuk berduka atau meneteskan air mata. Jadi mereka
mencoba untuk tersenyum dan berkata, "Puji Tuhan," sekitar Kristen lainnya, tapi
mereka mati dalam.

Dalam teks kita, Yesus sedang mempersiapkan para murid untuk kesedihan luar
biasa bahwa mereka akan mengalami dalam beberapa jam ke depan karena mereka
melihat Dia ditangkap, diejek, dicambuk, dan disalibkan. Dunia mereka akan runtuh di
17

sekitar mereka. Mereka telah menempatkan harapan mereka dan mempertaruhkan


masa depan mereka pada keyakinan mereka bahwa Yesus adalah Mesias yang
dijanjikan Israel. Minggu sebelumnya, harapan mereka yang tinggi seperti Yesus naik
ke Yerusalem dengan "hosana" dari kerumunan. Tapi sekarang, segala sesuatu yang
mereka harapkan akan datang ke tiba-tiba, mengejutkan akhir saat mereka
menyaksikan Tuhan mereka menderita dan mati. Yesus mempersiapkan mereka (dan
kita) untuk menderita dengan mengajarkan bahwa:

Bangkit Tuhan Yesus akan berubah penderitaan kita menjadi sukacita abadi
seperti yang kita lihat kepada-Nya dalam iman dan doa.

Yesus berkata (Yohanes 16:16), "Tinggal sesaat saja dan Anda tidak akan lagi
melihat Aku; dan lagi beberapa saat, dan Anda akan melihat Aku. "Hal ini
menyebabkan kebingungan di kalangan murid-murid, dan telah menyebabkan
kebingungan di antara para komentator Alkitab! Beberapa berpendapat bahwa yang
pertama "sebentar" mengacu pada kenaikan-Nya, sedangkan yang kedua "sebentar"
mengacu pada kedatanganNya yang kedua kali. Yang lain mengambil kedua
"sebentar" untuk merujuk kepada para murid "melihat" Yesus rohani ketika Dia
mengutus Roh Kudus kepada mereka pada hari Pentakosta.

Tapi tampaknya jelas bagi saya dari konteks yang pertama "sebentar" mengacu
pada kematian Yesus, sedangkan kedua "sebentar" mengacu pada kebangkitan-Nya.
Ketika Yesus disalibkan, para murid akan menangis dan meratap, sementara musuh
Yesus akan bersukacita. Tapi setelah para murid melihat Tuhan yang bangkit,
kesedihan mereka akan berpaling kepada sukacita abadi, yang tidak ada yang bisa
mengambil dari mereka (John 20:20). Tapi kita harus menghadapi kenyataan:

18

1. Kami akan memiliki kesedihan di dunia yang jatuh ini.

Allah menetapkan kematian sebagai hukuman atas dosa. Meskipun Kristus telah
diambil sengatan dan kemenangan kematian (1 Korintus 15:. 54-57), Ia belum diambil
fakta kematian dan rasa sakit emosional yang kita rasakan ketika seseorang yang kita
cintai meninggal. Jadi kita perlu mengenali:

A. Kristen Menjadi tidak melindungi kita dari mengalami kesedihan yang


mendalam.

Semakin dalam kita mengasihi, semakin dalam kesedihan kami akan ketika
orang yang dicintai diambil dari kami dalam kematian, terutama ketika kematian tak
terduga. Tapi titik kita semua perlu dipahami adalah bahwa tidak ada yang tidak
rohani tentang perasaan duka yang mendalam dan kesedihan pada saat kerugian.
Benar, kesedihan kita berbeda daripada dunia, bahwa kita memiliki harapan paling
dalam Kristus (1 Tes. 4:13). Namun, kita masih berduka. Yesaya 53: 3 menggambarkan
Yesus, Tuhan kita sebagai "seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa
menderita kesakitan." Hal ini tidak durhaka berduka.

G. Campbell Morgan adalah seorang pendeta yang saleh dan guru Alkitab. Ketika
dia 30, dia dan istrinya kehilangan putri kecil mereka dalam kematian. Empat puluh
tahun kemudian, ketika ia berkhotbah pada putri Yairus menaikkan Kristus 'dari
kematian, ia mengacu kepada hilangnya gadis kecil mereka, yang terlepas dari doadoa mereka, tidak sembuh. Dia mengatakan (A Man Firman [Baker], oleh Jill Morgan, p
83.), "Dia telah bersama-Nya selama bertahun-tahun, seperti yang kita mengukur
waktu di sini, dan saya telah merindukannya setiap hari; tapi firman-Nya, 'Percaya
saja,' telah kekuatan semua tahun yang lewat. "Enam bulan setelah kematian putrinya
19

ia menulis dalam buku hariannya (ibid.)," Hari ini aku berusia tiga puluh satu tahun.
Tentunya kebaikan dan kemurahan telah mengikuti saya sepanjang hari-hari hidup
saya! Tidak ada kecelakaan. Semua di bawah pemerintahan Bapa, dan semua yang
terbaik. "

Jadi dia tahu anugerah mempertahankan Tuhan, tetapi ia juga merasa


kehilangan setiap hari selama sisa hidupnya! Meskipun ia adalah orang yang saleh, ia
tidak terisolasi dari mengalami kesedihan mendalam atas hilangnya nya. Seperti dia,
kita harus mencari kenyamanan dalam Tuhan, tetapi mengakui realitas penderitaan
kita.

Duka B. kami dapat disebabkan oleh berbagai faktor.

Ada jauh lebih banyak penyebab dari saya bisa daftar di sini, tapi dalam teks
kita, kita melihat beberapa sumber untuk kesedihan para murid:

1) SORROW BISA STEM DARI KEKECEWAAN KETIKA SESUATU TIDAK PERGI seperti
yang kami harapkan.

Komentar dari orang-orang di Emaus Jalan ke Tuhan yang bangkit (yang mereka
belum mengenal) adalah tidak diragukan lagi salah bahwa semua rasul akan setuju
dengan (Lukas 24:21): "Tapi kami berharap bahwa Dialah yang datang untuk
membebaskan Israel. "Mereka berpikir bahwa Mesias akan datang dan mendirikan
pemerintahan-Nya atas Israel, membawa masa damai dan berkah, seperti yang
dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Para murid telah meninggalkan segala sesuatu
dan mengikut Yesus dengan harapan bahwa Dia adalah Mesias yang dijanjikan ini. Tapi
20

sekarang, bertentangan dengan semua harapan mereka, Dia difitnah dan dieksekusi.
Mereka sangat kecewa. Dengan cara yang sama, ketika Anda berharap dan berdoa
dan bekerja untuk sesuatu yang Anda percaya untuk menjadi kehendak Tuhan, tapi itu
tidak terjadi, Anda akan mengalami kesedihan.

2) SORROW BISA STEM DARI ATAS KEBINGUNGAN SESUATU DALAM ALKITAB


ATAU KEADAAN KAMI.

Para murid bingung atas apa yang Yesus mengatakan kepada mereka, tetapi
mereka akan lebih mendalam bingung dalam beberapa jam ke depan saat mereka
menyaksikan Tuhan kesayangan mereka menderita paling memalukan, kematian yang
menyakitkan dibayangkan. Meskipun Yesus berulang kali mengatakan kepada mereka
bahwa Dia akan ke Yerusalem untuk menderita dan mati, para murid tidak
mendapatkannya. Mereka tidak bisa membayangkan seorang Mesias yang tidak
datang untuk mendirikan kerajaan-Nya dan memerintah (Mazmur 2:. 6-9; 68:18; 110:
1). Mereka memahami bagian dari Kitab Suci, tetapi tidak semua dari mereka (Mazmur
22;. Yes 53.). Dengan cara yang sama, mudah bagi kita untuk mendapatkan bingung
karena kita tidak memahami totalitas ajaran Alkitab pada sesuatu. Kami memiliki
prasangka kita tentang bagaimana hal-hal yang harus berubah dan ketika mereka
tidak pergi ke arah sana, kita bingung dan sedih.

3) SORROW BISA STEM DARI tampak KEMENANGAN ORANG EVIL.

Orang dengan nilai-nilai menyimpang tampaknya menang, sementara orang


benar menderita. Yesus mengatakan kepada murid bahwa dunia akan bersukacita atas
kematian-Nya. Para pemimpin agama puas mengucapkan selamat satu sama lain lebih
akhirnya menyingkirkan pengkhotbah sial ini dari Galilea yang mengancam kekuasaan
21

mereka. Di zaman kita, ketika kita melihat kejahatan mengerikan dari ekstremis
Muslim karena mereka bersukacita atas pembunuhan orang tak bersalah, perempuan
dan anak-anak, kita merasa duka yang mendalam dan kesedihan.

4) SORROW BISA STEM DARI HIDUP DALAM PENCIPTAAN FALLEN.

Karena dosa Adam, seluruh ciptaan menjadi sasaran kesia-siaan dan kematian
(Kej 3: 17-19; Rom 08:20, 22.). Meskipun Kristus mengalahkan dosa dan kematian di
kayu salib, kita masih hidup di dunia yang jatuh dalam tubuh yang memiliki penyakit
dan kematian. Kami masih harus berjuang melawan daging, yang rentan terhadap
dosa, dengan konsekuensi yang menyakitkan. Ketika orang lain berdosa terhadap kita,
kita menderita kesedihan dan duka. Kadang-kadang rasa sakit yang mendalam waktu
bertahun-tahun untuk bekerja melalui. Menjadi orang Kristen tidak melindungi kita dari
mengalami kesedihan dan rasa sakit tersebut. Tapi ...

2. bangkit Tuhan Yesus berjanji untuk mengubah kesedihan kita menjadi sukacita
abadi.

Saya ingin bertanya dan menjawab tiga pertanyaan: (1) Apa jenis Juruselamat
Dia? (2) Bagaimana Ia mengubah kesedihan kita menjadi sukacita? (3) Mengapa Dia
mengubah kesedihan kita menjadi sukacita?

A. Apa jenis Juruselamat Dia?

Membatasi diri untuk ayat-ayat ini, kita melihat bahwa ...


22

1) TUHAN YESUS ADALAH JURUSELAMAT SENSITIF.

Dia tahu bahwa murid-murid yang bingung tentang komentar-Nya. Meskipun Dia
benar bisa dikunyah mereka karena begitu lambat untuk mengerti apa yang Dia telah
berulang kali mengatakan, Dia anggun dan sabar mengakui kebingungan mereka dan
meyakinkan mereka bahwa setelah musim pendek kesedihan, mereka segera akan
mengalami sukacita abadi-Nya. Meskipun Tuhan tahu masa depan sebelum hal itu
terjadi, Dia tidak berurusan dengan para murid dalam dingin, secara mekanik: "Buck
up, guys, itu semua ditakdirkan untuk bekerja sama untuk kebaikan Anda!" Sebagai
Mazmur 103: 13-14 negara, "Sama seperti bapa sayang kepada anak-anaknya,
demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia sendiri
tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu. "

2) TUHAN YESUS ADALAH JURUSELAMAT PENDERITAAN yang rela PERGI MELALUI


SORROW terbayangkan ATAS NAMA KAMI.

Hanya dalam beberapa saat, Yesus akan berkeringat tetes besar darah di taman
seperti Dia menderita dalam doa atas pemikiran bantalan dosa-dosa kita. Ibrani 5: 7
mengatakan bahwa ". Dia menawarkan up baik doa dan permohonan dengan ratap
tangis dan air mata ..." Di atas kayu salib, Dia rintihan besar kata-kata Mazmur 22: 1,
"Allahku,

Allahku,

mengapa

Anda

meninggalkan

Aku

"Dia

rela"

menanggung

permusuhan tersebut oleh orang-orang berdosa terhadap diri-Nya "(Ibr 12: 3.) atas
nama kami untuk sukacita yang disediakan bagi Dia membawa banyak anak-anak
untuk kemuliaan? (Ibr 02:10; 12:. 2). Jadi (Ibr. 4:15), "Kami tidak memiliki imam besar
yang tidak dapat bersimpati dengan kelemahan kita, tapi satu yang telah dicobai
dalam segala hal seperti kita, namun tanpa dosa."
23

3) TUHAN YESUS ADALAH BANGKIT JURUSELAMAT, yang menang atas dosa dan
kematian.

Yesus berkata (Yohanes 16:22), "Karena itu Anda juga memiliki kesedihan
sekarang; tapi saya akan melihat Anda lagi, dan hati Anda akan bersukacita, dan tidak
ada yang akan mengambil sukacita Anda jauh dari Anda. "Perubahan dramatis dalam
murid dari kesedihan sukacita abadi didirikan pada melihat bangkit Juruselamat.
Segala sesuatu tentang iman Kristen-segalanya-bertumpu pada kebangkitan tubuh
Yesus dari antara orang mati. Paulus berani menyatakan (. 1 Kor 15:17), "Jika Kristus
tidak dibangkitkan, imanmu tidak berharga; Anda masih hidup dalam dosamu. "Para
rasul diubah dari ketakutan, mengalahkan, pria bingung ke saksi berani yang bersedia
menderita dan mati karena mereka melihat Tuhan Yesus yang bangkit. Sejak Ia telah
dibangkitkan dari antara orang mati dan naik ke surga, Dia akan datang kembali untuk
menaklukkan dan memerintah. Pada saat itu, semua penderitaan kita akan langsung
berubah menjadi sukacita abadi!

B. Bagaimana Tuhan mengubah kesedihan kita menjadi sukacita?

Secara singkat, dalam empat cara:

1) TUHAN BERUBAH SORROW KAMI KE JOY DENGAN MENUNJUKKAN US


KEMULIAAN SALIB.

24

Untuk melihat Tuhan kesayangan mereka dipukuli dan berdarah, tergantung di


kayu salib, adalah peristiwa yang paling mengerikan dan mengejutkan dari kehidupan
para murid. Saya sengaja belum melihat film populer, The Passion of the Christ, karena
saya membaca review oleh kritikus film-an, Roger Ebert, di mana ia mengatakan
bahwa itu sejauh film paling kejam yang pernah dilihatnya. Karena ia telah meninjau
beberapa film yang cukup keras, saya pikir, "Saya tidak ingin bahwa kekerasan grafis
dibakar ke dalam otak saya!" Tapi para murid melihat secara langsung dan harus telah
mengirim mereka ke shock mendalam.

Tetapi kebenaran menakjubkan adalah bahwa dalam semua tulisan-tulisan


mereka, mereka tidak menggambarkan salib di menyedihkan, nada sedih, melainkan
sebagai sesuatu yang mulia dan penuh kemenangan. Ini adalah pusat dari
pemberitaan

rasuli

mereka

karena

itu

adalah

dasar

atas

mana

Tuhan

bisa

mengampuni dosa-dosa kita (Kisah Para Rasul 2:23; 3:15; 04:10; 05:30; 1 Kor 2:. 2).
Paulus bahkan menulis bahwa ia memuliakan atau membual di salib (Gal. 6:14).

Hal penting di sini (Yohanes 16:20) adalah bahwa Yesus tidak mengatakan
bahwa para murid kesedihan akan digantikan oleh sukacita, melainkan bahwa Dia
akan mengubah kesedihan mereka menjadi sukacita. Dia menggunakan analogi
perempuan yang melahirkan (Yohanes 16:21). Pada hari itu sebelum anestesi, Anda
bisa mendengar seorang wanita menangis dalam penderitaan satu menit dan
beberapa menit kemudian dia berseri-seri dengan sukacita atas hal yang sangat yang
telah menyebabkan penderitaan seperti itu, yaitu, bayinya yang baru lahir.

Paulus menulis (Filipi 3: 10-11). Bahwa penderitaan kita membawa kita ke dalam
persekutuan dengan Kristus dalam penderitaan-Nya dan kita mencapai kebangkitan
orang mati. Dia mengatakan (Rom. 8:18) bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak
layak untuk dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Ibrani
25

12 memberitahu kita bahwa ketika kita mata yang tertuju kepada Yesus dan
penderitaan-Nya, kita kemudian dapat mengirimkan disiplin Tuhan dalam hidup kita,
yang menghasilkan buah damai kebenaran. Tuhan ternyata kesedihan kita sekarang
menjadi sukacita karena kita mendapatkan pemahaman yang lebih dalam kemuliaan
salib-Nya.

2) TUHAN BERUBAH SORROW KAMI KE JOY OLEH MEMBERIKAN US AN


PERSPEKTIF KEKAL.

Tuhan tidak menjawab pertanyaan para murid di tempat, sehingga mereka


kemudian menghadapi salib pada hari berikutnya dengan pemahaman yang jelas. Tapi
Dia memberi mereka instruksi yang memungkinkan mereka kemudian untuk melihat
kembali

peristiwa

traumatik

ini

dengan

kejelasan

dan

pemahaman.

Setelah

kebangkitan, sebagaimana Dia membuka Kitab Suci untuk menunjukkan kepada


mereka bagaimana Mesias yang diperlukan pertama yang menderita dan kemudian
masuk ke dalam kemuliaan-Nya (Lukas 24:26, 46-47), mereka mendapat gambaran
besar dari apa yang Tuhan lakukan dalam sejarah. Perspektif kekal memungkinkan
mereka kemudian menanggung penderitaan demi kerajaan-Nya.

Dalam Mazmur 73, pemazmur bingung dan tertekan saat melihat kemakmuran
tampak dari orang fasik, sementara pada saat yang sama ia kena hukum setiap hari.
Ia akan putus asa sampai ia masuk ke tempat kudus Allah. Kemudian ia melihat akhir
jahat dan bagaimana Allah adalah bagian abadi dari orang-orang saleh. Perspektif
kekal berubah kesedihannya menjadi sukacita.

3) TUHAN BERUBAH SORROW KAMI KE JOY DENGAN MENJADI MEDIATOR KAMI


ATAS THRONE OF GRACE.
26

Mengulangi Yesus (Yohanes 16: 23-24) janji untuk menjawab doa-doa para murid
yang ditawarkan dalam nama-Nya (lihat Yohanes 14: 13-14; 15: 7, 16). Seperti yang
kita lihat, meminta dalam nama Yesus adalah meminta sejalan dengan kehendak-Nya
untuk itu yang akan memajukan kerajaan-Nya dan kemuliaan-Nya. Hal ini untuk
meminta apa yang Yesus ingin, tidak didasarkan pada prestasi kami, tetapi pada darah
dan kebenaran-Nya. Ketika kami meminta dan Dia menjawab, sukacita kita akan
dibuat penuh.

Seperti yang saya jelaskan ketika saya berbicara tentang Yohanes 14: 13-14,
akan ada banyak waktu ketika Anda meminta sesuatu dalam nama Yesus yang
menurut Anda akan lebih kerajaan-Nya dan memuliakan nama-Nya, tetapi Dia tidak
menjawab seperti yang Anda minta. Pada saat seperti itu, kita harus percaya bahwa
Dia akan bekerja dengan cara yang berada di luar apa yang bisa kita minta atau
bahkan berpikir (Ef. 3:20). Dia sering menyelesaikan tujuan-Nya dengan cara yang
tampaknya mundur untuk kita. Karena kita tidak mengerti semua yang Allah lakukan
dan Dia biasanya tidak menjelaskan kepada kita, kita bisa pergi ke kuburan kami tidak
tahu mengapa Dia tampaknya tidak menjawab doa-doa kita. Tetapi ketika kita berdoa
dan Dia menjawab, itu banjir kami dengan sukacita yang besar.

4) TUHAN BERUBAH SORROW KAMI KE JOY SAAT KITA MELIHAT DIA BANGKIT
DARI MATI MELALUI MATA IMAN.

Yesus berkata (Yohanes 16:16, 17, 22) bahwa para murid akan melihat Dia lagi
dan kemudian hati mereka akan bersukacita dan tidak ada yang bisa mengambil
sukacita yang jauh dari mereka. Mereka melihat Tuhan yang bangkit secara fisik, yang
tidak bisa kita lakukan. Tapi kita bisa melihat-Nya secara rohani karena kami percaya
27

kesaksian apostolik. Petrus menulis untuk orang Kristen yang menderita (1 Pet 1: 8).,
"Dan meskipun Anda belum melihat-Nya, Anda mengasihi Dia, dan meskipun Anda
tidak melihat-Nya sekarang, tapi percaya kepadaNya, Anda bergembira karena
sukacita yang tak terkatakan dan penuh kemuliaan .... "Ini sering kali penderitaan
yang Anda lihat Tuhan Yesus lebih jelas sebagai Roh Kudus membuka kekayaan Kristus
untuk jiwa Anda dengan cara yang segar. Dan, tentu saja, akhir, sukacita kekal kita
akan menyapu semua penderitaan kita pergi selamanya instan kami melihat
kedatangan Kristus dalam kuasa dan kemuliaan!

Jadi Yesus adalah sensitif, penderitaan, dan bangkit Juruselamat. Dia ternyata
kesedihan kami menjadi sukacita dengan menunjukkan kemuliaan salib; memberikan
kita perspektif yang kekal; menjadi Mediator kami ke takhta kasih karunia; dan
membiarkan kita melihat Dia bangkit dari kematian melalui mata iman. Akhirnya:

C. Mengapa Tuhan mengubah kesedihan kita menjadi sukacita abadi?

1) HE BERUBAH SORROW KAMI KE selamanya JOY KARENA KAMI TUMBUH UNTUK


SEPERTI DIA MELALUI PROSES PENDERITAAN.

James (1: 2-5) mendorong kita untuk mempertimbangkan suatu kebahagiaan,


apabila kita menghadapi berbagai cobaan karena melalui uji coba tersebut, kita akan
menjadi lebih seperti Juruselamat kita. Paulus mengatakan sesuatu yang serupa di
Roma 5: 3-5, di mana ia mengatakan bahwa ia bersukaria dalam kesengsaraan,
mengetahui bahwa mereka menghasilkan ketekunan, karakter terbukti, dan harapan.
Anda mungkin mengatakan, "Tidak bisa kita hanya melewatkan bagian kesedihan dan
bergerak langsung ke sukacita?" Tetapi Ibrani 5: 8 mengatakan bahwa bahkan Tuhan
kita belajar taat melalui penderitaan-Nya. Ini bukan berarti bahwa Dia (seperti kita!)
28

Tidak taat dan harus belajar untuk taat. Tapi melalui penderitaan, Dia mengalami apa
ketaatan adalah semua tentang. Melalui penderitaan kita, kita belajar untuk menjadi
lebih seperti Dia jika kita mempercayai-Nya melalui proses.

2) HE BERUBAH SORROW KAMI KE selamanya JOY SEHINGGA KITA AKAN DAPAT


POINT LAIN UNTUK SEMUA NYA-KECUKUPAN.

Hanya ketika biji gandum jatuh ke tanah dan mati yang membawa banyak buah
(Yohanes 12:24). Paulus mengatakan (2 Kor 1: 4). Bahwa Allah menghibur kami dalam
penderitaan kita sehingga kita akan dapat menghibur orang lain dalam penderitaan
mereka dengan kenyamanan yang kita dihibur oleh Allah.

Beberapa tahun yang lalu, seorang perwira Salvation Army sedang berkhotbah
di Chicago ketika seorang pria berbicara di depan orang banyak, "Anda dapat
berbicara tentang bagaimana Kristus adalah sayang untuk Anda, tetapi jika istri Anda
mati, sebagai istri saya, dan Anda memiliki bayi menangis untuk ibu mereka, Anda
tidak bisa mengatakan apa yang Anda katakan. "

Beberapa hari kemudian, istri pendeta yang tewas dalam kecelakaan kereta api
tragis. Pada upacara pemakaman, suami berduka berdiri di samping peti mati dan
berkata, "Suatu hari ketika saya sedang berkhotbah di kota ini, seorang pria
mengatakan bahwa jika istri saya sudah mati dan anak-anak saya menangis untuk ibu
mereka, saya tidak bisa mengatakan bahwa Kristus sudah cukup. Jika seorang pria
yang ada di sini, saya mengatakan kepadanya bahwa Kristus sudah cukup! Hatiku
hancur, perdarahan, dan rusak. Tapi ada juga lagu dalam hati saya dan Kristus
menaruhnya di sana. Juruselamat berbicara kenyamanan bagi saya hari ini. "Orang

29

yang telah mengajukan keberatan itu hadir, dan ia menyerah hidupnya untuk Kristus.
(Dari, "Our Daily Bread," 1980.)

Kesimpulan

Saya menyimpulkan dengan dua aplikasi dan pengamatan akhir:

Pertama, pada saat penderitaan, menghabiskan lebih banyak waktu di dalam


Firman Tuhan. Waktu duka dan kesedihan bukan waktu mengabaikan Alkitab. Tentu
saja, Anda harus mencari Tuhan sebelum uji coba seperti memukul, sehingga Anda
akan sudah memiliki kebijaksanaan yang Anda butuhkan untuk melewati badai (lihat
Amsal 1:. 20-33). Tapi Anda juga perlu meningkatkan waktu Anda di Word ketika Anda
berada di tengah-tengah persidangan.

Kedua, pada saat penderitaan, menghabiskan lebih banyak waktu dalam doa. Ini
dalam konteks penderitaan yang James (1: 5) mengatakan, "Tetapi jika salah satu dari
Anda tidak memiliki kebijaksanaan, biarkan dia meminta kepada Allah, yang
memberikan kepada semua murah hati dan tanpa cela, dan itu akan diberikan
kepadanya." Di sini, dalam konteks kesedihan para murid, Yesus mengatakan kepada
mereka lagi untuk meminta Bapa dalam nama-Nya, menjanjikan bahwa Dia akan
menjawab.

Akhirnya, perhatikan bahwa sisi lain ayat-ayat ini adalah bahwa sukacita di dunia
yang berasal dari hal-hal yang binasa bersifat sementara. Sukacita mereka akan
beralih ke kesedihan ketika hal-hal binasa dan mereka menghadapi Allah dalam judg

30

Ayat: "Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: 'Bagaimanakah orang mati
dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?'"
Kebangkitan tubuh adalah suatu ajaran yang penting dalam Alkitab. Hal ini menunjuk
kepada tubuh yang dibangkitkan Allah dari kematian dan dipersatukan kembali
dengan jiwa dan roh orang itu, yang telah dipisahkan dari tubuh itu selama waktu
penantian.
1. 1) Alkitab menyatakan sekurangnya tiga alasan mengapa kebangkitan tubuh itu
penting.
1. (a) Tubuh itu penting bagi kepribadian manusia seutuhnya; manusia tidak lengkap
tanpa tubuh. Demikianlah, penebusan yang ditawarkan oleh Kristus berlaku untuk
segenap pribadi, termasuk tubuh (Rom 8:18-25;
lih. art.KEPRIBADIAN MANUSIA).
2. (b) Tubuh adalah bait Roh Kudus (1Kor 6:19); sekali lagi tubuh itu akan menjadi bait
Roh pada saat kebangkitan.
3. (c) Untuk melenyapkan akibat dosa pada segala tingkat, musuh terakhir manusia
(kematian tubuh) harus dikalahkan melalui kebangkitan (1Kor 15:26).
2. 2) Baik PL (bd. Kej 22:1-14 dan Ibr 11:17-19; Mazm 16:10 dan Kis 2:24-34; bd. Ayub
19:25-27; Yes 26:19; Dan 12:2; Hos 13:14) maupun PB (Luk 14:13-14; 20:35-36; Yoh
5:21,28-29; 6:39- 40,44,54; 1Kor 15:22-23; Fili 3:11;1Tes 4:14-16; Wahy 20:4-6,13)
mengajarkan kebangkitan tubuh pada masa yang akan datang.
3. 3) Kebangkitan tubuh kita dijamin oleh kenyataan kebangkitan Kristus (Kis 17:31; 1Kor
15:12,20-23;
lihat cat. --> Mat 28:6).
[atau --> Mat 28:6]
4. 4) Dalam pengertian umum, tubuh kebangkitan orang percaya akan menjadi seperti
tubuh kebangkitan Tuhan sendiri (Rom 8:29; 1Kor 15:20,42-44,49; Fili 3:20-21; 1Yoh
3:2). Secara lebih khusus, tubuh yang dibangkitkan itu adalah:
1. (a) suatu tubuh yang memiliki kesinambungan dan ciri-ciri yang sama dengan tubuh
dari kehidupan ini dan karenanya dapat dikenali (Luk 16:19-31);
2. (b) suatu tubuh yang diubah menjadi tubuh sorgawi yang disesuaikan untuk langit
yang baru dan bumi yang baru (1Kor 15:42-44,47-48; Wahy 21:1);

31

3. (c) suatu tubuh yang tidak dapat binasa, bebas dari kebusukan dan kematian (1Kor
15:42);
4. (d) suatu tubuh kemuliaan, seperti tubuh Kristus (1Kor 15:43; Fili 3:20-21);
5. (e) suatu tubuh yang kuat, tidak dipengaruhi penyakit atau kelemahan (1Kor 15:43);
6. (f) suatu tubuh yang rohani (yaitu, tidak alami, tetapi adikodrati), tidak terikat pada
hukum alam (Luk 24:31; Yoh 20:19; 1Kor 15:44);
7. (g) suatu tubuh yang bisa makan dan minum (Luk 14:15; Luk 22:14-18,30; 24:43).
5. 5) Pada waktu orang percaya menerima tubuhnya yang baru, mereka akan
mengenakan kekekalan (1Kor 15:53). Alkitab menyatakan sekurang-kurangnya tiga
maksud untuk hal ini:
1. (a) supaya orang percaya memenuhi seluruh maksud Allah bagi manusia pada saat
penciptaan (bd. 1Kor 2:9);
2. (b) supaya orang percaya dapat mengenal Allah dalam cara yang sepenuhnya
sebagaimana Dia inginkan mereka mengenal-Nya (Yoh 17:3);
3. (c) supaya Allah boleh mengungkap kasih-Nya kepada anak-Nya seperti yang
dirindukan-Nya (Yoh 3:16; Ef 2:7; 1Yoh 4:8-16).
6. 6) Orang setia yang masih hidup pada waktu Kristus datang bagi para pengikut-Nya
akan mengalami pengubahan tubuh yang sama seperti yang dialami orang-orang
yang telah meninggal dunia dalam Kristus sebelum hari kebangkitan itu (1Kor 15:5153). Mereka akan diberikan tubuh yang baru seperti tubuh yang diberikan kepada
mereka yang dibangkitkan dari kematian pada saat itu. Mereka tidak akan pernah
mengalami kematian jasmani
(lih. art.KEANGKATAN GEREJA).
7. 7) Yesus berbicara mengenai kebangkitan kepada hidup bagi orang percaya dan
kebangkitan kepada hukuman bagi orang yang jahat (Yoh 5:28-29).

Pendahuluan
Kebangkitan tubuh adalah ciri khas dari pemberitaan Kristen. Setiap orang di
dunia ini pasti mengalami kematian, tetapi tidak ada seorang pun yang pernah bangkit
dari kematian selain Kristus. Semua tokoh agama di dalam dunia tidak ada yang
pernah bangkit seperti Kristus. Oleh sebab itulah, Allah melalui Roh Kudus akan
32

membangkitkan tubuh orang percaya juga seperti Kristus yang telah bangkit (Rm.
8:11).1
Salah satu poin menarik seputar kebangkitan tubuh adalah mengenai tubuh
kebangkitan. Pada zaman Paulus ada sebagian orang yang menganggap kebangkitan
sebagai suatu yang spiritual sifatnya (2Tim.2:18). Pada zaman sekarang banyak juga
orang yang berpendapat bahwa kebangkitan ini hanya bersifat spiritual.2Ada pula yang
beranggapan bahwa tubuh kebangkitan benar-benar baru dan tidak ada kaitan dengan
tubuh yang lama. Melalui tulisan ini,penulis mencoba memaparkan seperti apa
sebenarnya tubuh kebangkitanorang percaya, dengan tubuh Yesus Kristus sebagai
model tubuh kebangkitan orang percaya kelak.
I.

Tubuh
Kebangkitan Kristus sebagai Model Tubuh Kebangkitan Orang Percaya.
Dalam 1 Kor. 15:20-23, Kristus disebut sebagai buah sulung kebangkitan.
Sedangkan dalam Kol. 1:18 dan why.1 :5 Kristus disebut sebagai yang sulung
diantara mereka yang bangkit. Hal ini berarti bahwa kebangkitan umat Allah akan
seperti kebangkitan Tuhan mereka.3Tubuh orang percaya akan serupa dengan tubuh
kebangkitan Kristus.
II.1
Tubuh yang Tidak Dapat Binasa (aphtharsia)
Tubuh orang percaya setelah kebangkitan adalah tubuh yang tidak dapat binasa
(1 Kor.15:42). Di dalam dunia tubuh manusia bisa lelah, sakit dan mati. Tetapi tubuh
kebangkitan tidak akan pernah menderita suatu penyakit atau mengalami kematian.
Tubuh kebangkitan berubah di dalam naturnya, di dalam esensinya; tubuh yang baru
yang tidak akan pernah busuk atau rusak. 4 Orang percaya akan menikmati
keberadaan yang tidak dapat binasa.5
II. 2 Tubuh kemuliaan (doxa)
Dalam Fil.3: 21 Paulus ingin memperlihatkan bahwa tubuh kebangkitan Kristus
dan orang percaya merupakan tubuh yang tidak dapat binasa, penuh dengan
kemuliaan serta riil. Paulus sendiri juga mengajarkan hal yang sama kepada jemaat di
Korintus (I Kor. 15: 42-44).6 Kemuliaan ini bukan hanya bersifat lahiriah, tetapi
kemuliaan yang akan mengubah seseorang dari dalam. Tubuh kebangkitan akan
memancarkan terang, berkilauan, bahkan mungkin menyilaukan mata.
II.3 Tubuh yang penuh kekuatan (dynamis)
Tubuh sebelum kematian adalah tubuh yang penuh dengan kelemahan dan
keterbatasan. Ketika kematian mendekat, maka tubuh akan sepeuhnya tidak berdaya.
Tetapi pada saat kebangkitan terjadi, maka tubuh akan dibangkitkan dalam kekuatan.
Menurut kesaksian Alkitab ketika Kristus bangkit kadang Ia seperti segera dikenal
murid-murid-Nya (Mat.28:9; Yoh. 20:19:20). Tetapi kadang tidak langsung dikenal (Luk.
24:16; Yoh.21:4). Ia dapat muncul tiba-tiba ditengah-tengah murid-murid-Nya
33

sekalipun pintu terkunci (Yoh. 20:19) atau pun lenyap tiba-tiba (Luk.24:31). Ia sendiri
mengidentifikasikan
bahwa
tubuh
kebangkitan-Nya itu masih berdaging dan bertulang (Luk. 24:39). Tubuh-Nya bisa
dipegang, tetapi tidak dapat dibatasi dengan dipegang. Ia pun menerima makanan
dan
memakannya
(Luk.
24:
41-43).
Tentu
saja
ini tidak boleh diartikan bahwa makanan jasmaniah masih diperlukan sesudah
kematian. Pendeknya, Ia memperlihatkan bahwa tubuh kebangkitan-Nya dapat saja
mengikuti
limitasi
hidup
jasmaniah
atau
tidak, menurut kehendak-Nya, dan ini memberikan indikasi kepada kita bahwa orang
percaya yang dibangkitkan juga memiliki kuasa yang serupa.7

Kesinambungan
Kebangkitan

Antara

Tubuh

Sebelum

Kematian

dengan

Tubuh

Ada kesinambungan antara tubuh sebelum kematian dengan tubuh kebangkitan,


namun juga ada perbedaan. Menurut Alkitab akan ada kebangkitan tubuh, bukan
suatu ciptaan baru yang seluruhnya berbeda, tetapi tubuh yang dalam arti mendasar
sama dengan tubuh yang sekarang. Tuhan tidak menciptakan tubuh yang baru bagi
semua orang, tetapi akan membangkitkan tubuh yang sudah dimakamkan dalam
tanah. Hal ini bukan hanya terlihat dalam istilah kebangkitan itu sendiri,
tetapi jalas pula dikatakan dalam Rm. 8:11; I Kor. 15:53, sertabagaimana dimaksudkan
dalam gambaran mengenai benih yang ditabur di tanah, yang dibicarakan Paulus
dalam
I
Kor.
15:
36-38.
Kristus
yang
adalah buah sulung kebangkitan secara jelas meunjukan kesamaan tubuh-Nya
sebelum dan sesudah kebangkitan kepada para murid.8
Hidup dalam keberadaan yang sama sekali berbeda dari kondisi di bumi
sekarang ini bukanlah sebuah kebangkitan. Ketika Paulus berkata bahwa orang-orang
mati akan dibangkitkan (I Kor. 15:52) dan bahwa kita yang masih tinggal akan
diubahkan (ayat 52), jelas menunjukan bahwa dalam arti tertentu akan ada
kesinambungan antara dua tahap kehidupan tersebut. Bahkan, bahasa dalam ayat 53
mengandung
pengertian
tersebut:
Karena
yang
dapat
binasa
ini
harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus
mengenakan yang tidak dapat mati (penekanan oleh penulis). Paulus juga
mengatakan dalam I Tes. 4:17, yaitu sesudah ia menjelaskan tentang kebangkitan
orang-orang percaya dan pengangkatan gereja, maka, Demikianlah kita akan
selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. Mereka yang akan selama-lamanya
bersama dengan Tuhan sesudah kebangkitan atau perubahan bukanlah makhluk
ciptaan lain, tetapi kita.9
Meskipun ada kesinambungan, Alkitab juga membuktikan bahwa ada juga terjadi
perubahan. Komposisi tubuh kebangkitan ini agak berbeda dengan tubuh manusia
sebelum mati. Paulus sendiri menegaskan bahwa daging dan darah tidak mendapat
34

bagian dalam Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam
apa yang tidak binasa (I Kor. 15:50). Tubuh kebangkitan itu idenya soma bukan sarx.
Karena dalam ayat ini daging sarx tidak dapat masuk ke dalam
Kerajaan Allah. Sarx (daging) dari debu akan kembali kepada debu. Oleh sebab
itu sarxnya hilang. Jadi tubuh kebangkitan berbeda dengan tubuh yang sekarang.
Implikasi yang serupa juga pernah Yesus ucapkan ketika Yesus menjawab orang
Saduki yang tidak percaya kebangkitan. Menurutnya pada waktu kebangkitan orang
tidak kawin dan dikawinkan, melainkan hidup seperi malaikat disurga (Mat. 22:30). 10
Persamaan dengan malaikat di sini bukan dalam kaitannya dengan tubuh fisik yang
tidak akan ada lagi. Ajaran Tuhan Yesus di sini tidak mengandung pengertian bahwa
tidak akan ada lagi perbedaan jenis kelamin di dalam kehidupan yang akan dating.
Tetapi yang institusi pernikahan tidak akan ada lagi, sebab tidak perlu melahirkan anak
ke dalam bumi.11
Ayat lainnya lagi yang berbicara tentang perbedaan tersebut adalah I Kor. 6: 13,
Makanan adalah untuk perut dan perut untuk makan: tetapi kedua-duanya akan
dibinasakan
Allah.Kata
dibinasakandi
sini, katargeo, artinya secara umum membatalkan, meniadakan, atau mengakhiri.
Tampaknya, menurut ayat ini, fungsi pencernaan tubuh manusia tidak diperlukan
dalam kehidupan yang akan datang.12
Dalam I Kor.15: 36-38 Paulus membicarakan perubahan yang akan terjadi, ketika
ia mengatakan bahwa ketika seseorang menaburkanbenih, ia tidak menabur tubuh
yang
akan
datang.
Ia
tidak
bermaksud
mengambil kembali benih yang sama dari dalam tanah. Namun, ia mengharapkan
untuk menuai sesuatu yang secara fundamental sama dengan benih yang sudah
ditaburkan
itu.
Walaupun
ada
kesamaan
tertentu
antara benih yang disebar dan benih yang tumbuh dari padanya, tetap saja akan
dijumpai perbedaan yang menyolok. Paulus berkata, ditabur dalam kebinasaan,
dibangkitkan
dalam
kemuliaan.
Tubuh
ditaburkan
dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan,
dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang
dibangkitkan adalah tubuh jasmaniah. Perubahan tidak berarti tidak konsisten dengan
mempertahankan identitas. Akan ada kaitan fisik tertentu antara tubuh yang lama dan
tubuh yang baru, tetapi nature dari kaitan ini tidak diungkapkan.13

Sifat Tubuh Kebangkitan: Tubuh fisik atau tubuh non fisik?


Banyak penafsir yang menggunakan I Kor. 15:44 sebagai acuan bahwa
kebangkitan bersifat non-fisik. Meskipun tubuh kebangkitan itu berbeda dengan tubuh
manusia
sebelum
mati,
tidaklah
tepat
apabila
ditarik kesimpulan bahwa tubuh kebangkitan itu sebenarnya merupakan tubuh nonfisikal berdasarkan I Kor. 15: 44 yang membedakan antara tubuh rohaniah (spiritual
body,
Gk. soma
pneumatikon)
35

dengan tubuh jasmaniah (natural body, Gk. soma psychikon). Alasannya Paulus juga
memakai dua istilah ini tersebut di pasal 2: 14-15 (manusia duniawi, psychikos dan
manusia rohania, pneumatikos) tanpa indikasi bahwa yang ia maksudkan dengan
manusiarohani adalah manusia non-fisikal. Konteks menunjukan bahwa yang
dimaksudnya dengan manusia rohani adalah manusia yang dituntun oleh Roh Kudus. 14
Dengan demikian, sama dengan indikasi diatas, tubuh rohaniah di dalam I Kor. 15:
44 bukanlah tubuh yang non-fisikal, melainkan tubuh kebangkitan yang akan
sepenuhnya dikuasai oleh Roh Kudus.15 Sedangkan tubuh alamiah adalah bagian dari
keberadaan sekarang ini yang terkutuk dan berdosa. 16 Geerhardus Vos benar ketika ia
menegaskan bahwa kita harus menulis dalam huruf besar kata rohaniah dalam ayat
ini, supaya jelas bahwa ayat ini menggambarkan kondisi di mana Roh Kudus
memimpin tubuh.17
Demikian pula dengan I Kor. 15: 50-57 kalimat daging dan darah tidak
mendapat bagian dalam Kerajaan Allah bukan sedang mencoba untuk berkata bahwa
tubuh kebangkitan tidak bersifat fisik, melainkanbahwa manusia sebagaimana
adanya sekarang adalah, ciptaan yang rentan, dapat binasa, tidak dapat mewarisi
Kerajaan Allah yang mulia.18 Lebih lanjut ia berkata bahwa yang binasa (phthora)
tidak
mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa (aphtharsia) (ayat 50). Maksud
perkataan Paulus di sini adalah bahwa tidak mungkin dalam kondisi sekarang ini, yaitu
di
dalam
tubuh
yang
lemah
dan
dapat
binasa, mewarisi berkat yang mulia dari kehidupan yang akan datang. Harus ada
perubahan.19
Jika tubuh kebangkitan bersifat nonmateri atau nonfisik, maka iblis akan
mengalami kemenangan besar, sebab dengan demikian Allah dipaksa untuk
mengubah hakikat manusia yang diciptakan dengan tubuh dan roh menjadi ciptaan
jenis lain, yaitu tanpa tubuh fisik (seperti malaikat). Akibatnya hal ini memberikan
pengertian bahwa materi pada dasarnya adalah jahat sehingga harus ditiadakan.
Sehingga dalam artitertentu filsuf Yunani akan terbukti benar. Tetapi materi tidaklah
jahat; ia adalah bagian dari ciptaan Allah yang baik. Sebab itu, tujuan penebusan Allah
adalah
kebangkitan
tubuh
fisik,
dan
penciptaan
bumi yang baru di mana umat tebusan-Nya akan hidup dan melayani Allah selamalamanya dengan tubuh kemuliaan.20
Kebangkitan bukan hanya rohnya saja, melainkan fisiknya atau tubuhnya juga.
Kebangkitan yang paling penting ialah kebangkitan personalnya atau oknumnya dari
pada hanya sekedar badannya. Tetapi bukan berarti badan tidak penting. Kalau tidak
ada tunjukan badannya, bagaiamana seseorang dapat disebut bangkit. Tetapi
kebangkitan badannya jangan terlalu materialisasi dan konkretisasi. Deskripsi tubuh
ada supaya seseorang bisa dikenali baiknya atau jahatnya pada waktu semua orang
dibangkitkan.sOleh sebab itu, kelak orang percaya masih saling mengenal, karena
kebangkitan itu adalah kebangkitan pribadi ataupersonalnya. Manford juga
mengatakan hal yang sama demikian :

36

Will we know each other? Oh, Yes, we will know each other. This is to be our
expectation;
this
is
what the apostle Paul said.21
Kesimpulan
Kebangkitan merupakan hal yang penting dalam kekristenan, karena
kebangkitan Kristus adalah tanda kemenangan mutlak. Dengan demikian orang yang
percaya kepada Kristus juga akan dibangkitkan seperti Kristus telah bangkit. Orang
percaya akan memiliki tubuh kebangkitan yang sama dengan tubuh Kristus. Yaitu
tubuh yang tidak dapat binasa. yang mulia, dan penuh kekuatan. Tubuh kebangkitan
akan
ada
kesinambungan dengan tubuh yang sekarang, namun juga akan ada perbedaannya.
Tubuh kebangkitan orang percaya juga bersifat fisik untuk menunjukan suatu pribadi
atau
oknum.
Dengan
demikian,
orang
percaya masih bisa saling mengenal satu sama lain.
Daftar Pustaka
Berkhof, Louis Teologi Sistematika
6: Doktrin Alkitab dan Akhir Zaman. Surabaya:
Momentum, 2005
Gutzke, Manford G. Plan Talk on the
Resurrection. Michigan: Baker Book House, 1974.
Hoekema ,Anthony , Alkitab dan Akhir
Zaman. Surabaya: Momentum, 2004.
Hoekema, Anthony, The
Bible and the Future.
Lukito, Daniel Lukas Kebangkitan
Orang Mati: Sebuah Telaah dari Alkitab dalam jurnal Pelita
Zaman V5 no. 1 (1990).
Schep, op.cit.
Vos, G. Pauline Eschatology .
1
Louis Berkhof, Teologi Sistematika (Surabaya: Momentum,
2005), hlm. 119
2
Louis Berkhof, Teologi Sistematika, hlm. 119

37

3
Ibid
4
Manford G. Gutzke, Plan Talk on the Resurrection (Michigan:
Baker Book House, 1974), hlm.51
5
Anthony A. Hoekema , Alkitab dan Akhir Zaman (Surabaya:
Momentum, 2004), hlm. 337.
6Daniel
Lukas Lukito, Kebangkitan Orang Mati: Sebuah Telaah dari
Alkitab dalam jurnal Pelita Zaman V5 no. 1 (1990), hlm. 45
7
Ibid
8
Louis Berkhof, Teologi Sistematika, hlm. 119-120.
9
Anthony A. Hoekema , Alkitab dan Akhir Zaman, hlm. 340.
10
Daniel Lukas Lukito, Kebangkitan Orang Mati: Sebuah Telaah
dari Alkitab, hlm.
11
Anthony A. Hoekema , Alkitab dan Akhir Zaman, hlm. 340-341
12
Ibid
13
Louis Berkhof, Teologi Sistematika, hlm.120
14
Daniel Lukas Lukito, Kebangkitan Orang Mati: Sebuah Telaah
dari Alkitab,hlm.47
15
Hoekema, The Bible and the Future , hlm 249-250)
16
Anthony A. Hoekema , Alkitab dan Akhir Zaman, hlm. 338.
17
G. Vos, Pauline Eschatolog, hlm. 167
38

18
Schep, op.cit., hlm. 204
19
Anthony A. Hoekema , Alkitab dan Akhir Zaman, hlm. 339
20
Anthony A. Hoekema , Alkitab dan Akhir Zaman, hlm.338-339.
21
Manford G. Gutzke, Plan Talk on the Resurrection, hlm. 52.
__________________

PEMAHAMAN TENTANG KEBANGKITAN TUBUH


Share on facebookShare on twitterShare on emailShare on printMore Sharing Services0

Setelah mengikuti materi sebelumnya, mungkin timbul pertanyaan dalam benak


kita,
bagaimana
tentang
Kebangkitan
Tubuh?
:
Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: Bagaimanakah orang mati
dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali? (1Kor
15:35)
Kebangkitan tubuh menunjuk kepada tubuh yang dibangkitkan oleh Allah dari
kematian, dan dipersatukan kembali dengan jiwa dan roh orang itu, yang telah
dipisahkan
dari
tubuh
itu
selama
waktu
penantian.
MENGAPA KEBANGKITAN TUBUH ITU PENTING ?
1.

Tubuh itu penting bagi kepribadian manusia seutuhnya; manusia tidak


lengkap tanpa tubuh. Demikianlah penebusan yang ditawarkan Kristus berlaku
untuk segenap pribadi, termasuk tubuh (Rm 8:18-25)

2.

Tubuh adalah bait Roh Kudus (1Kor 6:19); sekali lagi tubuh itu akan menjadi
bait Roh pada saat kebangkitan

3.

Untuk melenyapkan akibat dosa pada segala tingkat, musuh terakhir


manusia (kematian tubuh) harus dikalahkan melalui kebangkitan (1Kor 15:26)

39

PERJANJIAN LAMA MENGAJARKAN KEBANGKITAN TUBUH PADA MASA


YANG
AKAN
DATANG
Bandingkan Kej 22:1-14 dengan Ibr 11:17-19; Mzm 16:10 dan Kis 2:24 dst. Ayb
19:25-27;
Dan
12:2;
Hos
13:14;
Ya, Tuhan, orang-orangMu yang mati akan hidup pula, mayat-mayat mereka akan
bangkit pula. Hai orang-orang yang sudah dikubur di dalam tanah bangkitlah dan
bersorak-sorai! Sebab embun Tuhan ialah embun terang, dan bumi akan
melahirkan
arwah
kembali.
(Yes
26:19)
PERJANJIAN BARU MENGAJARKAN KEBANGKITAN TUBUH PADA MASA
YANG
AKAN
DATANG
Luk 14:13-14; 20:35-36; Yoh 5:21, 28-29; 6:39-40, 44, 54; 1Kor 15:22-23; 1Tes
4:14-16;
Why
20:4-6,
13
Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan
persekutuan dalam penderitaanNya, dimana aku menjadi serupa dengan Dia
dalam kematianNya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dariantara orang
mati.
(Flp
3:10-11)
yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan
tubuhNya yang mulia, menurut kuasaNya yang dapat menaklukkan segala sesuatu
kepada
diriNya.
(Flp
3:21)
PENGERTIAN

KEBANGKITAN

TUBUH

SECARA

UMUM

&

KHUSUS

Alkitab menyatakan bahwa kebangkitan tubuh kita dijamin oleh kenyataan


kebangkitan Kristus (perhatikan Mat 28:6; Kis 17:31; 1Kor 15:12, 20-23)

PENGERTIAN SECARA UMUM : Tubuh kebangkitan orang percaya akan


menjadi seperti tubuh kebangkitan Tuhan sendiri (Rm 8:29; 1Kor 15:20, 42-44,
49; Flp 3:20-21; 1Yoh 3:2)
PENGERTIAN SECARA KHUSUS : Tubuh yang dibangkitkan itu adalah :
Suatu tubuh yang memiliki kesinambungan dan ciri-ciri yang sama
dengan tubuh dari kehidupan ini dan karenanya dapat dikenali (Luk 16:19-31)
40

Suatu tubuh yang diubah menjadi tubuh sorgawi yang disesuaikan


untuk langit yang baru dan bumi yang baru (1Kor 15:42-44, 47-48; Why 21:1)
Suatu tubuh yang tidak dapat binasa, bebas dari kebusukan dan
kematian (1Kor 15:42)
Suatu tubuh kemuliaan, seperti tubuh Kristus (1Kor 15:43; Flp 3:20-

21)
o

Suatu
tubuh
kelemahan (1Kor 15:43)

yang

kuat,

tidak

dipengaruhi

penyakit

atau

Suatu tubuh yang rohani (yaitu, tidak alami tetapi adikodrati), tidak
terikat pada hukum alam (Luk 24:31; Yoh 20:19; 1Kor 15:44)
Suatu tubuh yang bisa makan dan minum (Luk 14:15; 22:14-18, 30;

24:43)
MENGAPA SETIAP ORANG PERCAYA YANG MENERIMA TUBUH BARUNYA
AKAN
MENGENAKAN
KEKEKALAN
?
(1Kor
15:52-53).
Alkitab menyatakan sekurang-kurangnya tiga maksud untuk hal ini:

Supaya orang percaya memenuhi seluruh maksud Allah bagi manusia pada
saat penciptaan (bandingkan 1Kor 2:9)

Supaya orang percaya dapat mengenal Allah dalam cara yang sepenuhnya
sebagaimana Dia inginkan mereka mengenalNya (Yoh 17:3)

Supaya Allah boleh mengungkap kasihNya kepada anakNya seperti yang


dirindukanNya (Yoh 3:16; Ef 2-7; 1Yoh 4:8-16)
Orang setia yang masih hidup pada waktu Kristus datang bagi para pengikutNya
akan mengalami pengubahan tubuh yang sama seperti yang dialami orang-orang
yang telah meninggal dunia dalam Kristus sebelum hari kebangkitan itu (1Kor
15:51-53). Mereka akan diberikan tubuh yang baru seperti tubuh yang diberikan
kepada mereka yang dibangkitkan dari kematian pada saat itu. Mereka tidak akan
pernah mengalami kematian jasmani.
Tuhan Yesus berbicara mengenai kebangkitan kepada hidup bagi orang percaya
dan
kebangkitan
kepada
hukuman
bagi
orang
yang
jahat.
Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang
yang di dalam kuburan akan mendengar suaraNya, dan mereka yang telah berbuat
41

baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah
berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum. (Yoh 5:28-29)
ORANG PERCAYA AKAN KELUAR DAN BANGKITUNTUK HIDUP YANG KEKAL

Teologi Paulus Tentang Kematian dan Kebangkitan


Pendahuluan
Kematian adalah sebuah fenomena yang alami bagi manusia, tapi tidak
dengan kebangkitan. Hampir setiap hari kita melihat kematian sebagai sebuah wacana
realitas dari kehidupan, bahwa kehidupan diakhiri dengan sesuatu yang namanya
kematian. Bagaimana dengan kebangkitan? Hal itu adalah biasa, biasa bukan karena
itu terjadi secara massif dalam hidup manusia, tapi karena sering diperbincangkan
terutama dalam kekristenan. Bahkan menjadi sebuah pengharapan yang hampir pasti
akan menihilkan kekristenan jika hal itu diboikot.
Memaknai kematian dan kebangkitan berarti memahami hal yang fundamental
dalam kekristenan. Sebagai salah seorang peletak dasar teologi Kristen melalui
tulisan-tulisannya, maka kita akan membahas teologi Paulus tentang kematian dan
kebangkitan.
Kematian
Dalam penggunaan Alkitabiah, kematian memiliki empat makna utama, yaitu:
1.
Kematian fisik, umumnya menunjukkan perhentian fungsi tubuh yang tidak
dapat dicegah (2 Sam. 14:14; Rm. 6:23; Ibr. 9:27) tetapi adakalanya pelemahan kuasa
fisik secara berangsur-angsur (2 Kor. 4:12, 16).
2.
Kematian spiritual, menggambarkan pengasingan alami manusia dari Allah,
kurang mau mendengarkan Allah, atau permusuhan dengan Allah, karena dosa (Kej.
2:17; Mat. 8:22; Yoh. 5:24-25; 8:21, 24; Rm. 6:23; Ef. 2:1; Yak. 5:20; Yud. 12; Why. 3:1).
3.
Kematian kedua, menunjukkan pemisahan secara permanen dari Allah sebagai
nasib bagi orang yang tidak benar (Mat. 10:28; Why. 2:11; 20:6, 14-15; 21:8).
4.
Mati kepada dosa, melibatkan penyingkiran semua hubungan dengan dosa yang
dihasilkan dari hidup pada Allah melalui kematian dan kebangkitan dengan Kristus
(Rm. 6:4, 6, 11).
Melalui ketetapan Allah, kematian fisik dan spiritual adalah konsekuensi dan
akhir dari dosa (Yeh. 18:4, 20; Rm. 5:12; 6:23; 7:13; Ef. 2:1, 5) dan merupakan hal
yang umum bagi manusia karena semua telah berdosa (Yos. 23:14; 1 Raj. 2:2; Pkh.
9:5; Rm. 5:12; Ibr. 9:27). Laki-laki dan perempuan diciptakan tidak unable to
42

die tetapi able to die, walaupun setelah kejatuhan kematian menjadi sebuah keadaan
biologis yang universal. Allah tidak senang akan kematian (bahkan kematian orang
jahat, Yeh. 18:23).[1]
Konsep Kematian dalam Perjanjian Lama
Dalam sebagian besar PL, kematian memimpin kepada sebuah bayangan,
keadaan insubstansial dalam dunia bawah, yang disebut sheol/syeol. Di sana, semua
diturunkan pada kondisi tidak beraktivitas, dengan tidak ada prospek kemajuan atau
pelarian (Ay. 3:17-20; 7:9; 17:16). Secara khusus, penghuni dunia bawah diputuskan
dari Tuhan dan tidak dapat lagi mempersembahkan pujian atau permohonan: dalam
kematian tidak ada kenangan tentang Engkau; dalam Sheol siapa yang akan
memujimu? (Mzm. 6:6 (penerjemah) (bnd. Mzm. 88:5). Sedikit teks mengimplikasikan
bahwa dunia bawah tidak tersembunyi dari Tuhan (Ay. 26:6; Mzm. 139:8). Kematian
digambarkan bervariasi- contohnya, sebagai seorang musuh yang menjerat
mangsanya (Mzm. 18:6; 116:3) dan sebuah pelahap manusia yang tidak pernah puas
(Ams. 1:20; 27:20).[2]
Dalam bahasa Ibrani kata yang digunakan untuk mengacu pada kematian
adalah mawet,muncul 160 kali yang menyangkut keenam hal ini:
1.
Kematian secara umum dan/atau sebagai yang berlawanan dengan kehidupan.
PL mempertentangkan kehidupan dan kematian sebagai satu-satunya opsi utama (Ul.
30:19; 2 Sam. 15:21; Ams. 18:21; Yer. 21:8), sering kali membicarakan eksistensi
manusia sebagai sebuah jalan yang memimpin pada sesuatu atau yang lain
(Ams.14:12; 16:25; Yer. 21:8). Setiap orang memiliki hari kematiannya (Pkh. 7:1;
8:8), karena itu tidak terelakkan untuk semua orang (Bil. 16:19; Yeh. 18:32), untuk
orang benar (Bil. 23:10); orang jahat (Yeh. 18:23; 28:10; 33:11), dan orang bodoh juga
(2 Sam. 3:33).
2.
Kematian sebagai ganjaran untuk orang jahat. Karena kelakuan yang berdosa,
orang layak untuk mati (di bawah hukuman kematian; Ul. 19:6; 21:22; Yer. 26:11, 16).
Beberapa dosa secara khusus pantas untuk kematian (Ul. 22:26), menyatakan bahwa
yang lain tidak demikian, paling sedikit secara tiba-tiba. Contoh: istilah ben mawet, 'is
mawettidak pernah diberikan pada orang benar.
3.
Sikap terhadap kematian. Kematian adalah misterius dan menakutkan, secara
eufemistis (melembutkan) disebut tidur (Mzm. 13:3(4)). Mereka yang membenci Allah
dikatakan mencintai kematian (Ams. 8:36). Prospek tentang kematian membangkitkan
perasaan teror (Mzm. 55:4(5)), panik (1 Sam. 5:11), dan kebencian (1 Sam. 15:32; Pkh.
7:26).
4.
Kematian sebagai sebuah tempat. Tempat orang mati dinyatakan sebagai
kematian, yang paralel dengan syeol dan abaddon. Itu adalah tempat yang berdebu
(Mzm. 22:15(16)), satu tempat dengan banyak ruang (Ams. 7:27).
43

5.
Kematian sebagai personifikasi. Itu sering dipersonifikasi dan dilihat sebagai
suatu musuh kemanusiaan yang kuat (Kid. 8:6). Dia mampu membunuh (Yer. 18:21),
baik oleh dirinya mapun oleh penyakit parah (Ay. 18:13). Dia dapat memanjat melalui
jendela dalam pencarian terhadap kehidupan yang tidak menaruh kasihan (Yer.
9:20(21)) dan dia meliputi korbannya seperti gelombang laut (2 Sam.22:5).
6.
Kemenangan atas kematian. Manusia seharusnya mati, tetapi ada harapan
bahwa mereka dapat ditebus (gl) dari kematian (Hos. 13:14). Mereka dapat ditebus
bahkan dari ancaman atau prospeknya (Ay.5:20). Secara utama dan ironis kematian
sendiri akan ditelan sebagai sebuah tanda dari kemahakuasaan Allah (Yes. 25:8).
Sebagai sebuah konsep dalam PL, kematian secara keseluruhan dipandang
sebagai istilah yang negatif atau paling sedikit terhentinya kehidupan. Dia misterius,
persangkaan, dipenuhi dengan ketidakpastian, dan tabiat yang tidak terelakkan dan
universal. Itu adalah perluasan logis dari kelemahan dan penyakit, penyakit akhir
(Mzm. 88:11(12); Yes. 38:18). Secara fenomenologis, kematian manusia adalah seperti
kematian binatang (Mzm. 104:29). Nafas kehidupan (atau roh) berakhir dan kembali
kepada Pencipta sedangkan tubuh ditaruh ke tanah untuk membusuk dan kembali
mendebu (Kej.35:18-20). Sekaligus, ada harapan bahwa kehidupan tidak berakhir
dengan kematian atau bahkan melebihi kematian, tetapi bahwa itu memberi jalan
untuk pembaharuan hidup, kepada kekekalan (Mzm. 16:10-11; bnd. 49:15(16)), dan
bahkan ke kebangkitan (Dan. 12:2).[3]
Konsep Kematian dalam Perjanjian Baru
Istilah-istilah yang Digunakan
Dalam PB sebagai literatur klasik, terdapat beragam kata yang digunakan
untuk menggambarkan kematian dan mati- sebagai kejadian-kejadian yang
mengingatkan manusia bahwa kehidupan adalah sesuatu yang berakhir yang tidak
dapat dikendalikan. Selain kataqanato thanatos (kematian), ada istilah lain yang
secara asli memiliki makna yang cukup berbeda. Tidur (upno hypnos) yang dini
dipakai sebagai sebuah eufemisme untuk kematian dan mati bahkan digunakan lebih
banyak
dalam
zaman
Kristen.
Istilah
lain
yang
berhubungan
adalah kaqeudw katheudo (tidur),
dan koimomai koimaomai (tertidur).
Yang
menyatakan tidak bernyawa, sebuah hal mayat atau benda tak bernyawa,
yaitu nekro nekros (yang mati).teleutaw teleutao berarti berakhir, selesai dan karena
itu mati, apokteinw apokteino(membunuh) mengindikasikan sebuah pemadaman
kehidupan secara keras.[4]

Pemakaian Istilah dan Latar Belakang Konteks


44

Sebagaimana yang disebutkan di atas, istilah-istilah yang digunakan dalam PB dan


pemakaiannya adalah sebagai berikut:
1. apokteinw (apokteino) dan teleutaw (teleutao)
apokteino (membunuh), ditemukan 150 kali dalam LXX, yang mengacu pada
kata Ibrani harag (membunuh) dan mut (mati). Itu dapat mengacu pada pembunuhan
(Kej. 4:8 yaitu Kain), eksekusi hukum (Kel. 32:27), atau membawa massa untuk
membunuh dalam perang suci (Bil. 31:7; 1 Sam. 15:3). Juga terdapat dalam nubuat
profetis tentang penghakiman (Amos 4:10; 9:1; Yeh. 23:10).
Dalam PB terdapat 74 kali, khususnya sering di keempat Injil dan Wahyu (15
kali); hanya 5 kali dalam surat Paulus. Dalam ayat-ayat ini kata kerja ini hampir selalu
mengacu pada pembunuhan utusan Allah secara keras, baik dalam narasi langsung
(Mat. 14:5; 1 Tes 2:15), perumpamaan (Mrk. 12:5), atau profetis mengacu pada para
murid (Mat. 24:90).
teleutao terdapat 70 kali dalam LXX, digunakan untuk mengacu
pada mut (Ibr.), mati, hampir selalu dalam makna berakhir, berakhirnya kehidupan
seseorang.
Dalam PB teleutao terdapat 11 kali, 3 di antaranya dikutip dari PL (Mat.15:4;
Mrk. 7:10; 9:48). Kata kerja ini mengacu pada orang yang mati yang kemudian
dibangkitkan oleh Yesus (Mat. 9:8; Yoh. 11:39). Juga digunakan untuk kematian
Herodes (Mat.2:19), dll.
2. qanato (thanatos)
Kata
yang dominan
untuk
mati
dalam PB
adalah apothnesko
(thanatos). Dalam
dunia
Helenistik, thanatos (kematian), thanatoo (membunuh), thnesko (mati)
dan apethnesko (mati) digunakan secara metaforis tentang kematian intelektual dan
kematian spiritual.
Bagi orang Yunani, kematian berarti akhir dari aktivitas hidup, penutupan
jangka waktu, pengrusakan eksistensi, bahkan jika shade (jiwa) menemukan sebuah
tempat dalam alam kematian. Kematian adalah takdir umum manusia. Realisasi
kematian yang tidak dapat dielakkan menemukan konsekuensinya dalam pencarian
untuk menikmati kehidupan secara penuh.[5] Ada ajakan untuk tidak melewatkan
kesenangan pada masa hidup.
Bagi mereka juga, kematian adalah sebuah bagian hidup sebagai sebuah
tindakan dari prestasi manusia. Penting untuk mati dengan mulia, berjuang dengan
45

semangat tanpa takut mati. Disebut prestasi jika nama orang mati dihormati oleh yang
hidup, terutama jika dia mati atas nama kota (polis). Plato memandang orang
demikian mampu berjumpa dengan kematian, mengalihkan kematian dalam sebuah
prestasi manusia. Kaum Stoiks memandang serupa, manusia yang mengatasi
kematian dan ketakutannya adalah orang yang benar-benar mati, kesiapan bebas
untuk mati setelah hidup yang bernilai mengalihkan kematian ke dalam prestasi
manusia.
Terdapat kepercayaan tentang imortalitas (kekekalan) jiwa, terutama oleh
mistisisme Orphis dan Pythagorean. Dalam kematian jiwa dibebaskan dari tubuh, yang
kekal dari yang tidak kekal, kebahagiaan dari penderitaan. Pandangan ini pada masa
Helenistik menyebar luas. Bagi Stoaisme jiwa individual bergabung dengan jiwa
universal ilahi. Gnostisisme menekankan dualisme kosmis yang berlawanan: jiwa dan
badan. Pembebasan jiwa dari tubuh adalah kemenangan atas kematian.
Dengan kondisi demikian pada masa Helenistik, secara kuat gagasan dualistik
mulai menemukan jalan mereka pada Yudaisme dengan perluasan yang lebih besar
atau lebih kecil. Jiwa menjadi dianggap tidak kekal (Keb.3:4 4:1; 15:3), eksistensi tidak
bertubuh mulai secara tiba-tiba setelah kematian (4 Mak. 16:13; 17:12). Para martir
Yahudi juga melihat kematian mereka sebuah pekerjaan heroik, mulia serta bernilai (4
Mak. 10:1; 2 Mak. 6:31). Philo menggambarkan tubuh sebagai sebuah teman yang
jahat dan mati, kematian adalah tindakan pembebasan. Yosephus mendorong orang
Yahudi untk memilih kematian daripada menyerah pada orang Roma. Jika mustahil
hidup dengan kemuliaan, seseorang harus mati dengan mati.
Dalam PB thanatos (kematian) ditemukan kira-kira 120 kali: di kitab Injil
sebagian besar merujuk pada kematian Yesus; dalam Paulus terutama tentang
kematian
manusia.
Pandangan
PB
tentang
kematian
secara
langsung
berkesinambungan dengan pandangan Yahudi kuno.[6]Manusia hidup dalam bayangbayang kematian (Mat. 4:16; Yes. 9:1). Manusia harus hidup dalam ketakutan terhadap
kematian (Ibr. 2:15).[7] Setan dianggap sebagai yang memiliki kuasa atas kematian
(Ibr. 2:14), walaupun tentu saja Allah sendiri yang dapat menghancurkan tubuh dan
jiwa dalam neraka (Mat. 10:28; Why. 2:23). Dalam Injil keempat, kematian dan
kehidupan juga realitas eksistensi sekarang, tergantung pada bagaimana manusia
merespons Jesus sebagai krisis ilahi dari eksistensinya (Yoh. 5:24; 8:51; 11:25). Dalam
PB, kematian tidak dianggap sebagai proses alami, tetapi sebagai sebuah kejadian
historis, yang secara jelas menandai kondisi berdosa manusia. Dalam pengertian
historis kematian dilihat sebagai sebuah kuasa yang memperbudakk manusia dalam
hidup (Ibr. 2:15).[8]
3. kaqeudw (katheudo), koimomai (kaimaomai) dan upno hypnos (tidur)
46

katheudo artinya tidur; kaimaomai artinya berbaring, tenggelam dalam tidur,


bisa berarti tidur alami atau bagi yang akan mati; hypnos menyatakan tidur alami,
membuatny lupa beban hari, tidak aktif dan tubuh kelihatan tidak bernyawa. Dari
ketiga kata ini hanya kaimaomai yang sering digunakan berkaitan dengan kematian
dalam PB, yaitu sebanyak 15 kali. Dalam 1 Kor. 7:39; 15:6, 51 kaimaomai digunakan
sebagai sebua hal yang ekuivalen pasti dengan mati (bnd. Kis. 7:60; 13:36; 2 Pet. 3:4).
Dalam Yoh. 11:11-14, juga digunakan dalam kematian Lazarus yang Yesus sebut
sebagai tidur tapi salah dipahami oleh para murid. Sementara kata katheudohanya
digunakan sekali untuk mengacu pada kematian yaitu dalam 1 Tes. 5:10.[9]
4. nekro (nekros)
nekros (Yunani klasik) awalnya hanya digunakan untuk tubuh manusia atau
hewan yang mati, artinya tidak berhubungan dengan jiwa.
Kaum Stoa memahaminya demikian: nekros tidak dikontrol oleh psyche-jiwa
atau nous-akal, atau roh; nekros adalah bagian fisik manusia; nekros tidak sesuai
dengan standar penghakiman seseorang, tetapi ditentukan oleh nous. Tidak ada
kecuali kesadaran tentang hakiki yang paling tinggi yaitu nous yang layak
digambarkan sebagai yang hidup.
Dalam LXX nekros ditemukan 60 kali yang disamakan dengan met (Ibr.
Seorang yang mati) yang tidak digabungkan dengan psyche (jiwa). Philo sendiri
mengadopsi pandangan Stoa.
Dalam PB nekros ditemukan 130 kali yang artinya mati (kata sifat) dan orang
mati (kata benda). Penggunaan kata ini dalam PB berbeda dengan penggunaan Yunani
dan PL. Dalam PB status kematian tidak lagi sebuah status final bagi manusia. Itu
harus dilihat dalam terang kebangkitan Yesus. Kematian telah dikalahkan oleh Yesus.
[10]

Konsep Teologi Paulus Tentang Kematian


Kematian thanatos (juga kata apothnesko, thanatoo, apokteino, anaireo) bisa
mengacu pada penghentian kehidupan duniawi dan fisik manusia. Lebih sering hal itu
menunjukkan kondisi rohani-fisik manusia di dalam Adam, yang datang melalui dosa
Adam (Rm. 5:12-21; 1 Kor. 15:21-22). Kematian, daging, dan dosa dapat Paulus
gunakan dalam hubungan yang dekat, khususnya dalam Roma 5-7, di mana terlihat
dalam narasi Paulus tentang hidup dalam Adam dan hidup dalam Kristus. Kematian
dan dosa berkarya bersama, dengan kematian datang melalui dosa (Rm. 5:12).
Dengan kedatangan Hukum Taurat, dosa meningkat (Rm. 5:20), menutup kehidupan
47

(Rm. 7:5) dan berkuasa dalam kematian (Rm. 5:21). Kemanusiaan diperbudak oleh
dosa dan kematian (Rm. 6:6, 9, 12, 14, 16, 18, 20). Paulus tidak membicarakan
tentang pemisahan kekal dari Allah dan hukuman final sebagai kematian
sebagaimana dalam Why. 21:8), tetapi dia tampak memikirkannya ketika mengacu
pada kematian sebagai upah dosa yang utama (Rm. 6:23). Dalam Ef. 2:1, 5 dan Kol.
2:13 Paulus menyatakan orang-orang percaya sebagai yang dahulu mati dalam
kemanusiaan berdosa yang tidak tertolong dan membutuhkan inisiatif anugerah Allah
(Ef. 2:8) dalam keselamatan.
Kematian adalah musuh terakhir (1 Kor. 15:26), yang pada penyempurnaan
akan ditelan dalam kemenangan akhir Yesus (1 Kor. 15:55-57; tetapi bandingkan 2
Tim. 1:10). Lagi, personifikasi kematian adalah jelas, Paulus dalam 1 Kor. 15:25-26
mendaftarkan kematian sebagai salah satu musuh dalam Mzm. 110:1, dan dalam 1
Kor. 15:54-55 mengejek kuasa kematian (bnd. Yes. 25:7; Hos. 13:14).
Paulus juga menggunakan konsep kematian dengan cara yang berbeda. Untuk
dibebaskan dari dominasi tabiat lama dan dari kuasa maut, seseorang harus mati
terhadap dosa. Ini menjadi mungkin melalui kematian Kristus, yang di dalamnya orang
percaya berpartisipasi (Rm. 6:8-10). Pada waktu yang sama Paulus menyebut tindakan
sadar, memperhitungkan atau mempertimbangkan seseorang mati terhadap
dosa dan hidup bagi Allah (Rm. 6:11), menyerahkan dirimu pada Allah sebagai
yang telah dibebaskan dari kematian (Rm. 6:13) sehingga hidup baru dalam Kristus
bisa memiliki pengaruhnya yang penuh (Rm. 8:1-17).[11]Paulus ingin agar
pembacanya yakin bahwa pada saat kematian, mereka tidak akan dipisahkan dari
Kristus (Rm. 8:38-39).[12]
Bagi Paulus, sengat kematian adalah dosa, yang kuasanya terletak dalam
Torah (1 Kor. 15:56). Kematian adalah hukuman untuk dosa yang telah manusia
perbuat; pendosa layak untuk mati (Rm. 1:32). Paulus juga mengatakan bahwa dosa
membayar hutangnya dengan kematian (Rm. 6:16, 23).[13] Demikianlah, kematian
adalah kuasa yang menguasai diri manusia, dan pada perluasannya sebuah realitas
masa kini. Kematian rohani dan kematian fisik, secara tidak terelakkan terjalin
bersama, merupakan realitas hidp dalam dosa. Hal ini memimpin orang berdosa
menangis Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? (Rm. 7:24).
Tetapi jika kematian dianggap sebagai konsekuensi dosa manusia, gabungan alami
kematian manusia dengan yang terdapat dalam ciptaan yang lain melahirkan
pertanyaan mengapa makhluk hidup non-manusia juga mengalami kefanaan. Atas
pertanyaan ini Paulus, dalam garis Judaisme kontemporer menjawab bahwa ciptaan
tidak mengalaminya dari kehendaknya, tetapi sebagai sebuah hasil dari dosa manusia,
pada kesia-siaan dan ketidakpermanenan. Sekarang dia menanti untuk dibebaskan

48

dari kematian, bersama dengan anak-anak Allah (Rm. 8:19-22). Paulus menganggap
kematian bukan sebagai fenomena alami, tetapi sebagai fenomena historis.[14]

Konsep Paulus Tentang Sikap Menghadapi Kematian


Paulus mempunyai pandangan yang optimis terhadap kematian jasmani. Ia
percaya melalui Kristus, kematian telah kehilangan sengatnya (1 Kor. 15:55-56). Paulus
tidak lagi memandang kematian sebagai musuh yang perlu ditakuti, tetapi malah
sebagai titik transisi menuju semacam kehiiupan yang lebih penuh. Pengalamannya
sendiri memperlihatkan keyakinannya. Ia sering diancam maut (1 Kor. 15:31; 2 Kor.
1:8; 11:23 dst),[15] tapi ia tidak takut. Ia maju terus dalam pelayanannya.
Bagi Paulus sendiri sebagai sesuatu yang harus dihadapi oleh manusia, maka
kematian baginya adalah keuntungan (Flp. 1:21). Mengapa? Karena baginya hidup
adalah Kristus dan mati serta diam bersama-sama dengan Kristus adalah jauh lebih
baik (Flp. 1:21, 23). Mati tidak hanya keuntungan, tapi jauh lebih baik. Mati baginya
berarti diam bersama-sama dengan Kristus.[16]

Kebangkitan
Konsep Kebangkitan dalam Perjanjian Lama
Dalam PL, kebangkitan seseorang dari kematian dinyatakan paling sedikit
sebanyak 8 kali (Ay. 19:26; Mzm. 17:15; 49:15; 73:24; Yes. 26:19; 53:10-12; Dan. 12:2,
14).[17]
Beberapa pernyataan PL menyatakan kebangkitan dalam pengertian
pemeliharaan hukum bukan kondisi setelah mati dari individu (bnd. Hos. 6:1-3; 13:14;
Yeh. 37:1-4) dalam pengertian pembebasan dari kematian (pembuangan) kepada
kehidupan (restorasi nasional).
Pertanyaan mendasar dinyatakan dalam Ay. 14:14 jika manusia mati,
dapatkah ia hidup lagi? jawabannya adalah bahwa Allah adalah Penebus dan
pembebasan itu adalah kondisi setelah mati, yang merupakan sebuah pengakuan
tentang kepercayaan terhadap hidup setelah kematian (Ay. 19:25-27). Pernyataan
yang sama terdapat juga dalam Mazmur (49:15; 16:10; 73:24) yang didasarkan atas
keyakinan akan kuasa Allah terhadap kematian. Nabi-nabi juga menambahkan
kepercayaan terhadap kebangkitan (mis. Yes. 25:8; 26:19). Hal ini berklimaks dalam
Dan. 12:1-3, 13. Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu
tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk
49

mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal (Dan. 12:2); tetapi engkau... bangkit
untuk mendapat bagianmu... (Dan. 12:13).[18]
Walaupun PL cenderung melihat kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari,
namun dia tidak diam terhadap isu kebangkitan sebagai kebangkitan individu yaitu
kehidupan setelah kematian. Dalam babak selanjutnya dalam masa intertestamental,
konsep kebangkitan mengalami kemajuan.

Konsep Umum Kebangkitan dalam Perjanjian Baru


Ada 5 jenis kebangkitan yang dapat dibedakan dalam penggunaan PB, yaitu:
1.kebangkitan fisik yang lalu dari orang-orang tertentu kepada kehidupan fana yang
diperbaharui (Luk. 7:14-15; Yoh. 11:43-44; Ibr. 11:35);
2. kebangkitan tubuh Kristus yang lalu kepada imortalitas (Rm. 6:9)
3. kebangkitan rohani yang lalu dari orang-orang percaya kepadda kehidupan baru
dalam Kristus (Kol. 2:12);
4. kebangkitan orang percaya di masa depan kepada imortalitas (2 Kor. 15:42, 52)
5. kebangkitan pribadi orang-orang tidak percaya di masa depan untuk penghukuman
(Yoh. 5:29; Kis. 24:15).
Kebangkitan adalah pembangkitan orang-orang oleh Allah dari hakikat
kematian kepada kehidupan yang baru dan tidak berakhir dalam kehadiran-Nya, di
mana kebangkitan Kristus adalah janji dan paradigma dari kebangkitan tubuh orangorang percaya (1 Kor. 6:14; 15:20, 23, 48-49; Kol. 1:18).
Hanya sedikit karakter kebangkitan tubuh yang disebutkan dalam Alkitab.
Kebangkitan adalah dari Allah (1 Kor. 15:38; 2 Kor. 5:1-2); tubuh rohani (1 Kor. 15:44,
46; bukan berarti hanya roh), bebas dari dosa dan tanpa naluri fisik (1 Kor. 15:42-43),
bebas dari penyakit atau kekurangan, seperti-malaikat (Mrk. 12:25; Luk. 20:36), tanpa
nafsu seksual dan kuasa prokreasi, dan tidak mati; itu surgawi (1 Kor. 15:40, 47-49).
Yoh. 5:29 membedakan kebangkitan yang memimpin kepada hidup dari kebangkitan
untuk penghukuman.[19]

Konsep Teologi Paulus Tentang Kebangkitan


Terminologi Kebangkitan
50

Ada beberapa kata yang berbeda yang digunakan untuk menggambarkan


ide tentang kebangkitan dalam tulisan Paulus. Kata kerja anistemi anistemi (bangkit)
digunakan 5 kali dengan acuan pada kebangkitan, baik kebangkitan Kristus (1 Tes.
4:14; bnd. Rm. 15:12) dan orang percaya (1 Tes. 4:16; Ef. 5:14). Kata
kerja egeirw egeiro (membangkitkan) tampak 38 kali dengan acuan pada kebangkitan
(Rm.
4:24,
25;
1
Tes.
1:10;
2
Tim.
2:8;
dll);
dan
kata
gabunganexegeirw exegeiro (membangkitkan) dipakai 1 kali mengacu pada
kebangkitan orang percaya (2 Kor. 6:14). Kata anastasi anastasis (kebangkitan)
digunakan 8 kali (Rm. 1:4; 6:5; 1 Kor. 15:12, 13, 21, 42; Flp. 3:10; 2 Tim. 2:13) dan
kata benda exanastasi exanastasis(kebangkitan) terjadi sekali (Flp. 3:11).
Beberapa ahli menganggap terdapat perbedaan makna dalam dua kelompok
kata yaituegeiro dan anistemi dalam tulisan Paulus. L. Coenen misalnya mengatakan,
egeiro digunakan untuk apa yang terjadi saat Paskah, yaitu kebangkitan Yang tersalib
kepada kehidupan, sementara anistemi dan anastasis mengacu secara lebih spesifik
pada penarikan kehidupan orang selama pelayanan Jesus di dunia. Tetapi kadang
pemakaiannya kadang kabur dan saling berganti (mis. 5:14; 1 Kor. 15:12-13 dan
15:42). Karena itu Paulus tidak bermaksud membedakannya, walaupun
penggunaan egeiro mungkin lebih tradisional dan berhubungan dengan sumber dari
Palestina.[20]

Latar Belakang Konsep


Banyak ahli setuju bahwa doktrin kebangkitan tubuh adalah perkembangan
terakhir dalam tulisan-tulisan Yudaisme. Yang pertama yaitu dalam PL (mis. Dan. 12:2
dan (mungkin) Yes. 26:19) sebagai kebangkitan tubuh dan yang lainnya yaitu
kebangkitan nasional. Kebangkitan tubuh juga terdapat dalam teks apokrifa dan
pseudepigrafa Yahudi termasuk 2 Makabe, 4 Ezra, 1 Henokh dan 2 Barukh. Ada juga
anggapan, doktrin ini berasal dari Platonisme klasik yang menggambarkan
kebangkitan spiritual atau transmigrasi jiwa. Sementara tulisan-tulisan Paulus untuk
menyebutkan kebangkitan Kristus, ada indikasi bahwa ide itu adalah bagian dari
kepercayaan dan harapan Yesus sendiri yang keempat Injil rekam (beberapa menolak
hal itu diungkapkan dalam sumber Q). Paulus mungkin telah mengambil sentralitas
kebangkitan sebagai sebuah ide teologis dari Yesus sendiri.
Namun, hal ini juga berkaitan dengan keanggotaan Paulus dalam partai Farisi
Yudaisme (Flp. 3:5; Kis. 23:6; 26:5). Dalam Kisah Para Rasul pertidaksetujuan antara
Sadukki dan Farisi terhadap doktrin kebangkitan tubuh adalah tema menonjol (Kis. 4:2;
23:6-8; 24:21; bnd. Kis. 26:6; 28:20). Cukup beralasan jika Paulus menerima

51

pandangan Farisi tentan kebangkitan dan memahami pertemuannya dengan Tuhan


yang bangkit dalam terang hal itu.[21]

Konsep Paulus Tentang Kebangkitan


Paulus menggambarkan kebangkitan sebagai misteri (mysterion) dalam 1
Kor. 15:51. Menurut L. J. Kreitzer misteri kebangkitan ini bisa dijelaskan dalam delapan
bagian, yaitu:[22]
1. kebangkitan sebagai transformasi
Hal ini adalah gambaran kebangkitan masa depan yang ditunggu oleh orang
Kristen. Transformasi itu adalah symporphizo yaitu menjadi seperti Dia (Flp. 3:10).
Dalam Flp. 3:21 bahasa transformasi hadir 2 kali: Yesus Kristus akan mengubah
(metaschematisei) tubuh kita yang rendah menjadi seperti (symmorphon) tubuh
mulia-Nya.
Dalam
1
Kor.
15:51-52
transfomasi
tampak
dengan
kata allagesometha (kita akan diubah) untuk menggambarkan apa yang dinantikan
komunitas orang percaya dalam parousia. Transformasi ini akan terjadi pada semua
orang percaya, tetapi tidak berarti bahwa semua akan dibangkitkan. Hanya semua
yang
telah
matilah
yang
dibangkitkan;
sementara
yang
masih
hidup
saat parousia transformasi itu cukup untuk menerima kekekalan. Tampaknya secara
berlawanan,
transformasi
terjadi sekarang(2
Kor.
3:18) dengan metamorphoumeta (kita sedang diubah). Tetapi Paulus sebagaimana
pendapat E. E. Ellis menyatakan bahwa itu bukan dualisme, tetapi harus dipahami
bahwa
transformasi moral adalah
proses
sekarang,
sementara
transformasi kefanaan menerima kebangkitan tubuh terjadi saat parousia.
2. Kebangkitan Sebagai Ketidakrusakan (Incorruption)
Dalam 1 Kor. 15 Paulus menggunakan sejumlah istilah dan gambaran yang
berlawanan untuk menggambarkan hidup kebangkitan berbeda dari keberadaan
sekarang:
kebinasaan/ketidakbinasaan
(42),
kehinaan/kemuliaan
(43);
kelemahan/kuasa (43); tubuh fisik/tubuh rohani (44); manusia debu/manusia sorga
(47-49). Ketidakbinasaan (aphtharsia/aphtartos) memiliki hubungan yang dekat
dengan kebangkitan Yesus Kristus.
3. Kebangkitan sebagai Imortalitas
Dalam 1 Kor. 15:53b-54 Paulus menggambarkannya sebagai tabiat fana (to
thneton) yang mengambil imortalitas (kekekalan) (athanasia). Kebangkitan adalah hal
yang mana orang Kristen memperoleh imortalitas, dan kematian ditenggelamkan
52

dalam kemenangan (Yes. 25:8). Kebangkitan adalah sesuatu yang diterima sebagai
harta masa depan saat parousia.
4. Kebangkitan dan Keagungan
Terdapat hubungan yang dekat antara kebangkitan Yesus dari kematian dan
keagungan-Nya pada tangan kanan Allah (Rm. 1:3-4; Flp. 2:9-11). Keagungan secara
jelas diterima setelah kebangkitan (Rm. 8:34; Ef. 1:20; 2:6; Kol. 3:1). Keagungan
adalah konsekuensi tidak terelakkan dari kebangkitan. Paulus mengimplikasikan
bahwa orang-orang percaya akan mengalami sebuah kenaikan fisik ke sorga pada
parousia (1 Tes. 4:16-17).
5. Kebangkitan dan Pengagungan
Paulus menggunakan bahasa pengagungan untuk menggambarkan implikasi
kebangkitan Kristus untuk orang percaya. 1 Tes. 2:12 menggabungkan kerajaan Allah
dan kemuliaan, sementara 2 Tes. 2:14 menyatukan panggilan Kristen dan pencapaian
masa depan terhadap kemuliaan Yesus Kristus. tubuh fana (ta thena ta somata)dan
daging fana (thnete sarx) dikatakan akhirnya dipermuliakan sebagai sebuah hasil
dari kesatuan di antara Kristus dan gerejanya (Rm. 8:11-17; 2 Kor. 4:10-18).
6. Kebangkitan dan Hidup Kekal
Hidup kekal (zoe aionios) terdapat dalam ayat-ayat mengenai hasil dari iman
dalam Yesus Kristus (Rm. 5:21; 6:22-23; 1 Tim. 1:16; 6:12; Tit. 1:2; 3:7) dan dengan
penghakiman final orang benar (Rm. 2:7). Penerimaan hidup kekal dalam
kepenuhannya (kekekalan) adalah sesuatu di masa depan (di mana kebangkitan
menjadi satu dimensi utama bagi hal itu).
7. Kebangkitan dan Persesuaian dengan Gambar Kristus
Dalam 1 Kor. 15:49 pengharapan kebangkitan Kristen adalah memakai rupa
dari yang sorgawi.
8. Kebangkitan dan Penebusan Tubuh
Kebangkitan melibatkan penebusan tubuh fisik. Dalam Roma 8:23 Paulus
menggambarkan akibat kebangkitan dalam istilah penebusan tubuh kita (ten
apolytrosin tou somatos hemon) (bnd. Juga Flp. 3:20-21).
Kebangkitan tubuh ini harus disamakan seperti tubuh kebangkitan Yesus yaitu
tubuh sorgawi. Kebangkitan Kristus dipandang sebagai buah sulung (1 Kor. 15:20,23)
menjamin bahwa kebangkitan orang lain akan menyusul.[23] Paulus mengatakan
bahwa tubuh kita yang hina akan diubah sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang
53

mulia (Flp. 3:21). Tubuh kebangkitan Yesus dalam beberapa hal sama seperti tubuh
alamiah, tapi dalam beberapa hal lain berbeda. Pada beberapa peristiwa Dia dikenal
dengan segera (Mat. 27:9; Yoh. 20:19; dll) tapi dalam peristiwa-peristiwa lain tidak
(khususnya perjalanan ke Emaus). Ia muncul tiba-tiba di tengah-tengah murid-murid
yang berkumpul dengan pintu tertutup (Yoh. 20:19); tapi sebaliknya Ia lenyap dari
pandangan kedua orang di Emaus. Ia berbicara tentang diriNya memiliki daging dan
tulang (Luk. 24:39). Kadang-kadang Ia menikmati makanan (Luk. 24:41-43) kendati
makanan jasmaniah bukanlah kebuthan bagi kehidupan di seberang kematian (bnd. 1
Kor. 6:13). Dan adalah jelas, bahwa Tuhan Yesus yang telah bangkit dapat
menyesuaikan diri dengan batasan-batasan kehidupan jasmani seturut kehendak-Nya.
Hal itu memberi kesan, bahwa apabila kita bangkit kita akan memiliki kemampuan
yang sama.[24] Tubuh ini bersifat badani, tapi memiliki kuasa-kuasa baru dan ajaib
yang berbeda dengan tubuh jasmani biasa, tetapi menembus batas-batas fisik.[25]

Konsep Paulus Tentang Kontinuitas Kematian dan Kebangkitan


Kontinuitas kematian dan kebangkitan menjadi sebuah dilema yang
mengkaitkan masalah tempat sementara orang-orang yang telah meninggal sebelum
kebangkitan Kristus.
Karena itu, ada beberapa pengertian tentang pandangan Paulus tentang hal
ini, yaitu:
1.
orang-orang percaya sedang menunggu kebangkitan sebagai roh-roh yang tidak
mempunyai tubuh, lalu pada saat itu mereka akan menerima tubuh-tubuh yang mulia
dan kekal.[26]
2.
orang-orang percaya dalam keadaan sementara mempunyai tubuh sementara
yang akan digantikan oleh tubuh kebangkitan yang mulia pada saat kedatangan Tuhan
(kebangkitan 2 tahap).[27]
3.
Kebangkitan orang-orang percaya terjadi pada saat kematian mereka tetapi
kebangkitan orang-orang tidak percaya terjadi hanya pada saat kedatangan Tuhan.
[28]
4.
semua orang mati tetap tidak sadar sampai saat kebangkitan, pada saat itu
mereka akan dibangkitkan dan menerima tubuh yang mulia.
Pandangan yang keempat mengenai jiwa yang tidur baru-baru ini menerima
dukungan kuat (khususnya dalam karya Cullmann). Paulus kadang-kadang
menggunakan kata kerjakoimaomai yang arti dasarnya tidur, tetapi masa
intertestamental digunakan dalam pengertian kematian. Dalam I Kor. 11:30 dan 1 Tes.
4:13 menunjuk suatu keadaan tidur terus-menerus, yang dibedakan dengan tidur
sesaat saja (juga dalam 1 Tes. 4:14-15).[29]
54

Namun, tidak ada alasan menganggap bahwa Paulus percaya tentang suatu
keadaan tidak sadar yang dimasuki orang-orang percaya saat kematiannya sehingga
unsur jiwa yang tidur itu ditolak (bnd. Flp. 1:23; 2 Kor. 5:8). Cullmann menyatakan
bahwa kesadaran akan waktu akan berbeda sesudah kematian, dan jika dia benar, kita
tidak boleh menganggap adanya suatu tenggang waktu dalam arti biasa. Dari sudut
pandang Allah, mungkin kebangkitan pada saat kedatangan Tuhan akan segera terjadi
setelah kematian setiap orang percaya. Ini di luar pengalaman manusia.[30]

Kesimpulan
Kematian tidak dapat dihindarkan, karena itu sekarang telah menjadi realitas
historis, itu bukan sesuatu yang alami sebab sejak semula Allah tidak memaksudkan
manusia mati. Dosa yang dilakukan manusia memang mengakibatkan kematian, tidak
hanya secara spiritual dalam arti mengalami keterpisahan dengan Allah, tetapi juga
secara fisik. Paulus melihat bahwa kematian telah mengalami kekalahan di dalam
Kristus Yesus dan karena itu orang percaya akan dibangkitkan untuk hidup yang kekal
di dalam kebangkitan yang telah dialami sekarang dan mengalami kepenuhannya di
masa yang akan datang.

[1] M. J. Harris, death in New Dictionary of Theology, Sinclair B. Ferguson and


David F. Wright (ed.), Leicester: IVP, 1988, p. 188
[2] P. S. Johnston, Afterlife in Dictionary of Old Testament: Wisdom, Poetry and
Writings,Tremper Longman III and Peter Enns (ed.), Nottingham: IVP, 2008, p. 5
[3] Eugene H. Merrill, mwt in New International Dictionary of Old Testament
Theology and Exegesis, Willem A. VanGemeren (Ed.), Carlisle: Paternosfer Press, 1997,
p. 886-887
[4] L. Coenen, Death, Kill, Sleep: apokteino in The New International Dictionary
of New Theology Volume I, Colin Brown (ed.), Grand Rapids: Regency Reference
Library, 1986, p. 429
[5] Paulus juga memberi komentar tentang cara hidup Yunani mari kita makan
dan minum, karena besok kita mati (1 Kor. 15:32)

55

[6] Tapi tidak berkesinambungan dengan Yudaisme.


[7] Jika dalam Yudaisme kematian dilihat sebagai kematian individu dan
kemungkinan merelativisasikan kematian dengan acuan bagi kelangsungan hidup
sebuah komunitas, maka dalam PB hal ini berseberangan.
[8] W. Schmithals, Death, Kill, Sleep: thanatos in The New International
Dictionary of New Theology Volume I, Colin Brown (ed.), Grand Rapids: Regency
Reference Library, 1986, pp. 430-437
[9] L. Coenen, Op.Cit., pp. 441-443
[10] Ibid., pp.443-445
[11] J. J. Scott, Jr., Life and Death in Dictionary of Paul and His
Letters, Gerald F. Hawthorne, et.al. (Ed.), Leicester: IVP, 1993, p. 554
[12] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 3, Lisda Tirtapraja Gamadhi, dkk
(Terj.), Jakarta: BPK GM, 2006, hlm. 184
[13] Rudolf Bultmann, Theology of the New Testament Vol. 2, London: SCM
Press, 1976, p. 246
[14] W. Schmithals, Op.Cit., p. 436-437
[15] Donald Guthrie, Op.Cit., hlm. 187
[16] Bnd. T. Yakobs, Paulus: Hidup, Karya dan Teologinya, Yogyakarta:
Kanisius-Jakarta: BPK GM, 1984, hlm. 296-297
[17] M. J. Harris, Resurrection, General in Op.Cit., p. 581
[18] G. R. Osborne, Resurrection I: Gospels in The IVP Dictionary of the
New Testament, Daniel G. Reid (Ed.), Leicester: IVP, 2004, pp. 896-897
[19] M. J. Harris, Resurrection, General in Op.Cit., pp. 581-582
[20] L. Z. Kreitzer, Ressurection II: Paul in The IVP Dictionary of the New
Testament, Daniel G. Reid (Ed.), Leicester: IVP, 2004, p. 914-915
[21] Ibid., p. 914
[22] Ibid., pp. 808-810
[23] Donald Guthrie, Op.Cit., hlm. 177

56

[24] L. L. Morris, Bangkit, Kebangkitan dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini,


Broto Semedi (Terj.), H. A. Oppusunggu, dkk. (ed.), Jakarta: YKBK, 2008, hlm. 148
[25] George Eldon Ladd, Teolog Perjanjian Baru Jilid 2, Bandung: Kalam
Hidup, 2002, hlm.31
[26] Praduga pertama ini menganggap orang yang sudah mati sebagai roh
yang tidak mempunyai tubuh, tetapi gagasan ini tidak terdapat dalam surat-suratnya.
[27] Hal ini mengurangi nilai dari tubuh kebangkitan yang akan diterima pada
saat parousia. Tubuh pertama ini ditampung di sebuah tempat. Jika tubuh ini sudah
memadai, maka tubuh kedua tidak perlu lagi.
[28] Kebangkitan ini menjadi parsial, bukan total dalam temporalitas.
[29] Meskipun dalam Alkitab Terjemahan Baru kita dipakai kata meninggal,
mati untuk katakaimomai.
[30] Donald Guthrie, Op.Cit., hlm. 184-186. Jika hal ini benar maka gagasan
tentang syeol (Yun. hades)sebagai tempat sementara tidak perlu dipersoalkan, atau
justru ditolak. Jika dibandingkan dengan tanggapan Guthrie sendiri dalam konsep
keadaan sementara menurut Injil Sinoptis (Ibid., hlm. 166), syeol atau dunia orang
mati disebutkan tiga kali dalam kitab-kitab Injil Sinoptik (Mat. 11:23; 16:18; Luk.
16:23). Sebagaimana juga disebutkan Eugene H. Merrill PB juga mengadopsi
konsep syeol seperti yang terdapat dalam PL dengan mengacu pada Luk. 16:23
(Eugene H. Merrill, Op.Cit., p. 888)
Diposkan oleh hesron sihombing di 10.03

57