Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kucing merupakan salah satu hewan kesayangan yang banyak digemari
oleh masyarakat luas. Hal ini dikarenakan kucing memiliki bulu yang indah,
karakternya yang jinak, serta dapat menjadi teman bermain. Kucing-kucing
kesayangan tersebut juga dapat mengalami berbagai macam gangguan penyakit,
salah satu gangguan penyakitnya yaitu adanya benda asing didalam saluran
pencernaan. Sehingga mengharuskan tindakan pembedahan untuk mengatasinya.
Contoh kasus pembedahan untuk mengangkat benda asing pada lambung
(gastrium) yaitu gastrotomy.
Gastrium atau lambung merupakan bagian dari alat pencernaan pada
hewan non ruminansia, sedangkan lambung pada hewan ruminansia lebih dikenal
sebagai rumen, retikulum, omasum dan abomasum. Lambung pada kucing terletak
pada sisi kiri linea alba cranial abdominal, dibelakang diafragma dan hepar.
Letaknya bervariasi tergantung dari volume isi gastrium (Archibald, 1985).
Gastrotomy adalah tindakan pembedahan untuk membuka gastrium atau
dinding lambung yang dilakukan untuk mengambil benda asing (corpora aliena),
inspeksi mukosa gastrium terhadap kemungkinan ulcer, neoplasma atau hipertropi
dan untuk mengambil spesimen biopsi (Bojrab, 1998). Capak dkk. (2001)
menambahkan bahwa kasus gastrointestinal pada hewan kesayangan yang
mengharuskan dilakukannya gastrotomy adalah kasus foreign body removal
(pengangkatan benda asing) yang sering ditemukan pada hewan di bawah umur 2
tahun.
Indikasi dilakukannya gastrotomy diantaranya adalah untuk mengeluarkan
benda asing dan tumor lambung (gastrointestinal lymphoma) dari gastrium dan
oesophagus bagian bawah. Salah satu kasus gastrointestinal pada hewan
kesayangan (kucing) yang mengharuskan dilakukannya gastrotomy adalah kasus
corpora alienum yang sering ditemukan pada hewan diberbagai umur.
1.2 Tujuan

Penulisan laporan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara


mendiagnosa, prosedur operasi dan rencana terapi kasus Corpora Aliena
Gastrium dengan penanganan Gastrotomy pada kucing lokal.
1.3 Manfaat
Manfaat penulisan laporan ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan
dan menambah keterampilan mahasiswa dalam penanganan kasus Corpora Aliena
Gastrium pada kucing lokal.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Corpora Aliena pada Gastrium
Gastrium merupakan organ pertama pada saluran pencernaan (tractus
digestivus) di dalam cavitas abdominal yang dibatasi oleh oesophagus pada
bagian depan dan pylorus pada bagian belakang. Pada kucing terletak pada sisi
kiri linea alba cranial abdomen, dibelakang diafragma dan hepar. Letaknya
bervariasi tergantung dari volume gastrium itu sendiri (Archibald, 1985). Secara
anatomis gastrium terdiri dari tiga bagian yaitu cardial (bagian depan), fundus
(bagian tengah) dan pylorus (bagian belakang). Gastrium mempunyai dua
curvatura yaitu curvatura mayor dekat kolon dan curvatura minor yang
berbatasan dengan hati. Dinding gastrium mempunyai 4 lapisan dari luar ke dalam
yaitu tunika serosa, tunika muskularis propia, tunika submucosa dan membrana
mucosa dibagian paling dalam (Lubis, 1985).
Proses pencernaan makanan bersifat kompleks yang meliputi prosesproses di dalam mulut, penelanan, sampai pencernaan dalam lambung. Pengaturan
proses pencernaan dilakukan oleh susunan syaraf pusat. Proses pengambilan
pakan, pengunyahan, penelanan dilakukan oleh otot-otot yang di atur di bawah
kehendak, sedang gerak selebihnya di atur oleh syaraf-syaraf otonom. Proses
insalivasi bahan makanan di dalam mulut juga berlangsung di bawah pengaruh
syaraf otonom. Penghantaran bahan makanan dari bagian oral ke arah rektal
berlangsung karena gerakan peristaltik.
Kasus ditemukannya benda asing dalam saluran cerna tidak jarang terjadi
terutama pada kucing. Benda asing yang ditemukan itu sangat bevariasi seperti
kulit, kawat, dan lain-lain. Benda asing yang besar akan menyebabkan gejala ileus
obstruksi, sedangkan benda tajam dapat menyebabkan perforasi saluran cerna
dengan gejala peritonitis (Archibald,1985). Pembedahan gastrium merupakan
operasi pembedahan yang dikenal dengan nama gastrotomy yakni melakukan
penyayatan pada bagian perut. Pakar bedah menyayat sebagian kecil atau sebagian
besar daerah curvatura mayor dari gastrium (Sabiston, 1992).

Teknik operasinya insisi pada garis tengah abdomen dan ligamen


falciform, lemak dipindahkan dan limpa digeser keluar dari rongga abdomen
sehingga curvatura mayor dapat terlihat, ketika gastrium sudah dikeluarkan dari
rongga abdomen diusahakan agar selalu dalam keadaan basah dengan
menyiramkan cairan fisiologis.

(Catcott, 1975).

Gastrotomy sering diindikasikan untuk pencegahan langkah langkah


dalam permasalahan lambung, pemulihan posisi abnormalitas dalam pengeluaran
benda-benda asing dan tumortomor lambung, mengatasi penyempitan spincter
pylorus dan trauma keras di dalam lambung.
2.2 Etiologi
Kasus corpora alienum pada gastrium terjadi karena kebiasaan dari kucing
yang suka menelan benda asing. Kasus ditemukannya benda asing dalam saluran
cerna tidak jarang terjadi terutama pada kucing yang masih lincah dengan
keingintahuan yang tinggi dan suka bermain dan cenderung langsung menelan
makanan. Masuknya benda asing dalam saluran cerna biasanya membutuhkan
waktu antara 10-24 jam untuk bergerak menuju saluran pencernaan. Benda asing
yang biasa ditemukan itu sangat bevariasi seperti kulit, kawat, dan lain-lain.
Benda asing yang besar akan menyebabkan gejala ileus obstruksi, sedangkan
benda tajam dapat menyebabkan perforasi saluran cerna dengan gejala peritonitis.
Untuk hal tersebut kucing memerlukan bantuan seperti pembedahan untuk
mengeluarkan benda asing, jika tidak dapat menyebabkan kerusakan serius pada
saluran pencernaan. (Archibald,1985).
2.3 Tanda Klinis
Tanda klinis yang sering terlihat untuk kasus corpora aliena ini adalah
vomit dengan frekuensi yang berlebih dan nafsu makan berkurang (Fazio, 2006).
Benda asing yang tertelan oleh kucing dapat tersangkut pada oesophagus,
lambung (dengan akibat gangguan pencernaan) atau saluran cerna lainnya yang
dapat menimbulkan gejala ileus obstruksi atau perforasi. Selain obstruksi dan
perforasi, benda asing yang tertelan juga dapat menimbulkan abses, fistula dan
pleuritis. Benda asing juga dapat keluar sendiri melalui tinja tanpa menimbulkan
4

kelainan yang berarti, atas dasar itu maka setiap hewan yang diketahui telah
menelan benda asing sebaiknya diobservasi. Pada kasus lain dapat juga disertai
terjadinya sumbatan pada pylorus yang merupakan sindrom yang timbul sebagai
akibat pemberian pakan yang kualitasnya jelek. Pada umumnya berbentuk serat
kasar dan disertai atau tanpa pemberian air minum dalam jumlah yang cukup,
proses penyakit biasanya berlangsung akut dan ditandai dengan anoreksia total,
muntah dan dehidrasi (White, 2011).
2.4 Diagnosis
Gastrotomy merupakan suatu pembedahan dengan penyayatan untuk
menghasilkan atau memberikan pemeriksaan yang akurat dalam lambung. Oleh
ahli bedah pemeriksaan dapat dilakukan dengan uji X-ray, Endoscopy, uji-uji
tersebut merupakan langkah-langkah dalam mencegah masalah yang terdapat
pada gastrointestinal. Pemeriksaan praoperasi gastrotomy dengan radiograpy (xray) bertujuan untuk melakukan diagnosa yang akan membantu apabila benda
asing itu cukup padat. Uji ini merupakan pokok yang mendasari untuk melakukan
pembedahan, yang pada dasarnya sering terjadi komplit dengan uji jumlah darah,
uji

serum

biokemikal,

uji

urinalysis

dan

kemungkinan

melakukan

Electrokardiograf (EKG) sebelum pembedahan (Fazio, 2006).


2.5 Prognosa
Pada prinsipnya penanganan adanya benda asing (Corpora aliena) dalam
gastrium adalah dengan dilakukannya gastrotomy. Kesembuhan dari operasi
gastrotomy sangat tergantung dari kondisi hewan, lama kejadian dan jenis benda
asing yang menginfeksi gastrium. Prognosa dari kasus Corpora Aliena pada
Gastrium kucing lokal adalah fausta.
2.6 Terapi
Prinsip penanganan corpora aliena pada gastrium yaitu dengan dilakukan
operasi Gastrotomy. Gastrotomy adalah operasi membuka gastrium atau dinding
lambung yang dilakukan untuk mengambil benda asing, inspeksi mukosa gastrium
terhadap kemungkinan ulcer, neoplasma atau hipertropi dan untuk mengambil
spesimen biopsi. Sebelum prosedur pembedahan harus dilakukan pemeriksaan

lengkap traktus gastrointestinalis, baik pemeriksaan fisik maupun radiologi, selain


itu juga harus dilakukan evaluasi keseimbangan fluid dan elektrolit yang harus
dikoreksi sebelum operasi (Bojrab, 1998).
Tindakan aktif berupa operasi baru dilakukan apabila telah terdapat
komplikasi pada kucing yang baru saja menelan benda asing, serta dapat dicoba
dengan memberikan air minum yang banyak dan obat untuk memuntahkan isi
lambung (Ibrahim, 2000).

BAB III
MATERI DAN METODE
3.1 Materi
3.1.1

Hewan
Materi yang digunakan adalah kucing betina lokal dengan nama Inonk,

berwarna putih-coklat-hitam, berat 2,2 kg dan berumur 1 tahun.


3.1.2

Alat
Alat yang digunakan dalam pembedahan ini : Stetoskop, termometer, alat

pencukur, skalpel, pinset anatomis, pinset sirurgis, needle holder, jarum, benang
jahit, tang arteri, tampon, towel clamp, gunting (lurus tumpul, lurus tajam, lurus
bengkok), dan plester.
3.1.3

Bahan
Bahan-bahan dan obat yang dipersiapkan adalah alkohol 70%, Lactat

Ringer, NaCl 0,9%, antiseptik (betadine), benang absorable dan non-absorable,


gloves, masker. Obat-obat yang dipersiapkan adalah premedikasi yaitu atropin
sulfat, anastesi umum yaitu xylazine + ketamine, Vitamin K, Antibiotik dan anti
inflamasi.
3.2 Metode
3.2.1 Pre Operasi
Sebelum operasi dilakukan perlu persiapan yang matang pada hewan agar
berjalan dengan sukses dan lancar tanpa adanya hal-hal yang menggangu jalannya
operasi dan menghambat kesembuhan hewan tersebut. Persiapan yang perlu
dilakukan meliputi persiapan alat, bahan dan obat, persiapan ruang operasi,
persiapan pasien, dan persiapan operator.
a. Persiapan alat, bahan dan obat
Alat-alat yang digunakan adalah scalpel, pisau bedah, gunting, arteri
clamp, Allis Forceps, needle holder, pinset, spuit, jarum operasi, benang
7

vicryl, silk dan chromic cut gut. Sebelum menggunakan alat tersebut harus di
sterilisasi dengan autoclave ataupun alkohol 70%. Sedangkan bahan-bahan
yang digunakan adalah tampon, alkohol 70%, Iodium Tincture 3%, NaCl
fisiologi, dettol, kain drape, sarung tangan, penutup kepala, masker operasi
dan lampu penerangan. Obat-obat yang dipersiapkan adalah premedikasi
yaitu Atropine Sulfat, anestesi umum adalah Ketamine dan Xylazine, Vitamin
K, antibiotika dan anti inflamasi.
b. Persiapan Ruang Operasi
Ruang operasi harus dibersihkan, meja operasi harus disterilkan
dengan desinfektan, didalam operasi harus tersedia lampu penerangan.
c. Persiapan pasien atau hewan kasus
Sebelum melakukan pembedahan pada hewan kita harus melakukan
pemeriksaan fisik yang meliputi ; Signalemen, berat badan, umur, pulsus,
frekuensi nafas, suhu tubuh, system digestivus, respirasi, sirkulasi, syaraf,
reproduksi, perubahan anggota gerak dan perubahan kulit yang telah dicatat
semua pada ambulatory yang telah terlampir. Sebelum kucing lokal tersebut
dibedah maka kucing lokal tersebut diberikan terlebih dahulu premedikasi
berupa atropine sulfat secara subkutan, setelah 10 menit kemudian diberikan
Xylazine dan Ketamine yang dikombinasikan dan diberikan secara
intramuscular. Dosis yang diberikan sudah terlampir pada ambulatory.

Gambar 1. Foto rontgen kucing kasus adanya benda asing pada gastrium.

d. Persiapan Operator dan asisten operator


Seorang operator dan asisten harus memahami prosedur operasi, dapat
memprediksi hal-hal yang akan terjadi selama operasi berlangsung, dapat
memperkirakan hasil operasi, operator harus dalam keadaan sehat dan bersih,
operator harus memakai peralatan operasi (seperti masker operasi, sarung
tangan, sandal khusus) dan seorang operator harus terampil dalam melakukan
operasi dan menjahit luka operasi (Sudisma et al., 2006).
3.2.2 Operasi
Posisi hewan pada saat operasi adalah dorsal recumbency di atas meja
operasi. Lokasi yang akan diinsisi dibersihkan (dicukur rambutnya) dan diberi
yodium tincture 3% selanjutnya dipasangkan kain drape. Dalam pelaksanaan
operasi gastrotomy untuk mengambil benda asing tersebut dari dalam lambung
dapat dilakukan dengan berbagai tehnik pembedahan. Meliputi tehnik membuka
rongga abdomen (laparotomy), tempat incisi pada organ gastrium dan yang
terakhir adalah tehnik jahitan yang digunakan untuk menutup incisi pada
gastrium. Alat-alat operasi yang telah disterilisasi disiapkan dan ditata rapi
sehingga memudahkan untuk diambil ketika operasi.
Teknik Operasi :
1. Insisi kulit 6cm - 8cm tepat pada bagian atas dari umbilicus kearah
cranial. Kulit dan jaringan subcutan diincisi menggunakan scalpel dan
dilakukan preparasi tumpul untuk mempermudah mendapatkan linea alba.
2. Linea alba dijepit menggunakan Allis forceps secara sejajar agar sayatan
tidak miring. Kemudian dengan ujung gunting/scalpel dibuat irisan kecil
pada linea alba, irisan tersebut diprepair dengan scapel mulai dari fascia,
muskulus sampai ke peritonium, jari telunjuk dan jari tengah digunakan
sebagai pemandu, diletakkan dibawah linea alba agar tidak menggunting
organ viseral.
3. Selanjutnya mengeluarkan gastrium dan membuat jahitan bantu, incisi
pada daerah kurvatura mayor.

4. Kemudian mengeluarkan benda asing dengan menggunakan forceps.


Usahakan agar gastrium tetap dalam keadaan basah maka dilakukan
pembilasan dengan NaCl Fisiologis.
5. Luka insisi pada mukosa gastrium ditutup dengan menggunakan jahitan
pola simple interrupted dan dilanjutkan dengan jahitan pola lambert dengan
benang chromic cat gut 3-0.
6. Dilakukan uji kebocoran dengan memasukan larutan fisiologis untuk
memastikan jahitan organ tidak mengalami kebocoran/merembes keluar.
Kemudian memasukkan kembali gastrium kedalam rongga perut dan siram
rongga abdomen dengan antibiotik.
7. Peritonium ditutup menggunakan benang vicril dengan pola jahitan simple
interupted, muskulus dan fascia dijahit dengan pola simple interupted
menggunakan benang cat gut 3-0.
8. Kulit ditutup dengan pola jahitan simple interupted menggunakan benang
silk.
9. Setelah dijahit, daerah bekas insisi diolesi dengan iodium tinctur 3% dan
diinjeksi dengan antibiotik Betamox secara intramuskular. Kemudian luka
ditutup dengan ultrafix.
3.2.3 Pasca Operasi
Setelah dilakukan pembedahan diberikan antibiotik untuk mencegah
terjadinya infeksi dengan memberikan Betamox secara intramuscular, selain itu
juga diberikan Amoxicillin dalam bentuk syrup yaitu Amoxan diberikan 3x sehari
2,3 ml selama 7 hari, dan Ibuprofen 3x sehari 0,3 ml selama 3 hari, dalam
penggunaan Ibuprofen dipakai dosis menurun supaya tidak menyebabkan toxic
pada kucing.

Gambar 2. Kucing pasca operasi gastrotomy.

10

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Tabel 1. Pengamatan pasca operasi
Pengamatan
(Hari)

Hasil

Gambar

Kucing masih lemah dan pasif


Ke 1 s/d 3

(tidak banyak bergerak),


sudah mau makan dan minum
tapi sedikit.

Ultrafix sebagai penutup


jahitan lepas. Luka insisi
Ke 4 s/d 6

sedikit lembab, sudah mau


makan dan minum. Kucing
aktif bergerak

Luka operasi sudah sedikit


tertutup, bengkak di sekitar
Ke 7 s/d 9

bekas operasi. Nafsu makan


dan gerak aktif meningkat
dari sebelumnya.

11

Jahitan kulit lepas. Luka


sudah mulai kering. Sebagian
Ke 10

luka menutup. Lubang


sedikit, maka dilakukan
reparasi penjahitan kulit

Luka sudah mulai kering dan


Ke 11 s/d 13

menutup semua. Kucing


tampak lebih aktif.

Kucing mengalami
kesembuhan dan sudah mulai
Ke 14 s/d 16

aktif, luka operasi menutup


sempurna, nafsu makan dan
minum baik.

4.2 Pembahasan
Pada tanggal 26 Mei 2015 kucing betina lokal yang bernama Inonk, berat
badan 2,2 kg, dibawa ke Bagian Bedah dan Radiologi Rumah Sakit Hewan
Sesetan. Kucing secara umum dalam keadaan sehat. Setelah dilakukan
pemeriksaan radiografi ditemukan adanya benda asing di dalam lambung. Oleh
karena itu perlu dilakukan operasi pengangkatan benda asing pada gastrium.
Sebelumnya terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan fisik. Hal ini untuk
mengetahui kondisi pasien berkenaan dengan anestesi yang akan dilakukan. Hasil

12

pemeriksaan fisik menunjukkan frekuensi nafas 24 x/menit, pulsus 114 x/menit,


suhu tubuh 37,4 oC, CRT normal (<2 detik) dan denyut jantung 116 x/menit.
Kucing dipuasakan makan selama 12 jam sebelum operasi. Adapun tujuannya
adalah untuk mengosongkan isi lambung sehingga pada saat operasi dapat
mencegah terjadinya muntah.
Pada kasus corpora aliena gastrium ini setelah dilakukan operasi kucing
ditempatkan pada tempat yang kering dan bersih, dikandangkan dan dipakaikan
Ellisabeth Collar. Monitoring pasca operasi secara intensif dilakukan 2-6 jam
setelah operasi karena masa rekoveri setelah pemberian Ketamin sebagai anastesi.
Pada umumnya suhu tubuh mengalami penurunan dikarenakan obat anastesi
bekerja pada pusat pengatur suhu tubuh di sistem syaraf pusat, sehingga suhu
tubuh dapat naik turun sesuai dengan pengaruh lingkungannya. Kondisi ini dapat
disebabkan oleh tebal dan lebarnya kain penutup operasi, intensitas lampu operasi,
temperatur ruang operasi, proses anastesi, dan operasi yang lama (Sardjana dan
Kusumawati, 2004).
Luka operasi di kontrol dan dijaga kebersihannya selama 5 hari,
pemberian antibiotika Amoxicillin rutin dilakukan selama 7 hari pasca operasi
untuk mengurangi terjadinya infeksi sekunder dari bakteri. Hewan dipuasakan
atau tidak diberi makan dan minum selama 12 jam - 24 jam setelah operasi,
kebutuhan cairan tubuh diberikan secara intravena melalui infus. Minum dapat
diberikan 24 jam setelah operasi, pemberian minum ini pada dasarnya ketika
pemberian cairan secara parenteral sudah tidak diberikan lagi. Diet makanan lunak
diberikan jika air yang diberikan sebelumnya tidak dimuntahkan. Selanjutnya
konsistensi makanan ditingkatkan secara bertahap, jahitan dapat dibuka setelah
luka operasi benar-benar kering dan sembuh serta telah tertutup, kemudian diolesi
kembali iodium tinkture 3%.
Hasil pengamatan hewan pasca operasi pada hari ke 1-3 kucing masih
lemah dan pasif (tidak banyak bergerak), sudah mau makan dan minum tetapi
sedikit, jahitan masih utuh tidak ada yang lepas. Pada hari ke 4-6 penutup jahitan
lepas. Luka insisi sedikit lembab tapi tidak keluar cairan, sudah mau makan dan
minum. Kucing aktif bergerak. Hari ke 7-9 luka operasi sudah sedikit tertutup,

13

bengkak di sekitar bekas operasi. Nafsu makan dan aktivitas gerak kucing
meningkat dari sebelumnya. Pada fase ini sudah mulai terjadi proses kesembuhan
ditandai dengan nafsu makan yang membaik. Hari ke 10 jahitan kulit sudah lepas
semua, keadaan sebagian luka insisi kering tetapi jahitan subcuticuler terbuka
sedikit. Agar jahitan tertutup sempurna maka dilakukan reparasi 2-3 jahitan silk
untuk menutup kulit. Hari ke 11-13 Luka sudah mulai kering dan menutup semua.
Kucing tampak lebih aktif. Tidak ada lagi jahitan yang lepas. Hal ini menunjukan
bahwa kucing sudah mulai mengalami kesembuhan dan asupan nutrisi sudah
dapat terpenuhi sempurna karena hewan sudah dapat makan makanan padat. Dan
pada hari ke 14-16 Kucing sudah mengalami kesembuhan total dan mulai aktif,
luka operasi menutup sempurna, nafsu makan dan minum baik, kesembuhan total
ini dapat dilihat dari kucing sudah aktif bergerak, bekas jahitan sudah sembuh
serta nafsu makan yang normal.
Pada dasarnya kesembuhan luka dapat dilihat dari proses penanganan pada
tepi luka dan perawatan luka setelah operasi yang rutin dibersihkan setiap pagi
dan sore hari. Selain itu kesembuhan sangat tergantung dari segi umur, nutrisi,
kondisi hewan, lama kejadian dan jenis benda asing yang menginfeksi.
Seperti yang kita ketahui bahwa proses kesembuhan luka menurut Fossum
(2000) adalah :
1

Fase peradangan (Inflamatory phase)


Fase ini diawali dengan adanya perdarahan yang membersihkan dan
memenuhi bagian kulit yang terluka segera setelah terjadi trauma. Fase ini
berlangsung selama 2-3 hari dan bertahan sampai kurang lebih 5 hari.

Fase debrikasi (debriment phase)


Fase ini ditandai dengan adanya infiltrasi dan neutrofil dan monosit ke
daerah luka. Peristiwa ini terjadi kurang lebih 6-12 jam setelah terjadinya
luka.

Fase perbaikan (Repair phase)


Fase ini biasa terjadi 3-5 hari setelah luka terjadi. Ada beberapa proses
yang terlibat dalam fase ini :

Fibroblas dan collagen

14

Fibroblas akan bermigrasi menuju daerah yang mengalami luka


setelah fase peradangan terlewati (2-3 hari). Fibroblas akan menginvasi
luka untuk mensintesis dan mendeposit collagen, elastin dan proteoglican
yang akan mengalami maturasi membentuk jaringan fibrous. Setelah 5 hari
regangan pada daerah sekitar luka menyebabkan fibroblast, fibrin dan
pembuluh kapiler untuk terposisi parallel dengan tepi luka. Jumlah dari
collagen mencapai jumlah maksimum setelah 2-3 minggu.
b

Jaringan granulasi (Granulation tissue)


Jaringan granulasi akan mengisi dan melindungi luka dengan jalan
menciptakan barier terhadap infeksi. Jaringan ini juga menciptakan lapisan
dasar untuk terjadinya migrasi epitel dan merupakan sumber dari sel-sel
fibroblast khusus yang dinamakan myofibroblast.

Epitelialisasi
Proses epitelialisasi dimulai dalam waktu 24-48 jam pada luka
dengan tepi luka teraposisi dengan baik. Pada luka yang terbuka, proses
dimulai setelah lapisan jaringan granulasi terbentuk, biasanya setelah 4-5
hari. Pada awalnya lapisan epitel yang terbentuk hanya 1 lapis sel (one cell
layer) yang rapuh. Lapisan ini akan menebal dengan terbentuknya lapisanlapisan baru.

Kontraksi luka (wounds contraction)


Kontraksi luka akan memperkecil besar luka dimana proses ini
terjadi melalui kontraksi dari myofibroblast yang terdapat pada jaringan
granulasi. Proses ini terjadi bersamaan dengan terbentuknya jaringan
granulasi dan epitelialisasi. Secara umum luka akan mengecil sebesar 0,60,7 mm per hari. Proses ini akan terhambat oleh adanya fiksasi luka,
inelastisitas atau adanya tarikan pada luka. Proses ini juga terhambat jika
perkembangan myofibroblast berkurang, pemberian obat antiinflamasi
steroid, obat antimicrotubular dan pemberian musculo relaxan lokal.
Proses ini akan berhenti setelah tepi luka bertemu, adanya regangan yang
berlebihan atau tidak tersedia cukup myofibroblast.

Fase Maturasi (Maturation Phase)

15

Fase ini berlangsung setelah jumlah collagen yang cukup telah


terdeposit pada daerah luka. Proses ini berlangsung setelah 17-20 hari
setelah luka terbentuk dan dapat berlanjut sampai beberapa tahun.
Kasus ditemukannya benda asing dalam saluran cerna tidak jarang
terjadi terutama pada kucing. Benda asing yang ditemukan itu sangat
bevariasi seperti kulit, kawat, batu, kelereng dan lain-lain. Diagnosa
adanya benda asing dalam saluran pencernaan dapat dilakukan
dengan pemeriksaan X-Ray yang akan membantu apabila benda asing itu
cukup padat (Fazio, 2006).
Benda asing juga dapat mengakibatkan iritasi bila tidak segera
ditangani, serta menyebabkan peradangan dan peningkatan jaringan parut.
Selain itu benda asing yang masuk ke dalam gastrium dapat menyebabkan
infeksi, terjadinya penutupan bagian-bagian tertentu dari tubuh (seperti
saluran

pernapasan),

dan

bisa

menyebabkan

keracunan.

Selain

menyebabkan obstruksi dan perforasi, benda asing yang tertelan juga dapat
menimbulkan abses, fistula dan pleuritis. Benda asing juga dapat keluar
sendiri melalui feses tanpa menimbulkan kelainan yang berarti, atas dasar
itu maka setiap hewan yang diketahui telah menelan benda asing
sebaiknya diobservasi. Tindakan aktif berupa operasi baru dilakukan
apabila telah terdapat komplikasi pada kucing yang baru saja menelan
benda asing, serta dapat dicoba dengan memberikan air minum yang
banyak dan obat untuk memuntahkan isi gastrium (Catcott, 1975).

BAB V

16

SIMPULAN DAN SARAN


5.1 Simpulan
Kesimpulan dari laporan kasus ini adalah :
1

Corpora aliena pada kucing dapat terjadi apabila kucing secara tidak
sengaja menelan benda asing yang sudah tercampur dalam makanannya.

Penanganan corpora aliena pada gastrium kucing dilakukan dengan cara


pembedahan gastrotomy dan hasil operasi menunjukkan kesembuhan.

5.2 Saran
Dengan adanya temuan kasus Corpora aliena gastrium pada kucing,
maka penulis menyarankan :
1

Untuk mencegah terjadi Corpora aliena pada gastrium pemilik kucing


disarankan untuk memperhatikan dan menjaga asupan makanan, agar
hewan tidak makan sembarangan.

Bila kucing menelan benda asing harus segera ditangani agar tidak timbul
gangguan yang lebih serius.

DAFTAR PUSTAKA
17

Archibald,

J.

1985.

Canine

Surgery

st

ed. American

Veterinary

Publications,.INC. California.
Bojrab.M.J . 1998. Current Techniques in Small Animal Surgery. Lippincott
Williams & Wilkins; 4 Sub edition (January 15, 1998)
Catcott, E. J.1975. Feline Medicine & Surgery. Santa Barbara. Calif. : American
Veterinary Publications, 1975.
Fazio, K A. (2006). Diagnosing GI Foreign Bodies. Banfield
Fossum, T.W. 2000. Small Animal Surgery, ed 2nd Mosby, St. Lois London.
Philandelphia Sydney. Toronto.
Sabiston. Jr . 1992. Textbook of Surgery: The biological basis of modern surgical
practice. The New England Journal of medicine Publication.inc
Sardjana, I Komang Wirasa dan Kusumawati, D. 2004. Anastesi Veteriner Jilid
1. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Sudisma, IGN. Pemayun, IGAGP. Warditha, AAGJ. Gorda, IW. (2006). Ilmu
Bedah Veteriner dan Teknik Operasi. Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Udayana. Denpasar.
White, D.(2011). Basics Of Intestinal Surgery: Anatomy, Pathophysiology,
Instrumentation & Suturing. Dick White Referrals, SIX MILE BOTTOM,
Newmarket, UK.

18