Anda di halaman 1dari 33

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Anjing merupakan hewan kesayangan yang banyak digemari oleh masyarakat.
Banyak diantara anjing-anjing kesayangan tersebut mengalami gangguan penyakit
sehingga harus menjalani pembedahan. Salah satunya pembedahan di saluran
pencernaan seperti pada gastrium. Anjing kesayangan tersebut juga dapat mengalami
berbagai macam gangguan penyakit, salah satu gangguan penyakitnya yaitu adanya
benda asing didalam saluran pencernaan. Sehingga mengharuskan tindakan pembedahan
untuk mengatasinya. Contoh kasus pembedahan untuk mengangkat benda asing pada
lambung (gastrium) yaitu gastrotomy.
Gastrium atau lambung merupakan bagian dari alat pencernaan pada hewan non
ruminansia, sedangkan lambung pada hewan ruminansia lebih dikenal sebagai rumen,
retikulum, omasum dan abomasum. Lambung pada kucing terletak pada sisi kiri linea
alba cranial abdominal, dibelakang diafragma dan hepar. Letaknya bervariasi
tergantung dari volume isi gastrium.
Gastrotomy adalah tindakan pembedahan untuk membuka gastrium atau dinding
lambung yang dilakukan untuk mengambil benda asing (corpora aliena), inspeksi
mukosa gastrium terhadap kemungkinan ulcer, neoplasma atau hipertropi dan untuk
mengambil spesimen biopsi (Bojrab, 1998). Kasus gastrointestinal pada hewan
kesayangan yang mengharuskan dilakukannya gastrotomy adalah kasus foreign body
removal (pengangkatan benda asing) yang sering ditemukan pada hewan di bawah umur
2 tahun.
Indikasi dilakukannya gastrotomy diantaranya adalah untuk mengeluarkan benda
asing dan tumor lambung (gastrointestinal lymphoma) dari gastrium dan oesophagus
bagian bawah. Salah satu kasus gastrointestinal pada hewan kesayangan yang
mengharuskan dilakukannya gastrotomy adalah kasus corpora alienum yang sering
ditemukan pada hewan diberbagai umur (Fossum, 2000).
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana prosedur operasi gastrotomy pada Anjing?

1.3 Tujuan
Untuk mengetahui prosedur operasi gastrotomy pada anjing yang baik dan benar
serta dapat mengetahui indikasi dilakukannya operasi gastrotomy tersebut.

1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gastrium
Saluran pencernaan makanan pada anjing terdiri dari rongga mulut (cavum oris),
kerongkongan (oesophagus), lambung (gastrium), usus halus (intestinum), usus besar
(colon), rectum dan terakhir adalah anus. Di dalam saluran tersebut, setiap makanan yang
masuk akan mengalami proses pencernaan makanan, baik secara mekanik maupun kimiawi.
Lambung merupakan bagian dari sistem saluran pencernaan makanan, berupa saluran yang
mengalami dilatasi/pelebaran hingga membentuk kantong dan terdapat di dalam rongga
abdomen sebelah kiri.
Gastrium anjing terletak pada sisi kiri abdomen di belakang hepar. Posisinya
bervariasi tergantung jumlah ingesta. Secara anatomis lambung anjing terletak pada sisi kiri
rongga abdomen bagian depan dan di belakang hepar, membentang dari vertebrae thorakalis
ke-9 sampai vertebrae lumbalis yang pertama. Lambung yang kosong akan sulit dipalpasi
karena tertutup oleh hepar dan archus cranioventral serta intestinum pada bagian
belakangnya. Kurvatura mayor lambung (greater kurvature) terletak pada bagian dorsal,
pada sisi kiri intestinum dan permukaan ventral serta kaudalnya terletak pada intercostalis
ke-11 dan ke-12. Kebutuhan darah dilambung disuplai oleh arteria coeliaca, yaitu pembuluh
darah cabang dari aorta yang keluar dari crura diaphragmatika. Sampai pada bagian
pertengahan terbagi menjadi 3, yaitu arteri hepatica, arteri gastrika dan arteri splenika yang
kesemuanya mensuplai nutrisi dari lambung (Nusdianto, 2006).

Gambar 2.1. Saluran pencernaan dan organ dalam pada anjing

2
Arteri yang menginervasi gastrium adalah a. gastrika sinister dan dekter yang
berjalan sepanjang kurvatura minor dan arteri gastroepiploika sinister dan dekster yang
berjalan sepanjang kurvatura mayor. Gastrium diinervasi syaraf parasimpatis oleh nervus
vagus dan syaraf simpatis oleh pleksus siliaka. Di dalam lambung, makanan yang masuk
akan ditampung selama beberapa jam dan mengalami proses pencernaan secara mekanik
melalui gerakan peristaltik lambung dan secara kimiawi melalui enzim-enzim dalam
lambung seperti rennin, pepsin, dan HCl, sehingga ketika makanan sampai di usus telah
dalam bentuk yang halus dan telah terpecah atas partikel yang lebih kecil sehingga akan
mudah untuk diserap (Sudisma, 2006).
Pada keadaan normal, pengosongan lambung dimulai 5 sampai 10 menit setelah
makan, ingesta dapat mencapai usus halus dalam waktu 15 menit. Lambung akan kosong
dalam waktu 3 sampai 7 jam. Kecepatan pengosongan lambung dipengaruhi juga oleh
keadaan fisik, kuantitas dan konsistensi dari makanan. Makanan semi cair segera dapat
dikosongkan dalam waktu 3 sampai 4 jam, makanan yang tidak dimasak dapat dikosongkan
dalam waktu 4 sampai 7 jam dan makanan padat dapat bertahan sampai 10 jam lebih (Tortora
& Derrickson, 2009).
Secara anatomik, lambung memiliki lima bagian utama, yaitu kardiak, fundus, badan
(body), antrum, dan pilorus. Kardia adalah daerah kecil yang berada pada hubungan
gastroesofageal (gastroesophageal junction) dan terletak sebagai pintu masuk ke lambung
Fundus adalah daerah berbentuk kubah yang menonjol ke bagian kiri di atas kardia. Badan
(body) adalah suatu rongga longitudinal yang berdampingan dengan fundus dan merupakan
bagian terbesar dari lambung. Antrum adalah bagian lambung yang menghubungkan badan
(body) ke pilorus dan terdiri dari otot yang kuat. Pilorus adalah suatu struktur tubular yang
menghubungkan lambung dengan duodenum dan mengandung spinkter pilorik (Schmitz &
Martin, 2008). Secara histologis gastrium tersusun atas 4 lapisan sel, yaitu (dari dalam
keluar) lapisan mukosa gastrium, lapisan submukosa, lapisan muskularis, dan lapisan serosa.
Lapisan mukosa gastrium terdiri dari lamina epithelial, lamina propria (mengandung serabut
kolagen, sel lemak, dan serabut syaraf submukosa). Tunika muskularis mempunyai 3
lapisan, yaitu lapisan dalam yang mengulir, lapisan tengah yang melingkar dan lapisan luar
yang longitudinal. Pleksus mientrikus terdapat diantara lapisan tengah dan lapisan luar.
Tunika serosa terdiri dari mesotel yang membalut lapisan jaringan ikat longgar yang disebut
subserosa (Dellman and Brown, 1992).

3
2.2 Gastrostomy Pada Anjing
Gastrostomy merupakan tindakan pembedahan dengan cara melakukan incisi pada
dinding lambung yaitu sebagian kecil atau sebagian besar daerah curvatura mayor dari
gastrium sehingga terlihat lumennya. Gastrostomy dilakukan untuk mengetahui
permasalahan yang ada di dalam lambung, baik karena adanya benda asing, tumor lambung,
atau gangguan lainnya yang terdapat di dalam lambung (Rasmussen, 2003).

Gambar 2.2. Lambung dan vaskularisasi pada gastrium anjing

Dalam pelaksanaan operasi gastrotomi untuk mengatasi kasus benda asing dan
mengambil benda asing tersebut dari dalam lambung dapat dilakukan dengan berbagai
macam tehnik yang berbeda. Perbedaan tehnik pembedahan ini meliputi perbedaan tehnik
membuka rongga abdomen (laparotomi), perbedaan tempat incisi pada organ gastrium dan
yang terakhir adalah perbedaan tehnik jahitan yang digunakan untuk menutup incisi pada
gastrium.
Menurut Archibald (1974), bentuk irisan untuk membuka rongga abdomen ada
beberapa macam irisan yang dapat dilakukan, antara lain median incision, paramedian
incision, perrektus incision, pararektus incision, tranversus incision. Median incision adalah
irisan yang dilakukan tepat pada linea alba, sedangkan paramedian incision adalah irisan
yang dibuat 0,5-1,0 cm pada bagian lateral dan parallel dengan midline. Perrektus incision
adalah irisan yang dibuat pada muskulus rektus abdomen yang terletak pada bagian lateral
midline sedangkan pararektus incision adalah irisan yang dibuat pada bagian lateral
muskulus rektus abdomen pada bagian kranial atau kaudal umbilicus. Transversal incision
adalah irisan yang dilakukan melintang serabut otot terutama adalah muskulus rektus

4
abdominis, irisan dapat dibuat unilateral atau bilateral. Menurut Shuttleworth dan Smythe
(1960), irisan pada dinding abdomen yang akan mempermudah manipulasi pengambilan
benda asing adalah irisan parakostae. Irisan pada daerah ini dilakukan kira-kira 0,5 inci dari
archus costae terakhir dan 1,0 inci disebelah kiri daerah midline, dengan irisan dibuat
sepanjang 3 sampai 4 inci . Sedangkan menurut Armistead (1975), irisan dinding abdomen
yang paling baik dilakukan untuk mengeluarkan lambung atau untuk mengambil benda asing
dari dalam lambung adalah incisi pada daerah cranial midline, karena akan dapat
menghindari pendarahan dan kerusakan jaringan.
Selain perbedaan tehnik incisi dinding lambung, perbedaan metode juga ada dalam
incisi dinding gastrium untuk mengeluarkan benda asing dari dalam lambung tersebut.
Menurut Archibald (1974), tehnik incisi membuka lambung yaitu incisi dilakukan pada
permukaan visceral (daerah kurvatura mayor) atau incisi pada permukaan parietal (daerah
kurvatura minor). Irisan pada kurvatura minor akan lebih sulit dilakukan karena tertutup oleh
bursa omentum, sedangkan pada kurvatura mayor irisan dapat dilakukan dengan lebih
mudah dan jarang terjadi kecelakaan operasi. Menurut Fossum (2002), incisi pada gastrium
dilakukan pada daerah yang sedikit pembuluh darahnya pada ventral gastrium, antara
kurvatura minor dan kurvatura mayor.
Perbedaan tehnik penanganan yang lain adalah pada cara penutupan luka operasi
pada dinding lambung. Menurut Archibald (1974), dinding lambung ditutup dengan dua
model jahitan yaitu dengan model jahitan connel menerus dan dengan jahitan lambert.
Menurut Fossum (2002), dinding lambung ditutup dengan dua lapis jahitan inverting,
pertama dengan menggunakan model cushing atau sederhana menerus yang terdiri dari
lapisan serosa, muskularis dan submukosa, kemudian diikuti dengan jahitan lambert atau
cushing hanya pada lapisan serosa dan muskularisnya saja, dengan menggunakan benang
yang diserap 2-0 atau 3-0 seperti polydioxanone dan polyglyconate.
Gastrotomi sering diindikasikan untuk pencegahan langkah – langkah dalam
permasalahan lambung, pemulihan posisi abnormalitas dalam pengeluaran benda-benda
asing, dilatasi lambung dan volvulus, gangguan obstruksi lambung, ulkus gastric dan erosi,
neoplasia lambung dan penyakit infiltratif, tomor lambung, mengatasi penyempitan spincter
pylorus dan trauma keras di dalam lambung (Gomez, 2006).
Pemeriksaan praoperasi gastrotomi dapat dilakukan dengan radiograpy (x-ray) yang
bertujuan untuk menegakkan diagnosa. Uji ini merupakan pokok yang mendasari untuk
melakukan pembedahan gastrostomy, adapun pemeriksaan penunjjang lain yang dapat

5
dilakukan yaitu dengan pemeriksaan darah lengkap, uji serum biokemikal, uji urinalysis dan
kemungkinan melakukan Electrokardiograf (EKG) sebelum pembedahan (Ibrahim, 2000).

6
BAB III METODOLOGI
3.1 Pre Operasi
Sebelum operasi dilakukan perlu persiapan yang matang pada hewan agar berjalan
dengan sukses dan lancar tanpa adanya hal-hal yang menggangu jalannya operasi dan
menghambat kesembuhan hewan tersebut. Persiapan yang perlu dilakukan meliputi
persiapan alat, bahan dan obat, persiapan ruang operasi, persiapan pasien, dan persiapan
operator.
a. Persiapan Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan adalah scalpel, pisau bedah, gunting, arteri clamp, Allis
Forceps, needle holder, pinset sirugis dan anatomis, spuit, jarum operasi tapper dan blund,
benang silk dan chromic cut gut dan PGA, surgical drapes, towel clamp, iv cath dan infus
set. Sebelum menggunakan alat tersebut harus di sterilisasi terlebih dahulu dengan sterilisasi
panas kering. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah tampon, alkohol 70%, Iodium
Tincture 10%, NaCl fisiologi, sabun chlorhexidine, flush antibiotik, sarung tangan, penutup
kepala, masker operasi dan lampu penerangan. Obat-obat yang dipersiapkan adalah
premedikasi yaitu Atropine Sulfat, anestesi umum adalah Ketamine dan Xylazine, Vitamin
K atau epineprine, pehacain, antibiotika dan anti inflamasi.
b. Persiapan Ruang Operasi
Pelaksanaan operasi OH dilakukan di laboratorium bedah FK UB. Sebelum operasi,
maka dilakukan terebih dahulu pembersihan ruangan, meliputi pengepelan menggunakan
karbol dan penyapuan kotoran yang ada pada lantai. Setelah lantai kering dilakukan
penyemprotan dengan desinfektan, yang digunakan adalah larutan bayclin. Persiapan
selanjutnnya adalah memasukkan meja operasi yang selanjutnya meja tersebut dibersihkan
dan didesinfeksi. Persiapan selanjutnya adalah setting lampu penerangan dan meja obat.
c. Persiapan Pasien atau Hewan
Sebelum melakukan pembedahan pada hewan kita harus melakukan pemeriksaan
fisik yang meliputi ; Signalemen, berat badan, umur, pulsus, frekuensi nafas, suhu tubuh,
system digestivus, respirasi, sirkulasi, syaraf, reproduksi, perubahan anggota gerak dan
perubahan kulit yang telah dicatat semua pada ambulatory yang telah terlampir. Sebelum
anjing lokal tersebut dibedah maka anjing lokal tersebut diberikan terlebih dahulu suntikan
antibiotic amoxycilin dengan dosis 15 mg x 7,3 kg / 100mg/ml = 1,1 ml secara intramuscular.
Setelah 15 menit kemudian dilakukan pemberian premedikasi berupa atropine sulfat dengan
dosis 0,025mg x 7,3 kg / 0,25 mg/ml = 0,73 ml secara subkutan. Setelah hewan merasa
tenang dapat dilakukan pemasangan iv cath pada vena cephalica untuk pemberian terapi

7
cairan selama proses operasi, setelah 15 menit dari pemberian premedikasi kemudian
diberikan Xylazine dan Ketamine yang dikombinasikan dengan perbandingan satu banding
satu dan diberikan secara intramuscular. Dosis ketamin yang diberikan yaitu 10mg x 7,3kg
/ 100mg/ml = 0,73ml. Sedangkan untuk dosis xylazine yaitu 2mg x 7,3kg / 20mg/ml =
0,73ml.
d. Persiapan Operator dan asisten operator
Seorang operator dan asisten harus memahami prosedur operasi, dapat memprediksi
hal-hal yang akan terjadi selama operasi berlangsung, dapat memperkirakan hasil operasi,
operator harus dalam keadaan sehat dan bersih. Sebelum memulai proses operasi diharuskan
mencuci tangan dengan sabun desinfektan terlebih dahulu kmudian memakai peralatan
operasi (seperti masker operasi, sarung tangan, sandal khusus, penutup kepala dan baju
operasi).

3.2 Metode Operasi


Gastrotomy diawali dengan eksplorasi abdomen dengan prosedur yang aseptis. Incisi
abdomen biasanya dimulai pada xipoideus memanjang ke arah caudal menuju umbilicus.
Memperpanjang incisi ke arah cranial dapat menyebabkan perforasi diafragma dan
memungkinkan terjadinya pneumothoraks. Indikasi dilakukannya gastrotomy paling sering
yaitu untuk mengeluarkan benda asing. Berikut merupakan langkah-langkahnya (Tobias,
2010; Fossum, 2013):
1. Setelah laparotomi dan eksplorasi gastrik dilakukan, maka dapat ditempatan stay suture
untuk retraksi lambung dengan melewatkan jarum dalam submukosa.
2. Lambung yang terekspos ditempatkan pada kasa lembab yang dibasahi NS untuk
mengurangi kontaminasi.
3. Lakukan incisi menggunakan scalpel blade secara paralel pada badan lambung yang
minim pembuluh darah.

8
Gambar 1. Pemasangan stay suture menembus lapisan submukosa (kiri) dan letak incisi
lambung pada bagian yang minim pembuluh darah (kanan).
4. Pegang mukosa dengan forceps atraumatik dan perforasi dengan scalpel blade. Perluas
insisi sesuai kebutuhan dengan gunting dan lanjutkan dengan pengeluaran benda asing,
biopsi, atau eksplorasi mukosa.
5. Sayatan dapat ditutup menggunakan benang absorbable 2.0 atau 3.0 dengan jahitan dua
lapis.
6. Lapisan mukosa ditutup dengan jahitan menerus sederhana untuk mengurangi
perdarahan post operasi.
7. Lapisan submukosa, muskularis, dan serosa dapat ditutup dengan jahitan cushing atau
lambert.
8. Lepas stay suture, pindahkan lambung secara perlahan dari kasa lembab dan basahi
dengan NS. Pastikan tidak ada kasa yang tertinggal. Letakkan lambung kembali ke
rongga abdomen.

Gambar 2. Penjahitan bagian mukosa lambung dengan tipe jahitan menerus sederhana
(kiri) dan penjahitan bagian submukosa, muskularis, dan serosa dengan
tipe jahitan cushing (kanan).
9. Penutupan rongga abdomen dimulai dari penjahitan lapisan muscularis dengan tipe
jahitan terputus sederhana dan dilanjutkan dengan penutupan subkutan dengan jahitan
menerus sederhana menggunakan catgut chromic 2.0, lalu diakhiri dengan penjahitan
kutan dengan tipe jahitan terputus sederhana menggunakan benang silk.
10. Kemudian luka dioles dengan iodine dan salep antibiotik lalu ditutup dengan kasa steril.

3.3 Post Operasi


Selama pemulihan pasca operasi, kepala hewan sebaiknya dijaga agar tetap lebih
tinggi dari badan untuk mengurangi refluks lambung. Pemberian obat-obatan post operasi

9
meliputi antibiotik amoxycilin dan ketoprofen secara oral. Evaluasi hematokrit perlu
dilakukan jika terjadi hematomesis, pucat, anemia atau melena yang signifikan. Anjing dapat
diberi makan 12 hingga 24 jam setelah operasi jika hewan tidak muntah atau mual. Muntah
atau mual muntah pasca operasi dapat terjadi akibat ileus, kelainan elektrolit (terutama
hipomagnesemia), nyeri, maupun iritasi lambung. Terapi yang dapat diberikan termasuk
pmberian cairan intravena, gastroprotektan (sucralfate), penghambat asam lambung
(misalnya, omeprazol atau famotidin), obat peningkat motilitas untuk ileus (misalnya,
metoclopramide), atau antiemetik (misalnya, klorpromazin, ondansetron, dolasetron, atau
maropitan). Pemberian analgesik dan antibiotik juga juga diperlukan untuk mengurangi rasa
nyeri pasca operasi serta mencegah infeksi bakteri (Tobias, 2010).
Komplikasi yang paling umum terjadi yaitu muntah, yang dapat menyebabkan
pneumonia aspirasi. Jika mukosa belum tertutup, hewan dapat memuntahkan darah yang
dicerna sebagian, yang terlihat seperti bubuk kopi. Hewan yang terus-menerus muntah harus
dievaluasi dengan radiografi biasa atau dengan bahan kontras. Endoskopi juga dapat
dilakukan untuk mengetahui kemungkinan obstruksi. Kebocoran dari jahitan gastrotomy
jarang terjadi karena lambung mampu sembuh dengan cepat dan memiliki suplai darah yang
sangat baik. Hal tersebut dapat mengurangi jumlah bakteri (yang disebabkan oleh keasaman
lambung), epitelium lambung mampu beregenerasi dengan cepat, dan lambung memiliki
mekanisme pertahanan yang disediakan oleh omentum dapat memungkinkan sayatan dapat
sembuh dengan cepat. Penjahitan gastrotomy dengan benang yang tidak dapat diserap seperti
polipropilen dapat menyebabkan obstruksi pilorus. Obstruksi pilorus juga dapat terjadi
akibat inversi jaringan yang berlebihan atau distorsi dari antrum selama penutupan sayatan
(Tobias, 2010; Fossum, 2013).

10
BAB IV PEMBAHASAN

Hari rabu tanggal 30 Mei 2018 telah dilakukan operasi Gastrotomy pada
anjing lokal bernama Jintan, jenis kelamin betina, berwarna hitam, dan umur sekitar
tujuh bulan. Sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan umum meliputi pulsus,
respirasi, suhu, turgor, capillary refile time (CRT), nafsu makan, defekasi dan urinasi
yang semuanya dalam keadaan nomal, sehingga operasi dapat dilaksanakan.
Sebelum operasi berjalan, kami melakukan beberapa persiapan operasi untuk
memastikan operasi berjalan dengan lancar meliputi persiapan alat dan bahan,
persiapan operator dan asisten operator dan persiapan hewan.

4.1 Analisa Prosedur


Peralatan bedah disterilkan agar saat dipergunakan dalam pembedahan tidak
mengkontaminasi. Sterilisasi peralatan bedah dilakukan setelah dilakukan pencucian
dan pengeringan. Peralatan bedah yang terdiri dari beberapa instrumen bedah
dimasukkan ke dalam kotak tempat peralatan kecuali gunting dan blade, kemudian
dibungkus dengan menggunakan kain. Setelah itu, peralatan tersebut dimasukkan ke
dalam autoclave dengan suhu 1210C selama 15-30 menit. Sterilisasi untuk gunting
dan blade dilakukan dengan cara merendam di dalam larutan alkohol 70% dan
Betadine. Sterilisasi peralatan gunting dilakukan demikian untuk menghindari
terjadinya ketumpulan pada peralatan tersebut.
Persiapan alat bahan diawali dengan pembuatan tampon bulat dan kotak.
Tampon bulat ini berfungsi untuk menampung darah apabila terjadi perdarah ketika
operasi berlangsung. Sebelum dipergunakan tampon harus disterilisasi terlebih
dahulu agar tidak menyebabkan kontaminasi. Selanjutnya dipersiapkan alat-alat
bedah meliputi scalpel blade yang berfungsi untuk membantu menginsisi dinding
abdomen. Gunting tajam tajam untuk memotong daerah kulit. Sedangkan untuk
gunting tumpul tumpul untuk menggunting ketika berada bagian dalam abdomen.
Towel clamp untuk menjepit drapes dengan kulit agar tetap pada tempatnya dan tidak
bergeser. Allis tissue forceps yang digunakan untuk menjepit lapisan dari kulit, sub
kutan dan musculus.
Peralatan berikutnya Drapes/ towel digunakan untuk melapisi tubuh hewan
yang akan dioperasi, bagian atas adalah bagian yang steril, ini untuk meminimalisir
kontaminasi yang akan timbul dan mempengaruhi organ. Selain itu juga digunakan

11
sebagai alas untuk meletakkan alat-alat operasi yang digunakan selama operasi
berlangsung, sedangkan bagian non steril menempel pada tubuh hewan. Selanjutnya
adalah pinset anatomis dan sirugis. Pinset anatomis untuk memegang jaringan atau
organ dalam dan organ yang berlumen, sedangkan untuk pinset sirugis digunakan
untuk memegang kulit dan jaringan lain. Mosquito forceps digunakan untuk menjepit
pembuluh darah kecil. Rochester pean forceps digunakan untuk menjepit pembuluh
darah besar dan jaringan. Needle holder digunakan untuk memegang jarum dan
membantu proses penjahitan. Needle merupakan jarum yang digunakan dalam
menjahit. Kemudian bak instrument yang digunakan untuk menempatkan peralatan
yang telah digunakan. Dalam bak berisi iodine digunakan untuk menjaga kesterilan
alat.
Peralatan lain meliputi benang, alas operasi, alcohol 70%, air sabun, iodine,
termometer, tali restrain. Benang digunakan untuk menjahit, pada praktikum kali ini
menggunakan dua macam benang yaitu catgut chromic dan silk. Catgut chromic
digunakan untuk menjahit bagian lumen dan serosa lambung, peritoneum, dan
muskulus. Catgut plain untuk menjahit subcutan dan silk untuk menjahit kulit. alas
operasi digunakan untuk meja saat hewan dioperasi. Alcohol 70% untuk membantu
sterilisasi area diatas meja. Sabun chlorhexidine untuk memudahkan mencukur
rambut pada bagian yang akan diinsisi. Iodine digunakan sebagai antiseptic agar
terhindar dari kontaminasi bakteri. Thermometer digunakan untuk mengukur suhu
tubuh hewan. Kemudian tali restrain untuk mengikat pergelangan kaki hewan untuk
mengekang dan membatasi gerak hewan. Sedangkan gurita digunakan untuk hewan
pasca operasi.
Persiapan operator dan asisten operator yaitu menggunakan tutup kepala dan
masker, mencuci kedua tangan dengan sabun dan menyikatnya dengan sikat pada air
yang mengalir. Pencucian dimulai dari ujung jari yang paling steril kemudian dibilas
dengan arah dari ujung jari ke lengan yang dilakukan sebanyak 10-15 kali. Setelah
selesai mencuci tangan dan membilasnya, keran ditutup dengan siku untuk mencegah
kontaminasi. Kemudian tangan dikeringkan dengan handuk dan glove dipakai.
Setelah semua langkah dilalui, operasi siap dilakukan.
Persiapan hewan sebelum dilakukan operasi yaitu memuasakan hewan
selama 6-8 jam yang bertujuan untuk menghindari muntah. Muntah merupakan
pengeluaran isi saluran cerna bagian atas melalui mulut dan biasanya diawali dengan
mual-mual. Muntah terjadi karena adanya aktifitas parasimpatis yang menyebabkan

12
peningkatan peristaltik usus dan adanya empedu dalam lambung karena relaksasi
pylorus dan spincter ductus biliaris karena efek anastesi. Kemudian hewan diberi
antibiotik amoxicillin dengan dosis 15 mg/kg BB secara IM. Amoxicillin adalah
nama dagang dari obat antibiotik golongan penisilin sub golongan amoksisilin, yaitu
amoksisilin trihidrat. Obat golongan ini bekerja sebagai broad-spectrum (bisa untuk
membunuh bakteri gram positif dan negatef), seperti salmonella, shigella dan
lainnya. Amoxicillin tidak membunuh bakteri secara langsung tetapi dengan cara
mencegah bakteri membentuk semacam lapisan yang melekat disekujur tubuhnya.
Lapisan ini bagi bakteri berfungsi sangat vital yaitu untuk melindungi bakteri dari
perubahan lingkungan dan menjaga agar tubuh bakteri tidak tercerai berai. Bakteri
tidak akan mampu bertahan hidup tanpa adanya lapisan ini. Setelah 15 menit
pemberian amoxicillin dilanjutkan dengan pemberian premedikasi atropin sulfat
dosis 0,025 mg/kg BB SC.
Atropin sulfat merupakan obat preanestesi yang digolongkan sebagai
antikolinergik atau parasimpatik, namun paling sering digunakan sebagai
antikolinergik, dengan fungsi utama mengurangi sekresi kelenjar saliva terutama bila
dipakai obat anestetik yang menimbulkan hipersekresi kelenjar saliva, mencegah
muntah karena menyebabkan blokade reversibel kerja kolinomimetik yang
mempengaruhi motilitas usus dan sebagai bronkodilatator. Atropin sebagai
antimuskurinik mempunyai kerja menghambat efek asetilkolin pada syaraf
postganglionik kolinergik dan otot polos. Hambatan ini bersifat reversible dan dapat
diatasi dengan pemberian asetilkolin dalam jumlah berlebihan atau pemberian
antikolinesterase. Atropine sulfat akan bekerja selama 10-15 menit ditandai dengan
mengeringnya mukosa pada mulut anjing. Atropin sebagai premedikasi diberikan
pada kisaran dosis 0.02-0.04 mg/kg, yang diberikan baik secara subkutan, intra vena
maupun intramuskuler (Plumb, 2003).
Pemberian anastesi berupa kombinasi ketamine dosis 10 mg/kg dan xylazine
dosis 1,1 mg/ml IM dilakukan 15 menit pasca pemberian atropine sulfat. Onset
ketamine timbul dalam 3-5 menit dan efeknya dapat bertahan kurang dari 30 menit,
tetapi masa rekoveri berlangsung selama 2-6 jam. Xylazine akan menimbulkan efek
30 detik jika diberikan IV dan 3-5 menit jika IM, efek xylazine bertahan selama 1-2
jam. Anastesi adalah tindakan yang sangat penting sebelum operasi dilakukan.
Anestesi menurut arti kata adalah hilangnya kesadaran rasa sakit. Namun obat
anestesi umum tidak hanya menghilangkan rasa sakit akan tetapi juga

13
menghilangkan kesadaran. Pada operasi-operasi daerah tertentu seperti perut, maka
selain hilangnya rasa sakit dan kesadaran, dibutuhkan juga relaksasi otot optimal agar
operasi dapat berjalan dengan lancar. Hampir semua obat anestetik menghambat
aktivitas sistem saraf pusat secara bertahap diawali fungsi yang kompleks yang
dihambat dan yang paling akhir dihambat adalah medula oblongata (batang otak)
dimana terletak pusat vasomotor dan pusat respirasi yang vital. Depresi umum pada
sistem saraf pusat tersebut akan menimbulkan hipnosis, analgesi, dan depresi pada
aktivitas refleks.
Obat anestesi umum yang ideal mempunyai sifat-sifat antara lain: pada dosis
yang aman mempunyai analgesik relaksasi otot yang cukup, cara pemberian mudah,
mulai kerja obat yang cepat dan tidak mempunyai efek samping yang merugikan.
Selain itu, obat tersebut harus tidak toksik, mudah dinetralkan, mempunyai batas
keamanan yang luas, tidak dipengaruhi oleh variasi umur dan kondisi hewan.
Pemberian induksi kombinasi xylazine dan ketamin sangat baik dan efektif karena
memiliki rentang keamanan yang luas. Kombinasi obat ini dapat meningkatkan kerja
masing-masing obat, xylazine memberikan efek relaksasi otot yang baik sedangkan
ketamin memberikan efek analgesik yang baik. Setelah hewan tertidur atau
teranestesi dilakukan pencukuran rambut didaerah yang akan diinsisi. Sebelum
dicukur, dibasahi terlebih dahulu dengan air sabun untuk memudahkan pencukuran.
Dipasang alas di meja untuk operasi, setelah teranestesi hewan diletakkan diatasnya
dengan posisi rebah dorsal. Kemudian diikatkan tali dibagian pergelangan kaki untuk
membatasi pergerakan dan membatasi gerak hewan (restrain). Dimulai pencukuran
rambut di daerah abdomen dan sekitarnya menggunakan clipper dan silet. Ukur suhu
tubuh serta pulsus hewan setiap 15 menit sekali sebagai control operasi.
Dipasang infus normal saline maintenance dan dilakukan pemasangan drapes
dengan posisi yang steril berada dibagian atas untuk meminimalisir kontaminasi
yang akan timbul dan mempengaruhi organ. Selain itu sebagai alas untuk meletakkan
alat-alat operasi yang digunakan selama operasi berlangsung. Kemudian dipasang
towel clamp untuk menjepit antara kulit dengan drapes agar tetap berada diposisi.
Dilakukan insisi bagian abdomen (midline incision). Penyayatan menggunakan
blade dan diperluas dengan gunting tumpul-tumpul (preparasi tumpul) agar ruang
pandang semakin luas. Bagian kulit, sub cutan dan musculus di jepit dengan allis
tisue forceps, untuk membantu mempermudah dalam membuka daerah abdomen.
Setelah incise lapisan abdomen berhasil, kemudian dilakukan pencarian organ

14
gastrium. Selanjutnya gastrium di incise pada dua lapisannya pada sisi cuvatora
mayor dan minor yang jarang pembulu darahnya untuk menghindari perdarahan
hebat. Setelah terlihat dan diamati bagian lumen gastrium, segera dilakukan
penutupan dengan jahitan pada gastrium.
Incise organ gastrium ada dua lapisan, sehingga dilakukan dua kali penjahitan
pada masing-masing lapisan. Lapisan pertama menggunakan pola jahitan menerus
sederhana menggunakan catgut chromic (absorbable), kemudian lapisan kedua yaitu
serosa menggunakan pola jahitan cushing yang merupakan modifikasi jahitan
lambert dengan jahitan yang disejajarkan dengan incise. Setelah organ gastrium
berhasil ditutup dengan jahitan, selanjutnya dimasukan dan direposisi kembali
kedalam rongga peritoneum dan di flushing menggunakan cairan normal saline agar
kondisi rongga peritoneum tidak kering.

Gambar 4.1 gastrotomy dan penutupan gastrium

Gambar 4.2 penutupan luka insisi perlapisan abdomen

15
Setelah langkah tersebut berhasil dilakukan selanjutnya dilakukan penjahitan
lapisan abdomen meliputi peritoneum, muskulus, subkutan, dan kulit. Jahitan diawali
dari lapisan pertama yaitu peritoneum dan muskulus menggunakan benang catgut
chromic dengan pola jahitan terputus sederhana. Jahitan subkutan menggunakan
benang catgut plain dengan pola jahitan simple continous dan cushing sebagai jahitan
kosmetik, sedangkan untuk kulit dijahit dengan benang silk dengan pola jahitan
simple interupted. Pemilihan benang disetiap lapisan jahitan didasarkan pada sifat
benang dan lama penyerapan. Untuk catgut chromic dapat diserap 20 hari sedangkan
untuk catgut plain dapat diserap 3-7 hari. Selanjutnya pada kulit diberikan benang
non absorbable karena nantinya jahitan akan dilepas ketika tepi jahitan sudah tertaut
dengan sempurna.
Selesai jahitan pada kulit, kemudian area jahitan diberikan iodine agar jahitan
lebih steril. Kemudian diberikan gentamicine sebagai lapisan primer yang berfungsi
melindungi permukaan jahitan dan sebagai antibiotik topical, dilanjutkan dengan
kasa steril sebagai lapisan sekunder yang berfungsi untuk menyerap cairan eksudat
dan hypafic digunakan sebagai lapisan tersier bandage, lapisan ini berguna untuk
menguatkan lapisan-lapisan yang sebelumnya (lapisan primer dan sekunder).
Selanjutnya dilepas tali kekang pada hewan lalu dipasangkan gurita. Kemudian
hewan dipindahkan pada kandang perawatan yang telah disiapkan untuk
menghindari keadaan hipotermi. Tetap diukur suhu dan serta pulsusnya untuk
memantau kondisi hewan. Setelah suhu hewan normal, dilakukan pemberian
ketoprofen dosis 1 mg/kg sebagai obat analgesic dan antiinflamasi agar
meminimalisir rasa sakit pasca operasi dan menghindari peradangan pada luka.

4.2 Analisa Hasil


Obat yang digunakan
1. Atropin Sulfat
Indikasi dan Farmakologi : berfungsi sebagai agen preanestesi atau
premedikasi untuk mencegah atau menekan produksi sekret pada saluran respirasi,
sebagai antidota pada kasus toksikasi atau overdosis agen kolinergik seperti pada
bahan kimia yaitu physostigmine dan lain-lain kemudian pada bahan herbal yaitu
organofosfat, carbamat, muscarinic mushroom dan blue green algae; meningkatkan
produksi saliva dan untuk treatment dari penyakit bronkokonstriksi (Plumbs, 2013).

16
Farmakokinetik : atropin sulfat diserap dengan baik pada pemberian secara
per oral, injeksi IM, dan inhalasi atau endotrakheal. Pasca pemberian secara IV efek
puncak dimana terjadi peningkatan denyut jantung terjadi dalam 3-4 menit. Atropin
terdistribusi secara baik ke seluruh tubuh, bahkan masuk ke dalam CNS, plasenta
dan juga terdistribusi ke dalam air susu dalam jumlah kecil. Atropin termetabolisme
dalam hepar dan terekskresikan melalui urin. Sekitar 30-50% dalam 1 dosis
terekskresikan melalui urin dan senyawa atropin dalam urin tidak alami perubahan.
Data pada manusia bahwa waktu eleminasi atau half-life dalam plasma
membutuhkan waktu antara 2-3 jam (Plumbs, 2013).
Farmakodinamik : Atropin seperti agen antimuskarinik lainnya bekerja
secara kompetitif menghambat asetil kolin atau stimulan kolinergik lainnya pada
neuroefektor post ganglion parasimpatis. Pada dosis tinggi dapat menimbulkan
blokade reseptor nikotin pada ganglia otonom dan pada neuromuscular junction.
Efek farmakologis yang ditimbulkan relatif terhadap dosis yang diberikan. Pada
dosis rendah akan menghamat produksi saliva, sekresi cairan bronkus dan sekresi
keringat. Pada dosis sedang secara sistemik atropin menyebabkan dilatasi dan
penurunan akomodasi pupil serta meningkatkan denyut jantung. Pada dosis tinggi
akan menurunkan motilitas saluran digesti dan saluran urinasri. Pada dosis sangat
tinggi akan menghambat sekresi asam lambung (Plumbs, 2013).
Kontraindikasi : Atropin memiliki kontraindikasi pada pasien yang
menderita narrow-angle glaucoma, synechiae (adesi) antara iris dan lensa,
hypersensitivitas obat anticolinergic, cardiac insufficiency, myocardial ischemia,
status jantung tidak stabil pada waktu acut hemoragi, obstruksi GIT disease, paralytic
ileus, ulcerative colitis yang berat, obstructive uropathy, dan myasthenia gravis.
Pemberian Atropin akan memperparah pasien dengan penderita penyakit diatas yang
menimbulkan beberapa gejala klinis yaitu dengan amitraz toxicity, hypertensi yang
meningkat dan kondisi lebih lanjutnya akan menghambat gerakan peristaltic
(Plumbs, 2013).
Agen antimuscarinic digunakan pada pasien penderita infeksi GIT harus
dengan peringatan yang sangat tinggi. Atropin atau antimuscarinic agen dapat
menurunkan motilitas GIT dan menyebabkan retensi yang sangat lama dari agen
penyebab atau toksin dimana akan menyebabkan timbul gejala klinis.
Antimuscarinic agen digunakan pada pasien penderita autonomic neuropathy harus
dengan peringatan yang sangat tinggi (Plumbs, 2013).

17
Antimuscarinic agen digunakan pada pasien penderita hepatic or renal
disease, geri atric atau pediatric patients, hyperthyroidism, hypertension, CHF,
tachyarrhythmias, prostatic hypertrophy, atau esophageal reflux harus diberikan
peringatan (Plumbs, 2013).
Interaksi Obat Atropin Sulfat : (Plumbs, 2013)
Amitraz : Atropin akan memperparah gejala klinis yang ditimbulkan karena adanya
toksisitas dari amitraz, peningkatan hypertensi dan kondisi lebih lanjutnya akan
menghambat peristaltic.
Antacids : penurunan absorbs atropine yang diberikan secara PO; diberikan atropine
secara oral selang waktu 1 jam setelah diberkan oral antacids.
Corticosteroid : meningkatkan tekanan intraocular.
Ketoconazole : meningkatkan pH lambung, menurunkan absorbsi pada GIT,
diberikan atropine secara oral setelah 2 jam pemberian ketoconazole.

2. Ketamin
Indikasi dan Farmakologi : Ketamin yang diaplikasikan pada hewan
berfungsi sebagai agen restrain, sebagai agen anestetik tunggal untuk diagnosa,
pembedahan minor yang tidak membutuhkan efek relaksasi otot. Ketamin dapat
menghambat reseptor NMDA pada CNS dan menurunkan efek gelisah. Ketamin
bermanfaat dalam mengurangi bahkan menghilangkan rasa sakit yang diakibatkan
oleh pembedahan atau
Farmakokinetik : Pasca injeksi IM ketamin pada hewan, level puncak obat
terjadi dalam kurun waktu 10 menit. Ketamin terdistribusikan ke seluruh jaringan
tubuh dengan kadar tertinggi ditemukan pada otak, hepar, pulmo, dan jaringan lemak.
Zat obat 50% berikatan dengan protein plasma pada kuda, 53% di anjing dan 37-57%
di hewan (Plumbs, 2013).
Obat dimetabolisme di hepar melalui proses demethilasi dan hydrooxylasi
dan hasil metabolit yang dihasilkan tanpa megalami perubahan dieliminasi melalui
urin. Ketamin akan menginduksi enzim mikrosom akan tetapi tidak tampak gejala
klinis yang signifikan dari efek ini. Waktu eliminasi atau half-life pada pedet, hewan,
dan kuda terjadi dalam waktu 1 jam. Seperti thiobarbiturat, proses redistribusi
ketamin keluar dari CNS lebih menjadi faktor yang menentukan durasi anestesi dan
waktu eliminasi atau half-life. Dengan meningkatkan dosis, durasi dari anestesi dapat

18
diperpanjang atau ditingkatkan tetapi tidak berefek pada intensitasnya (Plumbs,
2013).
Farmakodinamik : Ketamin adalah jenis anestesi yang bekerja cepat dan
memiliki efek anelgesi yang signifikan dan sedekit menimbulkan efek samping pada
kardiopulmonary. Ketamin menginduksi efek anestesia dan amnesia dengan
mengganggu fungsi CNS dimana terjadi stimulasi berlebih di CNS atau menginduksi
keadaan "cataleptic". Ketamin menghambat resptor GABA dan memblok serotonin,
norepineprin dan dopamin di CNS. Sistem thalamoneocortical ditekan, sementara
sistem limbik diaktivasi. Ketamin menginduksi anestesi stadium I dan II tetapi tidak
pada stadium III. Pada hewan, menyebabkan hypothermic ringan sebagaimana suhu
tubuh menurun hingga 1,6°C setelah dosis terapi diberikan (Plumbs, 2013).
Efek ketamin pada pergerakan otot dideskripsikan sebagai variabel kerja
ketamin, tetapi secara umum ketamin tidak mengubah pergerakan otot atau
peningkatan kontraksi otot. Efek ketamin pada sistem kardiovaskuler menginduksi
peningkatan cardiac output, denyut jantung, rata-rata tekanan aorta, tekanan arteri
pulmonary dan tekanan vena sentral. Dibagian pheriperal tidak ada efek sampingnya.
Efek sekunder dari kardiovaskuler yakni peningkatan kerja saraf simpatetik. Hanya
pada area sistem saraf simpatik ketamin memiliki efek negatif berupa blokade saraf
(Plumbs, 2013).
Kontraindikasi : Ketamin memiliki kontraindikasi pada pasien penderita
yang sebelumnya memperlihatkan gejala reaksi hypersensitivitas pada hewan
maupun manusia. Penggunaan pada pasien yang signifikan penderita hypertensi,
heart failure, dan arterial aneurysms ini sangatlah berbahaya (Plumbs, 2013).
Ketamin bisa menyebabkan peningkatan tekanan CSF dan tidak boleh
digunakan pada kasus dengan peningkatan tekanan atau ketika terjadi head trauma.
Karena akan mengira terjadinya epileptogenic potential (Plumbs, 2013).
Interaksi Obat Ketamin : (Plumbs, 2013)
Chloramphenicol (parenteral) : akan memperpanjang durasi waktu anesthesia dari
ketamine.
CNS Depresan : natcotics, barbiturate, atau diazepam akan memperpanjang waktu
recovery setelah pemberian anesthesia ketamine.
Neuromuscular Blocker (succinylcholine dan tubocurarine) : akan menyebabkan
peningkatan atau memperpanjang depresi respirasi.

19
Halothane : ketika menggunakan bersama halothane, tingkat recovery ketamine akan
diperpanjang dan efek ketamine berupa cardiac stimulatory akan dihambat,
pendekatan monitoring dari status cardiac sangatlah direkomendasikan ketika
menggunakan ketamine dengan halothane.

3. Xylazine
Farmakologi : Xylazine adalah analoque clonidine. Xylazine berbentuk
Kristal yang tak berwarna, rasa pahit, larut dalam air, larutannya cukup stabil.
Sifatnya nonnarkotik dengan efek analgesic dan relaksasi otot. Xylazine digunakan
dalam bentuk hidroklorida xylazine dalam dunia kedokteran hewan, dalam bentuk
soluble yang tidak berbau dan memiliki pH 5,5. Xylazine mengandung 23,32 mg/ml
hidroklorida xylazine dalam larutan injeksi (Plumbs, 2013).
Farmakokinetik dan Farmakodinamik : Xylazine menimbulkan efek
relaksasi muskulus sentralis, selain itu juga mempunyai efek analgesic. Pada hewan
kecil efek sampingnya meliputi bradikardi dan penurunan cardiac output, vomit,
tremor, motilitas intestinal menurun, kontraksi uterus meningkat, keseimbangan
hormonal terganggu, produksi insulin dan ADH terhambat (Plumbs, 2013).
Xylazine merupakan salah satu golongan alfa-2 adrenoreceptor stimulant
atau alfa-2 adrenergic receptor agonis. Xylazine bekerja dengan mekanisme
penghambatan tonus simpatik karena xylazine mengaktivasi reseptor postsinaps alfa-
2 adrenoreceptor sehingga menyebabkan midriasis, relaksasi otot, penurunan denyut
jantung, penururnan peristaltic, relaksasi saluran cerna dan sedasi. Xylazine
menyebabkan relaksasi otot melalui penghambatan transmisi impuls intraneural pada
SSP (Plumbs, 2013).
Kontraindikasi : Xylazine mempunyai kontraindikasi pada hewan jika
diberikan epinephrine atau mempunayi ventricular arrhythmiasis yang aktif. Harus
diberikan peringatan yang sangat tinggi pada hewan yang menderita dengan
preexisting cardiac dysfunction, hypotension atau shock, respiratory dysfunction,
hepatic atau renal insufficiency yang hebat, preexisting seizure disorders, atau
debilitated yang hebat. Karena akan menginduksi parturasi yang premature, pada
umumnya tidak boleh digunakan pada trimester terakhir kebuntingan, biasanya pada
ternak (Plumbs, 2013).
Peringatan diberikan pada penggunaan xylazine dikonjugasikan dengan
tranquilizers lainnya. Dikarenakan obat tersebut akan menghambat motilitas

20
gastrointestinal, peringatan penggunaan pada pasien yang dilakukan treatment untuk
intestinal impactions (Plumbs, 2013).
Interaksi Obat Xylazine : (Plumbs, 2013)
Acepromazine : kombinasi penggunaan dari acepromazine dengan xylazine
umumnya aman, akan tetapi potensi adanya efek hypotensi dan kombinasi yang
digunakan akan menyebabkan komplikasi hemodynamic pada hewan yang rentan.
Epinephrine : penggunaan dengan atau tanpa halothane akan menginduksi
perkembangan dari ventricular arrhythmiasis.
Reserpine : pada kasus di kuda dimana perkembanagan colic-like akan menimbulkan
gejala klinis setelah pemberian reserpine dan xylazine pernah dilaporkan.

4. Amoxicilin
Indikasi : Amoxicillin merupakan antibiotik golongan Penicillin, bersifat
temporer, memiliki kekuatan sebagai bakterisidal dengan mekanisme kerja
menghambat sintesis dinding sel bakteri. Amoxicillin memiliki sifat spektrum yang
sama dengan sifat dari antibiotik ampicillin. Karena amoxicillin diserap dengan baik
secara per oral pada hewan non-ruminansia, kadar yang tinggi dalam serum lebih
cepat dicapai daripada ampicillin (Plumbs, 2013).
Farmakodinamik : Penicillin merupakan agen bakterisidal yang peka
terhadap jenis-jenis bakteri tertentu dengan bekerja menghambat sintesis
mukopeptida pada dinding sel bakteri yang mengakibatkan ketidakstabilan osmotik
dari dinding bakteri tersebut, sehingga terjadi kerusakan. Mekanisme kerja
antibiotika ini masih belum terjelaskan secara terperinci, tetapi antibiotika beta-
laktam mampu berikatan pada beberapa enzim (karkoksipeptidase, transpeptidase,
endopeptidase) yang terdapat dalam sitoplasma bakteri, yang mana enzim-enzim
tersebut terlibat dalam sintesis dinding sel bakteri. Sama seperti antibiotika beta-
laktam lainnnya, penicillin secara umum lebih efektif dalam menghambat
pertumbuhan bakteri (Plumbs, 2013).
Farmakokinetik : Amoxicillin truhidrat relatif stabil ketika bereaksi dengan
asam lambung. Setelah pemberian secara per oral, 74-92% kadarnya akan terserap
oleh manusia serta hewan-hewan monogastrium. Serum level amoxicillin akan
tercapai 1,5-3 kali lebih besar daripada dosis ampicillin yang diberikan pada dosis
ekivalen per oral (Plumbs, 2013).

21
Setelah diserap, volume distribusi amoxicillin sekitar 0,3 L/kg pada manusia
dan 0,2 L/kg pada anjing. Zat obat terdistribusi secara luas ke banyak jaringan,
meliputi hati, paru-paru, prostat (manusia), otot, empedu, pleura, dan cairan sinovial.
Amoxicillin akan masuk ke dalam cairan serebrospinal (CSF) ketika terjadi inflamasi
selaput meninges (meningitis) dengan konsentrasi 10-60% dalam serum. Zat obat
dengan konsentrasi sangat rendah dapat ditemukan di aqueous humor, dan dalam
level rendah ditemukan pada air mata, keringat, dan saliva. Amoxicillin dapat masuk
ke plasenta, tetapi relatif aman pada masa kebuntingan. 13% kadangnya berikatan
pada protein plasma di anjing. Kadar dalam susu pada hewan laktasi juga relatif kecil
(Plumbs, 2013).
Amoxicillin dieliminasi secara primer melalui sistem kerja ginjal, secara
prinsip oleh kinerja sekresi tubulus, tetapi pada beberapa obat termetabolisme
melalui proses hidrolisis menjadi penicilloic acid (inaktif) dan kemudian
dieksresikan melalui urin. Waktu paruh eliminasi amoxicillin pada anjing dan hewan
yakni 45-90 menit (Plumbs, 2013).
Kontraindikasi : Pada pasien yang mengalami hipersensitifitas terhadap
amoxicillin (riwayat kesehatan). Penggunaan amoxicillin secara terus-menerus dapat
menimbulkan hipersensitifitas pada antibiotik golongan beta-laktam seperti
cephalosporins, cefamycins, carbapenems (Plumbs, 2013).
Interaksi Obat Amoxicillin : Antimikrobial bakteriostatik (kloramfenikol,
eritromisin, dan makrolida lainnya, tetrasiklin, sulfonamid, dan lain-lain) : Karena
terdapat keterangan melalui uji secara in vitro, yakni sifat antagonis antara antibiotik
beta-laktam dan antibiotik bakteriostatik, oleh sebab tersebut pemberian secara
bersamaan tidak dianjurkan karena dapat menurunkan efektifitas obat (Plumbs,
2013).
Methotrexate (MTX) : Amoxicillin dapat menurunkan ekskresi MTX malalui ginjal
dan menyebabkan peningkatan level dalam serum sehingga berpotensi menimbulkan
efek toksisitas (Plumbs, 2013).
Probenecid : Secara komplit memblokade sekresi tubulus pada kebanyakan penisilin,
dengan cara meningkatkan level serum dan waktu paruh dalam serum (Plumbs,
2013).

5. Ketoprofen

22
Indikasi : Ketoprofen digunakan untuk menangani rasa sakit atau inflamasi
yang bersifat akut maupun kronis pada anjing dan pada hewan dapat meredakan rasa
sakit atau inflamasi yang bersifat akut (Plumbs, 2013).
Farmakodinamik : Ketoprofen memiliki mekanisme kerja farmakologis
yang mirip dengan aspirin. Zat tersebut memiliki potensi menginhibisi atau
menghambat cyclooxygenase (COX), dengan cara menghambat pelepasan
prostaglandin. Ketoprofen juga memiliki sifat penghambatan secara langsung pada
reseptor-reseptor prostaglandin. Ketoprofen mempunyai sifat anti-tromboksan yang
signifikan sehingga tidak dianjurkan penggunaan pada pre-operasi karena dapat
mengganggu fungsi dari platelet (Plumbs, 2013).
Farmakokinetik : Ketoprofen dapat diserap melalui pemberian secara per
oral. Pada anjing, kadar puncak dalam serum dicapai dalam 2-4 jam pasca pemberian.
Enterophatic recirculation akan mengalami peningkatan apabila obat diberikan
bersama makanan. Ketoprofen dapat meningkatkan bioavailability, tetapi juga dapat
membuat banyak variabilitas pada bioavailability daripada ketika diberikan pada
anjing yang dipuasakan. Volume yang terdistribusi pada anjing mencapai 1,2 L/kg
dan dengan waktu paruh eliminasi sekitar 6,5 jam. Durasi efek anti-inflamasi obat
ini yakni 24-36 jam (Plumbs, 2013).
Kontraindikasi : Ketoprofen adalah pada hewan yang memiliki
hipersensitifitas pada obat ini dan pada obat-obat sekelasnya, seperti meclofenamic
acid. Seperti obat golongan NSAID lainnya, tidak dianjurkan pemberian pada hewan
dengan keadaan haemorrhagik aktif dan luka ulseratif pada traktus digestivus.
Pemantauan harus dilakukan apabila diberikan pada hewan dengan penurunan fungsi
ginjal dan hati (Plumbs, 2013).
Ketoprofen relatif aman ketika diberikan sesuai anjuran pada anjing dan
hewan. Pemberian secara per oral dapat menimbulkan gejala muntah dan diare. Pada
studi eksperimen, tidak menunjukkan hasil yang signifikan terhadap toksisitas ginjal
dan saluran pencernaan hingga pemberian dosis mencapai lebih dari 10 kali. Karena
memiliki aktifitas anti-tromboksan dan dapat mengganggu dari fungsionalitas
platelet, maka tidak dianjurkan penggunaan pada pre-operasi (Plumbs, 2013).
Interaksi obat Ketoprofen : (Plumbs, 2013)
Aspirin : dapat meningkatkan resiko toksisitas gastrointestinal, seperti luka ulseratif,
haemorrhagi, muntah, dan diare).

23
Kortikosteroid : terapi bersamaan dengan zat kortikosteroid dapat meningkatkan
terjadinya luka ulseratif di gastrium, hindari penggunaan obat kortikosteroid apabila
sedang menggunakan ketoprofen.
Digoxin : NSAIDS dapat meningkatkan level serum.
Furosemide : NSAIDs dapat menekan efek saluretik dan diuretic.

Perawatan Pasca Operasi


Perawatan pasca operasi, diberikan amoxicilin secara peroral 2 kali sehari
dan ketoprofen 1 kali sehari selama lima hari. Kemudian pada daerah jahitan
dibersihkan dengan NS dan di berikan salep gentamycine sebanyak 1 kali dalam
sehari. Pada hari ke-6 tanggal 5 juni 2018 pasca operasi, terjadi hernia abdominalis
sehingga harus dilakukan reposisi ulang pada organ hernia dan membuka luka
operasi.

A B

Gambar 4.3 kondisi hernia anjing jintan (A), reposisi organ hernia dan
penjahitan ulang per lapisan abdomen (B)

Pada tanggal 5 juni 2018 dilakukan operasi reposisi organ hernia abdominalis
pada anjing jintan. Prosedur operasi yang dilakukan adalah membuka jahitan
perlapisan mulai dari kulit, subkutan, muskulus dan peritoneum. Selanjutnya setelah
luka berhasil dibuka, organ hernia disterilkan menggunakan normal saline dan
antibiotic amoxicillin, lalu direposisi kembali kedalam rongga peritoneum. Setelah

24
organ hernia berhasil dimasukan ke dalam rongga peritoneum, dilakukan insisi atau
pembuatan luka baru pada tiap lapisan mulai dari peritoneum hingga kulit, hal
tersebut bertujuan agar luka yang baru dapat menyatu dengan sempurna, karena
pasca operasi sebelumnya luka tersebut masih dalam tahap penyembuhan, sehingga
jaringannya belum kuat untuk menahan jahitan. Setelah itu dilakukan penjahitan
kembali tiap lapisan, lapisan muskulus dan peritoneum menggunakan pola menerus
sederhana menggunakan benang PGA 2-0 yang kualitas dan diameter benang lebih
besar, sehingga penutupan luka lebih kuat. Lapisan subkutan dijahit dengan pola
menerus sederhana menggunakan benang Chromic 2-0 dan kulit menggunakan
benang silk dengan pola terputus. Setelah selesai pengobatan pasca operasi
dilanjutkan kembali selama 7 hari dengan antibiotic amoxicillin dan ketoprofen.
Perawatan luka menggunakan normal saline dan salep gentamycine.
Pada hari ke-7 pada tanggal 12 juni 2018 luka jahitan sudah membaik,
sehingga diputuskan untuk melepas jahitan lapisan kulit. Tanggal 17 juni 2018 anjing
jintan dinyatakan sembuh dari lukanya dan sudah bias dirilis.

Gambar 4.4 hasil operasi kedua anjing jintan yang sudah terlihat membaik

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesembuhan Luka


Pada operasi ini dilakukan incisi, dan ini merupakan luka baru atau luka iris.
Luka iris adalah luka yang disebabkan oleh benda tajam, tepi luka berbatas jelas dan
halus, dan kerusakan yang ditimbulkan bersifat ringan. Luka ini paling sering
ditemukan pada luka operasi dengan harapan kesembuhan primer (Fossum,2007).
Kesembuhan luka dipengaruhi oleh faktor lokal dan faktor sistemik. Faktor lokal
25
meliputi adanya gangguan vaskularisasi, inervasi syaraf, trauma jaringan, hematome,
lama operasi, adanya infeksi sekunder, benda asing, dan aposisi luka yang kurang
akurat. Faktor umum meliputi adanya defisiensi pakan, dehidrasi, gangguan
keseimbangan hormon, adanya penyakit hati, ginjal dan jantung. Faktor sistemik
meliputi adanya defisiansi protein, vitamin A, C, B komplek, D, K, kegemukan,
faktor genetik, anemia, leukopenia, dan umur (Fossum, 2007).
Hewan tua berpengaruh pada kesembuhan luka, hal ini karena bersamaan
dengan penyakit tua dan juga kelemahan fisik. Kurangnya pemberian pakan dan
konsentrasi serum protein 1,5 – 2 g/dl juga akan menghambat proses kesembuhan
luka. Penyakit hati akan mempengaruhi pembekuan darah. Hipoadenokortism
menghambat kesembuhan luka karena akibat dari sirkulasi glukokortikoid. Uremia
yang kejadianya 5 hari pada kelukaan dapat mengganggu kesembuhan dengan
merubah sistem enzim, jalur biokemikal, dan metabolisme seluler. Kegemukan
adalah faktor resiko kejadian infeksi yang paling tinggi pada luka pasca operasi. Pada
luka yang basah akan memicu untuk mendapat sel dan pertahanan dari dalam, adanya
harapan untuk memper cepat kesembuhan luka. Perkembangan kesembuhan akibat
dari infeksi tergantung dari derajat trauma, material dari luar terlihat. Eksudat dari
luka akan berakibat jaringan terpisah dan memperlambat kesembuhan. Kesembuhan
tergantung dari supplay darah dimana darah membawa oksigen dan metabolik
substrat ke sel (Fossum, 2007).
Tahapan penyembuhan luka terdiri dari inflamasi, proliferasi sel epitel dan
proses remodeling. Fase inflamasi terjadi pada hari ke 0-5 setelah terjadi luka. Luka
trauma atau pembedahan mengakibatkan terjadinya kerusakan pada struktur jaringan
dan menyebabkan perdarahan.pada tahap awal darah akan mengisi jaringan yang
cedera dan kolagen yang ikut dalam darah menyebabkan degranulasi trombosit dan
mengaktifkan factor Hageman. Hal ini memicu system biologis lain seperti
pengaktifan komplemen kinin, kaskade pembekuan dan plasmin. Hal ini
menyebabkan permeabilitas pembulu darah disekitar luka meningkat dan
menyebabkan edema, sehingga timbul nyeri. Hal tersebut akan direspon oleh leukosit
PMN untuk menuju luka agar melakukan fagositosis pada jaringan mati dan bakteri.
Kejadian itu sempat terjadi pada anjing kami pasca operasi. Selanjutnya fase
proliferasi
Fase proliferasi terjadi pada hari ke 3-14. Fase ini sebagian besar adalah
pembentukan serat fibrin yang kemudian membentuk kolagen dan terjadi perbaikan

26
luka. Pada fase ini tunas kapiler darah mulai tumbuh sehingga mampu memasok
nutrisi ke jaringan yang baru terbentuk. Fase terakhir yaitu fase remodeling atau
pematangan terjadi pada hari ke 7-30 hari. Fase ini sudah terbentuk matrik selular
sehingga dimualai reorgansasi. Matriks selular akan menyebabkan remodeling
kolagen sehingga terbentuk epithelial yang menjadi awal pembentukan jaringan
terluar.

27
BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Gastrostomy merupakan tindakan pembedahan untuk membuka lumen lambung
dengan cara melakukan incisi pada dinding lambung pada daerah curvatura mayor dari
gastrium sehingga terlihat lumennya. Gastrostomy dilakukan untuk mengetahui
permasalahan yang ada di dalam lambung, baik karena adanya benda asing, tumor lambung,
atau gangguan lainnya yang terdapat di dalam lambung. Incisi lambung dilakukan pada sisi
cuvatora mayor dan minor dimana pada sisitersebut hanya terdapat sedikit pembuluh darah.
Setelah dilakukan gastrostomy, maka dilakukan penjahitan pada hasil incisi
lambung, jahitan pada lapisan mkosa dan submukosa digunakan jahitan simple continous
menggunakan benang catgut chromic, sedangkan lapisan serosa menggunakan jahitan
cushing menggunakan benang catgut chromic. Obat-obatan yang diberikan pada post
operasi yaitu Amoxicillin sebagai antibiotik, ketoprofen sebagai analgesik, dan gentamicin
salep antibiotik topical.

5.2 Saran
Perlu diperhatikan dalam pemilihan benang, tehnik penjahitan, dan penggunaan obat
terapi untuk mempercepat proses penyembuhan luka pasca operasi gastrostomy pada anjing.

28
DAFTAR PUSTAKA
Archibald, J. and Blakely, C. L. 1974. Healing and repair, dalam K. Mayer (ed.), Canine
Surgery. 4 th. ed., American Veterinary Pub., Easton, Illionis: 189-197.
Armistead, W. W. 1975. Healing and Repair, dalam K. Mayer, Lacroix. J. V dan Hosk, H.
P. ( Ed). Canine surgery, American Veterinary Pub. Inc. Easton, Illionis: 189-190.
Bojrab.M.J . 1998. Current Techniques in Small Animal Surgery. Lippincott Williams &
Wilkins; 4 Sub edition (January 15, 1998)
Dellman HD, Brown EM. 1992. Buku Teks Histologi Veteriner. Ed ke-3. R. Hartono,
penerjemah. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Fossum, T.W. 2002. Small Animal Surgery Second Edition. C.V. Mosby. St Louis
Fossum, Theresa W. 2013. Small Animal Surgery. 4th Edition. Missouri: Elsevier Mosby
Inc.
Fossum, Theresa. 2007. Small Animal Surgery 3rd Edition. Mosby Elsevier: Missouri, USA.
Gomez, J., V. 2006. The Royal Canin Cut-out & Keep guide Gastrostomy tube
placement in dogs and cats. Watham Focus .Vol .16 No 3. Pp 37-40.
Nusdianto, T. 2006. Penyakit Sistem Digesti Veteriner II. Surabaya : UNAIR.
Plumb’s D.C. 2003. Veterinary Drug Handbook. Blackwell Publishing.United States of
America.
Plumbs, Donald C. 2013. Veterinary Drug Handbook Sixth Edition. Blackwell Publishing.
Rasmussen, L. M. (2003). Stomach, In: Slatter, D. Text book of Small Animal Surgery, 3rd
ed., Publi., W. B. Saunders, Philadelphia, Pp.616.
Sudisma, I,. G,. N. 2006. Ilmu Bedah Veteriner Dan Teknik Operasi. Pelawa Sari: Denpasar.
Tobias, Karen M. 2010. Manual of Small Animal Soft Tissue Surgery. 1st Edition. Iowa:
Wiley-Blackwell Pub.
Tortora, G. J., & Derrickson, B. (2009). Principles of Anatomy & Physiology. USA: John
Wiley & Sons. IncPrinciples of Anatomy & Physiology. USA: John Wiley & Sons.
Inc

29
LAMPIRAN
Lampiran 1. Tabel Kontrol Post Operasi

Tanggal Pemeriksaan Terapi

31/05/2018 Suhu : 38,8°C Mukosa : slight T/ Amoxicillin


HR :120 kali/ rose PO s.2.d.d
menit Appetice : +++ Ketoprofen PO
Nafas : 44 kali/ Defekasi : ++ s.1.d.d
menit Urinasi : ++ Pakan + minum
CRT : < 2 detik Vomit : +++
Turgor : < 2 detik

01/06/2018 Suhu : 39,0°C Mukosa : rose T/ Amoxicillin


HR :112 kali/ Appetice : +++ PO s.2.d.d
menit Defekasi : ++ Ketoprofen PO
Nafas : 48 kali/ Urinasi : ++ s.1.d.d
menit Vomit :- Pakan + minum
CRT : < 2 detik
Turgor : < 2 detik

02/06/2018 Suhu : 38,1°C Mukosa : rose T/ Amoxicillin


HR :124 kali/ Appetice : +++ PO s.2.d.d
menit Defekasi : ++ Ketoprofen PO
Nafas : 60 kali/ Urinasi : ++ s.1.d.d
menit Vomit :- Gentamicyn salep
CRT : < 2 detik Cuci luka + ganti
Turgor : < 2 detik perban
Pakan + minum
Kondisi jahitan
oke
03/06/2018 Suhu : 38,3°C Mukosa : rose T/ Amoxicillin
HR :120 kali/ Appetice : +++ PO s.2.d.d
menit Defekasi : ++ Ketoprofen PO
Urinasi : ++ s.1.d.d

30
Nafas : 56 kali/ Vomit :- Pakan + minum
menit
CRT : < 2 detik
Turgor : < 2 detik

04/06/2018 Suhu : 38,2°C Mukosa : rose T/ Amoxicillin


HR :116 kali/ Appetice : +++ PO s.2.d.d
menit Defekasi : ++ Ketoprofen PO
Nafas : 52 kali/ Urinasi : ++ s.1.d.d
menit Vomit :- Pakan + minum
CRT : < 2 detik
Turgor : < 2 detik

05/06/2018 Suhu : 38,1°C Mukosa : rose Gentamicyn salep


HR :112 kali/ Appetice : +++ Cuci luka + ganti
menit Defekasi : ++ perban
Nafas : 56 kali/ Urinasi : ++ Pakan + minum
menit Vomit :- Kondisi jahitan
CRT : < 2 detik terbuka sehingga
Turgor : < 2 detik dilakukan
penutupan ulang
06/06/2018 Suhu : 38,8°C Mukosa : rose T/ Amoxicillin
HR :132 kali/ Appetice : +++ PO s.2.d.d
menit Defekasi : ++ Ketoprofen PO
Nafas : 60 kali/ Urinasi : ++ s.1.d.d
menit Vomit :- Pakan + minum
CRT : < 2 detik
Turgor : < 2 detik

07/06/2018 Suhu : 38°C Mukosa : pink T/ Amoxicillin


HR :120 kali/ Appetice : ++ PO s.2.d.d
menit Defekasi :- Ketoprofen PO
Urinasi : ++ s.1.d.d

31
Nafas : 60 kali/ Vomit :- Gentamycin salep
menit Cuci luka + ganti
CRT : < 2 detik perban
Turgor : < 2 detik Pakan + minum
Kondisi jahitan
oke
08/06/2018 Suhu : 38°C Mukosa : rose T/ Amoxicillin
HR :130 kali/ Appetice : +++ PO s.2.d.d
menit Defekasi : ++ Ketoprofen PO
Nafas : 56 kali/ Urinasi : ++ s.1.d.d
menit Vomit :- Pakan + minum
CRT : < 2 detik
Turgor : < 2 detik

09/06/2018 Suhu : 38°C Mukosa : rose T/ Amoxicillin


HR :130 kali/ Appetice : +++ PO s.2.d.d
menit Defekasi : ++ Ketoprofen PO
Nafas : 60 kali/ Urinasi : ++ s.1.d.d
menit Vomit :- Pakan + minum
CRT : < 2 detik
Turgor : < 2 detik

10/06/2018 Suhu : 38,2°C Mukosa : rose T/ Amoxicillin


HR :124 kali/ Appetice : +++ PO s.2.d.d
menit Defekasi : ++ Ketoprofen PO
Nafas : 52 kali/ Urinasi : ++ s.1.d.d
menit Vomit :- Gentamycin salep
CRT : < 2 detik Cuci luka + ganti
Turgor : < 2 detik perban
Pakan + minum
Kondisi jahitan
oke, sudah mulai
menutup

32
11/06/2018 Suhu : 38,2°C Mukosa : rose Pakan + minum
HR :124 kali/ Appetice : +++
menit Defekasi : ++
Nafas : 60 kali/ Urinasi : ++
menit Vomit :-
CRT : < 2 detik
Turgor : < 2 detik

12/06/2018 Suhu : 38°C Mukosa : rose Pakan + minum


HR :132 kali/ Appetice : +++
menit Defekasi : ++
Nafas : 60 kali/ Urinasi : ++
menit Vomit :-
CRT : < 2 detik
Turgor : < 2 detik

13/06/2018 Suhu : 38°C Mukosa : rose Pakan + minum


HR :124 kali/ Appetice : +++ Lepas jahitan
menit Defekasi : ++ Bersih luka
Nafas : 60 kali/ Urinasi : ++ Gentamycin salep
menit Vomit :- Kondisi luka
CRT : < 2 detik sudah menutup
Turgor : < 2 detik dan kering

33