Anda di halaman 1dari 4

Kelompok 6 AMDAL

- Hikmatunisa Afir Riadi (120342422501)


- Pramesti Dwi Rumana (120342422488)
- Wahidah Fitria N.M
(120342400171)
RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN
A. Definisi Kegiatan Pemantauan Lingkungan
Pemantauan merupakan bagian yang sangat penting dalam pengelolaan lingkungan. Amdal tanpa
diikuti oleh aktivitas pemantauan tidak akan berarti. hasil pemantauan merupakan bahan untuk melakukan
evaluasi atas kebijaksanaan yang telah diambil berdasarkan laporan Andal. Pemantauan dampak lingkungan
adalah pengulangan pengukuran pada komponan atau parameter lingkungan untuk mengetahui adanya
perubahan lingkungan karena adanya pengaruh dari aktivitas proyek (Suratmo, 1990).
Pelaksanaan pemantauan lingkungan dibedakan menjadi 4 kelompok komponen lingkungan yaitu (1)
pemantauan di bidang fisik dan kimia, (2) pemantauan di bidang biologis, (3) pemantauan di bidang sosialekonomi, dan (4) pemantauan di bidang sosial-budaya. Pemantauan fisik dan kimia adalah pengulangan
pengukuran pada komponen fisik dan kimia. Pemantauan di bidang biologis merupakan pengulangan
pengukuran dari reaksi biota terhadap perubahan lingkungan hidup. Pemantauan bidang sosial ekonomi dan
sosial-budaya cenderung dikaitkan dengan reaksi manusia terhadap perubahan lingkungan (Suratmo, 1990).
B. Kegunaan Pemantauan Lingkungan
Pemantauan lingkungan awalnya dianggap berfungsi sebagai pemantauan dampak dari suatu proyek
atau suatu aktivitas manusia. Apabila program pemantauan dapat disusun dengan baik maka manfaat dari
pemantauan lingkungan bukan hanya untuk mengetahui dampak proyek saja namun masih ada kwgunaan
lain yang didapatkan. Duinker (1983) menyebutkan bahwa manfaat dari pemantauan lingkungan lingkungan
yaitu (1) menguji pendugaan dampak sehingga dampaknya lebih diketahui dan mengingkatkan proses
pendugaan di masa yang akan datang, (2) menguji efektivitas dari aktivitas atau teknologi yang digunakan
untuk mengendalikan dampak negatif, (3) mendapatkan peringatan sedini mungkin menganai perubahan
lingkungan yang tidak dikehandaki sehingga perbaikan suatu tindakan dapat disempurnakan, dan (4)
mengumpulkan bukti untuk menunjang tuntutan ganti rugi.
Buku panduan yang dikeluarkan oleh FEARO (1985), tujuan dari pemantauan lingkungan yaitu (1)
mengetahui efektivitas usaha perindungan lingkungan termasuk usaha penekanan dampak negatif, (2)
mengembangkan kemampuan dalam pendugaan perubahan lingkungan untuk proyek yang akan datang, dan
(3) meningkatkan pengelolaan dari proyek dan program lain yang ada hubungannya agar perlindungan
lingkungan dapat lebih baik. Berdasarkan kedua pernyataan tersebut dapat dirumuskan manfaat pemantauan
lingkungan sebagai berikut: (1) menjelaskan suatu keadaan kritis atau perubahan masalah dalam
kebijaksanaan lingkungan yang diperlukan untuk masa yang akan datang, (2) membantu pengelolaan
lingkungan dengan memberikan masukan yang dapat dipakai untuk menilai sejauh mana keberhasilan atau
kegagalan dari aktivitas yang lalu dalam kebijaksanaan dan programnya, dan (3) menguji produktivitas
batasan dari pemerintah (Suratmo, 1990).
Konsep utama yang sering disampaikan sebagai manfaat dari pemantauan lingkungan adalah untuk
mengetahui perubahan lingkungan yang terjadi akibat proyek. Konsekuensi dari tujuan ini adalah untuk
mengetahui perubahan lingkungan (dampak). maka harus diketahui keadaan lingkungan sebelum adanya
proyek dan sesudah adanya proyek sehingga pemantauan tidak hanya dilakukan setelah proyek berjalan
tetapi juga harus dilakukan pada keadaan sebelum proyek dibangun. Apabila data pemantauan sebelum
proyek dibangun tidak tersedia maka hasil pemantauan sesudah proyek berjalan hanya dapat menunjukkan
keadaan lingkungan pada waktu pemantauan saja (Suratmo, 1990).
Kesalahan yang sering terjadi adalah dilakukannya pemantauan hanya sewaktu proyek sedang
dibangun atau sesudah berjalan. Pemantauan merupakan aktivitas yang dilakukan mulai dari Amdal belum
selesai sampai proyek dibangun, berjalan, dan situtup atau selesai. Dengan pertimbangan tersebut program
pemantauan dampak lingkungan harus dilakukan cukup detail dalam studi Andal untuk proyek yang akan
menimbuklan dampak.

C. Tipe Pemantauan Lingkungan


Pemantauan lingkungan dibagi menjadi 8 tipe (Carley, 1984 dalam Suratmo 2004), yaitu:
1. Inspeksi
Inspeksi merupakan bentuk pemantauan yang sangat sederhana dan merupakan pengawasan teratur
pada tingkat aktivitas proyek yang diusulkan. Contohnya, inspeksi mengenai prosedur yang telah
dilaksanakan, atau inspeksi perubahan lingkungan yang terkait dengan mutu tidak terjadi, dll.
2. Pemantauan perizinan
Pemantauan perizinan dilakukan secara periodik berdasarkan fase pembangunan. Misalnya perizinan
eksplorasi, perizinan pembangunan, izin pengendalian pencemaran, izin membuang bahan pencemar
kesuatu area (sungai, laut, sumur), dll.
3. Pemantauan percobaan lingkungan
Pemantauan dilakukan pada suatu percobaan dengan menggunakan hipotesis dari pendugaan suatu
perubahan lingkungan dengan memberikan perlakuan. Tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan
agar pendugaan dapat lebih baik dan dapat melakukan evaluasi suatu proyek dengan tepat.
4. Pemantauan kualitas ambien lingkungan
Pemantauan ini ditujukan kepada perubahan dari ambien lingkungan yang pengukurannya dilakukan
pada fenomena ekologi khusus yang terkena dampak langsung maupun tidak langsung baik yang
disebabkan oleh aktivitas manusia atau proyek maupun adanya perubahan dari alam. Pemantauan ini
berguna dalam menguji pendugaan dampak dan menguji usaha penekanan dari dampak negatif.
5. Pemantauan evaluasi program
Pemantauan ini biasanya dilakukan oleh pemerintah atau suatu tim untuk menilai atau mengukur tingkat
efisiensi dan efektivitas dari suatu kebijaksanaan atau program. Pemantauan ini melihat ratio masukan
dan keluaran atau kepuasan dalam mencapai sasaran dan tujuan.
6. Pemantauan evaluasi proyek
Pemantauan evaluasi proyek uga dilakukan oleh pemerintah atau suatu tim terhadap proyek yang
biasanya dibiayai dana bantuan internasional. Penilaian keberhasilan atau kegagalan dari proyek
bantuan ini tidak hanya dilihat dari untung dan rugi proyej tetapi juga menyangkut analisis sosial dan
lingkungan.
7. Pemantauan perjanjian atau kontrak dalam bidang sosial-ekonomi
Perjanjian dan kontrak disini merupakan perjanjian yang diadakan antara pemerintah dengan suatu
industri. Pemantauan ini lebih memfokuskan pada penampilan dari industri dalam manfaat dari adanya
industri tersebut, perburuhan, manfaat kursus, keluaran dalam bidang sosial dan budaya serta konsultasi
dengan masyarakat.
8. Pemantauan pengelolaan dampak dari proyek
Pemantauan yang menyangkut perkembangan dari proyek dan dampak yang ditimbulkan pada semua
aspek yang meliputi, aspek fisik-kimia, biologis, sosial-ekonomi, dan sosial-budaya. Pemantauan ini
sangat berguna dalam menilai ketepatan pendugaan dampak yang telah dilakukan dan hasil pemantauan
juga digunakan untuk kepentingan pengelolaan dampak.
9. Pemantauan dampak kumulatif
Pemantauan ini tidak mempermasalahkan dampak proyek atau dampak langsung/tidak langsung, dan
ada tidaknya hubungan dengan pemerinyah. Pemantauan dampak kumulatif ini menyangkut suatu
daerah yang cukup luas dimana pembangunan industri atau pertanian dan/atau perubahan sosial-budaya
berubah dengan cepat. Dalam daerah yang luas tersebut, terjadi penampalan dampak dari berbagai hal
mulai dari kebijaksanaan tertentu, program, proyek pembangunan dan lain sebagainya. Pemantauan ini
biasanya dilakukan oleh pemerintah untuk mengetahui gambaran keseluruhan daerah, menyemputnakan
koordinasi dan organisasi untuk keperluan strategi perencanaan dan mengendalikan akibat adanya
kebijaksanaan yang berbeda dari berbagai instansi. Jadi, pemantauan kumulatif dikhususkan pada
masalah yang kritis yang menyangkut masyarakat setempat.
D. Prosedur Pemantauan Dampak Lingkungan
Prosedur pendekatan ilmiah merupakan hal yang sangat penting dan harus diikuti dalam
melaksanakan pemantauan dampak lingkungan dari suatu proyek atau suatu aktivitas manusia. Dasar dari
pemantauan adalah mengukur dampak yang telah diduga atau perubahan lingkungan yang telah diduga
dalam Andal. Hasil pemantauan pendugaan dampak lingkungan harus menjawab:
a. Apakah dampak yang diduga dalam Andal betul terjadi?

b. Kalau benar terjadi apakah besarnya dampak sesuai dengan pendugaan?


Untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut, maka harus mengikuti prosedur (urutan-urutan) ilmiah berikut
ini:
a. Dengan sudah adanya pendugaan dampak pada suatu komponen lingkungan, maka dapat disusun
suatu rumusan masalahnya.
b. Berdasarkan rumusan masalah kemudian disusun hipotesis-hipotesis.
c. Pahami keadaan variasi-variasi yang ada di alam untuk menetapkan waktu dan tempat pengukuran
indikator ekologi yang akan menunjukkan adanya perubahan lingkungan.
d. Susun desain pengambilan contoh sehingga dapat memenuhi syarat untuk analisis statistik dan dapat
digunakan untuk uji hipotesis.
Tidak semua komponen lingkungan dapat dipantau dengan prosedur tersebut karena tidak semua
dampak lingkungan dapat diuji dengan prosedur tersebut, sehingga prosedur lain banyak diperkenalkan saat
ini, khususnya untuk aspek sosial, misalnya kuisioner (menyusun suatu daftar pertanyaan yang kemudian
akan dijawab oleh responden, metode ini termasuk studi langsung. Tidak semua komponen harus dipantau
secara intensif dan komprehensif seperti prosedur tersebut. Pada umumnya komponen yang dikenai
pemantauan yang intensif adalah komponen yang:
a. Tipe dan besar dampaknya dianggap sangat penting.
b. dampak yang tidak diketahui secara jelas sejauh mana dampaknya akan terjadi.
c. Perubahan lingkungan atau dampak dari suatu aktivitas masih merupakan suatu percobaan (Suratmo,
2004).
Prioritas komponen atau dampak yang harus dipantau biasanya diletakkan pada dampak yang
dianggap paling penting bagi pengambilan Keputusan atau instansi yang bertanggung jawab. oleh karena itu
dianjurkan menggunakan biomonitoring system untuk mengukur kualitas lingkungan alam dan untuk
digunakan dalam rangka program pengendalian kualitas lingkungan oleh industri yaitu dengan meletakkan
alat pengukur (sensor) di tempat-tempat yang kritis dalam sistem alam yang bersangkutan (Suratmo, 2004).
E. Ruang Lingkup Dan Pelaksanaan Pemantauan Lingkungan
1. Ruang Lingkup RPL
Ruang lingkup RPL meliputi beberapa hal, yaitu sebagai berikut:
a. Jenis Dampak Penting
Uraian tentang jenis dampak penting dan dampak lainnya yang akan dipantau, misalnya berupa
pencemaran udara oleh SO4 dan NO3 akibat penggunaan bahan bakar minyak berkadar sulfur tinggi.
b. Faktor Lingkungan yang dipantau
Uraian tentang faktor lingkungan yang dipantau, yang dapat dilakukan terhadap sumber dampak
lingkungan akibat yang akan ditimbulkan oleh dampak tersebut terhadap lingkungan. Misalnya,
pencemaran oleh SO4 dan NO3 , pemantauan sumber dampaknya dapat dilakukan terhadap
kandungan sulfur dan nitrogen dalam bahan bakar, sedangkan pemantauan akibat dapat dilakukan
dengan cara mengukur kadar keasaman air dalam badan perairan sebagai akibat pencemaran gas
tersebut.
c. Tolok Ukur Dampak
Uraian tentang tolok ukur yang akan dipantau, dapat meliputi aspek biogeofisik aspek sosialekonomi dan sosial-budaya.
d. Lokasi
Uraian tentang lokasi yang tepat untuk memantau dampak dengan melampirkan peta berskala
memadai yang memuat lokasi dan tapak pemantauan.
e. Periode Pemantauan
Uraian tentang kekerapan waktu pemantauan yang menyangkut saat pemantauan dilaksanakan dan
beberapa lama waktu yang diperlukan untuk memantau suatu jenis dampak (Suratmo, 2004).
2. Pelaksanaan Pemantauan Lingkungan
a. Uraian tentang kelembagaan yang akan mengurus dan berkepentingan dalam pelaksanaan
pemantauan lingkungan. Pihak yang melakukan pemantauan lingkungan harus sesuai dengan
wewenang dan tanggung jawab.
b. Uraian tentang kelembagaan yang mengurus dan berkepentingan dalam mendayagunakan hasil
pemantauan lingkungan yang secara implisit melakukan juga pengawasan terhadap pelaksanaan

pemantauan lingkungan. Pendayagunaan hasil pemantauan dapat diartikan memanfaat umpan balik
untuk melakukan tindakan pengendalian terhadap dampak negatif dan pengembangan dampak positif
untuk RKL, sedangkan hasil pelaksanaan pemantauan lingkungan berarti memanfaatkan umpan balik
untuk menyempurnakan sistem pemantauan lingkungan (Suratmo, 2004).
Daftar Rujukan
Suratmo, F Gunawan. 1990. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Yogyakarta: Gadjahmada University
Press.
Suratmo, F Gunawan. 2004. Analisis mengenai Dampak Lingkungan, cetakan kesepuluh (revisi).
Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
FEARO. 1985.