Anda di halaman 1dari 25
Pembina Olimpiade Fisika davitsipayung.com 2. Vektor 2.1 Representasi grafis sebuah vektor Berdasarkan nilai dan arah,

Pembina Olimpiade Fisika

davitsipayung.com

2. Vektor

2.1 Representasi grafis sebuah vektor

Berdasarkan nilai dan arah, besaran dibagi menjadi dua bagian yaitu besaran skalar dan besaran vektor. Besaran skalar adalah besaran yang memiliki nilai dan tidak memiliki arah, seperti panjang, massa, waktu, temperatur, frekuensi, daya, dan usaha. Besaran vektor adalah besaran yang memiliki nilai dan arah, seperti perpindahan, kecepatan, percepatan, gaya, momen gaya, momentum, luas, impuls dan berat. Vektor adalah obyek geometri yang memiliki besar dan arah. Vektor sangat bermanfaat untuk menjelaskan besaran fisika yang memiliki besar dan arah. Operasi besaran skalar berbeda dengan dengan operasi vektor. Kita akan mempelajari vektor menggunakan pendekatan grafis dan pendekatan analitis. Secara grafis, sebuah vektor disimbolkan oleh sebuah anak panah, seperti Gambar 2.1. Panjang anak panah menunjukkan besar vektor dan mata panah menunjukkan arah vektor. Titik A disebut titik asal vektor atau titik tangkap vektor, dan titik B disebut titik arah vektor atau ujung vektor. Ada perbedaan cara penulisan besaran skalar dan besaran vektor. Besaran vektor dituliskan dengan huruf

dan besaran vektor. Besaran vektor dituliskan dengan huruf cetak tebal ( bold ) yaitu, F atau

cetak tebal (bold ) yaitu, F atau menuliskan anak panah di atas huruf, yaitu F . Nilai vektor

anak panah di atas huruf, yaitu F . Nilai vektor diberikan oleh F atau | F
anak panah di atas huruf, yaitu F . Nilai vektor diberikan oleh F atau | F

diberikan oleh F atau |F| . Vektor Gambar 2.1 juga dapat dituliskan dalam bentuk AB .

F
F

A

B

Gambar 2.1 : Simbol sebuah vektor

Kalau sebuah anak panah mendekati pengamat, maka pengamat akan melihat ujung anak panah sebagai tanda titik. Karena itu, simbol vektor mendekati pengamat atau vektor keluar bidang adalah

. Kalau sebuah anak panah mejauhi pengamat, maka pengamat akan melihat ujung anak panah sebagai tanda silang. Karena itu, simbol vektor me njauhi pengamat atau vektor masuk bidang adalah

vektor me njauhi pengamat atau vektor masuk bidang adalah  . 2.2 Representasi analitis sebuah vektor

.

2.2 Representasi analitis sebuah vektor

Sebuah vektor dalam sistem koordinat kartesian dinyatakan dalam komponen-komponenya disebut representasi analitis vektor. Skalar hanya memiliki satu komponen, sedangkan vektor memiliki tiga komponen. Vektor digunakan untuk menentukan arah gerak partikel dalam garis (satu dimensi), bidang (dua dimensi) dan ruang (tiga dimensi). Sebuah vektor direpresentasikan secara analitis menggunakan notasi vektor satuan.

2.2.1 Komponen-komponen sebuah vektor dalam dua dimensi

2.2.1 Komponen-komponen sebuah vektor dalam dua dimensi Sebuah vektor A terletak pada bidang xy seperti pada
2.2.1 Komponen-komponen sebuah vektor dalam dua dimensi Sebuah vektor A terletak pada bidang xy seperti pada

Sebuah vektor A terletak pada bidang xy seperti pada Gambar. 2.2. Vektor A membentuk sudut

Ax pada sumbu x dan

2.2. Vektor A membentuk sudut A x pada sumbu x dan terhadap sumbu x positif. Vektor

terhadap sumbu x positif. Vektor A dapat diuraikan menjadi komponen

θ

komponen Ay pada sumbu y.

Pembina Olimpiade Fisika davitsipayung.com A y y A θ A x x y A θ

Pembina Olimpiade Fisika

davitsipayung.com

Ay

y

A θ
A
θ

Ax

x

y

A θ
A
θ

Ay

Ax

x

davitsipayung.com A y y A θ A x x y A θ A y A x

Gambar 2.2: Komponen-komponen vektor A

dalam dua dimensi

x Gambar 2.2: Komponen-komponen vektor A dalam dua dimensi Komponen-komponen vektor A diperoleh dengan menggunakan

Komponen-komponen vektor A diperoleh dengan menggunakan aturan trigonometri.

cos

A

x

A

A

cos

(2.1)

A

x

 

sin

A

y

A

A

sin

(2.2)

A

y

Besar vektor diperoleh menggunakan teorema Phytagoras.

A

Ax  Ay 2 2
Ax  Ay
2
2
 

(2.3)

Arah vektor A terhadap sumbu x positif :

Arah vektor A terhadap sumbu x positif :

tan

A

A

y

x

(2.4)

Contoh 2.1 :

Tentukan komponen vektor kecepatan v1 dan v2 dalam arah sumbu x dan sumbu y ! Besar kecepatan

dan v 2 dalam arah sumbu x dan sumbu y ! Besar kecepatan v 1 dan
dan v 2 dalam arah sumbu x dan sumbu y ! Besar kecepatan v 1 dan
dan v 2 dalam arah sumbu x dan sumbu y ! Besar kecepatan v 1 dan
dan v 2 dalam arah sumbu x dan sumbu y ! Besar kecepatan v 1 dan

v1 dan v2 berturut-turut adalah 20 m/s dan 10 m/s.

v2 y v1 37 0 30 0
v2
y
v1
37 0
30 0

x

Pembahasan :

Komponen vektor kecepatan v1 :

0 30 0 x Pembahasan : Komponen vektor kecepatan v 1 : v v 1,x 1,y

v

v

1,x

1,y

0

v cos30 20

1

0

v sin30 20

1

1 2 1 2 m 3 s m 10 s 10 m s
1
2
1 2 m 3 s m 10 s 10 m s
v sin30  20  1 1 2 1 2 m 3 s m 10 s

Komponen vektor kecepatan v 2 :

2 1 2 m 3 s m 10 s 10 m s Komponen vektor kecepatan v

3 m s

v

2,x

0

v sin37 10

2

3

5

2 1 2 m 3 s m 10 s 10 m s Komponen vektor kecepatan v

s

Pembina Olimpiade Fisika davitsipayung.com v cos37 10 0 5 4 m s 8m s v
Pembina Olimpiade Fisika
davitsipayung.com
v cos37 10
0
5 4 m s 8m s
v 2,y
2

2.2.2 Komponen-konponen sebuah vektor dalam tiga dimensi

2 2.2.2 Komponen-konponen sebuah vektor dalam tiga dimensi Sebuah vektor A terletak dalam ruang kartesian seperti
2 2.2.2 Komponen-konponen sebuah vektor dalam tiga dimensi Sebuah vektor A terletak dalam ruang kartesian seperti

Sebuah vektor A terletak dalam ruang kartesian seperti pada Gambar 2.3. Vektor A membentuk sudut α terhadap sumbu x positif, sudut β terhadap y positif, dan sudut γ terhadap sumbu z positif .

y positif, dan sudut γ terhadap sumbu z positif . Vektor A dapat diuraikan menjadi komponen

Vektor A dapat diuraikan menjadi komponen Ax pada sumbu x, komponen Ay pada sumbu y , dan

komponen

Az pada sumbu z .

z Az A    Ay Ax x Gambar 2.3: Komponen-komponen vektor A dalam
z
Az
A
 
Ay
Ax
x
Gambar 2.3: Komponen-komponen vektor A dalam tiga
Ay Ax x Gambar 2.3: Komponen-komponen vektor A dalam tiga Komponen-komponen vektor A : cos cos

Komponen-komponen vektor A :

cos

cos

cos

A

x

A

A

y

A

A

z

A

A

x

A

y

A

A

cos

cos

A

z

A

cos

A x A y   A A cos cos    A z 

Besar vektor A :

A

A

222 A A

x

y

z

vektor A : A  A 222  A  A x y z Arah vektor

Arah vektor A terhadap sumbu x positif :

tan

A  A y 2 z 2 A x
A
A
y 2
z 2
A
x
sumbu x positif : tan   A  A y 2 z 2 A x

Arah vektor A terhadap sumbu y positif :

tan

A  A x 2 z 2 A y
A
A
x 2
z 2
A
y
sumbu y positif : tan   A  A x 2 z 2 A y

Arah vektor A terhadap sumbu y positif :

y

(2.5)

(2.6)

(2.7)

(2.8)

(2.9)

(2.10)

tan   Pembina Olimpiade Fisika davitsipayung.com A  A x 2 y 2 A

tan

Pembina Olimpiade Fisika

davitsipayung.com

A  A x 2 y 2 A z
A
A
x 2
y 2
A
z

(2.11)

Sudut α, β dan γ disebut sudut cosinus arah. Hubungan antara α, β dan γ :

cos cos cos

2

2

2

1

2.2.3 Vektor satuan

(2.12)

Vektor satuan adalah vektor bernilai satu satuan. Simbol vektor satuan adalah sebuah topi (^).

satu satuan. Simbol vektor satuan adalah sebuah topi (^). Vektor satuan A adalah A ˆ besarnya.

Vektor satuan A adalah Aˆ besarnya.

ˆ A A= A
ˆ
A
A= A
(^). Vektor satuan A adalah A ˆ besarnya. ˆ A A= A (dibaca A topi). Vektor
(^). Vektor satuan A adalah A ˆ besarnya. ˆ A A= A (dibaca A topi). Vektor

(dibaca A topi). Vektor satuan A adalah perbandingan vektor A dengan

(2.13)

Vektor satuan tidak memiliki satuan.

Vektor satuan Aˆ

menunjukkan arah vektor

memiliki satuan. Vektor satuan A ˆ menunjukkan arah vektor A . Koordinat kartesian memiliki tiga vektor

A . Koordinat

kartesian memiliki tiga vektor satuan iˆ, ˆjdankˆ saling tegak lurus.

iˆ atau xˆ : vektor satuan searah sumbu x

ˆj atau yˆ : vektor satuan searah sumbu y

kˆ atau zˆ : vektor satuan searah sumbu z

z

Az

Ay

y

A iˆ θ
A
θ

Ay

ˆj

Ax

A i k j x Ax i ˆ Az k ˆ Ay ˆ j
A
i
k j
x
Ax i ˆ
Az k ˆ
Ay ˆ j

x

y

Gambar 2.4: Vektor satuan dalam koordinat kartesian

Sebuah vektor dapat direpresentasikan menggunakan vektor-vektor satuan sistem koordinat . Vektor

dalam dua dimensi :menggunakan vektor-vektor satuan sistem koordinat . Vektor AAxi ˆ  Ay ˆ j atau AA cos

AAxi ˆ  Ay ˆ j atau AA cos   A  xˆ sin
AAxi ˆ  Ay ˆ j
atau
AA
cos
  A 
sin
dengan besar vektor A : A A  A x 2 y 2
dengan besar vektor A :
A
A
 A
x 2
y 2
sin yˆ dengan besar vektor A : A A  A x 2 y 2 Vektor

Vektor A dalam tiga dimensi :

A  A x i ˆ  A y ˆ j  A z k ˆ Axi ˆ Ay ˆ j Azk ˆ A

cos

ˆ

i A

cos

ˆ

i A cos

 

(2.14)

(2.15)

ˆ

k

(2.16)

Pembina Olimpiade Fisika davitsipayung.com dan besar vektor A : A  A 222  A

Pembina Olimpiade Fisika

davitsipayung.com

Pembina Olimpiade Fisika davitsipayung.com dan besar vektor A : A  A 222  A 

dan besar vektor A :

A

A

222

A

A

x

y

z

Vektor posisi adalah vektor berasal dari titik asal 0,0,0. Vektor posisi

(2.17)

A  A x i ˆ  A y ˆ j  A z k ˆ Axi ˆ Ay ˆ j Azk ˆ dapat

dituliskan dalam bentuk titik A Ax , Ay , Az . Vektor nol disimbolkan dengan 0 atau 0 . Semua

komponen vektor nol sama dengan nol. Jadi, panjang vektor nol sama dengan nol.

sama dengan nol. Jadi, panjang vektor nol sama dengan nol. Contoh 2.2 : Sebuah objek dilempar
sama dengan nol. Jadi, panjang vektor nol sama dengan nol. Contoh 2.2 : Sebuah objek dilempar

Contoh 2.2 :

Sebuah objek dilempar dengan kecepatan 10 m/s membentuk sudut 60 0 terhadap sumbu x positif.

Tuliskanlah kecepatan awal benda dalam vektor satuan iˆ dan ˆj .

y

v 0

0 60
0
60

x

Pembahasan :

Komponen vektor kecepatan objek searah sumbu x dan searah sumbu y :

v

v

0,

0,

x

y

v

0

v

0

cos

sin

10cos60

0

10sin60

0

5m s 5 3 m s
5m s
5
3 m
s

Vektor kecepatan awal objek dalam vektor satuan iˆ dan ˆj :

v  v 0 0, x
v
 v
0
0,
x

i ˆ v

0,

y

ˆ j

5ˆ

i

5

3 ˆ j
3 ˆ
j

m

s
s

Contoh 2.3 :

Sebuah partikel memiliki vektor posisi r (iˆ 2 ˆj 2kˆ) m . Tentukanlah vektor satuan dari vektor r .

ˆ ) m . Tentukanlah vektor satuan dari vektor r . Pembahasan : Besar vektor r
ˆ ) m . Tentukanlah vektor satuan dari vektor r . Pembahasan : Besar vektor r

Pembahasan :

Besar vektor r : r  rx  ry  rz  1  2
Besar vektor r :
r  rx  ry  rz  1  2  2  3m
2
2
2
2
2
2
rx  ry  rz  1  2  2  3m 2 2 2

Vektor satuan dari vektor r :

r 1 2 r ˆ   i ˆ  ˆ j r 3 3
r
1
2
r
ˆ 
i ˆ
ˆ j
r
3
3

2

3

ˆ

k

2.3 Penjumlahan vektor

Operasi dasar vektor meliputi penjumlahan, pengurangan, kesamaan dan perkalian vektor. Kita terlebih dahulu membahas penjumlahan dua buah vektor. Operasi vektor sangat banyak digunakan dalam persamaan fisika. Kita akan menyelesaikan opersi vektor dengan cara geometri dan metode analitik (aljabar).

2.3.1 Penjumlahan vektor cara grafis

Pembina Olimpiade Fisika davitsipayung.com Penjumlahan vektor cara grafis berarti tidak menggunakan sistem koordinat. Dua

Pembina Olimpiade Fisika

davitsipayung.com

Pembina Olimpiade Fisika davitsipayung.com Penjumlahan vektor cara grafis berarti tidak menggunakan sistem koordinat. Dua

Penjumlahan vektor cara grafis berarti tidak menggunakan sistem koordinat. Dua buah vektor A

tidak menggunakan sistem koordinat. Dua buah vektor A dan B , ditunjukkan oleh Gambar 2.7. A

dan B , ditunjukkan oleh Gambar 2.7.

A
A
B
B
buah vektor A dan B , ditunjukkan oleh Gambar 2.7. A B Gambar 2.5 : Vektor
buah vektor A dan B , ditunjukkan oleh Gambar 2.7. A B Gambar 2.5 : Vektor

Gambar 2.5 : Vektor A dan B

oleh Gambar 2.7. A B Gambar 2.5 : Vektor A dan B Jumlah vektor A dan
oleh Gambar 2.7. A B Gambar 2.5 : Vektor A dan B Jumlah vektor A dan
oleh Gambar 2.7. A B Gambar 2.5 : Vektor A dan B Jumlah vektor A dan

Jumlah vektor A dan B disebut resultan vektor, simbolnya R :

R=A+B
R=A+B
A dan B disebut resultan vektor, simbolnya R : R=A+B Jumlah besar vektor A dan B
A dan B disebut resultan vektor, simbolnya R : R=A+B Jumlah besar vektor A dan B
A dan B disebut resultan vektor, simbolnya R : R=A+B Jumlah besar vektor A dan B

Jumlah besar vektor A dan B tidak sama dengan besar vektor R .

vektor A dan B tidak sama dengan besar vektor R . |R|  |A|+|B| (2.18) (2.19)

|R| |A|+|B|

(2.18)

(2.19)

Cara grafis dibagi menjadi dua aturan, yaitu metode segitiga dan aturan jajargenjang.

a. Metode segitiga (metode poligon)

dan aturan jajargenjang. a. Metode segitiga (metode poligon) Lihat kembali Gambar 2.5. Untuk menghitung resultan vektor
dan aturan jajargenjang. a. Metode segitiga (metode poligon) Lihat kembali Gambar 2.5. Untuk menghitung resultan vektor

Lihat kembali Gambar 2.5. Untuk menghitung resultan vektor A dan B , pertama hubungkan

menghitung resultan vektor A dan B , pertama hubungkan titik tangkap vektor B ke titik arah
menghitung resultan vektor A dan B , pertama hubungkan titik tangkap vektor B ke titik arah

titik tangkap vektor B ke titik arah vektor A . Resultan vektor diperoleh dengan menggambarkan sebuah vektor menghubungkan titik tangkap vektor A ke titik arah vektor B , seperti ditunjukkan

pada Gambar 2.6.

arah vektor B , seperti ditunjukkan pada Gambar 2.6. A B B A R Gambar 2.6
arah vektor B , seperti ditunjukkan pada Gambar 2.6. A B B A R Gambar 2.6
A
A
B
B
B A R
B
A
R

Gambar 2.6 : Metode segitiga

Misalkan adalah sudut yang dibentuk oleh vektor menggunakan hukum kosinus.

sudut yang dibentuk oleh vektor menggunakan hukum kosinus. A dan B . Nilai resultan vektor diperoleh
sudut yang dibentuk oleh vektor menggunakan hukum kosinus. A dan B . Nilai resultan vektor diperoleh

A dan B . Nilai resultan vektor diperoleh

θ B A 180 A R B θ
θ B
A
180
A
R
B
θ

Gambar 2.7 : Resultan vektor metode segitiga

Besar resultan vektor :

A
A
2
2

B

2

0

2ABcos(180 -)

R |A+B|

B 2 0  2 AB cos(180 -  ) R  |A+B|  2 R
2
2

R |A+B| A B 2ABcos

2

Catatan :

(2.20)

Pembina Olimpiade Fisika davitsipayung.com Jika A sejajar B ( θ = 0), maka R =

Pembina Olimpiade Fisika

davitsipayung.com

Jika A sejajar B (θ = 0), maka R = A + B

Jika

Jika

Rentang nilai resultan vektor A dan B adalah A B R A B

vektor A dan B adalah A  B  R  A  B R 
vektor A dan B adalah A  B  R  A  B R 
R  A 2  B 2 A A tegak lurus B (θ = 90
R 
A
2
 B
2
A A
tegak lurus B (θ = 90 0 ), maka
berlawanan dengan B (θ = 180 0 ), maka R  A B
maka berlawanan dengan B (θ = 180 0 ), maka R  A B Untuk menghitung
maka berlawanan dengan B (θ = 180 0 ), maka R  A B Untuk menghitung

Untuk menghitung resultan lebih dari dua vektor dapat diselesaikan dengan cara menyelesaikan dua vektor ter lebih dahulu. Kemudian resultan dua vektor dijumlahkan dengan vektor la innya, demikian seterusnya sehingga diperoleh resultan vektor total. Gambar vektor resultan dari tiga atau lebih vektor dapat langsung diperoleh dengan mengikuti aturan penjumlahan metode segitiga sering disebut metode poligon. Misalkan terdapat tiga buah vektor seperti pada Gambar 2.8a, maka vektor resultannya ditunjukkan oleh Gambar 2.8b.

A B
A
B
B A C C R
B
A
C
C
R

(a)

(b)

ditunjukkan oleh Gambar 2.8b. A B B A C C R (a) (b) Gbr.2.8 : (a)

Gbr.2.8 : (a) Vektor A,BdanC . (b) Resultan tiga buah vektor

Penjumlahan vektor memiliki beberapa sifat penting. Sifat-sifat penjumlahan vektor :

Pertama, penjumlahan vektor memiliki sifat komutatif.

: Pertama , penjumlahan vektor memiliki sifat komutatif. A  B  B  A Kedua

A B B A

Kedua, penjumlahan vektor memiliki sifat asosiatif.

 A Kedua , penjumlahan vektor memiliki sifat asosiatif.  A  B   C

A BC AB CC A-BA- B

Ketiga, pengurangan vektor adalah bentuk khusus dari perjumlahan vektor.

vektor adalah bentuk khusus dari perjumlahan vektor. A B -B A B θ A θ Gambar
A
A
B
B
vektor adalah bentuk khusus dari perjumlahan vektor. A B -B A B θ A θ Gambar

-B

A B θ A θ
A B
θ
A
θ

Gambar 2.9 : Pengurangan vektor

A B -B A B θ A θ Gambar 2.9 : Pengurangan vektor Besar pengurangan vektor
A B -B A B θ A θ Gambar 2.9 : Pengurangan vektor Besar pengurangan vektor

Besar pengurangan vektor A dan B :

|A-B| 
|A-B| 
A 2
A
2
vektor Besar pengurangan vektor A dan B : |A-B|  A 2  B 2 

B

2

2ABcos

(2.21)

(2.22)

(2.23)

(2.24)

Contoh 2.4 :

Dua buah gaya F1 dan F2

balok. Tentukan nilai resultan gaya sama dengan 0 0 , 60 0 ,90 0 dan 180 0 .

sama dengan 0 0 , 60 0 ,90 0 dan 180 0 . memiliki besar berturut-turut
sama dengan 0 0 , 60 0 ,90 0 dan 180 0 . memiliki besar berturut-turut

memiliki besar berturut-turut adalah 80 N dan 60 N bekerja pada sebuah

yang dialami oleh balok jika sudut antara kedua vektor adalah θ

Pembina Olimpiade Fisika davitsipayung.com F 1 θ F 2 Pembahasan : Diketahui bahwa F 1

Pembina Olimpiade Fisika

davitsipayung.com

F 1 θ F 2
F
1
θ
F
2

Pembahasan :

Diketahui bahwa F 1 = 80 N dan F 2 = 60 N. Rumus resultan vektor :

FR |F1  F2|= F1  F2  2F1F2 cos 2 2
FR |F1  F2|= F1  F2  2F1F2 cos
2
2

Jika θ = 0 0 , maka

F1  F2  2F1F2 cos 2 2 Jika θ = 0 0 , maka F

FR |F1 F2|=F1 F2 140 N

Jika θ = 60 0 , maka

FR |F1  F2|= F1  F2  2F1F2 cos60 121,7N 2 2 0
FR |F1  F2|= F1  F2  2F1F2 cos60 121,7N
2
2
0
Jika θ = 90 0 , maka FR |F1  F2|= F1  F2 100
Jika θ =
90 0 , maka
FR |F1  F2|= F1  F2 100 N
2
2

Jika θ = 180 0 , maka

F2|= F1  F2 100 N 2 2 Jika θ = 180 0 , maka F

FR |F1 F2|=F1 F2 20 N

b. Metode jajargenjang

 F 2 |= F 1  F 2  20 N b. Metode jajargenjang Lihat
 F 2 |= F 1  F 2  20 N b. Metode jajargenjang Lihat

Lihat kembali Gambar 2.5. Untuk mendapatkan resultan vektor A dan B dengan metode

Untuk mendapatkan resultan vektor A dan B dengan metode jajargenjang, pertama hubungkan titik tangkap vektor A
Untuk mendapatkan resultan vektor A dan B dengan metode jajargenjang, pertama hubungkan titik tangkap vektor A

jajargenjang, pertama hubungkan titik tangkap vektor A dan titik tangkap vektor B . Resultan vektor ditunjukkan pada Gambar 2.10.

A
A
B
B
A R B
A
R
B

Gambar 2.10: Metode jajargenjang

Misalkan adalah sudut yang dibentuk oleh vektor menggunakan hukum kosinus.

sudut yang dibentuk oleh vektor menggunakan hukum kosinus. A dan B . Nilai resultan vektor diperoleh
sudut yang dibentuk oleh vektor menggunakan hukum kosinus. A dan B . Nilai resultan vektor diperoleh

A dan B . Nilai resultan vektor diperoleh

A θ
A
θ
B
B

O

A R    180 θ
A
R 
180
θ
B
B

Q

Gambar 2.11: Resultan vektor metode jajargenjang

Besar resultan vektor :

R |A+B|  A  B  2ABcos(180 -θ) 2 2 0
R |A+B|  A  B  2ABcos(180 -θ)
2
2
0

R

A  B  2 AB cos  2 2

A B 2ABcos

2

2

P

(2.25)

Pembina Olimpiade Fisika davitsipayung.com Sudut  adalah sudut yang dibentuk oleh vektor A dan vektor

Pembina Olimpiade Fisika

davitsipayung.com

Pembina Olimpiade Fisika davitsipayung.com Sudut  adalah sudut yang dibentuk oleh vektor A dan vektor R
Pembina Olimpiade Fisika davitsipayung.com Sudut  adalah sudut yang dibentuk oleh vektor A dan vektor R

Sudut adalah sudut yang dibentuk oleh vektor A dan vektor R . Sudutadalah sudut yang

vektor A dan vektor R . Sudut  adalah sudut yang dibentuk oleh vektor B dan
vektor A dan vektor R . Sudut  adalah sudut yang dibentuk oleh vektor B dan

dibentuk oleh vektor B dan vektor R . Nilai sudut dan ditemukan menggunakan hukum sinus.

R

A

B

sin180

sin

sin

(2.26)

Contoh 2.5 :

Sebuah beban beratnya w = 200 N digantungkan menggunakan tali seperti ditunjukkan pada gambar. Beban dalam keadaan setimbang seperti pada gambar. Tentukanlah tegangan tali T 1 dan T 2 menggunakan aturan sinus.

T1 30 0 T2 w = 300 N
T1
30 0
T2
w = 300 N

Pembahasan :

Kita dapat menggambarkan hubungan vektor T1 , T2 dan w memenuhi hubungan

hubungan vektor T 1 , T 2 dan w memenuhi hubungan T2 60 0 30 0
T2 60 0 30 0 90 0
T2
60 0
30 0
90 0

T1 T

w
w

Besar tegangan tali T 1 dan T 2 diperoleh dengan menggunakan hukum sinus.

w

sin30

w

0

sin30

0

T

1

T

sin60

T

2

0

1

T

sin90

0

1

sin60

0

sin30

sin90

0

0

sin30

0

w

w

200 3 400 N
200
3
400 N

N

2.3.2 Penjumlahan vektor cara analitis

Penjumlahan dua vektor

cara analitis adalah penjumlahan komponen-komponen kedua vektor

pada sumbu yang sama. Penjumlahan dua vektor diberikan oleh

pada sumbu yang sama. Penjumlahan dua vektor diberikan oleh  A  B  A x

AB Ax

Penjumlahan dua vektor diberikan oleh  A  B  A x  B x i

Bx i Ax Bx )

oleh  A  B  A x  B x i  A x 
oleh  A  B  A x  B x i  A x 

ˆ

ˆ

j Ax Bx

ˆ

k

B x )  ˆ   ˆ j  A x  B x 
B x )  ˆ   ˆ j  A x  B x 

Pengurangan vektor A dan B diartikan sebagai penjumlahan vektor A dan -B .

Ax Bx

ˆ

j

Ax Bx k ˆ

A B  AB  (  Ax Bx
A B  AB 
(
Ax Bx

ˆ

i

(2.27)

(2.28)

 (  Ax Bx  ˆ  i  (2.27) (2.28) Dua buah vektor F
 (  Ax Bx  ˆ  i  (2.27) (2.28) Dua buah vektor F

Dua buah vektor F1 dan F2 diberikan dalam grafis. Cara menjumlahkan vektor dengan metode analitis, yaitu :

Uraikan komponen vektor dalam komponen-komponen skalarnya.

Jumlahkan semua komponen vektor pada sumbu yang sama.

Rx

F1x F2x Fx

(2.29)

Ry F1y

F2y Fy

(2.30)

Pembina Olimpiade Fisika davitsipayung.com  Besar vektor resultan R : R  R  R
Pembina Olimpiade Fisika
davitsipayung.com
Besar vektor resultan R :
R 
R
 R
x 2
y 2
 Besar vektor resultan R : R  R  R x 2 y 2 Sudut

Sudut yang dibentuk oleh resultan vektor R terhadap sumbu x positif :

tan

R

y

R

x

(2.31)

(2.32)

Cara analitis lebih mudah menyelesaikan perhitungan resultan vektor dibandingkan cara grafis untuk kasus lebih dari dua vektor

Contoh 2.6 :

Tentukan besar resultan dari tiga buah vektor gaya pada gambar di bawah ini!

y 60 0 30 0 5 N
y
60 0
30 0
5 N
3 N 10 N

3 N

10 N

10

x

Pembahasan :

Misalkan F 1 = 10 N, F 2 = 10 x dan sumbu y, kita peroleh

F 1 = 10 N, F 2 = 10 x dan sumbu y, kita peroleh 3

3 N, dan F 3 = 10 N. Uraikan masing-masing vektor gaya pada sumbu

Fx F1x F2x F3x F1 cos30

0

Fy F1y F2y F3y F1 sin30

0

F2 cos60

F2 sin60

0

0

 5 3 5 3  0 5  5155 15
 5
3 5
3  0
5  5155 15

Besar resultan vektor gaya :

R

F F

x

2

y

2

F

15 2  0 2
15
2
0
2

N

15

Contoh 2.7 :

Diketahui dua buah vektor

r 1
r
1

  3iˆ 3iˆ   4kˆ ˆj 2kˆ m m

r 2
r
2

Tentukan :

a. besar vektor r1 dan r2 b. d. c. r1 r1 2r1 r2  
a. besar vektor r1 dan r2
b. d. c. r1 r1 2r1 r2   r2 3r2
Pembahasan :
a.
Besar vektor r1 adalah
r 1 
3
2
1  2
2
2
14 m
Pembina Olimpiade Fisika davitsipayung.com b. c. d. Besar vektor r 2 adalah r 1 

Pembina Olimpiade Fisika

davitsipayung.com

b.

c.

d.

Pembina Olimpiade Fisika davitsipayung.com b. c. d. Besar vektor r 2 adalah r 1  

Besar vektor r2 adalah

r

1

davitsipayung.com b. c. d. Besar vektor r 2 adalah r 1   5 m 

5 m

 r 1  r  3i  j ˆ ˆ  2k ˆ 
r 1  r 
3i  j
ˆ
ˆ
 2k ˆ
2
r
r  3i  ˆ j
ˆ
 
 2k ˆ
1
2
1 2
1
2

2r 3r

2 3i ˆ ˆ j 2k ˆ

ˆ ˆ

3i 4k

ˆ ˆ

3i 4k

 

33

33

 

3 3i ˆ 4k ˆ



2.4

Kesamaan vektor

ˆ ˆ

i j

ˆ ˆ

 

24 k ˆ

 

6i ˆ ˆ j 6k ˆ

i j 6i ˆ 2 ˆ j 4k ˆ

24 k ˆ ˆ j 2k ˆ 9i 12k ˆ



ˆ

15i ˆ 2 ˆ j 16k ˆ

Dua vektor dikatakan sama hanya jika nilai dan arah dua vektor tersebut sama. Secara grafis, dua vektor sama hanya jika kedua vektor sejajar dengan arah dan panjangnya sama, tetapi tidak membutuhkan posisi yang sama, lihat Gambar 2.12a. Secara analitis, dua vektor sama ketika nilai

Gambar 2.12a. Secara analitis, dua vektor sama ketika nilai komponen-komponen kedua vektor sama. Kesamaan vektor A
Gambar 2.12a. Secara analitis, dua vektor sama ketika nilai komponen-komponen kedua vektor sama. Kesamaan vektor A

komponen-komponen kedua vektor sama. Kesamaan vektor A dan B dituliskan dalam bentuk

A B
A B

(2.33)

atau

Axi ˆ Ay ˆ j Azk ˆ Bx

xˆ

By

yˆ

Bz

zˆ

(2.34)

atau

Ax Bx

Ay By

Az Bz

(2.35)

A x  B x A y  B y A z  B z (2.35)
A x  B x A y  B y A z  B z (2.35)

Satuan vektor A dan B juga harus sama. Sebuah vektor tetap sama jika dipindahkan ke posisi yang

Sebuah vektor tetap sama jika dipindahkan ke posisi yang lain asalkan tidak mengubah nilai dan arah

lain asalkan tidak mengubah nilai dan arah vektor tersebut. Vektor A dikatakan berlawanan dengan

arah vektor tersebut. Vektor A dikatakan berlawanan dengan vektor  A , seperti pada Gambar 2.12b.

vektor A , seperti pada Gambar 2.12b. Dua vektor dikatakan berlawanan jika kedua vektor memiliki nilai yang sama tetapi arahnya berlawanan .

A B B= 5cm
A
B
B= 5cm

A= 5cm

(a)

A A
A
A

(b)

arahnya berlawanan . A B B= 5cm A = 5cm (a) A A (b) Gambar 2.12
arahnya berlawanan . A B B= 5cm A = 5cm (a) A A (b) Gambar 2.12
arahnya berlawanan . A B B= 5cm A = 5cm (a) A A (b) Gambar 2.12
arahnya berlawanan . A B B= 5cm A = 5cm (a) A A (b) Gambar 2.12

Gambar 2.12 : (a) Kesamaan vektor A dan B (b) Vektor A berlawanan dengan A

2.5 Perkalian vektor

2.5.1 Perkalian vektor dengan skalar

A 2.5 Perkalian vektor 2.5.1 Perkalian vektor dengan skalar Jika k adalah skalar (konstanta) dan A

Jika k adalah skalar (konstanta) dan A adalah sebuah vektor, maka

adalah skalar (konstanta) dan A adalah sebuah vektor, maka k A  k  A i

k A k

A i ˆ A

x

y

ˆ j A k ˆ

z



kA i ˆ kA

x

y

ˆ j kA k ˆ

z

(2.36)

Pembina Olimpiade Fisika davitsipayung.com Perkalian vektor A dan skalar k akan menghasilkan vektor yang baru,

Pembina Olimpiade Fisika

davitsipayung.com

Pembina Olimpiade Fisika davitsipayung.com Perkalian vektor A dan skalar k akan menghasilkan vektor yang baru, yaitu
Pembina Olimpiade Fisika davitsipayung.com Perkalian vektor A dan skalar k akan menghasilkan vektor yang baru, yaitu

Perkalian vektor A dan skalar k akan menghasilkan vektor yang baru, yaitu kA . Konstanta k akan

vektor yang baru, yaitu k A . Konstanta k akan mempengaruhi besar dan arah vektor A

mempengaruhi besar dan arah vektor A . Jika k konstanta positif, maka vektor yang baru searah

. Jika k konstanta positif, maka vektor yang baru searah dengan vektor A . Jika k

dengan vektor A . Jika k konstanta negatif, maka arah vektor yang baru berlawanan dengan arah

negatif, maka arah vektor yang baru berlawanan dengan arah vektor A . Misalkan kita ambil nilai

vektor A . Misalkan kita ambil nilai konstanta k = -1, 2, 1/2, -2, dan -1/2, hasil perkalian ditunjukkan

k = - 1, 2, 1/2, -2 , dan -1/2, hasil perkalian ditunjukkan oleh Gambar 2.6.
k = - 1, 2, 1/2, -2 , dan -1/2, hasil perkalian ditunjukkan oleh Gambar 2.6.

oleh Gambar 2.6. Jika k = -1, maka arah vektor A berlawanan dengan vektor A . Contoh perkalian vektor dan skalar adalah bentuk hukum kedua Newton, F ma .

dan skalar adalah bentuk hukum kedua Newton, F  ma . A 2A -2A -A 
A
A
2A -2A -A  1 A 1 2 A 2
2A
-2A
-A
1
A
1 2 A
2
Newton, F  ma . A 2A -2A -A  1 A 1 2 A 2

Gambar 2.13: Perkalian vektor A dengan skalar k =-1, 2, 1/2, -2, dan -1/2

2.5.2 Perkalian vektor dengan vektor

Perkalian vektor dengan vektor merupakan operasi vektor yang sangat banyak digunakan dalam mekanika. Ada dua macam perkalian dua vektor, yaitu perkalian titik (perkalian skalar atau dot product) dan perkalian vektor (perkalian silang atau cross product).

a.

Perkalian titik

Perkalian titik

dua buah vektor adalah perkalian antara dua besar vektor

dikalikan dengan

kosinus sudut yang dibentuk oleh kedua vektor.

dengan kosinus sudut yang dibentuk oleh kedua vektor. A  B  AB cos  (2.37)
dengan kosinus sudut yang dibentuk oleh kedua vektor. A  B  AB cos  (2.37)

AB ABcos

(2.37)

dimana sudut yang dibentuk oleh vektor A dan B . Cara membaca AB adalah A dot B . Hasil

perkalian titik adalah skalar, yang dapat bernilai positif  

titik adalah skalar, yang dapat bernilai positif   0    90 0 atau
titik adalah skalar, yang dapat bernilai positif   0    90 0 atau
titik adalah skalar, yang dapat bernilai positif   0    90 0 atau
titik adalah skalar, yang dapat bernilai positif   0    90 0 atau
titik adalah skalar, yang dapat bernilai positif   0    90 0 atau

0 90

0

atau negatif

90

0

180

0

.

 90 0 atau negatif  90 0    180 0  . Jika
 90 0 atau negatif  90 0    180 0  . Jika
 90 0 atau negatif  90 0    180 0  . Jika

Jika θ = 0 (vektor A searah dengan vektor B ), maka AB AB .

A searah dengan vektor B ), maka A  B  AB . Jika θ =
A searah dengan vektor B ), maka A  B  AB . Jika θ =
A searah dengan vektor B ), maka A  B  AB . Jika θ =

Jika θ = 90 (vektor A tegak lurus dengan vektor B), maka AB 0 .

A tegak lurus dengan vektor B ), maka A  B  0 . berlawanan arah
A tegak lurus dengan vektor B ), maka A  B  0 . berlawanan arah
A tegak lurus dengan vektor B ), maka A  B  0 . berlawanan arah

berlawanan arah dengan vektor B ),, maka AB AB .

arah dengan vektor B ),, maka A  B  AB . Jika θ = 180
arah dengan vektor B ),, maka A  B  AB . Jika θ = 180

Jika θ = 180 (vektor A

Secara grafis, perkalian titik adalah proyeksi vektor A ke vektor B atau proyeksi vektor B ke vektor

vektor A ke vektor B atau proyeksi vektor B ke vektor A . A  B

A . .

A ke vektor B atau proyeksi vektor B ke vektor A . A  B 
A ke vektor B atau proyeksi vektor B ke vektor A . A  B 

AB ABcosAcosB ABcos

(2.38)

Pembina Olimpiade Fisika davitsipayung.com B θ A (a) B θ A B cosθ A cosθ

Pembina Olimpiade Fisika

davitsipayung.com

B θ A
B
θ
A

(a)

B θ A B cosθ
B
θ
A B cosθ
A cosθ B θ
A cosθ
B
θ

(b)

A

B θ A (a) B θ A B cosθ A cosθ B θ (b) A Gambar
B θ A (a) B θ A B cosθ A cosθ B θ (b) A Gambar

Gambar 2.14 : (a) Dua vektor A dan B membentuk sudut θ

(b) Proyeksi vektor

vektor A dan B membentuk sudut θ (b) Proyeksi vektor A dan B Hasil perkalian titik
vektor A dan B membentuk sudut θ (b) Proyeksi vektor A dan B Hasil perkalian titik

A dan B

Hasil perkalian titik dua vektor

yang saling tegak lurus sama dengan nol.

titik dua vektor yang saling tegak lurus sama dengan nol. Jika vektor A tegak lurus B

Jika vektor A tegak

lurus B , maka vektor A dikatakan ortogonal terhadap vektor B . Vektor satuan iˆ, ˆjdankˆ saling

ortogonal. Perkalian dot antara vektor satuan koordinat kartesian mengikuti aturan :

antara vektor satuan koordinat kartesian mengikuti aturan : i ˆ  i ˆ i ˆ 
antara vektor satuan koordinat kartesian mengikuti aturan : i ˆ  i ˆ i ˆ 
antara vektor satuan koordinat kartesian mengikuti aturan : i ˆ  i ˆ i ˆ 

iˆiˆ i ˆ ˆ j   ˆjˆ j k ˆj=kˆkˆ ˆ = i ˆ k ˆ =11cos0 = 1 1 cos90 1



0

0

1  cos0 = 1 1 cos90  1  0  0 Jika vektor A
1  cos0 = 1 1 cos90  1  0  0 Jika vektor A

Jika vektor A dan B diberikan oleh,

Axi Ay ˆ j Azk ˆ

ˆ

B x i  B y ˆ j  B z k Bxi By ˆ j Bzk

A ˆ
A
ˆ
A z k ˆ ˆ  B x i  B y ˆ j  B
A z k ˆ ˆ  B x i  B y ˆ j  B

maka perkalian titik vektor A dan B adalah

A  B   A i ˆ  A ˆ j x y
A
B
A i ˆ
A
ˆ j
x
y

A B i ˆ

x

x

A B

z

x

i ˆ

k ˆ

i ˆ

z

A B

i ˆ

A B

x

z

y

y

ˆ j

k ˆ

ˆ j

k ˆ

A B k ˆ

B i ˆ

ˆ j

B

A B i ˆ

x

x

z

z

y

z

ˆ

A k



B k ˆ

z

A

k ˆ

y

B

x

Jadi,

A k    B k ˆ    z A k ˆ y
A k    B k ˆ    z A k ˆ y

AB AxBx AyBy AzBz

ˆ j

i ˆ

A

y

B

y

ˆ j

Kita juga dapat menuliskan bahwa

2
2

AAAx Ay Az A

2

2

2

atau

A

Kosinus sudut yang dibentuk oleh dua vektor :

A A
A A

cos

A  B
A  B

A B

x

x

A B

y

y

A B

z

z

AB

A

x 2

A

y 2

A

z 2

1



2

B

x 2

B

y 2

B

z 2

1

2

ˆ j

A

y

B

z

 

(2.39)

(2.40)

ˆ j

k ˆ

 

(2.41)

(2.42)

(2.43)

(2.44)

Catatan :

1.

2 . 4 1 ) (2.42) (2.43) (2.44) Catatan : 1. A  B  B

AB B A

Hukum komutatif

(2.44) Catatan : 1. A  B  B  A Hukum komutatif 3 . 2.

3. 2. k AB ABkA  CAB B   AC AkBABk dimana k adalah skalar

Hukum distributif

k a d a l a h s k a l a r Hukum distributif 4

4. iˆiˆ ˆjˆj=kˆkˆ =1,

iˆˆj ˆjkˆ =iˆkˆ 0

1, i ˆ  ˆ j  ˆ j  k ˆ = i ˆ 
1, i ˆ  ˆ j  ˆ j  k ˆ = i ˆ 

5. AB AxBx AyBy AzBz

Pembina Olimpiade Fisika davitsipayung.com 6. A  B  0 dimana A dan B adalah

Pembina Olimpiade Fisika

davitsipayung.com

6.

A  B  0 dimana A dan B adalah bukan vektor nol, maka A
A  B  0 dimana A dan B adalah bukan vektor nol, maka A
A  B  0 dimana A dan B adalah bukan vektor nol, maka A
A  B  0 dimana A dan B adalah bukan vektor nol, maka A
A  B  0 dimana A dan B adalah bukan vektor nol, maka A

AB 0 dimana A dan B adalah bukan vektor nol, maka A dan B tegak lurus

7.

A A  A 2
A A  A
2

Aplikasi perkalian skalar dalam fisika :

1. Usaha

A  A 2 Aplikasi perkalian skalar dalam fisika : 1. Usaha Aplikasi perkalian dot adalah

Aplikasi perkalian dot adalah konsep usaha. Usaha yang dilakukan oleh gaya konstan F bekerja

usaha. Usaha yang dilakukan oleh gaya konstan F bekerja pada benda yang mengalami perpindahan d diberikan

pada benda yang mengalami perpindahan d diberikan oleh

pada benda yang mengalami perpindahan d diberikan oleh W  F  d  Fd cos
pada benda yang mengalami perpindahan d diberikan oleh W  F  d  Fd cos

W F d Fd cos

(2.45)

dimana θ adalah sudut yang dibentuk vektor gaya dan perpindahan benda.

perkalian besar gaya dan perpindahan dikali kosinus sudut yang dibentuk oleh gaya dan

perpindahan.

Usaha adalah

θ
θ
F
F
yang dibentuk oleh gaya dan perpindahan. Usaha adalah θ F Gb r. 2.15 : Kerja adalah
yang dibentuk oleh gaya dan perpindahan. Usaha adalah θ F Gb r. 2.15 : Kerja adalah
yang dibentuk oleh gaya dan perpindahan. Usaha adalah θ F Gb r. 2.15 : Kerja adalah
yang dibentuk oleh gaya dan perpindahan. Usaha adalah θ F Gb r. 2.15 : Kerja adalah

Gb r. 2.15 : Kerja adalah pe rkalian titik antara gaya dan perpindahan

2. Energi kinetik Energi kinetik sebanding dengan kuadrat kelajuan benda.

E

k

1 1  mv v  mv 2 2 2
1
1
mv v
mv
2
2
2

(2.46)

Contoh 2.8 :

E k 1 1  mv v  mv 2 2 2 (2.46) Contoh 2.8 :
E k 1 1  mv v  mv 2 2 2 (2.46) Contoh 2.8 :
E k 1 1  mv v  mv 2 2 2 (2.46) Contoh 2.8 :
E k 1 1  mv v  mv 2 2 2 (2.46) Contoh 2.8 :
E k 1 1  mv v  mv 2 2 2 (2.46) Contoh 2.8 :

Jika A 2iˆ 2 ˆj kˆ dan B 6iˆ 3ˆj 2kˆ , hitunglah AB dan sudut antara vektor A dan B .

Pembahasan :

Menghitung nilai A B :   A B  2iˆ  2 ˆj 
Menghitung nilai A B :

A B 
2iˆ  2 ˆj  kˆ
6iˆ  3ˆj
2
2
1  2
2
2
B A  
6
2  3
2
 2
2
  3 7

2kˆ

(2)(6) (2)(3) (1)(2) 12 6 2 4

 3)  (  1)(2)  12  6  2  4 Menghitung sudut
 3)  (  1)(2)  12  6  2  4 Menghitung sudut

Menghitung sudut antara vektor A dan B :

 2  4 Menghitung sudut antara vektor A dan B : A  B 
 2  4 Menghitung sudut antara vektor A dan B : A  B 

AB ABcos

 
 B 4
B
4
A
A

4

cos

 
 

AB

(3)(7)

21

cos

1

  

4

21

  

79

0

Contoh 2.9 :

Pembina Olimpiade Fisika davitsipayung.com Tentukanlah nilai a agar vektor A  a i  j

Pembina Olimpiade Fisika

davitsipayung.com

Pembina Olimpiade Fisika davitsipayung.com Tentukanlah nilai a agar vektor A  a i  j 
Pembina Olimpiade Fisika davitsipayung.com Tentukanlah nilai a agar vektor A  a i  j 

Tentukanlah nilai a agar vektor A ai j k tegak lurus dengan vektor B i 2 j 3k .

Pembahasan :

 i  2 j  3 k . Pembahasan : A dan B tegak lurus
 i  2 j  3 k . Pembahasan : A dan B tegak lurus
 i  2 j  3 k . Pembahasan : A dan B tegak lurus

A dan B tegak lurus hanya jika AB 0 . Jadi,

A dan B tegak lurus hanya jika A  B  0 . Jadi, A 
A dan B tegak lurus hanya jika A  B  0 . Jadi, A 

AB (a)(1) (1)(2) (1)(3) a 2 3 0

a = - 5

Contoh 2.10 :

Hitunglah usaha yang dilakukan gaya F 2i j 2kN pada benda yang memiliki vektor

j  2 k  N pada benda yang memiliki vektor perpindahan  r  
j  2 k  N pada benda yang memiliki vektor perpindahan  r  

perpindahan r 5i j 4km .

Pembahasan :

 r   5 i  j  4 k  m . Pembahasan :

Usaha = F r 2i j 2k 5i j 4k 101819joule.

b. Perkalian Silang

Besar hasil perkalian silang dua vektor adalah perkalian antara dua besar vektor dan kemudian

vektor

dikalikan dengan sinus menghasilkan vektor.

sudut

yang dibentuk oleh

kedua

vektor.

Perkalian

silang

dua

C  AB
C  AB

dan C ABsin

(2.47)

silang dua C  AB dan C  AB sin  (2.47) dimana θ adalah sudut
silang dua C  AB dan C  AB sin  (2.47) dimana θ adalah sudut
silang dua C  AB dan C  AB sin  (2.47) dimana θ adalah sudut
silang dua C  AB dan C  AB sin  (2.47) dimana θ adalah sudut

dimana θ adalah sudut antara vektor A dan B. AB dibaca A cross B .

A dan B . A  B dibaca A c r o s s B .
A dan B . A  B dibaca A c r o s s B .

Jika θ = 0 (vektor A searah dengan vektor B), maka

A B  0 .
A B
 0
.
vektor A searah dengan vektor B ), maka A B  0 . A  B
vektor A searah dengan vektor B ), maka A B  0 . A  B
A  B .
A
 B
.

A  AB B

Jika θ = 90 (vektor A tegak lurus dengan vektor B), maka

θ = 90 ( vektor A tegak lurus dengan vektor B ), maka  0 .
θ = 90 ( vektor A tegak lurus dengan vektor B ), maka  0 .
 0 .
 0
.

0

0 dan180

Jika θ = 180 (vektor A berlawanan arah dengan vektor B),maka

Jika besar sudut yang dibentuk oleh dua vektor adalah

berlawanan arah), maka hasil perkalian vektor sama dengan nol.

0

(dua vektor sejajar dan

perkalian vektor sama dengan nol. 0 (dua vektor sejajar dan Nilai perkalian silang C  A

Nilai perkalian silang C AB

vektor sejajar dan Nilai perkalian silang C  A  B maksimum ketika vektor A dan
vektor sejajar dan Nilai perkalian silang C  A  B maksimum ketika vektor A dan

maksimum ketika vektor A dan B tegak lurus.

 A  B maksimum ketika vektor A dan B tegak lurus. Perkalian silang antara A
 A  B maksimum ketika vektor A dan B tegak lurus. Perkalian silang antara A
 A  B maksimum ketika vektor A dan B tegak lurus. Perkalian silang antara A
 A  B maksimum ketika vektor A dan B tegak lurus. Perkalian silang antara A

Perkalian silang antara A dan B menghasilkan vektor C. Vektor C tegak lurus dengan bidang

vektor C. Vektor C tegak lurus dengan bidang yang dibentuk oleh vektor A dan B ,
vektor C. Vektor C tegak lurus dengan bidang yang dibentuk oleh vektor A dan B ,
vektor C. Vektor C tegak lurus dengan bidang yang dibentuk oleh vektor A dan B ,
vektor C. Vektor C tegak lurus dengan bidang yang dibentuk oleh vektor A dan B ,
vektor C. Vektor C tegak lurus dengan bidang yang dibentuk oleh vektor A dan B ,

yang dibentuk oleh vektor A dan B, artinya vektor C juga tegak lurus dengan vektor A dan B .

Arah vektor hasil perkalian silang ditentukan menggunakan aturan tangan kanan. Keempat jari tangan

menggunakan aturan tangan kanan. Keempat jari tangan kanan diputar dari vektor A ke vektor B .
menggunakan aturan tangan kanan. Keempat jari tangan kanan diputar dari vektor A ke vektor B .
menggunakan aturan tangan kanan. Keempat jari tangan kanan diputar dari vektor A ke vektor B .

kanan diputar dari vektor A ke vektor B . Jempol akan menunjukkan arah vektor C .

Pembina Olimpiade Fisika davitsipayung.com C=AB θ B A B θ A C=B A Gambar 2.16

Pembina Olimpiade Fisika

davitsipayung.com

C=AB θ B A
C=AB
θ
B
A
B θ
B
θ
A C=B A
A
C=B A

Gambar 2.16 : Aturan tangan kanan pada perkalian silang

Lihat Gambar 2.16, perkalian silang memiliki sifat antikomutatif.

A B B  A
A B B  A

(2.48)

Aturan perkalian silang dalam vektor satuan koordinat kartesian:

iˆiˆ iˆˆj iˆ ˆj  kˆ, ˆjkˆ, ˆj ˆj kˆ kˆ= = kˆkˆ ˆj = iˆ, iˆ, = kˆiˆ iˆkˆ 0   ˆj ˆj

= k ˆ  i ˆ i ˆ  k ˆ 0   ˆ j
= k ˆ  i ˆ i ˆ  k ˆ 0   ˆ j

Jika ada dua buah vektor A dan B ,

A x i  A y ˆ j  A z k Axi Ay ˆ j Azk

ˆ ˆ

Bxi By j Bzk

B ˆ
B
ˆ

ˆ

 A z k ˆ ˆ  B x i  B y j  B
 A z k ˆ ˆ  B x i  B y j  B

maka perkalian silang A dan B adalah

A  B   A i ˆ  A ˆ j x y
A
B
A i ˆ
A
ˆ j
x
y

ˆ

A k

z



B i ˆ

x

B

y

ˆ j

B k ˆ

z

A B i ˆ

x

x

A B

z

ˆ

x

k ˆ

i

A B

x

z

y

i ˆ

A B

ˆ

i

ˆ

j

A B i ˆ

x

z

ˆ

k

A

y

k ˆ

ˆ

j

A B k ˆ

z

z

k ˆ

y

B

x

ˆ j

ˆ

i

A

y

B

y

ˆ j

ˆ

j

A

y

B

z

ˆ j

k ˆ

Kita menyederhanakan persamaan di atas menjadi :

j  k ˆ Kita menyederhanakan persamaan di atas menjadi : A  B  A
j  k ˆ Kita menyederhanakan persamaan di atas menjadi : A  B  A

AB AyBz AzBy i ˆ AzBx AxBz

ˆ j AxBy AyBx k ˆ

(2.49)

(2.50)

(2.51)

(2.52)

Hasil perkalian silang juga dapat ditentukan menggunakan metode determinan.

i ˆ ˆ j k ˆ A  B  A A A x y
i ˆ
ˆ j
k ˆ
A
B
A
A
A
x
y
z
B
B
B
x
y
z

A A

y

B B

y

z

z

i ˆ

A

B

x

x

A

B

z

z

ˆ j

A

B

x

x

A

B

y

y

ˆ

k

(2.53)

Untuk menentukan sumbu x positif, sumbu y positif, dan sumbu z positif dalam koordinat kartesian digunakan aturan perkalian silang iˆ ˆj kˆ . Vektor satuan iˆ searah sumbu x positif, vektor

satuan ˆj searah sumbu y positif dan vektor satuan kˆ searah sumbu z positif.

Catatan :

1.

A B B  A
A B B  A

Tidak memenuhi hukum komutatif

Pembina Olimpiade Fisika davitsipayung.com 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8 . 9 . k

Pembina Olimpiade Fisika

davitsipayung.com

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

Fisika davitsipayung.com 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8 . 9 . k A  

k AB ABkA CA