Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PRAKTIKUM

SEDIAAN FARMASI DAN TERAPI UMUM


LINIMENTUM

Disusun oleh:
Kelompok 6 Siang
Firyal Husnun Nabila

B04120077

Langen Tunjungsari

B04120083

DEPARTEMEN KLINIK, REPRODUKSI, DAN PATOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2015
Pendahuluan
Sebagian besar obat disediakan dalam berbagai bentuk sediaan oral. Sifat yang
paling penting dari bentuk sediaan adalah kemanjurannya melepaskan zat aktif dalam
jumlah yang cukup agar dapat menimbulkan efek farmakologis seperti yang
diharapkan. Bentuk Sediaan Obat dapat berbentuk padat, cair, setengah padat dan
bentuk sediaan khusus. Bentuk sediaan padat diantaranya pulvis (serbuk tak terbagi),
pulveres (serbuk terbagi), tablet dan kapsul.
Pulvis (serbuk) adalah campuran kering bahan obat atau zat kimia yang
dihaluskan, ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar. Karena
mempunyai luas permukaan yang luas, serbuk lebih mudah terdispersi dan lebih larut
dari pada bentuk sediaan yang dipadatkan. Anak-anak dan orang dewasa yang sukar
menelan kapsul atau tablet lebih mudah menggunakan obat dalam bentuk serbuk.
Biasanya serbuk oral dapat dicampur dengan air minum.
Serbuk oral dapat diserahkan dalam bentuk terbagi (pulveres) atau tidak
terbagi (pulvis). Serbuk oral tidak terbagi terbatas pada obat yang relatif tidak poten
seperti laksansia, antasida, makanan diet dan beberapa jenis analgetik tertentu, pasien
dapat menakar secara aman dengan sendok teh atau penakar yang lain. Serbuk tidak
terbagi lainnya adalah serbuk gigi dan serbuk tabur, keduanya untuk pemakaian luar.
Kelebihan dari sediaan ini adalah dokter lebih leluasa dalam memilih dosis
yang sesuai dengan keadaan si penderita, lebih stabil terutama untuk obat yang rusak
oleh air, penyerapan lebih cepat dan lebih sempurna dibanding sediaan padat lainnya,
cocok digunakan untik anak-anak dan orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau
tablet. Akan tetapi juga memiliki kelemahan, yang diantaranya tidak tertutupnya rasa
tidak enak seperti pahit, sepat, lengket di lidah (bisa diatasi dengan corrigens saporis),
serta peracikannya membutuhkan waktu yang relatif lama.
Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui cara membuat seruk terbagi
dalam bentuk puyer dan mengetahui khasiat dari masing-masing bahan serta khasiat
keseluruhannya.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah timbangan, cawan arloji,
sendok gelas, kertas perkamen, sendok tanduk, mortar, stamper, etiket, lem, dan pot
plastik. Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu paracetamol,
sulfaguanidin, papaverin HCl, dan elaeosh.menthapip.
Metode
Timbangan ditera dan dialasi menggunakan kertas perkamen. Paracetamol
ditimbang sebanyak 2 g, sulfaguanidin sebanyak 1 g, papaverin HCl sebanyak 0,3 g,
dan Sacharum Lactis (SL) sebanyak 2 g. SL dibagi menjadi tiga bagian dengan
perkiraan mata.
Mortar yang telah kering dan bersih disiapkan, kemudian papaverin digerus
dan ditambahkan 1/3 bagian SL, digerus hingga homogen kemudian disisihkan.
Campuran tersebut diberi kode campuran 1. Mortar dibersihkan kembali,
sulfaguanidin digerus dan ditambahkan 1/3 bagian SL kemudian digerus hingga
homogen. Campuran 1 ditambahkan pada campuran tersebut dan digerus hingga
homogen. Campuran tersebut diberi kode campuran 2. Mortar dibersihkan kembali
kemudian paracetamol dimasukkan digerus tersendiri dan ditambahkan sisa SL yang
masih ada, setelah homogen ditambahkan campuran 2 dan dohomogenkan lagi.
Sediaan yang telah homogen tersebut ditambahkan Ol.Menthaepip sebanyak 1 tetes
dan dihomogenkan lagi.
Serbuk yang telah homogen tersebut dibagi menjadi dua dengan timbagan,
masing-masing bagian dibagi menjadi lima di atas kertas perkamen dengan perkiraan
mata. Serbuk pada kertas perkamen tersebut kemudian dibungkus dan disimpan.
Tinjauan Pustaka

Hasil
Sediaan farmasi yang telah dibuat yaitu berupa serbuk terbagi. Obat ini
merupakan obat yang dapat mengatasi gangguan saluran pencernaan disertai demam.

Pembahasan
Papaverin merupakan obat pencernaan jenis antispasmodik (obat maag anti
kejang). Obat pencernaan jenis ini digunakan unutk mengatasi kejang pada saluran
cerna yang mungkin disebabkan diare, gastritis, tukak peptik dan sebagainya.
Papaverine termasuk golongan alkaloid opium yang diindikasikan untuk kolik
kandungan empedu dan ginjal dimana dibutuhkan relaksasi pada otot polos pada
bronkus,

saluran

cerna,

ureter,

dan

saluran

kemih.

Papaverine memiliki sedikit aksi analgesik. Adanya efek relaksasi papaverine pada
otot yang kontraksi/kejang/spasme diharapkan dapat mengurangi rasa nyeri pada
penderita.
Parasetamol (asetaminofen) merupakan obat analgetik non narkotik dengan
cara kerja menghambat sintesis prostaglandin terutama di Sistem Syaraf Pusat (SSP).
Parasetamol digunakan secara luas di berbagai negara baik dalam bentuk sediaan
tunggal sebagai analgetik-antipiretik maupun kombinasi dengan obat lain dalam
sediaan obat flu, melalui resep dokter atau yang dijual bebas. (Lusiana Darsono
2002). Efek analgesik Parasetamol dan Fenasetin serupa dengan Salisilat yaitu
menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Keduanya menurunkan

suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga juga berdasarkan efek sentral seperti
salisilat. Universitas Sumatera Utara Efek anti-inflamasinya sangat lemah, oleh
karena itu Parasetamol dan Fenasetin tidak digunakan sebagai antireumatik.
Parasetamol merupakan penghambat biosintesis prostaglandin (PG) yang lemah. Efek
iritasi, erosi dan perdarahan lambung tidak terlihat pada kedua obat ini, demikian juga
gangguan pernapasan dan keseimbangan asam basa.(Mahar Mardjono 1971)

Dapus