Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIKUM II

FARMASI DAN SEDIAAN TERAPEUTIK VETERINER

SERBUK TAK TERBAGI

Ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Farmasi dan Terapeutik Veteriner
Dosen :
Prof. Ietje Wintarsih, Apt. M.Sc dan Dr. Bayu Febram M.Si, Apt.

Disusun oleh :
Kelompok 9
Rahmitiana Wuri 130210160020
Nabila Husna 130210160021

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2019
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Serbuk
Dalam dunia farmasi, sediaan dalam bentuk serbuk sangat banyak
digunakan. Menurut Farmakope Indonesia IV, serbuk adalah campuran kering
bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, ditujukan untuk pemakaian oral
atau untuk pemakaian luar. Sedangkan menurut Dirjen POM Serbuk adalah
campuran homogen dua atau lebih obat yang diserbukkan. Sediaan obat dalam
bentuk serbuk lebih efektif karena luas permukaan yang lebih luas, mudah
terdispersi, lebih larut dari bentuk lain yang dipadatkan (capsul, tablet, pil).
Serbuk terbagi atas dua macam, yaitu pulveres (serbuk bagi) dan pulvis
(serbuk tak terbagi). Pulveres adalah serbuk yang dibagi dalam bobot kurang
lebih sama, dibungkus dengan menggunakan bahan pengemas yang cocok
untuk sekali minum. Pulvis adalah serbuk bebas dari butiran kasar dan
dimaksudkan untuk obat luar (Dirjen POM,1979).
Terdapat beberapa keuntungan dari obat dengan bentuk serbuk,
diantaranya adalah obat lebih mudah terdispersi dan lebih larut daripada
sediaan yang dipadatkan. Kedua, lebih mudah diaplikasikan dari pada sediaan
cair atau sediaan padat lainnya. Ketiga, masalah stabilitas yang sering di hadapi
dalam sediaan cair tidak ditemukan dalam sediaan serbuk. Keempat, Obat yang
tidak stabil dalam suspensi atau larutan air dapat dibuat dalam bentuk serbuk.
Selain itu, obat dengan volume yang terlalu besar untuk dibuat tablet atau
kapsul dapat dibuat dalam bentuk serbuk. Namun terdapat kerugian pada obat
dengan bentuk serbuk, yaitu tidak tertutupinya rasa dan bau yang tidak enak
(pahit, sepet, lengket di lidah, amis dan lain – lain). Dan juga pada
penyimpanan kadang terjadi lembab atau basah (Syamsuni 2006).

2.2. Pulvis (Serbuk Tak Terbagi)


Secara umum syarat serbuk yaitu kering, homogen, dan memenuhi Uji Keragaman
Bobot (Syamsuni 2006). Pulvis dapat digolongkan menjadi beberapa jenis, antara
lain :
1. Pulvis adspersorius (serbuk tabur/bedak). Umumnya, serbuk tabur harus
melewati ayakan dengan derajat halus 100 mesh agar tidak menimbulkan
iritasi pada bagian yang peka. Pulvis adspersorius harus memenuhi persyaratan
berikut :
a. Harus halus, tidak boleh ada butiran–butiran kasar.
b. Talk, kaolin, dan bahan mineral lainnya harus bebas dari bakteri
Clostridium tetani, C. welchii, dan Bacillus anthracis serta disterilkan
dengan cara (cara kering).
c. Tidak boleh digunakan untuk luka terbuka
2. Pulvis dentrificius (serbuk gigi) biasanya mengandung karmin sebagai
pewarna yang dilarutkan lebih dahulu dalam kloroform atau etanol 90%.
3. Pulvis sternutotarius (serbuk bersin) digunakan untuk dihisap melalui
hidung.
4. Pulvis effervescent adalah serbuk biasa yang sebelum diminum dilarutkan
dahulu dalam air dingin atau air hangat. Jika serbuk ini dilarutkan akan
mengeluarkan gas CO2 yang kemudian membentuk larutan jernih.
Merupakan campuran dari senyawa asam (asam sitrat, asam tartrat) dengan
basa (natrium bikarbonat).

2.3. Camphora (C6H4(OH)COOH)

Camphora adalah produk alami yang berasal dari kayu pohon


Cinnamomum camphora. Camphora dapat digunakan sebagai antiseptik,
analgesik, antipruritus, counterirritant, dan rubefacient. Camphora digunakan
secara luas dalampengobatan, terutama dalam bentuk topikal, hal ini berkaitan
dengan aksi anastesi lokal dan kemampuan untuk menimbulkan sensasi panas
sehingga menjadi dasar yang kuat dan efektif untuk menjadi obat
(Zuccarini2007).

Sediaan champora berbentuk kristal halus dan tidak berwarna.


Disintesis dari asam amino fenilalanin. Seiring perkembangan ilmu
pengetahuan, senyawa ini dan derivatnya digunakan sebagai komponen dalam
produk rubefasiensia. Senyawa ini bekerja sebagai keratolitik dan komedolitik
dengan mempercepat pengelupasan sel-sel pada epidermis kulit, membuka
pori yang tersumbat dan mencegahnya tersumbat kembali dengan
memperbesar diameter pori, serta menyediakan tempat bagi sel baru yang akan
tumbuh. Selain itu, senyawa ini juga bekerja sebagai antifungal.

2.4. Zinc Oxide (ZnO)


ZnO merupakan suatu senyawa inorganik yang tidak larut dalam air dan
alkohol, tapi larut dalam larutan yang bersifat asam. Berbentuk serbuk halus
berwarna putih. Penggunaannya dalam dunia medis berkaitan dengan
kemampuan sebagai antimikrobial dan penghilang bau, sehingga sering
ditambahkan dalam kemasan makanan. Zinc oxide digunakan secara luas pada
treatment penyakit kulit. Sediaan ini tidak diserap oleh kulit sehingga tidak
menyebabkan iritasi dan alergi pada kulit pengguna.

2.5. Talkum (H2Mg3(SiO3)4

Talk merupakan suatu sediaan yang berasal dari magnesium silikat berwarna
putih dan berbentuk serbuk halus. Digunakan pada produk-produk pupur bayi
sebagai serbuk astringen untuk mencegah kemerahan pada kulit akibat
penggunaan popok. Senyawa ini digunakan sebagai tambahan pada suatu
bahan lain (yang jumlahnya sedikit atau sangat sedikit) untuk menambah
volume nilai jual. Senyawa ini dijual bebas dan digunakan secara luas pada
berbagai bidang dan produk komersial di seluruh dunia (Kayne 2004).
BAB III

METODE KERJA

Bahan dan alat-alat yang akan digunakan disiapkan. Sebelumnya timbangan


ditera dan dialasi kertas perkamen. Pertama-tama timbang Camphora
sebanyak 0,22 gr, lalu Zinc Oxide sebanyak 1,1 gr dan Talk sebanyak 5,28 gr.
Untuk bahan Talk setelah ditimbang, kemudian dibagi dua di atas kertas
perkamen dengan perkiraan mata. Mortar kering dan bersih disiapkan, dan
dimasukkan Camphora kedalam mortar, ditetesi 10 tetes spirt.fort lalu digerus.
Lalu ditambahkan talk (1/2nya) dan diaduk hingga homogeny. Selanjutnya
ditambahkan zinc Oxide kedalam mortar yang berisi camphora dan ½ talk.
Setelah diaduk hingga homogeny, ditambahkan sisa talk dan diaduk lagi
hingga homogeny. Bahan-bahan yang sudah homogeny disaring/diayak
menggunakan ayakan B30 dan ditimbang sampai dengan 6 gr. Selanjutnya
dimasukkan kedalam pot plastic dan diberi etiket.
Daftar Pustaka

Dirjen POM, 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Depkes RI: Jakarta

Dirjen POM, 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Depkes RI: Jakarta.

Kayne SB dan Jepson MH. 2004. Veterinary Pharmacy. London:


Pharmaceutical Pr.

Syamsuni. 2006. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. Jakarta: Penerbit


EGC.