Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU RESEPTIR DAN FARMASI VETERINER

PEMBUATAN BENTUK SEDIAAN PULVERES, KAPSUL DAN


UNGUENTUM

OLEH :
ELYAS HERYBERTUS TANI BINA
(1109005020)

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2014
1

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
penyelenggaraannya penulis dapat menyelesaikan laporan praktikum mata kuliah reseptir dan
farmasi ini tepat pada waktunya.
Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang dengan
caranya sendiri telah membantu penulis dalam menyelesaikan penulisan laporan ini. Tulisan ini
dibuat untuk memenuhi tugas setelah dilakukannya praktikum di Laboratorium Reseptir dan
Farmasi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana.
Penulis juga menyadari bahwa tak ada manusia yang sempurna, oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca dan pengampu mata kuliah demi penyempurnaan
tulisan ini.

Denpasar, 29 oktober 2014

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR .. ii
DAFTAR ISI .iii
TUJUAN DAN MANFAAT .1
LANDASAN TEORI 1
BAHAN DAN METODE .3
PEMBAHASAN ...4
CONTOH RESEP .9
KESIMPULAN 12

1. Tujuan dan Manfaat


Pelaksanaan praktikum di laboratorium Reseptir dan Farmasi Veteriner FKH unud
bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa agar dapat melakukan penelaahan
dan pengkajian resep serta melakukan peracikan obat atau memformulasikan obat sesuai dengan
permintaan resep.
Manfaat yang diperoleh praktikan setelah melakukan praktikum ini adalah praktikan
dapat membuat atau meracik obat sesuai sesuai dengan perintah yang tertera pada resep. Pada
praktikum yang telah dilakukan praktikan membuat atau meracik obat menjadi 3 bentuk sediaan
obat yaitu pulveres,kapsul, dan unguentum.
2. Landasan Teori
Obat adalah zat atau paduan bahan yang digunakan untuk mencegah, menyembuhkan,
mengurangi gejala penyakit, memulihkan kesehatan dan memperbaiki fungsi tubuh. Bentuk
sedian obat berupa padat, setengah padat dan cair. Bentuk sediaan obat padat berupa pulveres,
pulvis, pil, tablet, kapsul, supositoria dan sebagainya. Bentuk sediaan cair berupa larutan, emulsi,
dan suspensi. Pada praktikum kali ini jenis obat yang diformulasikan berupa pulveres, kapsul dan
unguentum.
Pulveres adalah serbuk yang dibagi dalam bobot yang kurang lebih sama
dibungukusmenggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum. Untuk serbuk bagi
yang mengandung bahan mudah melele atau atsiri, harus dibungkus dengan kertas perkamen
atau kertas yang mengandung lilin, kemudian dilapisi lagi dengan kertas logam. Keseragaman
bobot harus memenuhi persyaratan keseragaman bobot farmakope Indonesia.
Kapsul adalah

sediaan obat yang terbungkus cangkang yang terbuat dari metal

celulosa,gelatin atau bahan lain yang sesuai. Kapsul dibagi menjadi dua yaitu : Hard Kapsul dan
Soft Kapsul. Hard kapsul adalah cangkang kapsul terbuat dari gelatin, gliserin, contohnya
tetrasiklin kapsul sedangkan soft kapsul adalah cangkang kapsul yang terbuat dari gelatin lunak,
contohnya Natur E. Kapsul harus memenuhi persyaratan farmakope Indonesia mengenai
keseragaman bobot dan waktu hancur. Obat yang dimasukan kedalam kapsul tidak boleh
merusak dinding kapsul. Bau dan rasa obat yang dimasukkan dalam kapsul tidak boleh berada
pada dinding luar kapsul, sehingga setelah obat dimasukkan kapsul, kapsul harus dibersihkan.

Unguentum adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan sebagai obat luar.
Bahan obat harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok. Dasar salep
kecuali dinyatakan lain digunakan vaselin putih. Tergantung dari sifat bahan obat dan tujuan
pemakaian, dapat dipih bahan dasar sebagai berikut :

Dasar salep senyawa hidrokarbon : vaselin putih, vaselin kuning, atau campurannya
dengan malam putih, dengan malam kuning, atau dengan senyawa hidrokarbon lain yang
cocok.

Dasar salep serap : lemak bulu domba campuran 3 bagian.

Dalam resep biasanya terdapat bermacam-macam obat. Macam obat dalam resep dapat
dibedakan menjadi :

Remedium cardinale

Obat yang berfungsi menyembuhkan penyebab terjadinya penyakit sehingga disebut obat
pokok atau obat utama

Remedium adjutiva

Obat tambahan yang membantu kesembuhan dan biasanya merupakan obat-obat


simptomatik.

Remedium corringensia

Bahan obat yang berfungsi untuk memperbaiki kerja obat utama yang diberikan.
Remedium corringensia terdiri dari :

Remedium corringensia actionis

Obat ini berfungsi untuk memperbaiki kerja remedium cardinale.

Remedium corringensia saporis

Obat ini berfungi untuk memperbaiki rasa.

Remedium cardinal odoris

Obat ini berfungsi untuk menutupi atau memperbaiki bau obat yang tidak enak.

Remedium coloris

Obat ini berfungsi untuk memberika warna obat yang lebih menarik.

Remedium constituen

Remedium constituen berfungsi sebagai pelarut.

3.

Bahan dan Metode (cara pembuatan)

Pulveres dan kapsul

Alat :
a. Mortir dan lumping
b. Kertas perkamen
c. Cangkang kapsul no.00
d. Sendok tanduk
Bahan :
a. Antalgin 500 mg
b. Ampicillin 500 mg
c. CTM 4 mg
d. B kompleks
Metode :
a.

Semua jenis obat dimasukan kedalam mortar

b.

Melakukan penggerusan secara perlahan-lahan sampai diperoleh serbuk yang


halus dan homogeny.

c.

Serbuk halus yang diperoleh terbagi terbagi menjadi dua bagian yaitu satu
bagian untuk pembuatan kemasan pulveres dan bagaian lainya untuk kemasan
kapsul.

d.

Untuk kemasan pulveres menyiapkan kertas pembukus berukuran 6x9 cm dan


melakukan liapan kertas yang berisi obat sehingga obat tidak mudah tumpah.

e.

Untuk kemasan kapsul, cangkang kapsul di lepas kemudian cangkang kapsul


yang lebih kecil di isi adonan serbuk homogeny tadi sampai penuh atau batas
atas cangkang kapsul selanjutnya di tutup dengan cangkang kapsul yang lebih
besar.

Unguentum
Alat :
a. Timbangan digital
6

b. Mortar dan lumpang


c. Sendok tanduk
d. Potongan kertas foto.
e. Kertas minyak

Bahan :
a.

Salicylate acid 1gr

b.

Sulfur ppt 3gr

c.

Vaseline album 21gr.

Metode :
a. Menimbang asam salisilat 1gram kemudian menuangkan kedalam mortar
b. Menimbang sulfur ppt 3gram dan menuangkannya kedalam mortir
c. Menimbang vaselin album 21gram, menuangkan sedikit demi sedikit kedalam
mortar sambil dilakukan pengadukan dan digerus pelan-pelan sampai
diperoleh adonan salep yang homogen.
d. Setelah salep terlihat homogeny ditampung kedalam pot plasttik sesuai
dengan kemasan yang diinginkan.

4. Pembahasan
Pada praktikum yang telah dilakukan, praktikan membuat bentuk sediaan obat menjadi 3
bentuk sediaan yaitu pulveres, kapsul, dan unguentum.

Pulveres

Pulveres adalah serbuk yang dibagi dalam bobot yang kurang lebih sama, dibungkus
dengan menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum. Pembuatan
pulveres ini dibuat dengan cara diibagi menjadi bungkus-bungkus kecil dalam kertas unit
doses system (300-500mg). Obat ini digunakan untuk obat dalam. Keuntungan pulveres
berupa unit dose, dosis lebih tepat, lebih stabil, dan disolusi lebih cepat. Kerugiannya

yaitu rasanya dapat merangsang mukosa mulut dan atau saluran cerna. Bahan obat yang
digunakan dalam pembuatan pulveres adalah : antalgin, ampicilin, ctm, dan B kompleks.

Antalgin

Antalgin adalah salah satu obat penghilang rasa sakit (analgetik) turunan NSAID,
atau Non-Steroidal Anti Inflammatory Drugs. Umumnya, obat-obatan analgetik
adalah golongan obat antiinflamasi (antipembengkakan), dan beberapa jenis obat
golongan ini memiliki pula sifat antipiretik (penurun panas), sehingga
dikategorikan sebagai analgetik-antipiretik. Golongan analgetik-antipiretik adalah
golongan analgetik ringan. Komposisi dari antalgin adalah Metamhampyron
(+klordiazepoksida). Antalgin adalah derivat metansulfonat dari Amidopirina
yang bekerja terhadap susunan saraf pusat yaitu mengurangi sensitivitas reseptor
rasa nyeri dan mempengaruhi pusat pengatur suhu tubuh. Tiga efek utama adalah
sebagai analgesik, antipiretik dan anti-inflamasi. Antalgin mudah larut dalam air
dan mudah diabsorpsi ke dalam jaringan tubuh.

Ampicilin
Komposisi ampicilin adalah ampisilina trihidrat. Mekanisme kerjanya

yaitu menghambat sintesis dinding sel bakteri dengan mengikat satu atau lebih
pada ikatan penicillin-protein (PBPsProtein binding penicillins), sehingga
menyebabkan penghambatan pada tahapan akhir transpeptidase sintesis
peptidoglikan dalam dinding sel bakteri, akibatnya biosintesis dinding sel
terhambat dan sel bakteri menjadi pecah (lisis). Kelompok ampicillin, walaupun
spektrumnya lebar, aktivitasnya terhadap mikroba gram-positif tidak sekuat
penicillin G, tetapi efektif terhadap beberapa mikroba gram-negatif dan tahan
asam.

CTM

Chlorpheniramin maleat atau lebih dikenal dengan CTM merupakan salah satu
antihistaminika yang memiliki efek sedative (menimbulkan rasa kantuk).
Keberadaanya sebagai obat tunggal maupun campuran dalam obat sakit kepala
maupun influenza lebih ditujukan untuk rasa kantuk yang ditimbulkan sehingga
pengguna dapat beristirahat. CTM memiliki indeks terapetik (batas keamanan)
cukup besar dengan efek samping dan toksisitas relatif rendah. Untuk itu sangat
8

perlu diketahui mekanisme aksi dari CTM sehingga dapat menimbulkan efek
antihistamin dalam tubuh manusia. CTM sebagai AH1 menghambat efek histamin
pada pembuluh darah, bronkus dan bermacam-macam otot polos. AH1 juga
bermanfaat untuk mengobati reaksi hipersensitivitas dan keadaan lain yang
disertai pelepasan histamin endogen berlebihan.

B kompleks

Vitamin B kompleks merupakan vitamin yang larut dalam air dan tidak dapat
diproduksi oleh tubuh sehingga harus didapatkan dari asupan makanan yang
dikonsumsi untuk mencukupi kebutuhan tubuh terhadap vitamin ini. Selain itu
vitamin B kompleks juga tidak dapat disimpan secara baik didalam tubuh, maka
asupan secara reguler sangat dianjurkan agar tidak kekurangan vitamin B
kompleks. Delapan unsur utama pembentuk vitamin B kompleks adalah:
a.

Thiamine

(vitamin

B1),

berfungsi

membantu

sel

tubuh

menghasilkan energi, kesehatan jantung serta metabolisme karbohidrat.


b.

Riboflavin (vitamin B2), berfungsi melindungi tubuh dari penyakit

kanker, mencegah migren serta katarak.


c.

Niacin (vitamin B3), bermanfaat untuk melepaskan energi dari zat-

zat nutrien, membantu menurunkan kadar kolesterol, mengurangi depresi


dan gangguan pada persendian.
d.

Asam pantothenate (vitamin B5), membantu system syaraf dan

metabolisme, mengurangi alergi, kelelahan dan migren. Penting bagi


aktifitas kelenjar adrenal, terutama dalam proses pembentukan hormon.
e.

Pyridoxine (vitamin B6), membantu produksi sel darah merah dan

meringankan gejala hipertensi, asma serta PMS.


f.

Biotin (vitamin B7), bermanfaat dalam proses pelepasan energi

dari karbohidrat, pembentukan kuku serta rambut.


g.

Asam Folic (vitamin B9), membantu perkembangan janin,

pengobatan anemia dan pembentukan hemoglobin.


h.

Cobalamine (vitamin B12), membantu merawat system syaraf dan

pembentukan sel darah merah.

Bentuk sediaan obat dibuat dalam bentuk pulveres karena diinginkan beberapa macam
obat dalam satu bentuk sediaansesuai dengan bentuk sediaan. Obat bentuk pulveres juga
lebih stabil dibandingkan dengan larutan dan digunakan untuk obat dalam. Disamping itu
dibuat dalam bentuk pulveres karena sifat dari antalgin yang mudah larut dalam air
mudah diserap tubuh. Bahan obat yang digunakan dalam praktikum pembuatan sediaan
pulveres juga memenuhi beberapa fungsi obat sesuai yang telah dibahas dalam landasan
teori dimana ampicilin berperan sebagai remedium cardinal, antalgin dan CTM sebagai
remedium

adjutiva,

dan

komplek

sebagai

remedium

corringensia.

Kapsul
Bahan obat yang digunakan untuk untuk pembuatan bentuk sediaan kapsul sama
dengan bahan obat yang digunakan untuk pulveres. Obat dikemas menjadi bentuk sediaan
kapsul untuk menghindari rasa dan bau yang tidak enak, membagi obat dengan dosis
yang tepat dan teliti, melindungi obat dari pengaruh luar, dan disebabkan oleh faktor
Psikologis tertentu.

Unguentum
Unguenta/salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan
digunakan sebagai obat luar. Fungsi salep yaitu :
a. Sebagai pembawa (vehicle)
b. Sebagai pelumas (emollient)
c. Sebagai pelindung (protective)
Pada praktikum yang telah dilakukan bahan-bahan obat yang digunakan oleh
praktikan untuk pembuatan salep (unguentum) adalah salicylat acid 1gr, sulfur ppt 3gr,
dan vaselin album 21gr.

Salicylat acid 1gr

Nama resmi

: Acidum Salicylicum

Sinonim

: Asam Salisilat

Pemberian

: hablur ringan tidak berwarna atau serbuk berwarna putih, hampir

tidak berbau, rasa agak manis dan tajam

10

Kelarutan

: Larut dalam 550 bagian air dan dalam 4 bagian etanol (95%),

mudah larut dalam kloroform dan dalam eter, larut dalam larutan amonium asetat,
dinatrium hidrogenfosfat, kalium sitrat, dan natrium sitrat
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Khasiat

: Keratolitikum, anti fungi


Sulfur PPT 3gr

Sulfur praecipitatum atau belerang endap memiliki ciri-ciri warna kuning pucat,
sangat halus tidak berbau, dan tidak berasa. Fungsi utama dari Sulfur
praecipitatum adalah sebagai keratolitik agent yaitu suatu zat yang dapat
menghilangkan sisik-sisik kulit yang kasar atau melunakkan/menipiskan lapisan
keratin, di samping itu juga memiliki aktivitas antifungi dan antibakteri lemah.

Vaselin Album

Nama resmi

: Vaselinum album

Sinonim

: Vaselin putih

Pemberian

: Massa lunak, lengket, bening, putih; sifat ini tetap setelah zat

dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk


Kelarutan

: Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P, larut

dalam kloroform P, dalam eter P, dan dalam eter minyak tanah P, larutan kadangkadang beropalesensi lemah
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Khasiat

: Zat tambahan

Ketiga obat ini dibuat dalam bentuk salep atau unguentum karena digunakan untuk pengobatan
luar. Sulfur praecipitatum fungsi utamanya adalah sebagai keratolitik agent yaitu suatu zat yang
dapat menghilangkan sisik-sisik kulit yang kasar atau melunakkan/menipiskan lapisan keratin, di
samping itu juga memiliki aktivitas antifungi dan antibakteri lemah. Sulfur dikombinasikan
dengan asam salisilat menghasilkan efek keratolitik yang sinergis. Asam salisilat adalah
keratolitik agent yang sangat poten sehingga dapat meningkatkan penetrasi obat lain dan sering
dikombinasikan dengan sulfur, bersifat antifungi dan antibakteri lemah sedangkan vaselin
merupakan zat tambahan yang berfungsi sebagai pembawa. Disamping itu penyimpanan obat
menggunakan pot kecil (tube) disebabkan oleh sifat dari bahan obat yang dipakai yaitu : baik
disimpan dalam wadah tertutup.
11

5. Contoh Resep
Contoh Resep Pulveres
Dokter
Izin
Alamat
Tlp.

: Drh. Harry Bina


: No.020/Disnak-Manggarai/2016
: Jl. Ahmad Yani No.1
: (0385) 2424656
Ruteng, 7 Juli 2017

R/ Antalgin mg 500 no.II


Ampicillin mg 500 no. II
CTM mg 4 no.II
B-complex tab I
m.f. pulv.dtd.no. V
S.3.dd.pulv.I
#
Pro
: Anjing
Pemilik
: Nadus
Umur
: 2 tahun
BB
: 10 kg
Alamat
: Jl.Wae Palo No. 2

Contoh Resep Kapsul

Dokter
Izin
Alamat
Tlp.

: Drh. Harry Bina


: No.007/Disnak-Manggarai/2015
: Jl. Ahmad Yani. No.1
: (0385) 2424656
Ruteng, 18 Agustus 2017

R/ Antalgin mg 500
Ampicillin mg 500
CTM mg 4
B-complex tab I
m.f.caps.dtd.no. III
S.3.dd.caps.I
#
12

Pro

: Anjing

Pemilik

: Rikus

Umur

: 4 thun

BB

: 15 kg

Alamat

: Jl. Wae Buka No.2

Contoh Resep Unguenta/Salep

Dokter
Izin
Alamat
Tlp.

: Drh. Harry Bina


: No.007/Disnak-Manggarai/2015
: Jl. Ahmad Yani No.1
: (0385) 2424656
Ruteng, 22 Desember 2017

R/ Salicylate Acid gr 1
Vaseline album gr 21
Sulfur ppt gr 3
m.f.l.a.ung.
S.u.e
#
Pro

: Anjing

Pemilik

: Rikus

Umur

: 4 tahun

BB

: 15 kg

Alamat

: Jl.Nangka No. 2

6. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas penulis menyimpulkan :

Pada sediaan pulveres bahan obat yang digunakan adalah antalgin, ampicilin, CTM dan B
kompleks. Antalgin bersifat analgesik-antipiretik, ampicilin berfungsi sebagai antibiotik
untuk mencegah pertumbuhan bakteri, CTM berfungsi sebagai antihistamin dan B
13

kompleks merupakan obat tambahan untuk mendukung kerja obat utama. Bentuk sediaan
obat dibuat dalam bentuk pulveres karena diinginkan beberapa macam obat dalam satu
bentuk sediaan dan merupakan bentuk sediaan yang stabil.

Obat dikemas menjadi bentuk sediaan kapsul untuk menghindari rasa dan bau yang tidak
enak, membagi obat dengan dosis yang tepat dan teliti, melindungi obat dari pengaruh
luar, dan disebabkan oleh faktor Psikologis tertentu.

Bentuk sediaan obat berupa salep atau unguentum digunakan untuk pengobatan luar.
Sulfur praecipitatum fungsi utamanya adalah sebagai agen, di samping itu juga memiliki
aktivitas antifungi dan antibakteri lemah. Sulfur dikombinasikan dengan asam salisilat
menghasilkan efek keratolitik yang sinergis. Asam salisilat adalah keratolitik agent yang
sangat poten sehingga dapat meningkatkan penetrasi obat lain dan sering dikombinasikan
dengan sulfur, bersifat antifungi dan antibakteri lemah sedangkan vaselin merupakan zat
tambahan yang berfungsi sebagai pembawa. Disamping itu penyimpanan obat
menggunakan pot kecil (tube) disebabkan oleh sifat dari bahan obat yang dipakai yaitu :
baik disimpan dalam wadah tertutup.

14

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1979, Farmakope Indonesia edisi III, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia: Jakarta.
Arief, Moh. 2007. Farmasetika. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Arief, Moh,. 2010. Ilmu Meracik Obat. Anggota Ikapi Universitas Gadja Mada : Yogyakarta.
Chaerunnisaa, A.Y.,. 2009. Farmasetika Dasar, Widya Padjadjaran, Bandung.

15