Anda di halaman 1dari 17

Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri

Laporan Resmi
Praktikum Salep (Unguentum)

DI SUSUN OLEH :
YUDIA SUSILOWATI
(30313031)
DIII-FARMASI TK.1

INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA KEDIRI


Jl. KH. Wachid Hasyim 65 Kediri 64144
Telp. (0354) 773299 Fax. (0354) 771539
Email : bhaktiwiyata@live.com Web : www.iik.ac.id

SEDIAN SALEP

Salep (unguents) adalah preparat setengah padat untuk pemakaian


luar. Preparat farmasi setengah padat seperti salep, sering memerlukan
penambahan pengawet kimia sebagai antimikroba, pada formulasi untuk
mencegah pertumbuhan mikroorganisme yang terkontaminasi. Pengawetpengawet ini termasuk hidroksibenzoat, fenol-fenol, asam benzoat, asam
sorbat,

garam

amonium

kuartener,

dan

campuran-campuran

lain.

Preparat setengah padat menggunakan dasar salep yang mengandung


atau menahan air, yang membantu pertumbuhan mikroba supaya lebih
luas daripada yang mengandung sedikit uap air, dan oleh karena itu
merupakan masalah yang lebih besar dari pengawetan (Chaerunnisa,
2009).
Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan
digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispend
homogen dalam dasar salep yang cocok. Pemerian tidak boleh berbau
tengik. Kadar kecuali dinyatakan lain dan untuk salap yang mengandung
obat keras atau obat narkotik , kadar bahan obat adalah 10 %. Kecuali
dinyatakan sebagai bahan dasar digunakan Vaselin putih . Tergantung dari
sifat bahan obat dan tujuan pemakaian, dapat dipilih salah satu bahan
dasar berikut: dasar salep senyawa hidrokarbon Vasellin putih, vaselin
kuning atau campurannya dengan malam putih, dengan Malam kuning
atau senyawa hidrokarbon lain yang cocok; dasar salep serap lemak bulu
domba dengan campuran 8 bagian kolesterol 3 bagian stearik alcohol 8
bagian malam putih dan 8 bagian vaselin putih, campuran 30 bagian
Malam kuning dan 70 bagian Minyak Wijen; dasar salap yang dapat dicuci
dengan air. Emulsi minyak dan air; dasar salap yang dapat larut dalam air
Polietilenglikola

atau

campurannya.

Homogenitas jika dioleskan pada sekeping kaa atau bahan transparan lain
yang cocok, harus menunjukkan susunan yang homogen (Anif, 2000).

Tujuan :
1. Mengetahui langkah-langkah cara pembuatan sediaan salep yang
baik dan tepat
2. Mengetahui sifat-sifat bahan obat
3. Mengetahui Fungsi obat
4. Mengetahui permasalahan bahan obat dan cara penyelesainnya.

DASAR TEORI
Definisi Salep
Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan
digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispersi
homogen dalam dasar salep yang cocok (Depkes.1979).
Salep tidak boleh berbau tengik. Kecuali dinyatakan lain kadar
bahan obat dalam salep yang mengandung obat keras atau obat narkotik
adalah 10% (Moh. Anief. 1997).
Penggolongan Salep
(Moh. Anief. 1997):
1.

Berdasarkan Efek Terapi


a) Salep epidermis.
b) Salep endodermis.
c) Salep diadermis.

2.

Berdasarkan Dasar Salep


a.

Dasar salep hidrokarbon


1.
2.
3.
4.
5.
6.

b.

Vaselin putih.
Vaselin kuning.
Campuran vaselin dengan malam putih, malam kuning.
Paraffin encer.
Parafin padat..
Minyak tumbuh-tumbuhan.

Dasar salep serap, yaitu dapat menyerap air


1. Adeps lanae, lanolin.
2. Unguentum simplek.
3. Hydrophilic petrolatum.

c.

Dasar salep dapat dicuci air


1.
2.
3.
4.

Dasar salep emulsi M/A, seperti vanishing cream.


Emulsifying wax ointment B.P.
Emulsifying wax.
Hydrophillic ointment.

d. Dasar salep yang dapat larut dalam air, yaitu terdiri dari PEG atau
campuran PEG.
Pemilihan dasar salep disesuaikan dengan kebutuhan atau sifat salep
yang diinginkan. Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah:
1. Laju pelepasan bahan obat dari dasar salep
2. Peningkatan absorpsi perkutan oleh dasa salep dari bahan obat

3. Kelayakan melindungi kelembapan kulit


4. Jangka waktu obat stabil dalam dasar salep
5. Pengaruh obat terhadap kekentalan atau hal lain dari dasar salep
Syarat Dasar Salep
1. Stabil - Bebas inkomp, stabil penyimpanan pada suhu kamar
2. Lunak - Zat halus, Lunak
3. Mudah dipakai
4. Harus kompatibel secara fisika dan kimia, tidak boleh rusak
5. Homogen - Terdistribusi merata
Fungsi Salep Berdasarkan Penetrasi
1. Mempunyai efek permukaan
Memiliki aktivitas membentuk lapisan film yang bertujuan
untuk

mencegah

hilangnya

kelembaban,

efek

membersihkan

ataupun sebagai antibekteri. Basis harus mudah kontak dengan


permukaan dan melepaskan zat aktif ke sasaran
2. Mempunyai efek pada stratum korneum
Contoh sunscreen yang mengandung asam p-amino benzoat
yang berpenetrasi kelapisan kulit yang paling dalam
3. Mempunyai efek epidermal
Zat aktif dapat penetrasi kelapisan kulit paling dalam
Peraturan Pembuatan Salep
1. Zatzat yang larut dalam dasar salep, dilarutkan bila perlu dengan
pemanasan rendah.
2. Zat-zat yang larut mudah dalam air, jika tak diberikan petunjuk lain,
lebih dulu dilarutkan dalam air, asal air yang dibutuhkan untuk
melarutkannya dapat diserap oleh jumlah campuran lemak yang
ditentukan, banyaknya air yang dipakai dikurangkan dari jumlah
campuran lemak yang telah ditentukan (Van Duin. 1947) .
3. Zat-zat yang sukar larut tak cukup larut dalam lemak-lemak dan air,
mula-mula diserbuk dan diayak dengan ayakan B-40 (Van Duin.
1947) .
4. Pada pembuatan salep-salep ini, zat padat dicampur dengan
setengah atau bobot sama lemak, yang jika perlu telah cair atau
tidak dicairkan, ditambahkan sedikit demi seedikit (Van Duin. 1947).

5. Jika salep-salep dibuat dengan jalan mencairkan, maka campuran


harus diaduk sampai dingin (Van Duin. 1947).
6. Salepsalep lebur, selalu dibuat dalam mortir yang dapat ditimbang
dan bukan dalam mortir porselin. Untuk mengaduknya sampai
dingin harus dipakai sebuah antan kayu dan bukan antan porselin
(Van Duin. 1947).
7. Bahan yang ditambahkan terakhir pada suatu massa salep.
8. Balsam-balsem dan minyak atsiri, balsam merupakan campuran dari
dammar dan minyak atsiri, jika digerus terlalu lama akan keluar
damarnya sedangkan minyak atsirinya akan menguap.
Aturan Pembuatan Sediaan Salep
1. Zat yang dapat larut dalam dasar salep, dilarutkan bila perlu dengan
pemanasan rendah.
2. Zat yang tidak cukup larut dalam dasar salep, lebih dulu diserbuk
dan diayak dengan derajat ayakan no. 100.
3. Zat yang mudah larut dalam air dan stabil, serta dasar salep
mampu mendukung atau menyerap air tersebut, dilarutkan dulu
dalam air yang tersedia, setelah itu ditambahkan bagian dasar salep
lain.
4. Bila dasar salep dibuat dengan peleburan, maka campuran tersebut
harus diaduk sampai dingin.
Evaluasi sediaan
1. Organoleptis
Pemerian zat aktif, warna, aroma dan rasa zat aktif harus
dicatat dengan menggunakan terminology deskriptif. Terminology
baku penting

untuk

ditetapkan

karena

menguraikan

sifat-sifat

organoleptik agar terhindar dari kebingungan (Prof. Dr. Chafrles J. P


Siregar, 2010).
2. Homogenitas
Suatu sediaan dikatakan homogen, apabila dalam suatu
sediaan yang terdiri dari berbagai macam jenis obat bercampur
secara merata. Dalam artian zat aktif dalam suatu
terdispersi merata dalam dalam zat pembawanya.
Monografi Bahan
1. Camphora (FI.Edisi III Hal.130)

sediaan

a. Pemerian : Hablur butir atau massa hablur; tidak berwarna;


atau putih; bau khas; tajam; rasa pedas dan aromatik
b. Kelarutan : Larut dalam 700 bagian air, dalam 1 bagian
etanol (95%)p, dalam 0,25 bagian kloroform p; sangat
mudah larut dalam eter p; mudah larut dalam minyak lemak
c. Khasiat : Antiiritan (obat yang digunakan untuk mengobati
iritasi pada kulit yang disebabkan oleh bakteri atau bahan
kimia)
2. Oleum Olivae (FI. Edisi III Hal. 452)
a. Pemerian : cairan, kuning pucat atau kuning kehijauan, bau
tengik, rasa

khas, pada

suhu rendah sebagian atau

seluruhnya membeku
b. Kelarutan : sukar larut dalam etanol (95%)p, mudah larut
dalam kloroform p, dalam eter p, dan dalam eter minyak

3.

tanah p
c. Khasiat : Zat tambahan
Asam Salisilat/ Acidhum Salicylicum (FI IV: 51)
a. Pemerian: Hablur putih, biasanya berbentuk jarum halus
atau serbuk hablur halus putih, rasa agak manis, tajam dan
stabil di udara. Bentuk sintetis warna putih dan tidak
berbau. Jika dibuat dari metal salisilat alami dapat berwarna
kekuningan atau merah jambu dan berbau lemah mirip
menthol.
b. Kelarutan: Sukar larut dalam air dan dalam benzene, mudah
larut dalam etanol dan dalam eter, larut dalam air
mendidih, agak sukar larut dalam kloroform.
c. Khasiat: Antifungi.

4.

Sulfur Praeciptatum/ Belerang Endap (FI IV: 771)


a. Pemerian: Serbuk amorf atau serbuk hablur renik, sangat
halus, warna kuning pucat, tidak berbau dan tidak berasa.
b. Kelarutan: Praktis tidak larut dalam air, sangat mudah larut
dalam karbon disulfide, sukar larut dalam minyak zaitun,

praktis tidak larut dalam etanol.


c. Khasiat: Antiskabies.
5. Vasellinum Flavum/ Vaselin Kuning (FI IV: 823)
a. Pemerian: Massa seperti lemak, kekuningan hingga amber
lemah, berfluoresensi sangat lemah walaupun setelah
melebur. Dalam lapisan tipis transparan. Tidak atau hampir
tidak berbau dan berasa.
b. Kelarutan: Tidak larut dalam air, mudah larut dalam
benzene, dalam karbon disulfide, dalam kloroform dan

dalam minyak terpentin, larut dalam eter, dalam heksana,


dan umumnya dalam minyak lemak dan minyak atsiri,
praktis tidak larut dalam etanol dingin dan etanol panas dan
etanol mutlak dingin.
c. Khasiat: Zat tambahan/ dasar salep hidrokarbon.
6. Oleum Menthae, Minyak Permen, Ol. Menth. Pip (FI III: 458 dan FI IV:
629)
a. Pemerian: Cairan tidak berwarna atau kuning pucat, bau
khas kuat menusuk, rasa pedas diikuti rasa dingin jika udara
dihirup melalui mulut.
b. Kelarutan: Dalam etanol 70% satu bagian volume dilarutkan
dalam 3 bagian volume etanol 70 % tidak terjadi opalesensi.
c. Khasiat: Zat tambahan dan karminativum
7. Parafinum Solidum/ Paraffin Padat (FI III hal: 475)
a. Pemerian: Padat, sering menunjukkan susunan hablur, agak
licin tidak berwarna atau putih tidak mempunyai rasa,
terbakar dengan nyala terang. Jika dileburkan menghasilkan
cairan yang tidak berfluorosensi.
b. Kelarutan: Praktis tidak larut dalam air, dan dalam etanol
(95%) p larut dalam kloroform p suhu lebur 50 sampai 57.
c. Khasiat: Zat tambahan.
8. Zinc Oxyd/ Zink Oksida (FI IV: 835)
a. Pemerian: Serbuk amorf, sangat halus, putih atau putih
kekuningan

tidak

berbau,

lambat

laun

menyerap

karbondioksida dari udara.


b. Kelarutan: Tidak larut dalam air dan dalam etanol, larut
dalam asam encer.
c. Khasiat: Antiseptik local/ antibiotik.
9. Vaselinum (FI III hal. 633)
a. Pemerian: Massa lunak, lengket, bening, putih: sifat ini tetap
selama dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa
diaduk.
b. Kelarutan: Praktis tidak larut dalam air dan etanol (95%) P,
larut dalam kloroform P, dan dalam eter P dan dalam eter
minyak tanah P, larut kadang-kadang berfluoresensi.
c. Khasiat: Zat tambahan

METODOLOGI KERJA
Formula 1

DOKTER UTAMA HUSADA


Alamat praktek : jalan sumatra 59
Jam periksa

:
Sip no 1994
IDI No 14/1974

.....................
R/ Champora 2%
Vaselin ad

20

m.f ung
s.u.e

Pro: Adinda 2 tahun

Perhitungan bahan
1. Champora 2% x 20g = 0, 4g = 400mg
2. Vaselin 20g 0.4g = 19, 6g = 19600 mg
Tahap peracikan
1. Menyetarakan timbangan
2. Timbang champora 400mg, tetesi dengan spiritus fortior aduk ad
larut dan halus
3. Timbang vaselin 19600mg, masukkan mortir gerus ad halus dan
homogen
4. Masukkan pot salep + etiket Biru

Formula 2

DOKTER UTAMA HUSADA


Alamat praktek : jalan sumatra 59
Jam periksa

:
Sip no 1994
IDI No 14/1974

.....................
R/ Champora 2%
Ol olivae 10%
Vaselin ad 20
m.f ung
s.u.e

pro :

Perhitungan bahan
1. Champora 2% x 20g = 0,4 g= 400mg
2. Ol. Olival 10% x 20g = 2g
3. Vaselin = 20g-(0,4g+2g)
= 17, 6g
Tahap peracikan
1.
2.
3.
4.

Menyetarakan timbangan
Menara cawan
Menimbang champora sebanyak 400mg, masukkan mortir
Menimbang ol. Olival sebanyak 2g dengan menggunakan cawan,

masukkan mortir ad homogen


5. Menimbang vaselin sebanyak 17,6g, masukkan mortir, gerus ad
homogen
6. Keluarkan dari mortir, masukkan pot salep
7. Tutup pot salep dengan perkamen dan beri etiket biru
Formula 3

DOKTER UTAMA HUSADA


Alamat praktek : jalan sumatra 59
Jam periksa

:
Sip no 1994
IDI No 14/1974

.....................

R/ Ol. Menth. Pip

60

Paraf. Sol
Vas. Alb

25
ad

100

m.f. ung
s.u.e
da 1/4

pro : Andik

Menggunakan aturan no. 4 bila dasar salep dibuat dengan


peleburan, maka campuran tersebut harus diaduk sampai dingin.
Perhitungan bahan:
1.

Ol. Menth. Pip = 60 g x = 15 g .

2.

Paraf. Sol = 25g x = 6. 25 g

3.

Vas. Alb ad = (100 g x ) - (15 + 6.25 )g = 3.75 g

Cara pembuatan:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Menyetarakan timbangan
Timbang parafifinum solidum sebanyak 6,25g sisihkan
Ditimbang vaselin album 3, 75g disisihkan.
Menara cawan
Menimbang olium minthae piperitae 15g, sisihkan
Lebur parrafinum solidum dengan vaselin album dengan cawan
diatas water bath sambil di aduk dengan batang pengaduk sampai
sedikit mencair.

7. Angkat dari water bath dan masukkan olium minthae sambil terus
diaduk
8. Masukkan kedalam mortir aduk ad homogen
9. Keluarkan salep dengan sudip dan masukkan ke dalam pot salep
10.
Pot salep dibungkus kertas perkamen dan di beri etiket biru

Formula 4
DOKTER UTAMA HUSADA
Alamat praktek : jalan sumatra 59
Jam periksa

:
Sip no 1994
IDI No 14/1974

.....................
R/ Zinci Oxyd

10

Vas. Album. ad

100

m.f ung
s.u.e
da 1/2

Pro: Subagio

Aturan pembuatan salep no. 2, zat yang tidak cukup larut dalam
dasaar salep, lebih dulu diserbuk dan diayak dengan derajat ayakan no.
100.
Perhitungan bahan:
1.

Zink Oxyd 10g x = 5g

2.

Vas. Alb. ad

(100g x ) 5g = 45g

Cara pembuatan:
1. Menyetarakan timbangan
2. Menimbang vaselin album 45g masukkan mortir

3. Menimbang Zinci oxyd 5g diayak, masukkan kedalam mortir sedikit


4.
5.
6.
7.

demi sedikit
Aduk ad homogen
Keluarkan salep dari mortir dengan sudip dan masukkan pot salep
Bungkus pot salep dengan kertas perkamen
Beri etiket biru pada pot salep

Formula 5
DOKTER UTAMA HUSADA
Alamat praktek : jalan sumatra 59
Jam periksa

:
Sip no 1994
IDI No 14/1974

R/ Acid Salicyl

Sulf. Praeccip

Vasellin Flav. ad

100

Mf ungt
s.u.e
da 1/4

Pro: Rahayu

Perhitungan bahan:
1. Acid. Salicyl

2g x = 0,5g

2. Sulf. Praeccip

4g x = 1g

3. Vasellin flav

(100g x ) - (1g + 0,5g) = 23,5g

Cara pembuatan:
1. Menyetarakan timbangan

2. Menimbang acidum salicyckum 0,5g masukkan mortir, tetesi


dengan spiritus fortior secukupnya, gerus ad halus dan kering
3. Menimbang sulfur praciptatum 1g masukkan mortir dan gerus ad
halus dan homogen
4. Menimbang vaselin flavum 23, 5g gerus ad halus dan homogen
5. Keluarkan salep dari mortir dengan sudip
6. Masukkan kedalam pot salep dan bungkus pot salep denhan kertas
perkamen
7. Beri pot salep dengan etiket biru

PEMBAHASAN
Dalam praktikum ini, dibuat sediaan salep. Pada pembuatan salep
pertama, champora ditetesi dengan spiritus fortior ad larut. Spiritus fortior
ini

digunakan

untuk

melarutkan

champora,

karena

champora

itu

berbentuk kristal dan memiliki sifat Larut dalam 700 bagian air, dalam 1
bagian etanol (95%)p, dalam 0,25 bagian kloroform p; sangat mudah larut
dalam eter p; mudah larut dalam minyak lemak (FI.Edisi III Hal.130).

karena

mudah

larut

dalam

etanol

95%

maka

digunakan

spiritus

fortior/alkohol 96% sebagai pelarut. Setelah champora dilarutkan dengan


spitus fortior, baru dimasukkan vaselin yang telah ditimbang kedalam
mortir, kemudian dimasukkan kedalam pot salep.
Pada pembuatan salep yang kedua Champora tidak perlu ditetesi
dengan spiritus fortior. Meskipun champora berbentuk kristal dan memiliki
sifat Larut dalam 700 bagian air, dalam 1 bagian etanol (95%)p, dalam
0,25 bagian kloroform p; sangat mudah larut dalam eter p; mudah larut
dalam minyak lemak (FI.Edisi III Hal.130), hal ini tidak perlu dilakukan
karena dalam resep tersebut terdapat Ollium Olivae.
Pada pembuatan salep yang ketiga Vaselin album dan paraffinum
solidum dilebur di atas water bath terlebih dahulu dengan menggunakan
cawan sambil diaduk dengan batang pengaduk. Ini dikarenakan paraffin
memiliki bentuk padat, memiliki BJ berbeda dengan bahan obat lain
sehingga sulit homogen dan memiliki sifat Praktis tidak larut dalam air,
dan dalam etanol (95%) p, larut dalam kloroform p suhu lebur 50 sampai
57. (FI III hal: 475).
Setelah cawan diangkat dari water bath baru ditambah Oleum Menthae.
Oleum Menthae dimasukkan ketika hasil leburan masih dalam keadaan
panas dan harus diaduk terus, Oleum Menthae tidak boleh dimasukkan
dalam keadaan sudah dingin karena salep tidak akan bisa bercampur
(rusak). Oleum Menthae dimasukkan paling terakhir dalam salep karena
jika digerus terlalu lama damarnya akan keluar atau menguap.
Pada pembuatan salep yang keempat dimasukkan vaselin album
terlebih dahulu kedalam mortir, setelah itu baru dimasukkan Zinc Oxyd.
Zinc Oxyd dimasukkan setelah vaselin karena bahan ini harus diayak
terlebih dahulu dengan menggunakan ayakan no. 100. Bahan ini harus
diayak terlebih dahulu karena memiliki sifat tidak cukup larut dalam dasar
salep, dan mudah menggumpal ketika terkena udara. Zinc Oxyd adalah
Serbuk amorf, sangat halus, putih atau putih kekuningan tidak berbau,
dan lambat laun akan menyerap karbondioksida dari udara (FI IV: 835).
Pada

pembuatan

salep

yang

kelima

Acidhum

Salicylicum

dimasukkan ke mortir terlebih dahulu dan ditetesi dengan spiritus fortior.


Ditetesi dengan spiritus fortior karena bahan ini berbentuk jarum halus.
Acidhum Salicylicum Hablur putih, biasanya berbentuk jarum halus atau
serbuk hablur halus putih, rasa agak manis, tajam dan stabil di udara,

Sukar larut dalam air dan dalam benzene, mudah larut dalam etanol dan
dalam eter, larut dalam air mendidih, agak sukar larut dalam kloroform.
(FI IV: 51).
Sedangkan untuk Sulfur Praeciptatum harus diayak terlebih dahulu
dengan menggunakan ayakan kulit, tidak boleh menggunakan ayakan
logam karena akan menimbulkan percikan api. Setelah kedua bahan
tersebut

dicampur,

baru

dimasukkan

vaselin

flavum

yang

sudah

ditimbang, digerus sampai homogen, dan dimasukkan kedalam pot salep.


Keempat salep yang dibuat memenuhi syarat, karena pada saat
pembuatan dilakukan sesuai dengan cara pembuatan dan langkahlangkah yang baik dan benar. Namun ini tidak untuk salep no 3, salep ini
homogennya kurang sempurna. Ini dikarenakan terbatasnya cawan
penguap di dalam lab. Sehingga tidak bisa menimbang Oleum Menthae.
Cawan sudah digunakan untuk meleburkan Vaselin album dan paraffinum
solidum, sehingga setelah diangkat dari water bath tidak langsung bisa
ditambah. Tetapi dimasukkan mortir dahulu baru kemudian menimbang
dan ditambahkan ollium minthae. Ini menyebabkan hasil leburan sudah
agak

mendingin,

menggumpal.

sehingga

hasilnya

kurang

homogen,

dan

sedikit

KESIMPULAN
Dari praktikum dan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa :
1. Champora merupakan bahan obat yang berbentuk padat, sehingga
harus dilarutkan terlebih dahulu dengan menggunakan spritus
fortior. Namun spiritus fortior ini tidak perlu ditambahkan ketika
sudah ada ollium Olivae.
2. Paraffinum Solidum berbentuk padat, memiliki BJ berbeda dengan
bahan obat lain sehingga sulit homogen. Sehingga hahan ini harus
dilebur di atas water bath terlebih dahulu dengan menggunakan
cawan sambil diaduk dengan batang pengaduk.
3. Zinc Oxyd berbentuk Serbuk amorf, sangat halus, putih atau putih
kekuningan

tidak

berbau,

dan

lambat

laun

akan

menyerap

karbondioksida dari udara. Bahan ini tidak cukup larut dalam dasar
salep dan mudah menggumpal ketika terkena udara. Oleh karena itu
bahan ini harus diayak terlebih dahulu dengan menggunakan
ayakan no. 100
4. Acidhum Salicylicum berbentuk jarum halus, Sukar larut dalam air
dan benzene, serta mudah larut dalam etanol dan dalam eter. Untuk
itu bahan ini harus dilarutkan menggunakan spitus fortior/alkohol
96% terlebih dahulu.
5. Sulfur Praeciptatum

harus

diayak

terlebih

dahulu

dengan

menggunakan ayakan kulit, tidak boleh menggunakan ayakan


logam karena akan menimbulkan percikan api.

DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh. 2000. Ilmu Meracik Obat ; Teori dan Praktik. UGM Press.
Yogyakarta
Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Keesehatan
Republik

Indonesia

Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi VI. Departemen Keesehatan


Republik

Indonesia

http://gi-healthy.blogspot.com/2013/05/sediaan-salep.html
http://themaseko.blogspot.com/2012/09/ sediaan-salep.html#.Uy5HmzfF-ho