Anda di halaman 1dari 9

PENGGUNAAN LALAT Drosophila

SEBAGAI ORGANISME PERCOBAAN GENETIKA

Oleh :
Nama
NIM
Kelompok
Rombongan
Asisten

: Wiwin Hadianti
: B1J014029
:1
: VIII
: Muflih Fuadi

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Tabel 1. Hasil Pengamatan Lalat Drosophila melanogaster
Mikrosko
p
1
2
3

ebony
Janta betin
n
1
-

a
-

Tipe lalat
dumpy
Tipe liar
janta betin janta betin
n

1
-

n
1
1
-

a
2
2

White eyes
Janta
betina
n
1
-

Tabel 2. Hasil Pengamatan Isolasi Betina Virgin


Kelompo

Nama pupa

Tanggal

Jenis

k
1
2
3

Mumup
Adistra
Minul

menetas
6 November

kelamin
Tidak menetas
Betina tipe menetas

Ardo Virgin

2015
-

liar
-

Mati sebelum

menetas
Tidak menetas

4
5

Mora

keterangan

Hasil Pengamatan Morfologi Drosophila melanogaster Jantan dan Betina

Gambar 1. Lalat pada Mikroskop 1

Gambar 2. Lalat pada Mikroskop 2

Gambar 3. Lalat pada Mikroskop 3


B. Pembahasan

Penggunaan lalat Drosophila melanogaster untuk pembelajaran genetika


sudah dipakai sejak lebih dari 100 tahun yang lalu. Thomas Hunt Morgan adalah
seseorang yang pertama kali menemukan rekombinasi seks linkage dan genetik
dengan menggunakan lalat buah (Drosophila melanogaster) sebagai objek utama
dalam penelitian mengenai genetika. Lalat drosophila melanogaster sendiri
merupakan jenis lalat buah yang dapat ditemukan dibuah-buahan yang busuk.
Lalat buah mempunyai konstruksi modular, yaitu suatu segmen yang teratur.
Segmen ini mempunyai 3 bagian tubuh utama yaitu: kepala, thoraks dan
abdomen. Seperti jenis hewan simetris lainnya, Drosophila ini mmpunyai poros
anterior dan posterior (kepala akor) dan poros dorso ventral (punggung - perut).
Alasan menggunakan lalat buah (Drosophila melanogaster) sebagai organisme
percobaan genetika adalah karena berukuran kecil, bersifat dimorfik (jantan dan
betina berbeda), memiliki waktu generasi yang cukup singkat, dan perawatannya
tidak memerlukan ruangan yang besar, banyak mutan yang memungkinkan
dilakukan berbagai percobaan mengenai pola pewarisan sifat sementara tipe liar
dari lalat buah ini mudah diperoleh. Kelebihan lainnya dari lalat buah ini adalah
jumlah kromosomnya yang cukup besar dan jumlahnya yang hanya 4 pasang
sehingga mudah dalam pengamatn kromosom (Shorrocks, 1972).
Drosophila melanogaster pada umumnya memiliki bobot yang ringan
karena berukuran kecil, memiliki eksoskeleton dan integument yang kuat. Untuk
membedakan antara lalat jantan dan betina, terdapat beberapa tanda yang dapat
digunakan. Tanda-tanda tersebut yaitu bentuk abdomen pada lalat betina lebih
kecil dan runcing, sedangkan pada lalat jantan membulat. Tanda hitam pada ujung
abdomen lalat jantan berwarna gelap, sedangkan pada betina tidak (terang).
Jumlah segmen pada lalat jantan hanya 5, sedang pada betina ada 7. Lalat betina
memiliki 5 garis hitam pada permukaan atas abdomen, sedangkan pada lalat
jantan hanya 3 garis hitam. Pada lalat jantan memiliki ukuran tubuh yang lebih
kecil bila dibandingkan dengan yang betina. Drosophila normal memiliki mata
yang berwarna merah berbentuk elips (Barnes, 1973). Lalat buah (Drosophila
melanogaster) menurut Strickberger (1962) memiliki klasifikasi sebagai berikut:
Filum

: Antropoda

Kelas

: Insekta

Ordo

: Diptera

Sub Ordo

: Cyclorhapha

Series

: Acalyptrata

Familia

: Drosophilidae

Genus

: Drosophila

Spesies

: Drosophila melanogaster
Untuk mengembangbiakkan lalat didalam toples digunakan medium kultur

Drosophila melanogaster. Kekentalan dan keenceran dari suatu medium akan


mempengaruhi pertumbuhan dari Drosophila melanogaster. Pengenceran medium
akan akan mempengaruhi jumlah telur yang dihasilkan namun tidak berpengaruh
pada siklus hidupnya. Tingkat survival dan lamanya waktu hidup akan berkurang
apabila lalat dewasa berada pada medium yang sangat encer (Silvia, 2003).
Berikut adalah jenis-jenis mutan Drosophila melanogaster beserta
deskripsi singkatnya, sebagai berikut:
1. Dumpy, mutan dengan sayap lebih pendek hingga dua pertiga panjang normal
dengan ujung sayap tampak seperti terpotong. Bulu pada dada tampak tidak
sama rata. Sayap pada sudut 90o dari tubuh dalam posisi normal mereka
(Borror, 1993).
2. Sepia, tipe mutan dengan mata berwarna coklat sampai hitam akibat adanya
kerusakan gen pada kromosom ketiga lokus 26 (Russel, 1994).
3. Clot, tipe mutan dengan mata berwarna maroon yang semakin gelap menjadi
coklat seiring dengan pertambahan usianya (Borror, 1993).
4. Ebony, lalat mutan berwarna gelap, hamper hitam di badannya, hal ini terjadi
karena adanya suatu mutasi pada gen yang terletak pada kromosom ketiga.
Secara normal fungsi gen tersebut berfungsi untuk membangun pigmen yang
memberi warna pada lalat buah normal, namun karena mengalami kerusakan
maka pigmen hitam menumpuk di seluruh tubuhnya (Borror, 1993).
5. Claret (ca), merupakan mutan dengan mata berwarna merah anggur atau
merah delima (ruby). Mutasi terjadi pada kromosom nomor 3 lokus 100, 7
(Russel, 1994).
6. Taxi, merupakan mutan dengan sayap yang terentang, baik ketika terbang
maupun hinggap. Mutasi terjadi pada kromosom nomor 3, lokus 91,0 (Russel,
1994).

7. Black, merupakan mutan dengan seluruh tubuhnya berwarna hitam akibat


adanya kerusakan gen black pada kromosom kedua lokus 48,5 (Borror, 1993).
8. Miniature, tipe mutan dengan sayap berukuran sangat pendek. Lalat dengan
sayap vestigial ini tidak mampu terbang karena memiliki kecacatan pada
kromosom kedua. Lalat ini memiliki mutasi resesif (Russel, 1994).
9. Eyemissing, merupakan mutan dengan mata berupa itik, mengalami mutasi
pada kromosom ketiga di dalam tubuhnya, sehingga yang harusnya diintruksi
sel di dalam larva untuk menjadi mata menjadi tidak terbentuk karena adanya
mutasi (Russel, 1994).
10. Curly, mutan dengan sayap pada lalat berbentuk keriting. Terjadi mutasi gen
pada kromosom kedua. Sayap-sayap ini menjadi keriting karena adanya suatu
mutasi dominan, yang berarti bahwa satu salinan gen diubah dan
menghasilkan adanya kelainan tersebut (Borror, 1993)
11. White eyes, tipe mutan dengan mata berwarna putih yang terjadi akibat
adanya kerusakan pada gen white yang terletak pada kromosom pertama
lokus 1,5 dan benar-benar tidak menghasilkan pigmen merah (Pai, 1992).
Menurut

Strickberger

(1962),

sub

kultur

adalah

teknik

untuk

memindahkan dari media lama atau nutrisi ke dalam media baru. Sub kultur
memiliki fungsi reparasi nutrisi dan untuk mendapatkan lebih banyak lalat.
Subkultur dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut ini:
1. Lalat dipindah langsung dari media lama ke media baru.
2. Media kultur baru ditempatkan pada media kultur lama dengan posisi
terbalik.
3. Media kultur lama ditutup sisinya agar menjadi lebih gelap dan lalat
berpindah ke media kultur baru.
4. Media kultur baru telat ditutup menggunakan busa sehingga lalat tidak bisa
terbang keluar dan terdapat aliran udara.
Tujuan dari pembuatan sub kultur menurut Strickberger (1962) adalah sebagai
berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Memperbaharui nutrisi dari Drosophila


Meremajakan Drosophila
Memperbanyak produksi Drosophila
Menghindari atau mengurangi potensi kematian Drosophila
Membantu Drosophila agar tidak stress pada lingkungan hidupnya.
Isolasi betina virgin adalah teknik untuk mendapatkan Drosophila

melanogaster yang belum terfertilisasi oleh jantan untuk mengamati keturunannya

pada monohibrid dan linkage yang hasilnya benar-benar keturunan dari satu
induknya. Berdasarkan hasil pengamatan kelompok 1 didapatkan bahwa isolasi
betina virgin tidak mendapatkan drosophila betina baru. Hal ini bisa terjadi
kemungkinan dikarenakan pupa sudah mati saat dipindahkan, atau drosophila
keracunan media yang disediakan, karena jika media terlalu lama maka bisa
berubah menjadi etanol dan udara yang terjebak membuat drosophila mati
(Shorrock, 1972).

KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini yaitu:
1.
2.
3.
4.

Lalat buah (Drosophila melanogaster) memiliki empat pasang kromosom.


Lalat buah dapat bermutasi secara genetic dan menghasilkan fenotip baru.
Sub kultur digunakan untuk meremajakan lalat dan media tumbuh lalat.
Isolasi betina virgin merupakan isolasi untuk mendapatkan drosophila betina
baru yang belum dibuahi oleh pejantan.
B. Saran
Saran untuk praktikum ini yaitu lalat yang digunakan sebaiknya memiliki

anakan yang lebih banyak, atau jumlah lalat diperbanyak agar pengamatan dapat
dilakukan dengan optimal dan tidak terdapat kekurangan lalat ataupun pupa.

DAFTAR REFERENSI
Barnes, B. W. and Kearsey, M. J. 1973. An Introduction to Drosophila
melanogaster Genetics. New York: P. M. Sheppard.
Borror, D. J., Triplehorn, C. A., dan Johnson, N. F. 1993. Pengenalan Pelajaran
Serangga. Yogyakarta: UGM Press.
Pai, A. C. 1992. Dasar-Dasar Genetika. Jakarta: Erlangga.
Russel, P. J. 1994. Foundamental of Genetics. New York: Harper Collins College
Publishers.
Silvia, T. 2003. Pengarh Pemberian Berbagai Formaldehida Terhadap
Perkembangan Larva Drosophila. Bandung: Universitas Padjadjaran
Press.
Sorrocks, B. 1972. Drosophila. London: Ginn and Company Limited.
Strickberger, M. W. 1962. Experiments in Genetics with Drosophila. London:
John Wiley and Sons, inc.