Anda di halaman 1dari 14

DOKUMEN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Askeb (Asuhan Kebidanan) 4


No. 53/Doc-B/SMRH/XIV/2014

DIPLOMA KEBIDANAN STIKes MITRA RIA HUSADA


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) TEORI
Program Studi

: Diploma III Kebidanan

Mata Kuliah

: Askeb (Asuhan Kebidanan) 4

Capaian Pebelajaran

: Mampu memberikan kemampuan pada peserta didik


untuk memahami materi tentang komplikasi dan penyulit
kehamilan trimester I dan II.
: 1. Anemia pada Kehamilan
1.1. Menjelaskan pengertian Anemia pada Kehamilan
1.2. Menjelaskan penyebab Anemia pada Kehamilan
2. Hiperemesis Gravidarum
2.1. Menjelaskan pengertian Hiperemesis Gravidarum
2.2. Menjelaskan penyebab Hiperemesis Gravidarum
3. Abortus
3.1. Menjelaskan pengertian Abortus
3.2. Menjelaskan penyebab Abortus
4. KET
4.1. Menjelaskan pengertian KET
4.2. Menjelaskan pengertian KET
5. Molahidatidosa
5.1. Menjelaskan pengertian Molahidatidosa
5.2. Menjelaskan penyebab Molahidatidosa
: 1. Anemia pada Kehamilan
1.1. Pengertian Anemia pada Kehamilan
1.2. Penyebab Anemia pada Kehamilan
2. Hiperemasis Gravidarum
2.1. Pengertian Hiperemesis Gravidarum
2.2. Penyebab Hiperemesis Gravidarum
3. Abortus
3.1. Pengertian Abortus
3.2. Penyebab Abortus
4. KET
4.1. Pengertian KET
4.2. Penyebab KET
5. Molahidatidosa
5.1. Pengertian Molahidatidosa
5.2. Penyebab Molahidatidosa
:
Rahmita Utami, AM.Keb

Tujuan Mata Kuliah

Topik

Dosen
Referensi

Prawiroharjo, sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta:


PT.Bina Pustaka.
Prawiroharjo, sarwono. 2009. Pelayanan Kesehatan
Created by Rahmita Utami
Maternal dan Neonatal. Jakarta: PT.Bina Pustaka.
Varney, helen. 2008. Buku Ajar Asuhan Kebidanan.
Jakarta: EGC

Askeb (Asuhan Kebidanan) 4

TAHAPAN PEMBELAJARAN
Isi

Waktu
5

1. Memberikan salam.
2. Memberikan ilustrasi latar belakang materi, dan
menghubungkan materi ini dengan materi
sebelumnya.
3. Menyampaikan OPS.
4. Meyampaikan Struktur Pembelajaran (Menjelaskan
pokok-pokok materi yang akan dibahas, Referensi dan
Proses pembelajaran).
5. Menjelaskan pentingnya materi yang akan dibahas.

Created by Rahmita Utami

Metoda & Alat


Bantu
Metoda :
Ceramah Ilustratif
Alat Bantu :
Powerpoit, Leptop,
Proyektor &
Papan Tulis

Askeb (Asuhan Kebidanan) 4


Metoda : Ceramah ilustratif, Tanya Jawab, Diskusi, dan Study kasus
OPS (Enabling Objektif) :
1. Setelah mengikuti pelajaran ini mahasiswa dapat menjelaskan pengertian
kehamilan, Hiperemesis Gravidarum, Abortus, KET, dan Molahidatidosa
tanpa melihat handout dan catatan.
2. Setelah mengikuti pelajaran ini mahasiswa bisa menjelaskan penyebab
kehamilan, Hiperemesis Gravidarum, Abortus, KET, dan Molahidatidosa
tanpa melihat handout dan catatan.

Anemia pada
dengan benar
Anemia pada
dengan benar

URAIAN MATERI
1. Anemia pada Kehamialan
15
Explaination:
1.1. Pengertian Anemia pada Kehamilan
Anemia pada kehamilan adalah Anemia secara praktis
didefinisikan sebagai kadar Ht, konsentrasi Hb, atau hitung eritrosit
dibawah batas normal. Namun nilai normal yang akurat untuk ibu
hamil sulit dipastikan karena ketiga parameter labolatorium tersebut
bervariasi selama periode kehamilan. yaitu 11,0 gr/dl pada trimester
pertama dan 10,5 gr/dl pada trimester kedua dan ketiga.
Activity:
- Apa yang disebut dengan anemia pada kehamilan?
Summary:
Anemia pada kehamilan adalah kadar Ht, konsentrasi Hb, atau
hitung eritrosit dibawah batas normal yaitu 11,0 gr/dl pada
trimester pertama dan 10,5 gr/dl pada trimester kedua dan ketiga.
17

Explaination:
1.2. Penyebab Anemia pada kehamilan yaitu Pada kehamilan
kebutuhan oksigen lebih tinggi sehingga memicu peningkatan
produksi eritropoietin. Akibatnya, volume plasma bertambah dan sel
darah merah (eritrosit) meningkat. Namun peningkatan plasma darah
terjadi dalam proporsi yang lebih besar jika dibandingkan dengan
peningkatan eritrosit sehingga terjadi penurunan konsentrasi
hemoglobin (Hb) akibat hemodilusi.
Activity:
- Sebutkan penyebab Anemia pada kehamilan?
Summary:
- hemodilusi
URAIAN MATERI
2. Hiperemesis Gravidarum

15

Created by Rahmita Utami

Metoda:
CTJ,
Diskusi
dan
Ilustrasi
Alat
Bantu:
Powerpoin
t, Leptop,
Proyektor
&
Papan
Tulis

Metoda:
CTJ,
Diskusi
dan
Ilustrasi
Alat
Bantu:
Powerpoin
t, Leptop,
Proyektor
&
Papan
Tulis
Metoda:
CTJ,

Askeb (Asuhan Kebidanan) 4

Explaination:
2.1. Pengertian Hiperemesis Gravidarum
Hiperemesis Gravidarum adalah Hiperemesis gravidarum adalah
muntah yang terjadi pada awal kehamilan sampai umur kehamilan 20
minggu.

17

Diskusi
dan
Ilustrasi

Alat
Bantu:
Powerpoin
Activity:
t, Leptop,
- Apa yang disebut dengan Hiperemesis Gravidarum?
Proyektor
&
Summary:
Papan
- Hiperemesis Gravidarum adalah muntah yang terjadi pada awal Tulis
kehamilan sampai umur kehamilan 20 minggu
Explaination:
2.2. Penyebab Hiperemesis Gravidarum disebabkan oleh kombinasi
hormone estrogen dan progesterone, walaupun hal ini tidak diketahui Metoda:
dengan pasti dan hormone chorionic gonadotropin juga berperan CTJ,
dalam menimbulkan mual dan muntah. Gastrosophageal reflux terjadi Diskusi
kurang lebih 80% dalam kehamilan, dan dapat disebabkan oleh dan
kombinasi menurunnya tekanan sfingter esophageal bagian bawah, Ilustrasi
meningkatnya tekanan intragastrik, menurunnya kompetensi sfingter
pilori dan kegagalan mengeluarkan asam lambung
Alat
Bantu:
Powerpoin
Activity:
t, Leptop,
- Sebutkan penyebab Hiperemesis Gravidarum?
Proyektor
&
Summary:
Papan
- disebabkan oleh kombinasi hormone estrogen dan progesterone
Tulis
URAIAN MATERI
3. Abortus

15
Explaination:
3.1. Pengertian Abortus
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi
sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Sebagai batasan adalah
kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500
gram.

Metoda:
CTJ,
Diskusi
dan
Ilustrasi

Alat
Bantu:
Powerpoin
t, Leptop,
Summary:
Proyektor
- Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum
&
janin dapat hidup diluar kandungan. Sebagai batasan adalah
Papan
kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500
Tulis
gram.
Activity:
- Apa yang disebut dengan Abortus?

Created by Rahmita Utami

Askeb (Asuhan Kebidanan) 4


17

Explaination:
3.2. Penyebab Abortus yaituPenyebab terbanyak antara lain adalah.
1. Faktor genetic, Translokasi parental keseimbangan genetic:
Mendelian, Multifaktor, Robertsonian, Respirokal.
2. Kelaian congenital uterus: Anomali duktus Mulleri, Septum
Uterus, Uterus bikornis, Inkompetensi serviks uterus, Mioma uteri,
Sindroma Asherman.
3. Autoimun: Aloimun, Mediasi imunitas humoral, Mediasi
imunitas seluler.
4. Defek Fase Luteal: Faktor endokrin eksternal, Antibodi antitiroid
hormone, sintesis LH yang tinggi.
5. Infeksi
6. Hematologik
7. Lingkungan

Metoda:
CTJ,
Diskusi
dan
Ilustrasi

Alat
Bantu:
Powerpoin
t, Leptop,
Summary:
Proyektor
Penyebab terbanyak antara lain adalah.
&
1. Faktor genetic, Translokasi parental keseimbangan genetic: Papan
Mendelian, Multifaktor, Robertsonian, Respirokal.
Tulis
2. Kelaian congenital uterus: Anomali duktus Mulleri, Septum
Uterus, Uterus bikornis, Inkompetensi serviks uterus, Mioma uteri,
Sindroma Asherman.
3. Autoimun: Aloimun, Mediasi imunitas humoral, Mediasi
imunitas seluler.
4. Defek Fase Luteal: Faktor endokrin eksternal, Antibodi antitiroid
hormone, sintesis LH yang tinggi.
5. Infeksi
6. Hematologik
7. Lingkungan
Activity:
- Sebutkan penyebab Abortus?

URAIAN MATERI
4. KET
15
Explaination:
4.1. Pengertian KET
KET adalah Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) adalah suatu
kehamilan yang pertumbuhan sel telur yang telah dibuahi tidak
menempel pada dinding endometrium kavum uteri. Lebih dari 95%
kehamilan ektopik berada di saluran telur (tuba fallopii).

Metoda:
CTJ,
Diskusi
dan
Ilustrasi

Activity:

Alat
Bantu:

Created by Rahmita Utami

Askeb (Asuhan Kebidanan) 4


- Apa yang disebut dengan KET?

Powerpoin
t, Leptop,
Summary:
Proyektor
- KET adalah adalah suatu kehamilan yang pertumbuhan sel telur &
yang telah dibuahi tidak menempel pada dinding endometrium Papan
kavum uteri. Lebih dari 95% kehamilan ektopik berada di saluran Tulis
telur (tuba fallopii).
17

Explaination:
4.2. Penyebab KET yaitu factor-faktor yang menyebabkan terjadinya
hambatan dalam nidasi embrio ke endometrium menjadi penyebab
kehamilan ektopik ini. Faktor-faktor yang disebutkan adalah
sebagai berikut.
1. Faktor Tuba
Adanya peradangan atau infeksi pada tuba menyebabkan
lumen tuba menyempit atau buntu.
Keadaan uterus yang hipoplasia dan saluran tuba yang
berkelok-kelok pajang dapat menyebabkan fungsi silia tuba tidak
berfungsi dengan baik. Juga pada keadaan pasca operasi
rekanalisasi tuba dapat merupakan predisposisi terjadinya
kehamilan ektopik.
Factor tuba yang lain adalah kelainan endomestriosis tuba
atau divertikel saluran tuba yang bersifat congenital.
Adanya tumor disaluran tuba, misalnya mioma uteri atau
tumor ovarium yang menyebabkan perubahan bentuk patensi tuba
juga dapat menjadi etiologi kehamilan ektopik.
2. Faktor abnormalitas dari zigot
Apabila tumbuh terlalu cepat atau tumbuh dengan ukuran
besar, maka zigot akan tersendat dalam perjalanan pad saat melalui
tuba, kemudian terhenti dan tumbuh di saluran tuba.
3. Faktor Ovarium
Bila ovarium memproduksi ovum dan ditangkap oleh tuba
kontralateral, dapat membutuhkan proses khusus atau waktu yang
lebih panjang sehingga kemungkinan terjadinya kehamilan ektopik
lebih besar.
4. Faktor hormonal
Pada akseptor KB yang hanya mengandung progesterone
dapat menyebabkan gerakan tuba melambat. Apabila terjadi
pembuahan dapat menyebabkan terjadinya kehamilan ektopik.
5. Faktor lain
Termasuk disini antara lain adalah pemakaian IUD dimana
proses peradangan yang dapat timbul pada endometrium dan
endosalping dapat menyebabkan terjadinya kehamilan ektopik.
Factor umur penderita yang sudah menua dan factor perokok juga
sering dihubungkan dengan terjadinya kehamilan ektopik.
Activity:
- Sebutkan penyebab KET?
Summary:

Created by Rahmita Utami

Metoda:
CTJ,
Diskusi
dan
Ilustrasi
Alat
Bantu:
Powerpoin
t, Leptop,
Proyektor
&
Papan
Tulis

Askeb (Asuhan Kebidanan) 4


factor-faktor yang menyebabkan terjadinya hambatan dalam nidasi
embrio ke endometrium menjadi penyebab kehamilan ektopik ini.
Faktor-faktor yang disebutkan adalah sebagai berikut.
1. Faktor Tuba
Adanya peradangan atau infeksi pada tuba menyebabkan
lumen tuba menyempit atau buntu.
Keadaan uterus yang hipoplasia dan saluran tuba yang
berkelok-kelok pajang dapat menyebabkan fungsi silia tuba tidak
berfungsi dengan baik. Juga pada keadaan pasca operasi
rekanalisasi tuba dapat merupakan predisposisi terjadinya
kehamilan ektopik.
Factor tuba yang lain adalah kelainan endomestriosis tuba
atau divertikel saluran tuba yang bersifat congenital.
Adanya tumor disaluran tuba, misalnya mioma uteri atau
tumor ovarium yang menyebabkan perubahan bentuk patensi tuba
juga dapat menjadi etiologi kehamilan ektopik.
2. Faktor abnormalitas dari zigot
Apabila tumbuh terlalu cepat atau tumbuh dengan ukuran
besar, maka zigot akan tersendat dalam perjalanan pad saat melalui
tuba, kemudian terhenti dan tumbuh di saluran tuba.
3. Faktor Ovarium
Bila ovarium memproduksi ovum dan ditangkap oleh tuba
kontralateral, dapat membutuhkan proses khusus atau waktu yang
lebih panjang sehingga kemungkinan terjadinya kehamilan ektopik
lebih besar.
4. Faktor hormonal
Pada akseptor KB yang hanya mengandung progesterone
dapat menyebabkan gerakan tuba melambat. Apabila terjadi
pembuahan dapat menyebabkan terjadinya kehamilan ektopik.
5. Faktor lain
Termasuk disini antara lain adalah pemakaian IUD dimana
proses peradangan yang dapat timbul pada endometrium dan
endosalping dapat menyebabkan terjadinya kehamilan ektopik.
Factor umur penderita yang sudah menua dan factor perokok juga
sering dihubungkan dengan terjadinya kehamilan ektopik.

URAIAN MATERI
5. Molahidatidosa
15
Explaination:
5.1. Pengertian Molahidatidosa
Molahidatidosa adalah suatu kehamilan yang berkembang tidak
wajar dimana tidak ditemukan janin dan hamper seluruh vili
korialis mengalami perubahan berupa degenerasi hidropik. Secara
makroskopik mola hidatidosa mudah dikenal yaitu berupa
gelembung-gelembung putih, tembus pandang, berisi cairan jernih
dengan ukuran bervariasi beberapa millimeter sampai 1 atau 2 cm.

Created by Rahmita Utami

Metoda:
CTJ,
Diskusi
dan
Ilustrasi
Alat
Bantu:

Askeb (Asuhan Kebidanan) 4

Activity:
- Apa yang disebut dengan Molahidatidosa?
Summary:
Molahidatidosa adalah suatu kehamilan yang berkembang tidak
wajar dimana tidak ditemukan janin dan hamper seluruh vili
korialis mengalami perubahan berupa degenerasi hidropik. Secara
makroskopik mola hidatidosa mudah dikenal yaitu berupa
gelembung-gelembung putih, tembus pandang, berisi cairan jernih
dengan ukuran bervariasi beberapa millimeter sampai 1 atau 2 cm.
5

Powerpoin
t, Leptop,
Proyektor
&
Papan
Tulis

Latihan Siswa (Evaluasi)


Metoda:
1. Jelaskan apa yang dimaksud hemodilusi
Diskusi
2. Hormon apa saja yang berperan dalam terjadinya hiperemesis
gravidarum?
Alat
3. Apa definisi Abortus?
Bantu:
4. Jelaskan apa yang dimaksud KET?
Power
5. Jelaskan cirri-ciri spesifik molahidatidosa?
Point,
proyektor
dan
Leptop
Penutup
1. Conclussion
Metode:
2. Penilaian
Ceramah
3. Menyampaikan ketercapaian OPS
4. Menyarankan memperdalam materi hari ini
5. Menyampaikan topik selanjutnya
6. Mengucapkan salam

Note:

HAND OUT
Mata Kuliah
: Askeb (Asuhan Kebidanan) 4
Kode Mata Kuliah
: Bd. 304
Topik
: Komplikasi dan penyulit kehamilan trimester I dan II.
Waktu
: 200 Menit
Dosen
: Rahmita Utami, AM.Keb
Objektif Perilaku Siswa (OPS)
1. Setelah mengikuti pelajaran ini mahasiswa dapat menjelaskan pengertian Anemia pada
kehamilan, Hiperemesis Gravidarum, Abortus, KET, dan Molahidatidosa dengan benar
tanpa melihat handout dan catatan.

Created by Rahmita Utami

Askeb (Asuhan Kebidanan) 4


2. Setelah mengikuti pelajaran ini mahasiswa bisa menjelaskan penyebab Anemia pada
kehamilan, Hiperemesis Gravidarum, Abortus, KET, dan Molahidatidosa dengan benar
tanpa melihat handout dan catatan.
Referensi :
Prawiroharjo, sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT.Bina Pustaka.
Prawiroharjo, sarwono. 2009. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta:
PT.Bina Pustaka.
Varney, helen. 2008. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta: EGC
Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: YBP-SP

MATERI
1. Anemia pada Kehamilan
1.1. Pengertian Anemia pada Kehamilan
Anemia secara praktis didefinisikan sebagai kadar Ht, konsentrasi Hb, atau hitung
eritrosit dibawah batas normal. Namun nilai normal yang akurat untuk ibu hamil sulit
dipastikan karena ketiga parameter labolatorium tersebut bervariasi selama periode
kehamilan. Umumnya ibu hamil dianggap anemic jika kadar hemoglobin dibawah 11g/dl
atau hematokrit kurang dari 33%. Namun, CDC membuat nilai batas khusus berdasarkan
trimester kehamilan dan status merokok. Dalam praktik rutin, konsentrasi Hb kurang 11
gr/dl pada akhir trimester pertama, dan kurang dari 10 gr/dl pada trimester kedua dan
ketiga diusulkan menjadi batas bawah untuk mencari penyebab anemia dalam
kehamilanm. Nilai-nilai ini kurang lebih sama nilai Hb terendah pada ibu-ibu hamil yang
mendapat suplementasi besi, yaitu 11,0 gr/dl pada trimester pertama dan 10,5 gr/dl pada
trimester kedua dan ketiga.
1.2. Penyebab Anemia pada Kehamilan
Pada kehamilan kebutuhan oksigen lebih tinggi sehingga memicu peningkatan
produksi eritropoietin. Akibatnya, volume plasma bertambah dan sel darah merah
(eritrosit) meningkat. Namun peningkatan plasma darah terjadi dalam proporsi yang lebih
besar jika dibandingkan dengan peningkatan eritrosit sehingga terjadi penurunan
konsentrasi hemoglobin (Hb) akibat hemodilusi.
Ekspansi volume plasma merupakan penyebab anemia fisiologik pada kehamilan.
Volume plasma yang terekspansi menurunkan hematokrit (Ht), konsentrasi Hemoglobin
darah (Hb), dan hitung eritrosit, tetapi tidak menurunkan jumlah absolute Hb atau eritrosit
dalam sirkulasi. Mekanisme yang mendasari perubahan ini belum jelas. Ada spekulasi
bahwa anemia fisiologik dalam kehamilan bertujuan menurunkan viskositas darah
maternal sehingga meningkatkan perfusi plasenta dan membantu penghantaran oksigen
serta nutrisi ke janin.
Penyebab anemia tersering adalah defisiensi zat-zat nutrisi. Seringkali
defisiensinya bersifat multiple dengan manifestasi klinik yang disertai infeksi, gizi buruk
atau kelainan herediter seperti hemoglobinopati. Namun penyebab mendasar anemia
nutrisional meliputi asupan yang tidak cukup , absorpsi yang tidak adekuat, bertambahnya
zat gizi yang hilang, kebutuhan yang berlebihan, dan kurangnya utilisasi hemopoietik.
Sekitar 75% anemia pada kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi yang memperlihatkan
gambaran eritrosit mikrositik hipokrom pada apusan darah tepi. Penyebab tersering kedua

Created by Rahmita Utami

Askeb (Asuhan Kebidanan) 4


adalah anemia megaloblastik yang dapat disebabkan oleh defisiensi asam folat dab
defisiensi vitamin B12. Penyebab anemia lainnya yang jarang ditemui antara lain adalah
hemoglobinopati, proses inflamasi, toksisitas zat kimia, dan keganasan.
2. Hiperemesis Gravidarum
2.1. Pengertian Hiperemesis Gravidarum
Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi pada awal kehamilan sampai
umur kehamilan 20 minggu. Keluhan muntah kadang-kadang begitu hebat dimana segala
apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga dapat mempengaruhi keadaan
umum dan mengganggu pekerjaan sehari-hari, berat badan menurun, dehidrasi, dan
terdapat aseton dalam urin bahkan seperti gejala penyakit apendisitis, pielititis, dan
sebagainya.
Mual dan muntah mempengaruhi hingga lebih dari 50% kehamilan. Kebanyakan
perempuan mampu mempertahankan kebutuhan cairan dan nutrisi dengan diet, dan
symptom akan teratasi hingga akhir trimester pertama.
Secara klinis, hiperemesis gravidarum dibedakan atas 3 tingkatan, yaitu:
1. Tingkat I
Muntah yang terus menerus, timbul intoleransi terhadap makanan dan minuman,
berat badan menurun, nyeri epigastrium, muntah pertama keluar makanan, lendir dan
sedikit cairan empedu, dan yang terakhir keluar darah. Nadi meningkat sampai
100x/menit. Dan tekanan darah sistolik menurun. Mata cekung dan lidah kering, turgor
kulit berkurang, dan urin sedikit tetapi masih normal.
2. Tingkat II
Gejala lebih berat, segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan, haus hebat,
subfebril, nadi cepat dan lebih dari 100-140 x/menit, tekanan darah sistolik kurang dari 80
mmHg, apatis, kulit pucat, lidah kotor, kadang ikhterik, aseton, bilirubin dalam urin dan
berat badan cepat menurun.
3. Tingkat III
Walaupun kondisi tingkat III sangat jarang, yang mulai terjadi adalah gangguan
kesadaran (delirium-koma), muntah berkurang atau berhenti, tetapi dapat terjadi ikhterus,
sianosis, nistagmus, gangguan jantung, bilirubin dan proteinuria.
2.2. Penyebab Hiperemesis Gravidarum
Mual dan muntah tampaknya disebabkan oleh kombinasi hormone estrogen dan
progesterone, walaupun hal ini tidak diketahui dengan pasti dan hormone chorionic
gonadotropin juga berperan dalam menimbulkan mual dan muntah. Gastrosophageal
reflux terjadi kurang lebih 80% dalam kehamilan, dan dapat disebabkan oleh kombinasi
menurunnya tekanan sfingter esophageal bagian bawah, meningkatnya tekanan
intragastrik, menurunnya kompetensi sfingter pilori dan kegagalan mengeluarkan asam
lambung.
3. Abortus
3.1. Pengertian Abortus
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat
hidup diluar kandungan. Sebagai batasan adalah kehamilan kurang dari 20 minggu atau
berat janin kurang dari 500 gram.
Abortus yang berlangsung tanpa tindakan disebut abortus spontan, sedangkan
abortus yang terjadi dengan sengaja dilakukan disebut abortus provokatus. Abortus
provokatus dibagi menjadi 2 kelompok yaitu abortus provokatus medisinalis dan abortus
provokatus kriminalis. Disebut medisinalis bila didasarkan pada pertimbangan dokter
Created by Rahmita Utami

Askeb (Asuhan Kebidanan) 4


untuk menyelamatkan ibu. Disini pertimbangan dilakukan oleh minimal 3 dokter spesialis,
yaitu spesialis Kebidanan dan Kandungan, spesialis Penyakit Dalam, dan spesialis Jiwa.
Bila perlu dapat ditambah pertimbangan oleh tokoh agama terkait. Setelah dilkukan
terminasi kehamilan, harus diperhatikan agar ibu dan suaminya tidak terkena trauma psikis
di kemudian hari.
Angka kejadian abortus sukar ditentukan karena abortus provokatus banyak yang
tidak dilaporkan, kecuali bila sudah terjadi komplikasi. Abortus spontan dan tidak jelas
umur kehamilannya, hanya sedikit memberikan gejala atau tanda sehingga biasanya ibu
tidak melapor atau berobat. Sementara itu dari kejadian yang diketahui, 15-20%
merupakan abortus spontan atau kehamilan ektopik. Sekitar 5% dari pasangan yang
mencoba hamil akan mengalami 2 keguguran yang berurutan, dan sekitar 1% dari
pasangan yang mengalami 3 atau lebih keguguran yang berurutan.
Rata-rata 114 kasus abortus per jam. Sebagian besar studi menyatakan kejadian
abortus spontan antara 15-20% dari semua kehamilan. Kalau dikaji lebih jauh kejadian
abortus sebenarnya bisa mendekati 50%. Hal ini dikarenakan tingginya angka chemical
pregnancy loss yang tidak bisa diketahui pada 2-4 minggu setelah konsepsi. Sebagian
besar kegagalan kehamilan ini dikarenakan gamet (misalnya sperma dan disfungsi oosit).
Abortus habitualis adalah abortus yang terjadi berulang 3 kali secara berturut-turut.
Kejadian sekitar 3-5% data dari beberapa studi menunjukkan bahwa setelah 1 kali abortus
spontan, pasangan mempunyai risiko 15% untuk mengalami keguguran lagi, sedangkan
bila pernah 2 kali risikonya akan meningkat 25%. Beberapa studi meramalakan bahwa
risiko abortus setelah 3 abortus berurutan adalah 30-45%.
Macam-macam Abortus sesuai dengan gejala, tanda dan proses patologi yang
terjadi, yaitu:
a. Abortus Iminens
Abortus tingkat permulaan dan merupakan ancaman terjadinya abortus, ditandai
perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam
kandungan.
b. Abortus Insipiens
Abortus yang sedang mengancam yang ditandai dengan serviks telah mendatar dan
ostium uteri telah membuka, akan tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri dan
dalam proses pengeluaran.
c. Abortus Kompletus
Seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri pada kehamilan kurang dari 20
mingguatau berat janin kurang dari 500 gram.
Semua hasil konsepsi telah dikeluarkan, osteum uteri telah menutup, uterus sudah
mengecil sehingga perdarahan sedikit. Besar uterus tidak sesuai dengan ukuran kehamilan.
d. Abortus Inkompletus
Sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri dan masih ada yang
tertinggal. Batasan ini juga masih terpancang pada umur kehamilan kurang dari 20 minggu
dan berat janin kurang dari 500 gram. Sebagian jaringan hasil konsepsi masih tertinggal di
dalam uterus dimana pada pemeriksaan vaginal, kanalis servikalis masih terbuka dan
teraba jaringan kavum uteri atau menonjol pada osteum uteri internum.
e. Missed Abortion
Abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus telah meninggal dalam kandungan
sebelum usia kehamilan 20 minggu dan hasil konsepsi seluruhnya masih tertahan dalam
kandungan.
f. Abortus Habitualis
Abortus habitualis ialah abortus yang terjadi 3 kali atau lebih berturut-turut.
Penderita abortus habitualis pada umumnya tidak sulit untuk menjadi hamil kembali, tetapi
Created by Rahmita Utami

Askeb (Asuhan Kebidanan) 4


kehamilan berakhir dengan keguguran/abortus secara berturut-turut. Bishop melaporkan
kejadian abortus habitualis sekitar 0.41%dari seluruh kehamilan.
g. Abortus Infeksiosus, Abortus septic
Abortus infeksiosus adalah abortus yang disertai infeksi pada alat genetalia.
Abirtus septic adalah abortus yang disertai penyebaran infeksi pada peredaran darah tubuh
atau peritoneum (septicemia atau peritonitis).
h. Kehamilan Anembrionik (Blighted Ovum)
Kehamilan anembrionik merupakan kehamilan patologi dimana mudigah tidak
terbentuk sejak awal walaupun kantong gestasi tetap terbentuk. Disamping mudigah,
kantong kuning telur juga tidak terbentuk. Kelainan ini merupakan suatu kelainan
kehamilan yang baru terdeteksi setelah berkembangnya ultrasonografi.bila tidak dilakukan
tindakan, kehamilan ini akan berkembang terus walaupun tanpa adanya janindi dalamnya.
Biasanya sampai 14-16 minggu akan terjadi abortus spontan.
3.2. Penyebab Abortus
Penyebab Abortus (early pregnancy loss) bervariasi dan sering diperdebatkan.
Umumnya lebih dari satu penyebab. Penyebab terbanyak antara lain adalah.
1. Faktor genetic, Translokasi parental keseimbangan genetic: Mendelian, Multifaktor,
Robertsonian, Respirokal.
2. Kelaian congenital uterus: Anomali duktus Mulleri, Septum Uterus, Uterus bikornis,
Inkompetensi serviks uterus, Mioma uteri, Sindroma Asherman.
3. Autoimun: Aloimun, Mediasi imunitas humoral, Mediasi imunitas seluler.
4. Defek Fase Luteal: Faktor endokrin eksternal, Antibodi antitiroid hormone, sintesis LH
yang tinggi.
5. Infeksi
6. Hematologik
7. Lingkungan
Usia kehamilan saat terjadinya abortus bisa member gambaran tentang
penyebabnya. Sebagai contoh antipospholopid syndrome (APS) dan inkompetensi serviks
sering terjadi setelah trimester pertama.
4. KET
4.1. Pengertian KET
Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) adalah suatu kehamilan yang pertumbuhan
sel telur yang telah dibuahi tidak menempel pada dinding endometrium kavum uteri. Lebih
dari 95% kehamilan ektopik berada di saluran telur (tuba fallopii).
Kejadian kehamilan ektopik tidak sama di antara senter pelayanan kesehatan. Hal
ini bergantung pada kejadian salpingitis seseorang. Di Indonesia kejadian sekitar 5-6 per
seribu kehamilan. Patofisiologi terjadinya kehamilan kehamilan ektopik tersering karena
sel telur yang sudah dibuahi dalam perjalanannya menuju endometrium tersendat sehingga
embrio sudah berkembang sebelum mencapai kavum uteri dan akibatnya akan tumbuh di
luar rongga rahim. Bila kemudian tempat nidasi tersebut tidak dapat menyesuaikan diri
dengan besarnya buah kehamilan, akan terjadi rupture dan menjadi kehamilan ektopik
terganggu.
4.2. Penyebab KET
Etiologi kehamilan ektopik sudah banyak disebutkan karena secara patofisiologi
mudah dimengerti sesusi dengan proses awal kehamilan sejak pembuahan sampai nidasi.
Bila nidasi terjadi diluar kavum uteri atau diluar endometrium, maka terjadilah kehamilan
ektopik. Dengan demikian, factor-faktor yang menyebabkan terjadinya hambatan dalam

Created by Rahmita Utami

Askeb (Asuhan Kebidanan) 4


nidasi embrio ke endometrium menjadi penyebab kehamilan ektopik ini. Faktor-faktor
yang disebutkan adalah sebagai berikut.
1. Faktor Tuba
Adanya peradangan atau infeksi pada tuba menyebabkan lumen tuba menyempit
atau buntu.
Keadaan uterus yang hipoplasia dan saluran tuba yang berkelok-kelok pajang dapat
menyebabkan fungsi silia tuba tidak berfungsi dengan baik. Juga pada keadaan pasca
operasi rekanalisasi tuba dapat merupakan predisposisi terjadinya kehamilan ektopik.
Factor tuba yang lain adalah kelainan endomestriosis tuba atau divertikel saluran
tuba yang bersifat congenital.
Adanya tumor disaluran tuba, misalnya mioma uteri atau tumor ovarium yang
menyebabkan perubahan bentuk patensi tuba juga dapat menjadi etiologi kehamilan
ektopik.
2. Faktor abnormalitas dari zigot
Apabila tumbuh terlalu cepat atau tumbuh dengan ukuran besar, maka zigot akan
tersendat dalam perjalanan pad saat melalui tuba, kemudian terhenti dan tumbuh di saluran
tuba.
3. Faktor Ovarium
Bila ovarium memproduksi ovum dan ditangkap oleh tuba kontralateral, dapat
membutuhkan proses khusus atau waktu yang lebih panjang sehingga kemungkinan
terjadinya kehamilan ektopik lebih besar.
4. Faktor hormonal
Pada akseptor KB yang hanya mengandung progesterone dapat menyebabkan
gerakan tuba melambat. Apabila terjadi pembuahan dapat menyebabkan terjadinya
kehamilan ektopik.
5. Faktor lain
Termasuk disini antara lain adalah pemakaian IUD dimana proses peradangan yang
dapat timbul pada endometrium dan endosalping dapat menyebabkan terjadinya kehamilan
ektopik. Factor umur penderita yang sudah menua dan factor perokok juga sering
dihubungkan dengan terjadinya kehamilan ektopik.
5. Molahidatidosa
5.1. Pengertian Molahidatidosa
Yang dimaksud mola hidatidosa adalah suatu kehamilan yang berkembang tidak
wajar dimana tidak ditemukan janin dan hamper seluruh vili korialis mengalami perubahan
berupa degenerasi hidropik. Secara makroskopik mola hidatidosa mudah dikenal yaitu
berupa gelembung-gelembung putih, tembus pandang, berisi cairan jernih dengan ukuran
bervariasi beberapa millimeter sampai 1 atau 2 cm.
Gambaran histopatologik yang khas dari mola hidatidosa ialah edema stroma vili,
tidak ada pembuluh darah pada vili/degenerasi dan proliferasi sel-sel tropoblas.

Created by Rahmita Utami

Askeb (Asuhan Kebidanan) 4

KUIS
1. Jelaskan apa yang dimaksud hemodilusi
2. Hormon apa saja yang berperan dalam terjadinya hiperemesis gravidarum?
3. Apa definisi Abortus?
4. Jelaskan apa yang dimaksud KET?
5. Jelaskan cirri-ciri spesifik molahidatidosa?

Created by Rahmita Utami