Anda di halaman 1dari 10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Refleks
2.1.1 Pengertian refleks
Refleks adalah respon yang terjadi secara otomatis tanpa usaha sadar. Ada dua jenis
refleks, yaitu refleks sederhana atau refleks dasar, yaitu refleks built-in yang tidak perlu
dipelajari, misalnya mengedipkan mata jika ada benda asing yang masuk; dan refleks didapat
atau refleks terkondisi, yang terjadi ketika belajar dan berlatih, misalnya seorang pianis yang
menekan tuts tertentu sewaktu melihat suatu di kertas partitur.
Gerak refleks berjalan sangat cepat dan tanggapan terjadi secara otomatis terhadap
rangsangan, tanpa memerlukan kontrol dari otak. Jadi dapat dikatakan gerakan terjadi tanpa
dipengaruhi kehendak atau tanpa disadari terlebih dahulu. Contoh gerak refleks misalnya
berkedip, bersin, atau batuk. Pada gerak refleks, impuls melalui jalan pendek atau jalan
pintas, yaitu dimulai dari reseptor penerima rangsang, kemudian diteruskan oleh saraf sensori
ke pusat saraf, diterima oleh set saraf penghubung (asosiasi) tanpa diolah di dalam otak
langsung dikirim tanggapan ke saraf motor untuk disampaikan ke efektor, yaitu otot atau
kelenjar. Jalan pintas ini disebut lengkung refleks.
2.1.2 Macam-macam gerak refleks
Berdasarkan tempat pusat refleks :
1. Refleks spinal : sumsum tulang belakang. Misal, refleks lutut.
2. Refleks otak : otak. Misal, refleks pupil, bersin, kejap mata.
Berdasarkan jumlah efektor :
1. Refleks kompleks
2. Refleks tunggal
Semua Lengkung (Jalur) Refleks terdiri dari Komponen yang sama, yaitu:
1. Reseptor adalah ujung distal dendrit yang menerima stimulus (rangsangan)
2. Jalur aferen melintas di sepanjang sebuah neuron sensorik sampai ke otak atau
medulla spinalis
1

3. Bagian pusat adalah sisi sinaps, yang berlangsung dalam substansi abu-abu SSP.
Impuls dapat ditransmisi, di ulang rutenya, atau dihambat pada bagian ini.
4. Jalur eferen melintas di sepanjang akson neuron motorik sampai ke efektor yang
akan merespons impuls eferen sehingga menghasilkan aksi yang khas
5. Efektor dapat berupa otot rangka, otot jantung atau otot polos atau kelenjar yang
merespon.

2.1.3 Mekanisme terjadinya gerak refleks


Aktivitas di lengkung refleks dimulai di reseptor sensorik, berupa potensial reseptor
yang besarnya sebanding dengan kuat rangsang. Potensial resptor membangkitkan potensial
aksi yang bersifat gagal atau tuntas disaraf aferen. Jumlah potensial aksi sebanding dengan
besarnya potensial generator. Di sistem saraf pusat terjadi respons bertahap berupa potensial
pascasinaps eksitatorik dan potensial pasca sianaps inhibitolrik yang kemudian bangkit di
saraf tertaut-taut sinaps. Respon yang kemudian bangkit di saraf eferen adalah respon yang
bersifat gagal atau tuntas. Bila potensial aksi ini mencapai efektor, akan terbangkit lagi
respons bertahap. Di efektor yang berupa otot polos, responnya akan bergabung untuk
kemudian mencetuskan potensial aksi di otot polos. Tetapi bila efektornya berupa otot
rangka, respons bertahap tersebut selalu cukup besar untuk mencetuskan potensial aksi yang
mampu menimbulkan kontraksi otot.

Perlu ditekankan bahwa hubungan antara neuron aferen dan eferen biasanya di
susunan saraf pusat, dan aktivitas di lengkung refleks merupakan aktivitas yang remodifikasi
oleh berbagai rangangan yang terkumpul (konvergen) di neuron eferen.

2.2 Bruxism
2.2.1 Pengertian bruxism
Bruxism adalah aktivitas parafungsi oklusal. Fenomena bruxism yang merujuk pada
keadaan yaitu mengerotkan gigi-gigi (grinding) atau mengatupkan dengan keras rahang atas
2

dan bawah (clenching). Definisi bruxism menurut The Academy of Prosthodontics, 2005
yaitu parafunsional grinding dari gigi-gigi, suatu kebiasaan yang tanpa disadari dan berulang
atau tidak beraturan (spasmodik), non fungsional grinding atau clenching, selain dari gerakan
pengunyahan mandibula yang akan mengarah ke trauma oklusal, situasi ini disebut pula
sebagai neurosis oklusal. Sedangkan definisi bruxsim menurut American Academy of
Orofacial Pain, 2008 bruxism adalah diurnal or nocturnal parafunctional activity that
includes clenching, bracing, gnashing and grinding of teeth. Bruxism pada saat tidur berbeda
pada saat bangun yaitu tanpa keinginannya melakukan clencing gigi-gigi merupakan reaksi
terhadap rangsang tertentu, umumnya tanpa grinding, keadaan ini biasanya berhubungan
dengan kebiasaan atau tic.

2.2.2 Penyebab Bruxism


Walaupun kebiasaan ini tidak disengaja, namun stres yang berlebihan dan tipe
kepribadian tertentu seringkali diduga sebagai penyebab tipikal bruxism. Bruxism
mempengaruhi orang-orang dengan ketegangan saraf seperti cepat marah, gusar, kesakitan,
frustrasi, dan atau orang-orang yang agresif, tergesa-gesa dan kecenderungan kompetitif yang
berlebihan. Kontak yang tidak normal antara gigi atas dan bawah, dan posisi tidur juga
berhubungan dengan bruxism.
Pada beberapa kasus, bruxism tidak disebabkan oleh keadaan psikologi atau kondisi
gigi dan rahang, tetapi merupakan komplikasi dari kelainan seperti penyakit Hutchinson dan
Parkinson. Beberapa obat antidepresi tertentu juga dapat menimbulkan efek samping
bruxism, tetapi hal ini jarang terjadi. Genetik juga dapat mempengaruhi terjadinya bruxism.
Sedang pada anak, bruxism dianggap berhubungan dengan pertumbuhan dan
perkembangan gigi serta rahang. Tetapi, beberapa ahli juga percaya bahwa faktor psikologi
mempunyai andil terhadap timbulnya bruxism pada anak. Kebanyakan diantara mereka akan
sembuh setelah gigi susu mereka berganti dengan gigi tetap.

2.2.3 Hubungan bruxism dengan penderita TMJ


Pada waktu terjadi bruxism, tekanan kunyah pada gigi geligi amatlah besar, bisa
mencapai lebih dari dua kali hingga enam kali dari tekanan kunyah normal. Akibatnya, dapat
terjadi kerusakan baik pada gigi maupun sendi rahang. Permukaan gigi menjadi rata karena
ausnya tonjol-tonjol gigi akibat gesekan yang kuat. Selain menyebabkan tampilan gigi
3

menjadi buruk, gigi menjadi sensitif karena terbukanya lapisan dentin gigi. Kerusakan juga
terjadi pada jaringan penyangga gigi, seperti tulang alveolar (tulang tempat tumbuhnya gigi)
serta jaringan periodontal (jaringan pengikat gigi pada tulang), yaitu terjadi radang yang
menimbulkan rasa sakit dan kerusakan jaringan yang parah. Kerusakan pada sendi
menimbulkan nyeri dan kesulitan menggerakkan rahang. Rasa sakit yang ditimbulkan
bruxism dapat berupa sakit kepala, telinga dan leher, juga otot-otot wajah terutama terasa
pada waktu bangun tidur.
Kondisi bruxism dapat melelahkan orang yang menderita kelainan tersebut saat
bangun tidur. Akibat dari refleks bruxism sewaktu tidur itu dapat menimbulkan rasa sakit di
berbagai tempat. Bila mengenai pelipis (otot temporalis) sehingga terasa sakit kepala yang
berkepanjangan, jika di sekitar telinga (otot pterygoideus lateralis) akan terasa pegal dengan
kadangkadang disertai telinga sedikit berdengung. Pada leher (otot sternocleidomastoideus)
akan terasa tegang sampai daerah bahu (otot trapezius) dan dapat pula menimbulkan rasa
lelah pada pipi (otot masseter). Rasa tersebut seolah-olah seperti sehabis mengunyah
makanan keras dalam jumlah banyak. Kadang-kadang setelah menderita bruxism beberapa
lama, pada daerah sendi rahang (temporomandibular joint) terasa sakit bila membuka mulut
lebar-lebar. Pada sendi itu dapat juga terjadi klicking (tidak lancar membuka dan
mengatupkan rahang).
2.3.3 Penanggulangan bruxism
Terdapatt 7 cara penanggulangan bruxism yaitu:
1. Mengistirahatkan rahang dan wajah untuk merilekskan otot wajah.
2. Memberikan pijatan ringan pada otot-otot wajah leher dan bahu.
3. Kompres rahang dengan air dingin atau hangat.
4. Menghindari makan-makanan keras sebisa mungkin.
5. Cukup tidur.
6. Memenejemen emosi dan stress yang baik

7. Menggunakan night guard atas petunjuk dokter gigi, yaitu alat pelindung dari bahan
akrilik / plastik lunak yang di pakai pada saat tidur, untuk melindungi gigi dari
gesekan yang terjadi.
2.3 Temporomandibular Joint disorder
2.3.1 Pengertian Temporomandibular Joint disorder
Sendi Rahang atau temporomandibular joint (TMJ) adalah daerah langsung didepan
kuping pada kedua sisi kepala dimana rahang atas (maxilla) dan rahang bawah (mandible)
bertemu. Didalam sendi rahang terdapat bagian-bagian yang bergerak yang memungkinkan
rahang atas menutup pada rahang bawah. Sendi rahang ini adalah suatu sliding ball dan
socket khas yang mempunyai satu piringan (disc) terjepit diantaranya. Sendi rahang (TMJ)
digunakan beratus kali dalam sehari untuk menggerakan rahang,menggigit dan mengunyah,
berbicara dan menguap. Sendi ini merupakan salah satu sendi dari seluruh sendi ditubuh yang
paling sering digunakan.
Sendi rahang (TMJ) adalah rumit dan terdiri dari otot-otot, urat-urat dan tulangtulang. Setiap komponen berkontribusi pada kelancaran kerja dari sendi rahang. Ketika otototot bersantai dan berimbang dan kedua rahang membuka dan menutup dengan nyaman, kita
dapat berbicara, mengunyah dan menguap tanpa sakit.
Temporomandibular joint disorder (TMD) adalah merupakan suatu kelainan pada
sendi temporomandibular (sendi yang berfungsi menggerakan rahang bawah) yang di
akibatkan oleh hiperfungi, malfungsi dari musculoskeletal (otot-otot pada tulang tengkorak)
ataupun proses degeneratif pada sendi itu sendiri.
2.3.2 Struktur anatomi Temporomandibular Joint
Lokasi sendi temporomandibular (TMJ) berada tepat dibawah telinga yang
menghubungkan rahang bawah (mandibula) dengan maksila (pada tulang temporal). Sendi
temporomandibular ini unik karena bilateral dan merupakan sendi yang paling banyak
digunakan serta paling kompleks.
Kondilus tidak berkontak langsung dengan permukaan tulang temporal, tetapi dipisahkan
oleh diskus yang halus, disebut meniskus atau diskus artikulare. Diskus ini tidak hanya
5

perperan sebagai pembatas tulang keras tetapi juga sebagai bantalan yang menyerap getaran
dan tekanan yang ditransmisikan melalui sendi.
Permukaan artikular tulang temporal terdiri dari fossa articulare dan eminensia
artikulare. Seperti yang lain, sendi temporomandibular juga dikontrol oleh otot, terutama otot
penguyahan, yang terletak disekitar rahang dan sendi temporomandibular. Otot-otot ini
termasuk otot pterygoid interna, pterygoid externa, mylomyoid, geniohyoid dan otot
digastrikus. Otot-otot lain dapat juga memberikan pengaruh terhadap fungsi sendi
temporomandibular, seperti otot leher, bahu, dan otot punggung.
Ligamen dan tendon berfungsi sebagai pelekat tulang dengan otot dan dengan tulang
lain. Kerusakan pada ligamen dan tendon dapat mengubah kerja sendi temporomandibular,
yaitu mempengaruhi gerak membuka dan menutup mulut.
2.3.3 Gejala Temporomandibular joint disorder
Terdapat banyak sekali gejala-gejala pada TMJ disorder salah satunya yaitu :
1.

Pasien akan merasakan nyeri pada darah TMJ, rahang atau wajah.

2.

Nyeri dirasakan pada saat membuka mulut.

3.

Keluhan adanya clicking sounds pada saat menggerakan rahang.

4.

Kesulitan untuk membuka mulut secara sempurna.

5.

Sakit kepala.

6.

Nyeri pada daerah leher dan pungggung.

2.3.4 Etiologi
Kondisi oklusi.
Dulu oklusi selalu dianggap sebagai penyebab utama terjadinya TMD, namun akhirakhir ini banyak diperdebatkan.
Trauma
Trauma dapat dibagi menjadi dua :

1.

Macrotrauma : Trauma besar yang tiba-tiba dan mengakibatkan perubahan struktural,


seperti pukulan pada wajah atau kecelakaan.

2.

Microtrauma : Trauma ringan tapi berulang dalam jangka waktu yang lama, seperti
bruxism dan clenching. Kedua hal tersebut dapat menyebabkan microtrauma pada
jaringan yang terlibat seperti gigi, sendi rahang, atau otot.

Stress emosional
Keadaan sistemik yang dapat mempengaruhi fungsi pengunyahan adalah peningkatan
stres emosional. Pusat emosi dari otak mempengaruhi fungsi otot. Hipotalamus, sistem
retikula, dan sistem limbic adalah yang paling bertanggung jawab terhadap tingkat emosional
individu. Stres sering memiliki peran yang sangat penting pada TMJ Disorder.
Stress adalah suatu tipe energi. Bila terjadi stres, energi yang timbul akan disalurkan
ke seluruh tubuh. Pelepasan secara internal dapat mengakibatkan terjadinya gangguan
psikotropik seperti hipertensi, asma, sakit jantung, dan/atau peningkatan tonus otot kepala
dan leher. Dapat juga terjadi peningkatan aktivitas otot nonfungsional seperti bruxism atau
clenching yang merupakan salah satu etiologi TMJ Disorder.
Deep pain input (Aktivitas parafungsional)
Aktivitas parafungsional adalah semua aktivitas di luar fungsi normal (seperti
mengunyah, bicara, dan menelan), dan tidak mempunyai tujuan fungsional. Contohnya
adalah bruxism, dan kebiasaankebiasaan lain seperti menggigit-gigit kuku, pensil, bibir,
mengunyah satu sisi, tongue thrust, dan bertopang dagu. Aktivitas yang paling berat dan
sering menimbulkan masalah adalah bruxism, termasuk clenching dan grinding. Beberapa
literatur membedakan antara bruxism dan clenching. Bruxism adalah mengerat gigi atau
grinding terutama pada malam hari, sedangkan clenching adalah mempertemukan gigi atas
dan bawah dengan keras yang dapat dilakukan pada siang ataupun malam hari.

BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Refleks yang terjadi pada penderita TMJ disorder dikarenakan terlalu banyak hantaran
nyeri pada daerah TMJ sehingga dapat menghantarkan impuls dengan cepat sehingga terjadi
refleks. TMJ disorder terjadi karena penderita mengalami bruxism dimana akhirnya terdapat
banyak tekanan pada bagian TMJ yang menyebabkan terjadinya TMJ disorder.

DAFTAR PUSTAKA
Ahlberg K. Self-reported bruxism. Academic dissertation. Department of Stomatognathic
Physiology and Prosthetic Dentistry . Institute of Dentistry. Faculty of Medicine. University
of Helsinki. Finland. 2008.
Carlsson GE, Magnusson T. Management of Temporomandibular Disorders in the General
Dental Practice. Germany: Quintessence Publishing. 1999.
Das UM, Keerthi R, Ashwin DP, Venkata RS, Reddy D, Shiggaon N. Ankylosis of
temporomandibular joint in children. J Indian Soc Pedod Prevent Dent 2009.
Ganong, F. William. 2001. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Gloroa AG. Incidence ofdiurnal and nocturnal bruxism. J Prosthet Dent 1981.
Guyton, C. Arthur. 1990. Buku Teks Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Lavigne GJ, Khoury S, Abe S, Yamaguchi T, Raphael K. Bruxism physiology and pathology:
an overview for clinicians. J Oral Rehabil. 2008.
Lavigne GJ, Montplaisir Jy. Restless legs syndrome and sleep bruxism: prevalence and
association among Canadians. Sleep. 1994.
Malik NA. Textbook of oral and maxillofacial surgery.2nd Ed. New Delhi: Jaypee Brothers
Medical Publisher (P) Ltd, 2008.

Nayak PK, Nair SC, Krishnan DG, Perciaccante VJ. Ankylosis of the temporomandibular
joint. In : Booth PW, Schendel SA, Jarg_Erich H. Maxillofacial surgery. 2nd Ed.St. Louis :
Churchill Livingstone, 2007.
Okeson JP. Management of Temporomandibular Disorders and Occlusion 6th. USA: St.
Louis. 2008.
Ramezanian M, Yavary T. Comparion of gap arthroplasty and interpositional gap
arthroplasty on the temporomandibular joint ankylosis. Acta Medica Iranica 2006.
Sloane, Ethel. 2004. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: penerbit buku kedokteran
EGC.
The Glossary of Prosthodontic Terms. J Prosthet Dent. 2005.
Vasconcelos BCE, Porto GG, Bessa-nogueira RV. Temporomandibular joint ankylosis. Rev
Bras Otorrinolsringol 2008.
Wong ME, Butler D, Ried R, Gateno J. Advance oral and maxillofacial surgery. Houston :
The University of Dental Branch at Houston, 2007.

10