Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Di bidang industri konstruksi, pekerjaan beton memegang peranan sangat

penting. Dapat dikatakan hampir pada setiap bangunan yang didirikan, seperti
gedung bertingkat, perumahan, jalan, jembatan, bendungan dan saluran irigasi
serta bangunan lainnya selalu memerlukan pekerjaan beton, baik sebagai
kebutuhan utama maupun sebagai unsur bahan penunjang. Dalam pekerjaan
konstruksi beton, terutama konstruksi beton bertulang konvensional, pemadatan
atau vibrasi beton adalah pekerjaan yang mutlak untuk dikerjakan. Pemadatan
dalam pelaksanaannya itu sendiri adalah meminimalkan udara yang terjebak
dalam beton segar (fresh concrete) sehingga diperoleh beton yang homogen dan
tidak terjadi rongga-rongga di dalam beton (honey-comb).
Konsekuensi dari beton bertulang yang tidak sempurna pemadatannya,
diantaranya dapat menurunkan kuat tekan beton dan kekedap-airan beton sehingga
mudah terjadi karat pada besi tulangan. Pengecoran beton konvensional pada
beam column joint yang padat tulangan dengan alat vibrator belum menjamin
tercapainya kepadatan secara optimal. Selain itu penggunaan alat vibrator pada
daerah yang padat bangunan dapat menimbulkan polusi suara yang mengganggu
sekitarnya.
Terdapat beberapa cara untuk meningkatkan kinerja beton, antara lain :
mengurangi porositas bahan dengan mengurangi jumlah air dalam campuran
beton; menambah aktif mineral seperti Silica Fume, Copper Slag, atau abu
terbang (Fly Ash); menambah serat (fiber) dalam campuran beton; dan beton
dengan pemadatan mandiri atau Self Compacting Concrete. Self Compacting
Concrete (SCC) merupakan salah satu metode yang dipergunakan dalam suatu
keadaan tertentu dimana penggunaan metode konvensional tidak dapat
dipergunakan, sehingga agar dapat menggunakan metode ini dengan baik
diperlukan pengenalan awal baik dari penertian ataupun aplikasnya dilapangan.

1.2

Tujuan
Paper ini bertujuan untuk mengetahui salah satu jenis beton yaitu Self

Compacting Concrete serta aplikasinya, sehingga dimaksudkan dapat memberikan


kontribusi dalam pemahaman dalam materi mata kuliah teknologi beton dan
bahan struktur.
1.3

Batasan Masalah
Dalam paper ini akan dibahas pengertian tentang Self Compacting

Concrete serta aplikasinya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Self Compacting Concrete (SSC)
Self Compacting Concrete (SCC) diperkenalkan pertama kali di Eropa
pada akhir abad ke-20 dan merupakan konsep inovatif untuk menghasilkan beton
yang dapat mengalir (flowable) namun tetap kohesif dan bermutu tinggi. Beton
akan dengan mudah mengalir, bahkan melalui tulangan yang rapat tanpa
mengalami segregasi ataupun bleeding. SCC juga mengatasi permasalahan
2

pengecoran untuk posisi yang tinggi karena dapat dipompa dengan mudah. Selain
tingkat kelecakan atau workablilitas yang tinggi pada beton segar, SCC setelah
mengeras (hardened concrete) juga memiliki kekuatan yang tinggi disebabkan
pengurangan kadar air sehingga porositas menjadi minimum, memiliki
kemampuan kedap air yang tinggi, serta deformasi susut yang rendah. Self
Compacting Concrete mengisyaratkan kemampuan mengalir yang baik pada beton
segar dengan nilai slump-flow minimal sebesar 60 cm. Beton SCC seringkali
digunakan sebagai material repair untuk perbaikan struktur bangunan yang
mengalami kerusakan seperti porous akibat kesalahan manual compacting
ataupun retak.
Beton memadat sendiri atau Self Compacting Concrete pertama kali
dikembangkan di jepang pada tahun 1990-an sebagai upaya untuk mengatasi
persoalan pengecoran komponen gedung artistik dengan bentuk geometri yang
tergolong rumit bila dilakukan pengecoran dengan beton normal. Di Indonesia
sendiri penggunaan beton SCC masih belum banyak, hanya beberapa bangunan
yang mengaplikasikannya terutama bangunan struktur-struktur besar seperti pada
jembatan Grand Wisata (Cable Stayed) di Bekasi, Jawa Barat pada tahun 2007

Gambar 2. 1 Jembatan cable stayed grand wisata


Sumber: Anonimus. Jembatan cable stayed grand wisata.

http://www.promolagi.com/potret_det.php?jid=114.

Accessed

on

05/12/2012

Dalam pelaksanaannya, digunakan beton mutu tinggi dengan kuat tekan 60


MPa. Aplikasi ini karena mempertimbangkan kesulitan pemadatan manual pada
posisi menara yang tinggi dan miring.
Riset tentang beton memadat mandiri masih terus dilakukan hingga
sekarang dengan banyak aspek kajian, misalnya ketahanan (durability),
permeabilitas dan kuat tekan (compressive strength). Kekuatan tekan beton kering
102 MPa sudah dapat dicapai karena penggunaan admixture superplastiziser yang
memungkinkan penurunan rasio air-semen (w/c) hingga nilai w/c = 0,3 atau lebih
kecil. Secara umum, SCC memerlukan bahan tambah (admixture) dan bahan
pengisi (filler) yang berfungsi untuk memodifikasi sifat serta karakteristik beton.
Untuk memperoleh beton yang mampu mengalir tanpa terjadi pemisahan material
(kriteria segregation resistance), maka digunakan high range water reducer atau
Superplasticizer. Superplasticizer meningkatkan konsistensi pasta semen dan
membuat pasta semen menyelimuti dan mengikat agregat dengan kuat, sehingga
beton mampu mengalir tanpa mengalami segregasi material. Superplasticizer
diperlukan untuk mendispersikan (menyebarkan) partikel semen menjadi merata
dan memisahkan menjadi partikel-partikel yang halus sehingga reaksi
pembentukan C-S-H (tobermorite) akan lebih merata dan lebih aktif. Sedangkan
penggunaan bahan pengisi (filler) diperlukan untuk meningkatkan viskositas
beton guna menghindari terjadinya bleeding dan segregasi, untuk tujuan tersebut
dapat digunakan fly ash, serbuk batu kapur, silica fume atau yang lainnya.
Komposisi Agregat kasar dan agregat halus juga harus diperhatikan dalam
proses produksi SCC, mengingat semakin besar proporsi agregat halus dapat
meningkatkan daya alir beton segar tetapi jika agregat halus yang digunakan
terlalu banyak maka dapat menurunkan kuat tekan beton yang dihasilkan,
sebaliknya jika terlalu banyak agregat kasar dapat memperbesar resiko segregasi
pada beton. Pada komposisi campuran beton, perbedaan utama beton memadat
mandiri dengan beton konvensional adalah penggunaan porsi bahan pengisi yang

cukup besar, sekitar 40 % dari volume total campuran beton. Bahan pengisi ini
adalah pasir butiran halus dengan ukuran butiran maksimum (dmax ) 0,125 mm.
Porsi besar bahan pengisi ini menyebabkan campuran beton cenderung berprilaku
sebagai

pasta.

Penggunaan

superplastiziser

yang

memadai,

biasanya

berbahan polycarboxylate, memungkinkan penggunaan air pada campuran dapat


dikurangi, namun pengurangan pengerjaan (workability) dan kemampuan
pengaliran (flowability) campuran beton dapat dijaga.
2.2

Syarat Campuran Self Compacting Concrete (SCC)


Beberapa syarat yang harus dipenuhi agar campuran beton bias

dikategorika sebagai Self Compacting Concrete antara lain:


1. Pemilihan material yang sesuai
2. Mix desain yang mampu memenuhi kriteria filling ability, passing ability

dan ketahanan terhadap segresi. Seperti:

Agregat kasar dibatasi jumlahnya sampai kurang lebih 50% dari


volume beton. (Pada beton normal sekitar 70-75 %).

Agregat halus dibatasi jumlahnya sampai kurang lebih 40% dari


volume beton. (Pada beton normal sekitar 30%).

Penggunaan admixture water reducer untuk mendapatkan tingkat


workabilitas yang tinggi sekaligus menekan nilai water-cement ratio
(wcr).

Penambahan filler (admixture mineral), antara lain Fly Ash dan


Silica Fume, untuk meningkatkan durabilitas dan kekuatan tekan
beton

2.3

Kelebihan Self Compacting Concrete (SCC)

Kelebihan dari SCC diantaranya:


1. Sangat encer, bahkan dengan bahan aditif tertentu bias menahan slump
tinggi dalam jangka waktu lama.
2. Tidak memerlukan pemadatan manual
3. Lebih homogeny dan stabil
5

4. Kuat tekan beton bias dibuat untuk beton mutu tinggi dan sangat tinggi
5. Lebih kedap, porositas lebih kecil
6. Susut lebih rendah
7. Dalam jangka panjang struktur lebih awet (durable)
8. Tampilan permukaan beton lebih baik dan halus karena agregatnya
biasanya berukuran kecil sehingga nilai estetis bangunan menjadi lebih
tinggi.
9. Karena tidak menggunakan penggerakan manual, lebih rendah polusi suara
saat pelaksanaan pengecoran.
10. Tenaga kerja yang dibutuhkan lebih sedikit karena beton dapat mengalir
dengan sendirinya sehingga dapat menghemat biaya sekitar 50 % dari
upah buruh.
SCC cocok untuk struktur-struktur yang sulit untuk dilaksanakan pemadatan
manual misalnya karena tulangannya sangat rapat ataupun karena bentuk
bekisting tidak memungkinkan, sehingga dikhawatirkan akan terjadi keropos
apabila dipadatkan secara manual. Selain itu bias juga diaplikasikan untuk lantai,
dinding, tunel, beton pre-cast dan lain-lain.
Untuk mendapatkan campuran beton SCC dengan tingkat workabilitas yang tinggi
perlu juga diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Agregat kasar dibatasi jumlahnya sampai kurang lebih 50% dari volume
padatnya.
2. Pembatasan jumlah agregat halus kurang lebih 40% dari volume mortar.
3. Water Binder Ratio dijaga pada level kurang lebih 0.3

2.4

Karakteristik dan Metode Test Self Compacting Concrete (SCC)

2.4.1

Workability
Berdasarkan spesifikasi SCC dari EFNARC (European Federation of

National Associations Representing for Concrete), workabilitas atau kelecakan


campuran beton segar dapat dikatakan sebagai beton SCC apabila memenuhi
criteria sebagai berikut, yaitu:

1. Filling ability, adalah kemampuan beton SCC untuk mengalir dan mengisi

keseluruh bagian cetakan melalui berat sendirinya.


2. Passing ability, adalah kemampuan beton SCC untuk mengalir mealui

celah-celah antar besi tulangan atau bagian celah yang sempit dari cetakan
tanpa terjadi adanya segregasi atau blocking.
3. Segregation resistance, adalah kemampuan beton SCC untuk menjaga

tetap dalam keadaan komposisi yang homogen selama waktu transportasi


sampai pada saat pengecoran.
2.4.2

Metode Test
Metode

test

pengukuran

workability

telah

dikembangkan

untuk

menentukan karakteristik beton SCC dan sampai saat ini belum ada satu jenis test
yang bisa mewakili ketiga syarat karakteristik beton SCC seperti tersebut diatas.
Ada beberapa pengujian yang direkomendasikan oleh pedoman Eropa, seperti:
2.4.2.1 Slump-Flow
Slump-flow test dapat dipakai untuk menentukan filling ability baik di
laboratorium maupun di lapangan dan dengan memakai alat ini dapat diperoleh
kondisi workabilitas beton berdasarkan kemampuan penyebaran beton segar yang
dinyatakan dengan besaran diameter yaitu antara 60 cm 75 cm.
Kebutuhan nilai slump flow untuk pengecoran konstruksi bidang vertical
berbeda dengan bidang horizontal. Kriteria yang umum dipakai untuk penentuan
awal workabilitas beton SCC berdasarkan tipe konstruksi adalah
a. Untuk konstruksi vertikal, disarankan slump-flow diantara 65 cm sampai
70 cm.
b. Untuk konstruksi horizontal, disarankan menggunakan slump-flow antara
60 cm sampai 65 cm.
Adapun metode slump-flow test, yaitu:

Gambar 2. 2 Pengujian Slump Cone


Sumber: Citrakusuma, Juwita Laily. 2012. Kuat tekan Self Compacting Concrete
dengan kadar superplasticizer yang bervariasi. Tugas akhir yang
dipublikasikan. Universitas Jember

a. Slump cone diletakkan dengan posisi diameter yang kecil


diletakkan dibawah. Di bagian dasar alat ini diletakkan papan yang
datar.
b. Campuran beton dimasukkan dalam slump cone sampai penuh.
Campuran beton tersebut tidak boleh dirojok.
c. Slump cone diangkat perlahan.
d. Waktu yang diperlukan aliran beton untuk mencapai diameter 50
cm dicatat (SF50) 3-6 detik
e. Diameter maksimum yang dicapai aliran beton dicatat (SFmax) 6575 cm
2.4.2.2 L-Shape-Box
L-Shape-Box atau disebut juga dengan Swedish Box adalah alat berbentuk
huruf L yang terbuat dari besi. Alat ini ini dipakai untuk mengetahui passing
ability dari beton SCC. Dengan menggunakan L-Shape Box, dapat diketahui
kemungkinan adanya blocking beton segar saat mengalir dan juga dapat dilihat
viskositas beton segar yang bersangkutan.
Adapun cara menggunakan L-Shape-Box, yaitu:
8

a. Sekat penutup ditutup.


b. Campuran beton segar diisikan pada arah vertical sampai jenuh.
c. Sekat penutup ditarik ke atas sampai terbuka sehingga campuran beton
segar mengalir kearah horizontal
d. Perbedaan tinggi aliran beton arah horizontal di cek

Gambar 2. 3 Pengujian dengan L-Shape-Box


Sumber: Citrakusuma, Juwita Laily. 2012. Kuat tekan Self Compacting Concrete
dengan kadar superplasticizer yang bervariasi. Tugas akhir yang
dipublikasikan. Universitas Jember

L-Shape_Box test akan didapat nilai blocking ratio, yaitu nilai yang didapat dari
perbandingan antara H2/H1. Semakin besar nilai blocking ratio, semakin baik
beton segar yang mengalir dengan viskositas tertentu. Untuk test ini criteria yang
umum dipakai baik untuk tipe konstruksi vertical maupun untuk konstruksi
horizontal disarankan mencapai nilai blocking ratio antara 0,8 sampai 1,0
2.4.2.3 V-Funnel
Metode ini dipakai untuk mengukur viskositas beton SCC dan sekaligus
mengetahui segregation resistance. Kemampuan beton segar untuk segera
mengalir melalui mulut di ujung bawah alat ukur V-Funnel diukur dengan besaran
waktu antara 6 detik sampai maksimal 12 detik.
Berikut cara kerja alat Funnel Test:
a. Penutup bagian bawah ditutup.
b. Campuran beton segar diisikan pada V-Funnel sampai jenuh

c. Penutup bagian bawah dibuka sehingga campuran beton segar mengalir.


d. Catat lama waktu beton mengalir hingga V-Funnel kosong.

Gambar 2. 4 Alat Funnel Test


Sumber: Citrakusuma, Juwita Laily. 2012. Kuat tekan Self Compacting Concrete
dengan kadar superplasticizer yang bervariasi. Tugas akhir yang
dipublikasikan. Universitas Jember

2.4.2.4 U box test


Tes ini digunakan untuk mengukur filling and passing ability dari beton
SCC. Alat ini tersusun dari sebuah kapal berbentuk U yang dibagi oleh dinding
tengah menjadi dua kompartemen. Uji U-box menunjukkan derajat compactability
dalam hal mengisi tinggi yaitu (h1-h2), perbedaan ketinggian beton dicapai dalam
dua kompartemen U-box.
2.4.2.5 Orimet test
Orimet test mampu mensimulasikan aliran beton segar selama pengerjaan
di lokasi. Alat Orimet diisi dengan sekitar 8 liter beton dan waktu yang
dibutuhkan untuk mengalir melalui alat diukur.
2.4.2.6 GTM Screen Stability Test

10

Adalah cara yang sangat efektif untuk mengukur stabilitas SCC. Pengujian
ini diawali dengan mengambil sampel 10 liter beton dan didiamkan untuk
memungkinkan adanya segregasi internal dalam jangka waktu tertentu, kemudian
dituangkan ke saringan 5 mm (diameter 350 mm). Setelah dua menit, mortar yang
melewati saringan ditimbang dan dinyatakan sebagai persentase dari berat sampel
asli dalam saringan.
2.4.3

Pouring dan Formwork


Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum pengecoran dengan beton

SCC adalah sebagai berikut:


1. Durasi waktu pengecoran disesuaikan dengan waktu ikat awal beton untuk
menghindari terjadinya cold joint.
2. Cara terbaik untuk pengecoran beton SCC adalah dari bawah
cetakan/formwork untuk menghindari udara terjebak (dengan eksternal
hose adalah sangat efektif)
3. Beton SCC dapat mengalir sampai jarak 10 meter tanpa hambatan.
4. Elemen tipis 5-7 cm dapat diisi oleh beton SCC tanpa hambatan.
5. Tidak memerlukan keahlian yang spesifik saat pelaksanaan pengecoran.

2.5

Penelitian Self Compacting Concrete (SCC)

1.

Pengaruh Penambahan Admixture Terhadap Karakteristik Self


Compacting Concrete (SCC) (Oleh. Mariani, dkk. 2009)
Penelitian ini meliputi percobaan dan pengujian sifat fisik SCC, baik

ketika masih segar (fresh concrete) maupun setelah mengeras (hardend concrete).
Sampel SCC dibuat sebanyak 18 benda uji yang diperoleh dengan 3 kali
pencamuran (mixing), masing-masing untuk pengujian 3, 7 dan 28 hari.
Pada penelitian ini, SCC didesain tidak menggunakan filler, tetapi sebagai
gantinya digunakan Portland Composite Cement (PCC) yang telah mengandung
bahan pozzolanic antara lain Fly Ash.
11

Adapun agregat yang digunakan, yaitu batu pecah dan pasir, berasal dari sungai
Jeneberang, Sulawesi Selatan dan telah diuji fisis berdasarkan ASTM C33-03
(Standard Specification for Concrete Agregates). Desain campuran SCC
menggunakan metode DoE (Development of Environment) dengan kelecakan
aliran desain (slump flow) 65-75 cm dan kuat tekan desain 30 MPa (beton K-300).
Perbandingan air dengan semen (wcr) adalah 0,45 pada kadar 0% admixture.
Desain

campuran

SCC

menggunakan

admixture

Superplasticizer

untuk

meningkatkan pengaliran (flowability) dan bahan pelambat (Retarder) untuk


mengoptimasikan waktu ikat (setting time). Superplasticizer yang digunakan
adalah Mighty 150 S (produksi PT. Kao) dengan variasi kadar 1,5%, 2,0%, dan
2,5% dari berat semen, dan Retarder Conplast Dessue Possolit (produksi PT.
MBT) dengan kadar 0,5% dari berat semen. Volume semen dan agregat untuk 1
m3 beton adalah :

416 kg semen

672 kg agregat halus ( maksimum 5 mm)

781 kg agregat kasar ( maksimum 20 mm).


Setelah proses pencampuran bahan (mixing) dan kemudian pengujian

Slump flow, SCC dimasukkan ke dalam cetakan (formwork) berdasarkan JSCEF515-999 (Standard Practice for Making Test Specimens of High Fluidity
Concrete). Benda uji yang digunakan adalah silinder yang memiliki dimensi
()15 cm dan (t) 30 cm. Benda uji dibuat di ruangan dengan suhu standar ruangan
laboratorium. Setelah 24 jam benda uji dikeluarkan dari cetakan, dan evaluasi
secara visual dilakukan untuk melihat hasil pemadatan.
Hasil pengujian Kelecakan aliran SCC diuji dengan Slump-Cone Test
(Kerucut terbalik) untuk mengambil nilai Slump-Flow. Pengujian ini berdasarkan
kemampuan penyebaran beton segar yang dinyatakan dengan besaran diameter
sesuai desain campuran.

12

Gambar 2. 5 Grafik hubungan antara kadar admixture dengan


kelecakan aliran SCC
Sumber: mariani, dkk. 2009. Pengaruh Penambahan Admixture Terhadap
Karakteristik Self Compacting Concrete (SCC)

Hasil pengujian slump flow menunjukkan, SCC dengan kadar 1,5%, 2,0%,
dan 2,5% Superplasticizer mampu memenuhi kelecakan aliran desain, yaitu 65-75
cm. Nilai slump-flow yang terendah adalah pada kadar 1,5% Superplasticizer,
yaitu 71,7 cm
Grafik hubungan antara kadar Superplasticizer dengan nilai slump-flow
menunjukkan, kadar Superplasticizer berpengaruh terhadap kelecakan aliran SCC,
meskipun tidak signifikan. Semakin besar kadar Superplasticizer yang diberikan,
maka semakin tinggi nilai slump-flow yang berarti semakin tinggi tingkat
kelecakan aliran (workabilitas) SCC. Berdasarkan angka pada grafik, peningkatan
kelecakan aliran SCC pada setiap penambahan 0,5% kadar Superplasticizer rata
rata hanya 0,65 cm atau 0,9%.
Hasil evaluasi visual pada beton segar menunjukkan, SCC dengan kadar
1,5%, 2,0%, dan 2,5% Superplasticizer mampu mengalir dan mengisi seluruh
ruang cetakan secara mandiri (self compactible) tanpa terjadi segregasi material
yang berarti.

13

Hasil evaluasi visual beton keras menunjukkan seluruh sisi dan sudut
benda uji tampak halus tanpa bekas lubang udara yang besar dan pada sudutnya
tidak terjadi keropos atau sarang lebah akibat segregasi material.

Gambar 2. 6 Grafik hubungan antara kadar admixture dengan kuat


tekan SCC
Sumber: mariani, dkk. 2009. Pengaruh Penambahan Admixture Terhadap
Karakteristik Self Compacting Concrete (SCC)

Analisis hasil pengujian kuat tekan beton umur 28 hari menunjukkan, SCC
dengan kadar 1,5%, 2,0%, dan 2,5% Superplasticizer memenuhi kuat tekan desain
yaitu sebesar 30 MPa (beton K-300). Nilai kuat tekan yang tertinggi yaitu 47,35
MPa adalah pada kadar 1,5% Superplasticizer.
Grafik hubungan antara kadar Superplasticizer dengan kuat tekan SCC
pada umur 3, 7, dan 28 hari menunjukkan, kadar Superplasticizer berpengaruh
terhadap kekuatan tekan SCC. Semakin besar kadar Superplasticizer yang
diberikan, maka semakin menurun kekuatan tekan SCC. Kekuatan tekan SCC
pada umur 28 hari menurun rata-rata 4,29 MPa atau 9,32% pada setiap
penambahan 0,5% Superplasticizer. Kecenderungan ini dapat disebabkan oleh
faktor kadar admixture dan pengurangan kadar air semen, susunan campuran (mix
design) SCC, serta cara pengerjaan.

14

2.

Optimalisasi Kuat Tekan Self-Compacting Concrete Dengan Cara


Trial-Mix Komposisi Agregat Dan Filler Pada Campuran Adukan
Beton (oleh. Slamet Widodo, 2006)
Standar Nasional Indonesia (SNI) sampai saat ini belum mengakomodasi

teknologi self-compacting concrete berkaitan minimnya penelitian yang dilakukan


tentang teknologi baru ini, sedangkan potensi material yang dimiliki cukup besar,
maka diperlukan penelitian untuk mendapatkan mix design yang optimal dalam
pembuatan beton jenis SCC di Indonesia. Penelitian ini dilaksanakan untuk
mengetahui komposisi antara agregat kasar dan agregat halus yang optimum pada
beton yang tergolong self-compacting concrete dan persentase optimum dalam
melakukan substitusi semen dalam adukan beton dengan serbuk bata merah yang
difungsikan sebagai filler dalam produksi SCC.
Bahan-bahan

yang

dibutuhkan

untuk

melaksanakan

berbagai pengujian dalam penelitian ini, meliputi:


Tabel 2. 1 Rancangan campuran adukan beton

Sumber: Widodo, Slamet. 2006. 2. Optimalisasi Kuat Tekan Self-Compacting


Concrete Dengan Cara Trial-Mix Komposisi Agregat Dan Filler Pada
Campuran Adukan Beton

Prosedur pengujian kuat tekan beton dilaksanakan berdasarkan SNI : 031974-1990, benda uji diletakkan pada mesin tekan secara sentris, dan mesin tekan
dijalankan dengan penambahan beban antara 2 sampai 4 kg/cm2 perdetik.
Pembebanan dilakukan sampai benda uji menjadi hancur dan beban maksimum
15

yang terjadi selama pemeriksaan benda uji dicatat. Setiap varian dalam penelitian
ini dilakukan uji kuat tekan pada umur 3, 7 dan 28 hari dengan jumlah benda uji
sebanyak 3 buah silinder beton untuk 1 data uji. Hasil trial-mix komposisi agregat
yang paling optimal, selanjutnya digunakan dalam studi pemanfaatan serbuk bata
merah sebagai filler dalam proses produksi SCC.
Hasil dari pengujian terhadap sifat beton segar (dalam penelitian ini
meliputi uji slump dan slump flow) ditunjukkan dalam grafik dibawah

Gambar 2. 7 Hasil pengujian slump pada trial mix komposisi agregat


Sumber: Widodo, Slamet. 2006. Optimalisasi Kuat Tekan Self-Compacting
Concrete Dengan Cara Trial-Mix Komposisi Agregat Dan Filler Pada
Campuran Adukan Beton

Gambar diatas menunjukkan bahwa nilai slump yang


dihasilkan cenderung meningkat sejalan dengan penambahan
fraksi agregat kasar, hal ini disebabkan karena agregat halus
memiliki ukuran butir yang kecil dengan luas permukaan yang
lebih besar sehingga membutuhkan air bebas yang lebih banyak,
sehingga semakin banyak fraksi agregat halus yang digunakan

16

menyebabkan semakin kecilnya tingkat kelecakan beton segar.


Hasil pengujian tersebut juga menunjukkan bahwa nilai slump
yang dicapai selalu lebih besar dari 20 cm, sehingga pengujian
slump sudah tidak efektif untuk digunakan. Nilai slump yang
besar ini disebabkan karena penggunaaan
sebagai

superplasticizer

menyebabkan

polycarboxylate

terjadinya

dispersi

butiran semen sehingga beton segar menjadi sangat encer.


Kondisi ini membutuhkan metode pengujian lain yang lebih
sesuai yaitu modified slump test atau pengukuran slump flow.

Gambar 2. 8 Hasil pengujian slump pada trial mix komposisi agregat


Sumber: Widodo, Slamet. 2006. Optimalisasi Kuat Tekan Self-Compacting
Concrete Dengan Cara Trial-Mix Komposisi Agregat Dan Filler Pada
Campuran Adukan Beton

Hasil pengujian slump flow diatas menunjukkan semakin


banyak fraksi agregat halus akan meningkatkan nilai sebaran
slump flow. Hal ini disebabkan semakin banyak agregat halus
akan meningkatkan luas permukaan agregat sehingga pasta
semen dapat berfungsi sebagai pelumas dan perekat dengan baik
17

sehingga kohesifitas beton segar dapat meningkat dan gejala segregasi dan
bleeding dapat diminimalisir, secara visual beton segar terlihat seperti cairan
madu yang kental tetapi mampu mengalir dengan baik. Nilai slum
flow akan mencapai 65 cm jika fraksi agregat halus lebih dari 40%, sehingga
untuk menghasilkan SCC diperlukan fraksi agregat halus minimal 40%.
Hasil pengujian kuat tekan beton yang dilakukan pada saat
benda uji
berumur 3, 7 dan 28 hari dapat dilihat pada gambar dibawah

Gambar 2. 9 Kuat tekan beton akibat variasi komposisi agregat


Sumber: Widodo, Slamet. 2006. Optimalisasi Kuat Tekan Self-Compacting
Concrete Dengan Cara Trial-Mix Komposisi Agregat Dan Filler Pada
Campuran Adukan Beton

Regresi polinomial berderajat dua yang dilakukan terhadap hasil uji kuat tekan
pada umur 3, 7 dan 28 hari. Hasil tersebut menunjukkan untuk memproduksi
beton jenis SCC fraksi agregat halus yang digunakan sebaiknya berkisar antara
40% sampai 60%, dengan kekuatan optimum akan dicapai pada saat digunakan
fraksi agregat halus sebesar 50%. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang

18

dilakukan Nan Su dan kawan-kawan (2001) yang menyarankan penggunaan


agregat halus antara 50% sampai 57%. Penggunaan fraksi agregat halus sebesar
50% menunjukkan hasil yang optimum disebabkan karena dicapainya sifat beton
segar yang mudah mengalir dan variasi ukuran agregat yang akan saling mengisi
sehingga dapat diperoleh beton yang dapat memadat mengandalkan berat sendiri
dengan tingkat kepadatan yang cukup baik. Penggunaan agregat halus yang terlalu
banyak menyebabkan beton segar mudah mengalir namun kekuatan beton tidak
optimal karena sifatnya yang menyerupai mortar, sedangkan penggunaan agregat
kasar yang terlalu banyak berakibat terjadinya rongga dalam beton dan
meningkatnya kecenderungan segregasi.
Hasil pengujian kuat tekan beton yang dilakukan pada saat
benda uji berumur 3, 7 dan 28 hari dengan filler serbuk bata
merah, yaitu

Gambar 2. 10 Hasil pengujian uji kuat tekan SCC dengan filler serbuk
bata merah
Sumber: Widodo, Slamet. 2006. Optimalisasi Kuat Tekan Self-Compacting
Concrete Dengan Cara Trial-Mix Komposisi Agregat Dan Filler Pada
Campuran Adukan Beton

19

Gambar diatas menunjukkan hasil pengujian kuat tekan selfcompacting concrete


dengan berbagai variasi persentase substitusi semen dengan serbuk bata merah.
Pada saat umur 28 hari terlihat penggunaan serbuk bata merah dengan takaran
10% berat semen akan memberikan nilai kuat tekan yang tertinggi. Hal ini terjadi
karena serbuk bata merah tergolong sebagai pozolan aktif yang merupakan latent
cementicious material, sehingga jika semen portland, air, pozolan dan agregat
bercampur di dalam beton, maka terjadi reaksi hidrasi dari senyawa-senyawa
semen dan hidrasi dari komponen mineral pozolan dengan kalsium hidroksida
yang dihasilkan oleh hidrasi semen portland. Pada penambahan serbuk bata merah
kapur bebas dapat bereaksi dengan silica oksida (SiO2), Al2O3 dan Fe2O3
menghasilkan tobermorite, sehingga dapat meningkatkan kekuatan dan kepadatan
beton. Proses hidrasi yang terjadi pada semen Portland dapat dinyatakan dalam
persamaan reaksi kimia sebagai berikut :
2(3CaO.SiO2) + 6H2O

3.CaO.2SiO2.3H2O + 3Ca(OH)2

2(2CaO.SiO2) + 4H2O

3.CaO.2SiO2.3H2O + Ca(OH)2

Dengan adanya bahan tambahan berupa serbuk bata merah


maka akan terjadi reaksi antara kapur bebas dengan butiran
silika, alumina dan ferro-oksida yang menghasilkan tobermorite
3 Ca(OH)2 + 2SiO2

3.CaO.2SiO2.3H2O

3 Ca(OH)2 + 2Al2O3

3.CaO.2Al2O3.3H2O

3 Ca(OH)2 + 2Fe2O3

3.CaO.2Fe2O3.3H2O

Tampak bahwa bahan pozolan ini mengikat kapur bebas dalam


beton dan membentuk kalsium silikat hidrat yang sama dengan
hasil hidrasi semen portland.
Pada penggunaan serbuk bata merah sebanyak 20%, 33% dan 50% terjadi
penurunan kuat tekan, hal ini dapat terjadi karena belum tuntasnya reaksi antara
air, semen dan pozolan mengingat perkembangan kuat tekan beton SCC dengan
serbuk bata merah lebih lambat dari laju kuat tekan beton SCC tanpa serbuk bata
merah, atau disebabkan karena terlalu banyaknya fraksi serbuk bata merah

20

sehingga tidak semua serbuk bata merah dapat bereaksi dengan kapur bebas dan
mengakibatkan terganggunya ikatan antara pasta dengan agregat yang digunakan.

Gambar 2. 11 Laju kuat tekan SCC dengan filler serbuk bata merah
Sumber: Widodo, Slamet. 2006. Optimalisasi Kuat Tekan Self-Compacting
Concrete Dengan Cara Trial-Mix Komposisi Agregat Dan Filler Pada
Campuran Adukan Beton

Gambar diatas menunjukkan perkembangan kuat tekan SCC yang


menggunakan serbuk bata merah lebih lambat dibandingkan dengan SCC yang
tidak menggunakan serbuk bata merah. Hal ini di sebabkan karena serbuk bata
merah merupakan latent cementicious material sehingga dalam reaksinya
memerlukan kapur bebas yang dihasilkan dari reaksi hidrasi antara semen dan air,
fenomena reaksi bertahap inilah yang menyebabkan lambatnya kestabilan kuat
tekan yang dicapai.

21

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Self-compacting Concrete (SCC) dapat didefinisikan sebagai suatu jenis

beton yang dapat dituang, mengalir dan menjadi padat dengan memanfaatkan
berat sendiri, tanpa memerlukan proses pemadatan dengan getaran atau metode
lainnya, selain itu beton segar jenis self compacting concrete bersifat kohesif dan
dapat dikerjakan tanpa terjadi segregasi atau bleeding
SCC cocok untuk struktur-struktur yang sulit untuk dilaksanakan
pemadatan manual misalnya karena tulangannya sangat rapat ataupun karena
bentuk bekisting tidak memungkinkan, sehingga dikhawatirkan akan terjadi
keropos apabila dipadatkan secara manual. Selain itu bisa juga diaplikasikan
untuk lantai, dinding, tunel, beton pre-cast dan lain-lain.
Untuk mendapatkan campuran beton SCC dengan tingkat workabilitas
yang tinggi perlu juga diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Agregat kasar dibatasi jumlahnya sampai kurang lebih 50% dari volume
padatnya.
2. Pembatasan jumlah agregat halus kurang lebih 40% dari volume mortar.
3. Water Binder Ratio dijaga pada level kurang lebih 0.3

3.2

Saran
Dalam penerapan beton SCC dilapangan diharapkan sesuai dengan mix

desain yang dianjurkan guna menghindari adanya permasalahan dalam pengaliran


beton misal terjadinya blocking ketika transportasi. Pemahaman yang baik akan
beton SCC akan berdampak positif terhadap perkembangan ilmu stuktur beton
terutama dalam desain dan pelaksanaan yang efisien.

22

23