Anda di halaman 1dari 38

SI-4111 REKAYASA STRUKTUR

TUGAS PERENCANAAN STRUKTUR


BAJA 2011

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Desain dalam bangunan sangat bergantung dari material utama yang digunakan sebagai
kekuatan struktural dari bangunan tersebut. Hal ini dikarenakan setiap material bangunan
mempunyai karakteristik masing-masing yang berbeda-beda.
Karena perbedaan karakteristik yang dimiliki oleh setiap jenis material bangunan,
pemilihan material yang digunakan menjadi penting untuk dipertimbangkan dalam
mendesain bangunan. Sebagai contoh, bangunan yang banyak menggunakan sistem rangka
batang (truss) lebih cocok menggunakan material baja atau kayu daripada menggunakan
beton. Pemilihan material juga bisa dikaitkan dengan fungsi utilitas dari bangunan tersebut.
Misalnya, bangunan rumah di daerah beriklim dingin akan cocok jika menggunakan material
beton karena beton sekaligus berguna sebagai penyeimbang suhu.
Bangunan industri seperti pabrik atau gudang biasanya membutuhkan ruangan yang luas
dengan sesedikit mungkin kolom untuk mengakomodasi kebutuhan akan penyimpanan
barang dalam jumlah besar atau untuk menaruh mesin atau alat berat. Dalam hal ini,
permodelan struktur sebagai kombinasi sistem rangka kaku (frame) dan sistem rangka batang
(truss) bisa digunakan. Untuk material, baja tepat digunakan karena karakteristik baja yang
cocok digunakan dalam sistem frame atau truss serta keunggulan baja dari segi suplainya
yang tersedia banyak di pasaran.
Dalam mendesain, perlu diperhatikan faktor pembebanan yang digunakan. Pembebanan
tergantung dari beban-beban yang bekerja pada bangunan. Secara umum, pembebanan bisa
digolongkan menjadi beban mati, beban hidup, dan beban lingkungan.
Dalam Tugas Kecil SI-4111 Rekayasa Struktur, penulis mendesain suatu bangunan
industri dengan menggunakan baja sebagai material struktural bangunan. Penekanan
diberikan pada pembebanan terhadap gempa bumi karena mata kuliah ini bertujuan agar
mahasiswa mampu merencanakan dan memeriksa bangunan tahan gempa. Bangunan yang
penulis desain mempunyai spesifikasi bangunan yang telah ditentukan, seperti tinggi
bangunan, panjang bangunan (beserta jarak antarportal), lebar bangunan, serta karakteristik
lingkungan bangunan untuk pembebanan terhadap gempa bumi.

Kelompok 8

SI-4111 REKAYASA STRUKTUR

TUGAS PERENCANAAN STRUKTUR


BAJA 2011

1.2 Tujuan
Tujuan dari Tugas Kecil SI-4111 Rekayasa Struktur ini adalah:
1. Merencanakan suatu bangunan tahan gempa dengan baja sebagai material struktural
utama.
2. Memberikan gambaran umum tentang proses desain dengan memperhitungkan gempa
bumi sebagai salah satu faktor yang diperhitungkan.
1.3 Metodologi
Dalam mendesain, metodologi yang digunakan melalui beberapa tahapan, yaitu:
1. Desain pradimensi (preliminary design) untuk menentukan penampang inisial dari
struktur. Desain pradimensi ditentukan dengan menyesuaikan penampang dengan
ketersediaan penampang di pasaran.
2. Memasukkan pembebanan mati, hidup, dan angina yang bekerja pada bangunan.
3. Memeriksa kapasitas penampang terhadap pembebanan yang bekerja. Jika kapasitas
penampang tidak memenuhi, maka penampang yang digunakan harus diganti atau
struktur bangunan harus dimodifikasi.
4. Setelah kapasitas penampang memenuhi, cek periode struktur penampang (T). Jika
struktur dirasa kurang kaku atau terlalu kaku, penampang harus diganti lagi atau
struktur harus dimodifikasi.
5. Setelah didapat periode struktur yang memenuhi, input beban gempa.
6. Periksa kapasitas penampang terhadap seluruh kombinasi pembebanan, termasuk
beban gempa. Jika, kapasitas penampang memenuhi, maka struktur dapat digunakan.

Kelompok 8

SI-4111 REKAYASA STRUKTUR

TUGAS PERENCANAAN STRUKTUR


BAJA 2011

BAB II
PEMODELAN STRUKTUR DENGAN SAP 2000
2.1 Pembuatan Grid
Setelah masuk ke dalam program SAP 2000, klik File lalu pilih New Model. Maka akan
muncul tampilan sebagai berikut :

Gambar 2.1 Membuat Grid Baru

Setelah tampilan di atas muncul, tentukan unit yang akan digunakan. Di tampilan tersebut
akan muncul beberapa contoh template yang bisa dipilih. Untuk tugas ini pilih Grid Only.
Untuk spasi grid yang seragam, cukup dengan menu Quick Grid Lines untuk mengatur
jumlah dan spasi grid. Pilih jumlah grid dan spasi grid arah sumbu x, y, dan z yang
diinginkan lalu klik OK.
Sedangkan untuk spasi grid yang beragam, data grid bisa diubah dengan menu Edit Grid
Data. Caranya dengan klik kanan pada layar model lalu pilih Edit Grid Data. Lalu akan
muncul menu Edit Grid Data seperti tampilan di bawah ini.

Kelompok 8

SI-4111 REKAYASA STRUKTUR

TUGAS PERENCANAAN STRUKTUR


BAJA 2011

Gambar 2.2 Edit Data Grid

2.2 Pedefinisian Material


Untuk mendefinisikan material, langkah yang dilakukan adalah :
Klik menu Define material add new material, tampilannya sebagai berikut :

Gambar 2.3 Define Material

Pada menu material property data seperti ditunjukkan pada gambar di bawah ini,
masukkan Data Material Type, Weight per unit volume, Modulus elasticity, possons ratio,
minimum tensile stress (fu), minimum yield stress (fy), dan lain-lain. Setelah selesai
memasukkannya, klik Ok, dan kita beralih ke pendefinisian section properties.

Kelompok 8

SI-4111 REKAYASA STRUKTUR

TUGAS PERENCANAAN STRUKTUR


BAJA 2011

Gambar 2.4 Material Property Data

2.3 Pendefinisian Section Properties


Klik Define Section Properties Frame Sections
Lalu klik pilihan add new properties untuk menambahkan properti baru. Pada menu add
frame property pilihlah jenis material yang akan digunakan yaitu steel (baja). Maka akan
muncul beberapa contoh penampang baja seperti yang ditunjukkan Gambar 2.5. Pilihlah
penampang yang diinginkan.

Gambar 2.5 Berbagai Macam Penampang Baja

Kelompok 8

SI-4111 REKAYASA STRUKTUR

TUGAS PERENCANAAN STRUKTUR


BAJA 2011

Setelah penampang dipilih, tentukan dimensi penampang yang diinginkan seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 2.6 di bawah ini, lalu klik OK.

Gambar 2.6 Menentukan Dimensi Penampang

2.4 Pembuatan Model


Untuk menggambar model frame, klik Draw lalu pilih Draw Frame/Cable/Tendon. Lalu
akan muncul tampilan Properties untuk memilih jenis section yang diinginkan dan properti
lainnya. Lalu gambar frame sesuai dengan desain rencana. Desain yang akan direncanakan
adalah sebagai berikut :
Lebar : 26 meter
Panjang : 36 meter (ada 7 kolom ke arah x dengan jarak antar kolom adalah 6 meter)
Tinggi kolom : 10 meter
Tinggi atap : 4.8 meter

Kelompok 8

SI-4111 REKAYASA STRUKTUR

TUGAS PERENCANAAN STRUKTUR


BAJA 2011

Gambar 2.7 Pemodelan Struktur

Untuk bracing, perlu adanya partial fixity dikarenakan bracing hanya berfungsi sebagai
pengaku, bukan untuk memikul momen. Pilih menu assign frame release partial fixity.
Lalu centang momen 22 (start dan end), momen 33 (start dan end), dan torsion (end).

Gambar 2.8 Partial Fixity untuk Bracing

2.5 Pendefinisian Beban


a. Define Load Patterns
Masukkan semua kemungkinan jenis beban yang akan membebani struktur beserta
tipe dari beban tersebut apakah termasuk beban mati, hidup, angin, atau gempa. Lalu
untuk masing-masing beban tersebut masukkan Self Weight Multiplier. Nilai self weight
multiplier adalah 1 untuk beban struktur dan 0 untuk beban selain beban struktur.

Gambar 2.9 Define Load Patterns

Kelompok 8

SI-4111 REKAYASA STRUKTUR

TUGAS PERENCANAAN STRUKTUR


BAJA 2011

b. Define Load Case

Gambar 2.10 Define Load Cases

Secara default tipe beban SW, Seng, Hujan, Angin, EQ-X, dan EQ-Y sudah
terdefinisi dalam Load Case, jadi pilih Define - Load Case - Klik OK.
c. Define Load Combinations
Untuk menambahkan kombinasi baru pilih Define - Load Combinations - Add
New Combo. Masukkan semua kombinasi beban yang mungkin beserta scale
factor, seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.10 di bawah ini.

Gambar 2.11 Load Combination Data

Berikut ini beberapa kombinasi beban yang mungkin :


-

1.4D
1.2D + 1.6L + 0.5H

Kelompok 8

SI-4111 REKAYASA STRUKTUR

TUGAS PERENCANAAN STRUKTUR


BAJA 2011

1.2D 1.3W + 0.5L + 0.5H


1.2D + 1.6H 0.8W
0.9D EQ-X 0.3EQ-Y
0.9D EQ-Y 0.3EQ-X
1.2D EQ-X 0.3EQ-Y
1.2D EQ-Y 0.3EQ-X
-

Gambar 2.12 Define Load Combinations


-

Kombinasi Envelope
- Kombinasi

envelope

merupakan

sebuah

kombinasi

dengan

menggabungkan kombinasi yang ada.


-

Gambar 2.13 Envelope Combination

2.6 Assign Beban

Kelompok 8

SI-4111 REKAYASA STRUKTUR

TUGAS PERENCANAAN STRUKTUR


BAJA 2011

Setelah mendefinisikan beban apa saja yang membebani struktur yang harus

dilakukan adalah memasukkan besaran dari beban-beban tersebut. Caranya dengan


mengklik bagian struktur yang akan dibebani lalu pilih menu assign untuk
memasukkan besaran beban lalu pilih submenu yang sesuai dengan jenis beban
tersebut apakah termasuk joint loads atau frame loads. Khusus untuk berat sendiri
(self weight) tidak perlu di-assign karena sudah dimasukkan dari properti material.
a. Joint loads
-

Salah satu beban yang termasuk jenis ini adalah beban gempa. Beban gempa

yang akan direncanakan tergantung pada jenis tanah dan zonasi gempa. Diketahui jenis
tanah sedang dengan zona gempa 5.
Klik assign joint loads forces untuk meng-assign beban joint.
-

Gambar 2.14 Joint Forces


-

b. Frame Loads
Beban yang termasuk frame loads di antaranya beban hujan dan beban angin.
Klik assign frame loads distributed (untuk beban yang terdistribusi).
i. Beban hujan
- Untuk beban hujan pilih koordinat global dengan arah sesuai percepatan
gravitasi.
ii. Beban angin
- Untuk beban angin pilih koordinat lokal dengan arah sumbu 2. Beban angin
yang direncanakan adalah 25 kg/m2.
iii. Beban seng
- Untuk beban hujan pilih koordinat global dengan arah sesuai percepatan
gravitasi. Beban seng yang direncanakan adalah 10 kg/m2.
-

Kelompok 8

10

SI-4111 REKAYASA STRUKTUR

TUGAS PERENCANAAN STRUKTUR


BAJA 2011

Gambar 2.15 Frame Distributed Loads


-

2.7 Assign Perletakan


- Pilih joint yang akan digunakan sebagai joint perletakan. Klik assign joint
restraints lalu pilih tipe perletakan yang akan digunakan. Tipe perletakan yang
digunakan adalah perletakan jepit.
-

Gambar 2.16 Joint Restraints


-

2.8 Menjalankan Analisis Terhadap Struktur


- Analisis kekuatan di sini ada 2 tahap, yaitu tahapan sebelum beban gempa
dimasukkan dan tahap setelah beban gempa dimasukkan. Sebelum beban gempa dimasukkan
model akan di-run. Jika setelah di-run tidak ada bagian struktur yang overstess maka beban
gempa dapat dimasukkan. Jika ada, maka kembali ke tahap perencanaan struktur dan
material.

Kelompok 8

11

SI-4111 REKAYASA STRUKTUR

TUGAS PERENCANAAN STRUKTUR


BAJA 2011

Setelah melewati tahap pertama dilanjutkan dengan memasukkan beban gempa.

Setelah beban gempa dimasukkan maka model di-run lagi. Jika masih ada bagian strruktur
yang overstress maka kembali ke tahap perencanaan struktur dan material. Jika sudah tidak
ada yang overstress berarti struktur sudah OK.
- Selain cek kekuatan, kenyamanan dari bangunan tersebut juga harus diperhatikan.
Cek kenyamanan dilakukan dengan memeriksa apakah lendutan yang terjadi masih dalam
batas lendutan izin yang ditentapkan SNI atau tidak. Lendutan yang terjadi bisa didapatkan
dari tabel di SAP2000. Tabel bisa dimunculkan dengan cara memilih menu display lalu pilih
submenu show table. Ceklis displacement untuk memunculkan tabel lendutan.
- Klik Analyze lalu pilih Run Analysis untuk menganalisis struktur. Setelah tampilan di
bawah ini keluar klik OK.
-

Gambar 2.17 Run Analysis

Kelompok 8

12

SI-4111 REKAYASA STRUKTUR

TUGAS PERENCANAAN STRUKTUR


BAJA 2011

- BAB III
- PEMBEBANAN
3.1
-

Beban Mati (D)


Beban mati adalah berat dari semua bagian dari suatu gedung yang bersifat tetap,

termasuk segala unsur tambahan, penyelesaian-penyelesaian, mesin-mesin serta peralatan


tetap yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung itu. (PPPRG,1987). Dalam
tugas ini, beban yang dikelompokkan dalam beban mati adalah
Beban Struktur Baja
- Beban mati struktur dapat dilihat dari tabel di bawah ini.
-

Tabel 3.1 Daftar Berat Elemen Struktur Baja

3.2
-

Beban Seng
- Beban seng ditentukan sebesar 10 kg/m2
Beban Hujan (H)
Beban hujan adalah beban yang ditimbulkan oleh berat air yang mengalir di atap saat

hujan. Beban hujan ini tidak termasuk beban akibat genangan air. Beban hujan dipengaruh
oleh kemiringan atap, karena semakin terjal atap, jumlah air yang ada di atap semakin sedikit.
Beban hujan didefinisikam seperti di bawah ini
kg
H=400.8 ( 2 )
m
-

Dimana adalah sudut kemiringan atap, sehingga untuk tugas besar nilai H adalah
H=400.8 20=16 kg/m2,
-

dengan arah pembebanan sesuai gravitasi.


-

3.3

Beban Angin (W)

Kelompok 8

13

SI-4111 REKAYASA STRUKTUR

TUGAS PERENCANAAN STRUKTUR


BAJA 2011

Beban angin adalah beban yang ditimbulkan oleh angin dengan memperhatikan

bentuk aerodinamika bangunan dan peninjauan terhadap pengaruh angin topan, puyuh, dan
tornado, bila diperlukan.
- Beban angin dibedakan menjadi dua yaitu angin tiup dan angin hisap. Angin tiup akan
mendorong struktur sedangkan angin hisap akan menarik struktur. Angin tiup dan angin hisap
akan terlihat seperti Gambar 3.1

Gambar 3.1 Ilustrasi Angin Tiup dan Angin Hisap

Beban angin didefinisikan sebagai


W =25 c
Dimana, c = 0.9 untuk angin tiup dan c = 0.4 untuk angin hisap.
Dalam tugas besar ini, nilai beban angin sebagai berikut
W tiup=25 0.9=22.5 kg/m2
W hisap=25 0.4=10 kg/m2

3.4
-

Beban Gempa (V)


Beban gempa adalah semua beban static ekuivalen yang bekerja pada gedung atau

bagian gedung yang menirukan pengaruh dari gerakan tanah akibat gempa itu. Dalam hal
pengaruh gempa pada struktur gedung ditentukan berdasarkan suatu analisa dinamik, maka
yang diartikan dengan beban gempa di sini adalah gaya-gaya di dalam struktur tersebut yang
terjadi oleh gerakan tanah akibat gempa tersebut (PPPRG,1987). Dalam SNI 03-1726-2003,
beban gempa didefinisikan sebagai
C I W
V=
R
-

Dimana :

Kelompok 8

14

SI-4111 REKAYASA STRUKTUR

C=

0.5
T

TUGAS PERENCANAAN STRUKTUR


BAJA 2011

(tergantung pada keadaan tanah dan daerah gempa)

I = Importance factor, untuk tugas ini digunakan nilai 1


W = Berat stuktur
R = 5.6 (tergantung pada jenis struktur yang didesain)
Pada tugas ini didefinisikan bahwa struktur berada pada daerah Gempa 5 dan

memiliki keadaan tanah sedang.


0.5
C=
=0.387
1.293
V=

0.387 1 73577.11
=5080,73
5.6

kg

Sehingga,
Beban gempa arah Y = 5080,73/7 = 725,81 kg
Beban gempa arah X = 5080,73/2 = 2540,36 kg

Beban gempa akan dimodelkan sebagai beban terpusat di titik-titik kumpul di frame

struktur seperti pada Gambar 3.2

Gambar 3.2 Gaya Gempa Pada Arah Y

3.5
-

Kombinasi Pembebanan Struktur


Kombinasi pembebanan dilakukan untuk mengetahui beban terbesar dari beberapa

kemungkinan kondisi pembebanan pada struktur. Kombinasi yang digunakan dalam tugas ini
adalah :

1.4D

Kelompok 8

15

SI-4111 REKAYASA STRUKTUR

TUGAS PERENCANAAN STRUKTUR


BAJA 2011

1.2D + 1.6L + 0.5R


1.2D + 1.3W + 0.5L + 0.5R
1.2D + 1.6R + 0.8W
0.9D + EQ-X + 0.3EQ-Y
0.9D + EQ-Y + 0.3EQ-X
1.2D + EQ-X + 0.3EQ-Y
1.2D + EQ-Y + 0.3EQ

Kelompok 8

16

SI-4111 REKAYASA STRUKTUR

TUGAS PERENCANAAN STRUKTUR


BAJA 2011

- BAB IV
- ANALISIS STRUKTUR TERHADAP BEBAN GEMPA
-

4.1 Gambaran Umum Perencanaan Struktur Bangunan Tahan Gempa


Perencanaan struktur terhadap ketahanan terhadap gempa bumi di Indonesia
harus mengacu pada Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur
Bangunan Gedung (SNI-1726-2002) atau Standar Perencanaan Ketahanan Gempa
untuk Jembatan (SNI-2833-2008). Karena desain yang dilakukan adalah desain
gedung industri, maka peraturan yang perlu untuk dijadikan sebagai acuan adalah

SNI-1726-2002.
Dalam perencanaannya, secara umum struktur gedung dibedakan menjadi dua
jenis, yaitu struktur gedung beraturan dan struktur gedung tidak beraturan. Untuk
kasus struktur gedung beraturan, analisis terhadap pembebanan gempa dilakukan
dengan menerapkan analisis statik ekuivalen. Pada jenis analisis ini, pembebanan
gempa nominal akibat pengaruh gempa rencana ditampilkan sebagai beban-beban
gempa nominal statik ekuivalen yang ditangkap pada pusat massa di masing-masing
tingkat lantai. Pembebanan gempa ini dilakukan pada masing-masing sumbu utama
denah struktur. Sedangkan untuk kasus struktur gedung tidak beraturan, analisis yang
digunakan adalah analisis respons dinamik, analisis ragam spektrum respons, dan

analisis respons dinamik riwayat waktu.


Pada bangunan yang didesain kali ini, bangunan dapat dikategorikan dalam
struktur gedung beraturan karena bentuknya yang simetri dan seragam untuk setiap
portalnya. Dengan demikian, desain bangunan terhadap pembebanan gempa
dilakukan dengan cara analisis beban gempa statik ekuivalen.

4.2 Periode Struktur


Periode struktur adalah waktu getar yang dimiliki secara alami oleh
struktur akibat karakteristik dari struktur itu sendiri (bukan akibat beban luar). Dalam
merencanakan bangunan, nilai periode struktur perlu diperhatikan untuk menjaga
kekakuan dari struktur. Struktur yang terlalu fleksibel tidak baik dalam perilakunya
karena akan berdampak pada sifat struktur dalam menahan beban dinamis, termasuk
beban gempa.
Melalui analisis vibrasi bebas (free vibration) tiga dimensi yang
didapatkan dari peranti lunak SAP2000, nilai dari modal yang dimiliki struktur
dijelaskan dalam tabel berikut:

Tabel 4.1 Modal periode dan frekuensi struktur

Kelompok 8

17

SI-4111 REKAYASA STRUKTUR


-

Type of
output
case

Pe
rio
d
(T)

Se
c

1.
29
34
13

TUGAS PERENCANAAN STRUKTUR


BAJA 2011

Frequ
ency
(f)

r
a
d
/
s
e
c
4
.
8
5
7
8
6
.
0
3
7
6
6
.
0
5
1
4
6
.
1
4
6
.
1
9
9
9
6
.
2
5
4
6
.
2
8
3
6
6
.
2

Hz

0.77
315
-

1.
04
06
77

0.96
091
-

1.
03
83
09
1.
02
33
22

0.96
31

0.97
721

1.
01
34
4
1.
00
46
7

0.98
674
-

0.99
535
-

Kelompok 8

0.
99
99
41
0.
99
86

1.00
01

1.00
14

Eigen
value

rad2/s
ec2

23.59
9

36.45
3

36.61
9

37.69
9

38.43
8

39.11
2

39.48
3

39.58
6
18

SI-4111 REKAYASA STRUKTUR

TUGAS PERENCANAAN STRUKTUR


BAJA 2011

36
9

0.
48
94
83

2.04
3
-

10

11

0.
39
67
03
0.
39
22
02

2.52
08
-

2.54
97
-

12

0.
38
73
19

2.58
18

9
1
8
1
2
.
8
3
6
1
5
.
8
3
9
1
6
.
0
2
1
6
.
2
2
2

164.7
7

250.8
6

256.6
5

263.1
6

Sebelum melangkah ke tahap desain selanjutnya, nilai periode struktur

perlu diperiksa agar struktur tidak menjadi terlalu kaku karena biasanya akan
memberikan perilaku yang kurang baik terhadap pembebanan dinamik, termasuk
beban gempa. Nilai periode struktur maksimum yang ditetapkan berdasarkan oleh
pengalaman, yaitu berkisar pada angka 1,8. Karena nilai dari periode struktur hasil
perhitungan menggunakan peranti lunak SAP2000 telah memenuhi, maka desain
-

dapat dilanjutkan ke tahap selanjutnya.


Keseluruhan nilai yang ditampilkan pada tabel di atas saling berkaitan. Nilai
dari frekuensi, merupakan kebalikan dari nilai dari periode sehingga dapat ditulis

persamaan

=
-

2
=2 f
T

f=

1
T . Sementara adalah frekuensi angular dengan nilai

2
dan eigenvalue merupakan .

4.3 Berat Struktur

Kelompok 8

19

TUGAS PERENCANAAN STRUKTUR


BAJA 2011

SI-4111 REKAYASA STRUKTUR

Berat struktur adalah besar beban yang perlu ditanggung oleh struktur akibat
adanya perkalian antara massa dari struktur itu sendiri dengan percepatan gravitasi.
Komponen-komponen struktural yang terdapat pada bangunan ini adalah kolom,

frame atap, penghubung antar-frame, purlin, dan bracing.


Perhitungan berat struktur dilakukan dengan mengalikan keseluruhan berat
jenis struktur (dalam satuan kgf/m) dengan panjang masing-masing komponen
struktur (dalam satuan m). Nilai dari berat jenis struktur tergantung dari jenis
penampang yang digunakan. Karena seluruh komponen struktural menggunakan
material yang sama, yaitu baja, maka perbedaan jenis struktur dipengaruhi oleh
bentuk potongan penampang yang terdiri dari tiga jenis. Perhitungan berat jenis
struktur ditampilkan dalam tabel berikut:

Tabel 4.2 Perhitungan berat struktur

Elemen

IWF
400x40
0x13x21

IWF
500x20
0x10x16

- C
125x65x
6x8

Be
rat
Je
nis

Ber
at
Ele
me
n

(kg
f)

240
80.
00
139
77.
60
173
83.
29
967
6.8
0
434
1.6
0
411
7.8
2
735
77.
11

Panjang

(k
gf/
m)

17
2

Keterangan
Lokasi Elemen

(m)

140

Kolom
-

89
.6

156

Frame atap
-

89
.6

194.0

Frame atap

Penghubung
antara frame

89
.6

108

13
.4

324

Purlin
-

13
.4

307.3

Bracing atap
-

Total

4.4 Gaya Gempa Statik


Berdasarkan Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur
Bangunan Gedung (SNI-1726-2002), struktur bangunan beraturan harus direncanakan

Kelompok 8

20

SI-4111 REKAYASA STRUKTUR

TUGAS PERENCANAAN STRUKTUR


BAJA 2011

terhadap pembebanan gempa nominal akibat pengaruh gempa rencana dalam arah
masing-masing sumbu utama denah struktur bangunan tersebut. Beban gempa yang
-

dimaksud berupa beban gempa nominal statik ekuivalen.


Penentuan beban geser nominal statik ekuivalen yang terjadi di tingkat dasar

dapat dihitung melalui persamaan:


CI
V= W
R

Dengan:
C = Faktor respons gempa yang didapat dari Spektrum Respons Gempa Rencana

R = Faktor reduksi gedung


W = Berat total gedung

= Faktor keutamaan gedung

Untuk mencari nilai C dapat dilihat dari respons spectra pada SNI 03-1726-2003,
seperti gambar di bawah ini

Dari

Gambar 4.1 Respons Spektra Wilayah Gempa 5 di Indonesia


-

spektrum

respons,

bisa

didapatkan

melalui

persamaan

C=0,5 T =0,5 1,293 s=0,387 . Karena bangunan yang didesain akan berfungsi

sebagai gedung industri, maka bangunan ini dapat dikategorikan kepada gedung
umum (seperti untuk penghunian, perniagaan, dan perkantoran). Faktor keutamaan (
Kelompok 8

21

SI-4111 REKAYASA STRUKTUR

TUGAS PERENCANAAN STRUKTUR


BAJA 2011

I ) untuk bangunan dalam kategori ini bernilai 1,0. Nilai

bergantung pada

R=5,6 . Nilai R ini didapatkan dari tabel 2

faktor daktilitas struktur. Diasumsikan,

SNI-1726-2002. Sementara W =73.577,11 kgf .


-

Tabel 4.3 Faktor keutamaan (I) untuk berbagai kategori bangunan

Kategori gedung

Gedung

Faktor keutamaan
I
1

I2
-

I
-

1,

1,

0
1

1,

1,

0
1

instalasi air bersih, pembangkit tenaga listrik, pusat

1,

1,

penyelamatan dalam keadaan darurat, fasilitas

4
1

1,

1,

6
1

1,

1,

umum

seperti

untuk

penghunian,

perniagaan, dan perkantoran


-

Monumen dan bangunan monumental

Gedung penting pascagempa seperti rumah sakit,

radio dan televisi


Gedung untuk menyimpan bahan berbahaya seperti

gas, produk minyak bumi, asam, bahan beracun


-

Cerobong tangki di atas menara

5
-

Tabel 4.4 Parameter daktilitas struktur gedung

Kelompok 8

22

SI-4111 REKAYASA STRUKTUR

TUGAS PERENCANAAN STRUKTUR


BAJA 2011

Dengan demikian, nilai dari gaya geser dasar nominal statik ekuivalen menjadi
V=

bernilai

0,387 1,0
73.577,11=5.080,73 kgf
.
5,6

Besar

gaya

ini

akan

dibebankan (assign) pada setiap titik kumpul (joint) struktur pada salah satu ujung sisi
struktur. Karena struktur memiliki tujuh titik kumpul, maka besarnya gaya geser total
akan dibagi tujuh sebelum dikenakan pada masing-masing titik kumpul.
Berdasarkan Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur
Bangunan Gedung (SNI-1726-2002), periode struktur (atau waktu getar alami struktur
gedung beraturan) dalam arah masing-masing sumbu utama dapat ditentukan dengan
menggunakan persamaan Rayleigh yang dijabarkan sebagai berikut:

T 1 =6,3

W i d i2
i=1
n

g Fi di
i=1

Dengan:
W z
Fi = n i i V
W i zi
i=1

Keterangan:
Wi
= berat struktur pada lantai ke-i
di

Kelompok 8

= simpangan horizontal pada lantai ke-i


23

SI-4111 REKAYASA STRUKTUR

TUGAS PERENCANAAN STRUKTUR


BAJA 2011

= percepatan gravitasi

zi

= ketinggian lantai pada tingkat ke-i

Fi

= beban-beban gempa nominal statik ekuivalen

= beban geser dasar nominal

Karena struktur bangunan hanya memiliki satu lantai, maka perhitungan gaya
F=V =5080,73 kgf

T x =6,3

arah

periode

( 73.577,11 kgf ) ( 0,0205 m )2


=1,096 s
m
9,81 2 ( 5080,73 kgf ) ( 0,0205 m)
s

sumbu

T y =6,3

sehingga

dan

untuk

simpangan

struktur

menjadi

untuk simpangan horizontal

horizontal

arah

sumbu

( 73.577,11 kgf ) ( 0,0125 m)2


=0,856 s
m
.
9,81 2 ( 5080,73 kgf )( 0,0125 m )
s

4.5 Optimasi Struktur


Pembebanan terhadap gempa akan menyebabkan timbulnya tegangan yang
berbeda pada setiap penampang struktur. Hal ini dapat menyebabkan penampang
struktur tidak lagi mampu menahan kombinasi beban yang ada, termasuk dengan
beban gempa. Untuk itu, perlu dilakukan pemeriksaan ulang lagi dari struktur

terhadap kombinasi-kombinasi beban yang berlaku kini, termasuk beban gempa.


Bertambahnya pembebanan yang berlaku pada struktur dapat menyebabkan
perlu diubahnya penampang struktur atau dilakukannya modifikasi pada konfigurasi
struktur. Dengan meninjau kombinasi pembebanan yang baru ini, dapat dilakukan
optimasi terhadap struktur yang sifatnya final atau sudah mencapai tahap akhir.
Optimasi struktur dilakukan untuk meminimalisasi penggunaan material bangunan
sehingga dapat memangkas biaya yang keluar untuk pembuatan bangunan.

4.6 Pemeriksaan terhadap Syarat Lendutan


Selain harus dinyatakan kuat secara struktural, bangunan yang didesain juga
harus memenuhi ketentuan kenyamanan yang direpresentasikan dengan persyaratan
lendutan maksimum yang diizinkan. Syarat lendutan ini diterapkan untuk

Kelompok 8

24

SI-4111 REKAYASA STRUKTUR

TUGAS PERENCANAAN STRUKTUR


BAJA 2011

menghindari ketidaknyamanan pengguna bangunan karena terjadinya defleksi yang


terlalu besar pada bangunan serta untuk menjaga alat-alat dalam bangunan (misalnya
mesin-mesin atau bahan-bahan kimia) yang sensitif terhadap lendutan.
Lendutan perlu diperiksa terhadap dua komponen: balok dan kolom. Balok

dikategorikan ke dalam balok biasa (bukan balok pemikul dinding atau balok dengan
finishing yang getas) sedangkan kolom dikategorikan sebagai kolom dengan analisis
orde pertama. Besarnya lendutan maksimum yang diizinkan pada struktur bangunan
baja menurut SNI 03-1729-2000 tabel 6.4-1 dijelaskan dalam tabel berikut:
-

Tabel 4.5 Batas lendutan maksimum

Komponen struktur dengan beban tidak

Beb

Beban

terfaktor

an

Balok pemikul dinding atau finishing yang

tetap
L/36

getas
Balok biasa

0
L/24

Kolom dengan analisis orde pertama saja

0
h/50

h/200

0
h/30

h/200

Kolom dengan analisis orde kedua

sementara

0
-

Perhitungan besar lendutan maksimum yang diizinkan adalah sebagai berikut:


L
3250 mm
izin =
=
=13,542 mm
untuk balok;
240
240

izin =

h
10.000 mm
=
=20 mm
500
500

untuk kolom.

Lendutan aktual yang terjadi pada struktur dianalisis melalui peranti lunak
SAP2000. Pemeriksaan kesesuaian struktur terhadap syarat batas lendutan disajikan
dalam tabel berikut:

Tabel 4.6 Pemeriksaan terhadap syarat batas lendutan

E
l
e
m
e
n

B
e
n
t
a
n
g
(

Kelompok 8

D
ef
ek
si
Iji
n
(
m
m

Defeksi aktual
maksimum (mm)
1
- 2
- 3
-

Status
- 2

25

SI-4111 REKAYASA STRUKTUR

B
a
l
o
k
K
o
l
o
m

m
m
-

3
2
5
0
1
0
0
0
0

TUGAS PERENCANAAN STRUKTUR


BAJA 2011

)
-

1
3.
5
4
2

2
0

7
.
5
5
1
7
.
5
5
1

11.
46
8
-

11.
46
8

5
.
3
1
1
5
.
3
1
1

O
K

O
K

O
K

O
K

O
K

O
K

Kelompok 8

26

BAB V
ANALISIS SAMBUNGAN

5.1 Spesifikasi Sambungan

Sambungan yang digunakan pada perencanaan struktur baja kali ini

adalah sambungan baut. Keuntungan yang dari sambungan baut dibanding sambungan
las adalah harga yang relatif lebih murah (sampai jumlah sambungan tertentu) dan
tidak dibutuhkannya keahlian khusus dalam pemasangan (pengelasan butuh
dikerjakan oleh teknisi).

Baut yang digunakan untuk sambungan pada struktur baja ini adalah

jenis baut A325. Baut A325 memiliki spesifikasi sebagai berikut:

Tabel 5.1 Spesifikasi Sambungan

Parameter
Fy Material
(Mpa)
Fu Material
(Mpa)
Jenis Baut
Diameter Baut
(mm)
Luas Baut
(mm2)
Diameter
Lubang (mm)
Jarak Baut Dari
Tepi (mm)
Jarak Antar
Baut (mm)
Fu Baut (Mpa)
Proof Stress
(Mpa)

Nilai

240

400
A325

126.68

14.7

30

50
825

12.7

5.2 Analisis Sambungan Baut

585

Untuk analisis sambungan pada tugas besar kali ini, ada dua titik

sambungan yang akan ditinjau yaitu titik yang ada di bagian tengah-bawah dari
bracing dan titik ujung dari bracing. Agar dapat mengetahui posisi titik-titik tersebut
secara jelas dapat dilihat Gambar 5.1 di bawah ini. Titik-titik yang ditinjau ditandai
dengan lingkaran biru.

Gambar 5.1 Posisi Sambungan yang Ditinjau

Jika titik tersebut diperbesar maka detail sambungan akan terlihat

seperti gambar di bawah ini :

Gambar 5.2 Detail Sambungan Lokasi 1

Untuk memastikan agar sistem sambungan dapat menahan gaya dalam

yang bekerja pada struktur, maka diperlukan analisis terhadap kapasitas sistem
sambungan. Dalam analisis kekuatan sistem sambungan baut, terdapat dua hal yang
perlu diperiksa kekuatannya, yaitu:

1. Kekuatan pelat.
2. Kekuatan sambungan baut

5.2.1 Pemeriksaan terhadap Kekuatan Pelat


Dalam suatu sistem sambungan, pelat dapat mengalami kegagalan akibat
leleh, fraktur, atau geser blok. Berikut nilai kapasitas pelat terhadap ketiga jenis
kegagalan tersebut:

Kapasitas pelat terhadap tegangan leleh, ditentukan dengan persamaan


Nn =Ag fy

dengan

nilai

=0,85

( Ag

adalah

luas

kotor

penampang).
Kapasitas pelat terhadap kegagalan fraktur, ditentukan melalui persamaan

Nn =Ae fu

dengan nilai =0,75 .

Kapasitas pelat terhadap geser blok, ditentukan melalui persamaan:


o Untuk geser leleh tarik fraktur ( f u . A nt 0,6. f u . A nv )
T n=0,6. f y . A gv +f u . A nt

o Untuk geser fraktur tarik leleh ( f u . A nt 0,6. f u . A nv )


T n=0,6. f u . A nv + f y . A g t

Hasil perhitungan kapasitas pelat ditampilkan dalam tabel berikut:

Tabel 5.2 Hasil perhitungan kapasitas pelat

Jenis
Peng
ecek
an

An

Profil C
125x6
5x6x8

0.75

661.8

Ae
Tarik
Samb
unga
n
Gese
r

496.35

14890
5
17280
0

S
a
t
u
a
n
m
m
2
m
m
2

N
N

Murni

Ans

347.7

Ant

330.9

Ags

480

Agt
Frakt
ur
Gese
r
Frakt
ur
Tarik
Leleh
Gese
r
Leleh
Tarik
Gese
r Blok

m
m
2

m
m
2

m
m

375

m
m
2

83448

13236
0

69120

90000
13008
6

Dengan nilai-nilai kapasitas pelat tersebut, maka kekuatan pelat tersebut mampu
memikul gaya dalam yang terjadi. Kapasistas sambungan ini akan menahan gaya
dalam yang bekerja pada struktur yang ditampilkan pada tabel berikut:

Tabel 5.3 Gaya dalam yang bekerja pada lokasi sambungan 1

B
a
t
a
n
g

1
2

P
(
k
g
f)
2
7
3
1
.
4
1
7
9
4

P
(N)

267
95.
21
399

0
7
0
.
6
0
5
5
1
1
6
1
.
3
6
6

32.
64

113
93

5.2.2 Pemeriksaan terhadap Kekuatan Sambungan Baut


Kekuatan sambungan baut perlu diperiksa terhadap tiga kemungkinan
kegagalan, yaitu kegagalan terhadap geser, tumpu, dan friksi. Jika kapasitas geser,
tumpu, dan friksi baut mampu menahan gaya dalam yang terjadi pada struktur,
sambungan baut baru dapat digunakan. Kapasitas sambungan baut dikatakan
mampu menahan gaya dalam yang bekerja pada struktur ketika sambungan

memenuhi persyaratan:
Rn Ru

Kapasitas geser sambungan dihitung melalui persamaan

Rn=r 1 m A b fu

. Nilai

r1

adalah 0,5 untuk baut tanpa ulir atau 0,4 untuk

baut dengan ulir. Sedangkan m adalah jumlah baut per baris dan

Ab

adalah luas

bruto. Nilai untuk kapasitas geser sambungan baut adalah 0,75.

Kapasitas tumpu bangunan dihitung melalui persamaan


Rn=2,4 fu d b t p

db

adalah diameter baut dan

tp

adalah tebal pelat.

Nilai untuk perhitungan kapasitas tumpu bangunan adalah 0,75.


Kapasitas friksi sambungan hanya perlu dihitung untuk baut mutu tinggi.
Persamaan kapasitas friksi sambungan adalah

Rn=1,13 r ( proof load ) m .

Nilai r=0,35 . Nilai adalah 1 (untuk lubang standar).

Perhitungan kapasitas ini dilakukan untuk masing-masing lokasi

sambungan, yaitu lokasi 1 dan lokasi 2. Hasil perhitungan kapasitas sambungan


disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 5.4 Perhitungan kapasitas sambungan baut pada lokasi sambungan 1

Kapasita
s Geser

Kapasita
s Tumpu
Sambun
gan
Friksi

Jenis
Pengece
kan

Keterangan

1 Bidang geser,
baut dengan ulir

Rn Ru , maka seluruh kapasitas pelat memenuhi

Dengan persyaratan

persyaratan untuk menahan gaya dalam yang bekerja pada elemen.


Untuk peninjauan kekuatan sambungan pada lokasi sambungan 2, dilakukan
pemeriksaan terhadap kapasitas tarik (untuk elemen horizontal) dan pemeriksaan
terhadap kapasitas tarik dan geser (untuk elemen diagonal). Perhitungan kapasitas
penampang ditampilkan pada tabel berikut:

Tabel 5.5 Kapasitas sambungan pada elemen horizontal lokasi 2

Jeni
s
Pen
gec
eka
n
Kap
asit
as
Tari
k

S
a
t
u
a
n
N

Keterangan

Diperlukan 1, untuk
kemudahan pemasangan
dibuat jadi 4

Tabel 5.6 Kapasitas sambungan pada elemen diagonal lokasi 2

Jeni
s
Pen
gec

S
a
t
u

Keterangan

eka
n
Kap
asit
as
Tari
k
Kap
asit
as
Ges
er

a
n

Diperlukan 1, untuk
kemudahan pemasangan
dibuat jadi 4

Untuk gaya dalam yang bekerja pada sambungan adalah sebagai berikut:

Tabel 5.7 Gaya dalam pada elemen horizontal lokasi 2

(
K
g
f
m
)
1
3
7
7
6
.
7
2

2
9
2
8
.
5
7

V
2

1
0
3
1
.
3
2
1
5
8
4
.
1
7

Tabel 5.8 Gaya dalam pada elemen diagonal lokasi 2

P
(
K

V
2

g
f
m
)
3
7
6
3
.
0
2

1
5
5
5
6

1
3
6
9
.
1
1
1
1
2
9
.
8
7

Gaya dalam tersebut perlu diselaraskan pada koordinat lokal baut dengan
memproyeksikan terhadap kemiringan atap (20):

Tabel 5.9 Gaya dalam yang telah diproyeksikan terhadap koordinat lokal sambungan

U
n
t
u
k

U
n
t
u
k

G
e
s
e
r
1
4
6
1
7
.
8
5
8
4

T
a
r
i
k
5
3
2
0
.
4
6
5
3
5

1
4
3
4
0
1
.
1
9
1

5
2
1
9
3
.
7
6
5
0
8

Sesuai perhitungan, kapasitas sambungan memenuhi persyaratan kekuatan untuk


memikul gaya dalam.

BAB VI
KESIMPULAN

i.

Berikut ini proses desain struktur baja untuk bangunan industri:

Diketahui data dimensi bangunan yang diinginkan yaitu lebar 26 meter, panjang 36
meter (ada 7 kolom ke arah x dengan jarak antar kolom adalah 6 meter), tinggi kolom
10 meter, dan tinggi atap 4,8 meter. Seperti yang ditunjukkan pada gambar berikut ini:

10
m

36
m

26
m

Gambar 6.1 Gambar Tiga Dimensi

4,8 m

10
m

ii.

iii.
iv.

26
m
Gambar 6.2 Gambar Tampak Sumbu Y-Z

Diketahui juga data beban luar rencana dari gedung tersebut di antaranya:
- Beban seng sebesar 10 kg/m2.
- Beban hujan, berasal dari fungsi sudut atap (). Beban Hujan = H = 40 0,8
(kg/m2)
- Beban angin sebesar 25 kg/m2.
- Beban gempa, tergantung dari struktur yang digunakan, jenis tanah, dan zonasi
gempa. Diketahui bangunan akan berdiri pada tanah sedang dan zona gempa 5.
Mengestimasi penampang baja yang akan digunakan untuk tiap elemen struktur.
Analisis Struktur tersebut dengan pemodelan SAP2000. Analisis ini dibagi ke dalam 2
bagian:

v.

Cek Kekuatan, cek kekuatan ini terbagi dalam 2 tahap yaitu cek kekuatan sebelum
model dibebani beban gempa dan cek kekuatan setelah model dibebani beban
gempa. Cek kekuatan meliputi cek overstress dan periode struktur.
- Cek Kenyamanan, dengan memeriksa apakah lendutan yang terjadi masih di
bawah batas lendutan izin yang ditentukan oleh SNI.
Setelah melewati berkali-kali analisis dan redesign, maka didapatkan desain struktur
yang optimum:

Tabel 6.1 Desain Struktur

vi.

Elemen

IWF
400x400
x13x21

IWF
500x200
x10x16

C
125x65x
6x8

kg

17

89

89

89

13

13

Keterangan
Lokasi
Elemen

Kolom

Frame atap

Frame atap

Penghubung
antara frame

Purlin

Bracing atap

Jenis sambungan yang akan digunakan untuk struktur adalah A325 dengan spesifikasi
sebagai berikut:

Tabel 5.1 Spesifikasi Sambungan

Parameter
Fy Material
(Mpa)
Fu Material
(Mpa)
Jenis Baut
Diameter Baut
(mm)
Luas Baut
(mm2)
Diameter

Nilai

240

400
A325

12.7

126.68
14.7

Lubang (mm)
Jarak Baut Dari
Tepi (mm)
Jarak Antar
Baut (mm)
Fu Baut (Mpa)
Proof Stress
(Mpa)

30

50
825

585

Anda mungkin juga menyukai