Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG
Geolistrik merupakan salah satu metode geofisika yang dimanfaatkan

dalam eksplorasi sumber daya alam bawah permukaan. Prinsip kerja metode
geolistrik adalah mempelajari aliran listrik di dalam bumi dan cara mendeteksinya
di permukaan bumi. Ide dasar dari metode ini sangatlah sederhana, yaitu dengan
menganggap bumi sebagai suatu resistor.
Metode geolistrik resistivitas berdasarkan tujuan penelitiannya dibagi
menjadi 2 (dua) kelompok besar, yaitu metode resistivity mapping dan metode
resistivity sounding. Metode ini banyak digunakan dalam eksplorasi mineral
maupun masalah lingkungan (Reynold, 1997). Metode pengukuran kelistrikan
yang digunakan dalam geolistrik meliputi metode Self Potential (SP), resisitivitas,
Elektromagnetik (EM), Induced Polarization (IP) dan lain-lain.
Metode geolistrik resistivitas bertumpu pada analisa distribusi resistivitas
batuan. Data yang diperoleh merupakan data nilai resistivitas bawah permukaan
untuk selanjutnya dilakukan perhitungan inverse sehingga diperoleh variasi
resistivitas dari suatu pelapisan tanah yang berasosiasi dengan struktur geologi di
bawah permukaan (Loke, 1995). Metode ini memiliki banyak konfigurasi
elektroda, diantaranya yang sering digunakan adalah konfigurasi Wenner,
konfigurasi Schlumberger, konfigurasi Wenner-Schlumberger, konfigurasi mise-alamasse dan konfigurasi Dipole-dipole.
Nilai resistivitas yang diperoleh dari pengukuran menggunakan metode
geolistrik resistivitas memiliki manfaat yang sangat besar dalam perkembangan
keilmuan, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Regional Geology untuk mengetahui struktur, stratigrafi dan sedimentasi.
2. Hidrogeologi/Geohidrologi untuk mengetahui muka air tanah, akuifer,
stratigrafi , intrusi air laut.
3. Geologi Teknik untuk mengetahui struktur, startigrafi, permeabilitas dan
porositas batuan, batuan dasar, pondasi, kontruksi bangunan teknis.

4. Pertambangan untuk mengetahui endapan plaser, stratigrafi, struktur,


penyebaran endapan mineral.
5. Arkeologi untuk mengetahui dasar candi, candi terpendam, tanah galian lama.
6. Panas bumi (geothermal) mengetahui kedalaman, penyebaran, low resistivity
daerah panas bumi.
7. Minyak untuk mengetahui struktur, minyak, air dan kontak air dan minyak
serta porositas , water content (well logging geophysic).
Penulis melihat bahwa nilai resistivitas merupakan salah satu faktor yang
sangat penting bagi kegiatan eksplorasi geofisika, maka penulis mencoba untuk
merancang sebuah prototipe alat ukur resistivitas tanah atau resistivity meter
menggunakan konfigurasi Wenner. Dengan adanya prototipe resistivity meter
digital, penulis berharap alat tersebut dapat digunakan untuk melakukan
pengukuran resistivitas atau tahanan jenis pada lapisan bawah permukaan
sehingga dapat dikembangkan lebih lanjut untuk eksplorasi geofisika.
Pada kesempatan ini penulis akan mengambil judul PERANCANGAN DAN
PEMBUATAN PROTOTIPE RESISTIVITY METER DIGITAL. Diharapkan dengan
perancangan prototipe resistivity meter digital digital ini dapat membantu Sekolah Tinggi
Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG) khususnya dan Badan Meteorologi
Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada umumnya dalam mengembangkan penelitian
geolistrik.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Dalam tulisan ini, penulis merumuskan beberapa masalah diantaranya
adalah
1. Bagaimana cara merancang dan membuat alat ukur tahanan jenis tanah atau
resistivity meter ?
2. Bagaimana cara membuat program pada mikrokontroler agar dapat
mengeluarkan output hasil pengukuran resistivitas tanah pada suatu tempat
yang selanjutnya dapat dilihat pada Liquid Crystal Display (LCD) dan juga
dapat dimonitor melalui PC.
3. Bagaimana membuat sistem akuisisi dalam PC menggunakan program
LabVIEW.
1.3 BATASAN MASALAH

Agar dalam penulisan ini lebih sistematis dan pembahasan tidak melenceng
dari topik pembahasan, maka penulis membatasi penulisan pada:
1. Tidak membahas mengenai struktur batuan dan tanah.
2. Metode yang digunakan untuk mengetahui kualitas data adalah komparasi.

1.4 TUJUAN
Tujuan yang ingin dicapai oleh penulis adalah
1. Untuk mengetahui bagaimana merancang dan membuat prototipe resistivity
meter digital atau alat ukur tahanan jenis tanah.
2. Untuk mengetahui bagaimana merancang dan membuat program akuisisi
menggunakan LabVIEW di dalam Personal Computer (PC) untuk
menampilkan data hasil pengukuran.
3. Untuk mengetahui metode dan cara pengukuran tahanan jenis tanah pada
suatu tempat.
1.5 MANFAAT
Manfaat yang dapat diambil dari penulisan ini adalah
1. Untuk menghasilkan pengetahuan tentang perancangan alat resistivity meter
digial dan perancangan tampilan pada PC menggunakan LabVIEW.
2. Untuk mengetahui nilai tahanan jenis tanah pada suatu tempat.
1.6 METODOLOGI PENELITIAN
Dalam menyususun penelitian ini, penulis menggunakan metodologi
sebagai berikut :
1 Studi literatur dan diskusi
Pada tahap pertama perancangan ini penulis akan mempelajari literatur yang
berhubungan dengan perancangan alat ukur resistivitas tanah dan komponen
pendukung yang digunakan. Penulis juga berdiskusi dengan dosen - dosen
2

dan teman-teman untuk memperkaya wawasan penulisan.


Perancangan perangkat keras
Rangkaian yang akan dirancang meliputi rangkaian mikrokontroler, Real

Time Clock (RTC), rangkaian relay, multiplexer/demultiplexer, dan display.


Perancangan perangkat lunak
Perancangan perangkat lunak menggunakan Arduino Software (IDE) dan

program LabVIEW.
Pengujian alat

Pengujian alat dilakukan dengan metode komparasi, yaitu membandingkan


antara nilai resistivitas dari hasil pengukuran oleh prototipe dengan hasil
pengukuran oleh alat operasional. Pengukuran dilakukan pada tempat yang
sama.
1.7 SISTEMATIKA PENULISAN
Penulis akan membagi materi menjadi lima bab pada penulisan ini. Isi dari
kelima bab tersebut adalah sebagai berikut :
BAB I

PENDAHULUAN

Bab ini membahas mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan
dan manfaat penelitian, batasan masalah, metodologi penelitian serta sistematika
penulisan.
BAB II

LANDASAN TEORI

Bab ini membahas mengenai tinjauan pustaka, pengertian umum tentang


resistivitas tanah, metode pengukuran resistivitas tanah, mikrokontroler, LCD
20x4, RTC, storage dan software berupa LabVIEW.
BAB III PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI ALAT
Bab ini membahas mengenai perencanaan dari perancangan alat, meliputi proses
dari perancangan blok diagram, komponen (modul) yang digunakan, perancangan
hardware dan software, diagram alir serta implementasi alat hasil rancangan
dengan tampilan data.
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS
Bab ini membahas mengenai alasan dilakukan pengujian, metode (atau) cara
pengujian pada alat yang dirancang dan hasil pengujian serta dilakukan analisa
dari hasil yang didapatkan.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan yang diperoleh dari hasil analisa serta saran untuk penelitian
selanjutnya agar diperoleh sistem yang lebih baik.

BAB II
LANDASAN TEORI

Pada bab ini penulis akan menjelaskan tentang tinjauan pustaka dan
landasan teori secara umum serta perangkat keras maupun lunak yang digunakan
dalam penelitian yang berjudul PERANCANGAN DAN PEMBUATAN
PROTOTIPE RESISTIVITY METER DIGITAL.
2.1

KAJIAN PUSTAKA
Pengukuran resistansi menggunakan metode 4 (empat) probe pertama kali

dilakukan oleh Weibel (1916) untuk mengukur resistivitas pada bumi. Penelitian
terus berkembang sehingga pada saat ini telah banyak diproduksi alat ukur
tahanan jenis tanah, tetapi alat-alat tersebut memiliki harga yang sangat mahal.
Melihat permasalahan tersebut, membuat banyak peneliti merancang sebuah alat
ukur tahanan tanah yang memiliki harga lebih murah dan terjangkau.
Penelitian ini digunakan penulis untuk melakukan sebuah penelitian yaitu
membuat sebuah rancang bangun alat ukur tahanan jenis tanah portable dengan
menggunakan 4 (empat) probe. Perancangan serupa juga telah dilakukan oleh
Wahyudiyanto (2010),

dengan melakukan penelitian untuk membuat sebuah

rancang bangun alat ukur resistansi substrat tanah menggunakan probe sebanyak
empat buah dan mikrokontroler Atmega32 dengan tampilan LCD.
pengukuran dilakukan dengan

Prosedur

menggunakan 2 pasang probe terpisah untuk

mengukur arus dan tegangan dimana membuat pengukuran lebih akurat pada
substrat tanah.
Perancangan

yang

dilakukan

oleh

Wahyudiyanto

(2010)

tersebut

mempunyai fokus untuk mengetahui kualitas tanah yang digunakan dalam


penanaman tanaman padi melalui pengukuran tahanan jenis tanah. Berbeda dari
peneliti sebelumnya, pada perancangan prototipe resistivity meter digital, penulis
mempunyai fokus untuk merancang sebuah prototipe alat ukur tahanan jenis tanah
dalam kaitannya dengan penelitian geolistrik. Prototipe ini dirancang dengan

akurasi yang lebih baik dan rentang pengukuran yang lebar sehingga diharapkan
dapat memberikan hasil pengukuran yang baik.
2.2

RESISTIVITAS
Resistivitas adalah suatu besaran atau parameter yang digunakan untuk

menunjukkan tingkat hambatan suatu material terhadap kuat arus listrik.


Resistivitas sendiri memiliki pengertian yang berbeda dengan resistansi
(hambatan), dimana resistansi tidak hanya bergantung pada bahan tetapi juga
bergantung pada faktor geometri atau bentuk bahan, sedangkan resistivitas tidak
bergantung pada faktor geometri. Untuk mengetahui hubungan antara resistivitas
dan resistansi, maka dapat dilakukan sebuah analisa sederhana

pada sebuah

silinder dengan panjang L, luas penampang A, dan resistansi R seperti ditunjukan


pada gambar di bawah ini.

L
Gambar 2.1
Analisa Perbedaan Resistansi Dan Resistivitas Menggunakan Tabung
Silinder

Dari gambar di atas, maka dapat dirumuskan :


R=

L
(1)
A

Rumus tersebut secara fisis dapat diartikan jika panjang silinder konduktor
(L) dinaikkan, maka resistansi akan meningkat, dan apabila diameter silinder
konduktor diturunkan yang berarti luas penampang (A) berkurang maka resistansi
juga meningkat. Di mana adalah resistivitas (tahanan jenis) dalam m.
Sedangkan menurut hukum Ohm, resistivitas R dirumuskan :

R=

V adalah beda potensial

V
(2)
I

dan I adalah arus, sehingga didapatkan nilai

resistivitas (), seperti ditunjukan pada rumus di bawah ini.


=

VA
(3)
IL

Rumus yang lebih sering menggunakan adalah sifat konduktivitas ()


batuan yang merupakan kebalikan dari resistivitas () dengan satuan mhos/m.
(4)
J adalah rapat arus (ampere/m2 ) dan E adalah medan listrik (volt/m). (Mr.
Rob & Perry, 1996: 1)

2.3

PRINSIP DASAR METODA RESISTIVITAS


Konsep dasar dari metoda geolistrik adalah hukum ohm yang pertama kali

dicetuskan oleh George Simon Ohm. Dia menyatakan bahwa beda potensial yang
timbul di ujung-ujung suatu medium berbanding lurus dengan arus listrik yang
mengalir pada medium tersebut. Selain itu, dia juga menyatakan bahwa tahanan
listrik berbanding lurus dengan panjang medium dan berbanding terbalik dengan
luas penampangnya. Formulasi dari kedua pernyataan Ohm di atas, dapat
dituliskan sebagai berikut:
\\
(5)

Arus atau arus listrik (I) merupakan banyaknya muatan (Q) atau perubahan
banyaknya muatan (dQ) yang mengalir pada sebuah penghantar dalam satuan
waktu (t) atau perubahan waktu (dt).

I=

dQ
( 6)
dt

Arus listrik diasumsikan muatan positif yang bergerak ke arah terminal


negatif, sedangkan muatan negatif bergerak ke terminal positif. Namun
kesepakatan menyatakan bahwa arus listrik bergerak dari muatan positif ke arah
muatan negatif.
Prinsip kerja resistivity meter adalah mengalirkan arus listrik searah (direct
current, DC) ke dalam bumi melalui dua elektroda arus yang ditancapkan pada
dua titik permukaan tanah dan kemudian mengukur respon beda potensial yang
terjadi antara dua titik yang lain di permukaan bumi dimana dua elektroda
potensial ditempatkan dalam suatu susunan tertentu.
2.3.1

Arus Listrik Menyebar (Simetri Bola)


Arus listrik yang menembus permukaan bola berongga yang luasnya A,

tebalnya dr, dan beda potensial dV antara bagian luar dan dalam adalah :
I=

A dV
(7)
dr

karena luas permukaan bola A = 4r2 , maka relasi itu menjadi :

I=

4 r 2 dV
(8)

dr
C2

surface

Gambar 2.2
Arus Listrik Menyebar
Tanda negatif menunjukan bahwa arus mengalir dari tempat berpotensial
tinggi ke rendah.
2.3.2 Potensial Oleh Elektroda Arus Tunggal di Permukaan Medium
Setengah Tak Berhingga

Gambar 2.3
Pola Arus Listrik yang Dipancarkan oleh Elektroda Arus Tunggal di
Permukaan medium Setengah Tak Berhingga

Untuk pola arus seperti gambar di atas, berlaku hukum Ohm seperti
ditunjukan pada rumus di bawah :
I=

A dV
dr

(9)

Karena luas setengah bola A = 2r2, maka arus I menjadi :


I=

2 2 dV
r

dr

(10)

dV=

atau

I dr
(11)
2
2 r

sehingga potensial di suatu titik sejauh r dari pusat arus adalah :

V = dV =

I
I
d=
(12)
2
2 r
2

2.3.3 Potensial Oleh Elektroda Arus Ganda di Permukaan Medium


Setengah Tak Berhingga
A

r1

r2
r3

r4

Gambar 2.4
Arus Listrik Dilepaskan pada Elektroda Arus A dan B
Elektroda M dan N Adalah Elektroda Potensial.
Karena potensial adalah besaran scalar, maka potensial di sembarang titik
oleh elektroda arus ganda akan merupakan jumlahan potensial oleh dua elektroda
arus tunggal. Oleh karena itu, dengan menggunakan persamaan (11), potensial di
titik M oleh arus yang melewati elektroda A dan B adalah :

VM =

1 1
1

(13)
2 r 1 r 2

Tanda negatif pada persamaan (13) disebabkan oleh arus yang harus
berlawanan pada elektroda arus ganda.
Potensial di titik N adalah :
VN =

1 1
1

(14)
2 r 1 r 2

Dengan demikian beda potensial antara titik M dan N adalah :

1
V=V M V N =
2

[(

)(

1
1
1
1

r1 r 2
r3 r4

)]

(15)

Untuk konfigurasi Wenner, r1 = r4 = a dan r2 = r3 = 2a, maka persamaan (15)


menjadi :
1
V=
2

[ ( ) ( )]

1 1
1 1
1

=
(16)
a 2a
2a a
2 a

Sehingga
=2 a

2.4

( V1 )(17)

KONFIGURASI ELEKTRODA
Resistivitas batuan dapat diukur secara tidak langsung dengan memasukan

arus listrik ke dalam tanah melalui dua titik elektroda di permukaan tanah dan
mengukur beda potensial antar dua titik elektroda yang lain di permukaan.

Gambar 2.5
Susunan elektroda untuk pengukuran resistivitas

Elektroda A dan B merupakan elektroda yang dilalui arus untuk proses


injeksi ke bawah permukaan, biasa disebut dengan elektroda arus (current
electrode). Sedangkan elektroda M dan N merupakan elektroda dimana beda
potensial yang timbul akibat arus yang di injeksikan di ukur, biasa disebut dengan
elektroda tegangan (potential electrode).

2.4.1 Sounding
Sounding adalah penyelidikan perubahan resistivitas bawah permukaan
kearah vertikal. Caranya pada titik ukur yang tetap, jarak elektroda arus dan
tegangan diubah/divariasi. Konfigurasi elektroda yang biasa dipakai adalah
konfigurasi Sclumberger.
C1

P1

P2

C2

n=1
n=2
n=3

Gambar 2.6
Teknik Vertical Sounding
2.4.2 Traversing atau Mapping
Traversing atau Mapping adalah penyelidikan perubahan resistivitas
bawah permukaan kearah lateral (horisontal). Metode yang digunakan adalah
dengan mengatur jarak elektroda arus dan tegangan tetap sedangkan titik ukur
dipindah/digeser secara horizontal. Konfigurasi yang biasa dipakai adalah
konfigurasi Wenner atau Dipole-dipole (dua kutub).
C1

P1

P2

C2

a
n=5

n=6 n=7 n=8

Gambar 2.7 Teknik Lateral Mapping

2.4.3 Konfigurasi Wenner


Konfigurasi Wenner dikembangkan oleh Wenner di Amerika yang keempat
buah elektrodanya terletak dalam satu garis dan simetris terhadap titik tengah.
Jarak MN pada konfigurasi Wenner selalu sepertiga (1/3) dari jarak AB. Bila jarak
AB diperlebar, maka jarak MN juga harus diubah sehingga jarak MN tetap
sepertiga jarak AB.
Konfigurasi Wenner

memiliki kelebihan yaitu ketelitian pembacaan

tegangan pada elektroda MN lebih baik dengan angka yang relatif besar karena
elektroda MN yang relatif dekat dengan elektroda AB.

Gambar 2.8
Konfigurasi Wenner

Konfigurasi Wenner mempunyai sebuah faktor geometri. Faktor geometri


merupakan sebuah faktor yang mempunyai suatu harga dimana harga tersebut
hanya tergantung pada konfigurasi atau geometri dari elektroda-elektroda arus dan
tegangan. Faktor geometri dari konfigurasi Wenner adalah K = 2a

2.5

RESISTIVITAS MATERIAL MATERIAL BUMI


Sifat fisika batuan dan mineral apabila diukur dan diteliti memperlihatkan

variasi harga resistivitas yang sangat banyak. Mineral-mineral logam, memiliki


harga resistivitas berkisar pada10-8 m yang merupakan harga resistivitas dari
hingga 107 m yang merupakan harga resistivitas dari belerang.

perak asli

Batuan-batuan lain pun juga memiliki range resistivitas yang bervariasi karena
disebabkan oleh komposisi yang bermacam-macam.
Batuan dibedaka menjadi tiga kelompok besar berdasarkan nilai
resistivitasnya, yaitu:

Konduktor
Semi Konduktor
Isolator

: 10-8 m <<1m
: 1m <<107 m
:107 m >
(Telford W. And Sheriff, 1982)

Mineral-mineral yang terkandung di dalam bumi sebagian besar


membentuk batuan penghantar listrik yang tidak baik walaupun beberapa logam
asli dan grafit menghantarkan listrik. Resistivitas yang terukur pada material bumi
utamanya ditentukan oleh pergerakan ion-ion bermuatan dalam pori-pori fluida.
Air tanah secara umum berisi campuran terlarut yang dapat menambah
kemampuannya untuk menghantar listrik, meskipun air tanah bukan konduktor
listrik yang baik.
Variasi resistivitas material bumi ditunjukkan sebagai berikut:
BAHAN

RESISTIVITAS (m)

Udara

Pirit

3 x 10-1

Galana

2 x 10-3

Kwarsa

4 x 1010s.d. 2 x 1014

Kalsit

1012 s. d. 1013

Batuan Garam

30 s. d. 1013

Mika

9 x 1012s. d. 1014

Garnit

102 s. d. 106

Gabro

103s. d. 106

Basalt

10 s. d. 107

Batuan Gamping

50 s. d. 107
s. d. 108

Batuan Pasir

Batuan Serpih

20 s. d. 103

Dolomit

102s. d. 104

Pasir

1 s. d. 103

Lempung

1 s. d. 102

Air Tanah

0.5 s. d. 3 x 102

Air Laut

0.2
Tabel 2.1

Variasi Resistivitas Material Bumi/Batuan (Djoko Santoso, 2001 : 140)


Harga tahanan jenis batuan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain
jenis material, densitas, porositas, ukuran dan bentuk pori-pori batuan, kandungan
air, kualitas serta suhu sehingga menyebabkan tidak ada kepastian harga tahanan
jenis.

2.6

PERANGKAT KERAS
Perangkat keras atau hardware adalah komponen dari sebuah sistem yang

mempunyai sifat bisa dilihat dan diraba secara langsung atau berbentuk nyata Di
bawah ini akan dijelaskan perangkat keras yang digunakan dalam penelitian ini.
2.6.1 Mikrokontroler
Mikrokontroler atau pengendali mikro adalah sebuah komputer kecil
(special purpose computers) di dalam sebuah Integrated Circuit (IC). IC
tersusun atas beberapa komponen yaitu Central Processing Unit (CPU), memori,
timer, saluran komunikasi serial dan parallel, port input/output, Analog to Digital
Converter (ADC), dll. Mikrokontroler digunakan sebagai pengendali sistem yang
mengatur semua proses.

Gambar 2.9 Blok Diagram Mikrokontroler


Merancang sebuah sistem yang berbasis mikrokontroler, diperlukan
perangkat keras dan perangkat lunak yaitu:
a. Microcontroller minimum system
Microcontroller minimum system atau sistem minimum mikrokontroler
adalah sebuah rangkaian paling sederhana dari sebuah mikrokontroler agar IC
mikrokontroler tersebut bisa beroperasi dan diprogram. Sistem minimum
sering dihubungkan dengan beberapa komponen untuk menjadi sebuah
rangkaian. Beberapa komponen yang digunakan seperti power supply,
osilator Internet Sevice Provider ( ISP), rangkain reset dan lain-lain.
b.

Software pemrograman dan compiler, serta downloader


Software pemrograman dan compiller digunakan untuk komunikasi antara
komputer

dan

mikrokontroler.

Downloader

merupakan

rangkaian

penghubung antara komputer danmikrokontroler yang berfungsi untuk


memasukkan listing program (berupa bit-bit logika) ke dalam mikrokontroler.
Listing program yang dikirim oleh software dari komputer ke dalam
mikrokontroler biasanya berbentuk file .hex (heksa desimal). Software yang
digunakan untuk menhunduh program (file .hex) ke dalam mikrokontroler
adalah ISP Programer.
Mikrokontroller yang digunakan pada perancangan prototipe resistivity
meter digital ini adalah AVR ATMEGA 2560.

Gambar 2.10
Struktur Pin ATMega2560 dengan menggunakan Arduino
ATMega 2560 memiliki spesifikasi yang cukup untuk digunakan pada
perancangan prototype ini. Berikut adalah spesifikasi dari ATMega 2560.
Bekerja pada tegangan

5V

Tegangan input (rekomendasi)

7-12V

Tegangan input (limit)

6-20V

Pin I/O digital

54 (of which 15 provide PWM output)

Pin input analog

16

Pin I/O arus DC

40 mA

Pin arus DC untuk 3,3 V

50 mA

Memori

256 KB of which 8 KB used by bootloader

SRAM

8 KB

EEPROM

4 KB

Clock Speed

16 MHz

AVR ATMega 2560 tersebut telah tertanam/terpasang di dalam modul


arduino mega 2560. Arduino Mega 2560 adalah merupakan board mikrokontroler
berbasis ATMega2560. Modul ini memiliki 54 digital input/output di mana 14
digunakan untuk PWM output dan 16 digunakan sebagai analog input, 4 untuk

UART, 16 MHz osilator kristal, koneksi USB, power jack, ICSP Header, dan
tombol reset.

Gambar 2.11
Bentuk Fisik Arduino Mega2560

2.6.2

Relay
Relay merupakan sebuah saklar yang dikendalikan oleh arus. Relay

memiliki sebuah kumparan tegangan rendah yang dililitkan pada sebuah inti.
Sebuah armatur besi terdapat di dalam relay yang akan tertarik menuju inti apabila
arus mengalir melewati kumparan. Armatur ini terpasang pada suatu tuas
berpegas. Ketika armatur tertarik menuju inti, kontak jalur bersama akan berubah
posisinya dari kontak normal tertutup ke kontak normal terbuka (Bishop, 2002
dalam Nurmawadah, 2011). Prinsip kerja dari relay dapat dilihat seperti pada
gambar di bawah ini.

Gambar 2.12
Blok Diagram Prinsip Kerja Relay

Relay berfungsi untuk menghubungkan atau memutus aliran arus listrik


yang dikontrol dengan memberikan tegangan dan arus tertentu pada koilnya.
Gambar 2.8 merupakan relay yang digunakan pada penelitian ini.

Gambar 2.13
Modul Relay 16 Channel
Relay dengan 16 channel tersebut digunakan sebagai trigger terhadap
power supply untuk mengalirkan arus ke setiap probe/konduktor yang berjumlah
16 buah. Power supply selain sebagi sumber tegangan untuk sistem, juga
digunakan sebagai sumber arus untuk di alirkan ke bawah permukaan tanah.
Relay berperan sebagai pengatur kapan sebuah probe/konduktor dapat aktif yaitu
mengalirkan arus ke bawah permukaan tanah dan kapan probe/konduktor tersebut
pasif yaitu tidak mengalirkan arus.
2.6.3

Multiplexer dan Demultiplexer


Multiplexer adalah suatu rangkaian yang mempunyai banyak input dan

hanya mempunyai satu output. Dengan menggunakan selektor, dapat dipilih salah
satu inputnya untuk dijadikan output. Sehingga dapat dikatakan bahwa
multiplexer ini mempunyai n-input, m-selector , dan 1 output. Biasanya jumlah
inputnya adalah 2m selektornya.

Gambar 2.14
Blok Diagram Logika Multiplexer
Multiplexer bekerja seperti sebuah saklar (switch) multi posisi yang
dikontrol secara digital, dimana kode digital yang diberikan ke input - input select
mengontrol input - input data mana yang di switch ke output. misalnya, pada
multiplexer dua input, output z akan sama dengan input data Io untuk kode input
select berlogik 1, Z akan sama dengan I1 untuk kode input select berlogik 0.
Dengan kata lain multiplexer memiilih 1 dari N data input dan menyalurkan data
yang terpilih ke suatu chanel output tunggal.
Demultiplexer adalah rangkaian logika yang menerima satu input data dan
mendistribusikan input tersebut ke beberapa output yang tersedia. Kendali pada
demultiplekser akan memilih saklar mana yang akan dihubungkan. Pemilihan
keluarannya dilakukan melalui masukan penyeleksi. Seleksi data-data input
dilakukan oleh selector line, yang juga merupakan input dari demultiplekser
tersebut. Pada demultiplekser saluran kendali sebanyak "n" saluran dapat
menyeleksi saluran keluaran.

Gambar 2.15 Diagram Blok Logika Demultiplexer


Masukan data pada demultiplekser dapat terdiri dari beberapa bit.
Keluarannya terdiri dari beberapa jalur, masing-masing jalur terdiri dari satu atau
lebih dari satu bit. Masukan selector terdiri dari satu atau lebih dari satu bit
tergantung pada banyaknya jalur keluaran.

Perancangan prototipe resistivity meter digital ini menggunakan modul


yang dapat berperan sebagai multiplexer dan demultiplexer. Modul tersebut
menggunakan IC Mux/Demux CD74HC4067. Modul ini memiliki 16 channel
analog sehingga cukup untuk digunakan dalam perancangan ini.

Gambar 2.16
Bentuk Fisik Modul Multiplexer/Demultiplexer
2.6.4

Real Time Clock (RTC)


RTC adalah modul elektronik berupa IC yang dapat menghitung waktu

(mulai detik, menit, jam, tanggal, bulan, serta tahun) dengan akurat dan
menjaga/menyimpan data waktu tersebut secara real time. RTC tersebut bekerja
real time, sehingga setelah proses hitung waktu dilakukan keluaran datanya
langsung disimpan atau dikirim ke peralatan lain melalui sistem antarmuka. RTC
dilengkapi dengan baterai sebagai penyuplai tegangan pada IC, sehingga RTC
akan tetap bekerja walaupun peralatan yang dihubungkan dengan RTC dimatikan.
RTC dinilai cukup akurat sebagai pewaktu (timer) karena menggunakan osilator
kristal.

Gambar 2.17
Modul RTC IC DS3231
Modul RTC yang digunakan pada perancangan ini yaitu menggunakan IC
DS3231 merupakan salah satu tipe IC RTC yang dapat bekerja dalam daya listrik
rendah dengan presisi yang sangat tinggi dalam mencacah waktu. Modul ini juga

sudah dilengkapi dengan IC AT24C32 yang memberikan EEPROM (Electrically


Erasable Programmable Read-Only Memory) tambahan sebesar 4 KB (32.768
bit) yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan, misalnya untuk menyimpan
jadwal (time schedule), menyimpan setelan waktu alarm, menyimpan data hari
libur pada kalender, merekam absensi, dan sebagainya.
2.6.5

Liquid Crystal Display (LCD) 20 x 4


Liquid Crystal Display (LCD) adalah alat atau modul untuk menampilkan

karakter yang diinginkan. LCD menggunakan dua buah lembaran bahan yang
dapat mempolarisasikan kristal cair di antara kedua lembaran tersebut. Arus listrik
yang melewati cairan menyebabkan kristal merata sehingga cahaya tidakdapat
melalui setiap kristal, karenanya seperti pengaturan cahaya menentukanapakah
cahaya dapat melewati atau tidak. Sehingga dapat mengubah bentukkristal
cairannya membentuk tampilan angka atau huruf pada layar.
LCD telah banyak digunakan dalam perancangan suatu sistem dengan
menggunakan mikrokontroler sebagai penampil data.

Gambar 2.18
Bentuk Fisik LCD 20x4
2.6.6

Micro SD/SD Card Memory


Memori merupakan bagian dari komputer yang berfungsi sebagai tempat

penyimpanan informasi yang harus diatur dan dijaga sebaik-baiknya. Memori


biasanya disebut juga dengan istilah computer storage, computer memory atau
memory. Memori merupakan piranti komputer yang digunakan sebagai media
penyimpan data dan informasi saat menggunakan komputer. Memori merupakan

bagian yang penting dalam komputer modern dan letaknya di dalam CPU (Central
Processing Unit).
Perancangan prototipe resistivity meter digital ini menggunakan Mikro SD
/ SD card sebagai media untuk menyimpan data pengukuran. Mikro SD / SD card
adalah jenis kartu memori flash yang berukuran paling kecil yang dikembangkan
oleh SD Card Association yang berfungsi untuk menyimpan data-data pada
portable device. MicroSD digunakan sebagai penyimpan data di luar internal
perangkat. Dalam penggunaannya microSD membutuhkan slot sebagai antar
muka antara microSD dengan perangkat lain yang saling terhubung.

Gambar 2.19
Bentuk Fisik Mikro SD dan SD card

2.7

PERANGKAT LUNAK (SOFTWARE)


Software atau perangkat lunak adalah suatu interface dari seperangkat

instruksi yang disusun menjadi sebuah program untuk memerintahkan


mikrokontroler atau perangkat hardware

melakukan suatu pekerjaan. Pada

penelitian ini software yang digunakan adalah Arduino IDE dan LabVIEW 2015.
2.7.1

Arduino IDE
Arduino IDE adalah software yang digunakan untuk mengembangkan dan

mengisi program ke dalam Arduino. Arduino IDE ini dapat digunakan pada OS
Windows, Windows, Mac OS dan Linux. Aplikasi ini digunakan untuk membuat,
membuka, dan mengedit source code arduino. Source code tersebut berisikan
logika dan algoritma yang akan diupload ke dalam IC mikrokontroller yang
tertanam di modul arduino.

Gambar 2.20
Tampilan Arduino IDE
Interface Arduino IDE tampak seperti gambar di atas. Dari kiri ke kanan
dan atas ke bawah, bagian-bagian IDE Arduino terdiri dari:
1. Verify : pada versi sebelumnya dikenal dengan istilah Compile. Sebelum
aplikasi diupload ke board Arduino, biasakan untuk memverifikasi terlebih
dahulu sketch yang dibuat. Jika ada kesalahan pada sketch, nanti akan muncul
error. Proses Verify/Compile mengubah sketch ke binary code untuk diupload
ke mikrokontroller.
2. Upload : tombol ini berfungsi untuk mengupload sketch ke board Arduino.
Walaupun kita tidak mengklik tombol verify, maka sketch akan di-compile,
kemudian langsung diupload ke board. Berbeda dengan tombol verify yang
hanya berfungsi untuk memverifikasi source code saja.
3. New Sketch : Membuka window dan membuat sketch baru.
4. Open Sketch : Membuka sketch yang sudah pernah dibuat. Sketch yang dibuat
dengan IDE Arduino akan disimpan dengan ekstensi file .ino.
5. Save Sketch : menyimpan sketch, tapi tidak disertai mengcompile.
6. Serial Monitor : Membuka interface untuk komunikasi serial, nanti akan kita
diskusikan lebih lanjut pada bagian selanjutnya.
7. Keterangan Aplikasi : pesan-pesan yang dilakukan aplikasi akan muncul di
sini, misal "Compiling" dan "Done Uploading" ketika kita mengcompile dan
mengupload sketch ke board Arduino.

8. Konsol : Pesan-pesan yang dikerjakan aplikasi dan pesan-pesan tentang


sketch akan muncul pada bagian ini. Misal, ketika aplikasi mengcompile atau
ketika ada kesalahan pada sketch yang kita buat, maka informasi error dan
baris akan diinformasikan di bagian ini.
9. Baris Sketch : bagian ini akan menunjukkan posisi baris kursor yang sedang
aktif pada sketch.
10. Informasi Port : bagian ini menginformasikan port yang dipakah oleh board
Arduino.
2.7.2

LabVIEW
Laboratory Virtual Instrument Engineering Workbench (LabVIEW)

merupakan software yang khusus digunakan untuk pemrosesan dan visualisasi


data dalam bidang akusisi data, kendali dan intrumentasi, serta otomatisasi
industri. Software ini pertama kali dikembangkan oleh perusahaan National
Instruments (NI) pada tahun 1986.

Gambar 2.21 Tampilan Depan LabVIEW


Beberapa kelebihan LabView dibandingkan dengan bahasa pemrograman
lainnya adalah:
1. Bahasa pemrograman LabVIEW jelas dan mudah dipahami, karena berbentuk
grafis, dengan instruksi berbentuk ikon-ikon, yang dihubungkan dengan
garis/kawat untuk menunjukan aliran data, mirip seperti flowchart.

2. Pembuatan program mudah, yaitu hanya dengan menarik keluar ikon


instruksi

yang

sudah

tersedia

di

palet

(kotak

intruksi),

dan

menghubungkannya dengan kawat ke ikon yang lain. Kawat ini sama seperti
variabel pada bahasa pemrograman teks. Dengan cara ini, LabVIEW
menyederhanakan pemrograman, karena kawat hanya akan terhubung apabila
tipe datanya sesuai sehingga menghilangkan kebutuhan manajemen memori
dan deklarasi tipe data setiap variabel seperti dalam Bahasa pemrograman
teks.
3. LabVIEW didesain sebagai sebuah bahasa pemrograman parallel (multicore)
yang mampu menangani beberapa insteuksi sekaligus dalam waktu
bersamaan. Hal ini sangat sulit dilakukan dalam bahasa pemrograman teks,
karena biasanya bahasa pemrograman teks mengeksekusi instruksinya secara
berurutan per baris, satu demi satu. Dengan LabVIEW, pengguna dapa
membuat aplikasi eksekusi parallel ini secara mudah dengan menempatkan
beberapa struktur loop secara terpisah dalam block diagram.
4. Sifat modular LabVIEW memungkinkan pengguna untuk membuat program
yang kompleks dan rumit menjadi sederhana, yaitu dengan cara membuat
subprogram, atau di LabVIEW disebut subVI.

BAB III
PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI ALAT
Pada bab ini penulis akan menjelaskan tentang perancangan hardware,
blok diagram alat, perancangan software, casing, sistematika perancangan, serta
implementasi alat dan tampilan display prototipe resistivity meter digital.

3.1

PERANCANGAN HARDWARE
Perancangan hardware menjelaskan mengenai blok diagram perancangan

alat secara keseluruhan yang terdiri dari mikrokontroler Arduino Mega 2560, RTC
DS3231, memori mikro SD card, modul switch/relay, multiplexer/demultiplexer,
probe/konduktor dan rangkaian LCD 20x4 serta sistem antarmuka yang
MUX/DEMUX

digunakan.
MEMORI

3.1.1

Blok
RTC

Diagram Alat

Blok diagram alat merupakan gambaran dari perancangan suatu alat,


karena dari blok diagram inilah dapat diketahui cara kerja rangkaian alat secara
keseluruhan, sehingga keseluruhan blok diagram rangkaian akan menghasilkan
MIKON
suatu sistem yang
dapat difungsikan dan dapat bekerja sesuai dengan yang

PROBE

Modul Switch

diinginkan oleh perancang.

DISPL

Power Supply

INPUT

PROSESOUTPUT

Gambar 3.1 Blok Diagram Perancangan Alat


Fungsi dari setiap komponen pada perancangan alat adalah sebagai berikut:
1 Probe/Konduktor

Berfungsi

untuk

melakukan injeksi arus ke bawah permukaan


tanah melalui probe A dan B. Probe/konduktor

ini juga berfungsi untuk menghantarkan beda


potensial yang timbul melalui probe M dan N.
2 Modul Switch
:
Berfungsi
sebagai
switch untuk mengatur aliran arus dari power
supply yang dikendalikan oleh mikon ke
beberapa probe yang selanjutnya di injeksikan
ke bawah permukaan.
3 Multiplexer/Demultiplexer :

Berfungsi

untuk

mengatur aliran beda tegangan yang timbul


pada probe M dan N untuk selanjutnya akan
dibaca dan diolah di mikrokontroler.
4 Mikrokontroler
:
Sebagai

penerima

pengolah data output dari sensor. Selain itu


mikrokontroler berfungsi juga untuk mengatur
5

dan menampilakan hasil pengukuran ke LCD.


RTC (DS3231) :
Sebagai tanda waktu
tanggal yang akan ditampilkan pada LCD dan

display pada PC.


Catu Daya :
Sebagai sumber listrik untuk
menjalankan sistem. Catu daya pada sistem ini
juga berperan sebagai sumber arus yang akan di
injeksikan ke bawah permukaan tanah melalui
probe A dan B yang alirannya diatur oleh

switch.
LCD 20 x 4

Sebagai output untuk

menampilkan data hasil pengukuran dari sensor


8

yang telah diperoses dalam mikrokontroler.


Display PC
:
Sebagai output untuk
menampilkan

hasil

pengukuran

pada

PC

menggunakan program LabVIEW.


Memori :
Untuk menyimpan data hasil
pengukuran sebagai backup agar tidak terjadi
hilangnya data..

3.1.2

Konsep Dasar Perancangan Prototipe resistivity meter digital

Konsep dasar perancangan alat ini adalah dengan mengacu pada metode
resistivitas konfigurasi wenner, dimana pengukuran menggunakan empat probe
dengan dua probe sebagai media untuk injeksi arus ke bawah permukaan tanah
dan dua probe lain sebagai media untuk menghantarkan beda potensial yang
timbul akibat injeksi arus. Peneliti ingin membuat prototype ini agar dapat
mengukur nilai resistivitas yang lebih bervariasi dengan jarak yang lebih jauh,
sehingga pada perancangan ini menggunakan sebanyak 16 probe. Probe-probe
tersebut akan saling bergantian untuk mengukur nilai resistivitas pada tempat
tersebut.
Arus yang bersumber dari power supply disambungkan dengan modul
switch/relay. Mikrokontroler akan mengatur relay mana yang akan aktif sehingga
arus akan dialirkan menuju probe A dan B yang berperan sebagai konduktor untuk
injeksi arus ke bawah permukaan. Arus yang yang diinjeksikan bernilai konstan
atau dengan kata lain sama untuk setiap probe. Resistivitas yang beragam
terkandung pada material dibawah tanah, sehingga menyebabkan adanya beda
potensial. Beda potensial tersebut selanjutnya dideteksi oleh probe M dan N untuk
selanjutnya menuju multiplexer/demultiplexer. Multiplexer/demultiplexer akan
mengalirkan beda potensial yang timbul menuju mikrokontroler untuk selanjutnya
dibaca dan diolah oleh mikon.
Mikrokontroler akan melakukan akuisisi data yang dapat terukur, untuk
kemudian ditampilkan ke LCD dan juga dapat dilakukan monitoring
menggunakan display yang telah dibuat menggunakan LabView pada PC. Data
juga akan secara otomatis tersimpan ke dalam memori berupa mikro SDcard.
Mikrokontroler secara otomatis akan memindahkan atau menggeser probe,
sehingga yang pada awalnya probe 1 dan 4 merupakan probe A dan B serta probe
2 dan 3 merupakan probe M dan N akan bergeser. Probe 2 dan 5 akan menjadi
probe A dan B sedangkan probe 3 dan 4 aka menjadi probe M dan N. begitu
seterusnya hingga probe terakhir. Data yang tercatat akan dapat terlihat secara
lengkap pada display yang ada di PC, sedangkan LCD hanya akan menampilkan
hasil pengukuran pada saat itu.
3.1.3

Diagram Alir Perancangan dan Instalasi Hardware

Gambar 3.2
Diagram Alir Sistem
Penjelasan diagram alir pada gambar 3.2 sebagai berikut:
1

Langkah pertama yang dilakukan untuk instalasi

adalah pemasangan

probe/konduktor berjumlah 16 buah secara sejajar garis lurus dan


2

mempunyai jarak yang sama pada masing-masing probe/konduktor.


Menguhubungkan setiap probe/konduktor dengan digitizer menggunakan

3
4

media kabel.
Menghubungkan power supply berupa aki kering pada digitizer.
Mengaktifkan digitizer dengan menekan saklar sehingga muncul indicator

dari led dan LCD.


Melakukan tes koneksi dari setiap probe/konduktor yang terhubung dengan
digitizer. Apabila koneksi terjadi gangguan atau kurang bagus dapat kita
pastikan bahwa sambungan kabel antara probe dan digitizer terjadi masalah,
sehingga perlu dilakukan pengecekan.

Pengukuran dapat dilakukan apabila semua koneksi telah terhubung dengan

bagus.
Data hasil pengukuran akan diolah di dalam digitizer untuk selanjutnya akan
dihasilkan nilai resistivitas dan parameter-parameter yang dibutuhkan unttuk

8
9

dilakukan analisa.
Keluaran dari digitizer akan disimpan pada memori/storage.
LCD dan PC akan menampilkan data-data pengukuran sehingga user dapat
melakukan monitoring.

3.2

PERANCANGAN SOFTWARE
Software atau perangkat lunak yang digunakan adalah pemrograman

Arduino IDE dan LabVIEW. Dengan menggunakan program ini maka


mikrokontroler dapat membaca, mengolah dan menampilkan data hasil
pengukuran resistivitas tanah ke LCD 20x4 dan PC secara real time. Perancangan
software terdiri dari perancangan program mikrokontroler AVR ATMega 2560 dan
Perancangan aplikasi LabVIEW.
3.2.1

Perancangan Pada Mikrokontroler


Perancangan program mikrokontroler menggunakan software arduino

IDE. Software tersebut digunakan untuk membuat coding, logika dan algoritma
yang akan digunakan pada mikrokontroler. Pembuatan coding, logika dan
algoritma pada pemrograman di mikrokontroler dapat dibantu dengan
menggunakan program proteus. Program proteus ini bisa membantu dalam
perancangan khusunya untuk pengkabelan sehingga mudah untuk dibayangkan.
3.2.2

Diagram Alir Perancangan perangkat lunak

Perancangan perangkat lunak secara umum dapat dilihat melalui diagram alir
yang ditunjukan pada gambar 3.3. Diagram alir tersebut menggambarkan proses
bagaimana data-data yang berkaitan dengan resistivitas, mulai dari awal proses
pengukuran hingga bisa diperoleh nilai resistivitas dan dapat tampil di LCD
maupun PC.

Gambar 3.3
Diagram Alir Perancangan Mikrokontroler

Penjelasan flowchart pada gambar 3.2 sebagai berikut :


1. Mikrokontroler akan memberikan perintah ke modul power supply agar
mengalirkan arus ke probe/konduktor melalui modul relay. Arus yang
dialirkan bernilai konstan. Mikon akan memberikan sinyal kepada modul
relay, yaitu sinyak untuk menentukan channel berapa saja yang aktif dan
channel berapa yang non aktif.
2. Relay akan menginisiasi probe/konduktor mana yang aktif sehingga pada
probe tersebut akan dialiri arus yang selanjutnya akan diinjeksinya ke bawah
permukaan tanah.
3. Proses injeksi arus dimulai dengan mengalirkan arus ke probe A dan B atau
probe nomor satu dan empat.
4. Dari injeksi arus pada probe A dan B tersebut akan menghasilkan beda
potensial yang terdeteksi oleh probe M dan N atau probe nomor dua dan tiga.

5. Mikorokontroler akan membaca nilai arus yang diinjeksikan dan beda


potensial yang timbul untuk selanjutnya diolah. Apabila arus dan beda
potensial tidak terbaca, hal tersebut mengisyaratkan bahwa ada pemasangan
probe atau sambungan dari mikon ke probe yang kurang bagus.
6. Mikrokontroler akan mengolah data hasil pengukuran untuk selanjutnya akan
dihasilkan nilai resistivitas dan juga parameter-parameter yang dibutuhkan.
7. Hasil dari pengolahan oleh mikon akan disimpan di dalam memori berupa
mikro SD card.
8. LCD akan menampilkan parameter yang terukur.
9. PC juga akan menampilkan data-data hasil pengukuran berserta parameter
yang dibutuhkan secara lengkap, sehingga user dapat melakukan monitoring.

3.3

PERANCANGAN CASING
Perancangan casing dibuat untuk memberikan gambaran fisik dari

prototipe resistivity meter digital yang akan dibuat. Casing perlu dibuat agar
komponen elektronik yang ada di dalamnya dapat terlindung dari gangguan dari
luar. Rancangan casing untuk prototipe resistivity meter digital yang akan dibuat
dapat dilihat seperti pada gambar 3.4 di bawah ini.

Gambar 3.4
Rancangan Casing Prototipe resistivity meter digital
Casing prototipe resistivity meter digital ini memuat beberapa komponen,
diantaranya adalah minimum sistem ATMega 2560, RTC, LCD 20x4, modul relay

16 channel, multiplexer/demultiplexer, modul mikro SD card, dan rangkaian


regulator power supply.
Bagian atas dari casing terdapat beberapa port diantaranya adalah port
untuk power, port untuk sambungan ke PC, dan port untuk sambungan ke tiap-tiap
probe. LCD 20x4 nantinya akan terpasang pada bagian atas dari casing agar
memudahkan user dalam melakukan monitoring. Beberapa tombol juga terpasang
pada casing bagian atas agar mudah untuk dijangkau. Tombol-tombol tersebut
diantaranya adalah tombol power, tombol reset, dan tombol start.

3.4

PERANCANGAN TAMPILAN
LabVIEW merupakan software yang digunakan untuk merancangan

Graphical User Interface (GUI) pada prototipe resistivity meter digital ini. GUI
ini yang nanti akan digunakan untuk menampilkan data resistivitas dan parameterparameter yang dibutuhkan. Tampilan LabVIEW yang digunakan pada
perancangan

ini

dibuat

secara

sederhana

sehingga

memudahkan

pengamat/observer dalam memahami data hasil akuisisi. Desain rancangan


Labview pada prototipe ditunjukan seperti gambar 3.5 berikut.

Gambar 3.5
Rancangan Tampilan pada PC
Gambar 3.5 menggambarkan desain yang nanti akan menampilkan data
dan parameter yang diukur. Beberapa parameter yang diukur yaitu arus, tegangan,
resistivitas, daya power supply, koordinat, elevasi, waktu dan beberapa unsur
lainnya. Seluruh data yang dihasilkana akan disimpan dalam sebuah file berformat

excel dengan nama file berdasarkan tanggal data dan berlokasi disebuah folder
khusus di komputer.