Anda di halaman 1dari 24

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayahNya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah mata kuliah Kapita Selekta Kimia Analitik dengan
judul Ekstraksi Minyak Zaitun (Olive oil) Menggunakan Metoda Sokletasi
dengan Pretreatment NaCl dan Penambahan Surfaktan Kemudian shalawat
beserta salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Muhammad SAW yang telah
memberikan pedoman hidup yakni Al-Quran dan sunnah untuk keselamatan umat
di dunia.
Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Kapita Selekta
Kimia Analitik. Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada Bapak Zul Afkar dan Bapak Alizar selaku dosen pembimbing
mata kuliah Kapita Selekta Kimia Analitik dan kepada segenap pihak yang telah
memberikan bimbingan serta arahan selama penulisan makalah ini.
Akhirnya penulis menyadari bahwa banyak terdapat kekurangankekurangan dalam penulisan makalah ini, maka dari itu penulis mengharapkan
kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi kesempurnaan makalah
ini.

Padang

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................... i
DAFTAR ISI.............................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................. 1
A.

Latar Belakang.................................................................................. 1

B.

Rumusan Masalah.............................................................................. 2

C.

Tujuan............................................................................................. 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA......................................................................3


A.

Tanaman Zaitun (Olea europae).............................................................3

B.

Ekstraksi.......................................................................................... 5

C.

NaCl............................................................................................... 9

D.

Surfaktan....................................................................................... 10

BAB III METODE PENELITIAN.................................................................13


A.

Alat dan Bahan................................................................................ 13

B.

Prosedur Penelitian...........................................................................14

BAB IV PEMBAHASAN............................................................................15
A.

Ekstraksi Minyak Zaitun....................................................................15

B.

Pengaruh Pretreatment dengan NaCl.....................................................15

C.

Pengaruh Penambahan Surfaktan.........................................................16

BAB V PENUTUP.................................................................................... 18
A.

Kesimpulan.................................................................................... 18

DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 19

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Pembudidayaan tanaman zaitun (Olea europae) di Indonesia sudah


mulai berkembang, hal ini disebabkan karena kesadaran masyarakat akan
manfaat dari tanaman ini. Semua bagian dari tanaman zaitun dapat
dimanfaatkan, seperti daun dan buah tanaman zaitun banyak dimanfaatkan
sebagai obat-obatan herbal. Ekstrak daun zaitun dimanfaatkan sebagai
sumber zat antioksidan melimpah yang dibutuhkan oleh tubuh dalam
menangkal radikal bebas, sedangkan ekstrak buah zaitun atau minyak
zaitun dimanfaatkan sebagai kosmetik, penyedap makanan, dan sebagai
obatan-obatan herbal. Saat ini pemanfaatan minyak zaitun dibidang
kedokteran sangat berkembang pesat khususnya dalam pengobatan
penyakit kanker, hal ini disebabkan karena minyak zaitun mengandung
senyawa fenol, tokoferol, pigmen dan squalen.

Esktraksi minyak zaitun dari buah zaitun oleh produsen selama ini
dilakukan dengan metoda konvensional atau secara tradisional yaitu
dengan cara mengepres buah zaitun yang telah matang menggunakan
pompa hidrolik. Metoda ini sangat sederhana dan dapat menghasilkan
minyak zaitun yang murni, tetapi minyak yang dihasilkan banyak
mengandung pengotor. Sehingga minyak harus dipisahkan terlebih dahulu
dari pengotor dan membutuhkan biaya yang besar. Alternatif lain yang
dapat diguanakan dalam mengekstrak minyak zaitun yaitu menggunakan
metoda sokletasi dengan pelarut organik.

Metoda sokletasi merupakan suatu proses ekstraksi menggunakan


pelarut organik seperti etanol, heksana dan petroleum eter. Keuntungan
dari metoda ini yaitu tidak menggunakan pelarut dalam jumlah yang
banyak sehingga biaya operasional sangat murah. Filtrat hasil ekstraksi
dapat dipisahkan dengan destilasi untuk memisahkan minyak hasil

ekstraksi dengan pelarutnya, sehingga didapatkan senyawa murni dan


bebas dari pengotor.

Untuk mendapatkan hasil ekstraksi minyak zaitun secara maksimal


yaitu dengan menambahkan agen pemecah atau perusak dinding sel buah
zaitun seperti NaCl dan surfaktan, sehingga minyak atau komponen yang
terdapat dalam buah zaitun dapat berpindah ke pelarut karena membran sel
telah terpecah. Penambahan agen perusak dinding sel didasarkan pada
proses osmosis yang berlangsung pada membran sel, dimana perpindahan
komponen dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi, sedangkan
penambahan surfakatan didasarkan atas sifat lipofilik dari surfaktan yang
dapat berikatan dengan minyak.

Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk


membahas ekstraksi minyak zaitun dari buah zaitun menggunakan metoda
soxhletasi dengan preatreatment NaCl dengan berbagai konsentrasi dan
penambahan surfaktan pada pelarut.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari uraian diatas, maka penulis merumuskan suatu masalah
yaitu :
1. Bagaimana pengaruh variasi konsentrasi NaCl terhadap hasil ekstraksi
minyak zaitun menggunakan metoda sokletasi ?
2. Bagaimana pengaruh penambahan surfaktan terhadap hasil ekstraksi
minyak zaitun menggunakan metoda sokletasi ?
C. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui pengaruh variasi konsentrasi NaCl terhadap hasil ekstraksi
minyak zaitun menggunakan metoda sokletasi ?
2. Mengetahui pengaruh penambahan surfaktan terhadap hasil ekstraksi
minyak zaitun menggunakan metoda sokletasi ?

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Tanaman Zaitun (Olea europae)
Pohon zaitun memiliki keistimewaan yaitu mempunyai umur yang
panjang, umurnya dapat mencapai 600 tahun. Satu pohon zaitun bisa
membuahkan 15-20 kg zaitun per tahun. Spanyol, Italia, Yunani, Turki,
Tunisia, Portugis, Maroko, Suriah, Aljazair, Argentina, dan Prancis adalah
negara-negara penghasil minyak zaitun.
Zaitun biasanya berbunga antara bulan Juni hingga Oktober.
Minyak zaitun dapat berkualitas baik setelah 6-8 bulan dari masa
berbunga. Saat itu, buah zaitun berwarna hitam sebagai tanda telah matang
sempurna. Untuk masa panen, biasanya dimulai dari bulan September
hingga bulan Maret tahun berikutnya.

1. Taksonomi Tanaman Zaitun (Olea europaea)

Kedudukan tanaman zaitun dalam taksonomi diklasifikasikan sebagai


berikut :

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionata

Superdivision : Spermatophyta

Division : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Subklas : Asteridae

Famili : Oleaceae

Genus : Olea

Spesies : Olea europaea

2. Morfologi Tanaman Zaitun (Olea europaea)

Olea europaea memiliki pohon dengan tinggi mencapai 3-15 m. Pohon


zaitun merupakan pohon yang berumur panjang untuk masa yang lebih
dari seratus tahun bahkan ribuan tahun. Batang mempunyai jenis kambium
dan xylem dengan trakea atau tanpa trakea. Batang bisa dengan serat
maupun tidak. Batang kayu parenkim kadang-kadang paratrakeal (tipikal)
ataupun potrakeal.

Daun tunggal, berbentuk elips. Panjang daun 20-90mm x 7-15mm,


ujung runcing, tepi rata, permukaan atas licin warna hijau keabu-abuan,
permukaan bawah warna kuning keemasan.

Bunga kecil-kecil berwarna putih atau krem, panjang bunga 6-10 mm.
Bunga berkembang pada bulan Oktober sampai Maret. Buahnya ovoid,
kecil berwarna hijau muda dengan bercak putih, berubah warna menjadi
ungu gelap ketika buah matang, dengan diameter 10mm, berbentuk tajam.

Dalam bentuk buah, zaitun muda yang berwarna hijau kekuningan


kerap disantap begitu saja atau sebagai penambah rasa. Zaitun matang
berwarna ungu kehitaman biasanya dibuat acar atau diperas diambil
minyaknya. Buah zaitun matang mengandung 80 persen air, 15 persen
minyak, serta 1 persen protein, karbohidrat, dan serat. Untuk menghasilkan
buah dan berproduksi secara penuh, pohon zaitun harus berumur 15-20
tahun.

Gambar Tanaman Olea europeae

3. Kandungan dan manfaat minyak zaitun (Olive oil)


Minyak zaitun terdiri dari zat-zat minyak yang dinamakan
glesiredat (ester) dengan persentase 97% dan zat-zat minyak lainnya.
Minyak zaitun juga mengandung berbagai vitamin (seperti vitamin A, B,
C, D, dan vitamin E), zat-zat pewarna (seperti klorofil, xanthophyll), serta
berbagai zat aromatic yang menimulkan aroma dan rasa yang khas.
Terakhir minyak zaitun mengandung sejumlah kecil mineral (besi,
magnesium, dan kalsium), koloid, resin, dan air.
Secara umum, asam-asam lemak dalam minyak zaitun dibagi
menjadi dua bagian, yaitu :

a. Asam lemak tak jenuh dengan kadar 70-80%. Asam jenis ini
memiliki keistimewaan yakni menjadi cair pada suhu normal.
Asam lemak ini dibagi menjadi asam oleat dan asam linoleat.

b. Asam lemak jenuh dengan kadar 8-10%. Asam jenis ini memiliki
kelebihan memadat pada suhu normal. Asam lemak ini dibagi
menjadi asam palmitat dan asam stearat.

Setiap 100 gram zaitun mengandung zat-zat sebagai berikut : 90


gram protein, 61 mg kalsium, 22 mg magnesium, 17 mg fosfor, 1 mg besi,
0,22 mg tembaga, 36 mg klorin, 4,4 gram serat, 180 g beta karotin, 3-30
mg vitamin K.
Minyak zaitun selain digunakan untuk berbagai masakan juga
berkhasiat untuk perawatan kecantikan. Minyak zaitun kaya vitamin E
yang merupakan anti penuaan dini. Minyak zaitun juga bermanfaat untuk
menghaluskan dan melembabkan permukaan kulit tanpa menyumbat pori.
Minyak zaitun merupakan pelembab yang baik untuk melembabkan kulit
wajah dan tubuh. Selain itu, minyak zaitun bermanfaat untuk melepaskan
lapisan sel-sel kulit mati.
B. Ekstraksi

Ekstraksi adalah jenis pemisahan satu atau beberapa bahan dari


suatu padatan atau cairan. Proses ekstraksi bermula dari penggumpalan
ekstrak dengan pelarut kemudian terjadi kontak antara bahan dan pelarut
sehingga pada bidang datar antarmuka bahan ekstraksi dan pelarut terjadi
pengendapan massa dengan cara difusi.

Bahan ekstraksi yang telah tercampur dengan pelarut yang telah


menembus kapiler-kapiler dalam suatu bahan padat dan melarutkan
ekstrak larutan dengan konsentrasi lebih tinggi di bagian dalam bahan
ekstraksi dan terjadi difusi yang memacu keseimbangan konsentrasi
larutan dengan larutan di luar bahan.

1. Ekstrak

Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi


senyawa

aktif

dari

simplisia

nabati

atau

simplisia

hewani

menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir

semua pelarut diuapkan dan massa atau pelarut yang tersisa


diberlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang ditetapkan.

Ekstrak dapat dikelompokkan atas dasar sifatnya, yaitu :

a. Ekstrak

kering,

memiliki

konsentrasi

kering

dan

mudah

digosongkan yang sebaiknya memiliki kandungan lembab tidak


kurang dari 5%.

b. Ekstrak kental, sediaan ini kuat dalam keadaan dingin dan tidak
dapat dituang, kandungan airnya berjumlah sampai 30%.

c. Ekstrak cair, diartikan sebagai ekstrak cair yang dibuat sedemikian


rupa hingga satu bagian simplisia sesuai dengan dua bagian
(kadang-kadang satu bagian) ekstrak cair.

2. Pembuatan serbuk

Proses awal pembuatan ekstrak adalah tahapan pembuatan simplisia


kering (penyerbukan). Penyarian akan bertambah baik bila permukaan
serbuk simplisia yang bersentuhan dengan cairan penyari makin luas.
Simplisia yang telah halus akan memberikan kesulitan pada proses
penyarian.

3. Pembasahan

Pembasahan serbuk sebelum dilakukan penyarian dimaksudkan


memberi

kesempatan

sebesar-besarnya

kepada

cairan

penyari

memasuki seluruh pori-pori dalam simplisia sehingga mempermudah


penyarian selanjutnya.

4. Penyarian

Penyarian simplisia dengan air dilakukan dengan cara maserasi,


perkolasi, atau penyeduhan dengan air. Penyarian dengan mencampur
etanol dan air dilakukan dengan cara maserasi atau perkolasi.

5. Metode penyarian

Penyarian atau ekstraksi adalah kegiatan penarikan zat pokok yang


diinginkan dari bahan mentah obat dengan menggunakan bahan pelarut
yang dipilih dimana zat yang diinginkan larut.

a. Maserasi

Maserasi adalah cara ekstraksi yang paling sederhana, maserasi


simplisia sudah halus direndam dalam cairan sampai meresap dan
meluluhkan susunan sel, sehingga zat-zat mudah larut.

b. Infundasi

Infundasi adalah proses penyarian yang digunakan untuk menyari


zat aktif yang larut dalam air dari bahan-bahan nabati. Infundasi
dilakukan

dengan

cara

menambahkan

serbuk

dengan

air

secukupnya dalam penangas air selama 15 menit yang dihitung


mulai suhu di panci mencapai 900C sambil seseskali diaduk.
Penyarian dengan cara ini menghasilkan sari yang tidak stabil dan
mudah tercemar bakteri dan jamur.

c. Soxhletasi

Soxhletasi adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru


yang umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi
ekstraksi kontinyu dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan
adanya pendingin balik.

d. Perkolasi

Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai


sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur ruangan.

Prinsip soxhlet ialah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu


baru yang umumnya sehingga terjadi ekstraksi kontiyu dengan jumlah
pelarut konstan dengan adanya pendingin balik. Metode soxhlet ini pelarut
yang digunakan lebih sedikit (efesiensi bahan) dan larutan sari yang
dialirkan melalui sifon tetap tinggal dalam labu, sehingga pelarut yang
digunakan untuk mengekstrak sampel selalu baru dan meningkatkan laju
ekstraksi. Waktu yang digunakan lebih cepat.Kerugian metode ini ialah
pelarut yang digunakan harus mudah menguap dan hanya digunakan
untuk ekstraksi senyawa yang tahan panas.

Prinsip kerja metode alat ini adalah penarikan komponen kimia


yang dilakukan dengan cara serbuk simplisia ditempatkan dalam klonsong
yang telah dilapisi kertas saring sedemikian rupa, cairan penyari
dipanaskan dalam labu alas bulat sehingga menguap dan dikondensasikan
oleh kondensor bola menjadi molekul-molekul cairan penyari yang jatuh
ke dalam klonsong menyari zat aktif di dalam simplisia dan jika cairan
penyari telah mencapai permukaan sifon, seluruh cairan akan turun
kembali ke labu alas bulat melalui pipa kapiler hingga terjadi sirkulasi.

Ekstraksi sempurna ditandai bila cairan di sifon tidak berwarna, tidak


tampak noda jika di KLT, atau sirkulasi telah mencapai 20-25 kali. Ekstrak
yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan.

Nama-nama instrumen dan fungsinya :


1. Kondensor : berfungsi sebagai pendingin, dan juga untuk
mempercepat proses pengembunan.
2. Timbal : berfungsi sebagai wadah untuk sampel yang ingin diambil
zatnya.
3. Pipa F : berfungsi sebagai jalannya uap, bagi pelarut yang
menguap dari proses penguapan.
4. Sifon : berfungsi sebagai perhitungan siklus, bila pada sifon
larutannya penuh kemudian jatuh ke labu alas bulat maka hal ini
dinamakan 1 siklus.
5. Labu alas bulat : berfungsi sebagai wadah bagi sampel dan
pelarutnya.
6. Hot plate : berfungsi sebagai pemanas larutan

10

Cara

kerja

ektraktor

soxhlet

adalah

larutan

pengekstrak

ditempatkan pada labu alas bulat. Kemudian sampel yang telah dibungkus
dengan kertas saring ditempatkan pada tabung ektraktor. Bagian ujung atas
merupakan pendingin gondok. Ekstraktor soxhlet ini merupakan ektraktor
kontinyu, pelarut pada labu dipanaskan dan akan menguap, terkondensasi
pada pendingin gondok, selanjutnya pelarut akan masuk pada ektraktor.
Apabila pelarut telah mencapai batas atas kapiler pelarut yang telah kontak
dengan sampel akan masuk pada labu. Begitu seterusnya.
Setelah diekstraksi hasilnya didestilasi untuk memisahkan suatu zat
dengan zat yang lainnya (pengotor). Destilasi adalah teknik di mana dua
atau lebih zat dengan titik didih yang berbeda dapat dipisahkan satu sama
lain. Sebagai contoh, air tawar dapat diperoleh dari air laut (air yang
mengandung garam) dengan distilasi.
C. NaCl
Mekanisme pengawetan dengan pemberian garam dapur adalah,
garam dapur memiliki tekanan osmotik yang tinggi, sehingga dapat
mengakibatkan plasmolisis bakteri. Garam dapur bersifat higroskopis,
yaitu mampu menarik air, ion-ion Cl-1 dapat meracuni mikroorganisme.
Larutan garam dapur dapat mengurangi kelarutan oksigen, garam dapat
mengakibatkan sel-sel mikroorganisme peka terhadap CO2.
Kelarutan garam yang tinggi dapat menghambat penyerapan (up
take) air dan hara oleh tanaman seiring dengan terjadinya peningkatan
tekanan osmotik. Secara khusus, kegaraman yang tinggi menimbulkan
keracunan tanaman, terutama oleh ion Na+ dan Cl-. Beberapa tanaman
peka terhadap kegaraman (<4 ds.m-1) seperti apel, jeruk dan kacangkacangan, tanaman lain nisbi tahan kegaraman (4-10 ds.m-1) seperti padi,
kentang, mentimun, sorgum dan jagung dan tanaman lainnya lebih tahan
kegaraman (>10 ds. m-1) seperti kapas, bayam dan kurma.

11

Pengaruh dari NaCl bagi tanaman berdasarkan pengaruh toksitas


adalah:

1. Pengaruh osmotik yang timbul dari konsentrasi larutan berlebih

2. Menghambat pembelahan sel, mengurangi pertumbuhan akar

3. Kompetisi antara ion-ion

4. Kerusakan membran

5. Pengaruh simbion

6. Kesalahan fungsi stomata yang disebabkan gas beracun

7. Memutihnya klorofil
D. Surfaktan

Surfaktan merupakan suatu molekul yang sekaligus memiliki


gugus hidrofilik dan gugus lipofilik sehingga dapat mempersatukan
campuran yang terdiri dari air dan minyak. Surfaktan adalah bahan aktif
permukaan. Aktifitas surfaktan diperoleh karena sifat ganda dari
molekulnya. Molekul surfaktan memiliki bagian polar yang suka akan air
(hidrofilik) dan bagian non polar yang suka akan minyak/lemak (lipofilik).
Bagian polar molekul surfaktan dapat bermuatan positif, negatif atau
netral. Sifat rangkap ini yang menyebabkan surfaktan dapat diadsorbsi
pada antar muka udara-air, minyak-air dan zat padat-air, membentuk
lapisan tunggal dimana gugus hidrofilik berada pada fase air dan rantai
hidrokarbon ke udara, dalam kontak dengan zat padat ataupun terendam
dalam fase minyak. Umumnya bagian non polar (lipofilik) adalah

12

merupakan rantai alkil yang panjang, sementara bagian yang polar


(hidrofilik) mengandung gugus hidroksil.

Penggunaan surfaktan sangat bervariasi, seperti bahan deterjen,


kosmetik, farmasi, makanan, tekstil, plastik dan lain-lain. Beberapa produk
pangan seperti margarin, es krim, dan lain-lain menggunakan surfaktan
sebagai satu bahannya. Syarat agar surfaktan dapat digunakan untuk
produk pangan yaitu bahwa surfaktan tersebut mempunyai nilai
Hydrophyle Lypophyle Balance (HLB) antara 2-16, tidak beracun, serta
tidak menimbulkan iritasi. Penggunaan surfaktan terbagi atas tiga
golongan, yaitu sebagai bahan pembasah (wetting agent), bahan
pengemulsi (emulsifying agent) dan bahan pelarut (solubilizing agent).
Penggunaan surfaktan ini bertujuan untuk meningkatkan kestabilan emulsi
dengan cara menurunkan tegangan antarmuka, antara fasa minyak dan fasa
air. Surfaktan dipergunakan baik berbentuk emulsi minyak dalam air
maupun berbentuk emulsi air dalam minyak.

Gugus hidrofilik pada surfaktan bersifat polar dan mudah


bersenyawa dengan air, sedangkan gugus lipofilik bersifat non polar dan
mudah bersenyawa dengan minyak. Di dalam molekul surfaktan, salah
satu gugus harus lebih dominan jumlahnya. Bila gugus polarnya yang
lebih dominan, maka molekul-molekul surfaktan tersebut akan diabsorpsi
lebih kuat oleh air dibandingkan dengan minyak. Akibatnya tegangan
permukaan air menjadi lebih rendah sehingga mudah menyebar dan
menjadi fase kontinu. Demikian pula sebaliknya, bila gugus non polarnya
lebih dominan, maka molekul-molekul surfaktan tersebut akan diabsorpsi
lebih kuat oleh minyak dibandingkan dengan air. Akibatnya tegangan
permukaan minyak menjadi lebih rendah sehingga mudah menyebar dan
menjadi fase kontinu.

Surfaktan pada umumnya disintesis dari turunan minyak bumi,


seperti linier alkilbensen sulfonat (LAS), alkil sulfonat (AS), alkil etoksilat

13

(AE) dan alkil etoksilat sulfat (AES). Surfaktan dari turunan minyak bumi
dan gas alam ini dapat menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan,
karena surfaktan ini setelah digunakan akan menjadi limbah yang sukar
terdegradasi. Disamping itu, minyak bumi yang digunakan merupakan
sumber bahan baku yang tidak dapat diperbaharui. Masalah inilah yang
menyebabkan banyak pihak mencari alternatif surfaktan yang mudah
terdegradasi dan berasal dari bahan baku yang dapat diperbaharui.
Surfaktan yang biasanya digunakan dalam proses ekstraksi adalah sorbiton
monoleat dan sorbitol.

1. Sorbiton Monoleat

Sorbiton monoleat merupakan jenis senyawa ester dan memiliki rumus


kimia C24H44O6. Pada temperatur ruang, sorbiton monoleat berupa cairan
dengan warna kuning terang. Dalam dunia perdagangan, sorbitan monoleat
dikenal pula dengan nama Polysorbates 80, Span 80 atau Tween 80.
Sorbiton monoleat adalah surfaktan nonionik dan pengemulsi yang
merupakan turunan dari polietoksilat sorbiton dan asam oleat, dan sering
digunakan pada makanan. Gugus hidrofilik dalam senyawa ini adalah
polieter yang dikenal juga sebagai gugus polioxietilen yang merupakan
polimer dari etilen oksida. Dalam istilah polisorbat, angka yang
ditunjukkan pada polisorbat menunjukkan gugus lipofilik, dalam hal ini
adalah asam oleat.

Sebagai bahan kimia surfaktan, kegunaan sorbiton monoleat yang


paling utama adalah sebagai emulsifier water in oil, karena sorbiton
monoleat memiliki nilai HLB 4,3. Selain itu, sorbiton monoleat juga
digunakan sebagai bahan tambahan untuk makanan. Sorbiton monoleat ini
bersifat tidak larut dalam air dan larut dalam minyak, dan juga stabil pada
suhu tinggi serta tidak beracun.

2. Sorbitol
14

Sorbitol, suatu poliol (alkohol gula), bahan pemanis yang ditemukan


dalam berbagai produk makanan. Rumus kimiawi C6H14O6, struktur
molekulnya mirip dengan glukosa, hanya gugus aldehide pada glukosa
diganti menjadi gugus alkohol. Kemanisan sorbitol sekitar 60% dari
kemanisan sukrosa (gula tebu) dengan ukuran kalori sekitar sepertiganya.
Rasanya lembut di mulut dengan rasa manis yang menyenangkan dan
dingin. Pertama kali ditemukan oleh seorang kimiawan Prancis dari biji
tanaman bunga Ros pada tahun 1872. Ternyata secara alami juga
dihasilkan oleh berbagai jenis buah. Sekarang ini sorbitol secara komersial
diproduksi dari hidrogenasi glukosa dan tersedia dalam bentuk kristal
maupun cairan.

Sorbitol berbentuk kristal putih, yang tidak berbau, mudah mengalir,


dan sedikit higroskopik. Sorbitol juga tersedia dalam bentuk larutan sirup
jernih. Sorbitol juga memiliki rasa yang manis dan sejuk, kira-kira setara
dengan setengah dari manisnya sukrosa.

15

BAB III METODE PENELITIAN


A. Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan :
1.
2.
3.
4.

Ekstraktor soxhlet
Oven
Alat-alat gelas
Timbangan analitik

Bahan-bahan yang digunakan :


1.
2.
3.
4.

Buah zaitun
Larutan NaCl ( 0.1M, 0.5M, 2M, dan 4M)
Larutan heksana
Surfaktan (sorbiton monoleat)

5. Kertas saring

B. Prosedur Penelitian
1. Preparasi Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah buah dari tanaman zaitun (Olea
europaea). Buah zaitun dikeringkan menggunakan oven pada suhu 70C
hingga kering. Kemudian buah zaitun diekstraksi menggunakan beberapa
pelarut diantaranya petrelium eter, heksana, dan etanol untuk mengetahui
pelarut terbaik dalam mengekstrak minyak zaitun. Pelarut terbaik

16

digunakan untuk soxletasi pada tahap pretreatment dengan NaCl dan


penambahan surfaktan.
2. Pretreatment dengan NaCl
Buah zaitun yang telah dikeringkan direndam menggunakan larutan
natrium klorida dengan beberapa konsentrasi (0.1M, 0.5M, 2M, dan 4M)
selama 24 jam. Kemudian buah zaitun disaring, dibilas dengan aquades.
Buah zaitun dikeringkan dalam oven pada suhu 70C selama 3.5 jam.
Buah zaitun yang telah kering masing-masingnya ditimbang
sebanyak 10 gram. Kemudian dimasukkan ke dalam alat soxhletasi dengan
pelarut heksana sebanyak 250 mL selama 1 jam. Hasil soxhletasi
dipisahkan dari pelarut menggunakan proses destilasi.
3. Pengaruh penambahan surfaktan
Buah zaitun yang telah kering ditimbang sebanyak 10 gram. Dimasukkan
ke dalam alat soxhletasi, kemudian dimasukkan 250 mL pelarut heksana
yang sudah ditambahkan surfaktan (sorbiton monoleat) sebanyak 1.5 mL.
Proses soxhletasi berjalan selama 1 jam. Dan hasil soxhletasi didestilasi
untuk memisahkan minyak dengan pelarut.

17

BAB IV PEMBAHASAN
A. Ekstraksi Minyak Zaitun
Ekstraksi minyak zaitun menggunakan beberapa pelarut yaitu
heksana, etanol, dan petroleum eter. Dari ketiga pelarut yang digunakan
heksana merupakan pelarut terbaik dalam ekstraksi, seperti pada gambar
dibawah.

Dari gambar di atas dapat dilihat pelarut heksana menunjukkan


hasil ekstraksi lebih tinggi yaitu berkisar pada 10%. Hal ini disebabkan
karena minyak zaitun bersifat non polar sehingga akan lebih larut dalam
pelarut non polar yaitu heksana dibandingkan dengan pelarut etanol dan
petrolium eter yang bersifat polar dan semi polar.
B. Pengaruh Pretreatment dengan NaCl
Pengaruh sifat osmotik NaCl menyebabkan rusaknya membran sel
sehingga terjadi perpindahan komponen yang akan ddari membran sel
tanaman. NaCl dengan konsentrasi tertentu dapat meningkatkan hasil
ekstraksi minyak zaitun, pada penelitian ini konsentrasi yang digunakan
adalah 0.1M, 0.5M, 2M, dan 4M, seperti pada gambar berikut.

18

Berdasarkan gambar di atas, NaCl pada konsentrasi 2M


menunjukkan ekstraksi maksimum 16%. Pada konsentrasi NaCl 0.1M dan
NaCl 0.5M hasil ekstraksi minyak zaitun terus meningkat dengan hasil
berturut-turut 14% dan 15.75%. Pada konsentrasi NaCl 4M terjadi
penurunan hasil ekstraksi minyak zaitun, ini dikarenakan pada NaCl 2M
merupakan konsentrasi optimum yang digunakan. NaCl memiliki tekanan
osmoyik yang tinggi sehingga minyak yang berada di dalam buah zaitun
berpindah ke dalam pelarut. Pada konsentrasi NaCl 0.1M, 0.5M, dan 2M
hasil dari ekstrak minyak cenderung naik karena pada konsentrasi ini yang
memungkinkan untuk mendapatkan hasil yang maksimum sedangkan pada
konsentrasi NaCl 4M hasil ekstraksi minyak menurun ini dikarenakan
sudah melewati kejenuhan penyerapannya. Setelah melewati kejenuhan,
penyerapan akan menurun.
C. Pengaruh Penambahan Surfaktan
Surfaktan adalah bahan aktif permukaan. Aktifitas surfaktan
diperoleh karena sifat ganda dari molekulnya. Molekul surfaktan memiliki
bagian polar yang suka akan air (hidrofilik) dan bagian non polar yang
suka akan minyak/lemak (lipofilik). Penggunaan surfaktan terbagi atas tiga
golongan, yaitu sebagai bahan pembasah (wetting agent), bahan
pengemulsi (emulsifying agent) dan bahan pelarut (solubilizing agent).
Surfaktan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sorbitan monoleat
yang ditambahkan ke dalam pelarut heksana untuk ekstraksi mintak zaitun.

19

Penambahan surfaktan menyebabkan meningkatnya hasil ekstraksi minyak


pada buah zaitun seperti gambar berikut.

Dari gambar di atas dapat dilihat penambahan surfaktan pada


pelarut menyebabkan hasil ekstraksi minyak zaitun meningkat. Pada
pelarut yang tidak ditambah dengan surfaktan hasil maksimum yang
didapatkan selama 1 jam sebesar 10% sedangkan pelarut yang ditambah
surfaktan didapatkan hasil maksimum sebesar 25%. Ini dikarenakan
surfaktan sorbitan monoleat berguna untuk menarik molekul minyak yang
ada di dalam buah zaitun. Sehingga surfaktan dapat menarik molekul
minyak dari buah zaitun yang tidak dapat ditarik oleh pelarut heksana
murni.

20

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa :
1.

Pelarut yang bagus digunakan untuk mengekstraksi minyak zaitun


untuk mendapatkan hasil yang maksimum adalah larutan heksana

sebanyak 10%.
2. NaCl dapat meningkatkan hasil ekstraksi minyak zaitun karena
terjadinya proses osmosis yang menyebabkan pecahnya dinding sel dari
buah zaitun. Pada NaCl 2M didapatkan hasil ekstraksi minyak
maksimum sebesar 16%.
3. Penambahan surfaktan pada pelarut juga meningkatkan hasil ekstraksi
minyak karena sifat dari surfaktan yang dapat mengikat minyak dalam
buah zaitun. Hasil ekstraksi minyak yang didapatkan setelah
penambahan surfaktan adalah 25%.

21

DAFTAR PUSTAKA

Asdak, dkk. 2005. Fisiologi Tanaman. Jakarta : PT Bina Aksara.


Harso,E.B. 2010. Biologi. Bandung : ITB.
Orey, C. 2008. Khasiat Minyak Zaitun Resep Umur Panjang Ala Meditreania.
Jakarta : Penerbit Hikmah (PT Mizan Publika).
Puspita, Tasmania.1997. Fisiologi Tumbuhan. Universitas Sriwijaya
http://arifiyahs.blogspot.com
http://belajarkimia.com/tekanan-osmotik/
http://digilib.ump.ac.id/files/disk1/9/jhptump-a-srisuharti-413-2-babii.pdf
http://kimia.upi.edu.html
http://kinanthidiah.multiply.com/journal/item/4
http://www.suaramerdeka.com
http://www.wikipedia.org/wiki/Polysorbate

22