Anda di halaman 1dari 9

PORTOFOLIO

Topik: Amenorea ec kehamilan dd gangguan hormonal


Tanggal (kasus): 01/03/2016

Presenter : dr. Faaris Hario Wicaksana

Nama Pasien: Ny. M / 31 Tahun

No. RM : 01.0010

Tanggal Presentasi:

Nama Pendamping: (dr Nelly)

Tempat Presentasi: Puskesmas Pasir Belengkong


Obyektif Presentasi:

Keilmuan

Keterampilan

Penyegaran

Tinjauan Pustaka

Diagnostik

Manajemen

Masalah

Istimewa

Neonatus

Bayi

Anak

Remaja

Dewasa

Lansia

Deskripsi:
Pasien mengeluhkan mual dan muntah sejak 1 hari yang lalu.
Tujuan: Untuk mengetahui bagaimana diagnosis dan tatalaksana pasien dengan Hernia Inguinalis Lateralis
Bahan bahasan:

Tinjauan Pustaka

Riset

Kasus

Audit

Bumil

Diskusi

Cara membahas:
Data pasien:

Presentasi dan diskusi

Nama: NY. M/ 31 thn

Nama PKM: Pasir Belengkong

Telp:-

Email

Pos

Nomor Registrasi: 01.0010


Terdaftar sejak:

Data utama untuk bahan diskusi:


Keluhan Utama : Tidak mendapat haid
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien mengeluh tidak mendapatkan haid sejak 1 bul an yang lalu. HPHT 23 Januari 2016. 3 bulan yang lalu selama 2 bulan pasien mendapatkan
haid selama 3-4 hari. Ganti pembalut 1-2x/hari. Keluhan disertai dengan mual-mual, muntah (-). Nyeri atau kram di perut (-). BAB dan BAK tidak
ada keluhan. Pasien sudah mengecek test kehamilan 1 minggu yang lalu hasil negatif
Pasien sebelumnya memakai kontasepsi suntik 3 bulan selama kurang lebih 3 tahun, namun menghentikan suntikan sudah 3 bulan yang lalu untuk
meneraturkan haid.
Riwayat obstetri: pasien memiliki 2 orang anak. Anak pertama perempuan usia 9 tahun riwayat kehamilan cukup bulan, jenis persalinan SC atas
indikasi letak sungsang, berat lahir 3200gr. Anak kedua laki-laki berusia 3 tahun, riwayat kehamilan cukup bulan, lahir spontan di tolong dokter
berat lahir 2900gr.
Riwayat Penyakit Dahulu: Hipertensi (disangkal) Diabetes (disangkal)
PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan umum

Kesadaran

Tanda-Tanda Vital
Tekanan darah

:
: tampak sehat
: Compos mentis, GCS E4V5M6
:
: 110/80 mmHg

Frekuensi nadi
: 88 x/menit, reguler, kuat angkat, isi cukup.
Pernafasan
: 20 x/menit, regular.
Suhu
: 36,4 oC (per axiller).
Berat badan
: 58 kg
Tinggi badan
: 160 cm
Kepala dan Leher
: dbn
Thorax
: dbn
Abdomen
: sikatrik(+) , BU (+) kesan normal, pembesaran uterus (tidak teraba), nyeri tekan (-).
Ektremitas
: dbn
Vagina Toucher
: tidak dilakukan
DIAGNOSIS KERJA
Obs Amenorea+ Nausea ec kehamilan dd ganguan hormonal
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Test pack (-)
PENATALAKSANAAN
Metoclopramid 3x 10 mg
Vit B 6 1 x1
Edukasi: tunggu 1 bulan berikutnya jika masih belum dapat haid cek kehamilan lagi, jika hasil negative periksa USG di dokter Sp. OG
2. Riwayat Pengobatan: 3. Riwayat kesehatan/Penyakit: -

4. Riwayat keluarga: -

5. Riwayat pekerjaan:

6. Lain-lain: -

Daftar Pustaka:
1. Speroff L, Glass R H, Kase N G, 1993. Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility, 5 th edition, William & Wilkins, Philadelphia.
401 454.
2. Baziad A, Surjana E J, 1993. Pemeriksaan dan Penanganan Amenorea, edisi pertama, KSERI, Jakarta, 35 56.
3. Rebar R W, Disorders of Menstruation, Ovulation, and Sexual Response, Principles and Practise of Endocrinology and Metabolism, 2 nd
edition, J.B. Lippicott Company, Philadephia. 880 97.
Hasil Pembelajaran:
Diagnosis Amenorea ec kehamilan dd gangguan hormonal
EVALUASI KLINIS

Tidak mendapatkan haid 1 bulan. Riwayat menghentikan suntik KB progestin 3 bulan yang lalu.

Pemeriksaan Fisik abdomen : sikatrik (+)pembesaran uterus (-), nyeri tekan (-).

Laboratorium : test pack (-)

Definisi
Defenisi secara umum amenorea merupakan keadaan tidak haid sedikitnya tiga bulan berturut-turut pada seorang wanita usia reproduksi yang
pernah mengalami haid sebelumnya atau seorang wanita yang belum pernah haid pada usia 16 tahun. Amenorea secara umum dibedakan atas
amenorea fisiologik, seperti usia prapubertas, hamil, menyususi dan sesudah menopouse; dan amenorea patologik yang terdiri atas amenorea
primer dan sekunder1,2,3.

Amenorea primer adalah apabila tidak dapatnya haid pada wanita usia 16 tahun dengan tanda-tanda seks sekunder atau usia 14 tahun
tanpa tanda-tanda seks sekunder . Amenorea primer umumnya mempunyai sebab yang lebih sulit diketahui seperti kelainan congenital
dan kelainan genetic1,2,3.

Amenorea sekunder adalah berhentinya haid setelah menarche atau pernah haid tapi berhenti berturut-turut selama 3 bulan, dapat pula
diartikan tidak haid selama 6 bulan pada wanita yang sebelumnya haid teratur atau selama 12 bulan pada wanita yang haidnya teratur,
dan bukan pada wanita hamil, menyusui atau menopause. Penyebab amenorea sekunder dapat disebabkan karena kelainan
hipotalamus, hipofisis, ovarium dan kelainan uterus. 1,2,3
Secara fisiologi ada empat kompartemen yang berperan dalam proses haid dan keempat kompartemen inilah yang menjadi
dasar untuk mengevaluasi terjadinya amenorea1, yaitu :
I.

Kompartemen I : kelainan di saluran keluar kelamin sebagai target organ (uterus dan vagina).

II.

Kompatemen II : kelainan di ovarium

III.

Kompartemen III : kelainan di anterior hipofisis

IV.

Kompaetemen IV : kelainan karena faktor susunan sarap pusat (hipotalamus)

Etiologi amenorea adalah sangat kompleks, selain disebabkan kelainan endokrinologi bisa juga disebabkan faktor psikis atau penyakit sistemik
lain. Secara umum penyebeb amenorea dibagi dalam sebelas bentuk 2 :
No

Kelompok

Penyebab

Penyebab secara umum

Pubertas tarda
Insufisiensi kelenjar hipofisis
Penyakit Non endokrinologik
Penyakit kronik
Intoksikasi
Kurang gizi
Kerja berat

II

Penyebab di vagina

Tidak ada uterus (total/partial)


Atresia hymen

III

Penyebab di uterus

Tidak ada uterus


Kelainan congenital
Uterus hipoplasi
Atresia serviks
Atresia cavum uteri
Kerusakan endometrium akibat : kuretase,
infeksi dan obat-obatan

IV

Penyebab di ovarium

Tidak ada ovarium

Hipogenesis ovarium
Pengangkatan ovarium
Ovarium polikistik
Insufisiensi ovarium (penyinaran)
Folikel persisten
Tumor ovarium
V

Penyebab di hipofisis

Insufisiensi sekunder : tumor, trauma, post


partum (Sindrom Sheehan)

VI

Penyebab di ensefal

Insufisiensi sekunder : tumor , trauma,


kegemukan, kekurusan (anoreksia nervosa)

VII Penyebab di korteks

Trauma psikis

VIII Penyebab di adrenal

Sindrom adrenogen akibat insufisiensi


suprarenal dan tumor

IX

Penyebab di kelenjar tiroid

Hipotiroid/hipertiroid

Penyebab di pancreas

Kekurangan insulin

XI

Obat-obatan

Steroid seks atau obat yang meningkatkan


kadar PRL

Pemeriksaan dan penanganan amenorea


a. Anamnesis

Apabila dijumpai amenorea yang pertama adalah menyingkirkan kemungkinan adanya kehamilan. Selanjutnya dilakukan anamnesis umur, usia
menars, menstruasi terakhir, riwayat kelainan genetik dalam keluarga, gangguan psikis atau stress emosional, aktifitas fisik berlebihan,
menderita penyakit diabetes mellitus, gangguan fungsi hati, gangguan fungsi tiroid, diet, penambahan atau pengurangan berat badan, penggunaan
psikofarmaka, obat-obatan untuk menurunkan atau menaikkan berat badan dan obat-obatan tradisional. Selain itu ditanyakan perubahan dan
timbulnya tanda-tanda seks sekunder serta keluarnya air susu ibu diluar masa purperium 1,2,3

b. Pemeriksaan fisik
Meliputi pemeriksaan berat badan, tinggi badan, status gizi, pertumbuhan payudara, tanda-tanda seks sekunder seperti pertumbuhan rambut
pubis dan ketiak, perut membesar, jerawat, ketombe, pembesaran klitoris, deformitas toraks, bukti adanya penyakit SSP dan galaktorea (keluarnya
air susu diluar masa purperium) 1,2,3

Pemeriksaan ginekologi
Pada pemeriksaan penderita amenorea sangat penting disingkirkan kemungkinan kehamilan. Pemeriksaan meliputi pemeriksaan genitalia
eksterna dan interna, termasuk tanda-tanda seks sekunder.
Langkah pertama untuk mencari penyebab amenorea, setelah kemungkinan kehamilan dapat disingkirkan adalah melakukan pemeriksaaan
hormon TSH, prolaktin, dan uji progesteron. Apabila dijumpai galaktorea maka perlu dilakukan pemeriksaan hormon TSH, prolaktin dan rongent
sella tursica. Tujuan pemeriksaan uji progesteron adalah untuk mengetahui kadar estrogen endogen dan saluran keluar alat reproduksi wanita. Bila
kadar TSH meningkatkan maka segera dapat ditegakkan diagnosis hipotiroidisme. Kadar TSH dan prolaktin yang normal disertai adanya
perdarahan withdrawal mengarah pada diagnosis tidak adanya ovulasi. Kadar prolaktin yang normal dapat menyingkirkan kemungkinan adanya
tumor hipofise1.
Langkah kedua bertujuan mencari penyebab perdarahan withdrawal negatif yaitu : dengan pemberian estrogen konjugasi diikuti dengan
uji progesteron. Bila tidak ada perdarahan withdrawal maka diagnosis adanya defek pada kompartemen I (endometrium dan saluran keluar) dapat
ditegakkan2.

Langkah ketiga bertujuan mencari penyebab ketidakmampuan pasien memproduksi estrogen yang memadai berasal dari defek pada
kompartemen II (ovarium) atau kompartemen III dan IV (aksis SSP-hipofise). Untuk memproduksi estrogen, diperlukan ovarium yang
mengandung folikel normal dan gonadotropin dalam jumlah yang memadai untuk merangsang folikel. Pengambilan darah untuk menentukan
kadar gonadotropin harus dilakukan 2 minggu setelah pemberian estrogen konjugat dan uji progesteron. Kadar FSH dan LH rendah sampai normal
dihubungkan dengan amenorea hipotalamik sedangkan kadar FSH dan LH yang tinggi dihubungkan dengan kegagalan ovarium 1.

Kondisi Awal
Wanita dewasa normal

FSH serum
LH serum
5 30 IU/L, dengan
5 20 IU/L dengan
kadar puncak saat ovulasi kadar puncak saat
mencapai 2X kadar basal ovulasi mencapai 3X
kadar basal
Pada keadaan hipogonadotropik :
< 5 IU/L
< 5 IU/L
masa pubertas
disfungsi hipotalamus-hipofise
Pada keadaan hipergonadotropik :
> 30 IU/L
> 40 IU/L
masa postmenopause
oophorektomi dan kegagalan
ovarium
Prinsip dari penatalaksanaan dari amenorea sekunder adalah induksi ovulasi dan mengatasi kelainan yang menyertai 2.