Anda di halaman 1dari 11

Ureter

A. MEGAURETER
Definisi
Ureter mengalami dilatasi berat, memnajang, dan berkelok kelok.
Secara histologis karena kelebihan serabut-serabut otot sirkuler dan
kolagen pada uretr distal, sehingga menyebabkan obstruksi,
hematuria dan infeksi. Ureter secara seluruhnya menjadi hipotonik
dan adinamik yang terkadang jua meliputi vesika urinaria.
Diagnosis
Menurut klasifikasi internasional, megaureter dibagi menjadi primer
dan sekunder, obstruksi dan/atau refluks dan non-refluks, nonobstruksi. Penatalaksanaan dari megaureter tipe refluks dijelaskan
pada bagian vesikoureter refluks (VUR). Evaluasi diagnostik sama
seperti pada hidronefrosis unilateral. Derajat obstruksi dan fungsi
ginjal secara terpisah ditentukan dengan skintigrafi ginjal dan IVU.
Pada beberapa survei ditunjukkan bahwa intervensi operasi
berdasar hanya dari urogram ekskretori saat ini sangatlah jarang.
Dengan perbaikan spontan sampai 85% pada pasien dengan
megaureter obstruksi primer, drainage tinggi secara Sober atau
cincin ureterokutaneostomi saat ini tidak lagi dilakukan
Komplikasi
Kemandulan
Inkontinensia
Ruptur vesica urinaria spontan
Infeksi
Prognosis
Tergantung dari durasi dan komplikasi yang ditimbulkan oleh
megaureter
tersebut,
>90%
dilaporkan
sukses.
Operasi
ureterosistoneostomi menurut Cohen, Politano-Leadbetter atau
teknik Psoas-Hitch dapat dipertimbangkan sebagai cara operasi.
Indikasi untuk terapi bedah dari megaureter adalah infeksi rekuren
selama menggunakan antibiotika profilaksis, penurunan fungsi ginjal
secara terpisah, tetap terjadinya refluks setelah 1 tahun dibawah
profilaksis serta adanya obstruksi yang signifikan

B. URETEROKEL
Definisi, Epidemiologi, Etiologi
Ureterokel adalah sirkulasi atau dilatasi kistik terminal ureter.
Letaknya mungkin berada dalam buli-buli (intravesikel) atau mungkin
ektopik diluar muara ureter yang normal, antara lain terletak di leher
buli-buli atau uretra. Ureterokel yang letaknya intravesikular
biasanya merupakan ureter satu-satunya yang terletak pada sisi itu,
sedangkan ureterokel ektopik pada umumnya berasal dari duplikasi
ureter yang menyalurkan urine dari ginjal kutub atas. Bentuk ureter
ektopik ternyata lebih sering dijumpai pada ureterokel intravesika.
Kelainan ini ternyata 7 kali lebih banyak dijumpai pada wanita, dan
10 % anomaly ini mengenai kedua sisi.
Patofisiologi
Ureterokel kecil tidak bergejala . Ureterokel yang cukup besar akan
mendorong muara ureter yang sebelah kontralateral dan
menyebabkan obstruksi leher buli diikuti dengan hidroureter dan
hidronefrosis. Biasanya ditemukan ISK kambuhan atau kronik. Bila
ureterokel besar atau terdapat penyulit, maka perlu tindak bedah
berupa ekstirpasi uretrokel dan neoimplantasi ureter ke dalam
kandung kemih.

C. URETER EKTOPIK
Definisi
Kelainan kongenital jika ureter bermuara di leher vesica urinaria atau
lebih distal dari
itu.
Epidemiologi
Insiden ureter ektopik belum diketahui dengan pasti, tapi autopsi
pada anak didapatkan 1 dari 1900 autopsi. Kurang lebih 5-17% ureter
ektopik mengenai kedua sisi. 80% pada wanita, disertai dengan
duplikasi sistem pelviureter, pada pria umumnya terjadi pada singleureter. Kejadian pria : wanita = 2,9 : 1
Etiologi
Kelainan dari perkembangan tunas ureter yang muncul dari duktus
mesonefros. Diagnosis
Ureter ektopik pada pria kebanyakan bermuara pada ureter
posterior, meskipun kadang bermuara pada vesikula seminalis, vas
deferens, atau duktus ejakulatorius. Muara pada uretra posterior
seringkali tidak memberikan gejala, tetapi muara ureter pada vasa
deferens seringkali tidak menyebabkan keluhan epididimis yang
sulit disembuhkan karena vasa deferens dan epididimis selalu
teraliri oleh urin
Pada wanita, ureter ektopik sering kali bermuara pada uretra dan
vestibulum. Keadaan ini memberikan keluhan yang khas pada anak
kecil, yaitu celana dalam selalu basah oleh urine (inkontinensia
kontinua) tetapi dia masih bisa miksi seperti orang normal.
Jika ureter ektopik terjadi pada duplikasi system pelviureter, ureter
ektopik menerima drainase dari ginjal system cranial. Selain itu
muara ureter ektopik biasanya atretik dan mengalami obstruksi
sehingga seringkali terjadi hidronefrosis pada segmen ginjal sebelah
cranial. Pada pemeriksaan PIV, hidronefrosis mendorong segmen
kaudal terdorong ke bawah dan ke lateral sehingga terlihat sebagai
gambaran bunga lili yang jatuh (dropping lily).
Pemeriksaan sitoskopi mungkin dapat menemukan adanya
ureter ektopik pada uretra atau ditemukan hemitrigonum
ditemukan salah satu muara ureter pada buli). Jika ditemukan
ureter ektopik pada uretra, dapat dicoba dimasuki kateter
dan dilanjutkan dengan pemeriksaan uretografi retograd
Penatalaksanaan

muara
(tidak
muara
ureter

Jika ditemukan muara ureter ektopik pada uretra dapat di coba di


masuki kateter ureter dan dilanjutkan dengan ureterografi retrograd.
Namun ureter ektopik tergantung kelainan yang tedapat pada ginjal.
Jika ginjal sudah mengalami kerusakan nefroereterektomi, tetapi
kalau masih bisa dipertahankan dilakukan implantasi ureter pada
vesica urinaria.

Vesica Urinaria
Ekstrofi Vesica Urinaria
Definisi
Kandung kemih saluran kemih bagian bawah terbuka dan terpapar
dari puncak kandung kemih sampai muara uretra
Etiologi
Terjadi karena proses penutupan pada saat embrio pada abdomen
ventral karena migrasi mesenkim tidak terjadi. Pada laki-laki lebih
banyak daripada wanita (3:1)
Geiala
Dermatitis karena basah kemih,iritasi,fibrosis karena iritasi yang kronik
Prognose
Baik jika sebelum terjadi fibrosis sudah di terapi.
Penis dan Uretra
A. EPISPADIA
Definisi dan Klasifikasi
Epispadia merupakan keadaan terbukanya uretra di sebelah
ventral. Kelainan ini merupakan keadaan terbukanya uretra di
sebelah ventral. Muara urethra berada dibagian dorsal, bisa di
glanduler, penil atau penopubic. Pada kelainan ini sering disertai
dengan inkontinensia. Kelainan ini mungkin meliputi leher kandung
kemih (epispadia total) atau hanya uretra (epispadia parsial)
Pada epispadia parsial, tidak terdapat inkontinensia; hanya uretra
atau sebagiannya terbelah. Biasanya pada lelaki ada penis pendek
dan bengkak karena korda yang menjadikan gangguan pada miksi
dan koitus.
Epidemiologi
Insidensi pada epispadia penuh sekitar 1 dari 120.000 laki-laki dan
1 dari 450.000 perempuan.
Patologi
Uretra mengalami kesalahan letak pada dorsal, dan klasifikasi
berdasarkan posisinya pada laki-laki. Pada epispadia glandular,
ostium uretra terletak pada aspek dorsal glans, yang pipih dan rata.
Pada tipe penile, meatus uretra, yang seringkali pipih dan ber-

gap,terletak diantara simphisis pubis dan sulkus corona. Sebuah


sekungan dorsal biasanya meluas dari

meatus melalui sampai ke glans. Pada tipe penopubic memilki ostium


pada penopubic juntion, dan seluruh penis memilki cekungan dorsal
distal meluas melalui glans.
Tata laksana
Operasi koreksi sebaiknya dikerjakan pada usia prasekolah. Pada usia
bayi dilakukan kordektomi untuk meluruskan penis. Pada usia 2-4
tahun, rekonstruksi tahap kedua yang terdiri atas rekonstruksi uretra.
Pada semua tipe, sering disertai adanya jaringan ikat yang
menyebabkan penis tidak bisa lurus disebut chorde. Bila chorde tidak
dikoreksi, akan menyebabkan anak minder dan gangguan
pembuahan.
Neouretra biasanya dibuat dari kulit prepusium, penis atau
skrotum. Karena kulit prepusium merupakan bahan yang terbaik
untuk uretroplastik, sirkumsisi pada hipospadia seharusnya dilakukan
sambil melakukan rekonstruksi uretra dengan kulit prepusium.
Pada pertumbuhan sampai usia dewasa, tidak timbul masalah
karena bagian uretra baru turut tumbuh. Ereksi pun tidak terganggu.
Prognosis & Komplikasi
Meskipun operasinya sukses, pasien akan mengalami masalah dengan:
Inkontinensia urine
Depresi, komplikasi psikososial
Disfungsi seksual
B. HIPOSPADIA
Definisi
Suatu kelainan yang terjadi bila penyatuan di garis tengah lipatan
uretra tidak lengkap sehingga meatus uretra terbuka pada sisi
ventral penis.
Epidemiologi
Terjadi pada satu dalam 300 kelahiran anak laki-laki
merupakan anomali paling sering yang sering terjadi

dan

Manifestasi klinis
Anak-anak: tidak ada masalah fisik yang berarti
Remaja: tidak ada masalah fisik yang berarti
Dewasa: chordee akan menghalangi hubungan seksual
Infertilitas dapat terjadi pada hipospadia penoskrotal atau perineal,

dapat timbul stenosis meatus yang menyebabkan kesulitan dalam


mengatur aliran urin, dan sering terjadi kriptorkidisme.

Patofisiologi
Tidak terdapat preputium ventral sehingga preputium dorsal menjadi
berlebihan (dorsal hood) dan sering disertai dengan korde (penis
angulasi ke ventral). Biasanya disertai stenosis meatus uretra dan
anomali bawaan berupa testis maldesensus atau hernia inguinalis
Terapi
Tujuan utama penanganan operasi hipospadia adalah merekonstruksi
penis menjadi lurus dengan meatus uretra ditempat yang normal atau
dekat normal sehingga aliran kencing arahnya kedepan dan dapat
melakukan koitus dengan normal, prosedur operasi satu tahap pada
usia yang dini dengan komplikasi yang minimal.
Penyempurnaan tehnik operasi dan perawatan paska operasi
menjadi prioritas utama. Tindakan operasi harus dilakukan sebelum
anak memasuki usia sekolah. Diharapkan anak tidak malu dengan
keadaannya setelah tahu bahwa anak laki lain kalau BAK berdiri
sedangkan anak pengidap hipospadia harus jongkok seperti anak
perempuan (karena lubang keluar kencingnya berada di sebelahi
bagi bawah penis). Selain itu jika hipospadia ini tidak dioperasi,
maka setelah dewasa dia akan sulit untuk melakukan penetrasi /
coitus. Selain penis tidak dapat tegak dan lurus (pada hipospadia
penis bengkok akibat adanya chordae), lubang keluar sperma terletak
dibagian bawah.
Operasi Hipospadia dua tahap, tahap pertama dilakukan untuk
meluruskan penis supaya posisi meatus (lubang tempat keluar
kencing) nantinya letaknya lebih proksimal (lebih mendekati letak
yang normal), memobilisasi kulit dan preputium untuk menutup
bagian ventral / bawah penis. Tahap selanjutnya (tahap kedua)
dilakukan uretroplasti (pembuatan saluran kencing / uretra) sesudah 6
bulan.
Hipospadia sering disertai kelainan bawaan yang lain, misalnya
pada skrotum dapat berupa undescensus testis, monorchidism,
disgenesis testis dan hidrokele. Pada penis berupa propenil skrotum,
mikrophallus dan torsi penile, sedang kelainan ginjal dan ureter
berupa fused kidney, malrotasi renal, duplex dan refluk ureter.
Secara umum tekniknya terbagi menjadi operasi satu tahap dan
multi tahap. Operasi perbaikan komplikasi fistula dilakukan 6 bulan
paska operasi yang pertama.
Setelah menjalani operasi, perawatan paska operasi adalah tindakan
yang amat sangat penting. Orang tua harus dengan seksama

memperhatikan instruksi dari dokter bedah yang mengoperasi.


Biasanya pada lubang kencing baru (post uretroplasty) masih
dilindungi dengan kateter sampai luka betul-betul menyembuh dan
dapat dialiri oleh air.
kencing. Di bagian supra pubik (bawah perut) dipasang juga
kateter yang langsung menuju kandung kemih untuk mengalirkan air
kencing.
Tahapan penyembuhan biasanya kateter diatas di non fungsikan
terlebih dulu sampai seorang dokter yakin betul bahwa hasil
uretroplasty nya dapat berfungsi dengan baik. Baru setelah itu
kateter dilepas.
Komplikasi
Komplikasi paska operasi yang terjadi : 1. Edema/pembengkakan
yang terjadi akibat reaksi jaringan besarnya dapat bervariasi, juga
terbentuknya hematom/ kumpulan darah dibawah kulit, yang
biasanya dicegah dengan balut tekan selama 2 sampai 3 hari paska
operasi. 2. Fitula uretrokutan, merupakan komplikasi yang tersering
dan ini digunakan sebagai parameter untuk menilai keberhasilan
operasi. Pada prosedur operasi satu tahap saat ini angka kejadian
yang dapat diterima adalah 5-10% . 3. Striktur, pada proksimal
anastomosis yang kemungkinan disebabkan oleh angulasi dari
anastomosis.
4.
Divertikulum, terjadi pada pembentukan
neouretra yang terlalu lebar, atau adanya stenosis meatal yang
mengakibatkan dilatasi yang lanjut. 5. Residual chordee/rekuren
chordee, akibat dari rilis korde yang tidak sempurna, dimana tidak
melakukan ereksi artifisial saat operasi atau pembentukan skar yang
berlebihan di ventral penis walaupun sangat jarang. 6. Rambut dalam
uretra, yang dapat mengakibatkan infeksi saluran kencing berulang
atau pembentukan batu saat pubertas.
Untuk menilai hasil operasi hipospadia yang baik, selain
komplikasi fistula uretrokutaneus perlu diteliti kosmetik dan
'stream' (pancaran kencing) untuk melihat adanya stenosis, striktur
dan divertikel.
Prognosis
Baik bila dengan terapi yang adekuat yaitu dengan chordee adalah
dengan pelepasan chordee dan restrukturisasi lubang meatus melalui
pembedahan. Pembedahan harus dilakukan sebelum usia sekolah
untuk menahan berkemih (sekitar usia 2 tahun). Prepusium dipakai
untuk proses rekonstruksi, oleh karena itu bayi dengan hipospadia

tidak boleh di sirkumsisi. Chordee dapat juga terjadi tanpa hipospadia


dan diatasi dengan melepaskan jaringan fibrosa untuk memperbaiki
fungsi dan penampilan penis