Anda di halaman 1dari 7

Las SMAW (shielded metal arc welding), atau las busur elektroda terbungkus sering disebut

dengan nama las listrik. Las SMAW merupakan proses penyambungan dua buah keping logam
yang sejenis atau lebih dengan mengunakan sumber panas dari listrik dengan menggunakan
elektroda terbungkus sebagai bahan tambah atau pengisi sehingga akan membentuk sambungan
yang tetap. Prinsip kerja dari las SMAW ini yaitu saat ujung elektroda didekatkan pada benda
kerja terjadi panas listrik (busur listrik) yang membuat antara benda kerja dengan ujung
elektroda terbungkus tersebut mencair secara bersamaan. Dengan adanya pencairan ini maka
kampuh pada lasan akan terisi oleh cairan logam dari elektroda dan logam induk yang mencair
secara bersamaan. Elektroda sendiri merupakan kawat/logam yang terbungkus fluks. Fluks pada
elektroda berfungsi sebagai pemantap busur dan juga sebagai sumber terak (slag) yang akan
melindungi hasil las yang baru dari kontaminasi udara luar.

Pada saat proses pengelasan berlangsung pemindahan logam dari elektroda tergantung dari besar
kecilnya arus listrik yang digunakan. Apabila menggunakan arus yang besar maka butiranbutiran logam akan menjadi halus, tetapi sebaliknya apabila menggunakan arus yang yang kecil
pemindahan logam dari elektroda akan menjadi lebih besar.

Menurut Riswan Dwi Djatmiko, MPD pada Modul Teori Pengelasan Logam : 2008, secara
umum dapat dikatakan bahwa mempunyai sifat mampu las tinggi bila pemindahan terjadi dengan
butiran yang halus, sedangkan proses pemindahan dipengaruhi oleh besar kecilnya arus dan juga
oleh komposisi bahan pembungkus elektroda (fluks) yang digunakan.Dalam pengelasan
menggunakan mesin las SMAW pemilihan elektroda juga menjadi hal penting untuk
diperhatikan. Penggunaan elektroda disesuaikan dengan bahan yang akan dilas dan
ketebalan benda kerja serta kuat arus yang digunakan harus sesuai dengan
ketentuan agar menghasilkan mampu las yang baik.

Tentang Las Titik


Las titik adalah salah satujenis yang harus diketahui, las titik adalah jenis las resistansi
listrik yang dikembangkan setelah energi listrik dapat dipergunakan dengan mudah,
yang merupakan suatu teknik penyambungan yang ekonomis dan efisien khususnya
untuk pengerjaan logam plat. Pada las titik, benda kerja plat (logam) yang akan di
sambungkan di jepit dengan kawat las dari paduan tembaga dan kemudian dalam
waktu singkat dialirkan arus listrik yang besar. Karena aliran listrik antara kedua kawat
las tersebut harus melalui (logam) plat yang di jepit, maka timbul panas pada tempat
jepitan yang menyebabkan logam di tempat tersebut mencair dan tersambung. Pada
tempat kontak antara kawat las dan plat logam juga terjadi panas karena tahanan
listrik, tetapi tidak sampai mencairkan logam karena ujung-ujung kawat las
didinginkan.

Cara Kerja Las Titik


Cara kerja
las titik adalah, transformator dalam mesin las merubah tegangan arus bolak-balik dari 110 volt
atau 220 volt menjadi 4 volt sampai 12 volt maka arusnya menjadi cukup besar sehingga dapat
menimbulkan panas kemudian pelat logam yang dilas dijepit pada tempat sambungan dengan
sepasang kawat las dari paduan tembaga dan kemudian dalam waktu yang singkat dialiri arus
listrik yang cukup besar. maka pada tempat jepitan timbul panas karena tahanan listrik yang
menyebabkan logam mencair dan tersambung. Panas ini juga timbul di tempa kontak antara
kawat las dan pelat, tetapi tidak sampai mencairkan logam, karena ujung-ujung kawat las

didinginkan dengan air. saat aliran listrik dihentikan, maka logam yang mencair tadi akan
menjadi dingin dan terbentuk sambungan dibawah tekanan gaya kawat las agar tidak terjadi
busur antara kawat las dan sambungan.
Siklus Las Titik
Pada las titik, Siklus pengelasan dimulai saat proses waktu tekan atau disebut squezee
time adalah ketika kawat las menekan plat dimana arus belum dialirkan. Kemudian adalah proses
waktu pengelasan (heat or weld time) arus dialirkan ke kawat las sehingga timbul panas pada
pelat di posisi kawat las sehingga terbentuk sambungan las. Selanjutnya proses waktu tenggang
(hold time) saat arus dihentikan namun tekanan tetap ada. Kemudian logam dibiarkan mendingin
sampai sambungan menjadi kuat dan tekanan di hilangkan dan plat siap dipindahkan untuk
dilakukan proses pengelasan dimulai lagi untuk titik yang baru. Peralatan mesin las titik ada tiga
jenis yaitu : [1] mesin las titik tunggal stasioner, [2] mesin las titik tunggal yang dapat
dipindahkan dan [3] mesin las titik ganda. Mesin las stasioner dapat dibagi lagi atas jenis :
lengan ayun dan jenis tekanan langsung. Jenis lengan ayun merupakan jenis yang sederhana dan
mempunyai kapasitas kecil.
Las titik menggunakan panas dari arus listrik dan besarnya panas dapat di hitung dengan
menggunakan rumus :
H = I R t (2.1)
Dengan:
I = kuat arus listrik (Ampere)
H = jumlah panas yang dihasilkan (Joule)
t = waktu pengelasan (detik)
R = resistansi (ohm

Pengelasan merupakan penyambungan bahan yang didasarkan pada prinsip-prinsip ikatan


magnetik antar atom dari kedua bahan yang disambung. Kelebihan sambungan las adalah
konstruksi ringan, dapat menahan kekuatan yang tinggi, mudah pelaksanaannya, serta cukup
ekonomis. Namun kelemahan yang paling utama adalah terjadinya perubahan struktur mikro
bahan yang dilas, sehingga terjadi perubahan sifat fisik maupun mekanis dari bahan yang dilas.
Proses pengelasan logam secara makro diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu: (1) Liquid
state welding (LSW), dan (2) Solid state welding (SSW). LSW adalah proses pengelasan logam
yang dilakukan dalam keadaan cair, sedangkan SSW merupakan proses las di mana pada saat
pengelasan, logam dalam keadaan padat. Pengelasan logam secara LSW maupun SSW
mempunyai beberapa teknik/metode. Berbagai jenis las berdasarkan metode.
A. Las Kondisi Cair (Liquid State Welding)
1. Las Busur Listrik (Electric Arc Welding)
a) Las Flash Butt (Flash Butt Welding) Flash butt merupakan metode pengelasan yang dilakukan
dengan menggabungkan antara loncatan electron dengan tekanan, di mana benda kerja yang dilas
dipanasi dengan energi loncatan electron kemudian ditekan dengan alat sehingga bahan yang
dilas menyatu dengan baik.
b) Las Elektroda Terumpan (Consumable Electrode) Consumable electrode (elektroda terumpan)
adalah pengelasan dimana elektroda las juga berfungsi sebagai bahan tambah. Las elektroda
terumpan terdiri dari:
- Las MIG (Metal Inert Gas)dan Las MAG(Metal Active Gas) Las listrik MIG adalah juga las
busur listrik dimana panas yang ditimbulkan oleh busur listrik antara ujung elektroda dan bahan
dasar, karena adanya arus listrik dan menggunakan elektrodanya berupa gulungan kawat yang
berbentuk rol yang gerakannya diatur oleh pasangan roda gigi yang digerakkan oleh motor
listrik.
Kecepatan gerakan elektroda dapat diatur sesuai dengan keperluan. Tangkai Ias dilengkapi
dengan nosal logam untuk menyemburkan gas pelindung yang dialirkan dari botol gas malalui
selang gas.

- Las Listrik (Shielded Metal Arc Welding/SMAW) SMAW (Shielded Metal Arc Welding)
adalah proses pengelasan dengan mencairkan material dasar yang menggunakan panas dari
listrik melalui ujung elektroda dengan pelindung berupa flux atau slag yang ikut mencair ketika
pengelasan.Prinsip dari SMAW adalah menggunakan panas dari busur untuk mencairkan logam
dasar dan ujung sebuah consumable elektroda tertutup dengan tegangan listrik yang dipakai 2345 Volt, dan untuk pencairan digunakan arus listrik hingga 500 ampere yang umum digunakan
berkisar antara 80-200 ampere.
- Las Busur Terpendam (Submerged Arc Welding/SAW) Prinsip dasar pengelasan ini adalah
menggunakan arus listrik untuk menghasilkan busur (Arc) sehingga dapat melelehkan kawat
pengisi lasan (filler wire), dalam pengelasan SAW ini cairan logam lasan terendam dalam flux
yang melindunginya dari kontaminasi udara, yang kemudian flux tersebut akan membentuk terak
las (slag) yang cukup kuat untuk melindungi logam lasan hingga membeku.
c) Las Elektroda Tak Terumpan (Non Consumable Electrode) Non consumable electrode adalah
pengelasan dengan menggunakan elektroda, di mana elektroda tersebut tidak berfungsi sebagai
bahan tambah. Elektroda hanya berfungsi sebagai pembangkit nyalah listrik, sedangkan bahan
tambah digunakan filler metal.Non Consumable Electrode terdiri dari :
- Las TIG(Tungsten Inert Gas) Las TIG (Tungsten Inert Gas) adalah proses pengelasan
dimanabusur nyala listrik ditimbulkan oleh elektroda tungsten (elektroda tak terumpan) dengan
benda kerja logam. Daerah pengelasan dilindungioleh gas lindung (gas tidak aktif) agar tidak
berkontaminasi denganudara luar. Kawat las dapat ditambahkan atau tidak tergantung daribentuk
sambungan dan ketebalan benda kerja yang akan dilas.
- Las Plasma
2. Las Tahanan (Resistance Welding)
a) Las Titik (Spot Welding) Pengelasan dilakukan dengan mengaliri benda kerja dengan arus
listrik melalui elektroda, karena terjadi hambatan diantara kedua bahan yang disambung, maka
timbul panas yang dapat melelehkan permukaan bahan dan dengan tekanan akan terjadi
sambungan

b) Las Kelim ( Seam Welding) Ditinjau dari prinsip kerjanya, las kelim sama dengan las titik,
yang berbeda adalah bentuk elektrodanya. Elektroda las kelim berbentuk silinder.
c) Las Gas atau Las Karbit (Oxy-acetylene welding / OAW) Pengelasan dengan oksi - asetilin
adalah proses pengelasan secara manual dengan pemanasan permukaan logam yang akan dilas
atau disambung sampai mencair oleh nyala gas asetilin melalui pembakaran C2H2 dengan gas
O2 dengan atau tanpa logam pengisi.
d) Las Sinar Laser Pengelasan sinar laser adalah pengelasan yang memanfaaatkan gelombang
cahaya sinar laser yang dialirkan lurus kedepan tanpa penyebaran terhadap benda kerja sehingga
menghasilkan panas dan melelehkan logam yang akan dilas.
e) Las Sinar Elektron Prinsip kerjanya adalah adanya energi panas didapat dari energi sebuah
elektron yang di tumbukkan pada benda kerja, elektron yang dipancarkan oleh katoda ke anoda
difokuskan oleh lensa elektrik ke sistim defleksi. Sistim defleksi meneruskan sinar elektron yang
sudah fokus ke benda kerja. Sinar yang sudah fokus tersebut digunakan untuk melakukan
pengelasan benda kerja.
B. Las Kondisi Padat (Solid State Welding)
1) Friction Welding Friction welding atau las gesekan merupakan proses penyambungan logam
dengan memanfaatkan energi panas yang diakibatkan karena adanya gesekan dari dua material
yang akan disambung
2) Cold Welding Pengelasan dingin (Cold welding) adalah pengelasan yang dilakukan dalam
keadaan dingin. Yang dimaksud dingin di sini, bukan berarti tidak ada panas, panas dapat saja
terjadi dari proses tersebut, namun tidak melebihi suhu rekristalisasi logam yang dilas. Cold
Welding terdiri dari :
- Las Ultrasonik (Ultrasonic Welding / UW) Las ultrasonik adalah proses penyambungan padat
untuk logam-logam yang sejenis, maupun logam-logam berlainan jenis, dimana secara umum
bentuk sambungan nya adalah sambungan tindih. Energi getaran berfrekwensi tinggi mengenai
daerah las-las an dengan arah paralel dengan permukaan sambungan. Tegangan geser osilasi
pada permukaan las-lasan yang terjadi akibat pengaplikasian gaya, akan merusak dan merobek
lapisan oksida yang ada di ke-2 permukaan logam induk yang akan dilas.

- Las Ledakan ( Explosive Welding / EW) Las ledakan atau sering disebut las pembalutan
(clading welding), merupakan proses las dimana dua permukaan dijadikan satu dibawah
pengaruh tumbukan (impact force) disertai tekanan tinggi yang berasal dari ledakan (detonator)
yang ditempatkan dekat dengan logam induk.
3) Las Tempa Penyambungan logam dengan cara ini dilakukan dengan memanasi ujung logam
yang akan disambung kemudian ditempa, maka terjadilah sambungan. Panas yang dibutuhkan
sedikit di atas suhu rekristalisasi logam, sehingga logam masih dalam keadaan padat.