Anda di halaman 1dari 5

PERALIHAN HAK ATAS

SAHAM
Posted on October 22, 2014

Berikut prosedur peralihan Hak Milik Atas Saham dalam suatu Perseroan dan
hal-hal lain yang mesti diperhatikan dalam Anggaran Dasar Perseroan
terhadap Peralihan Hak Milik atas Saham tersebut berdasarkan UU Perseroan
Terbatas No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
1. Bagaimana cara mengalihkan hak milik atas saham?
Saham merupakan benda bergerak (Pasal 60 ayat (1) UU PT), maka
peralihan hak milik atas saham wajib memenuhi syarat:
1.

Pasal 55 UUPT:
Dalam Anggaran Dasar Perseroan ditentukan cara pemindahan
hak atas saham sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

2.

Pasal 56 ayat (1) UUPT:


Pemindahan hak atas saham atas nama dilakukan dengan akta
pemindahan hak.
Penjelasan Pasal 56 ayat (1) UUPT menyatakan bahwa yang
dimaksud dengan akta, baik berupa akta yang dibuat di
hadapan notaris maupun akta bawah tangan.

Di dalam Pasal 56 ayat (1) UUPT maupun penjelasan Pasal 56 ayat


(1) UUPT, tidak menyebutkan secara jelas, pemindahan hak atas
saham apa saja yang harus/wajb menggunakan akta notaris, dan
yang tidak harus/wajib menggunakan Akta Notaris.
2. Bagaimana dengan pemindahan hak atas saham dengan cara jualbeli, apakah wajib dituangkan ke dalam Akta Notaris?
Menurut Pasal 56 ayat (1) UUPT maupun penjelasan Pasal 56 ayat (1)
UUPT bahwa jual-beli saham tidak harus menggunakan Akta Notaris.
3. Bagaimana dengan pemindahan hak atas saham dengan cara
hibah, apakah wajib ditunagkan ke dalam Akta Notaris?
Menurut Pasal 56 ayat (1) UUPT maupun penjelasan Pasal 56 ayat (1)
UUPT bahwa Jual-Beli Saham tidak harus menggunakan Akta Notaris;
Akan tetapi jika mengacu kepada Pasal 55 UUPT dan Pasal 1682
KUHPerdata Tiada suatu penghibahan pun, kecuali penghibahan
termaksud dalam pasal 1687, dapat dilakukan tanpa akta notaris,

yang minut (naskah aslinya) harus disimpan pada notaris, dan bila
tidak dilakukan demikian, maka penghibahan itu tidak sah.
Dengan demikian pemindahan hak atas saham karena Hibah sesuai
dengan Pasal 1682 harus menggunakan Akta Notaris.
4. Setelah saham beralih kepemilikian, apakah terhadap perubahan
pemegang

saham

tersebut

harus/wajib

diberitahukan

kepada

Kemenkumham?
1.

Pasal 56 Ayat (2) UUPT:


Akta pemindahan hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
atau salinannya disampaikan secara tertulis kepada Perseroan.

2.

Pasal 56 Ayat (3):


Direksi wajib mencatat pemindahan hak atas saham, tanggal,
dan hari pemindahan hak tersebut dalam Daftar Pemegang
Saham atau daftar khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal
50

ayat

(1)

dan

ayat

(2)

dan memberitahukan perubahan

susunan pemegang saham kepada Menteri untuk dicatat dalam


daftar Perseroan paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung
sejak tanggal pencatatan pemindahan hak.
Penjelasan Pasal 56 ayat (3):
Yang dimaksud dengan memberitahukan perubahan susunan
pemegang

saham

kepada

Menteri

adalah

termasuk

juga

perubahan susunan pemegang saham yang disebabkan karena


Warisan, Pengambilalihan, atau Pemisahan.
5. Apa konsekuensi terhadap pihak ketiga, dalam hal Direksi telah
mencatatkan pemindahan hak atas saham di dalam Anggaran Dasar
Perseroan,

namun

tidak

memberitahukan

perubahan

susunan

pemegang saham kepada Menteri?


Jika ada suatu saham yang sudah terjual kepada pihak ketiga, maka wajib
bagi Direktur untuk mencatatkan pemindahan hak atas saham tersebut di
dalam Anggaran Dasar Perseroan, sehingga di dalam Anggaran Dasar terjadi
perubahan susuan pemegang saham, akan tetapi Direktur tidak wajib
memberitahukan perubahan susunan pemegang saham tersebut kepada
Menteri. Dengan tidak diberitahukannya perubahan pemegang saham
tersebut kepada Menteri bukan berarti hak-hak pemegang saham yang baru
tidak diakomodir oleh UUPT. Merujuk pada Pasal 48 ayat (1) UUPT bahwa
Saham Perseroan dikeluarkan atas nama pemiliknya. Walaupun demikian

ada

baiknya

Direktur

juga

memperhatikan Pasal

56

ayat

(4) yang

menyatakan dalam hal pemberitahuan sebagaimana Pasal 56 ayat (3)


belum

dilakukan,

pemberitahuan

Menteri

yang

menolak

dilaksanakan

permohonan

berdasarkan

persetujuan

susunan

dan

atau
nama

pemegang saham yang belum diberitahuan tersebut. Artinya jika ada suatu
saham yang ingin jual kemudian dibeli oleh pihak ketiga, namun perubahan
susunan pemegang sahamnya oleh Direksi tidak diberitahukan kepada
Menteri, maka jika saham tersebut ingin dijual lagi oleh pemiliknya yang baru
kepada pihak lain dan kemudian dibeli oleh pihak lain tersebut, maka jika
Direktur ingin memberitahukan perubahan susunan pemegang saham yang
baru, maka sesuai dengan Pasal 56 ayat (4) menteri menolak permohonan
persetujuan atau pemberitahuan tersebut.
6. Apa isi daftar pemegang saham atau daftar khusus?
Menurut Pasal 50:
(1) Direksi Perseroan wajib mengadakan dan menyimpan daftar
pemegang saham, yangmemuat sekurang-kurangnya:
1.

nama dan alamat pemegang saham;

2.

jumlah,

nomor,

tanggal

perolehan

saham

yang

dimiliki

pemegang saham, dan klasifikasinya dalam hal dikeluarkan


lebih dari satu klasifikasi saham;
3.

jumlah yang disetor atas setiap saham;

4.

nama dan alamat dari orang perseorangan atau badan hukum


yang mempunyai hak gadai atas saham atau sebagai penerima
jaminan fidusia saham dan tanggal perolehan hak gadai atau
tanggal pendaftaran jaminan fidusia tersebut;

5.

keterangan penyetoran saham dalam bentuk lain sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2).

(2) Selain daftar pemegang saham sebagaimana dimaksud pada ayat


(1), Direksi Perseroan wajib mengadakan dan menyimpan daftar
khusus yang memuat keterangan mengenai saham anggota Direksi
dan

Dewan

Komisaris

beserta

keluarganya

dalam

Perseroan

dan/atau pada Perseroan lain serta tanggal saham itu diperoleh.


(3) Dalam daftar pemegang saham dan daftar khusus sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dicatat juga setiap perubahan
kepemilikan saham.
(4)

Daftar

dimaksud

pemegang
pada

ayat

saham
(1)

dan

dan
ayat

daftar

khusus

sebagaimana

(2)

disediakan

di

tempat

kedudukan Perseroan agar dapat dilihat oleh para pemegang saham.

(5) Dalam hal peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal


tidak mengatur lain, ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), ayat (3), dan ayat (4) berlaku juga bagi Perseroan Terbuka.
7.

Apakah

suatu

saham

Perseroan

yang

akan

dijual

harus

mendapatkan persetujuan pemegang saham lainnya?


Dalam

Anggaran

Dasar

(Perseroan)

dapat

diatur

persyaratan

mengenai pemindahan hak atas saham (Pasal 57 Ayat (1) UUPT),


yaitu:
1.

keharusan menawarkan terlebih dahulu kepada pemegang


saham

dengan

klasifikasi

tertentu

atau

pemegang

saham

lainnya;
2.

keharusan mendapatkan persetujuan terlebih

dahulu

dari

Organ Perseroan; dan/atau


3.

keharusan

mendapatkan

persetujuan

terlebih

dahulu

dari

instansi yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan


perundang-undangan.
Ayat (2): Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
berlaku dalam hal pemindahan hak atas saham disebabkan peralihan
hak karena hukum, kecuali keharusan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf c berkenaan dengan kewarisan.
Penjelasan Pasal 57 ayat (2):
Yang dimaksud dengan peralihan hak karena hukum, antara lain
peralihan hak karena kewarisan atau peralihan hak sebagai akibat
Penggabungan, Peleburan, atau Pemisahan.
8. Apa bentuk keharusan mendapatkan persetujuan terlebih dahulu
dari Organ Perseroan?
Berdasarkan Pasal 59 UUPT bahwa:
(1) Pemberian persetujuan pemindahan hak atas saham yang
memerlukan persetujuan Organ Perseroan atau penolakannya harus
diberikan secara

tertulis dalam

jangka

waktu

paling

lama

90

(sembilan puluh) hari terhitung sejak tanggal Organ Perseroan


menerima permintaan persetujuan pemindahan hak tersebut.
(2) Dalam hal jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
telah

lewat

dan

OrganPerseroan

tidak

memberikan pernyataan

tertulis, Organ Perseroan dianggap menyetujuipemindahan hak atas


saham tersebut.
Berdasarkan Pasal 57 ayat (1) huruf bahwa suatu saham Perseroan
yang mau dijual harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu

dari Organ Perseroan, dan berdasarkan Pasal 59 ayat (1) dan (2)
menyatakan

bahwa persetujuan tersebut

harus

secaraterstulis. Namun, baik di dalam Pasal 57 ayat (1) beserta


penjelasan maupun Pasal 59 ayat (1) dan (2) beserta penjelasan
tidak

ada

yang

Perseroan

mana

menjelaskan
yang

persetujuan

dimaksud

oleh

tertulis

oleh

Pasal-Pasal

Organ

tersebut,

sementara itu Berdasarkan Pasal 1 angka 2 bahwa yang dimaksud


Organ Perseroan adalah:
1.

Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS);

2.

Direksi; dan

3.

Dewan Komisaris

Namun demikian, dapat diasumsikan bahwa yang dimaksud Organ


Perseroan oleh Pasal 57 maupun Pasal 59 adalah RUPS, karena
pemegang

sahamlah

sebagai Stakeholderterdepan

dalam

suatu

Perseroan.
Dengan demikian, ada 2 bentuk persetujuan dari Organ Perseroan
dalam

hal

memberikan

persetujuan

penjualan

suatu

saham

Perseroan:
1.

Notulensi RUPS; dan

2.

Surat pernyataan dari tiap-tiap pemegang saham berdasarkan


Circular Resulation.

Circular

Resulation

menyatakan

bahwa

diatur

Pemegang

di

dalam
saham

Pasal
dapat

91
juga

UUPT

yang

mengambil

keputusan yang mengikat di luar RUPS dengan syarat semua


pemegang saham dengan hak suara menyetujui secara tertulis
dengan menandatangani usul yang bersangkutan.
9. Kesimpulan
Bahwa Pengalihan hak milik atas saham dapat terjadi dengan
berbagai macam cara yang memungkinkan terjadinya peralihan hak
milik atas benda lainnya. Pada umumnya peralihan hak milik dapat
terjadi karena:
1.

Perjanjian, misalnya dalam bentuk jual-beli, tukar menukar,


atau hibah;

2.

Undang-Undang, misalnya dalam hal pewarisan;

3.

Karena putusan hakim yang berkekuatan hukum tetap ataupun


yang

dipersamakan

pelelangan[1].

dengan

itu

seperti

halnya

melalui