Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH BOTANI UMUM

MIKORIZA DAN BAKTERI PELARUT FOSFAT (BPF)

OLEH:
SADDAM NUR
NIM: 1527012

DOSEN PEMBIMBING :
RYAN BUDI SETIAWAN, SP., M.Si.,Apt

PROGRAM STUDI S1 AGROTEKNOLOGI


UNIVERSITAS PASIR PENGARAIAN
PASIR PENGARAIAN
2016

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur saya ucapkan kepada tuhan yang maha kuasa karena atas
petunjuk serta kemudahan yang di berikan oleh-Nya penulis dapat menyelesaikan
penyusunan makalah yang sederhana ini tanpa hambatan yang berarti. Dimana
dalam makalah Botani Umum ini penulis akan membahas dan menjelaskan
tentang Mikoriza dan Bakteri Pelarut Fosfat (BPF).
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang Botani
Umum, yang penulis sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber
informasi, referensi dan berita.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan
menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca. Penulis sadar bahwa makalah ini
masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu, kepada dosen
pembimbing kami meminta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah
kami di masa yang akan datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para
pembaca.
Pasir Pengaraian, Mei 2016

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................
DAFTAR ISI....................................................................................................
BAB 1...............................................................................................................
Pendahuluan.................................................................................................
1.1.Latar Belakang..................................................................................
1.2.Rumusan Masalah.............................................................................
1.3.Tujuan Penulisan...............................................................................
BAB II..............................................................................................................
2.1.Definisi Mikoriza..............................................................................
2.2.Ekologi Mikoriza dan simbiosisnya dengan tanaman.......................
2.3.pengelompokan Mikoriza..................................................................
2.4.Identifikasi dan Klasifikasi Genus Cendawan Mikoriza...................
2.5.Manfaat Mikoriza..............................................................................
2.6.Peranan Mikoriza..............................................................................
2.7.Definisi Bakteri Pelarut Fosfat..........................................................
2.8.Mekanisme Bakteri Pelarut Fosfat....................................................
2.9 .Pengaruh Mikroba Pelarut Terhadap Tanaman................................
BAB III............................................................................................................
Penutup.........................................................................................................
Kesimpulan..................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kondisi iklim di Indonesia seperti curah hujan dan suhu yang
tinggi, khususnya Indonesia bagian barat, menyebabkan tanahtanah di Indonesia didominasi oleh tanah berpelapukan lanjut
seperti Ultisol dan Oxisols. Tanahtanah ini secara alamiah
tergolong tanah marginal dan rapuh serta mudah terdegradasi
menjadi lahan kritis. Namun, degradasi lahan lebih banyak
disebabkan karena adanya pengaruh intervensi manusia dengan
pengelolaan yang tidak mempertimbangkan kemampuan dan
kesesuain lahan. Kemampuan tanah untuk mendukung kegiatan
usaha pertanian atau pemanfaatan tertentu bervariasi menurut
jenis tanah, tanaman dan faktor lingkungan. Oleh karenanya
npemanfaatan tanah ini harus hati-hati dan disesuaikan dengan
kemampuannya,

agar

tanah

dapat

dimanfaatkan

secara

berkelanjutan.
Data dari Direktorat Bina Rehabilitasi dan Pengembangan
Lahan tahun 1993 dalam Zaini et al (1996) menunjukkan bahwa
di Indonesia saat ini terdapat sekitar 7,5 juta ha lahan yang
tergolong potensial kritis, 6,0 juta ha semi kritis dan 4,9 juta ha
tergolong kritis. Data ini merupakan indikasi bahwa tingkat
pengelolaan lahan di Indonesia tergolong buruk.
Lingkungan tanah merupakan lingkungan yang terdiri dari
gabungan antara lingkungan abiotik dan lingkungan biotik.
gabungan dari kedua lingkungan ini menghasilkan suatu wilayah
yang dapat dijadikan sebagai tempat tinggal bagi beberapa jenis
makhluk hidup, salah satunya adalah mesofauna tanah. Tanah
dapat didefinisikan sebagai medium alami untuk pertumbuhan
tanaman yang tersusun atas mineral, bahan organik, dan

organisme hidup. Kegiatan biologis seperti pertumbuhan akar


dan

metabolisme

mikroba

dalam

tanah

berperan

dalam

membentuk tekstur dan kesuburannya. Akar tanaman biasanya


mengalami simbiosis dengan organisme lain. Mikoriza adalah
jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran
tanaman tingkat tinggi. Walau ada juga yang bersimbiosis
dengan rizoid (akar semu) jamur.
Indonesia sebagai negara agraris masih mengandalkan
pasokan

pupuk

untuk

meningkatkan

produksi

tanaman.

Kebutuhan pupuk setiap tahun semakin meningkat, padahal


hanya sebagian saja pupuk yang diberikan dapat dimanfaatkan
oleh tanaman. Seperti halnya pupuk P yang dipasok dalam
bentuk TSP, SP36 sebagian besar tidak dapat dimanfaatkan oleh
tanaman.
Mengapa tanaman tidak dapat memanfaatkan semua pupuk
P yang diberikan? Hal ini akibat kondisi tanah di Indonesia
(daerah tropis) yang kerap tercuci dari curah hujan tinggi. Hal itu
menyebabkan banyak unsur hara dalam bentuk kation-kation
basa tercuci, sehingga tanah banyak mengandung ion H+ dan
tanah menjadi masam.
Beberapa peneliti di bidang obtieknologi tanah sudah
memanfaatkan mikroba pelarut fosfat sebagai pupuk biologis
alias biofertiliser (mikroba yang dapat menyediakan hara untuk
pertumbuhan tanaman). Kelompok mikroba mikroba pelarut
fosfat tersebut berasal dari golongan bakteri (Pseudomonas,
Bacillus, Escherichia, Brevibacterium, dan Serratia) dan dari
golongan

cendawan

(Aspergillus,

Penicillium,

Culvularia,

Humicola, dan Phoma). Populasi mikroba tersebut dalam tanah


berkisar dari ratusan sampai puluhan ribu sel per gram tanah.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat diambil rumusan
masalahnya sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan mikoriza?
2. Apa saja penggolongan mikoriza?
3. Apa peranan dari mikoriza?
4. Apa yang dimaksud dengan bakteri pelarut fosfat?
5. Bagaimana mekanisme bakteri pelarut fosfat ?
6. Bagaimana pengaruh mikroba pelarut p terhadap tanaman?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan mikoriza.
2. Untuk mengetahui apa saja penggolongan mikoriza.
3. Untuk mengetahui apa peranan dari mikoriza.
4. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan bakteri pelarut fosfat.
5. Untuk mengetahui bagaimana mekanisme bakteri pelarut fosfat .
6. Untuk

mengetahuibagaimana pengaruh

terhadap tanaman.

mikroba

pelarut

BAB II
PEMBAHASAN
MIKORIZA
2.1. Definisi Mikoriza
Istilah Mikoriza berasal dari kata Miko (Mykes = cendawan)
dan Riza yang berarti Akar tanaman jadi secara harifiah mikoriza
memiliki arti akar jamur atau akar yang diliputi oleh jamur.
Asosiasi simbiotik antara jamur dengan akar tanaman yang
membentuk jalinan interaksi yang kompleks dikenal dengan
mikoriza yang biasa disebut juga akar jamur. Struktur yang
terbentuk dari asosiasi ini tersusun secara beraturan dan

memperlihatkan spektrum yang sangat luas baik dalam hal


tanaman

inang,

Mikoriza

merupakan

mencerminkan

jenis

cendawan
suatu

adanya

maupun

struktur

interaksi

penyebarannya.

yang

fungsional

khas
yang

yang
saling

menguntungkan antara suatu tumbuhan tertentu dengan satu


atau lebih galur mikobion dalam ruang dan waktu.
2.2. Ekologi Mikoriza dan Simbiosisnya dengan Tanaman.
Secara umum mikoriza hidup di daerah tropika. Kondisi
lingkungan tanah yang cocok untuk perkecambahan biji juga
cocok untuk perkecambahan spora mikoriza. Demikian pula
kindisi edafik yang dapat mendorong pertumbuhan akar juga
sesuai untuk perkembangan hifa. Jamur mikorizamempenetrasi
epidermis akar melalui tekanan mekanis dan aktivitas enzim,
yang selanjutnya tumbuh menuju korteks.
Pertumbuhan hifa secara eksternal terjadi jika hifa internal
tumbuh dari korteks melalui epidermis. Pertumbuhan hifa secara
eksternal

tersebut

terus

berlangsung

sampai

tidak

memungkinnya untuk terjadi pertumbuhan lagi. Bagi jamur


mikoriza, hifa eksternal berfungsi mendukung fungsi reproduksi
serta untuk transportasi karbon serta hara lainnya kedalam
spora, selain fungsinya untuk menyerap unsur hara dari dalam
tanah untuk digunakan oleh tanaman.
Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika dicirikan oleh
keragaman spesies yang sangat tinggi, khususnya dari jenis
ektomikoriza. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies
tumbuhan dan umur seragam sangat berpengaruh terhadap
jumlah

dan

lingkungan

keragaman
mulai

dari

mikoriza.

Akumulasi

penebangan

hutan,

perubahan
pembakaran,

kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi

propagula cendawan mikoriza. Efektivitas mikoriza dipengaruhi


oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik seperti
konsentrasi hara, pH, kadar air, temperatur, pengolahan tanah
dan penggunaan pupuk atau pestisida serta faktor biotik seperti
interaksi mikrobial, spesies cendawan, tumbuhan inang, tipe
perakaran tumbuhan inang dan kompetisi antara cendawan
mikoriza.
2.3. Pengelompokan Mikoriza
Secara

umum

mikoriza

digolongkan

menjadi

tipe

berdasarkan struktur tubuh dan cara infeksi terhadap tanaman


inang :
1. Ektomikoriza
Suatu perakaran ektomikoriza tidak memiliki rambut akar
dan tertutup oleh selapis atau selubung hifa jamur yang hampir
tampak mirip dengan jaringan inang. Lapisan tersebut disebut
selubung

pseudoparenkimatis.

Masing-masing

cabang

akar

diselubungi hifa cendawan (disebut mantel hifa), sehingga


ukuran akar tampak membesar. Hifa tumbuh memasuki korteks
dan

hanya

tinggal

di

lapisan

sel-sel

korteks

luar

untuk

membentuk jaring-jaring yang disebut jala hartig. Jala hartig


inilah yang berperan dalam mentranasportasikan seluruh nutrisi
yang diserap oleh mantel cendawan akar.
Pada umumnya, jamur yang terlibat dalam ektomikoriza
termasuk

Basidiomycetes

Amanitaceae,

Boletaceae,

Tricholomataceae,

yang

meliputi

Cortinariaceae,

Rhizopogonaceae

dan

famili-famili
Russulaceae,

Sclerodermataceae.

Jamur-jamur itu termasuk dalam genus-genus Amanita, Boletus,


Cantharellus, Cortinarius, Entoloma, Gomphidius, Hebeloma,
Inocybe, Lactarius, Paxillus, Russula, Rhizopogon, Scleroderma

dan

Cenococcum.

Pinaceae,

Terdapat

Salicaceae,

pula

ektomikoriza

Betulaceae,

Fagaceae,

pada

famili

Juglandaceae,

Cesalpinaceae, dan Tiliaceae. Beberapa genus seperti Pinus,


Picea, Abies, Pseudotsuga, Cedrus, Larix, Querqus, Castanea,
Fagus, Nothofagus, Betula, Alnusn, Salix, Carya, dan Populus
memiliki infeksi ektomikoriza.
2. Endomikoriza
Cendawan

yang

menginfeksi

tidak

menyebabkan

pembesaran akar. Jaringan hifa cendawan masuk ke dalam sel


korteks akar dan membentuk struktur khas berbentuk oval yang
disebut vesikel dan sistem percabangan hifa yang dichotomous
yang disebut arbuskul. Cendawan yang hidup intraselular ini
membentuk hubungan langsung antar sel-sel akar dan tanah
sekitarnya.Cendawan endomikoriza umumnya berasal dari ordo
Glomales

(Zygomycetes)

Glominae

dan

yang

Gigasporinae.

terbagi
Tipe

ke

dalam

cendawan

ini

subordo
wilayah

asosiasinya lebih luas, yaitu selain berasosiasi dengan jenis-jenis


pohon hutan yang dipakai untuk HTI dan reboisasi lainnya
(Acacia mangium, Switeniamacrophylla, Pterocarpussp, dll) juga
dapat

berasosiasi

dengan

berbagai

tanaman

pertanian,

hortikultura dan pastura (tanaman pakan ternak).


3. Ektendomikoriza
Infeksi hifa

dari cendawan

tipe ini memiliki

bentuk

intermediet dari ektomikoriza dan endomikoriza. Hifa cendawan


ektendomikoriza membentuk selubung tipis berupa jaringan
hartig pada akar. Selain menginfeksi dinding sel korteks, infeksi
juga terjadi pada sel-sel korteksnya. Penyebaran cendawan
terbatas pada tanah-tanah hutan.

2.4.

Identifikasi

Dan

Klasifikasi

Genus

Cendawan

Mikorhiza
Jamur

pembentuk

Basidiomycetesdiantaranya

ektomikorhiza
dari

generaAmanita,

biasanya
Boletus,

Laccaria, Pisolithus dan Scleroderma (Setiadi, 1989). Beberapa


jamur hanya spesifik untuk satu inang, sedangkan yang lain
mempunyai rentangan inang yang luas. Identifikasi Cendawan
MikorhizaArbuskular (CMA) secara sederhana dapat dilakukan
dengan mengamati spora yang dihasilkan dari masing-masing
jenis CMA, yaitu dengan mengamati secara morfologi. Hal ini
dikarenakan setiap jenis spora CMA memiliki struktur yang
berbeda satu dengan lainnya. Cendawan Mikorhiza Arbuskular
(CMA), yang ditemukan dapat menginfeksi tanaman, terdapat 6
genus :
1. Glomus
Spora Glomus merupakan hasil dari perkembangan hifa,
dimana ujung dari hifa akan mengalami pembengkakan hingga
terbentuklah spora. Perkembangan spora yang berasal dari hifa
inilah yang dinamakan Chlamidospora. Pada Glomus juga dikenal
struktur yang dinamakan sporocarp. Sporocarp ini merupakan
hifa yang bercabang sehingga membentuk chlamidospora.

Glomus sp., spore of an AMF

Glomus sporocarps
P.McGee

Arbuscule in Glomus Mossae in root cel

2. Sclerocystis
Perkembangan antara spora Sclerocystis sama dengan
spora

Glomus

yaitu

dari

ujung

hifa

yang

mengalami

pembengkakkan. Ujung hifa dari Sclerocystis memiliki banyak

cabang dan tiap-tiap cabang tersebut membentuk chlamidospora


hingga terbentuk sporocarpdimana apabila dibelah akan terlihat
bentuknya seperti belahan jeruk. Sporocarp biasanya berbentuk
globose atau subglobose.
3. Gigaspora
Struktur

spora

yang

terbentuk

biasanya

globose,

subglobose namun sering berbentuk ovoid, pyriformis atau


irregular. Spora pada genus Gigaspora ini terbentuk pada
mulanya berasal dari ujung hifa (subtending hifa) yang membulat
yang disebut suspensor, kemudian di atas bulboursuspensor
tersebut terbentuk bulatan kecil yang terus-menerus membesar
dan

akhirnya

terbentuk

bulatan

kecil

yang

terus-menerus

membesar dan akhirnya terbentuklah struktur yang dinamakan


spora. Karena spora tersebut terbentuk dari suspensor maka
dinamakan azygospora.
4. Scutellospora
Struktur spora yang terbentuk biasanya globose atau
subglobose tetapi sering berbentuk ovoid, obovoid, pyriformis
atau irregular. Proses terbentuknya spora pada Scutellospora
sama dengan pembentukkan spora pada genus Gigaspora.
Namun yang membedakan dengan genus Gigaspora adalah pada
Scutellospora

terdapat

germinationshield,

dan

pada

saat

berkecambah hifa akan keluar dari germinationshield tersebut.


5. Acaulospora
Spora

terbentuk

di

tanah,

memiliki

bentuk

globose,

subglobose, ellipsoid maupun fusiformis. Pada awalnya proses


dari pembentukkan spora seolah-olah dimulai dari hifa, namun
sebenarnya

bukanlah

dari

hifa.

Pada

awalnya

terjadi

pembengkakkan ujung hifa yang strukturnya mirip spora yang


dibuat hifa terminus. Kemudian muncul bulatan kecil yang

terbentuk diantara hifa terminus dan subtending hifa, selama


proses pembentukkan spora, hifa terminus tersebut akan rusak
dan di dalamnya terdapat spora. Pada spora yang telah masak
terdapat satu lubang yang dinamakan ciatric.

Spore of a species of Acaulospora.

6. Enterophospora
Proses pembentukkan spora Enterophospora hampir sama
dengan proses pembentukkan spora pada Acaulospora. Yang
membedakan keduanya adalah pada proses perkembangan
azygospora berada di dalam, sehingga akan terbentuk dua
lubang yang simetris pada spora yang telah matang.
2.5. Manfaat Mikoriza
Sedikitnya

ada

lima

hal

yang

dapat

membantu

perkembangan tumbuhan dengan adanya mikoriza, yaitu :


1. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam
tanah
2. Mikoriza

dapat

berperan

sebagai

penghalang

biologi

terhadap infeksi patogen akar


3. Mikoriza meningkatkan ketahanan tumbuhan terhadap
kekeringan dan kelembaban yang ekstrim
4. Mikoriza meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan
zat pengatur tumbuh lainnya seperti auksin
5. Menjamin terselenggaranya proses biogeokimia
Mikoriza juga mempunyai manfaat yang besar untuk
pembangunan hutan terutama pada lahan kritis atau marginal.

Manfaat

tersebut

yaitu

mikoriza

sebagai

biofertilizer

bagi

tanaman kehutanan serta sebagai biokontrol tanaman terhadap


kekeringan, keracunan logam berat dan patogen.
2.5.1.

Mikoriza

sebagai

Biofertilizer

bagi

Tanaman

Kehutanan
Para peneliti telah banyak membuktikan bahwa cendawan
ini mampu meningkatkan penyerapan unsur hara (terutama
fosfat) dan beberapa hara mikro. Kebanyakan akar tanaman
yang berasosiasi dengan cendawan yang membentuk mikoriza
dan sebagai simbiosis diketahui meningkatkan hara fosfat
tanaman. Cendawan mikorizaarbuskula (CMA) yang menginfeksi
sistem perakaran tanaman inang akan memproduksi jalinan hifa
secara intensif sehingga tanaman bermikoriza akan mampu
meningkatkan kapasitasnya dalam menyerap unsur hara dan air.
Fosfat adalah unsur hara utama yang mampu diserap oleh
tanaman bermikoriza. Selain itu dapat juga menyerap NH dan
juga unsur-unsur mikro seperti Cu, Zn, dan Mo.
2.5.2. Mikoriza sebagai Biokontrol Tanaman Terhadap
Kekeringan
Asosiasi

cendawan

arbuskular-veskularmikoriza

(VAM)

dapat memodulasi (mengatur) ketahanan tanaman inangnya


terhadap berbagai osmotik, elastisitas dinding sel yang berubahubah atau kandungan air yang sympastis. Selain telah pula
dibuktikan bahwa VAM mampu memanen air di bawah titik layu
permanen, dimana air sangat terbatas dan tidak tersedia bagi
tanaman nonmikoriza. Kemampuan hifa memasuki pori-pori
tanah yang paling kecil dimana akar sudah tidak bisa menembus
dan menjangkau air tersebut menyebabkan tanaman bermikoriza
selalu mendapatkan air meskipun dalam suasana kekeringan.

2.5.3. Mikoriza sebagai Biokontrol Tanaman Terhadap


Patogen
Struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi
bagi terjadinya patogen akar. Mekanisme perlindungan dapat
diterangkan sebagai berikut :
1. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai
barier masuknya patogen.
2. Mikoriza
menggunakan
karbohidrat

dan

hampir

eksudat

semua

lainnya,

kelebihan

sehingga

tercipta

lingkungan yang tidak cocok untuk patogen.


3. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang
dapat mematikan patogen.
4. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza,
tidak

dapat

diinfeksi

oleh

cendawan

patogen

untuk

menunjukkan adanya kompetisi. Peranan lain dari mikoriza


dalam pertumbuhan tumbuhan adalah sebagai produsen
hormon dan zat pengatur tumbuh. Berdasarkan hasil
penelitian, didapatkan informasi bahwa cendawan mikoriza
dapat menghasilkan hormon seperti sitokinin, giberelin dan
hasil

metabolisme

cendawan

mikoriza

yang

berupa

vitamin. Mikoriza pun mampu menggantikan kebutuhan


pupuk,

tidak

menyebabkan

pencemaran

lingkungan

sehingga aman bagi ekosistem, membantu tanaman untuk


beradaptasi

dengan

pH

rendah,

merahabilitas

atau

mereklamasi daerah bekas tambang, serta melindungi


tanaman terhadap toksisitas logam berat karena logam
berat akan diserap oleh hifa cendawan.

2.6. Peranan Mikoriza

2.6.1. Peranan Ektomikoriza

Peningkatan unsur hara.


Ketahanan terhadap kekeringan.
Ketahanan serangan patogen tanah.
Berpotensi untuk pembangunan hutan industry.

2.6.2. Peranan Endomikoriza

Meningkatkan pertumbuhan tanaman


Meningkatkan produktivita
Mengurangi kebutuhan pemupukan fosfat
Memproduksi bunga lebih awa
Memperpanjang masa pembungaan, pada tanaman hias.

BAKTERI PELARUT FOSFAT (BPF)


2.7. Definisi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF)

Bakteri

pelarut

fosfat

(BPF)

merupakan

kelompok

mikroorganisme tanah yang berkemampuan melarutkan P yang


terfiksasi dalam tanah dan mengubahnya menjadi bentuk yang
tersedia

sehingga

dapat

diserap

tanaman.

Mikroorganisme

pelarut fosfat ini dapat berupa bakteri (Pseudomonas, Bacillus,


Escheria, Actinomycetes, dan lain lain). Sekitar sepersepuluh
sampai setengah jumlah baketri yang diisolasi dari tanah mampu
melarutkan fosfat, jumlah bakteri tersebut berkisar 105 107 per
gram tanah adan banayk dijumpai di daearah perakaran
tanaman. Menurut Rodriquezz dan Fraga (1999) dari beberapa
strain

bakteri,

ternyata

genus

Pseudomonas

dan

Bacillus

mempunyai kemampuan yang tinggi dalam melarutkan fosfat.

Bacillus polymyxa
Pseudomonas

merupakan

bakteri

berbentuk

batang

dengan ukuran sel 0.5 1.0 x 1.5 5.0 m, motil dengan satu
atau lebih flagella, gram negatif, aerob , tidak membentuk spora
dan katalase positif, menggunakan H2, atau karbon sebagai
sumber energinya, beberapa spesies bersifat patogen bagai
tanaman, kebanyakan tidak dapat tumbuh pada kondisi masam
(pH 4.5) (Holt et al., 1994). Karakteristik P. Fluorescens yang
merupakan salah satu spesies dari Genus Pseudomonas dengan
taksonomi sbb :

Kingdom: Bacteria
Phylum: Proteobacteria
Class: Gamma Proteobacteria
Order: Pseudomonadales
Family: Pseudomonadaceae
Genus: Pseudomonas
Species: P. Fluorescens

A scanning electron micrograph of the aerobic soil bacterium Pseudomonas


fluorescens. The bacterium uses its long, whiplike flagellae to propel itself
through the water layer that surrounds soil particles. (Reproduced by permission
of

2.8. Mekanisme Kerja Bakteri Pelarut Fosfat (BPF)


Mekanisme kerja BPF sehingga mampu melarutkan P tanah
dan P asal pupuk yang diberikan diduga didasarkan pada sistem
sekresi bakteri berupa asam organik, meningkatnya asam
organik biasanya diikuti dengan pembentukan kelat dari Ca
dengan asam organik tersebut sehingga P dapat larut dan P
tersedia tanah meningkat. Mekanisme mikroorganisme dalam
melarutkan P tanah yang terikat dan P yang berasal dari alam
diduga karena asam-asam organik yang dihasilkan akan bereaksi
dengan AlPO4, FePO4, dan Ca(PO4)2, dari reaksi tersebut

terbentuk khelat organik dari Al, Fe, dan Ca sehingga P


terbebaskan dan larut serta tersedia untuk tanaman.
IIImer dan Schinner (1995) menyatakan bahwa mekanisme
pelarutan fosfat dari bahan yang sukar larut banyak dikaitkan
dengan

aktivitas

mikroba

yang

mempunyai

kemampuan

menghasilkan enzim fosfatase, fitase, dan asam organik hasil


metabolisme seperti asam asetat, propionat, glikolat, fumarat,
oksalat, suksinat, tartrat, sitrat, laktat, dan ketoglutarat. Tetapi
pelarutan P dapat pula dilakukan oleh mikroorganisme yang tidak
menghasilkan asam organik, yaitu melalui, yaitu melalui: (1)
mekanisme pelepasan proton (ion H+) pada proses respirasi, (2)
asimilasi amonium (NH4 +), dan (3) adanya kompetisi antara
anion organik dengan ortofosfat pada permukaan koloid yang
dapat pula menyebabkan terjadinya movilizis ortofosfat (IIImer
dan Schinner).
Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan
dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2, FePO4, AlPO4,
apatit, batuan P dan komponen P-anorganik lainnya sebagai
sumber P. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus
niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan
bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah
mengandung jasad pelarut fosfat. Aspergillus niger tersebut
dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk
pelet.

Gambar: Bakteri yang unggul melarutkan fosfat


2.8.1. Jamur dan Mikoriza Arbuskular
Tanah tropis biasanya daya meresapnya cukup tinggi dan
miskin unsur P tersedia serta hara tanaman lainnya. Peningkatan
efisiensi pengambilan hara oleh MVA menyebabkan perbaikan
hasil tanaman pada kondisi tersebut. Fungi mikoriza yang
berasosiasi dapat melarutkan fosfat. Adanya MVA pada akar
tanaman, luas permukaan serapan akar tanaman diperluas dan
jangkauan akar untuk mengambil hara diperpanjang. Hal ini
berdampak lebih banyak zat hara yang dapat diserap seperti P,
Zn, dan Cu yang memang tidak mobil dapat dijangkau oleh hifa
eksternal MVA. Sebagaian dari P, Zn, dan Cu dimanfaatkan oleh
MVA

sendiri

untuk

pertumbuhan

dan

perkembangannya,

sebagian lagi diberikan kepada tanaman inangnya. Sebagian


fotosintat yang dihasilkan oleh tanaman inang bahkan lebih
banyak daripada akenutuhan akar disalurkan kenakar
dan dipergunakan oleh MVA sebagai sumber energi untuk
menyerap P, Zn, dan Cu.

Pertukaran makanan dalam simbiosis G.pyriformis berhubungan dengan


mikoriza arbuskular. Beberapa mikoriza arbuskular memindahkan fosfat
spesifik yang diketahui dari tanaman. Dalam pengambilan gula melalui
simbiosis jamur membran glomeromycotan mengindikasikan kebersamaan
dengan substrat GpMST1 (fruktosa dan diduga xylose ditransportasikan secara
lemah.

Ada
berperan

beberapa
penting

indikasi

dalam

menunjukkan

interaksi

antara

bahwa
akar

bakteri

dan

AMF

(arbuscular mycorrhizal fungi) (Fester et al, 1999).Interaksi


antara bakteri pelarut fosfat dan AMF dapat juga menaikkan
keberadaan

AMF

(Toro

et

al.

1997)Berdasarkan

penelitian

Johansson et al. (2004) ada pengertian lebih baik mengenai


interaksi AMF dan mikroorganisme lainnya yang penting untuk
perkembangan

manajemen

berkelanjutan

dalam

kesuburan

tanah, produksi tanaman dan mungkin pergantian tanaman pada


area reklamasi. Walaupun potensi yang nyata ada untuk
mengembangkan pelarut dan AMF seperti inokulan, apliksi yang
luas masih terbatas terutama disebabkan oleh pengetahuan
ekologi mikrobia yang masih terbatas dan populasi dinamis di
dalam tanah.

Gambar 2. Endomikoriza Gambar


unggul
melarutkan fosfat yang
melarutkan fosfat.
2.9.

PENGARUH

MIKROBA

3. Jamur yang
dapat

PELARUT

TERHADAP

TANAMAN
Beberapa tanaman yang pernah digunakan sebagai bahan
percobaan untuk menguji pengaruh mikroba pelarut fosfat anatar
lain adalah gandum, bit gula, kubis, tomat, barlei, jagung,
kentan, padi, kedelai, kacang panjang dan tebu. (Ahmad dan
Jha(1982)

mencoba

B.megaterium

dan

B,.

circulans

pada

tanaman kedelai. B. Megaterium mampu meningkatkan serapan


P atnaman kedelai berturut-turut sebanyak 7 dan 10% jika
digunakan pupuk TSP, serta meningkatkan 34 dan 18% jika
digunakan batuan fosfat.

Kundu

dan

Gaur

(1980)

pada

atamnan

gandum,

mengkombinasikan bakteri pelarut P (B.polymixa dan P. striata)


dengan baketri penambat N2 udara (Azotobacter chrococcum).
Ternyata bakteri pelarut P dapat menstimulir npertumbuhan
A.chrococcum, tetapi bakteri penambat N tidak mempengaruhi
bakteri pelarut P. Kombinsi ketiga inokulan tersebut mampu
meningkatkan hasil gandum dua sampai lima kali lipat.

Gambar : Pseudomonas putida


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Mikoriza

merupakan

suatu

struktur

yang

khas

yang

mencerminkan adanya interaksi fungsional yang saling


menguntungkan antara suatu tumbuhan tertentu dengan
satu atau lebih galur mikobion dalam ruang dan waktu.

Secara

umum

mikoriza

digolongkan

menjadi

tipe

berdasarkan struktur tubuh dan cara infeksi terhadap


tanaman

inang

Ektendomikoriza.
Bakteri pelarut

Eksomikoriza,

fosfat

(BPF)

Endomikoriza

merupakan

dan

kelompok

mikroorganisme tanah yang berkemampuan melarutkan P

yang terfiksasi dalam tanah dan mengubahnya menjadi


bentuk yang tersedia sehingga dapat diserap tanaman.
Mikroorganisme pelarut fosfat ini dapat berupa bakteri
(Pseudomonas, Bacillus, Escheria, Actinomycetes, dan lain
lain).
Mekanisme pelarutan fosfat dari bahan yang sukar larut

banyak

dikaitkan

dengan

aktivitas

mikroba

yang

mempunyai kemampuan menghasilkan enzim fosfatase,


fitase, dan asam organik hasil metabolisme seperti asam
asetat, propionat, glikolat, fumarat, oksalat, suksinat,
tartrat, sitrat, laktat, dan ketoglutarat.

DAFTAR PUSTAKA

Anas,

Iswandi.

Laboratorium

1993.

Pupuk

Biologi

Hayati

Tanah,

(Biofertilizer).

Jurusan

Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Tanah,

Bogor:
Fakultas

Dewi

.I.R.

2007.

Bakteri

Pelarut

Fosfat

(BPF).

http://makalah_bakteri_pelarut
_fosfat.pdf. Diakses tanggal 6 Mei 2016
Mieke R. Setiawati . 2005. Pupuk Biologis Dari Mikroba Pelarut
Fosfat.
http://www.pikiran-rakyat.com. Diakses tanggal 6 mei 2016
Munawir. 2008. Sebaran Infeksi Mikoriza pada Akar Macodessp di
Kawasan Panaruban Subang Jawa Barat. Laporan Kerja
Praktek. Jatinangor: Jurusan Biologi, Universitas Padjadjaran.
Pujiyanto. 2001. Pemanfatan Jasad Mikro, Jamu Mikoriza dan
Bakteri Dalam Sistem Pertanian Berkelanjutan Di Indonesia:
Tinjauan Dari Perspektif Falsafah Sains. Makalah Falsafah
Sains Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor
Rao, N.S Subba.1994. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan
Tanaman. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.
Santosa, Dwi Andreas. 1989. Teknik dan Metode Penelitian
MikorisaVesikular-Arbuskular.

Laboraturium Biologi Tanah

Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.


Bogor