Anda di halaman 1dari 8

Akuntansi Perpajakan

MODAL SENDIRI DAN EKUITAS


Oleh:
Nindy Meiza Utari ( 1210533029 )
A. Modal Saham
Modal saham merupakan bagian dari ekuitas suatu perseroan terbatas

yang

dikontribusikan pemilik. Ekuitas merupakan bagian hak dari pemilik perusahaan sebesar
selisih antara aktiva dan kewajiban yang ada yang terdiri dari setoran pemilik, saldo laba,
selisih penilaian kembali aktiva, sumbangan dan unsur lainnya. Jenis saham meliputi saham
biasa dan saham preferen. Saham preferen memberikan hak preferensi kepada pemegang
saham, berupa:
a. Pembagian aktiva lebih dulu pada saat likuidasi
b. pembagian deviden
c. convertible
d. dapat ditebus kembali
Agio merupakan selisih lebih antara nilai nominal dan harga pasar sedangkan
Disagio adalah selisish kurang antara nilai nominal dan harga pasar. Untuk pembayaran harga
saham dapat dilakukan secara tunai, angsuran, penukaran dengan saham perusahaan lain
(share swap) atau harta yang lain (asset swap).
Treasury Stock Pembelian kembali saham oleh perusahaaan penerbit saham tersebut
Pencatatan treasury stock:
-

Cost method : sebesar jumlah yang semula diterima apabila saham itu akan

dikeluarkan lagi
Par value method : apabila saham dianggap ditarik dari peredaran

Penerimaan dari treasury stock dapat dianggap sebagai deviden apabila:


a. Dalam tahun lampau diperoleh laba
b. Kelebihan penerimaan diatas harga perolehannya
Untuk membantu likuiditas perusahaan atau pengakuan penilaian aktiva terlalu
tinggi, pemegang saham dapat menyerahkan kembali sahamnya (sebagai hibah, donasi atau
bantuan) kepada perusahaan. Dalam ketentuan perpajakan pemberian hibah saham oleh
1

persero kepada badan penerbit saham mempunyai dua dimensi pemajakan yaitu
mendatangkan keuntungan bagi penghibah dan secara implisit merupakan penghasilan bagi
badan penerima hibah.
Saham preferen dapat ditukar dengan saham biasa, maka selisih Nilai Buku saham
preferen (nominal + agio) dengan Nilai Nominal saham biasa merupakan agio saham biasa
(kalau lebih besar) atau dibebankan ke laba yang ditahan (kalau lebih rendah).
Contoh:
PT Iwan mempunyai 1000 lembar saham prioritas convertible dengan harga nominal
@Rp.10.000.000. Agio saham Rp. 2.500.000. Pada 2 Januari 2000 diumumkan saham itu
dapatditukarkan dengan saham biasa dengan nilai nominal @ 5.000.000, dengan proporsi 1
lb saham prioritas mendapat 3 lb saham biasa.
Pencatatan oleh PT Iwan
Modal saham prioritas
10.000.000
Agio saham prioritas
2.500.000
Laba ditahan
2.500.000
Saham biasa (3.000 x 5.000)

15.000.000

Untuk tujuan pajak pembebanan kepada laba ditahan 2.500.000 dianggap sebagai
pembagian deviden kepadapemegang saham prioritas. PT Iwan harus memotong PPh pasal
23 sebesar 15%, kecuali pemegang saham itu sebuah badan dan penerima saham
memperhitungkan dividen 2.500.000 dan mengkreditkan PPh pasal 23.
B. Modal Perusahaan selain Badan Hukum
Ditinjau dari bentuk hukum perusahaan WP dapat membentuk perusahaan perorangan
(WP OP yang menjalankan usaha atau melakukan pekerjaan bebas), persekutuan, firma,
kongsi, koperasi, perkumpulan, yayasan, organisasi masa, organisasi sosial lainnya, serta
BUT. Sama halnya dengan modal saham, setoran modal pemilik usaha, sekutu dan anggota
firma, kongsi, anggota koperasi dan sumbangan harta yang disisihkan untuk yayasan untuk
tujuan pajak dicatat menurut nilai pasarnya dan selisih nilai pasar diatas nilai buku dihitung
sebagai keuntungan pengalihan dan menjadi pajak. Berbeda dengan dividen, pembagian laba
setelah pajak dari persekutuan, kongsi dan firma serta perkumpulan bukan merupakan obyek
pajak.

Jika saham dapat dijualbelikan tanpa membubarkan badan hukum, penjualan


kepemilikan pada persekutuan, firma dan kongsi menyebabkan bubarnyapersekutuan dan
lainnya tersebut secara hukum. Pembayaran kepada sekutu yang mengundurkan diri dapat
dilakukan oleh sekutu lama atau sekutu baru.
C. Saldo Laba dan Distribusi Laba
1. Saldo Laba (laba ditahan)
PSAK No. 21 menyatakan saldo laba menunjukkan akumulasi hasil usaha periodik
setelah memperhitungkan pembagian deviden dan koreksi laba periode lalu.
- sumber hasil laba-rugi perusahaan
- sumber dari hasil operasi perusahaan : earning & profit (penghasilan & laba)
Contoh:
PT Darma dalam tahun 2000 memperoleh penghasilan kena pajak Rp. 100.000.000.
Penghasilanitu diperoleh setelah eliminasi penghasilan antar badan Rp. 34.000.000 dan
pengeluaran untuk karyawan yang berupa fasilitas dan kenikmatan Rp 20.000.000
Untuk keperluan perpajakan, penghasilan dan laba 2000 PT Darma yang dapat
ditransfer ke saldo laba dihitung sbb:
Penghasilan kena pajak
Pajak penghasilan
Penghasilan bukan objek pajak
Pengeluaran bukan pengurang PKP
Penghasilan dan laba

Rp. 100.000.000
21.250.000
78.750.000
34.000.000 +
112.750.000
20.000.000
92.750.000

Konsep earning and profit ini merupakan pendekatan ekstra komptabel untuk
menghitungbesar saldo laba yang tersedia untuk pembagian deviden.
2. Distribusi Laba
Distribusi laba kepada pemegang saham disebut dividen. Distribusi dividen
menyebabkan berkurangnya jumlah saldo laba. Pengecualian terhadap dividen saham dalam
bentuk pemecahan saham, dividen likuidas, pembagian lainnya yang bukan merupakan
dividen dalam pengertian akuntansi komersial,tetapi diperlakukan seperti itu dalam
perpajakan.
Pengertian deviden dalam perpajakan:
a. Pencatatan tambahan modal yang dilakukan tanpa penyetoran
3

b. Penerimaan atau perolehan dari pembelian kembali sebagian atau seluruh saham yang
disetor
c. Pembayaran kembali sebagian atau seluruh penyetoran modal, sepanjang terdapat laba
daritahun-tahun lampau, kecuali dalam pengecilan modal statuter
d. Pembayaran kepada atau penerbitan tanda-tanda laba
e. Laba yang dibagikan kepada pemegang obligasi yang berpartisipasi dalam laba
f. Pengeluaran perusahaan untuk keperluan pribadi persero yang dibebankan sebagai
biayaperusahaan
Ada tiga tanggal yang dipertimbangkan dalam pembagian deviden yaitu Tanggal
pengumuman, pendaftaran, dan pembayaran. Deviden secara resmi terhutang saat dilakukan
pengumuan pembagian deviden
Contoh: Tanggal 20 Desember 2000 PT Darma mengumumkan akan membagi deviden
sejumlah Rp.10.000.000. Pada tanggal 5 Januari 2001 dividen dibayar tunai. Pencatatan:
a. 20 Desember
Saldo laba
10.000.000
Utang deviden
Utang PPh pasal 23
b. 5 Januari
Utang dividen
8.500.000
Utang PPh pasal
Kas

8.500.000
1.500.000
1.500.000
10.000.000

Kalau pada contoh diatas dividen tidak dibayar tunai, tetapi dilunasi dengan
penyerahan sekuritas PT Q yang mempunyai nilai nominal Rp. 10.00.000 dengan kurs 110
(semula diperoleh dengan kurs 105) maka pencatatan berdasarkan nilai pasar tampak
sebagai berikut:
Investasi sekuritas PT Q
Laba atas investasi sekuritas

500.000
500.000

Saldo laba
Hutang deviden

11.000.000

Hutang deviden
Investasi sekuritas PT Q

11.000.000

11.000.000
11.000.000

Contoh: PT Darma membagikan deviden yang berupa treasury stock dengan harga pasar
Rp. 11.500.000. Harga perolehan saham itu Rp. 10.500.000. Pencatatan yang dibuat oleh
badan (tanpa memperhatikan PPh pasal 23 dan pasal 26) sebagai berikut:
4

Saldo laba
11.500.000
Treasury stock
10.500.000
Agio saham transaksi TS
1.000.000
D. Right, Warrant, dan Opsi atas Saham
Perusahaan yang berkeinginan melakukan emisi saham dapat memberikan
kesempatan pertama untuk membeli saham kepada pemegang saham lama (dalam bentuk
pre-emptive stock right), pemegang sekuritas yang lain dan opsi kepada pejabat atau
karyawan perusahaan. Penerbitan right dicatat dalam memorial. Bagi investor, pengumuman
right secara komersial diikuti dengan relokasi biaya (harga) perolehan saham. Harga
perolehan relokasi dipakai sebagai unsur penambah harga saham baru
Contoh: PT Iwan memiliki 100 lembar saham PT Andi (dari total 1000 lembar). Nilai
Nominal saham Rp. 10.000 dan dibeli dengan harga Rp. 18.000 per lembar. PT Andi
mengumumkan tiap 4 lembar saham lama dapat membeli 1 lembar saham emisi baru dengan
harga Rp. 11.000. Saham lama dijual di pasar dengan harga sebesar Rp. 14.500 (tanpa right),
sedangkan right dapat dijual dengan harga Rp. Rp. 500. Alokasi harga perolehan yang
dilakukan PT Iwan sebagai berikut:
a. Right = 500/(14.500 + 500) x Rp. 18.000 = Rp. 600 per lembar
b. Saham = Rp. 18.000 - Rp.600 = Rp. 17.400
Atas alokasi harga perolehan dicatat:
Hak atas saham PT Andi (600 x 100)
Investasi saham PT Andi

Rp. 60.000
Rp. 60.000

Bila hak atas saham itu dimanfaatkan, dicatat:


Investasi saham PT Andi
Kas
Hak atas saham PT Andi

Rp. 335.000
Rp. 275.000
Rp. 60.000

Nilai saham baru sebanyak 25 lembar yang dibeli sebesar 25 x Rp. 11.000, ditambah
denganharga right Rp. 60.000 dan jumlah totalnya Rp. 335.000. Kalau right dijual semua
dengan harga Rp. 875 per lembar, dibuat catatan sbb:
Kas (100 x 875)
Rp. 87.500
Hak beli saham PT Andi
Laba penjualan hak beli saham PT Andi

Rp. 60.000
Rp. 27.500

Penerbitan saham preferen atau obligasi sering diikuti dengan hak untuk membeli
saham biasa perusahaan. Warrant membutuhkan alokasi harga perolehan dan pencatatanyang
lain oleh penerbit.
Contoh :
PT Surya menerbitkan 100 lembar saham preferen dengan nominal Rp. 10.000 dengan
harga Rp. 12.000. Pemegang saham preferen itu dapat memesan saham biasa dengan
nominal Rp. 5.000 dengan harga Rp. 6.500. Segera setelah penerbitan saham preferen
warrant terjual dengan harga Rp. 1.000, sedangkan saham preferen tanpa warrant dijual
dengan harga Rp. 11.500
Harga perolehan warrant = 1.00/(11.500 + 1.000) x 12.000 = Rp. 960.000 atau sebesar Rp.
960per lembar. Pada saat penjualan 100 lembar saham preferen oleh PT Surya dibuat catatan
sbb:
Kas

Rp 12.000.000
Saham preferen
Agio saham preferen
Warrant saham biasa

Rp 10.000.000
1.040.000
960.000

Bila warrant dipakai semua, dicatat:


Kas
Warrant atas saham biasa
Saham biasa
Agio saham biasa

Rp 6.500.000
960.000
Rp 5.000.000
2.460.000

Bila warrant dibiarkan kadaluarsa, dicatat:


Warrant atas saham biasa

960.0000

Tambahan setoran modal kadaluarsa-warrant960.000


Secara komersial, kadaluarsanya warrant dianggap sebagai transaksi modal. Tidak ada
keuntungan yang dilaporkan.
Opsi saham merupakan pemberian hak berpartisipasi karyawan dalam pemilikan
perusahaan. Nilai yang dicatat dalam realisasi program sebesar nilai pertukaran yang terjadi.
E. Pembatasan terhadap saldo Laba

Secara komersial pembatasan laba dilakukan dengan pemindahbukuan sejumlah


tertentu dari saldo laba ke suatu apropriasi (penyisihan) untuk tujuan tertentu. Pada saat
tujuan pembatasan sudah tercapai maka jumlah apropriasi itu dikembalikan ke perkiraan
semula (saldo laba). Dari segi perpajakan karena laba itu masih berada dalam kelompok akun
saldo laba (dan hanya untuk sementara berpindah tempat)tampaknya tidak ada konsekuensi
fiskalnya.
F. Penyesuaian Modal karena Kuasi Reorganisasi
Adakalanya perusahaan melakukan kuasi reorganisasi (restrukturisasi kapital) yang
merupakan prosedur penataan kembali modal yang dilakukan untuk menutup kerugian
struktural atau defisit dalam jumlah yang material.
Untuk menutup jumlah negatif saldo laba, dilakukan kuasi reorganisasi sbb:
1.
2.

Peralatan dinilai kembali sebesar harga pasar menjadi Rp 920.000 (semula 1.400.000)
Dalam aktiva lancar terdapat persediaan yang overstated Rp 80.000 dan Rp 40.000

3.

merupakan piutang tak tertagih


Nilai nominal saham diturunkan menjadi Rp. 40 per saham (semula Rp. 100)

G. Selisih Penilaian Kembali Aktiva Tetap


Akuntansi komersial menganut harga historis dan harga pertukaran. Penyimpangan
dasar harga historis dapat diterima apabila:
a. Terdapat perubahan harga yang cukup material dan secararelatif bersifat permanen
b. Memperoleh fasilitas perpajakan
c. Untuk penjualan saham di pasar modal
d. Untuk tujuan penggabungan usaha
Prinsip penilaian kembali untuk memperoleh fasilitas perpajakan telah empat kali
diberikan, yaitu dr tahun 1971,1979,1986. Prinsip tersebut sama-sama berdasarkan harga
indeks, baik harga perolehan maupun depresiasi tahunan dihitungkembali dengan harga
indeks.
Ketentuan revaluasi sejak tahun 1996, Harus dilakukan dengan bantuan lembaga
appraisal yang disahkan Mentri Keuangan berdasarkan harga pasar wajar, hanya boleh
dilakukan terhadap aktiva yang dimiliki lebih dari 5 tahun. Nilai sisa lebih dari penilaian
kembali

aktiva

dikenakan

pajak

penghasilan

final

10%

setelah

terlebih dahulu

dikompensasikan dengan kerugian yang masih berhak atas kompensasi kerugian. Bila ada
7

selisih penilaian kembali setelah pajak itu dikapitalisasikan dan dibagikan dalam bentuk
saham bonus, pembagian deviden tidak dikenakan pajak penghasilanPenyusutan dari aktiva y
ang dinilai kembali itu dilakukan bukan berdasarkan sisa manfaat, tetapiberdasarkan masa
manfaat (semula) sesuai dengan ketentuan perpajakan

REFERENSI
Gunadi. 2009. Akuntansi Pajak (Sesuai dengan Undang-Undang Pajak Baru). Edisi Revisi.
Jakarta: PT. Gramedia.