Anda di halaman 1dari 3

Mortilitas : jumlah kematian

Defekasi:BAB

Urinasi : keluarnya urine

Salivasi : keluarnya ludah

Vokalisasi : mengeluarkan suara

Tremor : mengigil

Writhing : menggeliat

Aklimatisasi : pengadaptasian

Randomisasi : pengkelompokan
TOKSIKOLOGI GINJAL
a. Organ ginjal sebagai sasaran toksikan
Selain hati, ginjal merupakan organ sasaran utama dari efek toksik. Hal ini disebabkan
urin/ginjal adalah merupakan jalur utama ekskresi toksikan sehingga volume aliran darah yang
mengandung toksikan cukup besar dan terjadi akumulasi toksikan pada filtrate glomerolus, melewati
sel-sel tubulus dan terjadi bioaktivasi toksikan tertentu.
b. Kerusakan yang dapat terjadi pada Ginjal/nefron.
1. Glomerolus
-

Siklosporin, amfoterisin B dan gentamisin, mengurangi filtrasi glomerulus mengakibatkan

vasokontriksi renal.
Antibiotika puromisin meningkatkan permeabilitas glomerolus terhadap protein seperti albumin.
Kerusakan pada glomerolus bias juga terjadi melalui proses autoimun, dimana toksikan seperti
logam berat, hidrokarbon, penisilamin dan kaptopril berperan sebagai hapten yang menyerang
protein tertentu membentuk antigen lengkap, kemudian menstimulasi respon imun sehingga

terbentuk antibodi. Komplek antigen antibodi yang terbentuk akan merusak sel glomerolus.
2. . Tubulus proksimal
Terjadinya absorpsi dan sekresi aktif ditubulus proksimal menyebabkan tingginya kadar
toksikan ditubulus proksimal. Selain itu kadar sitokrom P-450 pada tubulus proksimal lebih tinggi
untuk mendetoksifikasi atau mengaktifkan toksikan. Hal ini menyebabkan tempat ini merupakan
sasaran efek toksik.
Logam berat seperti Cd, Hg, Pb, Cr dapat mengubah fungsi tubulus yang ditandai dengan
glukosuria, aminoasiduria, dan poliuria. Pada dosis yang tinggi logam berat menyebabkan
kematian sel, peningkatan BUN, dan anuria. Sefaloridin tidak disekresi oleh tubulus proksimal
tapi ditumpuk dalam sel sehingga menyebabkan kerusakan.
3. Loop Henle, Tubulus distal dan Tubulus Pengumpul Tetrasiklin dan amfoterisin B mempengaruhi
tubulus distal dan mengakibatkan berkurangnya keasaman urin (salah satu fungsi tubulus ini
adalah sekresi H+).Kerusakankerusakan pada tubulus diperantarai oleh metabolit toksik
fluorida.
Metoksi fluran menyebab kan kerusakan pada tubulus proksimal, loop henle, tubulus
distal juga tubulus pengumpul. Aspirin dan fenasetin dapat menyebabkan gagal ginjal kronis
dengan efek toksik pada medulla yaitu Loop henle, tubulus pengumpul dan vasa recta.

UJI TERATOGENIK
Teratogenesis adalah pembentukan cacat bawaan.
Teratologi merupakan cabang embrio yang khusus mengenai pertumbuhan struktural yang abnormal luar
biasa. Oleh pertumbuhan yang abnormal luar biasa itu lahir bayi atau janin yang cacat.
Proses Kerja Teratogen
Beberapa jenis zat kimia telah terbukti bersifat teratogen pada hewan uji. Berdasarkan
beragamnya sifat zat zat ini, terdapat banyak mekanisme yang terlibat dalam efek teratogennya.
Diantaranya:

Gangguan terhadap Asam Nukleat


Banyak zat kimia mempengaruhi replikasi dan transkripsi asam nukleat, atau translasi RNA,
misalnya zat pengalkil, antimetabolit, dan intercalating agent (Lu, 1995).
Kekurangan Pasokan Energi dan Osmolaritas
Hipoksia dan zat penyebab hipoksia (CO, CO 2) dapat bersifat teratogen dengan mengurangi
oksigen dalam proses metabolism yang membutuhkan oksigen dan mungkin juga dengan

menyebabkan ketidakseimbangan osmolaritas (Lu, 1995).


Penghambatan Enzim
Penghambatan enzim, seperti 5-fluorourasil, dapat menyebabkan cacat karena mengganggu
diferensiasi dan pertumbuhan sel melalui penghambatan timidilat ditetase.Contoh lainnya, 6-

aminonikotinamid menghambat glukosa 6-fosfat dehidrogenase (Lu, 1995).


Lainnya
Hipervitaminosis A dapat menyebabkan kerusakan ultrastruktural pada membrane sel embrio
hewan pengerat, suatu mekanisme yang dapat menerangkan teratogenisitas vitamin A. factor fisika
yang dapat menyebabkan cacat meliputi radiasi, hipotermia dan hipertemia, serta trauma mekanik
(Lu, 1995).

PENCEMARAN MAKANAN OLEH BAHAN KIMIA


Berbagai fenomena yang berhubungan dengan keracunan makanan banyak kita jumpai, kasus
yang cukup terkenal mengenai keracunan makanan oleh bahan kimia adalah tragedi Minamata Diseases.
Penyakit ini pertama kali ditemukan pada orang yang bertempat tinggal di sekitar teluk Minamata Jepang
tahun 1953, penyakit ini disebabkan oleh senyawa Air Raksa (Hg) yang biasanya dihasilkan oleh bahan
kimia yang dipakai dalam fungisida dan industri plastik dan limbahnya dibuang disekitar teluk,

masyarakat yang mengkonsumsi ikan dan kerang yang ada di pinggir teluk tersebut terpapar dalam jangka
waktu lama, yang pada akhirnya menimbulkan penyakit.
Di Indonesia kasus biskuit beracun yang terjadi tahun 1992 penambahan kandungan Sodium
Nitrat yang berlebihan dalam biskuit. Nitrit yang menyebabkan keracunan pada anak-anak dan orang
dewasa, dalam bantuk kalium atau natrium biasanya dipakai sebagai bahan pengawet makanan. Misalnya
dipakai untuk mengawetkan daging dengan mencegah pertumbuhan kuman yang bisa hidup tanpa
oksigen (anaerob) . Nitrit mengubah lingkungan kuman sehingga pertumbuhan kuman tidak
memungkinkan. Pengolahan kue juga bisa memakai bahan pengawet ini, tapi ada batas tertentu yang bisa
ditoleransi oleh tubuh atau Nilai Ambang Batas.
Jika melebihi NAB makan akan menimbulkan efek keracunan bagi orang
yangmengkonsumsinya. Jika seseorang memakan makanan yang mengandung benda asing baik organik
maupun anorganik yang bersifat racun , sehingga mengubah sifat asli makanan tersebut dan menyebabkan
penyakit atau gangguan kesehatan bagi yang memakannya , hal ini disebut Food Poisoning (keracunan
makanan).
Ada beberapa hal yang menjadi penyebab timbulnya kasus keracunan makan makanan ditinjau
dari sudut kimia :
2.1. Makanan terkontaminasi oleh bahan-bahan kimia
Kontaminasi karena bahan kimia sering terjadi karena kelalaian atau kecelakaan seperti
meletakkan pestisida dengan bahan makanan, kelalaian dalam pencucian sayuran atau buah-buahan
sehingga sayur atau buah-buahan tersebut masih mengandung sisa pestisida dan kelalaian memasukkan
bahan kimia yang seyogyanya dipakai untuk kemasan dimasukkan ke dalam makanan. Bahan kimia yang
terdapat dalam bahan makanan dengan kadar yang berlebih akan bersifat toksik bagi manusia. Beberapa
zat yang sering menimbulkan keracunan manusia adalah :
1. Zinc, terdapat pada perlatan dapur akan mengalami reduksi bila kontak dengan bahan makan
yang bersifat asam.
2. Insektisida, keracunan ini terjadi karena mengkonsumsi makanan yang masih mengandung residu
pestisida, seperti pada sayuran dan buah-buahan.
3. Cadmium, keracunan ini bisa terjadi karena Cd yang terdapat pada peralatan dapur dengan kontak
dengan makanan yang bersifat asam.
4. Antimonium, berasal dari perlatan dapur yang dilapisi dengan email kelabu murahan.