Anda di halaman 1dari 30

MYOPIA

Definisi
Miopia adalah suatu keadaan mata yang mempunyai kekuatan
pembiasan sinar yang berlebihan atau kerusakan refraksi mata
sehingga sinar sejajar yang datang dibiaskan di depan retina atau
bintik kuning, dimana sistem akomodasi berkurang. Pasien dengan
miopia akan menyatakan lebih jelas bila melihat dekat, sedangkan
kabur bila melihat jauh atau rabun jauh.
Miopia adalah suatu kelainan refraksi di mana sinar cahaya
paralel yang memasuki mata secara keseluruhan dibawa menuju fokus
di depan retina.Istilah ini berasal dari bahasa Latin yang awalnya dari
kata Yunani, mopia, yang berarti
kontraksi atau penutupan mata. Ini merupakan penjelasan yang sesuai
dengan gerakan wajah dari penderita miopia yang tidak dikoreksi saat
dia mencoba mendapat penglihatan jauh yang jelas. 6
Miopia, yang umum disebut sebagai kabur jauh / terang dekat
(shortsightedness),

adalah

penyebab

ketidakmampuan

visual

di

seluruh dunia. WHO telah mengelompokkan miopia dan kelainan


refraksi yang tak terkoreksi, katarak, degenerasi makula, penyakit
infeksi mata dan defisiensi vitamin A menjadi penyebab-penyebab
utama kebutaan dan gangguan penglihatan di dunia. 12
Derajat miopia dapat dikategorikan, yaitu :

Miopia ringan (0,25 - 3,00D)

Miopia sedang (3,00 6,00D)

Miopia berat / tinggi (>6,00D)

Epidemiologi
Miopia memiliki insiden 2,1% di Amerika Serikat dan peringkat
ke tujuh

yang menyebabkan

kebutaan,

serta tampak

memiliki

predileksi tinggi pada keturunan Cina, Yahudi, dan Jepang. Angka


kejadiannya lebih sering 2 kali lipat pada perempuan dibanding lakilaki. Keturunan kulit hitam biasanya bebas dari kelainan ini. 2

Menurut National Eye Institute Study, miopia merupakan


penyebab

kelima

tersering

yang

mengganggu

penglihatan

dan

merupakan penyebab kutujuh yang tersering kebutaan di Amerika


Serikat, sedangkan di Inggris merupakan penyebab kebutaan tersering
.2
Embriologi
Mata

berasal

dari

pembentukan

kantung

dari

sel

undifferentiated neural retina dari dinding otak. Ini terjadi sebelum


penutupan neural fold. Kemudian terbentuk vesikel optik yang tumbuh
hingga mencapai permukaan ectoderm menghasilkan pembentukan
plat lensa. Plat lensa kemudian membentuk cup lensa, setelah itu jadi
vesikel lensa.7
Pertumbuhan kornea terjadi pada awal diinduksi oleh vesikel
optik dan dipengaruhi oleh lensa, serta oleh akumulasi vitreus. 7
Ekspansi bola mata tergantung dari penumpukan vitreus.
Peningkatan tekanan intraokuler karena ekspansi korpus vitreus
memberi tenaga pertumbuhan dasar pada mata embryo. 7
Pertumbuhan sklera berdampak pada ukuran dan bentuk bola
mata. Pertumbuhan sklera menuju anterior dari mesoderm pada regio
limbus pada akhir minggu ketujuh gestasi. Serat-serat sklera di limbus
menyambung dengan serat kornea yang juga telah terbentuk.
Perkembangan sklera dikontrol oleh RPE. Demikian pula dengan sklera
yang menjadi lengkap pada bulan kelima.7
Ukuran dan bentuk mata pada saat lahir merupakan hasil
gabungan

proses

pertumbuhan

retina,

akumulasi

vitreus,

pertumbuhan lensa serta perkembangan sklera. Sejak lahir, mata


manusia haruslah berkembang hingga tiga kali dalam volume dan
berat untuk mencapai ukuran dewasa 7
Etio-Patogenesis

Telah terdapat bukti-bukti dari penelitian terdahulu bahwa


miopia disebabkan oleh pemanjangan sumbu bola mata, tetapi
penyebab yang mendasarinya belum jelas sepenuhnya. Terdapat dua
teori utama tentang terjadinya pemanjangan sumbu bola mata pada
myopia. Teori biologi menganggap pemanjangan sumbu bola mata
sebagai akibat kelainan pertumbuhan retina (overgrowth) sedangkan
teori mekanik mengemukakan penekanan (stress) sklera sebagai
pemanjangan tersebut. Salah satu mekanisme pemanjangan sumbu
bola mata yang diajukan pada teori mekanik adalah penekanan bola
mata oleh muskulus rektus medial dan oblik superior. Seperti diketahui
penderita miopia selalu menggunakan konvergensi yang berlebihan.
Miopia juga dapat terjadi karena ukuran sumbu bola mata yang relatif
panjang dan disebut sebagai miopia aksial. Dapat juga karena indeks
bias media yang tinggi, atau akibat indeks refraksi kornea dan lensa
yang terlalu kuat . dalam hal ini disebut sebagai myopia refraktif.
Prevalensi

miopia

berbeda-beda

pada

berbagai

kelompok

etnis(Illyas,2003).
EMETROPISASI
Emetropia adalah keadaan refraksi di mana sinar cahaya paralel
dari objek jarak jauh dibawa menuju fokus di retina pada mata tak
berakomodasi. Perubahan dari hipermetropia saat lahir menjadi
emetropia pada usia dewasa merupakan suatu proses yang disebut
emetropisasi. Emetropisasi adalah suatu mekanisme perubahan guna
pencapaian emetropia pada usia muda. Pada saat lahir, kebanyakan
bayi

matanya

hipermetropia,

tapi

ketika

matanya

semakin

berkembang, maka akan semakin kurang hipermetropianya dan pada


usia 5-8 tahun menjadi emetrop. Emetropisasi merupakan kombinasi
proses pasif dan aktif.
Proses pasif terjadi dalam pertumbuhan mata yang normal. Saat
mata membesar, kekuatan refraksi kornea dan lensa dikurangi oleh
pemanjangan radius kelengkungannya. Pembesaran proporsional mata
mengurangi kekuatan dioptrinya terkait dengan peningkatan panjang
aksial. Bila perubahan ini tidak proporsional, muncullah ametropia.

Emetropisasi pasif menjelaskan pemeliharaan emetropia pada mata


yang sedang tumbuh.
Emetropisasi aktif menjelaskan pengurangan menuju emetropia
pada bayi dan mempertahankannya. Mekanisme ini terkait dengan
mekanisme

feedback

visual

dari

gambaran

pada

retina

dan

penyesuaian selanjutnya dari pertumbuhan mata. Ametropia terjadi


bila gambaran yang rusak mengganggu feedback ini. Pola pewarisan
menentukan kecenderungan proporsi pasti bola mata dan faktor
lingkungan berperan mempengaruhi aksi emetropisasi aktif. Pengaruh
lingkungan lebih berperan dalam munculnya dan derajat miopia
dibanding pada hipermetropia.3,12,17
Meski pada bayi prematur, cenderung lebih myop dan astigmat
saat lahir dibanding bayi cukup bulan, emetropisasi juga terjadi pada
mereka. ROP menyebabkan bayi prematur sering gagal menjadi
emetrop, menyebabkan kelainan refraksi tinggi khususnya miopia.
Prevalensi miopia tinggi pada bayi premature

4,17

Versi I Etio-Patogenesis
Secara umum, pengaruh lingkungan postnatal terhadap miopia
dalam dua cara utama:

Peningkatan stress sklera, yang biasanya bermanifestasi sebagai


suatu peningkatan dalam tekanan intraokuler.

Penurunan resistensi dinding okuler.

Selain itu juga terdapat sejumlah teori mekanisme patogenesa lain


yang belum jelas, seperti faktor psikologis.
Peningkatan Stres Sklera

Pengaruh otot ekstraokuler


Hubungan klasik antara onset atau perkembangan miopia dan
sekolah berkait dengan konsep membaca lama sebagai penyebab
miopia. Von Graefe mencatat aktifitas otot ekstraokuler sebagai
myopigenic karena tekanan mereka pada mata saat konvergensi.
Saat mata berkonvergensi dan depresi, M. obliqus superior berada
pada posisi yang memberi tekanan yang cukup berarti pada bola
mata.

Pengaruh tekanan okuler


Mata imatur sensitif terhadap peningkatan tekanan intraokuler dan
berespons dengan ekspansi bola mata. Sklera posterior
mempertahankan sensitivitas ini lebih lama setelah sklera anterior
kehilangannya. Juga dicatat bahwa tingkat lebih tinggi dalam batas
tekanan bola mata normal lebih sering pada mata miop yang lebih
besar

Penurunan resistensi sklera

Faktor Nutrisi
Kekurangan gizi telah lama dianggap dipermasalahkan pada onset
dan progresifitas miopia. Kebanyakan hipotesa terpusat pada defek
yang didapat di sklera sebagai hasil pembatasan intake protein,
kalsium, dan vitamin D. Penelitian oleh Gardiner menemukan
bahwa anak-anak dengan miopia progresif makan lebih sedikit
protein per kilogram peningkatan berat badan dibanding anak-anak
dengan mata normal.

Gangguan pertumbuhan sklera


Penyebab miopia derajat tinggi yang kemungkinan paling dapat
diterima adalah kelemahan sklera. Bukti mikroskopis,
ultramikroskopis, dan biokimiawi menunjukkan kualitas dan
kuantitas sklera posterior yang abnormal pada miopia patologis.
dikutip dari 8,10,15

FAKTOR GENETIKA
Hubungan antara kelainan refraksi miopia dengan genetika
didapat dari penelitian tentang anak kembar dan penelitian hubungan
kalainan refraksi orangtua dan anak mereka. Penelitian pada anak
kembar menunjukkan kelainan refraksi berhubungan erat pada kembar
monozigot dibanding pada kembar dizigot. Penelitian hubungan antara
kelainan refraksi orangtua dan keturunannya menunjukkan hubungan
yang kuat. Penelitian oleh Zadnik dkk mengukur komponen-komponen
refraksi anak dan kelainan refraksi orangtuanya. Penelitian tadi

menunjukkan anak-anak dengan orangtua myop, meskipun mereka


sendiri tidak miopia, cenderung mempunyai mata yang lebih panjang
daripada anak-anak dengan orangtua yang tidak myop, hingga
menjadi faktor predisposisi untuk menjadi myop di kemudian hari.
Penelitian genetic dari keluarga dengan riwayat miopia patologi
menemukan dua polimorfisme dan dua lokus terpisah untuk miopia
tinggi, menunjukkan predisposisi autosomal dominan untuk munculnya
miopia patologi.
Bukti tambahan yang menyokong peran genetika terhadap
berkembangnya miopia antara lain variasi yang luas akan prevalensi
miopia pada kelompok etnis yang berbeda. Prevalensi miopia di Asia
setinggi 70-90%, di Eropa dan Amerika 30-40%, dan di Afrika 10-20%. 12
Diharapkan di masa depan bila ditemukan gen yang berfungsi
abnormal pada miopia tinggi, obat atau zat terapi gen dapat
mengurangi tingkat beratnya penyakit. 14
MODEL BINATANG PERCOBAAN
Selama beberapa dekade terakhir, terdapat kontroversi tentang
mekanisme penyebab berkembangnya miopia. Terdapat bukti bahwa
faktor utama adalah kontribusi aksial yang bermanifestasi dalam
pertumbuhan longitudinal yang berlebihan pada mata. Pertanyaan
yang menarik perhatian adalah apakah pekerjaan secara melihat dekat
(nearwork) dan akomodasi terkait dengan tumbuh dan progresifitas
miopia. Penelitian eksperimental dengan menginduksi miopia pada
binatang

percobaan

(contohnya

tikus,

ayam

dan

marmut)

menunjukkan perubahan panjang aksial mata dapat dipicu oleh


deprivasi visual (seperti pembatasan lapangan pandang). Dengan
menggunakan

teknik

defokus

optis dengan

kacamata,

terdapat

kompensasi pada teknik tadi pada binatang percobaan anak ayam.


Hingga kini, terdapat tiga mekanisme pemicuan secara visual pada
mata

yang

tampaknya

mengubah

posisi

relatif

retina

dan

menyebabkan kelainan refraksi:

Deprivasi yang menginduksi pertumbuhan lokal sklera (deprivationinduced local scleral growth),

Defokus positif yang menginduksi penebalan lokal koroid (positive


defocus-induced local choroidal thickening)

Defokus negatif yang menginduksi pertumbuhan sklera secara


global (negative defocus-induced global scleral growth)

11

Versi II Etio-Patogenesis
Terjadinya

elongasi

sumbu

yang

berlebihan

pada

miopia

patologi masih belum diketahui. Sama halnya terhadap hubungan


antara elongasi dan komplikasi penyakit ini, seperti degenerasi
chorioretina, ablasio retina dan glaucoma. Columbre dan rekannya,
tentang penilaian perkembangan mata anak ayam yang di dalam
pertumbuhan normalnya, tekanan intraokular meluas ke rongga mata
dimana sklera berfungsi sebagai penahannya. Jika kekuatan yang
berlawanan ini merupakan penentu pertumbuhan ocular post natal
pada mata manusia, dan tidak ada bukti yang menentangnya maka
dapat pula disimpulkan dua mekanisme patogenesis terhadap elongasi
berlebihan pada miopia.1,2,3
a. Menurut tahanan sklera

Mesadermal

Abnormalitas mesodermal sklera secara kualitas maupun kuantitas


dapat mengakibatkan elongasi sumbu mata. Percobaan Columbre
dapat

membuktikan

hal

ini,

dimana

pembuangan

sebahagian

masenkhim sklera dari perkembangan ayam menyebabkan ektasia


daerah ini, karena perubahan tekanan dinding okular. Dalam keadaan
normal

sklera

posterior

merupakan

jaringan

terakhir

yang

berkembang. Keterlambatan pertumbuhan strategis ini menyebabkan


kongenital ektasia pada area ini. Sklera normal terdiri dari pita luas
padat dari bundle serat kolagen, hal ini terintegrasi baik, terjalin
bebas, ukuran bervariasi tergantung pada lokasinya. Bundle serat
terkecil terlihat menuju sklera bagian dalam dan pada zona ora
equatorial. Bidang sklera anterior merupakan area crosectional yang
kurang dapat diperluas perunitnya dari pada bidang lain. Pada test
bidang ini ditekan sampai 7,5 g/mm2. Tekanan intraokular equivalen
100 mmHg, pada batas terendah dari stress ekstensi pada sklera
posterior ditemukan 4 x dari pada bidang anterior dan equator. Pada

batas lebih tinggi sklera posterior kirakira 2 x lebih diperluas.


Perbedaan

tekanan

diantara

bidang

sklera

normal

tampak

berhubungan dengan hilangnya luasnya bundle serat sudut jala yang


terlihat pada sklera posterior. Struktur serat kolagen abnormal terlihat
pada kulit pasien dengan Ehlers-Danlos yang merupakan penyakit
kalogen sistematik yang berhubungan dengan miopia. 1

Ektodermal - Mesodermal

Vogt awalnya memperluasnya konsep bahwa miopia adalah hasil


ketidak harmonisan pertumbuhan jaringan mata dimana pertumbuhan
retina yang berlebihan dengan bersamaan ketinggian perkembangan
baik koroid maupun sklera menghasilkan peregangan pasif jaringan.
Meski alasan Vogt pada umumnya tidak dapat diterima, telah diteliti
ulang dalam hubungannya dengan miopia bahwa pertumbuhan koroid
dan pembentukan sklera dibawah pengaruh epitel pigmen retina.
Pandangan baru ini menyatakan bahwa epitel pigmen abnormal
menginduksi pembentukan koroid dan sklera subnormal. Hal ini yang
mungkin menimbulkan defek ektodermal mesodermal umum pada
segmen posterior terutama zona oraequatorial atau satu yang
terlokalisir pada daerah tertentu dari pole posterior mata, dimana
dapat dilihat pada miopia patologik (tipe stafiloma posterior). 1
b. Meningkatnya suatu kekuatan yang luas

Tekanan intraokular basal

Contoh klasik miopia sekunder terhadap peningkatan tekanan basal


terlihat pada glaucoma juvenil dimana bahwa peningkatan tekanan
berperan besar pada peningkatan pemanjangan sumbu bola mata. 1

Susunan peningkatan tekanan

Secara anatomis dan fisiologis sklera memberikan berbagai respon


terhadap

induksi

deformasi.

Secara

konstan

sklera

mengalami

perubahan pada stress. Kedipan kelopak mata yang sederhana dapat


meningkatkan tekanan intraokular 10 mmHg, sama juga seperti
konvergensi kuat dan pandangan ke lateral. Pada valsava manuver
dapat

meningkatkan

tekanan

intraokular

60

mmHg.Juga

pada

penutupan paksa kelopak mata meningkat sampai 70 mmHg -110

mmHg. Gosokan paksa pada mata merupakan kebiasaan jelek yang


sangat sering diantara mata miopia, sehingga dapat meningkatkan
tekanan intraokular.1
Jenis-Jenis Miopia

1,3,5

Miopia Axial

Dalam hal ini, terjadinya miopia akibat panjang sumbu bola mata
(diameter Antero-posterior), dengan kelengkungan kornea dan lensa
normal, refraktif power normal dan tipe mata ini lebih besar dari
normal.

Miopia Kurvatura

Dihubungkan dengan peningkatan kurvatura dari kornea atau salah


satu / kedua permukaan lensa. Peningkatan kurvatura kornea tidak
jarang terjadi, tapi biasanya lebih menjadi astigmat dibanding kelainan
sferis. Sedikit deviasi sering terjadi karena radius kornea normal sering
bervariasi dalam batas 7 hingga 8,5 mm, dan hal ini menjadi penting
karena perbedaan 1 mm memberi perubahan refraksi 6 D. Kasus
peningkatan kurvatura kornea yang hebat hanya terjadi pada kondisikondisi seperti ectasias atau kornea konus.
Peningkatan

kurvatura

lensa

juga

jarang

terjadi.

Keadaan

lenticonus anterior dan posterior terkait dengan miopia dengan derajat


tinggi. Kurvatura permukaan lensa juga meningkat bila ligamentum
suspensorium relaksasi, seperti yang terjadi pada spasme akomodasi
atau pada keadaan yang ekstrim bila ligamen tadi ruptur dan pada
dislokasi lensa.Dalam hal ini terjadinya miopia diakibatkan oleh
perubahan dari kelengkungan kornea atau perubahan kelengkungan
dari pada lensa seperti yang terjadi pada katarak intumesen dimana
lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih kuat, dimana
ukuran bola mata normal.

Perubahan Index Refraksi (Miopia Indeks)

Perubahan indeks refraksi atau miopia refraktif, bertambahnya


indeks bias media penglihatan seperti yang terjadi pada penderita
Diabetes Melitus sehingga pembiasan lebih kuat.

Perubahan Posisi Lensa

Pergerakan lensa yang lebih ke anterior setelah operasi glaukoma


berhubungan dengan terjadinya miopia.
Gejala Klinik

1,3,6

Gejala umum miopia antara lain:


-

Mata kabur bila melihat jauh

Sering sakit kepala

Menyipitkan mata bila melihat jauh (squinting/narrowing lids)

Lebih menyukai pekerjaan yang membutuhkan penglihatan dekat


dibanding pekerjaan yang memerlukan penglihatan jauh.
Pada mata didapatkan:

Kamera Okuli Anterior lebih dalam

Pupil biasanya lebih besar

Sklera tipis

Vitreus lebih cair

Fundus tigroid ??

Miopi crescent pada pemeriksaan funduskopi

Diagnosis

1,3,6

Gejala-gejala yang dapat ditemukan pada penderita miopia antara lain


adalah :

Penglihatan kabur atau mata berkedip ketika mata mencoba


melihat suatu objek dengan jarak jauh (anak-anak sering tidak
dapat membaca tulisan di papan tulis, tetapi dapat dengan
mudah membaca tulisan dalam sebuah buku).

Kelelahan mata

Sakit kepala

Pengujian atau test yang dapat dilakukan dengan pemeriksaan mata


secara umum atau standar pemeriksaan mata, terdiri dari :

3,6

1. Uji ketajaman penglihatan pada kedua mata dari jarak jauh


(Snellen) dan jarak dekat (Jaeger).
2. Uji pembiasan, untuk menentukan benarnya resep dokter dalam
pemakaian kaca mata.

10

3. Uji penglihatan terhadap warna, uji

ini untuk membuktikan

kemungkinan ada atau tidaknya kebutaan.


4. Uji gerakan otot-otot mata
5. Pemeriksaan celah dan bentuk tepat di retina
6. Mengukur tekanan cairan di dalam mata
7. Pemeriksaan retina
Gejala-gejala miopia juga terdiri dari gejala subjektif dan objektif.

1,3,6

Gejala subjektif :

Kabur bila melihat jauh

Membaca atau melihat benda kecil harus dari jarak dekat

Mata cepat lelah bila membaca (karena konvergensi yang tidak


sesuai dengan akomodasi)

Astenovergens

Gejala objektif :
1. Miopia simpleks

Pada segmen anterior ditemukan bilik mata yang dalam pada


pupil yang relatif lebar. Biasanya ditemukan bola mata yang
agak menonjol.

Pada segmen posterior biasanya terdapat gambaran yang


normal, atau dapat diserta kresen miopia (miopic cresent)
yang ringan di sekitar papil saraf optik.

2. Miopia patologik

Gambaran pada segmen anterior serupa dengan miopia


simpleks

Gambaran yang ditemukan pada segmen posterior berupa


kelainan-kelainan pada :
Badan kaca, dapat ditemukan kekeruhan berupa
pendarahan atau degenerasi yang terlihat sebagai
floaters, atau benda-benda yang mengapung dalam
badan

kaca.

Kadang-kadang

ditemukan

ablasio

badan kaca yang dianggap belum jelas hubungannya


dengan keadaan miopia.
Papil saraf optik : terlihat pigmentasi peripapil,
cresent miopia, papil terlihat labih pucat yang

11

meluas

terutama

miopia dapat

ke

bagian

temporal.

Cresent

ke seluruh lingkaran papil sehingga

seluruh papil dikelilingi oleh daerah koroid yang


atrofi dan pigmentasi yang tidak teratur.
Makula berupa pigmentasi di daerah retina, kadangkadang

ditemukan

perdarahan

subretina

pada

daerah makula.
Retina bagian perifer berupa degenerasi kista retina
bagian perifer.
Seluruh lapisan fundus yang tersebar luas berupa
penipisan koroid dan retina. Akibat penipisan ini
maka bayangan koroid tampak lebih jelas dan
disebut sebagai fundus tigroid(Illyas,2005).
PERUBAHAN FUNDUS PADA MIOPIA
Pembagian perubahan fundus berdasarkan pada lokasinya, yaitu
pada polus posterior dan fundus perifer.
Blacharski

membagi

perubahan

khorioretina

pada

miopia

menjadi tipe-tipe:

Biomekanik; termasuk di dalamnya yaitu :


- Lacquer cracks, di mana fraktur atau tears terjadi pada

membrana Bruch,
- Stafiloma posterior

Neovaskuler; terjadinya neovaskularisasi khoroid biasanya terjadi


pada pasien tua. Resolusinya tampak sebagai Fuchs spot.

Degeneratif: bermacam-macam perubahan degeneratif yang umum


seperti:
- Atrofi khorioretina
- Degenerasi lattice
- Degenerasi pavingstone

Perubahan fundus pada polus posterior


Optic Disk Crescent

12

Hal ini merupakan perubahan awal pada fundus miopia dan


terjadi karena penarikan khoroid dan epitel pigmen, biasanya dari
pinggir temporal saraf II ke arah sklera. Curtin dan Karlin menemukan
optic disk crescent pada mata yang dengan panjang aksial 28,5 mm
atau lebih. Kebanyakan dalam bentuk temporal dan annular crescent.
Penelitian lain menunjukkan bahwa lebar crescent berhubungan erat
dengan derajat miopia.

Optic Disk Crescent

dikutip dari16

Stafiloma posterior
Stafiloma posterior adalah ectasia ke arah belakang dari fundus,
dengan ciri khas pucatnya daerah yang terkena dengan tepi yang
jelas.
Curtin membagi stafiloma menjadi 5 tipe:

I. Daerah yang pucat termasuk optic disk dan makula, merupakan


jenis yang paling umum.

II. Daerahnya cenderung melewati wilayah makula.

III. Daerah peripapil.

IV. Daerahnya meluas ke arah nasal dari optic disk.

V. Tipe yang paling jarang dan terkait dengan fundus inferior dari
optic disk.
Stafiloma posterior sering progresif dan menyebabkan hilangnya
penglihatan.

13

Stafiloma posterior

dikutip dari 16

Lacquer cracks
Dianggap sebagai ruptur linier yang sembuh pada kompleks
epitel pigmen retina-membran Bruch-koriokapiler, yang terdapat pada
sekitar 4% mata miopia tinggi. Sering berhubungan dengan stafiloma
posterior dan sepertiganya terkait dengan neovaskuler membran.
Lacquer cracks sering progresif hingga membentuk perubahan fundus
lebih lanjut.

Lacquer cracks

dikutip dari 16

Atrofi Korioretina
Lebih

sering

tampak

pada

pasien

muda,

sebagai

lesi

kuning/putih kecil pada stafiloma posterior dan dekat dengan lacquer


cracks dan makula. Lama-kelamaan lesi yang kecil dapat menyatu
menjadi area yang lebih besar. Atrofi korioretina dapat disebabkan
stretching dan penipisan epitel pigmen retina dan koroid saat mata
membesar kemudian meluas ke sklera.

14

Atrofi Korioretina

dikutip dari 16

FUNDUS PERIFER
Ancaman utama pada penglihatan mata miopia adalah ablasio
retina,

khususnya

ablasio

vitreus

posterior

(posterior

vitreous

detachment / PVD) dan menyebabkan degenerasi retina, seperti


degenerasi lattice, sering terjadi. Degenerasi lattice merupakan area
yang rawan akan penipisan retina.
Akiba

menyebutkan

bahwa

pada

miopia

tinggi,

PVD

berkembang menurut umur dan derajat miopianya serta tampak lebih


awal dibanding pada mata emetrop.
Degenerasi pigmen, yang terdiri atas penumpukan pigmen yang
banyak pada ujung perifer retinadan degenerasi paving stone juga
sering terjadi pada mata miopia. Proliferasi pigmen dan migrasi RPE
dari degenerasi pigmen dapat terjadi akibat traksi retina, sedangkan
penipisan korioretina pada degenerasi paving stone terjadi karena
oklusi terlokalisasi dari sirkulasi koroid.16
Terapi

1,2,3,7

Koreksi terhadap miopia dapat dilakukan diantaranya dengan :

Kacamata
Kacamata

masih

merupakan

metode

paling

aman

untuk

memperbaiki refraksi.

Lensa kontak
Lensa kontak yang biasanya digunakan ada 2 jenis yaitu, lensa

kontak keras yang terbuat dari bahan plastik polimetilmetacrilat


(PMMA) dan lensa kontak lunak terbuat dari bermacam-macam
plastik hidrogen. Lensa kontak keras secara spesifik diindikasikan

15

untuk koreksi astigmatisma ireguler, sedangkan lensa kontak lunak


digunakan untuk mengobati gangguan permukaan kornea.
Salah satu indikasi penggunaan lensa kontak adalah untuk
koreksi miopia tinggi, dimana lensa ini menghasilkan kualitas
bayangan lebih baik dari kacamata. Namun komplikasi dari
penggunaan lensa kontak dapat mengakibatkan iritasi kornea,
pembentukan

pembuluh

darah

kornea

atau

melengkungkan

permukaan kornea. Oleh karena itu, harus dilakukan pemeriksaan


berkala pada pemakai lensa kontak.

Bedah keratoretraktif
Bedah keratoretraktif mencakup serangkaian metode untuk
mengubah
diantaranya

kelengkungan
adalah

permukaan

keratotomy

anterior

radial,

bola

mata

keratomileusis,

keratofakia, epikeratofakia.

Lensa intraoculer
Penanaman lensa intraokuler merupakan metode pilihan untuk
koreksi kesalahan refraksi pada afakia.

Ekstraksi lensa jernih


Ekstraksi lensa bening telah banyak dicobakan oleh ahli bedah
di dunia pada pasien dengan miopia berat karena resiko
tindakan yang minimal.

Intervensi Pencegahan Miopi

2,8

Kebanyakan anak-anak miopia hanya dengan miopia tingkat


rendah

hingga menengah, tapi

beberapa akan

tumbuh

secara

progresif menjadi miopia tinggi. Faktor resiko terjadinya hal tersebut


antara lain faktor etnik, refraksi orangtua, dan tingkat progresi miopia.
Pada anak-anak tersebut, intervensi harus diperhitungkan.
Pengontrolan miopia antara lain dengan:

Zat Sikloplegik
Berdasarkan laporan penelitian, pemberian harian atropin dan
cyclopentolate mengurangi tingkat progresi miopia pada anak-anak.
Meskipun

demikian,

hal

ini

tidak

sebanding

dengan

ketidaknyamanan, toksisitas dan resiko yang berkaitan dengan

16

sikloplegia kronis. Selain itu, penambahan lensa plus ukuran tinggi


(contoh: 2,50 D) diperlukan untuk melihat dekat karena inaktivasi
otot silier. Meskipun progresi melambat selama terapi, efek jangka
panjang tidak lebih dari 1-2 D.

Lensa plus untuk melihat dekat


Efektivitas pemakaian lensa bifokus untuk mengontrol miopia pada
anak-anak

masih

kontroversial,

beberapa

penelitian

tidak

menunjukkan reduksi progresi miopia yang bermakna namun ada


juga penelitian yang menemukan bahwa pemakaian lensa bifokus
dapat mengontrol miopia. Ukuran adisi dekat yang efektif masih
diperdebatkan.

Lensa Kontak Rigid


Lensa

kontak

Rigid

memperlambat

gas-permeable

tingkat

progresi

(RGP)
miopia

dilaporkan
pada

efektif

anak-anak.

Pengontrolan miopia diyakini disebabkan karena perataan kornea.


Selama 3 tahun pemberian lensa kontak, ruang vitreus masih lanjut
memanjang, hingga kontrol miopia dengan RGP tidak mengurangi
resiko berkembangnya sekuele miopia segmen posterior. Bila
pemakaian lensa kontak dihentikan muncul efek rebound seperti
curamnya kembali korenea (resteepening of the cornea)
Orthokeratology adalah fitting terprogram dengan sejumlah seri
lensa kontak selama periode beberapa minggu hingga beberapa
bulan,

guna

meratakan

kornea

dan

mengurangi

miopia.

Kebanyakan pengurangan ini terjadi dalam 4-6 bulan. Namun,


perubahan kelainan refraksi menuju keadaan awal terjadi bila
pasien berhenti memakai lensa kontak. Mekanisme pasti pemakaian
RGP untuk tujuan ini masih belum jelas.

Bila membaca atau melakukan kerja jarak dekat secara intensif,


istirahatlah

tiap

30

menit.

Selama

istirahat,

berdirilah

dan

memandang ke luar jendela.

Bila membaca, pertahankan jarak baca yang cukup dari buku.

Pencahayaan yang cukup untuk membaca.

Batasi waktu bila menonton televisi dan video game. Duduk 5-6
kaki dari televisi.

17

Jenis-jenis intervensi lain seperti pemakaian vitamin, bedah sklera,


obat

penurun

tekanan

bola

mata,

teknik

relaksasi

mata,

akupunktur. Namun, efektivitasnya belum teruji dalam penelitian.


Komplikasi

1,6

Komplikasi miopia adalah :


1. Abalasio retina
Resiko untuk terjadinya ablasio retina pada 0D (- 4,75) D
sekitar 1/6662. Sedangkan pada (- 5)D (-9,75) D resiko meningkat
menjadi 1/1335. Lebih dari (-10) D resiko ini menjadi 1/148. Dengan
kata lain penambahan factor resiko pada miopia rendah tiga kali
sedangkan miopia tinggi meningkat menjadi 300 kali.
2. Vitreal Liquefaction dan Detachment
Badan

vitreus

yang

berada

di

antara

lensa

dan

retina

mengandung 98% air dan 2% serat kolagen yang seiring pertumbuhan


usia akan mencair secara perlahan-lahan, namun proses ini akan
meningkat pada penderita miopia tinggi. Hal ini berhubungan denga
hilangnya struktur normal kolagen. Pada tahap awal, penderita akan
melihat bayangan-bayangan kecil (floaters). Pada keadaan lanjut,
dapat terjadi kolaps badan viterus sehingga kehilangan kontak dengan
retina. Keadaan ini nantinya akan beresiko untuk terlepasnya retina
dan menyebabkan kerusakan retina. Vitreus detachment pada miopia
tinggi

terjadi

karena

luasnya

volume

yang

harus

diisi

akibat

memanjangnya bola mata.


3. Miopic makulopaty
Dapat terjadi penipisan koroid dan retina serta hilangnya
pembuluh darah kapiler pada mata yang berakibat atrofi sel-sel retina
sehingga lapangan pandang berkurang. Dapat juga terjadi perdarahan
retina dan koroid yang bisa menyebabkan kurangnya lapangan
pandang.

Miop

vaskular

koroid/degenerasi

makular

miopic

juga

merupakan konsekuensi dari degenerasi makular normal, dan ini


disebabkan oleh pembuluh darah yang abnormal yang tumbuh di
bawah sentral retina.
4. Glaukoma

18

Resiko terjadinya glaukoma pada mata normal adalah 1,2%,


pada miopia sedang 4,2%, dan pada miopia tinggi 4,4%. Glaukoma
pada miopia terjadi dikarenakan stress akomodasi dan konvergensi
serta kelainan struktur jaringan ikat penyambung pada trabekula.
5. Katarak
Lensa pada miopia kehilangan transparansi. Dilaporkan bahwa
pada orang dengan miopia onset katarak muncul lebih cepat.
Prognosis

3,6

Diagnosis awal pada penderita miopia adalah sangat penting


karena seorang anak yang sudah positif miopia tidak mungkin dapat
melihat dengan baik dalam jarak jauh.

+++an :
PEMERIKSAAN REFRAKSI PADA ANAK

19

Pendahuluan
Untuk pemeriksaan khusus pada mata, anak dapat dibagi dalam
3 golongan, yaitu:
1. Golongan usia I: sejak saat baru lahir sampai usia 1 tahun.
2. Golongan usia II: anak pra sekolah sampai umur 6 tahun.
3. Golongan usia III: anak masa sekolah di atas 6 tahun

5,6

Pemeriksaan Refraksi Golongan usia I


Prosedur-prosedur subyektif tradisional guna penilaian kelainan
refraksi (refractive errors) mungkin tidak efektif pada bayi atau batita
karena kurangnya perhatian dan jeleknya fiksasi.

Akibatnya, si

pemeriksa perlu bersandar pada refraksi obyektif.


Dua prosedur yang paling sering digunakan adalah:
-

Cycloplegic retinoscopy

Near retinoscopy

Cycloplegic retinoscopy
Adalah

penting

bagi

pemeriksa

melakukan

cycloplegic

retinoscopy pada bayi atau batita sambil dengan memperhatikan:

Memilih zat sikloplegik dengan hati-hati

Menghindari overdosis

Tahu akan adanya variasi biologis pada anak-anak


Cyclopentolate hydrochloride merupakan zat sikloplegik pilihan.
Diberikan satu tetes dua kali dengan jarak 5 menit, pada masingmasing mata, dengan konsentrasi 0,5 % pada bayi hingga usia 1
tahun dan 1 % pada yang lebih tua. Retinoskopi dilakukan 20-30
menit setelah pemberian.

Near retinoscopy
Merupakan metode obyektif lain dalam mengestimasi kelainan
refraksi pada bayi dan batita. Namun, belum dapat diandalkan untuk
penghitungan kelainan refraksi.
Near retinoscopy dapat memiliki nilai klinis pada situasi berikut
ini:

20

Bila diperlukan follow up yang sering.

Saat si anak sangat cemas dengan pemberian zat sikloplegik

Bila anak memiliki atau beresiko akan reaksi berlawanan (adverse


reaction) cyclopentolate atau tropicamide.
Rata-rata kelainan refraksi pada anak-anak dari lahir hingga usia 1
tahun sekitar 2 dioptri (D) hipermetropia (standar deviasi 2 D).
Astigmatisma hingga 2 D umum pada anak-anak di bawah usia 3
tahun. Penelitian menunjukkan bahwa 30-50 persen bayi kurang
dari 12 bulan memiliki astigmatisma yang bermakna, yang
berkurang setelah beberapa tahun pertama kehidupan, serta
menjadi stabil lebih kurang usia 2 1/2 tahun hingga 5 tahun.
Anisometropia ringan adalah umum dan bervariasi pada bayi. Klinisi
sebaiknya memilih untuk memonitor tingkat kelainan refraksi ini
dibandingkan memberi sebuah koreksi lensa.

Pemeriksaan Refraksi Golongan Umur II


Pengukuran kelainan refraksinya dapat termasuk:

Static retinoscopy

Cycloplegic retinoscopy

Static retinoscopy
Dengan dua modifikasi yang penting (pada jarak tertentu dan
non sikloplegik) retinoskopi statis standar biasanya dapat dilakukan
pada anak prasekolah. Suatu system proyeksi video modern menjadi
cara yang berguna

dalam pengontrolan dan fiksasi pada jarak 6

meter. Dengan menggunakan lensa dan kacamata fogging membuat


klinisi dapat melihat wajah si anak dan mengamati bila anak
kehilangan fiksasi pada jarak 6 meter.

Cycloplegic retinoscopy
Merupakan suatu prosedur yang berguna untuk evaluasi awal
pada anak prasekolah dan bila static retinoscopy memberi hasil yang

21

tidak

dapat

diandalkan

mengindikasikan.

Prosedur

atau
ini

saat

haruslah

penilaian
dilakukan

professional
bila

terdapat

strabismus atau kelainan refraksi yang bermakna. Cyclopentolate 1 %


merupakan zat sikloplegik pilihan.Satu tetes diberikan dalam jarak 5
menit pada masing-masing mata. Retinoskopi dapat dilakukan 20-30
menit setelah pemberian.
Pemeriksaan Refraksi Golongan Usia III
Pengukuran

kelainan

refraksi

dapat

terkait

penggunaan

prosedur-prosedur berikut ini:

Static (distance) retinoscopy

Cycloplegic retinoscopy

Refraksi subyektif
Untuk anak-anak di atas usia 8 tahun, klinisi biasanya menggunakan
prosedur penilaian secara tradisional guna mengukur kelainan
refraksi. Sedang pada pasien di bawah usia 8 tahun, static
(distance) retinoscopy dapat dilakukan tanpa sebuah phoroptor,
dengan menggunakan sebuah rak lensa atau lensa lepas dan kaca
mata fogging.
Prosedur ini memungkinkan si pemeriksa bekerja dengan si anak
dan mengamati apakah si anak berfiksasi dengan tepat. Refraksi
sikloplegik mungkin diperlukan pada kondisi-kondisi seperti
strabismus, amblyopia, atau hipermetropia yang bermakna. 6

AUTOREFRAKSI
Autorefraktor stand-alone dan hand-held telah digunakan untuk
mengukur refraksi anak-anak sejak tahun 1970an. Dalam 30 tahun
terakhir,

waktu

pengukuran

telah

memendek,

konstruksi

optik

dipermudah dan keakuratannya membaik. Terdapat banyak tipe


autorefraktor stand-alone tapi kebanyakan menggunakan system
fogging otomatis guna merelaksasi akomodasi, dan pengukuran
dilakukan memakai sinar infra merah.
Si anak duduk pada posisi yang nyaman dengan dagunya di
sandaran dan anak diinstruksikan berfiksasi pada target di dalam alat.

22

Dalam keadaan normal, rata-rata lima pembacaan akurat (ukuran


sferis, silindris, dan aksis) diambil. Pembacaan kelengkungan kornea di
meridian horizontal dan vertikal didapatkan bila terdapat keratometer
yang built-in dalam alat tadi.
Autorefraksi merupakan metode pengukuran kelainan refraksi
yang ideal bagi anak karena bersifat:

Nonkontak

Noninvasif

Dapat diselesaikan dalam hitungan detik, serta

Si anak tidak perlu mengikuti instruksi yang kompleks.


Kerugiannya adalah:

Dapat terjadi myopia instrumen pada anak-anak karena teknik


fogging yang efektif pada dewasa kurang efektif pada anak-anak.

Hampir tidak mungkin melakukan autorefraksi pada bayi.

Anak-anak dapat merasa target fiksasi terlalu dekat ke mata


mereka.
Autorefraktor hand-held bersifat portable, suatu instrumen kecil

yang berguna dalam mengukur myopia pada lingkungan kesehatan


pedesaan.7
PANDUAN KOREKSI REFRAKSI PADA AMETROPIA ANAK
MYOPIA
Prevalensi myopia adalah kurang dari 5 % pada populasi usia 5
tahun, meningkat hingga 20-25 % pada remaja. Dilaporkan angkanya
lebih tinggi di Asia. Prevalensi myopia meningkat sesuai tingkat
income, masa tahun pendidikan, dan waktu yang lebih banyak
dihabiskan pada pekerjaan jarak dekat. Riwayat keluarga myopia
merupakan faktor resiko yang penting tarhadap perkembangan
myopia.6
Myopia masa kanak-kanak terbagi atas 2 kelompok:

Myopia (biasanya tinggi) kongenital

Myopia developmental, biasanya bermanifestasi antara usia 7 dan


10 tahun.

23

Tipe myopia yang terakhir tidaklah begitu berat serta lebih mudah
ditangani, sebagaimana pasiennya lebih tua dan refraksinya tidak
lebih sulit. Namun, kedua bentuk myopia ytersebut bersifat progresif;
diperlukan pemeriksaan refraksi yang sering (tiap 6-12 bulan) serta
perubahan peresepan yang periodik.1
Panduan Umum untuk Myopia masa kanak-kanak

Refraksi dengan sikloplegik diperlukan. Refraksi dengan atropin


mungkin diperlukan pada balita, anak-anak esotropia dan orang
dengan myopia tinggi (>10 D).

Tidak diperlukan untuk mengkoreksi myopia yang kurang dari 3 D


pada bayi dan batita. Pada anak-anak usia prasekolah, myopia lebih
dari 1,00-2,00 D dapat diberi peresepannya. Bila myopia tidak
dikoreksi, si anak haruslah diperiksa tiap 6 bulan. Bila myopia
mencapai tingkatan yang lebih tinggi serta membuat penglihatan
jauh lebih sulit, koreksi optik haruslah diberikan.

Sebelum peresepan lensa, sebuah alternatif untuk pasien dengan


ametropia

sangat

rendah

adalah

mencoba

memperbaiki

lingkungan pandangnya, seperti memindahkan si anak ke depan


ruangan.

Secara umum, kelainan refraksi secara penuh termasuk silinder


haruslah dikoreksi. Anak kecil mentoleransi silindris dengan baik.
Pemeriksaan

refraksi

subyektif

haruslah

dilakukan

guna

menentukan kekuatan lensa minus terkecil yang mencapai visus


terbaik. Beberapa oftalmologis meng-underkoreksi myopia, dan
lainnya bahkan menggunakan lensa bifokus dengan atau tanpa
atropin,

berdasarkan

pada

teori

bahwa

akomodasi

yang

berkepanjangan menghambat perkembangan myopia. Namun teori


ini masih kontroversial.

Pasien-pasien dengan myopia rendah, astigmatisma yang tak


bermakna, atau anisometropia, dapat membuka kacamatanya
ketika membaca, khususnya bila mereka memiliki esoforia pada
jarak dekat atau dengan kelambanan akomodasi yang tinggi.

24

Pada kasus-kasus esoforia pada jarak dekat atau insufisiensi


akomodasi, sebuah tambahan lensa plus untuk dekat dapat
melegakan astenopianya dan memperbaiki efektifitas penglihatan
dekatnya.

Underkoreksi myopia yang disengaja untuk menurunkan sudut


esotropia jarang ditoleransi

Overkoreksi kelainan myopia yang disengaja (atau underkoreksi


kelainan hipermetropia) dapat mempunyai nilai tersendiri dalam
pengontrolan eksodeviasi intermiten.

Orangtua haruslah dididik tentang progresi alami myopia dan


kebutuhan refraksi yang sering dan kemungkinan perubahan
peresepan.

Lensa kontak mungkin lebih disukai pada anak-anak yang lebih


besar guna menghindari masalah pembesaran bayangan pada
lensa minus tinggi.1,8

HIPERMETROPIA
Prevalensi dan besaran hipermetropia adalah paling besar
selama masa kanak-kanak awal, menurun pada dekade pertama
kehidupan melalui proses emetropisasi. Kebanyakan bayi mempunyai
hipermetropia ringan, dengan hanya sekelompok kecil kasus dengan
hipermetropia sedang atau tinggi. Karena emetropisasi menghasilkan
penurunan gradual dalam besaran hipermetropia pada kebanyakan
anak-anak,

perubahan

terjadi

lebih

cepat

pada

kasus-kasus

hipermetropia tinggi. Namun, bayi-bayi dengan hipermetropia tinggi


cenderung tetap hipermetropia selama masa kanak-kanaknya dan
pada anak-anak kecil yang dengan astigmat hipermetropia, khususnya
astigmat

against

the

rule,

reduksi

hipermetropianya

kurang

dibandingkan yang tanpa astigmat bermakna. Anak-anak yang tidak


melewati proses emetropisasi, tetap secara bermakna hipermetropia
dan memiliki peningkatan resiko akan strabismus dan amblyopia.Anakanak dengan hipermetropia + 3,50 dioptri atau lebih menunjukkan
penurunan resiko strabismus dan amblyopia dengan koreksi optis yang
lebih awal.8

25

Panduan Umum untuk hipermetropia masa kanak-kanak


Koreksi yang tepat untuk hipermetropia masa kanak-kanak lebih
sulit disbanding myopianya. Hubungan erat antara hipermetropia
masa

kanak-kanak,

amblyopia,

dan

strabismus,

membuat

hipermetropia sebuah faktor resiko yang lebih besar dibanding myopia.


Tujuan penanganan adalah guna mereduksi kebutuhan akomodasi dan
memberi

penglihatan

yang

jelas

serta

menyenangkan

dan

binokularitas yang normal.


Hal-hal yang perlu diperhatikan:

Anak kecil dengan hipermetropia ringan hingga sedang umumnya


tidak memerlukan penanganan bila mereka tidak mempunyai
strabismus,

amblyopia,

atau

masalah

penglihatan

bermakna

lainnya.

Koreksi

optis

harusnya

diberikan

pada

anak

kecil

dengan

hipermetropia sedang hingga berat. Bila ada astigmat yang


bermakna haruslah dikoreksi penuh pada masa yang sama. Terapi
oklusi haruslah dimulai pada pasien-pasien dengan amblyopia.

Beberapa orang berusia muda dengan hipermetropia, termasuk


mereka yang dengan hipermetropia sedang dan tinggi, mungkin
dapat agak bebas dari tanda dan gejala. Bila koreksi optisnya
ditangguhkan, mereka haruslah dianggap beresiko dan diperiksa
ulang secara periodik.

Setelah koreksi optis dipakai bahkan untuk waktu yang pendek,


peningkatan bermakna hipermetropianya dapat muncul akibat
manifestasi hipermetropia laten.1,8,9

ANISOMETROPIA
Adanya hipermetropia anisometrop selama masa bayi dan
hipermetropia anisometrop yang menetap setelah usia 3 tahun
merupakan faktor resiko berkembangnya strabismus dan amblyopia.
Pasien dengan anisometropia hipermetrop menggunakan mata
yang kurang hipermetropia guna fiksasi pada semua jarak pandang,
sedang mata yang lebih hipermetrop tidak mendapat gambaran yang
jelas,

hingga

menyebabkan

amblyopia.

Pasien-pasien

dengan

anisometropia hipermetrop dengan perbedaan 1 D antara kedua mata

26

dapat

menyebabkan

anisometropia

myop

amblyopia,
akan

sedangkan

menyebabkan

yang

amblyopia

dengan

bila

besar

anisometropianya mencapai 3-4 D. Pasien dengan anisometropia myop


menggunakan mata yang lebih myop guna jarak dekat dan mata yang
kurang myop pada jarak jauh hingga myopianya melewati 3 D, guna
mempertahankan good corrected acuity pada masing-masing mata.1,8

INSTRUMEN KOREKSI REFRAKSI


Kebutuhan mengkoreksi kelainan refraksi tergantung pada
gejala pasien dan kebutuhan visual. Pasien-pasien dengan kelainan
refraksi yang rendah dapat saja tidak membutuhkan pengkoreksian
dan perubahan kecil pada koreksi refraksi pada pasien asimptomatis
biasanya tidak direkomendasikan.
Pilihan

koreksi

termasuk

kaca

mata,

lensa

kontak

atau

pembedahan. Kaca mata haruslah lebih diperhitungkan sebelum


pemberian lensa kontak atau pembedahan.10

Kaca Mata
Kaca mata merupakan bentuk yang paling sering digunakan dari
koreksi refraksi karena paling murah dan paling mudah dari ketiga
pilihan yang di sebutkan di atas. 2
Kepuasan pasien ditentukan dari berbagai segi dari kaca mata
yang diberikan padanya. Bagian utama dari dari kepuasan

ini

ditentukan apakah pengukuran dan penulisan peresepan telah benar,


namun sejumlah faktor lain juga mempengaruhi tingkat kepuasan
secara keseluruhan.11
Penting untuk diperhatikan terhadap si anak dan orangtuanya
tentang penampilan kaca mata terutama bila diperlukan peresepan
ukuran tinggi, bentuk frame yang tidak biasa, atau bila pewarnaan
(tints) khusus diperlukan.
Hal- hal khusus tersebut, antara lain:

Anak-anak dapat mengatasi pemakaian lensa bifocal lebih baik


disbanding orang dewasa dan jarang bermasalah dengannya.

27

Seorang anak yang dengan hanya satu mata yang baik seharusnya
memakai

lensa

polycarbonate

(bila

memungkinkan

dengan

pelapisan tahan gores / scratch resistant coating) diberikan sebagai


safety spectacles/frames.

Anak-anak tidak memerlukan kacamata dengan pewarnaan untuk


pemakaian yang konstan, kecuali untuk alasan patologi (albino,
cornal dystrophies, dan lainnya)

Anak-anak

memerlukan

frame

yang

benar-benar

pas

dan

disesuaikan dengan usianya.12,13


Lensa Kontak
Suatu penelitian singkat di Ohio State University, menunjukkan
bahwa

anak-anak

usia

hingga

11

tahun

telah

dapat

bertanggungjawab akan pemakaian lensa kontak mereka sebagaimana


rekan-rekan mereka yang lebih tua.14
Poin-poin umum ini dapat berguna dalam pemberian lensa
kontak pada anak:

Untuk

anak

kecil,

pastikan

orangtuanya

dapat

menangani

pemakaian lensa kontak sebelum peresepannya.

Doronglah pelepasan dan pembersihan secara harian, ingatkan


orangtua akan masalah potensial dan pentingnya pelepasan lensa.

Jangan berikan lensa atas keinginan orangtua, jelaskan mengapa si


anak lebih baik tetap dengan kaca matanya.

Anak-anak dengan myopia tinggi mempunyai keuntungan dengan


pemakaian lensa kontak, namun hanya diberi bila mereka benarbenar nyaman, bila tidak barang baru ini akan tidak terpakai.

Bila si anak menginginkan pemakaian lensa ini, namun terlalu


gelisah, berilah mereka air mata buatan untuk mencobanya dan
doronglah mereka menyentuh bagian putih matanya dengan
tangan yang bersih.

Orangtua yang tidak dapat membujuk anaknya memakai kaca mata


biasanya sulit dengan aspek pemeliharaan lensa kontak. 12

Pembedahan (Refractive Surgery)

28

Penggunaan excimer laser vision correction pada anak-anak


masih controversial karena mata dan kondisi refraksinya yang terus
berkembang. Penelitian lebih lanjut tentang perkembangan mata dan
efek excimer laser pada endotel kornea anak diperlukan sebelum efek
bedah refraksi pada kelompok umur anak dapat dimengerti penuh.
Konsekwensinya, prosedur-prosedur tadi biasanya kontraindikasi pada
anak-anak.
Banyak yang melaporkan perubahan myopic dan kekaburan
setelah

PRK

atau

LASIK,

kemungkinan

terkait

dengan

respons

penyembuhan luka yang lebih hebat yang terjadi pada anak-anak.


Bedah refraksi pada anak-anak masih bersifat kontroversial dan
eksperimental.
Diharapkan adanya penelitian prospektif random bersifat jangka
panjang dan multicenter, yang dapat menunjukkan apakah PRK dan
LASIK dapat aman dan menjadi terapi jangka panjang untuk kelainan
refraksi pada anak-anak.15,16

29

30