Anda di halaman 1dari 10

JURNAL AIR BAKU

1. Latar belakang dan tujuan


- Pentingnya air baku dalam penyediaan air minum
- Sumber air baku di beberapa daerah
2. Tinjauan Pustaka
- Pengertian air baku
- Jenis/sumber air baku
- Kriteria air baku
3. Metode
- Kajian Pustaka
4. Analisis dan Pembahasan
- Teknik pengambilan air baku
- Pemeliharaan konservasi air baku
- Regulasi dan kebijakan air baku
5. Kesimpulan
6. Daftar Pustaka

Sumber air baku memegang peranan yang sangat penting dalam industri air minum.
Air baku atau raw water merupakan awal dari suatu proses dalam penyediaan dan pengolahan air
bersih
https://www.academia.edu/8039594/AIR_BAKU
Sumber air baku bisa berasal dari sungai, danau, sumur air dalam, mata air dan bisa jugadibuat
dengan cara membendung air buangan atau air laut. Evaluasi dan pemilihan sumber air yang
layak harus berdasar dari ketentuan berikut :
1. Kualitas dan kuantitas air yang diperlukan
2. Kondisi iklim
3. Tingkat kesulitan pada pembangunan intake
4. Tingkat keselamatan operator
5. Ketersediaan biaya minimum operasional dan pemeliharaan untuk IPA
6. Kemungkinan terkontaminasinya sumber air pada masa yang akan dating
7. Kemungkinan untuk memperbesar intake pada masa yang akan datang
Disebutkan diatas bahwa tidak semua air baku bisa diolah, oleh karena itu dibuatlah ketentuan
sebagai standar kualitas air baku yang bisa diolah. Dalam SNI 6773:2008 bagian Persyaratan
Teknis kualitas air baku yang bisa diolah oleh Instalasi Pengolahan Air Minum (IPA) adalah :
1. Kekeruhan, maximum 600 NTU (nephelometric turbidity unit) atau 400 mg/l SiO2
2. Kandungan warna asli (appearent colour) tidak melebihi dari 100 Pt Co dan warna
sementara mengikuti kekeruhan air baku.

3. Unsur-unsur lainnya memenuhi syarat baku air baku sesuai PP No. 82 tahun 2000 tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
4. Dalam hal air sungai daerah tertentu mempunyai kandungan warna, besi dan atau bahan
organic melebihi syarat tersebut diatas tetapi kekeruhan rendah (<50 NTU) maka
digunakan IPA system DAF (Dissolved Air Flotation) atau system lainnya yang dapat
dipertanggungjawabkan
Sumantri (2010) Air yang diperuntukan bagi konsumsi harus berasal dari sumber yang bersih dan
aman. Batasan-batasan sumber air yang bersih dan aman, antara lain:
1. Bebas dari kontaminasi kuman atau bibit penyakit.
2. Bebas dari subtansi kimia yang berbahaya dan beracun.
3. Tidak berasa dan tidak berbau.
4. Dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan domestik dan rumah tangga.
5. Memenuhi standar minimal yang ditentukan oleh WHO (World Health Organization) atau
Depertemen Kesehatan RI.
http://dy-tierros.blogspot.co.id/2012/04/macam-macam-sumber-air-baku.html
Sumber air baku untuk air bersih secara garis besar dapat digolongkan menjadi empat bagian yaitu
air laut, air atmosfir atau air hujan, air permukaan dan air tanah masing-masing menpunyai
karakteristik yang berbeda-beda ditinjau dari segi kualitas dan kuantitasnya (totok
Sutrisno,dkk,2004)

1. Air Laut
Mempunyai sifat asin,karena mengandung garam NAcl. Kadar garam NaCl dalam air laut
3%. Dengan keadaan ini maka air laut jarang digunakan sebagai air baku untuk keperluan
air minum karena tidak memenuhi syarat untuk air minum
2. Air atmosfir atau air hujan
Dalam keadaan murni,sangat bersih,karena adanya pengotoran udara yang disebabkan
oleh kotoran-kotoran industry/debu dan lain sebagainya. Air hujan mempunyai sifat
agresif terhadap pipa-pipa penyalur maupun bak-bak reservoir karena pada umumnya air
hujan mempunyai pH renda, sehingga dapat mempercepat terjadinya korosi. Air hujan
jugamempunyai sifat lunak(soft water)karena kurang mengandung larutan garam dan zat
mineral,sehingga akan boros dalam pemakaian sabun dan terasa kurang segar.
3. Air permukaan
Air permukaan adalah air yang mengalir di permukaan bumi. Pada umumnya air
permukaan ini akan mendapat pengotoran selama pengalirannya, misalnya lumpur,
batang-batang kayu, daun-daun, kotoran industry kota, limbah domestic rumah tangga
dan sebagainya. Jenis pengotorannya adalah merupakan kotoran fisik, kimia dan

bakteriologi. Air permukaan merupakan sumber air yang relative cukup besar,akan tetapi
karena kualitasnya kurang baik maka perlu pengolahan, Air permukaan ada 2 macam
yaitu :
a. Air sungai
Dalam penggunaannnya sebagai air minum, haruslah mengalami suatu pengolahan
yang sempurna mengingat bahwa air sungai pada umumnya mempunyai derajat
pengotoran yang tinggi sekali. Sedangkan debit yang tersdia untuk memenuhi
kebutuhan akan air minum pada umumnya dapat mencukupi.
b. Air rawa atau danau
Kebanyakan air rawa berwarna yang disebabkan oleh zat-zat organic yang telah
membusuk, misalnya asam humus yang larut dalam air yang menyebabkan warna
kuning coklat. Dengan adanya pembusukan,kadar zat organis tinggi maka kadar Fe
dan Mn kan larut,jadi untuk pengambilan air sebaiknya pada kedalaman tertentu di
tengah-tengah agar endapan-endapan Fe dan MN tidak terbawa.
4. Air Tanah
Pada umumnya air tanah mempunyai kualitas cukup baik dan apabila dilakukan
pengambilan yang baik dan bebas dari pengotoran dapat dipergunakan langsung. Untuk
melindungi pemakaian air dari bahaya terkontaminasi melalui air diperlukan proses
klorinasi
Menurut Totok Sutrisno, air tanah terbagi atas tiga bagian besar, yaitu :
1. Air tanah dangkal
2. Air tanah dalam
3. Mata Air

Pemeliharaan konservasi air baku

Perlindungan Sumber Air Baku merupakan bagian dari strategi pelaksanaan pengelolaan air
tanah berwawasan lingkungan, yang perlu dilakukan secara benar dengan meningkatkan
koordinasi berbagai tingkatan instansi, serta dengan meningkatkan pemanfaatan data dan
informasi air tanah secara terpadu.
upaya-upaya dan penanganan rehabilitasi air tanah dan mata air merupakan bagian dari target
pencapaian ketahanan air dalam RPJMN 2015 2019 tetapi kondisi di lapangan didapatkan
perlindungan, pengelolaan, dan pengawasan pada mata air belum cukup didalami. Oleh karena
itu perlu diaturnya ketetatapan area mata air yang perlu diberikan treatment perlindungan,
pengelolaan, dan pengawasan. Kapasitas air baku nasional berdasarkan Nawacita 7,02 m 3/detik.
Peningkatan kapasitas air baku sebesar 7,02 m3/detik.

Dari hasil penelitian para ahli hidrogeologi menemukan fakta bahwa mata air pegunungan
vulkanik memenuhi ketiga syarat karakteristik sumber air tanah, yaitu kualitas,kuantitas dan
kontinuitas.

Kuantitas dipengaruhi oleh curah hujan, siklus air dan kondisi hidrogeologis area disekitar
sumber daya air tersebut.
Kualitas dipengaruhi oleh factor alami (kondisi serta komposisi tanah dan batuan) maupun
aktifitas manusia (pertanian, pencemaran rumah tangga, industry dan lain sebagainya)
Sedangkan kontinuitas memberikan keseimbangan antara pemakaian dan pengisian ulang.
Pengendalian kerusakan mata air dan air tanah dipengaruhi oleh tekanan lingkungan,
permasalahan lingkungan, dan bencana ekologis. Dari ketiga faktor ini selanjutnya akan
mempengaruhi kondisi mata air dan air tanah. Kondisi ini selanjutnya diklasifikasikan menjadi 3
(tiga) kelas, yakni kelas Aman Rawan Rusak. Fungsi dari pengklasifikasian kelas ini nantinya
akan menjadi pertimbangan pengambilan keputusan untuk melaksanakan aksi yang sesuai untuk
kondisi masing-masing kelas.
Untuk daerah permukiman padat,pemanfaatan air tanah sebagai opsi terakhir setelah air
permukaan atau sumber lain. Dalam pengambilan air tanah sebaiknya dilakukan pada musim
kemarau saja, karena pada saat musim hujan kita bisa memanen air yang melimpah sekaligus
mengurangi konsumsi air tanah. Oleh karena itu dapat dikembangkan pula penerapan teknologi
untuk pembuatan tenda air dan bisnis air hujan. Untuk pemulihan air tanah tidak bisa
dilakukan di tanah dangkal. Areal yang perlu di cover dengan ekuivalensi simpanan air hujan dan
perlu dipertimbangkan pula berapa kapasitas (liter) yang akan dimasukkan.
contoh isu strategis mengenai ketersediaan air baku bagi air minum, misalnya belum optimalnya
upaya perlindungan dan pelestarian terhadap sumber air baku, perencanaan pengalosian
penggunaan air baku yang belum optimal, sehingga seringkali menimbulkan konflik kepentingan
di tingkat pengguna, kemudian banyak pemerintah daerah dan penyelenggara SPAM belum
memiliki perencanaan tentang kebutuhan air baku untuk air minum.
penggunaan sumber air baku berjalan tidak seimbang akibat adanya ketidakseimbangan antara
ketersediaan air baku dan kebutuhan air baku untuk air minum yang cukup tinggi sejalan dengan
bertambahnya jumlah populasi penduduk.
diperlukan kerja sama terpadu dalam mengatasi kekurangan air baku untuk air minum, di
antaranya melalui program pembangunan embung di kawasan rawan air, pemanfaatan embung
sebagai penampung hasil olahan air limbah, perlindungan air baku dari limbah domestik dan
sampah, serta program pengembangan Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM) yang terpadu

dari hulu hingga ke konsumen. "Program RPAM tengah dikembangkan Ditjen Cipta Karya
sebagai upaya pencegahan, perlindungan, dan pengendalian layanan air minum dari sumber air
baku hingga ke rumah-rumah melalui pendekatan manajemen risiko. Hal itu untuk menjamin
tercapainya air minum yang memenuhi kualitas, kuantitas, kontinuitas, dan keterjangkauan atau
4K," .
Selain itu diperlukan Master Plan Air Baku sesuai RISPAM kabupaten/kota/provinsi, serta
meningkatkan ketersediaan air baku untuk air minum bagi daerah rawan air, pulau-pulau terluar,
dan daerah pesisir. (Dirjen Cipta Karya, Imam S. Ernawi, ketika memberikan sambutan pada
pembukaan Workshop Sinkronisasi Program Penyediaan Air Baku Untuk Air Minum Tahun
2014)
Para ahli hidrogeologi berpendapat, sumber mata air yang paling layak dan paling bagus
dikonsumsi adalah sumber air yang berasal dari mata air pegunungan vulkanik.
Dari hasil penelitian para ahli hidrogeologi menemukan fakta bahwa mata air pegunungan
vulkanik memenuhi ketiga syarat karakteristik sumber air tanah, yaitu kualitas, kuantitas, dan
kontinuitas. Kuantitas dipengaruhi oleh curah hujan, siklus air dan kondisi hidrogeologis area di
sekitar sumber daya air tersebut. Kualitas dipengaruhi oleh faktor alami (kondisi serta komposisi
tanah dan batuan) maupun aktivitas manusia (pertanian, pencemaran rumah tangga, industri, dan
lain sebagainya). Sedangkan kontinuitas memberi keseimbangan antara pemakaian dan pengisian
ulang.
https://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwjxu4G5lr
PMAhWVBY4KHezTDosQFggaMAA&url=http%3A%2F
%2Fheruhendrayana.staff.ugm.ac.id%2Fweb%2Fdown
%2Fzonapsab.pdf&usg=AFQjCNF8XSiUyfRBASoyhZ8ZkDpu13JQKQ&sig2=he26seTMv8C
Z-gaxSHw5YA
Dr. Heru Hendrayana
Geological Engineering Dept., Faculty of Engineering, Gadjah Mada University
Email : heruha@ugm.ac.id
Website : www.heruhendrayana.staff.ugm.ac,id

ZONA PERLINDUNGAN SUMBER AIR BAKU


Sumber air yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat harus dilindungi
dari proses pencemaran. Penentuan zona Perlindungan Sumber Air Baku didasarkan pada faktorfaktor kesehatan dan biologis. Di Negara Jerman dan negara-negara Eropa secara umum dikenal
3 macam zona Perlindungan Sumber Air Baku :

Zona Perlindungan I : yaitu daerah perlindungan yang bertujuan untuk melindungi air dari semua
zat pencemar yang secara langsung atau tidak langsung menyebabkan degradasi kualitas air,
dengan radius ditentukan sejauh 10 15 meter dari sumber air.
Zona Perlindungan II : yaitu daerah perlindungan yang bertujuan untuk melindungi sumber air
baku dari bahaya pencemaran bakteri pathogen yang dapat menyebabkan degradai kualitas air,
dengan luas yang diperhitungkan berdasarkan jarak tempuh bakteri colli selama 50 (lima puluh)
hari kesumber air baku.
Zona Perlindungan III : yaitu daerah perlindungan yang bertujuan untuk melindungi sumber air
baku dari pencemaran kimiawi dan radioaktif yang tidak dapat mengalami degradasi dalam
waktu singkat, dengan luas yang ditentukan berdasarkan luas tangkapan air.

Lampiran III Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia
Nomor 03/Prt/M/2015 Tentang Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur Air
minum
Penyusunan Program Penanganan /Penyusunan Daftar Fasilitas SPAM
Dalam mempersiapkan program, perlu dilihat apakah sudah ada pengembangan SPAM atau
belum. Perlu dilakukan inventarisasi/penyusunan daftar fasilitas pengembangan SPAM yang ada.
Adapun fasilitas-fasilitas yang perlu diidentifikasi diantaranya adalah jenis prasarana sistem
penyediaan air minum berdasarkan jenis sumber air baku. Prasarana tersebut adalah sebagai
berikut:
a. Mata air: Perlindungan Mata air (PMA)/Broncaptering
b. Air tanah
i.
Sumur Air Tanah Dalam (SATD);
ii.
Sumur Pompa Tangan;
iii.
Sumur Gali dengan cincin.
c. Air permukaan/Intake
i.
Paket Instalasi Pengolahan Air (IPA);
ii.
Instalasi Pengolahan Air Minum Sederhan

Menurut Notoatmodjo (2007) Menjelaskan bahwa pada prinsipnya semua air dapat diproses
menjadi air minum. Sumber air minum sebagai berikut :
1) Air hujan (Termasuk es dan salju)
Air hujan dapat ditampung kemudian dijadikan air minum. Akan tetapi air hujan ini tidak
mengandung kalsium. Oleh karena itu, agar dapat dijadikan air minum yang sehat perlu
ditambahkan kalsium di dalamnya.
2) Air sungai dan danau
Menurut asalnya sebagian dari air sungai dan air danau ini juga dari air hujan yang mengalir
melalui saluran-saluran ke dalam air sungai atau danau. Kedua sumber ini sering disebut air
permukaan. Oleh karena air sungai dan danau ini sudah terkontaminasi atau tercemar oleh
berbagai macam kotoran maka bila akan dijadikan air minum harus diolah terlebih dahulu.
3) Mata air
Air yang keluar dari mata air ini biasanya berasal dari tanah yang muncul secara alamiah.
Oleh karena itu, air dari mata air ini, belum tercemar oleh kotoran sudah dapat dijadikan air
minum langsung. Akan tetapi karena kita belum yakin apakah betul belum tercemar, maka
alangkah baiknya air tersebut direbus dahulu sebelum diminum.
4) Air sumur dangkal
Air ini keluar dalam tanah, juga disebut air tanah. Air berasal dari lapisan air di dalam tanah
yang dangkal. Dalamnya lapisan air ini dari permukaan
5) Air sumur dalam
Air ini berasal dari lapisan air kedua di dalam tanah. Dalamnya dari permukaan tanah
biasanya di atas 15 meter. Oleh karena itu, sebagian besar air sumur kedalaman seperti ini
sudah cukup sehat untuk dijadikan air minum yang langsung.

1. Air permukaan
Air permukaan adalah air yang terdapat pada permukaan tanah. Pada perinsipnya air
permukaan terbagi menjadi:
a.

Air sungai
Air sungai adalah air hujan yang jatuh kepermukaan bumi dan tida meresap kedalam tanah
akan
mengalir secara grafitasi searah dengan kemiringan permukaan tanah fan mengalir
melewati aliran sungai. Sebagai salah satu sumber air minum, air sungai harus mengalami
pengolahan secara sempurna karena pada umumnya memiliki derajat pengotoran yang tinggi.
b. Air Danau
Air danau adalah air permukaan ( berasal dari hujan atu air tanah yang keluar ke permukaan
tanah ), terkumpul pada suatu tempat yang relative rendah/ cekung. Termasuk kategori supaya
adalah air rawa, air tendon, air waduk/dam.

2. Air Tanah
Air tanah adalah air yang berasal dari air hujan yang jatuh di permukaan tanah/bumi dan
meresap kedalam tanahdan mengisi rongga-rongga atau pori didalam tanah
Air tanah terbagi atas:
a.

Air tanah dangkal


Terjadi karena daya proses peresapan air dari permukaan tanah.
Air tanah lebih banyak mengandung zat kimia berupa garam-garam terlarut meskipun kelihatan
jernih karna sudah melewati lapisan tanah yang masing-masing mempunyai unsur-unsur kimia
tertentu. Meskipun lapisan tanah disini berfungsi sebagai sarinagn namun pengotoran juga masi
terus berlangsung, terutama pada muka air yang dekat denagn muka tanah. Air tanah dangkal
umumnya mempunyai kedalaman kurang dari 50 meter.

b.

Air laut
Air laut adalah salah satu sumber air walaupun tidak termasuk kategori yang bias dipilih
sebagai sumber air baku untuk untuk air bersih atu air minum, karena memiliki kandungan
garam (NaCl) yang cukup besar.
- See more at: http://jayaanakjuni.blogspot.co.id/2012/07/sumber-sumber-air-baku.html#sthash.Vziwvkbf.dpuf

Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:


1. Air baku untuk air minum rumah tangga, yang selanjutnya
disebut air baku adalah air yang dapat berasal dari sumber air
permukaan, cekungan air tanah dan/atau air hujan yang
memenuhi baku mutu tertentu sebagai air baku untuk air
minum.

Pasal 2
Yang dimaksud dengan diselenggarakan secara terpadu adalah bahwa
penyelenggaraan pengembangan SPAM dan Prasarana dan Sarana Sanitasi
memperhatikan keterkaitan satu dengan yang lainnya dalam setiap tahapan

penyelenggaraan, terutama dalam upaya perlindungan terhadap baku mutu


sumber air baku.

https://www.academia.edu/13150599/JURNAL_TUGAS_AKHIR_ANALISA_PIPA_JARINGAN_DIS
TRIBUSI_AIR_BERSIH_DI_KABUPATEN_MAROS_DENGAN_MENGGUNAKAN_SOFTWARE
_EPANET_2.0_DISUSUN_OLEH_ANDRY_SUDIRMAN
TINJAUAN PUSTAKA
Analisis Kebutuhan Air
1.Macam Kebutuhan Air Baku
Menurut Terence (Ahmad Safii, 2012)kebutuhan air baku dalam suatu kotadiklasifikasikan
antara lain :- K e b u t u h a n
d o m e s t i k Kebutuhan domestik adalah
kebutuhanair bersih untuk pemenuhan kebutuhansehari-hari atau rumah tangga sepertiu n t u k
m i n u m , m e m a s a k , k e s e h a t a n individu (mandi, cuci dan sebagainya),menyiram
tanaman,
halaman
dan pengangkutan air buangan (buangandapur
dan
toilet).K e b u t u h a n n o n d o m e s t i k Kebutuhan non domestik adalahkebutuhan air
baku yang digunakan untuk beberapa kegiatan seperti untuk kebutuhan nasional, komersial,
industridan fasilitas umum.- K e b o c o r a n a t a u k e h i l a n g a n a i r Besarnya
kebutuhan air akibat kebocoranatau kehilangan air cukup signifikan.Kebocoran atau kehilangan
air dapatdibagi menjadi kebocoran air tercatat dankebocoranair yang tidak tercatat
1. Latar belakang dan tujuan
- Pentingnya air baku dalam penyediaan air minum
LATAR BELAKANG

Air baku untuk air minum rumah tangga, yang selanjutnya disebut air baku adalah air yang dapa
berasal dari sumber air permukaan, cekungan air tanah dan/atau air hujan yang memenuhi baku
mutu tertentu sebagai air baku untuk air minum.

- Sumber air baku di beberapa daerah


7. Latar belakang dan tujuan
- Pentingnya air baku dalam penyediaan air minum
- Sumber air baku di beberapa daerah
8. Tinjauan Pustaka
- Pengertian air baku
- Jenis/sumber air baku
- Kriteria air baku
9. Metode

- Kajian Pustaka
10.Analisis dan Pembahasan
- Teknik pengambilan air baku
- Pemeliharaan konservasi air baku
- Regulasi dan kebijakan air baku
11.Kesimpulan
12.Daftar Pustaka