Anda di halaman 1dari 36

MAKALAH TUGAS PENGGANTI TUTORIAL

FINISHING DAN POLISHING PADA RESIN AKRILIK DAN


ALLOY

Disusun Oleh:
Anindya Wahyu Kurniawati
151610101032
Tutorial 3

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya karena atas kehendak-Nya makalah yang berjudul Finishing dan Polishing
pada Resin Akrilik dan Alloy ini dapat diselesaikan untuk memenuhi tugas
pengganti tutorial skenario 4 karena penulis berhalangan hadir. Dalam pembuatan
makalah ini tentunya tidak terlepas dari pihak-pihak yang telah membantu, tidak
lain adalah drg Pujiana, M.Kes selaku tutor kami pada skenario 4 dan temanteman tutorial 3 yang telah menyumbangkan aspirasi dan ide demi kelancaran
pembuatan makalah ini.
Penulis berharap, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan
tentunya bagi pembaca pada umumnya. Penulis berusaha semaksimal mungkin
untuk mewujudkan makalah ini dengan sebaik-baiknya, namun apabila terdapat
kesalahan, penulis bersedia menerima kritik dan saran yang membangun bagi
makalah ini.

Jember, 3 Juni 2016


Penulis,

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
1.1 Latar
Belakang gigi diselesaikan
Restorasi
mulut

untuk mendapatkan

manfaat

sebelum dipasang di dalam rongga


dari

perawatan

gigi

diantaranya

kesehatan mulut, fungsi dan estetika. Restorasi dengan kontur dan pemolesan
yang baik akan meningkatkan kesehatan mulut dengan jalan mencegah akumulasi
sisa makanan dan bakteri patogen. Ini diperoleh melalui reduksi daerah
permukaan total dan mengurangi kekasaran permukaan restorasi. Permukaan yang
lebih mulus akan lebih mudah dijaga kebersihannya dengan tindakan pembersihan
preventif yang biasa dilakukan sehari-hari karena benang gigi dan sikat gigi akan
mendapat jalan masuk yang lebih baik ke semua permukaan dan daerah tepi.
Dengan beberapa bahan gigi tertentu, aktivitas karat dan korosi dapat dikurangi
cukup besar jika seluruh restorasi dipoles dengan baik.
Oleh karena pentingnya permukaan yang halus pada bahan yang
diaplikasikan pada kedokteran gigi seperti halnya resin akrilik dan alloy, maka
dari itu proses finishing dan polishing sangatlah penting. Proses finishing dan
polishing tentu saja tidak lepas dari instrumen pendukungnya yaitu bahan abrasif.
Untuk itulah penulis menyusun makalah yang berjudul Finishing dan Polishing
pada Resin Akrilik dan Alloy yang bertujuan agar pembaca dapat membedakan
definisi proses finishing dan polishing pada resin akrilik dan alloy, bahan abrasif
apa yang terlibat dan tahapan proses dari finishing dan polishing pada resin akrilk
dan alloy.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa definisi finishing dan polishing?
2. Apa saja tujuan dari finishing dan polising?
3. Apa saja alat dan bahan yang digunakan dalam proses finishing dan
polishing?
4. Bagaimana teknik / proses finishing dan polishing pada resin akrilik dan
alloy?
5. Apa saja restorasi yang membutuhkan polishing?
6. Apa saja faktor faktor yang dapat mempengaruhi finishing dan
polishing?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui dan memahami definisi finishing dan polishing.
2. Untuk mengetahui dan memahami tujuan dari finishing dan polising.
3. Untuk mengetahui dan memahami alat dan bahan yang digunakan
dalam proses finishing dan polishing.
4. Untuk mengetahui dan memahami teknik / proses finishing dan
polishing pada resin akrilik dan alloy.
5. Untuk mengetahui dan memahami

apa

saja

restorasi

yang

membutuhkan polishing.
6. Untuk mengetahui dan memahami faktor faktor yang dapat
mempengaruhi finishing dan polishing.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.1

Definisi

Finishing adalah proses menghilangkan defek permukaan dengan tujuan


menghasilkan suatu tekstur permukaan tanpa goresan kasar sesuai kontur anatomi.
Polishing adalahsuatu proses kelanjutan dari finishing untuk mendapatkan
permukaan yang halus dan mengkilap.
2.1.2

Manfaat

1. Kesehatan Mulut
Restorasi dengan kontur dan pemolesan yang baik akan meningkatkan
kesehatan mulut dengan cara mencegah akumulasi sisa makanan dan bakteri
patogen.
2. Fungsi
Fungsi rongga mulut akan meningkat jika restorasi dipoles dengan baik
karena makanan akan meluncur lebih bebas pada permukaan oklusal dan
embrasur selama mastikasi.
2. Estetika
Permukaan restorasi tampak jelas sehingga pasien akan percaya diri dengan
hasil restorasi seperti gigi asli.
2.2 Prinsip dari Cutting, Grinding, Finisihing dan Polishing
Tujuan dari prosedur finishing dan polishing adalah mendapatkan anatomi
yang diinginkan, oklusi yang sesuai, serta pengurangan tingkat kekasaran, tingkat
kedalaman gouge, dan goresan yang terjadi akibat penggunaan peralatan finishing
& contouring.
Polished surface harus cukup halus untuk ditoleransi oleh jaringan lunak
mulut dan untuk menahan adhesi bakteri & akumulasi plak.Ketika terdapat plak
pada permukaan bahan restorasi, plak tersebut harus dapat dibersihkan dengan
mudah dengan cara penyikatan atau flossing.
Proses cutting melibatkan instrumen berpisau atau instrumen lain yang
berbentuk seperti pisau. Ketika 30-fluted finishing bur digunakan pada suatu
permukaan, pola yang terbentuk akibat pisau pemotong hanya dapat diketahui jika
dilakukan perbesaran pada permukaan tersebut.

Proses grinding menghilangkan partikel kecil pada substrat dengan


menggunakan

coated

abrasive

instrumen

atau

bonded

abrasive

instrumen.Instrumen grinding mengandung partikel abrasif yang tersusun secara


acak. Contohnya diamond-coated rotary instrumen mungkin mengandung banyak
partikel diamond yang tajam. Karena tersusun secara acak, terbentuk banyak
goresan yang arahnya tak beraturan pada permukaan material.

Cutting & grinding menghasilkan permukaan dengan goresan yang


berorientasi pada satu arah dominan.Tipe bur yang digunakan dan berbeda akan
menghasilkan efek yang berbeda.

Carbide bur dengan banyak mata pisau akan menghasilkan permukaan yang
lebih halus daripada carbide bur dengan sedikit mata pisau.

Diamond bur yang kasar akan menghilangkan material dengan cepat namun
menyebabkan permukaan menjadi kasar.

2.2.1

Proses Bulk-Reduction

Bulk-reduction process dilakukan menggunakan instrument, seperti


diamond burs, abrasive wheels, tungsten carbide burs, steel burs, dan
separating disc.
1.

Diamond burs & abrasive wheels dgn cara grinding

2.

Steel burs & carbide burs dgn cara cutting menggunakan hard

blade
Abrasive coated discs digunakan untuk resin-based comosite

3.

restoration

Bulk-reduction of composite 8-fluted sampai 12-fluted carbide burs


atau abrasive dengan ukuran partikel 100m atau lebih besar dan dengan
tingkat

kekerasan 9 sampai 10 Mohs.


Bulk-reduction pada keramik & logam ikuti petunjuk penggunaan dari

produsen
2.2.2

Contouring

Contouring dapat diperoleh saat proses bulk-reduction, tetapi dlm


beberapa kasus, diperlukan finer cutting instrument atau finer cutting abrasive
untuk menghasilkan kontrol yang lebih baik pada contouring & detail
permukaan.

Di akhir contouring, harus didapatkan anatomi dan margin yang sesuai

Tingkat kehalusan pada tahap ini bergantung pada instrumen yang


digunakan dan mungkin memerlukan tahap lanjutan untuk menghasilkan
permukaan yang lebih halus lagi.

Umumnya digunakan 12-fluted sampai 16-fluted carbide burs atau bahan


abrasif dengan kisaran ukuran 30 sampai 100m.

2.2.3

Finishing
Secara umum, finishing & polishing memerlukan pendekatan bertahap,

meciptakan goresan halus pada permukaan substrat untuk menghapus goresan


yang lebih dalam. Proses ini mungkin membutuhkan beberapa tahap untuk
mencapai tingkat kehalusan yang diinginkan.

Hasil dari finishing berupa permukaan yang relatif bebas dari cacat.

Dilakukan menggunakan 18-fluted sampai 30-fluted carbide burs, fine &


superfine diamond burs, atau bahan abrasif lainnya yang berukuran 8 sampai
20m

2.2.4

Polishing

Tujuan polishing menghasilkan restorasi yang sangat mirip dengan


enamel serta mengkilau. Partikel yang lebih kecil menghasilkan permukaan
yang lebih halus & mengkilap.

Idealnya digunakan partikel bahan abrasif dengan ukuran max 20m.

Permukaan yang dipolish harus dibersihkan setiap kali selesai melakukan


1 tahap, jika tidak maka dapat menyebabkan goresan yang lebih dalam.

Kualitas permukaan yang dilakukan polishing & finishing dapat diketahui


dengan profilometer (potical microscope) atau SEM.

Permukaan yang sangat halus tidak selalu sangat mengkilau.

Contoh polishing instrument rubber abrasive point, fine-particle discs


& strips, dan fine-particle polishing paste.

Polishing paste diaplikasikan menggunakan soft felt point, muslin (woven


cotton fabric) wheel, prophylaxis rubber cups, or buffing wheel. Aplikator ini
harus bersifat nonabrasive.
Aplikator yang sering digunakan untuk buffing felt, leather, rubber, dan

synthetic foam.
Polishing bersifat multidirectional hasil permukaan yang dipolish akan

memiliki goresan-goresan ke segala arah.

Panas yg dihasilkan ketika cutting, contouring, finishing, dan polishing


perlu diperhatikan. Untuk menghindari efek buruk pada pulpa, permukaan
restorasi harus didinginkan dengan pelumas, contohnya air-water spray, dan
menghindari kontak yang kontinyu antara high-speed rotary instrumen
dengan substrat sehingga debris yang terbentuk dapat dihilangkan.

Keefektifan & kecepatan contouring, finishing, dan polishing kan lebih


meningkat dengan dihilangkannya debris

2.2.5

Bahaya Biologis dari proses Grinding, Finishing, and Polishing

Dokter gigi, perawat gigi, serta pasien berisiko terkena infeksi & penyakit
kronis pada mata dan saluran pernapasan karena partikel padat terlepas&
tersebar ke ruangan ketika proses finishing dan dapat terhirup.

Partikel padat ini mungkin mengandung struktur gigi, dental material, dan
mikroorganisme.

Silikosis (grinders disease) adalah penyakit yg umum terjadi akibat


inhalasi dari partikel-partikel aerosol yang dilepaskan oleh material berbahan
dasar silika yang digunkan dalam finishing restorasi.

Aerosol yang terbentuk selama finishing dapat dikontrol dengan cara:

Dapat dikontrol pada sumbernya dengan melakukan prosedur


pengendalian infeksi yang memadai, semprotan air, dan high-volume suction.

Personal protective equipment (PPE) seperti kacatama pelindung


dan masker sekali pakai.

Seluruh fasilitas harus memiliki sistem ventilasi yang memadai


yang dapat menghilangkan partikel residu dari udara.

2.3 Abrasi
Wear adalah proses removal material yang dapat terjadi setiap kali permukaan
bergesekan terhadap satu sama lain. Proses finishing restorasi melibatkan abrasive
wear melalui penggunaan partikel keras. Dalam kedokteran gigi, partikel terluar
atau permukaan material instrumen disebut sebagai abrasif. Bahan yang dilakukan
finishing disebut substrat.Arah rotasi :
1. Ketika handpiece dan bur ditranslasikan dalam arah yang berlawanan dengan
arah rotasi bur di permukaan yang terabrasi, hasil grinding menjadi lebih
halus.
2. Ketika handpiece dan bur ditranslasikan dalam arah yang sama dengan arah
rotasi bur di permukaan, bur cenderung "lari" dari substrat, sehingga grinding
menjadi tidak terkendali dan permukaan menjadi lebih kasar.
Abrasi dibagi menjadi beberapa proses, yaitu :
Two-body abrasion
a.

Terjadi ketika partikel abrasif terikat rapat pada permukaan


instrumen abrasif dan tidak ada partikel abrasif lainnya digunakan.

b.

Contohnya bur berlian yang mengabrasi gigi

Three-body abrasion
a.

Terjadi ketika partikel abrasif bebas bertranslasi dan berotasi


diantara 2 permukaan.

b.

Contohnya penggunaan non bonded abrasive seperti dental


prophylaxis pastes. Non bonded abrasive ini diletakan dalam rubber cup
lalu dirotasikan terhadap gigi atau permukaan material.

Efisiensi cutting dan grinding akan meningkat dengan penggunaan pelumas,


contohnya glycerin, air, atau silicone. Untuk intraoral, seringkali digunakan
pelumas yang dapat larut dalam air.Kelebihan pelumas dapat mengurangi efisiensi
cutting

karena

akanmengurangi

kontak

antara

substrat

dan

bahan

abrasif.Kekurangan pelumas dapat mengurangi efisiensi cutting karena akan


menimbulkan panas.

2.4 Erosion
Erosive

wear

disebabkan

oleh

partikel

keras

yang

berdampak

padapermukaan substrat, dibawa oleh aliran cairan atau aliran udara, seperti yang
terjadi pada sandblasting permukaan.Umumnya laboratorium gigi memiliki airdriven grit-blasting unit yang menggunakan hard-particle erosion untuk
menghilangkan permukaan material. Harus dibuat perbedaan antara jenis erosi ini
dan erosi kimia, yang melibatkan bahan kimia seperti asam dan alkali, bukan hard
particle, untuk menghapus bahan substrat.
Erosi kimia, lebih umum disebut etsa asam dalam kedokteran gigi, tidak
digunakan sebagai metode bahan finishing gigi. Etsa asam digunakan terutama
untuk menyiapkan permukaan gigi untuk meningkatkan ikatan atau lapisan.

2.5 Tipe Bahan Abrasiv


1. Arkansas

Batu arkansas adalah batu endapan silika yang berwarna abu-abu muda
dan semi translusen yang ditambang di Arkansas.

Mengandung quartz mikrokristal dan mempunyai corak yang padat, keras,


serta seragam.

Potongan kecil dari mineral ini dicekatkan pada batang logam dan ditruing
ke berbagai bentuk untuk mengasah email gigi dan logam campur.

2. Chalk

Salah satu bentuk mineral dari calcite disebut kapur.

Kapur adalah abrasif putih yang terdiri atas kalsium karbonat.

Digunakan sebagai pasta abrasif ringan untuk memoles email gigi,


lembaran emas, amalgam, dan bahan plastis.

3. Corundum

Bentuk mineral dari oksida alumunium yang biasanya berwarna putih.

Sifatnya lebih rendah daripada oksida alfa-alumunium.

Digunakan untuk mengasah logam campur dan paling umum digunakan


pada instrumen yang disebut white stone.

4. Diamond

Intan adalah mineral tidak berwarna, transparan yang terdiri atas karbon
dan merupakan senyawa paling keras.

Disebut superabrasif karena kemampuannya untuk mengasah substansi


apapun.

Digunakan pada bahan keramik dan resin komposit.

5. Emery

Mengandung bahan utama aluminium oksida

Bahan lain yang terkandung adalah magnetite, hematite, magnesia, titania,


silika

Digunakan dalam cakram abrasif dalam berbagai ukuran untuk


menyelesaikan restorasi logam atau protesa akrilik.

6. Garnet

Merupakan bahan abrasif keras sehingga digunakan untuk menggerinda


bahan logam maupun plastik (akrilik)

Termasuk kelompok mineral silikat

Tersedia dalam bentuk ampelas maupun cakram.

7. Pumice

Berasal dari batu vulkanik mengandung silika 60-70%

Bubuk pumice merupakan bahan abrasif untuk memoles material halus

Aksi abrasi meningkat sesuai dengan ukuran partikelnya, tapi mudah rusak
jika digunakan untuk memoles material keras

Merupakan bahan abrasif pilihan untuk memoles akrilik dan logam emas

Bubuk pumice biasanya dicampur air atau glycerin pada penggunaannya


untuk mencegah timbulnya panas.

8. Quartz

Bentuk quartz yang paling sering digunakan adalah yang sangat keras,
tidak berwarna, dan transparan.

Digunakan terutama untuk merapikan logam campur dan dapat digunakan


untuk mengasah email gigi.

9. Sand

Sand atau quartz merupakan bahan abrasif dari silika murni, tersedia
dalam bentuk ampelas dengan berbagai macam tingkat kekerasan.

Sand juga biasa digunakan dalam proses sand blasting.

10. Tripoli

Berasal dari endapan batu silika yang rigan dan rapuh.

Berwarna putih, abu-abu, pink, merah atau kuning.

Digunakan untuk memoles logam campur dan beberapa bahan plastik.

11. Zirconium

Zirkonium dipasok sebagai mineral berwarna putih kekuningan.

Bahan ini digiling menjadi partikel dengan berbagai ukuran dan digunakan
untuk melapisi disk abrasif serta ampelas.

Digunakan sebagai komponen pasta profilaksis gigi.

12. Cuttle

Cuttlefish, cuttle bone, atau cuttle adalah nama yang umum untuk abrasif
ini.

Merupakan bubuk putih calcareus yang terbuat dari bagian dalam rumah
kerang laut.

Tersedia sebagai abrasif lapisan dan digunakan untuk prosedur abrasi yang
halus seperti memoles tepi logam dan restorasi amalgam gigi.

13. Kieselgurh

Dikenal sebagai tanah diamote

Merupakan bahan abrasif medium / ringan dipergunakan pada pasta gigi.

14. Silicon carbide

Berbagai tipe carbide merupakan material pilihan pada proses abrasi,


seperti sillicone carbide (SIC), baron carbide (B4C). Kedua produk
tersebut diproses dengan cara pemanasan sillicone dan baron pada
temperatur tinggi sehingga dapat bersatu dengan carbon

Tersedia dalam bentuk batu gurinda/cakram

Digunakan untuk memotong gigi (bor baja)

15. Alumunium oxide

Berasal dari bauksit

Diproduksi dalam berbagai macam ukuran, berupa kertas ampelas maupun


cakram, berwarna merah coklat dengan tingkat kekasaran yang berbeda

Digunakan untuk memoles spesimen dari logam, resin komposit dan


keramik

16. Rouge

Berasal dari iron oxide (Fe2O3) berupa bubuk halus berwarna merah

Bahan abrasif halus dan dipergunakaan untuk memoles emas dan alloy
logam.

17. Tin oxide

Tin oxide ( SnO2) merupakan mineral yang digunakan sebagai bahan


pemoles untuk gigi metal yang berada didalam mulut

Penggunaannya dengan cara dicampur air, alkohol, atau glycerin sehingga


membentuk adonan seperti pasta.

18. Abrasive paste

Pasta abrasif yang sering digunakan, umumnya mengandung almunium


oxide (alumina) atau partikel diamond.

Pasta alumina harus digunakan dengan alat rotary dan jumlah air harus
meningkat karena proses polishing terus dilakukan mulai dari penggunaan
partikel abrasif yang kasar sampai yang halus.

Pasta abrasif diamond digunakan pada kondisi kering.

Instrumen yang digunakan untuk mengaplikasikan pasta pada permukaan


material diantaranya prophy cups (baik jenis ribbed maupun flexible
nonribbed), sikat, dan felt wheels.

Kekurangan pasta abrasif :


Umumnya kental & sulit masuk kedalam lubang-lubang kecil
Cenderung bercipratan ketika berkontak dengan instrumen yang
berputar atau ketika basah
Terbentuk panas ketika pendingin yang tidak tepat digunakan atau
ketika polishing pressure terus diaplikasikan tanpa membiarkan
pendinginan mencapai permukaan

2.6 Abrasive Instrument Design


1.

Abrasive Grits

Abrasive grits atau pasir abrasif berasal dari bahan yang dihaluskan dan
disaring melalu serangkaian penyaring kasa untuk mendapat partikel
dengan ukuran yang bermacam-macam.

Pasir abrasif gigi diklasifikasikan sebagai kasar, cukup kasar, sedang,


halus dan super halus menurut ukuran partikelnya.

Jika bentuk partikel abrasif tidak tepat, atau tidak mengasah dengan cara
yang dapat membuat partikel berujung tajam yang baru, akan cenderung
mencungkil substrat.

2.

Bonded abrasives

Abrasif bonding terdiri atas partikel abrasif yang diikatkan melalui


pengikat untuk membentuk alat pengasah seperti poin, roda, disk
pemotong dll.

Partikel-partikelnya diikat melalui 4 metode umum :


a. Sintering
Abrasif yang disintering adalah jenis yang paling kuat karena partikelpartikel abrasifnya digabung bersama.
b. Bonding viteous (kaca atau keramik)
Abrasif vitreous dicampur dengan bahan matriks kaca atau keramik,
ditekan pada keadaan dingin ke bentuk instrumen dan dibakar untuk
menggabungkan pengikatnya.
c. Bonding resinoid (biasanya resin fenolik)
Abrasif resin adalah abrasif yang ditekan dingin atau panas dan kemudian
dipanaskan untuk mengeraskan resin.
d. Bonding karet (biasanya karet silikon)

3.

Coated abrasive disks and atrips

Abrasif yang dilapis dibuat dengan menanamkan partikel abrasif pada


bahan latar belakang yang lentur (kertas tebal atau Mylar) dengan bahan
adhesif yang sesuai.

Dipasok dalam bentuk disk atau ampelas.

Disk tersedia dengan berbagai diameter dan dengan ketebalan tipis sampai
super tipis.

Lebih menguntungkan bila digunakan disk abrasif atau ampelas yang


tahan cairan karena kekakuannya tidak akan berkurang akibat degradasi
air.

Cairan

berfungsi sebagai

pemotongan.

pelumas

untuk

meningkatkan

efisiensi

4.
Nonbonded

abrasives

Polishing paste termasuk dalam nonbonded abrasives and utamanya


digunakan untuk final polishing. Polishing paste harus diaplikasikan pada
substrat dengan alat nonabrasive, seperti synthetic foam, rubber, felt, or
chamois cloth.

Partikel abrasif terdispersi dalam media water-soluble, contohnya glycerin.

Contoh nonbonded abrasives yang sering digunakan adalah alumunium


oxide dan diamond.

5.
Abrasive

xaERotmple:rycidsbungh

motion

2.7 Prosedur Finishing and Polishing


1.

Acrylic

Resin relatif lembek. Untuk mencegah overheating, bubur pumice dalam


jumlah banyak harus diaplikasikan pada permukaan dan kontak dengan
substrat tidak boleh terus menerus (sebaiknya berselang-seling).

Kontur dengan tungsten carbide burs dan amplas

Gunakan rubber point untuk menghilangkan goresan

Aplikasikan pumice dengan rag wheel, felt wheel, bristle brush, atay
prophy cup tergantung ukuran area yang perlu polishing

2.

Aplikasikan tripoli atau campuran kapur & alkohol dengan rag wheel

Amalgam

Burnishing harus dilakukan 2 kali untuk mendapatkan permukaan yang


bebas dari goresan & retensi.

Burnishing sebelum carving menghilangkan kelebihan mercury &


meningkatkan adaptasi marginal
Burnishing setelah carving meningkatkan kehalusan

Untuk finishing & polishing restorasi amalgam, sebaiknya digunakan


handpiece berkecepatan rendah.

Jika permukaan restorasi telah selesai dilakukan finishing, pasta


prophylaxis diaplikasikan dengan cotton pellet atau nonribbed rubber
prophy cup yang diputar dengan kecepatan rendah dan sedikit tekanan
sehingga diperoleh hasil yang halus, seperti beludru, dan mengkilau.Jika
amalgam telah mengeras sampai tingkat advanced, maka abrasi
menggunakan pasta prophylaxis yang halus tidak akan efektif. Untuk
mengatasinya :
Kontur dengan green stone atau diamond bur berkecepatan rendah.
Dapat juga menggunakan rubber point coklat atau hijau.
Aplikasikan campuran pumice halus & air atau alkohol menggunakan
rotary brush atau felt wheel untuk polishing permukaannya.

3.

Metal inlay

Untuk inlay atau onlay digunakan alloy emas

Kekerasan sebesar 3-4 Moh.

Beberapa metal yang sangat keras, digunakan untuk partial dentures & fusi
porcelain (5-6 Moh)

Finisihing alloy kebanyakan menggunakan kombinasi dari :


Stones
Diks
Wheels

Prosedur

Cetakan dibersihkan dari sisa pencetakan (oleh air, sikat gigi)

Cetakan direndam/diawetkan dalam hidrochloric acid (HCl) u/


menghilangkan lapisan oxida.

Kelebihan hasil cetakan dihilangkan dgn batu carburundum

Cetakan dipisahkan dari sprue dengan menggunakan separating disk

Hasi

l
ditempatkan
pada

die

batu carburundum
digunakkan dengan kecepatan rendah, karena :

untuk menciptakan daerah yang sesuai untuk permukaan


occlusalnya .

Kemudian, dengan batu hijau dapat digunakkan untuk menyelesaikan garis


tepinya dengan memutarkannya dari permukaan inlay menuju garis tepi.
Tujuan :

untuk membentuk metal sedemikian rupa ,dengan membentuknya


kearah garis tepi dan membentuk adaptasi yang menyerupai gigi.

Untuk inlay kelas II ,


Finishing garis tepi proximalnya dilakukan dengan cuttle disk
medium.
Perawatan dilakukan untuk menghindari ganguan pada gusi
dilakukan dengan pemolesan.
Permukannya memiliki kekasaran 0.3-0.5 m setelah dilakukan
pemolesan.

Jadi guratan-guratan masih dapat terlihat pada hasil. Setelah inlay


dipasangkan ke gigi, Finishing terakhir dilakukan dengan :
prophylaxis cup atau bristle brush
penggunaan XXX Silex ,
tepung , atau pumice.

4.

Glass ionomer

Roughness restorasi glass ionomer yang dipoles lebih tinggi daripada


composite dan hybrid ionomer, terutama karena ukuran filler yang lebih
besar

Teknik finishing restorasi glass ionomer seperti composite, kecuali


beberapa produk harus ditunda selama 24 jam sebelum polishing untuk
setting lebih lama.

5.

Composite

Untuk mengurangi kekasaran digunakan :


diamond,
bor carbide,
finishing disk, atau lembaran alumina.

Untuk Finishing akhir, baik untuk microhybrid atau microfilled composite,


digunakan :
rubber rag yang berlapiskan bahan abrasive,
atau rubber cup dengan pasta untuk polishing.

Finishing akan diselesaikan pada area yang basah oleh air.

Finishing akhir untuk light-cured composite dapat dimulai segera setelah


light-curing.

Polishing adalah proses terakhir dari finishing dan biasanya dilakukan


dengan aluminium oxide abrasive dengan kenaikan tingkat ukuran bahan
abrasivenya.

Polishing untuk composite penting,karena permukaan yang halus


dibutuhkan untuk mencegah retensi dari plak dan itu diperlukan untuk
menjaga kebersihan mulut.

Ukuran dari kualitas polishing adalah kekasaran permukaannya .

Perbandingan kekasaran permukaan dari composite dicantumkan pada


table dibawah ini.

Tingkat kehalusan dipengaruhi oleh mylar matriksnya.

Bor carbide menghasilkan permukaan yang lebih halus dari bor


diamond,tetapi setelah polishing hasil kekasarannya serupa.

6.

Ceramic

Permukaan ideal restorasi keramik adalah yang polished dan glazed.


Pembuatan glazed ceramic dgn proses natural glaze atau overglaze tidak
perlu menghasilkan permukaan yang halus jika permukaan keramik pada
awalnya sangat kasar. Permukaan yang halus dapat diperoleh secara
extraoral sebelum protesa disemen.

Di dalam mulut, kekasaran dengan tingkat rendah dapat dilakukan


polishing tanpa mengurangi kualitas permukaan keramik. Polishing dapat
meningkatkan kekuatan permukaan protesa keramik karena polishing
menghilangkan porus, retakan mikro, dan kerusakan berukuran kecil
lainnya.

Pendinginan yang memadai penting dalam finishing dan polishing


restorasi keramik.

Penggunaan air-water spray serta pengaturan waktu kontak antar restorasi


dengan rotary instrumen juga penting. Heatless stone akan mengurangi
panas dan dapat digunakan sebagai alternatif.

Untuk polishing intaoral, aplikasikan intermiten pada rotating instrumen


dengan tambahan air sebagai pendingin.

Teknik finishing & polishing restorasi keramik :


Kontur permukaan keramik dengan flexible diamond disc, diamond
bur, heatless atau polymer stone, atau green stone (silicon carbide).
Finishing dengan white stone atau abrasive-impregnated rubber disc,
cups, dan points. Proses ini mungkin membutuhkan 2 atau 3 tahap,
tergantung sistem yang digunakan.
Polishing dengan fine abrasive-impregnated rubber disc, cups, dan
points atau, jika perlu, gunakan pasta diamond yang diaplikasikan dgn
sikat atau felt wheel.
Aplikasikan lapisan overglaze atau natural glaze pada keramik, jika
diperlukan.

BAB III
PEMBAHASAN
1. DEFINISI FINISHING DAN POLISHING

Finishing merupakan suatu proses yang menghasilkan bentuk akhir dan


kontur dari restorasi. Sedangkan polishing merupakan rangkaian prosedur yang
berfungsi untuk mengurangi atau menghilangkan goresan-goresan yang terjadi
dari proses pekerjaan sebelumnya.
Finishing restorasi melibatkan contouring , penghapusan perbedaan
marginal , mendefinisikan anatomi , dan menghaluskan permukaan dengan
memerlukan agen abrasif yang cukup kasar untuk menghapus sebagian besar dari
permukaan. Polishing meningkatkan kualitas restorasi dengan menghasilkan
permukaan halus dan mengkilat mungkin supaya lebih tahan terhadap korosi dan
noda dengan membutuhkan lebih sedikit bahan abrasif untuk menghaluskan dan
mengkilatkan permukaan.
2. TUJUAN DARI FINISHING DAN POLISHING
1. Mengurangi korosi : Restorasi logam yang dipoles dengan baik akan
terhindar dari tarnis dan korosi sehingga akan lebih tahan lama.
2. Meningkatkan estetis : Permukaan yang halus dan mengkilap akan lebih
terlihat estetis
3. Membuat permukaan terasa lebih halus
4. Mengurangi perlekatan : Permukaan yang halus pada restorasi akan
menyebabkan stain, plak, dan kalkulus sulit lengket

3. ALAT DAN

BAHAN

YANG

FINISHING DAN POLISHING

Alat:
1. Micromotor
2. Mata bur
3. Straight handpiece
4. Mesin poles
5. Felt cone
6. Sikat putar hitam dan putih

DIGUNAKAN

DALAM

PROSES

Bahan:
1. Batu Arkansas
Batu endapan silika yang berwarna abu-abu muda dan semitranslusen
yang ditambang di Arkansas.
2. Kapur
Salah satu bentuk mineral dari calcite disebut kapur. Kapur adalah
abrasif putih yang terdiri atas kalsium karbonat.
3. Korundum.
Bentuk mineral dari oksida aluminium yang biasanya berwarna putih.
Sifat fisiknya lebih rendah daripada oksida alfa-aluminium, yang sudah
banyak menggantikan korundum dalam aplikasi dental.
4. Intan.
Intan adalah mineral tidak berwarna, transparan yang terdiri atas
karbon. Ini adalah senyawa yang paling keras.
5. Amril.
Abrasif ini berupa korundum berwarna hitam keabuan yang dibuat
dalam bentuk butiran halus. Amril digunakan khususnya dalam bentuk
disk abrasif dan tersedia dalam berbagai ukuran kekasaran.

6. Akik.
Istilah akik mencakup sejumlah bahan yang berbeda yang mempunyai
sifat fisik dan kristalin yang sama. Mineral ini adalah silika dari
aluminium, kobalt, besi, magnesium, dan mangan.
7. Pumis.
Aktivitas gunung berapi menghasilkan bahan silika berwarna abu-abu
muda. Digunakan terutama dalam bentuk pasir tetapi juga dapat
ditemukan pada abrasif karet. Kedua bentuk ini digunakan pada bahan
plastik.
8. Quartz.
Bentuk quartz yang paling sering digunakan adalah yang sangat keras,
tidak berwarna, dan transparan. Ini adalah bentuk mineral yang sangat
banyak dan tersebar luas.
9. Pasir.

Pasir adalah campuran partikel mineral kecil yang terutama terdiri atas
silika. Partikel ini berwarna-warni, membuat abrasif pasir mempunyai
penampilan yang khas. Partikel pasir mempunyai bentuk bulat atau
angular.
10. Tripoli.
Abrasif ini berasal dari endapan batu silika yang ringan dan rapuh.
Berwarna putih, abu-abu, pink, merah, atau kuning. Jenis yang
berwarna abu-abu dan merah adalah yang paling sering digunakan
dalam kedokteran gigi.
11. Zirkonium silikat.
Zirkon atau zirkonium silikat dipasok sebagai mineral berwarna putih
kekuningan. Bahan ini digiling menjadi partikel dengan berbagai
ukuran dan digunakan untuk melapisi disk abrasif serta ampelas. Sering
digunakan sebagai komponen pasta profilaksis gigi.

12. Cuttle.
Cuttlefish, cuttle bone, atau cuttle adalah nama yang umum untuk
abrasif ini. Merupakan bubuk putih calcareus yang terbuat dari bagian
dalam rumah kerang laut Mediterania dari genus Sepia.
13. Kieselguhr.
Bahan ini terdiri atas sisa-sisa silika dari tanaman laut kecil yang
disebut diatom. Bentuk yang lebih kasar disebut tanah diatomaceus,
yang digunakan sebagai bahan pengisi pada beberapa bahan gigi seperti
bahan cetak hidrokoloid.
14. Silikon Karbid.
Abrasif yang sangat keras dan merupakan abrasif sintetik yang pertama
kali dibuat. Baik yang berwarna hijau atau hitam-biru mempunyai sifat
fisik yang setara.
15. Oksida Aluminium.
Oksida aluminium adalah abrasif sintetik kedua yang dikembangkan
sesudah silikon karbid. Oksida aluminium sintetik (alumina) dibuat
berupa bubuk berwarna putih. Dapat lebih keras daripada korundum
(alumina alami) karena kemurniannya.
16. Abrasif Intan Sintetik.

Intan buatan digunakan khusus sebagai abrasif dan dibuat lima kali
lebih besar dari tingkat abrasif intan alami. Jenis abrasif ini digunakan
pada pembuatan gergaji intan, roda, dan bur intan.
17. Rouge.
Oksida besi adalah senyawa abrasif yang halus dan berwarna merah
dalam rouge. Bahan ini dipadukan seperti tripoli, dengan berbagai
pengikat lunak menjadi bentuk bedak. Digunakan untuk memoles
logam campur mulia yang berkadar tinggi.
18. Oksida Timah.
Abrasif yang sangat halus ini digunakan secara luas sebagai bahan
pemoles untuk gigi dan restorasi logam di dalam mulut.

4. TEKNIK/PROSES FINISHING DAN POLISHING PADA RESIN


AKRILIK DAN ALLOY
4.1 Ada 3 tahap:
a.
b.
-

Tahap penyelesaian
Mengubah bahan kasar menjadi halus dan rapi
Untuk menghilangkan bahan bahan seperti noda
Bahan dibentuk ideal sesuai yang diinginkan
Tahap pemotongan
Menggunakan instrument berbentuk seperti billah kemudian menjadi potongan

yang terpisah
c. Tahap polishing
- Menghasilkan partikel yang sangat halus sehingga menjadi permukaan halus dan
mengkilat
4.2 Polishing terhadap resin akrilik secara mekanik
a. Digunaan pumice + air
b. Pumice dioleskan pada permukaan mata brush dengan mesin brush
c. Lakukan polishing secara perlahan dengan memoleskan permukaan resin
akrilik menjadi halus
d. Digunkaan wol / flannel basah oleh air kemudian gosok ke permukaan
akrilik sampai halus
4.3 Polishing terhadap resin akrilik secara kimiawi
a. Direndam dalam metal metakrilat

b. Tahapannya lebih singkat dari secara mekanik


c. Menghaluskan dari plat resin akrilik

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

4.4 Polishing pada alloy


Merapikan dan menyesuaikan ukuran semula
Dipoles dengan Arkansas stone menjadi halus
Digosok dengan rubber merah
Digosok dengan rubber hijau
Dipotong dengan diamond disc
Rapikan dan poles
Permukaan halus dan mengkilap
4.5 Prinsip sebelum digunakan pumice
a. Disesuaikan ukuran dengan rahang atas dan rahang bawah menggunakan

frazzer straight handpiece


b. Bentuk lempeng disesuaikan dengan outline
c. Permukaan sikat hitam dan bubuk batu kapur
d. Permukaan sikat putar putih dan bubuk batu kapur
5. APLIKASI FINISHING DAN POLISHING PADA KEDOKTERAN GIGI
1. Tumpatan Semen (GIC)
Klasifikasi :
Tipe I (konvensional) sebagai bahan perekat restorasi.
Tipe II sebagai bahan restorasi.
Ada 4 macam :
Ionomer Kaca konvensional, Ionomer Kaca hybrid, Kaca tricure Ionomer, Kaca
metal.
Manipulasi:
Ada 2 Mekanis : Menggunakan amalgamator Manual : Ada 3 cara (sircular
motion, figure eight, fold and press motion) Menggunakan alert (semen spate until
mengaduk), plastis

instrument (untuk memasukkan, ke dalam cavitas) Powder :

Liquid = 1,3 : 1 sesuai anjuran paprika Pencampurannya hinge tampa glossy


(mengkilat) tidak boleh hingga buram (Vanable, 2004)
2. Resin Komposit
a. Intan
Mineral

tidak

berwarna,

transparan

yang

terdiri

atas

karbon.

Senyawa paling keras, disebut super abrasif karena dapat mengasah substansi
apapun. Digunakan pada bahan keramik dan resin komposit.
b. Abrasif intan sintetik
Digunakan khusus sebagai abrasif dan dibuat 5 kali lebih besar dari tingkat
abrasif intan alami. Digunakan pada gergaji intan, roda, dan bur

intan.

Blok

yang ditanami partikel intan digunakan untuk mengasah jenis abrasi yang
lain. Pasta pemoles intan juga dibuat dari partikel yang diameternya lebih kecil
dari 5 um dan digunakan untuk memoles bahan keramik. Abrasive intan sintetik
digunakan terutama untuk struktur gigi, bahan keramik, dan bahan resin komposit.
c. Instrumen poles
Abrasif karet, disk dengan partikel halus atau amplas, dan pasta poles
dengan partikel halus
3. Resin Akrilik
Menggunakan bahan abrasif batu arkansas, pasir, dan pumice.
4. Alloy
Batu gerinda merupakan sebuah batu atau alat yang digunakan untuk
mengasah, menghaluskan, meruncingkan, atau mengikis benda kerja yang
biasanya berupa material logam

7. FAKTOR-FAKTOR YANG DAPAT MEMPENGARUHI PROSES


FINISHING DAN POLISHING

Sifat-sifat mekanis bahan abrasif


Bila bahan abrasif pecah, hendaknya dihasilkan tepi baru yang tajam. Jadi
kerapuhan suatu bahan abrasif dapt merupakan suatu keberuntungan.

Sifat-sifat bahan yang hendak digosok


Bahan yang rapuh dapat digosok dengan cepat, sedangkan bahan yang lunak
dan kenyal (misalnya, emas murni) akan mengalir dan bukannya terasah oleh
abrasif.

Kekerasan partikel abrasive


Untuk mendapatkan abrasi maksimal maka partikel abrasif harus lebih keras
dibandingkan permukaan yang akan diabrasi. Bahan abrasif biasanya terbuat
dari bahan yang sangat keras misalnya, diamond adalah bahan yang paling
keras, sedangkan batu apung, batu akik, dan lain-lain relatif lebih lunak.

Ukuran partikel abrasive


Semakin besar partikel abrasif maka goresan yang ditimbulkan juga semakin
dalam. Semakin dalam goresan maka sejumlah besar permukaan bahan akan
hilang.

Bentuk partikel bahan abrasive


Bentuk partikel dapat berupa spherical ataupun irreguler. Bentuk irreguler
dipahami dapat lebih meningkatkan abrasi dibandingkan bentuk spherical,
karena tepi bentuk irreguler cenderung untuk menggerus permukaan
dibandingkan bentuk bulat yang hanya berputar pada permukaan bahan. Oleh
karena itu bentuk spherical kurang mengabrasi dibandingkan bentuk irreguler.

partikel yang mempunyai tepi tajam akan lebih efisien daripada partikel yang
bersudut tumpul.

Tekanan bahan abrasif


Tekanan yang berlebih pada saat finishing dan poles akan meningkatkan
abrasi pada permukaan restorasi/material. Hal ini juga dapat meningkatkan
suhu material yang dipoles karena gesekan. tekanan yang berlebihan dapat
menyebabkan potongan yang lebih dalam pada area tersebut, menyebabkan
kekasaran permukaan yang berisiko menempelnya plak dan permukaan
terlihat kusam

Kecepatan putar
Semakin tinggi kecepatan putar yang digunakan maka abrasi yang terjadi
semakin besar, dan juga meningkatkan suhu.

Material abrasive
Pemilihan material bahan abrasif yang sesuai sangat penting untuk
diperhatikan. Semakin keras permukaannya maka semakin keras pula bahan
abrasif yang harus digunakan. Menggunakan bahan abrasif yang lebih lunak
daripada permukaan akan merusak bahan abrasif tersebut. Tabel dibawah
menunjukan tingkat kekerasan bahan abrasif yang biasa digunakan.

Pelumas
Air merupakan pelumas yang sering digunakan. Air digunakan bersamaan
dengan bur untuk mendinginkan gigi saat preparasi kavitas. Pada saat
finishing dan polishing, pelumas juga disarankan untuk digunakan sebagai
pembawa panas yang timbul pada saat pengabrasian.

Gerakan menggosok material

Semakin cepat gerakan yang dilakukan maka semakin besar panas yang
dihasilkan. Panas ini dapat menyebar pada gigi dan jaringan pada gigi.
Beberapa akibat yang dapat timbul adalah kerusakan berlebihan pada material
yang di-polish dan dapat melukai pulpa gigi, maka dari itu kecepatan yang
dianjurkan adalah lambat dan sedang. Penggunaan material pelindung
tambahan dapat mengurangi risiko akibat bahan abrasif tersebut, material
pelindung ini dapat berupa cairan tertentu. Cairan tersebut dapat pula
berperan sebagai pelumas yang membantu kerja bahan abrasive

BAB IV
KESIMPULAN
1. Finishing merupakan suatu proses yang menghasilkan bentuk akhir dan
kontur dari restorasi. Sedangkan polishing merupakan rangkaian prosedur

yang berfungsi untuk mengurangi atau menghilangkan goresan-goresan


yang terjadi dari proses pekerjaan sebelumnya.
2. Tujuan dari finishing dan polishing adalah mengurangi korosi,
meningkatkan estetis, membuat permukaan terasa lebih halus, dan
mengurangi perlekatan.
3. Alat yang diperlukan dalam proses finishing dan polishing adalah
micromotor, mata bur, straight handpiece, mesin poles, felt cone, sikat
putar hitam dan putih
4. Bahan yang digunakan dalam proses finishing dan polishing adalah bahan
abrasif,
5. Tekanan, kecepatan, material, sifat-sifat bahan yang akan digosok,
kekerasan partikel abrasive, ukuran, dan gerakan merupakan beberapa
faktor yang mempengaruhi proses finishing dan polishing

DAFTAR PUSTAKA
Ningsih,
Terhadap

D. S.,

dan

Indrani,

D.

J. 2010.

Aplikasi

Bahan

Abrasif

Kekerasan Permukaan Resin Komposit. Dentika Dental Journal, Vol

15, No. 1: 82-86

Manappallil, J. J. 2003. Basic Dental Materials Second Edition. Jaypee Brothers.


New Delhi.
Annusavice, Kenneth J. 2004. Phillips: Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi.
Jakarta: EGC.
McCabe, J.F. (John F.) Applied dental materials. 9th ed.2008 / J.F. McCabe,
A.W.G