Anda di halaman 1dari 116

LAPORAN KULIAH LAPANGAN

MORFOLOGI TUMBUHAN

Sicincin,Kab.Padang Pariaman
4 JUNI 2010

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Mata Kuliah Morfologi


Tumbuhan

Oleh:
Kelopok 3
Pendidikan Biologi (RM)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2010

1
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, dan


berkat rahmat dan izin-Nya, kegiatan penulisan Laporan Kuliah Lapangan
Morfologi tumbuhan telah dapat penulis laksanakan sesuai dengan waktu
yang ditetapkan dan Insya Allah dapat diselesaikan dengan baik. Adapun
tujuan penulisan Laporan Kuliah Lapangan ini adalah untuk melengkapi
tugas-tugas mata kuliah Taksonomi Tumbuhan Tingkat Rendah, selain itu
untuk memberikan hasil pengamatan dalam kuliah lapangan.
Adapun laporan ini tersusun dengan baik atas kerjasama dan
partisipasi teman-teman dari kelompok 3 Pendidikan Biologi (RM) 2009.
Laporan ini dapat tersusun dengan baik tidak lepas dari bantuan berbagai
pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih yang dalam kepada :
1. Bapak/Ibu dosen yang telah membantu kami dalam
mengidentifikasi/mengklasifikasi objek.
2. Kakak-kakak asisten yang telah membantu kami dalam
pelaksanaan kuliah lapangan, pembuatan herbarium, dan
pengklasifikasian objek.
Semoga semua kebaikan dan bantuan Bapak/Ibu dosen serta kakak-
kakak asisten dapat menjadi amal ibadah dan Allah SWT melipat gandakan
semua itu.
Penulis sangat menyadari, dalam penulisan laporan ini masih banyak
terdapat kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, masukan, saran, dan
kritik yang menunjang untuk kesempurnaan laporan ini sangat diharapkan.
Semoga laporan kuliah lapangan Morfologi Tumbuhan ini dapat
bermanfaat bagi yang memerlukannya.

Padang, 4 Juni 2010

TimPenulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................. i
DAFTAR ISI................................................................................................. ii
BAB 1. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.................................................................................. 1
B. Tujuan...............................................................................................
C. Waktu dan tempat..............................................................................

BAB 2. DASAR TEORI


A. Pendahuluan.................................................................
B. Akar.............................................................................
C. Batang..........................................................................
D. Daun.............................................................................
E. Bunga...........................................................................
F. Buah.............................................................................
G. Biji................................................................................

KESIMPULAN.....................................................................
DAFTAR PUSTAKA...........................................................

BAB 1
PENDAHULUAN

3
A. Latar Belakang
Mata kuliah morfologi tumbuhan ini tidak hanya mempelajari
bentuk dan susunan tubuh tumbuhan,tapi juga menentukan apakah fungsi
masing-masing bagian itu dalam kehidupan tumbuhan
Sekarang ini jenis tanaman beragam, dengan struktur dan ciri khas
yang berbeda -beda. Begitu juga dengan habitat dan habitusnya. Dalam hal
ini kita akan mengalami kesulitan untuk mengenal dan mempelajari
tanaman-tanaman yang ada ataupun pernah ada. Usaha yang dapat kita
lakukan untuk mengatasi kesulitan itu salah satunya adalah dengan cara
mempelajari struktur morfologinya serta mengoleksi dan mengawetkan
tanaman tersebut, yang disebut dengan specimen herbarium.

B. Tujuan
Adapun tujuan dari kegiatan kuliah lapangan Morfologi Tumbuhan Ini
adalah :
1. Mahasiswa dapat lebih mengenal dan memahami organ-organ
Spermathophyta dari tumbuhan yang didapat
2. Mahasiswa dapat mengetahui bermacam-macam tumbuhan yang ada
di hutan yang telah ditempuh.
3. Mahasiswa mengetahui morfologi atau bentuk luar dari masing-
masing tumbuhan yang didapat tersebut.

C. Waktu dan Tempat


Hari / tanggal : Jumat / 4 Juni 2010
Pukul : 08.00- selesai
Tempat : Sicincin, Kec. 2X11 enam lingkung, kab. Padang
Pariaman.

BAB II
TEORI DASAR

4
Bentuk-Bentuk Hidup Tumbuhan
A. Macam-macam habitat
Bentuk-bentuk hidup tumbuhan berdasarkan penyesuaian terhadap
lingkungan dapat dibedakan atas :
1. tumbuhan hidrofit (hidrophyte) yang hidup
dilingkungan yang basah berair.
2. mesofit (mesophyte) yang hidup dilingkungan yang
lebab.
3. xerofit (xerophyte) yang hidup dilingkungan yang
kering.
4. halofit (halophyte) yang hidup dilingkungan yang
beragam
B. Macam-macam habitus
Habitus atau perawakan batang tumbuhan dapat dibedakan seperti
berikut :
1. Batang basah (herbaceus), batang lunak dan berair. Contoh
inai (Impatien balsamina L), kangkung (Impomoea aquatica
Forsk.)
2. Batang berkayu (lignosus), batang yang biasanya keras dan
kuat karena sebahagian besar terdiri atas kayu. Batang
berkayu dapat dibedakan atas 3 bentuk yaitu:
Pohon (arbores), tumbuhan berkayu, tingginya lebih
dari 2 meter, yang jelas batang pokoknya,
percabangan jauh di atas tanah. Contoh pohon jambu,
pohon mangga dan lain-lain.
Perdu (frutices), tumbuhan berkayu, tingginya
sampai 2 meter, jelas batang pokoknya, percabangan
dekat dari tanah. Contoh cabe, rimbang dan lain-lain.
Semak (suffrutices), tumbuhan berkayu, tingginya
sampai 2 meter, tidak jelas batang pokok,
percabangan dekat dari tanah. Contoh melati,
tembolok ayam dan lain-lain.

5
3. Batang rumput (calmus), batang bulat, berongga,
mempunyai ruas dan buku yang jelas dan pendek. Contoh padi,
tebu, bambu, dan lain-lain.
4. Batang mendong (calmus), batang segitiga, tidak berongga,
mempunyai 1 ruas yang panjang . Contoh rumput teki.
C. Morfologi Daun
Daun biasanya tipis melebar, berwarna hijau karena banyak
mengandung klorfil, merupakan organ pokok dari tumbuhan. Fungsi utama
dau adalah untuk pengambilan zat-zat makanan (resorbsi), terutama yang
berupa gas (CO2), pengolahan zat-zat makanan (asimilasi), penguapan air
(transpirasi) dan pernafasan (respirasi).
1. Perkembangan daun
Bakal daun terbentuk dari satu sisi meristem apeks pada pucuk
batang. Meristem apeks itu sendiri akan tumbuh membesar dengan adanya
pembelahan dan pembesaran sel. Hal ini membuat meristem apeks menjadi
lebih tinggi. Pada tumbuhan dikotil pangkal bakal daun biasanya terbatas
pada sebagian kecil di sekeliling meristem apeks batang. Sedangkan pada
tumbuhan monokotil pangkal daun biasanya menempati sebagian besar
keliling batang.
Ukuran daun bertambha melalui pembelahan dan pembesaran sel
daun lambat laun mencapai ukuran dan bentuk akhir. Penambahan ukuran
disebabkan penambahan dalam pembelahan sel dan perluasan sel. Pada
perkembangan daun dad beberapa meristem yang bekerja yaitu :
a. Meristem apeks (apical meristem) yang menyebebkan daun
menjadi tinggi.
b. Meristem tepi (marginal meristem) yang menyebabkan daun
menjadi lebar.
c. Meristem lebar (plate meristem) yang menyebabkan daun
menjadi pipih.
d. Meristem antara (intercalary meristem/0 memperpanjang
tangkai daun dan juga ikut memperpanjang daun terutama
pada graminea.

6
e. Meristem adaksial yang menyebabkan tulang daun lebih
tebal dari helaian daun.
Pada tumbuhan dikotil dan monokotil terdapat perbedaan yang
mendasar dalam aktifitas meristematiknya kea rah bagian atas (distal) atau
kea rah bagian bawah (proksimal) daun. Pada daun dikotil bagian proksimal
daun berkembang menjadi pangkal daun dan daun penumpu jika ada.
Bagian distal daun akan berkembang menjadi helaian daun. Sedangkan pada
daun monokotil ternyata hanya sebentar saja aktif. Untuk pembentukan
seluruh hlaian daun dan pelepah serta tangkai daun jika ada berasala dari
bagian bawah bakal daun. Bagian distal hamper tidak aktif dan kadang-
kadang terlihat sebagai ujung daun yang bersifat rudimen.
2. Variasi daun
a. Kelengkapan daun
Daun lengkap yaitu daun yang terdiri atas helaian daun
(lamina), tangkai daun (petiolus), dan pelepah daun (vagina). Daun
yang tidak lengkap adalah daun yang tidak mempunyai satu atau dua
bagian dari bagian-bagian tersebut. Ada beberapa macam daun yang
tidak lengkap, yaitu :
a. Terdiri dari tangkai dan helaian daun disebut dengan daun
bertangkai
b. Terdiri dari pelepah dan helaian daun disebut daun
duduk.berupih.
c. Terdiri dari helaian daun saja disebut daun duduk.
d. Terdiri dari tangkai daun saja disebut helaian daun semu atau
palsu.
b. Bangun (bentuk) daun (Circumscriptio)
Berdasarkan letak bagian daun terlebar, bentuk umum daun
dapat dibedakan atas 4 golongan yaitu :
A. Bagian yang terlebar berada di tengah-tengah helaian
daun
1. Jika panjang : lebar = 1: 1 disebut bulat atau bundar
(orbicularis). Contoh : pada teratai besar (Jatropa curcas).

7
2. Jika panjang : lebar = (1,5-2) : (1) disebut jorong (ovalisatau
ellipticus) seperti pada nangka (Arthrocarpus communis).
3. Jika panjang : lebar = (2,5-3) : (1) disebut memanjang
(oblongus), seperti pada srikaya (Annona squamosa)
4. Jika panjanag :lebar = (3,5) : (1) disebut lanset ( lanceolatus)
5. Jika tangkai daun tertanam pada bagian tengah disebut
bangun perisai (peltatus), contoh pada keladi (Caladium
bicolor).
B. Bagian yang terlebar terdapat di bawah tengah-tengah
daun
1. Pangkal daun tidak bertoreh
a. Bulat telur (ovatus), contoh pada daunkembang sepatu
(Hibiscus rosa-sinensis)
b. Segi tiga (triangularis), segi tiga sama kaki, seperti
pada kembang bunga pukul empat ( Mirabilis jalapa)
c. Delta (deltoids), segi tiga sama sisi, seperti pada daun air
mata pengantin ( Antigonon leptopus)
d. Belah ketupat (rhomboiides), bangun segi empat
tetapi sisinya tidaskl sama panjang, contoh pada anak daun yang di ujung
pada bengkuang (Pachyrrhizus erosus)
2. Pangkal daun bertoreh atau berlekuk
a. Jantung (cordatus), seperti bulat telur tapi pangkalnya
berlekuk, seperti pada daun waru (Hibiscus tilliaceus).
b. Ginjal atau kerinjal (reniformis), seperi pada pgagan
(Centela asiatica).
c. Anak panah (sagitatus), seperti pada enceng (Saginataria
shitifolia)
d. Tombak (hastatus), pada wewehan (Monocharia hastata)
e. Bertelinga (auriculatus), pada tempuyung (Sonchus arvensis)
C. Bagian yang terlebar terdapat di atas tengah-tengah
helaian daun

8
1. Bulat telur sungsang (obovatus), pada sawo kecik (Manikara
kauki)
2. Jantung sungsang (obcordatus), seperti pada sidaguri (Sida
retusa)
3. Segi tiga terbalik (cuneatus), pada anak daun semanggi
(Marsilea crenata)
4. Sudip (sphatulatus), pada daun tapak liman (Elephantopus
scaber)
D. Tidak ada bagian yang terlebar, dari pangkal sampai
ke ujung hamper sama lebar
1. Garis (linearis), contoh pada daun padi (Oryza sativa)
2. Pita (ligulatus), serupa garis tetapi lebih panjang lagi dan
agak lebar, contoh pada jagung (Zea mays)
3. Pedang (ensiformis), seperti bangun garis tetapi daun tebal
dibagian tengahnya dan tipis dibagian tepinya, pada nenas
seberang (Agave sisalana).
4. Paku atau dabus (subulatus), bentuk daun seperti silindr,
ujung runcing, seluruh bagian kaku, pada daun cemara
(Araucaria cuninghamii)
5. Jarum (acerosus), serupa paku lebih kecil dan meruncing
panjang, pada Pinus merkusii.

c. Ujung daun (apex folii)


Ada beberapa bentuk ujung daun yaitu :
1. Jika pertemuan tepi daun puncak dengan membentuk sudut
lancip, maka disebut ujung daun meruncing (acutus).
Biasanya ditemukan pada daun bangun bulat memanjang,
lanset, segi iga, delta, belah ketupat dan lain-lain. Contoh
pada daun padi.
2. Jika pwertemuan tepi daun berada di bawah puncak maka
ujung daun disebut meruncing (acuminatus). Ditemukan pada
daun kembang sepatu.

9
3. Jika pertemuan tepi daun berada di atas puncak dan
membentuk sedut tumpul maka ujung daun ini disebut
tumpul (obtusus), ditemukan pada daun sawo kecik.
4. Jika pertemuan tepi daun tidak membentuk sudut atau bulat
maka disebut ujung daun daun membulat (rotundatus).
5. Jika ujung daun rata disebut romping (truncates), contoh
pada daun jambu monyet.
6. Jika ujung daun berlekuk maka disebut ujung daun terbelah
(retusus), contoh pada daun saliguri (Sida retusa)
7. Jika ujung daun berduri naka disebut mucronatus, contoh
daun nenas seberang.
8. Jika ujung daunnya menggulung disebut cirrhosus, biasanya
ditemukan pada ujung daun yang bersulur seperti kembang
sunsang.
9. Jika pada daun yang distalnya sempit terdapat ujung yang
panjang seperti jarum disebut aristatus
10. Jika pada daun yang bagian distalnya lbar dan terdapat ujung
yang panjang seperti jarum disebut caudatus.

d. Pangkal Daun (basis folii)


Untuk menentukan bentuk pangkal daun, kita terlebih dahulu
menghubungkan kedua tepi daun ke arah basal.
Adakalanya kedua tepi daun tidak menyatu pada pangkal
daun karena dibatasi oleh tangkai daun. Berdasarkan ini maka
bentuk bentuk pangkal daun dapat dijumpai sebagai berikut :
1. Pangkal daun yang tidak menyatu
a. Runcing / acutus
b. Meruncing / acuminatus
c. Tumpul / obtusus
d. Membulat / rotundatus
e. Rompang atau rata / truncatus
f. Berlekuk / emarginatus

10
g. Hestatus
2. Kedua tepi daun menyatu (connatus)
3. Ditembus batang, jika pangkal daun tumbuh menyatu dengan
daun yang ada dihadapannya disebut connatus-perfoliatus, dan
apabila kedua tepi daun menyatu dan mengelilingi batang
disebut perfoliolatus.

e. Tulang Daun (nervus)


Fungsi tulang daun adalah:
1). Memperkuat daun seperti halnya tulang tulang hewan dan
manusia, oleh sebab itu tulang daun disebut juga rangka daun
2). Transportasi zat zat karena tulang daun itu sesungguhnya
adalah berkas pembuluh angkut.
Berdasarakan besar kecilnya tulang daun, dapat dibedakan menjadi
1). Ibu tulang daun (costa), ukuran terbesar, merupakan terusan
dari tangkai daun, biasanya membagi daun menjadi dua bagian.
2). Tulang daun lateral (nervus lateral), cabang tulang daun yang
keluar dari ibu tulang daun.
3). Urat daun (vena), tulang daun yang amat kecil yang tersusun
seperti jala atau sejajar.
Sistem tulang daun menunjukkan cara tulang daun tersusun
dalam helaian daun. Menurut susunan tulang daunnya dikenal:
1. Jika tulang daun terpencar ke arah tepi daun
a. Bertulang menjari / palminervis, cabang tulang daun
terpencar dari satu titik pada pangkal ibu tulang.
b. Bertulang menyirip / penninervis, cabang keluar di
sepanjang ibu tulang daun.
2. Jika di bagian atas ujung daun tulang tulang menyatu
a. Bertulang lurus / rectinervis, biasanya ditemukan pada
daun rumput rumputan
b. Bertulang melengkung / curvinervis, biasanya
ditemukan pada hampir semua Melastomataceae.

11
Biasanya tumbuhan monokotil mempunyai pertulangan sejajar
dan melengkung, sedangkan tumbuhan dikotil mempunyai pertulangan
menyirip dan menjari. Begitu juga dengan vena (urat daun), pada
tumbuhan monokotil umumnya mempunyai vena sejajar, sedangkan
tumbuhan dikotil mempunyai vena seperti jala. Namun terkadang pada
beberapa jenis, ditemukan pengecualian terhadap hal yang umum di
atas.
f. Tepi Helaian Daun
Berdasarkan torehan yang ada pada daun suatu tumbuhan,
maka daun dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu daun dengan
pinggiran rata / intinger dan daun dengan torehan pada tepinya /
divisus.
Torehan pada pinggir daun sangat beraneka ragam sifatnya,
berdasarkan dalam atau tidaknya torehan pingir daun dapat dibedakan
menjadi dua kelompok.
1. Torehan merdeka, maksudnya bangun daun tidak dipengaruhi
oleh torehan itu. Seringkali torehan tidak berkaitan dengan ibu
tulang daun atau cabang tulang daun.
2. Torehan mempengaruhi bentuk, tepi daun mengubah bangun
umum daun. Torehan biasanya terjadi diantara tulang tulang
cabang dengan tulang daun utama.

Lekukan yang terjadi pada pinggir daun disebut sinus, serta


tonjolannya disebut dengan angulus. Berdasarkan bentuk sinus dan
angulusnya, maka pinggir daun dengan torehan merdeka dapat
dibedakan atas:
1. Bergerigi / serratus, sinus dan angulusnya sama sama runcing.
2. Bergerigi ganda / biserratus, jika angulus pada daun yang
bergerigi mempunyai gerigi lagi.
3. Berombak / repandus, jika sinus dan angulusnya sama sama
tumpul
4. Bergigi / dentatus, jika sinus tumpul dan angulusnya runcing.

12
5. Beringgit / crenatus, jika sinus lancip dan angulus tumpul.

Pada pinggir daun yang mempengaruhi bentuk, berdasarkan


dalamnya torehan dapat dibedakan sebagai berikut:
1. Berlekuk / lobatus, dalam torehan kurang dari setengah
panjang tulang cabang.
2. Bercangap / fissus, dalam torehan sampai dengan setengah
panjang tulang cabang.
3. Berbagi / partitus, dalam torehan melebihi setengah panjang
tulang cabang.

Berdasarkan macam torehan serta hubungannya dengan


pertulangan daun itu sendiri maka pinggir daun dapat berbentuk:
1. Palmatilobus / berlekuk menjari
2. Palmatividus / bercangap menjari
3. Palmatipartitus / berbagi menjari
4. Pinnatilobus / berlekuk menyirip
5. Pinnatividus / bercangap menyirip
6. Pinnatipartitus / berbagi menyirip
g. Daging Daun (Intervenium)
Tebal dan tipisnya daun disebabkan kerja dari meristem papan.
Berdasarkan sifat ini daun dapat dibedakan menjadi :
1. Tipis seperti selaput (membranaceus), ex. Hymenophyllum
australe
2. Seprti kertas (papyraceus atau chartaceus), ex. Musa
paradisiacal
3. Tipis lunak (herbaceous), ex. Nasturtium officinale
4. Seperti perkamen, ex. Cocos nucifera
5. Seperti kulit atau tulang, ex.Calophyllum inophylum
6. Berdaging (carnosus), ex. Aloe sp

13
h. Warna daun
Daun biasanya berwarna hijau sesuai dengan fungsinya sebagai
alat fotosintesis, naun kita temukan daun tidak berwarna hijau seperti
merah kuning kecoklatan dan lain lain.
Misalnya pada daun Acalypha wilkesiana yang berwarna merah
disebabkan karena warna antosianin menutupi warna hijau klorofil.
Untuk mengamati daun sebaiknya dilihat pada tanaman yang
sudah dewasa, karena adakalanya daun muda dari beberapa tumbuhan
mempunyai warna yang tidak sama dengan daun yang sudah dewasa.
i. Permukaan Daun
Permukaan atas daun biasanya berwarna lebih hijau dan
mengkilat dibandingkan dengan permukaan bawah daun. Kadang
kadang permukaan daun dapat ditumbuhi oleh sisik, rambut, duri dan
lain lain.
Berdasarkan hal yang demikian maka permukaan daun
dibedakan atas:
1. Licin (laevis), dapat terlihat mengkilat(nitidus), suram(opacus)
atau juga berselaput lilin (pruinosus).
2. Gundul (glaber)
3. Kasap (scaber)
4. Berkerut (rugosus)
5. Berbingkul bingkul (bullatus), seperti berkerut tapi kerutannya
lebih besar.

6. Berambut (pilus)
a. Berambut (pilosus), rambut pendek dan tersebar (bulu
halus dan jarang).
b. Berambut panjang (villosus), rambut panjang dan lunak.
c. Berambut beludru (velutinus), rabut pendek dan rapat.
d. Berambut kasar (hirsutus), jika rambut kaku, jika diraba
terasa kasar.
e. Berambut bintang (stellato-pillosus), rambut bercabang.

14
f. Berambut duri (sedtotus), rambut amat kaku dan tegar.
g. Berambut bulu (plumosus), rambut seperti bulu yakni
rambut yang masing masing berambut lagi.
h. Berambut empuk (pubescens), rambut pendek, lunak
merapat pada permukaan.
i. Berambut sutera (sericeus), rambut tegak, rapat, lurus,
lunak dan mengkilap.
j. Berambut wol (lonatus), panjang, keriting tidak teratur.
k. Berambut seperti vilt (tomentosus), jika rambut kacau
yang tidak teratur namun padat membentuk suatu lapisan
padat.
l. Berambut seperti sikat dan merapat (strigosus), jika
rambut kaku dan merapat ke permukaan.
7. Bersisik (lepidus), terdapat pada sisi bawah daun durian.

j. Pelipatan Daun
Macam macam cara pelipatan daun:
1. Conduplicate, daun melipat di sepanjang ibu tulang daun.
2. Plicate, daun melipat berulang ulang di sepanjang ibu tulang
daun secara longitudinal dalam bentuk zig zag.
3. Circinate, daun menggulung dari ujung daun menuju dasar daun.
4. Convolute / supervolute, daun menggulung dari salah satu
pinggir daun, sehingga menutupi bagian yang lain.
5. Involute, kedua pinggir daun menggulung sampai bagian
tengahdaun pada permukaan atas.
6. Revulute, kedua pinggir daun menggulung sampai bagian tengah
pada permukaan bawah daun.
k. Sendi Daun (pulvinus)
Yaitu bagian tangkai daun atau tangakai anak daun yang
membengkak, baik pada monokotil dan dikotil. Berfungsi sebagai engsel
yang memungkinkan gerakan bolak balik antara bagian daun tersebut.

15
Engsel tersebut disebut sendi daun (pulvinus), yang bisa juga ditemukan
antara tangkai dan helaian daun dan helaian anak daun.
Selain pulvinus, ada pembengkakan pada tangkai daun yang
mirip dengan pulvinus, tetapi hanya bisa merubah satu kali orientasi
daun atau membentuk kaitan sebagai bantuan untuk memanjat, sendi ini
disebut pulvinoid.
Sendi absisi adalah bagian daun yang lemah dimana daun atau
anak daun atau sebagian tangkai daun atau rakhis akhirnya akan patah.
Biasanya sisa sendi absisi bisa dikenali dengan adanya cekungan yang
melingkar disekeliling tempat bekas daun. Sendi absisi seringkali
membengkak, menandai bagian yang akan patah atau berabsisi.
l. Daun Penumpu (stipula)
Merupakan lembaran serupa daun kecil atau tonjolan yang akan
tumbuh ketika kuncup masih kecil. Dapat segera tanggal atau tetap
tinggal lebih lama.
Macam macam stipula :
1. Stipula liberae (daun penumpu bebas), daun penumpu ini bebas
terletak di kanan kiri pangkal daun.
2. Stipula adnate, daun penumpu ini melekat pada kanan kiri
pangkal tangkai daun.
3. Stipula axillaris / stipula interpetiolaris, daun penumpu
berlekatan menjadi satu di dalam ketiak daun.
4. Stipula petiolo opposita / stipula antidroma, daun penumpu
berlekatan menjadi satu dan berhadapan dengan tangkai daun.
Biasanya agak lebar sehingga melingkari batang.
5. Stipula interpetiolaris, dua stipula yang berlekatan terletak
diantara dua tangkai daun. Biasanya terdapat pada daun yang
duduk berhadapan pada satu buku.

16
m. Selaput Bumbung (ochrea)
Merupakan selaput tipis berbentuk tabung yang menyelubungi
atau mengelilingi pangkal suatu ruas batang. Sering dianggap sebagai
daun penumpu. Misalnya pada Ixora sp dan Morinda citrifolia.

n. Lidah lidah (ligula)


Merupakan suatu selaput kecil yang biasanya terdapat pada batas
antara upih dengan helaian daun pada rumput rumputan (Graminae).
Fungsinya adalah untuk mencegah masuknya air ke dalam ketiak daun,
sehingga terhindar dari pembusukan.

D. Morfologi Batang
1.Ciri-ciri umum batang :
1. Berbentuk panjang bulat seperti
silinder dan bisa juga mempunya bentuk lain namun bersifat
aktinomorf
2. Terdiri atas ruas dsan buku tempat
tumbuh daun
3. Arah tumbuhnya bersifat fototrop
4. Selalu bertambah panjang
5. Mengadakan percabangan
6. Tidak berwarna hijau, kecuali
tumbuhan yang berumur pendek dan batang muda
2.Perkembangan batang
Pada ujung batang terdapat titrik tumbuh karena pada daerah ini
sel-selnya aktif membelah, meristem apical bersama dengan daun-daun
muda yang baru di dekatnya membentuk pucuk batang. Dalam
perkembangan selanjutnya ruas di antara daun-daun muda akan
memanjang sehingga keseluruhan batang menjadi lebih panjang.
Pemanjangan batang juga disebabkan karena penambahan jumlah sel.
Kerangka tmbuhan di bangun oleh sejumlah sumbu, suatu
sumbu(cabang ataupun sumbu utama) bisa dibangun dengan tiga cara :

17
1. Monopodium
Meristem apical tumbuh terusmembentuk sumbu utama
dan bersifat monopodial dan cabang bias terbentuk dari meristem
aksilar yang terletak lebih rendah.
2. Simpodium
Meristem apical berkembang menjadi bunga atau organ
lain atau tidak berfungsi lagi atau berdiferensiasi menjadi
parenkim. Dari kuncup aksilar di ketiak daun dekat di bawah
meristem apikal yang tak berfungsi itu akan tumbuh cabang yang
arahnya sejajar dengan sumbu sebelumnya dan tumbuh seperti
sumbu yang digantikannya. Sifat ini dapat terjadi berulang dan
sumbu yang terbentuk bisa berkesinambungan seakan-akan seperti
monopodium, ini yang disebut monopodium semu.
a. Dikotomi (percabangan menggarpu)
Meristem apical berhenti , kemudian titik tumbuh terbagi
dua bagian yang ekuivalen yang masing-masing menghasilkan
sumbu baru. Percabangan ini disebut dikotom. Contoh pada
Selaginella. Kadang-kadang percabangan dikotom ujung sumbu
utama yang terhenti masih dapat dilihat, percabangan seperti ini
disebut dikotom semu. Contoh pada paku resam.
Berdasarkan sifatnya batang dibedakan :
i. Tumbuhan yang tidak
berbatang (planta acaulis), batang sederhana ada tetapi amat
pendek, sehingga duduk daun amat rapat yang merupakan
roset.
ii. Tumbuhan yang jelas berbatang
1) Batang basah (herbaaceus) yaitu batang lunak dan berair,
seperti pada Ipomoea aguatica L
2)Batang berkayu (lignosus)
a) Arbores (pohon), contoh : Nangka (Artocarpus integra
L)

18
Pohon adalah tumbuhan yang tinggi besar, batang berkayu
dan bercabang jauh dari tanah
b) Frutices (perdu), contoh : Rimbang (Solanum torvum
L)\
c) Suffrutices (semak), contoh : melati (Jasminum sambac
L)
Semak adalah tumbuhan yang tak seberapa besar, batang
berkayu, bercabang-cabang dekat dengan permukaan tanah
atau malahan dalam tanah
3)Batang rumput (calmus) adalah batang yang tidak keras,
mempunyai ruas-ruas yang nyata dan seringkali berongga,
contoh : padi (Oryza sativa L)
4)Batang mendong (calamus) adalah seperti batang rumput,
tetapi mempunyai ruas-ruas yang lebih panjang dan tidak
berongga contoh : teki (Cyperus rotundus L)

a.Bentuk batang
Bentuk batang dapat dibedakan atas :
1. Bulat (teres), comtoh : tebu ( Sacharum oficinarum)
2. Bersegi (angularis)
a) Segitiga (triangularis), contoh : teki (Cyperus rotundus)
b) Segi empat (quadrangularis), contoh : piladang (Coleus
hibridus)
3. Pipih
a) Filokladia (phyllocladia), tumbuh terus, contoh : kaktus
(Opuntia dilenii)
b) Kladodia (cladodia), pertumbuhan terbatas, contoh :
asparagus (Asparagus plumosus)

b.Permukaan batang
a. licin (laevis), pada jagung (Zea mays)
b. berambut (pilosus), pada tembakau (Nicotiana tobacum)

19
c.berusuk (costatus), pada piladang (Coleus hibridus)
b. beralur (sulcatus), jika mebujur batang terdapat alur-alur
yang jelas, misalnya pada bayam berduri (Amaranthus spinosus)
yang sudah tua
c. bersayap (alatus) biasanya pada batang bersegi dan pada
sudutnya terdapat pelebaran tipis, contoh : Markisah (Passiflora
quadrangularis)
d. berduri (spinosus), misalnya : bunga ros (Rosa hybrida)
e. ada bekas-bekas daun penumpu, pada nagka (Artocarpus
integra)
f. ada bekas-bekas daun, pada Pepaya (Carica papaya)
g. lepasnya kerak (bagian kulit yang mati), pada jambu biji
(Psidium guajava)

c.Arah tumbuh batang


a. Tegak lurus (erectus), pada carica papaya
b. Menggantung (dependens, pendulus), bisanya tumbuhan
yang hidup di lereng-lereng atau jurang, contoh pada Zebrina
pendula
c. Berbaring (humifisus), jika batang terletak di permukaan
tanah hanya ujungnya saja yang berdiri ke atas, contoh semangka
(Citrulus vulgaris)
d. Menjalar atau merayap, jika batang berbaring di atas tanah
dan pada buku (nodus) yang bersentuhan dengan tanah akan
mengeluarkan akar, contoh : ubi jalar (Ipomoea batatas)
e. Serong ke atas atau condong (ascendens), pangkal batang
seperti hendak berbaring, tetapi bagian yang lainnya membelok ke
ata, contoh : kacang tanah (Arachis hypogaea)
f. Menggangguk (nutans), batang tegak lurus, tetapi ujungnya,
membengkok ke bawah contoh : bunga matahari (Helianthus annus)
g. Memanjat (scandens), dengan berbagai macam alat pemanjat
seperti

20
1. Akar pelekat, contoh sirih (Piper betle L)
2. Akar pembelit, contoh : panili (Vanilla planifolia)
3. Cabang pembelit atau sulur, contoh anggur (Vitis vinifera) dan
labu siam (Sechium edule)
4. Daun pembelit/sulur contoh : daun kembang sungsang (Gloriosa
superba)
5. Tangkai pembelit, contoh : kacang kapri (Pissum sativum)
6. Duri, contoh kembang kertas (Bougenvillea spec
7. tabilis)
8. Duri daun, misalnya rotan (Calamus caesius)
9. Kait, misalnya gambir (Uncaria gambir)
h. Membelit , batang memanjat tidak menggunakan alat seperti
pada batang memanjattetapi batang itu sendiri yang dibelitkan ke
tempat penyanggany. Menurut arah membelitnya dibedakan atas :
i. Membelit ke kiri (sinistrosum volubilis), misalnya pada
kembang telang (Clitoria ternatea)
ii. Membelit ke kanan (dextrosum volubiis), misalnya pada
gadung (Discorea hispida)

d.Sifat cabang
h. geragih (flagellum, stolo), cabang-cabang kecil merayap di
atas tanah atau merayap di bawag tanah dan diujung stolon tumbuh
akar dan kuncup ke atas ini bisa dipisah menjadi individu baru.
Contoh
o merayap di atas tanah : pegagan (Centela asiatica)
o di bawah tanah rumput teki (Cyperus rotundus)
i. wiwilan atau tunas air (virga singularis), cabang biasanya
cepat tumbuh dengan ruas yang panjang sering kali berasal dari
kuncup liar/tidur, contoh : kopi (Coffea robusta)
j. sirung panjang (virga), cabang-cabang biasanya pendukung
daun dan mempunyai ruas-ruas yang cukup panjang, tidak pernah
dihasilkan bunga dan sering disebut cabang mandul

21
k. sirung pendek (virgula), cabang-cabang kecil dengan ruas
yang pendek selain daun biasanya pendukung bunga dan buah dan
sering disebut cabang fertile, contoh : pinus (Pinus merkusii)

e.Arah tumbuh cabang


l. tegak (fastigiatus), jika sudut antara batang dan cabang amat
kecil sehingga pada pangkal saja yang serong ke atas tetapi
selanjutnya hamper sejajar dengan batang pokok atau bersifat
ototrop. Contoh : wiwilan pada kopi (Coffea sp)
m. condong ke atas (patens), jika cabang dengan batang pokok
membentuk sudut lebih kurang 45 derajat atau bersifat ototrop,
contoh : cemara laut (Casuarina equisetifolia)
n. mendatar (horizontalis), jika cabang batang pokok
membentuk sudut 900 atau bersifat plagiotro[, missal ; pohon randu
(Ceiba petandra)
o. terkulai (declinatus), jika cabang pada pangkal mendatar
tetapi ujungnya melengkung ke bawah, missal : kpoi (Coffea
robusta)
p. bergantung (pendulus0, cabang-cabang tunbuh ke bawah,
missal : Zebrina pendula
Konstruksi percabangan
Percabangan pada batang menghasilkan arsitektur batang serta
menentukan bentuk dari tumbuhan secara keseluruhan.
Klasifikasi percabangan
1. Pohon tak bercabang
Contoh: kelapa (Cocos nucifera)
2. Pohon bercabang
a) Sumbu vegetatif semua ekivalen dan ortotrop.Contoh: pada
kamboja
b) Sumbu vegetatif terdiferensiasi.Contoh: pohon coklat
(Theobroma cacao)

22
c) Sumbu vegetatif dengan struktur
campur.Contoh:Flamboyan(Delonix regia)
Pohon Tidak Bercabang
Jenis-jenisnya yaitu:
Model Holtum:pohon memiliki satu sumbu saja,tidak bercabang dan
tunas terminal berkembang menjadi perbungaan.Contoh:Agave
sp,Metroxylon sagu
Model Corner:Pohon memiliki satu sumbu,tidak bercabang dan
perbungaan lateral,meristem apek tumbuh terus.Contoh: Carica
papaya,Cocos nucifera.

Pohon bercabang
A.Sumbu vegetatif semua ekivalen dan ortotrop
Ada beberapa model dalam kelompok ini,yaitu:
Model Tomlinson
- Dari tunas ketiak di bawah tanah tumbuh sumbu baru tegak
ke atas
- Tiap sumbu di atas tanah membentuk perakaran sendiri dan
ekivalen dengan kaulomer lain
- Contoh: pisang(Musa spp),jahe-jahean(Zingiberaceae)
Model Chamberlain
- Sumbu vegetatif di atas tanah lurus yang terdiri dari beberapa
kaulomer yang bersinambungan (simpodial)
- Tiap kauloer tumbuh sampai menghasilkan perbungaan
terminal dan setiap kaulomer hanya menghasilkan satu
kaulomer anak di bawah perbungaan terminal.
- Contoh: Clerodendron paniculatum,Jatropha multifida
Model Leeuwenberg
- Sumbu batang di atas tanah beruas dalam tiga dimensi,karena
kaulomer awal tumbuh sampai tunas terminal berkembang
jadi perbungaan

23
- Tepat di bawah perbungaan berkembang 3 tunas ketiak yang
masing-masing tumbuh menjadi kaulomer dan menempati
ruang 3 dimensi.
- Contoh: Manihot esculenta(ubi gajah),Plumeria
acuminate(kamboja)

B. Sumbu vegetatif terdiferensiasi


Ada 15 model kelompok ini,diantaranya yaitu:
Model Kwan Koriba
- Pohon memperlihatkan struktur beruas,dan beberapa
kaulomer monocarp
- Percabangan batang simpodial,dari kaulomer induk
perbungaan terminal,kemudian dari tunas ketiak berkembang
3 kaulomer yang identik,salah satu kaulomer memperlihatkan
pertumbuhan yang cepat denan arah vertical dan
berdiferensiasi menjadi batang tengah sedangkan yang lain
menjadi kaulomer cabang
- Contoh: Combreto dendron africanum
Model Aubreville
- Batang pokok monopodium yang ritmis
- Cabang beruas dan plagiotrop menurut aposisi caulomer
secra tak terbatas
- Letak daun pada kaulomer spiral
- Perbungaan lateral baik pada batang pokok atau kaulomer
cabang
- Kaulomer cabang tumbuh tak terbatas tetapi sangat lambat
- Contoh:Teminalia catappa(ketaping)
Model Roux
- Batang pokok monopodium ortotrop dengan cabang kontiniu
atau difus da duduk daun spiral

24
- Cabang plagitrop dengan daun berhadapan
- Cabang sering monopodium dan dapat juga simpodium
- Contoh:Coffea Arabica(kopi)
C.Sumbu vegetatif dengan struktur campur
Ada beberapa model dalam kelompok ini di antaranya adalah:
Model champagnat
- Batang pokok ortotrop simpodial,bagian distal dari setiap
unit simpodial melengkung karena terlalu berat dan tidak di
dukung oleh jaringan penyokong yang cukup
- Filotaksis daun spiral
- Contoh:Sambucus sp
Model Troll
- Bisa terjadi pada batang pkok monopodium atau simpodium
- Pertumbuhan awal ortotrop kemudian berubah menjadi
plagiotrop,daun cendrung berhadapan
- Sumbu pertama bersifat ortotrop,sumbu berikutnya mulai
berdiferensiasi ke arah horizontal secara bertahap dan pada
pohon yang sudah dewasa cabang sama sekali plagiotrop
- Contoh:pada flamboyant(Delonix regia)

Batang Termodifikasi
Bentuk-bentuk batang termodifikasi,antara lain:
Rimpang(rhizoma)
- Merupakan batang yang tumbuh horizontal di bawah tanah
dengan buku dan ruas-ruas yang pendek dengan daun-daun
yang berbentuk sisik-sisik
- Dapat digunakan sebagai perbanyakan vegetatif dan
penyimpan cadangan makanan
- Contoh:pada Zingiberaceae,Poaceae,Cannaceae
Umbi batang(tuber)

25
- Merupakan batang yang berada di bawah permukaan tanah
yang juga menebal,namun tidak berdaun sisik
- Permukaan seringkali tampak licin
- Buku-buku batang dan ruas-ruasnya tidak jelas
- Seringkali dinamakan umbi telanjang(tuber nudus)
- Contoh:kentang(Solanum tuberosum)
Umbi lapis(bulbus)
- Merupakan modifikasi dari batang beserta daun
- Bagian yang merupakan modifikasi dari batang adalah
subangatau cakram dengan titik tumbuh di ujungnya
- Pada subang terdapat daun dengan pelepah yang membentuk
lapisan berdaging
- Berdasarkan sifat-sifat fisiknya,umbi lapis dibedakan
menjadi dua macam,yaitu:
1. umbi berlapis,yaitu bila daunnya menyerupai bagian yang
lebar,dan yang lebih luar menyelubungi bagian yang
lebih dalam,misalnya umbi bawang merah(Allium cepa
L)
2. umbi bersisik,yaitu bila modifikasi daunnya tidak
merupakan bagian yang lebar yang dapat menyelubungi
seluruh umbi,melainkan tersusun seperti
genting,misalnya pada (Lilium candidum L)
Subang(comus)
- Merupakan batang yang pendek yang tebal dan membengkak
yang berada di dalam tanah
- Ruas dan buku masih dapat terlihat
- Daun berupa sisik yang kering menutupi subang
- Sebagian besar jaringan dalam subang parenkim merupakan
penutup yang melindungi subang terhadap luka dan
kekeringan

26
- Di ujung distal subang terdapat tunas terminal yang akan
membentuk daun-daun dan bunga
- Pada buku-buku terdapat tunas ketiak
- Pada bagian bawah subang di bentuk sistem akar serabut
- Beberapa di antara akar dalam sistem tersebut merupakan
akar kontraktil
- Contoh:Gladiolus dandavensis

Stolon
- Merupakan cabang yang ramping lagi panjang,tumbuh ke
samping di atas tanah,kemudian pada ujung stolon di bentuk
tumbuhan baru
- Berfungsi juga untuk reproduksi secara vegetatif
- Contoh:pada teki (Cyperus rotundus)
Filokladodia dan kladodia
- Batang yang mengambil alih fungsi daunnya,karena daunnya
mengalami reduksi yang lanjut atau berubah menjadi duri
- Contoh kladodia :Muehlenbeckia platyclada
- Contoh filokladodia:Opuntia vulgaris
Sulur batang atau sulur cabang
- Tumbuh dari ketiak daun
- Biasanya disangga sisa-sisa daun atau bunga
- Contoh:tanaman air mata pengantin (Antigonom leptopus)
Kait
- Merupakan bentuk antara duri dan sulur,keras seperti
duri,tetapi berpilin-pilin seperti sulur pendek
- Contohnya:pada tanaman gambir
Duri batang atau duri cabang
- Berasal dari modifikasi cabang

27
- Terletak di ketiak daun dan seringkali menyangga daun-daun
atau bunga-bunga yang rudi meter
- Contoh:Bougenville
d) Morfologi Akar
Akar merupakan bagian tumbuhan yang biasanya terdapat di
bawah tanah yang berfungsi untuk memberkuat berdirinya tumbuhan,
menyerap air dan zat zat makanan yang terlarut dalam tanah, mengangkut
air dan zatzat makanan tadi kebagian tumbuhan yang memerlukan dan
kadangkadang untuk menimbun makanan.

Sifatsifat akar antara lain yaitu :


1. tidak mempunyai klorofil,
2. tidak mempunyai nodus dan internodus serta tidak mendukung daun-
daun atau sisik maupun bagian-bagian lainnya,
3. arah tumbuh ke pusat bumi atau menuju air dan meninggalkan udara
dan cahaya matahari,
4. bentuknya seringkali meruncing, hingga lebih mudah untuk
menembus tanah,
5. tumbuh terus pada ujungnya, tetapi pertumbuhannya masih kalah
jika dibandingkan dengan batang.
Bagian-bagian akar yaitu :
1. Leher akar atau pangkal akar (collum) yaitu bagian akar yang
bersambungan dengan pangkal batang.
2. Ujung akar (apex radicis), bagian akar yang paling muda, terdiri atas
jaringan-jaringan yang masih dapat mengadakan pertumbuhan.
3. Batang akar (corpus radicis), bagian akar yang terdapat antara akar
dan leher akar dan ujungnya.
4. Cabang-cabang akar (radix lateralis), yaitu bagian-bagian akar yang
tak langsung bersambungan dengan pangkal batang, tetapi keluar
dari akar pokok, dan masing-masing dapat mengadakan percabangan
lagi.

28
5. Serabut akar ( fibrilla radicalis), cabang-cabang akar yang halus-
halus dan berbentuk serabut.
6. Rambut-rambut akar atau bulu-bulu akar (pilus radicalis), yaitu
bagian akar yang sesungguhnya hanyalah merupakan penonjolan
sel-sel kulit akar yang panjang. Bentuknya seperti bulu atau rambut,
oleh sebab itu dinamakan rambut akar atau bulu akar.
7. Tudung akar (calypra), yaitu bagian akar yang letaknya paling
ujung, terdiri atas jaringan yang berguna untuk melindungi ujung
akar yang masih muda dan lemah.

Sewaktu tumbuhan masih kecil yaitu, dalam bentuk lembaga


dalam biji, calon akar itu sudah ada, da disebut akar lembaga (radicula).
Pada perkembangan lanjutannya, kalau biji mulai berkecambah sampai
menjadi tumbuhan dewasa, akar lembaga dapat memperlihatkan
perkembangan yang berbeda hingga pada tumbuhan lazimnya dibedakan
dua macam sistem perakaran yaitu :
a.Sistem akar tunggang, jika akar lembaga tumbuh terus menjadi akar-
akar yang lebih kecil. Akar pokok yang berasal dari akar lembaga
disebut akar tunggang (radix primaria). Biasanya terdapat pada
tumbuhan biji belah (Dicotyledoneae) atau tumbuhan biji telanjang
(Gymnospermae).
b. Sistem akar serabut yaitu, jika akar lembaga dalam
perkembangan selanjutnya mati atau kemudian disusul oleh
sejumlah akar yang kurang lebih sama besar dan semuanya keluar
dari pangkal batang. Bentuknya seperti serabut oleh karena itu
dinamakan akar serabut (radix adventicia).

1. Sistem Akar Tunggang


Berdasarkan percabangan dan bentuknya akar tunggang dapat
dibedakan atas :
a. Akar tunggang yang tidak bercabang/ sedikit bercabang
Mempunyai bentuk yang istimewa yaitu :

29
1. Bentuk tombak (fusiformis), yaitu akar yang memiliki pangkal
yang besar meruncing keujung dengan serabut-serabut akar sebagai
percabangan, biasanya menjadi tempat penimbunan makanan.
Misalnya pada Daucus carota.
2.Bentuk gasing (napiformis), pangkal akar besar membulat, akar-akar
serabut sebagai cabang hanya pada ujung yang sempit meruncing,
seperti pada Beta vulgaris.
3.Bentuk benang (filiformis), jika akar tunggang kecil panjang seperti
akar serabut saja dan juga sedikit sekali bercabang, misalnya pada
kacang panjang (Phaseolus lunatus).
b. Akar tunggang yang bercabang (ramosus)
Akar tunggang ini berbentuk kerucut panjang, tumbuh lurus ke
bawah, bercabang-cabang banyak dan cabang-cabangnya bercabang
lagi, sehingga dapat memberi kekuatan yang lebih besar kepada batang
dan juga daerah perakaran menjadi amat luas, hingga dapat menyerap
air dan zat-zat makanan yang lebih banyak.

2.Sistem akar serabut


Sistem akar serabut dapat dibedakan atas :
a. Akar serabut kecil-kecil berbentuk benang. Contohnya pada akar
padi (Oriza sativa).
b. Akar serabut kaku, keras dan cukup besar seperti tambang.
Contohnya pada akar kelapa (Cocus nocifera).
c. Akar serabut besar-besar, hampir sebesar lengan dan masing-
masingnya tidak banyak percabangan. Contohnya pada pandan
(Pandanus tectorius

3. Akar terspesialisasi
Akar terspesialisasi adalah akar yang dapat berubah bentuk karena
fungsinya berbeda dengan fungsi asal, karena cara-cara hidup yang harus
disuaikannya dengan keadaan-keadaan tertentu.
Akar ini dapat di bedakan atas :

30
a. Akar fotosintesi, yaitu akar udara dan mengandung klorofil.
b. Akar penyokong batang (akar tunjang/akar enggrang), yaitu akar
yang keluar dari batang membentuk lengkungan ke bawah dan
masuk ke dalam tanah sebagai penunjang tubuh tumbuhan.
Misalnya pada Pandanus tectorius.
c. Akar peluk atau akar pembelit, yaitu akar yang keluar pada buku-
buku yang digunakan untuk memanjat dengan memeluk
penunujangnya. Misalnya pada Vanila planifolia.
d. Akar pelekat, yaitu akar yang keluar pada buku-buku batang
tumbuhan memanjat dan berguna untuk menempel pada penunjang.
Misalnya pada sirih.
e. Akar banir atau akar penyangga, yaitu akar yang berbentuk seperti
papan pada pangkal batang yang letaknya miring untuk
memperkokoh berdirinya batang. Misalnya pada Arthocarpus
communis (sukun)
f. Akar penyimpan cadangan makanan, yaitu akar yang membesar
karena dipakai sebagai penumpukan makanan yang disebut umbi
akar. Misalnya pada Manihot utilissima.
g. Akar nafas, akar ini terdapat pada tumbuhan magrof.
Terbagi atas :
1) Akar pasak
Dari akar horizontal dekat permukaan tanah tumbuh cabang-
cabang arah vertikal keatas dan muncul dipermukaan tanah
karena kandungan oksigen tanah rawa kurang
2) Akar lutut
Akar horizontal dekat permukaan tanah akan mereorientasi
arah pertumbuhannya secara periodik yang tumbuh menjadi
akar utama.
3) Akar engarang
Akar yang keluar dari batang melengkung ke bawah dan
masuk ke dalam tanah.

31
h. Akar kontraktil, yaitu akar yang ditemukan pada tumbahan yang
berumbi yang berkontraksi sehingga terjadi pengerutan yang dapat
mengakibatkan pemendekan akar sampai 30 40% sehingga umbi
dapat tertarik kedalam tanah. Misalnya pada akar Gladiolus sp.
i. Akar simbiotik, yaitu bintil akar tempat penambat nitrogen bebas
dari udara seperti Rhizobium berasosiasi dengan akar kacang-
kacanagan.
j. Akar reproduksi, yaitu pada akar tersebut dapat tumbuh tunas
menjadi tumbuhan baru. Contoh pada akar sukun.
k. Akar udara atau akar gantung, yaitu akar keluar pada bagian atas,
mengantung di udara dan menuju ke tanah. Misalnya pada anggrek
kalajengking.
l. Akar pengisap atau akar penggerak, yaitu akar yang terdapat pada
tumbuhan parasit yang berguna untuk menyerap air ataupun zat
makanan dari inangnya yang dapat menembus batang dari inang
tersebut sampai ke bagian kayunya. Misalnya pada benalu

e) Morfologi Bunga
Bunga merupakan modifikasi dari daun dan batang, dan
berkembang dari pucuk yang tumbuh menjadi ranting diiringi daun-daun
yang sangat rapat.
Pada ujung ranting tersebut terdapat ada bagian yang
membengkak yang disebut dasar bunga (receptalum) dan dibawahnya
terdapat tangakai bunga (pedicle). Pada dasar tangkai bunga terdapat daun
pelindung (braktea). Bila daun pelindung itu terdapat pada tangkai bunga
pebungaan dan melindungi seluruh perbungaan disebut dengan seludang
bunga (spatha). Sedangkan daun pelindung untuk setiap anak bunga
disebut brakteola.
Bunga yang biasanya terdapat di ujung-ujung cabang atau batang
disebut bunga terminalis dan ada juga yang terdapat pada ketiak daun
disebut dengan bunga axilaris.
Morfologi umum bunga

32
Bunga tediri dari:
1. Perhiasan bunga (periantum), yang terdiri dari:
a. Sepal/daun kelopak (sepalum, jamak sepala).
Keseluruhan daun kelopak disebut kaliks (calix).
b. Petal/daun mahkota (petalum, jamak petala).
Keseluruhan petal (daun mahkota) disebut korola (corola).
c. Perigonium/tenda. Bila bentuk sepal dan petal tidak
dapat dibedakan maka disebut tepal (tepalum, jamak tepala).
2. Alat kelamin yang terdiri dari:
a. Stamen atau benang sari. Keseluruhan stamen bunga
disebut androecium. Bagiannya adalah kepala sari (anthera) yang berisi
serbuk sari (pollen) serta tangkai sari (filamen).
b. Pistilum (putik) terdiri dari ovarium, stilus dan stigma.
Ovarium disusun oleh karpel atau daun buah. Umumnya berjumlah lebih
dari satu. Jika bunga memiliki satu karpel arau lebih yang semuanya
bersatu maka karpel tesebut disebut pistilum. Didalam ovarium terdapat
bakal biji (ovulum).

Variasi bunga
Alat Kelamin dan Kelengkapannya
1. Bunga lengkap, yaitu bunga yang mempunyai sepal,
stamen, dan pistilum. Bunga tidak lengkap, yaitu bunga yang tidak
memliki salah satu atau lebih bagian-bagian tersebut.
2. Bunga banci (bisexual), yaitu bunga yang memiliki alat
kelamin jantan dan betina. Sedangkan bunga yang hanya memiliki salah
satunya disebut bunga unisexual : bunga jantan (flos maskulus), dan
bunga betina (flos femineus).
3. Bunga mandul, yaitu bunga yang tidak memiliki alat
kelamin. Seperti bunga pita pada bunga matahari.
4. Bunga yang mengalami adnasi adalah bunga yang
memiliki bagian-bagian yang menyatu.

33
Sepal atau petal
Jika sepal berlekatan dengan sepal yang lain disebut sinsepal,
yang akan membentuk tabung kaliks atau bersatu pada pangkalnya saja.
Bila petanya terpisah satu sama lain disebut koriopetal.
Stamen
Bila semua stamen menyatu pangkal sarinya sehingga berbentuk
tabung da menjadi berbekas satu disebut monodelphous. Bila berbekas
dua disebut diadelphous, dan bila berbekas banyak disebut polydelphous.
Karpel
Bila semua karpel menyatu sehingga pada tepinya terdapat
singkap, maka pistilum berstruktur majemuk. Bila karpel menyatu di tepi-
tepinya maka tidak akan terdapat sekat di dalam ruang ovarium.
Adnasi
Adnasi yang terjadi antara sepal dan petal akan membentuk
tabung perianthium. Pada adnasi antara sepal dan stamen, petal tidak ada
sehingga tangkai sari melekat pada tabung kaliks.

Berdasarkan alat kelamin bunga yang terdapat pada satu


tumbuhan, maka tumbuhan dapat dibedakan mejadi:
a. Berumah satu (monoecus/monoecious), yaitu tumbuhan yang
mempunyai bunga jantan dan bunga betina dalam satu individu.
b. Berumah dua (dioecus/dioecious), jika bunga janta dan bunga
betina terletak pada individu berbeda.
c. Poligami (polygamus), jika suatu tumbuhan terdapat bunga
jantan, bunga betina dan bunga banci seperti pada pepaya. Ada beberapa
macam sifat poligami:
1) Gynodeoecus, jika pada satu individu hanya terdapat bunga
betina saja, sedangkan pada individu lain bunga banci.
Contoh pada Labiate.

34
2) Androdeiocus, jika pada satu individu terdapat bunga
jantan saja sedangkan pada individu lain tedapat bunga
banci. Contoh pada Dyras octopelata.
3) Monoeco-polygamus, jika pada satu ndividu terdapat bunga
jantan, betina, dan banci bersama-sama. Contoh pada
pepaya.
4) Gynomonoecus, jika pada satu individu terdapat
bunga betina da bunga banci bersama-sama.
5) Trioecus atau trioeco-polygamus, jika bunga jantan,
betina, dan banci terpisah pada individu ynag berlainan.

Aestifasi
Aestifasi merupakan tata letak daun kelopak dan mahkota tehadap
sesamanya. Variasi susunan daun kelopak dan mahkota antara lain sebagai
berikut:
1. Terbuka (aperta), jika tepi daun kelopak atau mahkota tidak
bersenuhan sama sekali.
2. Berkatup (valvata), jika tepi daun kelopak atau mahkota tidak
bertemu (bersentuhan) tapi tidak berlekatan.
3. Berkatup dengan tepi melipat kedalam (induplicativa).
4. Berkatup dengan tepi melipat keluar (reduplicativa)
5. Menyirap (impricata), tepi saling menutup seperti genting.
Susunan yang saling meutupi ini dapat dibedakan sbb:
a) yang terpuntir satu arah (convulata)
b) mengikuti rumus 2/5 (quniacuncialis)
c) coclearis (koklearis), jika daun mahkota atau kelopak
satu di dalam dan satu di luar.

Simetri Pada Bunga


Bidang simetri pada bunga merupakan bidang vertikal yang
membelahbunga dalam berbagai arah sehingga terbagi menjadi dua bagian
yang sebangun.

35
Ada tiga tipe simetri, yaitu:
1. Radial simetri (achriomorphus).
Bunga dibelah oleh sebuah bidang simetri dalam 3 atau 6 jurusan
dan setiap kali akan menjadi dua bagian yang sama dan sebangun.
2. Bilateral simetri (zygomorphus)
Bunga dibagi oleh bidang simetri dalam satu jurusan yang sama
dan sebangun.
3. Asimetri (asymetrus), dimana suatu bunga yang tidak dapat
dibagi sama sekali oleh bidang sinetri menjadi dua bagia yang sama atau
setangkup.
Bentuk-bentuk Perhiasan Bunga
Perhiasan bunga ada yang berbentuk bintang, tabung, terompet,
mangkuk, periuk, corong, lonceng, dll.
Bentuk-bentuk Perhiasan Bunga yang Zigmorph
Bentuk bentuk bunga yang tidak beraturan antara lain bertaji,
berbibir, seperti kupu-kupu pita, dan berkedok.

Bagian-Bagian Bunga
A. Dasar Bunga (receptaculum)
Dasar bunga (receptaculum) merupakan ujung tangkai bunga
tempat melekatnya bagian-bagian bunga seperti calyx, corola, stamen, dan
ovarium. Dasar bunga biasanya berukuran kecil dan letak perhiasan bunga
merapat pada dasar bunga dengan ruas yang pendek sekali.

Dasar bunga dapat megalam perkembangan sebagai berikut:


a. Hipantium (hipanthium). Jika dasar bunga berbentuk seperti
cangkir atau tabung. Calyx, corola, dan stamen melekat di
tepinya. Contoh pada bunga ros.
b. Torus. Dasar bunga berbentuk kuba yang tinggi dan bakal
buah melekat di sisi-sisinya. Contoh pada Passifloraceae.

36
c. Antofor (anthophore). Jika ruas dasar bunga diantara kelopak
dan bagian lain dari bunga menjadi panjang. Contoh pada
bunga anyelir.
d. Androginofor (androgynophore). Jika dasar bunga memanjang
diantara hiasan bunga da mendukung benang sari serta putik.
Contoh pada Passiflora.
e. Androfor (androphore). Jika sumbu dasar bunga memanjang di
antara hiasan bunga dan mendukung benang sari, ditemukan
pada bunga jantan seperti pada Myristica corticosa.
f. Ginofor (gynophore). Jika sumbu dasar memanjang dan
mendukung putik. Seperti pada bunga cempaka.
g. Discus atau cakram (discus). Tonjolan yang tumbuh di dasar
bunga. Diskus seringkali menghasilkan sekret. Diskus bisa
berbentuk tipis dan tak mencolok serta melapisi bagian dalam
hipantium. Namun ada pula diskus yang membentuk dasar
yang tebal bagi bakal buah, dan bisa berkembang berbentuk
cincin , bantal, atau struktur yang terbagi-bagi.
Kedudukan perhiasan bunga pada dasar bunga dibandingkan
dengan putik:
1. Hipoginus, hiasan bunga lebih rendah dari kedudukan putik.
2. Periginus, jika perhiasan bunga sama tinggi dengan putik atau
sedikit lebih tinggi. Contohnya pada bunga bungur.
3. Epiginus, jika perjiasan bunga lebih tinggi dari putik atau putik
tenggelam pada dasar bunga. Cotoh pada bunga kaki kuda
.
B. Kelopak (calyx)
Kelopak merupakan daun-daun hiasan bunga yang terletak pada
lingkaran bunga paling luar. Kelopak tersusun dari daun-daun kelopak
(sepala) yang mempunyai sifat:
1. berlekatan (gamosepalus)
2. berbagi (paritus)
3. bercangap (fissus)

37
4. berlekuk(labotus)
5. lepas dan bebas (polysepalus)
6. beraturan atau aktinomorf
7. setangkup tunggal atau zigomorf
C. Tajuk Bunga atau Mahkota Bunga (Corolla)
Bagian-bagian tajuk bunga dinamakan daun tajuk (petala),
menunjukkan sifat yang berbeda-beda pula:
a. Berlekatan (sympetal, gamopetalus, atau monopetalus)
b. Lepas atau bebas (choriopetalus, dialypetalus, atau
polypetalus). Dalam hal ini, setiap daun tajuk dapat
dibedakan :
1) Kuku daun tajuk
2) Helaian daun tajuk
Tajuk bunga bentuknya bermacam-macam, dan berdasarkan
simetri bunga dapat dibedakan:
a. Beraturan (regularis). Bila tajuk bunga dapat dibagi
menjadi dua bagian yang sama atau setangkup dengan beberapa cara ,
meliputi bentuk-bentuk bintang, tabung, terompet, mangkuk, corong.
b. Setangkup tunggal, bersimetri satu atau monosimetris. Jika
tajuk bunga hanya dapat dibagi menjadi dua bagian yang setangkup
dengan satu cara, seperti pada bunga yang bertaji, berbibir, seperti kupu-
kupu, bertopeng atau berkedok, pita.

D. Tenda Bunga
Tenda bunga dalah hiasan bunga yang tidak dapat dibedakan
anatra kelopak dan tajuk bunganya. Bagian-bagian yang menyusun tenda
bunga disebut daun tenda bunga (tepala).
Menurut bentuk dan dan warnanya, tenda bunga dapat dibedakan:
1. Serupa kelopak (calycinus)
2. Serupa tajuk (corollinus)

38
E. Benang Sari (Stamen)
Benang sari adalah alat kelamin janatn. Pada benang sari dapa
dibedakan 3 bagian yaitu: angkai sari (filamentum), kepala sari (anrhera),
dan penghubung benang sari(connectivum).
Duduk benang sari dapat dibedakan dalam 3 golongan:
3. Duduk pada dasar bunga (thalamiflorae)
4. Tampak seperti duduk di atas kelopak (calyciflorae)
5. Tampak duduk di atas tajuk bunga (corolliflorae)
Jumlah benang sari umumnya dibedakan 3 golongan:
1. Benang sari banyak atau lebih dari 20 benang sari
2. Benang sari dua kali lipat jumlah tajuknya,biasanya tersusu
dalam dua lingkaran dan ada dua kemungkinan:
a. diplostemon, pada lingkaran luar berseling dengan daun
tajuk.
b. obdiplostemon, pada lingkarn dalam berseling dengan
daun tajuk.
3. Benang sari sama banyak dengan daun tajuk atau kurang,
duduknya ada yang episepal (berhadapan dengan daun kelopak), dan ada
yang epipetal (berhadapan dengan daun tajuk).

Berdasarkan panjangnya, benang sari dapat dibedakan:


a). Benang sari panjang dua (didynamus)
b). Benang sari panjang empat (tetradynamus)
Tangkai Sari( filanentum)
Tangkai sari biasanya duduk terpisah-pisah diatas dasar bunga,
namun ada pula yang bersatu:
1. berbekas satu atau bertukal satu (monodelphus)
2. berbekas dua atau bertukal dua (diadelphus)
3. berbekas banyak atau bertukal banyak (polyadelphus).

39
Kepala Sari (anthera)
Daun kepala sari duduk pada tangkai sari bermacam-macam
seperti: tegak (innatus), menempel (adnatus), dan bergoyang (vertasilis).

F. PUTIK
Putik disusun oleh daun buah (carpellum), dan daun-daun sebagai
keseluruhan yang menyusun putik dinamakan gynaecium. Putik merupakan
alat kelamin betina yang salah satu bagiannya mengandung sel telur atau
bakal biji (ovulum) yang akhirnya akan menjadi biji (semen).
Putik terdiri dari tiga bagian yaitu : kepala putik (stigma), tangkai
putik (sylus), dan bakal buah ovarium)
Bakal buah (ovarium), menurut letaknya pada dasarnya bunga dapat
dibedakan :
a. Bakal buah menumpang (superus)
b. Bakal buah setengah tenggelam (semi inferus)
c. Bakal buah tenggelam (inferus)
Jumlah ruang yang terdapat dalam suatu bakal buah :
a. Beruang satu (inilocular)
b. Beruang dua ( bilocularis)
c. Beruangn tiga (trilocularis)
d. Beruang banyak (multilocularis)
Tembuni adalah bagian bakal buah yang menjadi pendukung bakal
biji. Menurut letaknya tembuni dibedakan menjadi :
1. Marginal (marginalis). Letaknya pada
tepi daun buah
2. Laminal (laminalis), letaknya pada
helaian tepi daun buah
Untuk bakal buah yanghanya satu ruang maka letak tembuninya
adalah :
a. Parietal (parietalis), yaitu hanya pada dinding daun buah
yang dapat pula dibedakan

40
1. pada dinding di tepi daun buah (parietalis-
marginalis)
2. pada dinding di helaian daun buah (parietalis-
laminalis)
b. Sentral )centralis atau axilis), yaitu di pusat atau diporos
c. Aksilar (axilaris), yaitu di sudut tengah.
Bakal biji atau calon biji sendiri duduk pada tembuni dengan cara yang
berbeda-beda. Bagian-bagian bakal biji dapat dibedakan menjadi :
1. Kulit bakal biji (integumentum)
2. Badan bakal biji atau nuselus ( nucellus)
3. Kandang lembaga (saccus embryonalis), yang mengandung
sel telur (ovum)
4. Liang bakal biji (micropyle)
5. Tali pusar (funiculus)
Tata letak bakal biji pada tembuni
a. Tegak (antropus)
b. Mengengguk (anatropus)
c. Bengkoko (compilotropus) atau disebut juga mengangguk
d. Melipat (comptotropus)
Kepala putik (Stigma)
Bentuk kepala putik beraneka ragam, biasanya disesuaikan dengan
cara penyerbukan pada bunga
a. Seperti benang, pada bunga jagung
b. Seperti bulu ayam, pada bunga padi
c. Seperti bulu-bulu, pada kecipir
d. Bulat, pada jeruk
e. Bermacam bentuk lain, seperti bentuk bibir, cawan, serupa
daun mahkota
Tangkai kepala putik (stylus)
Tangkai putik biasanya berbentuk buluh yang di dalamnya berongga.
Stylus ada yang panjang dan ada yang pendek bahkan ada yang tidak

41
mempunyai stylus (sangat pendek sekali), ada yang bercabang dan ada yang
tidak, tapi ujung yang bercabang mendukung stigma.

Diagram Dan Rumus Bunga


A. Diagram bunga
Adalah suatu gambar yang melukiskan keadaan bunga dan bagian-
bagiannya, atau lebih jelasya sebagai berikut :
1. Suatu gambar proyeksi pad bidang datar dari semua bagian binga
yang dipotong melintang (yaitu daun kelopak, tajuk, benang sari dan
putik)
2. Suatu gambar yang bersifat skematis atau suatu peta
skematis dari bunga
Gambar dari suatu diagram bunga harus memperhatikan hal :
3. Letak bunga (terminalis atau axilaris)
4. Lingkaran bagian-bagian bunga yang disebut
lingkaran Consentris
1. Kemudian alam menggambarkan bagian-
bagian bunganya harus diperhatikan mengenai :
1. jumlah masing-masing bagian bunga
2. Susunan terhadap sesamanya, umpama susunan sesama sepal
dan lain-lain
3. Susunan terhadap bagian-bagian bunga yang satu dengan
yang lain, seperti antara sepal terhadap petal atau stamen
terhadap corolla dan lain-lain.
4. Letak bagian-bagian bugna terhadap bidang median
Dalam menggambarkan penampang melintang setiap bagian bunga
harus salng berbeda bisanya dengan bentuk-bentuk tertentu seperti braktea
dengan bentuk segitiga. Kaliks berbentuk bulan sabit yang hamper sama
dengan corolla tapi bias dibedakan dengan memberi warna gelap pada
kaliks dan punya sudut ditengahnya. Untuk stamen bentuk angkan 8 (atau
bentuk dari anteranya) dan putik bentuk bundar harus sesuai dengan jumlah
karpel, ruang dan ovulnya.

42
Mengenai diagram bunga ada 2 macam:
1. Diagram bunga empirik, dimana yang digambarkan adalah
bagian-bagian yang benar ada.
2. Diagram teoritik, selain bagian bunga yangbenar ada juga
dicantumkan bagian-bagian yang sudah tereduksi dan sibolnya
biasanya bentuk bintang atau tanda silang.
B. Rumus Bunga
Yaitu susunan yang dinyatakan dengan sebuah rumus yang terdiri
dari lambing-lambang huruf dan angka.
a. Lambang yang dipakai memberitahukan sifat bunga
mengenai simetris dan jenis kelamin bunga.
Actinomorphous : * ; zygomorphous : , berkelamin jantan : :
Berkelamin betina : ; banci :
b. Huruf yang dipakai untuk singkatan nama bagian-bagian
bunga :
Kelopak : K (singkatan dari kaliks)
Tajuk : C ( singkatan dari Corola)
Benang sari : A (singkatan dari Abdsoecium)
Tenda : P ( singkatan dari Perigonium)
c. Angka-angka diletakkan dibelakang huruf menunjukkan
jumlah masing-masing bagian, umpamanya : kaliks mempunyai 3
sepal : K3
d. Cara untuk menyatakan keadaan lain-lain seperti contoh ;
Corolla 6 dalam 2 lingkaran : C3 + 3
Stamen berlekatan pada corola :[C5, A()]
Duduk bakal buah menumpang : G (3), kalau terbenam G (3)
Daun kelopak berbentuk tabung : K (5)
Contoh : K (5) [C 3+3, A6] G (3)

43
BUNGA MAJEMUK (inforescentia, Anthotaxia)
Bunga majemuk yang disebut juga dengan perbungaan adalah
serangkaian atau sekolompok bunga yang disusun dengan percabangan
tetentu pada sebuah sumbu yang mendukung bunga.
Bunga-bunga dapat berkumpul pada ibu tangkai bunga yang
merupakan tangkai bung majemuk ( pedunculus). Sumbu primer atau sumbu
utama utama disebut dengan rakis (rachls), yang merupakan perpanjangan
dari ibu tangkai bunga. Sedangkan sumbu sekunder merupakan cabang dari
sumbu utama. Masing-masing bunga dari bunga majemuk dapat mempunyai
tangkai sendiri (pedcellus), atau dapat pula tidak bertangkai, sehingga dapat
dikatakan duduk (sessilis) pada ibu tangkai bunga.
Bunga majemuk dapat dibedakan 3 tipe, yaitu bunga majemuk tak
terbatas, bunga majemuk terbatas dan bunga majemuk campuran.
a. Bunga majemuk tak terbatas
Ciri-ciri bunga majemuk ini adalah :
1. Sumbu utama (rakis) biasanya panjang dan tidak mempunyai bunga
pada ujungnya.
2. Dalam pertumbuhannya, sumbu utama berturut-turut
membentuk cabang-cabang (sumbu sekunder dari pangkal ke ujung
dari bawah ke atas)
3. Jumlah sumbu sekunder yang berbentuk pada sumbu utama
biasanya tidak terbatas atau banyak
4. Sumbu utama biasanya lebih panjang daripada sumbu
sekunder
5. Karena sumbu sekunder terbentuk dari pangkal ke ujung,
maka meker bunga dari bawah ke atas (makin mendekati ujung
sumbu utama), atau dapat dikatakan dari luar ke dalam (ke pusat)
6. Bunga yang paling tua (lebih dulu mekar) terletak paling
bawah, atau paling jauh dari ujung sumbu utama, sedangkan bunga
yangpaling muda terletak pada ujung sumbu utama (susunan
acropetal)
Bunga majemuk ini dibedakan atas :

44
1. Ibu tangkainya tidak bercabang-cabang, sehingga
bunga langsung terdapat pada ibu tangkainya. Yang termasuk
golongan ini adalah :
a. Tandan (racemes atau botrys)
b. Bulir (spica)
c. Untai atau bunga lad (amentum)
d. Tongkol (spad tx)
e. Payung (umbrella)
f. Cawan (corymbus atau anthodium)
g. Bongkol (Capitulum)
h. Periuk (hypanthodium)
2. Ibu tangkai bercabang-cabang, dan cabangnya dapat
bercabang lagi, sehingga binga tidak terdapat pad ibu
tangkainya. Yang termasuk golongan ini adalah :
a. Malai (panicula)
b. Malai rata (corymbus ramulus)
c. Payung Majemuk (umbrella composita)
d. Tongkol majemuk
e. Bulir majemuk
b. Bunga Majemuk Terbatas
Ciri-ciri bunga mejemuk adalah :
5. Pada ujung sumbu utama selalu terdapat sebuah
kuncup bunga, yang menyebabkan sumbu utama tidak dapat tumbuh
terus
6. Bunga pada ujung sumbu utama akan mekar lebih
dahulu daripada bunga-bunga lain. Mekar bunga terjadi berturut-
turut dari ujung sumbu utama, sehingga dapat dikatakan dari atas ke
bawah atauu dari dalam (dari pusat) keluar
7. Sumbu utama biasanya lebih pendek daripada sumbu
sekunder, karena tumbuhnya lambat dan cepat berhenti.

45
8. Sumbu utama membentuk sumbu sekunder hanya
sedikit karena tumbuhya terbatas. Sumbu sekunder terbentuk pada
tempat-tempat yang sama atau tempat-tempat tertentu.
9. Cara sumbu sekunder bercabang tidak berbeda
dengan sumbu utama.
Bentuk gubahan bunga yang termasuk golongan ini adalah :
1. Anak payung menggarpu (dichasium)
2. Tangga atau bunga bercabang seling (chicinus)
3. Sekerup (bostryx)
4. Sabit (rhipidium)

c. Bunga Majemuk Campuran


Bunga majemuk ini memperlihatkan baik sifat-sifat bunga
majemuk terbatas maupun sifat bunga majemuk tak terbatas, sehingga
bagian-bagiannya tidak mengikuti pola perkembangan yang seragam.
Pada bunga majemuk terdapat beberapa bagian yang bersifat
seperti daun, seperti :
1. Daun pelindung bunga majemuk (bracea)
2. Daun pelindung satu bunga (bracreola), kadang-kadang
disebut juga dengan profil
3. Seludang bunga (spatha)
4. Daun pembalut (bracea involucralis/involucrum)
5. Kelopak tambahan (epicalyx)
f)Morfologi Buah
Buah yang telah berhasil diserbuki,akan mengalami pembuahan.
Pembuahan berlangsung dalam bakal biji yang telah mempersiapkan sel
telur dalam kantong embrio. Setelah pembuahan, bakal buah berkembang
menjadi buah dan bakal biji berkembang jadi biji. Setelah pembuahan,
kelopak, tajuk, benang sari tangkai dan kepala putik akan layu dan
gugur.Kadang-kadang ada bagian bunga tersebut yang tidak gugur seperti:

46
daun-daun pelindung pada jagung, daun kelopak pada terung, tangkai kepala
putik (rambut jagung) dan kepala putik pada manggis.
Pada umumnya buah hanya terbentuk setelah terjadi pernyerbukan dan
pembuahan pada bunga. Tetapi ada buah terjadi tanpa pembuahan, peristiwa
ini disebut partenokarpi (parthenocarpy), contohnya pada pisang.

Pada perkembangan dinding buah sering menebal, bahkan berdaging,dan


dapat dibedakan atas beberapa lapis:
a.eksokarp (exocarpium,epicarpium)
b.mesokarp (mesocarpium)
c.endokarp (endocarpium)
Jika tidak dapat dibedakan lapisan-lapisan itu,dinding buah juga
disebut perikarpium (pericarpium)
Penggolongan Buah
1.Buah sejati atau buah telanjang
Buah terbentuk hanya dari bakal buah,jika ada bagian yang
tertinggal tapi tidak
merupakan bagian yang berarti.
a.buah sejati tunggal, berasal dari satu bunga,satu ovarium dan
satu atau lebih daun buah, satu atau lebih ruang .Contoh:buah
mangga,pepaya,durian.
b.buah sejati ganda, berasal dari satu bunga dengan ginesium
apokarp, masing-masing bakal buah menjadi buah. Contoh
pada cempaka.
c.buah sejati majemuk, berasal dari bunga majemuk,masing-
masing bunga mendukung satu ovarium, setelah jadi buah tetap
bersatu (berkumpul), sehingga tampak seperti satu buah,
seperti pada pandan.
2.Buah semu atau buah tertutup
Jika buah terbentuk dari bakal buah beserta bagian-bagian lain
dari bunga (lebih besar dan menarik) sehingga buah yang
sesungguhnya tersembunyi.

47
a.buah semu tunggal, misalnya pada jambu monyet, pada
ciplukan.
b.buah semu ganda, buah berasal dari ginesium apokarpseperti
pada arbei.
c. buah semu majemuk, berasal dari bunga majemuk seperti
pada nangka
Menurut perkembangan bakal buah dikenal:
a. Buah tunggal,berasal dari satu bakal buah dari satu bunga.
b. Buah ganda, berasal dari bakal buah satu bunga (ginesium
apokarp).setiap buah mempertahankan identitasnya.
c. Buah majemuk,jika berasal dari bunga majemuk.

Buah sejati tunggal.


a. Buah sejati tunggal yang kering.
Buah sejati tunggal kering hanya mengandung satu biji, tidak
pecah (indehisoen)
- buah padi (caryopsis), misalnya pada padi, jagung,dll.
-.buah kurung (achenium) pada bunga matahari dan kembang pukul
empat.
-.buah keras (nux),seperti buah kurung tetapi berasal dari bakal buah
beruang banyak tetapi kemudian lebur menjadi satu, misalnya pada
sarangan.
-.buah keras bersayap ( samara) seperti buah keras tetapi pada kulit
ada sayap, contoh meranti-merantian.
Buah sejati tunggal kering, banyak biji dan bila masak bisa pecah
menjadi beberapa bagian buah (mericartia), atau pecah dengan
biji terlempar keluar.
a. buah berbelah (schizocarpium), buah ini mempunyai 2 ruang atau
lebih, tiap ruang berisi satu biji.
Buah berbelah dibedakan lagi berdasarkasn jumlah ruangannya atas
:

48
1. buah berbelah dua (diachenium),pada pegagan
2. buah berbelah tiga (trichenium)
3. buah berbelah empat (tetrachenium)
4. buah berbelah lima (pentachenium)
5. buah berbelah banyak (polyachenium)
b. buah kendaga (rhegma), buah ini mempunyai sifat yang sama
dengan buah belah tetapi tiap bagian dapat pecah lagi sehingga biji
dapat melompat keluar.
b. Buah sejati tunggal berdaging, buah ini tidak pecah kalau masak kecuali
pada pala. Buah ini dapat dibedakan atas :
1. buah buni (bacca), dindingnya 2 lapis :
2. lapisan luar tipis agak menyangat atau kaku seperti kulit,
lapisan dalam yang tebal, lunak , tebal dan berair seringkali
dapat dimakan.
3. kulit buahnya tidak begitu tebal, seringkali mempunyai sifat
yang agak kaku seperti kulit, tidak lunak, dan tidak berdaging,
biji terdapat bebas di dalamnya seperti buah duku.
Buah mentimun (pepo), susunannya hampir sama dengan buah
buni. Buah ini mempunyai 3 buah karpel yang tadinya melipat
kedalm membentuk sekat sejati, kemudian melipat lagi ke arah
dinding luar sehingga ruangan yang sudah terjadi ini terbagi 2 lagi
oleh sekat yang tak sempurna. Jika buah masak, sekatnya lenyap
hingga buah hanya mempunyai satu ruang saja dengan rongga
kosong di tengah.
Buah jeruk (hisperidium), kulit buah terdiri dari tiga lapis :
a. lapisan luar, kaku mengandung munyak atsiri (flavedo)
b. lapisan tengah, seperti sepon (albedo)
c. lapisan dalam yang bersekat-sekat hingga terdapat beberapa ruangan
Buah batu (drupa), kulit buah tiga lapis :
a. kulit luar (exocarpium/epicarpium), tipis menjangat
b. kulit tengah (mesocarpium), tebal berdaging atau berserabut
c. kulit dalam (endocarpium), tebal keras dan berkayu

49
Buah delima, kulit luar kaku seperti
kulit atau hampir mengayu, lapisan dalam tipis dan licin. Buah
beberapa ruang dengan biji yang berarrilus.
Buah apel (pomum), seperti buah
batu dan mempunyai beberapa ruang, tiap ruang mempunyai
beberapa biji.
Buah Sejati Ganda
Adalah buah yang berasal dari satu bunga dengan bakal buah yang banyak
dan masing-masing bebas, kemudian berkumpul menjadi satu kesatuan buah
dengan satu tangkai.
Tipe-tipe buah sejati ganda adalah :
a. buah kurung ganda , di dalam dasar bunga yang hipantium terdapat
banyak buah-buah kurung,misalnya pada bunga ros
b. buah batu ganda, satu bunga mrmpunyai banyak bakal buah, masins-
masing tumbuh menjadi buah batu, misalnya pada Rubus sp.
c. Buah bumbung ganda, satu bunga dengan banyak ovarium, masing-
masing tumbuh menjadi buah bumbung, misalnya pada cempaka.
d. Buah buni ganda, dari satu bunga dengan ovarium yang banyak
masing-masing berkembang menjadi buah buni dan bersatu seperti
satu buah, contoh pada sirsak.

Buah Sejati Majemuk


1. Buah buni majemuk. Berasal dari bunga majemuk, setiap bakal buah
berkembang menjadi buah buni dan bersatu menjadi satu
buah,contoh pada nenas.
2. buah batu majemuk, berasal dari bunga majemuk, masing-masing
bakal buah berkembang menjadi buah batu dan bersatu menjadi satu
buah contoh pada pandan.
3. Buah kurung majemuk, berasal dari bunga majemuk masing-masing
ovarium berkembang menjadi buah kurung yang bersatu menjadi
satu buah majemuk nisalnya pada bunga matahari

50
g) Morfologi Biji
Setelah terjadi pembuahan, bakal buah berkembang menjadi buah
dan bakal biji berkembang menjadi biji. Bagi tumbuhan spermatophyta
( tumbuhan berbiji), biji ini merupakan alat perkembangbiakan yang utama,
karena biji menagndung calon tumbuhan baru (lembaga).
Biji duduk pada tangkai biji (tali pusar) atau funiculus yang keluar dari
tembuni (placenta). Bagian biji tempat meletakkan tali pusar disebut pusar
biji (hillus).
Ada kalanya tali pusar ikut tumbuh dan berubah sifatnya menjadi salut
atau selaput biji (arillus). Salut biji ada yang :
1. berdaging atau berair, dan sering kali dapat dimakan seperti pada
biji rambutan dan durian.
2. menyerupai kulit dan hanya menutupi sebagian biji seperti biji pala.
Biji dapat dibedakan bagian-bagiannya, yaitu berupa :
a. kulit biji (spermodermis)
b. tali pusar (funiculus)
c. inti biji atau isi biji (nucleus seminis )

A. Kulit Biji (spermodermis)


Kulit biji berasal dari selaput bakal biji (integumen), oleh sebab itu
biasanya kulit biji dari tumbuhan biji tertutup (angiospermae) terdiri dari
dua lapisan yaitu ;
1. lapisan luar seperti kulit (testa),ada yang tipis, kaku seperti kulit, ada
yng keras seperti kayu atau batu.
2. lapisan kulit dalam 9tegmen) biasanya tispis seperti selaput, seringkali
dinamakan kulit ari..
Pada tumbuhan berbiji terbuka (gymnospermae), biji mempunyai tiga
lapisan seperti pada tumbuham melinjo (Gnetum gnemon), yaitu :
a. kulit luar (sacrotesta),biasanya tebal berdaging, pada watu muda
berwarna hijau.
b. kulit tengah (sclerotesta), suatu lapisan yang kuat dan keras, berkayu,
dan menyerupai kulit dalam pada buah batu.

51
c. Kulit dalam (endotesta), biasanya tipis sepeti selaput, seringjkali
melekat erta pada inti biji.
Pada kulit luar masih dapat ditemukan bagian-bagian seperti :
1. sayap (alae) terdapat pada kulit luar biji yang berguna agar biji mudah
diterbangkan oleh angin.Dapat kita amati pada kelor (Moringa
oleifera)
2. bulu(koma),yaitu penonolan sel-sel kulit luar biji yang berupa rambut-
rambut halus. Berfungsi sepert sayap, dapat diamati pada kapas
(gossypium).
3. salut biji (arillus), berasal dari pertumbuhan tali pusar, misal pada biji
durian (durio zibenthinus).
4. salut biji semu(arillodium), seperti salut biji, tapi berasal dari liang
bakal biji, misalnya pada biji pala.
5. pusar biji (hilus), merupakan bekas perlekatan kulit luar biji dengan
tali pusar.Contoh pada kacang panjang (vigna siensis).
6. liang biji (micropyle), sering kali tumbuh menjadi badan berwarna
putih, yang lunak dan disebut dengan karunkula, seperti yang terlihat
pada biji jarak (richinus communis).
7. berkas pembuluh pengangkut (chalaza), adalah tempat pertemuan
antaraintegumen dengan nuselus, seperti pada biji anggur (vitis
vinifera).
8. tulang biji (rape), merupakan terusan tali pusar pada biji, hanya dapat
diamati pada tumbuhan yang mengangguk (anatropus), seperti pada
biji jarak (richinus communis).

B. Tali Pusar (Funiculus)


Tali pusar merupakan bagian yang menghubungkan biji dengan
tembuni, jadi merupakan tangkai biji. Jika biji masak, biasanya biji terlepas
dari tali pusarnya (tangkai biji ), dan padanya hanya tampak bekasnya yang
dikenal sebagai pusar biji.
C. Inti Biji (Nucleus Seminis)

52
Yaitu semua bagian biji yang terdapat di dalam kulit, karenanya inti
biji dinamakan juga isi biji.
Inti biji terbagi dua yaitu :
1. lembaga (embryo), yang merupakan calon individu baru.
2. putih lembaga (albumen), jaringan berisi cadangan makanan
untuk masa pertumbuhan (kecambah).

D. Lembaga (Embryo)
Adalah calon tumbuhan baru,yang akan tumbuh menjadi tumbuhan
baru, setelah biji memperoleh syarat-syarat yang diperlukan. Lembaga
memiliki tiga bagian yaitu, :
a. Akar lembaga atau calon akar (radicula), yang biasanya akan
tumbuh menjadi akar tunggang (untuk tumbuhan dikotil). Akar ini
ujungnya menghadap ke arah liang biji.
b. Daun lembaga (cotyledo), yang merupakan daun pertama suatu
tumbuhan. Memiliki fungsi yang berbeda-beda, yaitu :
1. sebagai tempat penimbun makanan, yang kelihatan tebaldan
jumlahnya dua pada sisi-sisinya.
2. sebagai alat untuk melakukan asimilasi, bertugas seperti daun-daun
biasa.
3. sebagai alat penghisap makanan untuk lembaga dari putih lembaga.
c.Batang lembaga (cauliculus), yang dapat dibedakan menjadi dua
bagian yaitu:
a) ruas batang di atas daun lembaga (internodium epicotylum).
b) ruas batang di bawah daun lembaga (internodium hypocotylum).
Jumlah daun lembaga pada biji erupakan salah satu ciri penting dalam
penggolongan tumbuhan berbiji (spermatophyta).Yaitu :
1. tumbuhan berbiji tunggal (monocotyledon), yaitu tumbuhan yang
bijinya mempunyai satu daun lembaga.
2. tumbuhan berbiji belah (dicotyledon), yaitu tumbuhan yang
mempunyai dua daun lembaga.

53
3. tumbuhan berbiji telanjang (gymnospermae), yaitu tumbuhan yang
bijinya mempunyai lebih dari dua daun lembaga, bahkan sampai 15
daun lembaga.
Pada sebagian tumbuhan bagian-bagian di atas ada yang belum
kelihatan dan akan tampak kemudian setelah perkecambahan, misalnya pada
anggrek (orcidaceae).

F. Putih Lembaga
Adalah bagian dari biji yang terdiri dari suatu jaringan yang menjadi
tempat cadangan makanan bagi lembaga. Putih lembaga dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu :
1. putih lembaga dalam (endospermium), yaitu jaringan penimbun
makanan terdiri dari inti lembaga sekunder. Biasanya hanya
ditemukan pada tumbuhan angiospermae.
2. putih lembaga luar (perispermium), yaitu jaringan yang berasal dari
bagian luar kandung lenbaga, baik nuselus atau selaput bakal biji.
G. Kecambah
Yaitu tumbuhan yang masih kecil, belum lama muncul dari biji, dan
masih hidup dari persediaan makanan yang terdapat di dalam biji.
Perkecambahan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1. perkecambahan di atas tanah (epigaeis), jika pada
perkecambahan daun lembaga terangkat ke atas, muncul di atas
tanah,misal pada kacang hijau (Phaseolus radiatus)
2. perkecambahan di bawah tanah (hypogaeis), yaitu bila
daun lembaga tetap tinggal di dalam kulit biji, dan tetap di dalam
tanah, misal pada kacang kapri (Pisum sativum)
Telah dikemukakan sebelumnya bahwa biji hanya akan berkecambah
jika syarat-syarat untuk hidup telah terpenuhi, seperti: udara, air, cahaya,
dan panas. Jika syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi, maka biji akan dalam
keadaan tidur (latent). Dalam keadaan ini biji tetap hidup tanpa kehilangan
daya untuk tumbuh. Pada umumnya daya tumbuh biji akan berkurang
seiring waktu, tapi ada pula biji yang memerlukan waktu istirahatbaru

54
kemudian akan berkecambah. Sebelum dicukupi waktu yang diperlukan,
walaupun ada air, cahaya, udara, dan panas. Dalam dunia botani, hal ini
dinamakan dormansi (dormancy).

BAB III
ALAT DAN BAHAN

Alat dan Bahan di Lapangan :


Cutter / pisau / gunting tanaman
Kantong plastik 10 kg 4 buah
Botol slai 8 buah
Botol film 5 buah
Plastik ukuran 1Kg 15 buah
Koran 8 terbitan
Kertas kardus ukuran 40 X 30 cm 20 buah
Tali rafia secukupnya
Kertas label ukuran 4 X 3 cm 30 buah
Pensil
Karung beras 4 buah
Seloptip bening

Alat dan Bahan di Kampus


Kertas Monting
Benang
Jarum jahit
Kertas Kalkir
Larutan alkohol
Larutan FAA

55
BAB IV
PEMBAHASAN

No Koleksi : 001
Nama Kollektor : Yulia Espinda
Nim/BP : 96878/2009
Nama species : Solanum torvum

Klasifikasi
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

56
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Asterida
Ordo : Solanales
Famili : Solanaceae (suku terung-terung)
Genus : Solanum
Spesies : Solanum torvum
N. Indonesia : terung pipit, rimbang (Minangkabau)
Deskripsi :

Daur hidup
Tanaman Solanum torvum ini berdasarkan daur hidupnya tergolong
policarpa yaitu tyumbuhan yang berbunga dan berbuah beberapa kali selama
daur hidupnya

Habitus
Batang dari tanaman Solanum torvum ini tergolong batang
berkayu(lignosus), dimana termasuk dalam tipe frutices(perdu) dengan cirri:
Tumbuhan berkayu
Tinggi sampai 2 meter
Jelas batang pokoknya
Percabangan dekat dari tanah

Habitat
Dilihat dari tanaman ini dijumpai pada saat pengamatan kemarin
adalah tergolong halofit (lingkungan beragam), karma tanaman ini dapat
hidup di lingkungan yagng kering yg terkena cahaya matahari, dan di
lingkungan yang sedikit lembab seperti di hutan yang tidak terlalu tertutu
pohon sehingga masih terkena sinar matahari.

Daun

57
Daunnya bewarna hijau, tergolong kepada daun tidak lengkap karena
hanya terdiri dari tangkai daun dan helaian daun saja. Daunnya bercangap
dan permukaannya ditutupi rambut tipis yang agak rapat. Bangun daun
tergolong orbicularis dengan ujung daun meruncing. Pertulanagan daunnya
menyirip dimana cabang keluar dari sepanjang ibu tulang daun dengan tipe
torehan tepi daun pinnatilobus (berlekuk menyirip) karena torehan kurang
dari setengah panjang tulang cabang.

Batang
Batang bewarna hijau dengan tipe yang telah disebutkan di atas yaitu
frutices. Bentuk batang bulat dengan permukaan batang ditutupi bulu-bulu
halus seprti duri dan beberapa dari bulu halus tersebut berkenbang menjadi
duri. Arah tumbuh batangnya tumbuh keatas. Arah tumbuh cabang batang
beragan, ada yang tumbuh lurus sejajar induk batang, ada yang condong
keatas.

Akar
Tipe perakarannya adalah system perakaran tunggang dengan
serabut-serabut akar kecil-kecil seperti benang. Sehingga jika kita berusaha
untuk mencabut tanaman ini, cukup sulit karena selain karma perakarannya
yang tungga, juga karma batangg cukup tinggi.

Bunga

58
Bunga secara umum
Jika diamati bunga dari Solanum torvum ini dap[at kita lihat bahwa
bunga dari tanaman ini ini adalah tipe majemuk tak terbatas dengan cabang
bunga tumbuh disepanjang ibu tangkai daun. Tata letak perhiasn bunganya
adalah periginus yaitu perhiasan bugasama tinggi dengan kedudukan putik.
1. Kelengkapan Bunga
Bunganya tergolong bunga lengkap karena memiliki sepal, petal,
stamen, gynaecium. Stamen mengalami adnasi dengan petal dimana
stamennya tertanam pada sebelah atas tabung korola. Sementara dasar
bunga dari tanaman ini adalah tipe hiphantium karena corolla dan stament
melekat ditepinya.
2. Aestivatio
Tata letak kelopak/mahkota dari bunga tanaman ini adalah tipe
aperta(terbuka) karena aik tepi daun ataupun tepi mahkota tidak bersentuhan
sama ssekali bisa juga disebut bebas.
3. simetri bunga
Adapun simetri bunga dari tanaman ini adalah tipe radial simetri
(actinomorphous) karena bentuk perhiasan bunganya adalah berbentuk
bintang sehingga dapat dibagi dalam 5 bagian yang sama.

Bagiian-bagian bunga
1.Daun kelopak(sepal)
Sepalnya bewarna hijau dengan jumlah 5 buah dan tersususn saling
bebas(koriosepal). Simetri dari sepal adalah simetri radial kerena dapat
dibagi menjadi 5 bagian yang sama.
2.Daun Mahkota(petal)

59
Mahkota dari tanaman ini bewarna putih yang terdiri dari 5 petal
yang actinimorph seperti bintang dengan sifat susunan koriopetal sehingga
simetrinya adalah tipe radial simetri.
3. Stamen
Stamen dari Solanum torvum ini barjumlah 5 dan bewarna kuning.
Duduk benang sarinya adalah tipe calyciflorae yaitu tampak duduk diatas
kelopak dengan susunan episepal yakni duduk berhadapan dengan daun
kelopak. Tangkai sari dari tiap banang sari terpisah satu sama lainnya.
Kepala sari besar dan tegak, menutupi putiknya.

4. Putik
Putik terdiri dari satu gynaecium dengan bakal buah tipe superus
yaitu menumpang. Setelah diamati dibawah mikroskop didapat bahwa
jumlah karpellum pada bunga tanaman Solanum torvum ini berjumlah 4
dengan ruang pada masing-masing carpel.

5. Buah dan Biji

Pada saat kuliah lapangan kemarin kami tidak menemukan buah dari
tanaman ini karena pada saat itu tanaman ini sedang berbunga sehingga
kami tidak bisa menjelaskan secara spesifik dari buah atau biji dari tanaman
ini.Namun gambar dari buah pada tanaman ini tetap kami masukkan untuk
dapat kita ketahui, gambar ini kami ambil dari internet, untuk dapat
dimaklumi. Tapi secara umum buahnya berbentuk bulat seperti buah pada
tanaman beringin bewarna hijau saat masih muda.

60
Dari pengamatan diatas didapat:

Rumus bunga:

Diagram bunga:

No Coll : 002
Kolektor : Nila Hermanita
NIM/BP :96864/2009
Spesies :Hyptis capitata

Klasifikasi
Regnum : Plantae (Tumbuhan)
Sub Regnum : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Asteridae

61
Ordo : Lamiales
Famili : Lamiaceae
Genus : Hyptis
Spesies : Hyptis capitata
AKAR
Memiliki system akar tunggang,dengan ciri-ciri akar primer tumbuh
terus menjadi akar pokok dan tetap menyolok karena lebih besar dari akar
lainnya,serta bercabang banyak menjadi akar-akar yang lebih kecil. Namun
pada objek tidak terlihat akar tunggangnya dikarenakan akrnya sudah
mengalami benturan,bias saja karena terbentur batu sehingga untuk tumbuh
baik maka munculah akar pembantu yang muncul dari pangkal akar.
BATANG
Tumbuhan ini termasuk planta caulis, karena jelas memiliki batang,
habitusnya yaitu herbaceus atau berbatang basah. Batang bersegi empat atau
quadra gularis. Batang berambut atau pilosus. Tumbuh tegak lurus ke atas.

DAUN
Tumbuhan ini memiliki daun tidak lengkap yaitu daun bertangkai,
karena hanya terdapat bagian tangkai daun atau petuiolus dan helaian daun
atau lamina saja. Ujung daunnya yaitu termasuk type aculus atau runcing,
dengan tepi daun bertipe bergerigi ganda. Tata letak daun berselingan atau
disebut juga folia oppusita. Pada bagian ibu tangkai daun terdapat warna
keungu-unguan, kedua sisi rambut memiliki rambut-rambut yang panjang.

62
BUNGA
Bunga pada tanaman ini adalah bunga axsilaris, yaitu dimana bunga
tersebut muncul di ketiak daun. Bunganya adalah bunga majemuk yang
hanya terdiri atas bunga tabung. Termasuk bunga majemuk tidak berbatas
atau Inflorescentia rasemosa. Karena tidak ada bunga pada ujungnya.
Termasuk dalam bunga majemuk dengan ibu tangkainya tidak bercabang-
cabang yaitu tipe bunga cawan atau corymbus. Corolla atau mahkotanya
berwarna putih, atau ada yang berbintik-bintik ungu.

Rumus Bunga
*K5[C(5)A4]G(2)

63
Diagaram Bunga

HABITAT
Tumbuhan ini sering kita jumpai pada daerah tropis lembab, seperti
pada pinggir jalan, sumber air, padang rumput dan hutan terbuka. Namun
obek ini di temukan pada hutan dengan keadaan tanah yang lembab.
PERBANYAKAN
Benih di kepala bunga disebarkan oleh air. Biji juga disebarkan oleh
hewan, manusia biji ini setiap tahun menjamin kelangsungan hidup Benih,.
sensitif terhadap cahaya dan perkecambahan membutuhkan paparan cahaya
Di sisi lain, yang dominan sinar matahari disaring melalui kanopi daun. ,

64
Nama species : Elephantopus tomentosus

No koleksi : 003

Nama kolektor : Raya Shoraya

Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Asterales

65
Family : Asteraceae
Genus : Elephantopus
Species : Elephantopus tomentosus

Deskripsi Tumbuhan:

Nama Lokal :

Tapak liman (Indonesia), Tutup bumi (Sumatera), Balagaduk, jukut


cancang, tapak liman (Sunda),Tampak liman, tapak tangan, talpak tana
(Madura), Ku di dan (China).

Ciri-ciri tumbuhan:

Batang

Batang tumbuhan ini berwarna hijau dan berambut yang hingga


mencapai panjang 0,9 mm. Batang tumbuh tegak dan berada diatas tanah.
Pada saat dipotong melintang, batang tampak dan berwarna hijau dari
epidermis luar hingga bagian dalam (korteks). Hal ini mengindikasikan
bahwa batang tersebut banyak mengandung klorofil. Percabangan yang
dibentuk batang bertipe monopodial, sehingga masih nampak batang utama.
Pada bagian pangkal percabangan umumnya terdapat satu daun yang
bentuknya agak memanang. Cabang muncul diatas ketiak daun tersebut.
Pada umumnya bentuk batang muncul ketika tumbuhan akan membentuk
bunga. Hal ini karena bunga terlatak dibagian apeks atau terminalis.

66
Daun

a). Daun tunggal dengan permukaan daun berbulu

b). Daun berwarna hijau tua,bentuk daun jorong.

c). Tepi daun bergerigi.

d). Ujung daun runcing dan pangkal daun runcing.

e). Panjang daun 10 cm - 18 cm, lebar 3 cm - 5 cm.

f). Daun pada percabangan jarang dan kecil, dengan panjang 3 cm - 9


cm, lebar 1 cm - 3 cm.

g). Tulang daun menyirip

Akar

Elephantopus tomentosus memiliki akar tunggang yang berkembang dari


akar pokok dengan bentuk akar filiformis. Akar berwarna putih dan
bercabang-cabang membentuk akar lateral dari akar pokok.

Bunga

Elephantopus tomentosus memiliki bunga yang terletak dibagian apeks,


atau lebih dikenal dengan bunga terminalis.Termasuk bunga majemuk tipe
bongkol. Bunga ini berkelamin dua atau biseksual yang biasanya mekar
diantara bulan agustus dan september. Termasuk dalam planta multiflora.
Memiliki putik dan benang sari yang fungsional sehingga dapat melakukan
penyerbukan. Stamen berjumlah 5 yang bersilangan dengan corola. Sepal
termodifikasi, corola berjumlah lima. Bunga ini memiliki simetri
aktinomorf. Dibagian bawah bunga terdapat daun yang melingkupi bunga.
Umumnya berjumlah tiga helai. Daun tersebut tampak berbeda dengan daun
yang ada pada batang karena berukuran lebih kecil. Daun ini disebut sebagai
braktea (daun pelindung). Bunga berupa bunga majemuk dengan susunan

67
bunga corymbus.Bunga ini memiliki warna yang bervariasi antara lain
warna merah muda, ungu atau putih.

Buah

Buah berupa buah longkah,keras,berwarna hitam dan berambut.

Biji

Berbentuk kerucut berwarna coklat kehitaman

Perkembangbiakan

Perkembangbiakan E. tomentosus menggunakan biji. Biji berukuran


sangat kecil sehingga dapat diterbangkan oleh angin. Biji dapat terbentuk
dari pembuahan dari tumbuhan sendiri atau dari pembuahan oleh bunga
yang berada pada tumbuhan lain namun masih dalam satu spesies.
Umumnya penyerbukannya dilakukan oleh serangga seperti kupu-kupu dan
lebah.

Habitus: Merupakan tumbuhan semak,tinggi 60-80cm

Habitat:

Tumbuh liar di lapangan rumput, pematang, kadang-kadang


ditemukan dalam jumlah banyak, terdapat di dataran rendah sampai dengan
1.200 m di atas permukaan laut.

Rumus bunga

Diagram bunga

68
Kandungan kimia tanaman ini:
Daun pada tumbuhan ini mengandung zat semacam glukosida. Ekstrak
daun berkhasiat sebagai antibiotik terhadap Staphylococcus, dan pada
daunnya juga telah ditemukan suatu zat pahit dan glikosid berupa kristal
putih.

Kegunaan tanaman ini:


Daunnya digunakan sebagai obat demam, batuk, sariawan, mencret
menahun, panas, penyakit cacing dan sebagai perangsang nafsu kelamin.
Akarnya bila ditumbuk halus, bisa dijadikan sebagai obat malaria pada
anak-anak. Seluruh tumbuhan digunakan untuk mengobati epistaxis (hidung
berdarah), sakit kuning, infeksi saluran kencing, cacar air, busung, absces,
borok, gigitan ular dan gigitan serangga.

69
No Koleksi : 004
Nama Kollektor : Kesi Adilla
Nim/BP : 96843/2009
Nama species : Eclipta alba Hassk

A. KLASIFIKASI

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Sub Kelas: Asteridae

70
Ordo : Asterales

Famili : Asteraceae

Genus : Eclipta

Spesies : Eclipta alba Hassk.

B. DESKRIPSI

1. Akar: Tunggang,berwarna putih.


2. Batang: Bulat, bercabang,berambut putih,ungu.
3. Daun: Tunggal,bulat telur,berseling berhadapan,ujung
runcing,pangkal meruncing,tepi bergerigi panjang 2-3,5 cm,lebar
5-10 mm,pertulangan menyirip,permukaan berambut,berwarna
hijau.
4. Bunga majemuk,bentu bongkol,diameter +4 mm di ketiak
daun dan di ujunh batang, tangkai panjang +4 cm,silindris,kelopak
bentuk corong,ujung bertoreh enam, berwarna hijau.
5. Buah: Bulat telur,diameter +1 mm,berwarna hitam.
6. Biji: Bentuk jarum,panjang +2 mm,berwarna hitam.
7. Habitat: daerah basah,parit,sekitar sungai.

GAMBAR

71
DAUN BATANG

BUNGA DAUN

PEMBAHASAN

Penyebaran

Terna semusim, dengan batang tegak atau berbaring, kerap


bercabang-cabang, hingga 0,8 m. Batang bulat pejal, sering keunguan,

72
dengan rambut putih. Daun berhadapan, duduk, lanset memanjang hingga
bundar telur memanjang, 212,5 0,53,5 cm, dengan pangkal menyempit
dan ujung runcing, tepi daun bergerigi atau hampir rata, kedua
permukaannya berambut

Bunga-bunga tergabung dalam bongkol bunga majemuk bertangkai


panjang, selanjutnya 2-3 bongkol bersama-sama berkumpul di ujung
(terminal) atau di ketiak. Daun pembalut dalam 2 lingkaran, panjang 5 mm,
membentuk mangkuk. Bunga tepi dengan mahkota bentuk pita sempit,
bergigi dua. Bunga cakram bentuk tabung, berwarna putih. Buah keras
(achene) memanjang hingga serupa baji pendek, 2 mm, berbintil-bintil.

Urang-aring mampu beradaptasi pada lingkungan yang berubah,


terutama di tempat-tempat yang berdrainase buruk, daerah-daerah basah di
sekitar sungai, parit, atau rawa, namun kaya akan sinar matahari. Mulai dari
wilayah pantai gulma ini tahan hidup di tanah bergaram hingga
ketinggian 2000 m. Kemampuan berbiaknya tinggi: berbunga di sepanjang
tahun, urang-aring mampu menghasilkan 17.000 biji per individu tumbuhan.

Urang-aring menghasilkan zat pewarna hitam. Cairan sarinya


digunakan untuk menghitamkan rambut dan untuk membuat tato. Daun
urang-aring diremas-remas dalam air, yang kemudian digunakan untuk
mendinginkan kepala serta untuk menyuburkan dan menghitamkan rambut.
Cairan urang-aring dioleskan pada kepala bayi agar lekas mendapatkan
rambut yang hitam. Seduhan urang-aring dalam minyak kelapa digunakan
sebagai minyak penyubur rambut. Minyak urang-aring semacam ini populer
di Jawa hingga sekitar tahun 70-an.

Dalam Ayurveda (ilmu pengobatan India), urang aring diyakini


sebagai semacam rasayana yang memiliki khasiat panjang usia dan awet
muda. Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa tumbuhan ini memiliki
daya pengobatan terhadap gangguan hati (hepar) dan lambung.

73
Di tempat-tempat lain, urang-aring digunakan sebagai obat luar
untuk penyakit kulit, eksim, "kutu air", bahkan untuk mengatasi serangan
hewan berbisa seperti sengatan kalajengking atau gigitan ular. Daun urang-
aring juga dimanfaatkan sebagai lalap, atau di Bali, dicampurkan ke dalam
sayur.

Sejarah

Urang aring merupakan tanaman liar bertangkai banyak, tumbuh


di tempat terbuka seperti di pinggir jalan, tanah lapang, pinggir
selokan. Tanaman ini dapat hidup di daerah mulai dari tepi pantai
sampai ketinggian 1.500 m diatas permukaan laut. Tinggi tanaman
mencapai 80 cm, posisi tumbuh tegak kadang-kadang berbaring.

Asal tanaman urang aring masih belum diketahui dengan pasti.


Pada umumnya tanaman ini tumbuh di Indonesia sebagai tanaman liar
yaitu terdapat di Sumatera, Jawa, Madura dan Maluku.

Telah dilakukan telaah titokimia ekstrak eter minyak bumi herba


urang aring (Elicta prostrata L, Asteraceae). Hasil kromatografi
lapis tipis preparatif menunjukkan ekstrak tersebut mengandung
steroid.

Berdasarkan analisis spektroskopi inframerah dan ultraviolet-


sinar tampak, streroid tersebut diduga ( 3-sitosterol dan saponifikasi
ekstrak) menghasilkan satu senyawa karotenoid yang teroksigenasi.

Tanaman ini merupakan tanaman obat herba, seluruh bagian


tanaman baik segar maupun kering dapat menyembuhkan berbagai
penyakit, sebagai obat luar dan untuk diminum, tanaman ini sudah
diteliti oleh ahli farmasi. Dalam industri kosmetika telah diproduksi
menjadi minyak rambut urang aring dan sampo urang aring yang
sudah banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia.

Manfaat dan kegunaan

74
Jenis tanaman liar bertangkai banyak, tumbuh di tempat terbuka
seperti di pinggir jalan, tanah lapang, pinggir selokan, dari tepi pantai
sampai ketinggian 1.500 m. di atas permukaan laut. Tinggi tanaman
mencapai 80 cm., posisi tumbuh tegak kadang-kadang berbaring.
Batang bulat berwarna hijau kecoklat-coklatan, berambut agak kasar
warna putih. Daun warna hijau bentuk bulat telur memanjang, ujung
daun meruncing, pinggir bergerigi halus atau hampir rata, kedua
permukaan daun berambut, terasa agak kasar. Bunga majemuk
berbentuk bongkol warna putih kecil-kecil. Buahnya memanjang,
pipih, keras dan berbulu.
Manfaat tanaman urang aring, untuk penyembuhan penyakit yaitu
dengan herba segar dilumatkan dibubuhkan ke tempat yang sakit, atau
herba segar direbus, untuk cuci pada : Eczema, tinea pedis (jamur),
koreng (termasuk koreng di kepala), luka berdarah, gusi bengkak,
penyubur rambut.
Seluruh bagian tanaman baik segar maupun kering dapat
digunakan untuk pengobatan baik sebagai obat luar maupun untuk
obat penyakit dalam, seperti :

1. Menghentikan perdarahan pada muntah darah


(hematemesis).

2. batuk darah (hemoptoe).

3. mimisan (epistaxis).

4. kencing darah (hematuria).

5. berak darah (melena).

6. perdarahan rahim (uterine bleeding).

7. Chronic hepatitis.

8. diare.

9. Kurang gizi pada anak (infantile malnutrition).

10. Keputihan (leucorrhoe).

75
11. Rambut memutih (ubanan) pada usia muda.

12. Neurasthenia.

No Koleksi : 006
Nama Kollektor : Nella Yunita B
Nim/BP : 96861/2009
Nama species : Ixora sp.

76
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisio : Spermatophyta
Divisio : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub-kelas : Asteridae
Ordo : Rubiales
Familia : Rubiaceae
Genus : Ixora
Spesies : Ixora sp.

Deskrisi

Ixora sp merupakan tumbuhan dengan berakar kayu, dan merupakan


tumbuhan dikotil. Memiliki kambium sehingga berkas pengangkutnya
tersusun sistematik antara floem yang berada di luar kambium dan xylem
yang berada di dalam kambium. Karena mamiliki kambium, maka pada
Ixora sp terdapat floem dan xylem sekunder. Pada lingkaran tahunnya
mengalami perkembangan dan pembelahan aktif, dengan kambium dan
lingkaran tepi berdiameter yang tumbuh membesar.

1. Morfologis dan Jenisnya


Tanaman soka merupakan tanaman yang menghendaki penyinaran
matahari penuh teruatama untuk merangsang pembungaan. Meskipun
jenisnya cukup beragam, secara umum bentuk morfologis tanaman terutama
bagian bunganya tidak berbeda jauh yaitu tersusun atas beberapa bunga
kecil yang masing-masing memiliki empat petal mahkota dalam satu tangkai
mirip payung terbuka. Bunga soka yang masih kuncup mirip jarum sehingga
akan terkesan gundukan jarum berwarna merah disaat belum mekar. Warna
kelopak bunga ada yang merah, merah muda, ungu , putih dan kuning.
Namun di Indonesia jumlah soka berwarna merah lebih banyak
dibandingkan lainnya. Berbeda dengan bentuk bunganya, penampilan
batang dan daun bunga soka bisa bermacam-macam. Ada yang lebar, ada

77
yang sempit, ada juga yang medium tergantung asalnya. Soka Jawa lebih
condong berdaun lebar dengan tandan bunga ramping dan kuntum bunganya
berwarna merah.

Jenis-jenis soka terbagi dalam dua macam yaitu soka biasa dan soka
hibrida. Yang tergolong soka biasa diantaranya : Ixora coccinea, Ixora
lutea, Ixora fulgen, Ixora chinensis, Ixora Granifolia, Ixora Amboinica.
Sedangkan soka hibrida antara lain :I. Mocrothyrsa, I. American, I.
Pitsanuloke dan Soka bangkok.

Tanaman ini berasal dari daerah Asia Tropis. Bahkan disinyalir ada
yang menyebutkan berasal dari negara Indonesia. Namun sejauh ini belum
teruji kebenarannya, yang pasti dengan ditemukannya jenis bunga soka
kuno yaitu Ixora javanica di pulau Jawa telah cukup menjadikannya alasan
mengapa tanaman tersebut berasal dari negara kita. Dugaan kuat mengenai
asal usul tanaman ini lebih cenderung kepada negara India dan China,
dimana di dua negera tersebut memiliki beragam jenis tanaman Soka.
Penyebaran tanaman Soka ke seluruh wilayah negara bisa jadi tidak terlepas
dari peran para pendeta beragama Hindu yang membawanya kemana dia
pergi termasuk salah satunya ke negara kita. Perlu diketahui pula bahwa ini
ada hubungannya dengan kepercayaan umat Hindu terhadap bunga Soka
dimana bunga ini merupakan simbol hidup bersuka hati, sehingga sering
digunakan sebagai sesaji untuk persembahan dewa Siwa dan Wisnu.

Bunga soka awalnya hanya sebagai tanaman liar type perdu. Dengan
penampilan bunganya yang memancar seperti kembang api dan hidup di
hutan-hutan liar, tidaklah mengherankan bila orang-orang Eropa
menjulukinya dengan flame of the wood atau api dari hutan. Mungkin
karena penampilannya yang menarik tersebut mengundang orang untuk
membawanya ke rumah dan mmeliharanya sebagai tanaman hias. Dengan
semakin berkembangnya pengetahuan, jenis soka hibrida saat ini telah
bermunculan dengan menghadirkan warna-warna bunga yang lebih beragam

78
dan meriah. Secara ringkas dapat dikemukakan morfologi tanaman soka
sebagai berikut:
a. Batang : tegak, berkayu bulat, percabangan simpodial, putih
kotor.
b. Daun : tunggal, lonjong, pangkal meruncing, tepi rata, ujung
runcing, pertulangan daun menyirip.
c. Bunga : majemuk, berwarna merah, berkelamin dua, kelopak
bentuk corong, benang sari 4, kepala sari melekat pada mahkota.
d. Akar : tunggang, berwarna cokelat.
2. ANATOMI
Secara anatomi bunga mempunyai 4 bagian utama, yaitu daun
mahkota, daun kelopak, benang sari dan putik. Bagian-bagian
tersebut terpaut pada ujung batang tangkai, disebut penyangga. Daun
mahkota dan daun kelopak mempunyai struktur yang sama terdiri
dari sel-sel parenkimatis. Pada jaringan dasar mungkin terdapat sel-
sel yang mengandung kristal, idioblas atau saluran getah.

Daun-daun timbul dari jaringan yang berada tepat di belakang titik


tumbuh kuncup-kuncup. Umumnya, sebuah daun terdiri dari sebuah tangkai
daun atau petiol, dan lembar daun itu sendiri, disebut helai daun. Pada
beberapa daun terdapat tonjolan-tonjolan kecil yang disebut penumpu, di
tempat petiol bertemu dengan batang. Tangkai daun berisi xylem dan floem
yang membentuk bagian dari sistem pengantar tumbuhan. Daun-daun
tertentu tidak mempunyai tangkai daun, helai daun langsung tumbuh dari
batang. Rangka semua helai daun terbuat dari sebuah jaringan tulang daun.
Jaringan yang terdapat pada daun adalah jaringan dermal serta derivatnya,
jaringan dasar yang menyusun mesofil, jaringan pengangkut, jaringan
penguat dan jaringan sekresi.

Perbedaan antara daun monokotil dan daun dikotil yaitu pada


susunan sel mesofilnya. Seperti tulang daun pada monokotil yang menyirip
dan helai daun memanjang atau tidak melebar. Sedangkan pada dikotil

79
tulang daun membuka dan berhadapan berpasangan atau menjari, dan helai
daun umumnya melebar.

Pada daun Ixora sp, ditemukan epidermis atau mesofil dengan sel lebih
dari selapis, jaringan palisade atau jaringan pagar dan di bawah jaringan
pagar tersebut terdapat jaringan bunga karang. Yang terbungkus secara
longgar dan terdapat banyak ruang diantara sel-sel ini. Baik pada jaringan
pagar/ palisade maupun jaringan bunga karang banyak mengandung klorofil
dan sel-sel penutup. Selama masa pertumbuhan daun, kebanyakan
tumbuhan berwarna hjau. Warna ini disebabkan klorofil, yang sebenarnya
terdiri dari 2 pigmen, yaitu klorofil A dan klorofil B. Dua pigmen lainnya
yaitu xantofil, suatu pigmen kuning dan karotein pigmen berwarna orange
kekuning-kuningan yang juga terdapat pada daun. Namun tersamarkan oleh
klorofil yang jauh lebih banyak. Adapun warna lain yang agak berbeda
disebabkan pigmen antosianin yang berwarna ungu pada bunga ataupun
daun terdapat pada beberapa macam tanaman lainnya. Dan pada bagian
bawah bunga karang terdapat stoma yang berbentu seperti setengan
lingkaran.
No Koleksi : 007
Nama Kollektor : Rahmatika Husna
Nim/BP : 96855/2009
Nama species : Wedelia trilobata l...

Klasifikasi objek:

80
Regnum : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisio : Dicotiyledoneae
Clas : Dycotyledoneae
Ordo : Asteriales
Familia : Asteraceae
Genus : Wedelia
Species : Wedelia trilobata L.

Nama Daerah : Saruni laut (sunda), cinga-cinga (Ternate), Widelia (Jawa),

A. Deskripsi Objek

Bunga widelia trilobata merupakan anggota familia


Asteraceae. Bunga ini adalah bunga majemuk terbatas dengan ibu
tangkai tidak bercabang-cabang dan trmasuk bunga cawan. Pada
pangkal bunga ini terdapat daun-daun pembalut. Bunga majemuk
ini terdiri atas unga pita dan bunga tabung. Bunga pita adalah
bunga mandul yang terdapat pada tepi cawan dengan mahkota yang
berbentuk pita pancung-pancung. Yang menandakan bunga ini
memiliki lima daun tajuk. Bungan ini berfungsi sebagai pemikat.
Bunga tabung berukuran kecil dan berbentuk tabung. Bungan ini
bunga banci mempunyai kedua macam alat kelamin yaitu benang
sari dan putik yang nantinya akan menghasilkan buah.

1. Bentuk hidup

81
a.Daur hidup
polycarpa,yaitu berbunga dan berbuah beberapa kali dalam siklus
hidupnya.
b.umur
annual,yaitu umurnya kurang dari I tahun mulai dari biji sampai
mengahasilkan biji kembali.
c.habitat/perawakan
merupakan batang basah(herbaceous),yaitu berbatang lunak dan
berair.
2.organ tumbuhan
a.organum nutritivum/organ vegetatif/organ pokok
yaitu,organ tumbuhan yang terbentuk pada lembaga atau merupakan
perkembangan dari zigot.contoh :daun,batang,akar.
b.organ metarnorfosa
yaitu,organ vegetaif yang mengalami perkembangan diikuti
modifikasi yang beranekaragam.contoh : batang,akar
terspesialisasi,daun terspesialisasi,dan batang trespesialisasi.
c.organ accessoria
yaitu,organ tambahan dan bukan merupakan modifikasi dari organ
pokok.contoh :rambut,sisik bulu.

A.DAUN
Bagian-bagian daun :
Merupakan daun tak lengkap,yaitu daun brupih,tidak memiliki
tangkai daun(petiolus),daun terdiri dari pelepah daun(vagina),dan
helaian daun(lamina).merupakan daun tunggal tak memiliki daun
penumpu(stipula),sendi absisi,pulvinoid,selaput bumbung(ochrea).

Bangun/bentuk daun(Circumscription)
Bagian yang terlebar terletak di atas tengah-tengah helaian
daun,yaitu tipe bulat telur sungsang(obovatus)

82
Ujung daun (Apex foli)
Ujung daun runcing(acutus),yaitu pertemuan tepi daun pada puncak
membentuk sudut lancip.
Pangkal daun (Basis foli)
Tumpul(obtusus),yaitu pertemuan tepi daun arah ke basal
membentuk sudut tumpul.
Tulang daun (Nervus)
Tulang daun terpencar ke arah tepi daun yaitu bertipe tulang daun
menyirip(penninervus),dimana cabang tulang keluar di sepanjang ibu
tulang daun.
Tipe helaian daun (Margo)
Berlekuk (lobatus),dalam torehan kurang dari setengah panjang
tulang cabang,yaitu bertipe berlekuk menyirip(pinatilobus)
Daging daun(Intervenium)
Seperti kertas(papiraceus/chartaceus),tipis tetapi cukup tegar.
Warna daun
Daun berwarna hijau.
Permukaan daun(Intervenium)
Kedua permukaan berambut(pilus),rambut pada buku terdapat dua
helai daun yang berhadapan.
B.AKAR
cirri-ciri akar:
-akar tunggang,coklat
-akar pokok,jelas
-ada cabang-cabang akar
-tidak berklorofil
Tanaman ini termasuk dalam tanaman dikotil sehingga perakarannya
adalah tunggang.salah satu keunikan dari tanaman ini adalah akar
dapat tumbuah pada ruas-ruas batangnya.hal ini karena tanaman ini
tumbuh merayap di permukaan tanah.
C.BUNGA

83
merupakan bunga majemuk,terdiri dari bunga tabung dan bunga
pita,terletak diujung batang dan ada yang diketiak daun,termasuk
bunga tidak berbatas (rasemosa)
tipe bunga majemuk :bunga.cawan yang terdiri atas bunga pita dan
bunga tabung.
1.Bunga pita (flos ligulatus),bunga mandul yang terdapat di sepanjang
tepi cawan dan mempunyai mahkota berbentuk pita

2.Bunga tabung (flos disci)bunga yang terdapat di atas cawannya


sendiri,umumnya berbentuk tabung.
Cirri-ciri bunga majemuk:
-daun pelindung : ada,berupa daun pembalut (bractea
involucralis involucrum)
-epikaliks : ada
-dasar bunga :cawan
-sepal bunga pita dan bunga tabung saling bebas,berwarna
hijau.
-petal bunga pita dan bunga.tabung berlekatan.
-stamen :
:bunga pita
:bunga tabung :monadelphous
-tipe antera bunga tabung :innatus
-pistil :
:bunga pita
:bunga tabung :ada,monocarp
:tipe kepala putik bunga tabung
D.BATANG
Batang tanaman ini berbentuk bulat dan termasuk berbatang
basah(herbaceous).mempunyai panjang 1-3 dm.posisi batang
tanaman ini merayap di atas permukaan tanah.

E.BUAH

84
Ternasuk ke dalam golongan buah kurung (archenium),dinding
buahnya tipis,berdampingan dengan kulit biji tetapi tidak
berlekatan,dan mempunyai panjang 4-5 mm
Habitat
Wedelia biasanya melimpah pada belakang pantai,batas hutan
bakau.jenis ini dapat membentuk belukar yang sulit di tembus.jenis
ini juga umum di hutan sekunder,kebun yang di
tinggalkan,perkebunan kelapa dan sawah yang belum di Tanami.
Manfaat :
Daunnya memiliki kepentingan untuk obat,terutama untuk penggunaan
luar.mengobati luka terpotong atau terkena gigitan.cairan yang di
ambil dari daunnya dapat di gunakan untuk ibu yang baru
bersalin.akar di gumakan untuk obat penyakit kelamin.

Rumus bunga
Bunga pita : K(2)C(3)A0G0
Bunga tabung : K5[ C(5) A(5) ] G(2)

.Diagram
Bunga tabung bunga pita

85
No. Koleksi : 008
Nama Kolektor : Ayu Wandri Julianti
Nim/ BP : 96881/ 2009
Nama Objek : Stachytarpheta indica

Stachytarpheta indica (Pecut kuda)

Klasifikasi

Regnum :
Plantae
Divisi :
Magnoliophyta

86
Class : Angiospermae
Ordo : Lamiales
Family : Verbenaceae
Genus : Stachytarpheta
Species : Stachytarpheta indica

Deskripsi

Batang Daun

Terna tahunan, tumbuh tegak, tinggi 50 cm, tumbuh liar di sisi


jalan daerah pinggir kota, tanah kosong yang tidak terawat. Daun letak
berhadapan, bentuk bulat telur, tepi bergerigi, tidak berambut. Bunga duduk
tanpa tangkai pada bulir-buhr yang berbentuk seperti pecut, panjang 4-20
cm. Bunga mekar tidak berbarengan, kecil-kecil warna ungu, putih.
Stachytarpheta indica Vahl, lebih tinggi dapat mencapai 1 - 2 m, dipelihara
sebagai tanaman pagar hidup, mempunyai khasiat obat yang sama.

NamaLokal :
Pecut kuda, Jarongan, Jarong lalaki, ngadi rengga, ; remek getih, jarong,

87
biron, sekar laru, laler mengeng,; rumjarum, ki meurit beureum.; Yu long
bian (China).;

Penyakit Yang Dapat Diobati :


Infeksi dan Batu saluran kencing, Reumatik, Sakit tenggorokan; Pembersih
darah, haid tidak teratur, Keputihan, Hepatitis A;

Semak, tegak, tinggi 20-90 cm.


Berkayu, bulat, bercabang, hijau kepulih-putihan.Tunggal, berhadapan,
bulat telur, ujung runcing, tepi beringgil, pangkal meruncing, panjang 4-9
cm, lebar2,5-5 cm. pertulangan menyirip, berbulu, tangkai 1-1,5 cm,
hijau.Majemuk, bentuk bulir, tangkai pendek, kelopakbertaju empat,
panjang z 5 mm, hijau, mahkola bentuk tabung, bagian dalam berambut
putih,bertaju lima, tumpul, ungu, benang sari dua,tangkai ungu, kepala sari
coklat, kepala pulik kuning,ungu.Bentuk bulir, masih muda hijau setelah tua
hitam.
Bentuk jarum, panjang 5 mm, hitam.Tunggang, kuning muda.

Khaslat
Daun Stachytarpheta mutabtlis berkhasiat obat batuk, obat mencret dan
obat luka.
Untuk obat batuk dipakai 30 gram daun segar Stachytarpheta mutabilis,
direbus dengan 1 gelas air selama 15 menit, setelah dmgin disaring. Hasil
saringan dirninurn sekaligus.

Kandungan krmia
Daun dan akar Stachytarpheta mutabilis mengandung saponin dan
flavonoida. Di samping itu daunnya juga mengandung tanin, sedangkan
akarnya juga mengandung polifenol.

88
No. coll : 009
Collector: Elsa Mardian
Nim/BP : 96836/2009

Klasifikasi:

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)


Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

89
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae (suku polong-polongan)
Genus : Cassia
Spesies : Cassia alata

Deskripsi

A. Akar

Sistem perakaran pada tanaman Cassia alata adalah akar tunggang


dengan jenis akar tunggang bercabang. Bentuk akarnya bulat dengan warna
kehitaman.

B. Batang

Batang pada Cassia alata tampak jelas, berwarna coklat kotor.


Tipe batangnya adalah batang berkayu (lignosus) yang termasuk perdu
dengan tinggi batang 1-5 m. Bentuk batangnya bulat (teres) dengan
permukaan batang yang beralur serta memiliki sistem percabangan
simpodial.

C. Daun

Cassia alata mempunyai ukuran daun yang lumayan besar dengan


bentuk bulat panjang (oblong) berwarna hijau. Daun pada tanaman ini
merupakan daun majemuk yang mana letak daunnya berhadap-hadapan

90
satu sama lain dalam satu buku, sehingga disebut folio opposite atau folio
decussate. Anak daunnya ini ada yang berjumlah delapan sampai dua puluh
empat pasang, sepasang yang terbawah langsung terletak diatas pangkal
tangkai daun hampir memeluk ranting berdasarkan jumlah daunnya ini
maka daun ini merupakan daun majemuk menyirip genap (abrupte
pinnatus).

Ukuran anak daun pada Cassia alata adalah: panjangnya lebih


kurang 3,5-15 cm sedangkan lebarnya lebih kurang 2,5-9 cm. Ujung
daunnya tumpul dan tepi rata serta pangkal daun membulat. Pertulangan
daunnya menyirip dengan tangkai daun yang pendek. Poros daun tanpa
kelenjar dan memiliki stipula (daun penumpu) yang terlihat pada ujung ibu
tangkai daun lama tetap tinggal.

D. Bunga

Bunga pada Cassia alata merupakan bunga majemuk dengan tipe


bunga majemuk tak berbatas, karena sumbu utamanya panjang dan tidak
terdapat bunga diujungnya sumbu utama lebih panjang dan bunga mekar
dari bawah ke atas (makin mendekati ujung sumbu utama), jadi bunga yang
paling tua (lebih dulu mekar) terletak paling bawah dan sebaliknya disebut
susunan acropetal. Bentuk bunga majemuk tak berbatasnya adalah bentuk
tandan.

91
Kelopak pada bunga ini berbagi (partitus) yang berjumlah lima
dan berwarna kuning tua dan merupakan simetri radial. Benang sari
berjumlah tiga, letak bakal buahnya adalah inferus (menumpang) dan
jumlah ruang pada bakal buah adalah beruang 2 (bilocularis) serta letak
plasentanya merupakan aksilar. Daun pelindung bunga pendek dan rontok
sebelum mekar, berwarna jingga ukuran 3x2 cm. Daun mahkota berwarna
kuning cerah dan mahkota berbentuk kupu-kupu, berjumlah 4 buah. Tandan
bunga tidak bercabang, tangkai bunga lebih kurang 10-20 cm. simrtri pada
bunga ini adalah radial simetri (actinomorphous)

E. Buah dan Biji

Buahnya mirip seperti pete cina hanya ukurannya lebih besar.


Apabila tanaman ini sudah berbunga, maka setelah bunga gugur akan
muncul buah. Buah yang sudah tua dan kering digunakan untuk
memperbanyak tanaman.

Buah pada Cassia alata merupakan buah sejati, digolongkan pda


buah Polong (legumen), bentuknya panjang dan bersegi empat, panjang
18 cm, lebar 2,5 cm. Pada buah masih muda akan berwarna hijau
kemudian setelah tua akn berwarna hitam kecoklatan. Buah ini bersayap
pada kedua sisinya dan akan memecah bila telah masak dan bijinya dapat
50-70 butir. Biji berbentuk segi tiga lancip, pipih, ketika masih muda
berwarna hijau setelah tua berwarna hitam.

92
.
Rumus dan diagram bunga

Sejarah dan Penyebaran

Asal mula tanaman ini agaknya dari Amerika Tengah (sekitar


Mexico
sekarang ini), tetapi kemudian tersebar keman-manam terutama di Asia dan
Afrika. Di Australia dianggap sebagai hama (intrusive weed) karena
kecepatan tumbuhnya mengalahkan tanaman asli/lokal. Nama baru
diberikan
di setiap lokasi tumbuh yang baru, misalnya Gelenggang (Malaysia),
Akapulko (Filipina), Kupang, Gelenggang, Ketepeng Badak, Ketepeng
Cina,
Ketepeng, Ki Manila, Ludanggan (beberapa daerah Indonesia). Di
Singapura tanaman ini disebut Golden Candlesticks atau Candle Bush
karena sebelum mekar tandan bunganya dilapisi oleh semacam lilin tipis.
Orang Indian Amerika sudah menggunakan tanaman ini selama
ribuan tahun, ada banyak nama yang dipakai oleh masing-masing daerah,
seperti Bajagua, Dorance, Hierba de playa, Laureno, Lenguevaca,
Lucutema, Lucutena,
Majaguilla, Majaguillo, Mocuteno, Senna. Nama Guajava juga banyak
dikenal secara umum, sedangkan nama yang dipakai dalam bahasa Inggris,
oleh pendatang di Benua Baru ini, adalah "Cure-all" - menyembuhkan

93
segala macam penyakit! Membudidayakan tanaman ini sangat mudah,
dengan bijinya.
Habitat

Cassia alata merupakan jenis perdu yang besar dan banyak tumbuh
secara liar di tempat-tempat yang lembab. Kini tumbuhan ini sering
dipelihara sebagai perindang halaman rumah/gedung. Ketepeng Cina
tumbuh subur pada dataran rendah sampai ketinggian 1400 meter diatas
permukaan

Manfaat tanaman

Selain bisa digunakan tanaman hias di halaman rumah, Cassia


alata juga berkhasiat sebagai tanaman obat, karena daun pada Cassia alata
ini mempunyai kandungan kimia, diantaranya: alkaloida, saponin,
flavonoida, tanin dan antrakinon.
Daun Cassia alata adalah bagian yang umumnya dipakai sebagai
obat penyakit kulit karena mempunyai khasiat anti-fungal (obat kadas, panu,
rang,
borok, kudis, gatal-gatal, sariawan, sembelit, cscing kremi pada anak-anak
dsb). Di Filipina bahkan ekstraknya dicampurkan dalam produk hygienis
seperti sabun, sampo dan lotion [dengan label "Akapulko", nama lokal
Cassia alata disitu]
Di Afrika orang minum air seduhan daun Cassia alata untuk
menurunkan tekanan darah. Di Amerika Selatan tanaman ini dipakai untuk
mengobati berbagai penyakit, disamping problem kulit, seperti sakit perut
(bijinya
mengandung saponin yang berkhasiat sebagai urus-urus dan obat cacingan),
demam, asma, gigitan ular, rematik, bahkan penyakit kelamin (syphilis,
gonorrhoea)

94
.
Nomor kolektor : 010
Nim/ BP : 96867/ 2009
Nama kolektor : Visca Nursyahira
Nama spesies : Melastoma malabatricum

Klasifikasi

Domain : Eukaryota
Regnum : Plantae
Divisio : Spermatophyte
Subdivisio : Angiospermae
Class : Dicotyledoneae
Subclass : Sympetalae

95
Ordo : Myrtales
Family : Melastomataceae
Genus : Melastoma
Spesies : Melastoma malabatricum

1. Gambar

Bunga Daun

96
97
Buah Batang

2. Deskripsi

Melastoma malabatricum di masukkan ke dalam divisi spermatophyte


karena merupakan tumbuhan berbiji dan mempunyai alat kelamin nyata
yaitu mempunyai alat kelamin yang jelas dibedakan dari alat-alat vegetative
dari bentuk maupun warnanya.
Melastoma malabatricum di masukkan ke dalam subdivisi
angiospermae karena bakal biji dilindungi oleh daun buah atau karpel,
karena adanya perlindungan ini tumbuhan berbiji tertutup lebih maju dari
pada tumbuhan berbiji terbuka.
Melastoma malabatricum dimasukkan kedalam class dicotyledoneae
karena mempunyai habitus perdu, mempunyai daun lembaga. Akar lembaga
tumbuh terus menjadi akar pokok atau akar tunggang yang bercabang-
cabang dan selalu bertambah panjang dan bertambah besar. Batang
mempunyai ruas dan buku yang tidak jelas dan percabangan daun tersebar
dan berhadapan.
Melastoma malabatricum di masukkan ke dalam subdivisi sympetalae
karena mempunyai dua macam perhiasan bunga, yaitu kelopak dan
mahkota. Dimana kelopaknya saling berlekatan.

98
Melastoma malabatricum termasuk ke dalam ordo Myrtales, family
Melastomataceae. Adapun cirri-ciri dari ordo dan family ini adalah pohon
kecil atau perdu, banir tidak ada, akar tunjang tidak ada, tidak bergetah,
ujung kuncup tidak tertutup oleh kuncup daun, bulu komplek tidak ada, bulu
bersengant tidak ada, bulu pada cabang tua ada atau tidak ada.
Daun berhadapan, tidak seperti sisik, tunggal, semua daun bentuknya
seragam, tidak ada kelenjer minyak, simetri tidak terbelah, halus atau rata.
Kulit daun tidak berlilin. Pertulangan tiga tulang daun dari pangkal daun.
Tulang daun kedua jelas, tulang daun yang paling kecil tidak jelas, tetapi
masih dapat dilihat, seperti tangga. Pertulangan tepi daun ada. Tangkai daun
pendek atau panjang, tidak bersayap, menempel di bawah daun, ujung tidak
membengkak. Daun penumpu tidak ada. Daun buah kelenjar pada dasar
helaian tidak ada. Bulu pada daun tua ada atau tidak ada, banyak atau
sedikit.
Perbungaan berkelompok atau sendiri, di ujung ranting ada di ketiak
bunga dari sumbu utama perbungaan bercabang, bentuk khusus tidak ada.
Banyaknya cabang yang berkelompok dibawah tidak ada. Bunga berkelamin
dua, bertangkai kecil, sedang atau besar, beraturan atau tidak beraturan.
Hypantium tidak ada. Cakram tidak ada.
Ekologi tumbuhan Melastoma malabatricum ini tumbuh liar yaitu
pada tempat-tempat yang memperoleh sinar matahari cukup, mulai dari
pantai yang berlumpur, lapangan terbuka, lahan terlantar, pinggir jalan
hingga lereng gunung. Biasannya muncul bersama tanaman semak lainnya.
Penyebarannya di seluruh Indonesia.

3. Pembahasan

a. Bentuk hidup

Berdasarkan daur hidupnya, Melastoma malabatricum tergolong


tumbuhan policarpa (polycarpa). Karena Melastoma malabatricum
berbunga dan berbuah beberapa kali selama daur hidupnya. Sedangkan lama
hidup atau umur sikaduduk ini termasuk tumbuhan perenial, yaitu

99
tumbuhan yang yang dapat mencapai umur lebih dari dua tahun bahkan
sampai ratusan tahun. Umumnya tumbuhan perenial ini berbunga dan
berbuah berkali-kali.
Habitus atau perawakan batang tumbuhan Melastoma malabatricum
ini termasuk batang berkayu (lignosus) dalam bentuk perdu (frutices).
Tingginya sampai 2 meter, jelas batang pokoknya, percabangannya dekat
dari tanah. Berdasarkan penyesuaian terhadap lingkungan hidupnya
(habitat), Melastoma malabatricum banyak ditemukan di lingkungan yang
beragam (halofit) dan percabangannya banyak.
b. Daun

Melastoma malabatricum mempunyai daun yang berwarna hijau, hijau


tua, sampai hijau kekuningan. Dimana tipe daunnya merupakan daun
tunggal dan termasuk daun tidak lengkap karena hanya mempunyai tangkai
dan helaian daun saja (daun bertangkai). Bangun atau bentuk daunnya
lanset terbalik (oblanceolate), Bentuk ujung daunnya meruncing
(acuminatus), Pertemuan tepi daunnya di bawah puncak ujung daun. Dan
pangkal daun juga berbentuk meruncing. Pertulangan daun melengkung
(curvinervis). Tepi helaian daun rata (integer). Daging daunnya tipis.
Melastoma malabatricum mempunyai permukaan daun yang kasap
(scaber), tidak mempunyai pelipatan daun dan tata letak daunnya saling
berhadapan. Daunnya tidak termasuk daun termodifikasi.
c. Batang

Melastoma malabatricum mempunyai warna batang yang cokelat,


sifat batang yang jelas berbatang karena ruas dan bukunya jelas, termasuk
batang berkayu (lignosus). Tipe perbatangannya perdu (frutices). Bentuk
batang bulat dan permukaan batangnya kasar, lepasnya kerak atau bagian
kulit yang telah mati. Batang mengadakan percabangan. Arah tumbuh
batang tegak lurus (erectus). Diameter batangnya kira-kira 2 cm.

d. Akar

100
Tipe perakaran Melastoma malabatricum yaitu akar tunggang.
Dimana akar tunggang yang bercabang. Akar ini berbentuk kerucut panjang,
tumbuh terus kebawah, bercabang-cabang banyak dan cabangnya bercabang
lagi. Akarnya tidak termasuk akar terspesialisasi.
e. Bunga

Bunga Melastoma malabatricum bersifat terminalis yaitu bunga


terdapat di ujung-ujung cabang atau ujung-ujung batang. Melastoma
malabatricum memiliki bunga majemuk dengan tipe bunga simosa, dimana
pada ujung sumbu utama selalu terdapat sebuah kuncup bunga, bunga pada
ujung sumbu utama akan mekar lebih dahulu daripada bunga-bunga lain dan
sumbu utama lebih pendek daripada sumbu sekunder
Daun kelopak (sepal) berwarna merah muda, pada objek terhitung 5
sepal dan tersusun saling berlekatan (symsepal) dengan simetri aktinomorf.
Daun mahkota (petal) berwarna ungu yang berjumlah 5 buah,
membuka penuh secara horizontal. Susunan petal saling bebas (kariopetal)
dengan simetrinya aktinomorf. Kedudukan perhiasan bunga pada dasar
bunga dibandingkan dengan putik yaitu hipogimus, dimana hiasan bunga
lebih rendah dari kedudukan putik
Stamen (benang sari) berjumlah 2 kali jumlah petal, pada lingkaran
dalam berseling dengan daun tajuk (obdiblostemon). Benang sari tersusun
dalam 2 lingkaran dan tangkai benang sari tidak menyatu antara sesamanya.
Melastoma malabatricum mempunyai putik dengan daun buah
berjumlah satu dengan jumlah ruang pada bakal buah 5 dan letak bakal buah
superus. Tangkai putik warnanya kuning keputihan panjangnya 8-17 mm.
Antara petal, sepal stamen dan putik tidak ada adnasi. Hypanthium bentuk
corong, campanulate, cyathiform, atau urceolate.
f. Buah

Buah suatu kapsul yang gemuk atau kering. Benih atau biji berukuran
3-6 mm ketika kecil, di bengkokkan melalui /sampai separuh suatu
lingkaran. Buah jika sudah masak akan merengkah dan terbagi-bagi ke
dalam beberapa segmen (bagian), warna ungu tua kemerahan. Biji kecil

101
sekali berupa bintik-bintik berwarna cokelat. Ukuran diameter buah 8-10
mm.

g. Rumus dan diagram bunga

Rumus bunga merupakan deskripsi bagian-bagian bunga yang


dinyatakan dengan sebuah rumus yang terdiri dari lambing-lambang huruf
dan angka. Mencantumkan rumus bunga sangat penting dalam
mengidentifikasi sebuah tanaman. Pada bunga Melastoma malabatricum
atau sering dikenal sikaduduk ini mempunyai rumus bunga yakni, bunga
merupakan bunga banci yang terdiri dari putik dan benang sari, simetri
banyak atau aktinomorf, terdiri dari kelopak 5 buah yang bebas, benang sari
atau androecium 10 buah dan putik satu.
Rumus bunga : K(5) C5 A10 G1
Diagram bunga :

No. koleksi :005


Nama kolektor:Widia Pita Loka
NIM/BP : 968 /2009
Nama species : Leea rubra

Klasifikasi :
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida

102
Bangsa: Vitales
Suku : Vitaceae
Marga : Leea
Spesies : Leea rubra

Habitat:
Habitat/ekologi Leea rubra: Dalam regrowth sekunder dan
semak belukar sampai ketinggian 500 m. Juga pada batu kapur.
Lebih suka tanah subur yang lembab, tetapi akan tahan terhadap
masa kekeringan.

Batang (Caulis)
Sifat batang pada tanaman ini bersifat planta caulis yang merupakan
tumbuhan yang jelas berbatang.Tanaman ini tergolong kedalam batang
berkayu (lignosus).Bentuk dari batang ini berbentuk bulat
(teres).Berdasarkan pada permukaan pada batang ini yaitu licin
(laevis).Arah tumbuh batang yaitu tegak lurus (erectus).
Daun
Daun merupakan organ pokok dari tumbuhan, biasanya terdapat
pada batang dan berwarna hijau.Daun ini memiliki fungsi sebagai resorbsi,
asimilasi, transpirasi, dan respirasi.Berdasarkan kelengkapan bagian-
bagiannya, daun pada tanaman ini termasuk kedalam daun tidak lengkap
karena hanya memiliki helaian (lamina), tangkai daun (petiolus) namun
tidak memiliki pelepah daun (vagina), sehingga daun ini termasuk daun
bertangkai.Bangun dari daun ini adalah memanjang (oblongus) berbentuk
ellips (elliptic).Ujung daun (apex folii) yaitu meruncing (acuminatus)
karena pertemuan tepi daun di bawah puncak, pangkal daun (Basis folii)
berbentuk tumpul (obtuse).Tulang daun yang dimiliki pada tanaman ini

103
bertulang menyirip (penninervis).Tepi daun (margo folli) termasuk bertoreh
merdeka bergerigi.Tanaman ini tergolong daun majemuk menyirip genap.
Tata letak daun pada buku terdapat satu helai daun tergolong distik
Karena jika dilihat dari atas, daun tersusun dalam dua baris (sudut antara ke
dua baris adalah 180)
Buah
Buah Leea rubra , 9 mm diameter, merah-biru-ungu, drupes.

Biji
Biji Leea rubra berbentuk pipih, berukuran kecil, dan
permukaannya licin dan berwarna kuning pucat.
Akar
Akar pada Leea rubra adalah akar tunggang yaitu jika akar lembaga
tumbuh terus menjadi akar pokok yang bercabang-cabang menjadi akar
yang lebih kecil.susunan akar yang demikian biasanya terdapat pada
tumbuhan berbiji belah (Dicotyledoneae),dan tumbuhan biji telanjang
(Gymnospermae) dan berwarna kunimg pucat.
Bunga
Tumbuhan ini termasuk bunga mejemuk karena adanya sekelompok
bunga yang tersusun dengan system percabangan pada sebuah sumbu
yang mendukung dan berbentuk malai.Tumbuhan ini adalah bunga
majemuk tak berbatas (inflorescentia rasemosa) Karena pada
pertumbuhannya sumbu utama berturut-turut membentuk cabang-cabang
dari pangkal ke atas, sumbu utama lebih panjang dari pada sumbu
sekunder.
Bunganya berbentuk seperti bintang kelopaknya berbulu, bertaju
lima, bunganya runcing panjangnya lebih kurang 5 mm, berwarna hijau
muda, benang sarinya lima, tangkai bunga panjangnya lebih kurang 1
mm, kepala sari panjangnya 6 mm, bentuk jarum berwarna kuning,
tangkai putik lebih kurang 1 mm, kepala putik hijau dan putih.
Rumus Bunga : * K(5) [C(5) A5] G1

104
No. koleksi : 011
Kolektor : Erfina Febri
Nim/TM : 96862/2009
Objek : Ageratum conyzoides

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)


Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

105
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Asteridae
Ordo : Asterales
Famili : Asteraceae
Genus : Ageratum
Spesies : Ageratum conyzoides L.

Karakteristik
Morfologi Herba, annual, 20-100cm, tegak atau rebah; Batang bulat,
berambut; Daun bertangkai, letaknya saling berhadapan dan bersilang,
bentuk helaian daun bulat telur, panjang 2-12 cm, lebar 3-8cm, dengan
pangkal membulat, ujung runcing, tepi bergerigi, kedua permukaan daun
berambut, warnanya hijau.
BungaTipe majemuk berkumpul 3 atau lebih, berbentuk malai rata yang
keluar
dari ujung tangkai, kelopak berbulu, hijau, mahkota bentuk lonceng,
putih atau ungu, panjang bonggol bunga 6 - 8 mm, dengan tangkai yang
berambut; Buah Padi, bulat panjang, bersegi lima, gundul atau berambut
jarang, warna hitam; Biji kecil, hitam; Akar tunggang, keputihan

a. Pembahasan
1) Bentuk hidup
a) Daur hidup
Berdasarkan daur hidupnya, tumbuhan Ageratum conyzoides
termasuk tumbuhan policarpa karena berbunga dan berbuah
beberapa kali selama daur hidupnya.
b) Lama hidup/umur

106
Berdasarkan lama hidup/umurnya, tumbuhan Ageratum
conyzoides termasuk tumbuhan perennial karena tumbuh
mencapai umur lebih dari dua tahun serta berbunga dan
berbuah berkali-kali.
c) Habitus
Berdasarkan habitus atau perawakannya, batang tumbuhan
Ageratum conyzoides merupakan tumbuhan herbaceus atau
batang basah, dimana batangnya lunak dan berair.
d) Habitat
Berdasarkan habitat atau penyusaian terhadap lingkungan,
tumbuhan Ageratum conyzoides merupakan tumbuhan halofit
(halophyte) karena dapat hidup di lingkungan beragam, baik
di lingkungan kering maupun di lingkungan lembab.
2) Akar
Tipe perakaran tumbuhan Ageratum conyzoides adalah akar
tunggang, dimana akar primer (akar dari embrio atau lembaga)
tumbuh terus menjadi akar pokok dan tetap menyolok karena
lebih besar dari akar lainnya serta berkembang banyak menjadi
akar-akar yang lebih kecil.
Akar Ageratum conyzoides termasuk akar tunggang
bercabang dengan bagian-bagian sebagai berikut:
a) Leher akar atau pangkal akar (collum)
Yaitu bagian akar yang bersambungan dengan batang
b) Ujung akar (apex radicis)
Bagian akar yang paling muda, terdiri atas jaringan-
jaringan yang masih dapat mengadakan pertumbuhan
c) Batang akar (corpus radicis)
Bagian akar yang terdapat antara leher akar dan ujungnya
d) Cabang-cabang akar (radix lateralis)
Yaitu bagian akar yang tak langsung bersambungan
dengan pangkal batang, tetapi keluar dari akar pokok dan
masing-masing dapat mengadakan percabangan laggi

107
e) Serabut akar (fibrilla radicalis)
Yaitu cabang-cabang akar yang halus yang berbentuk
serabut
f) Rambut-rambut akar atau bulu-bulu akar (pilus radicalis)
Merupakan penonjolan sel-sel kulit luar akar yang
panjang, bentuknya seperti bulu atau rambut
g) Tudung akar (calyptra)
Bagian akar yang terletak pada bagian ujung dan
berfungsi untuk melindungi akar yang masih muda
Akar tumbuhan Ageratum conyzoides bukan merupakan
akar terspesialisasi
3) Batang
a) Warna batang
Batang Ageratum conyzoides waktu masih muda berwarna
hijau, dan setelah tua berwarna hijau kecoklatan
b) Sifat batang
Berdasarkan sifatnya, batang Ageratum conyzoides
merupakan tumbuhan yang jelas berbatang (planta caulis)
dengan tipe batang basah (herbaceus), yaitu batang yang
lunak dan berair
c) Bentuk batang
Bentuk batang Ageratum conyzoides adalah bulat (teres)
d) Permukaan batang
Dilihat dari permukaannya, batang Ageratum conyzoides
memiliki permukaan yang berambut (pilosus)
e) Arah tumbuh batang
Batang Ageratum conyzoides memiliki arah tumbuh yang
tegak (erectus) dan ada juga arah batang Ageratum
conyzoides yang ditemukan menjalar atau merayap (repens),
yaitu jika batang berbaring di atas tanah dan pada setiap
batang yang bersentuhan dengan tanah akan mengeluarkan
akar

108
Batang tumbuhan Ageratum conyzoides bukan
merupakan batang termodifikasi
4) Daun
a) Warna daun
Daun Ageratum conyzoides berwarna hijau karena memiliki
zat warna hijau. Hal ini juga sesuai dengan fungsi daun yaitu
sebagai tempat foto sintesis
b) Tipe daun
Daun Ageratum conyzoides merupakan daun tunggal karena
pada satu tangkai daun terdapat satu helaian daun.
c) Kelengkapan daun
Berdasarkan kelengkapannya, daun Ageratum conyzoides
merupakan daun tidak lengkap karena tidak memiliki satu
atau dua bagian dari bagian-bagian daun lengkap (vagina,
petioles, dan lamina). Daun Ageratum conyzoides merupakan
daun bertangkai karena hanya memiliki tangkai daun
(petioles) dan helaian daun (lamina) saja.
d) Bangun (bentuk) daun (circumscriptio)
Bangun (bentuk) daun Ageratum conyzoides adalah bulat
telur (ovatus) karena mempunyai bagian yang terlebar di
bawah tengah-tengah helaian daun dan memiliki pangkal
daun tidak bertoreh.
e) Ujung daun (apex folii)
Bentuk ujung daun Ageratum conyzoides adalah runcing
(acutus) karena pertemuan kedua tepi daun di kanan kiri ibu
tulang daun membentuk sudut lancip.
f) Pangkal daun
Pangkal daun Ageratum conyzoides adalah tumpul (obtusus)
karena pertemuan tepi daun membentuk sudut tumpul.
g) Pertulangan daun
Pertulangan daun Ageratum conyzoides adalah melengkung
(curvinervis) karena mempunyai tulang daun yang semula

109
memencar kemudian kembali menuju ke satu arah, yaitu ke
ujung daun, hingga selain tulang yang di tengah semua
tulang-tulangnya kelihatan melengkung.
h) Tepi helaian daun
Tepi helaian daun Ageratum conyzoides adalah tepi daun
dengan toreh merdeka dengan tipe bergerigi (serratus) karena
memiliki sinus dan anulus sama-sama lancip.
i) Daging daun
Daging daun Ageratum conyzoides adalah tipis seperti
selaput (membranaceus).
j) Permukaan daun
Permukaan daun Ageratum conyzoides adalah berbulu
(pilosus) karena memiliki bulu yang halus dan jarang-jarang.
k) Pelipatan daun
Daun Ageratum conyzoides tidak memiliki pelipatan daun.
l) Tata letak daun (filotaksis)
Tata letak (filotaksis) daun Ageratum conyzoides adalah folia
opposita decusata karena daun Ageratum conyzoides terletak
berhadapan dan berselang-seling.
Daun Ageratum conyzoides tidak memiliki alat tambahan.

5) Bunga
a) Tipe bunga
Bunga Ageratum conyzoides merupakan bunga majemuk
(inflorescentia) dengan tipe perbungaannya rasemosa (bunga
majemuk tak berbatas). Bunga Ageratum conyzoides
merupakan bunga yang termasuk golongan malai rata
(corymbus ramosus) karena ibu tangkai mengadakan
percabangan dan juga termasuk bunga cawan dalam bentuk
bunga tabung karena ujung ibu tangkainya melebar dan
merata, sehingga mencapai bentuk seperti cawan dengan
bunganya berbentuk tabung. Dan bunga Ageratum

110
conyzoides mempunyai kedua macam alat kelamin (benang
sari dan putik) serta dapat menghasilkan buah. Pada tangkai
bunga terdapat alat tambahan, yaitu braktea dan pada
masing-masing bunga juga terdapat braktea (daun-daun
pelindung)
b) Daun kelopak (sepal)
Daun kelopak (sepal) Ageratum conyzoides berwarna hijau
yang berbentuk seperti pappus. Daun kelopak (sepal)
berjumlah lima. Susunan sepal saling bebas (koriosepal)
dengan simetri aktinomorf karena kelopak dapat dibagi
menjadi dua bagian yang setangkup (simetris) dengan
beberapa cara.
c) Daun mahkota (petal)
Daun mahkota (petal) Ageratum conyzoides berwarna putih
dan berjumlah lima. Susunan petal saling berlekatan
(sympetal) dengan berbentuk tabung dengan simetri
aktinomorf karena mahkota dapat dibagi menjadi dua bagian
yang setangkup (simetri) dengan beberapa cara.
d) Kedudukan perhiasan bunga pada dasar bunga
Kedudukan perhiasan bunga Ageratum conyzoides pada
dasar bunga adalah hipoginus karena kedudukan perhiasan
bunga lebih rendah daripada putik.
e) Stamen (benang sari)
Stamen (benang sari) Ageratum conyzoides berjumlah sama
dengan sama dengan jumlah petal. Tangkai benang sari
(filament) Ageratum conyzoides tidak bersatu, tapi kepala
sari (anthera) saling berlekatan (singenesis).
f) Pistillum (putik)
Putik (pistilum) Ageratum conyzoides memiliki daun buah
(karpel) yang berjumlah dua dengan jumlah ruang pada bakal
buah satu. Letak bakal buah superus (menumpang) karena
bakal buah duduk di atas dasar bunga.

111
Pada bunga Ageratum conyzoides tidak terdapat adnasi
antara bagian-bagian bunga (sepal, petal, stamen, dan putik).

6) Buah
Padi, bulat panjang, bersegi lima, gundul atau berambut jarang,
hitam, ovarium superus.

7) Rumus bunga

8) Diagram bunga

9) Biji
Kecil, hitam

10) Manfaat

Tumbuhan ini berkhasiat stimulan, tonik, pereda demam


(antiperik), antitoksik, menghilangkan pembengkakan,
menghentikan perdarahan (hemostatis), peluruh haid (emenagog)
, peluruh kencing (diuretik) dan peluruh kentut (karminatif).
Selain itu daun bandotan dapat digunakan pula sebagai
insektisida nabati.Tumbuhan mengandung asam amino,
organacid, pectic sub-stance, minyak asiri kumarin, friedelin, B-
siatosterol, stigmasterol, tanin sulfur dan potasium klorida. Akar
bandotan mengandung minyak asiri, alkaloid dan kumarin.

112
Nomor kolektor : 013
Nim/ BP : 96859/ 2009
Nama kolektor : Ahmad Fadli
Nama spesies : Piper sp.

113
Klasifikasi

Regnum : Plantae

Divisio :

Classis :

Order : Piperales

Familia : Pipereceae

Genus : Piper

Species : Piper sp.

Sirih merupakan tanaman asli Indonesia yang tumbuh merambat atau


bersandar pada batang pohon lain. Sebagai budaya daun dan buahnya biasa
dimakan dengan cara mengunyah bersama gambir, pinang dan kapur.
Namun mengunyah sirih telah dikaitkan dengan penyakit kanker mulut dan
pembentukan squamous cell carcinoma yang bersifat malignan.

Tanaman merambat ini bisa mencapai tinggi 15 m. Batang sirih berwarna


coklat kehijauan,berbentuk bulat, beruas dan merupakan tempat keluarnya
akar. Daunnya yang tunggal berbentuk jantung, berujung runcing, tumbuh
berselang-seling, bertangkai, dan mengeluarkan bau yang sedap bila
diremas. Panjangnya sekitar 5 - 8 cm dan lebar 2 - 5 cm. Bunganya
majemuk berbentuk bulir dan terdapat daun pelindung 1 mm berbentuk
bulat panjang. Pada bulir jantan panjangnya sekitar 1,5 - 3 cm dan terdapat
dua benang sari yang pendek sedang pada bulir betina panjangnya sekitar
1,5 - 6 cm dimana terdapat kepala putik tiga sampai lima buah berwarna

114
putih dan hijau kekuningan. Buahnya buah buni berbentuk bulat berwarna
hijau keabu-abuan. Akarnya tunggang, bulat dan berwarna coklat
kekuningan.

DAFTAR PUSTAKA
Adi Yudianto, Suroso.1992. Mengerti Morfologi Tumbuhan. Bandung:
Tarsito

Des,dkk.2007. Buku Ajar Morfologi Tumbuhan. Padang:Jurusan Biologi


FMIPA UNP
---------. 2007. Struktur PerkembanganTumbuhan 1. Padang: Jurusan
Biologi FMIPA UNP

Des,dkk.2010. Penuntun Praktikum Morfologi Tumbuhan. Padang:


Universitas Negeri Padang

Tjitrosoepomo,Gembong.2005.Morfologi Tumbuhan.Yogyakarta:Gajah
Mada Univercity Press

115
116