Anda di halaman 1dari 10

ORIENTASI PENGEMBANGAN PESANTREN SEBAGAI INSTITUSI PENDIDIKAN

ISLAM PERSPEKTIF FILOSOFIS ERA GLOBALISASI DAN MODERNISASI

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas pada Mata Kuliah
“ Filsafat Pendidikan Islam”

Disusun Oleh:
IKA SETIYARINI
NIM: 243052035
KELAS/SEMESTER: TARBIYAH-B/ VII

Dosen Pengampu:
Miftahul Ulum
NIP.

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI


(STAIN) PONOROGO
2008
2

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang tertua di Indonesia,
lembaga tersebut memainkan peranan yang penting dalam bidang pendidikan mulai dari
masa penjajahan sampai sekarang.
Sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, pondok pesantren
dituntut dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman, jika tidak maka
keberadaannya akan ditinggalkan oleh masyarakat. Oleh karena itu, pondok pesantren
perlu melakukan modernisasi.
Modernisasi yang dilaksanakan di dunia pesantren memiliki karakteristik
tersendiri bila dibandingkan dengan pembaruan lainnya. Keunikannya terletak pada
kealotan dan kuatnya proses tarik-menarik antara sifat dasar pesantren yang tradisional
dengan potensi dasar modernisasi yang progresif dan senantiasa berubah.1
Sekarang sudah terlihat bahwa pondok pesantren dari waktu ke waktu
mengalami perubahan, baik dalam hal materi pelajaran maupun metode yang digunakan.
Untuk lebih jelasnya mengenai kondisi pesantren di era globalisasi dan
modernisasi maka penulis akan membahasnya dalam bentuk makalah dengan judul
“Orientasi pengembangan pesantren sebagai institusi pendidikan Islam perspektif filosofis
era globalisasi dan modernisasi”.

B. Rumusan Masalah
1. Pengertian, ciri-ciri dan unsur-unsur pesantren.
2. Kondisi pesantren di era globalisasi dan modernisasi.
3. Aliran filsafat pendidikan Islam Modernis.
4. Orientasi pengembangan pesantren sebagai institusi
pendidikan Islam perspektif filosofis era globalisasi dan modernisasi.

1
Abuddin Nata, Sejarah Pertumbuhan Dan Perkembangan Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam Di
Indonesia, (Jakarta: PT. Grasindo, 2001), 150.
3

BAB II
PEMBAHASAN

1 pesantren.
A. Pengertian, ciri-ciri dan unsur-unsur
Perkataan pesantren berasal dari kata santri, yang dengan awalan pe- di depan
dan akhiran -an, berarti tempat tinggal para santri. Profesor John berpendapat bahwa
istilah santri berasal dari bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji, sedang C.C. Berg
berpendapat bahwa istilah tersebut berasal dari istilah shastri yang dalam bahasa India
berarti orang yang tahu buku-buku suci Agama Hindu. Kata shastri berasal dari kata
shastra yang yang berarti buku-buku suci, buku-buku agama atau buku-buku tentang ilmu
pengetahuan.2
Ada pendapat yang mengatakan bahwa perkataan santri sesungguhnya berasal
dari bahasa Jawa, dari kata “cantrik”, berarti seseorang yang selalu mengikuti seorang
guru karena guru ini pergi menetap.3
Di Indonesia istilah pesantren lebih populer dengan sebutan pondok pesantren.
Istilah pondok barangkali berasal dari pengertian asrama-asrama para santri yang disebut
pondok atau tempat tinggal yang dibuat dari bambu, atau barangkali berasal dari kata
Arab fundug, yang berarti hotel atau asrama.4
Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pondok
pesantren adalah suatu lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu pengetahuan agama
Islam bagi para santri yang ingin menuntut ilmu agama, atau sebagai suatu tempat
bertemunya kyai dan santri dalam proses pembelajaran.
Secara fisik, sebuah pesantren terdiri dari 5 unsur yaitu 1) Kyai, adalah tokoh
sentral dalam satu pesantren, maju mundurnya pesantren ditentukan oleh wibawa dan
kharisma sang kyai. 2) Santri, adalah siswa yang belajar di pesantren. Ada dua macam
santri yaitu santri mukim (santri yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap dalam
pondok pesantren ) dan santri kalong (santri yang berasal dari daerah-daerah sekitar
pesantren dan biasanya mereka tidak menetap dalam pesantren. Mereka pulang ke rumah
masing-masing setiap selesai mengikuti suatu pelajaran di pesantren).5 3) Pondok, istilah
pondok boleh jadi diambil dari bahasa Arab, al-funduq yang berarti hotel, penginapan.
2
Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, (Jakarta: LP3ES, 1994), 18.
3
Yasmadi, Modernisasi Pesantren: Kritik Nurcholis Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional,
(Jakarta: Ciputat Press, 2002), 61-62.
4
Zamakhsyari Dhofier, Tradisi…….
5
Yasmadi, Modernisasi Pesantren, 66 .

2
4

Pondok mengandung arti tempat tinggal, yaitu tempat tinggal santri dan kyai. 4) Masjid,
secara harfiah masjid adalah tempat sujud. Masjid di pesantren selain sebagai tempat
sholat, juga sebagai tempat belajar mengajar, komunikasi hubungan antara santri dan kyai.
5) Pengajaran ilmu-ilmu agama, yaitu pengajaran kitab-kitab Islam klasik (nahwu/ syaraf,
fiqh, ushul fiqh, hadits, tafsir, tauhid, tasawuf, etika, cabang-cabang ilmu lainnya seperti
tarikh dan balaghah) dan Pengajian kitab-kitab Islam Non Klasik.6
Jadi, sebuah lembaga dapat dikatakan sebagai pondok pesantren apabila ke
lima unsur tersebut terpenuhi.
Tujuan terbentuknya pondok pesantren ada 2, yaitu tujuan umum dan khusus:
1. Tujuan Umum: Membimbing anak didik yang
berkepribadian Islam yang dengan ilmu agamanya ia sanggup menjadi mubaligh Islam
dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya.
2. Tujuan Khusus: Mempersiapkan para santri agar
menjadi orang alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh kyai yang bersangkutan
serta mengamalkannya dalam masyarakat.7
Jadi, lulusan dari pesantren diharapkan mampu menerapkan dan
mengembangkan ilmunya di masyarakat agar ilmu yang diperolehnya menjadi ilmu yang
bermanfaat.
Materi pelajaran yang dikaji di pondok pesantren adalah pelajaran agama
diantaranya yaitu al-Qur’an dengan tajwidnya dan tafsirnya, aqa’id dan ilmu kalam, fiqih
dan ushul fiqih, hadits dengan musthalaah hadits, bahasa Arab dengan ilmu alatnya.
Sedangkan kitab yang dikaji di pesantren umumnya kitab-kitab yang di tulis dalam abad
pertengahan yang disebut dengan “Kitab Kuning”.
Metode pengajaran yang ada di pondok pesantren yaitu 1) Sorogan ialah suatu
metode dimana santri menghadap guru atau kyai seorang demi seorang dengan membawa
kitab yang akan dipelajarinya. 2) Wetonan/ bandongan ialah metode kuliah dimana para
santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling kyai yang menerangkan pelajaran.
3) Hafalan ialah suatu metode dimana para santri menghafal teks atau kalimat tertentu
dari kitab yang dipelajarinya.8

6
Haidar Putra Daulay, Historitas dan Eksistensi Pesantren, Sekolah dan Madrasah, (Yogyakarta: PT.
Tiara Wacana, 2001), 26.
7
Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia: Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan
Perkembangan, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1996), 24-25.
8
Abuddin Nata, Sejarah Pertumbuhan Dan Perkembangan Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam Di
Indonesia, (Jakarta: PT Grasindo, 2001), 107-108.
5

Di antara ciri-ciri yang dimiliki pesantren sebagai lembaga pendidikan


tradisional yaitu indepedensi, kesederhanaan, keikhlasan, kedisiplinan, kewibawaan kyai,
kepatuhan santri kepada kyai, komitmen terhadap ilmu agama atau kitab-kitab klasik, dan
suasana keakraban dan persaudaraan.9

B. Kondisi pesantren di era globalisasi dan modernisasi.


Seiring dengan perjalanan waktu, pesantren sedikit demi sedikit maju, tumbuh
dan berkembang sejalan dengan proses pembangunan dan dinamika masyarakatnya.
Dinamika pesantren tampak dalam beberapa hal, pertama: peningkatan secara kuantitas
terhadap jumlah pesantren, kedua: kemampuan pesantren untuk selalu hidup di tengah-
tengah masyarakat yang sedang mengalami perubahan,10 ketiga: bertambah lengkap
prasarananya.11
Pembaharuan yang telah dilakukan oleh pesantren mengarah pada dua aspek.
Pertama, aspek yang menyangkut materi kurikulum. Ini dapat dilihat pada kasus pesantren
Manbaul Ulum, Tebu Ireng, dan Rejoso. Kedua, aspek yang berhubungan dengan
metodologi pengajaran dan pendidikan. Sebagaimana diperlihatkan pada pondok
pesantren modern Gontor dan Santi Asramanya Kyai Abdul Halim di Jawa Barat.12
Walaupun sebagai lembaga tradisional, pesantren juga berusaha membenahi
keadaannya sesuai dengan perkembangan jaman agar lebih baik, termasuk dalam hal
kurikulum dan metode mengajar.
Oleh karena itu, semakin hari pondok pesantren semakin dalam memasuki
budaya masyarakat modern. Sifat-sifat dari masyarakat modern antara lain adalah tata
hubungan semakin rasional, dinamis dan kompetitif. Demikian juga persoalan-persoalan
baru dalam bidang social keagamaan banyak bermunculan yang memerlukan jawaban dan
ketegasan dari para pemuka agama.13
Perkembangan akhir-akhir ini menunjukkan bahwa beberapa pesantren ada
yang tetap berjalan meneruskan segala tradisi yang diwarisinya secara turun temurun,
tanpa perubahan dan improvisasi yang berarti kecuali sekedar bertahan. Namun ada juga

9
Ibid., 129-130.
10
Khozin, Jejak-Jejak Pendidikan Islam: Rekonstruksi Sejarah Untuk Aksi, (Malang: UMM Press,
2006), 107.
11
M. Dian Nafi’, Abd A’la, Hindun Anisah, Abdul Azis, Abdul Muhaimin, Praksis Pembelajaran
Pesantren, (Yogyakarta: ITD, 2007), vii.
12
Abuddin Nata, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam di
Indonesia, (Jakarta: PT. Grafindo, 2001), 156.
13
H.E. Badri & Munawiroh, Pergeseran Literatur Pesantren Salafiyah, (Jakarta: Puslitbang Lektur
Keagamaan, 2007), 8.
6

pesantren yang mencoba mencari jalan sendiri, dengan harapan mendapatkan hasil yang
lebih baik dalam waktu yang singkat. Pesantren semacam ini adalah pesantren yang
menyusun kurikulumnya berdasarkan pemikiran akan kebutuhan santri dan masyarakat
sekitarnya. Pesantren ini lazimnya disebut sebagai pesantren modern (khalafi).14
Jadi, secara umum di Indonesia terdapat dua macam pesantren yaitu pesantren
tradisional dan pesantren modern.
Terdapat 5 pola pesantren yang berkembang di Indonesia berdasarkan
kurikulumnya:
1. Pola I, materi pelajaran yang di kemukakan di pesantren ini bersumber dari
kitab-kitab klasik. Metode penyampaiannya adalah wetonan dan sorogan, tidak
memakai sistem klasikal, mata pelajaran umum tidak diajarkan.
2. Pola II, pola ini hampir sama dengan pola I hanya saja metode
penyampaiannya dilaksanakan secara klasikal dan non klasikal, juga di didik
ketrampilan dan pendidikan berorganisasi. Pada tingkat tertentu diberikan sedikit
pengetahuan umum Santri telah dibagi jenjang pendidikan mulai dari tingkat
ibtidaiyah, tsanawiyah, aliyah. Metode yang digunakan adalah wetonan, sorogan,
hafalan dan musyawaroh.
3. Pola III, materinya sudah dilengkapi dengan mata pelajaran umum, ditambah
dengan ketrampilan, kepramukaan, olah raga, kesenian dan pendidikan berorganisasi.
4. Pola IV, pola ini menitikberatkan pelajaran ketrampilan di samping pelajaran
agama. Ketrampilan yang diajarkan adalah pertanian, pertukangan dan peternakan.
5. Pola V, pada pola ini materi yang diajarkan yaitu pengajaran kitab-kitab klasik,
madrasah, ketrampilan, sekolah umum dan perguruan tinggi.15
Dari waktu ke waktu pesantren selalu mengalami perubahan sesuai dengan
perkembangan jaman yang ditunjukkan dengan perkembangan pola-pola di atas.

C. Aliran filsafat pendidikan Islam Modernis.


Aliran modernis adalah suatu aliran pada abad 20-an yang lebih banyak
mengadopsi pemikiran dan system pendidikan dari Barat (gerakan kebangkitan).
Diinspirasikan oleh Descrates.16

14
Khozin, Jejak-jejak…….., 108-109.
15
Haidar Putra Daulay, Historitas dan Eksistensi Pesantren, Sekolah dan Madrasah, (Yogyakarta: PT.
Tiara Wacana, 2001), 33-34.
16
Bambang Sugiharto, Post Modernis, (Yogyakarta: Kanisius, 1996), 29.
7

Dalam konteks pemikiran pendidikan, terdapat yang lebih dekat dengan model
pemikiran modernis yaitu progresivisme terutama dalam hal wataknya yang
menginginkan sikap bebas dan modifikatif. Sehingga aliran modernis tidak merujuk pada
pemikiran-pemikiran dan praktek system pendidikan dari pada pendahulunya, sebab
dianggap sudah ketinggalan zaman dan kurang relevan untuk memenuhi tuntutan
kebutuhan dan perubahan-perubahan sosial yang terjadi pada saat itu.17
Konsep dasar/ parameter aliran ini adalah al-Quran dan Sunnah, bebas dan
modifikatif tapi terikat oleh nilai kebenaran Allah, berwawasan kependidikan Islam.18
Adapun ciri-ciri pemikirannya tidak berkepentingan untuk mempertahankan dan
melestarikan pemikiran dan system pendidikan para pendahulu, lapang dada dalam
menerima dan mendengarkan pemikiran pendidikan dari manapun dan siapapun untuk
kemajuan pendidikan Islam.19
Jadi, aliran modernis ini menolak pemikiran-pemikiran yang terdahulu karena
sudah tidak sesuai dengan perkembangan jaman dan kebutuhan masyarakat. Aliran ini
menghendaki adanya dinamika atau perubahan dalam pendidikan.

D. Orientasi pengembangan pesantren sebagai institusi pendidikan Islam perspektif


filosofis era globalisasi dan modernisasi.
Perkembangan dunia telah melahirkan suatu kemajuan yaitu jaman yang
modern. Oleh karena itu, system pendidikan pesantren harus selalu melakukan upaya
rekonstruksi pemahaman tentang ajaran-ajarannya agar tetap relevan dan survive.
Keharusan untuk mengadakan rekonstruksi ini sesungguhnya sudah dimaklumi. Bukankah
dunia pesantren telah memperkenalkan sebuah kaidah yang sangat jitu: al-muhafazhah
‘ala al-qadim ash-shalih wa al-akhdz bi al-jadid al ashlah (membina budaya-budaya
klasik yang baik dan terus menggali budaya-budaya baru yang lebih konstruktif).20
Maksudnya, dalam mengikuti perkembangan jaman, pondok pesantren tidak
harus meninggalkan budaya atau ciri khas yang baik yang dimilikinya bahkan harus
dipertahankan serta mengadopsi budaya baru yang lebih baik, seperti perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.

17
Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, (Surabaya: PSAPM, 2003), 54.
18
Ibid., 66-67.
19
Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Di Sekolah Madrasah Dan
Perguruan Tinggi, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001), 130.
20
H.E. Badri & Munawiroh, Pergeseran Literatur ………., 128-129.
8

Pesantren modern berarti pesantren yang selalu tanggap terhadap perubahan


dan tuntutan zaman, berwawasan masa depan, selalu mengutamakan prinsip efektivitas
dan efisiensi, dan sebagainya.21
Menurut Suwendi, modernisasi pesantren mungkin dilaksanakan harus ada
batasan-batasan yang jelas, yaitu modernisasi pesantren tidak harus mengubah atau
mereduksi orientasi dan idealisme pesantren. Demikian pula nilai-nilai pesantren tidak
perlu dikorbankan demi proyek modernisasi pesantren. Dunia pesantren harus tetap hadir
dengan jati dirinya.22
Jadi, pesantren yang berdasarkan aliran filsafat pendidikan modern akan
menjadi pesantren yang mengikuti perkembangan jaman dengan tanpa meninggalkan ciri-
ciri khusus yang dimilikinya. Hal ini dimaksudkan agar pesantren dapat tetap survive dan
bertahan di masyarakat. Ini terbukti dengan adanya perubahan kurikulum, metode
pembelajaran dan penggunaan berbagai teknologi di pondok pesantren.

21
Suwendi, Sejarah & Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), 129.
22
Ibid., 129-130.
9

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu agama
Islam atau suatu tempat bertemunya kyai dengan santri dalam proses pembelajaran.
Ciri-ciri umum yang di miliki pesantren yaitu pendidikan ilmu-ilmu agama dan
mewujudkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam pondok
pesantren terdapat 5 elemen pokok yaitu kyai, santri, masjid, pondok dan pengajaran
ilmu-ilmu agama.
2. Kondisi pesantren di era globalisasi dan modernisasi yaitu sudah mengalami
pergeseran baik dalam hal kurikulum maupun metode dalam mengajar.
3. Aliran filsafat pendidikan modernis adalah Aliran modernis adalah suatu aliran
pada abad 20-an yang lebih banyak mengadopsi pemikiran dan system pendidikan dari
Barat (gerakan kebangkitan). Diinspirasikan oleh Descrates.
4. Orientasi pengembangan pesantren sebagai institusi pendidikan Islam
perspektif filosofis era globalisasi dan modernisasi yaitu sebaiknya pesantren
mengikuti perkembangan jaman dengan melakukan modernisasi agar tetap survive
dan bertahan dengan mengambil budaya baru yang lebih baik tanpa meninggalkan
budaya lama yang baik.

B. SARAN
Dalam menyikapi perkembangan jaman yang semakin modern ini kita bisa mengambil
prinsip yang dimiliki oleh pesantren yaitu al-muhafazhah ‘ala al-qadim ash-shalih wa al-
akhdz bi al-jadid al ashlah (membina budaya-budaya klasik yang baik dan terus menggali
budaya-budaya baru yang lebih konstruktif)
10

DAFTAR8 PUSTAKA

Dhofier, Zamakhsyari, 1994. Tradisi Pesantren. Jakarta: LP3ES.


Khozin, 2006. Jejak-Jejak Pendidikan Islam: Rekonstruksi Sejarah Untuk Aksi. Malang:
UMM Press.
Hasbullah, 1996. Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia: Lintasan Sejarah Pertumbuhan
dan Perkembangan. Jakarta: PT Raja GrafindoPersada.
H.E. Badri & Munawiroh, 2007. Pergeseran Literatur Pesantren Salafiyah. Jakarta:
Puslitbang Lektur Keagamaan.
Muhaimin, 2003. Wacana Pengembangan Pendidikan Islam. Surabaya: PSAPM.
Muhaimin, 2001. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Di Sekolah Madrasah
Dan Perguruan Tinggi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Nafi’, M. Dian dkk., 2007. Praksis Pembelajaran Pesantren. Yogyakarta: ITD.
Nata, Abuddin, 2001. Sejarah Pertumbuhan Dan Perkembangan Lembaga-Lembaga
Pendidikan Islam Di Indonesia. Jakarta: PT. Grasindo.
Putra Daulay, Haidar. 2001. Historitas dan Eksistensi Pesantren, Sekolah dan Madrasah.
Yogyakarta: PT. Tiara Wacana.
Sugiharto, Bambang, 1996. Post Modernis. Yogyakarta: Kanisius.
Suwendi, 2004. Sejarah & Pemikiran Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Yasmadi, 2002. Modernisasi Pesantren: Kritik Nurcholis Madjid Terhadap Pendidikan Islam
Tradisional. Jakarta: Ciputat Press.

99