Anda di halaman 1dari 129

ANALISIS FORMULASI STRATEGI PADA

PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM (PDAM)


TIRTA PAKUAN KOTA BOGOR

Oleh
DIAN SUMINNAR
H24103059

DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2007
ABSTRAK
DIAN SUMINNAR. H24103059. Analisis Formulasi Strategi Pada Perusahaan
Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Pakuan Kota Bogor. Di bawah bimbingan
WIDIGDO SUKARMAN.

Tingkat pelayanan PDAM masih memiliki kendala, terutama dalam hal


pendistribusian pelayanan air. Saat ini, tingkat pelayanan PDAM Tirta Pakuan
Kota Bogor sekitar 61,89 persen terhadap wilayah pelayanan dan 49,49 persen
terhadap jumlah penduduk Kota Bogor, dengan kapasitas produksi 1.130 liter per
detik. Melihat kondisi tersebut, PDAM dituntut untuk terus meningkatkan dan
mengembangkan kualitas perusahaannya, baik dalam hal pelayanan, kualitas
produk maupun keefisienan dan keefektifitasan organisasinya. Hal tersebut
dilakukan sebagai upaya untuk melakukan penyesuaian terhadap perkembangan
lingkungan yang semakin dinamis.
Tujuan penelitian mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan internal dan
eksternal perusahaan, serta memformulasikan strategi yang dapat diterapkan oleh
PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor. Data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan
langsung, wawancara dan pengisian kuesioner oleh staf ahli PDAM Tirta Pakuan
Kota Bogor yaitu Kabag Keuangan, Kabag Produksi dan Kabag SDM. Data
sekunder diperoleh dari laporan-laporan perusahaan, studi literatur, laporan
penelitian, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bogor dan publikasi elektronik.
Analisis data menggunakan matriks Internal Factor Evaluation (IFE) dan matriks
External Factor Evaluation (EFE), matriks Internal Eksternal (IE), matriks
Strenght, Weaknesses, Opportunities, and Threat (SWOT) dan Quantitative
Strategic Planning Marix (QSPM).
Berdasarkan hasil analisis matriks IFE dan EFE diketahui bahwa kekuatan
utama PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor adalah sistem organisasi berjalan sesuai
dengan prosedur, sedangkan kelemahan utamanya adalah beban hutang relatif
besar. Peluang bagi PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor adalah Pemerintah Daerah
(Pemda) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) sangat mendukung
terhadap pengembangan PDAM. Sedangkan ancaman yang dihadapi perusahaan
adalah kondisi perekonomian yang tidak stabil dan tingkat inflasi serta
meningkatnya biaya produksi dan operasional akibat kenaikan harga Bahan Bakar
Minyak (BBM) dan Tarif Dasar Listrik (TDL).
Berdasarkan analisis matriks IE yang merupakan perpaduan antara matriks
IFE dan EFE, maka diketahui bahwa PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor berada
pada posisi sel V dengan strategi yang tepat adalah Strategi Hold and Maintain
(Pertahankan dan Pelihara) seperti strategi penetrasi pasar dan pengembangan
produk. Pengembangan strategi pada matriks SWOT menghasilkan sejumlah
alternatif strategi untuk memudahkan penilaian para responden pada matriks
QSPM. Hasil analisis pada matriks QSPM menunjukkan bahwa meningkatkan
kualitas pelayanan air minum yang dapat dilakukan melalui inovasi produk,
mempertahankan hubungan baik dengan pelanggan dan menjalin kerjasama
dengan pihak luar merupakan strategi yang paling tepat untuk dilakukan oleh
PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor.
ANALISIS FORMULASI STRATEGI PADA
PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM (PDAM)
TIRTA PAKUAN KOTA BOGOR

SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA EKONOMI
pada Departemen Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor

Oleh
DIAN SUMINNAR
H24103059

DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2007
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
DEPARTEMEN MANAJEMEN

Analisis Formulasi Strategi Pada


Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Pakuan Kota Bogor

SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA EKONOMI
pada Departemen Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor

Oleh
DIAN SUMINNAR
H24103059

Menyetujui,
Bogor, Agustus 2007

Dr. Widigdo Sukarman, MBA, MPA


Dosen Pembimbing

Mengetahui

Dr. Ir. Jono M. Munandar, M.Sc


Ketua Departemen

Tanggal ujian : 6 Agustus 2007 Tanggal lulus :


RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 16 Agustus 1985 di Kota Jakarta, Provinsi


DKI Jakarta. Penulis yang bernama lengkap Dian Suminnar merupakan anak
pertama dari empat bersaudara pasangan Pitoyo dan Arnita.
Penulis memulai pendidikan di Taman Kanak-Kanak Kartika Chandra
Kirana 315 tahun 1990, lulus tahun 1991. Kemudian melanjutkan ke pendidikan
dasar di Sekolah Dasar Negeri Gunung Batu 2 Bogor tahun 1991 dan lulus tahun
1997. Pada tahun 1997, penulis melanjutkan pendidikannya di Sekolah Lanjutan
Tingkat Pertama Negeri 4 Bogor, tamat pada tahun 2000. Dan penulis
menamatkan pendidikan menengah atas pada Sekolah Menengah Umum Negeri 5
Bogor pada tahun 2003, kemudian pada tahun yang sama melanjutkan studi di
Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur USMI pada Departemen Manajemen,
Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM).
Dalam masa studi di Departemen Manajemen, penulis aktif dalam
organisasi kemahasiswaan seperti Centre Of M@nagement (COM@) yang
merupakan Himpunan Profesi Departemen Manajemen pada periode 2004-2005
sebagai anggota divisi Administrasi, Kesekretariatan, dan Keuangan. Selain itu
penulis pernah mengikuti lomba kreatifitas mahasiswa seperti PKMI dan berbagai
kepanitiaan. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi
pada Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut
Pertanian Bogor, penulis menyusun skripsi yang berjudul Analisis Formulasi
Strategi pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Pakuan Kota
Bogor dibawah bimbingan Dr. Widigdo Sukarman, MBA, MPA.

iii
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT. atas rahmat
dan karunia-Nya sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Analisis
Formulasi pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Pakuan Kota
Bogor. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Ekonomi pada Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan
Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Dalam kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1. Bapak Dr. Widigdo Sukarman, MBA, MPA selaku dosen pembimbing yang
telah banyak memberikan saran dan meluangkan waktu untuk membimbing
penulis dalam penyelesaikan skripsi ini.
2. Bapak Prof. Dr. Ir. H. Musa Hubeis, MS, Dipl. Ing., DEA dan Ibu Hardiana
Widyastuti, S. Hut, MM selaku dosen penguji yang telah memberikan saran
dan masukan yang bermanfaat bagi penulis.
3. Dr. Ir. Jono M. Munandar, MSc. selaku ketua departemen, seluruh dosen dan
staf karyawan dan karyawati Departemen Manajemen yang telah membantu
penulis selama masa kuliah.
4. Bapak Hendra Setiawan, Ibu Reni Sumartini dan Ibu Sri Maryati yang telah
memberi izin, membantu dan bersedia untuk menjadi responden pada
penelitian yang disusun oleh penulis.
5. Bapak Handoyo, Bapak Agung, Ibu Yuyun, Bapak Sonny, Bapak Kamal,
Bapak Eko, Bapak Adi, Ibu Puji, Ibu Vera, Bapak Ritfan dan Bapak Asep dan
seluruh karyawan dan karyawan yang telah membantu penulis selama
melakukan penelitian di PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor.
6. Papa dan mama tercinta serta adik-adikku Tirta Nyuminnar ”Inung”, Sinta
Ayunda Putri ”Nanda”, Noval Rahmat Reza ”Eja” yang selalu memberikan
doa dan dukungan melalui curahan kasih sayangnya kepada penulis.
7. Uwo, mbah, om, tante dan sepupu-sepupuku serta keponakan kecilku Putra,
Rifa dan Farel yang selalu memberikan semangat dalam setiap canda tawa.
8. Amellia, Diah dan Fany yang telah menjadi teman dalam setiap suka dan
dukaku.

iv
9. Kak Nova dan Kak Ari yang telah membantu dan memberikan saran dalam
penyusunan skripsi ini.
10. Yayuk, Linda dan Rio, teman satu bimbingan yang berjuang bersama dalam
menyelesaikan skripsi.
11. Evi, Nurma, Anita, Vebby, Yunia, Rinrin, Amik, Pasus, Etty, Else, Ruslan,
Irwan, Ranty, Amma, Chi2, Irma dan teman-teman Manajemen 40 yang tidak
dapat disebutkan namanya satu persatu yang selalu membuat suasana kuliah
menjadi menyenangkan dan untuk adik-adik kelasku tetap semangat.
12. Rina, Neneng, Vivi, Hera, Fikri, Insan, Iki, Aboy, Sandi, Leo dan teman-
teman SD ku yang membantu dan memberikan motivasi selama penyusunan
skripsi.
13. Pihak-pihak terkait yang telah membantu dalam penulisan skripsi.
Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun karena
menyadari masih terdapat kekurangan dalam penelitian ini. Semoga apa yang
penulis sampaikan dalam hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi para
pembaca pada umumnya dan kepada PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor pada
khususnya agar dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan lebih lanjut dalam
merumuskan dan menetapkan kebijakan strategi perusahaan.

Bogor, Agustus 2007

Penulis

v
DAFTAR ISI

Halaman
ABSTRAK
RIWAYAT HIDUP .............................................................................................. iii
KATA PENGANTAR...........................................................................................iv
DAFTAR ISI..........................................................................................................vi
DAFTAR TABEL .............................................................................................. viii
DAFTAR GAMBAR............................................................................................ ix
DAFTAR LAMPIRAN ..........................................................................................x
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ..........................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah .....................................................................................3
1.3. Tujuan Penelitian ......................................................................................3
1.4. Kegunaan Penelitian .................................................................................3
1.5. Ruang Lingkup Penelitian.........................................................................4
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep Strategi
2.1.1. Pengertian Strategi ........................................................................5
2.1.2. Tipe-tipe Strategi...........................................................................6
2.2. Konsep Manajemen Strategis
2.2.1. Pengertian Manajemen Strategis...................................................7
2.2.2. Sistem Manajemen Strategis .........................................................8
2.3. Formulasi Strategi ...................................................................................11
2.4. Perusahaan Daerah Air Minum...............................................................12
2.5. Lingkungan Perusahaan
2.5.1. Analisis Lingkungan Internal......................................................13
2.5.2. Analisis Lingkungan Eksternal ...................................................13
2.6. Bauran Pemasaran
2.6.1. Produk .........................................................................................16
2.6.2. Harga ...........................................................................................17
2.6.3. Tempat ........................................................................................17
2.6.4. Promosi .......................................................................................17
2.7. Penelitian Terdahulu ...............................................................................18
III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian...............................................................21
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ..................................................................23
3.3. Jenis dan Sumber Data Penelitian ...........................................................23
3.4. Pengolahan dan analisis data...................................................................23

vi
3.5. Matriks IFE dan EFE ..............................................................................24
3.6. Matriks IE ...............................................................................................27
3.7. Matriks SWOT ........................................................................................30
3.8. Matriks QSPM ........................................................................................33
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
4.1.1. Sejarah dan Perkembangan PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor ...35
4.1.2. Visi dan Misi PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor .........................37
4.1.3. Tugas Pokok dan Fungsi PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor .......38
4.1.4. Struktur Organisasi PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor................38
4.2. Analisis Lingkungan Internal
4.2.1. Aspek Sumber Daya Manusia.....................................................39
4.2.2. Aspek Keuangan .........................................................................41
4.2.3. Aspek Produksi dan Operasi .......................................................43
4.2.4. Aspek Pemasaran ........................................................................47
4.3. Analisis Lingkungan Eksternal
4.3.1. Lingkungan Mikro Perusahaan ...................................................54
4.3.2. Lingkungan Makro Perusahaan...................................................57
4.4. Identifikasi Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Ancaman
4.4.1. Kekuatan .....................................................................................63
4.4.2. Kelemahan ..................................................................................65
4.4.3. Peluang........................................................................................67
4.4.4. Ancaman .....................................................................................70
4.5. Formulasi Alternatif Strategi Perusahaan
4.5.1. Matriks IFE .................................................................................71
4.5.2. Matriks EFE ................................................................................74
4.5.3. Matriks IE ...................................................................................76
4.5.4. Matriks SWOT ............................................................................77
4.5.5. Matriks QSPM ............................................................................82
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan .....................................................................................................84
2. Saran ...............................................................................................................85
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................87
LAMPIRAN..........................................................................................................89

vii
DAFTAR TABEL

No. Halaman
1. Penilaian Bobot Faktor Strategis Internal Perusahaan ..................................25
2. Penilaian Bobot Faktor Strategis Eksternal Perusahaan ...............................25
3. Matriks IFE ...................................................................................................26
4. Matriks EFE ..................................................................................................26
5. Matriks QSPM ..............................................................................................34
6. Jumlah Karyawan Berdasarkan Status Karyawan ........................................39
7. Jumlah Karyawan Berdasarkan Tingkat Pendidikan ....................................40
8. Perkembangan Laba Rugi pada Tahun 2004-2006 .......................................42
9. Neraca PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor......................................................43
10. Evaluasi Kondisi Produksi Air pada Tahun 2006 .........................................44
11. Tingkat Kehilangan Air pada Tahun 2000-2005 ..........................................47
12. Loket Pembayaran Air .................................................................................49
13. Struktur Tarif Air Minum .............................................................................51
14. Jumlah Penduduk dan Rumah Tangga Kota Bogor ......................................58
15. Efisiensi Penagihan Rekening Air pada Tahun 2004-2005 ..........................59
16. Matriks IFE PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor .............................................72
17. Matriks EFE PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor ............................................74
18. Matriks SWOT PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor ........................................81

viii
DAFTAR GAMBAR

No. Halaman
1. Bagan Mental Creation dan Physical Creation Process
sebagai Bagian dari Sistem Manajemen Strategis ........................................10
2. Kerangka Pemikiran Penelitian.....................................................................22
3. Matriks IE .....................................................................................................27
4. Matriks SWOT ..............................................................................................31
5. Analisis SWOT .............................................................................................32
6. Matriks IE PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor................................................77

ix
DAFTAR LAMPIRAN

No. Halaman
1. Struktur Organisasi PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor..................................89
2. Pengukuran Kinerja PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor pada Tahun 2006 ....90
3. Sistem Penyediaan Air Minum .....................................................................93
4. Diagram Alir Pengolahan..............................................................................94
5. Daftar Persyaratan Kualitas Air ....................................................................95
6. Sumber Air dan Daerah Pengaliran ..............................................................96
7. Klasifikasi Kelompok Pelanggan, Golongan Tarif,
dan Besar Tarif Air Minum...........................................................................97
8. Kuesioner Penelitian Penentuan Bobot dan Rating
Faktor Strategis Internal dan Eksternal .........................................................98
9. Kuesioner Penelitian Penentuan Strategi Terpilih
dengan Matriks QSPM................................................................................105
10. Hasil Penentuan Bobot Faktor Strategis Internal ........................................109
11. Hasil Penentuan Bobot Faktor Strategis Eksternal .....................................112
12. Hasil Penentuan Rating Faktor Strategis Internal .......................................115
13. Hasil Penentuan Rating Faktor Strategis Eksternal ....................................116
14. Hasil Penentuan Strategi Terpilih dengan Matriks QSPM .........................117

x
I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Air merupakan sumber daya alam yang dimiliki oleh setiap negara.
Indonesia adalah salah satu negara yang sebagian besar wilayahnya terdiri
dari perairan. Air bersih merupakan kebutuhan paling dasar bagi manusia dan
harus selalu ada karena tanpa air manusia tidak mungkin untuk
melangsungkan kehidupannya. Air digunakan hampir pada setiap aspek
kehidupan manusia, mulai dari penggunaan untuk rumah tangga sampai
untuk kegiatan yang lebih luas seperti bidang komersial, sosial dan
perdagangan. Sumber daya alam ini memegang peranan yang sangat penting
dalam kehidupan masyarakat.
Undang-undang Dasar 1945 pasal 33 ayat 3 menyatakan bahwa bumi
dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara
dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Sumber daya
air di Indonesia dikelola oleh Perusahaan Air Minum (PAM) yang
mendapatkan wewenang dari pemerintah dalam pengelolaan kebutuhan
konsumsi air bersih bagi masyarakat dan yang berada di setiap pemerintahan
daerah dinamakan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
PAM atau PDAM adalah salah satu bentuk sektor publik yang
merupakan bagian dari perekonomian nasional yang dikendalikan oleh
pemerintah, berkaitan dengan pemberian atau penyerahan jasa-jasa
pemerintah kepada publik. Tingkat pelayanan PAM atau PDAM saat ini
masih memiliki kendala terutama dalam hal pendistribusian pelayanan air
yang tidak merata. Pendistribusian lebih banyak difokuskan untuk melayani
kegiatan komersial yang mendukung pembangunan ekonomi dan hanya
konsumen yang memiliki kemampuan membayar dapat memiliki akses
terhadap air bersih, sehingga perhatian diberikan lebih banyak kepada
masyarakat di daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah pedesaan.
Padahal jumlah penduduk daerah pedesaan mencapai sekitar 70 persen dari
jumlah penduduk Indonesia.
2

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Pakuan Kota Bogor


merupakan sebuah perusahaan daerah yang memiliki wewenang dalam
penyediaan kebutuhan konsumsi air bersih bagi masyarakat di Kota Bogor.
Saat ini, kebutuhan air bersih utama untuk rumah tangga dan industri di Kota
Bogor dipasok oleh PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor. Namun, bagi rumah
tangga dan industri pendistribusian air belum mampu mencukupi kebutuhan
masyarakat Bogor. Tingkat pelayanan PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor saat
ini baru mencapai sekitar 61,89 persen terhadap wilayah pelayanan dan 49,49
persen terhadap jumlah penduduk Kota Bogor dengan kapasitas produksi
sebesar 1.130 liter per detik. Melihat kondisi tersebut, PDAM dituntut untuk
dapat meningkatkan dan mengembangkan kualitas perusahaannya baik
dalam hal pelayanan, kualitas produk maupun keefisienan dan keefektifitasan
organisasinya. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya untuk melakukan
penyesuaian terhadap perkembangan lingkungan yang semakin dinamis
sehingga dapat meningkatkan akuntabilitas dan kinerja yang berorientasi
kepada pencapaian hasil.
Dalam kondisi yang selalu berubah-ubah, perencanaan strategis
merupakan langkah awal yang tepat untuk melakukan penyesuaian terhadap
perubahaan. Perencanaan strategis merupakan serangkaian rencana tindakan
dan kegiatan mendasar yang disusun oleh manajemen puncak untuk
diimplementasikan oleh seluruh jajaran suatu perusahaan dalam rangka
pencapaian tujuan. Perencanaan strategis umumnya digunakan luas oleh
organisasi laba (profit oriented) dan kemudian dalam perkembangannya
digunakan pula oleh organisasi nirlaba atau organisasi publik lainnya
(Tangkilisan, 2005). PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor sebagai salah satu
bentuk organisasi publik membutuhkan perencanaan strategis agar dapat
memberdayakan para manajer dan seluruh karyawan untuk membuat
keputusan yang berkaitan dengan peningkatan kinerja pelayanan publiknya.
Strategi perusahaan yang tepat menjadi hal yang sangat penting untuk
memanfaatkan peluang dan menghindari atau mencegah ancaman dari luar
dengan memberdayakan seluruh sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan
secara efisien dan efektif. Oleh karena itu, PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
3

perlu menerapkan strategi yang tepat untuk meningkatkan kinerja pelayanan


perusahaannya. Strategi tersebut juga dibutuhkan untuk mempertahankan
kepercayaan pelanggan dan bahkan meningkatkan jumlah pelanggan demi
kelangsungan hidup perusahaan.

1.2. Rumusan Masalah

Untuk memperjelas permasalahan yang akan dibahas berdasarkan pada


latar belakang masalah di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai
berikut:
1. Faktor-faktor internal dan eksternal apakah yang berpengaruh terhadap
PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor saat ini ?
2. Strategi apakah yang dapat diterapkan oleh PDAM Tirta Pakuan Kota
Bogor sesuai dengan kondisi lingkungan perusahaan saat ini ?
3. Prioritas strategi alternatif apakah yang perlu dilakukan PDAM Tirta
Pakuan Kota Bogor ?

1.3. Tujuan Penelitian

1. Mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal yang


mempengaruhi PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor saat ini.
2. Menformulasikan strategi yang dapat diterapkan oleh PDAM Tirta Pakuan
Kota Bogor sesuai dengan kondisi lingkungan perusahaan.
3. Menentukan strategi alternatif yang tetap bagi PDAM Tirta Pakuan Kota
Bogor.

1.4. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi berbagai pihak, yaitu:


1. Bagi perusahaan, sebagai masukan bagi manajemen perusahaan mengenai
perencanaan strategis dalam pengembangan dan implementasi strategi
yang efektif untuk kelangsungan hidup perusahaan.
2. Bagi penulis, menambah wawasan dan pengalaman nyata mengenai
strategi yang dapat dipilih dengan menggunakan alternatif strategi yang
telah dirumuskan oleh peneliti.
4

3. Bagi pembaca, berguna sebagai pengetahuan dan informasi masukan


(referensi) bagi peneliti yang akan melakukan penelitian serupa dan akan
mengkajinya lebih dalam.

1.5. Ruang Lingkup

Penelitian ini melakukan pengembangan strategi alternatif bagi PDAM


Tirta Pakuan Kota Bogor berdasarkan analisis lingkungan internal dan
eksternal perusahaan saat ini. Selain itu, penulis juga bertujuan untuk
mengetahui posisi perusahaan berdasarkan analisis lingkungan perusahaan
dengan menggunakan analisis Internal Eksternal (IE), pengembangan startegi
dengan menggunakan analisis Strenght, Weaknesses, Opportunities, and
Threat (SWOT) dan analisis Quantitative Strategic Planning Marix (QSPM)
untuk dapat menentukan strategi alternatif yang tepat bagi PDAM Tirta
Pakuan Kota Bogor.
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Strategi

2.1.1. Pengertian Strategi


Strategi berasal dari bahasa Yunani Kuno yang berarti
kepemimpinan dalam ketentaraan atau seni berperang. Apabila
diterjemahkan definisi klasik dan tradisi ini ke dalam kompetisi bisnis
saat ini maka dapat dinyatakan bahwa startegi adalah hal menetapkan
arah kepada manajemen dalam arti manusia mengenai sumber daya di
dalam bisnis dan mengenai bagaimana mengidentifikasikan kondisi
yang memberikan keuntungan terbaik untuk memenangkan
persaingan di dalam pasar (Dirgantoro, 2001).
Strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan. Dalam
perkembangannya, konsep mengenai strategi terus berkembang.
Untuk jelasnya, dapat dilihat perkembangan strategi sebagai berikut
(Rangkuti, 2005) :
1. Chandler (1962)
Strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan perusahaan dalam
kaitannya dengan tujuan jangka panjang, program tindak lanjut,
serta prioritas alokasi sumber daya.
2. Learned, Christensen, Andrew dan Guth (1965)
Strategi merupakan alat untuk menciptakan keunggulan bersaing.
Dengan demikian salah satu fokus strategi adalah memutuskan
apakah bisnis tersebut harus ada atau tidak ada.
3. Argyris (1985), Mintzberg (1979), Steiner dan Miner (1977)
Strategi merupakan respon secara terus-menerus maupun adatif
terhadap peluang dan ancaman eksternal serta kekuatan dan
kelemahan internal yang dapat mempengaruhi organisasi.
4. Porter (1985)
Strategi adalah alat yang sangat penting untuk mencapai
keunggulan bersaing.
6

5. Andrew (1980), Chaff (1985)


Strategi adalah kekuatan motivasi untuk stakeholder seperti
debtholders, manajer, karyawan, konsumen, komunitas,
pemerintah dan sebagainya, yang baik secara langsung maupun
tidak langsung menerima keuntungan atau biaya yang
ditimbulkan oleh semua tindakan yang dilakukan oleh
perusahaan.
6. Hamel dan Prahalad (1995)
Strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental
(senantiasa meningkat) dan terus-menerus dan dilakukan
berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh para
pelanggan di masa depan. Dengan demikian, strategi hampir
selalu dimulai dari apa yang dapat terjadi dan bukan dimulai dari
apa yang terjadi. Terjadinya kecepatan inovasi pasar yang baru
dan perubahan pola konsumen memerlukan kompetensi inti (core
competencies). Perusahaan perlu mencari kompetensi inti di
dalam bisnis yang dilakukan.
2.1.2. Tipe-tipe Strategi
Menurut Rangkuti (2005), pada prinsipnya strategi dapat
dikelompokkan berdasarkan tiga tipe strategi, yaitu :
1. Strategi Manajemen
Strategi manajemen meliputi strategi yang dapat dilakukan oleh
manajemen dengan orientasi pengembangan strategi secara
makro, misalnya strategi pengembangan produk, strategi
penerapan harga, strategi akuisisi, strategi pengembangan pasar,
strategi mengenai keuangan dan sebagainya.
2. Strategi Investasi
Strategi ini merupakan kegiatan yang berorientasi pada investasi.
Misalnya apakah perusahaan ingin melakukan strategi
pertumbuhan yang agresif atau berusaha mengadakan penetrasi
pasar, strategi pembangunan kembali suatu divisi baru atau
strategi divestasi dan sebagainya.
7

3. Strategi Bisnis
Strategi bisnis ini sering juga disebut strategi bisnis secara
fungsional karena strategi ini berorientasi pada fungsi-fungsi
manajemen, misalnya strategi pemasaran, strategi organisasi dan
strategi-strategi yang berhubungan dengan keuangan.

2.2. Konsep Manajemen Strategis

2.2.1. Pengertian Manajemen Strategis


Menurut David (2004), manajemen strategis dapat
didefinisikan sebagai seni dan pengetahuan untuk merumuskan,
mengimplementasikan dan mengevaluasi keputusan lintas fungsional
yang membuat organisasi mampu mencapai obyektifnya. Fokus
manajemen strategis terletak pada memadukan manajemen,
pemasaran, keuangan/akunting, produksi/operasi, penelitian dan
pengembangan, serta sistem informasi komputer untuk mencapai
keberhasilan organisasi.
Menurut Mulyadi (2001), manajemen strategis adalah suatu
proses yang digunakan oleh manajer dan karyawan untuk
merumuskan dan mengimplentasikan strategi dalam penyediaan
customer value terbaik untuk mewujudkan visi organisasi. Pada
dasarnya manajemen strategis adalah suatu upaya manajemen dan
karyawan untuk membangun masa depan organisasi. Dari pengertian
tersebut dapat disimpulkan bahwa :
1. Manajemen strategis merupakan suatu proses.
Manajemen strategis merupakan suatu proses yang berjalan secara
terus menerus sepanjang perjalanan organisasi dalam
mewujudkan visinya. Sebagai suatu proses, manajemen strategis
terdiri dari rangkaian langkah yang menghasilkan peta perjalanan
bisnis yang senantiasa sesuai dengan perubahan lingkungan yang
dihadapi oleh organisasi. Berdasarkan peta perjalanan inilah,
pengelolaan organisasi perusahaan dilaksanakan, sehingga
keberhasilan organisasi sangat ditentukan oleh seberapa akurat
8

peta perjalanan tersebut mencerminkan teritorial bisnis yang


diganbarkan dalam peta.
2. Proses digunakan untuk merumuskan dan mengimplementasikan
strategi.
Manajemen strategis mencakup dua proses utama, yaitu
perumusan strategi dan implementasi strategi. Strategi adalah pola
tindakan utama yang dipilih untuk mewujudkan visi organisasi,
melalui misi. Dalam perumusan strategi, manajemen strategis
juga mencakup implementasi strategi, yang terdiri dari lima tahap
utama, yaitu (1) perencanaan strategis, (2) penyusunan program,
(3) penyusunan anggaran, (4) implementasi dan (5) pemantauan.
3. Strategi digunakan untuk menyediakan customer value terbaik
guna mewujudkan visi organisasi.
Di masa lalu, strategi perusahaan lebih dipacu untuk menghadapi
pesaing, sehingga perhatian manajemen tidak difokuskan untuk
menghasilkan value terbaik bagi customers. Namun dalam
lingkungan bisnis yang semakin kompleks dan dinamis,
manajemen perusahaan perlu menfokuskan strateginya ke
penyediaan value terbaik bagi pemuasan kebutuhan customers
agar dapat mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan.
4. Manajer dan karyawan adalah pelaku manajemen strategis.
Pelaksanaan manajemen strategis melibatkan banyak orang dalam
organisasi, mulai dari manajemen puncak sampai dengan
karyawan. Perumusan dan implementasi strategi memerlukan
kontribusi dari seluruh manajer dan karyawan. Bahkan untuk
membangun komitmen karyawan dalam mengimplementasikan
strategi, diperlukan leader yang dapat dijadikan sebagai contoh
dan diperlukan pula partisipasi seluruh karyawan dalam
perumusan strategi.
2.2.2. Sistem Manajemen Strategis
Menurut Mulyadi (2001), dalam sistem manajemen strategis
terdiri dari beberapa tahap, antara lain :
9

1. Strategy Formulation (Perumusan Strategi)


Proses manajemen strategis diawali dengan perumusan strategi.
Strategi dirumuskan melalui tujuh tahap utama, antara lain : (1)
identifikasi lingkungan yang akan dimasuki oleh perusahaan di
masa depan, (2) penentuan misi, visi, keyakinan dasar, nilai dasar
dan tujuan, (3) analsis SWOT (strengths, weaknesses,
opportunities, and threats), (4) analisis portfolio, (5) perumusan
peluang dan masalah utama, (6) identifikasi dan evaluasi alternatif
strategi dan (7) perumusan strategi.
2. Strategic Planning (Perencanaan Strategis)
Dalam langkah ini, strategi yang telah dirumuskan untuk
mewujudkan visi dan tujuan kemudian diterjemahkan ke dalam
rencana strategis yang terdiri dari tiga komponen, yaitu sasaran
strategis, target dan inisiatif strategis. Sasaran strategis
merupakan sasaran-sasaran masa depan yang dituju oleh
perusahaan sebagai penerjemahan strategi untuk mewujudkan visi
dan tujuan. Untuk mewujudkan sasaran strategis diperlukan
inisiatif strategis berupa program tindakan yang akan
dilaksanakan oleh perusahaan di masa depan.
3. Programming (Penyusunan Program)
Penyusunan program adalah proses penjabaran inisiatif strategis
ke dalam rencana laba jangka panjang. Penyusunan program
menghasilkan program yang merupakan suatu rencana laba
jangka panjang yang berisi langka-langkah strategis yang dipilih
untuk mewujudkan sasaran strategis tertentu beserta taksiran
sumber daya yang akan diperlukan untuk dan diperoleh dari usaha
menjalankan langkah-langkah tersebut.
4. Budgeting (Penyusunan Anggaran)
Penyusunan anggaran adalah proses penyusunan rencana laba
jangka pendek yang berisi langkah-langkah yang ditempuh oleh
perusahaan dalam melaksanakan sebagain dari program. Dalam
penyusunan anggaran dijabarkan program tertentu ke dalam
10

rencana kegiatan yang akan dilaksanakan dalam tahun anggaran,


ditunjuk manajer dan karyawan yang bertanggung jawab dan
pengalokasian sumber daya untuk melaksanakan kegiatan
tersebut.
Hasil Analisis Lingkungan,
Perumusan Makro dan Lingkungan
Industri, Misi, Visi, Keyakinan
Strategi Dasar, Nilai Dasar, Tujuan dan
Strategi

Rencana Strategis : Mental


Perencanaan Sasaran Strategis Creation
Process
Strategis Inisiatif Strategis

Penyusunan Program
Program Sistem
Manajemen
Strategis

Anggaran
Penyusunan (Shor-Range Profit Plan)
Anggaran

Implementasi
Pelaksanaan Rencana
Physical
Creation
Process

Pemantauan
Umpan Balik (Feedback)

Gambar 1. Mental Creation dan Physical Creation Process sebagai


Bagian dari Sistem Manajemen Strategis (Mulyadi, 2001)

5. Implementation (Implementasi)
Dalam tahap implementasi, manajemen dan karyawan
melaksanakan rencana yang tercantum dalam anggaran ke dalam
kegiatan nyata. Oleh karena anggaran adalah bagian dari program
dan program merupakan penjabaran inisiatif strategis yang dipilih
untuk mewujudkan sasaran strategis, serta inisiatif strategis
11

dipilih sebagai penerjemahan strategi yang dirumuskan, maka


dalam implementasi rencana, manajemen dan karyawan harus
senantiasa menyadari keterkaitan erat di antara implementasi,
anggaran program, inisiatif strategis, sasaran strategis dan
strategi.
6. Monitoring (Pemantauan)
Implementasi rencana memerlukan pemantauan. Hasil setiap
langkah yang direncanakan perlu diukur untuk memberikan
umpan balik bagi pemantauan pelaksanaan anggaran, program
dan inisiatif strategis. Hasil implementasi rencana juga digunakan
untuk memberikan informasi bagi pelaksana tentang seberapa
jauh target telah berhasil dicapai, sasaran strategis telah berhasil
diwujudkan, tujuan dan visi organisasi dapat dicapai.

2.3. Formulasi Strategi

Menurut Dirgantoro (2001), formulasi strategi adalah menentukan


aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan pencapaian tujuan. Strategi
tingkat perusahaan diformulasikan oleh top management dengan maksud
untuk mencapai tujuan perusahaan secara keseluruhan. Untuk dapat
melakukan formulasi strategi dengan baik maka ada ketergantungan yang
erat dengan analisis lingkungan dimana formulasi strategi membutuhkan data
atau informasi dari analasis lingkungan internal dan eksternal perusahaan.
Dalam melakukan formulasi strategi, ada beberapa hal yang patut
untuk dipertimbangkan, antara lain :
1. Harus dipahami benar visi, misi dan tujuan perusahaan sehingga dapat
diketahui ke arah mana perusahaan akan dibawa serta bagaimana caranya
untuk menuju ke arah tersebut.
2. Hal kedua yang harus dipahami adalah mengenai posisi perusahaan pada
saat ini. Posisi perusahaan dapat berupa pangsa pasar yang dikuasai,
posisi laba/rugi perusahaan, kondisi internal seperti kompetensi orang-
orang yang berada dalam perusahaan dan lain-lain.
3. Kemampuan untuk mengidentifikasikan faktor-faktor lingkungan
(internal maupun eksternal) yang sedang dihadapi perusahaan saat ini.
12

Dengan mengidentifikasikan faktor-faktor tersebut akan memudahkan


dalam memahami keberhasilan atau kegagalan pencapaian tujuan.
4. Mencari alternatif solusi yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan
organisasi secara lebih efisien di masa yang akan datang. Semakin
banyak solusi yang relevan yang dapat ditawarkan menunjukkan
kemampuan yang selalu berkembang atau selalu diasah dari orang-orang
yang berada dalam organisasi atau perusahaan, atau mungkin
menunjukkan inovasi dari orang-orang tersebut untuk selalu mengikuti
perubahan yang terjadi dan kemampuan untuk mengantisipasi perubahan
tersebut.

2.4. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)

Menurut Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 47 tahun 1999


tentang pedoman penilaian kinerja Perusahaan Daerah Air Minum,
Perusahaan Daerah Air Minum yang selanjutnya disingkat PDAM adalah
perusahaan milik Daerah Provinsi atau Daerah Kabupaten dan atau Daerah
Kota. PDAM merupakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang dituntut
dapat memberikan pelayanan umum di bidang air bersih bagi masyarakat,
baik secara kualitas, kuantitas dan kontinuitas secara profesional dan
trasparan.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 5 tahun 1962, kehadiran PDAM
dimungkinkan sebagai kesatuan usaha milik Pemerintah Daerah (Pemda)
yang memberikan jasa pelayanan dan menyelenggarakan kemanfaatan umum
di bidang air minum. Aktivitas PDAM yaitu mulai dari mengumpulkan,
mengolah dan menjernihkan, sampai mendistribusikannya kepada pelanggan.

2.5. Lingkungan Perusahaan

Pada era globalisasi, perubahan-perubahan berlangsung dengan cepat


dan dalam intensitas yang tinggi pula. Salah satunya adalah perubahan yang
terjadi pada lingkungan bisnis baik yang memberikan pengaruh yang baik
maupun yang memberikan pengaruh yang buruk. Perubahan pada lingkungan
tersebut harus diantisipasi karena pengaruh yang signifikan akan menentukan
13

koreksi yang harus dilakukan terhadap strategi atau bahkan mungkin juga
akan mempengaruhi visi dan misi perusahaan.
Analisis lingkungan adalah proses monitoring terhadap lingkungan
organisasi yang bertujuan untuk mengidentifikasikan opportunities
(peluang)dan threat (tantangan)yang mempengaruhi kemampuan perusahaan
untuk mencapai tujuan. Tujuan dilakukan analisis lingkungan adalah agar
organisasi dapat mengantisipasi lingkungan organisasi sehingga dapat
bereaksi secara cepat dan tepat untuk kesuksesan organisasi (Dirgantoro,
2001).
Lingkungan perusahaan sangat menentukan strategi yang akan
dijalankan, karena lingkungan perusahaan sangat mempengaruhi lancar atau
tidaknya kegiatan yang akan dijalankan perusahaan. Dengan demikian,
analisis terhadap lingkungan perusahaan perlu dilakukan baik lingkungan
internal maupun eksternal yang akan berpengaruh terhadap ketepatan strategi
perusahaan yang akan dipilih.
2.5.1. Analisis Lingkungan Internal
Analisis lingkungan internal merupakan analisis yang bertujuan
untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh
perusahaan. Lingkungan internal terdiri dari faktor-faktor atau
variabel lingkungan yang berasal atau berada di dalam perusahaan itu
sendiri. Faktor-faktor dari lingkungan internal cenderung lebih mudah
dikendalikan oleh organisasi atau berada di dalam jangkauan
perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan harus dapat menentukan
kemampuan utama yang membuat berbeda dalam arena persaingan.
Hasil analisis lingkungan internal berupa kekuatan dan kelemahan
perusahaan.
2.5.2. Analisis Lingkungan Eksternal
Analisis terhadap lingkungan eksternal perusahaan diperlukan
untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat memberikan peluang
dan ancaman bagi perusahaan sehingga dapat dilakukan suatu
tindakan tertentu untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
14

Lingkungan eksternal perusahaan dibagi ke dalam dua kategori, yaitu


lingkungan mikro dan lingkungan makro perusahaan.
1. Lingkungan Mikro Perusahaan
Menurut Kotler (2000), lingkungan mikro eksternal adalah
lingkungan yang dekat dengan perusahaan dan mempengaruhi
kemampuan perusahaan untuk melayani pelanggannya, yang terdiri
atas :
a. Pemasok merupakan perusahaan yang menyediakan sumber
daya yang dibutuhkan oleh perusahaan maupun pesaing untuk
menghasilkan produk.
b. Perantara merupakan perusahaan yang membantu perusahaan
mempromosikan, menjual dan mendistribusikan produk ke
pembeli akhir. Perantara meliputi penjual (pedagang besar dan
pengecer), perusahaan distribusi fisik, agen jasa pemasaran dan
perantara keuangan.
c. Pelanggan merupakan konsumen yang membeli atau
menggunakan produk yang dijual atau ditawarkan oleh
perusahaan. Jenis-jenis pelanggan terdiri dari pasar konsumen,
pasar industri, pasar pemerintah, pasar pedagang besar dan
pasar internasional.
d. Pesaing
Pesaing perusahaan merupakan lawan perusahaan yang
memproduksi atau menjual produk yang sejenis di wilayah
tertentu.
e. Masyarakat merupakan kelompok yang mempunyai
kepentingan potensial atau yang sudah terwujud pada atau
berdampak pada kemampuan suatu organisasi untuk mencapai
sasarannya. Masyarakat meliputi masyarakat keuangan, media,
pemerintah, warga yang bertindak, lokal, umum dan internal.
2. Lingkungan Makro Perusahaan
Pada dasarnya, lingkungan makro perusahaan terdiri dari faktor-
faktor yang terlepas atau di luar perusahaan. Lingkungan makro ini
15

memberikan kesempatan besar bagi perusahaan untuk maju,


sekaligus dapat menjadi hambatan dan ancaman untuk maju
(Umar, 2003). Menurut Kotler (2000), lingkungan makro
perusahaan terdiri atas kekuatan sosial yang mempengaruhi seluruh
pelaku di lingkungan mikro perusahaan dan mempengaruhi
kegiatan perusahaan. Faktor-faktor yang termasuk dalam
lingkungan makro adalah :
a. Lingkungan Demografi
Merupakan lingkungan yang menyangkut kependudukan
seperti jumlah penduduk, kepadatan penduduk di suatu
wilayah, lokasi penduduk, usia penduduk dan sebagainya.
Lingkungan demografi sangat diperhatikan oleh pemasar
karena melibatkan manusia dan manusialah yang membentuk
pasar.
b. Lingkungan Ekonomi
Merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi daya beli dan
pola pembelanjaan konsumen. Daya beli ini diukur dari tingkat
pendapatan masyarakat dan perkembangan tingkat harga-harga
umum. Perubahaan daya beli disebabkan oleh adanya
perubahan pendapatan dan perubahan harga-harga di pasar.
c. Lingkungan Alam
Merupakan sumber daya alam yang dibutuhkan sebagai
masukan oleh pemasar atau yang dipengaruhi oleh aktivitas
pemasaran seperti kebutuhan bahan baku, biaya energi, tingkat
polusi.
d. Lingkungan Teknologi
Merupakan kekuatan-kekuatan yang menciptakan teknologi
baru, menciptakan inovasi baru melalui pengembangan produk
baru serta mampu menangkap peluang-peluang yang ada.
Lingkungan teknologi juga diukur melalui laju pertumbuhan
penelitian dan pengembangan (litbang) dan tingginya anggaran
litbang.
16

e. Lingkungan Politik / Hukum


Arah, kebijakan dan stabilitas politik merupakan pertimbangan
penting bagi para manajer dalam merumuskan strategi
perusahaan. Tindakan politik yang dirancang untuk melindungi
dan memerikan manfaat bagi perusahaan seperti undang-
undang tentang lingkungan dan perburuhan, peraturan tentang
perdagangan luar negeri, stabilitas pemerintah, peraturan
tentang keamanan dan kesehatan kerja dan sistem perpajakan.
f. Lingkungan Sosial / Budaya
Kondisi sosial masyarakat selalu berubah-ubah. Perubahan-
perubahan sosial yang terjadi yang mempengaruhi perusahaan,
hendaknya dapat diantisipasi oleh perusahaan. Kondisi sosial
ini banyak aspeknya, misalnya sikap, gaya hidup, adat istiadat
dan kebiasaan dari orang-orang di lingkungan eksternal
perusahaan, yang berkembang dari pengaruh kultural,
demografis, religius, pendidikan dan etnis.

2.6. Bauran Pemasaran

Pemasaran selalu terkait dengan apa yang disebut bauran pemasaran.


Istilah lain untuk bauran pemasaran adalah marketing mix (4P), yang terdiri
dari product, price, place dan promotion. Menurut Kotler (2000), bauran
pemasaran adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan
untuk terus-menerus mencapai tujuan pemasarannya di pasar sasaran.
Alasan penulis mengunakan 4P karena perusahaan yang dijadikan
sebagai tempat penelitian merupakan perusahaan yang bersifat semi jasa dan
penelitian dilakukan meliputi perusahaan secara keseluruhan bukan hanya
pelayanannya sehingga penggunaan 4P telah cukup mewakili. Adapun
penjelasan dari 4P tersebut adalah :
2.6.1. Poduct (Produk)
Produk merupakan sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar
untuk mendapatkan perhatian untuk dibeli, untuk digunakan atau
dikonsumsi yang dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan. Produk
adalah penawaran berwujud perusahaan kepada pasar yang mencakup
17

keanekaragaman produk, kualitas, desain, bentuk, merek, kemasan,


ukuran, pelayanan, jaminan dan pengembalian.
2.6.2. Price (Harga)
Harga merupakan salah satu aspek penting dalam kegiatan
bauran pemasaran. Harga adalah sejumlah nilai yang ditukarkan
konsumen dengan manfaat memiliki atau menggunakan produk yang
nilainya ditetapkan oleh pembeli dan penjual melalui tawar-menawar,
atau ditetapkan oleh penjual untuk satu harga yang sama terhadap
semua pembeli. Dalam harga mencakup daftar harga, rabat, potongan,
syarat kredit dan jangka waktu pembayaran. Penentuan harga menjadi
sangat penting untuk diperhatikan, salah dalam menentukan harga
akan berakibat fatal terhadap produk yang ditawarkan, misalnya
produk tidak laku di pasaran.
2.6.3. Place (Tempat)
Tempat merupakan berbagai kegiatan yang dilakukan
peusahaan untuk membuat produk dapat diperoleh dan tersedia bagi
pelanggan sasaran yang mencakup saluran, ruang lingkup, lokasi,
persediaan dan transportasi. Penentuan lokasi biasanya digunakan
untuk lokasi pabrik atau gudang atau cabang. Penentuan lokasi kantor
yang disertai dengan sarana dan prasarana pendukung menjadi sangat
penting, hal ini disebabkan agar stakeholders mudah menjangkau
setiap lokasi yang ada.
2.6.4. Promotion (Promosi)
Dalam kegiatan promosi, setiap perusahaan berusaha untuk
mempromosikan seluruh produk dan jasa yang dimilikinya baik
langsung maupun tidak langsung. Promosi dalam bauran pemasaran
adalah menghasilkan pertukaran yang saling memuaskan dengan
pasar yang dituju melalui penyampaian informasi mendidik,
membujuk, atau mengingatkan konsumen akan manfaat suatu
organisasi atau suatu produk. Promosi merupakan sarana paling
ampuh untuk mengenal perusahaan, menarik dan mempertahankan
18

pelanggan. Sarana promosi yang digunakan dalam mempromosikan


produk maupun jasanya terdiri dari empat macam sarana, yaitu :
a. Advertising (Periklanan)
Iklan adalah sarana promosi yang digunakan untuk
mengiformasikan, menarik dan mempengaruhi konsumen yang
dapat dilakukan dengan berbagai media seperti pemasangan
Billboard atau spanduk, pencetakan brosur, pemasangan melalui
koran, majalah, televisi, radio atau media lainnya.
b. Sales Promotion (Promosi Penjualan)
Promosi penjualan adalah intensif jangka pendek untuk
meningkatkan pembelian atau penjualan suatu produk agar
konsumen segera membeli setiap produk atau jasa yang
ditawarkan.
c. Publicity (Publisitas)
Publisitas merupakan kegiatan promosi yang dilakukan melalui
kegiatan seperti pameran, bakti sosial, perlombaan cerdas cermat,
kuis serta kegiatan lainnya melalui berbagai media. Kegiatan
promosi ini bertujuan untuk membangun hubungan yang baik
dengan publik perusahaan, menumbuhkembangkan suatu citra
perusahaan yang baik, serta menangani atau menghilangkan desas-
desus, cerita dan peristiwa yang tidak menyenangkan.
d. Personel Selling (Penjualan Pribadi)
Penjualan pribadi secara umum dilakukan oleh seluruh karyawan
perusahaan, mulai dari cleaning service, satpam, sampai pejabat
dalam perusahaan.

2.7. Penelitian Terdahulu

Arsanti (2005) melakukan penelitian mengenai “Analisis Formulasi


Strategi Perusahaan pada PT HERO Supermarket, Tbk. HERO Supermarket
sebagai peritel modern lokal perlu menerapkan strategi yang tepat untuk
menghadapi persaingan dalam bisnis ritel. Hal ini dikarenakan banyak pelaku
bisnis ritel yang tertarik untuk menanamkan investasinya di Indonesia.
Kehadiran ritel asing di Indonesia lebih berdampak mengancam pasar pada
19

peritel modern lokal daripada pasar tradisional, karena segmennya relatif


sama. Analisis data menggunakan matriks Internal Factor Evaluation (IFE)
dan matriks External Factor Evaluation (EFE), matriks IE dan SWOT, serta
matriks QSPM.
Hasil analisis yang dilakukan terhadap PT HERO Supermarket sebagai
perusahaan ritel menggambarkan kondisi internal maupun eksternal yang
cukup kondusif, dimana perusahaan mampu menggunakan kekuatan yang
dimiliki untuk menutupi kelemahan yang ada serta perusahaan mampu
memanfaatkan peluang yang ada dengan mengantisipasi ancaman yang
terjadi dalam perusahaan.
Kamillah (2005) melakukan penelitian mengenai ”Analisis Strategi
Perusahaan PT PISMATEX Pekalongan, Jawa Tengah. PT PISMATEX
perlu menerapkan strategi pemasaran yang tepat dalam kegiatan
permasarannya untuk menghadapi munculnya pesaing-pesaing baru,
terutama dalam upaya merebut pasar. Strategi pemasaran tersebut harus
sesuai dengan faktor-faktor strategis yang dimiliki oleh perusahaan, yaitu
faktor internal dan faktor eksternal, serta bauran pemasaran (product, price,
place dan promotion). Analisis data menggunakan matriks Internal Factor
Analysis Summary (IFAS) dan matriks External Factor Analysis Summary
(EFAS), matriks IE dan matriks SWOT, serta matriks QSPM.
Hasil analisis matriks IFAS dan EFAS didapatkan kekuatan
perusahaan adalah mutu sarung Gajah Duduk bagus dan harga sarung yang
terjangkau, serta keterbatasan modal merupakan kelemahan yang dimiliki
oleh perusahaan. Peluang perusahaan adalah pelanggan yang terdiri dari
hampir seluruh golongan masyarakat dan ancaman bagi perusahaan adalah
meningkatnya biaya produksi akibat kenaikan harga BBM dan tarif dasar
listrik (TDL). Hasil analisis IE menempatkan perusahaan pada sel I dan IV
dengan strategi yang tepat adalah growth and build seperti penetrasi pasar,
pengembangan produk dan perluasan pasar. Analisis SWOT menghasilkan
beberapa alternatif strategi untuk memudahkan penilaian matriks QSPM.
Dari matriks QSPM didapatkan alternatif strategi yang tepat bagi perusahaan,
20

yaitu efisiensi biaya produksi dalam proses produksi (pengolahan, bahan


baku dan bahan bakar).
Berdasarkan kedua penelitian terdahulu, penelitian yang dilakukan
oleh penulis menggunakan metode yang sama, yaitu menggunakan matriks
IFE dan EFE, matriks IE dan matriks SWOT, serta matriks QSPM untuk
mengolah dan menganalisis data. Peneliti menggunakan kelima matriks
tersebut untuk memformulasikan strategi pada salah satu bentuk organisasi
publik, yaitu PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor dalam rangka meningkatkan
kinerja pelayanan publiknya.
III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian

Penelitian ini terdiri dari beberapa langkah yaitu langkah pertama


adalah mengetahui visi dan misi PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor.
Pernyataan misi dan tujuan akan menjadi penuntun dalam melakukan tahap
analisis selanjutnya agar strategi yang akan diterapkan mengarah pada
pencapaian tujuan akhir yang membantu rencana dan keputusan untuk
mencapai tujuannya.
Kedua, mengidentifikasi dan analisis lingkungan perusahaan baik
lingkungan internal maupun lingkungan eksternal. Analisis lingkungan
bertujuan untuk mengidentifikasi peluang dan tantangan yang mempengaruhi
kemampuan perusahaan untuk mencapai tujuannya. Dengan melakukan
analisis lingkungan, perusahaan dapat mengantisipasi lingkungan perusahaan
secara cepat dan tepat untuk kesuksesan perusahaan. Analisis lingkungan
internal meliputi faktor sumber daya manusia, keuangan, produksi/operasi
dan pemasaran. Sedangkan analisis lingkungan eksternal meliputi lingkungan
mikro dan lingkungan makro perusahaan.
Ketiga, variabel-variabel internal dan eksternal perusahaan diringkas
dan dijabarkan dalam matriks IFE dan matriks EFE. Total skor pada kedua
matriks tersebut dipadukan dalam matriks IE untuk mengetahui posisi
perusahaan berdasarkan kelompok strategi growth and build, hold and
maintain, serta strategi harvest or divest. Kemudian berdasarkan pada
matriks IE, maka dapat dirumuskan beberapa strategi alternatif dengan
menggunakan matriks SWOT.
Keempat, tahap terakhir yang merupakan tahap keputusan untuk
menentukan strategi yang paling tepat diantara alternatif strategi yang ada
sesuai dengan kondisi perusahaan dengan menggunakan analisis QSPM.
22

PDAM TIRTA PAKUAN


KOTA BOGOR

VISI DAN MISI


PERUSAHAAN

Lingkungan Eksternal
a. Lingkungan Mikro
♦ Pemasok
♦ Perantara
♦ Pelanggan
♦ Pesaing
♦ Masyarakat
b. Lingkungan Makro
♦ Lingkungan Demografi
Lingkungan Internal ♦ Lingkungan Ekonomi
a. Faktor Sumber daya Manusia ♦ Lingkungan Alam
b. Faktor Keuangan ♦ Lingkungan Politik/Hukum
c. Faktor Produksi/Operasi ♦ Lingkungan Teknologi
d. Faktor Pemasaran ♦ Lingkungan Sosial/Budaya

Matriks IFE Matriks IE Matriks EFE

Matriks SWOT

Matriks QSPM
(Pengambilan Keputusan Prioritas Strategi)

Prioritas Strategi alternatif dari Hasil Analisis

Gambar 2. Kerangka Pemikiran Penelitian


23

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor yang


berlokasi di Jalan Siliwangi No. 121 Bogor, dengan waktu tiga bulan yang
dimulai dari bulan April sampai bulan Juni 2007.

3.3. Jenis dan Sumber Data Penelitian

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data
sekunder. Data primer diperoleh melalui kunjungan ke perusahaan untuk
mencari informasi dari pihak yang berwenang (PDAM Tirta Pakuan Kota
Bogor), wawancara langsung dengan pihak perusahaan yang mengerti
kondisi perusahaan dan memiliki kontribusi dalam merumuskan strategi
perusahaan. Wawancara dengan menggunakan kuesioner, yang cara
pengisiannya dipandu oleh peneliti. Data sekunder diperoleh dari laporan
tertulis atau dokumen perusahaan, data-data dari literatur yang relevan
dengan penelitian yang berasal dari buku, jurnal dan internet.
Data-data yang diperoleh digunakan untuk melakukan analisis
terhadap strategi perusahaan. Data yang dibutuhkan untuk menganalisis
lingkungan perusahaan meliputi :
1. Data untuk analisis lingkungan internal
a. Gambaran umum perusahaan, meliputi sejarah berdiri, struktur
organisasi, visi dan misi perusahaan.
b. Gambaran mengenai sumber daya manusia, keuangan, produksi dan
pemasaran yang dilakukan perusahaan.
2. Data untuk analisis lingkungan eksternal
a. Lingkungan mikro
b. Lingkungan makro

3.4. Pengolahan Data dan Analisis Data

Alat analisis yang digunakan dalam tahap masukan yaitu matriks IFE
digunakan untuk melihat posisi perusahaan dari sisi kekuatan dan kelemahan.
Dan matriks EFE untuk melihat posisi perusahaan dari sisi peluang dan
ancaman. Perpaduan antara matriks IFE dan EFE diperoleh matriks IE yang
digunakan sebagai parameter posisi perusahaan dengan melihat kondisi
24

internal dan eksternal. Matriks SWOT digunakan untuk menghasilkan


strategi-strategi yang sesuai dengan kondisi internal dan eksternal
perusahaan. Kemudian untuk memilih strategi yang terbaik digunakan
QSPM.

3.5. Matriks IFE dan EFE


Matriks IFE dan EFE merupakan teknik yang digunakan pada tahap
masukan (The Input Stage) dari kerangka kerja perumusan startegi. Tahap
masukan merupakan tahap yang meringkas informasi dasar yang diperlukan
untuk merumuskan startegi. Matriks IFE dan EFE beserta dengan penyataan
misi yang jelas menyediakan informasi dasar yang diperlukan untuk
merumuskan strategi secara sukses dengan syarat teknik ini disertai penilaian
intuitif yang baik dalam menetapkan pembobotan dan penilaian yang tepat
(David, 2004).
Matriks IFE digunakan untuk mengevaluasi dan meringkas kekuatan
dan kelemahan utama dalam berbagai bidang fungsional perusahaan
sehingga diketahui faktor-faktor internal perusahaan yang dianggap penting.
Sedangkan matriks EFE digunakan untuk meringkas dan mengevaluasi
peluang dan ancaman utama perusahaan sehingga diketahui faktor-faktor
eksternal perusahaan yang dianggap penting. Alat analisis pada tahap ini
bertujuan untuk mengkuantitatifkan subjektivitas selama tahap awal dari
proses formulasi strategi.
Penentuan bobot dilakukan dengan cara mengajukan identifikasi faktor
internal dan eksternal tersebut dengan menggunakan metode Paired
Comparison (Kinnear, 2000). Metode ini digunkan untuk memberikan
penilaian terhadap bobot setiap faktor penentu internal dan eksternal.
Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam membentuk matriks IFE dan
EFE, yaitu :
a. Menyusun daftar faktor-faktor utama yang mempunyai dampak penting
(Critical Success Factors atau CSF) untuk aspek internal dan eksternal
perusahaan yang ditempatkan pada kolom pertama.
25

b. Penilaian bobot (weight) setiap faktor strategis internal dan eksternal.


Dalam menentukan bobot setiap variabel digunakan skala 1, 2 dan 3
dengan keterangan sebagai berikut :
1 = Jika indikator horizontal kurang penting daripada indikator vertikal.
2 = Jika indikator horizontal sama penting daripada indikator vertikal.
3 = Jika indikator horizontal lebih penting daripada indikator vertikal.
Penilaian pembobotan dapat dilihat pada Tabel 1dan Tabel 2.
Tabel 1. Penilaian Bobot Faktor Strategis Internal Perusahaan
Faktor Strategis Internal A B C D ..... Total
A
B
C
D
.....
n
Total ∑ Xi
i=1
Sumber : Kinnear, 2000

Tabel 2. Penilaian Bobot Faktor Strategis Eksternal Perusahaan


Faktor Strategis Eksternal A B C D ..... Total
A
B
C
D
.....
n
Total ∑ Xi
i=1
Sumber : Kinnear, 2000

c. Penentuan bobot setiap variabel diperoleh dengan menggunakan proporsi


nilai setiap variabel dari jumlah nilai keseluruhan variabel dengan
menggunakan rumus :

ai = Xi ……………………………………….....……………………(3)
n
∑ Xi
I=1
Keterangan :
ai = Bobot variabel ke-i
Xi = Nilai variabel ke-i
26

i = 1, 2, 3, ....., n
n = Jumlah variabel
Total bobot yang diberikan harus sama dengan 1,0. Pembobotan ini
kemudian ditempatkan pada kolom kedua matriks IFE dan EFE.
Data internal yang diperoleh dikelompokan secara kualitatif untuk
mengetahui kekuatan dan kelemahan perusahaan dalam matriks IFE dan
mengetahui peluang dan ancaman yang berasal dari lingkungan eksternal
perusahaan dalam matriks EFE dan dilakukan pembobotan. Hal ini dapat
dilihat pada Tabel 3 dan Tabel 4.
Tabel 3. Matriks IFE
Faktor Strategis Internal Bobot (A) Rating (B) Skor (AxB)
Kekuatan :
1
.
.
.
n
Kelemahan :
1
.
.
.
n
Total
Sumber : David, 2000

Tabel 4. Matriks EFE


Faktor Strategis Internal Bobot (A) Rating (B) Skor (AxB)
Peluang :
1
.
.
.
n
Ancaman :
1
.
.
.
n
Total
Sumber : David, 2004
27

3.6. Matriks IE

Matriks IE digunakan untuk memperoleh strategi bisnis ditingkat


korporat yang lebih detail. Matriks IE adalah matriks yang menunjukkan
berbagai tempat atau posisi untuk divisi suatu organisasi dalam sembilan
kotak atau sel. Parameter yang digunakan meliputi kekuatan internal
perusahaan dan pengaruh eksternal yang dihadapi dengan menggabungkan
matriks IFE dan EFE sehingga menghasilkan kombinasi total nilai terboboti
dari matriks IFE dan EFE (Rangkuti, 2005).
Matriks IE didasarkan pada dua dimensi kunci, yaitu matriks IFE yang
diberikan bobot pada sumbu x dan matriks EFE yang diberikan bobot pada
sumbu y. Pada sumbu x, skor antara 1,00-1,99 menunjukkan posisi internal
yang lemah, skor antara 2,00-2,99 menunjukkan rata-rata dan 3,00-4,00 kuat.
Pada sumbu y, skor antara 1,00-1,99 menunjukkan posisi eksternal yang
rendah, skor 2,00-2,99 menunjukkan posisi eksternal yang sedang dan 3,00-
4,00 menunjukkan posisi eksternal yang tinggi. Pembagian sel-sel dalam
matriks IE dapat dilihat pada Gambar 4.
SKOR TOTAL IFE

Kuat Rata-rata Lemah


4,00 3,00 2,00 1,00

Tinggi I II III

3,00
SKOR TOTAL EFE

Rata-rata IV V VI

2,00

Rendah VII VIII IX

1,00

Gambar 3. Matriks IE (David, 2004)


28

Berdasarkan Gambar 4, sel-sel pada matriks IE dibagi menjadi tiga


bagian utama yang memiliki dampak strategi yang berbeda, yaitu :
a. Posisi perusahaan yang berada pada sel I, II dan IV disebut Growth and
Build (tumbuh dan bina). Strategi yang mewakili strategi ini adalah
strategi intensif dan integratif seperti Market Penetration, Market
Development dan Product Development atau strategi terintegrasi seperti
Bakward Intergration, Forward Intergation dan Horizontal Intergration.
b. Posisi perusahaan yang berada pada sel III, V dan VII disebut dengan Hold
and Maitain (pertahankan dan pelihara). Strategi yang terbaik adalah
melakukan penetrasi pasar dan pengembangan produk.
c. Posisi perusahaan yang berada pada sel VI, VIII dan IX sangat dianjurkan
untuk melakukan divestasi.
Penjelasan secara detail mengenai kesembilan strategi yang terdapat
pada sembilan sel matriks IE tersebut diatas, dapat dijelaskan melalui
tindakan dari masing-masing strategi tersebut.
1. Growth Strategy (Strategi Pertumbuhan)
Strategi pertumbuhan dirancang untuk mencapai pertumbuhan, baik
dalam penjualan, asset, profit, atau kombinasi ketiganya. Hal ini dapat
dicapai dengan cara menurunkan harga, mengembangkan produk baru,
menambahn kualitas produk atau jasa, atau meningkatkan akses ke pasar
yang lebih luas. Usaha yang dapat dilakukan adalah dengan
meminimalkan biaya (minimize cost) sehingga dapat meningkatkan
profit. Cara ini merupakan strategi yang paling penting apabila kondisi
perusahaan berada dalam pertumbuhan yang cepat dan terdapat
kecenderungan pesaing untuk melakukan perang harga untuk
meningkatkan pangsa pasar.
2. Strategi Pertumbuhan melalui Konsentrasi dan Diversifikasi
Ada dua strategi dasar dari pertumbuhan pada tingkat korporat, yaitu
konsentrasi pada satu industri atau diversifikasi ke industri lain.
Berdasarkan penelitian, perusahaan yang memiliki kinerja yang baik
cenderung mengadakan konsentrasi, sedangkan perusahaan yang relatif
kurang memiliki kinerja yang baik cenderung mengadakan diversifikasi
29

agar dapat meningkatkan kinerjanya. Contoh strategi pertumbuhan adalah


sel 1, 2, 5, 7 dan 8.
3. Konsentrasi melalui Integrasi Vertikal (Sel 1)
Pertumbuhan melalui konsentrasi dapat dicapai melalui integrasi vertikal
dengan cara bakward integration (mengambil alih fungsi supplier) atau
dengan cara forward integration (mengambil alih fungsi distributor). Hal
ini merupakan strategi utama untuk perusahaan yang memiliki posisi
kompetitif pasar yang kuat (high market share) dalam industri yang
berdaya tarik tinggi. Agar dapat meningkatkan kekuatan bisnisnya atau
posisi kompetitifnya, maka perusahaan harus meminimalkan biaya dan
operasi yang tidak efisien untuk mengontrol kualitas, serta distribusi
produk.
4. Konsentrasi melalui Integrasi Horizontal (Sel 2 dan 5)
Strategi pertumbuhan melalui intergrasi horizontal adalah suatu kegiatan
untuk memperluas perusahaan dengan cara membangun di lokasi yang
lain dan meningkatkan jenis produk serta jasa. Jika perusahaan tersebut
berada dalam industri yang sangat atraktif (sel 2), tujuannya adalah untuk
meningkatkan penjualan dan profit dengan cara memanfaatkan
keuntungan economics of scale baik di produksi maupun pemasaran.
Sedangkan apabila perusahaan berada dalam moderate attractive
industry, maka strategi yang diterapkan adalah konsolidasi (sel 5).
Strategi ini bertujuan untuk menghindari kehilangan penjualan dan
kehilangan profit. Perusahaan yang berada pada sel ini dapat memperluas
pasar, fasilitas produksi dan teknologi melalui pengembangan internal
maupun eksternal dengan melalui akuisisi atau joint ventures dengan
perusahaan lain dalam industri yang sama.
5. Diversifikasi Konsentris (Sel 7)
Strategi pertumbuhan melalui diversifikasi umumnya dilaksanakan oleh
perusahaan yang memiliki kondisi competitive position sangat kuat tetapi
daya tarik industrinya sangat rendah. Perusahaan tersebut berusaha
memanfaatkan kekuatannya untuk membuat produk baru secara efisien
30

karena perusahaan ini sudah memiliki kemampuan manufaktur dan


pemasaran yang baik.
6. Diversifikasi Konglomerat (Sel 8)
Strategi pertumbuhan melalui kegiatan bisnis yang tidak saling
berhubungan dapat dilakukan jika perusahaan menghadapi competitive
position yang tidak begitu kuat (average) dan nilai daya tarik industrinya
sangat rendah. Kondisi ini menyebabkan perusahaan tersebut melakukan
usahanya ke dalam perusahaan lain. Tetapi pada saat perusahaan tersebut
mencapai tahap matang, perusahaan yang hanya memiliki competitive
position rata-rata cenderung akan menurun kinerjanya. Untuk itu strategi
diversifikasi konglomerat sangat diperlukan. Tekanan strategi ini lebih
pada sinergi finansial daripada product market sinergy (Rangkuti, 2005).

3.7. Matriks SWOT

Keseluruhan evaluasi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman


dinamakan analisis SWOT. Analisis SWOT merupakan sebuah model yang
dapat mengarahkan dan berperan sebagai katalisator dalam proses
perencanaan strategis. Kerangka ini digunakan untuk membangun dan
mengoperasikan atau mengimplementasikan informasi-informasi dari analisis
situasi baik internal dan eksternal. Secara internal, model ini memposisikan
kekuatan dan kelemahan perusahaan, sedangkan secara eksternal, analasis ini
mengidentifikasi peluang dan ancaman yang dihadapi oleh perusahaan
(Rangkuti, 2005).
Model SWOT menyediakan sebuah struktur untuk memadukan antara
apa yang saat ini yang dapat dilakukan (strength) dan yang tidak dapat
dilakukan (weaknesses) perusahaan dan perkembangan apa yang terjadi pada
lingkungan yang menguntungkan (opportunity) dan yang menghambat
(threat) (Rangkuti, 2005).
Unsur-unsur SWOT tersebut meliputi:
S (Strength) : Mengacu kepada keunggulan kompetitif dan kompetisi
lainnya yang dapat mempengaruhi perusahaan pada
pasar.
31

W (Weaknesses) : Hambatan yang membatasi pilihan-pilihan pada


pengembangan strategi perusahaan.
O (Opportunities) : Menyediakan kondisi yang menguntungkan yang
membatasi penghalang.
T (Threats) : Berhubungan dengan penghalang atau kondisi yang
dapat menghalangi organisasi dalam mencapai
tujuannya.
Analsis SWOT menggunakan informasi dan data yang diperoleh dari
analisis lingkungan perusahaan dengan didukung analisis strategi pemasaran
yang dijalankan perusahaan, IFE, EFE dan matriks IE. Hasil dari analisis
SWOT adalah strategi alternatif berdasarkan pada logika yang dapat
memaksimalkan kekuatan dan peluang, namun secara bersamaan dapat
meminimalkan kelemahan.

Faktor
STRENGHTS (S) WEAKNESSES (W)
Internal
Faktor Daftar Kekuatan Daftar Kelemahan
Eksternal Internal Internal

STRATEGI S-O STRATEGI W-O


Strategi yang Strategi yang
OPPORTUNITIES (O) menggunakan meminimalkan
Daftar Peluang Eksternal kekuatan untuk kelemahan untuk
memanfaatkan memanfaatkan
peluang peluang
STRATEGI S-T STRATEGI W-T
Strategi yang Strategi yang
THREATS (T) menggunakan meminimalkan
Daftar Ancaman Eksternal kekuatan untuk kelemahan dan
mengatasi ancaman menghindari ancaman

Gambar 4. Matriks SWOT (Rangkuti, 2005)


Berdasarkan gambar 4, matriks SWOT menghasilkan empat set
kemungkinan strategi alternatif, yaitu :
1. Strategi S-O
Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan yaitu dengan
memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan
peluang sebesar-besarnya.
32

2. Strategi S-T
Strategi ini menggunakan kekuatan perusahaan untuk menghindari atau
mengurangi dampak ancaman eksternal.
3. Strategi W-O
Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan
cara meminimalkan kelemahan yang ada.
4. Strategi W-T
Strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha
meminimalkan kelemahan yang ada, serta menghindari ancaman.
Analisis SWOT akan memberikan arah, pilihan dan pengembangan
perusahaan sehingga diperoleh strategi yang tepat bagi perusahaan.

BERBAGAI
PELUANG

3. Mendukung strategi turn-around 1. Mendukung strategi agresif

KELEMAHAN KEKUATAN
INTERNAL INTERNAL
4. Mendukung strategi defensif 2. Mendukung strategi diversifikasi

BERBAGAI
ANCAMAN

Gambar 5. Analisis SWOT (Rangkuti, 2005)

Keterangan :
Kuadran 1 : Pada kuadran 1 merupakan situasi yang sangat
menguntungkan bagi perusahaan karena perusahaan memiliki
peluang dan kekuatan yang dapat dimanfaatkan sekaligus.
Strategi yang harus diterapkan dalam kondisi ini adalah
mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif (Growth
Oriented Strategy).
Kuadran 2 : Pada kuadran 2, perusahaan menghadapi berbagai ancaman
namun masih memiliki kekuatan dari segi internal. Strategi
33

yang harus diterapkan adalah menggunakan kekuatan untuk


memanfaatkan peluang jangka panjang dengan cara strategi
diversifikasi (produk atau pasar).
Kuadran 3 : Perusahaan menghadapi peluang pasar yang sangat besar,
tetapi perusahaan pun menghadapi beberapa kendala atau
kelemahan internal. Fokus strategi perusahaan pada kuadran 3
adalah meminimalkan masalah-masalah internal perusahaan
sehingga dapat merebut peluang pasar yang lebih baik.
Kuadran 4 : Pada kuadran 4, perusahaan mengalami situasi yang sangat
tidak menguntungkan karena perusahaan menghadapi
berbagai ancaman dan kelemahan internal.

3.8. Matriks QSPM

Matriks QSPM merupakan alat analisis yang digunakan dalam tahap


keputusan. QSPM menggunakan masukan dari matriks IFE dan EFE pada
tahap input, serta matriks IE dan SWOT pada tahap pencocokan untuk
memutuskan strategi mana yang terbaik. Strategi yang dihasilkan diharapkan
dapat menjadi pertimbangan bagi pihak manajemen perusahaan dalam
penetapan kebijakan strategi untuk pengembangan usaha.
Setelah berhasil mengembangkan sejumlah strategi alternatif,
perusahaan harus mampu mengevaluasi dan kemudian memilih strategi
terbaik yang paling cocok dengan kondisi internal dan eksternal perusahaan
dengan menggunakan QSPM. Ada enam langkah yang perlu harus diikuti
untuk membuat matriks QSPM, yaitu :
a. Menuliskan daftar peluang, ancaman, kekuatan dan kelemahan.
b. Berikan bobot untuk masing-masing peluang, ancaman, kekuatan dan
kelemahan. Bobot ini harus identik dengan rata-rata bobot yang dihasilkan
pada matriks IFE dan EFE.
c. Tuliskan strategi alternatif yang akan dievaluasi.
d. Apabila faktor yang bersangkutan ada pengaruhnya terhadap strategi yang
sedang dipertimbangkan, berikan nilai Attractiveness Score (AS) yang
dimulai dari 1 (tidak dapat diterima), 2 (mungkin dapat diterima), 3
(kemungkinan besar dapat diterima) dan 4 (dapat diterima). Sedangkan
34

apabila tidak ada pengaruhnya terhadap strategi alternatif yang sedang


dipertimbangkan, jangan berikan nilai AS.
e. Kalikan nilai bobot dengan nilai AS.
f. Hitung nilai totalnya (Total Attractiveness Score atau TAS).
Strategi alternatif yang memiliki nilai total terbesar merupakan strategi
yang paling baik dan sebaiknya dijadikan strategi alternatif dengan prioritas
penerapan utama. Ilustrasi QSPM dapat dilihat dalam Tabel 5.
Tabel 5. Matriks QSPM
Strategi alternatif
Faktor Kunci Bobot Strategi I Strategi II Strategi ke-n
AS TAS AS TAS AS TAS
Peluang :
-
-
Ancaman :
-
-
Kekuatan :
-
-
Kelemahan :
-
-
Total
Sumber : David, 2004
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor

4.1.1. Sejarah dan Perkembangan PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor


Kota Bogor telah mempunyai sistem pelayanan air minum
sejak tahun 1918, yang dibangun oleh pemerintah Belanda. Nama
perusahaan air minum pada waktu itu adalah Gemeente Waterleiding
Buitenzorg yang memanfaatkan sumber mata air Kota Batu sebagai
sumber air utama dengan kapasitas produksi sebanyak 70 liter per
detik. Sumber mata air Kota Batu ini merupakan cikal bakal
keberadaan PDAM Kota Bogor dan dimulainya pelayanan air minum
di Kota Bogor.
Jumlah penduduk Kota Bogor yang semakin meningkat telah
membuat pelayanan air minum di kota hujan ini mengalami
perkembangan. Pada tahun 1935 untuk mencukupi kebutuhan
penduduk Kota Bogor dilakukan penambahan kapasitas air sebanyak
30 liter per detik yang berasal dari sumber air Kebon Salada (milik
PAM DKI Jaya).
Pada tahun 1966, jumlah pelanggan tercatat sekitar 7.000
Sambungan Langganan (SL) dengan tingkat kehilangan air mencapai
50 persen. Persentase kehilangan air tersebut akibat kurang baiknya
mutu pipa dinas (meter air) dan kondisi pipa distribusi yang sudah
tua. Saat itulah mulai dirasakan adanya kekurangan air minum.
Melihat kondisi tersebut, maka dilakukan survei dan perencanaan
strategis untuk meningkatkan pelayanan dan pengembangan kapasitas
jumlah air bersih.
Untuk menambah kembali kapasitas air, pada tahun 1967
sumber air ditambah dengan mengambil dari mata air Bantar
Kambing melalui reservoir Cipaku. Namun, rencana ini terhambat
masalah pendanaan karena untuk memasang pipa transmisi
dibutuhkan dana investasi yang cukup besar. Bantuan dana pun
36

diperoleh dari pemerintah Australia, berupa hibah dengan nama


proyek Colombo Plan. Bentuk bantuan yang diperoleh berupa pipa
dan aksesorisnya, feasibility study, perencanaan dan supervise dengan
nilai total bantuan sebesar A$1.736.000 atau US$2.456.449. Proyek
seluruhnya dilakukan oleh Valentine Laurie and Davies Consulting
Engineers dari Sydney, Australia. Kemudian pada tahun 1973,
dilakukan kembali penambahan kapasitas air melalui sumber mata air
Tangkil. Dengan berfungsinya tambahan kapasitas produksi tersebut,
maka pada tanggal 3 Juli 1975 dilakukan penghentian atau pemutusan
atas koneksi pipa PAM DKI Jaya.
Pada tanggal 31 Maret 1977 dikeluarkan Peraturan Daerah No.
5 Tahun 1977 yang menyatakan perubahan status Dinas Daerah
menjadi Perusahaan Daerah. Selanjutnya, melalui Surat Keputusan
Gubernur Jawa Barat No. 300/HK.011/SK/1977, PDAM Kota Bogor
mulai didirikan. Modal dasar perusahaan terdiri dari kekayaan daerah
yang berasal dari kekayaan perusahaan air minum pada waktu
kedudukannya sebagai Dinas Daerah.
PDAM Kota Bogor pada tahun 1988 mulai melakukan studi
kelayakan dengan berencana memanfaatkan air permukaan sebagai
sumber air lainnya. PDAM berhasil menambah kapasitas produksinya
dengan membangun Instalasi Pengelolaan Air (IPA) dengan instalasi
atau Water Treatment Plant (WTP) yang berlokasi di Cipaku dan
Dekeng. Sumber air bakunya memanfaatkan air sungai Cisadane.
Dengan penambahan sumber air tersebut, kapasitas produksi air
meningkat yang pada awal tahun 2007 mencapai 1.130 liter per detik
berasal dari empat sumber air utama. Empat sumber air tersebut
adalah mata air Kota Batu, mata air Bantar Kambing, mata air
Tangkil dan sungai Cisadane (WTP Cipaku dan WTP Dekeng).
Berdasarkan Surat Keputusan Walikota Nomor 011.45-75
Tahun 2002 tanggal 29 April 2002 tentang penetapan logo baru
PDAM Kota Bogor dan penambahan nama Tirta Pakuan, maka nama
PDAM Kota Bogor berubah menjadi PDAM Tirta Pakuan Kota
37

Bogor. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor berupaya untuk


meningkatkan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan misi dan
tujuan perusahaan. Salah satunya adalah penerapan manajemen
melalui sistem informasi yang ditunjang dengan komputerisasi,
jaringan terpadu yang mampu melaksanakan pemantauan di semua
bagian dan otomatisasi semua data administrasi dan penagihan
pelanggan secara cepat dan tepat.
4.1.2. Visi dan Misi PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
Visi PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor adalah mejadi
perusahaan terdepan di bidang pelayanan air minum. Misinya yaitu
memberikan kepuasan pelayanan air minum secara
berkesinambungan kepada masyarakat sesuai standar kesehatan yang
ada dengan mempertimbangkan keterjangkauan masyarakat dan
berperan sebagai penunjang otonomi daerah serta meningkatkan
sumber daya manusia secara maksimal. Adapun penjabaran misi
PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor sebagai berikut :
1. Menyelenggarakan sistem pelayanan air minum yang unggul
berkesinambungan memenuhi mutu yang berlaku untuk menjamin
tercapainya kepuasan pelayanan kepada pelanggan.
2. Mengembangkan bidang usaha sistem pelayanan air minum yang
efisien, efektif dan tepat guna sehingga produk dan kinerja yang
dihasilkan dapat dipasarkan dalam jangkauan masyarakat
pelanggannya dengan memperhatikan undang-undang
perlindungan konsumen.
3. Mewujudkan penyelenggaraan perusahaan milik daerah yang
dapat menunjang otonomi daerah secara maksimal.
4. Menyelesaikan aspek teknik, aspek manajemen dan aspek
kewirausahaan dalam penyelenggaraan sistem pelayanan yang
berorientasi pada manfaat dan perlindungan sumber daya
lingkungan.
5. Mengembangkan penelitian dan kegiatan inovatif serta
peningkatan SDM yang dapat menopang tuntutan pertumbuhan
38

kebutuhan perusahaan dan pembangunan nasional pada


umumnya.
4.1.3. Tugas Pokok dan Fungsi PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor sebagai BUMD milik
Pemerintah Kota Bogor mempunyai tugas pokok sebagai berikut :
1. Memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Kota Bogor secara
memadai, adil dan merata, serta berkesinambungan.
2. Sebagai salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Pemerintah Kota Bogor.
Secara garis besar PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
mempunyai dua fungsi, yaitu :
1. Fungsi ekonomi, yaitu untuk meningkatkan kemampuan
pelayanan dan memenuhi kewajiban-kewajiban lainnya dengan
cara pengelolaan perusahaan secara sehat berdasarkan asas
ekonomi perusahaan.
2. Fungsi sosial, yaitu dapat memenuhi kebutuhan semua lapisan
masyarakat dengan memberlakukan tarif air minum yang
disesuaikan dengan kondisi dan fungsi tempat pelanggan serta
adanya pelanggan yang tersubsidi.
4.1.4. Struktur Organisasi PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
Struktur organisasi adalah salah satu hal yang penting dalam
perusahaan karena dengan adanya struktur organisasi akan dapat
diketahui dengan jelas hubungan, tugas dan tanggung jawab serta
peranan masing-masing antara dewan direksi, kepala bagian, kepala
sub bagian dan tenaga pelaksana. Strukur organisasi PDAM Tirta
Pakuan Kota Bogor disusun berdasarkan Surat Keputusan Walikota
KDH tk. II Bogor No. 72 tahun 2004 tanggal 30 Desember 2004.
Dalam menjalankan tugas pelayanan air minum, PDAM Tirta Pakuan
Kota Bogor didukung oleh tiga direksi, 10 orang kepala bagian, 35
kepala sub bagian dan 423 orang tenaga pelaksana. Bagan struktur
organisasi PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor dapat dilihat pada
Lampiran 1.
39

4.2. Analisis Lingkungan Internal

Identifikasi faktor internal perusahaan bertujuan untuk mengetahui


kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan. Faktor-faktor
internal yang dimiliki perusahaan dapat dikelompokkan menjadi empat
bagian, antara lain sumber daya manusia, keuangan, produksi dan operasi,
serta pemasaran.
4.2.1. Aspek SDM
SDM adalah aspek yang penting bagi PDAM Tirta Pakuan
Kota Bogor karena merupakan salah satu faktor internal perusahaan
yang sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan
perusahaan. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor harus selalu
memperhatikan kondisi sumber daya manusia yang dimilikinya untuk
menjaga kestabilan dan pertumbuhan perusahaan. Untuk itu Bagian
SDM memiliki peranan penting dalam pengembangan manusia yang
berkualitas dan profesional di bidangnya.
Jumlah karyawan di PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor adalah
sebanyak 471 orang, terdiri dari 234 orang karyawan di bagian umum
dan 237 orang di bagian teknik. Jumlah karyawan PDAM Tirta
Pakuan Kota Bogor berdasarkan status karyawannya dapat dilihat
pada Tabel 6.
Tabel 6. Jumlah karyawan berdasarkan status karyawan
Status Karyawan Jumlah Persentase
Karyawan (%)
1. Karyawan tetap PDAM 369 orang 78,34
2. Calon Karyawan PDAM 10 orang 2,13
3. Karyawan Kontrak 18 orang 3,82
4. Outsourcing 74 orang 15,71
Jumlah 471 orang 100
Sumber : PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, 2006.
Status karyawan PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor dibagi
menjadi empat yaitu karyawan tetap PDAM sebanyak 369 orang,
calon karyawan sebanyak 10 orang, karyawan kontrak sebanyak 18
orang dan karyawan outsourcing sebanyak 74 orang yang meliputi
call center, cleaning service, pekerja kebocoran dan satpam.
40

SDM PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor yang ada belum


diberdayakan secara optimal. Hal ini dikarenakan masih terdapat
kekurangan karyawan dibagian tertentu dan penempatan posisi atau
kerja karyawan sesuai dengan latar belakang pendidikan belum secara
tepat. Tingkat pendidikan karyawan PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
beragam mulai dari SD, SLTP, SLTA, D3, S1, sampai S2 yang
sebagian besar karyawannya berpendidikan SLTA yaitu sebanyak
244 orang. Jumlah karyawan PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
berdasarkan tingkat pendidikannya dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Jumlah karyawan berdasarkan tingkat pendidikan
Tingkat Pendidikan Jumlah Karyawan Persentase (%)
1. SD 78 orang 16,56
2. SLTP 59 orang 12,53
3. SLTA 244 orang 51,80
4. D3 12 orang 2,55
5. S1 66 orang 14,01
6. S2 12 orang 2,55
Jumlah 471 orang 100
Sumber : PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, 2006.
Berdasarkan Tabel 6 dan 7, dapat diketahui bahwa di PDAM
Tirta Pakuan Kota Bogor yang menjadi dominan adalah karyawan
tetap dan mayoritas karyawannya berpendidikan SLTA. Hal ini
mengindikasikan bahwa pelatihan bagi karyawan sangat dibutuhkan
untuk meningkatkan pengetahuan dan motivasi kerja karyawan
terhadap perusahaan. Pengadaan program-program pelatihan dan
pengembangan karyawan dilakukan berdasarkan kebutuhan dari
masing-masing bagian dalam perusahaan dengan biaya tersendiri
yang khusus dikeluarkan untuk program pelatihan.
Dengan meningkatnya pengetahuan dan motivasi kerja
karyawan terhadap perusahaan maka sistem organisasi dalam
perusahaan dapat berjalan sesuai dengan prosedur. Hal ini akan
mendukung dalam pencapaian kinerja perusahaan yang baik.
Pengukuran kinerja PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor dilakukan
berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 47 Tahun 1999
tentang pedoman penilaian kinerja PDAM. Kinerja PDAM Tirta
41

Pakuan Kota Bogor tahun 2006 masuk dalam klasifikasi baik.


Pengukuran kinerja dilakukan dengan tiga aspek penilaian yaitu
keuangan operasional dan administrasi. Pengukuran kinerja PDAM
Tirta Pakuan Kota Bogor tahun 2006 dapat dilihat pada Lampiran 2.
Dalam hal kesejahteraan karyawan, PDAM Tirta Pakuan Kota
Bogor memberikan gaji berdasarkan golongan dan pemberian gaji
terendah disesuaikan dengan upah minimum regional dari
pemerintah. Selain itu, sejumlah kompensasi lainnya pun diberikan,
seperti adanya tunjangan jabatan, tunjangan pengganti lembur,
tunjangan koordinasi, tunjangan pengganti pulsa, tunjangan
kehadiran, asuransi tunjangan hari tua dengan Jamsostek dan
pemberian kompensasi berdasarkan prestasi. Pemberian kompensasi
ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi kerja karyawannya.
PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor pun memperhatikan kesehatan
karyawannya dengan menyediakan fasilitas klinik kesehatan dan
program kesehatan lainnya, seperti program cek kesehatan dan
pemberian bantuan Rawat Inap melalui kerjasama dengan Rumah
Sakit Palang Merah Indonesia (PMI) dan Karya Bhakti.
4.2.2. Aspek Keuangan
Perusahaan yang dikelola baik oleh pemerintah maupun swasta,
tidak terlepas dari permodalan. Permodalan merupakan sarana
penting dalam melakukan usaha. Modal yang didapat PDAM Tirta
Pakuan Kota Bogor berasal dari modal Pemerintah Pusat, modal
Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat, modal Pemerintah Daerah
Kodya Tingkat II Kota Bogor, bantuan modal Pemerintah Pusat,
hibah dari Negara Belanda dan bantuan Colombo Plan. Sebesar 55
persen dari modal PDAM Tirta Pakuan Kota bogor merupakan
penyertaan modal Pemerintah Daerah Kota Bogor.
Kegiatan operasional PDAM dibiayai dari pendapatan
perusahaan. Sumber pendapatan PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
terdiri dari sumber internal dan eksternal. Sumber pendapatan internal
berasal dari pendapatan air dan pendapatan non air seperti
42

pelanggaran, denda, pemasangan baru dan pendapatan atas jasa bank


yang keseluruhannya bersifat rutin. Sedangkan sumber pendapatan
eksternal meliputi investasi pihak ketiga dan penyertaan pemerintah
daerah. Modal yang ada saat ini pun digunakan untuk membiayai
operasional dan aktivitas-aktivitas perusahaan.
Dalam faktor finansial tentu saja aspek laba tidak dapat
dikesampingkan karena tujuan didirikan suatu perusahaan baik oleh
pemerintah maupun swasta adalah untuk memperoleh laba. Marjin
laba PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor cukup baik dimana saat ini
perusahaan terus berupaya meningkatkan pelayanan kepada
pelanggan. Perkembangan laba rugi PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
dari tahun 2004 dengan tahun 2006 dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Perkembangan Laba Rugi pada Tahun 2004-2006
Dalam Ribuan Rupiah
Uraian
2004 2005 2006
Pendapatan 44.263.600 53.232.590 64.380.770
Beban Langsung (17.836.425) (20.950.445) (26.569.096)
Usaha
Laba Kotor Usaha 26.427.355 32.282.145 37.811.674
Beban tak (21.223.324) (24.626.479) (27.469.003)
Langsung Usaha
Laba Usaha 5.203.531 7.655.666 10.342.671
Laba (Rugi) diluar (123.296) 519.625 86.954
Usaha
Laba Sebelum 5.080.235 8.175.291 10.429.625
Pajak
Pajak (1.674.878) (2.730.326) (3.488.819)
Laba Bersih 3.405.357 5.445.965 6.940.806
Marjin Laba 11,48 % 15,36 % 16,24 %
Sumber : PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, 2006.
Berdasarkan tabel di atas, marjin laba PDAM Tirta Pakuan
Kota Bogor terus mengalami peningkatan hingga mencapai 16,24
persen pada tahun 2006. Persentase tersebut cukup baik karena masuk
dalam kisaran tingkat marjin laba yang wajar yaitu antara 16 persen
sampai kurang dari sama dengan 20 persen berdasarkan Keputusan
Menteri Dalam Negeri Nomor 47 tahun 1999.
Namun, beban hutang yang relatif besar menjadi kendala bagi
PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor karena semakin banyak kewajiban
43

yang harus diselesaikan oleh perusahaan. Walaupun hutang jangka


panjang mengalami penurunan sebesar 11,60 persen pada tahun 2005
tetapi hutang lancar dan hutang lain-lainnya mengalami peningkatan
sehingga beban hutang terus meningkat. Hasil usaha perusahaan
belum mampu melunasi hutang tepat waktu dan memenuhi investasi
aktiva tetap yang diperlukan. Neraca PDAM Tirta Pakuan Kota
Bogor dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Neraca PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
Dalam Jutaan Rupiah
Pos-pos
2001 2002 2003 2004 2005
Aktiva :
Aktiva Lancar 7.230 5.512 6.252 9.495 9.825
Aktiva Tetap 46.039 52.032 57.902 62.488 67.920
Aktiva Lain-lain 4.912 5.928 3.470 4.530 4.372
Jumlah Aktiva 58.181 63.472 67.624 76.513 82.117
Pasiva :
Kewajiban
6.223 8.626 9.121 11.193 13.945
Lancar
Kewajiban
23.626 22.102 23.884 26.654 23.883
Jangka Panjang
Kewajiban Lain-
4.753 7.352 7.942 9.459 10.102
lain
Modal dan
23.579 25.392 26.677 29.207 34.187
Cadangan
Jumlah Pasiva 58.181 63.472 67.624 76.513 82.117
Sumber : PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, 2006.

4.2.3. Aspek Produksi dan Operasi


Aspek produksi dan operasi berhubungan dengan aktivitas
mengubah masukan atau input menjadi bentuk produk akhir agar
dapat dipergunakan atau dikonsumsi oleh konsumen. PDAM Tirta
Pakuan Kota Bogor merupakan penyedia tunggal air minum di Kota
Bogor yang memiliki empat sumber air utama yang airnya akan
diolah dan kemudian didistribusikan kepada pelanggan. Sumber air
minum PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor berasal dari dua sumber
utama, yaitu :
a. Mata air
♦ Mata air Kota Batu dengan kapasitas terpasang 70 liter per
detik.
44

♦ Mata air Bantar Kambing dengan kapasitas terpasang 170 liter


per detik.
♦ Mata air Tangkil dengan kapasitas terpasang 170 liter per
detik
b. Sungai Cisadane
♦ WTP Cipaku dengan kapasitas terpasang 240 liter pe detik.
♦ WTP Dekeng dengan kapasitas terpasang 400 liter per detik.
Berdasarkan data tahun 2006, kapasitas produksi pada mata air
mengalami penurunan rata-rata sebanyak 7 liter per detik yaitu pada
mata air Kota Batu, mata air Bantar Kambing dan mata air Tangkil.
Namun, kondisi tersebut tidak mengakibatkan kapasitas produksi air
menurun karena didukung oleh sumber air baku yang melimpah dari
air permukaan yaitu sungai Cisadane. Sumber air baku yang
melimpah menjadikan kekuatan bagi PDAM Tirta Pakuan Kota
Bogor. Evaluasi kondisi produksi air tahun 2006 dapat dilihat pada
Tabel 10.
Tabel 10. Evaluasi Kondisi Produksi Air pada Tahun 2006
Dalam liter per detik
Kapasitas
No. Sumber Lokasi Ket.
Pasang Produksi
2005 2006
1. Mata air Kota Batu 70 61 54 Turun
2. Mata air Bantar 170 158 150 Turun
Kambing
3. Mata air Tangkil 170 112 107 Turun
4. IPA Cipaku 240 268 272 Naik
5. IPA Dekeng 400 570 593 Naik
Jumlah 1.670 1.168 1.176 Naik
Sumber : PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, 2006.
Penurunan kapasitas produksi yang berasal dari sumber mata
air dikarenakan debit air pada sumber mata air mengalami penurunan
dan bahkan dari tahun ke tahun semakin menurun. Sedangkan untuk
sumber air baku yang berasal dari sungai Cisadane merupakan
sumber yang sangat potensial karena air baku sungai Cisadane yang
melimpah. Sehingga kapasitas produksi dari sumber sungai Cisadane
45

terus meningkat dan dapat menutupi kekurangan pasokan air dari


sumber mata air.
PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor melakukan pengolahan air
menjadi air minum sesuai dengan standar kesehatan. Air yang
bersumber dari mata air memiliki kualitas yang cukup baik dan
memenuhi standar air minum jika dilihat dari segi fisik dan kimia.
Sedangkan jika dilihat dari segi biologis dikhawatirkan terdapat
bakteri yang dapat menimbulkan penyakit sehingga perlu
ditambahankan desinfektan. Khusus sumber mata air Tangkil
diberikan penambahan soda Ash (alkali) untuk menaikkan pH
sehingga sesuai dengan pH standar air minum yaitu 6,5-8,5.
Air baku dari sungai Cisadane perlu mendapat pengolahan
yang dimulai dari intake yaitu titik pengambilan air baku di sungai.
Kualitas air baku sungai Cisadane baik sesuai dengan standar
kesehatan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 907/ Menkes/ SK/ VII/ 2002. Kualitas air baku
yang baik menjadi kekuatan bagi PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor.
Bagan sistem penyediaan air minum dapat dilihat pada Lampiran 3.
Pengolahan air baku yang dilakukan PDAM Tirta Pakuan Kota
Bogor menggunakan proses pengolahan lengkap. Proses pengolahan
lengkap terdiri dari enam tahap yaitu tahap koagulasi, tahap flokulasi,
tahap sedimentasi, tahap aerasi, tahap filtrasi dan tahap desinfektan.
Diagram alir pengolahan lengkap dapat dilihat pada Lampiran 4.
Air baku dari intake akan disalurkan melalui pipa trasmisi
masuk ke dalam WTP. Tahap koagulasi atau pengadukan cepat (flash
mixing) merupakan tahap awal dari pengolahan air baku. Tahap ini
bertujuan untuk mencampurkan koagulan PAC (Poli Alumunium
Chlorida) dengan air baku secara merata, cepat dan sempurna
sehingga kotoran dapat digumpalkan menjadi flok. Komponen PAC
terdiri dari appreance, specific grafity, Al2O3, chroride, sulphate,
basicity, Fe. Kotoran yang tidak tergumpal pada tahap koagulasi akan
dihilangkan pada tahap selanjutnya. Tahap kedua adalah tahap
46

flokulasi yaitu pengadukan lambat, dimana dalam flokulasi ini


berlangsung proses terbentuknya penggumpalan flok yang lebih besar
sehingga mudah mengendap. Pengadukan tidak boleh terlalu cepat
karena dapat memecahkan flok yang sudah terbentuk.
Tahap ketiga adalah tahap sedimentasi yang bertujuan untuk
mengendapkan partikel-partikel yang sudah mengumpal menjadi flok
sehingga beban filter menjadi ringan. Pada tahap ini, flok akan
diendapkan dan air akan bergerak ke atas melalui sekat-sekat pada
plant settler. Kemudian dilanjutkan pada tahap aerasi, yaitu
pengikatan oksigen (O2) untuk mengurangi kadar karbondioksida
yang terkandung pada air. Selanjutnya, tahap filtrasi yang dilakukan
untuk mengurangi sisa-sisa flok yang masih terbawa setelah tahap
sedimentasi dan merupakan tahap penurunan kekeruhan yang
terakhir. Pada tahap ini digunakan pasir silica sebagai penyaring air
sehingga air yang dihasilkan bersih.
Terakhir adalah tahap desinfektan dengan melakukan
pendosisan gas klor untuk membunuh bakteri. Penggunaan gas klor
sebagai desinfektan bertujuan untuk menghindari adanya endapan,
bau dan kekeruhan. Tahap desinfektan dilakukan pada kontak basin
yaitu tempat penampungan sementara air bersih setelah pengolahan
yang kemudian akan dimasukkan ke dalam reservoir yaitu
penampungan air bersih sebagai pengaturan pendistribusian kepada
pelanggan. Air bersih di reservoir dapat langsung didistribusikan
kepada pelanggan melalui pipa-pipa distribusi.
Dalam kegiatan operasional PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor,
sebagian sudah didukung oleh sistem informasi manajemen yang
berbasis komputer seperti sistem komputer terintegrasi yang terdiri
dari Customer Information System (CIS), Logictic Information System
(LIS), Employee Information System (EIS). Adapun fasilitas
penunjang lainnya berupa laboratorium penguji kualitas air,
pengujian meter air dan mobil penanggulangan kebocoran. Selain itu,
PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor pun memiliki bengkel pemeliharaan
47

yang memadai dan adanya sistem komputerisasi yang diperuntukkan


untuk memelihara saluran pipa dinas dan induk sebagai upaya untuk
menghindari terjadinya kerusakan dan kebocoran yang dapat
mengakibatkan kehilangan air. Sedangkan pemeliharaan pipa persil
(setelah meter) menjadi tanggung jawab pelanggan.
Berdasarkan data tahun 2000 sampai 2005, persentase
kehilangan air dalam pendistribusian air kepada pelanggan mencapai
kisaran 30 persen. Persentase tersebut cukup tinggi karena jauh
menyimpang dari target yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah
yaitu sebesar 25 persen. Tingkat kehilangan air yang cukup tinggi
menjadi salah satu kelemahan bagi PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor.
Tingkat kehilangan air tahun 2000-2005 dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Tingkat Kehilangan Air pada Tahun 2000-2005
Tahun Kehilangan Air (m³) Persentase (%)
2000 7.973 30,46
2001 8.770 30,90
2002 9.858 31,50
2003 10.056 30,79
2004 11.462 32,46
2005 11.136 31,57
Sumber : PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, 2006.
4.2.4. Aspek Pemasaran
Pemasaran merupakan aktivitas yang berhubungan dengan
pemberian sarana yang dapat digunakan oleh pembeli untuk membeli
produk dan mempengaruhi calon pembeli untuk membeli, seperti
iklan, promosi, tenaga penjual, penetapan kuota dan penetapan harga.
Keseluruhan aktivitas tersebut tercakup dalam bauran pemasaran.
Bauran pemasaran atau marketing mix dalam pemasaran terdiri dari
empat komponen, yaitu :
1. Produk
Analisis lingkungan internal pada bagian produk pada
aspek pemasaran dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Keanekaragaman Produk
Produk utama PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor adalah
air. Namun, PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor bukan menjual
48

air melainkan sebagai fasilitator untuk mengolah air baik yang


bersumber dari mata air maupun air permukaan menjadi
bersih dan kemudian didistribusikan kepada pelanggan. Selain
pendistribusian air bersih kepada pelanggan, PDAM Tirta
Pakuan Kota Bogor memiliki Zone Air Minum Prima
(ZAMP) yaitu ATM air dimana airnya dapat langsung
diminum tanpa harus direbus terlebih dahulu. Saat ini, ZAMP
berada di lima titik yaitu Perumahan Tirta Pakuan, Kelurahan
Tajur, PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, Balai Kota dan
Kebun Raya.
Adapun tujuan pengembangan ZAMP yaitu untuk
mensosialisasikan kepada masyarakat Bogor bahwa PDAM
Tirta Pakuan Kota Bogor merupakan perusahaan air minum
bukan perusahaan air bersih dan sebagai pilot project untuk
mengembangkan proyek Kran Air Siap Minum (KASM).
Tidak semua PDAM di Indonesia dapat mengembangkan
KASM dan ZAMP karena pendistribusian air harus 24 jam
dengan tekanan air yang sesuai. Hal ini dilakukan untuk
menghindari terkontaminasinya air oleh bakteri. Oleh karena
itu, PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor berorientasi pada
pelaksanaan KASM dan ZAMP sebagai kekuatan perusahaan.
b. Kualitas Produk
Kualitas produk merupakan salah satu faktor yang
menjadi perhatian PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor. Untuk
menentukan kualitas air baku dan air minum, perusahaan
menggunakan parameter sesuai dengan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 907/ Menkes/ SK/ VII/
2002. Dengan adanya parameter tersebut maka air baku dan
air minum PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor merupakan air
yang berkualitas dan sesuai dengan standar kesehatan. Daftar
persyaratan kualitas air yang digunakan untuk air minum, air
bersih dan air baku dapat dilihat pada Lampiran 5.
49

c. Pelayanan kepada Konsumen


Pelayanan yang diberikan kepada konsumen mencakup
memberikan informasi yang dibutuhkan konsumen,
menanggapi pengaduan dari konsumen dan melayani
pembayaran. Adapun produk layanan lainnya seperti
pemasangan baru, pemindahan letak meter, balik nama
pelanggan, tutupan sementara atas permintaan pelanggan, tes
kualitas air dan pembelian air melalui mobil tangki. Loket
pembayaran air PDAM Tirta Pakuan dapat dilihat pada Tabel
12.
Tabel 12. Loket Pembayaran Air
Lokasi Loket Alamat Loket
Kantor PDAM Tirta Jl. Siliwangi No. 121
Pakuan
Bank Jabar Jl. Kapten Muslihat No. 11-13
Jl. Raya Tajur (Samping
Megaswara)
Bank BNI Jl. Ir. H. Juanda No. 52
Bank Mandiri Jl. Kapten Muslihat No. 17
Bank Lippo Jl. Surya Kencana No. 196 A
Bank NISP Jl. KH. Soleh Iskandar atau Jl. Baru
KOPPURNA Bank Jl. Pandawa Raya, Ruko A2/18
Bank BTPN Jl. Raya Padjajaran No. 63
Bank Panin Jl. Pakuan No. 14
Koperasi Tirta Jl. Pahlawan No. 115 A Bondongan
Sanita Gg. Pesantren No. 2 Cimanggu
Jl. Siliwangi No. 121
Jl. Mawar, Gg. Menteng no. 2
Jl. Pengadilan no. 13-15
Bank BTN Jl. Raya Padjajaran No. 2 Warung
Jambu
KPRI Beriman Jl. kebon Pedes No. 38
Sumber : PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, 2006.
Dalam pelayanan pembayaran air, PDAM Tirta Pakuan
Kota Bogor menyediakan loket-loket pembayaran (Payment
Point) yang tersebar di Kota Bogor dengan lokasi yang
strategis dan mudah dijangkau. Hal tersebut bertujuan untuk
mendekatkan diri dengan para pelanggan dan
mengembangkan pelayanan terhadap pelanggan.
50

2. Harga
Tarif air minum adalah harga air minum untuk setiap meter
kubik (m³) yang harus dibayar oleh pelanggan. Perhitungan dan
penetapan tarif air minum didasarkan pada keterjangkauan dan
keadilan, mutu pelayanan, pemulihan biaya (full cost recovery),
efisiensi pemakaian air, tranparansi dan akuntabilitas, serta
perlindungan air baku. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 2 tahun 1998 tentang pedoman penentuan tarif air
minum, pola tarif air minum PDAM di Indonesia menggunakan
perhitungan tarif progresif dan diskriminatif. Adapun penjelasan
pola tersebut sebagai berikut :
a. Besar tarif air per m³ yang semakin tinggi akan dikenakan
pada pemakaian air yang semakin banyak (tarif progresif).
Tarif air per m³ untuk pemakaian air 10 m³ pertama akan lebih
rendah daripada tarif air per m³ untuk pemakaian air 10 m³
kedua dan seterusnya. Pola ini diterapkan untuk mencegah
pemborosan air oleh pelanggan karena pelanggan akan
membayar harga air per m³ lebih tinggi untuk pemakaian air
yang lebih banyak. Sehingga memungkinkan untuk
memperluas atau memperbanyak jumlah pelanggan karena
pemanfaatan air menjadi lebih efisien.
b. Tarif air per m³ akan lebih tinggi pada pelanggan yang
menggunakan air untuk kebutuhan komersial atau pelanggan
yang memiliki kemampuan finansial tinggi. Tarif air per m³
untuk pelanggan niaga akan lebih tinggi daripada pelanggan
rumah tangga. Tarif air per m³ untuk pelanggan rumah tangga
B akan lebih tinggi daripada pelanggan rumah tangga A. Pola
ini diterapkan agar terjadi subsidi silang, subsidi dari
pelanggan mampu kepada pelanggan kurang mampu. Dengan
demikian, masyarakat kurang mampu masih mendapat
peluang untuk menjadi pelanggan PDAM.
51

Tarif pelayanan air minum PDAM Tirta Pakuan Kota


Bogor ditentukan berdasarkan Peraturan Walikota No. 6 Tahun
2006 Tanggal 26 Maret 2006 tentang tarif air minum PDAM Tirta
Pakuan Kota Bogor yang mengacu pada Peraturan Menteri Dalam
Negeri. Struktur tarif air minum PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Struktur Tarif Air Minum
Golongan Pemakaian Air (Rp/m³)
No. Kelompok
Pelanggan 0-10m³ 11-20m³ >20m³
1. I SU 250 300 400
2. II SK 450 700 1.100
RA 600 850 2.150
3. III RB 800 1.150 3.050
IP 1.600 3.800 4.500
RC 1.250 2.500 4.250
4. IV NK 2.800 3.900 6.000
NB 3.950 5.500 7.250
Sumber : PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, 2006.
3. Tempat atau Saluran Distribusi
Daerah pelayanan PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
meliputi wilayah Kota Bogor melalui sistem gravitasi yang
mencakup lima kecamatan yaitu Bogor Selatan, Bogor Timur,
Bogor Utara, Bogor Tengah, Bogor Barat dan Tanah Sareal.
Cakupan pelayanan terhadap total penduduk daerah pelayanan
sebesar 61,86 persen sedangkan terhadap total penduduk Kota
Bogor mencapai 49,49 persen. Jumlah pelanggan yang dilayani
oleh PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor per April 2007 sebanyak
73.774 pelanggan yang terdiri dari kelompok sosial, rumah
tangga, instansi pemerintah, serta niaga dan industri.
Pendistribusian air oleh PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
dilakukan dengan dua cara, yaitu cara langsung dialirkan dengan
gaya gravitasi karena sebagian besar daerah distribusi terletak di
dataran yang lebih rendah dari fasilitas produksi dan dengan
bantuan booster pump untuk daerah yang lebih tinggi. PDAM
Tirta Pakuan Kota Bogor membagi zone pelayanan air menjadi
52

lima zone yaitu zone 1, 2, 3, 4 dan 6 yang daerah alirannya


sebagai berikut :
a. Zone 1 meliputi daerah Pakuan, Kartamaya, Rancamaya,
Muara Sari, Harjasari, Sindangsari, Katulampa, Tajur dan
Bantar Kemang.
b. Zone 2 meliputi daerah Ranggamekar, Genteng dan Cipaku.
c. Zone 3 meliputi daerah Empang, Bondongan, Batu Tulis,
Lawang Gintung, Bojongkerta, Baranangsiang, Sukasari,
Babakan Pasar, Paledang, Gudang, Babakan Fakultas dan
Mekar Jaya.
d. Zone 4 meliputi daerah Babakan, Sempur, Tegalega, Pabaton,
Cibogor, Kebon Kalapa, Panaragan, Ciwaringin, Tanah
Sareal, Kebon Pedes, Cibadak, Sukadamai, Kedung Waringin,
Kedung Jaya, Kedung Badak, Suka Resmi, Mekar Wangi,
Kayu Manis, Bantar Jati, Tegal Gundil, Kedunghalang,
Ciparigi, Ciluar, Cimahpar, Tanah Baru, Cibuluh, Menteng,
Cilendek Timur, Cilendek Barat, Curug dan Curug Mekar.
e. Zone 6 meliputi daerah Cikaret, Mulya Harja, Loji, Gunung
Batu, Pasir Kuda, Pasir jaya, Pasir Mulya dan Kota Batu.
Kelima zone tersebut mampu dialiri oleh beberapa sumber
air utama PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, antara lain :
a. Mata air Kota Batu melayani pelanggan zone 6 (Kelurahan
Loji, Gunung Batu dan sekitarnya), bahkan sewaktu-waktu
juga membantu pengaliran di zone 3.
b. Mata air Tangkil 53 persen melayani pelanggan zone 1
(Kelurahan Katulampa, Tajur dan sekitarnya) dan 47 persen
lainnya untuk melayani pelanggan di zone 4 melalui reservoir
Padjajaran.
c. Mata air Bantar Kambing, 14 persen melayani zone 2
(Perumda Cipaku) dan 86 persen untuk membantu melayani
pelanggan zone 3 melalui reservoir Cipaku.
53

d. WTP Dekeng melayani pelanggan zone 4 (Kelurahan


Babakan, Sempur dan sekitarnya).
e. WTP Cipaku melayani pelanggan zone 3 (Kelurahan Empang,
Batu Tulis dan sekitarnya). Sumber air dan daerah pengaliran
dapat dilihat pada Lampiran 6.
Dalam hal pendistribusian air, PDAM Tirta Pakuan Kota
Bogor masih memiliki kelemahan yaitu masih adanya daerah
potensial yang berada diluar jaringan distribusi dan belum
meratanya pelayanan air penuh 24 jam. Daerah potensial tersebut
adalah daerah yang masuk ke dalam wilayah Kota Bogor, tetapi
belum mendapatkan pelayanan air karena diluar jaringan
distribusi. Sedangkan pelayanan air 24 jam hanya beberapa
daerah yang mendapatkannya karena dilalui oleh beberapa zone
distribusi.
4. Promosi
Pada kenyataannya, PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor tidak
perlu melakukan promosi karena masyarakat Kota Bogor pun
telah mengetahui keberadaan perusahaan tanpa adanya promosi.
Walaupun begitu, promosi harus tetap dilakukan oleh PDAM
Tirta Pakuan Kota Bogor sebagai upaya untuk mendekatkan
perusahaan dengan masyarakat sehingga terjalin hubungan yang
erat.
Sarana promosi yang digunakan PDAM Tirta Pakuan Kota
Bogor lebih pada kegiatan publisitas (publicity), seperti adanya
kegiatan kampanye atau perlombaan yang peruntukkan bagi
siswa-siswi sekolah, mahasiswa dan masyarakat umum. Informasi
yang dibutuhkan pelanggan dapat diperoleh melalui leafet, brosur,
spanduk, tabloid Flows, telepon, radio dan pelayanan melalui
Customer Service.

4.3. Analisis Lingkungan Eksternal

Identifikasi faktor lingkungan eksternal perusahaan merupakan


langkah untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi peluang dan ancaman
54

bagi perusahaan. Lingkungan eksternal dibagi menjadi dua yaitu lingkungan


mikro dan lingkungan makro perusahaan. Faktor-faktor yang termasuk dalam
lingkungan mikro antara lain pemasok, perantara, pelanggan, pesaing,
masyarakat. Sedangkan lingkungan makro terdiri dari lingkungan demografi,
ekonomi, alam, teknologi, politik/hukum dan sosial/budaya (Kotler, 2000).
Penjelasan lingkungan eksternal PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
sebagai berikut :
4.3.1. Lingkungan Mikro Perusahaan
Lingkungan mikro PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor adalah
sebagai berikut :
1. Pemasok
Pemasok merupakan sebuah mata rantai penting dalam
sistem penyerahan nilai kepada seluruh pelanggan dari sebuah
perusahaan. Pemasok menyediakan sumber daya yang diperlukan
oleh perusahaan untuk menghasilkan barang dan jasa. Data April
2007, jumlah pemasok bagi PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
tercatat sebanyak 37 pemasok yang terdiri dari penyedia bahan
kimia, penyedia barang cetakan dan barang teknik. Perusahaan
dan pihak pemasok memiliki kesepakatan bersama dalam
penetapan harga dan mutu bahan atau barang, sehingga pemasok
tidak dapat menetapkannya secara sepihak. Pembelian bahan atau
barang yang diperlukan oleh PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
berdasarkan pada :
a. Harga di bawah 15 juta, dapat dilakukan pembelian langsung
tanpa SPK (Surat Perintah Kerja).
b. Harga 15 juta sampai 50 juta, dilakukan penunjukkan
langsung.
c. Harga 50 juta sampai 200 juta, dilakukan pemilihan langsung
pada tiga pemasok.
d. Harga di atas 200 juta, dilakukanlah tender.
Pemasok yang memiliki posisi kuat bagi PDAM Tirta
Pakuan Kota Bogor adalah PT Wapin dan PT Amaniaga
55

Internusa. PT Wapin sebagai penyedia pipa-pipa dan PT


Amaniaga Internusa sebagai penyedia bahan kimia PAC yang
digunakan dalam pengolahan air baku. Oleh karena itu, pemasok
memiliki peran penting bagi PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
sehingga perusahaan dapat memberikan pelayanan yang
memuaskan bagi pelanggan.
2. Perantara
Perantara bagi PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor lebih pada
perantara keuangan yaitu perusahaan yang membantu dalam segi
keuangan atau risiko yang diasuransikan sehubungan dengan
pembelian atau penjualan barang, bank merupakan salah satunya.
PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor menjalin kerjasama dengan
Bank Jabar dalam pembangunan WTP Dekeng. Pembangunan
yang dilakukan selama 5 tahun, pada 2 tahun awal dibiayai oleh
PDAM dan 3 tahun berikutnya, pembiayaan dilanjutkan oleh
Bank Jabar. Sehingga PDAM memiliki kewajiban pembayaran
hutang dan bunganya kepada Bank Jabar. Seperti halnya dengan
pemasok, perantara pun membentuk komponen penting dalam
sistem penyerahan nilai kepada pelanggan. Oleh karena itu,
PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor harus bermitra secara efektif
dengan pemasok dan perantara untuk mengoptimalkan kinerja
seluruh sistem.
3. Pelanggan
Perusahaan harus mempelajari pasar pelanggan secara
seksama karena setiap tipe pasar pelanggan mempunyai
karakteristik yang berbeda. Kategori pelanggan PDAM Tirta
Pakuan Kota Bogor terdiri dari sarana sosial, non niaga, niaga dan
khusus. Kategori sarana sosial dibagi menjadi dua, yaitu sarana
umum (SU) dan sarana khusus (SK). Kategori non niaga dibagi
menjadi empat yaitu rumah tangga A (RA), rumah tangga B (RB),
rumah tangga C (RC) dan instansi pemerintah (IP). Pelanggan
yang terdiri dari hampir seluruh golongan masyarakat
56

memberikan peluang yang baik bagi PDAM Tirta Pakuan Kota


Bogor guna meningkatkan pendapatannya.
Kategori niaga dibagi menjadi dua yaitu kecil (NK) dan
niaga besar (NB), sedangkan kategori khusus yaitu untuk tangki
air. Pada April 2007, jumlah pelanggan PDAM Tirta Pakuan Kota
Bogor adalah berjumlah 73.774 pelanggan, terdiri dari 695
pelanggan kategori SU, 436 pelanggan kategori SK, 11.018
pelanggan kategori RA, 41.786 pelanggan kategori RB, 15.835
pelanggan kategori RC, 310 pelanggan kategori IP, 2.014
pelanggan kategori NK dan 1.680 pelanggan kategori NB.
Pengklasifikasian pelanggan PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
dapat dilihat pada Lampiran 7.
Setiap pelanggan menuntut kualitas yang lebih tinggi dan
pelayanan yang lebih baik. Bagi PDAM Tirta Pakuan Kota
Bogor, kualitas air dan pelayanannya sudah dikategorikan baik,
karena sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 907/ Menkes/ SK/ VII/ 2002 untuk kualitas air
dan perolehan beberapa penghargaan dalam pemberian pelayanan.
Penghargaan yang telah diraih PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
selama tahun 2006 adalah :
a. Penghargaan Citra Pelayanan Prima Unit Pelayanan Publik
Tingkat Nasional, penghargaan diberikan oleh Presiden RI
tanggal 22 Desember 2006 di Istana Negara Jakarta.
b. Penghargaan untuk Kinerja Pemerintah Daerah Bidang
Pekerjaan Umum Cipta Karya, Sub Bidang Penyelenggara Air
Minum Kategori Kota Besar dengan peringkat kedua.
c. Penghargaan Citra Pelayanan Prima Unit Pelayanan Publik
Tingkat Propinsi Jawa Barat Tahun 2006 yang diberikan oleh
Gubernur Jawa Barat di Bandung.
Dengan prestasi tersebut, banyak PDAM di daerah lain
yang melakukan studi banding ke PDAM Tirta Pakuan Kota
Bogor. Sebagai pembanding untuk PDAM daerah lain di
57

Indonesia, PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor harus dapat


mempertahankan dan meningkatkan lagi kualitas dan
pelayanannya.
4. Pesaing
PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor merupakan sebuah
perusahaan daerah yang memiliki wewenang dari Pemerintah
Daerah dalam penyediaan kebutuhan konsumsi air minum bagi
masyarakat di Kota Bogor. Wewenang tersebut menjadikan
PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor sebagai penyedia tunggal air
minum di Kota Bogor. Oleh karena itu, PDAM Tirta Pakuan Kota
Bogor tidak memiliki pesaing.
5. Masyarakat
Berbagai kelompok masyarakat juga termasuk dalam
lingkungan perusahaan. Bank sebagai masyarakat keuangan yang
mempengaruhi suatu perusahaan untuk memperoleh dana. PDAM
Tirta Pakuan Kota Bogor menjalin kerjasama dengan beberapa
bank seperti Bank Jabar, Bank BNI, Bank Mandiri dan Bank
NISP baik dalam hal perolehan dana maupun bentuk kerjasama
lainnya. Masyarakat pemerintah dalam lingkungan PDAM Tirta
Pakuan Kota Bogor seperti Pemda dan DPRD memberikan
dukungnya terhadap pengembangan PDAM. Namun, tidak kalah
pentingnya adalah masyarakat internal PDAM Tirta Pakuan Kota
Bogor seperti dewan direksi, kepala bagian, kepala sub bagian
dan karyawan pelaksana. Karena apabila karyawan merasa positif
mengenai perusahaannya, maka sikap ini akan mempengaruhi
masyarakat luar. Dengan demikian, akan berdampak pada
kemampuan perusahaan untuk mencapai sasarannya.
4.3.2. Lingkungan Makro Perusahaan
Lingkungan makro PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, yaitu :
1. Lingkungan Demografi
Lingkungan demografi berhubungan dengan kependudukan
dengan berbagai karakteristik, kecenderungan dan
58

diferensiasinya. Data mengenai populasi penduduk sangat penting


karena populasi atau orang yang membentuk pasar. Berdasarkan
hasil registrasi penduduk akhir tahun 2005 menunjukkan bahwa
jumlah penduduk Kota Bogor adalah sebanyak 855.085 jiwa,
terdiri dari 431.862 jiwa penduduk laki-laki dan 423.223 jiwa
penduduk perempuan. Jika dibandingkan dengan tahun 2004,
jumlah penduduk Kota Bogor telah bertambah sebanyak 23.514
jiwa atau sebesar 2,83 persen. Begitupun dengan jumlah rumah
tangga di Kota Bogor pada tahun 2005 yang mencapai 199.648
atau meningkat sebesar 2,72 persen dari tahun 2004. Jumlah
penduduk dan rumah tangga Kota Bogor dapat dilihat pada Tabel
14.
Tabel 14. Jumlah Penduduk dan Rumah Tangga Kota Bogor
Tahun Jumlah Penduduk Jumlah Rumah Tangga
2000 714.711 164.083
2001 760.329 179.663
2002 789.423 187.958
2003 820.707 188.533
2004 831.571 194.357
2005 855.085 199.648
Sumber : BPS Kota Bogor, 2006.
Meningkatnya jumlah penduduk dan rumah tangga di Kota
Bogor memberikan peluang yang baik bagi PDAM Tirta Pakuan
Kota Bogor untuk meningkatkan pendapatan. Hal ini dikarenakan
laju pertumbuhan penduduk dan rumah tangga yang cukup tinggi
berdampak pada meningkatnya permintaan air.
2. Lingkungan Ekonomi
Besarnya pendapatan yang diperoleh atau diterima rumah
tangga dapat menggambarkan kesejahteraan suatu masyarakat.
Namun, data pendapatan yang akurat sulit diperoleh sehingga
didekati melalui pengeluaran rumah tangga. Pengeluaran untuk
konsumsi makanan dan bukan makanan berkaitan erat dengan
tingkat pendapatan masyarakat. Pada tahun 2005, pengeluaran
rata-rata perkapita sebulan masyarakat Kota Bogor adalah sebesar
Rp. 357.616,00, terdiri dari Rp. 176.518,00 untuk pengeluaran
59

konsumsi makanan dan Rp. 181.098,00 untuk pengeluaran


konsumsi bukan makanan (BPS Kota Bogor, 2006).
Lebih besarnya pengeluaran konsumsi bukan makanan
dibandingkan pengeluaran konsumsi makanan, mengindikasikan
bahwa taraf hidup masyarakat Kota Bogor tinggi. Setelah
kebutuhan pokok terpenuhi, dilanjutkan pada pemenuhan
kebutuhan lainnya seperti perumahan, aneka barang dan jasa,
pendidikan, hiburan dan lain-lain. Dengan demikian, masyarakat
Kota Bogor memiliki kemampuan daya beli untuk konsumsi air
minum.
Jumlah rekening air yang diterbitkan oleh PDAM Tirta
Pakuan Kota Bogor terus meningkat. Peningkatan tersebut
disertai pula dengan efisiensi penagihan atau receivable turn over
yaitu jumlah pendapatan penjualan air terhadap piutang air rata-
rata. Efisiensi penagihan tahun 2005 adalah sebesar 9,24 kali atau
mengalami kenaikan dari tahun 2004 sebesar 1,97 kali. Penjualan
air tahun 2005 sebesar Rp.47.826.787.000,00 dan tingkat
perputaran piutang langganan air tahun 2005 sebesar 39 hari
menunjukkan bahwa modal yang tertanam pada piutang
langganan tahun 2005 lebih cepat sepuluh hari dibandingkan
tahun 2004. Efisiensi penagihan rekening air dari pelanggan tahun
2004 sampai tahun 2005 dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15. Efisiensi Penagihan Rekening Air Tahun 2004-2005
Dalam Ribuan Rupiah
Uraian
2004 2005
Penjualan Air 40.892.191 47.826.787
Piutang Air Rata-rata 5.621.723 5.179.700
Receivable turn Over (kali) 7,27 9,23
Average Collection Period (hari) 49,52 38,99
Sumber : PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, 2006.
Pada beberapa tahun sebelumnya, kondisi ekonomi
Indonesia tidak stabil, walaupun saat ini belum tercapai stabilitas
ekonomi nasional secara keseluruhan. Hal ini terlihat dengan
masih adanya beberapa sektor yang laju pertumbuhannya
60

mengalami penurunan pada tahun 2005 seperti sektor pertanian,


sektor listrik, gas dan air, sektor pengangkutan dan komunikasi
dan sektor jasa (BPS Kota Bogor, 2006). Kondisi perekonomian
yang tidak stabil dapat menjadi ancaman dalam menjalankan
kegiatan usaha.
Salah satu indikator makro ekonomi yang mendapatkan
perhatian serius dari pemerintah adalah tingkat inflasi. Tingkat
inflasi tahun 2006 adalah sebesar 6,60 persen (www.bi.go.id).
Namun pada tahun 2005, inflasi nasional mengalami kenaikan
yang cukup tajam yaitu 17,11 persen dibandingkan tahun 2004
yang hanya mencapai 6,40 persen. Tingginya tingkat inflasi
terutama dikarenakan kenaikan harga jual BBM. Kenaikan
tersebut disebabkan oleh meningkatnya harga minyak dunia dan
kebijakan pemerintah mengenai pengurangan subsidi BBM.
Pada bulan Oktober 2005, kenaikan harga BBM yang lebih
dari 100 persen berdampak pada meningkatnya harga seluruh
bahan kebutuhan pokok, barang non pokok dan juga jasa. Selain
itu, tarif dasar listrik pun mengalami kenaikan. Kenaikan harga
BBM dan TDL menyebabkan meningkatnya biaya produksi dan
operasional PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor yang akan
mempengaruhi penetapan tarif air minum kepada pelanggan dan
tingkat keuntungan perusahaan.
3. Lingkungan Alam
Lingkungan alam disekitar perusahaan berpengaruh
terhadap kegiatan produksi dan operasi perusahaan. Bagi PDAM
Tirta Pakuan Kota Bogor, kemudahaan untuk mendapatkan
sumber air dan letak daerah berpengaruh terhadap proses
pengolahan dan pendistribusian air. Sejauh ini, PDAM Tirta
Pakuan Kota Bogor tidak memiliki kesulitan dalam mendapatkan
sumber air, karena memiliki empat sumber air yang terdiri dari
mata air Kota Batu, mata air Bantar Kambing, mata air Tangkil
dan sungai Cisadane. Keempat sumber tersebut masih dapat
61

mencukupi kebutuhan air masyarakat Kota Bogor. Selain itu


Bogor yang letaknya berada di daerah pegunungan, mendukung
kegiatan pengolahan dan pendistribusian air karena wilayah
pendistribusian air dipilih melalui sistem gravitasi sehingga tidak
perlu dilalukan pemompanaan air yang akan dapat meningkatkan
biaya operasional.
4. Lingkungan Teknologi
Teknologi industri berkembang sangat cepat, terutama pada
teknologi pengolahan produk yang mampu meningkatkan kualitas
dan kuantitas produk. Proses pengolahan air PDAM Tirta Pakuan
Kota Bogor menggunakan teknologi semi modern dan
pengolahan lengkap (manual). Dalam kegiatan operasional
PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, sebagian sudah didukung oleh
sistem informasi manajemen yang berbasis komputer seperti
sistem komputer terintegrasi. Sistem tersebut terdiri dari CIS, LIS
dan EIS yang mampu melaksanakan pemantauan di semua bagian
dan otomatisasi semua data administrasi dan penagihan pelanggan
secara cepat dan tepat. Dengan demikian, teknologi yang terus
berkembang memberikan peluang bagi PDAM Tirta Pakuan Kota
Bogor karena pemanfaatan teknologi sangat membantu untuk
bekerja secara efektif dan efisien.
5. Lingkungan Politik / Hukum
Arah, kebijakan dan stabilitas politik pemerintah
merupakan faktor penting yang harus diperhatikan perusahaan.
Dalam hal pemanfaatan sumber daya air, pemerintah
mengeluarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7
tahun 2004 tentang sumber daya air. UU No. 7 tahun 2004
merupakan peraturan perundangan yang memberikan
perlindungan terhadap kepentingan kelompok masyarakat
ekonomi lemah dengan menerapkan prinsip pengelolaan sumber
daya air yang mampu menyelaraskan fungsi sosial, lingkungan
hidup dan ekonomi. Tindak lanjut dari penjabaran UU No. 7
62

tahun 2004, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah


Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2005 tentang pengembangan
sistem penyediaan air minum (SPAM).
Bagi PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, aspek politik Pemda
dan DPRD sangat kuat. Hal ini dikarenakan PDAM merupakan
perusahaan air minum milik daerah yang melayani daerah
tersebut. Sedangkan DPRD sebagai suatu lembaga yang mengatur
penetapan peraturan berpengaruh terhadap kegiatan dan kinerja
PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor. Namun, Pemda dan DPRD
sangat mendukung terhadap pengembangan PDAM karena
merupakan salah satu sumber pendapatan daerah.
6. Lingkungan Sosial / Budaya
Kondisi sosial masyarakat selalu berubah-ubah, sehingga
perusahaan harus tanggap terhadap perubahan tersebut.
Meningkatnya jumlah penduduk setiap tahun berdampak pada
berkembangnya sektor niaga karena adanya peningkatan
kebutuhan masyarakat seperti makanan, minuman dan pakaian.
Pada tahun 2005, jumlah pelanggan kelompok niaga PDAM Tirta
Pakuan Kota Bogor tercatat sebanyak 3.395 atau meningkat
sebesar 11,27 persen. Laju pertumbuhan sektor niaga memberikan
peluang bagi PDAM Tirta Pakuan Kota karena meningkatkan
jumlah pelanggan yang berpengaruh terhadap meningkatnya
pendapatan PDAM.
Namun, peningkatan jumlah pelanggan tidak diimbangi
dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam penggunaan
air. Hal ini dikarenakan masih adanya pemborosan air yang
dilakukan oleh pelanggan seperti membiarkan air meluap dari bak
mandi, mencuci kendaraan dengan air langsung dari kran dan
anak-anak yang bermain dengan alat penyemprot air. Pemborosan
air mengakibatkan pemanfaatan air menjadi tidak efisien. Oleh
karena itu, rendahnya kesadaran masyarakat dalam penggunaan
air dapat menjadi ancaman bagi PDAM.
63

4.4. Identifikasi Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman

Kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman diidentifikasi berdasarkan


hasil analisis lingkungan internal perusahaan dan analisis lingkungan
eksternal perusahaan. Setelah faktor-faktor tersebut diidentifikasi akan
menghasilkan berbagai alternatif strategi yang kemudian dipilih strategi yang
terbaik.
4.4.1. Kekuatan
Kekuatan yang dimiliki PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
antara lain :
1. Sistem organisasi berjalan sesuai dengan prosedur
Sistem organisasi yang berjalan sesuai dengan prosedur
akan mendukung pencapaian kinerja perusahaan yang baik. Pada
tahun 2006, kinerja PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor masuk
dalam klasifikasi baik dengan tiga aspek penilaian yaitu
keuangan, operasional dan administrasi. Selain itu, struktur satuan
pengendalian intern PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor baik
pengendalian organisasi dan kepegawaian, keuangan maupun
pengawasan sudah terbentuk, sehingga segala kegiatan dan
pelaksanaan tugas berpedoman pada ketentuan yang ada. Dengan
adanya pengendalian tersebut maka sistem organisasi PDAM
Tirta Pakuan Kota Bogor dapat berjalan sesuai dengan prosedur.
2. Marjin laba yang cukup baik
Tujuan didirikannya suatu perusahaan adalah untuk
memperoleh laba. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor sebagai
perusahaan daerah pun memiliki tujuan tersebut tetapi
memperoleh keuntungan yang wajar. Keuntungan yang wajar
adalah batas kewajaran tingkat keuntungan yang dapat ditorelansi
dalam penyelenggaraan penyediaan air minum dan sanitasi dalam
jangka waktu tertentu. Marjin laba PDAM Tirta Pakuan Kota
Bogor pada tahun 2006 mencapai 16,24 persen. Persentase
tersebut cukup baik karena masuk dalam kisaran tingkat marjin
laba yang wajar, yaitu antara 16 persen sampai kurang dari sama
64

dengan 20 persen. Marjin laba yang terus meningkat dapat


menambah pendapatan PDAM untuk membiayai kegiatan
operasional dan melunasi kewajiban perusahaan.
3. Penyedia tunggal air minum di Kota Bogor
PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor merupakan sebuah
perusahaan daerah yang memiliki wewenang dalam penyediaan
kebutuhan konsumsi air minum bagi masyarakat di Kota Bogor.
Dengan wewenang tersebut menjadikan PDAM sebagai penyedia
tunggal air minum di Kota Bogor, karena tidak ada perusahaan
lain yang mendapatkan wewenang tersebut.
4. Sumber air baku yang melimpah
Berdasarkan data tahun 2005 dan 2006, kapasitas produksi
dari IPA Cipaku dan IPA Dekeng mengalami peningkatan. Hal ini
menunjukkan bahwa sungai Cisadane sebagai sumbernya
memiliki air baku yang melimpah atau berlebih. Dengan sumber
air baku yang melimpah, PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor masih
dapat memenuhi kebutuhan air masyarakat Kota Bogor walaupun
setiap tahun pelanggan PDAM terus bertambah.
5. Kualitas air baku yang baik
Air permukaan yang dijadikan sebagai sumber air adalah
sungai Cisadane. Air baku diambil pada hulu sungai Cisadane
yang memiliki kualitas air baku yang baik. Kualitas air baku
diukur dengan menggunakan parameter berdasarkan Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 907/ Menkes/ SK/
VII/ 2002. Dengan adanya parameter tersebut maka air baku
PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor merupakan air yang berkualitas
dan sesuai dengan standar kesehatan.
6. Berorientasi pada pelaksanaan KASM dan ZAMP
PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor ditunjuk sebagai pilot
project untuk mengembangkan proyek Kran Air Siap Minum
(KASM). Zone Air Minum Prima (ZAMP) merupakan salah satu
pengembangan proyek KASM. Tidak semua PDAM dapat
65

menjalankan pengembangan proyek tersebut, saat ini hanya tiga


PDAM yang ditunjuk yaitu PDAM Malang, PDAM Medan dan
PDAM Kota Bogor. Berorientasi pada pelaksanaan KASM dan
ZAMP menjadikan kekuatan bagi PDAM Tirta Pakuan Kota
Bogor.
4.4.2. Kelemahan
Kelemahan yang dimiliki PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
antara lain :
1. Sumber daya manusia belum diberdayakan secara optimal
Berdasarkan perhitungan rasio karyawan pada tahun 2006
dengan jumlah karyawan PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
sebanyak 471 orang dan jumlah pelanggan sebanyak 72.924
orang, terdapat kelebihan karyawan sebanyak 33 orang. Namun,
kelebihan SDM tersebut belum diberdayakan secara optimal
karena masih saja terdapat kekurangan karyawan dibagian
tertentu seperti dibagian sumber, pengolahan dan laboratorium.
Selain itu, penempatan kerja atau posisi sesuai dengan latar
belakang pendidikan belum secara tepat. Hal tersebut dapat
menghambat jalannya kegiatan dan aktivitas PDAM karena
SDMmerupakan aspek penting bagi pertumbuhan dan
perkembangan perusahaan.
2. Beban hutang yang relatif besar
Beban hutang yang relatif besar menyebabkan semakin
banyak kewajiban yang harus diselesaikan oleh PDAM Tirta
Pakuan Kota Bogor. Beban hutang yang bertambah dikarenakan
kenaikan kewajiban lancar dan kewajiban lainnya. Dilihat dari
rasio keuangan jangka pendek seperti current ratio dan acid test
ratio terjadi penurunan dari tahun 2004 ke tahun 2005. Current
ratio yaitu rasio aktiva lancar terhadap kewajiban lancar
mengalami penurunan sebesar 14,38 persen dibandingkan tahun
2004. Hal ini dikarenakan adanya penurunan aktiva lancar dan
kenaikan kewajiban lancar. Acid test ratio pada tahun 2005
66

mengalami penurunan sebesar 15,67 persen dibandingkan dengan


tahun 2004. Sehingga likuiditas tahun 2005 kurang baik, karena
jumlah kewajiban lancar sebesar Rp.13.944.863.000,00 tidak
terpenuhi dengan aktiva lancar tanpa persedian sebesar
Rp.9.027.260.000,00. Hal tersebut pun membatasi ruang gerak
PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor dalam memanfaatkan pihak luar
untuk kebutuhan pengembangan.
3. Pelayanan air yang belum mencapai 24 jam secara merata
Titik yang terdapat ZAMP seperti Perumahan Tirta Pakuan,
Kelurahan Tajur, PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, Balai Kota
dan Kebun Raya merupakan daerah yang telah mendapatkan
pelayanan air 24 jam penuh. Hal ini dikarenakan daerah tersebut
dilalui oleh lebih dari satu zone distribusi sehingga apabila
terdapat masalah pada zone distribusi yang satu maka zone
distribusi yang lain dapat menggantikan. Walaupun begitu banyak
daerah lain yang hanya dilalui oleh satu zone distribusi sehingga
apabila terdapat masalah pada zone distribusi tersebut maka air
tidak akan mengalir.
4. Penurunan debit air pada sumber mata air
Berdasarkan data tahun 2005 dan 2006, terjadi penurunan
kapasitas produksi yang berasal dari sumber mata air yaitu pada
mata air Kota Batu sebanyak 7 liter per detik, mata air Bantar
Kambing sebanyak 8 liter per detik dan mata air Tangkil
sebanyak 5 liter per detik. Penurunan rata-rata sebanyak 7 liter per
detik dari ketiga sumber mata air tersebut dikarenakan debit air
pada sumber mata air mengalami penurunan. Penurunan tersebut
dapat diantisipasi dari sumber air baku di sungai Cisadane.
Namun, terjadi peningkatan biaya produksi karena air baku dari
sungai Cisadane harus melalui pengolahan terlebih dahulu, beda
hal dengan sumber mata air yang dapat langsung didistribusikan
kepada pelanggan tanpa proses pengolahan.
67

5. Tingkat kehilangan air yang cukup tinggi


Kehilangan air merupakan masalah utama bagi semua
PDAM di Indonesia, begitu pula yang dialami PDAM Tirta
Pakuan Kota Bogor. Berdasarkan data tahun 2000 sampai 2005,
persentase kehilangan air dari proses pengolahan sampai
pendistribusian kepada pelanggan mencapai kisaran 30 persen.
Persentase tersebut cukup tinggi karena jauh menyimpang dari
target yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah yaitu sebesar
25 persen. Kehilangan air merupakan kerugian bagi PDAM
karena dapat mengurangi pendapatan perusahaan.
6. Adanya daerah potensial yang berada diluar jaringan distribusi
Sebelum perluasan Kota Bogor, pelayanan PDAM Tirta
Pakuan Kota Bogor telah mencapai 76 persen dan jaringan pipa
distribusi sudah menjangkau hampir seluruh wilayah Kota Bogor.
Dengan adanya perluasan Kota Bogor maka ada pertambahan
daerah pelayanan bagi PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor. Namun,
daerah tersebut masih ada yang berada diluar jaringan distribusi
karena sebelum perluasan, daerah tersebut telah dilayani oleh
PDAM Kabupaten Bogor.

4.4.3. Peluang

Peluang yang dimiliki PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, antara


lain :
1. Laju pertumbuhan penduduk, rumah tangga dan sektor niaga yang
cukup tinggi
Berdasarkan hasil registrasi penduduk akhir tahun 2005
menunjukkan bahwa jumlah penduduk Kota Bogor adalah
sebanyak 855.085 jiwa. Jika dibandingkan dengan tahun 2004,
jumlah penduduk Kota Bogor telah bertambah sebanyak 23.514
jiwa atau sebesar 2,83 persen. Begitupun dengan jumlah rumah
tangga di Kota Bogor pada tahun 2005 yang mencapai 199.648
atau meningkat sebesar 2,72 persen dari tahun 2004.
68

Meningkatnya jumlah penduduk setiap tahun berdampak


pula pada berkembangnya sektor niaga. Pada tahun 2005, jumlah
pelanggan kelompok niaga PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
tercatat sebanyak 3.395 atau meningkat sebesar 11,27 persen.
Laju pertumbuhan penduduk, rumah tangga dan sektor niaga yang
cukup tinggi memberikan peluang bagi PDAM Tirta Pakuan Kota
karena berdampak pada meningkatnya permintaan air yang akan
berpengaruh terhadap meningkatnya pendapatan PDAM.
2. Pelanggan yang terdiri dari hampir seluruh golongan masyarakat
Air merupakan kebutuhan penting bagi manusia, tanpa air
manusia tidak dapat melangsungkan kehidupannya. Sebagian
besar pelanggan PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor adalah rumah
tangga yang terdiri dari hampir seluruh golongan masyarakat baik
golongan atas, menengah, maupun bawah. Pelanggan yang terdiri
dari hampir seluruh golongan masyarakat merupakan perwujudan
dari fungsi sosial PDAM yaitu dapat memenuhi kebutuhan semua
lapisan masyarakat dengan memberlakukan tarif air minum yang
disesuaikan dengan kondisi dan fungsi tempat pelanggan serta
adanya pelanggan yang tersubsidi.
3. Efisiensi penagihan rekening air yang cukup tinggi
Pengeluaran rata-rata perkapita sebulan masyarakat Kota
Bogor tahun 2005 adalah sebesar Rp. 357.616,00 dengan
pengeluaran yang lebih besar pada konsumsi bukan makanan
sebesar Rp. 181.098,00. Hal ini mengindikasikan bahwa taraf
hidup masyarakat Kota Bogor cukup tinggi artinya masyarakat
Kota Bogor tidak hanya mengalokasikan pendapatannya untuk
kebutuhan pokok tetapi juga kesadaran untuk pemenuhan
kebutuhan lainnya sudah cukup tinggi.
Hal ini merupakan peluang bagi PDAM Tirta Pakuan Kota
Bogor karena mengindikasikan bahwa masyarakat Kota Bogor
memiliki kemampuan daya beli untuk konsumsi air minum. Pada
tahun 2005, efisiensi penagihan atau receivable turn over yaitu
69

jumlah pendapatan penjualan air terhadap piutang air rata-rata


adalah sebesar 9,24 kali atau mengalami kenaikan sebesar 1,97
dan tingkat perputaran piutang langganan air tahun sebesar 39
hari atau lebih cepat sepuluh hari dibandingkan tahun 2004.
Efisiensi penagihan yang cukup tinggi menunjukkan kemampuan
pelanggan untuk membayar air. Oleh karena itu, pelanggan
memiliki kemampuan daya beli untuk konsumsi air minum.
4. Teknologi yang terus berkembang
Proses pengolahan air PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
menggunakan teknologi semi modern dan pengolahan lengkap
(manual). Dalam kegiatan operasional PDAM Tirta Pakuan Kota
Bogor, sebagian sudah didukung oleh sistem informasi
manajemen yang berbasis komputer. Teknologi yang terus
berkembang memberikan peluang bagi PDAM Tirta Pakuan Kota
Bogor karena pemanfaatan teknologi sangat membantu untuk
bekerja secara efektif dan efisien.
5. Pemda dan DPRD sangat mendukung terhadap pengembangan
PDAM
PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor merupakan perusahaan air
minum milik daerah yang melayani konsumsi air minum
masyarakat Kota Bogor. Sebagai perusahaan daerah, PDAM
sangat didukung oleh Pemda dan DPRD karena sebagai salah satu
sumber pendapatan daerah. Sebesar 55 persen dari modal PDAM
Tirta Pakuan Kota Bogor merupakan penyertaan modal
Pemerintah Daerah dan untuk DPRD yang mengatur peraturan
daerah seperti pengembangan sistem penyediaan air minum
(SPAM), peraturan pelayanan, serta mengenai hak dan kewajiban
PDAM dan pelanggan. Dukungan tersebut dibutuhkan dalam
pengembangan PDAM guna memberikan pelayanan yang lebih
baik kepada pelanggan.
70

6. Pembanding untuk PDAM di daerah lain


PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor sebagai perusahaan yang
bergerak dalam bidang pelayanan masyarakat sangat
memperhatikan aspek pelayanannya guna memuaskan pelanggan.
Hal ini dibuktikan dengan diperolehnya penghargaan dari
Presiden selama empat tahun berturut-turut dan penghargaan citra
pelayanan prima untuk penilaian pelayanan yang diberikan
kepada pelanggan. Selain itu, didukung pula dengan kualitas air
yang baik sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 907/ Menkes/ SK/ VII/ 2002. Dengan prestasi
tersebut, banyak PDAM daerah lain di Indonesia yang melakukan
studi banding ke PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor.
4.4.4. Ancaman
Ancaman yang dimiliki PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
antara lain :
1. Kondisi perekonomian yang tidak stabil dan tingkat inflasi
Saat ini stabilitas ekonomi nasional belum tercapai secara
keseluruhan. Pada tahun 2005, inflasi nasional mengalami
kenaikan yang cukup tajam yaitu 17,11 persen dibandingkan
tahun 2004 yang hanya mencapai 6,40 persen. Tingginya tingkat
inflasi terutama dikarenakan kenaikan harga jual BBM. Selain itu,
bukan hanya BBM yang mengalami kenaikan, tarif dasar listrik
pun mengalami kenaikan. Kenaikan harga BBM dan TDL
menyebabkan meningkatnya biaya produksi dan operasional
PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor yang akan mempengaruhi
penetapan tarif air minum kepada pelanggan. Pada tahun 2007
pun telah terjadi penyesuaian tarif. Kenaikan tarif air minum akan
dapat mempengaruhi daya beli masyarakat terhadap air.
2. Meningkatnya biaya produksi dan operasional akibat kenaikan
harga BBM dan TDL
Kebijakan pemerintah mengenai pengurangan subsidi BBM
dan kenaikan tarif dasar listrik berpengaruh terhadap biaya
71

produksi dan operasional PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor.


Berdasarkan data tahun 2005, tercatat biaya usaha sebesar
Rp.45.576.924.128,00 atau meningkat sebesar 16,68 persen
dibandingkan dengan tahun 2004, yaitu sebesar
Rp.39.060.069.212,00. Kenaikan harga BBM terkait pula dengan
meningkatnya harga minyak dunia. Kenaikan tersebut berdampak
pada meningkatnya harga seluruh bahan kebutuhan pokok, barang
non pokok dan juga jasa yang berakibat pada meningkat biaya
produksi dan operasional PDAM.
3. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam penggunaan air
Kesadaran masyarakat dalam penggunaan air masih rendah,
karena masih adanya pemborosan air yang dilakukan oleh
pelanggan rumah tangga. Pemborosan air menyebabkan
pemanfaatan air tidak efisien yang akan berpengaruh terhadap
jumlah pelanggan yang dapat dilayani oleh PDAM Tirta Pakuan
Kota Bogor.

4.5. Formulasi Alternatif Strategi Perusahaan

Setelah menganalisis dan mengidentifikasi kondisi lingkungan internal


dan eksternal perusahaan, tahap selanjutnya adalah perumusan strategi.
Perumusan strategi dilakukan melalui tiga tahapan yaitu tahap masukan yang
meliputi matriks IFE dan matriks EFE, tahap pencocokan yang meliputi
matriks IE dan matriks SWOT, serta tahap pengambilan keputusan dengan
menggunakan matriks QSPM.
4.5.1. Matriks IFE
Matriks IFE digunakan untuk mengetahui seberapa besar
peranan faktor-faktor internal yang terdapat pada perusahaan. Matriks
IFE disusun berdasarkan hasil identifikasi dari kondisi lingkungan
internal perusahaan berupa kekuatan dan kelemahan yang dimiliki
oleh PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor.
Kekuatan yang dimiliki perusahaan yaitu sistem organisasi
berjalan sesuai dengan prosedur, marjin laba yang cukup baik,
penyedia tunggal air minum di Kota Bogor, sumber air baku yang
72

melimpah, kualitas air baku yang baik dan berorientasi pada


pelaksanaan KASM dan ZAMP. Sedangkan kelemahan yang ada
pada perusahaan adalah sumber daya manusia yang belum
diberdayakan secara optimal, beban hutang hutang yang relatif besar,
pelayanan air belum mencapai 24 jam secara merata, penurunan debit
air pada sumber mata air, tingkat kehilangan air cukup tinggi dan
adanya daerah potensial yang berada diluar jaringan distribusi.
Berdasarkan hasil identifikasi faktor kekuatan dan kelemahan
yang dimiliki perusahaan, maka perhitungan pada matriks IFE dapat
dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Matriks IFE PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
Skor
Faktor Strategi Internal Bobot Rating
Terbobot
Kekuatan
1. Sistem organisasi berjalan sesuai dengan
0,101 3,00 0,303
prosedur
2. Marjin laba yang cukup baik 0,080 3,33 0,265
3. Penyedia tunggal air minum di Kota Bogor 0,078 3,33 0,261
4. Sumber air baku yang melimpah 0,074 3,33 0,248
5. Kualitas air baku yang baik 0,077 3,33 0,257
6. Berorientasi pada pelaksanaan KASM dan
0,078 3,00 0,235
ZAMP
Kelemahan
1. Sumber daya manusia belum diberdayakan
0,092 2,00 0,184
secara optimal
2. Beban hutang yang relatif besar 0,078 2,33 0,183
3. Pelayanan air yang belum mencapai 24 jam
0,097 2,67 0,259
secara merata
4. Penurunan debit air pada sumber mata air 0,072 2,67 0,192
5. Tingkat kehilangan air cukup tinggi 0,080 2,33 0,186
6. Adanya daerah potensial yang berada diluar
0,092 3,00 0,277
jaringan distribusi
Jumlah 1,000 2,849

Berdasarkan matriks IFE menunjukkan bahwa faktor kekuatan


PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor yang memiliki skor tertinggi adalah
sistem organisasi dapat berjalan sesuai dengan prosedur sebesar
0,303. Skor tertinggi menunjukkan faktor kekuatan tersebut
73

mempunyai pengaruh yang besar bagi PDAM Tirta Pakuan Kota


Bogor dalam pengembangan PDAM. Marjin laba yang cukup baik
mendapatkan skor sebesar 0,265 dan dengan skor 0,261 adalah
penyedia tunggal air minum di Kota Bogor karena hanya PDAM
Tirta Pakuan Kota Bogor yang diberikan wewenang oleh Pemerintah
Daerah dalam penyediaan kebutuhan konsumsi air minum bagi
masyarakat Kota Bogor. Kualitas air baku yang baik dengan
menggunakan parameter analisa berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 907/ Menkes/ SK/ VII/ 2002
dengan skor sebesar 0,257. Sumber air baku yang melimpah dan
berorientasi pada pelaksanaan KASM dan ZAMP mendapatkan skor
untuk masing-masing sebesar 0,248 dan 0,235.
Kelemahan utama yang dimiliki oleh PDAM Tirta Pakuan Kota
Bogor adalah beban hutang yang relatif besar dengan skor 0,183.
Hasil usaha perusahaan belum mampu melunasi hutang tepat waktu
dan memenuhi investasi aktiva tetap yang diperlukan oleh PDAM
Tirta Pakuan Kota Bogor. Kelemahan perusahaan lainnya adalah
sumber daya manusia yang belum diberdayakan secara optimal
dengan skor sebesar 0,184. Tingkat kehilangan air yang cukup tinggi
diakibatkan kurang baiknya kondisi meter air dan kebocoran pipa
dengan skor 0,186. Skor sebesar 0,192 adalah penurunan debit air
pada sumber mata air. Untuk sumber mata air sulit untuk
meningkatkan debit airnya bahkan dari tahun ke tahun semakin
menurun. Pelayanan air yang belum mencapai 24 jam secara merata
dengan skor sebesar 0,259. Adanya daerah potensial yang berada
diluar jaringan distribusi merupakan faktor kelemahan dengan skor
tertinggi sebesar 0,277.
Secara keseluruhan, total nilai skor terbobot dari enam
kekuatan dan enam kelemahan pada matriks IFE adalah sebesar
2,849. Dengan demikian, kondisi internal perusahaan berada di atas
nilai rata-rata yaitu 2,50. Berdasarkan total nilai terbobot tersebut
dapat disimpulkan bahwa PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor berada
74

pada posisi kuat dalam memanfaatkan kekuatan yang dimiliki dan


cukup mampu untuk mengatasi kelemahan.
4.5.2. Matriks EFE
Matriks EFE digunakan untuk mengetahui seberapa besar
pengaruh faktor-faktor eksternal yang dihadapi oleh perusahaan.
Matriks IFE disusun berdasarkan hasil identifikasi dari kondisi
lingkungan eksternal perusahaan berupa peluang dan ancaman yang
dihadapi oleh PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor. Hasil identifikasi dari
kondisi lingkungan eksternal diperoleh enam peluang dan tiga
ancaman. Berdasarkan hasil identifikasi faktor peluang dan ancaman
yang dihadapi oleh PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor dapat dilihat
pada Tabel 17.
Tabel 17. Matriks EFE PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
Skor
Faktor Strategis Eksternal Bobot Rating
Terbobot
Peluang
1. Laju pertumbuhan penduduk, rumah tangga
0,076 3,00 0,229
dan sektor niaga yang cukup tinggi
2. Pelanggan yang terdiri dari hampir seluruh
0,086 3,33 0,285
golongan masyarakat
3. Efisiensi penagihan rekening air cukup
0,137 2,67 0,364
tinggi
4. Teknologi yang terus berkembang 0,102 3,33 0,340
5. Pemda dan DPRD sangat mendukung
0,139 3,00 0,417
terhadap pengembangan PDAM
6. Pembanding untuk PDAM di daerah lain 0,086 3,33 0,285
Ancaman
1. Kondisi perekonomian yang tidak stabil dan
0,130 1,67 0,216
tingkat inflasi
2. Meningkatnya biaya produsi dan operasional
0,130 2,00 0,259
akibat kenaikan harga BBM dan TDL
3. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam
0,116 2,67 0,309
penggunaan air
Jumlah 1,000 2,704

Peluang yang dapat dimanfaatkan oleh PDAM Tirta Pakuan


Kota Bogor adalah laju pertumbuhan penduduk, rumah tangga dan
sektor niaga yang cukup tinggi, pelanggan yang terdiri dari hampir
seluruh golongan masyarakat, efisiensi penagihan rekening air cukup
75

tinggi, teknologi yang terus berkembang, Pemda dan DPRD sangat


mendukung terhadap pengembangan PDAM, pembanding untuk
PDAM di daerah lain. Sedangkan ancaman yang harus dihadapi oleh
PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor adalah kondisi perekonomian yang
tidak stabil dan tingkat inflasi, meningkatnya biaya produksi dan
operasional akibat kenaikan harga BBM dan TDL dan rendahnya
kesadaran masyarakat dalam penggunaan air.
Berdasarkan tabel matriks EFE, peluang utama bagi PDAM
Tirta Pakuan Kota Bogor adalah Pemda dan DPRD sangat
mendukung terhadap pengembangan PDAM dengan skor tertinggi
sebesar 0,417. Skor tertinggi menunjukkan bahwa dukungan dari
Pemda dan DPRD merupakan peluang besar bagi PDAM Tirta
Pakuan Kota Bogor, karena tanpa adanya dukungan dari keduanya
mungkin pengembangan PDAM dapat terhambat.
Skor sebesar 0,364 adalah efisiensi penagihan rekening air
cukup tinggi yang menunjukkan perputaran piutang air langganan.
Teknologi yang terus berkembang dengan skor 0,340. Pemanfaatan
teknologi sangat membantu untuk bekerja secara efektif dan efisien.
Pelanggan yang terdiri dari hampir seluruh golongan masyarakat dan
pembanding untuk PDAM di daerah lain mendapatkan skor yang
sama yaitu sebesar 0,285. Terakhir, peluang yang dapat dimanfaatkan
perusahaan adalah laju pertumbuhan penduduk, rumah tangga dan
sektor niaga yang cukup tinggi dengan skor 0,229.
Faktor ancaman utama bagi PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
adalah kondisi perekonomian yang tidak stabil dan tingkat inflasi
dengan skor sebesar 0,216. Dengan skor sebesar 0,259 adalah
meningkatnya biaya produksi dan operasional akibat kenaikan harga
BBM dan TDL. Faktor ancaman tersebut berdampak pada terjadinya
penyesuaian tarif air minum yang dilakukan oleh PDAM dan
penurunan daya beli masyarakat. Rendahnya kesadaran masyarakat
dalam penggunaan air dengan skor sebesar 0,309. Ancaman tersebut
menyebabkan pemanfaatan air tidak efisien yang akan berpengaruh
76

terhadap jumlah pelanggan yang dapat dilayani oleh PDAM Tirta


Pakuan Kota Bogor.
Secara keseluruhan, total nilai skor terbobot dari enam peluang
dan tiga ancaman pada matriks EFE adalah sebesar 2,704 atau berada
di atas nilai rata-rata yaitu 2,50. Berdasarkan total nilai terbobot
tersebut dapat disimpulkan bahwa PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
mampu merespon lingkungan eksternal perusahaan dengan
memanfaatkan peluang yang dimiliki perusahaan untuk menghadapi
ancaman.
4.5.3. Matriks IE
Matriks IE disusun berdasarkan hasil analisis faktor internal
dan faktor eksternal yang digabungkan dari matriks IFE dan matriks
EFE. Matriks IE PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor dapat dilihat pada
Gambar 6.
SKOR TOTAL IFE

Kuat Rata-rata Lemah


4,00 3,00 2,00 1,00
2.849

Tinggi I II III

3,00
SKOR TOTAL EFE

2.704

Rata-rata IV V VI

2,00

Rendah VII VIII IX

1,00

Gambar 6. Matriks IE PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor

Hasil analisis faktor internal menggunakan matriks IFE


diperoleh total nilai skor terbobot sebesar 2,849. Sedangkan hasil
77

analisis faktor eksternal menggunakan matriks EFE diperoleh total


nilai skor terbobot sebesar 2,704. Berdasarkan total nilai skor
terbobot dari matiks IFE dan EFE tersebut menempatkan PDAM
Tirta Pakuan Kota Bogor pada sel V dalam matriks IE. Strategi yang
dapat diambil pada posisi sel tersebut adalah Strategi Hold and
Maintain (Pertahankan dan Pelihara). Strategi terbaik yang dapat
dilakukan adalah strategi penetrasi pasar dan pengembangan produk.

4.5.4. Matriks SWOT


Matriks SWOT disusun berdasarkan hasil identifikasi faktor
internal dan faktor eksternal perusahaan, meliputi kekuatan dan
kelemahan yang dimiliki perusahaan serta peluang dan ancaman yang
dihadapi oleh perusahaan. Pemaduan faktor internal dan eksternal
perusahaan dalam matriks SWOT akan menghasilkan beberapa
alternatif strategi yang dapat digunakan oleh perusahaan. Matriks
SWOT dapat menghasilkan empat set kemungkinan alternatif strategi
yaitu strategi S-O, strategi S-T, strategi W-O dan strategi W-T.
Strategi yang dihasilkan dari matriks SWOT dapat dilihat pada Tabel
18.
Penjelasan yang lebih rinci mengenai strategi yang dihasilkan
dari matriks SWOT, adalah sebagai berikut :
1. Strategi S-O (Strenghts-Opportunity)
Strategi S-O adalah strategi yang menggunakan kekuatan
yang dimiliki perusahaan untuk memanfaatkan peluang yang ada.
Strategi S-O yang dihasilkan adalah melakukan pengembangan
usaha secara maksimal melalui penambahan kapasitas produksi
dan sambungan pelanggan baru guna meningkatkan pendapatan
perusahaan.
Strategi ini dilakukan dengan menggunakan kekuatan
internal PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor dan memanfaatkan
peluang yang ada. Kekuatan yang berupa sumber air baku yang
melimpah dan kualitas air baku yang baik serta peluang yang
berupa laju pertumbuhan penduduk, rumah tangga dan sektor
78

niaga yang cukup tinggi serta pelanggan yang terdiri dari hampir
seluruh golongan masyarakat mendukung penambahan kapasitas
produksi dan sambungan pelanggan baru. Perusahaan dapat
melakukan pengembangan usaha secara maksimal dengan
kekuatan perusahaan sebagai penyedia tunggal air minum di Kota
Bogor serta peluangnya berupa Pemda dan DPRD yang sangat
mendukung terhadap pengembangan PDAM.
2. Strategi W-O (Weaknesses-Opportunities)
Strategi W-O adalah strategi yang mengatasi atau
meminimalkan kelemahan yang dimiliki perusahaan untuk
memanfaatkan peluang yang ada diluar perusahaan. Strategi W-O
yang dihasilkan adalah penambahan modal dari investasi pihak
ketiga agar dapat meningkatkan penggunaan teknologi dalam
proses produksi, memperluas jaringan distribusi dan
meningkatkan kualitas SDM.
Strategi ini dilakukan untuk mengatasi atau meminimalkan
kelemahan yang dimiliki PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor.
Kelemahan yang ada berupa sumber daya manusia belum
diberdayakan secara optimal, pelayanan air yang belum mencapai
24 jam secara merata, tingkat kehilangan air yang cukup tinggi
dan adanya daerah potensial yang berada diluar jaringan
distribusi. Untuk mengatasi atau meminimalkan kelemahan
tersebut diperlukan suatu pendanaan yang besar, sehingga
perusahaan memerlukan penambahan modal dari investasi pihak
ketiga.
Peluang perusahaan yang ada dapat dimanfaatkan untuk
mengatasi atau meminimalkan kelemahan perusahaan. Pemda dan
DPRD yang sangat mendukung terhadap pengembangan PDAM
dan pembanding untuk PDAM di daearah lain menjadikan PDAM
Tirta Pakuan Kota Bogor masih mendapatkan kepercayaan untuk
memperoleh dana-dana dari pihak ketiga. Dengan adanya
penambahan modal, teknologi yang terus berkembang dapat
79

dimanfaatkan. Pemanfaatan teknologi sangat membantu untuk


bekerja secara efektif dan efisien.
3. Strategi S-T (Strenghts-Threaths)
Strategi S-T adalah strategi yang menggunakan kekuatan
perusahaan untuk mengatasi ancaman yang dihadapi oleh
perusahaan. Strategi S-T yang dihasilkan adalah meningkatkan
kualitas pelayanan air minum dengan melakukan inovasi produk,
mempertahankan hubungan baik dengan pelanggan dan menjalin
kerjasama dengan pihak luar.
Strategi ini diambil berdasarkan kekuatan yang dimiliki dan
ancaman yang dihadapi oleh PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor.
Kekuatan yang dimiliki adalah sistem organisasi berjalan sesuai
dengan prosedur, marjin laba yang cukup baik, penyedia tunggal
air minum di Kota Bogor dan berorientasi pada pelaksanaan
KASM dan ZAMP. Dengan kekuatan tersebut dapat mendukung
peningkatan kualitas pelayanan yang dapat memuaskan
pelanggan.
Ancaman yang berupa kondisi perekonomian yang tidak
stabil dan tingkat inflasi serta meningkatnya biaya produksi dan
operasional akibat kenaikan harga BBM dan TDL dapat
mengakibatkan terjadinya penyesuaian atau kenaikan tarif air
minum. Oleh karena itu, penyesuaian tersebut pun harus disertai
dengan peningkatan kualitas pelayanan air minum.
4. Strategi W-T (Weaknesses-Threaths)
Strategi W-T adalah strategi yang meminimalkan
kelemahan internal perusahaan dan menghindari ancaman.
Strategi W-T yang dihasilkan adalah :
1. Melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai
pentingnya air bersih dan cara penggunaan air yang baik dan
benar.
Strategi ini diambil sebagai tanggapan atas kelemahan
yang dimiliki perusahaan yaitu penurunan debit air pada
80

sumber mata air dan tingkat kehilangan air yang cukup tinggi
serta ancaman yang dihadapi perusahaan berupa rendahnya
kesadaran masyarakat dalam penggunaan air. Pemanfaatan air
yang tidak efisien akan berpengaruh terhadap jumlah
pelanggan yang dapat dilayani oleh PDAM Tirta Pakuan Kota
Bogor karena ketersediaan air berkurang. Oleh karena itu,
dengan sosialisasi tersebut diharapkan masyarakat menyadari
pentingnya air bagi kehidupan sehingga dapat memanfaatkan
air dengan sebaik-baiknya.
2. Melakukan efisiensi biaya produksi dan operasional dengan
pengoperasian secara efisien dan penggunaan dana yang
cermat dan tepat.
Strategi ini diambil berdasarkan kelemahan yang
dimiliki perusahaan berupa beban hutang yang relatif besar
dan ancaman yang dihadapi perusahaan yaitu kondisi
perekonomian yang tidak stabil dan tingkat inflasi serta
meningkatnya biaya produksi dan operasional akibat kenaikan
harga BBM dan TDL. Efisien dilakukan sebagai upaya untuk
meminimalkan pengaruh kenaikan biaya tersebut terhadap
penyesuaian tarif air minum. Sedangkan penggunaan dana
cermat dan tepat dilaksanakan untuk memprioritaskan
kegiatan atau aktivitas perusahaan yang dianggap penting
untuk dilakukan terlebih dahulu sehingga penggunaan dana
tepat pada sasaran.
81

Tabel 18. Matriks SWOT PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor


Kekuatan : Kelemahan :
1. Sistem organisasi berjalan 1. Sumber daya manusia
sesuai dengan prosedur belum diberdayakan
Faktor 2. Marjin laba yang cukup secara optimal
Internal baik 2. Beban hutang yang relatif
3. Penyedia tunggal air besar
minum di Kota Bogor 3. Pelayanan air yang belum
4. Sumber air baku yang mencapai 24 jam secara
melimpah merata
5. Kualitas air baku yang 4. Penurunan debit air pada
Faktor baik sumber mata air
Eksternal 6. Berorientasi terhadap 5. Tingkat kehilangan air
pelaksanaan KRAM dan yang cukup tinggi
ZAMP 6. Adanya daerah potensial
yang berada diluar
jaringan distribusi
Peluang : Strategi S-O Strategi W-O
1. Laju pertumbuhan
penduduk, rumah tangga S3, S4, S5, O1, O2 dan O5 W1, W3, W5, W6, O3, O4,
dan industri yang cukup O5 dan O6
tinggi
2. Pelanggan yang terdiri Melakukan pengembangan Penambahan modal dari
dari hampir seluruh usaha secara maksimal guna investasi pihak ketiga agar
golongan masyarakat meningkatkan pendapatan dapat :
3. Efisiensi penagihan perusahaan melalui : a. Meningkatkan penggunaan
rekening air yang tinggi a. Penambahan kapasitas teknologi dalam proses
4. Teknologi yang terus produksi produksi
berkembang b. Sambungan pelanggan baru b. Memperluas jaringan
5. Pemda dan DPRD sangat distribusi
mendukung terhadap c. Meningkatkan kualitas
pengembangan PDAM SDM
6. Pembanding untuk
PDAM di daerah lain
Ancaman : Strategi S-T Strategi W-T
1. Meningkatnya biaya
operasional akibat S1, S2, S3, S6, T1 dan T2 W4, W6 dan T3
kenaikan harga BBM dan
TDL Meningkatkan kualitas Melakukan sosialisasi kepada
2. Kondisi perekonomian pelayanan air minum dengan : masyarakat mengenai
yang tidak stabil dan a. Melakukan inovasi produk pentingnya air bersih dan cara
tingkat inflasi b. Mempertahankan hubungan penggunaan air yang baik dan
3. Rendahnya kesadaran baik dengan pelanggan benar.
masyarakat dalam c. Menjalin kerjasama dengan
penggunaan air pihak luar. W2, T1 dan T2

Melakukan efisiensi biaya


produksi dan operasinal
dengan pengoperasian secara
efisien dan penggunaan dana
yang cermat dan tepat.
82

4.5.5. Matriks QSPM


Tahap akhir dari analisis formulasi strategi adalah tahap
pengambilan keputusan yaitu pemilihan strategi terbaik menurut
prioritas dengan menggunakan matriks QSPM. Berdasarkan hasil
analisis matriks QSPM pada Lampiran 14 diperoleh prioritas strategi
yang paling tepat untuk dilakukan oleh perusahaan, yaitu :
1. Meningkatkan kualitas pelayanan air minum dengan melakukan
inovasi produk, mempertahankan hubungan baik dengan
pelanggan dan menjalin kerjasama dengan pihak luar dengan nilai
TAS sebesar 6,661.
2. Melakukan pengembangan usaha secara maksimal melalui
penambahan kapasitas produksi dan sambungan pelanggan baru
guna meningkatkan pendapatan perusahaan dengan nilai TAS
sebesar 6,652.
3. Penambahan modal dari investasi pihak ketiga agar dapat
meningkatkan penggunaan teknologi dalam proses produksi,
memperluas jaringan distribusi dan meningkatkan kualitas sumber
daya manusia dengan nilai TAS sebesar 6,444.
4. Melakukan efisiensi biaya produksi dan operasinal dengan
pengoperasian secara efisien dan penggunaan dana yang cermat
dan tepat dengan nilai TAS sebesar 6,386.
5. Melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya
air bersih dan cara penggunaan air yang baik dan benar dengan
nilai TAS sebesar 5,715.
Berdasarkan alternatif strategi yang diperingkatkan diatas
didapatkan bahwa strategi yang paling menarik untuk dilakukan oleh
perusahaan adalah strategi dengan nilai TAS tertinggi sebesar 6,661
yaitu meningkatkan kualitas pelayanan air minum dengan melakukan
inovasi produk, mempertahankan hubungan baik dengan pelanggan
dan menjalin kerjasama dengan pihak luar. Kebijakan pemerintah
mengenai kenaikan harga BBM dan TDL berdampak pada
meningkatnya biaya produksi dan operasional perusahaan sehingga
83

terjadi penyesuaian tarif air minum. Oleh karena itu, perusahaan


harus meningkatkan kualitas pelayanan air minum untuk kepuasan
pelanggan karena dengan adanya kenaikan tarif air minum, pelanggan
juga menuntut adanya peningkatan kualitas pelayanan yang lebih
baik.
KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya,


maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut :
1. Hasil identifikasi lingkungan PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, yaitu:
a. Hasil identifikasi lingkungan internal yang merupakan kekuatan
PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor adalah sistem organisasi berjalan
sesuai dengan prosedur, marjin laba yang cukup baik, penyedia
tunggal air minum di Kota Bogor, sumber air baku yang melimpah,
kualitas air baku yang baik dan berorientasi pada pelaksanaan KASM
dan ZAMP. Kelemahan yang dimiliki perusahaan adalah sumber daya
manusia belum diberdayakan secara optimal, beban hutang yang
relatif besar, pelayanan air minum yang belum mencapai 24 jam
secara merata, penurunan debit air pada sumber mata air, tingkat
kehilangan air yang cukup tinggi dan adanya daerah potensial yang
berada diluar jaringan ditribusi.
b. Hasil identifikasi lingkungan eksternal yang merupakan peluang bagi
PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor adalah laju pertumbuhan penduduk,
rumah tangga dan sektor niaga yang cukup tinggi, pelanggan yang
terdiri dari hampir seluruh golongan masyarakat, efisiensi penagihan
rekening air yang cukup tinggi, teknologi yang terus berkembang,
Pemda dan DPRD sangat mendukung terhadap pengembangan
PDAM dan pembanding untuk PDAM didaerah lain. Ancaman yang
dihadapi oleh perusahaan adalah kondisi perekonomian yang tidak
stabil dan tingkat inflasi, meningkatnya biaya produksi dan
operasional akibat kenaikan harga BBM dan TDL, serta rendahnya
kesadaran masyarakat dalam penggunaan air.
2. Berdasarkan analisis matriks SWOT diperoleh lima alternatif strategi,
yaitu melakukan pengembangan usaha secara maksimal melalui
penambahan kapasitas produksi dan sambungan pelanggan baru guna
85

meningkatkan pendapatan perusahaan, penambahan modal dari investasi


pihak ketiga agar dapat meningkatkan penggunaan teknologi dalam
proses produksi, memperluas jaringan distribusi dan meningkatkan
kualitas sumber daya manusia, meningkatkan kualitas pelayanan air
minum dengan melakukan inovasi produk, mempertahankan hubungan
baik dengan pelanggan dan menjalin kerjasama dengan pihak luar,
melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya air bersih
dan cara penggunaan air yang baik dan benar dan melakukan efisiensi
biaya produksi dan operasinal dengan pengoperasian secara efisien dan
penggunaan dana yang cermat dan tepat.
3. Berdasarkan hasil analisis matriks QSPM, prioritas strategi yang dapat
dilakukan perusahaan adalah meningkatkan kualitas pelayanan air minum
dengan melakukan inovasi produk, mempertahankan hubungan baik
dengan pelanggan dan menjalin kerjasama dengan pihak luar dengan nilai
TAS sebesar 6,661.

2. Saran

Saran-saran yang dapat diberikan kepada PDAM Tirta Pakuan Kota


Bogor, yaitu :
1. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor perlu meningkatkan pelayanan air 24
jam agar air selalu tersedia setiap saat dan mengurangi kemungkinan
terjadinya pencemaran dari luar apabila terjadi kebocoran pipa.
2. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor perlu menargetkan perluasan KASM
dan ZAMP pada seluruh zone distribusi dan penyediaan mobil tangki air
minum untuk mensuplai daerah yang belum terdapat jaringan distribusi
sebagai upaya meningkatkan nilai kualitas pelayanan.
3. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor dapat memberikan reward kepada
pelanggan yang membayar air pertama kali dan yang tidak pernah
terlambat membayar sebagai penghargaan dan guna memberikan citra
baik perusahaan kepada pelanggan.
4. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor diharapkan dapat memperluas daerah
serapan air serta terus melakukan penghijauan dan pelestarian dengan
cara penanaman pohon disekitar sumber mata air dan daerah aliran
86

sungai (DAS) guna mempertahankan dan meningkatkan debit air atau


pasokan dari sumber-sumber air tersebut.
5. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor harus terus melaksanakan kegiatan
pengawasan kualitas air minum yang diselenggarakan secara
berkesinambungan berupa pengamatan lapangan secara langsung dan
pengambilan sampel air baik air baku, sumber mata air, maupun pada
semua zone ditribusi.
6. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor dapat mencoba menerapkan teknologi
baru dalam pengolahan air baku yang disebut mikro hidrologi dengan
sedimentasi dan turbulasi untuk meminimalkan biaya bahan kimia dan
listrik.
7. PDAM Tirta Pakuan perlu untuk melakukan penambahan karyawan
terutama untuk bagian sumber, pengolahan dan laboratorium serta
memberikan pendidikan yang lebih tinggi dan pelatihan untuk
meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).
DAFTAR PUSTAKA

Arsanti, R. I. 2005. Analisis Formulasi Strategi Perusahaan Pada PT Hero


Supermarket, Tbk. Skripsi pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
Bogor.Bogor.

Badan Pusat Statistik Jawa Barat. 2006. Jawa Barat Dalam Angka 2006. Badan
Pusat Statistik Jawa Barat, Bandung.

Badan Pusat Statistik Kota Bogor. 2004. Kota Bogor Dalam Angka 2004. Badan
Pusat Statistik Kota Bogor, Bogor.

. 2006. Kota Bogor Dalam Angka 2006. Badan


Pusat Statistik Kota Bogor, Bogor.

David, F. R. 2004. Manajemen Startegis. Edisi 7. PT Indeks, Jakarta.

Dirgantoro, C. 2001. Manajemen Stratejik : Konsep, Kasus, dan Implementasi. PT


Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.

Kotler, P. 2000. Manajemen Pemasaran Edisi Millenium (Jilid I). Prenhallindo,


Jakarta.

dan Gary A. 1997. Dasar-dasar Pemasaran (Jilid 1). Edisi 7.


Terjemahan. Perhallindo, Jakarta.

Rangkuti, F. 2003. Analisis SWOT : Tehnik Membedah Kasus Bisnis. PT


Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

. 2005. Analisis SWOT : Tehnik Membedah Kasus Bisnis. PT


Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Saladin, D. 2004. Manajemen Pemasaran : Analisis, Perencanaan, Pelaksanaan,


dan Pengendalian. Linda Karya, Bandung.

Kamillah, A. Analisis Strategi Perusahaan PT PISMATEX Pekalongan. Skripsi


pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Mahpudin, S. Analisis Strategi Pemasaran Bola Tennis Di Pasar Domestik Oleh


PT Nassau Sport Indonesia. Skripsi pada Fakultas Ekonomi dan
Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Mulyadi. 2001. Manajemen Strategik Berbasis Balanced Scorecard. Salemba


Empat, Jakarta.
88

Tangkilisan, H. N. S. 2005. Manajemen Publik. PT Gramedia Widiasarana


Indonesia, Jakarta.

Umar, H. 2003. Studi Kelayakan Bisnis : Teknik Menganalisis Kelayakan


Rencana Bisnis secara Komprehensif. Edisi 2. PT Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.

. 2003. Strategic Management In Action. Gramedia Pustaka Utama,


Jakarta.

Vincent, G. 2004. Perencanaan Strategik Untuk Peningkatan Kinerja Sektor


Publik. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

http://www.pdamkotabogor.go.id [21 April 2007]

http://www.bi.go.id [24 Juni 2007]


Lampiran 1. Struktur Organisasi PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
90

Lampiran 2. Pengukuran Kinerja PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor Tahun 2006

Tahun 2006
No. Aspek Keuangan
Perhitungan % Nilai
Rasio laba terhadap aktiva produkstif
Laba sebelum pajak x 100 10.429.625.626 x 100 12,73 5
1. Aktiva Produktif 81.915.905.348
Nilai bonus
Laba produktif tahun ini – tahun lalu 12,73-10,48 2,25 1
Rasio laba terhadap penjualan
Laba sebelum pajak x 100 10.429.625.626 x 100 16,19 4
2. Penjualan 63.380.770.126
Nilai bonus
Laba produktif tahun ini – tahun lalu 16,19-15,36 0,83 1
Rasio aktiva lancar terhadap hutang lancar
3. Aktiva lancar 12.328.938.757 0,76 1
Hutang lancar 16.255.971.274
Rasio Hutang jangka panjang terhadap ekuitas
Hutang jangka panjang 0,47 5
4.
Ekuitas 18.709.531.698
46.343.548.888
Rasio total aktiva terhadap total hutang
5. Total aktiva 85.934.821.726 1,85 4
Total hutang 46.343.548.888
Rasio biaya operasi terhadap pendapatan operasional
Biaya operasi
6.
Pendapatan operasional 54.037.098.960 0,84 4
64.380.770.126
Rasio laba operasional sebelum penyusutan
7. Laba operasi sebelum penyusutan 17.548.343.530 1,48 3
(Angsuran pokok + Bunga) Jatuh Tempo 11.858.061.142
Rasio aktiva produktif terhadap penjualan air
8. Aktiva produktif 81.915.905.348 1,14 5
Penjualan air 58.180.630.650
Jangka waktu penagihan piutang
9. Piutang usaha 6.940.974.905 38,81 5
Penjualan/hari 178.855.216
Efektivitas penagihan
10. Rekening tertagih x 100 % 58.922.806.609 x 100 % 101,28 5
Penjualan air 58.180.630.650
Jumlah 43
43 x 45
Nilai Kinerja Keuangan 32,25
60
91

Lanjutan Lampiran 2.

Tahun 2006
No. Aspek Operasional
Perhitungan % Nilai
Cakupan pelayanan
Jumlah penduduk terlayani x 100 419.675 x 100 49,08 3
1. Jumlah penduduk 855.085
Nilai bonus
Cakupan pelayanan tahun ini – tahun lalu 49,08-48,28 0,8 1
2. Kualitas air ditribusi Memenui syarat air bersih 2
Kontuinitas air Semua pelanggan mendapat
3. 2
aliran 24 jam
Produktivitas pemanfaatan instalasi produksi
4. Kapasitas produksi x 100 1.204 x 100 94,80 4
Kapasitas terpasang 1.270
Tingkat kehilangan air
5. Jumlah M³ air yang didistribusikan- yang terjual x 100 35.656.525-24.723.264 x 100 30,66 2
Jumlah M³ air yang didistribusikan 35.656.525
Peneraan meter air
6. Jumlah pelanggan yang meter air ditera x 100 4.329 x 100 5,94 1
Jumlah seluruh pelanggan 72.924
7. Kecepatan penyambungan baru 5 hari kerja 2
Kemampuan penanganan pengaduan rata-rata
8. Jumlah pengaduan yang telah selesai ditangani x 100 15.754 x 100 99,94 2
Jumlah seluruh pengaduan 15.764
9. Kemudahan pelayanan Tersedia 2
Rasio karyawan per 1.000 pelanggan
10. Jumlah karyawan x 1.000 471 x 1.000 6,5 4
Jumlah pelanggan 72.624
Jumlah 25
25 x 40
Nilai Kinerja Keuangan 21,28
47

No. Aspek Administrasi Tahun 2006


1. Rencana jangka panjang (Corporate Plan) Dipedoman sebagian 3
2. Rencana organisasi dan uraian tugas Sepenuhnya dipedomani 4
3. Prosedur operasi standar Dipedomani sebagian 3
4. Gambar nyata laksana (As Build Drawing) Sepenuhnya dipedomani 4
5. Pedoman penilaian kerja karyawan Spenuhnya dipedomani 4
6. Rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) Dipedomani sebagian 3
7. Tertib laporan internal Dibuat tepat waktu 2
8. Tertib laporan eksternal Dibuat tepat waktu 2
9. Opini auditor independen Wajar tanpa pengecualian 4
10. Tindak lanjut hasil pemeriksaan tahun terakhir Ditindaklanjuti seluruhnya 3
Jumlah 32
32 x 15
Nilai Kinerja Keuangan 13,33
36
92

Lanjutan Lampiran 2.

Berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 47 tahun 1999 tanggal 31


Mei 1999, kinerja PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor Tahun 2006 termasuk baik
dengan nilai 66,86. Adapun rinciannya sebagai berikut :
Tahun 2006
Aspek
Nilai yang diperoleh Nilai Kinerja
Keuangan 43 32,25
Operasional 25 21,28
Administrasi 32 13,33
Jumlah 66,86
Lampiran 3. Sistem Penyediaan Air Minum
94

Lampiran 4. Diagram Alir Pengolahan

94
Responden 1

Faktor Strategis Eksternal


A B C D E F G H I Jumlah Bobot
Peluang
Laju pertumbuhan penduduk, rumah tangga, dan sektor niaga yang
A 3 1 1 1 2 1 1 1 11 0.076
cukup tinggi
Pelanggan yang terdiri dari hampir seluruh golongan masyarakat B 1 1 1 1 2 1 1 1 9 0.063
Efisiensi penagihan rekening air cukup tinggi C 3 3 2 2 3 2 2 2 19 0.132
Teknologi yang terus berkembang D 3 3 2 1 3 1 1 1 15 0.104
Pemda dan DPRD sangat mendukung terhadap pengembangan
E 3 3 2 3 3 3 3 3 23 0.160
PDAM
Pembanding untuk PDAM di daerah lain F 2 2 1 1 1 1 1 1 10 0.069
Ancaman
Kondisi perekonomian yang tidak stabil dan tingkat inflasi G 3 3 2 3 1 3 2 2 19 0.132
Meningkatnya biaya produksi dan operasional akibat kenaikan harga
H 3 3 2 3 1 3 2 2 19 0.132
BBM dan TDL
Rendahnya kesadaran masyarakat dalam penggunaan air I 3 3 2 3 1 3 2 2 19 0.132
Jumlah 21 23 13 17 9 22 13 13 13 144 1.000
Responden 2

Faktor Strategis Eksternal


A B C D E H I J L Jumlah Bobot
Peluang
Laju pertumbuhan penduduk, rumah tangga, dan sektor niaga yang
A 1 1 2 1 2 2 2 1 12 0.083
cukup tinggi
Pelanggan yang terdiri dari hampir seluruh golongan masyarakat B 3 1 2 2 2 2 2 2 16 0.111
Efisiensi penagihan rekening air cukup tinggi C 3 3 2 2 2 2 2 2 18 0.125
Teknologi yang terus berkembang D 2 2 2 2 2 2 2 2 16 0.111
Pemda dan DPRD sangat mendukung terhadap pengembangan
E 3 2 2 2 3 2 2 2 18 0.125
PDAM
Pembanding untuk PDAM di daerah lain F 2 2 2 2 1 2 2 2 15 0.104
Ancaman
Kondisi perekonomian yang tidak stabil dan tingkat inflasi G 2 2 2 2 2 2 2 2 16 0.111
Meningkatnya biaya produksi dan operasional akibat kenaikan harga
H 2 2 2 2 2 2 2 2 16 0.111
BBM dan TDL
Rendahnya kesadaran masyarakat dalam penggunaan air I 3 2 2 2 2 2 2 2 17 0.118
Jumlah 20 16 14 16 14 17 16 16 15 144 1.000
Responden 3

Faktor Strategis Eksternal


A B C D E F G H I Jumlah Bobot
Peluang
Laju pertumbuhan penduduk, rumah tangga, dan sektor niaga yang
A 1 1 2 1 2 1 1 1 10 0.069
cukup tinggi
Pelanggan yang terdiri dari hampir seluruh golongan masyarakat B 3 1 2 1 2 1 1 1 12 0.083
Efisiensi penagihan rekening air cukup tinggi C 3 3 3 3 3 2 2 3 22 0.153
Teknologi yang terus berkembang D 2 2 1 2 2 1 1 2 13 0.090
Pemda dan DPRD sangat mendukung terhadap pengembangan
E 3 3 1 2 3 2 2 3 19 0.132
PDAM
Pembanding untuk PDAM di daerah lain F 2 2 1 2 1 1 1 2 12 0.083
Ancaman
Kondisi perekonomian yang tidak stabil dan tingkat inflasi G 3 3 2 3 2 3 2 3 21 0.146
Meningkatnya biaya produksi dan operasional akibat kenaikan harga
H 3 3 2 3 2 3 2 3 21 0.146
BBM dan TDL
Rendahnya kesadaran masyarakat dalam penggunaan air I 3 3 1 2 1 2 1 1 14 0.097
Jumlah 22 20 10 19 13 20 11 11 18 144 1.000
Lampiran 6. Sumber Air dan Daerah Pengaliran
97

Lampiran 7. Klasifikasi Kelompok Pelanggan, Golongan Tarif, dan Besar Tarif


Air Minum
Besaran Tarif Air Minum
Kelompok
Golongan Tarif (Dalam Rupiah)
Pelanggan
0-10 m³ 11-20 m³ >20 m³
SU (Sosial Umum) yang terdiri dari terminal
air, hidran air, dan tempat ibadah (Mesjid,
I Gereja, Kuil, Vihara, Kelenteng, dan 250 300 400
sejenisnya).
SK (Sosial Khusus) yang terdiri dari panti
asuhan, yayasan sosial, sekolah negeri, rumah
II sakit pemerintah dan pusat kesehatan 450 700 1.100
masyarakat, asrama pelajar / mahasiswa, serta
pesantren dan madrasah.
RA (Rumah Tinggal A) yaitu pelanggan
rumah tinggal yang berlokasi di daerah padat
dan tidak tertata, dengan kondisi rumah sangat 600 850 2.150
sederhana, serta hanya berfungsi sebagai
tempat tinggal.
RB (Rumah Tinggal B) yaitu pelanggan
rumah tinggal yang berlokasi di kawasan yang
sudah tertata dengan baik, dengan kondisi
III 800 1.150 3.050
rumah sederhanan dan tidak mewah, serta
golongan Pelanggan RA yang mempunyai
kegiatan usaha.
IP (Instansi Pemerintah) yaitu Instansi /
Lembaga Pemerintah, TNI, POLRI, dan
lembaga non komersial seperti lembaga 1.600 3.800 4.500
pendidikan / diklat dan kursus dari instansi
pemerintah dan sejenisnya.
RC (Rumah Tinggal C) yaitu pelanggan
rumah tinggal dengan kondisi rumah mewah
1.250 2.500 4.250
dan RB yang mempunyai kegiatan usaha (di
luar kriteria golongan Pelanggan RA dan RB).
NK (Niaga Kecil) yaitu pelanggan dalam
kelompok komersial dengan kegiatan usaha/
niaga/industri kecil, antara lain perusahaan
berbentuk CV, Firma, Koperasi, perdagangan
umum, toko/ruko, biro jasa, pratek dokter,
apotek, rumah sakit swasta, pendidikan swasta, 2.800 3.900 6.000
warung telekomunikasi, bengkel kecil, industri
rumah tangga, sanggar seni, hotel tidak
IV berbintang, wisma, kamar mandi umum
komersial, rumah makan kecil, dan hidran
umum komersial.
NB (Niaga Besar) antara lain
importir/ekspotir, jasa ekspedisi, agen, pasar
swalayan, rumah sakit swasta tipe A/B, kolam
renang umum swasta, SPBU, distributor
(pedagang besar), dealer kendaraan bermotor,
3.950 5.500 7.250
hotel berbintang, rumah makan besar
(restoran), bengkel besar, pabrik, tempat
hiburan, industri perikanan, bioskop, toko/ruko
di jalan protokol, perusahaan berbentuk PT
Persero, perkayuan, dan pertambangan.
101

Lampiran 8. Kuesioner Penelitian Penentuan Bobot dan Rating Faktor Strategis


Internal dan Eksternal

KUESIONER PENELITIAN
PENENTUAN BOBOT DAN RATING FAKTOR STRATEGI INTERNAL
DAN FAKTOR STRATEGI EKSTERNAL

ANALISIS FORMULASI STRATEGI PADA


PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM (PDAM)
TIRTA PAKUAN KOTA BOGOR

IDENTITAS RESPONDEN

Nama : ………………….
Pekerjaan/Jabatan : ………………….
Alamat : ………………….

Diharapkan Bapak/Ibu dapat mengisi kuesioner ini secara objektif dan benar,
karena kuesioner ini adalah untuk penelitian skripsi dengan tujuan ilmiah

Peneliti :
Dian Suminnar
H24103059

DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2007
102

Lanjutan Lampiran 8.

PENENTUAN BOBOT

Tujuan :
Mendapatkan penilaian para responden mengenai faktor-faktor strategis internal
maupun eksternal yaitu dengan cara pemberian bobot mengenai seberapa besar
faktor strategis tersebut dapat mempengaruhi atau menentukan keberhasilan
perusahaan.

Petunjuk Umum :
1. Pengisian kuesioner dilakukan secara tertulis oleh responden.
2. Jawaban merupakan pendapat pribadi dari masing-masing responden.
3. Dalam Pengisian kuesioner, responden diharapkan untuk melakukan secara
langsung (tidak menunda) untuk menghindari inkonsistensi jawaban.
4. Responden berhak untuk menambahkan atau mengurangi hal-hal yang sudah
tercantum dalam kuesioner ini, dengan responden lainnya atau dengan
peneliti. Hal ini dibenarkan jika dilengkapi dengan alasan yang kuat.

Petunjuk Khusus :
1. Nilai diberikan pada perbandingan berpasangan antara dua faktor (vertikal –
horizontal) berdasarkan kepentingan atau pengaruhnya pada Perusahaan
Daerah Air Minum Tirta Pakuan Kota Bogor. Untuk menentukan bobot setiap
faktor digunakan skala 1, 2, dan 3 dengan keterangan skala sebagai berikut :
1 = Jika indikator vertikal kurang penting daripada indikator horizontal.
2 = Jika indikator vertikal sama penting daripada indikator horizontal.
3 = Jika indikator vertikal sangat penting daripada indikator horizontal.
2. Penentuan bobot merupakan pandangan masing-masing responden terhadap
faktor-faktor strategis internal dan eksternal.
103

Lanjutan Lampiran 8.

PENENTUAN RATING

Tujuan :
Mendapatkan penilaian para responden mengenai faktor-faktor strategis internal
maupun eksternal yaitu dengan cara pemberian rating terhadap seberapa besar
faktor tersebut dapat mempengaruhi atau membentuk keberhasilan perusahaan.
Petunjuk Umum :
1. Pengisian kuesioner dilakukan secara tertulis oleh responden.
2. Jawaban merupakan pendapat pribadi dari masing-masing responden.
3. Dalam Pengisian kuesioner, responden diharapkan untuk melakukan secara
langsung (tidak menunda) untuk menghindari inkonsistensi jawaban.
4. Responden berhak untuk menambahkan atau mengurangi hal-hal yang sudah
tercantum dalam kuesioner ini, dengan alasan yang jelas dan kuat.
5. Respoden dapat saja memiliki pandangan yang berbeda mengenai suatu faktor
dalam kuesioner ini, dengan responden atau dengan peneliti. Hal ini
dibenarkan jika disertai dengan alasan yang kuat.
Petunjuk Khusus :
1. Alternatif pemberian rating terhadap faktor-faktor strategis internal (kekuatan)
dan eksternal (peluang) yang bersifat positif adalah sebagai berikut :
1 = sangat lemah
2 = lemah
3 = kuat
4 = sangat kuat
Sedangkan untuk faktor-faktor strategis internal (kelemahan) dan faktor
strategis eksternal (ancaman) yang bersifat negatif adalah sebagai berikut :
1 = sangat sulit diatasi
2 = sulit diatasi
3 = mudah diatasi
4 = sangat mudah diatasi
104

Lanjutan Lampiran 8.

Pemberian rating masing-masing faktor strategis dilakukan dengan


memberikan ( √ ) pada tingkat kepentingan (1-4) yang paling sesuai menurut
responden.
2. Penentuan rating merupakan pandangan masing-masing responden terhadap
kemampuan kegiatan perusahaan PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor dalam
menghadapi faktor-faktor strategis internal dan eksternal perusahaan.

PENENTUAN RATING FAKTOR STRATEGIS INTERNAL

Faktor Strategis Internal Rating


Kekuatan 1 2 3 4
1. Sistem organisasi berjalan sesuai dengan prosedur
2. Marjin laba yang cukup baik
3. Penyedia tunggal air minum di Kota Bogor
4. Sumber air baku yang melimpah
5. Kualitas air baku yang baik
6. Berorientasi pada pelaksanaan KASM dan ZAMP
Kelemahan
1. Sumber daya manusia belum diberdayakan secara optimal
2. Beban hutang yang relatif besar
3. Pelayanan air yang belum mencapai 24 jam secara merata
4. Penurunan debit air pada sumber mata air
5. Tingkat kehilangan air cukup tinggi
6. Adanya daerah potensial yang berada diluar jaringan distribusi
Lanjutan Lampiran 8.

PENENTUAN BOBOT FAKTOR STRATEGIS INTERNAL

Faktor Strategis Internal


A B C D E F G H I J K L
Kekuatan
Sistem organisasi berjalan sesuai dengan prosedur A
Marjin laba yang cukup baik B
Penyedia tunggal air minum di Kota Bogor C
Sumber air baku yang melimpah D
Kualitas air baku yang baik E
Berorientasi pada pelaksanaan KASM dan ZAMP F
Kelemahan
Sumber daya manusia belum diberdayakan secara optimal G
Beban hutang yang relatif besar H
Pelayanan air yang belum mencapai 24 jam secara merata I
Penurunan debit air pada sumber mata air J
Tingkat kehilangan air cukup tinggi K
Adanya daerah potensial yang berada diluar jaringan distribusi L
Lanjutan Lampiran 8.

PENENTUAN BOBOT FAKTOR STRATEGIS EKSTERNAL

Faktor Strategis Eksternal


A B C D E H I J L
Peluang
Laju pertumbuhan penduduk, rumah tangga, dan sektor niaga yang cukup tinggi A
Pelanggan yang terdiri dari hampir seluruh golongan masyarakat B
Efisiensi penagihan rekening air cukup tinggi C
Teknologi yang terus berkembang D
Pemda dan DPRD sangat mendukung terhadap pengembangan PDAM E
Pembanding untuk PDAM di daerah lain F
Ancaman
Kondisi perekonomian yang tidak stabil dan tingkat inflasi G
Meningkatnya biaya produksi dan operasional akibat kenaikan harga BBM dan TDL H
Rendahnya kesadaran masyarakat dalam penggunaan air I
Lanjutan Lampiran 8.

PENENTUAN RATING FAKTOR STRATEGIS INTERNAL

Faktor Strategis Internal Rating


Kekuatan 1 2 3 4
1. Sistem organisasi berjalan sesuai dengan prosedur
2. Marjin laba yang cukup baik
3. Penyedia tunggal air minum di Kota Bogor
4. Sumber air baku yang melimpah
5. Kualitas air baku yang baik
6. Berorientasi pada pelaksanaan KASM dan ZAMP
Kelemahan
1. Sumber daya manusia belum diberdayakan secara optimal
2. Beban hutang yang relatif besar
3. Pelayanan air yang belum mencapai 24 jam secara merata
4. Penurunan debit air pada sumber mata air
5. Tingkat kehilangan air cukup tinggi
6. Adanya daerah potensial yang berada diluar jaringan distribusi
Lanjutan Lampiran 8.

PENENTUAN RATING FAKTOR STRATEGIS EKSTERNAL

Rating
Faktor Strategis Eksternal
1 2 3 4
Peluang
1. Laju pertumbuhan penduduk, rumah tangga, dan sektor niaga yang cukup tinggi
2. Pelanggan yang terdiri dari hampir seluruh golongan masyarakat
3. Efisiensi penagihan rekening air cukup tinggi
4. Teknologi yang terus berkembang
5. Pemda dan DPRD sangat mendukung terhadap pengembangan PDAM
6. Pembanding untuk PDAM di daerah lain
Ancaman
1. Kondisi perekonomian yang tidak stabil dan tingkat inflasi
2. Meningkatnya biaya produski dan operasional akibat kenaikan harga BBM dan TDL
3. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam penggunaan air
Lanjutan Lampiran 9.

PENENTUAN SKOR AS PADA FAKTOR STRATEGIS INTERNAL

Strategi 1 Strategi 2 Strategi 3 Strategi 4 Strategi 5


Faktor Strategi Internal
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Kekuatan
1. Sistem organisasi berjalan sesuai dengan prosedur
2. Marjin laba yang cukup baik
3. Penyedia tunggal air minum di Kota Bogor
4. Sumber air baku yang melimpah
5. Kualitas air baku yang baik
6. Berorientasi pada pelaksanaan KASM dan ZAMP
Kelemahan
1. Sumber daya manusia belum diberdayakan secara
optimal
2. Beban hutang yang relatif besar
3. Pelayanan air yang belum mencapai 24 jam secara
merata
4. Penurunan debit air pada sumber mata air
5. Tingkat kehilangan air cukup tinggi
6. Adanya daerah potensial yang berada diluar
jaringan distribusi
Lanjutan Lampiran 9.

PENENTUAN SKOR AS PADA FAKTOR STRATEGIS EKSTERNAL

Strategi 1 Strategi 2 Strategi 3 Strategi 4 Strategi 5


Faktor Strategis Eksternal
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Peluang
1. Laju pertumbuhan penduduk, rumah tangga, dan sektor
niaga yang cukup tinggi
2. Pelanggan yang terdiri dari hampir seluruh golongan
masyarakat
3. Efisiensi penagihan rekening air cukup tinggi
4. Teknologi yang terus berkembang
5. Pemda dan DPRD sangat mendukung terhadap
pengembangan PDAM
6. Pembanding untuk PDAM di daerah lain
Ancaman
1. Kondisi perekonomian yang tidak stabil dan tingkat
inflasi
2. Meningkatnya biaya produksi dan operasional akibat
kenaikan harga BBM dan TDL
3. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam penggunaan air
105

Lampiran 9. Kuesioner Penelitian Penentuan Strategi Terpilih dengan Matriks


QSPM

KUESIONER PENELITIAN
PENENTUAN STRATEGI TERPILIH DENGAN
QUANTITATIVE STRATEGY PALNNING MATRIX (QSPM)

ANALISIS FORMULASI STRATEGI PADA


PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM (PDAM)
TIRTA PAKUAN KOTA BOGOR

IDENTITAS RESPONDEN

Nama : ………………….
Pekerjaan/Jabatan : ………………….
Alamat : ………………….

Diharapkan Bapak/Ibu dapat mengissi kuesioner ini secara objektif dan benar,
karena kuesioner ini adalah untuk penelitian skripsidengan tujuan ilmiah

Peneliti :
Dian Suminnar
H24103059

DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2007
106

Lanjutan Lampiran 9.
PENENTUAN STRATEGI TERPILIH DENGAN QSPM

Tujuan :
Untuk mentapkan kemenarikan relatif (Relative Attractiveness) dari alternatif-
alternatif stratgei telah diperoleh melalui analisis strategi matriks SWOT dan
matriks IE, untuk menetapkan strategi yang terbaik untuk direkomendasikan
kepada perusahaan.

Alternatif strategi yang dihasilkan adalah :


1. Melakukan pengembangan usaha secara maksimal melalui penambahan
kapasitas produksi dan sambungan pelanggan baru guna meningkatkan
pendapatan perusahaan.
2. Penambahan modal dari investasi pihak ketiga agar dapat meningkatkan
penggunaan teknologi dalam proses produksi, memperluas jaringan distribusi,
dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).
3. Meningkatkan kualitas pelayanan air minum dengan melakukan inovasi
produk, mempertahankan hubungan baik dengan pelanggan, dan menjalin
kerjasama dengan pihak luar.
4. Melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya air bersih dan
cara penggunaan air yang baik dan benar.
5. Melakukan efisiensi biaya produksi dan operasional dengan pengoperasian
secara efisien dan penggunaan dana yang cermat dan tepat.

Petunjuk Pengisian :
Tentukan Attractiveness Score (AS) atau daya tarik dari masing-masing faktor
internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman)
untuk masing-masing alternatif strategi sebagaimana disebut diatas dengan cara
memberikan tanda (√) pada pilihan Bapak/Ibu. Pilihan Attractiveness Score (AS)
pada isian berikut terdiri dari :
1 = Tidak menarik
2 = Agak menarik
3 = Menarik
4 = Sangat menarik
Lampiran 10. Hasil Penentuan Bobot Faktor Strategis Internal

Responden 1

Faktor Strategis Internal


A B C D E F G H I J K L Jumlah Bobot
Kekuatan
Sistem organisasi berjalan sesuai dengan prosedur A 3 3 2 2 2 3 3 1 3 3 3 28 0.106
Marjin laba yang cukup baik B 1 3 1 1 3 1 2 1 3 1 1 18 0.068
Penyedia tunggal air minum di Kota Bogor C 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 11 0.042
Sumber air baku yang melimpah D 2 3 3 2 1 1 1 1 1 1 1 17 0.064
Kualitas air baku yang baik E 2 3 3 2 1 1 2 1 2 3 1 21 0.080
Berorientasi pada pelaksanaan KASM dan ZAMP F 2 1 3 3 3 3 3 2 3 3 3 29 0.110
Kelemahan
Sumber daya manusia belum diberdayakan secara optimal G 1 3 3 3 3 1 3 1 3 3 2 26 0.098
Beban hutang yang relatif besar H 1 2 3 3 2 1 1 1 3 3 2 22 0.083
Pelayanan air yang belum mencapai 24 jam secara merata I 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 32 0.121
Penurunan debit air pada sumber mata air J 1 1 3 3 2 1 1 1 1 3 1 18 0.068
Tingkat kehilangan air cukup tinggi K 1 3 3 3 1 1 1 1 1 1 1 17 0.064
Adanya daerah potensial yang berada diluar jaringan distribusi L 1 3 3 3 3 1 2 2 1 3 3 25 0.095
Jumlah 16 26 33 27 23 15 18 22 12 26 27 19 264 1.000
Lanjutan Lamipran 10.

Responden 2

Faktor Strategis Internal


A B C D E F G H I J K L Jumlah Bobot
Kekuatan
Sistem organisasi berjalan sesuai dengan prosedur A 2 3 2 3 3 2 3 2 2 2 1 25 0.095
Marjin laba yang cukup baik B 2 3 2 2 3 2 3 2 1 2 1 23 0.087
Penyedia tunggal air minum di Kota Bogor C 1 1 2 2 2 2 2 2 1 2 1 18 0.068
Sumber air baku yang melimpah D 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 1 20 0.076
Kualitas air baku yang baik E 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 21 0.080
Berorientasi pada pelaksanaan KASM dan ZAMP F 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 20 0.076
Kelemahan
Sumber daya manusia belum diberdayakan secara optimal G 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 22 0.083
Beban hutang yang relatif besar H 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 20 0.076
Pelayanan air yang belum mencapai 24 jam secara merata I 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 22 0.083
Penurunan debit air pada sumber mata air J 2 3 3 3 2 2 2 2 2 2 2 25 0.095
Tingkat kehilangan air cukup tinggi K 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 22 0.083
Adanya daerah potensial yang berada diluar jaringan distribusi L 3 3 3 3 2 2 2 2 2 2 2 26 0.098
Jumlah 19 21 26 24 23 24 22 24 22 19 22 18 264 1.000
Lanjutan Lampiran 10.

Responden 3

Faktor Strategis Internal


A B C D E F G H I J K L Jumlah Bobot
Kekuatan
Sistem organisasi berjalan sesuai dengan prosedur A 2 1 3 3 3 2 3 3 3 2 2 27 0.102
Marjin laba yang cukup baik B 2 1 2 2 3 1 2 2 3 2 2 22 0.083
Penyedia tunggal air minum di Kota Bogor C 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 33 0.125
Sumber air baku yang melimpah D 1 2 1 2 3 2 2 1 3 2 3 22 0.083
Kualitas air baku yang baik E 1 2 1 2 3 1 2 1 2 2 2 19 0.072
Berorientasi pada pelaksanaan KASM dan ZAMP F 1 1 1 1 1 1 2 1 2 1 1 13 0.049
Kelemahan
Sumber daya manusia belum diberdayakan secara optimal G 2 3 1 2 3 3 2 3 2 2 2 25 0.095
Beban hutang yang relatif besar H 1 2 1 2 2 2 2 2 3 1 2 20 0.076
Pelayanan air yang belum mencapai 24 jam secara merata I 1 2 1 3 3 3 1 2 3 2 2 23 0.087
Penurunan debit air pada sumber mata air J 1 1 1 1 2 2 2 1 1 1 1 14 0.053
Tingkat kehilangan air cukup tinggi K 2 2 1 2 2 3 2 3 2 3 2 24 0.091
Adanya daerah potensial yang berada diluar jaringan distribusi L 2 2 1 1 2 3 2 2 2 3 2 22 0.083
Jumlah 17 22 11 22 25 31 19 24 21 30 20 22 264 1.000
Lampiran 12. Hasil Penentuan Rating Faktor Strategis Internal

Faktor Strategis Internal Responden


Jumlah Rating
Kekuatan R1 R2 R3
1. Sistem organisasi berjalan sesuai dengan prosedur 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00
2. Marjin laba yang cukup baik 3.00 3.00 4.00 10.00 3.33
3. Penyedia tunggal air minum di Kota Bogor 3.00 3.00 4.00 10.00 3.33
4. Sumber air baku yang melimpah 2.00 4.00 4.00 10.00 3.33
5. Kualitas air baku yang baik 3.00 3.00 4.00 10.00 3.33
6. Berorientasi pada pelaksanaan KASM dan ZAMP 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00
Kelemahan
1. Sumber daya manusia belum diberdayakan secara optimal 2.00 2.00 2.00 6.00 2.00
2. Beban hutang yang relatif besar 2.00 3.00 2.00 7.00 2.33
3. Pelayanan air yang belum mencapai 24 jam secara merata 2.00 3.00 3.00 8.00 2.67
4. Penurunan debit air pada sumber mata air 2.00 3.00 3.00 8.00 2.67
5. Tingkat kehilangan air cukup tinggi 2.00 3.00 2.00 7.00 2.33
6. Adanya daerah potensial yang berada diluar jaringan distribusi 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00

Keterangan :
Responden 1 (R1) = Kabag Keuangan
Responden 2 (R2) = Kabag Produksi
Responden 3 (R3) = Kabag SDM
Lampiran 13. Hasil Penentuan Rating Faktor Strategis Eksternal

Responden
Faktor Strategis Eksternal Jumlah Rating
1 2 3
Peluang
1. Laju pertumbuhan penduduk, rumah tangga, dan sektor niaga yang cukup tinggi 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00
2. Pelanggan yang terdiri dari hampir seluruh golongan masyarakat 3.00 4.00 3.00 10.00 3.33
3. Efisiensi penagihan rekening air cukup tinggi 2.00 3.00 3.00 8.00 2.67
4. Teknologi yang terus berkembang 4.00 3.00 3.00 10.00 3.33
5. Pemda dan DPRD sangat mendukung terhadap pengembangan PDAM 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00
6. Pembanding untuk PDAM di daerah lain 3.00 3.00 4.00 10.00 3.33
Ancaman
1. Kondisi perekonomian yang tidak stabil dan tingkat inflasi 2.00 2.00 1.00 5.00 1.67
2. Meningkatnya biaya produksi dan operasional akibat kenaikan harga BBM dan TDL 2.00 2.00 2.00 6.00 2.00
3. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam penggunaan air 2.00 3.00 3.00 8.00 2.67

Keterangan :
Responden 1 (R1) = Kabag Keuangan
Responden 2 (R2) = Kabag Produksi
Responden 3 (R3) = Kabag SDM
Lampiran 14. Hasil Penentuan Strategi Terpilih dengan Matriks QSPM

Strategi 1 Strategi 2 Strategi 3 Strategi 4 Strategi 5


Faktor Kunci Bobot
AS TAS AS TAS AS TAS AS TAS AS TAS
Peluang
1. Laju pertumbuhan penduduk, rumah tangga, dan sektor niaga yang cukup tinggi 0.076 3.00 0.229 3.33 0.255 3.33 0.255 3.00 0.229 2.67 0.204
2. Pelanggan yang terdiri dari hampir seluruh golongan masyarakat 0.086 3.67 0.314 2.67 0.228 3.33 0.285 2.33 0.200 2.00 0.171
3. Efisiensi penagihan rekening air cukup tinggi 0.137 3.67 0.501 3.33 0.455 3.67 0.501 2.33 0.319 3.33 0.455
4. Teknologi yang terus berkembang 0.102 3.00 0.306 3.00 0.306 3.67 0.373 2.33 0.238 4.00 0.407
5. Pemda dan DPRD sangat mendukung terhadap pengembangan PDAM 0.139 4.00 0.556 4.00 0.556 3.67 0.509 3.00 0.417 2.67 0.370
6. Pembanding untuk PDAM di daerah lain 0.086 2.67 0.228 2.67 0.228 2.67 0.228 3.00 0.257 3.33 0.285
Ancaman
1. Kondisi perekonomian yang tidak stabil dan tingkat inflasi 0.130 3.00 0.389 3.33 0.432 3.67 0.475 3.33 0.432 3.67 0.475
2. Meningkatnya biaya produksi dan operasional akibat kenaikan harga BBM dan TDL 0.130 3.33 0.432 3.67 0.475 3.00 0.389 2.00 0.259 4.00 0.519
3. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam penggunaan air 0.116 2.67 0.309 3.67 0.424 4.00 0.463 3.67 0.424 3.00 0.347
Kekuatan
1. Sistem organisasi berjalan sesuai dengan prosedur 0.101 3.33 0.337 3.67 0.370 2.67 0.269 2.33 0.236 3.33 0.337
2. Marjin laba yang cukup baik 0.080 4.00 0.318 3.33 0.265 2.67 0.212 2.33 0.186 3.67 0.292
3. Penyedia tunggal air minum di Kota Bogor 0.078 3.33 0.261 3.33 0.261 3.00 0.235 2.33 0.183 2.67 0.209
4. Sumber air baku yang melimpah 0.074 3.67 0.273 3.00 0.223 3.33 0.248 3.00 0.223 3.00 0.223
5. Kualitas air baku yang baik 0.077 3.67 0.282 3.00 0.231 3.67 0.282 3.33 0.257 3.00 0.231
6. Berorientasi pada pelaksanaan KASM dan ZAMP 0.078 3.33 0.261 3.00 0.235 3.33 0.261 4.00 0.313 3.00 0.235
Kelemahan
1. Sumber daya manusia belum diberdayakan secara optimal 0.092 2.67 0.246 2.67 0.246 3.33 0.307 3.00 0.277 3.33 0.307
2. Beban hutang yang relatif besar 0.078 3.00 0.235 2.67 0.209 3.00 0.235 2.33 0.183 4.00 0.313
3. Pelayanan air yang belum mencapai 24 jam secara merata 0.097 3.67 0.356 3.67 0.356 3.33 0.324 3.33 0.324 3.33 0.324
4. Penurunan debit air pada sumber mata air 0.072 3.00 0.216 2.33 0.168 3.33 0.240 3.33 0.240 2.67 0.192
5. Tingkat kehilangan air cukup tinggi 0.080 3.33 0.265 2.67 0.212 3.67 0.292 2.67 0.212 2.67 0.212
6. Adanya daerah potensial yang berada diluar jaringan distribusi 0.092 3.67 0.338 3.33 0.307 3.00 0.277 3.33 0.307 3.00 0.277
Jumlah 6.652 6.444 6.661 5.715 6.386