P. 1
MENGGALI POTENSI LEMBATA SEBAGAI LOKASI WISATA BUADAYA

MENGGALI POTENSI LEMBATA SEBAGAI LOKASI WISATA BUADAYA

|Views: 547|Likes:
Dipublikasikan oleh Taum Yapi Yoseph
Lembata memiliki banyak sekali potensi wisata, baik wisata alam dan budaya. Sudah saatnya potensi itu diwujudkan dalam program-program nyata untuk meningkatkan taraf kehidupan ekonomi masyarakat Lembata
Lembata memiliki banyak sekali potensi wisata, baik wisata alam dan budaya. Sudah saatnya potensi itu diwujudkan dalam program-program nyata untuk meningkatkan taraf kehidupan ekonomi masyarakat Lembata

More info:

Published by: Taum Yapi Yoseph on Oct 25, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/13/2011

pdf

text

original

MENGGALI POTENSI LEMBATA SEBAGAI KAWASAN WISATA BUDAYA

*)
Oleh: Yoseph Yapi Taum
Pengantar Pemberlakuan UU Nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan UU Nomor 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah membawa dampak yang sangat besar dalam program perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di daerah. Sesuai dengan semangat dan jiwa UU tersebut, maka daerah-daerah diharapkan akan lebih mampu memenuhi kebutuhan daerahnya sendiri. Karena itu, mau tidak mau daerah harus benar-benar diberdayakan dengan mencari dan menggali sumber-sumber pendapatan yang sesuai dengan potensi daerah tersebut. Pulau Lembata memiliki potensi yang sangat besar di bidang kepariwisataan, yang dapat digali dan dikembangkan sebagai salah satu sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat sekaligus sumber pemasukan bagi pembangunan daerah Tk. II Lembata. Berbagai aset potensi kepariwisataan itu memenuhi unsur-unsur pokok daya tarik pariwisata, yakni: keindahan alam (natural beauty), keaslian (originality), kelangkaan (scarcity) dan keutuhan (wholesomeness). Apabila daya tarik tersebut dikemas dan dipersiapkan secara profesional menjadi paket-paket perjalanan yang menarik bagi wisatawan mancanegara maupun nusantara, maka limpahan karunia tersebut merupakan satu anugerah dari Tuhan bagi Lewotanah Lembata tercinta. Tulisan ini bermaksud mengungkapkan berbagai aspek yang berkaitan dengan upaya menggali potensi Lembata sebagai kawasan wisata budaya. Fokus perhatian pada pariwisata Lembata hanya karena Lembata merupakan Kabupaten Bungsu di Flores. Pariwisata Flores dan Lembata Jika Lembata dikatakan memiliki potensi dan prospek yang besar di bidang pariwisata, itu bukanlah pandangan „putra daerah‟ yang memiliki ikatan emosional yang tinggi dengan tanah kelahirannya. Kenyataan tersebut justru diungkapkan oleh Tim Konsorsium ITB, UGM, dan UI (1996/1997) yang semua anggotanya adalah “orang luar” daerah Lembata dan Flores umumnya. Hal ini terungkap dalam laporan penelitian mereka berjudul Studi Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional Tahap II 1996/1997, Buku 3 Kawasan Flores. Dalam buku itu disebutkan bahwa Kawasan Flores merupakan salah satu dari enam kawasan terpilih untuk dikembangkan sebagai andalan pariwisata nasional. Enam kawasan yang rencananya akan dikembangkan sebagai kawasan terpilih itu adalah (1) Kawasan Danau Toba dalam konteks IMTGT, (2) Kawasan Surabaya dalam konteks wisata kota, (3) Kawasan Flores, (4) Kawasan Balikpapan-Samarinda-Mahakam, (5) Kawasan Ambon Seram, dan (6) Kawasan Biak.

Hasil studi tim konsorsium tersebut secara umum telah mengangkat keunikan masing-masing wilayah tersebut sebagai tujuan wisata untuk segmen-segmen pasar potensial sebagai „destinasi-destinasi‟ yang mandiri tetapi tidak terlepas satu dengan yang lain. Dalam kaitannya dengan Flores, studi itu telah merumuskan „struktur tata ruang kawasan Flores‟ yang dibagi dalam tujuh cluster. Kluster itu didasarkan pada keragaman objek dan daya tarik, bentangan alam, topografi, hawa dan jumlah objek daya tarik dan keunikan objek daya tarik yang ada di lokasi tersebut. Berdasarkan kriteria ini, maka kawasan Flores dibagi kluster-kluster sebagai berikut: (1) Lembata dan kepulauan di sekitarnya; (2) Teluk Maumere; (3) Moni; (4) Ende dan sekitarnya; (5) Riung; (6) Bajawa dan sekitarnya; (7) Pulau Komodo dan sekitarnya. Khusus menyangkut objek-objek pariwisata di Kluster Lembata dan kepulauan sekitarnya, Tim Konsorsium membuat catatan sebagai berikut. Yang disebut Kluster Lembata adalah seluruh wilayah “Kabupaten Flores Timur lama”, jadi meliputi kepulauan-kepulauan di sekitar Flores Timur, Adonara, Solor dan Lembata sendiri. Sebagai pusat kluster ini adalah Lembata. Pemilihan Lembata sebagai pusat disebabkan karena objek dan daya tarik yang ada di daerah ini paling banyak, paling lengkap dan beragam untuk kawasan timur pulau Flores. Selain itu terdapat dua daya tarik wisata yang sangat unik, yaitu pesta kacang dan perburuan ikan paus. Pada cluster Lembata dan kepulauan sekitarnya ini ada berbagai macam objek dan daya tarik wisata yang termasuk lengkap persebaran objek dan daya tarik, mulai dari objek wisata gunung hingga dasar laut. Jenis objek wisata pun cukup lengkap, ada wisata alam, budaya, sejarah, hanya objek wisata buatan yang tidak tersedia. Dalam kluster ini, objek dan daya tarik wisata sangat banyak, bahkan lebih banyak dari cluster-cluster lainnya, demikian juga keunikannya. Di cluster ini terdapat dua daya tarik wisata utama, yaitu perburuan ikan paus dan pesta kacang (keduanya ada di Lembata). Namun kekurangan kluster ini adalah objek dan daya tarik wisata yang ada di kluster ini masih sangat sulit dijangkau, bahkan dapat dikatakan belum tersentuh sama sekali. Untuk objek wisata budaya dan daya tarik wisata dengan latar belakang budaya, masih merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat setempat. Karena masih minimnya sarana dan prasarana untuk mencapai objek dan daya tarik wisata kluster ini maka nilainya kurang dibandingkan dengan kluster lainnya. “Perlu menjadi catatan bahwa kluster (Lembata) ini menyimpan potensi objek dan daya tarik yang sangat besar” (Tim Konsorsium, 1997: III 1-6). Secara khusus untuk daerah tingkat II Kabupaten Lembata, ada 4 objek wisata budaya (dan wisata alam) yang dikemukakan Tim Konsorsium sebagai pelopor pariwisata Lembata, yakni: Ile Ape, Waienga, Tapolango dan Lamalera (Lihat Lampiran 1). Keindahan pemandangan alam sebagai gabuangan antara laut dan pegunungan Uyalewu di Kedang belum disinggung sebagai sebuah objek wisata alam dan wisata budaya yang menarik, dengan suguhan tarian dana yang sangat terkenal itu. “Wisata Jurang” dapat dipromosikan di beberapa tempat di Lembata, misalnya di antara Belek dengan Bakan, Mudalerek, Lewuka dan Ataili. Kiranya masih banyak objek wisata alam, wisata sejarah dan wisata budaya yang belum diidentifikasi oleh Tim Konsorsium ini. Apabila potensi ini ingin digali sungguh-sungguh, maka diperlukan sebuah strategi pemberdayaan industri pariwisata kerakyatan yang perlu (1) melibatkan partisipasi seluruh lapisan masyarakat Lembata dalam perencanaan dan pelaksanaan program industri pariwisata, dan (2) menemukan sebuah model manajemen pariwisata kerakyatan yang tidak hanya menguntungkan kalangan masyarakat tertentu saja (pemilik modal) tetapi benar-benar memberdayakan ekonomi masyarakat kebanyakan.. Halaman 2

3. Industri Wisata Budaya a) Pengertian Menurut UU Kepariwisataan No. 9 Tahun 1990, objek dan daya tarik wisata dapat digolongkan atas tiga jenis, yakni: objek dan daya tarik wisata alam, wisata budaya, dan wisata khusus. Yang termasuk ke dalam kelompok pengusahaan objek dan daya tarik wisata budaya adalah: 1) peninggalan sejarah (misalnya candi, kraton dan prasasti), 2) museum (misalnya: museum wayang, prangko, kereta api), 3) pusat-pusat kesenian dan budaya (misalnya: sanggar tari, sanggar seni pentas, sanggar seni lukis), 4) taman rekreasi (misalnya: Taman Impian Jaya Ancol, Taman Mini Indonesia Indah), 5) tempat hiburan (misalnya: wayang orang Sriwedari), 6) taman satwa (misalnya: kebun binatang, Taman Safari, dan Taman Budaya), dan 7) monumen (misalnya: monumen nasional, monumen perjuangan, monumen Yogya Kembali). John King dari Global Tourism and Leisure pada forum sehari What‟s News, What‟s New, and What Next yang diselenggarakan dalam rangkaian Bali Travel Marrt di Nusa Dua, Juni 1999 mengingatkan, Indonesia akan berhadapan dengan karakter wisatawan yang matang, tidak massal, dan melakukan perjalanan untuk mencari sumbersumber pengayaan hidup secara spiritual, tidak lagi sekadar kesenangan yang bersifat material dan jasmaniah (Kompas, 7 Desember 1999). Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap penciptaan produk-produk wisata yang mempunyai daya tarik menurut perspektif konsumen. Dalam kaitannya dengan hal ini, maka objek-objek wisata dapat menjadi sebuah alternatif yang dapat memenuhi “kerinduan spiritual” wisatawan. Istilah „industri pariwisata budaya‟ sering dianggap sesuatu yang baru, mutakhir, modern, yang terkait dengan dunia komersiil, pasar, profit, komoditi, media dan teknologi. Misalnya kesenian di dunia komersial, media elektronik, kebudayaan untuk keperluan pariwisata, dan lain sebagainya. Akan tetapi istilah „industri pariwisata budaya‟ sebetulnya hanyalah sebuah istilah baru yang dimanfaatkan untuk membicarakan sesuatu yang sangat sederhana namun penting, yaitu kebudayaan dan peranannya di bidang ekonomi. Dengan menggunakan istilah „industri pariwisata budaya‟ maka yang dimaksudkan adalah sumbangan sektor kebudayaan terhadap ekonomi. Misalnya: bagaimana bidang kebudayaan menghasilkan lapangan kerja dan aktivitas ekonomi yang bergaung jauh dari kegiatan intinya, yaitu ungkapan identitas dan kreativitas (expression of identity and creativity) (Lindsay, 1998). Industri pariwisata budaya mencakup semua kerangka dan infrastruktur budaya serta ekspresi budayanya sendiri. Pembicaraan ihwal pengembangan industri pariwisata budaya ini perlu dimulai dengan mengkaji faktorfaktor yang menentukan minat terhadap suatu daerah dalam konteks wisata budaya. b) Kriteria Suatu Objek Wisata Budaya Salah satu studi paling populer tentang wisata budaya ditulis J.R. Brent Ritchie dan Michel Zine dalam majalah ilmiah Annals of Tourism Research pada tahun 1978 yang berjudul “Culture as Determinant of the Attractiveness of a Tourism Region”. Artikel ini sangat berguna untuk mengidentifikasikan atau menentukan faktor-faktor yang harus dipertimbangkan apabila suatu wilayah ingin mengembangkan industri pariwisata budayanya. Penelitian ini berusaha melihat hubungan antara bidang tradisional dari ekonomi pariwisata dengan bidang kebudayaan yang berorientasi sosial. Para peneliti mencoba mengukur secara kuantitatif kepentingan relatif dari kebudayaan dan beberapa Halaman 3

komponen yang menentukan apakah suatu wilayah atau daerah akan menarik perhatian para wisatawan baik manca negara maupun nusantara (wisman dan wisnu). Patterson (dalam Spillane, 1998) meneliti hubungan antara pariwisata dan kebudayaan. Dia memberikan banyak argumen yang menekankan kebutuhan kerjasama antara dua bidang ini untuk bersama-sama mewujudkan pembangunan. Fokus perhatian perlu diberikan untuk memanfaatkan kebudayaan sebagai sumber daya pariwisata. Secara khusus, kebudayaan tidak boleh dimanipulasi atau dieksplotasi sebagai alat untuk mengembangkan pariwisata. Beberapa peneliti menunjukkan dampak negatif dari pariwisata tanpa kontrol terhadap kebudayaan asli. Karena itu kebudayaan menjadi unsur pariwisata yang penting walaupun mudah rusak (delicate). Untuk menggali potensi Lembata sebagai tujuan wisata budaya, dapat dimanfaatkan hasil penelitian Ritchie dan Zine sebagai kerangka acuan. Studi mereka memberikan beberapa pertimbangan objektif mengenai (1) Cara atau metodologi untuk mengukur kemampuan „menarik perhatian‟ suatu kebudayaan; (2) Mengukur sumbangan relatif dari beberapa bentuk unsu-unsur sosial dan budaya terhadap kemampuan daerah untuk menarik wisatawan budaya, (3) Menilai sumbangan relatif dari beberapa bentuk sunsur sosio-budaya terhadap kemampuan daerah untuk menarik wisatawan budaya, dan (4) Mengevaluasi prioritas yang harus diberikan pada pembangunan pariwisata. Dalam penelitian tersebut Ritchie dan Zine memanfaatkan pengertian Culture (kebudayaan) seperti didefinisikan Kluckholm dan Kelley (1945), yakni: sistem eksplisit dan implisit dari cara hidup yang cenderung digunakan oleh semua atau sebagian tertentu dari suatu kelompok pada saat tertentu. Definisi ini memang sangat operasional dan berguna sebagai titik tolak untuk studi kebudayaan. Dalam studi ini ditemukan faktorfaktor umum dan faktor-faktor spesifik (budaya) yang menjadi ukuran dari “kemampuan daerah menarik tamu wisatawan”. Secara keseluruhan, terdapat 8 faktor umum dan 12 faktor khusus yang merupakan unsur-unsur sosial-budaya sebagai kriteria daya tarik suatu objek wisata. Faktor-faktor umum daya tarik wisata adalah: 1. Keindahan alam dan iklim (Wacana wisata Barat tradisional masih mengunggulkan keindahan alam. Wisatawan Barat tampaknya masih mencari „The Lost Paradise”). 2. Sifat-sifat dari masyarakat dan kebudayaan 3. Fasilitas penginapan, rekreasi dan pendidikan 4. Infrastruktur daerah 5. Tingkat pelayanan 6. Fasilitas komersial dan perbelanjaan 7. Sikap terhadap wisatawan 8. Kemudahan masuk daerah

Faktor-faktor khusus, yakni unsur-unsur sosia-budaya: 1. Kerajinan 7. Pekerjaan 2. Bahasa 8. Arsitektur 3. Tradisi-tradisi 9. Agama 4. Gastronomi 10. Pendidikan 5. Kesenian/Musik 11. Mode/Costume 6. Sejarah 12. Leisure (Waktu luang)

Halaman 4

Berikut ini dikutip secara lengkap pandangan Ritchie dan Zine tentang “Major Variables Influencing the Attractiveness of a Tourism Destination” dan “Socio-cultural Eelement”. GENERAL FACTORS

Natural Beauty and Climate

Which includes the general topography; flora and fauna; proximity to lakes, rivers and sea; mountains, islands; hot and mineral water springs; waterfalls; as well as; amount of sunshine; temperature; winds; precipitation; discomfort index. Which includes language; traditions; gastronomic practices; art; sculpture; music; architecture; work; religion; education; dress; leisure behavior; history; museums; and festifals. Which includes golf courses; tennis courts; swimming; skiing; horsebackriding; sailing; movies; casinos; health spas; picnic grounds; hiking trails; zoos; aquariums; and botanical gardens. Which includes souvenir and gift shops; boutiques; shopping malls; commercial displays. Which includes the quality and availability of different means of communication; auto routes; lodging; health services; information; food services; and level of personal and material safety. Which involves the value received for money spent on major services, food, lodging and transportation within the region.

Culture and Social Characteristics

Sport, Recreation and Educational Facilities Shopping and Commercial Facilities Infrastructure of the Region

Price Levels

Attitudes Towards Tourist

Which involves the warmth of reception by the local population; ease of communication; willingness to provide information; and a lack of hostility towards tourism activities. Which includes the physical distance to the region; the time involved in reaching the region; and practical barriers due to customs and security inspections.

Accessibility of the Region

SOCIO-CULTURAL ELEMENTS Handicraft of the region Language spoken by residents Traditions which characterize the region Gastronomy or food preparation particular to the region Art/Music identified with the region; including paintings, sculpture and concert History of the region, including its visual reminders Works: methods of work or technology particular to a region (such as a space centre, fishing, farming) Halaman 5

Architecture: both exterior and interior, which lends a distinctive appearance to a region. Religion of a particular significance to a region (including its visible manifestations) Education system which is characteristic of a region. Dress: styles of dress characteristic of a region. Leisure Activities reflecting distinctive life styles of a region. Hasil penelitian Ritchie dan Zine menyimpulkan hal-hal sebagai berikut. Faktor iklim dan keindahan alam adalah hal yang paling pokok yang menentukan kemampuan menarik wisatawan. Sifat sosio-budaya merupakan faktor nomor dua, baru kemudian sikap terhadap wisatawan, kemudahan menuju lokasi, prasarana daerah, tingkat harga, fasilitas olah raga-rekreasi dan fasilitas komersial dan perbelanjaan. Khusus mengenai unsur-unsur sosio-budaya, pada umumnya meliputi gastronomi, tradisi-tradisi, kerajinan dan sejarah. Sedangkan faktor-faktor seperti pendidikan, mode, dan agama kurang begitu penting. 5. Strategi Sosialisasi Wisata Budaya Lembata Salah satu daya tarik wisata yang berpotensi untuk dikembangkan dalam rangka penganekaragaman objek-objek wisata yang tersebar di Indonesia adalah pengembangan Lembata sebagai objek wisata budaya. Pengembangan Lembata sebagai objek wisata budaya akan membawa dampak positif, khususnya yang terkait dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui penciptaan kesempatan berusaha dan bekerja di usaha-usaha pariwisata yang akan berkembang sejalan dengan pengembangan wisata budaya tersebut. Usaha-usaha itu dapat meliputi usaha akomodasi, cinderamata, makan dan minuman, pemandu wisata, dan usaha-usaha lain yang mendukung sektor pariwisata seperti peternakan dan pertanian sebagai pemasok kebutuhan makan minum bagi wisatawan. Rencana sosialisasi diarahkan untuk mencari invertor (nasional maupun asing), meningkatkan arus kunjungan dan jumlah pengeluaran wisatawan. Renacana itu mencakup rencana jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. A. Rencana Jangka Pendek: 1) Melakukan penelitian atau sekurang-kurangnya identifikasi yang agak lengkap tentang daya tarik dan kekhasan objek-objek wisata budaya di Lembata, yang kemudian dapat dijadikan pedoman bagi investor untuk membangun sarana dan prasarrana wisata di Lembata. Bahan ini juga dapat dimanfaatkan sebagai pedoman bagi wisatawan (Tourist Guide). 2) Mengangkat dan mensosialisasikan citra Lembata melalui proses ‟labeling”, bahwa Lembata merupakan sebuah objek wisata budaya, yang dapat memenuhi „kerinduan spiritual‟ manusia modern, melalui berbagai kesempatan dan media. 3) Meningkatkan kerjasama antar pemerintah daerah Tk. II Lembata dengan berbagai ikatan keluarga INALEBO di berbagai kota di Indonesia maupun di mancanegara. 4) Menyelenggarakan berbagai event budaya dalam skala nasional maupun internasional pada objek-objek wisata tersebut. Misalnya: menyelenggarakan pesta kacang atau upacara perburuan ikan paus dengan mengundang wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara.

Halaman 6

5) Menjalin hubungan kerjasama dengan badan-badan nasional dan internasional yang berkaitan dengan Wold Heritages, UNESCO, museum-museum terkemuka dan pusat-pusat kajian budaya. B. Rencana Jangka Menengah 1) Memposisikan Lembata sebagai “trademark” wisata budaya melalui upayaupaya Public Relation dan promosi. 2) Mendukung penyelenggaraan berbagai event budaya berskala internasional. C. Rencana Jangka Panjang 1) Mendayagunakan organisasi-organisasi INALEBO di Indonesia dan jaringan internasional lainnya untuk lebih memperkenalkan potensi dan aset objek-objek dan daya tarik wisata budaya Lembata. 2) Mendirikan sebuah “Lembata Cultural Centre” di luar Kota Madya Lewoleba, tempat wisatawan menyaksikan segala aspek kehidupan budaya manusia Flores Timur (Kluster Lembata): makanan pokok (gastronomy): cara membuat jagung titi, garam, cara memasak daging dalam bambu, makan bersama di atas tikar dll; cara menangkap ikan paus (Lamalera), pesta kacang (Ile Ape), mengerjakan kerajinan tenun ikat, kerajinan kayu, anyam-anyaman; mempertunjukkan berbagai tarian (tari perang Ile Ape, dana Kedang, Oha dan Dolo-dolo), nyanyian rakyat (Uru Sele Atadei, Tani Tutu Tani Maring Ile Ape), dll. 6. Penutup Pembangunan pariwisata Lembata tidak dapat dilepaskan dari pembangunan kepariwisataan nasional. Dalam TAP MPR RI No. X Tahun 1988, disebutkan bahwa bidang kepariwisataan diarahkan “Untuk mendayagunakan potensi kepariwisataan sebagai sumber devisa negara, … mengembangkan objek dan daya tarik wisata termasuk seni budaya dengan peningkatan partisipasi dan kemitraan, serta pemberdayaan ekonomi rakyat dengan memperhatikan nilai-nilai budaya, agama, dan pelestarian lingkungan”. Tampak di sini adanya semacam “paradigma baru” keberpihakan pada ekonomi rakyat. Pemerintah tidak lagi bertindak sepenuhnya sebagai pelaksana. Sebaliknya, peranserta swasta dan masyarakat diharapkan akan semakin dominan. Patut disadari bahwa di abad ke-21 ini telah terjadi Revolusi 3 T (Revolution of Triple T): Transportasi, Telekomunikasi, dan Turisme, yang berdampak pada meningkatnya mobilitas manusia umumnya dan pariwisata khususnya. Mari kita jadikan momentum ini sebagai curahan karunia Tuhan bagi Lewotanah Lembata tercinta.

DAFTAR ACUAN Ardika, I Gede, 1999. „Kebijakan Pembangunan Kepariwisataan” Makalah Kunci Seminar Nasioanal Ekonomi Pariwisata Menggali Potensi Ekonomi Borobudur Sebagai Wisata Ziarah. Yogyakarta, 18 Mei 1999. Kompas, “Paradigma Baru Pembangunan Pariwisata”. Jakarta, 7 Desember 1999. Lindsay, Jennifer, 1998. “Strategi Kebudayaan Indonesia Menghadapi Industri Budaya Abad XXI”. Makalah Seminar Kebudayaan Mengkaji Wacana Kebudayaan Indonesia Menuju Abad XXI. Yogyakarta: Institut Seni Indonesia.

Halaman 7

Ritchie, J.R. Brent and Zine, Michel, 1978. “Culture as Determinant of the Attractiveness of a Tourism Region” dalam Annals of Tourism Research Vol. V, No. 2 (April/June, 1978) Spillane, James J., 1998. “Pemberdayaan Seni dan Tradisi Budaya Indonesia Menuju Abad XXI”. Maskalah Seminar Kebudayaan Mengkaji Wacana Kebudayaan Indonesia Menuju Abad XX. Yogyakarta: Institut Seni Indonesia. Tim Konsorsium Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas gadjah Mada, 1997. Studi Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional Buku 3 Kawasan Lembata.

*) Yoseph Yapi Taum, Center for Tourism Research and Development, Sanata
Dharma University, Mrican Tromol Pos 29, Yogyakarta 55002, Telpon (62-0274) 513301 Ext. 422, Fax (62-0274) 562383. E-mail: yoseph1612@ yahoo.com

Halaman 8

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->