Anda di halaman 1dari 2

Beauveria bassiana

Umum

Beauveria bassiana merupakan


cendawan entomopatogen, yaitu organisme
heterotrof yang hidup sebagai parasit pada
serangga. Oleh karena itu, Beauveria
bassiana dimanfaatkan sebagai agen hayati
dalam pengendalian hama. Cendawan ini
telah digunakan dalam berbagai pengendalian hama serangga, salah satunya adalah wereng
hijau pada padi.

Klasifikasi

Klasifikasi ilmiah Beauveria bassiana adalah sebagai berikut.

Kingdom : Fungi

Filim : Ascomycota

Kelas : Sordariomycetes

Ordo : Hypocreales

Famili : Clavicipitaceae

Genus : Beauveria

Spesies : B. bassiana

Siklus Hidup dan Proses Infeksi

Proses infeksi cendawan


entomopatogen terhadap inangnya
(serangga) dibagi menjadi fase parasit
dan fase saprob. Penyerangan pada
serangga inang dilakukan melalui
penetrasi langsung pada kutikula. Pada
awalnya spora cendawan melekat pada
kutikula, selanjutnya spora berkecambah
melakukan penetrasi terhadap kutikula
dan masuk ke hemosoel. Cendawan akan
bereproduksi di dalamnya dan
membentuk hifa. Serangga akan mati,
sedangkan cendawan akan melanjutkan
siklus hidupnya dalam fase saprob. Setelah tubuh serangga inang dipenuhi oleh massa
miselium, tubuh tersebut akan mengeras dan berbentuk seperti mumi yang berwarna putih,
hijau, atau merah muda. Setelah itu spora akan diproduksi untuk menginfeksi inang lainnya.

Jamur yang hidup pada serangga


mematikan inangnya melalui kerja racun
yang dikeluarkan jamur tersebut. Jamur akan
aktif kalau konidianya menyentuh langsung
tubuh serangga. Konidia yang menempel
pada tubuh serangga dalam kondisi
lingkungan mikro yang sesuai akan
berkecambah yang diawali dengan
pembentukan tabung kecambah. Lingkungan
mikro yang sangat baik untuk
perkecambahan konidium adalah pada suhu
23-25oC dan kelembaban nisbi 92%. Tabung
kecambah akan memanjang menembus kulit
serangga menuju haemocoel, dan
berkembang menjadi hifa dan kemudian ikut
aliran darah, hifa menyebar ke seluruh
bagian tubuh serangga. Hifa terus
berkembang membentuk tangkai konidium
(konidiofor), dan konidiofor mengeluarkan
racun yang mematikan sel-sel serangga.
Kerusakan pada struktur membran sel
menyebabkan sel banyak kehilangan air
sehingga serangganya mati. Setelah serangga
mati, hifa terus berkembang dan menembus
ke bagian luar tubuh serangga melalui lubang-lubang yang ada di permukaan tubuh serangga.
Di bagian luar tubuh serangga terbentuk konidia yang mampu menyebar ke tempat lain
dengan bantuan angin dan/atau percikan air hujan. Konidia yang menempel pada serangga
akan tumbuh dan berkembang seperti tahaptahap yang telah diuraikan.

Proudly created by
Nicko Surya Siswoyo Putra
A34090007