Anda di halaman 1dari 19

DASAR ILMU HAMA PENYAKIT TANAMAN

NEMATODA PATOGEN TANAMAN

KELOMPOK 4
NAUFAL FIKRI

150510150175

NEDYA PUTRI BACHTIAR

150510150181

SHANAZ PRATIWI

150510150188

REZA YUDHA FADILLAH

150510150190

AULIA HASNA

150510150198

AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan yang selalu mencurahkan rahmatnya kepada kita semua. Saya
ucapkan terimakasih kepada anggota kelompok saya yang telah bekerjasama dalam pembuatan
makalah ini. Saya juga ucapkan terimakasih kepada Bapak Yusuf yang telah mengajarkan kami ilmu
pertanian yang bermanfaat untuk kita semua khususnya mengenai penyakit pada tanaman. Semoga
melalui makalah ini kami dapat lebih memahami materi tentang Nematoda Patogen Tanaman.

Jatinangor, 05 April 2016

Penulis.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .....................................................................................................................2


DAFTAR ISI ..................................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN ..............................................................................................................4
BAB II PEMBAHASAN ...............................................................................................................
2.1 Bentuk, Struktur, dan Reproduksi Nematoda ...........................................................................5
2.2 Ciri-Ciri Nematoda ...................................................................................................................7
2.3 Klasifikasi Nematoda ...............................................................................................................7
24.Reproduksi Nematoda ...............................................................................................................10
2.5 Jenis Penyakit Akibat Nematoda ..............................................................................................10
2.6 Pengendalian Terhadap Nematoda ............................................................................................15
BAB III PENUTUP .......................................................................................................................
3.1 Kesimpulan ..............................................................................................................................18
DAFTAR ISI ..................................................................................................................................19

BAB I
PENDAHULUAN

Nematoda berasal dari kata Yunani yang berarti benang. Berbentuk memanjang seperti tabung,
kadang-kadang membengkok, melengkung, seperti kumparan. Gerakan nematoda dalam media air
biasanya meliuk-liuk seperti ular. Nematoda dapat ditemukan ditanah, air tawar, air laut dan di
jaringan tanaman dan jaringan binatang (nematoda parasitbinatang). Jenis-jenis nematoda yang
ditemukan di alam dapat bertindak sebagai parasit dan saprofitik. Nematoda parasitik biasanya dapat
dijumpai di dalam tubuh inang. Nematoda parasitik tanaman dapat menyerang bagian tanaman
sesuai dengan sifat parasitasi nematoda itu sendiri. Ada yang bersifat ektoparasit, endo parasit
ataupun ekto-endo parasit. Bagian tanaman yang terserang dapat berupa akar, batang, daun, dan
bahkan pada bagian biji. Gejala dan tanda serangan nematoda pada tanaman dapat dilihat pada bagian tanaman
yang berada di atas tanah maupun yang berada di dalam tanah.
Nematoda termasuk filum hewan, didalamnya termasuk nematoda parasit tanaman dan hewan,
serta spesies nematoda yang hidup bebas. Nematoda parasit tanaman merupakan parasit obligat,
mengambil nutrisi hanya dari sitoplasma sel tanaman hidup. Beberapa nematoda parasit tanaman
adalah ektoparasit, hidup di luar inangnya. Spesies jenis ini menyebabkan kerusakan berat pada akar
dan dapat menjadi vektor virus yang penting. Spesies lain, ada yang hidup di dalam akar, bersifat
endoparasit migratori dan sedentari. Parasit migratori bergerak melalui akar dan menyebabkan
nekrosis, sedangkan yang endoparasit sedentari dari famili Heteroderidae menyebabkan kehancuran
yang paling banyak di seluruh dunia.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Bentuk, Struktur, dan Reproduksi Nematoda


Nematoda memiliki struktur secara morfologi, fisiologi dan fungsi tubuh nematoda. Struktur
tersebut akan di jelaskan sebagai berikut :
1. Morfologi
Nematoda merupakan satu filum dari dunia hewan. (Nematoda = berarti mirip benang).
Badannya silindris, meruncing pada kedua ujungnya, tidak beruas-ruas, meskipun beberapa
jenis mempunyai garis-garis melintang (striation) pada kulitnya. Panjang rata-rata nematoda
saprofit dan nematoda parasit tumbuhan sekitar 1 mm. Nematoda yang masih muda (juvenil)
berukuran kurang dari 0,2 mm, sedangkan jenis nematoda yang sangat panjang dapat
berukuran lebih dari 1 cm.
Nematoda mempunyai badan simetris bilateral, dengan simetri radial dengan tripartit pada
daerah kepala dan esofagus. Pada dasarnya badan nematoda terdiri atas dua tabung, yaitu
bagian luar adalah kutikula, hipodemis, dan sel-sel neuromuskuler.

Pada bagian dalam

terdapat usus. Di antaranya terdapat gonad yang berbentuk tabung. Kutikula nematoda tidak
mengandung kitin, tetapi mengandung senyawa-senyawa mirip keratin. Kutikulanya seperti
cincin. Mulutnya dikelilingi oleh enam bibir (labium); di sekeliling mulut terdapat papila
(tonjolan). Mulut mengarah ke kapsula yang di dalamnya terdapat stilet (alat penusuk).

2. Fisiologi
Nematoda yang saprofit bertugas dalam penghancuran bahan organik tanah. Jenis nematoda
saprofit dapat dibedakan dari mulutnya, yaitu tidak memiliki stilet, sedangkan nematoda
parasit memiliki stilet.

Pada umumnya nematoda tanah memiliki sifat polifag. Ini dibuktikan ada beberapa jenis
inang dapat menginvasi tumbuhan secara agak sembarang, sehingga dapat terperangkap dalam
tumbuhan yang kurang cocok dengan nematodanya. Gerakan nematoda bersifat acak, tetapi
beberapa di antaranya tertarik oleh inangnya. Pada beberapa situasi, telur nematoda baru akan
menetas jika ada pengaruh dari eksudat akar tumbuhan inangnya. Jadi, telur nematoda akan
menetas apabila tersedia tumbuhan inang bagi juvenil nematoda.
Jenis nematoda parasit obligat, yaitu fitonematoda, tidak dapat hidup atau membiak tanpa
adanya tumbuhan inangnya yang hidup. Nematoda menusukkan stiletnya yang berlubang
(seperti jarum jarum suntik) ke dalam sel tumbuhan dan dengan kekuatan mengisap esofagus
menarik cairan tumbuhan.

Pada umumnya nematoda mengeluarkan cairan dari kelenjar

pencernaan yang disekresikan melalui stilet ke dalam sel tumbuhanm yang menyebabkan
prapencernaan dan pencairan sebelum diisap masuk ke dalam saluran pencernaan. Bahkan
sekresi tersebu ada yang mengandung berbagai hormon yang menyebabkan sel-sel di
sekitarnya berkembang sehingga terjadi hipertrofi atau hiperplasia.
3. Fungsi Tubuh Nematoda
Sistem pencernaan nematoda: Nematoda memiliki sistem pencernaan yang lengkap, mulai
dari mulut, faring, esofagus (gelembung faring), usus, dan anus. Mulut terletak di ujung
anterior dan di sekitarnya terdapat tiga atau enam bibit, papila, dan seta. Mulut yang
berhubungan dengan buccal capsule atau rongga mulut yang terkadang dilengkapi dengan
rahang yang kuat. Nematoda karnivor atau herbior memiliki stilet yang berbentuk seperti
jarum suntik atau gigi dalam rongga mulutnya, dan berfungsi untuk menusuk dan menghisap
sari makanan dari tanaman atau mangsanya. Nematoda mempunyai usus panjang sebagai
tempat penyerapan sari makanan, rektumnya pendek, dan diakhiri oleh anus yang terletak di
bagian posterior.
Sistem peredaran darah dan pernapasan nematoda: Nematoda tidak mempunya sistem
peredaran darah dan sistem pernapasan. Transportasi dan pertukaran zat terjadi secara difusi.
Sistem ekskresi nematoda: Nematoda mempunyai alat ekskrei yang berupa sistem sel kelenjar
dengan saluran atau tanpa saluran. Pada spesies yang hidup di laut, alat ekskrei berupa
kelenjar renet (renette gland) yang terletak di dekat faring, berjumlah satu atau dua.
Sistem alat indra nematoda: Nematoda mempunya alat indra yang berupa sensilia, papila, seta,
amfid, dan phasmid. Serta terdapat di bagian kepala dan seluruh permukaan tubuh.
Kemoresptor terdapat di amfid (kepala) dan phasmid (ujung posterior). Nematoda hidup bebas
dengan mempunyai bintik mata. Sistem saraf berupa lingkungan saraf yang mengelilingi
6

esofagus, atau dengan berhubungan dengan enam benang saraf anterior dan empat atau lebih
benang saraf posterior.
Cara hidup dan habitat nematoda-nematoda banyak hidup bebas di alam dan mempunyai
daerah penyebaran yang luas, mulai daerah kutub yang dingin, padang pasar, sampai ke laut
yang dalam. Nematoda sangat mudah ditemukan di laut, air tawar, air payau maupun tanah.
Nematoda hidup bebas dengan memakan sampah organik, bangkai, kotoran hewan, tanaman
yang membusuk, ganggang, jamur, dan hewan kecil lainnya. Tetapi banyak juga yang hidup
parasit pada hewan, manusia, bahkan tumbuhan. Nematoda hidup parasit manusia ditemukan
di sejumlah organ, seperti anus, usus halus, paru-paru, mata, pembuluh darah, dan pembuluh
limfah.
2.2 Ciri-Ciri Nematoda
1. Berbentuk bulat panjang (gilik) atau mirip dengan benang
2. Hewan tripoblastik dan Pseudoselomata (berongga tubuh semu)
3. Hidup bebas dengan memakan sampah organik, kotoran hewan, tanaman yang membusuk,
ganggang, jamur, dan hewan kecil lainnya.
4. Hidup parasit di hewan, manusia, dan tumbuhan.
5. Dapat ditemukan di air tawar, air laut, dan air payau serta di tanah.
6. Terdapat di organ seperti, anus, usus halus, pembuluh darah, pembuluh limfa, jantung, paruparu, dan mata.
7. Berukuran bervariasi mulai dari hidup di air tawar dan darat berukuran kurang dari 1 mm,
sedangkan di laut hidup mencapai 5 cm.
8. Cacing betina lebih besar dari pada cacing jantan.
9. Bentuk tubuh silindris atau bulat panjang (gilik). dan tidak bersegmen.
10. Bagian anterior atau daerah mulut tampak simetri radial \
11. Semakin ke arah posterior membentuk ujung yang meruncing
2.3 Klasifikasi Nematoda
Nematoda dibagi dalam beberapa kelas antara lain Adenophorea dan Secernentea. Berikut adalah
penjelasannya, antara lain :

1. Adenophorea
Anggota kelas dari Adhenophorea tidak mempunyai phasmid (organ kemosreseptor) sehingga
disebut dengan Aphasmida. Banyak dari anggota Adenophorea yang hidup bebas, tetapi
menjadi parasit di berbagai hewan. Contohnya Trichuris ovis sebagai parasit di domba.
7

Cacing Trichinella spiralis menjadi parasit di usus karnivor dan manusia. Cacing yang
menyebabkan penyakit trikinosis. Setelah cacing dewasa kawin, cacing jantan mati,
sedangkan cacing betina menghasilkan larva. Larva memasuki sel-sel mukosa dinding usus
kemudian mengikuti peredaran darah hingga ke otot lurik. Dalam otot lurik, larva membentuk
sista. Manusia mengalami infeksi cacing jika cacing dimakan yang kurang matang dan
mengandung sista. Penyakit trikinosis ditandai dengan rasa mual yang hebat dan terkadang
menimbulkan kematian ketika larva menembusototjantung.
2.Secernentea
Secernentea disebut dengan Phasmida, karena terdapat anggota spesiesnya mempunyai
phasmid. Banyak anggota kelas hidup dalam tubuh vertebrata, serangga dan tumbuhan.
Berikut uraian mengenai contoh-contoh spesies Secernentea.
a. Ascaris Lumbricoides (CacingPerut)
Ascaris lumbricoides adalah parasit usus halus manusia yang menyebabkan penyakit
askariasis. Infeksi cacing perut menyebabkan penderita mengalami kekurangan gizi. Tubuh
pada bagian anterior cacing mempunya mulut yang dengan dikelilingi tiga bibir dan gigigigi kecil. Cacing betina memiliki ukuran panjang sekitar 20-49 cm, dengan diamater 4-6
mm, di bagian ekor runcing lurus, dan dapat menghasilkan 200.000 telur per hari. Cacing
jantan berukuran panjang sekitar 15-31 cm, dengan diameter 2-4 mm, bagian ekor runcing
melengkung, dan di bagian anus terdapat spikula yang berbentuk kait untuk memasukkan
sperma ke tubuh betina.
Setelah terjadi perkawinan, cacing betina menghasilkan telur. Telur kemudian keluar
bersama tinja. Telur mengandung embrio terletan bersama-sama dengan makanan yang
terkontaminasi. Di dalam usus inang, telur menetas menjadi larva. Larva selanjutnya
menembus dinding usus dan masuk ke daerah pembuluh darah, jantung, paru-paru, faring,
dan usus halus hingga cacing dapat tumbuh dewasa.
b. Ancylostoma Duodenale (Cacing Tambang)
Anylostoma duodenale disebut cacing tambang karena sering ditemukan didaerah
pertambangan, misalnya di Afrika. Spesies cacing tambang di Amerika yaitu Necator
americanus. Cacing yang hidup parasit di usus halus manusia dan mengisap darah sehingga
dapat menyebabkan anemia bagi penderita ankilostomiasis.
Cacing tambang dewasa betina yang berukuran 12 mm, mempunyai organ-organ kelamin
luar (vulva), dandapat menghasilkan 10.000 sampai 30.000 telur per hari. Cacing jantan
yang berukuran 9 mm dan mempunyai alat kopulasi di ujung posterior. Di ujung anterior
8

cacing terdapat mulut yang dilengkapi 1-4 pasang gigi kitin untuk mencengkeram dinding
usus inang.Setelah terjadi perkawinan, cacing betina menghasilkan telur. Telur keluar
bersama feses (tinja) penderita. Di tempat yang becek, telur menetas dan menghasilkan
larva. Larva masuk ke tubuh manusia dari pori-pori telapak kaki. Larva mengikuti aliran
darah menuju jantung, paru-paru, faring, dan usus halus hingga yang tumbuh dewasa.
c. Oxyuris Vernicularis (Cacing Kremi)
Oxyuris vermicularis atau Enterobius vermicularis (cacing kremi) berukuran 10-15 mm.
Cacing yang hidup di usus besar manusia, khususnya pada anak-anak. Cacing dewasa
betina menuju ke dubur pada malam hari untuk bertelur dan mengeluarkan suatu zat yang
menyebabkan rasa gatal. Rasa gatal menyebabkan penderita menggaruknya sehingga telur
cacing mudah terselip di buku-buku. Telur cacing dapat tertelan kembali pada saat
penderita makan. Di usus, telur akan menetas menjadi cacing kremi baru. Cara penularan
cacing kremi tersebut disebut dengan autoinfeksi.
d. Wuchereria Bancrofri (Cacing Filaria atau Cacing Rambut)
Wuchereria bancrofti yang hidup parasit di kelenjar getah bening (limfa). Cacing
menyebabkan

penyakit kaki

gajah (elephantiasis).

atau filariasis.

Cacing

dewasa

berdiameter 0,3 mm. Cacing betina berukuran panjang 8 cm dan jantan berukuran panjang
4 cm.Setelah terjadi perkawinan, cacing betina menghasilkan mikrofilaria. Di siang hari,
mikrofilaria berada di pembuluh darah yang besar dan malam hari pinadh ke pembuluh
darah

kecil

di

bawah

kulit.

Bila

nyamuk

perantara

(Culex,

Anopheles

Mansonia atau Aedes) menggigit di malam hari, mikrofilaria bersama darah masuk ke perut
nyamuk. Mikrofilaria menembus dinding usus nyamuk menuju ke otot toraks dan
bermetamorfosis. Setelah mencapai ukuran 1,4 mm, mikrofilaria pindah ke belalai nyamuk,
dan siap ditularkan ke orang lain. Cacing akan menggulung di kelenjar limfa dan tumbuh
hingga dewasa. Cacing deawasa yang berjumlah banyak akan menghambat sirkulasi getah
benang, sehingga setelah beberapa tahun mengakibatkan pembengkakan kaki.

e. Onchorcerca Volvulus
Onchorcea

vovulus merupakan

cacing

mikroskospis

penyebab onchocerciasis (river

blindness) yang mengakibatkan kebutaan. Vektor pembawa adalah lalat kecil pengisap
darah black fly(simulium). Cacing banyak terdapat di Afrika dan Amerika Selatan.
2.4 Reproduksi Nematoda
9

Nematoda bereproduksi secara seksual. Umumnya diesis atau gonokoris, yaitu organ kelamin
jantan dan betina yang terdapat di individu berbeda. Fertilisasi terjadi secara internal di dalam
tubuh cacing betina. Telur yang sudah dibuahi memiliki cangkang yang tebal dan keras. Di
permukaan cangkang mempunyai pola yang spesifik digunakan untuk proses identifikasi jenis
cacing yang menginfeksi manusia melalui pengamatan telur cacing pada tinja. Telur menetas
menjadi larva yang berbentuk mirip induknya. Larva mengalami molting atua pergantian kulit
sampai empat kali. Cacing dewasa tidak mengalami pergantian kulit, tetapi tubuhnya tumbuh
membesar.
Daur hidup dari nematoda adalah memerlukan satu inang atau lebih, seperti Wuchereria
banchrofti (cacing filaria) memiliki inang utama manusia dan inagn perantara nyamuk. Oxyuris
vermicularis (cacing kremi) yang hanya membutuhkan satu inang manusia dan tidak
memerlukan inang perantara.

2.5 Jenis Penyakit Akibat Nematoda


Nematoda merupakan salah satu organisme yang menyebabkan penyakit dengan cara
menularkan virus dari satu tanaman ke tanaman lain, nematoda yang telah memakan tanaman
yang sakit (terinfeksi oleh virus atau bakteri) akan membawa virus atau bakteri kedalam
tubuhnya.
Gejala yang ditimbulkan oleh nematoda yaitu:

nematoda bengkak, yang menyebakan bengkakan kecil yang mengandung banyak larva
nematoda

nematoda batang, yang menyebabkan pembengkakan batang, penggulungan daunn,


pengkerdilan, pembusukan umbi

nematoda daun, yang menyebabkan nekrosis pada daun

nematoda puru, yang menyebabkan puru puru pada akar

10

nematoda kista, yang menyebabkan tanaman menjadi lebih kecil. tetapi tidak terdapat
bercak- bercak

Nematoda bengkak

Nematoda daun

Nematoda batang

Nematoda kista
Gejala serangan nematoda terbagi atas dua kelompok:
A. Gejala serangan di atas permukaan tanah:
1. Pertumbuhan tidak normal yang diakibatkan oleh luka pada tunas, titik tumbuh, dan
primordial bunga.
a. Tunas mati.
Kadang-kadang serangan nematoda menyebabkan matinya tunas atau titik tumbuh
tanaman, sehingga tanaman tidak dapat hidup. Kasus ini terjadi pada tanaman
strawberry yang terserang Aphelenchoides
b. Batang dan daun mengkerut
Serangan nematoda pada titik tumbuh tanaman, kadang-kadang tidak sampai
menyebabkan tanaman mati dan masih memungkinkan batang, daun, atau struktur
lain dapat berkembang. Perkembangan organ-organ tersebut tidak sempurna sehingga
menyebabkan terjadinya pengerutan atau pemuntiran.

Contoh tanaman gandum terserang larva Anguina tritici pada daerah titik tumbuhnya.

11

c. Puru biji
Biji tanaman rumputan atau biji-bijian yang terserang Anguina. Setelah bunga
terbentuk, nematoda yang telah tumbuh sempurna mulai masuk dan menyerang pada
bagian ini sampai nematoda dewasa. Di tempat inilah nematoda bekembang biak.
Akibatnya primordial bunga akan membentuk puru yang di dalamnya berisi sejumlah
besar larva nematoda; nematoda ini mampu hidup pada waktu yang cukup lama.
2. Pertumbuhan tidak normal sebagai akibat terjadinya luka pada bagian dalam batang dan
daun.
a. Nekrosis
Beberapa jenis nematoda hidup dan makan dalam jaringan batang dan daun,
akibatnya terjadi nekrosis. Contoh gejala penyakit cincin merah pada batang kelapa
yang terserang oleh Rhadinaphelenchus cocophilus, terjadi karena adanya luka pada
pangkal batang tanaman tersebut. Contoh lain, Ditylenchus dipsaci yang
menyebabkan luka pada batang dan daun pada berbagai tanaman.

b. Bercak dan luka daun.


Nematoda yang menyerang daun, kadang-kadang makan dan merusak parenkim.
Nematoda tersebut masuk melalui stomata.

Contoh : Aphelenchoides ritzemabosi yang menyerang daun Chrysantemum.


12

c. Puru pada daun


Anguina balsamophila dan A. millefolii menyebabkan terjadinya puru pada daun yang
terserang oleh nematoda ini.

B. Gejala di bawah permukaan tanah.


1. Puru akar
Gejala ini tampak apabila suatu tanaman terserang nematoda puru akar. Ada beberapa
jenis nematoda yang menyebabkan puru akar, yaitu Meloidogyne spp., Naccobus,
Ditylenhus radicicola. Kedua nematoda tersebut membentuk puru pada akar tanaman oat,
barley, tomat, kentang dan jenis tanaman lain.

Gambar 2. Puru Akar


2. Busuk
13

Nematoda yang masuk pada tanaman menyebabkan luka. Terjadinya luka ini mula-mula
disebabkan oleh cucukan nematoda, namun kerusakan yang lebih berat yang terjadi
selanjutnya mungkin diakibatkan oleh serangan organisme lain yang masuk sebagai hama
sekunder. Contoh. Gejal busuk oleh Ditylenchus destructor pada umbi kentang.

3. Nekrosis pada permukaan


Nematoda yang makan akar tanaman dari luar, mungkin akan menyebabkan matinya selsel yang terdapat di permukaan jaringan. Keadaan ini selanjutnya akan mengakibatkan
terjadinya perubahan warna pada bagian tersebut. Apabila populasi nematoda yang
menyerang tinggi dapat menyebabkan matinya sel-sel epidermis, sehingga akar-akar yang
masih muda akan berubah warnanya menjadi kekuningan sampai kecoklat-coklatan.
Contoh Aphelenchoides parietinus menyerang Cladonia fimbriata (lumut kerak) dan
Tylenchuluss semipenetrans menyerang tanaman jeruk
4. Luka
Gejala ini terjadi apabila cucukan nematoda menyebabkan terjadinya luka yang
berukuran kecil sampai sedang. Contoh: Radopholus similis pada akar pisang.

5. Percabangan akar yang berlebihan (excessive root branching)


Adanya serangan nematoda dapat memacu terbentuknya akar-akar kecil di sekitar ujung
akar. Contoh serangan Naccobus, Trichodorus.

6. Luka atau kematian ujung akar.


14

Setelah nematoda makan pada akar, mengakibatkan ujungnya akan terhenti


pertumbuhannya, demikian pula terhentinya pertumbuhan cabang-cabang akar, sehingga
akan timbul gejala:
a) Stubby root; yaitu cabang-cabang akar yang berukuran kecil akan terhenti
pertumbuhannya, sehingga membentuk ikatan akar.
b) Coarse root, yaitu apabila pertumbuhan akar yang menyamping terhenti, beberapa
diantaranya berukuran pendek, system perakaran utama lebih besar dan tidak banyak
dijumpai akar-akar yang kecil.
d. curly tip, yaitu luka yang terjadi pada sisi akar dekat ujung, yang mungkin akan
menghambat pertumbuhan dan pemanjangan akar pada bagian sisi tersebut.
Akibatnya akar akan memuntir. Gejala ini timbul akibat serangan nematoda
Xiphinema (dagger nematode).
2.6 Pengendalian Terhadap Nematoda
Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi pertanian, maka nematoda parasit
tumbuhan sudah seharusnya merupakan bagian dalam sistem pengelolaan hama secara terpadu. Hal ini
didukung oleh kenyataan bahwa serangan nematoda dapat mengakibatkan kehilangan hasil rata-rata
12,3% per tahun (Sasser &Freckman, 1987). Pada dasarnya, Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) adalah
upaya untuk meningkatkan kualitas dan menjaga kuantitas produksi pertanian dengan cara mengurangi
kehilangan hasil yang diakibatkan oleh serangan Organisme Penganggu Tanaman (OPTt) melalui
pengurangan penggunaan pestisida sehingga dicapai suatu kondisi ekosistem pertanian yang lestari dalam
jangka waktu yang panjang. PHT merupakan usaha pendekatan yang menyeluruh dalam pengendalian
OPT dengan cara memadukan berbagai strategi ataupun cara (taktik) pengendalian dengan tujuan untuk
mengurangi atau mencegah terjadinya permasalahan yang berkaitan dengan OPT.
1. Strategi dan taktik (cara) pengendalian secara umum strategi dalam pengelolaan nematoda parasit
tumbuhan tidak berbeda jauh dengan OPT yang lain, yaitu meliputi :
Karantina atau mencegah masuknya suatu jenis nematoda parasit tertentu ke dalam suatu daerah baru.
Mengurangi kerapatan populasi awal nematoda parasit pada lahan pertanian sebelum masa tanam.
Menekan tingkat reproduksi atau perbanyakan nematoda parasit tumbuhan selama masa tanam
Membatasi atau mengurangi tingkat kerusakan tanaman yang diakibatkan oleh serangan nematoda
parasit tumbuhan.

2. Sedangkan cara / taktik pengendalian nematoda parasit tumbuhan meliputi :

15

Pengendalian dengan cara sanitasi meliputi penggunaan bahan-bahan tanaman yang bebas nematoda ,
menjaga peralatan pertanian yang dipergunakan bersih dari nematoda, dan menghindarkan pemakaian

air irigasi yang sudah terinfestasi nematoda.


Pengendalian secara fisik dan mekanik,

meliputi

perlakuan

dengan

air

pangs

atau

pencelupan/perendaman benih /bibit tanaman dengan nematisida, solarisasi tanah sebelum tanam,
sterilisari tanah sebelum dipergunakan untuk media tanam, pencabutan dan pemusnahan sisasisa

tanaman yang terinfeksi nematoda, serta pembajakan tanah sebelum tanam.


Pengendalian dengan cara bercocok tanam, meliputi rotasi tanaman, penggunaan tanaman perangkap,

pengaturan waktu tanam dan waktu panen, pengairan.


Pengendalian dengan cara menanam varietas tanaman tahan atau toleran terhadap nematoda
Pengandalian dengan memanfaatkan agen hayati, baik dari golongan predator, parasit ataupun

pathogen terhadap nematoda.


Pengendalian secara kimiawi dengan penggunaan nematisida baik fumigant (Carbondisutfida,
Cloropicrin, Methyl -Bromide, atau Metam Sodium), Organofosfat ( Nemacur, Mocap, dan Dasanit),
Carbamat (Carbofuran, Aldicarb, dan Oxamyl), ataupun yang bersifat natural (clandosan 618,
Nematrol /sesame chaff).

Berikut beberapa hal upaya dalam menekan atau mengurangi penyakit tanaman akibat serangan nematoda:
1. Penggunaan bibit yang sehat
Bibit yang sehat adalah bibit yang normal, tidak berpenyakit, dan bebas dari hama. Mengingat
masuknya nematoda kebanyakan terbawa bersama benih yang berkualitas buruk, maka diperlukan
seleksi yang tepat untuk menemukan bibit yang benar-benar bagus. Sedangkan untuk bibit-bibit yang
sudah terserang parasit sebaiknya dimusnahkan segera agar tidak berpindah ke bibit yang lain.
2. Pilih jenis kultivar yang baik
Jenis kultivar juga dapat mempengaruhi perkembangan nematoda parasit pada tanaman. Hal ini
karena setiap kultivar dapat menghasilkan akar yang dapat menentukan tingkat perkembangbiakan
nematoda parasit. Kultivar yang resisten terhadap hama mampu menekan perkembangan nematoda.
Sebaliknya populasi nematoda akan meningkat pada kultivar yang rentan.
3. Pemberlakukan rotasi tanaman secara teratur
Tujuan utama rotasi tanaman yaitu mengurangi tingkat kepadatan populasi nematoda. Rotasi
dilakukan dengan menanam tumbuh-tumbuhan lain yang bukan merupakan inang parasit. Harapannya
agar siklus hidup nematoda terganggu dan akhirnya terputus.
4. Menanam tumbuhan perangkap di lahan
16

Tumbuhan perangkap (trap cropping) ialah tumbuh-tumbuhan yang sengaja ditanam untuk menarik
dan atau memusnahkan hama di lahan budidaya. Prinsipnya yakni tumbuhan perangkap dikorbankan
agar parasit lebih tertarik mengganggunya daripada merusak tanaman budidaya. Memelihara
tumbuhan perangkap ini terbukti efektif berhasil mengendalikan nematoda, sebagaimana yang sudah
banyak dilakukan di budidaya kentang.
5. Solaritas tanah guna merubah suhunya
Solaritas berfungsi untuk menaikkan atau menurunkan suhu di dalam tanah secara drastis. Sehingga
organisme yang hidup di dalam tanah akan berpindah tempat karena tidak sanggup beradaptasi
dengan suhu yang berubah tajam tersebut. Solaritas tanah dapat dilakukan dengan menutup tanah
menggunakan plastik berwarna gelap atau cerah sesuai peruntukannya selama kurun waktu yang
cukup lama.
6. Membudidayakan varietas yang resisten
Membudidayakan varietas kopi yang resisten terhadap nematoda parasit sangat menguntungkan
secara ekologi dan ekonomi. Varietas kopi robusta yang dianjurkan antara lain BP 42, BP 234, BP
237, BP 288, BP 308, BP 358, dan BP 409. Sedangkas varietas kopi arabika yang dianjurkan meliputi
Abesinia 3, Andungsari 1, Kartika 1, Kartika 2, S 795, dan USDA 762.
7. Penggunaan metode pengendalian Biologi
Bakteri-bakteri yang dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan nematoda yaitu Pasteuria penetrans,
Bacillus subtilis, Pasteuria fluorescens, dan Agrobacterium radiobacter. Sementara agen pengendali
nematoda dari cendawan misalnya Paecilomyces lilacinus, Arthrobotrys oligospora, dan Dactilella sp.
Penaburan bahan-bahan organik contohnya kotoran ayam, kotoran sapi, kotoran kambing, sekam
padi, serbuk gergaji, dan tepung biji mimba juga dapat mengurangi populasi nematoda parasit.

17

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Nematoda merupakan salah satu OPT yang menyebabkan penyakit pada tanaman. Nematoda menginfeksi
tanaman dengan mengeluarkan enzim atau toksin. Penetrasi yang dilakukan oleh nematoda adalah dengan
langsung masuk ke dalam jaringan tanaman karena nematoda memiliki alat penusuk yang disebut juga
dengan stilet. Gejala yang disebabkan oleh nematoda yaitu bengkak, nekrosis, puru, maupun kista.
Penyakit yang disebabkan oleh nematoda tentunya merugikan dan dapat menurunkan produktivitas
tanaman bahkan dapat membuat tanaman mengalami kematian. Oleh karena itu, harus dilakukan
pengendalian terhadap nematoda baik dengan pemberian nematisida, rotasi tanaman, menggunakan
tanaman perangkap, atau dengan menggunakan agen hayati untuk nematoda.

18

DAFTAR PUSTAKA
Dropkin, V. H. 1992. Pengantar Nematologi Tumbuhan. Gadjah Mada University.Yogyakarta.
Munif, A. 2003.Prinsip-prinsip Pengelolaa Nematoda Parasit Tumbuhan Di Lapangan. Makalah pada
Pelatihan Identifikasi dan Pengelolaan Nematoda Parasit Utama Tumbuhan. Pusat Kajian
Pengendalian Hama Terpadu (PKPHT)-HPT, Institut Pertanian Bogor,26-29 Agustus 2009.10 h.
Agrios GN. 1969. Plant Phatology. London : Academic Press, Inc Blanchard, R.O dan T.A Tattar.
1981. Field and Laboratory Guide to Tree Pathology. Academic press. New York.
Djafarudin. 2001. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman (Umum). Bumi Aksara. Jakarta
Martoredjo, T. 1984. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan Bagian dari Perlindungan Tanaman. Andi
Offset. Yogyakarta
Yudiarti, T. 2007. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Graha Ilmu. Yogyakarta

19